Anda di halaman 1dari 72

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Bahan galian merupakan salah satu sumber daya alam non hayati, yang keterjadiannya disebabkan oleh proses-proses geologi. Berdasarkan keterjadian dan sifatnya bahan galian dapat dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu mineral logam, mineral industri, serta batubara dan gambut. Karakteristik ketiga bahan galian tersebut berbeda, sehingga metode eksplorasi yang dilakukan juga berbeda. Oleh karena itu diperlukan berbagai macam metode untuk mengetahui keterpadatan, sebaran, kuantitas, dan kualitasnya (Rachimoellah, 2002). Dewasa ini pemerintah tengah meningkatkan pemanfaatan batu bara sebagai energi alternatif baik untuk keperluan domestik seperti pada sektor industri dan pembangkit tenaga listrik, maupun untuk ekspor. Sejalan dengan itu pemerintah telah melibatkan pihak swasta dalam pengusahaan pengembangan batu bara. Propinsi Kalimantan Selatan mempunyai potensi yang besar dalam pengusahaan pertambangan bahan galian khususnya batubara. Batubara merupakan salah satu komoditi yang diunggulkan propinsi ini. Batubara juga merupakan produk pertambangan andalan yang menarik bagi investor dan akan berkembang pada tahun-tahun mendatang seiring dengan harga batubara yang bagus. Eksplorasi mineral bijih besi telah dilakukan di Kabupaten Tanah Laut, Tanah Bumbu, Kotabaru dan Balangan dan akan mulai dieksploitasi saat kondisinya memungkinkan. Masih banyak jenis mineral lainnya seperti intan, emas, marmer, lempung,

serpentinit yang terbuka bagi eksploitasi. Produk turunan dari mineral tersebut akan memberikan nilai tambah ekonomi dibanding memasarkan langsung mineral tersebut (Tim Kajian Batubara Nasional, 2006). Analisis terhadap mutu dari bahan galian tentu manjadi pilihan utama agar para pengusaha dapat memilah dapat dijadikan apa sekiranya bahan galian tersebut sesuai dengan kualitas yang dimilki oleh bahan galian tersebut. Oleh karena itu diperlukan analisis terlebih dahulu sebelum bahan galian tersebut digunakan atau diproses. Sampai sekarang ini telah banyak berdiri penyedia layanan untuk analisis bahan galian baik itu milik pemerintah maupun swasta. Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Kalimantan Selatan adalah salah satunya yang merupakan Instansi Pemerintah yang meneliti serta memberikan informasi mengenai kualitas dan kuantitas hasil pertambangan yang ada di Kalimantan Selatan, salah satunya adalah analisis kandungan bahan galian, analisis kandungan air serta mekanika tanah. Dengan mengikuti kegiatan magang di Dinas Pertambangan dan Energi ini diharapkan dapat menjadi batu loncatan dan sebagai tolak ukur bagi mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja. Sehingga diharapkan mahasiswa dapat lebih terampil dan profesional dalam menjalankan pekerjaannya. Karena untuk menjadi tenaga kerja yang terampil dan profesional tidak hanya menguasai teori belaka namun juga dapat menerapkan ilmu tersebut secara efektif pada bidang pekerjaan yang ditekuni. Sebagai mahasiswa yang mempelajari disiplin ilmu kimia,

tentunya dituntut untuk dapat mengaplikasikan keilmuannya ketika memasuki dunia kerja. 1.2 Tujuan Tujuan umum dilaksanakannya kerja praktik adalah untuk : 1. Membuka wawasan mahasiswa agar lebih mengenal dunia kerja. 2. Mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan teori-teori yang diperoleh diperkuliahan. 3. Membina mahasiswa agar berhasil menjadi sarjana yang berkualitas, dan 4. Menyiapkan mahasiswa agar lebih familiar dengan lingkungan dunia kerja. Tujuan khusus dilaksanakannya kerja praktik adalah untuk: 1. Mempelajari metode-metode analisa seperti analisis kandungan kimia pada air dan analisis bahan galian terutama batubara dan bijih besi. 2. Untuk memenuhi persyaratan Praktek Kerja Lapangan (PKL). 1.3 Manfaat Kegiatan ini diharapkan dapat bermanfaat yaitu : 1. Menunjang program link and match antara pihak perguruan tinggi dan instansi. 2. Dapat menambah pengalaman dan pengetahuan bagi mahasiswa tentang bagaimana cara menganalisis kandungan bahan galian khususnya yang terdapat di Kalimantan Selatan.

BAB II KEADAAN UMUM DINAS PERTAMBANGAN DAN ENERGI BANJARBARU

2.1

Sejarah dan Perkembangannya Kantor Wilayah Departemen Pertambangan dan Energi Kalimantan Selatan mula-mula dengan nama Kantor Perwakilan Daerah Departemen Pertambangan Banjarmasin berdasarkan S.K. Menteri Pertambangan No.280/Kpts/M/Pertamb/1971 Tanggal 7 Juni 1971 (Dinas Pertambangan dan Energi, 2005). Kedudukan kantor tersebut adalah di Banjarbaru lebih kurang 25 km sebelah tenggara Kota Banjarmasin dan wilayah tugasnya adalah meliputi Propinsi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Kantor Perwakilan Daerah Departemen Pertambangan Banjarmasin mempunyai 4 (empat) buah seksi yaitu: a. Seksi Penyusunan dan Data b. Seksi Pengawasan c. Seksi Bimbingan dan Pengembangan d. Seksi Tata Usaha (Dinas Pertambangan dan Energi, 2005). Dengan surat keputusan memberi pertimbangan No.675/Kpts/ M/Pertamb/1973 tertanggal 7 Desember 1973 Kantor Perwakilan Daerah Departemen Pertambangan Banjarmasin dirubah namanya menjadi Kantor Daerah Departemen Pertambangan yang meliputi 2 seksi dan sebuah sekretariat yaitu:

a. Seksi Pembinaan dan Pengembangan b. Seksi Pengawasan dan Pertambangan c. Sekretariat (Dinas Pertambangan dan Energi, 2005). Kemudian dengan S.K. Menteri Pertambangan No.204 tahun 1975 tertanggal 30 April 1975 dengan surat Sekretaris Jenderal Pertambangan No.1426/S.JP/75 tanggal 8 Juli 1975 Kantor Daerah Pertambangan Banjarmasin dirubah namanya menjadi Kantor Wilayah Departemen Pertambangan Kalimantan yang mempunyai 4 (empat) buah seksi dan 1 (satu) sub bagian, yaitu : a. Seksi Pengembangan Wilayah Pertambangan b. Seksi Pengembangan Pertambangan c. Seksi Pengawasan Pertambangan d. Seksi Penyuluhan dan Dokumentasi e. Sub Bagian Tata Usaha (Dinas Pertambangan dan Energi, 2005). Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertambangan No.

149/Kpts/M/Pertamb/1982 Kantor Wilayah Departemen Pertambangan Kalimantan. Disamping yang semula Kantor Wilayah Pertambangan Kalimantan masih eselon III maka dengan terbitnya S.K. Menteri Pertambangan dan Energi eselon II yang mempunyai 4 (empat) bidang, yaitu: a. Bidang Geologi b. Bidang Pertambangan c. Bidang Minyak dan Gas Bumi d. Bidang Ketenagaan (Dinas Pertambangan dan Energi, 2005).

Untuk memperlancar tugasnya, maka Kantor Wilayah Departemen Pertambangan Kalimantan, telah menempatkan pejabat-pejabat sebagai penghubung di tiap ibukota Propinsi yaitu: 1. Penghubung I di Samarinda, Kalimantan Timur dengan Surat Keputusan Menteri Pertambangan No. 173/Kpts/M/Pertamb/1973 tanggal 23 April 1973. 2. Penghubung II di Palangkaraya, Kalimantan Tengah dengan Surat Keputusan Menteri Pertambangan No. tanggal 23 April 1973. 3. Penghubung III di Pontianak, Kalimantan Barat dengan Surat Keputusan Menteri Pertambangan No. 09/Kpts/M/Pertamb/173 tanggal 23 April 1974 (Dinas Pertambangan dan Energi, 2005). Setelah adanya Surat Keputusan Gubernur Propinsi Kalimantan Selatan No. 036 tahun 2001 bahwa dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah No. 8 tahun 2000 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Kalimantan Selatan, yang antara lain meliputi organisasi sehingga sampai sekarang Kantor Wilayah Departemen Pertambangan dirubah menjadi Dinas Pertambangan Energi Propinsi Kalimantan Selatan (Dinas Pertambangan dan Energi, 2005). 172/Kpts/M/Pertamb/1973

Gambar 2.1 Kantor Dinas Pertambangan dan Energi

Unit Pelayanan Jasa Sumber Daya Mineral dan Energi Propinsi Kalimantan Selatan adalah unit kerja pelaksana teknis dinas yang berkedudukan di bawah Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Kalimantan Selatan yang pembentukannya dimaksudkan untuk

mempermudah jangkauan pelayanan kepada masyarakat di Kabupaten/Kota khususnya pelayanan analisa laboratorium, penggunaan peralatan eksplorasi, pengolahan data geologi dan pertambangan serta memberikan pelayanan informasi wilayah usaha pertambangan dan percetakan peta yang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap Pendapatan Asli Dearah (PAD) (Dinas Pertambangan dan Energi, 2009). Unit Pelayanan Jasa Sumber Daya Mineral dan Energi tentunya masih terdapat kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya, meskipun demikian beberapa kegiatan sudah mampu

dilaksanakan oleh seksi dan sub bagian di lingkup unit ini. Dasar-dasar Hukum : a. Unit Pelayanan Jasa Sumber Daya Mineral dan Energi berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. Pembentukan Unit Pelayanan Jasa Sumber Mineral dan Energi berdasarkan Peraturan Daerah Propinsi Kalimantan Selatan Nomor 12 Tahun 2002 tentang pembentukan susunan organisasi dan tata kerja Unit Pelayanan Jasa Sumber Daya Mineral dan Energi di lingkungan Dinas Pertambangan Propinsi Kalimantan Selatan. b. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Unit Pelayanan Jasa Sumber Daya Mineral dan Energi berdasarkan dan berpedoman pada Keputusan Gubernur Kalimantan Selatan Nomor 0246 Tahun 2003, BAB III pasal 3 ayat (3) tantang tata hubungan kerja antara dinas-dinas daerah unit pelaksana teknis dinas di lingkungan Pemerintah Kalimantan Selatan. c. Undang-Undang yang dipergunakan oleh Unit Pelayanan Jasa Sumber Daya Mineral dan Energi dalam hal Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah memberikan keleluasaan bagi daerah dalam meningkatakan pendapatannya sesuai dengan potensi yang dimiliki serta PP No 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah pusat propinsi Kalimatan Selatan. d. Sedangkan untuk landasan hukum yang dijadikan dasar dalam penentuan Perda tarif pelayanan jasa pada Unit Pelayanan Jasa Sumber Daya sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2006 tentang retribusi

pelayanan laboratorium dan peralatan eksplorasi (Dinas Pertambangan dan Energi, 2009). 2.2 Visi dan Misi 2.2.1 Tugas Pokok Unit Pelayanan Jasa Sumber Daya Mineral dan Energi mempunyai tugas pokok yaitu memberikan pelayanan sumber daya mineral dan energi 2.2.2 Fungsi 1. Pelaksanaan analisa laboratorium 2. Penggunaan peralatan dan pelayan eksplorasi 3. Pengolahan data geologi dan pertambangan serta pemberian informasi pencadangan wilayah dan penyedia peta 4. Pelaksanaan urusan ketatausahaan 2.2.3 Visi Terciptanya kualitas sistem pelayanan teknis pertambangan kepada masyarakat secara komprehensif, profesional, efektif dan efesien. 2.2.4 Misi Menciptakan kualitas dan kuantitas pelayanan pertambangan dan energi melalui peningkatan sarana, prasarana dan kualitas SDM. 2.2.5 Maksud dan Tujuan 1. Meningkatkan kegiatan pelayanan jasa laboratorium dan peralatan eksplorasi dibidang pertambangan dan energi serta lingkungan pertambangan

2. Meningkatkan kegiatan pelayanan kepada masyarakat dalam upaya pemanfaatan eksplorasi air tanah untuk mengatasi daerah sulit air dan eksplorasi bahan galian untuk mengetahui potensi daerah. 3. Meningkatkan pemanfaatan jasa perpetaan dalam upaya

pengembangan wilayah dan eksplorasi serta eksploitasi bahan galian 4. Meningkatkan pelayanan dibidang pertambangan dan energi melalui pendaya gunaan fasilitas yang ada pada Unit Pelayanan Jasa Sumber Daya Mineral dan Energi (Dinas Pertambangan dan Energi, 2009). 2.3 Kegiatan Unit Dinas Pertambangan dan Energi Banjarbaru Pembentukan Unit Pelayanan Jasa Sumber Daya Mineral dan Energi berdasarkan Peraturan Daerah Propinsi Kalimantan Selatan No.12 Tahun 2002 tentang pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelayanan Jasa Sumber Daya Mineral dan Energi di lingkungan Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Kalimantan Selatan. 2.3.1 Susunan Organisasi Unit Pelayanan Jasa Sumber Daya Mineral dan Energi dipimpin oleh seorang kepala unit (Eselon III) yang berada dibawah kepala Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Kalimantan Selatan Kepala Unit Pelayanan Jasa Sumber Daya Mineral dan Energi membawahi 1 Kasubag dan 3 Kasi yang bereselon IV.a, yaitu: a. Kepala Subag Tata Usaha b. Kepala Seksi Laboratorium

c. Kepala Perpetaan d. Kepala Pelayanan Eksplorasi (Dinas Pertambangan dan Energi, 2009). 2.3.2 Sub Bagian Tata Usaha Uraian tugas Sub bagian Tata Usaha adalah menyiapkan penyusunan program. Evaluasi kepegawaian, keuangan, melaksanakan urusan administrasi kepegawaian, keuangan, kearsipan, pelengkapan RT, kehumasan, ketatalaksanaan dan perpustakaan. Sub bagian Tata Usaha mempunyai fungsi sebagai berikut: a. Menyusun program, evaluasi dan pelaporan Unit Pelayanan Jasa berdasarkan kegiatan tahun sebelumnya dan usulan dari unit-unit kerja di lingkungan Unit Pelayanan Jasa SDM dan Energi. b. Melaksanakan urusan surat-menyurat, kearsipan, administrasi kepegawaian, kelembagaan dan ketata laksanaan. c. Melaksanakan urusan keuangan. d. Melaksanakan urusan perlengkapan RT, kehumasan dan

perpustakaan (Dinas Pertambangan dan Energi, 2009). 2.3.3 Seksi Laboratorium Seksi Laboratorium mempunya tugas memberikan pelayanan jasa pemeriksaan/analisa fisika dan kimia terhadap SDM dan Energi secara laboratoris. Untuk melaksanakan tugas tersebut, Seksi Laboratorium mempunya fungsi sebagai berikut: a. Melaksanakan analisa sampel-sampel bahan galian, air dan energi serta bahan limbah akibat kegiatan pertambangan.

b. Pelayanan analisa dan memberikan info tentang pelayanan analisa sampel bahan galian, serta bahan limbah dan hal yang berkaitan dengan pelayanan laboratorium kepada pihak yang memerlukan. c. Melaksanakan pengelolaan dan perencanaan pengadaaan dalam rangka pengembangan fasilitas laboratorium. d. Melakukan percobaan analisa dalam rangka peningkatan pelayanan pemerikasaaan laboratorium guna mendukung pengembangan pemanfaatan SDM, air dan energi. e. Melaksanakan kegiatan untuk mendukung usaha-usaha

perlindungan lingkungan akibat kegiatan pertambangan dalam rangka bimbingan pertambangan. f. Melaksanakan pelayanan untuk mendukung kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan kelistrikan dan energi baru serta bahan bakar migas (Dinas Pertambangan dan Energi, 2009).

Gambar 2.2 Laboratorium dan Ruang Pemetaan Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Kalimantan Selatan Laboratorium di bawah Unit Pelayanan Jasa Sumberdaya Mineral (UPJSDM) menyediakan pelayanan seperti dalam tabel 2.1 berikut:

Tabel 2.1 Layanan yang disediakan oleh Laboratorium Kantor Unit Pelayanan Jasa dan Sumber Daya Mineral dan Energi No. 1. Layanan Sample preparation (Preparasi contoh) Chemical Water Analyses (Analisis Kimia Air) Coal analysis (Analisis Batubara) Coal Briquette analysis (Analisis briket) Iron analysis (Analisis batu besi) Quartz sand analysis (Analisis Pasir Kuarsa) Kaolin analysis (Analisis Kaolin) Jenis Uji Homogenous sample preparation Physical and Chemical Analysis Proximate analysis Proximate analysis Wet chemical and gravimetric analysis Wet chemical and gravimetric analysis Wet chemical and gravimetric analysis Wet chemical and gravimetric analysis Wet chemical and gravimetric analysis Wet chemical and gravimetric analysis Wet chemical and gravimetric analysis Size analysis, HGI, Density

2. 3. 4.

5.

6.

7.

8.

Clay analysis (Analisis Lempung)

9.

Phosphate analysis (Analisis Fosfat)

10. Mangan analysis (Analisis Mangan)

11.

Limestone analysis (Analisis Batu gamping)

12. Physical analysis (Analisis Fisik) (Dinas Pertambangan dan Energi, 2009).

2.3.4 Seksi Pelayanan Eksplorasi Seksi Pelayanan Eksplorasi dan Perpetaan mempunyai tugas memberikan pelayanan jasa peralatan pemboran, pemetaan,

ketenagalistrikan dan peralatan lainnya serta eksplorasi bahan galian dan air. Untuk melaksanaan tugas tersebut disamping melaksanakan pengolahan data geologi dan pertambangan, memberikan informasi pencadangan wilayah usaha pertambangan dan penyediaan peta. Seksi Pelayanan Ekplorasi dan Perpetaan mempunyai fungsi : a. Melaksanakan pelayanan pemakaian peralatan pemboran,

pemetaan, ketenagalistrikan dan peralatan lainnya. b. Melaksanakan pelayanan kegiatan eksplorasi bahan galian dan air. c. Pelayanan pemakaian peralatan dan memberikan informasi tentang pelayanan pemakaian peralatan pemboran, pemetaan,

ketenagalisrikan serta peralatan lainnya dan hal hal yang berkaitan dengan pelayanan pemakaian peralatan eksplorasi bahan galian dan air kepada pihak yang memerlukan. d. Melakukan perawatan dan pemeliharaan peralatan, pemboran, pemetaan, ketenagalistrikan dan peralatan lainnya. e. Melaksanakan perencanaan pengadaan peralatan dan

pengembangan fasilitas peralatan eksplorasi, ketenagalistrikan dan peralatan lainnya. f. Melaksanakan pengolahan data data dari hasil survey dan pemetaan topografi, geologi, dan bahan galian serta hasil survey geolistrik

g. Melaksanaan pengumpulan dan pengeplotan data data wilayah usaha pertambangan dalam rangka pemberian informasi

pencadangan wilayah usaha pertambangan. h. Melaksanakan pembuatan, pengompilasian dan pendigitasian peta geologi dan peta bahan galian. i. Melaksanakan pelayanan pengolahan data data pertambangan. j. Melaksanakan pelayanan pencetakan dan penyediaan peta digitasi dalam berbagai skala. k. Memberikan pelayanan kepada Pemerintahan Daerah, Masyarakat dan Instansi lain yang memerlukan informasi data sumber daya mineral, geologi teknik dan data data lainnya (Dinas Pertambangan dan Energi, 2009).

Gambar 2.3 Struktur Organi asi Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Kalimantan Selatan

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

3.1

Batubara Batubara (coal) adalah sumber energi fosil yang paling banyak kita miliki di dunia ini. Batubara sendiri merupakan campuran yang sangat kompleks dari zat kimia organik yang mengandung karbon, oksigen, dan hidrogen dalam sebuah rantai karbon serta sedikit nitrogen dan sulfur. Pada campuran ini juga terdapat kandungan air dan mineral (Anonim1, 2010). Batubara merupakan sisa tumbuhan dari zaman prasejarah yang berubah bentuk yang awalnya berakumulasi di rawa dan lahan gambut. Penimbunan lanau dan sedimen lainnya, bersama dengan pergeseran kerak bumi (dikenal sebagai pergeseran tektonik) mengubur rawa dan gambut yang seringkali sampai ke kedalaman yang sangat dalam. Dengan penimbunan tersebut, material tumbuhan tersebut terkena suhu dan tekanan yang tinggi. Suhu dan tekanan yang tinggi tersebut menyebabkan tumbuhan tersebut mengalami proses perubahan fisika dan kimiawi dan mengubah tumbuhan tersebut menjadi gambut dan kemudian batu bara (Anonim2, 2009). Kondisi yang baik pada proses pembentukan batubara adalah lingkungan yang berawa dangkal. Kondisi tersebut terdapat pada cekungan sedimen yang terbentuk sepanjang pantai, daerah delta dan danau. Batubara terbentuk oleh adanya perubahan secara fisik dan kimia yang dipengaruhi oleh bakteri pengurai, tekanan, temperatur, serta waktu (Anonim2, 2009). Pembentukan batu bara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan

hanya terjadi pada era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira 340 juta tahun yang lalu, adalah masa pembentukan batu bara yang paling produktif dimana hampir seluruh deposit batu bara (black coal) yang ekonomis di belahan bumi bagian utara terbentuk. Pada zaman Permian, kira-kira 270 juta tahun lalu, juga terbentuk endapan-endapan batu bara yang ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke zaman tersier (70 - 13 juta tahun lalu) di berbagai belahan bumi lain (Anonim2, 2009). Pembentukan batubara dimulai sejak Carboniferous Period (Periode Pembentukan Karbon atau Batu Bara) dikenal sebagai zaman batu bara pertama yang berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Mutu dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta lama waktu pembentukan, yang disebut sebagai maturitas organik. Proses awalnya gambut berubah menjadi lignit (batu bara muda) atau brown coal (batu bara coklat). Ini adalah batu bara dengan jenis maturitas organik rendah. Dibandingkan dengan batu bara jenis lainnya, batu bara muda agak lembut dan warnanya bervariasi dari hitam pekat sampai kecoklat-coklatan. Mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan tahun, batu bara muda mengalami perubahan yang secara bertahap menambah maturitas organiknya dan mengubah batubara muda menjadi batu bara sub-bituminus. Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batu bara menjadi lebih keras dan warnanya lebih hitam dan membentuk bituminus atau antrasit. Dalam kondisi yang tepat, penigkatan maturitas organik yang semakin tinggi terus berlangsung hingga membentuk

antrasit (Anonim2, 2009). Tingkat perubahan yang dialami batubara dalam proses

pembentukannya, dari gambut sampai menjadi antrasit disebut sebagai pengarangan memiliki hubungan yang penting dan hubungan tersebut disebut sebagai tingkat mutu batu bara. Batu bara dengan mutu yang rendah, seperti batu bara muda dan sub-bituminus biasanya lebih lembut dengan materi yang rapuh dan berwarna suram seperti tanah. Baru bara muda memilih tingkat kelembaban yang tinggi dan kandungan karbon yang rendah, dan dengan demikian kandungan energinya rendah. Batu bara dengan mutu yang lebih tinggi umumnya lebih keras dan kuat dan seringkali berwarna hitam cemerlang seperti kaca. Batu bara dengan mutu yang lebih tinggi memiliki kandungan karbon yang lebih banyak, tingkat kelembaban yang lebih rendah dan menghasilkan energi yang lebih banyak (Anonim3, 2010). Sumber daya batubara (Coal Resources) adalah bagian dari endapan batubara yang diharapkan dapat dimanfaatkan. Sumber daya batu bara ini dibagi dalam kelas-kelas sumber daya berdasarkan tingkat keyakinan geologi yang ditentukan secara kualitatif oleh kondisi geologi/tingkat kompleksitas dan secara kuantitatif oleh jarak titik informasi. Sumberdaya ini dapat meningkat menjadi cadangan apabila setelah dilakukan kajian kelayakan dinyatakan layak. Cadangan batubara (Coal Reserves) adalah bagian dari sumber daya batubara yang telah diketahui dimensi, sebaran kuantitas, dan kualitasnya, yang pada saat pengkajian kelayakan dinyatakan layak untuk ditambang (Putrago, 2009).

3.2

Klasifikasi Batubara 3.2.1 Materi pembentuk batu bara Hampir seluruh pembentuk batu bara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan pembentuk batu bara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut: a. Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat sedikit endapan batu bara dari periode ini. b. Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga. Sedikit endapan batu bara dari perioda ini. c. Pteridofita, umur Devon Atas hingga karbon atas. Materi utama pembentuk batu bara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat. d. Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama batu bara Permian seperti di Australia, India dan Afrika. e. Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan (Anonim1, 2010).

3.2.2 Jenis batu bara A. Gambut (peat) Golongan ini sebenarnya belum termasuk jenis batubara, tapi merupakan bahan bakar. Hal ini disebabkan karena masih merupakan fase awal dari proses pembentukan batubara. Endapan ini masih memperlihatkan sifat asal dari bahan dasarnya (tumbuh tumbuhan). B. Lignit (Batubara Coklat, Brown Coal) Golongan ini sudah memperlihatkan proses selanjutnya berupa struktur kekar dan gejala pelapisan. Apabila dikeringkan maka gas dan airnya akan keluar. Endapan ini bisa dimanfaatkan secara terbatas untuk kepentingan yang bersifat sederhana, karena panas yang dikeluarkan sangat rendah. C. Sub-Bituminous (Bitumen Menengah) Golongan ini memperlihatkan ciri-ciri tertentu yaitu warna yang kehitam-hitaman dan sudah mengandung lilin. Ciri lain adalah sisa bagian tumbuh-tumbuhan tinggal sedikit dan berlapis. Endapan ini dapat digunakan untuk pemanfaatan pembakaran yang cukup dengan temperatur rendah. Nilai kalori 3000- 6300 kal/gram. D. Bituminous Golongan ini dicirikan dengan sifat-sifat yang padat, hitam, rapuh (brittle) dengan membentuk bongkah-bongkah prismatik. Berlapis dan tidak mengeluarkan gas dan air bila dikeringkan.

Endapan ini dapat digunakan antara lain untuk kepentingan transportasi dan jenis industri kecil. Nilai kalori antara 6300 7300 kal/gram. E. Antrasite Merupakam kelas batubara yang tinggi, warna hitam sangat mengkilap, keras, dan kompak. Nilai kalori lebih dari 7300 kal/gram. Tingkat perubahan yang dialami batu bara, dari gambut sampai menjadi antrasit disebut sebagai pengarangan memiliki hubungan yang penting dan hubungan tersebut disebut sebagai tingkat mutu batu bara. Batubara dengan mutu yang rendah, seperti batu bara muda dan sub-bitumen biasanya lebih lembut dengan materi yang rapuh dan berwarna suram seperti tanah. Barubara muda memilih tingkat kelembaban yang tinggi dan kandungan karbon yang rendah, dan dengan demikian kandungan energinya rendah. Batubara dengan mutu yang lebih tinggi umumnya lebih keras dan kuat dan seringkali berwarna hitam cemerlang seperti kaca. Batubara dengan mutu yang lebih tinggi memiliki kandungan karbon yang lebih banyak, tingkat kelembaban yang lebih rendah dan menghasilkan energi yang lebih banyak (Sukandarrumidi, 2004).

3.2.3 Kelas Sumber Daya A. Sumber Resource) Sumber daya batu bara hipotetik adalah batu bara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan survei tinjau. Sejumlah kelas sumber daya yang belum ditemukan yang sama dengan cadangan batubara yang diharapkan mungkin ada di daerah atau wilayah batubara yang sama dibawah kondisi geologi atau perluasan dari sumberdaya batubara tereka. Pada umumnya, sumberdaya berada pada daerah dimana titik-titik sampling dan pengukuran serat bukti untuk ketebalan dan keberadaan batubara diambil dari distant outcrops, pertambangan, lubang-lubang galian, serta sumur-sumur. Jika eksplorasi menyatakan bahwa kebenaran dari hipotesis sumberdaya dan mengungkapkan informasi yg cukup tentang kualitasnya, jumlah serta rank, maka mereka akan di klasifikasikan kembali sebagai sumber daya teridentifikasi (identified resources) (Sukandarrumidi, 2006). B. Sumber Daya Batubara Tereka (Inferred Coal Resource) Sumber daya batu bara tereka adalah jumlah batu bara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan prospeksi. Titik pengamatan Daya Batubara Hipotetik (Hypothetical Coal

mempunyai jarak yang cukup jauh sehingga penilaian dari sumber daya tidak dapat diandalkan. Daerah sumber daya ini ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup, rank, dan kualitas data dari titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti geologi dalam daerah antara 1,2 km 4,8 km. termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih, sub bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih, lignit dengan ketebalan 150 cm atau lebih (Sukandarrumidi, 2006). C. Sumber Daya Batubara Tertunjuk (Indicated Coal Resource) Sumber daya batu bara tertunjuk adalah jumlah batu bara di daerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi pendahuluan. Densitas dan kualitas titik pengamatan cukup untuk melakukan penafsiran secara relistik dari ketebalan, kualitas, kedalaman, dan jumlah insitu batubara dan dengan alasan sumber daya yang ditafsir tidak akan mempunyai variasi yang cukup besar jika eksplorasi yang lebih detail dilakukan. Daerah sumber daya ini ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup, rank, dan kualitas data dari titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti geologi dalam daerah antara 0,4 km 1,2 km. termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih, sub-bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih, lignit dengan ketebalan 150 cm (Sukandarrumidi, 2006).

D. Sumber Daya Batubara Terukur (Measured Coal Resourced) Sumber daya batu bara terukur adalah jumlah batu bara di daerah peyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syaratsyarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi rinci. Densitas dan kualitas titik pengamatan cukup untuk diandalkan untuk melakukan penafsiran ketebalan batubara, kualitas, kedalaman, dan jumlah batubara insitu. Daerah sumber daya ini ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup, rank, dan kualitas data dari titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti geologi dalam radius 0,4 km. Termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih, sub bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih, lignit dengan ketebalan 150 cm (Sukandarrumidi, 2006). 3.3 Proses Pembentukan Batubara A. Prinsip Sedimentasi Pada dasarnya batubara termasuk ke dalam jenis batuan sedimen. Batuan sedimen terbentuk dari material atau partikel yang terendapkan di dalam suatu cekungan dalam kondisi tertentu, dan mengalami kompaksi serta transformasi balik secara fisik, kimia maupun biokimia. Pada saat pengendapannya material ini selalu membentuk lapisan yang horisontal.

B. Skala Waktu Geologi Proses sedimentasi, kompaksi, maupun transportasi yang dialami oleh material dasar pembentuk sedimen sehingga menjadi batuan sedimen berjalan selama jutaan tahun. Kedua konsep tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan batubara vang mencakup proses : 1. Pembusukan, yakni proses dimana tumbuhan mengalami tahap pembusukan (decay) akibat adanya aktifitas dari bakteri anaerob. Bakteri ini bekerja dalam suasana tanpa oksigen dan menghancurkan bagian yang lunak dari tumbuhan seperti selulosa, protoplasma, dan pati. 2. Pengendapan, yakni proses dimana material halus hasil pembusukan terakumulasi dan mengendap membentuk lapisan gambut. Proses ini biasanya terjadi pada lingkungan berair, misalnya rawa-rawa. 3. Dekomposisi, yaitu proses dimana lapisan gambut tersebut di atas akan mengalami perubahan berdasarkan proses biokimia yang berakibat keluarnya air (H2 O) dan sebagian akan menghilang dalam bentuk karbondioksida (CO2 ), karbonmonoksida (CO), dan metana (CH4). 4. Geotektonik, dimana lapisan gambut yang ada akan terkompaksi oleh gaya tektonik dan kemudian pada fase selanjutnya akan men galami lipatan dan patahan. Selain itu gaya tektonik aktif dapat menimbulkan adanya intrusi/terobosan magma, yang akan mengubah batubara low grade menjadi high grade. Dengan adanya tektonik setting tertentu,

maka zona batubara yang terbentuk dapat berubah dari lingkungan berair ke lingkungan darat. 5. Erosi, dimana lapisan batubara yang telah mengalami gaya tektonik berupa pengangkatan kemudian dierosi sehingga permukaan batubara yang ada menjadi terkupas pada permukaannnya. Perlapisan batubara inilah yang dieksploitasi pada saat ini (Anonim2, 2009). 3.4 Faktor-Faktor dalam Pembentukan Batubara Beberapa faktor yang berpengaruh dalam pembentukan batubara adalah : 1. Material dasar, yakni flora atau tumbuhan yang tumbuh beberapa juta tahun yang lalu, yang kemudian terakumulasi pada suatu lingkungan dan zona fisiografi dengan iklim clan topografi tertentu. Jenis dari flora sendiri amat sangat berpengaruh terhadap tipe dari batubara yang terbentuk. Lingkungan pengendapan, yakni lingkungan pada saat proses sedimentasi dari material dasar menjadi material sedimen. Lingkungan pengendapan ini sendiri dapat ditinjau dari beberapa aspek sebagai berikut : Struktur cekungan batubara, yakni posisi di mana material dasar diendapkan. Strukturnya cekungan batubara ini sangat berpengaruh pada kondisi dan posisi geotektonik. Topografi dan morfologi, yakni bentuk dan kenampakan dari tempat cekungan pengendapan material dasar. Topografi dan morfologi cekungan pada saat pengendapan sangat penting karena menentukan penyebaran rawa-rawa di mana batubara terbentuk. Topografi dan

morfologi dapat dipengaruhi oleh proses geotektonik. Iklim, yang merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pembentukan batubara karena dapat mengontrol pertumbuhan flora atau tumbuhan sebelum proses pengendapan. Iklim biasanya dipengaruhi oleh kondisi topografi setempat. 2. Proses dekomposisi, yakni proses transformasi biokimia dari material dasar pembentuk batubara menjadi batubara. Dalam proses ini, sisa tumbuhan yang terendapkan akan mengalami perubahan baik secara fisika maupun kimia. 3. Umur geologi, yakni skala waktu (dalam jutaan tahun) yang menyatakan berapa lama material dasar yang diendapkan mengalami transformasi. Untuk material yang diendapkan dalam skala waktu geologi yang panjang, maka proses dekomposisi yang terjadi adalah fase lanjut clan menghasilkan batubara dengan kandungan karbon yang tinggi. Posisi geotektonik, yang dapat mempengaruhi proses

pembentukan suatu lapisan batubara dari : Tekanan yang dihasilkan oleh proses geotektonik dan menekan lapisan batubara yang terbentuk. Struktur dari lapisan batubara tersebut, yakni bentuk cekungan stabil, lipatan, atau patahan. Intrusi magma, yang akan mempengaruhi dan/atau merubah grade dari lapisan batubara yang dihasilkan (Anonim2, 2010).

3.5

Komposisi Kimia Batubara Batubara merupakan senyawa hidrokarbon padat yang terdapat di alam dengan komposisi yang cukup kompleks. Pada dasarnya terdapat dua jenis material yang membentuk batubara, yaitu : 1. Combustible Material, yaitu bahan atau material yang dapat

dibakar/dioksidasi oleh oksigen. Material tersebut umumnya terdiri dari: karbon padat (fixed carbon) senyawa hidrokarbon senyawa sulfur senyawa nitrogen, dan beberapa senyawa lainnya dalam jumlah kecil. 2. Non Combustible Material, yaitu bahan atau material yang tidak dapat dibakar/dioksidasi oleh oksigen. Material tersebut umumnya terdiri dari senyawa anorganik (SiO2, A12 O3, Fe2 O3, TiO2, Mn3 O4, CaO, MgO, Na2 O, K2 O, dan senyawa logam lainnya dalam jumlah yang kecil) yang akan membentuk abu/ash dalam batubara. Kandungan non combustible material ini umumnya diingini karena akan mengurangi nilai bakarnya. Pada proses pembentukan batubara/coalification, dengan bantuan factor fisika dan kimia alam, selulosa yang berasal dari tanaman akan mengalami perubahan menjadi lignit, subbituminus, bituminus, atau antrasit. Proses transformasi ini dapat digambarkan dengan persamaan reaksi sebagai berikut 5(C6 Hl0O5) Selulosa C20H22 O4 + 3CH4 + 8H2 O + 6CO2 + CO lignit gas metan

6(C6 H10O5) Selulosa

C22H20 O3 + 5CH4 + 10H2 O + 8CO2 + CO bituminous gas metan

Untuk proses coalification fase lanjut dengan waktu yang cukup lama atau dengan bantuan pemanasan, maka unsur senyawa karbon padat yang terbentuk akan bertambah sehingga grade batubara akan menjadi lebih tinggi. Pada fase ini hidrogen yang terikat pada air yang terbentuk akan menjadi semakin sedikit. Nitrogen pada batubara pada umumnya ditemukan dengan kisaran 0,5 1,5 % w/w yang kemungkinan berasal dari cairan yang terbentuk selama proses pembentukan batubara. Oksigen pada batubara dengan kandungan 20 30 % w/w terdapat pada lignit atau 1,5 2,5 % w/w untuk antrasit, berasal dari bermacam-macam material penyusun tumbuhan yang terakumulasi ataupun berasal dari inklusi oksigen yang terjadi pada saat kontak lapisan source dengan oksigen di udara terbuka atau air pada saat terjadinya sedimentasi. Variasi kandungan sulfur pada batubara berkisar antara 0,5 5 % w/w yang muncul dalam bentuk sulfur organik dan sulfur inorganik yang umumnya muncul dalam bentuk pirit. Sumber sulfur dalam batubara berasal dari berbagai sumber. Pada batubara dengan kandungan sulfur rendah, sulfurnya berasal material tumbuhan penyusun batubara. Sedangkan untuk batubara dengan kandungan sulfur menengah-tinggi, sulfurnya berasal dari air laut (Anonim4, 2009).

3.6

Kualitas Batubara Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang mempengaruhi potensi kegunaannya. Kualitas batubara ditentukan oleh maseral dan mineral matter penyusunnya, serta oleh derajat coalification (rank) (Anonim5, 2008). Umumnya, untuk menentukan kualitas batubara dilakukan analisa kimia pada batubara yang diantaranya berupa analisis proksimat dan analisis ultimat. Analisis proksimat dilakukan untuk menentukan jumlah air (moisture), zat terbang (volatile matter), karbon padat (fixed carbon), dan kadar abu (ash), sedangkan analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia pada batubara seperti : karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur tambahan dan juga unsur jarang (Anonim5, 2008). Kualitas batubara ditentukan dengan analisis batubara di

laboraturium, diantaranya adalah analisis proksimat dan analisis ultimat. Kualitas batubara ini diperlukan untuk menentukan apakah batubara tersebut menguntungkan untuk ditambang selain dilihat dari besarnya cadangan batubara di daerah penelitian. Berikut parameter-parameter yang sering menjadi acuan dalam menentukan kualitas batubara: a. Kalori (Calorific Value atau CV, satuan kal/g atau kkal/kg) Kandungan nilai kalor total batubara adalah kandungan panas pada batubara yang dihasilkan dari pembakaran setiap satuan berat dalam jumlah kondisi oksigen standar.

b. Kadar kelembaban (Moisture, satuan persen berat) Hasil analisis untuk kelembaban terbagi menjadi free moisture (FM) dan inherent moisture (IM). Adapun jumlah dari keduanya disebut dengan total moisture (TM). Kadar kelembaban mempengaruhi jumlah pemakaian udara primernya. Batubara berkadar kelembaban tinggi akan membutuhkan udara primer lebih banyak untuk mengeringkan batubara tersebut pada suhu yang ditetapkan oleh output pulveriser. c. Zat terbang (Volatile Matter atau VM, satuan persen berat) Kandungan VM mempengaruhi kesempurnaan pembakaran dan intensitas api. Penilaian tersebut didasarkan pada rasio atau perbandingan antara kandungan karbon (fixed carbon) dengan zat terbang, yang disebut dengan rasio bahan bakar (fuel ratio). Semakin tinggi nilai fuel ratio maka jumlah karbon di dalam batubara yang tidak terbakar juga semakin banyak. Jika perbandingan tersebut nilainya lebih dari 1.2, maka pengapian akan kurang bagus sehingga mengakibatkan kecepatan pembakaran menurun. d. Kadar abu (Ash content, satuan persen berat) Kandungan abu akan terbawa bersama gas pembakaran melalui ruang bakar dan daerah konversi dalam bentuk abu terbang (fly ash) yang jumlahnya mencapai 80 persen dan abu dasar sebanyak 20 persen. Semakin tinggi kadar abu, secara umum akan mempengaruhi tingkat pengotoran (fouling), keausan, dan korosi peralatan yang dilalui .

e. Kadar karbon (Fixed Carbon atau FC, satuan persen berat) Nilai kadar karbon diperoleh melalui pengurangan angka 100 dengan jumlah kadar air (kelembaban), kadar abu, dan jumlah zat terbang. Nilai ini semakin bertambah seiring dengan tingkat pembatubaraan. Kadar karbon dan jumlah zat terbang digunakan sebagai perhitungan untuk menilai kualitas bahan bakar, yaitu berupa nilai fuel ratio sebagaimana dijelaskan di atas. f. Kadar sulfur (Sulfur content, satuan persen berat) Kandungan sulfur dalam batubara terbagi dalam pyritic sulfur, sulfate sulfur, dan organic sulfur. Namun secara umum, penilaian kandungan sulfur dalam batubara dinyatakan dalam Total Sulfur (TS). Kandungan sulfur berpengaruh terhadap tingkat korosi sisi dingin yang terjadi pada elemen pemanas udara, terutama apabila suhu kerja lebih rendah dari pada titik embun sulfur, di samping berpengaruh terhadap efektivitas penangkapan abu pada peralatan electrostatic precipitator. g. Ukuran (Coal size) Ukuran butir batubara dibatasi pada rentang butir halus (pulverized coal ataudust coal) dan butir kasar (lump coal). Butir paling halus untuk ukuran maksimum 3 milimeter, sedangkan butir paling kasar sampai dengan ukuran 50 milimeter. h. Tingkat ketergerusan (Hardgrove Grindability Index atau HGI) Kinerja pulveriser atau mill dirancang pada nilai HGI tertentu. Untuk HGI lebih rendah, kapasitasnya harus beroperasi lebih rendah dari

nilai standarnya pula untuk menghasilkan tingkat kehalusan (fineness) yang sama (Anonim5, 2008). 3.7 Sulfur dalam Batubara Sulfur adalah salah satu komponen dalam batubara, yang terdapat sebagai sulfur organik maupun anorganik. Umumnya komponen sulfur dalam batubara terdapat sebagai sulfur syngenetik yang erat hubungannya dengan proses fisika dan kimia selama proses penggambutan dan dapat juga sebagai sulfur epigenetik yang dapat diamati sebagai pirit pengisi cleat pada batubara akibat proses presipitasi kimia pada akhir proses pembatubaraan. Sulfur walaupun secara relatif kandungannya rendah, merupakan salah satu elemen penting pada batubara yang mempengaruhi kualitas. Terdapat berbagai cara terbentuknya sulfur dalam batubara, diantaranya adalah berasal dari pengaruh lapisan pengapit yang terendapkan dalam lingkungan laut, pengaruh air laut selama proses pengendapan tumbuhan, proses mikrobial dan perubahan pH (Sukandarrumidi, 2006). Di lingkungan laut, pH umumnya berkisar antara 4 8 (netral basa) dan Eh cukup rendah, kecuali pada beberapa centimeter dari permukaan. Sulfat berlimpah & umumnya cukup banyak ion Fe yang hadir baik sebagai unsur terlarut dalam air laut atau penguraian dari bahan tumbuhan & mineral. Keadaan ini menyebabkan aktifitas bakteri sangat berperan untuk terbentuknya sulfur. Sedangkan lingkungan pengendapan batubara pada air tawar (lacustrine dan rawa) pH umumnya rendah. Sulfat terlarut juga rendah ( < 40 ppm), sehingga sulfur yang terbentuk sedikit karena aktifitas bakteri rendah. Dengan demikian jumlah sulfur yang dihasilkan tergantung pada

kondisi pH, Eh, konsentrasi sulfat dan untuk pirit khususnya perlu kehadiran ion Fe dan aktivitas bakteri. Pada lingkungan pengendapan batubara yang dipengaruhi oleh endapan laut akan menghasilkan batubara dengan kadar sulfur yang tinggi, sedangkan batubara yang terendapkan di lingkungan darat / air tawar umumnya didominasi oleh sulfur organik dengan persentase pirit yang rendah (Sukandarrumidi, 2006). Proses paling penting dalam pembentukan unsur dan senyawa sulfur adalah reaksi reduksi sulfat oleh aktivitas bakteri. Berikut adalah skema yang menunjukkan urutan proses pembentukan sulfur dalam batubara :

Gambar 3.1 Skema pembentukan sulfur dalam batubara Batubara dengan kandungan abu dan sulfur yang rendah biasanya terendapkan pada lingkungan darat pada saat penggambutan, dengan lapisan penutup dan lapisan dibawahnya berupa sedimen klastik yang terendapkan pada lingkungan darat juga. Sedangkan untuk batubara dengan kandungan abu dan sulfur yang tinggi, berasosiasi dengan sedimen yang terendapkan pada lingkungan payau atau laut (Anonim2, 2009). Terdapat 3 (tiga) jenis sulfur yang terdapat dalam batubara, yaitu :

1. Sulfur Piritik Pirit (dan Markasit) merupakan mineral sulfida yang paling umum dijumpai pada batubara. Kedua jenis mineral ini memiliki komposisi kimia yang sama (FeS2) tetapi berbeda pada sistem kristalnya. Pirit berbentuk isometrik sedangkan Markasit berbentuk orthorombik (Anonim2, 2009). Pirit (FeS2 ) merupakan mineral yang memberikan kontribusi besar terhadap kandungan sulfur dalam batubara, atau lebih dikenal dengan sulfur piritik. Berdasarkan genesanya, pirit pada batubara dapat dibedakan menjadi 2, yaitu : 1. Pirit Syngenetik, yaitu pirit yang terbentuk selama proses

penggambutan (peatification). Pirit jenis ini biasanya berbentuk framboidal dengan butiran sangat halus dan tersebar dalam material pembentuk batubara. 2. Pirit Epigenetik, yaitu pirit yang terbentuk setelah proses

pembatubaraan. Pirit jenis ini biasanya terendapkan dalam kekar, rekahan dan cleat pada batubara serta biasanya bersifat masif. Umumnya pirit jenis ini dapat diamati sebagai pirit pengisi cleat pada batubara (Anonim2, 2009). Pirit dapat terbentuk sebagai hasil reduksi sulfur primer oleh organisme dan air tanah yang mengandung ion besi. Bentuk pirit hasil reduksi ini biasanya framboidal dengan sumber sulfur yang tereduksi kemungkinan terdapat dalam material yang terendapkan bersama batubara. Terbentuknya pirit epigenetik sangat berhubungan dengan frekuensi rekahan karena kation-kation yang terlarut (dalam hal ini ion Fe) akan

terbawa ke dalam batubara oleh aliran air tanah melalui cleat tersebut dan selanjutnya bereaksi dengan sulfur yang telah tereduksi untuk kemudian membentuk pirit (Anonim2, 2009). Pembentukan pirit epigenetik sangat dipengaruhi oleh

keterdapatan sulfur primer yang telah tereduksi, ion besi dan tempat yang cocok bagi pembentukannya. Persamaan umum pembentukan pada pirit adalah : SO4 2- + 2CH2 O 3H2S + 2FeO.OH FeS + SO 2CHO3 - + H2S 2FeS + S + 4H2 O FeS2

Sulfat di atas umumnya berasal dari sedimen laut dangkal yang selanjutnya akan direduksi oleh senyawa karbon organik menjadi hidrogen sulfida dengan reaksi sebagai berikut : SO4 2- + 2CH2 O 2HCO3 + H2S

Hidrogen sulfida yang terbentuk selanjutnya dioksidasi oleh goethite (FeO.OH), atau hidrogen sulfida yang terbentuk dapat mereduksi ferric iron (FeIII) menjadi ferrous iron (FeII). Oksigen seringkali mampu menembus sedimen anaerob dan mengoksidasi hidrogen sulfida menjadi unsur sulfur (SO). Proses oksidasi sulfur ini dapat juga berlangsung dengan media ferric iron (FeIII). Berikut persamaan reaksinya : 3H2S +2 FeO.OH FeS + SO (Anonim2, 2009). 2 FeS + S + 4H2O FeS2

Selain membentuk pirit, unsur sulfur tersebut dapat juga bereaksi dengan sulfida membentuk polisulfida (SSn), yang selanjutnya mungkin akan diperlukan untuk proses pembentukan pirit. Larutan polisulfida ini dapat bereaksi dengan FeS atau Fe3S4 untuk membentuk pirit. Proses terbentuknya sulfur piritik ini sangat dipengaruhi oleh kondisi pH, yaitu semakin tinggi harga pH maka akan mempercepat reaksi karena dalam suasana basa akan banyak ion besi yang terlepaskan. Disamping itu unsur sulfur atau polisulfida juga bisa bereaksi dengan komponen organik batubara membentuk senyawa sulfur organik (Anonim2, 2009). Pirit framboidal berasosiasi dengan batuan penutup yang

terendapkan pada lingkungan laut sampai payau. Gambut yang mengandung sulfur tinggi (dalam bentuk pirit framboidal) terbentuk pada lingkungan pengendapan yang dipengaruhi oleh transgresi air laut atau payau, kecuali apabila terdapat dalam batuan sedimen yang cukup tebal dan terendapkan sebelum fase transgresi (Anonim2 , 2009). 2. Sulfur Organik Sulfur organik merupakan suatu elemen pada struktur

makromolekul dalam batubara

yang kehadirannya secara parsial

dikondisikan oleh kandungan dari elemen yang berasal dari material tumbuhan asal. Dalam kondisi geokimia dan mikrobiologis spesifik, sulfur inorganik dapat terubah menjadi sulfur organik. Secara umum sebagian besar sulfur dalam batubara berupa sulfur syngenetik yang keterdapatan dan distribusinya dikontrol oleh kondisi fisika dan kimia selama proses pembentukan gambut. Sulfur organik dalam batubara dapat berasal dari

material kayu dan pepohonan. Disamping itu sebagian sulfur juga mungkin terjadi dari sisa-sisa organisme yang hidup selama perkembangan gambut (Sukandarrumidi, 2004). Sulfur organik dapat terakumulasi dari sejumlah material organik oleh proses penghancuran biokimia dan oksidasi. Namun secara umum, penghancuran biokimia merupakan proses yang paling penting dalam pembentukan sulfur organik, yang pembentukannya berjalan lebih lambat pada lingkungan yang basah atau jenuh air. Sulfur yang bukan berasal dari material pembentuk batubara diduga mendominasi dalam menentukan kandungan sulfur total. Sulfur inorganik yang biasanya melimpah dalam lingkungan marin atau payau kemungkinan besar akan terubah membentuk hidrogen sulfida dan senyawa sulfat dalam kondisi dan proses geokimia. Reaksi yang terjadi adalah reduksi sulfat oleh material organik menjadi hidrogen sulfida (H2S). Reaksi reduksi ini dipicu oleh adanya bakteri desulfovibrio dan desulfotomaculum (Sukandarrumidi, 2004). Unsur sulfur, hidrogen sulfida dan ion sulfida dapat bereaksi dengan unsur atau molekul organik dari gambut menjadi sulfur organik. Unsur sulfur (SO) kemungkinan muncul dari proses oksidasi hidrogen sulfida yang terkena kontak dengan oksigen terlarut dalam kisi kisi air, di samping itu SO juga bisa muncul karena adanya aktivitas bakteri. Unsur sulfur (SO) dapat bereaksi dengan asam humik yang terbentuk selama proses penggambutan (Sukandarrumidi, 2004).

3. Sulfur Sulfat Sulfat dalam batubara umumnya ditemui dalam bentuk sulfat besi, kalsium dan barium. Kandungan sulfat tersebut biasanya rendah sekali atau tidak ada kecuali jika batubara telah terlapukkan dan beberapa mineral pirit teroksidasi akan menjadi sulfat. Sulfur sulfat juga dapat berasal dari reaksi garam laut atau air payau yang mengisi lapisan dasar yang jaraknya tidak jauh dan berada di atas atau di bawah lapisan batubara. Pada umumnya kandungan sulfur organik lebih tinggi pada bagian bawah lapisan, sedangkan kandungan sulfur piritik dan sulfat akan tinggi pada bagian atas dan bagian bawah lapisan batubara

(Sukandarrumidi, 2006).

BAB IV METODE KERJA PRAKTEK

4.1

Waktu dan Tempat Kegiatan kerja praktik ini dilaksanakan pada tanggal 18 Januari 2010 sampai 17 Februari 2010, sedangkan tempat pelaksanaan kegiatan ini adalah Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru.

4.2

Bentuk Kerja Praktek Kegiatan kerja praktek berupa kegiatan magang, yaitu mengikuti kegiatan yang ada pada instansi tersebut selama jam kerja yakni mempelajari metode-metode analisis bahan galian dengan dibimbing oleh pembimbing eksternal dan para staf lainnya.

4.3

Prosedur Kerja 4.3.1 Penentuan Nilai Kalori Batubara dengan Bomb Calorimeter Menyiapkan alat kalori meter, kemudian menghidupkan

calorimeter dan water handling system. Menyalakan pompa aliran air pada pemanas dan pendingin air pada kalorimeter. Setelah itu membiarkan kalorimeter untuk bekerja beberapa waktu hingga menunjukan sinyal stand by, artinya suhu aliran air telah sesuai dan stabil dengan pengaturan alat. Namun sebelumnya perlu menimbang sampel batubara terlebih dahulu pada neraca analitik yang telah terhubung pada konektor kalorimeter dan dimasukkan ke dalam cawan. Kemudian cawan tersebut dipasang pada elektroda yang

tersedia, dengan kawat wolfram yang terikat pada tiang elektroda kemudian kawat wolfram tersebut dihubungkan dengan sampel batubara. Mengukur 10 ml aquades dan masukan kedalam tabung bomb calorimeter. Luaran tabung Bomb Calorimeter dibersihkan dan menutup Bomb Calorimeter tersebut rapat-rapat dengan tutupnya. Kemudian mengisikan gas oksigen dengan tekanan 30-40 atm ke dalam bomb melalui konektor. Calorimeter bucket sebelumya harus diisi dengan 2 liter air dari water handling system sebelum tabung bomb calorimeter dimasukkan kedalamnya. Saat memasukkan tabung bomb calorimeter harus dengan menggunakan penjepit kedalam

bucket agar posisinya sesuai. Setelah itu kedua kabel elektroda pada bomb calorimeter dipasang, kemudian ditutup, lalu menekan tombol Start untuk memulai. Sinyal Sample ID akan nampak pada monitor, masukan identitas sampel dan tekan tombol Enter. Sinyal bomb ID akan Nampak pada monitor, masukan nomor bomb yang digunakan dan tekan tombol Enter. Sinyal Sample Weight akan tampak pada monitor, masukan berat contoh dan tekan tombol Enter. Menunggu beberapa menit, akan terdengar bunyi yang terputus-putus, artinya proses pembakaran sedang berlangsung. Sinyal Idle akan nampak jika pembakaran sudah sempurna diiringi dengan bunyi yang panjang. Secara otomatis nilai kalori dari sampel batubara tersebut akan terbaca pada monitor. Penutup kalorimeter tersebut dibuka dan dikeluarkan bomb nya kemudian gas pada bomb tersebut dibuang dengan membuka katup gas secara perlahan-lahan. Bomb tersebut dibuka dan

masing-masing bagian dibersihkan dengan hati-hati. Perlu adanya pengecekan kestabilan kalorimeter dengan mengkalibrasinya

menggunakan sampel asam benzoat minimal satu bulan sekali atau setiap 500 kali pemakaian wadah bomb. Apabila hasilnya jauh dari nilai kalori yang tertera pada botol asam benzoat, maka perlu dikalibrasi ulang sampai menunjukkan data yang sesuai.

Gambar 4.1 Bomb Calorimeter Leco AC-350 4.3.2 Analisis Kadar Sulfur (S) Batubara Sampel berupa air hasil pembakaran kalorimeter disaring dengan menggunakan kertas whatman no. 42. Penggunaan air hasil pembakaran karena pada saat pembakaran sulfurnya akan keluar dan terlarut dalam air yang terkandung dalam bucket. Kemudian hasil saringan dibilas lagi dengan aquades. Diambil filtratnya dan ditambahkan dengan 10 ml larutan BaCl 10% (10 gram BaCl2 dalam 100 ml akuades). Pengambilan filtrat disini yaitu untuk analisis sulfur yang masih terkandung dalam air sisa pembakaran, sedangkan endapan yang dihasilkan pada kertas saring adalah abu dan pengotor lain yang

terikut. Larutan diaduk sampai homogen dan dipanaskan pada suhu 90oC dengan penangas air hingga terbentuk endapan berwarna putih yang merupakan hasil reaksi antara barium yang telah ditambahkan dengan sulfur yang terkandung dalam air. Air sampel disaring dengan kertas whatman no. 42 bebas abu, kertas whatman no. 42 tersebut dengan endapan didalamnya dilipat dan dimasukkan ke dalam cawan porselen kemudian dibakar dalam furnace pada temperatur 700-800OC selama 1 jam. Sampel hasil dari pembakaran ditimbang massanya kemudian menentukan besarnya sulfur yang terkandung dalam batubara dengan menggunakan rumus :
     

W BaSO4 diatas menunjukkan massa hasil pembakaran dikurang massa cawan yang digunakan. W sampel adalah massa sampel yang digunakan, biasanya satu gram koma sekian. BM S dan BM BaSO4 menunjukkan berat molekulnya. 4.3.3 Analisis Kadar Abu Contoh Batubara Cawan ditimbang dan kemudian dimasukkan sampel ke dalam cawan sebanyak 1 gram. Sampel dimasukkan ke dalam furnace, yaitu memulai dari suhu rendah 2500C selama 30 menit kemudian suhu 250-500 0C selama 30 menit dan 500-8150C selama 60 menit. Cawan logam diambil dari dalam furnace dan diletakkan pada lempengan logam kemudian didinginkan dalam desikator. Setelah dingin

kemudian sampel ditimbang. Cara ini diulangi untuk sampel yang sama, sampai didapat hasil yang tepat (SNI 13-3478, 1994). 4.3.4 Analisis Kadar Air Lembab Contoh Batubara Kering Udara Analisis kadar air lembab ini adalah untuk mengetahui kandungan air dalam 1 gram batu bara. Kadar air yang ter kandung dibagi menjadi 3 bagian yaitu free moisture, inherent moisture, dan total moisture. Cawan beserta tutupnya ditimbang dan dimasukkan sampel ke dalam cawan sebanyak 1 gram. Oven sampel selama 1 jam pada suhu 105-1100C. Cawan diambil dari dalam oven kemudian didinginkan dalam desikator. Setelah dingin sampel ditimbang (SNI 13-13477, 1994).

Gambar 4.2 Botol timbang berisi sampel 4.3.5 Analisis Kadar Zat Terbang (Volatile Matter) Contoh Batubara Cawan silika dan tutup ditempatkan di atas piringan, lalu dimasukkan dalam furnace dan dipanaskan pada suhu 9000C selama 7 menit. Dudukan dan diambil cawan tersebut dari dalam furnace lalu didinginkan dalam desikator. Kemudian cawan beserta tutupnya

ditimbang. Sampel dimasukkan ke dalam cawan kemudian ditimbang

sebanyak 1 gram. Cawan perlahan digoyang agar permukaan contoh rata. Letakan kembali cawan didudukan. Cawan dimasukkan ke dalam furnace dan dipanaskan pada suhu 9000 C selama 7 menit. Dudukan diangkat dan didinginkan dalam desikator. Cawan beserta sampelnya ditimbang setelah dingin (SNI 13-3999, 1995). 4.3.6 Analisis Kadar Karbon Tertambat (Fixed Carbon) Contoh Batubara Kadar karbon tertambat pada contoh batubara tidak dilakukan dengan analisis. Untuk mengetahui kadarnya cukup dengan

perhitungan namun memerlukan data analisis lainnya seperti kadar air lembab, kadar abu dan zat terbang. Perhitungannya yakni 100 dikurang jumlah dari kadar air lembab, abu, dan zat terbang (SNI 133998, 1995).

BAB V PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK

5.1

Evaluasi Pelaksanaan Kerja Praktek Pelaksanaan praktek yang kami lakukan berdasarkan metode metode yang telah dilakukan oleh staf laboran dan dengan bimbingan staf laboran Dinas Pertambangan dan energi Propinsi Kalimantan Selatan. Untuk analisis proksimat batubara dilakukan berdasarkan metode standar SNI. Sebenarnya di laboratorium terdapat instrumen untuk menganalisis kadar moisture batubara yaitu moisture analyzer, namun tidak kami gunakan untuk analisis karena keakuratan datanya tidak mencapai rentang repeaitibility yang telah ditentukan SNI. Untuk analisis kadar sulfur batubara tidak dilakukan dengan instrumen berupa infrared sulfur analyzer karena alat tersebut mengalami kerusakan sehingga tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya untuk menentukan kadar total sulfur batubara.

Gambar 5.1 Moisture analyzer

5.2 Hasil Pengamatan dan Pembahasan 5.2.1 Penentuan Nilai Kalori Batubara dengan Bomb Calorimeter Kalorimetri adalah suatu metode yang mempelajari jumlah panas/kalor berdasarkan perubahan temperatur. Hukum

termodinamika pertama dikemukakan bahwa energi dapat diubah dari suatu bentuk yang satu ke bentuk yang lain, tetapi energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan. Energi adalah suatu kemampuan untuk melakukan usaha, bila suatu benda mempunyai energi, maka benda itu dapat mempengaruhi benda lain dengan jalan melakukan kerja kepadanya (Mirmanto, 2007). Semua bentuk energi dapat diubah keseluruhannya kepanas dan bila energi diukur, biasanya dalam bentuk kalor. Cara yang biasa digunakan untuk menyatakan panas disebut kalori, pada mulanya kalori didefinisikan sebagai jumlah panas yang diperlukan untuk
o o

menaikkan temperatur 1 gram air dengan suhu awal 15 C sebesar 1 C, tetapi akhir-akhir ini satuan kalori digunakan untuk menyatakan perubahan energy (Mirmanto, 2007). Nilai kalor bahan bakar adalah jumlah panas yang dihasilkan atau ditimbulkan oleh suatu gram bahan bakar tersebut dengan
o o

meningkatkan temperatur 1 gram air dari 3,5 C 4,5 C, dengan satuan kalori. Makin tinggi kadar abunya di dalam batubara, makin rendah nilai kalor yang diperolehnya. Kalorimeter bom adalah suatu alat yang digunakan untuk menentukan panas yang dibebaskan oleh suatu bahan bakar dan oksigen pada volume tetap. Alat tersebut

ditemukan oleh Prof. S. W. Parr pada tahun 1912, oleh sebab itu alat tersebut sering disebut Parr Oxygen Bomb Calorimeter (Mirmanto, 2007). Pengukuran nilai kalor (heating value) didalam batu bara kami lakukan dengan menggunakan bomb Calorimeter Leco AC-350. Sampel yang akan diukur kemudian dimasukan ke dalam sebuah kontainer logam yang tertutup, serta diberi muatan oksigen dengan tekanan tinggi. Kemudian bomb ditempatkan di dalam kontainer air dan selanjutnya bahan bakar dinyalakan menggunakan eksternal kontaktor listrik. Selanjutnya temperatur air diukur sebagai fungsi waktu sesudah proses pembakaran berakhir dan dari pengetahuan besaran masa air di dalam sistem, masa dan panas spesifik kontainer dan kurva pemanasan maupun pendinginan, maka energi yang terlepas selama pembakaran bisa ditentukan. Dalam hal ini motor penggerak pengaduk bekerja untuk menjamin keseragaman

temperatur air disekitar bomb. Dalam kondisi khusus pemanasan luar disuplai oleh mantel air untuk mempertahankan suhu seragam, sementara dalam contoh lain mantel bisa dibiarkan kosong untuk mempertahankan mendekati kondisi air didalam kontainer adiabatis. Reaksi yang terjadi didalam wadah Bomb : Batubara + O2 Abu + CO2 (g) + H2O (g) + SO3(g) + NO2 + kalori

Reaksi yang terjadi dalam kalorimeter bomb berada pada volume yang tetap karena bejana bomb tak dapat membesar atau mengecil. Berarti bila gas terbentuk pada reaksi di sini, tekanan akan

membesar maka tekanan pada sistem dapat berubah. Karena pada keadaan volume yang tetap maka panas reaksi yang diukur dengan kalorimeter bomb disebut panas reaksi pada volume tetap. Kalorimeter berhubungan dengan udara dan tekanan pada sistem dapat tetap konstan. Maka perubahan energi diukur dengan kalorimeter adalah panas reaksi pada tekanan tetap. Nilai kalori batubara yang telah kami dapatkan dengan menggunakan Bomb Calorimeter adalah 4962,74 kal/g. Berdasarkan nilai kalori yang didapat dapat disimpulkan bahwa jenis batu bara yang dianalisis termasuk jenis sub-bituminus atau bitumen menengah yang mempunyai rentang kalori 3000-6300 kal/g. Pengukuran panas reaksi pada reaksi pada volume tetap dan tekanan tetap tak banyak berbeda tapi tidak sama. Karena kebanyakan reaksi yang ada kepentingannya dilakukan dalam wadah terbuka jadi berhubungan dengan tekanan udara yang tetap dari atmosfer, maka akan dibicarakan hanya panas reaksi pada tekanan tetap, dan rea ksi dan diberikan dengan simbol H. Definisinya: H = Hakhir Hmula-mula (Ratna, 2009). Walaupun ini merupakan definisi yang biasa dari H, keadaan entalpi H, mula-mula dan akhir (yang sebenarnya berhubungan dengan jumlah energi yang ada pada keadaan ini) tak dapat diukur. Ini disebabkan karena jumlah energi dari sistem termasuk jumlah dari

semua energi kinetik dan energi potensialnya. Jumlah energi total ini tidak dapat diketahui karena kita tidak mengetahui secara pasti berapa kecepatan pergerakan molekul-molekul dari sistem dan juga berapa gaya tarik menarik dan tolak menolak antara molekul dalam sistem tersebut. Bagaimanapun definisi yang diberikan oleh persamaan yang diatas sangat penting karena telah menegakkan tanda aljabar H

untuk perubahan eksoterm dan endotermik. Perubahan eksotermik Hakhir lebih kecil dari Hmula-mula. Sehingga harga H adalah negatif. H untuk

Dengan analisis yang sama kita mendapatkan harga

perubahan endotermik harganya positif (Ratna, 2009). Apabila terjadi pembakaran karbon dengan oksigen reaksi dapat berlangsung eksotermik : 2C + O2 2CO H = -221 KJ/mol.

5.2.2 Analisa Kadar Sulfur (S) Contoh Batubara Pada alat infrared sulfur analyzer penggunaannya bisa dikatakan cukup praktis dan efisien untuk pengukuran sampel dalam jumlah yang banyak. Karena pengukurannya tidak memerlukan waktu yang cukup lama. Infrared sulfur analyzer dihubungkan pada komputer sehingga hasil pengukurannya dapat langsung terlihat pada komputer. Hasil pengukurannya berupa konsentrasi kandungan sulfur. Pengukuran dilakukan pada suhu tinggi yaitu diatas

13500C 500C. Aliran gas dari oksigen (O2) menyebabkan suhu pada furnace bisa mencapai suhu yang sangat tinggi sekali. Setelah katup

gas dibuka dan mengaliri alat infrared sulfur analyzer maka didiamkan sampai suhu furnace mencapai 13500C 500C.

Prinsip pengukuran dengan menggunakan alat infrared sulfur analyzer ini adalah pengukuran gas hasil oksidasi dari sulfur oleh sinar infra merah yang kemudian akan membawanya ke detektor. Alat ini dilengkapi dengan dua buah detektor yaitu detektor low sulfur dan detektor high sulfur. Perbedaan dari kedua detektor ini terdapat pada ukurannya, dimana untuk yang low sulfur bentuknya lebih panjang tetapi luas pernukaannya lebih kecil. Sedangkan untuk yang high sulfur bentuknya lebih pendek dengan luas permukaan yang besar. Untuk hasil pengukuran, detektor low sulfur lebih banyak memberikan hasil pengukuran. Sampel yang dimasukkan ke dalam furnace selanjutnya akan dibakar oleh O2 sehingga terjadilah proses oksidasi yang akan mengubah sulfur menjadi gas SO2. Reaksi yang terjadi adalah : S
oksidasi

SO2

Gas yang keluar dari hasil pembakaran akan segera terbaca oleh sinar infra merah yang selanjutnya akan membawa kedetektor. Detektor akan membaca sinar infra merah tersebut dan hasilnya akan muncul pada komputer. Selama proses pengukuran grafik pada layar komputer akan berubah-rubah namun akan berhenti apabila seluruh sulfur telah habis teroksidasi dan gas SO2 telah terukur semua. Dengan demikian pada penggunaan alat tersebut akan lebih mudah menentukan kadar sulfurnya.

Pada proses analisis kadar sulfur batubara tanpa menggunakan alat infrared sulfur analyzer dapat dilakukan dengan metode gravimetri dimana metode gravimetri ini merupakan suatu metode kimia kuantitatif yang didasarkan pada prinsip penimbangan berat yang di dapat dari proses pemisahan analit dari zat zat lain dengan metode pengendapan. Suatu sampel berupa air hasil dari pembakaran batubara dalam wadah Bomb (reaction chamber) pada Bomb Calorimeter. Air tersebut sudah mengandung sulfur didalamnya karena saat pembakaran batubara, menghasilkan sulfur dalam bentuk SO3 dalam wadah yang tertutup rapat. Reaksi yang terjadi adalah : H2O + SO3 SO42-

Air sampel tersebut disaring dengan kertas Whatman No. 42, agar abu batubara yang bercampur dengan air akan terpisah. Air filtrat yang mengandung SO3 tersebut dipanaskan dengan penangas air kemudian direaksikan dengan barium klorida. Barium klorida adalah ionik senyawa kimia dengan rumus BaCl2, garam barium bersifat racun. BaCl2 mengkristal baik dalam fluorit dan mengikat klorida. Di dalam larutan air, BaCl2 bersifat sebagai garam sederhana, dalam air yang bersifat elektrolit dan pada larutan pH netral. Larutan tersebut setelah diaduk sampai homogen akan membentuk suatu endapan putih. Barium klorida bereaksi dengan ion sulfat untuk menghasilkan endapan putih tebal dari barium sulfat. Reaksi yang terjadi adalah : Ba2+ + SO42BaSO4

Namun pada sampel yang kami kerjakan menghasilkan endapan berwarna putih sedikit kekuningan karena terdapatnya sedikit Fe. Sulfur yang terkandung dalam batubara yang kami analisis dalam laboratorium dinas pertambangan dan energi umumnya mengandung sulfur pirit (FeS2), pirit dapat terbentuk sebagai hasil reduksi sulfur primer oleh organisme dan air tanah yang mengandung ion besi. Endapan yang dihasilkan disaring dengan kertas whatman bebas abu dan dimasukkan ke dalam cawan porselen untuk dibakar pada furnace 700-800oC selama satu jam. Sampel diangkat dan dibiarkan dingin, kemudian ditimbang. Tabel 5.1 Data hasil pengamatan kadar sulfur batubara Sampel Batubara Sampel A Sampel B m sampel (g) 1,0172 g 1,0389 g m cawan (g) 18,5379 g 19,0507 g m hasil pembakaran BaSO4 (g) 18,5691 g 19,0707 g

Sampel batubara yang digunakan adalah sampel yang berasal dari klien. Analisis ini menggunakan dua jenis sampel yang berbeda lokasi asalnya sehingga kemungkinan kandungan sulfurnyapun akan berbeda. Sesudah dipreparasi masing-masing sampel diambil 1 gram untuk kemudian dianalisis. Perhitungan:
y

Sampel A = 32 gram/mol = 233 gram/mol

Diketahui : BM S BM BaSO4

m BaSO4 m sampel


= 18,5691 - 18,5379 = 0,0312 gram = 1,0172 gram


     



= 0,42 %
y

Sampel B = 32 gram/mol = 233 gram/mol = 19,0707 19,0507 = 0,0200 gram = 1,0389 gram


Diketahui : BM S BM BaSO4 m BaSO4 m sampel




     



= 0,26 % W BaSO4 diatas menunjukkan massa hasil pembakaran dikurang massa cawan yang digunakan. W sampel adalah massa sampel yang digunakan, biasanya satu gram koma sekian. BM S dan BM BaSO4 menunjukkan berat molekulnya. Tabel 5.2 Data hasil perhitungan kadar sulfur batubara Sampel (batubara) Sampel A Sampel B Rata-rata Sulfur yang terkandung / g 0,42 % 0,26 % 0,37 %

Berdasarkan hasil yang didapatkan dapat dikatakan bahwa kedua jenis sampel termasuk dalam kategori sulfur yang rendah karena masih berada dalam kisaran kadar sulfur dibawah 1%. Hubungan antara kadar sulfur dan nilai kalori biasanya semakin tinggi kadar sulfur semakin tinggi pula kalorinya namun ketika dalam hal ini didapatkan kadar sulfur yang kecil sehingga bisa diprediksikan bahwa nilai kalorinyapun kecil. 5.2.3 Analisa Kadar Abu Contoh Batubara Prinsip analisa kadar abu batubara ini adalah berdasarkan sisa dari hasil pembakaran sampel batubara secara sempurna pada kondisi standar yaitu kondisi yang dianjurkan dan tertera pada aturan SNI 133478-1994. Kondisi yang dimaksud adalah kondisi pada waktu pemanasan dalam furnace dimana ada beberapa rentan waktu pada setiap pemanasan. Pada saat pemanasan awal suhu yang diperlukan hanya 2500C dan pemanasan ini dilakukan selama 30 menit. Tahap

selanjutnya suhu furnace terus ditingkatkan hingga mencapai 5000C. Pemanasan pada suhu ini juga menggunakan waktu 30 menit.

Terakhir adalah menaikkan suhu hingga 8150C. Pemanasan tidak dilakukan sekaligus pada suhu 8150C untuk menjaga agar hasil pembakaran benar-benar sempurna. Karena apabila langsung

dipanaskan pada suhu tinggi maka dikhawatirkan tidak seluruh sampel dapat terbakar. Dan proses pembakarannya tidak merata.

Kemungkinan dibagian luar sudah terbakar semua tetapi pada bagian dalamnya masih ada yang tidak terbakar. Setelah dikeluarkan dari

furnace dan kemudian ditimbang, maka itulah hasil dari sisa pembakaran abu. Dihitung dengan menggunakan persamaan sehingga dapat diketahui kadar abu pada sampel batubara tersebut. Pengukuran terhadap kualitas batubara juga sangat menentukan terhadap kualitas batubara. Kandungan abu akan terbawa bersama gas pembakaran melalui ruang bakar dan daerah konveksi dalam bentuk abu terbang atau abu dasar. Sekitar 20% dalam bentuk abu dasar dan 80% dalam bentuk abu terbang. Semakin tinggi kandungan abu dan tergantung komposisinya mempengaruhi tingkat pengotoran (fouling), keausan dan korosi peralatan yang dilalui. Selain kualitas yang akan mempengaruhi penanganannya, baik sebagai fly ash maupun bottom ash tetapi juga komposisinya yang akan mempengaruhi pemanfaatannya dan juga terhadap titik leleh yang dapat menimbulkan fouling pada pipa-pipa. Dalam hal ini kandungan Na2 O dalam abu akan sangat mempengaruhi titik leleh abu. Abu ini akan dihasilkan dari pengotor bawaan (inherent impurities) maupun pengotor sebagai hasil penambangan. Komposisi abu seyogyanya diketahui dengan baik untuk kemungkinan pemanfaatannya sebagai bahan bangunan atau keramik dan penanggulangannya terhadap masalah lingkungan yang dapat ditimbulkannya. Data yang didapatkan dari hasil uji ini adalah sebagai berikut : Tabel 5.3 Data hasil pengamatan kadar abu batubara No. Sampel 1 m cawan (g) 16,6194 m wadah + sampel (g) 17,6488 m sampel (g) 1,0294 m sesudah pembakaran (g) 16,6610

16,7992

17,8365

1,0373

16,8403

Analisis kadar abu ini menggunakan satu jenis sampel saja yaitu sampel in home Januari 2010. Pecobaan dilakukan secara duplo dan dicoba apakah hasilnya akan memenuhi nilai repeatibility yang diizinkan. Perhitungan:
y

Sampel nomor 1 = 16,6194 gram 17,6488 gram 1,0294 gram 16,6610 gram

Diketahui : m1 = berat cawan kosong + tutup

m2 = berat cawan + tutup + sampel = m2 m1 = berat sampel m3 = berat cawan + tutup + abu Kadar abu (%) = = =

m 3  m1 x 100 % m 2  m1
16,6610  16,6194 x 100 17,6488  16,6194

= 4,04 %
y

Sampel nomor 2 = 16,7992 gram 17,8365 gram 1,0373 gram 16,8403 gram

Diketahui : m1 = berat cawan kosong + tutup

m2 = berat cawan + tutup + sampel = m2 m1 = berat sampel m3 = berat cawan + tutup + abu Kadar abu (%) = = =

m 3  m1 x 100 % m 2  m1
16,8403  16,7992 x 100 17,8365  16,7992

= 3,96 % Tabel 5.4 Data hasil perhitungan kadar abu batubara Sampel Batubara Sampel 1 Sampel 2 Rata-rata Kadar Abu 4,04 % 3,96 % 4,00 %

Berdasarkan hasil yang didapat ternyata sampel ini memiliki kadar abu rata-rata sebesar 4 %, yaitu 0,04 gram dalam setiap gramnya. Kadar abu ini tergolong rendah. Selisih data yang dihasilkan sebesar 0,08 %, nilai ini memenuhi rentang repeatibility yang ditentukan. Batas maksimal repeatibility yang diizinkan sesuai SNI yaitu 0,2 % untuk batubara yang mengandung abu < 10 % dan 2,0 % untuk batubara yang mengandung kadar abu 10 %. 5.2.4 Analisa Kadar Air Lembab Contoh Batubara Kering Udara Air lembab merupakan air yang terkandung dalam contoh batubara yang telah dikeringkan pada suhu tertentu. Kondisi ini adalah kondisi suhu dan waktu yang sesuai dengan ketentuan SNI 13-34771994. Pada prinsipnya pengukuran kadar air lembab ini adalah dengan cara menghitung kehilangan berat contoh batubara apabila dipanaskan pada suhu dan kondisi standar dalam oven. Proses pemanasan dilakukan dalam oven selama 1 jam pada suhu 105 1100C. Penyusutan volume contoh batubara ditimbang kemudian dihitung dengan menggunakan persamaan diatas sehingga dapat diketahui. Pada saat pemanasan sangat dihindari kontak dengan

udara luar. Sehingga pada saat pemanasan tutup cawan pun juga ikut disertakan. Pada saat pemanasan cawan tidak ditutup melainkan dibiarkan terbuka. Sebelum dikeluarkan dari oven cawan ditutup kemudian baru dikeluarkan. Pendinginan dilakukan dalam desikator. Setelah dingin maka cawan ditimbang sehingga dapat diketahui kandungan air pada batubara tersebut. Dari perhitungan diperoleh kadar air lembab rata-rata yang terdapat pada sampel batubara tersebut sebesar 12,95 %. Kandungan air lembab ini juga merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas suatu batubara. Kualitas disini maksudnya adalah beberapa parameter yang digunakan untuk menentukan bagaimana batubara tersebut, apakah masuk dalam batas standar atau tidak yang nantinya kan disesuaikan dengan penggunaannya atau tidak diizinkan penggunaanya karena tidak memenuhi standar. Kandungan air lembab ini mempengaruhi terhadap jumlah pemakaian udara primernya, pada batubara dengan kandungan air lembab tinggi akan membutuhkan udara primer lebih banyak guna mengeringkan batubara tersebut. Selain itu juga kandungan air ini banyak pengaruhnya pada pengangkutan, penanganan, penggerusan maupun pada

pembakarannya. Pada proses pembakaran akan sangat merugikan apabila kandungan air lembabnya tinggi, karena akan mengurangi panas yang dihasilkan oleh batubara tersebut.

Data yang didapatkan dari hasil uji ini adalah sebagai berikut : Tabel 5.5 Data hasil pengamatan kadar air lembab batubara No. Sampel 1 2 m wadah + tutup (g) 51,3388 51,0719 m wadah + sampel (g) 52,4004 52,0739 m sampel (g) 1,0616 1,0020 m sesudah pemanasan (g) 52,2617 51,9451

Analisis kadar air lembab ini menggunakan jenis sampel yang sama yaitu sampel in home Januari 2010. Wadah sampel yang digunakan untuk analisis ini adalah botol timbang beserta tutup. Masing-masing botol timbang ditimbang terlebih dahulu karena massanya yang berbeda-beda tergantung jenis botol timbang yang digunakan. Perhitungan :
y

Sampel nomor 1 = 51,3388 gram = 52,4004 gram = 1,0616 gram

Diketahui : m1 = berat cawan kosong + tutup m2 = berat cawan + tutup + sampel m2 m1 = berat sampel

m3 = berat cawan + tutp + sampel setelah pemanasan = 52,2617 gram Mad =

2 3 x 100 2 1

52 , 4004  52 , 2617 x 100 % 52 , 4004  51 ,3388

= 13,06 %
y

Sampel nomor 2 = 51,0719 gram = 52,0739 gram = 1,0794 gram

Diketahui : m1 = berat cawan kosong + tutup m2 = berat cawan + tutup + sampel m2 m1 = berat sampel

m3 = berat cawan + tutup + sampel setelah pemanasan = 51,9451 gram Mad =

m 2  m3 x 100 % m 2  m1 52 , 0739  51 ,9451 x 100 52 , 0739  51 , 0719

= 12,85 % Tabel 5.6 Data hasil perhitungan kadar air lembab batubara Sampel Batubara Sampel 1 Sampel 2 Rata-rata Kadar Air Lembab 13,06 % 12,85 % 12.96 %

Berdasarkan data hasil analisis didapatkan kandungan air lembab rata-rata yakni 12,96%. Kadar air lembab ini juga disebut sebagai inherent moisture yaitu kadar air yang terkandung atau terikat dalam batubara. Data tersebut di atas bisa dikatakan memenuhi rentang repeatibility sesuai acuan standar yang digunakan yaitu SNI. Referensi menyebutkan bahwa repeatibility maksimal untuk batubara dengan kadar air lembab <5% adalah 0,2 sedangkan untuk jenis batubara yang memiliki kadar air lembab 5% adalah 0,3. Artinya

hasil analisis diatas masih memenuhi standar karena selisih yang dihasilkan hanya 0,21 untuk batubara yang memiliki kadar air 5%. Kadar air yang terkandung dalam batubara ini disimpulkan cukup besar. 5.2.5 Analisa Kadar Zat Terbang (Volatile Matter) Contoh Batubara Kadar zat terbang (volatile matter) merupakan jumlah (%) kehilangan berat apabila batubara dipanaskan tanpa oksidasi pada kondisi standar setelah dikoreksi terhadap kadar air lembab. Pada prinsipnya penentuan terhadap volatile matter ini adalah dengan cara menghitung kehilangan berat dari contoh yang dipanaskan tanpa oksidasi pada kondisi standar, kemudian dikoreksi terhadap kadar air lembab. Kondisi standar ini adalah kondisi yang sesuai dengan ketentuan SNI 13-3999-1995, yaitu dipanaskan dalam furnace pada suhu 9000C selama 7 menit. Cawan yang digunakan pada proses pengukuran volatile matter ini sangat kecil sehingga untuk mempermudah pada proses peletakan dan pengangkatannya pada furnace, cawan ditempatkan pada dudukan logam. Setelah dipanaskan dalam furnace, sampel didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Penyusutan volum yang terjadi dihitung dengan menggunakan persamaan. Jumlah volatile matter juga turut mempengaruhi terhadap kualitas batubara. Karena kandungan volatile matter ini akan mempengaruhi terhadap kesempurnaan pembakaran dan intensitas api. Kesempurnaan pembakaran ditentukan oleh:

Fuel ratio =

fixed carbon volatile matter

Semakin tinggi fuel ratio maka karbon yang tidak terbakar semakin banyak. Oleh karena itu, volatile matter sangat erat kaitannya dengan kelas batubara tersebut. Makin tinggi volatile matter maka makin rendah kelasnya. Pada pembakaran batubara, maka volatile matter yang tinggi akan lebih mempercepat pembakaran karbon padatnya dan sebaliknya volatile matter yang rendah lebih

mempersulit proses pembakaran. Sebaliknya untuk karbon, apabila kandungannya lebih banyak pada batubara maka akan semakin baik kualitas batubara tersebut. Jumlah kandungan karbon yang tertambat terhadap volatile matter disebut fuel ratio. Data yang didapatkan dari hasil uji ini adalah sebagai berikut : Tabel 5.7 Data hasil pengamatan kadar zat terbang batubara No. Sampel 1 2 m cawan logam + tutup (g) 20,2830 20,3169 m wadah + sampel (g) 21,3311 21,3401 m sampel (g) 1,0481 1,0232 m sesudah pemanasan (g) 20,7780 20,8024

Analisis kadar zat terbang (volatile matter) ini menggunakan jenis sampel yang sama yaitu sampel in home Januari 2010. Uji ini yaitu untuk mengetahui jumlah zat terbang yang terkandung dalam batubara. Untuk analisis digunakan massa sampel sebanyak 1 gram.

Perhitungan : Sampel nomor 1 Diketahui : m1 = berat cawan kosong + tutup m2 = berat cawan + tutup + sampel m2 m1 = berat sampel = 20,2830 gram = 21,3311 gram = 1,0481 gram

m3 = cawan + tutup + sampel setelah pemanasan = 20,7780 gram Mad = kadar air lembab Volatile matter = = 12,96 %

21,3311  20,7780 x 100 %  12,96% 21,3311  20, 2830

= 45,93% Sampel nomor 2 Diketahui : m1 = berat cawan kosong + tutup m2 = berat cawan + tutup + sampel m2 m1 = berat sampel = 20,3169 gram = 21,3401 gram = 1,0232 gram

m3 = cawan + tutup + sampel setelah pemanasan = 20,8024 gram Mad = kadar air lembab = 12,96 %

21,3401  20,8024 x 100%  12,96% 21,3401  20,3169

= 45,75%

Volatile matter =

m 2  m3 x 100 %  m 2  m1

m 2  m3 x 100 %  m 2  m1

ad

ad

Tabel 5.8 Data hasil perhitungan kadar zat terbang batubara Sampel Batubara Sampel 1 Sampel 2 Rata-rata Kadar Zat Terbang 45,93 % 45,75 % 45,84 %

Berdasarkan data hasil analisis didapatkan kandungan zat terbang untuk uji pertama adalah 45,93% dan yang kedua adalah 45,75%. Kandungan rataratanya adalah sebesar 45,84%. Analisis yang dilakukan secara duplo ini memiliki selisih nilai yang kecil yaitu 0,18. Sesuai dengan acuan standar yang digunakan yaitu SNI artinya data ini presisi atau memenuhi. SNI menyatakan bahwa repeatability batubara dengan kadar VM <10% sebesar 0,3% absolute sedangkan untuk batubara dengan kadar VM 10% sebesar 3% dari hasil nilai rata-rata. Hasil yang didapat menunjukkan nili rata-rata yang relative besar yaitu 45,84%, hal ini kemungkinan dikarenakan banyaknya kandungan lain selain karbon seperti SiO2, A12O3, Fe2O3, TiO2, Mn3 O4, CaO, MgO, Na2 O, K2O, dan senyawa logam lainnya dalam jumlah yang kecil. 5.2.6 Analisis Kadar Karbon Tertambat (Fixed Carbon) Contoh Batubara Nilai kadar karbon diperoleh melalui pengurangan angka 100 dengan jumlah kadar air (kelembaban), kadar abu, dan jumlah zat terbang. Nilai ini semakin bertambah seiring dengan tingkat pembatubaraan. Kadar karbon dan jumlah zat terbang digunakan sebagai perhitungan untuk menilai kualitas bahan bakar, yaitu berupa nilai fuel ratio. Data yang didapatkan dari hasil uji ini adalah sebagai berikut :

Tabel 5. 9 Data hasil pengamatan kadar karbon tertambat batubara No. Sampel 1 2 Air lembab (%) 13,06 12,85 Abu (%) 4,04 3,96 Zat terbang (%) 45,93 45,75

Analisa kadar karbon tertambat (fixed carbon) ini menggunakan jenis sampel yang sama yaitu sampel in home januari 2010. Metode ini juga berdasarkan SNI. Untuk menentukan kadar karbon tertambat dalm sampel batubara tidak perlu percobaan lagi, hanya dihitung dengan sutu rumus namun memerlukan data analisi sebelumnya yaitu kadar kelembaban, kadar zat terbang dan kadar abu. Perhitungan : Sampel nomor 1 Diketahui : m1 = Kadar air lembab m2 = Kadar abu m3 = Kadar zat terbang Kadar karbon tertambat = 100 (m1 + m2 + m3) = 100 (13,06 + 4,04 + 45,93) = 100 63,03 = 36,97 % Sampel nomor 2 Diketahui : m1 = Kadar air lembab m2 = Kadar abu m3 = Kadar zat terbang = 12,85 % = 3,96 % = 45,75 % = 13,06 % = 4,04 % = 45,93 %

Kadar karbon tertambat = 100 (m1 + m2 + m3) = 100 (12,85 + 3,96 + 45,75) = 100 62,56 = 37,44 % Tabel 5.10 Data hasil perhitungan kadar karbon tertambat batubara Sampel Batubara Sampel 1 Sampel 2 Rata-rata Kadar Karbon Tertambat 36,97 % 37,44 % 37,21 %

Berdasarkan data hasil perhitungan dapat kita tentukan kadar karbon tertambat dalam batubara yaitu sisa padatan yang dapat terbakar setelah batubara dihilangkan zat terbangnya. Nilai rata-rata karbon tertambat yang didapatkan sebesar 37,21%. Kadar ini relatif tergolong kecil, faktor penyebabnya adalah kandungan zat terbang (volatile matter) yang terlalu besar. Hubungannya dengan kalori, diprediksikan batubara jenis ini memiliki nilai kalori yang rendah karena jumlah karbon yang terbakar juga sedikit.

BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari pelaksanaan praktek kerja lapangan ini adalah: 1. Batubara in home memiliki kadar abu rata-rata sebesar 4,00 % per gram. Besarnya persen abu dapat mengakibatkan pengotoran pada mesin yang digunakan. 2. Batubara in home memiliki kadar air lembab batubara adalah sebesar 12.96 % per gram. Kadar air ini mempengaruhi pembakaran dan dapat menurunkan nilai kalorinya. 3. Batubara in home memiliki kadar zat terbang batubara adalah sebesar 45,84 % per gram. Angka ini menunjukkan nilai yang besar. Hal ini dipengaruhi oleh kandungan senyawa lain yang cukup banyak dan pengaruhnya terhadap kalori adalah berbanding terbalik. 4. Batubara in home memiliki kadar kadar karbon tertambat batubara adalah sebesar 37,21 % per gram. Hubungannya dengan nilai kalori adalah berbanding lurus. Semakin tinggi kadar fixed carbon semakin tinggi pula nilai kalorinya. 5. Analisis sampel batubara dari klien yang telah dilakukan didapatkan nilai kalori sebesar 4962,74 kal/g yang artinya jenis ini termasuk batubara sub-bituminous atau bitumen menengah. 6. Analisis sampel batubara dari klien yang telah dilakukan didapatkan kadar total sulfur rata-ratanya sebesar 4,00 % per gram. Angka ini

cukup besar karena batas maksimal batubara yang dapat digunakan yaitu dengan kadar sulfur maksimal 1%. 6.2 Saran Berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan kita dapat melihat variasi data yang dihasilkan. Sangat disayangkan jika kualitas batubara yang didapatkan kurang bagus, untuk itu semestinya ada cara atau metode bagaimana meningkatkan kualitas batubara tersebut.

DAFTAR PUSTAKA Anonim 1. 2010. Batubara. http://id.wikipedia.org/wiki/Batu_bara Diakses pada tanggal 18 Maret 2010. Anonim 2. 2009. Proses Pembentukan Batubara. http://www.geofacts.co.cc/2009/04/ Diakses pada tanggal 18 Maret 2010. Anonim 3. 2010. Batubara Sebagai Sedimen Organik. http://ilmubatubara.wordpress.com/ Diakses pada tanggal 18 Maret 2010. Anonim 4. 2009. Industri Batubara. http://sheiladefirays.blogspot.com/2009/12/ Diakses pada tanggal 17 April 2010. Anonim 5. 2008. Analisis Batubara. http://idhamds.wordpress.com/2008/09/15/ Diakses pada tanggal 17 April 2010. Bayuseno , A.P. 2009. Pengaruh Sifat Fisik dan Struktur Mineral Batu Bara Lokal terhadap Sifat Pembakaran. Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Dinas Pertambangan dan Energi. 2005. Sejarah dan Perkembangan Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Kalimantan Selatan. Banjarbaru. ____. 2009. Unit Pelayanan Jasa Sumber Daya Mineral dan Energi. Banjarbaru. Mirmanto. 2007. Nilai Kalor Sampah Hasil Produksi Masyarakat Mataram. Jurusan Teknik Mesin, Universitas Mataram. Putrago. 2009. Pengertian Sumber Daya dan Cadangan Batubara. http://putrago.blog.akprind.ac.id/content/ Diakses pada tanggal 18 Maret 2010. Rachimoellah. 2002. Prospek Pemanfaatan Batubara Dan Gambut Sebagai Bahan Baku Industri Kimia dalam Makalah Simposium Nasional Kimia. Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Ratna. 2009. Entalpi dan Perubahan Entalpi http://id.wikipedia.org/wiki/Entalpi_dan_Perubahan_Entalpi Diakses pada tanggal 29 Maret 2010. Standar Nasional Indonesia. Analisis Kadar Abu Contoh Batubara. SNI 133478-1994. Kota

Standar Nasional Indonesia. Analisis Kadar Air Lembab dari Contoh Batubara Kering Udara. SNI 13-3477-1994, UDC. Standar Nasional Indonesia. Analisis Kadar Karbon Tertambat (Fixed Carbon) Contoh Batubara. SNI 13-3998-1995, ICS. Standar Nasional Indonesia. Analisis Kadar Zat Terbang ( Volatile Matter) Contoh Batubara. SNI 13-3999-1995, ICS. Standar Nasional Indonesia. Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara . Amandemen 1 - SNI 13-5014-1998, ICS 73.020. Sukandarrumidi. 2004. Batubara dan Gambut. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. ____. 2006. Batubara dan Pemanfaatannya. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Tim Kajian Batubara Nasional. 2006. Batubara Indonesia. Kelompok Kajian Kebijakan Mineral dan Batubara Pusat Litbang Teknologi Mineral dan Batubara.