Anda di halaman 1dari 13

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/311451871

KONTRIBUSI PENGEMBANGAN PARIWISATA DANAU TOBA MELALUI SKEMA


BOP (BADAN OTORITA PARIWISATA) BAGI MASYARAKAT DI SEKITAR DANAU
TOBA

Article · December 2016

CITATIONS READS

0 6,147

2 authors, including:

Mentari Puspa Wardani


Bogor Agricultural University
3 PUBLICATIONS   1 CITATION   

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Mentari Puspa Wardani on 12 December 2016.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


KONTRIBUSI PENGEMBANGAN PARIWISATA DANAU TOBA
MELALUI SKEMA BOP (BADAN OTORITA PARIWISATA) BAGI
MASYARAKAT DI SEKITAR DANAU TOBA

Mentari Puspa Wardani1*) dan Nur Azizah Nasution2


1
Mahasiswa Pasca Sarjana, Program Sudi Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika
2
Mahasiswa Pasca Sarjana, Program Studi Teknologi Hasil Perairan
Institut Pertanian Bogor
Jl. Raya Darmaga, Bogor 16680, Indonesia

E-mail: mentariwardani@gmail.com

Abstrak
Pariwisata bagi banyak negara telah ditetapkan sebagai leading sector untuk meningkatkan
destinasi dan investasi pariwisata. Pariwisata bahari, salah satu sektor dalam bidang kelautan yang
menjadi tumpuan pembangunan kemaritiman adalah yang paling favorit oleh pemerintah
Indonesia saat ini dengan nilai ICOR sebesar 3,01 di tahun 2005 yang artinya paling efektif.
Kabupaten Toba Samosir adalah salah satu contoh daerah yang mengandalkan sektor Pariwisata
menjadi tulang punggung pendapatan daerah. Makalah ini dibuat dengan maksud mengangkat
potensi bidang kelautan Indonesia di sektor pariwisata yaitu pengembangan pariwisata Danau
Toba sebagai bahan kajian. Sedangkan secara khusus, makalah ini bertujuan untuk untuk mengulas
lebih jauh tentang bagaimana pembangunan dan kontribusi pengembanagn pariwisata melalui
pembentukan Badan Otoritas Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba implikasinya terhadap
kesejahteraan masyarakat lokal (nelayan). Penulisan makalah ini didasarkan pada metode kajian
pustaka. Data-data yang diperoleh merupakan data sekunder yang diperoleh dari hasil
penelitian/kajian dalam bentuk jurnal-jurnal yang telah terpublikasi, bahan-bahan berupa tulisan-
tulisan di media masa serta juga bahan-bahan lain yang relevan dengan bahasan dalam makalah
ini. Hasil pembangunan infrastruktur pariwisata Danau Toba membutuhkan dana 726,09 M yang
langsung memberikan implikasi terhadap nelayan masyarakat lokal di Danau Toba. Skema yang
dibangun dalam membangun pariwisata ada beberapa hal yang harus dilakukan yaitu sinkronisasi
kebijakan yang berhubungan dengan pariwisata diturunkan melalui sinkronisasi kelembagaan
dengan membuat suatu lembaga yang bernama BOP (Badan Otorita Pariwisata) ditingkat pusat
dan daerah yang didukung beberapa kementerian dan diketuai oleh Menko Kemaritiman dan
dipimpin langsung oleh Presiden. Perlunya kerjasama yang baik antara pemerintah, pemilik modal
dan masyarakat lokal. Manfaat BOP memiliki batasan, adanya batasan terhadap daya dukung
lingkungan yang merupakan salah syarat untuk kelancaran pengembangan pariwisata Danau Toba
kedepan.
Keywords: pariwisata, BOP, nelayan, peningkatan kesejahteraan

I. Pendahuluan
Pariwisata telah mengalami ekspansi dan diversifikasi berkelanjutan
menjadi salah satu sektor ekonomi yang terbesar dan tercepat pertumbuhannya di
dunia meskipun krisis global terjadi beberapa kali. Dari data UNWTO (The
United Nations World Tourism Organization) Tourism Highlights (2014), jumlah
perjalanan wisatawan internasional tetap menunjukkan pertumbuhan yang positif
yaitu 25 juta orang (tahun 1950), 278 juta orang (tahun 1980), 528 juta orang
(tahun 1995) dan 1,1 milyar orang (tahun 2014). Pariwisata bagi banyak negara
telah ditetapkan sebagai leading sector untuk meningkatkan destinasi dan
investasi pariwisata, menjadikan pariwisata sebagai faktor kunci dalam
pendapatan ekspor, penciptaan lapangan kerja, pengembangan usaha dan
infrastruktur. Negara-negara Asia seperti Thailand, Malaysia, Philipina telah
mampu mengembangkan sektor pariwisata sebagai salah satu motor penggerak
pembangunan ekonominya. Apabila dibandingkan dengan negara-negara pesisir
di kawasan Asia Timur, devisa Indonesia yang berasal dari sektor pariwisata lebih
rendah, padahal Indonesia memiliki lebih banyak destinasi wisata namun belum
dikembangkan secara optimal. Hal tersebut merupakan tantangan tersendiri bagi
pemerintah untuk bagaimana mengembangkan sektor pariwisata agar mampu
menjadi leading sector dalam pengembangan ekonomi bidang kelautan Indonesia.
Sektor pariwisata di Indonesia menurut Santoso (2008) adalah salah satu
sektor yang memegang peranan penting dalam keberlangsungan perekenomian
Indonesia. Jika mendapatkan pengelolaan yang baik dan benar, pembangunan
pariwisata sebagai salah satu industri akan menciptakan kemakmuran melalui
perkembangan transportasi, akomodasi dan komunikasi yang menciptakan
peluang kerja yang relatif besar. Pariwisata adalah salah satu jenis industri baru
yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja,
peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktif
lainnya.
Pariwisata bahari, salah satu sektor dalam bidang kelautan yang menjadi
tumpuan pembangunan kemaritiman adalah yang paling favorit oleh pemerintah
saat ini. Beberapa daerah pesisir yang tengah melakukan perbaikan sektor
pariwisatanya juga menjadi perhatian. Pembangunan sektor ini secara langsung
dan tidak langsung juga mendapat dukungan sektor lain untuk tumbuh. Sektor ini
yang menurut Dekin (2012) sektor pariwisata bahari merupakan sektor kelautan
yang paling efektif dengan nilai ICOR sebesar 3,01 di tahun 2005. ICOR
(Incremental Capital Output Ratio) merpakan indikator untuk mengukur sejauh
mana efisiensi dari suatu investasi. Makin rendah angka ICOR, maka investasi
yang dilakukan semakin efisien. ICOR dihitung sebagai rasio investasi terhadap
PDB yang dibagi tingkat pertumbuhan PDB, semuanya dengan harga konstan
(tahun dasar). Lebih lanjut, dengan kebijakan pembangunan yang digalakkan oleh
pemerintah dalam kurun waktu dua tahun terakhir dengan membuka akses
terhadap pembentukan 10 destinasi wisata baru sangat menarik untuk dikaji.
Konektivitas sebagai isu penting dalam pariwisata maka membutuhkan perangkat
pendukung berupa pelabuhan, bandara, pembuatan jalur dan jadwal pelayaran
kapal dan lain-lain serta pembangunan infrastruktur pendukung adalah sebuah
kemajuan yang tidak bisa dipungkiri di sektor kelautan. Baik perikanan maupun
pariwisata keduanya secara makro telah memberikan kontribusi dalam bentuk
PDB. Secara rill kedua sektor ini telah memainkan peran yang cukup signifikan
dalam pembangunan bidang kelautan. Jumlah lapangan kerja yang tersedia,
terjadinya aliran barang dan jasa yang besar baik dari produsen ke konsumen
maupun adanya perbaikan infrastruktur pendukung telah menggerakkan ekonomi
rill. Keberpihakan pemerintah dalam menata perikanan dengan penguatan
terhadap nelayan kecil melalui skema-skema terukur akan dapat mendorong
peningkatan PDB sektor ini. Sedangkan segi pariwisata bahari, penentuan
pengelolaan pariwisata bahari dengan menjadikan masyarakat lokal sebagai
pemain utama dalam mendorong perbaikan sistem pariwisata bahari akan
menciptkan lapangan kerja dan mendorong keberlanjutan usaha yang dibangun
oleh masyarakat. Pembangunan dari kedua sektor harus juga dapat
memperhatikan daya dukung lingkungan sebagai faktor pembatas pembangunnya
agar dapat berkelanjutan untuk masa depan.
Daerah Toba adalah salah satu contoh daerah yang mengandalkan sektor
Pariwisata menjadi tulang punggung pendapatan daerah. Hal ini dibuktikan oleh
banyaknya wisatawan yang datang mengunjungi kawasan danau Toba dan pulau
Samosir. Kesadaran akan hal tersebut kurang disertai dengan usaha-usaha
peningkatan sarana penunjang kegiatan wisata akibatnya kondisi pariwisata sulit
berkembang. Keberadaan Danau Toba dengan keindahan alamnya menjadikan
daerah di sekitarnya sebagai prioritas obyek dan daya Tarik Wisata (ODTW) di
Sumatera Utara. Saat ini kawasan Danau Toba ditetapkan sebagai Destinasi
Pariwisata Nasional (DPN) dan Destinasi Pariwisata Unggul (DPU) di provinsi
Sumatera Utara. Menyadari hal tersebut, pemerintah menetapkan Kawasan Danau
Toba (KDT) sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) bidang pariwisata yang
selanjutnya disebut sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Pembangunan
Kawasan Pariwisata Danau Toba diperlukan pengaturan secara khusus untuk
menyatukan pelaksanaan kewenangan pengelolaan kawasan guna mempercepat
pengembangan dan pembangunan sehingga pemerintah memandang perlu
pembentukan BOP Danau Toba (Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata
Danau Toba. Dalam hal ini, Presiden Joko Widodo pada tanggal 1 Juni 2016 telah
menandatangani Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2016 tentang Badan Otorita
Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba. Dalam Perpres ini disebutkan, untuk
melaksanakan pengembangan Kawasan Pariwisata Danau Toba dengan
membentuk Badan Otoritas Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba yang
berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.
Bila dikaitkan dengan pembangunan perekonomian dengan suatu
pertumbuhan yang berimbang, pariwisata dapat diharapkan memegang peranan
yang menentukan dan dapat dijadikan sebagai katalisator untuk mengembangkan
pembangunan sektor-sektor lainnya, karena tidak hanya perusahaan-perusahaan
yang dapat menyediakan penginapan (hotel), makanan dan minuman (bar dan
restaurant), perencanaan perjalanan (tour operator), pramuwisata (tourist guide),
tetapi pariwisata juga memerlukan pula prasarana ekonomi seperti jalan-jalan,
jembatan, terminal, lapangan udara, fasilitas olah raga, kantor pos dan
telekomunikasi, bank, money changer. Dari keterangan di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa dengan adanya pariwisata akan dapat menimbulkan dampak
yang positif dari pembangunan bidang lainnya. Keterlibatan atau partisipasi
masyarakat lokal menjadi penting bila dikaitkan dengan upaya keberlanjutan
pariwisata itu sendiri dalam hal perlindungan terhadap lingkungan maupun
manfaatnya bagi kesejahteraan masyarakat. Hal ini penting agar upaya
pengembangan pariwisata tidak hanya demi meningkatkan pendapatan daerah
tetapi juga betul-betul memberikan manfaat terutama bagi masyarakat yang
berada di sekitar obyek pariwisata yang bersangkutan. Obyek wisata bahari juga
tempat nelayan beraktivitas, maka pengembangan wisatanya juga memberikan
manfaat bagi nelayan, jangan sampai para nelayan yang secara umum masih
mengalami kemiskinan dan ketinggalan justru tersingkir karena berkembangnya
pariwisata. Pembangunan pariwisata alam bertujuan mengelola dan
mengembangkan sumber daya alami dan hayati bagi kesejahteraan masyarakat di
masa mendatang. Pembangunan pariwisata harus memiliki peran dalam
pembangunan ekonomi lokal masyarakat. Terlaksananya pembangunan pariwisata
dapat membuka lapangan kerja dan menambah pendapatan masyarakat dari sektor
perdagangan maupun jasa. Sehebat apapun perkembangan suatu tempat wisata
tidaklah ada artinya bagi masyarakat jika tidak dapat mendongkrak sektor
ekonomi lokal dari tempat wisata. Masyarakat lokal (nelayan) memiliki peranan
penting dalam pariwisata, jika pariwisata diletakkan sebagai salah satu upaya
untuk mengembangkan ekonomi dan memakmurkan masyarakat.
Makalah ini dibuat dengan maksud mengangkat potensi bidang kelautan
Indonesia di sektor pariwisata, pengembangan pariwisata Danau Toba sebagai
bahan kajian. Sedangkan secara khusus, makalah ini bertujuan untuk untuk
mengulas lebih jauh tentang bagaimana pembangunan dan kontribusi
pengembangan pariwisata melalui pembentukan Badan Otorita Pengelola
Kawasan Pariwisata Danau Toba implikasinya terhadap kesejahteraan masyarakat
lokal (nelayan). Bidang kelautan Indonesia, sejauh mana bidang ini dapat
memberikan implikasi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan
bagaimana kebijakan yang dibangun untuk tetap menjaga keberlanjutan bidang
kelautan Indonesia di masa yang akan datang.

II. Metode Penelitian


Penulisan makalah ini didasarkan pada metode kajian pustaka. Data-data
yang diperoleh merupakan data sekunder yang diperoleh dari hasil
penelitian/kajian dalam bentuk jurnal-jurnal yang telah terpublikasi, bahan-bahan
berupa buku-buku ilmiah dan tulisan-tulisan di media masa serta juga bahan-
bahan lain yang relevan dengan bahasan dalam makalah ini. Sebagai bahan data
sekunder diperoleh dari data Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan
Investasi Pariwisata Kementerian Pariwisata tahun 2016, UNWTO Tourism
Highlights tahun 2014, Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Samosir
tahun 2015 dan BPS Sumatra Utara tahun 2015. Studi pustaka yang digunakan
menurut Dekin (Dewan Kelautan Indonesia) tahun 2012 tentang efektivitas
investasi sektor pariwisata dilihat dari nilai ICOR, Humas Sekertariat Kabinet RI
tahun 2016 tentang struktur organisasi Otorita Danau Toba, jurnal terkait sektor
pariwisata di Indonesia menurut Santoso tahun 2008 dan berita Kompas bulan
Agustus 2016 terkait pengembangan Danau Toba sebagai salah satu dari 10
destinasi wisata unggulan. Bahan-bahan yang diperoleh ini dielaborasi dengan
pendekatan deskriptif dalam menampilkan formasi gagasan dalam menjawab
pokok permasalahan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya dalam makalah
ini. Makalah ini dimulai dengan adanya pendahuluan yang berisi latar belakang,
pedekatan pemecahan permasalahan yang terkait dengan judul, alasan yang
mendasari permasalahan itu penting dan perlu diteliti, tujuan penulisan makalah,
metode penelitian, hasil dan pembahasan serta penarikan kesimpulan. Metode
diskusi merupakan pokok-pokok permasalahan kajian yang diperkuat oleh data-
data berupa kualitatif dan kuantitatif untuk memperkaya kajian. Lokasi penelitian
dilakukan di Danau Toba, Sumatera Utara. Penarikan kesimpulan dilakukan di
akhir makalah ini yang merupakan representasi simpulan pemecahan masalah dari
gagasan yang diangkat dalam makalah ini.

III. Hasil dan Pembahasan


Kebijakan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dalam menjadikan
Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia sebagai salah satu program kerja yang
diturunkan dari Nawa Cita adalah pengembangan sektor pariwisata yang
dipelopori oleh Menteri Koordinator Maritim. Pengembangan pariwisata ini
didukung oleh beberapa kementerian lain antara lain; Mendagri, Menteri
PPN/Kepala Bappenas, Menteri Keuangan, Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan, Menteri Agraria/Kepala BPN, Menteri PUPR, Menteri Perhubungan,
Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri ESDM, Menteri Ketenagakerjaan, dan
Menteri PANRB. Pembangunan destinasi pariwisata fokus pada 10 destinasi
wisata unggulan, salah satunya adalah Danau Toba. Penetapan Surat Keputusan
oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 1 Juni 2016 telah menandatangani
Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2016 tentang Badan Otorita Pengelola
Kawasan Pariwisata Danau Toba. Dalam Perpres ini disebutkan untuk
melaksanakan pengembangan Kawasan Pariwisata Danau Toba maka dibentuk
Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba yang berada di bawah
dan bertanggung jawab kepada Presiden.
Susunan organisasi Otorita Danau Toba menurut Perpres ini terdiri atas: a.
Dewan Pengarah; dan b. Badan Pelaksana. Dewan Pengarah mempunyai tugas: a.
Menetapkan kebijakan umum, memberikan arahan, melakukan pengendalian dan
pembinaan terhadap pelaksanaan kebijakan pengelolaan, pengembangan, dan
pembangunan kawasan Danau Toba; b. Mensinkronkan kebijakan
Kementerian/Lembaga dan Pemerintahan Daerah mengenai pengelolaan,
pengembangan, dan pembangunan kawasan Danau Toba. Selain itu c.
Memberikan petunjuk pelaksanaan kepada Badan Pelaksana mengenai
pengelolaan, pengembangan, dan pembangunan kawasan Danau Toba; dan d.
Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan, pengembangan, dan
pembangunan kawasan Danau Toba yang dilakukan oleh Badan Pelaksana. Pasal
5 Perpres ini menyebutkan, Dewan Pengarah terdiri atas: a. Ketua merangkap
Anggota: Menteri Koordinator bidang Kemaritiman; b. Ketua Pelaksana Harian
merangkap Anggota: Menteri Pariwisata; c. Anggota: 1. Mendagri, 2. Menteri
PPN/Kepala Bappenas, 3. Menteri Keuangan, 4. Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan, 5. Menteri Agraria/Kepala BPN, 6.Menteri PUPR, 7. Menteri
Perhubungan, 8 Menteri Kelautan dan Perikanan, 9. Menteri ESDM, 10. Menteri
Ketenagakerjaan, 11. Menteri PANRB, 12. Kepala BKPM, 13. Sekretaris Kabinet,
dan 14. Gubernur Sumatera Utara. Dalam melaksanakan tugas dan fungsi Badan
Pelaksana memperhatikan aspirasi, budaya, dan masukan dari masyarakat yang
ada di Kawasan Pariwisata Danau Toba. Menurut Perpres ini, Badan Pelaksana
wajib menyusun: a. Rencana Induk Pembangunan Kawasan Pariwisata Danau
Toba untuk jangka waktu 25 tahun, yaitu tahun 2016-2041; dan b. Rencana Deatil
Pengembangan dan Pembangunan 5 (lima) tahunan Kawasan Pariwisata Danau
Toba. Untuk pertama kali Rencana Detil Pengembangan dan Pembangunan
Kawasan Pariwisata Danau Toba disusun untuk periode 2016-2019 dengan target
kinerja ditetapkan oleh Menko Kemaritiman selaku Ketua Dewan Pengarah.
Otorita Danau Toba melaksanakan selama 25 tahun dan berakhir pada tanggal 31
Desember 2041 dan dapat diperpanjang (Humas Sekertariat Kabinet RI, 2016).

Gambar 1. Destinasi Pariwisata Prioritas


(Sumber: Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Investasi
Pariwisata Kementerian Pariwisata, 2016)

Skema yang dibangun dalam membangun pariwisata ada beberapa hal yang
harus dilakukan yaitu sinkronisasi kebijakan yang berhubungan dengan pariwisata
diturunkan melalui sinkronisasi kelembagaan dengan membuat suatu lembaga
yang bernama BOP (Badan Otorita Pariwisata) ditingkat pusat dan daerah yang
didukung beberapa kementerian dan diketuai oleh Menko Kemaritiman dan
dipimpin langsung oleh Presiden. Selain itu, di tingkat daerah pembangunan
pariwisata ini membutuhkan anggaran dana yang dialokasikan oleh pemerintah
melalui APBN selama tahun 2016-2019 sebesar 726,09 miliyar untuk dukungan
infrastruktur Danau Toba yang bertujuan untuk membangun aksesibilitas di
tingkat daerah (Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Investasi Pariwisata
Kementerian Pariwisata, 2016).
Danau Toba sebagai salah satu pilot project pemerintahan Jokowi-JK untuk
pengembangan bidang maritim di Indonesia fokus kepada sektor pariwisata
dengan diwadahi langsung oleh Kementrian Koordinator Maritim dengan
membuat suatu BOP di tingkat pusat dan di daerah. Kebijakan yang dimaksud
adalah sinkronisasi undang-undang atau peraturan dan kebijakan anggaran dana
pembangunan pariwisata. Berdasarkan data analisis yang diperoleh dari Deputi
Bidang Pengembangan Destinasi dan Investasi Pariwisata Kementerian Pariwisata
tahun (2016), selama tahun 2016-2019 dukungan Pembangunan Infrastruktur
Danau Toba berikut alokasi anggaran: 1. Pengembangan, pengelolaan sarana air
(jaringan irigasi, rawa, waduk, embung, situ, dan penampungan air lainnya) dan
penyediaan air baku di kabupaten Tapanuli Utara sebesar 76,7 milyar,
kabupaten Samosir sebesar 13 milyar, kabupaten Humbang Hasundutan sebesar
10,69 milyar, kabupaten Karo sebesar 25,13 milyar, kabupaten Simalungun
sebesar 14,52 milyar, kabupaten Toba Samosir sebesar 3 milyar; 2.
Pengendalian banjir lahar gunung berapi dan pengamanan pantai di kabupaten
Asahan sebesar 165,7 milyar, kabupaten Karo sebesar 10 milyar; 3.
Pembangunan jalan baru di Kabupaten Karo sebesar 18,8 milyar pemeliharaan,
pelebaran, rekontruksi dan rehabilitasi jalan, kabupaten Asahan 180,18 milyar,
kabupaten Tapanuli Utara 98,17 milyar; 4. Pengembangan kawasan
pemukiman, sistem penyediaan air minum dan penyehatan lingkungan, kota
Tanjung Balai 10 milyar, kab. Karo 63,9 milyar, kab. Tapanuli Utara 14 milyar,
kab. Pakpak Barat 7,8 milyar, kab. Humbang Hasundutan 5,8 milyar, kab. Toba
Samosir 6,8 milyar dan kab. Asahan 2,7 milyar; 5. Pembangunan fasilitas
bandara Sibisa sebesar 200 juta. Danau Toba menjadi destinasi wisata melalui
skema BOP, alokasi anggaran diatas yang berkaitan dengan batasan infrastruktur
sudah mulai berjalan proyeknya pada bulan September 2016.
Dengan nilai ICOR dari pengembangan sumberdaya adalah sektor
pariwisata sebesar 3,01 artinya sektor tersebut paling efektif dan efisien sehingga
dengan investasi yang kecil dapat mendapatkan keuntungan besar. Dengan begitu
kita melihat bahwa potensi pariwisata yang ada di daerah bisa menjadi salah satu
alternatif pencarian lapangan kerja, penurunan pengangguran, pemanfaatan
sumberdaya dengan tidak merusak salah satunya wisata alam. Disisi lain dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat, PDRB akan naik, pembangunan
infrastruktur akan merata dan tingkat pendidikan masyarakat akan semakin
meningkat. Di satu sisi untuk menciptakan pembangunan yang semakin merata
karena salah satu yang menjadi destinasi pariwisata adalah aksesibilitas, artinya
apabila wisatawan mengunjungi suatu destinasi wisata maka pemerintah akan
membangun infrastruktur agar wisatawan merasa nyaman. Tidak hanya untuk
wisatawan tetapi masyarakat lokal sekitar Danau Toba juga memanfaatkan
aksesibilitas tersebut, misalnya agar dapat dicapai kurang dari 3 jam dari Medan,
perlu adanya pembangunan jalan tol sampai ke Pematang Siantar serta
peningkatan jalan dari Kabanjahe ke Prapat. Demikian juga peningkatan jalan dari
Bandar Udara Silangit ke Danau. Amenitas, perlu menciptakan rasa aman serta
kenyamanan dan menjaga dengan menjaga kebersihan daerah air dan kawasan
wisata Danau Toba. Atraksi, misalnya pembangunan Geopark Danau Toba, untuk
menghidupkan kawasan maka perlu atraksi yang dapat digunakan menerus yakni
watersport dengan power boating sebagai andalan. Fasilitas entertainment kelas
dunia perlu dihadirkan untuk melengkapi. Key success factors strategi
pengembangan pariwisata Danau Toba antara lain terciptanya aksesibilitas,
amenitas, atraksi dan pendirian suatu Badan Pengelola.
Sekian banyak infrastruktur yang akan dibangun masih pada skala makro
untuk tingkat kabupaten sehingga perlu dikaji seberapa besar seharusnya anggaran
tersebut dialokasikan untuk nelayan dan masyarakat lokal di sekitar Danau Toba.
Sebaiknya terdapat kebijakan yang fokus pada nelayan misalnya infrastruktur
untuk nelayan berupa alat tangkap yang ramah lingkungan, perbaikan pasar
nelayan dan pengembangan yang berkaitan dengan infrastruktur lainnya untuk
mengetahui seberapa besar kontribusi sektor pariwisata terhadap tingkat
pendapatan nelayan. Perlu adanya perubahan pola pikir nelayan, tingkat kesadaran
nelayan dan tingkat pengetahuan nelayan yang berkaitan dengan penangkapan.
Secara skenario, anggaplah nelayan menangkap budidaya secara tradisional
kemudian dilakukan secara tidak teratur untuk kebutuhan pasar lokal. Adanya
BOP danau Toba maka secara lebih modern akan meningkatkan kualitas bahan
baku sehingga harga akan naik, akan lebih teratur mengenai kualitas dan kuantitas
untuk kebutuhan hotel dan rumah makan sehingga ada kemitraan antara hotel dan
nelayan. Artinya hotel tidak lagi belanja bahan baku ikan di pasar tradisonal
melainkan membeli bahan baku ke nelayan secara langsung sehingga nelayan bisa
mensupply ikan ke pihak hotel. Uang yang berasal dari wisatawan akan dibayar ke
pihak hotel kemudian pihak hotel mebeli bahan baku ikan kepada nelayan,
sehingga rantai jual beli bahan baku menjadi lebih pendek. Peningkatan jumlah
kunjungan wisatawan memberikan signifikansi kepada nelayan selain kemitraan
perlu mendirikan koperasi dan jaminan pasar serta diversifikasi produk hasil
perikanan untuk souvenir atau sejeninsya. Sehingga ketika menghitung nilai
pariwisata (Nilai Pariwisata=Rata-rata jumlah wisatawan mancanegara dan
nusantara×lama inap×{belanja+biaya perjalanan}) secara langsung uang yang
masuk akan memberikan implikasi terhadap peningkatan PDRB. Disatu sisi dari
PDRB ini, setelah dilihat lebih dalam maka ia akan memberikan sumbangsih
terhadap nelayan. Jika dimisalkan constraint atau batasan yang digunakan hanya
infrastruktur. Sebagai contoh atraksi dilakukan dalam setaun 3-4 kali atraksi maka
dibutuhkan atraksinya lebih banyak ke kegiatan air misalnya melalui festival
danau Ttoba berupa kegiatan lomba dayung, watersport dengan power boating,
geopark, jajanan dari hasil produk perikanan rumah tangga nelayan, penyewaan
alat pancing dan lain sebaginya. Jadi atraksi ini lebih banyak ke masyarakat
artinya penyediaan fasilitas atau perlengkapan kegiatan lomba disediakan oleh
nelayan sehingga uang sewa dan lain sebagainya secara langsung memberikan
dampak positif kepada masyarakat lokal dan nelayan. Jumlah kegiatan yang
berada di kawasan Danau Toba akan signifikan memberikan dampak kepada
nelayan karena uang yang diperoleh tidak keluar dan akan berputar hanya untuk
masyarakat lokal sekitar danau Toba sehingga secara langsung tingkat
kesejahteraan meningkat. Manfaat BOP dengan skenario diatas memiliki batasan,
batasannya adalah harus ada aturan lokal yang mewajibkan setiap event atau
kegiatan ekonomi yang harus menggunakakn sumberdaya lokal baik makhluk
hidup, bahan pangan maupun tenaga kerja. Yang kedua, yaitu aktivitas ekonomi
harus menghitung daya dukung lingkungan (carrying capacity) contoh misalnya
untuk pariwista adalah jumlah wisatawan maksimal yang dapat ditampung oleh
kawasan Danau Toba. Berapa banyak bahwa kiranya pemerintah harus melakukan
perhitungan secara hati-hati terhadap jumlah maksimal yag seharusnya
diperhitungkan untuk datang ke danau sehingga tidak memberikan dampak
terhadap penurunan nilai fungsi-fungsi kawasan danau. Yang ketiga, perbaikan
sistem pelayanan informasi dan komunikasi dan promosi harus diperbaiki dan
harus satu atap sehingga wisatawan dapat mengakses segala informasi lebih detail.
Keempat, pengembangan kawasan pariwisata diprioritaskan untuk keamanan
yaitu kriminalitas dan pelanggaran harus dikelola dengan baik. Jadi skema BOP
dapat memberikan kontribusi terhadap nelayan dan masyarakat lokal melaui
sektor pariwisata.
Nelayan sebagai masyarakat yang ada di sekitar danau Toba kiranya
mendapatkan perhatian dari pengembangan pariwisata ini. Pengembangan
pariwisata ini akan merujuk kepada peningkatan kesejahteraan mereka jika
dikelola dengan baik. Danau toba sebagai danau terbesar di Indonesia memiliki
potensi perikanan. Potensi perikanan di kawasan Danau Toba merupakan jenis
perikanan budidaya. Usaha perikanan pada umumnya juga dikelola sebagai rumah
tangga, baik sebagai kegiatan budidaya maupun kegiatan penangkapan ikan.
Budidaya perikanan dilakukan di kolam, sawah, jaring apung, kolam air deras dan
pembenihan, sedangkan usaha penangkapan dilakukan di danau sungai dan rawa.
Potensi perikanan, jumlah nelayan, jenis produk perikanan membutuhkan
kebijakan pemerintah untuk mengawal sehingga bisa disinkronkan dengan
pertumbuhan pariwisata misalnya hasil-hasil produksi perikanan disana kiranya
dapat diterima oleh hotel-hotel dan memberikan amenitas di tingkat lokal. Selain
itu, kiranya dapat bermitra secara menguntungkan dengan para pemilik modal
sehingga masyarakat tidak hanya dijadikan sebagai pekerja tapi dijadikan sebagai
partner kerja. Semua ini harus tertuang dalam kebijakan pemerintah untuk
kedepannya misalnya pada saat kunjungan wisatawan ke hotel meningkat maka
membutuhkan konsumsi ikan yang banyak pula dan produk-produk perikanan
yang otomatis nelayan sebagai peyedia bahan baku. Nelayan dan masyarakat lokal
mensupply untuk kebutuhan hotel sehingga secara tidak langsung jika kunjungan
hotel naik makan akan meningkatkan jumlah pendapatan nelayan.
Diasumsikan dalam dua taun pariwisata Danau Toba ini akan berkembang,
wisatawan akan datang dan sudah ada promosi dan sebagainya pasti memberikan
implikasi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, masyarakat siapakah
yang akan diuntungkan dari pengembangan sektor pariwisata ini melalui berbagai
aktivitas yang berkaitan dengan kepariwisataan. Berdasarkan data Dinas
Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Samosir diperoleh data kunjungan
wisatawan ke Samosir tahun 2008-2014 sebagai berikut; diketahui rata-rata
jumlah wisatawan nusantara sebesar 107.094.29 orang, rata-rata jumlah
wisatawan mancanegara sebesar 25. 648 orang. Berdasarkan data BPS Sumatra
Utara (2015), diperoleh data rata-rata lama inap wisatawan nusantara dan
mancanegara di hotel dari tahun 2011-2015 antara lain; rata-rata lama menginap
wisatawan nusantara 2 hari dan rata-rata lama menginap wisatawan mancanegara
3 hari. Diasumsikan rata-rata biaya perjalanan wisatawan nusantara melalui paket
tour sebesar 3 juta rupiah dan rata-rata biaya perjalanan wisatawan mancanegara
melalui paket tour sebesar 12 juta rupiah per individu dengan biaya yang
dikeluarkan untuk belanja (souvenir, buah tangan dan lain lain) oleh wisatawan
nusantara sebesar 300 ribu rupiah dan wisatawan mancanegara sebesar 800 ribu
rupiah. Menghitung total nilai pariwisata di Danau Toba dengan cara (Nilai
Pariwisata=Rata-rata jumlah wisatawan mancanegara dan nusantara ×lama
inap×{belanja+biaya perjalanan}). Dari perhitungan rumus diatas maka diperoleh
keuntungan pariwisata dari aktivitas dan jumlah kunjungan wisatawan dosmetik
maupun mancanegara yaitu sebesar 934 milyar. Modal investasi berupa anggaran
dana yang dialokasikan oleh pemerintah melalui APBN selama tahun 2016-2019
untuk dukungan infrastruktur Danau Toba yang bertujuan membangun
aksesibilitas di tingkat daerah sebesar 726,09 miliyar. Maka dapat disimpulkan
bahwa keuntungan pariwisata dari tahun 2016-2019 sebesar 207,91 milyar. Nilai
keuntungan yang begitu besar ini sebaiknya terdapat kebijakan yang fokus pada
nelayan, sehingga distribusi manfaat dan keuntungan dapat langsung dirasakan
untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan misalnya dengan adanya infrastruktur
untuk nelayan berupa alat tangkap yang ramah lingkungan, perbaikan pasar
nelayan dan pengembangan yang berkaitan dengan infrastruktur lainnya. Nilai
manfaat pariwisata tersebut dapat dinikmati secara langsung oleh nelayan dan
masyarakat lokal sekitar Danau Toba. Semakin lama wisatawan tinggal di suatu
daerah tujuan wisata, maka semakin banyak pula uang yang dibelanjakan di
daerah tujuan wisata tersebut. Dengan adanya kegiatan konsumtif baik dari
wisatawan mancanegara maupun nusantara maka akan memperbesar pendapatan
dari sektor pariwisata suatu daerah. Oleh karena itu, semakin tingginya arus
kunjungan wisatawan, maka pendapatan sektor pariwisata di suatu daerah juga
akan semakin meningkat. Secara sederhana konsumsi sektor pariwisata
merupakan barang dan jasa yang dikonsumsi oleh wisatawan dalam rangka
memenuhi kebutuhan (needs), keinginan (wants), dan harapan (expectation)
selama tinggal di daerah destinasi wisata yang dikunjunginya mulai dari paket
perjalanan, akomodasi, makanan dan minuman, transportasi, rekreasi dan
olahraga, belanja, dan lain-lain.

IV. Kesimpulan
Potensi pariwisata suatu daerah dengan beragam mulai dari keindahan alam
dan adat istiadat atau budaya dan keramah tamahan penduduknya hingga kesiapan
sarana dan prasarana pendukungnya hal ini sangat ideal sekali dalam proses
perencanaan dan pengembangan pariwisata suatu destinasi pariwisata kedepannya
dan dapat dijadikan sebagai mesin penghasil devisa bagi suatu daerah dimana
pariwisata itu berkembang. Danau Toba memiliki ukuran yang sangat luas dan
dinobatkan sebagai danau terbesar di Asia Tenggara dan terbesar kedua di
dunia setelah Danau Victoria di Afrika. Danau ini juga menjadi salah satu
danau terdalam di dunia dengan kedalaman sekitar 450 meter. Danau Toba
merupakan salah satu keajaiban alam yang menakjubkan di Pulau Sumatra.
Danau toba telah menjadi destinasi wisata masa depan Indonesia maka secara
langsung dan tidak langsung memberikan implikasi terhadap kesejahteraan
masyarakat. Masyarakat siapa yang diuntungkan kiranya adalah nelayan dan
masyarakat lokal yang ada di sekitar Danau Toba. Kebijakan pemerintah yang
tepat dan aturan-aturan yang sesuai akan memberikan kepastian terhadap
perbaikan ekonomi masyarakat di Danau Toba. Key success factors strategi
pengembangan pariwisata Danau Toba antara lain terciptanya aksesibilitas,
amenitas, atraksi dan pendirian suatu Badan Pengelola melalui Badan Otorita
Pariwisata.

Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik Sumatra Utara. 2015. Data Rata-rata Lama Inap Wisatawan
Nusantara dan Mancanegara di Hotel menurut Kota/Kabupaten (hari)
tahun 2011-2015.

Berita Kompas 26 Agustus. 2016. Rencana Jokowi Kembangkan Danau Toba sebagai
Destinasi Wisata Unggulan.. Pada
http://travel.kompas.com/read/2016/08/26/180300427/ini.rencana.jokowi
.kembangkan.danau.toba.sebagai.destinasi.wisata.unggulan. Diakses
tanggal 26 November 2016 pukul 11.11 WIB.
Dekin [Dewan Kelautan Indonesia]. 2012. Kebijakan Ekonomi Kelautan dengan
Model Ekonomi Biru. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Sekretariat
Jenderal Satuan kerja Dewan Kelautan Indonesia.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Investasi Pariwisata Kementerian


Pariwisata. 2016. Pembangunan Destinasi Pariwisata Prioritas 2016-
2019. Jakarta, 27 Januari.

Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Samosir. 2015. Kunjungan


Wisatawan ke Samosir tahun 2008-2014.

Humas Sekertariat Kabinet RI. 2016. Struktur Organisasi Otorita Danau Toba.

Santoso S. 2008. Strategi Pengelolaan Candi Mendut sebagai Objek Wisata di


Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Denpasar:
Program Studi D4 Pariwisata. Universitas Udayana.

UNWTO [The United Nations World Tourism Organization] Tourism Highlights.


2014. Jumlah Perjalanan Wisatawan Internasional. Januari, 2014.

View publication stats

Anda mungkin juga menyukai