Anda di halaman 1dari 17

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kanker Leher Rahim 2.1.1.Pengertian Kanker Leher Rahim Kanker ginekologik adalah tumbuhnya sel-sel neoplastik secara tidak terkontrol pada jaringan organ genetik wanita terdiri dari uterus, tuba fallopi, ovarium, vagina dan vulva. Kanker pada organ genetika merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas terbesar kedua setelah kanker payudara. Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus (leher rahim, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim dan liang sanggama (vagina). Kanker serviks sering disebut juga kanker leher rahim (Sukaca, 2009).

2.1.2. Penyebab Kanker Leher Rahim Penyebab kanker leher rahim belum diketahui dengan pasti, namun diduga penyebabnya Human Papilloma Virus (HPV). Infeksi virus papilloma terdapat pada wanita yang aktif secara seksual. Dari beberapa pemeriksaan laboratorium terbukti bahwa lebih dari 90% kondiloma serviks semua neoplasia intraepitel serviks dan kanker leher rahim mengandung DNA HPV. HPV ini dapat menyerang alat kelamin bagian luar vagina, leher rahim dan di sekitar anus (Aziz M.F, 2000).

Universitas Sumatera Utara

2.1.3.Faktor Risiko Kanker Leher Rahim Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan perempuan terpapar HPV (sebagai penyebab dari kanker leher rahim) adalah sebagai berikut:

2.1.3.1.Hubungan Seks Pada Usia Muda Faktor risiko ini merupakan salah satu faktor risiko terpenting karena Penelitian para pakar menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual maka semakin besar risiko terkena kanker leher rahim. Wanita yang melakukan hubungan seks pertama sekali pada usia kurang dari 17 tahun mempunyai risiko 3 kali lebih besar daripada wanita yang berhubungan seksual pertama sekali pada usia lebih dari 20 tahun (Sukaca, 2009).

2.1.3.2.Multipartner seks Perilaku berganti-ganti pasangan seksual akan meningkatkan penularan penyakit kanker leher rahim. Risiko terkena kanker leher rahim meningkat 10 kali lipat pada wanita mempunyai teman seksual 6 orang atau lebih. Bukan hanya ini saja, bila seorang suami juga berganti-ganti pasangan seksual dengan wanita lain misalnya wanita tuna susila (WTS), maka suaminya dapat membawa virus HPV dan menularkan kepada istrinya (Sukaca, 2009).

2.1.3.3.Jumlah Paritas Paritas merupakan keadaan dimana seorang wanita pernah melahirkan bayi yang dapat hidup atau viable. Paritas yang berbahaya adalah dengan memiliki jumlah anak lebih dari 2 orang atau jarak persalinan terlampau dekat. Hal ini dikarenakan

Universitas Sumatera Utara

persalinan yang demikian dapat menyebabkan timbulnya perubahan sel-sel abnormal pada mulut rahim. Jika jumlah anak yang dilahirkan melalui jalan normal banyak dapat menyebabkan terjadinya perubahan sel abnormal dari epitel pada mulut rahim, dan dapat berkembang menjadi keganasan (Sukaca, 2009).

2.1.3.4.Pemakaian Alat Kontrasepsi Penggunaan kontrasepsi pil dalam jangka waktu lama (5 tahun atau lebih) meningkatkan risiko kanker leher rahim sebanyak 2 kali. Sedangkan pemakaian kontrasepsi oral lebih dari 5 tahun dapat meningkatkan risiko relatif kanker leher rahim 1,53 kali (Sukaca, 2009).

2.1.3.5.Riwayat Perokok Wanita perokok mempunyai risiko 2 kali lipat terkena kanker leher rahim dibandingkan wanita yang tidak. Lendir serviks wanita perokok mengandung nikotin dan zat lainnya yang terdapat dalam rokok. Zat-zat tersebut menurunkan daya tahan serviks. Tembakau merusak sistem kekebalan dan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV pada serviks (Sukaca, 2009).

2.1.4.Gejala klinik Pada permulaan penyakit yaitu pada stadium awal belum dijumpai gejalagejala yang spesifik bahkan pada umumnya tanpa gejala. Pada stadium awal ini dapat dideteksi secara dini (Manuaba, 1998). Gejala yang mungkin dapat dideteksi ialah mula-mula keluar cairan encer keputihan, kemudian warna sekrit menjadi merah muda lalu coklat seperti air kotor

Universitas Sumatera Utara

dan berbau busuk yang disebabkan oleh jaringan tumor nekrosis dan infeksi (Nugroho BD, 2003). Pada awal stadium lanjut dijumpai riwayat pendarahan intermenstrual. Biasanya timbul pendarahan setelah senggama (contact bleeding), anemi sering ditemukan sebagai akibat dari pendarahan yang terus berlangsung (Rayburn, 1995). Pada stadium lanjut terdapat nyeri di daerah panggul akibat tumor yang nekrotik, perasaan nyeri juga menjalar ke paha. Gejala hematuri dan pendarahan rektal timbul bila tumor sudah menjalar ke vesika urinaria dan rectum. Penurunan berat badan dan anemi adalah karakteristik sari stadium kanker leher rahim (Sinclair, 1992).

2.1.5. Upaya Pencegahan Leher Rahim Pencegahan penyakit kanker leher rahim adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk mengurangi angka kesakitan dan angka kematian akibat kanker leher rahim, yang dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:

2.1.5.1.Pencegahan Primer Pencegahan primer dapat dilakukan melalui penyuluhan dan pendidikan kepada masyarakat mengenai faktor penyebab terjadinya kanker leher rahim. Keberhasilan program penyuluhan yang dilanjutkan dengan skrining terbukti efektif dalam menurunkan kasus kanker leher rahim di beberapa negara seperti Finlandia dan Amerika Serikat, sedangkan untuk individu penyuluhan dilakukan dalam upaya mencegah masuknya virus ke dalam tubuh dengan menghindari berganti-ganti pasangan seks, pemberian vaksin HPV dan menekan faktor risiko penyebab kanker,

Universitas Sumatera Utara

seperti merokok, menghindari hubungan seks pada usia muda, berperilaku hidup sehat serta memperbanyak konsumsi sayuran dan buah (Hidayanti, 2001).

2.1.5.2.Pencegahan Sekunder Salah satu bentuk pencegahan sekunder kanker leher rahim adalah dengan melakukan deteksi dini terhadap kanker dan pemeriksaan gejala klinis pada stadium awal. Bagi wanita yang tidak berganti-ganti pasangan, tidak melakukan hubungan seksual dibawah usia 20 tahun, selalu merawat kebersihan alat kelamin dan tidak merokok, pemeriksaan tes Inspeksi Visual Asetat dapat dilakukan sekali dalam 5 tahun, terutama wanita dengan usia 30 tahun sampai dengan 50 tahun (Tambunan, 1995).

2.1.5.3.Pencegahan Tertier Pencegahan tertier yang dapat dilakukan berupa mempertahankan kualitas hidup orang yang positif menderita kanker dengan cara pemberian asupan gizi yang baik, memberi dukungan kepada penderita baik dari keluarga maupun dari petugas kesehatan. Pencegahan lainnya berupa pengobatan dan penatalaksanaan medis untuk mencegah atau memperlambat proses penyebaran kanker ke bagian tubuh yang lain. Penyuluhan terhadap pasangan penderita kanker leher rahim yang telah menjalani histerektomi total agar tetap mempertahankan keharmonisan hubungan suami istri (Hidayanti, 2001).

Universitas Sumatera Utara

2.1.6.Deteksi Dini Kanker Leher Rahim Menurut Octiyanti (2006), deteksi dini kanker leher rahim merupakan upaya pencegahan sekunder kanker leher rahim. Dilakukan skrining menggunakan tes tertentu untuk mendeteksi dini kanker leher rahim pada fase pra kanker. Deteksi Dini Kanker Leher Rahim perlu dilakukan karena: Kanker leher rahim merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di negara-negara berkembang dengan sumber daya terbatas. Fase pra kanker dapat dikenali dan dideteksi sehingga dapat ditatalaksana secara aman, efektif dan dengan cara yang dapat diterima. Perkembangan dari fase pra kanker menjadi kanker dapat membutuhkan waktu relatif lama (hingga sepuluh tahun) sehingga cukup waktu untuk melakukan deteksi dan terapi. Terapi pada fase pra kanker amat murah dibandingkan dengan

penatalaksanaan bila sudah terjadi kanker. Target : menemukan lesi pra kanker leher rahim (lesi intra epitel leher rahim/ neoplasia intra epitel leher rahim) Bila dilakukan terapi pada lesi pra kanker leher rahim, kesembuhan dapat mencapai 100%. Beberapa jenis tes untuk Deteksi Dini Kanker Leher rahim untuk saat ini, sebagai berikut: Deteksi HPV onkogenik : tes HPV HC-II Sitologi: tes Pap, tes Pap Thin-Prep, Liqui-Prep, Pap Net

Universitas Sumatera Utara

Visual : tes IVA, tes IVA dengan Magnifikasi, tes Inspeksi Visual dengan aplikasi Lugol, servikografi, kolposkopi Truscan (polarprobe), Fluorescence spectroscopy, Fibre optic confocal microscopy

2.1.7.Tes IVA 2.1.7.1.Definisi Menurut Amrantara (2009), tes visual dengan menggunakan larutan asam cuka (asam asetat 2%) dan larutan iosium lugol pada leher rahim dan melihat perubahan warna yang terjadi setelah dilakukan olesan. Tujuannya untuk melihat adanya sel yang mengalami displasia sebagai salah satu metode skrining kanker leher rahim.

2.1.7.2.Interpretasi Hasil Tes IVA Adapun hasil temuan IVA dapat diklasifikasikan sesuai dengan temuan klinis yang diperoleh, sebagai berikut: Tabel 2.1.Klasifikasi IVA sesuai temuan klinis Klasifikasi IVA Temuan Klinis Hasil Tes-Positif Plak putih yang tebal atau epitel acetowhite, biasanya dekat squamo-columnar junction (SCJ) Hasil Tes- Permukaan polos dan halus, berwarna merah jambu, ektropion, Negatif polip,servitis,inflamasi, Nabothian cysts Kanker Massa mirip kembang kol atau bisul

2.1.7.3.Keunggulan tes IVA a. Akurasi tes IVA pada beberapa penelitian terbukti cukup baik. b. Sensitivitas setara dengan tes Pap untuk mendeteksi lesi derajat tinggi.

Universitas Sumatera Utara

c. Pelatihan IVA untuk tenaga medis lebih cepat dan sederhana dibandingkan sitoteknisi. d. Hasil pemeriksaan dapat segera diketahui. e. Murah dan sederhana. f. Dapat dikerjakan pada fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas. g. Dapat dikerjakan kapan saja, tidak perlu persiapan klien.

2.1.7.4.Keterbatasan tes IVA a. Spesifisitas lebih rendah dari tes Pap (positif palsu lebih tinggi). b. Angka hasil tes positif tinggi (10-35%). c. Nilai Prediksi Positif untuk hasil tes positif rendah (10-30%). d. Terapi akan berlebihan bila dilakukan skrining dan terapi sekaligus. e. Kemampuan yang amat terbatas untuk mendeteksi lesi pada endoserviks.

2.2.Perilaku Kesehatan Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003) adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistim pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok : 1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance). Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.

Universitas Sumatera Utara

2. Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, atas sering disebut perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior).

Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. 3. Perilaku kesehatan lingkungan Adalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya

2.3.Domain Perilaku Menurut Notoatmodjo (2005), meskipun perilaku adalah bentuk respons atau reaksi atau stimulus atau rangsangan dari luar organisme (orang), namun dalam memberikan respons sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan. Hal ini berarti bahwa meskipun stimulusnya sama bagi beberapa orang, namun respons tiap-tiap orang berbeda. Faktor-faktor yang membedakan respons terhadap stimulus yang berbeda disebut determinan perilaku. Determinan perilaku ini dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003) yaitu: 1. Determinan atau faktor internal, yakni karakteristik orang yang bersangkutan, yang bersifat given atau bawaaan, misalnya: tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin dan sebagainya. 2. Determinan atau faktor eksternal, yakni lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering merupakan faktor dominan yang mewarnai perilaku seseorang.

Universitas Sumatera Utara

2.4.Teori Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Health Belief Model (HBM) adalah teori yang diuraikan dalam usaha mencari cara menerangkan perilaku yang berkaitan dengan kesehatan. Menurut teori HBM, kemungkinan individu akan melakukan tindakan pencegahan tergantung secara langsung pada hasil dari dua keyakinan atau penilaian kesehatan yaitu ancaman yang dirasakan serta sakit atau luka dan pertimbangan tentang keuntungan dan kerugian (Smet, 1994). Penilaian pertama adalah ancaman yang dirasakan terhadap risiko yang akan muncul. Hal ini mengacu pada sejauh mana seorang berpikir penyakit atau kesakitan betul-betul merupakan ancaman kepada dirinya. Asumsinya adalah bahwa bila ancaman yang dirasakan tersebut meningkat maka perilaku pencegahan juga akan meningkat. Menurut teori HBM, penilaian tentang ancaman yang dirasakan ini berdasarkan kepada ketidak-kebalan yang dirasakan yang merupakan kemungkinan bahwa orang-orang dapat mengembangkan masalah kesehatan menurut kondisi mereka dan keseriusan yang dirasakan yaitu penilaian kedua yang dibuat adalah perbandingan keuntungan dan kerugian dari perilaku dalam usaha untuk memutuskan melakukan tindakan pencegahan atau tidak. Komponen-komponen dari HBM yang dikemukakan oleh Rosenstock dalam Glanz dkk, 1977) adalah sebagai berikut: 1. Persepsi kerentanan (Perceived susceptibility) merupakan persepsi subjektif individu mengenai risiko mengalami kondisi kesehatan tertentu. 2. Persepsi keparahan (Perceived severity) merupakan perasaan individu mengenai keseriusan akibat yang ditimbulkan oleh suatu penyakit.

Universitas Sumatera Utara

3. Persepsi manfaat (Perceived benefit) mengacu pada keyakinan individu mengenai keefektifan suatu tindakan dalam mengurangi ancaman yang ditimbulkan oleh suatu penyakit. 4. Persepsi hambatan (Perceived barriers) merupakan aspek negatif yang

terdapat pada suatu tindakan kesehatan tertentu, yang mungkin menjadi penghalang untuk melakukan perilaku pencegahan penyakit, misalya rasa malu, takut, rasa sakit. 5. Isyarat bertindak (Cues to action) merupakan sesuatu yang membuat individu waspada terhadap konsekuensi yang mungkin ditimbulkan.

2.5.

Persepsi Menurut Rakhmat (2005), persepsi adalah pengalaman tentang objek,

peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Dengan demikian persepsi merupakan gambaran arti atau interprestasi yang bersifat subjektif, artinya persepsi sangat tergantung pada kemampuan dan keadaan diri yang bersangkutan. Dalam kamus psikologi persepsi diartikan sebagai proses pengamatan seseorang terhadap segala sesuatu di lingkungannya dengan menggunakan indera yang dimilikinya, sehingga menjadi sadar terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungan tersebut. Persepsi meliputi semua proses yang dilakukan seseorang dalam memahami informasi mengenai lingkungannya. Dalam hubungannya dengan perilaku orangorang dalam suatu organisasi, ada tiga hal yang berkaitan, yakni pemahaman lewat penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Dalam menelaah timbulnya proses persepsi

Universitas Sumatera Utara

ini, menunjukkan bahwa fungsi persepsi itu sangat dipengaruhi oleh tiga variabel berikut : (1) Objek atau peristiwa yang dipahami (2) lingkungan terjadinya persepsi, dan (3) orang-orang yang melakukan persepsi. Dengan demikian, persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penciuman. Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi itu merupakan suatu penafsiran yang unik terhadap situasi bukannya suatu pencatatan yang benar terhadap situasi (Thoha, 1999). Menurut Notoatmojo (2003) setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang diketahui atau disikapinya. Inilah yang disebut praktik kesehatan, atau dapat dikatakan sebagai perilaku kesehatan. Oleh sebab itu indikator praktik kesehatan ini sangat berkaitan dengan persepsi.

2.6.Penelitian-penelitian sebelumnya Penyakit kanker leher rahim adalah penyakit yang bersifat kronis dan tanpa menunjukkan gejala, sehingga pada umumnya tidak disadari adanya penyakit ini secara dini. Akibatnya penyakit ini secara progresif merusak jaringan leher rahim, sehingga mengakibatkan penyakit ini bertambah parah. Namun sebenarnya penyakit ini bisa disembuhkan bila dideteksi sejak dini. Untuk deteksi dini ini memerlukan beberapa faktor yang mendorong individu untuk melakukan tindakan deteksi penyakit tersebut. Faktor-faktor tersebut sesuai dengan model yang dikemukakan oleh Lewis,

Universitas Sumatera Utara

Gillam, Gamer, A. Wong ML, Smith WC dan King J; Patricia Bessler, Maung Aung,dan Pauline Jolly; Jepson R, Clegg A dan Forbes; Rosenstock Hochbaum yaitu model kepercayaan kesehatan yang meliputi persepsi kerentanan, keseriusan, manfaat dan rintangan dari tindakan deteksi dini kanker leher rahim. Penelitian-penelitian yang sebelumnya menemukan banyak faktor yang

menyebabkan kegagalan deteksi dini kanker leher rahim. Di Amerika Serikat, kegagalan deteksi dini kanker leher rahim berkaitan dengan ras dan etnis, pendidikan yang terbatas, pendapatan yang rendah, imigran yang tidak mampu berbahasa Inggris, dan kurangnya asuransi kesehatan (Gamer, 2003). Di Inggris, faktor-faktor yang tidak menyebabkan wanita tidak melakukan tindakan deteksi dini kanker lehr rahim adalah rendahnya persepsi kerentanan terhadap penyakit kanker leher rahim yang dirasakan wanita, kurangnya pengetahuan wanita tentang pentingnya deteksi dini kanker leher rahim dan faktor-faktor risiko kanker leher rahim, rasa takut dan sakit terhadap deteksi dini kanker leher rahim dan rasa malu (Gillam, 1991) Penelitian di negara-negara di Amerika Latin dan Karibia juga telah mengidentifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi tindakan deteksi dini kanker leher rahim. Pan American Health Organization (PAHO) menyimpulkan bahwa rasa malu, status sosial ekonomi yang rendah , pendidikan yang terbatas, rasa takut terhadap diagnosis kanker leher rahim berhubungan dengan kegagalan deteksi dini kanker leher rahim (Lewis, 1995). Penelitian yang dilakukan PAHO di Amerika Latin dan Karibia dan studi dari Trinidad dan Jamaika telah menemukan bahwa alasan utama untuk tidak pernah memiliki deteksi dini kanker leher rahim adalah kurangnya gejala penyakit (41%).

Universitas Sumatera Utara

Studi dari Amerika Latin mengkonfirmasi bahwa kurangnya pengetahuan bahwa kanker adalah penyakit yang dapat dicegah dan miskin pemahaman tentang gejala kanker leher rahim tersebut memiliki korelasi dengan kegagalan untuk mendeteksi dini kanker leher rahim (Lewis, 1995). Penelitian yang dilakukan oleh Seow A, Wong ML, Smith WC (1995) dan King J (1987) dalam (Bessler dkk, 2005) menemukan bahwa ada hubungan bermakna antara kerentanan terhadap kanker leher rahim yang dirasakan oleh wanita dengan tindakan deteksi dini kanker leher rahim. Pada penelitian Patricia Bessler, Maung Aung,dan Pauline Jolly di Trelawny, Jamaika (2005) menemukan juga ,bahwa wanita yang merasa dirinya lebih berisiko terhadap kanker leher rahim cenderung telah pernah mendeteksi dini kanker leher rahim dibandingkan dengan mereka yang merasa kurang berisiko. Patricia Bessler, Maung Aung,dan Pauline Jolly di Trelawny, Jamaika

(2005) juga menyatakan dari hasil penelitiannya bahwa 81 % dari responden menyatakan bahwa penyakit kanker leher rahim adalah penyakit yang sangat serius dan melakukan deteksi dini kanker leher rahim. Sedangkan mereka yang keseriusannya rendah tidak melakukan deteksi dini kanker leher rahim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi manfaat tindakan deteksi dini kanker leher rahim dengan tindakan deteksi dini kanker leher rahim. Pada hasil penelitian ini, 5% dari responden menyatakan tindakan deteksi dini kanker leher rahim untuk mencegah kanker leher rahim dan melakukan tindakan deteksi dini kanker leher rahim. Pada hasil penelitian ini pula, 54% dari responden menyatakan

Universitas Sumatera Utara

tindakan deteksi dini kanker leher rahim untuk mendiagnosa kanker leher rahim dan melakukan deteksi dini kanker leher rahim. Penelitian menemukan bahwa hambatan yang dirasakan oleh para wanita dalam mendeteksi dini kanker leher rahim adalah rasa malu, rasa takut akan hasil deteksi dini dan rasa sakit dari tes yang dilakukan. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa ada hubungan antara hambatan yang dirasakan dengan tindakan deteksi dini kanker leher rahim. Penelitian yang dilakukan oleh Jepson R, Clegg A dan Forbes C di Amerika Serikat (2000) dalam (Bessler,2005) menemukan adanya hubungan yang kuat antara rasa malu dengan tindakan tidak mendeteksi dini kanker leher rahim . Hal ini didukung juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Lewis yang menemukan bahwa rasa malu memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan para wanita di negara-negara Amerika Latin untuk melakukan deteksi dini.

Universitas Sumatera Utara

2.7. Kerangka Konsep Berdasarkan tujuan penelitian dan tinjauan pustaka maka kerangka konsep penelitian ini adalah : Variabel Independen Faktor Persepsi Persepsi Kerentanan diri Persepsi keseriusan penyakit Persepsi Manfaat yang dirasakan Persepsi rintangan yang dirasakan Variabel Dependen

Tindakan memanfaatkan pelayanan IVA

Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian Berdasarkan kerangka konsep, dapat dirumuskan definisi konsep variabel penelitian sebagai berikut: 1. Perilaku pemeriksaan IVA adalah keikutsertaan WUS dalam memanfaatkan pelayanan IVA untuk mendeteksi dini kanker leher rahim. 2. Persepsi Kerentanan diri adalah persepsi subyektif wanita yang telah menikah terhadap risiko untuk terkena kanker leher rahim. 3. Persepsi Keseriusan Penyakit adalah persepsi wanita yang telah menikah terhadap keseriusan akibat kanker leher rahim atau jika tidak dideteksi sejak dini dan tidak ditangani segera. 4. Persepsi Manfaat adalah persepsi wanita yang telah menikah terhadap

manfaat atau keuntungan yang diperoleh dari tindakan deteksi dini kanker leher rahim dengan IVA.

Universitas Sumatera Utara

5. Persepsi Rintangan yang dirasakan adalah persepsi rintangan yang dirasakan oleh wanita yang telah menikah dalam mendeteksi dini kanker leher rahim dengan IVA.

2.8.Hipotesis Dari gambar kerangka konsep di atas,maka hipotesis penelitian di atas adalah terdapat pengaruh persepsi (persepsi keseriusan, persepsi kerentanan, persepsi

manfaat, persepsi rintangan) wanita pasangan usia subur terhadap tindakan memanfaatkan pelayanan IVA.

Universitas Sumatera Utara