Anda di halaman 1dari 9

A. JUDUL Kecepatan Reaksi Antara Peroksidisulfat Dengan Ion Yod B. DATA PENGAMATAN 1.

Hasil Pengamatan Tabung I Sistem Tabung II Volume [ (ml) 0 0 0 0 0 0 1 2 3 4 20 900 960 1140 1680 840 900 1080 1200 1380 0,04 0,36 0,32 0,28 0,24 0,04 0,04 0,04 0,04 0,04 0,1 0,05 ] t (s) [ ] [ ] 1/t

Volume Volume Volume S2O82(ml) 10 9 I 8 7 6 10 10 II 10 10 10 H2O (ml) 0 1 2 3 4 0 0 0 0 0 I


-

(ml) 10 10 10 10 10 10 9 8 7 6

0,1 0,001111 0,1 0,001042 0,1 0,000877 0,1 0,000595 0,1 0,00119

0,09. 0,001111 0,08 0,000926 0,07 0,000833 0,06 0,000725

2. Perhitungan a. Penentuan konsentrasi [ [ ] ] di sistem I [ ]

Untuk volume yang diambil = 10 ml

[ [ -

] ]

Untuk volume yang diambil = 9 ml [ ]

Untuk volume yang diambil = 8 ml [ ]

Untuk volume yang diambil = 7 ml [ ]

Untuk volume yang diambil = 6 ml [ ]

b. Penentuan konsentrasi [ ] di sistem I Untuk volume yang diambil = 10 ml [ ] [ ] c. Penentuan konsentrasi [ ] di sistem II

Untuk volume yang diambil = 10 ml [ [ ] ]

d. Penentuan konsentrasi [ ] di sistem II Untuk volume yang diambil = 10 ml

[ ] [ ] Untuk volume yang diambil = 9 ml [ ] [ ] Untuk volume yang diambil = 8 ml [ ] [ ] Untuk volume yang diambil = 7 ml [ ] [ ] Untuk volume yang diambil = 6 ml [ ] [ ] 3. Grafik a. Grafik hubungan konsentrasi [ ] dengan di sistem I

Grafik Hubungan Antara Konsentrasi S2O82- dan 1/t


0.06 0.05 0.04 0.03 0.02 0.01 0 -0.01 -0.02 0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 y = 2.4761x - 0.0685

b. Grafik hubungan konsentrasi [

] dengan di sistem II

Grafik Hubungan Antara Konsentrasi I- dan 1/t


0.12 0.1 0.08 0.06 0.04 0.02 0 0 0.0002 0.0004 0.0006 0.0008 0.001 0.0012 0.0014 y = 81.438x + 0.0021

4. Penentuan tetapan laju (k) a. Tetapan laju di sistem I Persamaan grafik di sistem I: y = 2.4761x - 0.0685 [ ] [ ], dengan , dan [ ]

Jadi, tetapan laju dapat diperoleh dari .

, sehingga nilai dapat diperoleh dari

b. Tetapan laju di sistem II Persamaan grafik di sistem I: y = 81.438x + 0.0021 [ ] [ ], dengan , dan [ ]

Jadi, tetapan laju dapat diperoleh dari .

, sehingga nilai dapat diperoleh dari

C. PEMBAHASAN
Laju reaksi terukur sering kali sebanding dengan konsentrasi reaktan suatu pangkat. Contohnya mungkin saja laju itu sebanding dengan konsentrasi dua reaktan A dan B sehingga v = k [A] [B]. koefisien k disebut konstanta laju, yang tidak bergantung pada konsentrasi (tetapi bergantung pada tempratur). Persamaan sejenis ini yang ditentukan secara eksperimen, disebut hukum laju reaksi. Secara formal hukum laju adalah persamaan yang menyatakan laju reaksi v sebagai fungsi dari konsentrasi semua spesies yang ada, termasuk produknya. Hukum laju mempunyai dua penerapan utama. Penerapan praktisnya, setelah kita mengatahui hukum laju, kita dapat meramalkan laju reaksi dari komposisi campuran. Penerapan teoritis hukum laju ini adalah hukum laju merupakan pemandu untuk mekanisme reaksi. Setiap mekanisme yang diajukan harus konsisten dengan hukum laju yang diamati (Atkins, 1999:335). Kecepatan reaksi adalah perubahan konsentrasi pereaksi ataupun produk dalam satuan waktu. Laju suatu reaksi dapat dinyatakan sebagai laju berkurangnya konsentrasi suatu pereaksi atau laju bertambahnya konsentrasi suatu prodak. Untuk mengukur laju reaksi kimia perlulah menganalisis secara langsung maupun tak langsung banyaknya produk yang terbentuk atau banyaknya pereaksi yang tersisa

setelah penggal-penggal waktu yang sesuai. Analisis konsentrasi pereaksi dan produk umumnya akan paling sederhana bila reaksi dipelajari dalam larutan (Keenan, 1986).

Laju atau kecepatan reaksi didefinisikan sebagai banyaknya mol/liter suatu zat yang dapat
berubah menjadi zat lain dalam setiap satuan waktu .

Dalam reaksi kimia, perubahan yang dimaksud

adalah perubahan konsentrasi pereaksi atau produk. Seiring dengan bertambahnya waktu reaksi, maka jumlah zat pereaksi akan makin sedikit, sedangkan produk makin banyak. Laju reaksi dinyatakan sebagai laju berkurangnya pereaksi atau laju bertambahnya produk. Satuan konsentrasi yang digunakan adalah molaritas (M) atau mol per liter (mol. L-1). Satuan waktu yang digunakan biasanya detik (dt). Sehingga laju reaksi mempunyai satuan mol per liter per detik (mol. L-1. dt-1 atau M.dt-1). (Azizah, 2004).
Pada percobaan kali ini bertujuan untuk mempelajari kecepatan reaksi antara S2O82- dengan Iyang didasarkan atas konsentrasi. Terdapat dua sistem pada percobaan ini. Untuk sistem pertama lima buah tabung reaksi yang berisi larutan S2O82- 0,04 M dengan volume berbeda yaitu 6-10 ml (larutan A) kemudian dicampurkan ion I- 0,1 M dengan volume 1 ml (larutan B). Untuk sistem dua larutan S2O82- 0,04 M volumenya tetap yaitu 10 ml (larutan C), kemudian dicampurkan dengan ion I- 0,1 M dengan volume berbeda yaitu 6-10 ml (larutan B). Kemudian komponen tiap sistem dicampurkan (A dan B) dan (C dan D). Reaksi yang terjadi adalah: 2 I- + S2O822 SO42- + I2

Ion tiosulfat S2O82-, terlebih dahulu ditambahkan dengan aquades kemudian direaksikan dengan ion I ditambahkan dengan ion S2O32- dan larutan kanji. Ion S2O32- berfungsi untuk memperlambat terjadinya perubahan warna sehingga laju reaksinya dapat dihitung. Sedangkan kanji sebagai indicator. Semakin cepat laju reaksi yang terjadi semakin sedikit waktu yang diperlukan. Sejumlah ion S2O32- ditambahkan ke dalam sistem untuk konsentrasi I tetap sedangkan untuk konsentrasi Ion S2O32- tidak sama, untuk system I. Hal ini disebabkan karena untuk sistem pertama

volume larutan S2O82- berbeda sedangkan untuk larutan I- adalah sama. Sebaliknya untuk sistem II volume larutan S2O82- sama sedangkan untuk larutan I- adalah beda. Sehingga untuk konsentrasi I bervariasi sedangkan untuk konsentrasi Ion S2O32- sama. Ion S2O32- bereaksi dengan yod (I2) yang terbentuk sebagai hasil reaksi di atas. Reaksi ini akan membentuk lagi I sesuai dengan persamaan reaksi:
2 I 2 2S 2 O32 S 4 O6 2 I

Waktu yang diperlukan untuk tiap sistem bereaksi di mana akhir reaksi ditandai dengan perubahan warna menjadi biru tergantung pada konsentrasi larutan, dimana semakin kecil konsentrasi (encer) suatu larutan maka waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi semakin lama. Sebaliknya, semakin tinggi konsentrasi (pekat) larutan maka semakin cepat waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi. Hal ini disebabkan larutan dengan konsentrasi tinggi mengandung partikel yang lebih rapat sehingga sering terjadi tumbukan antara partikel-partikel dari suatu zat yang menyebabkan makin besar pula laju reaksinya. Namun pada percobaan kali ini tidak terjadi perubahan warna biru pada larutan yang telah dicampurkan, hal ini terjadi kemungkinan pada saat menghomogenkan larutan tidak sepenuhnya homogen sehingga mempengaruhi kecepatan reaksi yang terjadi. Semakin kecil konsentrasi suatu lautan maka semakin lama laju reaksinya, begitu pula waktu yang diperlukan semakin lama. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, semakin rendah konsentrasi S2O82- yang direaksikan dengan ion I , maka laju reaksinya semakin lambat. Hal ini ditandai dengan waktu terbentuknya warna biru yang semakin lama seiring dengan penurunan konsentrasi pereaksi S2O82-. Untuk sistem I ini, dibuat grafik hubungan antara konsentrasi ion S2O82- dengan 1/t, dimana dari tersebut diketahui tetapan laju k untuk S2O82- = L/mol s.

Prinsip untuk sistem II pada dasarnya sama dengan sistem I. Hanya saja pada sistem II, pereaksi yang divariasikan konsentrasinya adalah ion I , sedangkan konsentrasi ion S2O82- dibuat

tetap. Ion I direaksikan dengan ion S2O82- melalui mekanisme yang sama dengan percobaan pada sistem I. Diperoleh tetapan laju k untuk I adalah L/mol s.

D. KESIMPULAN Dari hasil percobaan ditarik suatu kesimpulan bahwa: 1. Semakin besar konsentrasi suatu larutan maka semakin cepat laju reaksinya. 2. Untuk sistem pertama tetapan laju k untuk S2O82- =
sistem kedua ketetapan laju k untuk I adalah L/mol s.. Sedangkan, untuk L/mol s.

DAFTAR PUSTAKA
Atkins, P.W., 1999, Kimia Fisika Edisi kedua, Erlangga, Jakarta.

Azizah, Utiya, Dra., M.Pd, 2004, Laju Reaksi, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
Keenan., 1986, Kimia Untuk Universitas, Erlangga, Jakarta.