Anda di halaman 1dari 3

METODE REAKSI SILANG (CROSSMATCH)

METODE REAKSI SILANG (CROSSMATCH) TRANSFUSI DARAH DARI PENDONOR KEPADA PASIEN DI UNIT TRANSFUSI DARAH CABANG TULUNGAGUNG Pembimbing I(1): Pembimbing II(2): dr. Bahrudin Budi Setyo Ayu Hardyanti oleh: Dr. Ir. M. Sasmito Djati

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tranfusi darah secara filosofis mengandung makna luhur, yaitu naluri kehidupan manusia untuk menolong sesamanya. Darah ditranfusikan kepada resipien harus dilakukan uji kecocokan golongan darah antara darah pendonor dengan darah resipien. Uji kecocokan inipun harus diyakini ketepatannya dengan melakukan uji reaksi silang (crossmatching) sampai 3 tahap. Mengingat pentingnya transfusi sebagai terapi, penetapan golongan darah dan persyaratan lain yang harus dipenuhi agar transfusi berjalan dengan baik, dilakukan penelitian mengenai hal tersebut pada Dinas Transfusi Darah PMI Cabang Tulungagung. 1.2 Tujuan 1. Mengetahui dan mempelajari 3 tahapan proses pengambilan darah dari sediaan darah pendonor. 2. Mengetahui metode reaksi silang (crossmatch) lebih efektifitas dalam pencocokan sampel darah pendonor dengan darah pasien.

METODOLOGI 1.3 Tempat dan waktu Kuliah kerja lapang dilaksanakan pada bulan Januari 2011 di Unit Transfusi Darah Cabang Tulungagung, Jalan Pahlawan no.01, Tulungagung, 66224, Jawa Timur. 1.4 Cara kerja Pemeriksaan Metode Gel Test

HASIL DAN PEMBAHASAN Data hasil kuliah kerja lapang diperoleh jumlah permintaan darah untuk transfusi yang tertinggi pada permintaan darah jenis PRC/PC (Packet Red Cell) atau darah lenkap dengan jumlah 101 buah kantong darah, jumlah permintaan teringgi kedua yaitu WB (Whole Blood) atau darah utuh dengan jumlah 29 kantong darah, sedangkan jumlah permintaan darah LP (Liquid Plasma) atau plasma cair dengan jumlah permintaan yang sedikit hanya 4 buah kantong darah. Gambar 3.1. Jumlah Permintaan darah dari pasien pada UTDC Cabang Tulungagung Gambar 3.2. Hasil uji reaksi silang dengan gel test kompatibel dan inkompatibel Metode gel test yang merupakan suatu pengembangan dari metode uji reaksi silang yang sebelumnya yang menggunakan tabung raksi sebagai alat tesnya. Gel tes mempermudah kerja

penguji darah dan lebih akurat dalam pemeriksaan hasil dari uji reaksi silang. Gel test selain lebih akurat juga lebih efisien dalam waktu, sehingga banyak jumlah permintaan darah dapat diselesaikan tepat waktu dan lebih praktis. Sampel darah pasien cocok menunjukan hasil negatif (kompatibel) sedangkan yang tidak cocok menunjukkan keruh pada gel test dan hasilnya positif (inkompatibel). Hal ini menyebabkan aglutinasi pada darah pasien apabila terjadi transfusi (Aziz, 1996). KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil yaitu cara kerja dari crossmatching memiliki tiga tahapan: diamed gel tes, direct coombs tes, pooling untuk inter cross donor (auto pool). Penggunaan gel tes mempermudah kerja penguji darah, lebih akurat dan lebih efisien dalam lama pengerjaan, sehingga banyaknya jumlah permintaan darah dapat diselesaikan tepat waktu dan lebih praktis. Sampel darah pasien cocok akan menunjukan hasil (kompatibel), yang tidak sesuai hasilnya (inkompatibel). Jenis yang paling sering diminta adalah PC/PRC (Packet Red Cell). PUSTAKA Aziz, A. S. 1996. Standar Pengolahan Dan Pengamanan Darah Untuk Tranfusi-Bulletin Transfusi Darah UTDP PMI Pusat. Jakarta. 274:8-19