Anda di halaman 1dari 4

Scotia Case and Paquette Habana Amelia Rahmawaty International Relations

Dalam hukum regional Amerika Latin, yang menjadi sumber hukum tidak hanya yang tertulis, tetapi juga berasal dari kebiasaan. Begitupun dengan hukum internasional, sumber dari hukum internasional antara lain adalah perjanjian internasional dan kebiasaan. Kasus Scotia dan Paquete Habana adalah contoh dari bagaimana suatu kebiasaan kemudian diangkat menjadi hukum internasional. Berikut pembahasannya.

I.

Scotia Case Kasus Scotia adalah tabrakan laut yang terjadi pada tahun 1871 antara kapal inggris yang

bernama Scotia dengan kapal Amerika Serikat yang bernama Berkshire. Dalam kecelakaan ini, jelas, Berkshire tenggelam karena Scotia merupakan kapal uap Inggris sedangkan Berkshire merupakan kapal layar biasa. Penyebab kecelakaan ini dikarenakan Berkshire tidak menyalakan lampu sebagaimana yang diharuskan dan telah menjadi peraturan navigasi maritim untuk menjaga keselamatan pelayaran. Setiap kapal harus menyalakan lampu sebagai penerangan dan tanda keberadaan jarak antara satu kapal dengan yang lainnya sehingga menghindari terjadinya kecelakaan. Pada kasus ini, kasus Scotia merupakan sebuah kasus di mana terjadi kesalahpahaman di antara kedua belah pihak. Pihak Amerika kurang mengetahui secara jelas bahwa Inggris telah membuat peraturan yang sama tentang mencegah terjadnya tabrakan dalam dunia pelayaran. Sehingga, tidak tercapai titik selaras di antara peraturan pada satu negara maritim, dengan negara maritim lainnya. Akibatnya, terjadi peristiwa seperti kasus Scotia ini. Sehingga diperlukan adanya penyelarasan persepsi. Peraturan tersebut merupakan peraturan baru yang dibuat Inggris dan kemudian banyak Negara-negara maritime lainnya yang menaati peraturan ini dan meluas menjadi peraturan pelayaran laut internasional. Yaitu bahwa pada tanggal 9 Januari 1863, Dewan Inggris mengirimkan kapal Victoria berdasarkan Amandemen UU berkaitan dengan peraturan pencegahan tabrakan di laut, yaitu mengenai aturan penggunaan lampu sebai pengarah pelayaran. Peraturan ini dirancang untuk dipatuhi oleh semua kapal yang masuk kedalam batas

yuridiksi Inggris dan berlaku bagi seluruh bangsa dan Negara. Kemudian sejak saat itu pula Amerika Serikat ikut mengadopsi peraturan tersebut, diikuti oleh pemerintah Negara lain yang juga mengadaptasi peraturan navigasi kelautan yang dibuat oleh Inggris ini seperti Austria, Argentina, Belgia, Brazil, Bremen, Chile, Denmark, Prancis, dan Negara Eropa lainnya, serta menetapkan perintah ini di dewan yang diterbitkan dalam beberapa hari yaitu dari tanggal 13 Januari 1863 sampai Februari 1866. Namun, kapal Berkshire tidak mengetahui bahwa terdapat peraturan pelayaran internasional baru dan bahkan sudah diratifikasi oleh Amerika Serikat mengenai pencegahan tabrakan di laut dengan memanfaatkan warna lampu. Berkshire hanya memiliki lampu warna putih dan tidak memiliki lampu berwarna sehingga mengecoh pandangan kapal Scotia yang mengira kalau Berkshire jaraknya masih jauh dari mereka sampai kemudian terjadi tabrakan. Dalam kasus seperti ini, di mana hukum-hukum nasional tidak dapat berlaku, karena peristiwa ini terjadi di luar batas wilayah teritorial kedua negara bersangkutan. Sehingga, kasus ini harus diselesaikan menggunakan hukum internasional yang berlaku. Berkshire kemudian mengajukan hal ini ke pengadilan untuk mendapatkan ganti rugi dari kecelakaan ini. Berkshire beragumen bahwa pihak Scotia bersalah karena menabrak dan menenggelamkan kapal mereka. Namun, keputusan pengadilan menyatakan, dengan

menggunakan kaidah kebiasaan baru hukum internasional dimana didalamnya tercakup peraturan yang dibentuk Inggris yang telah diterima pula secara luas, bahwa pihak Berkshire lah yang bersalah karena tidak menaati perihal penyalaan lampu kapal. Berkshire, berdasarkan UU Kongres April 29 1864, telah diminta untuk membawa lampu hijau dan merah yang tidak mereka bawa, dan dilarang menggunakan lampu putih yang ia bawa karena sebenarnya cahaya putih hanya akan jelas dikenali sebagai kapal jika menunjukkan dari dek kapal, bukan tiang utama yang kemudian menyebabkan adanya kesalahpahaman akan jarak dari Berkshire oleh Scotia. Maka kemudian pihak Scotia dimenangkan karena pada dasarnya argument mereka benar dalam menentukan (dan mengira) bahwa itu adalah kapal uap dan bukanlah kapal layar AS. Dari peristiwa ini, diketahui bahwa peraturan baru Inggris dalam dunia pelayaran akhirnya menjadi kaidah atau kebiasaan dan diterima secara luas bagi negara maritim lain. Dan dapat diketahui pula bahwa penyelesaian masalah yang melintasi batas negara-dalam kasus ini pelayaran, dilihat dari pola hubungan dan kaidah yang berlaku secara internasional.

II.

Paquete Habana Paquete Habana dan Lola adalah dua kapal penangkap ikan yang berlayar dibawah

bendera Spanyol, tepatnya subjek adalah orang Spanyol kelahiran Kuba, yang tinggal di kota Havana, berada di bawah perintah subjek Spanyol yang juga berada di Havana. Kapal ini berlayar masuk dan keluar dari Havana, dan secara teratur melakukan penangkapan ikan di Pantai Kuba. Kargo kapal terdiri dari ikan segar, ditangkap oleh para Amerika Serikat dan menaruhnya diatas kapal untuk dijual. Paquete Habana ditangkap oleh kapal perang Amerika Castine di sekitar 2 miles dari Mariel dan 11 mill dari Havana, sedangkan kapal Lola ditangkap oleh kapal Amerika Dolphin setelah tadinya diperingatkan untuk tidak pergi ke Havana oleh Amerika Serikat Cincinnati, dan kemudian mengubah haluan ke Bahia Honda, akan tetapi malah ditangkap pagi harinya ketika berada di dekat pelabuhan. Kapal dihentikan oleh Squadron yang memblokade tanpa sepengetahuan awak kapal dikarenakan akan adanya perang antara Amerika dan Spanyol. Kapal yang tidak memiliki amunisi senjata tersebut kemudian ditangkap dan terpisah dari pelabuhan Kuba di Havana untuk ikan. Kedua kapal ditangkap oleh Kapal US Naval sebagai bagian dari blockade Laksamana Sampson Kuba yang diperintahkan untuk melakukan blockade menurut hukum Amerika Serikat dan hukum Negara yang berlaku untuk kasus-kasus sejenis. Kapal kemudian ditempatkan di perairan territorial Kuba, kemudian dibawa ke Key West dimana kemudain kapal dilelang oleh pengadilan distrik. Admiral Sampson menyatakan bahwa benar adanya penangkapan kapal ikan dibawah bendera Spanyol oleh kapal Amerika Serikat. Alasan Laksamana Sampson menangkap kapalkapal itu berasal dari pembenarannya melakukan perampasan dan menyatakan bahwa kebanyakan kapal-kapal nelayan berlayar dengan memasang bendera Spanyol yang dinahkodai oleh pelaut yang ahli, sehingga diduga bahwa kapal-kapal tersebut memang untuk digunakan sebagai aset untuk melawan Amerika dalam perang yang terjadi antara Amerika dengan Spanyol. Para pemilik kapal mengajukan kasasi ke pengadilan sirkuit. Berdasarkan tradisi panjang yang diselenggarakan oleh Negara-negara guna membebaskan kapal penangkap ikan dari pengangkapan hadiah di masa perang, yaitu tradisi yang merupakan contoh utama dari costumary international law yang mengikat atas hak dan kewajiban dari kapal-kapal nelayan tersebut. Hal ini juga telah pernah disebutkan pada masa Raja Henry IV tahun 1403, bahwa pada saat itu juga terdapat tradisi seperti itu, dan tradisi-tradisi lainnya.. Pada saat penangkapan, kedua

kapal memang tidak memiliki bukti adanya upaya membantu musuh dan tidak menyadari blockade angkatan laut Amerika. Setelah kasus ini diusut lebih lanjut seiring berjalannya waktu, akhirnya diketahui bahwa penangkapan kedua kapal tersebut adalah merupakan kecerobohan yang dilakukan oleh pihak Amerika. Mereka juga tidak melakukan penolakan pada saat penangkapan. Walau pengadilan tersebut tidak memiliki yurisdiksi untuk mendengar dan mengajukan banding karena sengketa jumlahnya tidak melebihi dari $ 2000 dan hakim distrik belum bersertifikat terkait ajudikasi yang melibatkan sebuah pertanyaan penting umum, namun Mahkamah Agung Amerika mendukung adanya hukum kebiasaan internasional bahwa kapalkapal nelayang dibebaskan dari penangkapan hadian dan menetapkan bahwa penangkapan kedua kapal tersebut merupakan pelanggaran hukum tanpa sebab dan tidak memiliki alasan juga sumber hukum yang jelas. Pengadilan kemudian memerintahkan untuk mengembalikan hasil lelang dan setiap laba dari kargo tersebut untuk dikembalikan kepada penuntut, beserta dengan pengembalian biaya kerusakan.

KESIMPULAN Kedua kasus diatas merupakan contoh dari kasus yang mengadopsi kebiasaan internasional. Pengadilan dalam memutuskan keputusan menggunakan kebiasaan internasional sebagai acuan didasarkan oleh adanya anggapan bahwa kebiasaan ini baik dan memiliki manfaat bagi keselamatan dan keamanan pelayaran. Kebiasaaan internasional dapat diadaptasi bila dipraktikkan secara umum oleh sebagian besar Negara. Negara yang tidak mengikuti kebiasaan tertentu namun tidak memprotes, maka dianggap menyetujui kebiasaan tersebut. Suatu kebiasaan internasional dijadikan acuan sumber hukum internasional karena bermanfaat bagi kelancaran perkembangan praktik hukum.