Anda di halaman 1dari 16

MENGAPA THE RULE LEBIH BAIK DARIPADA THE DISCRETION?

#
# Ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomika Makro yang disupervisi oleh Prof. Dr. Harry Susanto.

Jose Rizal Joesoef


Mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi NIM: 0530200038

Daftar Isi I. PENDAHULUAN II. DASAR PEMIKIRAN BG-1 III. STRUKTUR MATEMATIS BG-1 IV. THE RULE VERSUS THE DISCRETION The Rule Solution The Discretion Solution V. PENUTUP Bahan Bacaan LAMPIRAN: Barro, R. J. dan D. B. Gordon (1983). A Positive Theory of Policy in a Natural Rate Model. Journal of Political Economy, Vol. 91, No. 41, h. 589-610. 1 3 6 9 9 10 12 14

Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang Semester Ganjil 2005/2006

MENGAPA THE RULE LEBIH BAIK DARIPADA THE DISCRETION?


Jose Rizal Joesoef
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi NIM: 0530200038

I. PENDAHULUAN
Ketika ketidakpastian harus dipertimbangkan dalam analisis makroekonomi, maka expectation on future inflationyaitu usaha untuk menduga jatuhnya angka inflasi di kemudian hariserta bagaimana ekspektasi tersebut diformulasikan, menduduki peran yang sangat penting. Ekspektasi terhadap inflasi besok, dapat menjelaskan mengapa kita bersedia terlibat dalam forward-looking activity seperti menabung atau melakukan investasi sekarang. Adalah masuk akal jika saya membeli bensin sekarang jika saya menduga bahwa besok harga bensin akan naik. Adanya ekspektasi ini kemudian melahirkan gagasan dari beberapa ekonom akan perlunya kejelasan (transparancy) dalam pelaksanaan kebijakan moneter. Gagasan ini menyatakan bahwa semakin jelas akan jatuhnya macam kebijakan moneter besok, maka semakin mudah kita memprofilkan expected future event untuk kemudian dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan sekarang. Di samping menuntut transparansi, beberapa ekonom menghimbau bahwa adalah lebih baik bagi monetary policy maker untuk menerbitkan kebijakan moneternya secara konsisten serta dengan komitmen yang kuat mengikuti sebuah kaidah tertentu sehingga mudah diprediksi oleh sektor swastaunder a rule, ketimbang kebijakan moneter menurut perhitungan dan kehendaknya otoritas moneter sendiriunder discretion.1 Alasan intuitif di balik gagasan ekonom tersebut adalah bahwa otoritas moneteratau bank sentraldapat mencapai the best long-run outcome hanya ketika kebijakan moneternya dilaksanakan under a rule, selama jangka panjang mengimplikasikan perencanaan
1

Untuk selanjutnya, kami menggunakan istilah bank sentral untuk menggantikan istilah pemerintah atau penentu kebijakan moneter, dan banyak menggunakan istilah perusahaan untuk mewakili private agents.

MENGAPA THE RULE LEBIH BAIK DARIPADA THE DISCRETION?

dan kemampuan sektor swasta (private agents) untuk mengembangkan kapasitasnya. Sedangkan under discretion, bank sentral dapat dianggap senantiasa mengubah arah kebijakan moneternya untuk memuasi beberapa short-run objectives, sehingga menyulitkan private agents dalam memformulasikan ekspektasinya akan munculnya dampak kebijakan moneter di masa mendatang. Pembedaan antara kebijakan moneter under a rule dan under discretion telah dikupas oleh Robert J. Barro dan David B. Gordon dalam sebuah seminal paper-nya berjudul A Positive Theory of Monetary Policy in a Natural Rate Model, yang dimuat dalam Journal of Political Economy, 1983, Vol. 91, No. 4, h. 289-610. Artikel ini tidak bermaksud menandingi karya Barro-Gordon tersebut (BG-1), tetapi hanya berusaha menyajikan sedikit pemahaman dan beberapa komentar terhadap BG-1.2 Kami mengangkat isu mengapa sikap (conduct) kebijakan moneter under a rule dianggap lebih baik ketimbang sikap kebijakan moneter under discretion. Artikel ini terbagi menjadi lima bagian: Bagian pertama memberikan gambaran umum tentang isu yang akan didiskusikan dalam artikel ini. Bagian kedua menyajikan asumsi-asumsi yang mendasari BG-1. Bagian ketiga menstrukturkan model matematis dalam BG-1. Bagian keempat mencoba menjawab isu utama dari artikel ini dengan model matematis yang telah kami reduksi dari BG-1. Bagian kelima menutup artikel ini dengan beberapa kesan dan komentar dari kami. Dalam menyajikan BG-1 ini, kami harus berkonsultasi dengan dua buku berikut: Gibbons, Robert (1992). Game Theory for Applied Economists. Princeton, NJ: Princeton University Press. (Khususnya halaman 112-115 tentang Time-consistent monetary policy.)
2

Artikel ini menggunakan simbol BG-1 (Barro-Gordon Jilid Satu) untuk merujuk kepada apa yang ditulis dalam Journal of Political Economy 1983 tersebut. Beberapa bulan kemudian dalam tahun yang sama, Barro dan Gordon memperkaya paparannya dalam Rules, Discretion and Reputation in a Model of Monetary Policy, dalam Journal of Monetary Economics, vol. 12, Juli 1983, yang dipresentasikan dengan judul yang sama dalam NBER WORKING PAPER SERIES, Working Paper No. 1079, Februari 1983. Apa yang ditulis dalam artikel kedua ini dapat disimbolkan dengan BG-2 (Barro-Gordon Jilid Dua).

Jose Rizal Joesoef

MENGAPA THE RULE LEBIH BAIK DARIPADA THE DISCRETION?

Romer, David (2001). Advanced Macroeconomics. Singapore: McGraw-Hill. (Khususnya halaman 242-252 tentang Output-inflation tradeoffs; dan halaman 478-482 tentang The dynamic inconsistency of low-inflation monetary policy.)

II. DASAR PEMIKIRAN BG-1


Pada dasarnya, tujuan BG-1 adalah untuk mengembangkan teori moneter dan inflasi. BG-1 dimotivasi oleh dua fakta: Tingkat inflasi rata-rata dan pertumbuhan uang yang tinggi, relatif terhadap efficiency criterion di banyak negara. Hal ini dapat dipahami karena pada awal tahun 1980an banyak negara menderegulasi sektor moneternya. Banyak negara cenderung berlomba-lomba melakukan activist, countercyclical monetary policy. Artinya, mereka cenderung mengeluarkan kebijakan kontraktif untuk melambatkan roda perekonomian dalam masa baik (booming), dan kebijakan ekspansif untuk mempercepat roda perekonomian dalam masa buruk (recession). Berdasarkan dua pengamatan ini, BG-1 curiga bahwa the activist, discretionary monetary policy telah menyumbang tingginya pertumbuhan uang dan tingkat inflasi. BG-1 kemudian berusaha mengembangkan model yang dapat menjelaskan kaitan (link) antara discretionary policy dan inflasi tinggi. Ada beberapa asumsi yang secara eksplisit maupun implisit ditunjukkan dalam BG-1, yaitu: 1. Perusahaan bertindak rasional dalam mengantisipasi action bank sentral. Artinya, perusahaan mampu membaca sikap (conduct) bank sentral, dan mampu membandingkan antara ketika bank sentral bertindak under discretion dan ketika bertindak under a rule. Kata BG-1 (1983:590), If private agents can deduce the characteristics of the monetary process once it is implemented, it defines their expectations. BG-1 membandingkan economic outcome ketika bank sentral bertindak under discretion dan outcome tersebut ketika under a
Jose Rizal Joesoef

MENGAPA THE RULE LEBIH BAIK DARIPADA THE DISCRETION?

rule. BG-1 memperlihatkan bahwa under discretion, bank sentral lebih suka memilih inflasi tinggi (melalui kebijakan moneternya). Sehingga inflasi aktual yang berlaku dalam perekonomian under dicretionary policy, tergantung kepada tingkat pengangguran natural dan slope kurva Phillips (yang menjelaskan tradeoff antara inflasi dan pengangguran). 2. Tujuan bank sentral (atau fungsi obyektifnya)yang lebih mengedepankan low unemployment ketimbang low inflation-merefleksikan kepentingan masyarakat. Low unemployment mengimplikasikan kenaikan real economic activities. (Dalam BG-1, disebutkan secara jelas tiga stakeholders, yaitu monetary policy maker (bank sentral), private agents (perusahaan), dan masyarakat.) Menyimak struktur pembahasan BG-1 secara sepintas, BG-1 pertama-tama bercerita tentang fungsi obyektif private agents, kemudian menggambarkan preferensi bank sentral, dan akhirnya bercerita panjang lebar untuk mengklarifikasi dua solusi (equilibrium) untuk modelnya yaitu: solusi di mana bank sentral under a rule dan under discretion. Metodologi yang digunakan BG-1 adalah game theory. Konsep keseimbangan yang diterapkan BG-1 agak sedikit canggih, tetapi untuk maksud artikel ini, penulis mencoba menyajikannya secara sederhana. Dalam rule solution, bank sentral tidak mendayagunakan kemampuannya untuk secara aktif mengintervensi pasar melalui kebijakan moneternya. Gaya countercyclical-nya bank sentral ditiadakan dalam solusi ini. Bank sentral mengikuti sebuah specific rule sedemikian rupa sehingga private agents dapat secara konsisten mengikuti (follow) rule tersebut. Struktur informasi dalam rule solution ini adalah: perusahaan tahu bahwa bank sentral mempunyai dan mematuhi a given rule, kemudian perusahaan mengambil langkah (memformulasikan ekspektasinya) sesuai rule tersebut, dan bank sentral tahu bahwa perusahaan mengikuti rule tersebut.3
3

Jose Rizal Joesoef

Untuk mudahnya, struktur informasi ini digambarkan demikian: Saya tahu bahwa bank sentral mempunyai sebuah cara tertentu dan bank sentral akan selalu setia dengan sebuah cara tertentu tersebut, dan saya kemudian mengambil (mengop-

MENGAPA THE RULE LEBIH BAIK DARIPADA THE DISCRETION?

Dalam discretionary solution, bank sentral tidak mempunyai satupun rule yang mengikat dirinya, dan memiliki kemampuan untuk secara aktif mengintervensi perekonomian. Karena bank sentral tidak memiliki credible commitment to follow a specific rule, maka perusahaan tidak dapat berharap banyak kepada bank sentral. Kebijakan apapun yang dikumandangkan (announced) untuk kemudian diimplementasikan oleh bank sentral, tidak dipercayai oleh perusahaan. Tahu bahwa dirinya (bank sentral) sudah tidak dipercayai lagi, bank sentral kemudian mengkalkulasi optimal policy-nya dengan menganggap ekspektasi perusahaan sebagai sesuatu yang given. Di sini, perusahaan bukanlah sebuah entitas yang bodoh dan dapat dibodohi. Ketika memformulasikan expected inflationnya, perusahaan tahu bahwa bank sentral (telah dan akan selalu) mengoptimalkan kebijakan moneternya dengan menganggap ekspektasi perusahaan sebagai sesuatu yang given. Di dalam kondisi ini, bank sentral juga tahu bagaimana perusahaan memformulasikan ekspektasinya.4 Akibatnya, bank sentral memiliki insentif untuk menyimpang dari kebijakan moneter yang sudah dikumandangkan.5

timalkan) langkah saya dengan menganggap bahwa bank sentral senantiasa setia dengan sebuah cara tertentu tersebut, dan bank sentral tahu juga bahwa saya mengoptimalkan langkah saya tersebut dengan mempertimbangkan kesetiaan bank sentral kepada sebuah cara tertentu tersebut
4

Untuk mudahnya, struktur informasi ini digambarkan demikian: Saya tahu bahwa bank sentral mempunyai banyak cara yang tidak tentu dan bank sentral akan selalu setia dengan banyak cara yang tidak tentu tersebut, dan saya kemudian mengambil (mengoptimalkan) langkah saya dengan menganggap bahwa bank sentral senantiasa setia dengan banyak cara yang tidak tentu tersebut, dan bank sentral tahu juga bahwa saya mengoptimalkan langkah saya tersebut dengan mempertimbangkan ketidakkesetiaan bank sentral kepada sebuah cara tertentu.

Katakanlah yang menjadi bank sentral adalah saya. Kalau anda sudah terlanjur mencap saya sebagai orang jahat, dan saya sudah terlanjur tahu kesan anda itu terhadap saya, dalam benak saya mungkin akan terlintas: Mengapa saya sekarang harus berbaik-baik dan bermanis-manis kepada anda! Selanjutnya, mungkin saya berpikir: Percuma saja saya bermanis-manis kepada anda, toh nantinya anda tetap mencap saya sebagai orang jahat! Ketika thinking and mental process semacam ini benar-benar terjadi, saya tidak memiliki insentif untuk berbuat baik kepada anda.
Jose Rizal Joesoef

MENGAPA THE RULE LEBIH BAIK DARIPADA THE DISCRETION?

III. STRUKTUR MATEMATIS BG-1


Diketahui bahwa bank sentral mengontrol pengangguran melalui aggregate demand, dan dampak kebijakan moneter terhadap inflasi ditransmisikan melalui kurva Phillips. Dalam BG-1, bank sentral dapat mengontrol tingkat inflasi secara langsung, sementara tingkat pengangguran ditentukan oleh slope kurva Phillips yang sudah dimodifikasi. Secara eksplisit, diasumsikan bahwa tingkat pengangguran ( ut ) dalam sebuah perekonomian ditentukan oleh Persamaan (1) berikut:
n e ut = ut (t t )

(1)

n di mana ut adalah natural rate-nya dan parameter > 0 merefleksikan tradeoff antara keinginan untuk menurunkan inflasi dan keinginan untuk merendahkan pengangguran. Untuk mudahnya, dianggap konstan. (Perhatikan bahwa Persamaan (1) merupakan versi lain dari the expectation augmented Phillips curve: e n 1 t = t (ut ut ) di mana = .)

Apa yang diinginkan oleh perusahaan adalah mengantisipasi e inflasi secara tepat. Payoff untuk perusahaan adalah ( t t ) . Ini berarti, perusahaan mendapatkan maximum payoff (lebih tepatnya, e e nol) ketika t = t . Jadi, pada inflationary expectation ( t ) yang diformulasikan oleh perusahaan, Persamaan (1) mencerminkan the maximizing behavior of private agents on decentralized markets (BG, 1983:592). Tampak bahwa adanya perubahan inflasi yang tidak diharapkan sehingga mengagetkan perusahaan, akan merangsang aktivitas ekonomi (melalui penurunan upah riil dan pada gilirannya menurunkan pengangguran). Ini berarti nilai positif dari e ( t t ) adalah surprise inflationtingkat inflasi aktual di atas tingkat yang diharapkannya. Di lain pihak, apa yang diinginkan oleh bank sentral adalah peningkatan real economic activities. Persamaan ini bercerita bahwa e unexpected changes in inflation (yaitu nilai positif dari t = t ) akan merangsang aktivitas ekonomi (melalui penurunan upah riil),
Jose Rizal Joesoef

MENGAPA THE RULE LEBIH BAIK DARIPADA THE DISCRETION?

kemudian pada gilirannya menurunkan pengangguran hingga di bawah tingkat naturalnya.


n Dalam BG-1, diasumsikan the natural unemployment rate ( ut ) dapat bergeser sewaktu-waktu karena adanya autonomous real shock n ( et ), tetapi diasumsikan bahwa ut menderita slow speed of adjustment ketika harus kembali ke sebuah angka konstan. Proses evolusi n ut adalah sebagai berikut: n n ut = ut 1 + (1 )u n + et

(2)

n maka ut = u n . Ini berarti (1 ) dapat dipahami sebagai speed of ad-

di mana u n adalah the long-run mean of the natural rate of unemployn n ment dan 0 1 . Jika = 1 , maka ut = ut 1 + et . Jika = e = 0 ,

e prise inflation ( t t ), bukan kepada lagged values.

n justment of ut menuju rata-ratanya. Dengan demikian, semakin kecil nilai menandakan bahwa real economic activities akan bergerak cepat menuju u n . Tetapi BG-1 memudahkan paparannya den ngan mengkonstankan nilai u n seraya menganggap bahwa ut bergerak lambat menuju nilai konstan tersebut. Di samping itu, dianggap bahwa ut dalam Persamaan (1) hanya tergantung kepada sur-

Fungsi obyektif bank sentral pada satu periode tertentu dapat dinyatakan dalam persamaan kuadratik berikut:6
n Zt = a(ut kut )2 + b( t )2

(3)

di mana a , b > 0 dan 0 k 1 . a dan b adalah parameter biaya (atau weight) yang diinginkan bank sentral untuk disematkan masing-masing kepada biaya inflasi dan biaya pengangguran. Pada sisi kanan persamaan (3) tampak bahwa biaya pengangguran akan naik ketika n unemployment rate ( ut ) semakin jauh dari yang ditargetkan, kut .
Fungsi ini dapat disebut sebagai loss function (atau diswelfare function) karena bank sentral mengoptimumkan dua bads (bukan goods), yaitu: inflasi dan pengangguran. Jika dua bads ini harus dipilih, bank sentral, dalam BG-1, lebih suka pengangguran rendah ketimbang inflasi tinggi.
Jose Rizal Joesoef
6

MENGAPA THE RULE LEBIH BAIK DARIPADA THE DISCRETION?

Adanya penargetan kebijakan pengangguran (unemployment targetting) ini memberikan sinyal bahwa bank sentral lebih suka menurunkan unemployment ketimbang menurunkan inflasi. Parameter k menggambarkan efek eksternal sehubungan dengan efficiency criterion. Apabila k = 1 , maka bank sentral berarti berusaha menjaga pengangguran pada tingkat naturalnya sehingga biaya pengangguran sama dengan nol. Inilah yang disebut efficiency criterion. Akan tetapi BG-1 men-set k < 1 , karena BG-1 .need some existing disortion in the economy.in order to generate activist policy in our model. Ini berarti tingkat pengangguran yang menjadi target bank sentral pada satu periode tertentu, adalah rate yang lebih renn n dah dari tingkat pengangguran naturalnya, atau kut < ut .7 Ditegaskan lagi oleh BG-1 bahwa bank sentral dapat mengontrol langsung sebuah variabel yang berhubungan langsung dengan inflasi. We assume that the policymaker controls an instrumentsay, monetary growth, t --which has a direct connection to inflation, t , in each period (BG-1, 1983:594). Jika demikian, dapatlah kiranya dibayangkan bahwa pada setiap satu periode tertentu, bank sentral dapat memilih (choose) tingkat inflasi (melalui instrumen kebijakan moneter).8 Keputusan untuk memilih tingkat inflasi t pada setiap satu periode tertentu, didesain untuk meminimumkan the expected present value of costs (biaya pengangguran dan inflasi) sebagai berikut:
min

Zt I0 t = 1 (1 + )t

(4)

di mana I 0 adalah the initial state of information dan adalah a constant, exogenous real discount factor.
Tampaknya ini merupakan critical point. BG-1 belum menemukan cukup pembenar empiris bahwa mengapa kebijakan unemployment targeting ditujukan untuk mempush perekonomian menuju tingkat pengangguran di bawah tingkat naturalnya. ini berarti nilai k bertindak sebagai sebuah external contraint. Tampaknya ini juga merupakan strong assumption. Kita lebih merasa yakin bahwa bank sentral dapat mengontrol tingkat bunga secara langsung dan tingkat bunga tersebut kemudian secara tidak langsung mempengaruhi inflasi.
Jose Rizal Joesoef
8 7

MENGAPA THE RULE LEBIH BAIK DARIPADA THE DISCRETION?

Bagaimana inflasi dan pengangguran terjadi, ditentukan oleh sebuah game antara bank sentral vis--vis perusahaan. Struktur game-nya adalah: Bank sentral masuk ke dalam periode t dengan bekal informasi It 1 . Berdasarkan informasi ini, bank sentral men-set t dengan mengoptimasi Persamaan (4).
e Secara simultan, perusahaan memformulasikan t . e Ekspektasi perusahaan ( t ) juga berdasarkan informasi yang sama, It 1 , yang juga diketahui oleh bank sentral.

Dalam memformulasikan ekspektasinya, masyarakat (perusahaan dan buruhnya) mempertimbangkan t yang bakal muncul dari Persamaan (4).9
e Akhirnya, pilihan t dan t secara bersama-sama dengan et , menentukan ut dan Zt sebagaimana dalam Persamaan (1) (3).

IV. THE RULE VERSUS THE DISCRETION


Pada bagian ini, kami ini akan memaparkan solusi kebijakan moneter under a rule dan under discretion. Agar mudah dipahami, Zt menjadi a kami akan memaksa masalah minimisasi t = 1 (1 + )t single-period objective function. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan kita menghitung the optimal policy pada satu waktu tertentu dengan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya di waktu kemudian.

THE RULE SOLUTION. Masalah optimisasi yang dihadapi oleh bank sentral dapat digambarkan sebagai berikut:
Secara implisit dianggap bahwa upah buruh tidak dapat diindeks dengan sempurna, dan perusahaan beserta buruhnya sama-sama mengantisipasi inflasi yang bakal terjadi. Surprise inflationyaitu actual inflation di atas expected inflation, akan mengerosi upah riil, dan kemudian merangsang perusahaan untuk meningkatkan employment atau outputnya
Jose Rizal Joesoef
9

MENGAPA THE RULE LEBIH BAIK DARIPADA THE DISCRETION?

2 min Zt = a(ut ku n )2 + bt t

(5)

Dengan mensubstitusikan tingkat pengangguran dari kurva Phillips ut = u n ( t e ) ke dalam Persamaan (5), kita mendapatkan:
2 min Zt = a[u n ( t e ) ku n ]2 + bt t

(6)

Apabila dalam men-set inflasi (via instrumen kebijakan moneter), bank sentral mempunyai credible commitment untuk mengikuti sebuah rule, perusahaan akan mengantisipasinya secara tepat. Artinya, ketika mengoptimalkan policy-nya, bank sentral tahu bahwa t = e . Hal ini membuat fungsi obyektif dalam Persamaan (5) menjadi:
2 min Zt = a[u n ku n ]2 + bt t

(7)

Turunan pertama Persamaan (7) adalah 2 bt = 0 . Kita definisikan solusi optimal ini menjadi * = 0 Dalam rule solution, bank sentral bertekad commit kepada sebuah a specific rule di mana ia memilih tingkat inflasi sama dengan nol pada setiap periode. Perusahaan mengharapkan inflasi nol di mana bank sentral memasoknya. Nilai fungsi obyektif bank sentral (Persamaan (6)) pada * = 0 adalah:
n Zt = a[u n kut ]2 + b(0)2 = a(1 k )2 ( u n )2

(8)

THE DISCRETION SOLUTION. Tampak bahwa rule solution tergantung kepada credible commitment. Tetapi, dengan menetapkan ekspektasi inflasi sama dengan nol, bank sentral tergoda (tempted) untuk menciptakan surprise inflation. Mengetahui akan hal ini, perusahaan tidak akan mengangkakan inflationary expectation-nya sama dengan nol jika mereka tidak merasa yakin kalau bank sentral tidak akan mendeviasi dari angka itu.
Jose Rizal Joesoef

10

MENGAPA THE RULE LEBIH BAIK DARIPADA THE DISCRETION?

Tanpa adanya credible commitment, bank sentral dapat leluasa bertindak at discretion. Selama bank sentral mempunyai discretionary policy making abilitydan perusahaan mengetahui bahwa bank sentral mempunyai kemampuan itu, maka apapun yang dikumandangkan (announced) sehubungan dengan future inflation tidak akan dipercaya. Sehingga bank sentral, meskipun ia berjanji bahwa inflasi akan sama dengan nol, tidak akan mempengaruhi ekspektasi perusahaan. Selama bank sentral tidak dapat mempengaruhi ekspektasi perusahaan, bank sentral harus menganggap ekspektasi perusahaan sebagai given. Jika demikian, maka fungsi obyektif bank sentral adalah:
2 min Zt = a[u n ( t e ) ku n ]2 + bt t

(9)

yang sama dengan Persamaan (6). Selama tidak mengindahkan ekspektasi perusahaan, derivasi pertama Persamaan (9) adalah: 2 a[u n ( t e ) ku n ]( ) + 2bt = 0 , atau
a[ u n ( t e ) ku n ] = bt

(9)

Definisikan bahwa adalah solusi untuk model ini. Mengetahui bahwa bank sentral meng-given-kan ekspektasinya, perusahaan menetapkan e = . Sehingga, the equilibrium inflation rate menurut Persamaan (9) menjadi a[u n ku n ] = b atau
a(1 k )u n = b

(10)

Jadi ketika bank sentral bersikap discretionary, tingkat inflasi yang (sub)optimal adalah positif. Persamaan (10) menjadi surprise infla tion, selama = t = e > 0 . Tampak bahwa tingkat inflasi merupakan increasing function dari a dan , serta decreasing function dari b. Lebih jauh, semakin besar weight (a) yang disematkan bank sentral kepada unemployment,
Jose Rizal Joesoef

11

MENGAPA THE RULE LEBIH BAIK DARIPADA THE DISCRETION?

berarti semakin kecil weight (b) yang disematkan kepada inflasi, maka semakin tinggi inflasi yang terjadi dalam perekonomian. Nilai fungsi obyektif bank sentral (Persamaan (9)) adalah
a(1 k )u n Zt = a[(1 k )u n ]2 + b , atau: b 2 = a(1 k )2 (u n )2 1 + a Zt b 2

(11)

Dengan melihat nilai dari loss function bank sentral, dapatlah dilihat bahwa Zt < Zt , atau 2 a a(1 k ) (u ) < a(1 k ) (u ) 1 + b
2
n 2

n 2

(12)

Dengan kata lain, loss function dalam discretion solution lebih besar daripada dalam rule solution. BG-1 melihat bahwa interaksi antara bank sentral dengan private agents adalah interaksi strategis. Artinya, satu pihak berusaha saling menduga-duga langkah-langkah yang mungkin dilakukan oleh pihak lain. Ketika bank sentral dan private agents ditempatkan dalam posisi gaming di dalam skenario under a rule, maka, secara matematis, hasilnya berbeda dengan ketika keduanya ditempatkan di dalam skenario under discretion. BG-1 mendapati bahwa rule solution lebih baik dari discretion solution. Zero inflation dan minimum society loss hanya dapat dicapai jika bank sentral mengikuti sebuah rule.

V. PENUTUP
Model BG-1 yang kami setup di atas adalah versi reduced, di mana game berlangsung satu kali (one-shot) dan kemudian game berakhir. Selama one-shot game, maka building reputation menjadi tiJose Rizal Joesoef

12

MENGAPA THE RULE LEBIH BAIK DARIPADA THE DISCRETION?

dak penting.10 Hal ini seperti saya berpikir: Kalau hari ini adalah pertemuan pertama sekaligus terakhir antara saya dengan anda, mengapa saya hari ini harus berbaik-baik dengan anda!? Dengan kata lain, jika tidak ada hari esok, saya tidak memiliki insentif untuk berbuat baik kepada anda. Kata seorang game theorist: If there is no tomorrow, why should I care! Ketika thinking process semacam ini juga bersemai dalam pikiran anda, dan kemudian kita bertemu, maka outcome dari pertemuan ini secara intuitif dapat diduga, yaitu cenderung saling melukai atau paling tidak SALING TIDAK PERCAYA lagi di antara saya dengan anda. Oleh game theory, gejala ini dinamakan prisoners dilemma problem di mana TIDAK PERCAYA adalah strategi dominan saya dan anda juga. Kami mencoba membayangkan bagaimana jika one-shot game di atas diizinkan untuk berlangsung berulang-ulang dengan periode terbatas tertentufinite-repeated game (t = n ). Jika game berlangsung beberapa periode, maka ada insentif bagi saya untuk membangun reputasi. Hal ini seperti saya berpikir: Saya besok masih harus bertemu dengan anda, maka sekarang saya harus berbaik-baik dengan anda. Akan tetapi, ketika saya (dan anda) tahu bahwa saya (dan anda) akan bertemu dengan anda (dan saya) 20 kali atau, di mana TIDAK PERCAYA merupakan strategi dominan saya (dan anda), maka intuisi kita akan mengatakan bahwa yang terjadi adalah perang untuk SALING TIDAK memPERCAYAi. Gejala ini bisa dijelaskan dengan konsep Chain Store Paradox, yang kurang lebihnya menyatakan: Kalau pada akhirnya anda TIDAK memPERCAYAi saya, mengapa sekarang saya harus PERCAYA kepada anda? Proses mental ini menyatakan bahwa kalau periode permainan berulang-ulang hingga 20 kali ( t = 20 ), maka saya dan anda dapat memandang bahwa periode ke 1 hingga ke 20 sebagai sebuah

10

Kaitan antara reputasi dengan kebijakan moneter dibahas dalam Barro-Gordon Jilid Dua (BG-2) yang berjudul Rules, Discretion and Reputation in a Model of Monetary Policy, dalam NBER WORKING PAPER SERIES, Working Paper No. 1079, Februari 1983.

Jose Rizal Joesoef

13

MENGAPA THE RULE LEBIH BAIK DARIPADA THE DISCRETION?

periode (one-shot), yang menurut prisoners dilemma game dan Chain Store Paradox akan berhenti pada SALING TIDAK PERCAYA. Kalau saya (dan anda) berpikir bahwa pada periode ke 20 nanti akan berakhir dengan SALING TIDAK PERCAYA, maka dengan backward induction, saya (dan anda) akan berpikir: Mengapa saya harus PERCAYA kepada anda, wong di periode ke 20 nanti anda TIDAK PERCAYA kepada saya? Hasilnya, saya (dan anda) akan memilih TIDAK PERCAYA pada periode ke 19. Setelah itu, saya (dan anda) membayangkan berhenti di periode ke 18. Dengan backward induction pula saya (dan anda) akan berpikir: Mengapa saya harus PERCAYA kepada anda, wong di periode ke 19 kemarin anda TIDAK PERCAYA kepada saya? Hasilnya, saya (dan anda) akan memilih TIDAK PERCAYA pada periode ke 18. Setelah itu, saya (dan anda) membayangkan berhenti di periode ke 17. Dengan backward induction pula saya (dan anda) akan berpikir: Mengapa saya harus PERCAYA dengan anda, wong di periode ke 18 kemarin anda TIDAK PERCAYA kepada saya? Hasilnya, saya (dan anda) akan memilih TIDAK PERCAYA pada periode ke 17. Dan seterusnya sehingga pada periode ke 16, 15, 14, ., hingga periode ke 1, terdapat 20 rentetan perang SALING TIDAK memPERCAYAi. Berhubung dengan multi-period game ini, Tullock (1985:1075-1076) mengatakan: Anyone who chose to defect in any given games would, in essence, put himself in a situation where it would extremely be difficult for him to get partners for any future games. Tampaknya dalam skenario discretionary, BG-1 melembagakan keSALINGTIDAKPERCAYAan di antara bank sentral vis--vis perusahaan (private agents) dalam model monetary policy game-nya.
BAHAN BACAAN Barro, J. B. dan D. B. Gordon (1983a). A Positive Theory of Monetary Policy in a Natural Rate Model. Journal of Political Economy. 1983, vol. 91, No. 4, h. 289-610. Barro, J. B. dan D. B. Gordon (1983b). Rules, Discretion and Reputation in a Model of Monetary Policy. NBER WORKING PAPER SERIES, Working Paper No. 1079, Februari 1983.
Jose Rizal Joesoef

14

MENGAPA THE RULE LEBIH BAIK DARIPADA THE DISCRETION?

Gibbons, R. (1992). Game Theory for Applied Economists. Princeton, NJ: Princeton University Press. Romer, D. (2001). Advanced Macroeconomics. Singapore: McGraw-Hill. Tullock, G. (1985). Adam Smith and the Prisoners Dilemma. Quarterly Journal of Economics. Vol. 100, h. 1073-1081.

Jose Rizal Joesoef

15