Anda di halaman 1dari 15

Clinical Science Session

OSTEOARTRITIS

Oleh: Sri Mardiati (06120013)

Rika Gusva Yelli (06120060)

Preseptor: dr. Roza Kurniati, Sp.PD

ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS RSUP DR. M. DJAMIL PADANG 2011
0

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul Osteoartritis. Referat ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik senior di Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Andalas RSUP dr. M. Djamil Padang. Dalam menyelesaikan referat ini penulis banyak menerima petunjuk, saran, dan dukungan moril serta materil dari berbagai pihak. Untuk itu penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Roza Kurniati Sp.PD sebagai pembimbing dalam penulisan referat ini. Penulis menyadari bahwa referat yang penulis susun masih jauh dari kesempurnaaan karena keterbatasan ilmu, kemampuan dan pengalaman penulis miliki. Untuk itu dengan hati terbuka penulis menerima saran dan kritikan yang membangun demi kesempurnaan referat ini. Akhirnya penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan penulis sendiri, Amin. Padang, 20 Mei 2011

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Osteoartritis (OA) adalah bentuk dari arthritis yang berhubungan dengan degenerasi tulang dan kartilago yang paling sering terjadi pada usia lanjut. Osteoartritis, yang juga disebut dengan penyakit sendi degeneratif, artritis degeneratif, osteoartrosis, atau artritis hipertrofik, merupakan salah satu masalah kedokteran yang paling sering terjadi dan menimbulkan gejala pada orang orang usia lanjut maupun setengah baya. Terjadi pada orang dari segala etnis, lebih sering mengenai wanita, dan merupakan penyebab tersering disabilitas jangka panjang pada pasien dengan usia lebih dari 65 tahun. Lebih dari sepertiga orang dengan usia lebih dari 45 tahun mengeluhkan gejala persendian yang bervariasi mulai dari kekakuan sendi tertentu dan rasa nyeri intermiten yang berhubungan dengan aktivitas, sampai kelumpuhan anggota gerak dan nyeri hebat yang menetap, biasanya dirasakan akibat deformitas dan ketidakstabilan sendi. 1 Degenerasi sendi yang menyebabkan sindrom klinis osteoartritis muncul paling sering adalah sendi- sendi yang harus memikul beban tubuh antara lain lutut, panggul, vetebra lumbal dan servikal dan sendi- sendi pada jari. Prevalensi kerusakan sendi synovial ini meningkat dengan bertambahnya usia. 2 1.2 Batasan Masalah Dalam referat ini akan dibahas mengenai prevalensi, etiologi, patofisiologi, diagnosis dan penatalaksanaan osteoartritis.

1.3 Tujuan Penulisan Penulisan referat ini bertujuan untuk lebih memahami tentang osteoartritis.

1.4 Metode Penulisan Penulisan referat ini disusun berdasarkan metode tinjauan kepustakaan dari beberapa literatur.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Definisi Osteoartritis merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi.1 Penyakit ini ditandai adanya deteriorasi dan abrasi rawan sendi dan adanya pembentukan tulang baru (osteofit) pada permukaan persendian.2

II.2 Etiologi dan Klasifikasi Berdasarkan patogenesisnya osteoartritis dibedakan menjadi 2 : 1,2,3,4 1. Osteoartritis Primer/ Idiopatik Osteoartritis seringkali terjadi tanpa diketahui secara pasti penyebabnya. Tidak ada hubungan dengan penyakit sistemik maupun perubahan lokal pada sendi. 3

2. Osteoartritis Sekunder Pada kasus yang lebih jarang, osteoartritis dapat terjadi akibat trauma pada sendi, inflamasi, herediter, pertumbuhan, kelainan metabolik, imobilisasi terlalu lama dan neurologik. II.3 Epidemiologi Onset usia pada osteoartritis tergantung pada penyebabnya, karena itu penyakit ini dapat berkembang pada dewasa muda dan bahkan anak-anak, seperti halnya pada orang tua. Presentasi orang yang memiliki osteoartritis pada 1 atau beberapa sendi meningkat dari dibawah 5% dari orang-orang dengan usia antara 15-44 tahun menjadi 25%-30% pada orang-orang dengan usia 45-64 tahun dan 60%-90% pada usia diatas 65 tahun. 1,2 Selain hubungan erat ini dan pandangan bahwa osteoartritis terjadi akibat proses wear & tear yang normal dan kekakuan sendi pada orang-orang dengan usia diatas 65 tahun, hubungan antara penggunaan sendi, penuaan, dan degenerasi sendi masih sulit dijelaskan. Terlebih lagi, penggunaan sendi selama hidup tidak terbukti menyebabkan degenerasi. Sehingga, osteoartritis bukan merupakan akibat sederhana dari penggunaan sendi. 4 II.4 Patogenesis

a. Perubahan pada tulang rawan sendi Stage I : Gangguan atau perubahan matriks kartilago. Berhubungan dengan peningkatan konsentrasi air yang mungkin disebabkan gangguan mekanik, degradasi makromolekul matriks, atau perubahan metabolisme kondrosit. Awalnya konsentrasi kolagen tipe II tidak berubah, tapi jaring-jaring kolagen dapat rusak dan konsentrasi aggrecan dan derajat agregasi proteoglikan menurun. Stage II : Respon kondrosit terhadap gangguan atau perubahan matriks. Ketika kondrosit mendeteksi gangguan atau perubahan matriks, kondrosit berespon dengan meningkatkan sintesis dan degradasi matriks, serta berproliferasi. Respon ini dapat menggantikan jaringan yang rusak, mempertahankan jaringan, atau meningkatkan volume kartilago. Respon ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Stage III : Penurunan respon kondrosit. Kegagalan respon kondrosit untuk menggantikan atau mempertahankan jaringan mengakibatkan kerusakan tulang rawan sendidisertai dan diperparah oleh penurunan respon kondrosit. Penyebab penurunan respon ini belum diketahui, namun diperkirakan akibat kerusakan mekanis pada jaringan, dengan kerusakan kondrosit dan downregulasi respon kondrosit terhadap sitokin anabolik.

b. Perubahan pada tulang. Perubahan tulang subkondral yang mengikuti degenerasi tulang rawan sendi meliputi peningkatan densitas tulang subchondral, pembentukan rongga- rongga yang menyerupai kista yang mengandung jaringan myxoid, fibrous, atau kartilago. Respon ini muncul paling sering pada tepi sendi tempat pertemuan tulang dan tulang rawan yang berbentuk bulan sabit (crescent). Peningkatan densitas tulang merupakan akibat dari pembentukan lapisan tulang baru pada trabekula biasanya merupakan tanda awal dari penyakit degenerasi sendi pada tulang subchondral, tapi pada beberapa sendi rongga rongga terbentuk sebelum peningkatan densitas tulang secara keseluruhan. Pada stadium akhir dari penyakit, tulang rawan sendi telah rusak seluruhnya, sehingga tulang subchondral yang tebal dan padat kini berartikulasi dengan permukaan tulang "denuded" dari sendi lawan. Remodeling tulang disertai dengan kerusakan tulang sendi rawan mengubah bentuk sendi dan dapat mengakibatkan shortening dan ketidakstabilan tungkai yang terlibat. Pada 5

sebagian besar sendi sinovial, pertumbuhan osteofit diikuti dengan perubahan tulang rawan sendi serta tulang subchondral dan metafiseal. Permukaan yang keras, fibrous, dan kartilaginis ini biasanya muncul di tepi-tepi sendi. Osteofit marginal biasanya muncul pada permukaan tulang rawan, tapi dapat muncul juga di sepanjang insersi kapsul sendi (osteofit kapsuler). Tonjolan tulang intraartikuler yang menonjol dari permukaan sendi yang mengalami degenerasi disebut osteofit sentral. Sebagian besar osteofit marginal memiliki pernukaan kartilaginis yang menyerupai tulang rawan sendi yang normal dan dapat tampak sebagai perluasan dari permukaan sendi. Pada sendi superfisial, osteofit ini dapat diraba, nyeri jika ditekan, membatasi ruang gerak, dan terasa sakit jika sendi digerakkan. Tiap sendi memiliki pola karakter yang khas akan pembentukan osteofit di sendi panggul, osteoarthritis biasanya membentuk cincin di sekitar tepi acetabulum dan tulang rawan femur. Penonjolan osteofit sepanjang tepi inferior dari permukaan artikuler os humerus biasanya terjadi pada pasien dengan penyakit degenartif sendi glenohumeral. Osteofit merupakan respon terhadap proses degerasi tulang rawan sendi dan remodelling tulang sudkhondral, termasuk pelepasan sitokin anabolik yang menstimulasi proliferasi dan pembentukan sel tulang dan matrik kartilageneus. c. Perubahan pada jaringan periartikuler. Kerusakan tulang rawan sendi mengakibatkan perubahan sekunder dari synovium, ligamen, kapsul, serta otot yang menggerakan sendi yang terlibat. Membran sinovial sering mengalami reaksi inflamasi ringan serta sedang dan dapat berisi fragmen-fragmen dari tulang rawan sendi.Semakin lama ligamen, kapsul dan otot menjadi contracted. Kurangnya penggunaan sendi dan penurunan ROM mengakibatkan atropi otot. Perubahan sekunder ini sering mengakibatkan kekakuan sendi dan kelemahan tungkai. 3,4

II.5 Faktor Risiko Faktor risiko osteoartritis antara lain: 1,2,4 a. Usia Osteoartritis hampir tidak pernah pada anak anak, jarang pada usia dibawah 40 tahun dan sering pada umur di atas 60 tahun. Fungsi kondrosit menurun dengan bertambahnya usia. Sel-sel ini mensintesis aggrecans yang lebih kecil dan protein penghubung yang kurang fungsional sehingga mengakibatkan pembentukan agregat proteoglikan yang ireguler dan lebih kecil. Aktivitas mitotik dan sintesis menurun dengan bertambahnya usia, dan mereka kurang responsif terhadap sitokin anabolik dan rangsang mekanik. b. Jenis kelamin Wanita lebih sering terkena OA lutut dan OA banyak sendi. Sedangkan laki laki lebih sering terkena OA paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keseluruhan, dibawah 45 tahun frekuensi OA kurang lebih sama antara pria dan wanita tetapi diatas 50 tahun frekuensi OA lebih banyak pada wanita. Hal ini menunjukkan adanya faktor hormonal pada patogenesis OA. c. Genetik Pada ibu dari seorang wanita OA pada sendi interfalang distal (nodus Heberden) terdapat resiko 2 x lebih sering OA pada sendi sendi tersebut sedangkan anak perempuannya beresiko 3x lebih sering. d. Suku bangsa Pada orang kulit hitam dan Asia, OA paha lebih jarang daripada kaukasia. OA lebih sering ditemui pada orang Indian disbanding kulit putih. Hal ini mungkin disebabkan perbedaaan cara hidup maupun perbedaan frekuensi kelainan kongenita dan pertumbuhan. e. Kegemukan dan penyakit metabolik

Adanya kaitan antara OA dengan penyakit jantung koroner, diabetes mellitus dan hipertensi. Pasien OA mempunyai resiko yang lebih tinggi terhadap disbanding dengan orang orang tanpa OA. f. Kelainan pertumbuhan Penyakit Perthes dan dislokasi kongenital paha telah dikaitkan dengan timbulnya OA sendi panggul di usia muda. g. Beban sendi yang berlebihan, cedera sendi dan olah raga h. Tingginya kepadatan tulang II.6 Diagnosis 1. Gejala Klinis1,2,3,4,5 a. Adanya nyeri sendi Nyeri bertambah dengan gerakan atau menanggung beban dan sedikit berkurang saat istirahat. Nyeri pada OA biasanya berupa penjalaran atau akibat radikulopati misalnya pada OA servikal dan lumbal. OA lumbal yang menimbulkan stenosis spinal mungkin menimbulkan nyeri di betis (claudicao intermitten). Nyeri yang berhubungan dengan aktivitas biasanya terasa segera setelah penggunaan sendi dan nyeri dapat menetap selama berjam-jam setelah aktivitas. b. Keterbatasan gerakan Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan- pelan sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri. c. Krepitasi dengan gerakan Rasa gemeretak (kadang- kadang dapat terdengar) pada sendi yang sakit. d. Kaku pagi hari Biasanya hanya bertahan beberapa menit bila dibandingkan dengan kekakuan sendi di pagi hari yang disebabkan oleh artritis reumatoid yang terjadi lebih lama. 8 penyakit tersebut

e. Deformitas tulang Pasien mungkin menunjukkan bahwa salah satu sendinya (seringkali terlihat di lutut atau tangan) secara pelan- pelan membesar. Pembesaran sendi karena pembentukan osteofit dan deformitas muncul pada tahap akhir dari penyakit. Tanda awal osteoartritis meliputi penurunan kecepatan dan ruang gerak aktif sendi. Keterbatasan gerakan dapat muncul akibat rusaknya kartilago artikularis, kontraktur ligamen dan kapsul sendi, kontraktur dan spasme otot, osteofit, atau adanya fragmen kartilago, tulang, atau meniskus intraartikuler. 2. Pemeriksaan Fisik1,2,3 a. Hambatan gerak (bisa konsentris atau eksentris)1 b. Krepitasi c. Pembengkakan sendi yang seringkali asimetris (biasanya disebabkan efusi sendi tapi tidak banyak < 100 ml dan bisa juga karena adanya osteofit) d. Tanda peradangan (nyeri tekan, panas/ hangat dan kulit kemerahan) dapat ditemukan pada sinovitis e. Deformitas sendi yang permanen f. Perubahan gaya jalan Pada palpasi dapat ditemukan krepitasi, efusi, dan nyeri sendi. Osteofit dapat menyebabkan tonjolan tulang yang dapat diraba dan dilihat, kerusakan progresif kartilago artikuler dan tulang subchondral dapat mengakibatkan luksasi sendi dan deformitas. Atrofi otot dapat terjadi pada kasus osteoartritis yang sudah lama. 3. Pemeriksaan Diagnostik a. Radiologi 1,3 Gambaran radiologis yang mendukung adanya OA adalah: Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris Peningkatana densitas (sklerosis) tulang subkondral Kista tulang 9

Osteofit Perubahan struktur anatomi sendi

Namun hubungan antara klinis dan perubahan radiografis bervariasi diantara pasien. Beberapa pasien dengan rontgen foto yang menunjukkan kerusakan sendi berat mengeluhkan gejala yang ringan, sedangkan pasien dengan rontgen foto yang menunjukkan kerusakan sendi minimal dapat mengeluhkan nyeri yang hebat 4. Pemeriksaan Laboratorium Darah tepi (hemoglobin, leukosit, LED) Imunologi ( ANA, factor rheumatoid dan komplemen)

Pemantauan progresivitas OA1 1. Pengukuran nyeri sendi dan disabilitas pasien 2. Pengukuran perubahan structural 3. Pengukuran perubahan metabolism atau perubahan kemampuan fungsional dari tulang rawan

10

II.7 Penatalaksanaan Pengobatan OA yang ada saat ini barulah bersifat simptomatik dengan obat anti inflamasi non steroid (OAINS) dikombinasi dengan program rehabilitasi dan proteksi sendi. Pada stadium lanjut dapat dipikirkan berbagai tindakan operatif. 1. Terapi Nonfarmakologis:1 a. Edukasi Agar pasien mengetahui sedikit seluk- beluk tentang penyakitnya, bagaimana menjaga agar penyakitnya tidak bertambah parah serta persendiannya tetap dapat dipakai. b. Terapi fisik dan rehabilitasi Untuk melatih pasien agar persendiannya tetap dipakai dan melatih pasien untuk melindungi sendi yang sakit. c. Penurunan berat badan Berat badan yang berlebihan ternyata merupakan faktor yang akan memperberat penyakit OA, oleh karenanya berat badan harus selalu dijaga agar tidak berlebihan bila mungkin mendekati berat badan ideal. 2. Terapi Farmakologis:1 a. Analgesik oral nonopiat b. Analgesic topical c. OAINS d. Chondroptrotective Merupakan obat yang dapat menjaga atau merangsang perbaikan (repair) tulang rawan sendi. Yang termasuk dalam golongan obat ini adalah : Tetrasiklin Menghambat kerja enzim MMP , contohnya doksisiklin Asam hialuronat Berperan dalam pemberntukan matriks tulang rawan melalui agregasi dengan proteoglikan, memperbaiki viskositas cairan synovial, diberikan secara intra artikuler. Bisa juga mengurangi inflamasi, menghambat kemotaksis sel inflamasi dan angiogenesis. Kondroitin sulfat 11

Dapat menghambat enzim yang berperan dalam degradasi tulang rawan, seperti hialuronidase, protease, elastase dan cahepsin B1 dan jga merangsang sintesis proteoglikan dan asam hialuronat. Glikosaminoglikan Berperan sebagai antiinflamasi, efek metanolik terhadapa sintesis hialuronat dan proteoglikan serta antidegradatif melalui hambatan encim proteolitik dan menghambat efek oksigen reaktif. Vitamin C Dapat menghambat kerja enzim lisozim Superoxide dismutase Dapat menghilangkan superoxide (dapat merusak asam hialuronat, proteoglikan dan kolagen) dan radikal bebas (dapat merusak kondrosit) Steroid intraartikuler Kejadian inflamasi kadang- kadang dijumpai pada pasien OA, oleh karena itu kortikosteroid intraartikuler telah dipakai dan mampu mengurangi rasa sakit walaupun hanya dalam waktu singkat. Penelitian selanjutnya tidak menunjukkan keuntungan yang nyata pada pasien OA, sehingga pemakaiannya dalam hal ini masih kontroversial. 3. Terapi Bedah3,4,5 Ada 2 tipe terapi pembedahan: 1. Realignment osteotomi Permukaan sendi direposisikan dengan cara memotong tulang dan merubah sudut dari weightbearing. Tujuannya Membuat karilago sendi yang sehat menopang sebagian besar berat tubuh. Dapat pula dikombinasikan dengan ligamen atau meniscus repair. 2. Arthroplasty Permukaan sendi yang arthritis dipindahkan, dan permukaan sendi yang baru ditanam. Permukaan penunjang biasanya terbuat dari logam yang berada dalam high-density polyethylene.

12

Macam-macam operasi sendi lutut untuk osteoarthritis : a) Partial replacement/unicompartemental b) High tibial osteotomy : orang muda c) Patella &condyle resurfacing d) Minimally constrained total replacement e) Cinstrained joint ( fixed hinges) II.8 Prognosis Osteoartritis merupakan penyakit degeneratif yang biasanya berjalan lambat. Problem utama yang sering dijumpai adalah nyeri apabila sendi tersebut dipakai dan meningkatnya ketidakstabilan bila harus menanggung beban terutama pada lutut. Masalah ini berarti bahwa orang tersebut harus membiasakan diri dengan cara hidup yang baru. Cara hidup yang baru ini sering kali meliputi perubahan pola makan yang sudah terbentuk seumur hidup dan olahraga, manipulasi obat obatan yang diberikan dan pemakaian alat alat pembantu.2

13

DAFTAR PUSTAKA
1. S, JoewonoI, Harry; K, Handono; B Rawan; P Riardi.2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 2, Edisi 4. Balai Penerbit FKUI: Jakarta. 2. Wilson, Lorain M; A.Price, Sylvia. 2002. Patofisiologi : Konsep Klinis ProsesProses Penyakit, Volum 2, Edisi 6. EGC: Jakarta. 3. R.Soelarto. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. FKUI: Jakarta 4. Diunduh dari http://www.slideshare.net/sibermedik/osteoartritis-2809824 5. Osteoarthritis. Arthritis Foundation 2007;1(1):Available from URL:

http://www.arthritis.org/disease-center.php?disease_id=32&df=definition

14