Anda di halaman 1dari 20

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Karet

Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 m. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Daun karet berwarna hijau. Daun karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun. Bunga karet terdiri dari bunga jantan dan betina. Buah karet memiliki pembagian ruang yang jelas. Masing-masing ruang berbentuk setengah bola. Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah. Akar tanaman karet merupakan akar tunggang. 2.1.1. Sistematika Dalam dunia tumbuhan tanaman karet tersusun dalam sistematika sebagai berikut: Divisi Subdivisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Euphorbiales : Euphorbiaceae : Hevea : Hevea brasiliensis

Universitas Sumatera Utara

2.1.2. Jenis-jenis Karet Ada dua jenis karet,yaitu karet alam dan karet sintetis. Setiap jenis karet ini memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga keberadaannya saling melengkapi. Kelemahan karet alam bisa diperbaiki oleh karet sintetis dan sebaliknya, sehingga kedua jenis karet tersebut tetap dibutuhkan. (Setiawan.D.H,2008)

2.1.3. Pebedaan Karet Alam dengan Karet Sintetis Walaupun karet alam sekarang ini jumlah produksi dan konsumsinya jauh dibawah karet sintetis atau karet buatan pabrik, tetapi sesungguhnya karet alam belum dapat digantikan oleh karet sintetis. Bagaimanapun, keunggulan yang dimiliki karet alam sulit ditandingi oleh karet sintetis. Adapun kelebihan-kelebihan yang dimiliki karet alam dibanding karet sintetis adalah : a. Memiliki daya elastik atau daya lenting yang sempurna b. Memiliki plastisitas yang baik sehingga pengolahannya mudah c. Mempunyai daya aus yang tinggi d. Tidak mudah panas (low heat build up) , dan e. Memiliki daya tahan yang tinggi terhadap keretakan (groove cracking resistance). Walaupun demikian, karet sintetis memiliki kelebihan seperti tahan terhadap berbagai zat kimia dan harganya yang cenderung bisa dipertahankan supaya tetap stabil. Beberapa industri tertentu tetap memiliki ketergantungan yang besar terhadap pasokan karet alam, misalnya industri ban yang merupakan pemakai terbesar karet alam.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.1.Perbandingan Produksi dan Konsumsi Karet Alam dan Karet Sintetis Tahun Karet alam Produksi Konsumsi Karet sintetis Produksi Konsumsi 10.310 65 10.335 130 10.605 176 (Tim penulis PS , 2009) 2.1.4. Jenis-jenis Karet Alam Ada beberapa macam karet alam yang di kenal, di antaranya merupakan bahan olahan. Jenis-jenis karet alam yang di kenal luas adalah - Bahan olah karet (lateks kebun, sheet angin, slab tipis, dan lump segar), - Karet konvesional (ribbed smoked sheet, white crepes dan pale crepe, estate brown crepe, thin brown remills, thick blanket crepe ambers, flat bark crepe, pure smoke blanket crepe, dan off crepe), - Lateks pekat, - Karet bongkah atau block rubber, - Karet spesifikasi teknis atau crumb rubber - Karet siap olah atau type rubber, dan - Karet reklim atau reeclaimed rubber. A. Lateks pekat Lateks pekat adalah jenis karet yang berbentuk cairan pekat, tidak berbentuk lemabaran atau padatan lainnya. Biasanya lateks pekat banyak digunakan untuk 1.262 108 1.501 139 2.267 218 1990 2000 2005

Universitas Sumatera Utara

pembuatan bahan-bahan karet yang tipis dan bermutu tinggi. Standar mutu lateks pekat baik lateks pusingan atau lateks dadih dapat dilihat pada tabel berikut ini.
TABEL 2.2. STANDAR MUTU LATEKS PEKAT

LateksPusingan (Centrifuged Lateks) 1. Jumlah padatan total (total solids) 2. Kadar karet kering (KKK) minimum 3. Perbedaan angka butir 1 dan 2 maksimum 4. Kadar amoniak (berdasar jumlah air yang terdapat dalam lateks pekat) mimimum 5. Viskositas maksimum pada suhu 25o C 50 Centipoises 6. Endapan (sludge) dari berat basah maksimum 7. Kadar koagulan dari jumlah padatan, maksimum 8. Bilangan KOH (KOH number) maksimum 9. Kemantapan mininum 10. Persentase kadar tembaga dari jumlah padatan maksimum 11. Persentase kadar mangan dari jumlah padatan maksimum 12. Warna Tidak biru Tidak kelabu Tidak boleh berbauk busuk 13. Bau setelah dinetralkan dengan borat 0,001% mekanis (mechanical stability) 0,10% 0,80% 0,80 475 detik 0,001% minimum 61,5% 60,0% 2,0% 1,6%

Lateks Dadih (Creamed latex) 64,0% 62,05 2,0% 1,6%

50 Centipoises 0,10% 0,80% 0,80 475 detik 0,001%

0,001%

Tidak biru Tidak kelabu Tidak boleh berbau busuk

Sumber : tim Penulis PS, 1992

B. Karet bongkah atau block rubber Karet bongkah adalah karet remah yang telah dikeringkan dan dikilang menjadi bendela-bendela dengan ukuran yang telah ditentukan. Standar mutu karet bongkah Indonesia tercantum dalam SIR (standard Indonesian Rubber) seperti tertera dalam Tabel 2.3. Di Malaysia daftar seperti SIR di atas tercantum dalam SMR (Standard Malaysian Rubber). Dibanding denga SIR, SMR mempunyai sedikit perbedaan dan

Universitas Sumatera Utara

standar yang di buat pun mencakup lebih banyak ketentuan. Daftar SMR selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.4
TABEL 2.3. SRANDARD INDONESIAN RUBBER (SIR)

SIR 5L Kadar kotoran maksimum Kadar abu maksimum Kadar zat atsiri maksimum PRI minimum Plastisitas Po minimum Limit warna (skala lovibond) 0,50% 0,50% 1,0% 60 30 6

SIR 5 0,05% 0,50% 1,0% 60 30 -

SIR 10 0,10% 0,75% 1,0% 50 30 -

SIR 20 0,20% 1,00% 1,0% 40 30 -

SIR 50 0,50% 1,50% 1,0% 30 30 -

maksimum Kode warna Hijau Hijau Merah Kuning

Sumber : Tim Penulis PS, 1992


TABEL 2.4. STANDARD MALAYSIAN RUBBER (SMR)

SMR 5L Kadar kotoran (dengan saringan 325 mesh, lubang 44) maksimum Kadar abu maksimum Kadar Niitrogen maksimum Kadar zat atsiri maksimum Plastisity maksimum Plastisitas wallace (nilai permulaan) minimum Limit warna (skala lovibond) Kode warna Warna bungkus plastik 6,0% Hijau muda Jernih rentension index 0,60% 0,65% 1,0% 60 30 0,05%

SMR 5 0,05%

SMR 10 0,10%

SMR 20 0,20%

SMR 50

0,50%

0,60% 0,65% 1,0% 60 30

0,75% 0,65% 1,0% 50 30

1,00% 0,65% 1,0% 40 30

1,50% 0,65% 1,05 30 30

Hijau muda Jernih keruh

Cokelat Jernih keruh Putih

Merah Jernih keruh

Kuning Jerih keruh

Warna strip palstik

Jernih

Putih

Putih

Putih

Sumber : Tim Penulis PS, 1992

( Tim Penulis P.S,1992 )

2.2. Penyadapan

Universitas Sumatera Utara

Penyadapan tanaman karet dilakukan dengan menerapkan sistem yang telah disepakati secara Internasional. Penyadapan pada batang utama(atau cabang untuk tanaman menjelang ditumbang)bertujuan untuk pemutusan atau pelukaan pembuluh lateks dikulit pohon. Pembuluh lateks yang putus atau luka kelak akan pulih kembali sehingga bila dilakukan penyadapan untuk kedua kalinya luka tersebut telah pulih dan lateks akan mengalir lagi dengan baik. Kulit pohon yang pulih lazim disebut Kulit pulihan(renewable bark), sedangkan kulit pohon yang baru pertama kali disadap lazim disebut kulit perawan(virgin bark). (Siregar,T.H.1995)

2.3. Prakoagulasi Prakoagulasi adalah pembekuan pendahuluan yang menghasilkan lumps atau gumpalan-gumpalan sebelum lateks sampai dipabrik atau tempat pengolahan. Penyebab terjadinya prakoagulasi adalah kemantapan bagian kolodial didalam lateks berkurang, kemudian menggumpal menjadi satu dalam bentuk komponen yang lebih besar. Komponen yang lebih besar ini akhirnya akan membeku. (Setiawan,D.H.2008) Pada saat mulai keluar dari pohon hingga beberapa jam lateks masih berupa cairan, tetapi setelah kira-kira 8 jam lateks mulai mengental dan selanjutnya membentuk gumpalan karet. Penggumplan (prakoagulasi) dapat di bagi 2, yaitu: 1. Prakoagulasi spontan 2. Prakoagulasi buatan. Penggumpalan spontan biasanya disebabkan pengaruh enzim dan bakteri, aromanya sangat berbeda dengan lateks segar dan pada hari berikutnya akan tercium bau yang busuk. Sedangakan penggumpalan buatan biasa di lakukan dengan penambahan asam. (Zuhra, C. F. 2006.)

Universitas Sumatera Utara

2.3.1. Faktor penyebab Prakoagulasi Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya prakoagulasi adalah sebagai berikut : a. Jenis karet Setiap jenis atau klon karet memiliki kestabilan atau kemantapan koloidal yang berbeda-beda. b. Enzim Enzim adalah katalis alami untuk mempercepat terjadinya reaksi walaupun hanya terdapat dalam jumlah kecil. c. Mikroorganisme Mikroorgaisme didalam lateks akan melakukan aktivitas, sehingga terjadi reaksi dengan senyawa-senyawa yang terdapat didalam lateks, seperti asam dan sejenisnya. Semakin banyak mikroorganisme didalam lateks, semakin banyak pula senyawa asam yang dihasilkan yang mendorong semakin cepat terjadinya prakoagulasi. d. Cuaca dan Musim Pada musim hujan, kemungkinan terjadinya prakoagulasi sangat besar, sehingga pada saat seperti itu jarang dilakukan penyadapan. Sinar matahari yang terik juga dapat mempercepat terjadinya prakoagulasi. e. Kondisi tanaman Kondisi tanaman disini adalah berkaitan dengan umur dan kesehatan tanaman. Pohon karet yang terlalu muda atau menjelang tua dan sakit-sakitan cenderung menghasilkan lateks yang mudah mengalami prakoagulasi. f. Air sadah Air sadah adalah air yang mengalami reaksi kimia, umumnya bereaksi asam. Lateks yang tercampur air sadah mudah sekali mengalami prakoagulasi.

Universitas Sumatera Utara

g.

Pengangkutan Pengangkutan melalui jalan yang jelek dan mobil pengangkutnya terguncang-

guncang dan lateks terkocok-kocok akan merusak kstabilan koloidalnya, sehingga mudah menggumpal. Jarak jauh yang menyebabkan lateks tiba ditempat pengolahan terlalu lama dan terkena sinar matahari sepanjang perjalanan juga akan mempercepat terjadinya prakoagulasi. h. Kotoran Kotoran atau bahan lain yang mengandung kapur dan asam akan mempercepat terjadinya prakoagulasi. Demikian pula air kotor yang dipakai untuk pengolahan akan mempercepat prakoagulasi.

2.3.2. Pencegahan Prakoagulasi a. Pencegahan secara Manual Menjaga kebersihan alat-alat untuk penyadapan, penampungan dan

pengangkutan. Tidak menggunakan air kotor, seperti air sungai atau air got, untuk mengencerkan lateks dikebun. Penyadapan dilakukan sepagi mungkin sebelum matahari terbit agar lateks sampai ketempat pengolahan sebelum udara panas. Tidak menyadap pohon karet terlalu muda atau terlalu tua dan yang kondisinya tidak sehat. b. Pencegahan menggunakan zat antikoagulan Jika beberapa upaya pencegahan diatas sudah dilakukan, tetapi tetap terjadi prakoagulasi, penggunaan zat antikoagulan dapat dilakukan. Beberapa zat (Setiawan,D.H.2008)

antikoagulan yang bisa digunakan sebagai berikut:

Universitas Sumatera Utara

1. Soda atau Natrium Karbonat (Na2CO3) Soda banyak digunakan di pabrik-pabrik yang sederhana. Dosis soda yang digunakan adalah 5-10 ml lautan soda tanpa air Kristal (soda es) 10% setiap liter latex. 2. Amoniak (NH3) Zat anti koagulan ini termasuk yang paling banyak digunakan karena : a. Desinfektan sehingga dapat membunuh bakteri b. Bersifat basa sehingga dapat mempertahankan / menaikkan PH latex kebun c. Mengurangi konsentrasi logam Dosis Amoniak yang dipakai untuk mencegah terjadinya prakoagulasi adalah 5-10 liter Amoniak 2,5% untuk setiap liter lateks. 3. Formaldehid Pemakaian formaldehid sebagai anti koagulan paling merepotkan

dibandingkan zat lainnya, karena a. Kurang baik apabila digunakan pada musim hujan b. Apabila disimpan zat ini akan teroksidasi menjadi asam semut atau asam format (HCHO HCOOH) yang dapat menyebabkan pembekuan apabila

dicampur dengan latex. Dosis yang dapat dipakai adalah 5-10 ml larutan dengan kadar 5% untuk setiap liter latex yang akan dicegah prokoagulasinya. 4. Natrium sulfit (Na2SO3) Pemakaian zat ini sebagai zat anti koagulan paling merepotkan, karena: a. Bahan ini tidak tahan lama disimpan b. Apabila ingin digunakan harus dibuat terlebih dahulu

Universitas Sumatera Utara

c. Dalam jangka waktu sehari akan teroksidasi oleh udara menjadi natrium sulfat (Na2SO3 Na2SO4), bila sudah teroksidasi maka sifatnya sebagai

antikoagulan menjadi lenyap. Dosis yang digunakan adalah 5-10 ml larutan berkadar 10% untuk setiap liter latex. (Tim penulis PS,2009) 2.4. Pengolahan Karet Remah (Crumb Rubber) Karet remah atau crumb rubber adalah produk karet alam yang relatif baru. Dalam perdagangan dikenal dengan nama karet spesifikasi teknis. Karena penentuan kualitas dan penjenisannya dilaksanakan secara teknis dengan analisi yang mutakhir. 2.4.1. Pengolahan Karet Remah (Spesifikasi Teknis) dengan Bahan Baku Lateks Ada beberapa proses dasar yang dilalui dalam pengolahan karet remah dengan bahan baku lateks, yaitu penerimaan dan penyaringan lateks, penggumpalan atau koagulasi, pembutiran, atau granulasi, pengeringan dan pembungkusan. Mula-mula lateks yang dikirim ke tempat pengolahan disaring dan dikumpulkan dalam bak atau tangki. Kemudian, dilakukan penggumpalan dalam bak atau tangki-tangki tersebut sehingga menghasilkan bongkahan-bongkahan atau koagulum. Pemotongan koagulum merupakan langkah yang harus dilalui sebelum dilakukan proses pembutiran. Mesin pembutiran yang biasa digunakan adalah mesin pelletiser yang mempunyai banyak pisau berputar. Hasil yang diperoleh dicuci hingga bersih kemudian dimasukkan kedalam mesin pengering. Biasanya pengeringan menggunakan mesin dan ban berjalan. Hasil akhir dari karet remah didinginkan sebelum dikemas. Berat akhir diperoleh melalui penimbangan. Ukuran bandela biasanya (28 x 17 x 7) inci, sekitar (72 x 36 x 18) cm. Berat yang ditetapkan untuk setiap bandela adalah 33 kg. Setelah dikempa, bongkah dibungkus dengan lembaran plastik polyethylene. Lembaran plastik

Universitas Sumatera Utara

ini harus memiliki ketebalan 0,03 mm, titik cair 108oC dan berat jenis 0,92. Bungkus ini disertai tanda jenis mutu, tanda pengenal SIR, dan pabrik yang memproduksinya. (Diagram 2.1. Pengolahan karet remah dari lateks, dapat di lihat pada lampiran) 2.4.2. Pengolahan Karet Remah dengan Bahan Baku Gumpalan Mutu Rendah Ada pabrik yang membuat karet spesifikasi teknis dan bahan koagulum lateks atau lateks yang telah mengalami proses koagulasi. Biasanya koagulum lateks yang diolah ini bermutu rendah, contohnya slabs karet rakyat, lump kebun, lump mangkok, scraps, unsmoked sheet, dan lain-lain. Bahan koagulum lateks yang bermutu rendah ini terlebih dahulu disortir, Setelah itu bahan ini dimasukkan kedalam tangki-tangki air pembersih. Selanjutnya, bahan dibersihkan lagi dengan mesin hammermill. Pada mesin ini pencucian diikuti dengan pemotongan lalu digiling dengan mesin penggilingan crepe. Hasil yang keluar dari mesin penggilingan crepe dimasukkan kedalam mesin pelletiser atau mesin dengan pisau berputar. Disini bahan mengalami proses pembutiran. Sesuai proses pembutiran, bahan mengalami perlakuan kimiawi. Larutan asam fosfat atau asam amino digunakan untuk merendamnya. Terakhir, bahan dikeringkan dan diikuti oleh proses pengepakan seperti pada karet remah yang dibuat dari bahan lateks. (Diagram 2.2. Pengolahan karet remah dari karet rakyat bermutu rendah. Dapat dilihat pada lampiran). (Tim penulis PS,2009)

2.5. Limbah Baku mutu air pada sumber air adalah batas kadar yang diperkenankan bagi zat atau bahan pencemar terdapat di dalam air, tetapi air tersebut tetap dapat di gunakan sesuai kriterianya. Menurut peruntukannya, air pada sumber air dapat dikategorikan menjadi empat golongan, yaitu:

Universitas Sumatera Utara

Golongan

A, yaitu air yang dapat digunakan

sebagai air minum secara

langsung tanpa diolah terlebih dahulu. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air bahan baku untuk diolah sebagai air minum dan keperluan rumah tangga lainnya. Golongan C, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan. Golongan D, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian dan dapat digunakan untuk usaha perkotaaan, industri, dan listrik tenaga air. Baku mutu limbah cair adalah batas kadar yang diperkenankan bagi zat atau bahan pencemar untuk dibuang dari sumber pencemar ke dalam air pada sumber airsehingga tidak mengakibatkan dilampuinya baku mutu limbah. (Kristanto, P.,2002)

2.5.1. Pencemaran Air Pencemaran air adalah penyimpanan sifat-sifat air dari keadaan normal, bukan dari kemurniannya. Air yang tersebar di alam semesta ini tidak pernah terdapat dalam bentuk murni, namun bukan berarti bahwa semua air sudah tercemar. Adanya bendabenda asing yang mengakibatkan air tersebut tidak digunakan sesuai dengan peruntukannya secara normal disebut dengan pencemaran air. (Kristanto, P.,2002) 2.5.2. Bahan Pencemar Air Polutan air dapat di kelompokan atas 9 group berdasarkan perbedaan sifatsifatnya sebagai berikut: 1. Padatan. 2. Bahan buangan yang membutuhkan oksigen (oxygen demanding wastes). 3. Mikroorganisme.

Universitas Sumatera Utara

4. Komponen organik sintetik. 5. Nutrien tanaman. 6. Minyak. 7. Senyawa anorganik dan mineral. 8. Bahan radioaktif. 9. Panas. 2.5.3. Sifat-sifat Air Terpolusi Sifat-sifat air yang umum diuji dan dapat digunakan untuk menentukan tingkat polusi air misalnya: 1. Nilai pH, keasaman, dan alkalinitas 2. Suhu 3. Warna, bau dan rasa 4. Jumlah padatan 5. Nilai BOD/COD 6. Pencemaran mikroorganisme patogen 7. Kandungan minyak 8. Kandungan logam berat 9. Kandungan bahan radioaktif ( Agusnar, H.,2007)

2.5.4. Air Buangan Industri Air buangan dari industri mengandung berbagai jenis bahan anorganis maupun organis. Yang penting ialah untuk mengetahui bahan-bahan utama apakah yang merupakan sisa industri yang dibuang di tempat-tempat tertentu dari lautan (dumping) dan dibuang ke laut melalui sungai-sungai dan atau saluran-saluran pembuangan.

Universitas Sumatera Utara

Didalam garis besarnya dapat dikatakan, bahwa industri-industri sebagai sisa dari proses industri terdiri atas : garam-garaman dan asam-asaman anorganis dan organis; cairan alkalis; bahan-bahan yang mengandung croom, mangaan, besi, nikkel, tembaga, seng, cadmium, timah, dan air raksa. (Thohir, K.A.,1985)

2.5.5. Sistem Air Limbah Air limbah memberikan efek dan gangguan buruk baik terhadap manusia maupun lingkungan. Efek buruk dan gangguan antara lain; gangguan terhadap kesehatan, keindahan dan benda. Terhadap keindahan, air limbah meninggalkan ampas dan bau yang tidak sedap dan terhadap benda air limbah bisa menimbulkan korosi (karat). Ada dua sistem pembuangan, yaitu: 1. Sistem pembuangan Setempat (On Site Sytem) adalah fasilitas pembuangan air limbah yang berada di dalam daerah persil pelayanannya (batas tanah yang dimiliki). Keuntungan pemakaian sistem pembuangan setempat adalah: Biaya pembuatan murah. Biasanya dibuat oleh sektor swasta/pribadi. Teknologi cukup sederhana. Sistem sangat privasi. Operasi dan pemeliharaan dilakukan secara pribadi masing-masing. Nilai manfaat dapat dirasakan segera seperti bersih, saluran air hujan tidak lagi dibuangi air limbah, terhindar dari bau busuk, timbul estetika pekarangan dan populasi nyamuk berkurang. Kerugian pemakaian sistem pembuangan setempat adalah:

Universitas Sumatera Utara

Tidak selalu cocok di semua daerah. Sukar mengontrol operasi dan pemeliharaan. Bila pengendalian tidak sempurna maka air limbah dibuang ke saluran drainase. Sukar mengontrol operasi dan pemeliharaan. Resiko mencemari air tanah bila pemeliharaan tidak dilakukan dengan baik. 2. Sistem Pembuangan Terpusat (Off Site System) adalah sistem pembuangan yang berada di luar pensil. Keuntungan pemakaian sistem penyaluran terpusat adalah: Pelayanan yang lebih nyaman. Menampung semua air limbah domestik. Pencemaran air tanah dan lingkungan dapat di hindari. Cocok untuk daerah dengan tingkat kepadatan tinggi. Masa/umur pemakaian relatif lebih lama. Kerugian pemakaian sistem penyaluran terpusat adalah: Memerlukan pembiayaan yang tinggi. Memerlukan tenaga yang trampil untuk operasional dan pemeliharaan. Memerlukan perencanaaan dan pelaksanaan untuk jangka panjang. Nilai manfaat akan terlihat apabila sistem telah berjalan dan semua produk yang terjalani. 2.5.6. Pengolahan Limbah Air Menurut tingkatan proes/perlakuannya, pengolahan limbah aiar dapat di golongkan menjadi empat tingkatan, yaitu: 1. Pretreatment (Kodoatie,R.J & Roestam S.,2010)

Universitas Sumatera Utara

Dalam proses pretreatment biasanya di gunakan saringan (filter) kasar yang tidak mudah berkarat. Dimensi saringan tergantung dari debit air limbah, misalnya untuk debit air limbah 100 m3/jam, dimensi saringan (30 x 30) cm. 2. Primary Treatment Proses penanganan primer air buangan ada prinsipnya terdiri dari tahapan-tahapan untuk memisahkan air dari limbah padat, yaitu dengan membiarkan padatan tersebut mengendap atau dengan memisahkan bagian-bagian padatan yang mengapung, seperti daun, plastik, kertas, dan sebagainya. Proses penanganan primer terdiri dari beberapa tahapan yaitu: a. Penyaringan b. Pengendapan dan pemisahan benda-benda kecil c. Pemisahan endapan d. Klorinasi 3. Secondary Treatment Perlakuan (treatment) kedua pada umumnya melibatkan proses biologis dengan tujuan untuk menghilangkan bahan organik melalui oksidasi biokimia. Pada proses biologis banyak digunakan reaktor lumpur aktif dan penyaringan trikel (tricking filter). Suatu sistem lumpur aktif yang efisien dapat menghilangkan padatan tersuspensi dan BOD sampai 90%.

4. Tertiary Treatment Berbagai proses penanganan lanjut untuk menghilangkan bahan-bahan terlarut telah dikembangkan, dimulai dari proses biologis untuk menghilangkan senyawa-

Universitas Sumatera Utara

senyawa nitrogen (algae nitrifikasi) dan fosfor, sampai pada proses pemisahan fisikokimia, seperti adsorbsi, destilasi, dan osmosis berlawanan (reverse osmosis). ( Kristanto,P.,2002) 2.5.7. Pengolahan Air Limbah Karet Agar air limbah pengolahan karet bisa di buang ke saluran-saluran air umum tanpa membahayakan lingkungan, maka air limbah tersebut harus diolah terlebih dahulu. Prinsip pengolahan air limbah adalah memisahkan partikel-partikel yang berbahaya atau tidak diinginkan dari air atau mengubahnya menjadi zat-zat yang dapat dimanfaatkan. Nilai BOD dan pH limbah dibuat menjadi nilai normal yang tidak membahayakan. Pencemaran lingkungan yang bisa timbul sedapat mungkin dicegah. Dibanding dengan jenis karet lain, sisa proses pembuatan lateks pekat merupakan limbah paling berbahaya bagi lingkungan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan nilai BOD (biochemical Oxygen Demand) serta pH air lateks pekat yang dibuat secara pusingan lebih besar daripada limbah pengolahan karet kering. Ini dapat dimengerti karena proses pembuatan lateks kering tidak terlalu membaurkan air ulang dipakai dalam pengolahan seperti halnya pembuatan lateks pekat. Pengolahan air limbah lateks pemusingan antara lain dilakukan dengan sistem kolam anaerob/aerob, oxdidation ditch, anaerobic filter, dan rotating biodisc. Berikut ini diuraikan pengolahan limbah sistem anaerob/aerob yang biasa dilakukan di pabrikpabrik pengolahan. Untuk mengolah air limbah diperlukan tempat untuk menampungnya. Tempat penampungan bisa menggunakan kolam, bak, atau tangki. Sarana pengolahan air limbah yang memadai seharusnya memiliki kolam pengolahan limbah tersendiri. Bahan yang dipergunakan untuk keperluan ini adalah Gepol 110. Konsentrasi Gepol 110 yang banyak di gunakan adalah 0,05% dan 0,10%. Penggunakan Gepol

Universitas Sumatera Utara

dengan konsentrasi 0,05% sudah memberikan hasil yang memadai. Dosis Gepol yang diberikan adalah 60 mg untuk setiap liter limbah yang akan diolah. Dalam sistem pengolahan ini dibuat dua kolam penampungan yang terpisah. Kolam pertama untuk proses anaerob dan kolam kedua untuk proses aerob. Kapasitas kolam anaerob diperkirakan dapat menampung produksi air limbah selama 18 20 hari. Sedangkan kapasitas kolam aerob di harapkan dapat menampung produksi air limbah selama 8 10 hari. Kolam anaerob dibuat lebih besar daripada kolam aerob karena pada kolam anaerob pengurangan nilai BOD setelah hari ke tiga semakin besar. Sedangkan pada kolam aerob pengurangan nilai BOD setelah hari keempat justru semakin kecil. Besar kecilnya kolam penampungan dan pengolahan air limbah dibuat berdasarkan besar kecilnya kapasitas produksi pabrik yang hanya dimiliki kapasitas produksi kecil membangun bak-bak pengolahan limbah yang jauh lebih besar dari kapasitas olahannya, sementara pabrik yang memiliki kapasitas produksi cukup besar membangun kolam penampungan limbah dengan ukuran seadanya yang jauh dari mamadai. Setelah kadar BOD dan parameter lainnya seperti pH menurun sampai angka yang di perkenankan sebagai limbah yang dapat dibuang, maka pengolahan dapat di lanjutkan dengan limbah produksi periode berikutnya. Pabrik yang mengolah karet sheet dan karet spesifikasi teknis tidak terlalu mengalami kesulitan dalam masalah limbah. Air limbah pengolahan karet sheet dan spesifikasi teknis dapat di buang ke saluran pembuangan air umum hanya dengan pengolahan yang sederhana.

2.6. Titrimetri

Universitas Sumatera Utara

Istilah analisa titrimetri mengacu pada analisis kimia kuantitatif yang dilakukan dengan menetapkan volume suatu larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat, yang diperlukan untuk bereaksi secara kuantitatif dengan larutab dari zat yang akan ditetapkan. 2.6.1. Macam-macam Titrasi 2.6.1.1. Titrasi Asam-Basa. Titrasi asam-basa secara luas digunakan untuk analisa kimia. Pada kebanyakan pengetrapan, air dipakai sebagai solven. Bermacam-macam zat asam dan basa, baik anorganik maupun organik, dapat ditentukan dengan titrasi asam-basa. Juga banyak contoh yang analitnya dapat diubah secara kimiawi menjadi asam atau basa dan kemudian ditentukan dengan titrasi. 2.6.1.2. Titrasi Pengkompleksan Reaksi pengkompleksan dengan suatu ion logam, melibatkan penggantian satu molekul pelarut atau lebih yang terkoordinasi, dengan gugus-gugus nukleofilik lain. Gugus-gugus yang terikat pada ion pusat, disebut ligan, dan dalam larutan air, reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan: M(H2O)n + L = M(H2O)(n-1) L + H2O 2.6.1.3. Titrasi Pengendapan Titrasi yang meliputi reaksi-reaksi pengendapan tidak hampir demikian melimpah pada analisa titrimetrik seperti yang meliputi reaksi-reaksi redoks. Salah satu alasan untuk penggunaan terbatas ini adalah tiadanya indikator yang sesuai. Kesukaran yang lain adalah bahwa susunan endapan seringkali tidak diketahui karena pengaruh koprestipitasi.

2.3.1.4. Titrasi Oksidasi-Reduksi

Universitas Sumatera Utara

Reaksi kimia yang menyangkut oksidasi-reduksi secara luas digunakan dalam analisa titrimetrik. Ion yang banyak unsur dapat ada dalam berbagai keadaan oksidasi, yang menghasilkan kemungkinan dari suatu jumlah sangat besar reaksi redoks. (Underwood,A.L.,1980) 2.3.1.5. Titrasi Potensiometri Dalam suatu titrasi potensiometri, titik akhir ditemukan dengan menentukan volum yang menyebabkan suatu perubahan relatif besar dalam potensial apabila titran ditambahkan. Titrasi dapat di laksanakan secara biasa atau prosedur dapat di buat otomatik. Dalam titrasi secara manual potensial di ukur setelah penambahan titran berurutan, dan hasil pengamatan di gambarkan pada suatu kertas grafir terhadap volume titran. 2.3.1.6. Titrasi Fotometrik. Berbagai sifat suatu larutan dapat di ukur untuk memperkirakan kemajuan sebuah titrasi menuju titik ekivalen. Sebenarnya, titrasi visual sungguh bersifat fotometrik. Perubahan warna mencerminkan suatu perubahan dalam absorpsi cahaya oleh larutan, yang menyertai perubahan-perubahan di dalam konsentrasi dari zat-zat yang absorptif. (Vogel, A.,2004)

Universitas Sumatera Utara