Anda di halaman 1dari 2

Praktikum ke-11 Mei 2011 MK Sosiologi Umum (KPM 130)

Hari/tanggal praktikum : Selasa, 31 Kelas : A02

REVOLUSI HIJAU DAN PERUBAHAN SOSIAL DI PEDESAAN JAWA (Sediono M.P. Tjondronegoro) Oleh: Rizqi Adha Juniardi (E24100103) Asisten Praktikum: Dwi Agustina (I34080007) Debbie L. Prastiwi (I34080059) Ikhtisar Revolusi hijau merupakan suatu program intensifikasi pertanian tanaman pangan yang membuat kualitas pangan di Indonesia menjadi meningkat. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan jumlah pangan yang tersedia dengan jumlah penduduk di Indonesia agar tidak terjadi kelaparan. Revolusi hijau telah berkembang dari benua Amerika Latin hingga benua Asia. Program ini telah dijalankan sejak penjajahan Belanda namun dengan nama dan sistem yang berbeda. Dengan modifikasi pemerintahan Orde Baru, program ini dapat memakmurkan para petani kecil yang bercocok tanam pangan pertanian terutama padi. Dilakukan usaha-usaha oleh Departemen Perencanaan Nasional untuk membuat program yang lebih membantu petani selain dari program revolusi hijau dengan membuat koperasi dan Bimbingan Massal (BIMAS). Namun dengan kredit-kredit yang ditawarkan petani kecil masih merasa bahwa resiko yang ditimbulkan akan relatif besar terutama dengan belum adanya jaminan pemerintah tentang kepastian harga dasar dan harga pagu gabah. Dampak BIMAS dan Revolusi Hijau membuat petani kaya lebih mampu memperbaikin nasibnya dibandingkan petani kecil berdasarkan asset tanah dan modal yang dimiliki. Alhasil petani kayalah yang berusaha memperbesar produksinya dengan cara menyewa tanah dari mereka yang kurang tanah dan modal. Kalaupun tak selalu timbul akumulasi pemilikan tanah, dengan cara demikian akan timbul pula akumulasi penguasaan tanah. Dengan masuknya teknologi baru di bidang pertanian sudah jelas ada lapisan-lapisan masyarakat yang bertambah kaya dan berkuasa atas sumber daya. Beberapa indikator yang dipakai untuk mengukur tingkat komersialisasi dalam studi tersebut adalah penggunaan tenaga dalam

produksi padi, usaha mengurangi biaya, panen terbuka/tertutup yaitu derep atau upah tebas, penjualan padi, dan upah buruh. Pola konsumsi pedesaan hampir menyerupai pola perkotaan karena adanya komunikasi massa, maka tidaklah mengherankan apabila kebutuhan akan uang tunai juga meningkat. Analisis

1. Pola adaptasinya ekologi budaya, karena dengan berbagai hal yang


masuk ke pedesaan melalui program Revolusi Hijau, BIMAS, dan berbagai sosialisasi yang dilakukan pemerintah dalam rangka meningkatkan sumber daya di bidang pertanian membuat budayabudaya pedesaan menjadi lenyap karena muncul stratifikasi antara petani kaya dengan petani kecil. 2. Terjadi perubahan sosial di tingkat masyarakat, karena awalnya masyarakat pedesaan cenderung tidak mengetahui segala sesuatu pada bidang non-pertanian, namun karena pengaruh dari pelaksana program-program, pedagang beras dari perkotaan, dan terbukanya jalan transportasi yang mudah antara desa-kota membuat budaya masyarakat desa menyerupai budaya di perkotaan. Hal ini terlihat oleh permintaan uang tunai yang meningkat. 3. Arah dan laju perubahannya bersifat evolusioner unilinear, karena masyarakat pedesaan mengalami perubahan budaya secara bertahap ke tingkat yang lebih tinggi hingga akhirnya kebudayaan pedesaan terinseminasi oleh kebudayaan perkotaan akibat terbukanya jalur sarana dan prasarana desa-kota. 4. Teori yang melatarbelakangi terjadinya revolusi adalah teori modernisasi, karena masyarakat pedesaan yang pada awalnya awam dengan pengetahuan dan teknologi perkotaan lama-kelamaan akan menjadi terbiasa bahkan menyatukan budaya perkotaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari sehingga terjadilah proses menjadi masyarakat pedesaan yang modern.