Anda di halaman 1dari 4

Ada sesuatu yang terlewat dari amatan kebanyakan orang.

Bahwa bentuk rumah adat di Pulau Nias merupakan satu-satunya gaya bangunan yang masih berdiri, tidak roboh, Jika dibandingkan dengan gaya rumah modern yang umumnya digunakan oleh warga Nias. Rata-rata umur rumah adat tradisional di Pulau Nias ini sudah mencapai 200 tahun bahkan ada yang berumur 300 tahun, Hal ini menunjukan bahwa nenek moyang kita telah mempelajari gejala alam dengan baik. Pulau Nias dan beberapa pulau-pulau di sisi barat Pulau Sumatera merupakan batas pertemuan lempeng besar kerak bumi yaitu lempeng sunda dan lempeng indo-australia, sehingga rawan terjadi pergerakan-pergerakan pada kedua lempeng ini yang mengakibatkan gempa tektonik. Bahan yang digunakan rumah adat ini seluruhnya adalah kayu. Penyangga tiang-tiang tinggi besar dan kuat yang bisa menahan gempa, padahal tiang penyangga ini menahan beban yang berat karena bentuk atap rumah adat nias yang tinggi. Desain kontruksi lainnya adalah pasangan balok-balok yang yang dipasang secara silang di bagian bawah, balok kayu ini berfungsi seperti pegas untuk menahan goyangan gempa sehingga rumah tetap kokoh berdiri. rumah adat Gunung Sitoli dengan rumah adat di Teluk Dalam ada perbedaan bentuk yaitu kalau di Gunung Sitoli rumahnya berbentuk bulat sedangkan di Teluk dalam rumah adatnya berbentuk persegi panjang. ketangguhan arsitektur warisan budaya nenek moyang telah terbukti dan harus diakui lebih hebat dari rumah modern. Leluhur secara turun menurun telah mewariskan gaya arsitektur yang memang dirancang berdasarkan karakteristik alam dan kondisi lingkungan adat budaya Nias. Tradisi Prasejarah Tradisi megalitik (salah satu produk budaya dari masa prasejarah) di Pulau Nias masih berlanjut dan hingga kini terus dipertahankan oleh masyarakat pendukungnya. Kenyataan itu, antara lain, terlihat dalam sistem kepercayaan tentang asal- usul serta pemujaan terhadap arwah para leluhur. Secara umum, Pulau Nias memiliki sejarah hunian yang panjang. Temuan benda-benda arkeologis di daerah aliran Sungai Muzi berupa artefak batu berkarakter paleolitik (alat batu dari masa berburu dan mengumpulkan makanan), kata Truman Simanjuntak, menunjukkan bahwa manusia telah hadir di wilayah ini sejak kala pleistosen. Artinya, "manusia Nias" ketika itu sudah mengenal peradaban sesuai dengan kerangka waktu masa paleolitik secara umum. Dari serangkaian penelitian menghasilkan asumsi bahwa memasuki kala holosen (setelah periode zaman es), manusia prasejarah yang tinggal di Nias mulai memanfaatkan lingkungan alam sekitar secara intensif Dibandingkan dengan temuan tradisi megalitik di daerah-daerah lain di Indonesia, memang ada banyak kesamaan dengan tinggalan yang ada di Nias.

dilihat dari perspektif kajian arkeologi prasejarah, keberadaan tinggalan tradisi megalitik di pulau ini sangat menarik. Sebab, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Nias masih banyak ditemukan aktivitas yang berhubungan dengan tradisi megalitik. Di hampir setiap kampung, terutama kampung-kampung tua, selalu ada arca yang menggambarkan cikal bakal nenek moyang mereka. Patung-patung yang merupakan simbol nenek moyang itu masih dipuja. Begitu pun pola hadap bangunan rumah dan kepercayaan pada folklor tentang asal-usul nenek moyang. "Ada kesan segala sesuatu berorientasi ke megalitik

Rumah Adat Nias S

elatan

Rumah adat dari kepala desa adat Bawmataluo ini terletak tepat pada sumbu jalan di sana. Seperti diketahui Desa Bawmataluo telah mengembangkan pola penataan desanya dari linier yang bersahaja menjadi bercabang membentuk huruf 'T' [dan kemudian berkembang lagi menjadi seperti '+']. Peletakan rumah yang sedemikian memberi jaminan akan keagungannya. Rumah yang paling besar dan paling tinggi ini pantas bila diletakkan sebagai pengakhiran sumbu jalan. Dari tingkap atap rumah ini dapatlah dilihat seantero Desa Bawmataluo. Suatu fasilitas yang hanya diberikan pada seorang kepala desa yang harus memberi mengawasi dan jaminan keamanan pada seluruh warga desanya

Omo Sebua

Omo Sebua di Bawmataluo, dipotret dari bale di seberangnya. Di bale ini orang berkumpul dan bermusyawarah. Karena masyarakat Nias juga kebanyakan masyarakat di Nusa - ntara tidak mengenal kursi, maka lantai kayu dari bale ini dihaluskan sehingga nyaman untuk duduk. Dari posisi duduk di bale ini, Omo Sebua sebagai rumah terbesar di desa Nias, nampak terbingkai dalam keagungannya. Rumah Nias Selatan terangkai atas unit-unit rumah yang berimpitan satu dengan lainnya secara linier. Rangkaian panjang itu menjamin stabilitasnya dari goyangan gempa. Stabilitas itu juga didukung oleh sistem penyangga yang miring seperti huruf 'V', suatu inovasi khas nias dengan kayu berukuran besarnya. Gambar ini memerlihatkan perbedaan ketinggian antara rumah satu dengan sebelahnya. Ada dugaan, rumah ada nias masa kini semakin memendek karena semakin sulit mencari kayu ukuran besar sebagaimana dipersyaratkan oleh adat.

Diwa, balok miring yang ter - buat dari kayu manawa dan dalam ukuran besar ini mem beri jaminan kestabilan rumah Nias Selatan dari goyangan gempa. Gempa dalam ilmu bangunan diperlakukan sebagai gaya yang bekerja secara lateral, mendatar, berbeda dari gaya yang berasal dari pembebanan yang bekerjanya dari atas ke bawah. Gaya lateral harus ditangani oleh sistem struktur yang miring sebagaimana sudah ditemukan lewat tradisi membangun masyarakat Nias Selatan sejak dulu kala.

Rumah adat dari kepala desa adat Bawmataluo ini terletak tepat pada sumbu jalan di sana. Seperti diketahui Desa Bawmataluo telah mengembangkan pola penataan desanya dari linier yang bersahaja menjadi bercabang membentuk huruf 'T' [dan kemudian berkembang lagi menjadi seperti '+']. Peletakan rumah yang sedemikian memberi jaminan akan keagungannya.

Rumah yang paling besar dan paling tinggi ini pantas bila diletakkan sebagai pengakhiran sumbu jalan. Dari tingkap atap rumah ini dapatlah dilihat seantero Desa Bawmataluo. Suatu fasilitas yang hanya diberikan pada seorang kepala desa yang harus memberi mengawasi dan jaminan keamanan pada seluruh warga desanya