Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Dalam pertanian terutama bidang teknologi pertanian mempunyai ruang lingkup tersendiri, antara lain prapanen, pasca panen, dan teknik pengolahan hasil. Di bidang teknologi pertanian kita juga mempelajari tentang alat-alat dan mesin pertanian serta cara pengolahan hasil pertanian tersebut hingga dapat digunakan. Penggunaan alat-alat mekanis dan mesin pertanian ditujukan untuk memperoleh hasil yang lebih maksimal dan lebih baik. Di zaman yang modern ini penggunaan alat-alat tersebut jauh lebih berkembang dari sebelumnya. Kemajuan teknologi tersebut menyebabkan hasil produksi dapat bertambah serta mutu yang dihasilkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Alat-alat dan mesin pertanian tersebut dibuat lebih spesifik sesuai dengan fungsi masing-masing. Alat dan serta mesin tersebut meliputi alat dan mesin dalam bidang pengairan yang membahas cara mendapatkan/menaikkan air dan beberapa peralatan mekanis yang diperlukan. Mekanisasi dalam pengolahan tanah adalah cara mengolah tanah dengan peralatan mekanis serta beberapa peralatan yang digunakan. Mekanisasi dalam penaburan/penanaman benih/bibit yang membahas cara menanam benih/bibit tumbuh-tumbuhan dengan peralatan mekanis yang dapat digunakan. Sehingga setiap alat dapat difungsikan secara optimal dan menghasilkan hasil yang maksimal.

B. Tujuan Adapun tujuan dilakukan kunjungan lapangan ini adalah agar mahasiswa mampu mengetahui secara langsung keadaan lapangan serta mahasiswa mampu mengetahui secara langsung alat yang digunakan serta penerapan alat-alat tersebut berdasarkan fungsinya, serta mengetahui dengan jelas mekanisme pembuatan kopi, teh serta pembudidayaan bunga krisan langsung di tempat pengembangan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1). Kopi (Coffeae sp.) Indonesia merupakan salah satu negara produsen utama kopi dunia yang akhir-akhir ini kontribusinya cenderung terus menurun. Hal ini terjadi karena petani sebagai produsen kopi mendapat tekanan harga yang sangat berat sejak tahun 2000 dimana kopi dunia mengalami krisis. Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat dunia setelah sebelumnya berada pada posisi ketiga hingga tahun 1998. Produksi kopi Indonesia cenderung terus menurun, karena selain disebabkan oleh umur tanaman yang makin tua upaya pemeliharaan dan rehabilitasi tidak dilakukan dengan baik. Jenis kopi yang diproduksi sebagian besar adalah kopi robusta dan sebagian kecil kopi arabika. Kopi merupakan salah satu komoditi perkebunan yang cukup penting. Hasil komoditi ini menempati komoditi nomor tiga setelah karet dan lada. Menurut jenisnya kopi dapat dibagi dalam tiga golongan yang besar yaitu golongan arabika, golongan leberika, dan golongan robusta. Tanaman kopi berbunga 3-4 kali dalam 1 tahun, ada juga yang berbunga sepanjang tahun. Dengan demikian, maka pemanenan tidak dapat dilakukan sekali. Waktu panen tergantung iklim dan jenis kopi berpengaruh pada masa berbunga kopi. Kopi berbunga tidak serentak, ada pembungaan pendahuluan, pembungaan besar, dan pembungaan akhir. Hal ini akan berpengaruh pada waktu panen sehingga ada tingkat panen permulaan, panen utama, dan tingkat panen akhir. Kopi jenis robusta masak dalam waktu 8-11 bulan, sedangkan jenis arabika dalam waktu 6-8 bulan setelah pembungaan. Untuk memperoleh mutu kopi yang diinginkan, diperlukan tenaga pemetik yang berpengalaman. Cara pemetikan yang akan diterapkan akan berhubungan langsung dengan mutu hasil, dan terhadap biaya pemetikan itu sendiri. Jenis kopi banyak ditanam di Indonesia

adalah jenis robusta. Jenis kopi ini mempunyai ketahanan terhadap penyakit karat daun disamping pemeliharaannya yang ringan juga produksinya cukup tinggi. Kopi diperdagangkan dalam bentuk biji-biji yang sudah terlepas dari daging buah dan kulit arinya yang disebut dengan beras kopi. Beras kopi dapat diperoleh dengan 2 cara pengolahan, antara lain : 1. Pengolahan kering a. Cost Indische Bereiding (OIB) Hasil pungutan langsung dijemur 10-14 hari. Dalam penjemuran selalu dibolak-balik agar keringnya dapat merata. Kalau ternyata sudah kering betul, kopi itu akan disimpan sebagai kopi gelondong. Bila akan dijual tanduknya serta kulit arinya akan di bersihkan. b. Gewone Bereiding (GB) Pengolahan kopi secara kering yang umumnya dilakukan oleh rakyat. Caranya, buah kopi dikeringkan dalam bentuk glondongan, baru kemudian dipisahkan kulit arinya. Pengolahan kering dapat dicirikan sebagai berikut : - kadar air maksimum 13 % - kadar kotoran berupa ranting, batu, gumpalan tanah dan benda-benda asing lainnya 5% - bebas dari serangga hidup - bebas dari biji yang berbau busuk, berbau kapang dan bulukan - biji tidak lolos ayakan ukuran 3 x 3 mm (8 mesh) dengan maksimum lolos 1%. - untuk bisa disebut biji ukuran besar, harus dipenuhi persyaratan tidak lolos ayakan 5,6 x 5,6 mm (3,5 mesh) dengan maksimum lolos 1 %. 2. Pengolahan basah atau West Indische Bereiding (WIB) Buah kopi yang masak dikupas lalu dicuci dengan air terlebih dahulu untuk membuang kulit luarnya, kemudian dikeringkan. Selanjutnya dipisahkan kulit tanduknya dan kulit arinya. Pengolahan basah ini dapat dicirikan : - kadar air maksimum 12 %

- kadar kotoran berupa ranting, batu, gumpalan tanah dan benda-benda asing lainnya 5% - bebas dari serangga hidup - bebas dari biji yang berbau busuk, berbau kapang dan bulukan Syarat tumbuh Setiap jenis kopi memerlukan tinggi tempat dari permukaan laut dan temperatur yang berbeda-beda. Jenis arabika dapat hidup pada 1000-1700 m diatas permukaan laut dengan suhu 16-20o C. Jenis robusta dapat hidup pada 5001000 m diatas permukaan laut tetapi yang baik 800 m diatas permukaan laut dengan suhu 20o C. Jenis liberika dapat hidup baik di dataran rendah. Curah hujan yang dibutuhkan tanaman kopi minimal dalam 1 tahun 10002000 mm. Kopi robusta menghendaki musim kemarau 3-4 bulan, tetapi pada waktu itu harus sering ada hujan yang cukup. Musim kemarau yang dikehendaki maksimal 1,5 bulan sebelum masa berbunga lebat, sedangkan masa kering sesudah berbunga lebat sedapat mungkin tidak melebihi 2 minggu. Pohon kopi tidak tahan terhadap angin yang kencang, lebih-lebih dimusim kemarau, karena angin ini akan mempertinggi penguapan air dipermukaan tanah dan juga dapat mematahkan pohon pelindung. Pohon pelindung yang dapat digunakan adalah lamtoro ataupun dadap. Untuk mengurangi hal-hal tersebut di tepi-tepi kebun ditanam pohon penahan angin. Tanaman kopi menghendaki tanah yang baik untuk pertumbuhan, yaitu banyak mengandung bahan organik, struktur tanah yang baik dan gembur, lapisan olah tanah cukup dalam, kemasaman tanah (pH) 5,5-6,5 %, tata udara dan air tanah baik (drainase). 2). Teh ( Camelia Sinensis ) Tanaman teh (Camelia sinensis) diduga berasal dari daerah subtropis yang terletak pada 250 350 Lintang Utara, dan 950 1050 Bujur Timur, terutama berpusat pada kawasan antara 290LU dan 980 BT, yaitu daerah aliran sungai Irawa di India. Tanaman teh mempunyai tiga jenis yaitu C. Sinensis var Sinensis (teh cina), varietas assamica (teh asam), dan varietas cambodia. Kemudian dari ketiga varietas ini terjadi hibridisasi alami yang menghasilkan beberapa ratus jenis.

Tanaman teh termasuk genus Camellia yang memiliki sekitar 82 species, terutama tersebar di kawasan Asia Tenggara pada garis lintang 30 sebelah utara maupun selatan khatulistiwa. Selain tanaman teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) yang dikonsumsi sebagai minuman penyegar, genus Cammelia ini juga mencakup banyak jenis tanaman hias. Kebanyakan tanaman teh dipergunakan sebagai minuman segar setelah daunnya diseduh dengan air panas. Jenis teh cina kebanyakan dikonsumsi sebagai teh hijau, yaitu tanpa hanya sedikit mengalami fermentasi. Adapun teh asam kebanyakan dikonsumsi sebagai teh hitam, daunnya dilembutkan dan difermentasikan. Tanaman teh yang tumbuh dari biji mempunyai pertumbuhan akar pancar yang dominan, namun distribusi perakaran tampaknya berbeda antar jenis. Perakaran tanaman teh dangkal, karena kurang dari 15% yang berada pada kedalaman 60 cm. Perakaran dekat permukaan tanah dan terlihat tanpa rambut akar bila telah tua. Pertumbuhan akar baik tanaman yang berasal dari biji maupun stek/okulasi sangat memegang peran penting bagi tanaman tersebut. Pada umumnya jika akar mencapai diameter 12 mm, terdapat kandungan pati di dalamnya, dan zat makanan ini sangat menentukan kecepatan tumbuh tunas baru sesudah dilakukan pemetikan daunnya. Biji teh cepat mengalami kerusakan dalam penyimpanan pendek, hal ini memungkinkan karena biji teh bersifat nekalsitran. Secara umum teh berakar dangkal, peka terhadap keadaan fisik tanah, dan suit untuk menembus lapisan tanah. Teh biasanya mempertahankan akar tunggang sedaam 90-150 cm dengan diameter 7,5 cm. Besarnya daun berkisar antara 2,525 cm, tergantung pada varietasnya. Pucuk dan ruasnya berambut. Daun tua bertekstur seperti kulit, permukaan atasnya berkilau dan berwarna hijau kelam. Perkembangan bunga mengikuti tahap pertumbuhan daun, dengan sebagian besar self steril. Bunga sempurna mempunyai putik dengan 5-7 mahkota. Teh cina berbatang lebih pendek sekalipun tanpa dipetik/dibentuk, jarang yang dapat melampaui tinggi 3 m. Sedangkan teh asam mempunyai batang lebih tinggi, dapat mencapai 8 m, namun banyak pula variasi tingginya. Identitas tanaman teh sulit dilakukan karena selalu terjadi penyilangan antara varietas

sinensis dengan varietas assamica ataupun dengan jenis lain dalam jenis yang sama. Syarat Tumbuh Pertumbuhan tanaman teh dipengaruhi oleh faktor iklim, tanah, dan keserasian tanah dan bentuk lahan. Faktor iklim yang berpengaruh terutama adaah curah hujan, suhu udara, tinggi tempat, sinar matahari, dan angin. Secara umum tanaman teh menghendaki daerah dengan curah hujan yang cukup tinggi, suhu cukup sejuk, kelembaban relatif cukup tinggi, angin tidak kering, dan elevasi tidak memungkinkan terjadinya embun beku (night frost). Tanaman teh tumbuh dengan baik pada daerah 42o LU27o LS. Pada dataran tinggi (2000 m di atas permukaan laut) hingga dataran yang lebih rendah (200 m di atas permukaan laut). Di Indonesia kebanyakan ditanam pada dataran tinggi. Produksi teh di daerah tropik terjadi sepanjang tahun. Kondisi iklim sangat menentukan kualitas teh, terutama aromanya jika pertumbuhan vegetatifnya baik atau kecepatan tumbuh tunas tinggi, pada umumnya kualitasnya kurang baik. Dari itu pemetik daun harus dapat memilih antara produksi tinggi dan mutu daun teh. Di daerah tropik pada ketinggian 12001800 m dengan tanah yang subur memberikan kualitas daun teh yang sangat baik, namun produksinya rendah Di Indonesia tanaman tumbuh pada suhu antara 1519o C dengan curah hujan ratarata 20005000 mm/tahun. Curah hujan bulanan di bawah 50 mm kurang baik bagi pertumbuhan dan kualitas tanaman. Tanah yang baik dan sesuai dengan kebutuhan tanaman teh adalah tanah yang cukup subur dengan kandungan bahan organik cukup, tidak bercadas, dan mempunyai derajat keasaman (pH) antara 4,56,0. Tanah yang sesuai untuk tanaman teh adalah tanah yang mempunyai kedalaman efektif dan berstruktur remah lebih dari 40 cm, yang termasuk kedalamnya adalah tanah Andosol, Latosol, dan Podsoi. Produksi teh yang tinggi sangat ditentukan oleh kelembaban yang tinggi serta sinar cukup dengan pupuk nitrogen yang mencukupi. Namun demikian, kualitas daun sering kali ditentukan oleh pertumbuhan tunas yang lambat, suhu rendah dan iklim kering. Tanaman teh dapat diperbanyak dengan biji atau dengan stek tunas. Bila menggunakan biji, setelah bibit mempunyai diameter 12,5 mm saatnya cukup baik

untuk ditanam. Karena mengandung makanan cukup. Bijibiji tersebut direndam di dalam air hingga 30-60 menit dan hanya biji yang tenggelam saja yang digunakan untuk benih. Sebelum ditanam di bedengan, bijibiji dikecambahkan dahulu pada kertas atau karung basah. 3). Bunga Krisan (Chrysanthemum sp.) Bunga krisan merupakan tanaman hias subtropis. Sehingga untuk daerah tropis, seperti Indonesia, temperatur yang paling baik untuk pertumbuhan tanaman krisan adalah antara 20 260C (siang hari). Toleransi tanaman krisan terhadap faktor temperatur untuk tetap tumbuh baik adalah antara 17300C. Temperatur berpengaruh terhadap kualitas pembungaan krisan. Temperatur yang ideal untuk pembungaan yaitu antara 16 180C. Pada temperatur yang tinggi (lebih dari 180C) bunga krisan cenderung berwarna kusam, sedangkan temperatur yang rendah (kurang dari 160C) berpengaruh baik terhadap warna bunga, karena cenderung makin cerah. Tanaman krisan umumnya membutuhkan kondisi kelembaban udara (RH) tinggi, sehingga di Indonesia budidaya bunga krisan menggunakan rumah kaca sebagai media pengatur suhu serta pencahayaan. Pada fase pertumbuhan awal, seperti perkecambahan benih atau pembentukan akar bibit setek, diperlukan kelembaban udara antara 90 - 95 %. Tanaman muda sampai dewasa tumbuh dengan baik pada kondisi kelembaban udara antara 70 - 80 %. Hujan deras atau keadaan curah hujan tinggi yang langsung menerpa tanaman krisan juga menyebabkan tanaman mudah roboh, rusak, dan kualitas bunganya rendah. Oleh karena itu pembudidayaan krisan di daerah bercurah hujan tinggi dapat dilakukan di dalam bangunan rumah plastik dan rumah kaca. Penyiraman pun dilakukan dengan ukuran yang sesuai. Sering kali digunakan metode penyiraman tetes agar tanaman tidak terlalu banyak mengandung air. Kadar CO2 memegang peranan penting dalam pertumbuhan krisan. Kadar CO2 yang ideal dan dianjurkan untuk memacu kemampuan fotosintesis tanaman krisan adalah antara 600900 ppm. Oleh karena itu pada pembudidayaan tanaman krisan dalam bangunan tertutup seperti rumah plastik dan rumah kaca, dapat ditambahkan CO2 hingga mencapai kadar yang dianjurkan. Mengingat tanaman

krisan membutuhkan temperatur untuk pertumbuhan antara 20260C dan pembungaan pada temperatur 16180C dengan kelembaban udara antara 70-80 %, maka lokasi yang cocok untuk budidaya tanaman ini adalah di daerah berketinggian antara 7001200 m dari permukaan laut. Untuk keperluan pembibitan krisan pada skala komersial dilakukan melalui dua tahap, yaitu pengadaan stok tanaman induk dan perbanyakan tanaman induk secara vegetatif. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam penyiapan stok tanaman induk, baik benih asal introduksi maupun lokal, adalah memilih calon induk yang baik dan berkualitas prima. Tanaman induk yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : Varietas atau kultivar komersial yang laku di pasaran. Daya tumbuh (vigor) tanaman kuat. Pertumbuhan normal, subur dan dominan fase vegetatif. Bebas dari OPT. Mudah diperbanyak secara vegetatif, terutama setek atau kultur jaringan. Stok tanaman induk untuk sumber benih ditanam di dalam rumah plastik atau rumah kaca, baik di bedengan (petakan) maupun dalam pot. Pemeliharaan tanaman induk dilakukan intensif dan dalam kondisi lingkungan berhari panjang dengan penambahan cahaya 4 jam per hari mulai pukul 23.00 03.00. Perbanyakan vegetatif tanaman induk bertujuan memproduksi bahan tanaman (benih). Penanganan pra pembibitan diantaranya adalah : 1. Pemangkasan Pucuk (Pinching) Pemangkasan pucuk dilakukan pada umur 2 minggu setelah calon tanaman induk ditanam. Tujuan pemangkasan adalah merangsang pertumbuhan tunas atau calon percabangan. Cara pemangkasan adalah dengan memangkas atau membuang tunas pucuk yang sedang tumbuh sepanjang 0,51 cm. 2. Penumbuhan Cabang Primer Perlakuan pemangkasan dapat merangsang pertumbuhan tunas ketiak sebanyak 24 tunas. Tunas ketiak daun dibiarkan tumbuh panjang 1520 cm atau disebut cabang primer. 3. Penumbuhan Cabang Sekunder

Pada tiap ujung primer dilakukan pemangkasan pucuk sepanjang 0,5 1 cm. Tujuan pemangkasan ujung cabang primer adalah untuk merangsang tumbuhnya tunas-tunas baru sebagai calon cabang sekunder.Tiap cabang sekunder dipelihara hingga tumbuh sepanjang 1015 cm. Pengambilan setek pucuk untuk calon benih dilakukan pada tunas yang tumbuh dari cabang sekunder. Penyetekan dipilih cabang yang mencapai panjang 1015 cm tiap 23 minggu sekali. Bila ukuran diameter cabang mengecil seiring dengan pertambahan umur tanaman induk, sebaiknya dilakukan pemangkasan berat untuk disisakan batang pokok dengan percabangan yang besar dan kokoh saja. Kemudian akan tumbuh tunas-tunas baru calon cabang yang dapat dijadikan setek. Penyetekan dihentikan bila tanaman induk menunjukkan gejala pertumbuhan fase generatif atau kuncup bunga. Tanaman induk segera dibongkar untuk diganti dengan tanaman induk yang baru. Penyemaian benih asal setek pucuk dilakukan sebagai berikut : Tempat pesemaian berupa bak berukuran lebar 80 cm, kedalaman 25 cm, panjang disesuaikan dengan kebutuhan, dan sebaiknya yang berkaki setinggi meja. Bak dilengkapi dengan lubang drainase (pembuangan air). Medium semai berupa pasir steril atau sekam bakar. Medium dimasukkan ke dalam bak hingga cukup penuh dan disiram dengan air hingga basah. Tanaman induk ditentukan yang sehat dan cukup umur untuk diambil tunastunasnya sebagai bahan setek pucuk. Tunas pucuk dipilih yang memenuhi kriteria baik untuk dijadikan bibit, yaitu tumbuh sehat, diameter pangkal tunas antara 33,5 mm, panjang tunas 5 cm, mempunyai tiga helai daun dewasa berwarna hijau terang dan tunas pucuk yang aktif tumbuh dengan bentuk helai daun bergerigi. Tunas pucuk terpilih dipetik atau dipangkas sepanjang 5 cm. Cara memetik tunas pucuk adalah dengan menjepit pucuk menggunakan telunjuk dan ibu jari, kemudian bagian pangkal tunas pucuk dipotes. Cara lain penyetekan adalah dengan menggunakan gunting pangkas. Setek pucuk dapat langsung disemai atau disimpan dalam ruangan dingin bersuhu 4 0C dengan kelembaban 30% agar tahan segar selama 3 minggu. Cara penyimpanan setek adalah dibungkus dengan beberapa lapis kertas tissu, kemudian dimasukkan

ke dalam kantong plastik rata-rata 50 setek, dan selanjutnya disusun rapi di rak-rak lemari pendingin. Pemberian ZPT perangsang akar dilakukan, dengan cara dioleskan pada pangkal setek pucuk. Setek pucuk disemaikan pada bak pesemaian dengan jarak semai 3 cm x 3 cm dan kedalaman 1 2 cm. Sungkup plastik yang tembus cahaya dipasang pada seluruh permukaan bak pesemaian. Air disemprotkan dengan sprayer 2 3 hari sekali pada medium semai agar lingkungan pesemaian tetap lembab. Bola lampu penerangan pada malam hari dipasang untuk mempertahankan pertumbuhan vegetatif. Penyemprotan fungisida dilakukan bila ditemukan serangan cendawan penyebab penyakit. Bibit diamati secara berkala hingga berumur 1014 hari. Sungkup plastik penutup bak pesemaian dibuka setiap sore dan malam hari, terutama beberapa hari sebelum pindah tanam. Tujuannya untuk memberikan kesempatan kepada bibit dalam beradaptasi dengan kondisi luar. Bibit asal setek pucuk siap dipindahkan ke kebun pada umur 1014 hari setelah semai. Perbanyakan tanaman krisan juga dapat dilakukan dengan kultur jaringan yaitu untuk mendapatkan benih dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat, dan menyediakan benih berkualitas prima serta bebas OPT terutama virus. Selain itu perbanyakan secara kultur jaringan bermanfaat untuk mencegah penurunan kualitas hasil bunga akibat proses degenerasi.

10

BAB III METODELOGI Adapun waktu diadakannya kunjungan perjalanan ini (fieldtrip) adalah pada tanggal 26 Mei 2006, di kota Pagar Alam. Tempat yang dikunjungi antara lain : 1. PTPN VII ( Pengolahan Teh Perkebunan Nusantara VII ) 2. Penggilingan kopi JARAY 3. Pusat Hotikutura Pembudidayaan Tanaman Krisan

11

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Adapun hasil yang didapat setelah melakukan kunjungan lapangan adalah sebagai berikut : 1. PTPN VII ( Pengolahan Teh Perkebunan Nusantara VII ) yaitu tempat pabrik pengolahan teh. Dimana di PTPN VII ini semua kegiatan penggolahan teh berlangsung, mulai dari pemetikan pucuk teh sampai penggilingan hingga jadi teh siap saji. 2. Penggilingan Kopi yaitu pengolahan kopi dari mulai dijemur, dipisahkan dari biji dengan kulit ari sampai proses penggilingan biji kopi, hingga menjadi kopi yang siap dipasarkan dalam bentuk pengemasan. 3. Pembudidayaan Bunga Krisan yaitu proses pembudidayaan bunga krisan, mulai dari pembibitan, penanaman dan pemeliharaan hingga bunga siap untuk dijual di dalam pot. B. Pembahasan Kunjungan perjalanan kali ini dilakukan di kota pagar alam, yang mengunjungi tempat-tempat sebagai berikut : 1). Pengolahan Teh Perkebunan Nusantara VII ( PTPN VII ) Pabrik perkebunan teh ini telah berdiri sejak tahun 1929, yang dibangun dengan jarak 1000 - 1500 m dari permukaan laut. Teh diperoleh dari pucuk daun teh segar yang dipetik. Kriteria pucuk daun teh yang dipetik adalah medium petik. Pada proses pemetikan pucuk daun teh ada beberapa kriteria, antara lain : 1. 2. Petikan kasar Petikan halus Petikan yang baik akan menghasilkan hasil yang baik jika dilakukan dengan konsisten. Pengolahan teh ada dua jenis yaitu, pengolahan teh hijau, dan

12

pengolahan teh hitam. Pengolahan teh hijau dan teh hitam mempunyai proses yang berbeda, karena pada teh hijau dilakukan proses pelayuan tetapi tidak dilakukan proses fermentasi kemudian digiling pada penggilingan. Sedangkan pada teh hitam semua proses harus dilakukan yaitu dari mulai proses pelayuan, penggilingan kemudian fermentasi lalu proses penggeringan, penyortiran jenis bubuk teh,tes rasa, aroma sampai penggemasan. Untuk menghasilkan produksi yang banyak, baik, dan layak dijual untuk konsumen. Teh hitam telah dikenal sebagai obat di negara Cina sejak 4735 tahun yang lalu. Teh hitam selain berkhasiat sebagai obat juga dimanfaatkan sebagai soft drink, karena memiliki rasa segar dan nikmat bila dinikmati dibandingkan teh hijau. Sistem pengolahan di teh hitam di Indonesia dikenal dengan dua, yaitu sistem orthodox (orthodox murni dan orthodox rotorvane) yang sering digunakan, dan sistem CTC yang relatif baru. Pada pengolahan dan pembuatan teh dilakukan proses-proses sebagai berikut : 1. Penyediaan pucuk daun segar Mutu teh hitam hasil pengolahan terutama ditentukan oleh bahan bakunya, yaitu daun segar hasil petikan, dan akan mudah dicapai apabila bahan segarnya bermutu baik. Pucuk yang bermutu adalah daun muda yang utuh, segar dan berwarna kehijauan. 2. Pelayuan (Withering) Pada tahap ini terdiri dari beberapa langkah : a. Pembeberan pucuk Pucuk disebar sampai palung penuh dengan ketebalan 30 cm, dan udara segar segera dialirkan untuk menghilangkan panas dan air pada pucuk dengan pintu palung terbuka. Setiap selesai membeberkan pucuk dalam satu palung, pintu palung ditutup dan udara terus dialirkan. b. Pengaturan udara Udara yang baik untuk digunakan dalam proses pelayuan adaah udara yang bersih dengan kelembaban rendah (60% - 75%), suhu tidak melebihi 280 C, dan volume yang cukup sesuai dengan kapasitas palung. Untuk

13

memperoleh suhu udara yang diharapkan, diperlukan mesin pemanas (heat exchanger). c. Kapasitas palung pelayuan Berdasarkan luas hamparan, palung pelayuan dapat menampung 20-35 kg pucuk segar. d. Tingkat pucuk layu Tingkat layu pucuk dinyatakan dalam bentuk persentase layu dan derajat layu. Tingkat layu pucuk yang baik adalah 44% - 46% dengan toleransi perbedaan dari hari ke hari tidak lebih dari 2% - 3%, disertai dengan hasil layu yang rata. e. Lama pelayuan Lama pelayuan berkisar antara 14 18 jam. 3. Penggulungan, Penggilingan, dan Sortasi Basah a. Penggulungan (Rolling) Dengan adanya penggulungan, secara fisik daun yang digulung akan memudahkan tergiling dalam proses penggilingan. Alat yang digunakan dalam penggulungan adalah Open Top Roller (OTR) dengan lama penggulungan 30 40 menit. Jenis alat lain yang sering digunakan adalah Baruah Continous Tea atau Barbara Conditiner Roller. b. Penggilingan Dengan penggilingan, maka gulungan akan tergiling menjadi partikel kecil, sesuai dengan yang dikehendaki konsumen. Pada penggilingan, cairan sel keluar maksimal, dan dihasilkan bubuk basah sebanyakbanyaknya. c. Sortasi Bubuk Basah Bertujuan untuk memperoleh bubuk yang seragam, memudahkan sortasi kering, serta memudahkan pengaturan proses pengeringan. Mesin yang digunakan adalah Rotary Ball Breaker yang memasang ayakan dengan mesh (jumlah lubang per inchi) berbeda dengan jenis bubuk yang diinginkan.

14

4. Fermentasi Fermentasi dipengaruhi oleh kadar air dalam bahan (hasil sortasi basah), suhu dan kelembaban relatif, kadar enzim, jenis bahan, dan ketersediaan oksigen. Selama proses ini, pada bubuk dihasilkan substansi theafavinianin thearubigin yang akan menentukan sifat air seduhan. Agar oksidasi berangsung baik, diadakan pengaturan : Bahan yang berupa bubuk dari mesin penggiling diurai dengan alat pemecah agar suhu tidak melebihi 300C dan optimum pada 26,70C. Untuk mencapai suhu bubuk tersebut, suhu ruang fermentasi diatur tidak ebih dari 250C. Bubuk diisikan dalam bak aluminium dan dihamparkan merata sampai tebal 6 cm. Bak-bak tersebut disusun daam rak yang ditempatkan dalam ruang penggilingan. Kelembaban relatif diatur agar diatas 90%. Lamanya fermentasi yang dihitung sejak bubuk masuk ke dalam mesin penggiling sampai masuk ke mesin pengering adalah 90 110 menit. 5. Pengeringan (Bad Dryer) Selama proses pengeringan diperlukan waktu selama 20 menit. Selama 20 menit itu teh sudah kering. Dan setelah itu, teh dipanggang diatas oven supaya benar-benar kering. Dengan suhu antara 20-25o C. Karena membutuhkan kadar air yang maksimum 4%, dan tidak boleh terlalu kering sebab membuat mutu dari teh tersebut akan berkurang. Mesin pengering yang digunakan di PTPN VII Pagar Alam adalah tipe Fluid Bed Dryer (FBD). 6. Sortasi Kering Setelah melalui proses pengeringan maka akan menghasilkan pemisahan penggilingan yang kasar, halus, kering, dan terlalu kering. Selain pemisahan tersebut juga ada pemisahan yang berdasarkan berat jenis. Proses sortasi selalu diamati setiap jam sehari, terutama pada teh haiting. Untuk pengambilan sampel pada uji perasa digunakan uji organoleptik yaitu pengeringan sortasi. Pengujian mutu teh juga dilakukan melalui uji

15

organoleptik, analisa warna, rasa, aroma, dan air seduhan. Teh yang baik dimulai dari petikan yang baik. Analisa warna diuji melalui warna teh yang sudah diseduh apakah jernih atau tidak. Rasanya apakah enak atau tidak, ini akan dirasa oleh seorang tester yang sudah berpengalaman. Aromanya apakah wangi atau tidak. Dan air seduhan dilihat apakah jernih atau tidak. Serta dilihat dari ampas teh tersebut. 7. Packing Dalam pengepakan dilihat dari segi mutu. Mutu dapat dilihat dari tabel berikut ini : MUTU I BOP BOP BOPT PF DUST BD BT MUTU II BP II BT II PF II DUST II DUST III LOKAL (OFF GRADE) BOHEA

Beberapa gangguan seperti beberan, layuan, gilingan, dan fermentasi akan mempengaruhi suatu mutu teh tersebut. BUBUK I BUBUK II BUBUK III BUBUK IV BADAG = 140 menit = 140 menit = 140 menit = langsung = langsung 18% 19% 35% 15% 15%

Untuk pengepakan kapasitas perjam 22-25 unit. Dengan pengepakan yang berdasarkan mutu high quality yaitu antioksidan, anti kolestrol, dan jantung.

2). Kunjungan Tempat Pengolahan Kopi

16

Proses penanaman kopi membutuhkan cara-cara tersendiri. Pada umumnya waktu penanaman kopi di tanam pada bulan-bulan tertentu yang biasanya pada waktu wukuf. Sebelum penanaman bibit kopi disiapkan kemudian disiapkan lubanglubang tertentu atau disemaikan. Masa tanam tanaman kopi kira-kira 2,5 tahun. Proses perawatan dan pemeliharaan kopi dimulai dari pemeliharaan bibit, disiangi, dipupuk, pemilihan tunas yang baik dibatang. Apabila terdapat tunas yang tidak baik atau diserang hama segeralah dibuang agar hama tersebut tidak tersebar ke mana-mana atau dapat pula dibasmi dengan pembasmi hama. Proses pemetikan diawali dengan pemetikan kembang, kemudian dipetik dengan menggunakan alat tertentu. Disimpan didalam karung untuk menghindari biji kopi yang basah dan lembab. Biji kopi yang sudah dipetik disimpan di dalam karung untuk menghindari biji kopi yang basah. Pemetikan biji kopi diambil yang sudah merah agak kehitam-hitam artinya biji tersebut sudah siap dipetik. Kemudian dijemur sampai kering benar, disimpan, dan digiling. Pada proses penggilingan akan terjadi sortasi yaitu pemisahan kulit dan biji kopi tersebut. Bekas biji kopi tersebut dapat digunakan sebagai pupuk. Dibawa ke tempat penggilingan sampai sampai menjadi kopi bubuk yang siap dipasarkan. Apabila kopi tersebut masih basah atau lembab maka biji kopi tersebut akan tumbuh kembali. Dan tidak bisa digunakan atau digiling kembali. Kualitas suatu kopi juga tergantung terhadap kadar air kopi tersebut. Karena akan mempengaruhi pada proses penggilingan. Oleh sebab itu, dalam pejemuran harus benar-benar kering agar kualitas kopi menjadi baik. Para petani desa sering menitip kepada para pengusaha penggiling kopi diatas tempat penggilingan kopi tersebut. Dan kadang kala sering sampai kepada proses penggilingan. Akan tetapi, pengusaha kopi kesulitan dalam mendapatkan alat yang dapat mengeringkan kopi dalam waktu cepat dan banyak. Apabila terjaadi musim hujan petani sulit untuk mendapatkan sinar matahari dalam proses pengeringan. Oleh karena itu, para pengusaha kopi sangat kesulitan untuk mendapatkan alat tersebut dalam membantu proses pengeringan apabila terjadi

17

musim hijau yang panjang. Karena akan mempengaruhi proses pemasaran dan produksi kopi tersebut. Pemungutan hasil pada buah kopi dapat dibagi 4 cara : 1. Secara Selektif a. b. c. a. b. lain 3. Secara Lelesan a. b. pemungutan buah kopi yang sudah terlalu tua. Karena terlambat buah kopi seperti ini biasanya mutunya kurang baik dipetik buah jatuh sendiri, biasanya sudah kering 4. Secara Rajutan a. pemetikan dilakukan terhadap semua buah kopi termasuk yang masih hijau b. pemetikan seperti ini biasanya dilakukan pada panen terakhir Pekerjaan selanjutnya setelah pemungutan hasil yaitu mengadakan sortasi buah. Sortasi yaitu memisahkan buah-buah yang sudah kering (lelesan), buah masak dan buah-buah yang masih hijau. 3). Kunjungan Tempat Pembudidayaan Bunga Krisan Tanaman hias bunga krisan merupakan salah satu komoditi ekspor yang ditawarkan di Kota Pagar Alam. Pengembangan ini dilakukan di Pusat Holtikutura Kota Pagar Alam. Selain bunga krisan, tanaman hias lain juga dikembangkan di tempat ini. Pembudidayaan bunga krisan dimuai dari pembibitan yang dilakukan di daan pot-pot kecil. Selama 1 bulan, bibit ini dikumpulkan di tempat yang buah kopi yang dipetik hanyalah buah yang betul-betul masak buah yang masih hijau tidak ikut dipetik, tetapi dibiarkan sampai 1dengan cara ini akan diperoleh buah kopi yang bermutu tinggi pemetikan dilakukan terhadap dompolan yang sebagian besar kemudian pemetikan terhadap buah-buah masak pada dompolan

2 minggu pada pemetikan berikutnya 2. Secara Setengah Selektif buahnya sudah masak

18

memiliki cahaya yang sesuai dengan kebutuhan sehingga pertumbuhannya dalam berjalan dengan baik. Setelah berumur 1 bulan, bibit akan dipindahkan ke dalam pot yang lebih besar. Pengairan dilakukan 2 kali sehari dengan menggunakan sistem tetes agar air tidak menggenang atau akar tanaman terlalu basah.

19

BAB V KESIMPULAN Kesimpulan yang didapat dari pembahasan ini, antara lain sebagai berikut : 1. Proses pemetikan pucuk daun teh akan berpengaruh pada mutu dan hasil teh yang baik. 2. Tanaman teh hidup pada dataran rendah dengan ketinggian 1000 m dari permukaan laut. 3. Kualitas suatu kopi juga tergantung terhadap kadar air kopi tersebut. Karena akan mempengaruhi pada proses penggilingan. 4. pengusaha hujan. 5. Pembudidayaan bunga krisan harus menerapkan pola-pola pembudidayaan tanaman yang benar, karena bunga ini berasal dari daerah subtropis yang memiliki suhu lebih rendah. 6. Perawatan dan penyemaian bunga krisan harus benar-benar hati-hati dan teliti kopi kesulitan dalam mendapatkan alat yang dapat megeringkan kopi dalam waktu cepat dan banyak apabila terjaadi musim

20

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pertanian Sumatera Selatan. 1986. Budidaya Tanaman Kopi. Dinas Perkebunan. Sumatera Selatan.

21

Lampiran : Gambar Alat

Gambar Alat Pemetik Teh

Gambar Bak pelayuan

Gambar Baruah Contimous Tea

Gambar Open Top Roller (OTR)

Gambar Rotary Ball Breaker

Gambar Fluid Bed Dryer

22

Gambar Mutu Teh

Gambar Oven Pengeringan

Gambar C-C-C Stage Dryer

Gambar Pengupas Kulit Kopi

23