Anda di halaman 1dari 43

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kanker serviks adalah jenis kanker yang biasanya tumbuh lambat pada wanita dan mempengaruhi mulut rahim, bagian yang menyambung antara rahim dan vagina. Kanker serviks dapat berasal dari leher rahim ataupun dari mulut rahim, kanker ini tumbuh dan berkembang dari serviks yang dapat menembus keluar dari serviks sehingga tumbuh diluar serviks bahkan dapat tumbuh terus sampai dinding panggul (Andrijono, 2005). Oleh karena itu kanker serviks merupakan momok yang menakutkan bagi kaum perempuan di Indonesia karena selain belum ada obatnya, kanker jenis ini masih menjadi pembunuh nomor satu perempuan pengidap kanker tersebut. Kanker serviks hingga sekarang belum ada obatnya dan sangat ditakuti kaum perempuan tapi hal ini bisa dihindari dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (Pramono, 2006) Di antara tumor ganas ginekologi, keganasan kanker mulut rahim atau karsinoma serviks uteri menduduki urutan pertama di negara sedang berkembang termasuk di Indonesia sebesar 369,1 %. Berbeda dengan negara maju karsinoma serviks uteri berada pada urutan ke-5, ini disebabkan karena adanya program test Pap Smear secara periodik dalam upaya deteksi karsinoma serviks uteri (Tambunan, 1995). Selama kurun waktu 5 tahun yaitu tahun 1975-1979 kasus Ca Serviks ditemukan di RSUDGM/ RSUDP Sardjito

sebanyak 179 di antara 263 kasus (68,1%). Umur penderitanya antara 30-60 tahun, terbanyak antara usia 45-50 tahun (Wiknjosastro, 2007). Berdasarkan hasil studi pendahuluan tanggal 23 Februari 2009, dari data inap di Ruang Kandungan RSUD Dr. Soetomo Surabaya yaitu pada tahun 2008 ditemukan kasus kanker serviks sebanyak 622 pasien dari 1382 pasien, yang berarti sekitar 45% dari seluruh pasien dan mortalitas pada pasien kanker serviks sebesar 4,8%. Penderita kanker serviks umumnya datang ke dokter kebidanan dan kandungan sudah terlambat sehinnga pengobatan yang bisa diusahakan hanya perawatan paliatif yang masih bisa dilakukan untuk tujuan peningkatan kualitas hidupnya. Banyak hal yang menyebabkan penderita datang terlambat antara lain kurangnya pengertian akan penyakit kanker pada umumnya, khususnya kanker serviks, pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah. Hal ini yang menyebabkan angka kematian dengan kasus kanker serviks cukup tinggi. Sebab langsung dari kanker serviks belum diketahui. Ada bukti kuat kejadiannya mempunyai hubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik di antaranya yang paling jarang ditemukan pada perawan, insidensi lebih tinggi pada mereka yang kawin daripada yang tidak kawin, terutama pada gadis yang koitus pertama (coitarche) dialami pada usia amat muda (<16 tahun), insidensi meningkat dengan tingginya paritas, aktivitas seksual yang sering bergantiganti pasangan, jarang dijumpai pada masyarakat yang suaminya disunat (sirkumsisi), sering ditemukan pada wanita yang mengalami infeksi virus

HPV (Human Papilloman Virus) tipe 18 atau 16, kebiasaan merokok, serta kebersihan genetalia yang kurang (Sastrawinata, 1981). Kebersihan genetalia yang kurang dapat menimbulkan terjadinya infeksi, karena keadaan yang kotor merupakan tempat berkembang biaknya kuman. Menjaga kebersihan genital agar tetap bersih dan segar adalah perlindungan terbaik terhadap infeksi alat kandungan. Fluor albus merupakan gejala terjadinya infeksi alat kandungan. Jika infeksi alat kandungan semakin lama semakin dibiarkan dan tidak ada tindakan pengobatan maka akan dapat mengakibatkan terjadinya pertumbuhan sel yang normal menjadi abnormal dan cenderung menginfiltrasi jaringan di sekitarnya sehingga dapat menyebabkan kanker serviks yang juga ditandai dengan adanya fluor albus yang tidak gatal dan terkadang bercampur darah dan berbau. Dengan adanya peranan dari petugas kesehatan khususnya bidan diharapkan dapat menurunkan angka kejadian kanker serviks pada wanita yaitu dengan melakukan upaya terus menerus dalam memberikan KIE tentang pencegahan penyakit antara lain dengan membiasakan hidup sehat, makan makanan yang bergizi, menghindari kebiasaan merokok, tidak berganti-ganti pasangan seksual dan tidak melakukan hubungan seksual pada usia muda, melakukan pemeriksaan Paps Smear setiap enam bulan sejak melakukan hubungan seksual pertama kali serta selalu menjaga kebersihan genetalia dengan benar (Tiara, 2003). Untuk itulah diperlukan upaya untuk meningkatkan teknik vulva hygiene wanita secara benar.

Dari latar belakang yang telah dijelaskan maka perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui hubungan antara teknik vulva hygiene wanita dengan kejadian kanker serviks sehingga dapat diperkirakan langkah-langkah perbaikan untuk menurunkan angka kejadian kanker serviks. 1.2 Identifikasi Penyebab Masalah Adapun faktor-faktor predisposisi yang mempengaruhi kejadian kanker serviks antara lain :

Faktor intrinsik

1. Usia 2. Paritas 3. Herediter

Faktor yang mempengaruhi kejadian kanker serviks Faktor ekstrinsik

1. Sosial ekonomi 2. Teknik vulva hygiene yang kurang tepat 3. Infeksi virus 4. Partner seks 5. Merokok 6. Kontraseps i hormone

Gambar 1.1 : Identifikasi Penyebab Masalah Kanker Serviks

1.2.1

Faktor Internal 1.2.1.1 Usia

Dikatakan bahwa pada wanita muda squamo columnar junction (SCJ) berada di luar ostium uteri eksternum, sedang pada wanita berumur >35 tahun, SCJ berada di dalam kanalis serviks. Karsinoma serviks timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan endoserviks kanalis serviks yang disebut sebagai squamo columnar junction (SCJ). Makin muda usia pertama kali kawin, maka risiko kanker serviks uteri makin tinggi. Umur penderita kanker serviks antara 30-50 tahun. Mempertimbangkan keterbatasan yang ada, disepakati secara nasional untuk mendeteksi dini setiap wanita setelah melewati usia 30 tahun sampai dengan usia 50 tahun dan menyediakan sarana penanganannya. Sebagai pertimbangan juga bahwa pada usia 30-50 tahun wanita mempunyai potensi terkena kanker serviks karena pada usia tersebut wanita cenderung aktif melakukan hubungan seksual. Pada wanita yang melakukan hubungan seksual akan lebih rentan terpapar infeksi. Infeksi yang invasif akan dapat menyebabkan terjadinya kanker serviks (Wiknjosastro, 2007). 1.2.1.2 Paritas

Pada wanita yang sering melahirkan per vaginam, dimana melahirkan anak lebih dari tiga kali akan mempertinggi risiko kanker serviks.

1.2.1.3

Herediter

Orang-orang yang mempunyai keluarga yang menderita kanker, terutama keluarga garis pertama vertical (orang tua, nenek, anak, cucu) atau horizontal (saudara) mempengaruhi risiko yang lebih tinggi untuk mendapat kanker, ini berarti bahwa kanker itu menular atau menurun, kanker bukan penyakit keturunan walaupun ada yang disebut oncogen. Hanya bakat untuk mendapat kanker yang diturunkan sedangkan kanker sendiri tidak diturunkan. 1.2.2 Faktor Eksternal 1.2.2.1 Sosial Ekonomi

Kanker mulut rahim salah satunya disebabkan karena ketidaktahuan atau rendahnya pengetahuan tentang pencegahan terhadap terjadinya kanker serviks. Hal itu diakibatkan oleh faktor social ekonomi yang rendah. 1.2.2.2 Teknik Vulva hygiene yang kurang tepat

Hygiene yang kurang baik mempengaruhi terjadinya kanker serviks (Sarjadi, 1995). Apabila wanita dalam menjaga kebersihan genetalia kurang tepat maka dapat menimbulkan terjadinya infeksi karena keadaan yang kotor merupakan tempat berkembang biaknya kuman. Teknik atau cara menjaga kebersihan genetalia agar tetap bersih dan segar adalah perlindungan terbaik terhadap infeksi alat kandungan. Jika infeksi alat kandungan terjadi terus menerus dan tidak ada tindakan pengobatan maka akan dapat mengakibatkan terjadinya

pertumbuhan sel yang normal menjadi abnormal dan cenderung menginfiltrasi jaringan di sekitarnya sehingga dapat menyebabkan kanker serviks yang ditandai dengan adanya fluor albus yang tidak gatal dan terkadang bercampur darah dan berbau (Andrijono, 2005). 1.2.2.3 Infeksi Virus

Infeksi virus simplek (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai faktor penyebab. Adanya infeksi virus dapat dideteksi dari perubahan sel epitel serviks pada tes pap smear. Pada infeksi sering dijumpai sitologi abnormal. 1.2.2.4 Partner Seks

Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan sering bergantiganti pasangan (multipartner) mempunyai faktor risiko yang besar terhadap kejadian kanker serviks. Pada penelitian sitologi tes pap smear sekelompok wanita tuna susila dan wanita biasa, ternyata jumlah karsinoma serviks uteri lebih banyak pada wanita tuna susila. 1.2.2.5 Tembakau Merokok mengandung bahan-bahan karsinogen baik yang

dihisapsebagai rokok atau sigaret dan dikunyah. Asap rokok menghasilkanpolicydic aromatic hidrokarbon heterocydic amine yang sangat karsinogen dan mutagen, sedang bila dikunyah akan menghasilkan netrosamine. Tembakau dan asapnya juga mengandung bahan promoter yang dapat menimbulkan kanker paru-paru. Bahan yang berasal dari tembakau yang dihisap terdapat digetah serviks

wanita perokok dan dapat menjadi ko-karsinogen infeksi virus dan bahan-bahan tersebut menyebabkan kerusakan DNA epitel serviks sehingga dapat menyebabkan neoplasma serviks. 1.2.2.6 Kontrasepsi Hormon dan IUD

Kondom dan diafragma dapat memberikan perlindungan. Kontrasepsi hormon dan IUD yang dipakai dalam jangka panjang yaitu lebih dari 4 tahun dapat meningkatkan risiko 1,5-2,5 kali. 1.2.2.7 Nutrisi

Dari beberapa penelitian ternyata defisiensi terhadap asam folat, vitamin C, vitamin E, betakarotin/retinal dihubungkan dengan peningkatan risiko kanker serviks. Vitamin E, C dan betakarotin mempunyai khasiat sebagai antioksidan yang kuat. Antioksidan dapat melindungi DNA/RNA terhadap pengaruh buruk dari radikal bebas akibat oksidasi karsinogen bahan kimia.

1.3 Batasan Masalah Sehubungan dengan banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kanker serviks dan terbatasnya waktu penelitian, maka peneliti membatasi ruang lingkup pembahasan mengenai hubungan antara teknik vulva hygiene wanita dengan kejadian kanker serviks di Ruang Kandungan RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

1.4 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang penulis tertarik untuk mengetahui apakah ada hubungan antara teknik vulva hygiene wanita dengan kejadian kanker serviks. 1.5 Tujuan Penelitian 1.5.1 Tujuan Umum

Menganalisis hubungan antara teknik vulva hygiene wanita dengan kejadian kanker serviks. 1.5.2 1.3.2.1 Tujuan Khusus

Mengidentifikasi teknik vulva hygiene wanita.

1.3.2.2 Mengindetifikasi kejadian kanker serviks. 1.3.2.3 Menganalisis hubungan antara teknik vulva hygiene wanita dengan kejadian kanker serviks. 1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Bagi Penulis tentang pengaruh teknik vulva hygiene dengan

Menambah wawasan

kejadian kanker serviks serta agar dapat mengaplikasikan dalam praktik sehari-hari.

10

1.6.2

Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan wanita tentang faktorfaktor yang menyebabkan kanker serviks. 1.6.3 Bagi Profesi

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alat ukur peningkatan sistem informasi maupun pelayanan khususnya dalam pemberian KIE pada wanita. 1.6.4 Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan

Menambah kajian ilmu dalam bidang kesehatan yaitu memberi gambaran/ informasi bagi penelitian selanjutnya, serta membantu institusi dalam pembuatan system KIE yang lebih diterima oleh kaum wanita.

11

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 2.2.1 Konsep Dasar Vulva Hygiene Pengertian Vulva Hygiene Vulva Hygiene yaitu membersihkan alat kelamin wanita bagian luar dan sekitarnya (Christina, 1993). Dengan kebersihan vulva dan sekitarnya membantu dalam penyembuhan luka dan menghindari infeksi. Jadi teknik vulva hygiene adalah tindakan seseorang untuk melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu yaitu cara membersihkan alat kelamin wanita bagian luar dan sekitarnya. 2.2.2 Tujuan Menurut Christina (1993) vulva hygiene mempunyai tujuan : 2.2.2.1 Mencegah terjadinya infeksi di daerah vulva, perineum maupun di dalam uterus 2.2.2.2 Untuk mempercepat penyembuhan luka jahitan perineum 2.2.2.3 Untuk kebersihan perineum dan vulva 2.2.3 Frekuensi Perawatan Vulva Vulva Hygiene Bisa dilakukan minimal 2 kali sehari dan waktu yang lebih baik adalah pada pagi dan sore hari sebelum mandi, sesudah buang air kecil atau buang air besar atau 4 jam sekali, terutama pada jahitan perineum tingkat ketiga (Christina S, 1993). 2.2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Teknik Vulva Hygiene 11

12

Faktor-faktor yang mempengaruhi teknik vulva hygiene yaitu : 2.2.4.1 Pengetahuan dan sikap 2.2.4.2 Kebiasaan 2.2.4.3 Lingkungan (keluarga, televisi, radio, majalah dan lain-lain) 2.2.4.4 Sarana (air bersih, sabun dan lain-lain) 2.2.4.5 Tingkat ekonomi 2.2.5 Bahan dan Teknik/ Cara Perawatan Vagina 2.2.5.1 Bahan untuk perawatan vagina Bahan yang dipakai untuk membersihkan vagina yaitu disiram dengan air pada daerah sekitar kemaluan dan perineum atau disemprot air biasa (Hamilton PM, 1995). 2.2.5.2 Teknik atau cara perawatan vagina 1. Mandi setiap hari dengan sabun atau air hangat, jangan pakai sabun yang mengandung zat-zat kimia tertentu. Pada waktu mencuci regangkan bibir vagina dan bersihkan baik-baik, jangan lupa membersihkan daerah klitoris. 2. Sesudah buang air besar, bersihkan daerah dubur dari depan ke belakang. Pembersihan yang kurang baik bisa memindahkan bakteri dari dubur dan kotoran ke dalam vagina atau saluran kencing sehingga mengakibatkan infeksi saluran kencing. 3. Di kamar mandi umum sebaiknya pakai penutup tempat duduk toilet yang dapat langsung dibuang sesudah dipakai sendiri, jangan lupa cuci tangan sesudahnya.

13

4.

Vulva harus cukup mendapatkan udara dan harus selalu kering, lebih baik pakai celana dalam terbuat dari katun karena nilon tidak menghisap air dan tidak tembus udara sehingga memudahkan berkembang biaknya organisme.

5.

Selama haid gantilah pembalut sesering mungkin, minimum dua kali sehari meskipun jumlah darah sedikit, bila terlalu lama bisa tumbuh bakteri yang akhirnya mengakibatkan infeksi. Sebaiknya sering mandi untuk menghilangkan bau karena produksi keringat selama haid lebih banyak daripada biasanya

6.

Selama ovulasi pengeluaran cairan dari vagina lebih dari biasanya kadang-kadang ada perdarahan, mencuci dengan air dan sabun sudah cukup.

7.

Jangan pakai deodorant khusus untuk vagina karena dapat merangsang dan menutupi gejala infeksi tertentu.

8.

Bersikaplah waspada terhadap VD / Veneral Disease yaitu penyakit kelamin, karena itu setiap wanita perlu memperhatikan kesehatan partnernya. Infeksi penyakit seksual dapat menularkan kepada pasangan.

9.

Jangan lupa memeriksakan diri secara teratur apabila terdapat gejala yang lain daripada biasanya.

10.

Berusahalah selalu menambah pengetahuan, mengenal fungsi tubuh dan anatomisnya.

2.2

Konsep Dasar kanker Serviks

14

2.3.1

Pengertian Kanker serviks dapat berasal dari leher rahim ataupun dari mulut rahim, kanker ini tumbuh dan berkembang dari serviks yang dapat menembus keluar dari serviks sehingga tumbuh diluar serviks bahkan dapat tumbuh terus sampai dinding panggul (Andrijono, 2005). Kanker serviks adalah penyakit yang progresif, dimulai dari perubahan intraepital, perubahan neoplastik dan pada akhirnya

berkembang menjadi kanker serviks (Soedoko, 2001). Kanker serviks umumnya tumbuh dari sel gepeng dari mulut rahim atau sel kelenjar dari leher rahim. Kanker serviks merupakan kelanjutan dari lesi prakanker serviks uteri atau CIN dengan perkembangan penyakit yang lebih cepat (Manuaba, 2001). Diagnosis tomur ganas pada serviks uterus tidaklah sulit, apa lagi kalau tingkatannya sudah agak lanjut. Yang menjadi persoalan ialah bagaimana mendeteksi sedini mungkin, yakni waktu tumor masih prainvasi telah dapat diketahui dalam tingkatan pramaligna. Dengan memperhatikan perubahan displastik dari epitel serviks (NIS I, II, III dan KIS), penangganan yang sederhana tetapi benar akan menghindarkan wanita itu dari karsinoma serviks (pencegahan sekunder). Memang pencegahan masih selalu lebih murah daripada pengobatan kanker yang sudah ada. Pencegahan primer tampaknya sulit dikerjakan, karena sebab biologik kanker serviks belum diketahui. Yang dapat disarankan ialah menghindari faktor eksogen/ ekstrinsik yang memberikan resiko untuk mengidap kanker leher rahim (Wiknjosastro, 1999).

15

2.3.2

Tanda dan Gejala Pemeriksaan pap smear dapat untuk mengetahui adanya kanker serviks intraepitel (kanker baru berada pada lapisan epitel = baru taraf permulaan). Dengan perjalanan yang panjang dan bentuk kliniknya

memberikan manifestasi dari tanpa keluhan sampai menunjukkan metastase lokal ke dinding pelvis atau metastase jauh sebagai berikut : 2.3.2.1 Gejala Dini Keluhan leukorea yang sulit disembuhkan, terdapat kontak darah misalnya setelah koitus atau perdarahan menstruasi lebih banyak atau timbul perdarahan menstruasi lebih sering atau perdarahan diantara siklus menstruasi dan kadang-kadang terjadi perdarahan mendadak (spotting). 2.3.2.2 Gejala Stadium Medium Leukorea terus-menerus bahkan berbau, nyeri di daerah sakral karena metastasenya. Pada akhir stadium pertengahan terdapat infiltrasi ke daerah sekitarnya, mengenai ureter, kelenjar getah limfe, serat saraf sehingga menimbulkan trias karsinoma serviks yaitu : 1. 2. 3. Nyeri daerah sakral. Bendungan aliran limfe menimbulkan edema penyakit. Obstruksi ureter terjadi hidroneproses pada ginjal.

2.3.2.3 Gejala Stadium Lanjut 1. 1) Lokal Gangguan fungsi ginjal menimbulkan uremia

16

2) tungkai 3) 4) 5) yang banyak 6) 7) 2. 1) 2)

Gangguan aliran limfe menimbulkan edema

Timbul fistula rektovaginal atau vesikovaginal Perdarahan terus-menerus dan disertai berbau Kadang-kadang terjadi perdarahan mendadak

Kencing berdarah Berak berdarah Lokal dan Metastase Jauh Gejala klinik lokal Gejala klinik yang ditimbulkan oleh organ yang

terkena metastase 2.3.3 Etiologi Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kanker serviks secara langsung belum diketahui tetapi faktor predisposisi di antaranya yaitu : 2.3.3.1 Faktor Internal 1. Usia Dikatakan bahwa pada wanita muda squamo columnar junction (SCJ) berada di luar ostium uteri eksternum, sedang pada wanita berumur >35 tahun, SCJ berada di dalam kanalis serviks. Karsinoma serviks timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan endoserviks kanalis serviks yang disebut sebagai squamo columnar junction (SCJ). Makin muda usia pertama kali kawin, maka risiko kanker serviks uteri

17

makin tinggi. Umur penderita kanker serviks antara 30-50 tahun. Mempertimbangkan keterbatasan yang ada, disepakati secara nasional untuk mendeteksi dini setiap wanita setelah melewati usia 30 tahun sampai dengan usia 50 tahun dan menyediakan sarana penanganannya. Sebagai pertimbangan juga bahwa pada usia 30-50 tahun wanita mempunyai potensi terkena kanker serviks karena pada usia tersebut wanita cenderung aktif melakukan hubungan seksual. Pada wanita yang melakukan hubungan seksual akan lebih rentan terpapar infeksi. Infeksi yang invasif akan dapat menyebabkan terjadinya kanker serviks (Wiknjosastro, 2007). 2. Paritas Pada wanita yang seringmelahirkan per vaginam, dimana melahirkan anak lebih dari tiga kali akan mempertinggi risiko kanker serviks. 3. Herediter Orang-orang yang mempunyai keluarga yang menderita kanker, terutama keluarga garis pertama vertical (orang tua, nenek, anak, cucu) atau horizontal (saudara) mempengaruhi risiko yang lebih tinggi untuk mendapat kanker, ini berarti bahwa kanker itu menular atau menurun, kanker bukan penyakit keturunan walaupun ada yang disebut oncogen. Hanya bakat untuk mendapat kanker yang diturunkan sedangkan kanker sendiri tidak diturunkan.

18

2.3.3.2 Faktor Eksternal 1. Sosial Ekonomi Kanker mulut rahim salah satunya disebabkan karena ketidaktahuan atau rendahnya pengetahuan tentang pencegahan terhadap terjadinya kanker serviks. Hal itu diakibatkan oleh faktor social ekonomi yang rendah. 2. Teknik Vulva Hygiene yang kurang tepat Hygiene yang kurang baik mempengaruhi terjadinya kanker serviks (Sarjadi, 1995). Apabila wanita dalam menjaga kebersihan genetalia kurang tepat maka dapat menimbulkan terjadinya infeksi karena keadaan yang kotor merupakan tempat berkembang biaknya kuman. Teknik atau cara menjaga kebersihan genetalia agar tetap bersih dan segar adalah perlindungan terbaik terhadap infeksi alat kandungan. Jika infeksi alat kandungan terjadi terus menerus dan tidak ada tindakan pengobatan maka akan dapat mengakibatkan terjadinya pertumbuhan sel yang normal menjadi abnormal dan cenderung menginfiltrasi jaringan di sekitarnya sehingga dapat menyebabkan kanker serviks yang ditandai dengan adanya fluor albus yang tidak gatal dan terkadang bercampur darah dan berbau (Andrijono, 2005). 3. Infeksi Virus Infeksi virus simplek (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai faktor penyebab. Adanya infeksi virus dapat dideteksi dari perubahan sel epitel serviks pada tes pap smear. Pada infeksi sering dijumpai sitologi abnormal.

19

4. Partner Seks Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan sering berganti-ganti pasangan (multipartner) mempunyai faktor risiko yang besar terhadap kejadian kanker serviks. Pada penelitian sitologi tes pap smear sekelompok wanita tuna susila dan wanita biasa, ternyata jumlah karsinoma serviks uteri lebih banyak pada wanita tuna susila. 5. Merokok Tembakau mengandung bahan-bahan karsinogen baik yang dihisapsebagai rokok atau sigaret dan dikunyah. Asap rokok menghasilkanpolicydic aromatic hidrokarbon heterocydic amine yang sangat karsinogen dan mutagen, sedang bila dikunyah akan menghasilkan netrosamine. Tembakau dan asapnya juga mengandung bahan promoter yang dapat menimbulkan kanker paru-paru. Bahan yang berasal dari tembakau yang dihisap terdapat digetah serviks wanita perokok dan dapat menjadi kokarsinogen infeksi virus dan bahan-bahan tersebut menyebabkan kerusakan DNA epitel serviks sehingga dapat menyebabkan neoplasma serviks. 6. Kontrasepsi Hormon dan IUD Kondom dan diafragma dapat memberikan perlindungan. Kontrasepsi hormon dan IUD yang dipakai dalam jangka panjang yaitu lebih dari 4 tahun dapat meningkatkan risiko 1,5-2,5 kali.

20

7. Nutrisi Dari beberapa penelitian ternyata defisiensi terhadap asam folat, vitamin C, vitamin E, betakarotin/retinal dihubungkan dengan peningkatan risiko kanker serviks. Vitamin E, C dan betakarotin mempunyai khasiat sebagai antioksidan yang kuat. Antioksidan dapat melindungi DNA/RNA terhadap pengaruh buruk dari radikal bebas akibat oksidasi karsinogen bahan kimia. 2.3.4 Pembagian Klinik Karsinoma Serviks Uteri Pembagian klinik karsinoma serviks uteri dijabarkan sesuai dengan pembagian menurut FIGO 1995 dapat dilihat pada tabel. Tabel 2.1 Pembagian klinik karsinoma serviks uteri menurut FIGO 1995
CA IN SITU / STADIUM O Stadium I Stadium I. A Stadium I.A.I Stadium I.A.2 DISPLASIA II III NEOPLASMA INTRAEPITEL TANPA INVASI MEMBRAN BASAL Karsinoma terbatas pada daerah serviks uteri. Mikro invasi membran basal tidak lebih dari 5,0 mm lebarnya kurang dari 7,0 mm. Lebih dari ini tergolong stadia I.B. Mikro invasi kurang dari 5,0 mm dalam dan lebar kurang dari 7,0 mm. Invasi ke dalam antara3,1-5,0 mm dan lebar kurang dari 7,0 mm. Invasi ke pembuluh darah atau kelenjar limfe, tidak dimasukan ke dalam stadia, tetapi akan memengaruhi terapi yang akan direncanakan. Perlukaan pada serviks uteri lebih dari ketetapan I.A. Perlukaan menurut gambaran klinik tidak lebih dari 4,0 mm. Perlukaan menurut gambaran klinik lebih dari 4,0 mm. Karsinoma telah menyebar-meluas di luar serviks uteri, tetapi belum mencapai dinding pervis. Menyebar ke vagina, tetapi hanya 1/3 bagian atas. Tidak nyata menyebar ke parametrium. Nyata menyebar ke parametrium.. Karsinoma telah menyebar ke dinding pelvis. Pada pemeriksaan rektal tidak terdapat FCS.

Stadium I.B Stadium I.B.1 Stadium I.B.2 Stadium II Stadium II.A Stadium II. B Stadium III

21

Lanjutan Tabel 2.1


Penyebaran perkontinuitatum telah mencapai vagina bagian bawah. Kemungkinan terdapat hidroneprosis. Tidak terjadi penyebaran ke dinding pelvis. Menyebar ke dinding pelvis disertai hidronefrosis atau sudah ada kegagalan ginjal. Penyebaran di luar pelvis minor. Penyebar atau mengenai mukosa rektum dan vesika urinaria. Terdapat edema karena gangguan sirkulasi. Menyebar ke organ sekitarnya di pelvis minor. Terjadi metastase jauh pada organ, di luar pelvis minor.

Stadium III.A Stadium III.B Stadium IV

Stadium IV.A Stadium IV.B

(Manuaba, 2004) 2.3.5 Gambaran Klinik dan Diagnosis Keputihan merupakan gejala yang sering ditemukan. Getah yang keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. Dalam hal ini demikian, pertumbuhan tumor menjadi ulseratif. Perdarahan yang dialami segera sehabis senggama (disebut sebagai perdarahan kontak) merupakan gejala karsinoma serviks (75-80%). Perdarahan yang timbul akibat terburuknya pembuluh darah makin lama akan lebih sering terjadi, juga di luar senggama (perdarahan spontan). Perdarahan spontan umumnya terjadi pada tingkat klinik yang lebih lanjut (II atau III), terutama pada tumor yang bersifat eksofitik. Pada wanita usia lanjut yang sudah tidak melayani suami secara seksual, atau janda yang sudah mati haid (menopause) bilamana mengidap kanker serviks sering terlambat datang meminta pertolongan. Perdarahan spontan saat defekasi akibat tergesernya tumor eksofitik dari serviks oleh skibala, memaksa mereka datang ke dokter. Adanya perdarahan spontan pervaginam saat berdefekasi, perlu dicurigai kemungkinan adanya karsinoma serviks tingkat lanjut. Adanya bau busuk yang khas memperkuat dugaan adanya karsinoma.

22

Anemia akan menyertai sebagai akibat perdarahan pervaginam yang terulang. Rasa nyeri akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf, memerlukan pembiusan umum untuk dapat melakukan pemeriksaan dalam yang cermat, khususnya pada lumen vagina yang sempit dan dinding yang sklerotik dan meradang. Gejala lain yang dapat timbul ialah gejala-gejala yang disebabkan oleh metastasis jauh. Sebelum tingkat akhir (terminal stage), penderita meninggal akibat perdarahan yang eksesif, kegagalan faal ginjal (CRF = Chronic Renal Failure) akibat infiltrasi tumor ke ureter sebelum memasuki kandung kemih, yang menyebabkan obstruksi total

(Wiknjosastro, 1999). 2.3.6 Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostik dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain : 2.3..6.1 Papanicolaouw smear Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi sel kanker lebih awal pada pasien yang tidak memberikan keluhan. Sel kanker dapat diketahui pada sekret yang diambil dari porsio serviks. 2.3.6.2 Tes schiller Tes Schiller atau tes pengecatan dengan yodium ialah tes yang digunakan untuk mengenal kanker serviks lebih dini. Tes ini didasarkan pada sifat epitel serviks yang berubah menjadi berwarna coklat gelap atau tua jika terkena larutan yodium.

23

2.3.6.3 Sitologi Pemeriksaan sitologi merupakan cara laboratorium yang menilai perubahan morfologi sel yang terlepas. Bahan diambil dari endoserviks dan ektoserviks atau lebih baik lagi jika bahan diambil dari ektoserviks, endoserviks dan forniks belakang. 2.3.6.4 Kolposkopi Adalah alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-40 kali. Kolposkopi akan menentukan ada tidaknya daerah abnormal dan menentukan pula posisi abnormal tersebut. 2.3.6.5 Kolpomikroskopi Cara ini merupakan cara penilaian sel invito dengan pembesaran 200 kali karena abnormalitas pada neoplasma yang terlihat dengan pembesaran umumnya terlihat pada inti sel. Maka inti sel harus diwarnai terlebih dahulu dengan biru tolvidin 1%. Dalam 20-30 detik inti sel akan mengambil zat warna. Zat warna yang tersisa dibersihkan dengan larutan garam fisiologik dan pemeriksaan dapat segera dimulai dengan menyentuh ujung alat ke serviks. 2.3.6.6 Biopsi Sebagai suplemen terhadap sitologi, daerah tempat diadakan biopsi berdasarkan hasil pemeriksaan kolposkopi. Kalau perlu diadakan multiple punah biopsi atau kuretase serviks. Dengan biopsi dapat ditentukan jenis caranya.

24

2.3.6.7 Konisasi Dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tampak kelainan-kelainan yang jelas. Untuk sayatan pada ektoserviks dibuat dengan pisaubukan dengan elektrocauter. Pisau yang memotong daerah serviks diarahkan ke daerah sedikit di bawah serviks. 2.3.7 Pencegahan Daripada menderita dan mengobati suatu penyakit, lebih baik mencegah terjadinya penyakit tersebut selama hal tersebut dapat dilakukan. Pencegahan terjadinya kanker serviks dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain : 2.3.7.1 Membiasakan hidup sehat terutama sejak kecil dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi dan tidak mengandung zat karsinogenik 2.3.7.2 Selalu menjaga kebersihan genetalia dengan cara melakukan teknik vulva hygiene secara tepat, membersikan vagina segera setelah melakukan hubungan intim 2.3.7.3 Menghindari kebiasaan merokok dan minum alkohol 2.3.7.4 Tidak berganti-ganti pasangan seksual 2.3.7.5 Tidak melakukan hubungan seksual di usia muda (kurang dari 18 tahun) 2.3.7.6 Sebaiknya lakukan Paps Smear setiap enam bulan sejak melakukan hubungan seksual pertama kali

25

2.7.8 Penanganan Terapi karsinoma serviks dilakukan bilamana diagnosis telah dipastikan secara histologik dan sesudah dikerjakan perencanaan yang matang oleh tim yang sanggup melakukan rehabilitasi dan pengamatan lanjutan (tim kanker / tim onkologi). Pada tingkat klinik (KIS) tidak dibenarkan dilakukan

elektrokoagulasi atau elektrogulgerasi, bedah krio (cryosurgery) atau dengan sinar laser, kecuali bila yang menangani seorang ahli dalam kolposkopi dan penderitanya masih muda dan belum mempunyai anak. Dengan biopsi kerucut (conebiopsy) meskipun untuk diagnotik, sering menjadi terapeutik. Ostium uteri internum tidak boleh sampai rusak karenanya. Bila penderita telah cukup tua, atau sudah mempunyai anak, uterus tidak perlu ditinggalkan, agar penyakit tidak kambuh (relapse) dapat dilakukan histerektomi sederhana (simple vaginal hysterectomy). Pada tingkat klinik IA, umumnya dianggap dan ditangani sebagai kanker yang invansif. Bilamana kedalaman invasi kurang dari atau hanya 1 mm dan tidak meliputi area yang luas serta tidak melibatkan pembuluh limfa atau pembuluh darah, penanganannya dilakukan seperti pada KIS di atas. Pada klinik IB dan IIA dilakukan histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul. Pasca bedah biasanya dilanjutkan dengan penyinaran, tergantung ada/tidak adanya sel tumor dalam kelenjar limfa regional yang diangkat.

26

Pada tingkat IIB, III dan IV tidak dibenarkan melakukan tindakan bedah, untuk ini dilakukan tindakan primer yaitu radioterapi. Sebaiknya kasus dengan karsinoma serviks secepatnya dikirim ke pusat

penanggulangan kanker, di mana berkumpul para pakar onkologi yang berpengalaman dan tersedianya sarana yang mutakhir. Pada tingkat klinik IVA dan IVB penyinaran hanya bersifat paliatif. Pemberian khemoterapi dapat dipertimbangkan. Pada penyakit yang kambuh satu tahun sesudah penanganan lengkap, dapat dilakukan operasi jika terapi terdahulu adalah radiasi dan prosesnya masih terbatas pada tanggul. Bilamana proses sudah jauh atau operasi tak mungkin dilakukan, harus dipilih khemoterapi bila syarat-syaratnya terpenuhi (Wiknjosastro, 1999).

27

2.3 Kerangka Konseptual dan Hipotesis 2.3.1 Kerangka Konseptual Teknik Vulva Hygiene Wanita dengan Kejadian Kanker Serviks Pengetahuan dan sikap wanita tentang vulva hygiene Faktor eksternal: 1. Sosial ekonomi 2. Teknik Vulva Hygiene yang 2. Teknik Vulva Hygiene yang kurang tepat kurat 3. Infeksi virus 4. Partner sex 5. Merokok 6. Kontrasepsi hormone dan IUD Kejadian Kanker Serviks Kebersihan Vulva / genetalia wanita

Faktor internal: 1. Usia 2. Paritas 3. Herediter

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Teknik Vulva Hygiene Wanita dengan Kejadian Kanker Serviks Keterangan : = Di teliti = Tidak diteliti (Azwar, 2005 dan Notoatmodjo, 2003)

28

Kerangka konseptual adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep lainnya dari masalah yang diteliti (Notoatmodjo 2002, 43). Berdasarkan kerangka konseptual teknik vulva hygiene wanita dengan kejadian kanker serviks dapat dijelaskan bahwa kanker serviks dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal di antaranya yaitu sosial ekonomi, teknik vulva hygiene yang kurang tepat, infeksi virus, partner seks, merokok dan pemakaian kontrasepsi hormon dan IUD. Faktor internal di antaranya yaitu usia, paritas, herediter. Teknik vulva hygiene yang kurang tepat merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian kanker serviks. Teknik vulva hygiene dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap wanita tentang vulva hygiene sehingga dapat mempengaruhi kebersihan vulva/ genetalia wanita. 2.3.2 Hipotesis Penelitian H0 : Tidak ada hubungan antara teknik vulva hygiene wanita dengan kejadian kanker serviks. H1 : Ada hubungan antara perilaku wanita tentang vulva hygiene dengan kejadian kanker serviks.

29

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian Desain penelitian adalah suatu yamg vital dalam penelitian, yang memungkinkan memaksimalkan suatu kontrol beberapa faktor yang bisa mempengaruhi validity suatu hasil, sebagai petunjuk penelitian dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian untuk mencapai suatu tujuan atau menjawab pertanyaan, dengan adanya suatu fakta sehingga meningkatkan hasil penelitian yang akurat sesuai dengan yang diharapkan (Nursalam dan Pariani, 2005). Berdasarkan jenis dan analisa data, penelitian ini merupakan penelitian analitik karena membahas hubungan antar paparan dan efek serta tidak ada intervensi yang dilakukan oleh peneliti (Purnomo W, 2005). Bila ditinjau dari waktunya, termasuk penelitian Cross Sectional karena variabel sebab atau resiko dan akibat atau kasus yang terjadi pada objek penelitian diukur atau dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan sekaligus (Notoatmodjo, 2005).

29

30

Terjadi kanker serviks Teknik vulva hygiene wanita yang benar Tidak terjadi Kanker Serviks Wanita Usia 3050 tahun yang dirawat di Ruang Kandungan RSUD Dr. Soetomo Teknik vulva hygiene wanita Terjadi Kanker Serviks Teknik vulva hygiene wanita yang salah Tidak terjadi Kanker Serviks

Gambar 3.1 Rancang Bangun Penelitian Hubungan Antara Teknik Vulva Hygiene Wanita dengan Kejadian Kanker Serviks

31

3.2 Kerangka Kerja Teknik vulva hygiene wanita dengan kejadian kanker serviks

Menentukan Populasi Wanita usia 30-50 tahun yang dirawat di Ruang Kandungan RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Menentukan sampling dengan purposive Sampling

Mengambil Sampel Wanita usia 30-50 tahun yang sesuai dengan kriteria sampel

Melakukan Pengumpulan data dengan checklist Melakukan Pengolahan data dengan cara editing, koding dan tabulasi

Menganalisis data

Menyajikan hasil

Gambar 3.2 Kerangka Kerja Teknik Vulva Hygiene Wanita dengan Kejadian Kanker Serviks

32

3.3

Lokasi dan Waktu penelitian

3.3.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini dilakukan di Ruang Kandungan RSUD Dr. Soetomo Surabaya. 3.3.2 Waktu penelitian. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2008 sampai Juni 2009. 3.4 Populasi, Sampel dan Sampling

3.4.1 Populasi Populasi adalah keseluruhan dari suatu variabel yang menyangkut masalah yang diteliti (Nursalam, 2001). Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian atau obyek yang diteliti (Notoatmodjo, 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah wanita yang berusia 30-50 tahun yang sudah menikah di Ruang Kandungan RSUD Dr. Soetomo Surabaya. 3.4.2 Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005). Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002). Dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel wanita yang berusia 30-50 tahun yang sudah menikah di Ruang Kandungan RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Secara statistik penentuan sampel ini tergantung pada jenis dan besarnya populasi (Notoatmodjo, 2005).

33

3.4.2.1 Teknik Pengambilan Sampel Teknik Pengambilan sampel penelitian ini adalah dengan cara purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel di antara populasi dengan yang dikehendaki peneliti (tujuan/masalah penelitian) sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2003). 3.4.2.2 Kriteria sampel Adapun kriteria sampel adalah sebagai berikut : 1. Wanita berusia 30-50 tahun yang dirawat di Ruang Kandungan RSUD Dr. Soetomo Surabaya. 2. Yang bersedia menjadi responden 3. 3.4.2.3 Besar Sampel Untuk menentukan besar sampel yang diteliti maka peneliti melihat jumlah populasi yang ada di lapangan. Jika populasi lebih dari 1000 bisa diambil 20-30% dan jika populasi kurang dari 1000 maka menggunakan rumus: Dapat membaca dan menulis

34

N n= N(d2)+1 Keterangan: n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi yaitu 60 d = Tingkat signifikan ( = 0.05) (Notoatmodjo, 2002) Maka besar sampel adalah : N n= N (d2) + 1 60 = 60 (0,052) + 1 60 = 60 (0,0025) + 1 60 = 0,15+ 1 60 = 1,15 = 52,17 53

35

3.4.3 Sampling Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam, 2003). Pemilihan sampel dengan purposive sampling adalah suatu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki Peneliti (tujuan/ masalah dalam penelitian), sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang dikenal sebelumnya. 3.5 Variabel Penelitian

3.5.1 Variabel Adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat alat ukur yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu misalnya umur, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, pengetahuan, pendapatan, penyakit dan sebagainya. (Notoatmodjo, 2005). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 3.5.1.1 Variabel Independen (variabel bebas) Variabel independen ini merupakan variabel yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel ini juga dikenal dengan nama variabel bebas artinya bebas dalam mempengaruhi variabel lain (Hidayat, 2007). Variabel independen dalam penelitian ini adalah tindakan vulva hygiene wanita.

36

3.5.1.2 Variabel Dependen Variabel Dependen ini merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variabel bebas. Variabel ini tergantung dari variabel bebas terhadap perubahan. Variabel ini juga disebut sebagai variabel efek, hasil, outcome, atau event (Hidayat, 2007). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian kanker serviks.

37

3.6 Definisi Operasional Tabel 3.1 Definisi Operasional hubungan antara teknik vulva hygiene dengan kejadian kanker serviks Variabel Teknik Vulva Hygiene Wanita Definisi Operasional Parameter Teknik atau cara 1.Cuci tangan membersihkan alat dengan sabun kelamin wanita bagian sebelum luar melakukan vulva hygiene 2.Menggunakan air bersih 3.Cara cebok yang benar 4.Ganti celana dalam minimal 2x sehari 5.Celana dalam yang menyerap keringat 6.Ganti pembalut minimal 2x sehari Terjadinya kanker 1. Terjadi kanker serviks serviks jika tertulis keluhan berupa keputihan berbau, perdarahan segera setelah Checklist 1.Teknik Vulva Hygiene Benar jika parameter 1,2,3 dilakukan 2.Teknik Vulva Hygiene Salah jika parameter 1,2,3 tidak dilakukan Alat Ukur Kriteria Skala Pengukuran Nominal

Kejadian kanker serviks

Lembar Pengumpul data

1.Terjadi kanker serviks 2.Tidak terjadi kanker serviks

Nominal

38

Lanjutan Tabel 3.1 senggama, nyeri pada perut bagian bawah dan pada pemeriksaan diagnostic menunjukkan hasil positif (+) 2. Tidak kanker serviks jika tidak tertulis keluhan seperti tersebut di atas dan pada pemeriksaan diagnostic menunjukkan hasil negatif (-) 3.7 Instrumen Penelitian Pada suatu penelitian dalam pengumpulan fakta atau kenyataan hidup (data) diperlukan adanya alat dan cara pengumpulan data yang baik sehingga data yang dikumpulkan merupakan data yang valid, reliable dan accurate. Pada penelitian ini menggunakan instrumen berupa checklist dan lembar pengumpul data. 3.8 Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

39

Data primer merupakan data langsung diperoleh dari pihak yang mempunyai wewenang dan bertanggung jawab terhadap data tersebut (Notoatmodjo, 2005). Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari checklist, sedangkan data sekunder diperoleh dari rekam medik. 3.9 Prosedur Pengumpulan Data Prosedur pengumpulan data adalah suatu proses pengumpulan karakteristik objek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam, 2003). Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data primer dengan menggunakan instrumen observasi checklist. 3.10 Prosedur Pengolahan Data Langkah-langkah pengolahan data adalah sebagai berikut : 3.10.1 Editing Editing adalah meneliti kembali catatan (data untuk mengetahui bahwa data itu cukup baik dan dapat disiapkan untuk keperluan proses berikutnya. Dalam editing akan diteliti kembali hal-hal : 1. 2. 3. Kelengkapan identitas pengisi Kelengkapan data Kelengkapan isian data dari checklist

40

3.10.2 Koding Koding adalah pekerjaan memindahkan data dari daftar checklist ke tabel rekapitulasi yang kemudian diubah menjadi angka-angka untuk mempermudah perhitungan selanjutnya. Benar = terjadi kanker serviks = kode 1 Salah = tidak terjadi kanker serviks = kode 2 3.10.3 Tabulasi Tabulasi adalah pengelompokkan data kedalam suatu tabel tertentu menurut sifat-sifat yang dimilikinya. Pada tahap ini data dianggap selesai diproses yang telah dirancang. Hasil pengisian checklist dan lembar pengumpul data dikumpulkan dan ditabulasi secara manual. Klasifikasi untuk hasil persentase data yaitu 0-25% sebagian kecil, 26-49% hampir seluruhnya, 50% setengahnya, 51-75% sebagian besar, 7699% hampir seluruhnya, 100% seluruhnya. 3.11 Analisis Data Analsis data dalam penelitian ini termasuk analisis bervariate dan menggunakan Kontingensi teknik (KK) analisis kualitatif yaitu dengan (C). Koefisien Koefisien

atau

Contingency

Coefficient

kontingensi digunakan apabila variable yang dikorelasikan berbentuk kategori. Koefisien kontingensi sangat erat hubungannya dengan ChiSquare dan dihitung dengan tabel kontingensi. Jika datanya telah dihitung dengan Chi-Square maka C dapat dengan mudah diketahui. Untuk

41

menghitung koefisien kontingensi, terlebih dahulu dihitung nilai ChiKuadrat yang diberi symbol 2 . Untuk penilaian teknik vulva hygiene, setiap jawaban dari responden akan diberi tanda contreng dan keterangan sesuai dengan kategorinya di setiap kolom. Dikatakan benar jika parameter 1,2,3 di dalam definisi operasional dilakukan dan dikatakan salah parameter 1,2,3 di dalam definisi operasional tidak dilakukan. Untuk kejadian kanker serviks diketahui data rekam medik kemudian data dikumpulkan pada lembar pengumpul data. Instrumen yang telah diisi dan diolah dengan cara tabulasi silang dalam bentuk prosentase (%) dan untuk mengetahui hubungan antara teknik vulva hygiene wanita dengan kejadian kanker serviks dengan menggunakan uji statistik Chi-Square. Uji statistik ini menggunakan table kontingensi 2x2 yang dipakai untuk menentukan degree of freedom (df) dari nilai kuadrat dari tabel. Banyaknya kolom (c) = 2 dan banyaknya baris (r) = 2, sehingga df = (c-1)(r-1) = (2-1)(2-1) = 1 Dengan kesalahan tipe 1 atau Level of Significance () = 0,05, sehingga 2 tabel = 3,841. Pada tabel kontongensi 2x2, nilai frekuensi harapan atau expected frecuencies tidak boleh kurang dari 5. Dengan hipotesis H1 diterima bila 2 hitung lebih dari 2 2 tabel (3,841), berarti ada hubungan yang bermakna antara dua variable tersebut

42

dan H1 ditolak bila 2 hitung 2 tabel, yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara dua variable tersebut. (Oij - Eij)2 Chi-Square (2) = Eij Keterangan : Oij : Frekuensi observasi pada baris dan kolom tertentu Eij : Frekuensi harapan pada baris dan kolom tertentu Selanjutnya, dengan menghitung koefisien kontingensi : 2 KK = 2 + N

3.12 Keterbatasan Untuk melaksanakan penelitian yang benar-benar akurat

memerlukan banyak waktu, biaya, tenaga, data yang akurat dan sebagainya. Namun dalam pelaksanaan penelitian ini mempunyai banyak keterbatasan. Adapun keterbatasan tersebut antara lain : 3.12.1 Yang berhubungan dengan waktu Adanya batasan waktu yang telah ditentukan membuat pelaksanaan penelitian harus segera diselesaikan. Oleh karena itu akan diusahakan sejumlah sample yang telah ditetapkan akan selesai diteliti dalam waktu yang telah ditentukan oleh institusi pendidikan. Karena keterbatasan waktu maka jumlah sampel yang akan diteliti menjadi terbatas.

43

3.12.2 Yang berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yaitu terbatasnya pengalaman peneliti, dimana penelitian ini menjadi pengalaman yang pertama. Oleh karena itu hasil akhir dari penelitian ini kemungkinan masih banyak kelemahannya dan perlu diteliti dan diuji kembali. 3.12.3 Pengumpulan data melalui cheklist memiliki kelemahan untuk tidak diisi apa adanya karena responden merasa malu untuk mendemonstrasikan di depan peneliti. 3.13 Etik Penelitian Dalam melakukan penelitian, peneliti mengajukan ijin kepada kepala Ruang Kandungan RSUD Dr. Soetomo untuk mendapatkan persetujuan dengan melampirkan proposal kemudian kuesioner dikirim ke subjek yang diteliti dengan menanyakan pada masalah etik yang meliputi : 3.13.1 Lembar Persetujuan Penelitian Diberikan pada responden dengan tujuan agar subjek mengetahui maksud penelitian serta dampak yang diteliti maka harus menandatangani lembar persetujuan. Jika subjek menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya. 3.13.2 Anonimity Untuk menjaga kerahasiaan identitas subjek, peneliti tidak akan mencamtumkan nama subjek tersebut hanya diberi nomor kode tertentu. 3.13.3 Confidentiality Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh subjek dijamin oleh peneliti (Nursalam, 2001).