Anda di halaman 1dari 50

Rhama Aprianto Eva Mahrani Asmary Muis Hindun Rahmawati Jian Marda Purnama Gremmy Agastya P.

(11216) (11234) (11235) (11237) LAPORAN RESMI (11256) PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH (11260) ACARA IV KONSISTENSI TANAH KUALITATIF

Disusun oleh:

Golongan / Kelompok: A3 / 5 Asisten: Imam Adityo Z. LABORATORIUM TANAH UMUM JURUSAN TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2008 1

ACARA IV KONSISTENSI TANAH KUALITATIF ABSTRAKSI


Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah Konsistensi Tanah Kualitatif dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 13 Maret 2008 di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Konsistensi Tanah Kualitatif merupakan salah satu sifat fisika tanah, yaitu sifat fisik tanah yang menunjukkan derajat adhesi dan kohesi zarah-zarah pada berbagai tingkat kelengasan. Tujuan Praktikum ini antara lain menetapkan konsistensi tanah dalam keadaan kering dan menetapkan konsistensi tanah keadaan basah. Konsistensi tanah penting dalam hal : menentukan cara pengolahan tanah yang baik atau jitu, penting bagi penetrasi akar tanaman di lapisan bawah dan kemampuan tanah menyimpan lengas. Untuk itu dilakukan pengujian konsistensi tanah kualitatif untuk menetapkan konsistensi tanah dalam keadaan kering dan dalam keadaan basah. Penetapan konsistensi secara kualitatif dilakukan di lapangan. Konsistensi basah ditentukan berdasarkan kelekatan dan plastisitas tanah yang diamati pada saat tanah dalam keadaan basah atau berada di atas kapasitas lapang. Konsistensi kering diukur dengan cara memecahkan agregat dalam keadaan kering dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk atau menggunakan tangan. Hasilnya menunjukkan bahwa konsistensi basah tanah yang diuji (entisol, alfisol, rendzina, ultisol, dan vertisol) dari yang sangat lekat dari sangat plastis adalah tanah vertisol diikuti oleh tanah ultisol, alfisol, rendzina, dan entisol. Sedangkan konsistensi kering dari tanah yang sangat keras adalah vertisol, rendzina, ultisol, alfisol, dan entisol. Dua faktor utama yang memepengaruhi konsistensi adalah 1. kondisi kelengasan tanah (kering, basah); 2. Tekstur tanah (terutama kandungan lempung).

I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Konsistensi tanah merupakan salah satu sifat fisika tanah yang penting untuk dipahami. Konsistensi tanah ditakrifkan sehingga bentuk kerja kakas (force) adhesi dan kohesi pada partikel-partikel tanah pada berbagai tingkat kelengasan. Bentuk kerja tersebut tercermin antara lain : i) ketahanan tanah terhadap gaya tekanan, gaya gravitasi dan tarikan ; ii) kecenderungan massa tanah untuk melekat satu dengan yang lain. Konsistensi berguna dalam menentukan cara pengolahan tanah yang baik/jitu yang penting bagi penetrasi akar tanaman di lapisan bawah dan kemampuan tanah menyimpan lengas. Untuk menentukan konsistensi tanah dapat dilakukan dalam 2 cara yaitu : 1) di lapangan (kualitatif) dan 2) di laboratorium (kuantitatif) berdasarkan angka-angka Attenberg. Penentuan konsistensi tanah sangat dipengaruhi oleh kelengasan tanah (basah, kering) dan tekstur tanah (terutama kandungan lempung). B. Tujuan Tujuan percobaan ini adalah menetapkan konsistensi tanah dalam keadaan basah dan menetapkan konsistensi tanah dalam keadaan kering.

II.Tinjauan Pustaka Konsistensi tanah adalah istilah yang berkaitan sangat erat dengan kandingan air yang menunjukkan manifestasi gaya-gaya fisika yakni kohesi dan adhesi yang ebrada di dalam tanah pada kandungan air yang berbeda-beda. Setiap materi tanah mempunyai konsistensi yang baik bila massa tanah itu besar atau kecil (sedikit), dalam keadaan ilmiah ataupun sangat terganggu, terbentuk agregat atau tanpa struktur maupun dalam keadaan lembab atau kering. Sekalipun konsistensi tanah dan struktur berhubungan erat satu sama lain, struktur tanah menyangkut bentuk ukuran dan pendefinisian agregat alamiah yang merupakan hasil dari keragaman gaya tarikan di dalam massa tanah. Sebaliknya konsistensi meliputi corak dan kekuatan dari gaya-gaya tersebut (Hakim et. al. 1986). Daya kohesi dan adhesi pada berbagai tingkat kelengasan tanah terhadap tekanan dari luar disebut konsistensi tanah. Hal ini diketahui karena mempunyai hubungan erat dengan sistem penggolongan tanah, efisiensi penggunaan air dan sifat perembesan air ke dalam tanah dan sifat fisik lainnya (Foth, 1998). Faktor-faktor yang mempengaruhi konsistensi tanah ialah (Notohadiprawiro, 2000): 1. kadar air tanah 2. Bahan bahan tanah 3. Bahan dan ukuran agregat tanah 4. Tingkat agregasi 5. Faktor-faktor penentu struktur tanah (tekstur, macam lempung, dan kadar bahan organik) Konsistensi tanah menunjukkan kekuatan daya tahan atau daya adhesi butir tanah dengan benda lain. Hal ini ditunjukkan oleh daya tahan terhadap gaya akan merubah bentuk atau gaya-gaya tersebut, misalnya pencangkokan, pembajakan dan sebagainya. Tanah-tanah yang mempunyai konsistensi baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah oleh karena itu dapat ditemukan dalam keadaan lembab, basah atau kering maka penyifatan konsistensi tanah harus disesuaikan dengan keadaan tanah tersebut. Besarnya adhesi ditentukan oleh tegangan permukaan pada tiap satuan bidang singgung dan luar bidang singgung. Akibatnya kekuatan adhesi menurun tajam pada 3 penyemen agregat

keadaan jenuh air, kekuatan adhesi hilang dan tanah berubah menjadi Lumpur (Notohadiprawiro, 2000). Batas-batas Atterberg / batas-batas konsistensi adalah persen berat kadar lengas tanah yang menandai terjadinya perubahan konsistensi secara nyata dan ditokrifkan jelas. Nilai-nilai ini terutama digunakan dalam pekerjaan rekayasa teknik, maupun secara terbatas juga digunakan dalam bidang pertanian (Euroconsult, 1989). Nilai-nilai Atterberg adalah (Anonim, 2008): 1. Batas liat atas (BLA) atau batas cair (BC) 2. Batas lekat (BL) 3. Surplus (S) 4. Batas liat bawah (BLB) atau batas gulung (BB) 5. batas berubah warna (BBW) atau batas kerut (BK) 6. jangka olah (JO) Struktur menentukan bentuk, ukuran, dan agregat alami tanah tertentu, konsistensi tanah tetap menentukan kekuatyan dan keadaan alami gaya-gaya di antara partikel. Konsistensi itu penting untuk dipertimbangkan dalam pengolahan tanah dan untuk kepentingan lalu lintas (Foster, 1981). III.METODOLOGI Praktikan Dasar-dasar Ilmu Tanah, Acara Konsistensi tanah Kualitatif ini dilaksanakan pada tanggal 13 MAret 2008 di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Adapaun bahan dan alat yang digunakan serta prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut : A. Konsistensi Basah 1. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu contoh tanah kering udara ukuran 2 mm dan aquades. Sedangkan alat yang digunakan yaitu piring dan sendok. 2. Cara Kerja 4

Mula-mulla diambil contoh kering udara ukuran diameter 2 mm (Mediteran, Latosol, vertisol, Rendzina maupun Regosol). Dibasahi masing-masing tanah tersebut dengan aquades secukupnya dan dicampurkan hingga homogen. Kemudian dibedakan kelekatan dan plastisitas masing-masing tanah dengan digosok-gosokkan antara jari telunjuk dengan ibu jari, atau dengan ditempelkan tanah tersebut ke suatu benda, dilihat apakah tanah tersebut ke suatu benda, dilihat apakah tanah tersebut mudah lepas atau tidak. B. Konsistensi Kering 1. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu contoh tanah agregat tidak terusik (bongkah) 2. Cara Kerja Mula-mula diambil tanah bongkah kemudian ditekan diantara ibu jari dan telunjuk. Jika tanpa ditekan hancur maka konsistensi agak kasar. Kemudian apabila ditekan antara telapak tangan dan ibu jari dengan kuat hancur maka konsistensi keras dan bila tidak hancur maka konsistensinya sangat keras. IV.HASIL PENGAMATAN 1. Konsistensi Basah No 1. 2. 3. 4. 5. Jenis Tanah Entisol Alfisol Ultisol Rendzina Vertisol Kelekatan + ++++ ++ +++ +++++ Plastisitas + +++ ++ ++++ +++++

2. Konsistensi Kering No 1. 2. 3. Jenis Tanah Entisol Alfisol Ultisol Kelekatan Lunak Agak keras Agak keras 5 Plastisitas + +++ ++

4. 5.

Rendzina Vertisol

Sangat keras Sangat keras

++++ +++++

Keterangan: + ++ +++ ++++ : Tidak lekat/plastis : Kurang lekat/plastis : Agak lekat/plastis : Lekat/plastis

+ + + + + : Sangat lekat/plastis V.PEMBAHASAN Pada Praktikum kali ini, digunakan lima jenis tanah, yaitu : Entisol, Alfisol, Rendzina, Ultisol, dan Vertisol. Data yang digunakan adalah data golongan, bukan data kelompok sehinmgga data semua sama. Telah kita ketahui bahwa tanah tersusun atas tiga fraksi; debu, pasir dan lempung. Tanah memiliki respon yang berbeda untuk tiap-tiap fraksi penyusunnya, tergantung pada susunan fraksi yang dominan pada jenis tanah tersebut. Metode yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah metode kualitatif. Yang memiliki keuntungan mudah, murah dan cepat, cocok untuk kami yang masih mahasiswa dan belajar, tetapi metode ini juga memiliki kekurangan, yaitu metode ini seharusnya dilakukan di laboratorium dan lapangan, tetapi kita hanya melakukannya di laboratorium memakai data sampel (sampel tanah yang disediakan). Sehingga data yang diperoleh juga bukan data kelseluruhan tetapi hanya data golongan yang dianggap mewakili, juga skala hasilnya yang kurang jelas. Dari praktikan ini diperoleh hasil bahwa kelekatan tanah menunjukkan keadaan adhesi tanah terhadap benda lain. Pada praktikum kali ini didapatkan hasil bahwa tanah vertisol memiliki kelekatan sekaligus plastisitas paling tinggi, setelah itu diikuti alfisol, rendzina, ultisol lalu entisol. Plastisitas merupakan kamampuan bahan tanah secara mudah dapat diubah bentuknya karena pengaruh dan tetap pada bentuk semula meski tekanan dilepaskan. Pada percobaan konsistensi kering, yaitu percobaan di mana kita mencari 6

konsistensi suatu jenis tanah dalam keadaan bongkah (agregat tidak terusik). Dalam keadaan bongkah ini hanya dapat diketahui konsistensinya, bukan kelekatan dan plastisitas, karena tidak mengandung air. Dari lima jenis tanah-tanah yang diuji, tanah vertisol memiliki konsistensi sangat keras, begitu juga dengan rendzina. Alfisol dan ultisol agak keras, sedangkan entisol lepas-lepas. Berdasarkan hasil praktikum yang diperoleh kita ketahui bahwa tanah yang memiliki tekstur lempung jauh lebih memiliki kelekatan/plastisitas lebih tinggi daripada debu, dan debu lebih tinggi daripada pasir. Sehingga dalam percobaan ini didapatkan hasil vertisol memiliki kelekatan dan plastisitas paling tinggi karena vertisol didominasi fraksi lempung, dan entisol memiliki kelekatan dan plastisitas paling kecil karena entisol didominasi fraksi pasir. Hal itu dapat terjadi karena tanah yang mengandung lempung, memiliki daya adhesi yang tinggi terhadap air (dalam hal ini air), sehingga mudah diubah bentuknya (liat), dan hal ini menyebabkan tanah memiliki ikatan massa yang luar biasa keras bila dalam keadaan kering (agregat tak terusik). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi konsistensi adalah: tekstur tanah, kadar lengas, jenis tanah, pH tanah, dan struktur tanah. Kaitan konsistensi terhadap sifat fisika tanah yang lain adalah dengan tekstur tanah, karena untuk bisa mengetahui konsistensi kita harus tahu tekstur tanah tersebut dan dari situ bisa diketahui apakah tanah tersebut didominasi oleh fraksi debu, pasir atau lempung. Tekstur tanah dan konsistensi tidak dapat dipisahkan karena hubungan saling timbal balik yang terjadi selain tekstur, konsistensi juga berkaitan dengan kadar lengas, karena kadar lengas digunakan untuk mengetahui konsistensi. Bisa dibilang bahwa sifat-sifat fisika tanah saling berhubungan satu sama lain, tidak ada yang berdiri sendiri, hanya saja berbeda dalam fungsinya. Dalam hal pengolahan bahan, jenis tanah lempung memiliki keuntungan tidak boros air, tetapi kerugiannya adalah tanah dengan tekstur lempung akan sulit dikelola pada keadaan basah ataupun terlalu kering, karena ketika basah dia lembek tetapi ketika kering dia sangat keras, memang tanah vertisol terkenal cukup subur, tetapi dalam budidayanya masih sangat kurang, karena membutuhkan peraltana modern dan biaya mahal. Demikian juga sebaliknya, pada tanah jenis pasir seperti entisol, pengelolaan tanahnya memang mudah tetapi tidak cocok untuk pertanian karena partikelnya mudah dihancurkan, sehingga boros air dan cepat kering. Konsistensi tanah berguna untuk pertanian sebagai contoh: saat ingin mengetahui 7

kelayakan tanah, apakah tanah tersebut cocok untuk bercocok tanam ataukah tidak. Konsistensi juga berguna untuk pengolahan lahan, dengan pengelolaan lahan yang benar bisa didapat hasil yang maksimal. Konsistensi juga dapat digunakan untuk mengetahui jenis tanah, masih banyak lagi fungsi konsistensi dalam pertanian, karena itu tugas kita saat ini sebagai mahasiswa pertanian diharapkan setelah mengetahui dapat mempertimbangkan solusi untuk masalah yang dihadapi dewasa ini, salah satunya dengan memanfaatkan Sumber Daya Alam yang ada di Indonesia ini. VI.KESIMPULAN 1. Urutan konsistensi kering: (dari kecil ke besar) Entisol, ultisol, alfisol, rendzina lalu vertisol dengan kriteria ; lunak, agak keras, sangat keras 2. Urutan kelejkatannya: (dari kecil ke besar) Entisol, ultisol, rendzina, alfisol, vertisol 3. Urutan plastisitasnya: (dari kecil ke besar) Entisol, ultisol, alfisol, rendzina ,vertisol 4. Faktor yang mempengaruhi konsistensi tanah a. Kondisi kelengasan tanah b. Tekstur tanah 5. Manfaat pengetahuan mengenai konsistensi tanah dalam pertanian: a. Mengetahui tersebut kelayakan cocok tanah, apakah tanah atau untuk pertanian

perkebunan,dengan mengetahui kelayakan tanah dapat ditentukan juga vegetasi yang cocok. b. Mengetahui jenis tanah, aplikasi selanjutnya berhubungan dengan struktur dan tekstur tanah. 6. Jenis tanah lempung lebih susah diolah dibandingkan dengan jenis tanah pasir, karena strukturnya mampat. 7. Semakin banyak kandungan pasir dalam tanah maka semakin rendah konsistensinya, begitu pula sebaliknya.

DAFTAR PUSTAKA Euroconsult. 1989. Agriculture Comperdium (Third Revised Edition). Elsever, Amstredam. Foster, R. 1981. Polysocchoroide in soil fabrics. Science. 214(6) : 605 607. Foth, H.D. 1988. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Hakim, N., N. Yusuf, A.M. Lubis, G.N. Sutopo , D. Amin, Ban Hong, Baileg. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung, Lampung. Notohadiprawiro, T. 2000. Tanah dan Lingkungan. Universitas gadjah mada, Yogyakarta.

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH ACARA V STRUKTUR TANAH

Disusun oleh: 1. Rhama Aprianto 2. Eva Mahrani 3. Asmary Muis 4. Hindun Rahmawati 5. Jian Marda Purnama 6. Gremmy Agastya Pratama (11216) (11234) (11235) (11237) (11256) (11260)

Golongan / Kelompok : A3 / 5 Asisten : Imam Adityo Z.

LABORATORIUM TANAH UMUM JURUSAN TANAH 10

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2008 ACARA V STRUKTUR TANAH ABSTRAKSI
Percobaan ini dilakukan untuk menetapkan kerapatan massa tanah (BV) danbutir tanah (BJ) serta untuk menetapkan porositas total tanah (n). Struktur tanah merupakan salah satu sifat tanah yang sangat menentukan kemampuan tanah untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Struktur tanah akan mempengaruhi regim udara dan air dalam tanah, antara hidrolik dan konsekuensinya pada pertumbuhan akar tanaman dan kegiatan biologi dalam tanah. Metode yang digunakan dalam penentuan struktur tanah adalah metode penentuan kuantitatif cara lilin dan piknometer. Bahan dan alat yang digunakan adalah tanah gumpalan kerung udara, tanah kering udara 2 mm dengan menggunakan jenis tanah yang berbeda-beda yaitu tanah Vertisol, tanah Rendzina, tanah Ultisol dan tanah Alfisol. Harga berat jenis tanah seharusnya lebih besar dari harga berat volume karena pembagi pada BV lebih sedikit dari BJ. Tanah Entisol memiliki berat jenis yang tinggi karena memiliki jenis mineral yang banyak. Dari hasil percobaan didapatkan bahwa BV tertinggi terdapat pada tanah Vertisol, BJ tertinggi pada tanah Entisol, sedangkan porositas total tanah tertinggi juga pada tanah Entisol. Hal ini berarti bahwa tanah Entisol mempunyai struktur yang paling remah, tanah Vertisol mempunyai agregat yang pejal (mampat), sehingga mempunya jumlah pori yang paling banyak.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada dasarnya tanah merupakan tubuh alam. Namun demikian banyak tanah yang memperlihatkan tanda-tanda pengaruh antropogen. Sebagai contoh struktur tanah berubahubah karena lalu lintas, susunan kimia tanah berubah karena irigasi dan pemupukan. Struktur tanah adalah bagian dari sifat fisika tanah. Struktur tanah merupakan unit-unit yang terdiri atas zarah (partikel-partikel) primer. Dengan kata lain struktur merupakan susunan zarah-zarah tanah yang saling berikatan membentuk agregat dengan bantuan bahan sementasi/perekat (misalnya humus, kapur, oksida besi/alumunium, dan sekresisekresi tumbuhan dan jasad renik. Dengan penentuan berat volume (BV), berat jenis (BJ) dan porositas total tanah (n) dapat membedakan antara struktur yang ada. Kaitannya dengan daya serap air, struktur tanah mempenaruhi karena berdasarkan dari pori-pori tanah, pori-pori tanah yang besar bermanfaat untuk aerasi dan infiltrasi, sedangkan pori-pori yang kecil untuk menyimpan lengas. B. Tujuan 11

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menetapkan kerapatan massa tanah (berat volume = BV), menetapkan kerapatan butir tanah (berat jenis = BJ) dan menetapkan porositas total tanah (n). II. TINJAUAN PUSTAKA Struktur tanah adalah penyusunan (arrangement) partikel-partikel tanah primer seperti pasir, debu dan lempung membentuk agregat-agregat yang satu agregat dengan agregat lainnya dibatasi oleh bidang belah alami yang lemah. Struktur horison-horison tanah sering berbeda satu dengan yang lainnya dan merupakan penciri yang penting dari sifat tanah, sama halnya dengan tekstur dan warna tanah. Struktur dapat memodifikasikan pengaruh tekstur dalam hubungannya dengan porositas, tersedianya unsur hara kegiatan jasad hidup dan pertumbuhan. Struktur tanah yang sempurna mampu memperbaiki sistem aerasi dan gerakan air ( Bale, 2001). Tipe-tipe struktur tanah diantaranya adalah pipih (lempeng), prismatik, tiang dan gumpal, butiran, dan remah. Tekstur dan struktur tanah keduanya berpengaruh langsung terhadap bentuk, ukuran, dan bagian volume pori-pori tanah. Struktur tanah mengatur keadaan khusus yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman misalnya aerasi, suhu, gerakan larutan tanah, kegiatan mikrobia, dan penetrasi akar ( Koorevaar, 1987). Telah banyak dilakukan usaha-usaha untuk memperbaiki struktur tanah antara lain dengan menambah bahan organik, pengolahan tanah dan pemberian zat pembenah tanah. Zat pembenah tanah adalah polimer-polimer (senyawa kimia) organik yang dapat diperoleh baik secara alami maupun secara buatan (sintetis). Telah terbukti bahwa beberapa zat pembenah tanah buatan sangat mempan memperbaiki dan memantapkan struktur tanah (Supriyanto, 1999). Getah mikrobia merupakan bahan yang sangat penting untuk menghasilkan agregasi tiga dari empat jenis tembaga. Besi oksida sangat penting dalam tiga jenis tanah. Struktur tanah merah tropika (oxisol) disusun terutama dari agregat-agregat ukuran pasir yang sangat stabil karena kandungan besi oksida yang tinggi. Subsoil mempunyai kandungan bahan organik yang rendah daripada permukaan tanah dan oksida besi dan mungkin cenderung menjadi bahan yang penting sebagai pengikat (Beasley, 1974). Proses yang terlibat dalam pembentukan struktur tanah ialah penjojotan dan agregasi dengan atau tanpa diikuti sementasi. Penjojotan adalah peristiwa elektrokinetik 12

pengendapan zarah tanah dari suspensi. Pengendapan terjadi karena zarah-zarah tanah mengelompok sehingga memperoleh massa yang lebih besar. Pengelompokkan dapat terjadi karena potensial zeta zarah-zarah tanah menurun yang menyebabkan kakas tolak antar zarah mengecil, sehingga kakas tarik gravitasi antar massa zarah dapat bekerja. Potensial zeta adalah muatan negatif zarah. Potensial ini dapat turun karena seluruh muatan negatif dinetralkan oleh kation yang terserap ( Notohadiprawira, 1998). Fase padat tanah terdiri dari partikel dengan ukuran terkumpul bersama dalam jalan yang berbeda-beda. Hasil struktur dan ukuran, bentuk dan penyusunan dari agregat-agregat dapat menjadi terpisah selama terjadi keretakan dan permukaan alami dari kelemahan yang dicatat sebagai dasar karakteristik tanah. Struktur yang telah didefinisikan itu termasuk ukuran, bentuk, dan penyusun agregat-agregat ketika partikel-partikel pertama dikelompokkan dalam unit terpisah yang luas. Agregat adalah bentuk dan ukuran yang irreguler tetapi tidak pernah dibedakan meskipun ada alasan untuk membedakannya yaitu : kekerasan yang sama, arah vertikal dan penyusun horisontal agregat-agregat atau struktur prisma. Lapisan berpori terbentuk karena adanya penghindaran celah saat partikel terkumpul dan karena gangguan saat memasukkan akar, hewan tanah, pembengkokan karena penyusutan dan perubahan cuaca ( Marshall dan Holmes, 1978). Berdasarkan tipenya, struktur tanah dibagi menjadi (Maas, 1996): 1. Tadak Berstruktur: a. Berbutir tunggal : tiap butiran bebas satu dengan lainnya, hal ini terdapat pada tanah pasiran. b. Pejal / masif : massa tanah bertaut satu dengan lainnya dengan tanpa ada bidang yang lebih rapuh, terutama tanah berbahan induk lempung. 2. Berstruktur: a. Granuler: partikel-partikel primer tergabung membentuk ped yang bundar. Ada rongga diantara ped sehingga tidak terjadi kontak permukaan yang menyatu. b. Remah: ikatan butiran tanah yang berbentuk amuba dan titik singgung satu ped dengan lainnya cukup banyak sehingga tidak berderai seperti struktur granuler. c. Lempeng: ukuran horizontal lebih besar dari ukuran vertikalnya, dibedakan ketipisannya seperti pembagian diameter struktur remah. d. Gumpal: ukuran horizontal dan vertikal sama besar. e. Tiang: bidang vertikal lebih besar dari bidang horizontalnya. 3. Struktur yang dihancurkan: pada umumnya adalah struktur lumpur yang biasa dijumpai 13

pada sawah. Ped-ped yang berukuran mikroskopik kebanyakan memberikan kemungkinan ruang udara antara ped itu lebih besar dibandingkan dengan ruang udara antar pasir, debu, dan partikel-partikel lempung. Peristiwa inilah yang merupakan pengaruh utama struktur terhadap hubungannya dengan pori-pori tanah. Gerakan udara dan air akan berlangsung dengan baik jika struktur tanahnya remah (Arnoud, 1972). Penyusunan dan pengorganisasian partikel-partikel tanah disebut struktur tanah. Sejak partikel-partikel dibedakan dari bentuk, ukuran, dan orientasi dan dapat diasosiasikan dalam bermacam-macam bentuk secara komplek dan irreguler konfigurasi yang mana sangat sulit jika tidak mungkin karakteristik bentuk geometri (Anonim, 2000). III. METODOLOGI Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah, Acara V Struktur Tanah dilaksanakan pada hari Kamis, 20 Maret 2008 di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Alat dan bahan serta prosedur yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah sebagai berikut: A. Kerapatan Massa Tanah (BV) Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu contoh tanah gumpalan kering udara. Sedangkan alat-alat yang digunakan antara lain cawan pemanas lilin, lampu spiritus, penumpu kaki tiga, tabung ukur, pipet ukur 10 ml, dan termometer. Prosedur yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: pertama diambil sebongkah tanah dan dibuat bola dengan kuku jari tangan, sedemikian sehingga dapat masuk ke dalam tabung ukur dengan longgar ( 1 - 1,5 cm). Setelah itu butir-butir tanah yang tertempel dipermukaannya dibersihkan secara hati-hati dengan kuas, kemudian tanah diikat dengan benang sehingga dapat digantung, lalu ditimbang (misal a gram). Lalu lilin dicairkan dalam cawan pemanas, kemudian suhunya diukur menggunakan termometer. Bongkah tanah dicelupkan ke dalam lilin pada suhu 60 70 C selama 5 detik (apabila suhu terlalu panas lilin dapar masuk ke dalam pori-pori tanah, jika terlalu lama pelapisan akan terlalu tebal). Setelah dingin, bongkah tanah berlilin tersebut ditimbang (misal b gram). Setelah itu tabung ukur diisi dengan air aquadest sampai volume tertentu (misal p ml), kemudian bongkah tanah berlilin dimasukkan perlahan-lahan (volume air aquadest akan naik), kemudian dicatat volumenya. Jika volume air tidak jelas, maka air 14

ditambahkan melalui pipet ukur sampai tepat digaris volume (misal q ml). Setelah itu dicatat berapa ml air aquadest yang telah ditambahkan dari pipet ukur (misal r ml). Terakhir, bongkah tanah diangkat dan tabung ukur dibersihkan. B. Kerapatan Butir Tanah (BJ) Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu contoh tanah kering udara 2 mm. Sedangkan alat-alat yang digunakan antara lain piknometer, kawat pengaduk halus, dan termometer. Prosedur yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut: Pertama piknometer kosong bersumbat ditimbang (misal a gram), kemudian diisi dengan tanah volume, lalu disumbat dan ditimbang (misal b gram). Langkah kedua, air aquadest ditambahkan sampai 2/3 volume, lalu agar udara yang tersekap hilang, diaduk dengan pengaduk kawat. Didiamkan selama 1 jam. Setelah itu suhu suspensi diukur (misal t1 C), kemudian BJ suspensi dibaca pada tabel BJ (misal BJ1). Diaduk-aduk lagi, kawat pengaduk dicuci dengan botol pancar, kemudian air ditambahkan secara perlahan-lahan sampai 2/3 leher pikno (jangan sampai tanah teraduk). Setelah itu disumbat hingga air aquadest dapat mengisi pipa kapiler sampai penuh. Dinding pikno dikeringkan dengan kertas tissu dari air yang menempel, kemudian ditimbang (misal c gram). Langkah berikutnya, isi pikno dibuang dan dibersihkan, kemudian piknometer diisi dengan aquadest sampai penuh dan disumbat. Diamati, air harus mengisi pipa kapiler sumbat. Lalu permukaan luar pikno dikeringkan dengan tissu dan pikno berisi air ditimbang (misal d gram), suhunya diukur (misal t2 C), dan dilihat BJ aquadest (misal BJ2) pada suhu tersebut di dalam tabel BJ. Terakhir, piknometer dibersihkan dan dikeringkan. IV. HASIL PENGAMATAN A. Tabel Hasil Pengamatan No 1. 2. 3. 4. Jenis Tanah Entisol Ultisol Alfisol Rendzina BV (g/cm3) 1,2 1,6 1,35 1,56 15 BJ (g/cm3) 2,164 1,892 1,995 1,96 15 32 21 n (%) 44

5.

Vertisol

1,71

1,314

-30

B. Contoh Perhitungan Tanah Vertisol 87 x a BV KL BV = [100 + KL] [0,87 (q p r) (b a)] = Kadar lengas contoh bongkah acara I = 87 x 5,20 (100 +13,293) [0,87 (43 40 0) (5,47 5,20)] = 452,4 265,1056 100 (b a) BJ1 BJ2 BJ = [100 + KL] [BJ1 (d a) BJ2 (c b)] KL BJ = = Kadar lengas contoh tanah 2 mm acara I 100 (46,50 23,75) 0,996 x 0,996 (100 + 12,995) [0,996 (48,73 23,75) 0,996 (56,23 46,50)] = 2256,836 1716,394 BV n = 1 BJ x 100 % = 1,314 g / cm3 g / cm3 = 1,71 g / cm3 g / cm3

16

1,71 n = 1 1,31 = -30 % V. PEMBAHASAN Struktur tanah adalah pengelompokkan butir-butir tanah tunggal menjadi bentuk agregat. Pada praktikum struktur tanah ini dilakukan analisis untuk mencari data guna menghitung Berat Volume (BV), Berat Jenis (BJ), dan Porositas Total Tanah (n) pada berbagai jenis tanah, antara lain tanah entisol, ultisol, alfisol, rendzina, dan vertisol. Untuk menentukan nilai berat volume digunakan metode lilin, yaitu membuat selaput lilin secara sempurna pada sebongkah tanah yang telah dihaluskan permukaannya, kemudian menimbang dan menghitung volumenya sehingga dapat dihitung nisbah antara berat bongkah yang telah diselimuti lilin dengan volumenya. Cairan lilin yang digunakan adalah yang bersuhu 60 70 C. Suhu tersebut merupakan suhu yang optimal pada percobaan ini karena lilin tidak menggumpal di permukaan tanah dan tidak juga meresap masuk kedaalm pori-pori tanah. Berat volume (BV) atau bulk density adalah berat bongkah tiap satuan volume total bongkah tanah dan dinyatakan dalam g/cm. Besarnya nilai BV beragam, tergantung dari komposisi dan proporsi penyusun-penyusun tanah seperti bahan organik dan mineralmineral tanah. Jika nilai BV semakin tinggi maka kemampatan dari suatu tanah juga tinggi akibatnya porositasnya menjadi rendah. Atau dapat pula dikatakan jika BV suatu tanah tinggi maka teksturnya halus dan dapat diturunkan nilai BV nya dengan cara menambahkan bahan organik yang dapat meningkatkan kegemburan tanah,sebaliknya jika nilai BV semakin rendah maka struktur tanah menjadi longgar. Nilai BV yang rendah dapat menyebabkan proses aerasi dan infiltrasi berjalan baik sehingga dapat mendukung pertumbuhan akar tanaman. Namun apabila nilai BV nya terlalu kecil maka unsur-unsur hara tanah akan terlindi jika terjadi hujan atau aliran air permukaan yang besar. Berat jenis (BJ) atau particle density merupakan perbandingan relatif antara berat padatan tanah dengan volume padatan ( tanpa volume pori tanah ) yang dinyatakan dalam g/cm atau kg/m. Fraksi penyusun tanah yang berpengaruh terhadap besarnya nilai BJ adalah jenis mineral tanah, jika tanah banyak mengandung: Mineral berat ( magnetik, garnet, Zircon ), maka BJ-nya > 2,75 g/cm 17 x 100 %

Tanah organik, maka BJ-nya < 2,45 g/cm. Porositas total tanah (n) adalah prosentase volume pori-pori terhadap volume

bongkah tanah. Tanah dengan struktur mampat, porositas totalnya akan rendah, tetapi bila strukturnya remah maka porositasnya tinggi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa porositas tanah bergantung pada banyak sedikitnya kandungan bahan organik dan jenis mineralnya. Dalam struktur tanah gaya yang bekerja adalah gaya kohesi dibanding gaya adhesi, oleh karena itu maka partikel tanah mempunyai bentuk, ukuran, dan derajat. Untuk megetahui kualitas struktur dapat dinyatakan melalui porositas, agregasi, kohesivitas, dan gaya permeabilitas. Dari hasil percobaan diperoleh berat jenis untuk tanah entisol adalah 2,164 g/cm, jadi dapat dikatakan bahwa tanah entisol banyak mengandung mineral berat. Sedangkan nilai berat volume tanah entisol adalah 1,2 g/cm, berdasarkan nilai tersebut maka dapat dikatakan bahwa tanah entisol memiliki jenis mineral kuarsa, feldspar, atau silikat dengan kandungan bahan organik yang tinggi (karena BJ kurang dari 2,45 g/cm). Sedangkan porositas total tanahnya adalah 44 %. Dengan kandungan bahan organik yang tinggi atau ketersediaan unsur hara yang tinggi maka kesuburan tanahnya tinggi. Namun konsistensi dari tanah bertekstur kasar biasanya rendah, sehingga bahan organiknya mudah terlindi yang dapat menyebabkan tanah miskin unsur hara. Pada tanah rendzina diperoleh berat jenis sebesar 1,96 g/cm, yang menandakan bahwa tanah ini juga banyak mengandung mineral kuarsa, feldspar, dan silikat. Sedangkan nilai BV dari tanah ini adalah 1,56 g/cm , maka tanah rendzina berstruktur lempunglempung atau berstruktur gumpal. Karena nilai BV nya berada diantara 1,3 1,8 g/cm maka strukturnya halus. Nilai porositas yang didapat dari nilai BJ dan BV adalah 21 % yang berarti bahwa tanah rendzina kurang mempunyai pori-pori didalamnya (mampat). Jadi laju aerasi dan drainase berjalan kurang. Keadaan ini hampir sama dengan tanah ultisol yang porositas total tanah lebih rendah, yaitu 15 %. Jadi, dapat dikatakan bahwa pori-pori dari tanah ultisol sangatlah sedikit. Hal ini tidak sesuai dengan keadaan aslinya di lapangan karena seharusnya ultisol memiliki struktur butir tunggal dan sifat konsistensi lepas-lepas. Penyimpangan saat mengukur BV dikarenakan karena nilai KL yang tidak benar juga saat pemansan lilin, suhunya terlalu tinggi atau terlalu rendah, ketika suhu lilin lebih rendah maka lilin yang menutup permukaan tanah berlebihan tetapi jika suhu lilin terlalu tinggi maka lilin akan masuk ke dalam pori-pori tanah, sehingga dapat mempengaruhi pengukuran BV. 18

Pada tanah vertisol didapat BJ tanah sebesar 1,314 g/cm yang berarti tanah ini berada pada lingkup tanah organik yang mempunyai kemungkinan untuk subur pada waktu-waktu selanjutnya, tetapi dengan BV 1,71 g/cm sehingga membuat porositas total tanah menjadi negatif (tidak mungkin), secara teoritis tanah vertisol memiliki jenis mineral berat dan berstruktur mampat, tetapi karena nilai KL yang tidak benar sehingga membuat nilai BJ menjadi salah. Selanjutnya nilai BV dari tanah alfisol adalah sebesar 1,35 g/cm yang menunjukkan bahwa tanah ini berstruktur pejal, tidak sesuai dengan kandungan utamanya yaitu pasir. Sedangkan nilai BJ tanah alfisol adalah 1,995 g/cm. Dari kedua nilai diatas diperoleh porositas total tanah alfisol sebesar 32 %, ini menunjukkan bahwa tanah alfisol memiliki porositas yang cukup tinggi dan itu berarti kerapatan bongkahnya sangatlah kecil, sesuai teksturnya yang pasir-pasir geluhan dengan struktur butir tunggal. Jadi, dapat dikatakan tanah alfisol berstruktur remah dengan pori tanahnya cukup besar, sehingga efisien dalam lalu lintas air dan udara. Dari perhitungan diperoleh BJ dari tanah ultisol adalah sebesar 1,892 g/cm sehingga mempunyai mineral jenis campuran antara mineral berat dengan bahan organik. Sedangkan nilai BV yang diperoleh untuk tanah ultisol adalah sebesar 1,6 g/cm yang menunjukkan bahwa teksturnya halus dengan kandungan bahan organik yang cukup tinggi. Dengan demikian tanah ultisol memiliki kandungan unsur-unsur hara yang tinggi. Dari nilai Bj dan BV diatas diperoleh nilai porositas dari tanah ultisol adalah 15 %. Nilai porositas ini terlalu kecil untuk tanah ultisol yang seharusnya mempunyai porositas cukup besar atau lebih besar dari nilai porositas total tanah rendzina. Bila mengikuti hasil perhitungan ini, kandungan pori-pori pada tanah rendzina besar, tetapi pada kenyataannya karena sifat lempung yang dimiliki, maka kandungan pori-porinya sangatlah sedikit . Jadi dampak dari kesalahan pada proses pemberian lilin dari tanah vertisol juga mempengaruhi hasil umum dari tanah-tanah lain yang juga diamati.

19

VI. KESIMPULAN 1. Nilai BV berdasarkan urutan yang paling tinggi adalah tanah Vertisol, Ultisol, Rendzina, Alfisol, dan Entisol. 2. Nilai BJ berdasarkan urutan yang paling tinggi adalah tanah Entisol, Alfisol, Rendzina, Ultisol, dan Vertisol. 3. Porositas Total Tanah berdasarkan urutan tertinggi adalah tanah Entisol, Alfisol, Rendzina, Ultisol, dan Vertisol. 4. Semakin tinggi nilai BV maka semakin mampat struktur suatu tanah. 5. Semakin tinggi nilai BJ maka semakin tinggi pula kandungan mineralnya. 6. Semakin tinggi porositas total tanahnya maka struktur tanahnya semakin porous atau berpori banyak.

20

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2000. Struktur Tanah. <http://www.iptek.net.id>. Diakses tanggal 23 Maret 2008. Arnoud, R. J. 1972. Capacity of cherozemic soil. Journal of Soil Science 4(6) : 124-126. Bale, A. 2001. Ilmu Tanah I. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Beasley, R. P. 1974. How much does crasin cost. Soil Survey Horizon 15(1) : 8-9. Koorevaar, D.,G. Menelik and C. Dirksen. 1987. Element of Soil Physics. Development in Soil Science 13 (Anasir Fisika Tanah Perkembangan di Dalam Ilmu Tanah 13, Alih Bahasa B.D. Kertonegoro dan S. Soetarmodjo). Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Marshall, T. J., and J. W. Holmes. 1978. Soil Physics. Cambridge University, Cambridge. Notohadiprawiro, T. 1998. Tanah dan Lingkungan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Supriyanto, N. 1999. Pengkajian lateks alam sebagai zat pembenah tanah dalam usaha perbaikan struktur pada tanah entisol dan ultisol. Agr UMY 8(1) : 1-5.

21

LAMPIRAN DATA GOLONGAN A3 Keterangan: a = berat bongkah tanah yang diikat. b = berat bongkah tanah berlilin. p = volume air aquadest. q = volume penambahan air aquadest. r = volume air aquadest yang ditambahkan dari pipet ukur. I. Menentukan kerapatan massa tanah (berat volume = BV)
Kriteria BV a b p q r Entisol 1,609 g 1,767 g 36,8 ml 35 ml Alfisol 2,73 g 3,29 g 32,5 ml 30 ml Ultisol 1,38 g 1,57 g 21 ml 20 ml Rendzina 2,102 g 2,361 g 31,2 ml 30 ml Vertisol 5,20 g 5,47 g 43 ml 40 ml

87 x a BV = (100 + KL) [0,87 (q p r) (b a)] 1. Tanah Entisol 87 x 1,609 BV = (100 + 1,6) [0,87 (36,5 35) (1,767 1,609)] 139,98 BV = 116.5352 2. Tanah Alfisol BV = = 237,51 87 x 2,73 (100 + 8,87) [0,87 (32,5 30) (3,29 2,73)] = 1,35 g / cm3 22 = 1,2 g / cm3 g / cm3

175.8251 3. Tanah Ultisol BV = 87 x 1,38 (100 + 10,065) [0,87 (21 20) (1,57 1,38)] = 120.06 = 1,6 g / cm3 74.8442 4. Tanah Rendzina BV = = 182,874 88,234 5. Tanah Vertisol BV = = 452,4 265,106 II. Menentukan kerapatan butir tanah (berat jenis = BJ)
Kriteria BJ a b c d t1 t2 Entisol 25,032 g 54,367 g 91,330 g 75,146 g 27 C 28 C Alfisol 28,284 g 53,572 g 91,839 g 78,005 g 27 C 28 C Ultisol 25,954 g 38,804 g 58,218 g 51,318 g 27 C 29 C Rendzina 21,348 g 35,804 g 54,351 g 45,929 g 29 C 29 C Vertisol 23,75 g 46,50 g 56,23 g 48,73 g 28 C 30 C

87 x 2,102 (100 + 12,4) [0,87 (31,2 30) (2,361 2,102)] = 1,56 g / cm3

87 x 5,20 = 1,71 g / cm3

(100 + 13,293) [0,87 (43 40) (5,47 15,20)]

100 (b a) BJ1 BJ2 BJ = (100 + KL) [BJ1 (d a) BJ2 (c b)] 1. Tanah Entisol 23 g / cm3

100 (54,367 25,032) 0,997 x 0,996 BJ = (100 + 2,4) [0,997 (75,146 25,032) 0,996 (91-330 54,367)] 2912,965 BJ = 2. BJ = 1346,34 = 2,164 g / cm3 Tanah Alfisol 100 (25,288) 0,993 (100 + 9,83) [0,997 (78,005 28,284) 0,996 (91,839 53,573)] = 2511,13 1258,43 3. Tanah Ultisol BJ = 100 (12,85) 0,993 (100 + 13,235) [0,997 (25,364) 0,996 (19,414)] = 1276,005 674,2 4. Tanah Rendzina BJ = = 1434,04 1258,65 5. Tanah Vertisol BJ = 100 (22,75) 0,992 (100 + 12,995) [0,996 (24,98) 0,996 (9,73)] = 1,314 g / cm3 100 (14,456) 0,992 (100 + 13,24) [0,996 (45,929 21,348) 0,996 (54,351 35,804)] = 1,96 g / cm3 = 1,89 g / cm3 = 1,995 g / cm3

III.
Jenis

Menentukan porositas total tanah (n)


BV BJ

24

Tanah Entisol Alfisol Ultisol Rendzina Vertisol

g / cm3
1,2 1,35 1,6 1,56 1,71

g / cm3
2,164 1,995 1,892 1,96 1,314

BV n = 1BJ 1. Tanah Entisol 1,2 n = 12,164 = 44 % 2. Tanah Alfisol 1,35 n = 11,995 = 32 % 3. Tanah Ultisol 1,6 n = 11,892 = 15 % 4. Tanah Rendzina 1,56 n = 11,96 = 21 % 5. Tanah Vertisol 1,71 n = 11,314 25 x 100 % x 100 % x 100 % x 100 % x 100 % x 100 %

= -30 %

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH ACARA VIII REAKSI TANAH (pH TANAH) 26

Disusun oleh: 7. Rhama Aprianto 8. Eva Mahrani 9. Asmary Muis 10. Hindun Rahmawati 11. Jian Marda Purnama 12. Gremmy Agastya Pratama (11216) (11234) (11235) (11237) (11256) (11260)

Golongan / Kelompok : A3 / 5 Asisten : Imam Adityo Z.

LABORATORIUM TANAH UMUM JURUSAN TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2008

27

ACARA VII REAKSI TANAH (pH TANAH)

ABSTRAKSI
Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah Acara VII yaitu Reaksi Tanah kali ini dilaksanakan pada hari Kamis, 27 Maret 2008 di Laboratorium Tanah Umum Jurusan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Pada percobaan kali ini menggunakan lima macam tanah, yaitu Entisol, Vertisol, Alfisol dan Rendzina. Cara kerja yang dilakukan pertama kali adalah menimbang contoh sampel tanah masing-masing sebanyak 5 gram, dengan dibuat dua kali ulangan, kemudian dimasukkan dalam cepuk pH. Setelah itu ditambahkan air aquadest sebanyak 12,5 ml. Kemudian diaduk secara merata dan didiamkan selama 30 menit, lalu pH diukur dengan pH meter. Langkah tersebut diulangi kembali dengan menggunakan KCl. Dari percobaan ini akan didapatkan pH aktual dan pH potensial untuk masing-masing jenis tanah. pH aktual tanah Entisol 6,05; Vertisol 7,15; Alfisol 6,345; Ultisol 5,91; dan Rendzina 6,19. Sedang pH potensial tanah Entisol 4,94; Vertisol 5,81; Alfisol 5,23; Ultisol 4,05; dan Rendzina 5,23. Pada percobaan kali ini digunakan metode analisis elektrometri. Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pH tanah yang paling tinggi adalah Vertisol dan yang paling rendah adalah pH Rendzina. Ini terjadi karena tanah Vertisol banyak mengandung Ca dan Mg yang tinggi. pH aktual dan selalu lebih rendah dari pH potensial.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang pH tanah atau yang sering disebut dengan keasaman tanah merupakan sifat kimia tanah yang merupakan keseimbangan asam-basa dalam larutan tanah. Pelapukan juga beperan dalam menjaga reaksi tanah (pH). Nilai pH tanah sangat beragam tergantung pada jenis tanah yang ada. Faktor-faktor yang mempengaruhi keragaman pH adalah bahan induk, iklim, bahan organik dan perlakuan manusia. Masalah yang melatarbelakangi acara ini adalah apabila tanah ditanami terus menerus akan menyebabkan merosotnya kadar bahan organik tanah. Penurunan kadar bahan organik tanah ini lebih dari 40% sehingga sudah berbahaya sekali karena mengakibatkan produksi menurun. Mengingat peranan bahan organik tanah, tanah tidak saja hanya dipertahankan tapi juga harus ditingkatkan kesuburannya. Salah satunya adalah dengan menjaga reaksi tanah (pH) agar tetap netral, karena apabila netral semua unsur hara akan tersedia cukup tanah. Untuk mengetahui pH tanah ada dua cara yaitu dengan metode kalorimetri dan elektrometri. Kalorimetri merupakan metode penetapan pH tanah dengan menggunakan indikator warna kertas pH, pH stick dan pH universal. Sedang secara elektrometri yaitu dengan menggunakan pH meter (glass electrode).

28

B. Tujuan Tujuan praktikum kali ini adalah menetapkan pH H2O tanah (pH aktual) dan pH KCl tanah (pH potensial). II. TINJAUAN PUSTAKA

Reaksi tanah yang penting adalah masam, netral atau alkali. Pernyataan ini didasarkan pada jumlah ion H dan OH dalam larutan tanah. Bila dalam tanah ditemukan ion H+ lebih banyak dari ion OH- maka disebut masam. Bila ion H+ sama dengan ion OHdisebut alkalin. Bila konsentrasi ion H+ bertambah maka pH akan turun, dan bila ion OHbertambah maka pH akan naik. Ion H+ lebih banyak diserap daripada ion OH-, maka ion H+ lebih dekat ke permukaan koloid, sedangkan ion OH- sebaliknya. Dengan demikian, pH lebih rendah di dekat koloid daripada tempat yang jauh dari koloid (Hakim, et al., 1986) Dalam tanah masam terdapat banyak ion H+ daripada OH- sebaliknya suatu tanah basa mempunyai lebih banyak ion OH daripada H+ dalam larutan tanahnya. Untuk mencirikan kondisi tersebut digunakan istilah pH tanah. Kebanyakan partikel lempung jenuh dengan hidrogen mengalami dekomposisi spontan (Tan, 1991). Faktor-faktor yang mempengaruhi keragaman pH tanah yaitu (Susilo et al., 2004): 1. Bahan Induk Bahan induk umumnya mendorong terbentuknya tanah bereaksi masam, sebaliknya bahan induk basis mendorong terbentuk tanah basis. 2. Iklim Iklim basah umumnya mendorong tanah menjadi asam, sedangkan tanah kering banyak tanah bereaksi basis. 3. Bahan Organik Tanah organik mempunyai pH rendah, akibatnya banyak asam-asam organik hasil proses humifikasi. 4. Perlakuan Manusia Pengaruh nyata akibat perlakuan manusia umumnya berupa penggunaan pupuk ataupun bahan amelioron lainnya. Kemasaman dan kebebasan tanah didayai oleh macam kation yang terserap pada muka zarah-zarah koloid. Kation-kation utama yang terserap ialah Al3, H, Na, K, Ca dan Mg. Ketika lebih banyak ion Al dan H+ yang terserap, maka pH tanah menurun. Ketika ion 29

basa lebih banyak terserap, maka pH tanah meningkat (Coleman, 1967). Reaksi akar dan jasad penghuni tanah serta perombakan bahan organik menghasilkan CO2. Penggabungan CO2 (termasuk yang berasal dari udara) dengan air menghasilkan asam karbonat. Perombakan bahan organik juga menghasilkan asam-asam organik. Hidrolis Al membentuk ion Al terhidrat yang merupakan donor proton (ion H+) dan dengan demikian dapat memasamkan tanah. Peran seperti ini juga dijalankan oleh ionion logam lain bermuatan tiga atau lebih yang terhidrat (Tan, 1994). Lewat pengaruhnya atas ketersediaan/keterlarutan/mobilisasi unsur N, S, P, Cu, Zn, Al, Fe dan Mn. pH berpotensial menjadi faktor penting pencemaran lingkungan. Mobilisasi N dan P dapat menimbulkan etrofikasi badan air, mobilisasi S dapat menyebabkan pemasaman badan air. Logam ion Cu, Zn, Al, Fe, dan Mn dalam keterlarutan meningkat dapat meracuni makanan tanaman, jasad penghuni tanah, dan biota air. Tanah yang sangat masam atau sangat basa berdaya merusak (Alloway and Ayres, 1994). Penentuan pH tanah dapat dikerjakan secara elektrometrik dan kalorimetrik, baik di dalam laboratorium maupun di lapangan. Elektrometrik reaksi tanah ditentukan dengan pH meter Beckman, sedangkan kalorimetrik dapat dikerjakan dengan kertas pH, pasta pH dan larutan universal (Anonim, 2008).

30

III. METODOLOGI Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah acara VIII Reaksi Tanah (pH tanah) dilaksanakan di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada pada hari Kamis, 27 Maret 2008. Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain pH meter dan 2 buah cepuk pH. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu contoh tanah kering udara halus 0,2 mm. Prosedur yang digunakan dalam percobaan ini yaitu, pertama diambil contoh tanah kemudian ditimbang sebanyak 5 gram (dibuat 2 ulangan) dan dimasukkan ke dalam cepuk pH, kemudian ditambahkan air aquadest sebanyak 12,5 ml. Langkah kedua, tanah tersebut diaduk sampai merata dan didiamkan selama 30 menit, kemudian pH diukur dengan pH meter. Langkah tersebut diulangi dengan menggunakan KCl.

IV. HASIL PENGAMATAN

Jenis Tanah Entisol Alfisol Ultisol Rendzina Vertisol

H2O A 6,22 6,36 6,00 6,28 7,09

H2O 5,88 6,33 5,82 6,10 7,21

KCl 4,97 5,25 4,00 5,13 5,83

KCl 4,93 5,21 4,10 5,33 5,79

Jenis Tanah Entisol Alfisol

pH H2O rerata 6,05 6,345

t H2O rerata 21,35C 21,15C 31

pH KCl rerata 4,94 5,23

t KCl rerata 21,20C 21,10C

Ultisol Rendzina Vertisol

5,91 6,91 7,15

21,10C 21,55C 21,65C

4,05 5,23 5,81

21,10C 21,75C 21,65C

V. PEMBAHASAN

Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah, acara VIII Reaksi Tanah (pH Tanah) bertujuan menetapkan pH H2O) tanah dan pH KCl tanah. Penentuan pH tanah sangat diperlukan dalam klasifiksi dan pemetaan tanah. Ada dua metode yang biasa digunakan dalam menentukan nilai pH, kalorimetri dan elektrometri, tetapi dalam praktikum kali ini metode yang digunakan adalah elektrometri dengan menggunakan pH meter, karena dirasa lebih akurat daripada kalorimetri. Pada umumnya reaksi tanah yang berhubungan dengan konsentrasi ion H+ (kation) dan ion OH- (anion), tanah bersifat masam bila pH < 6,5 dan bersifat basa bila pH > 6,5. Nilai pH tanah sangat beragam, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi nilai pH adalah bahan induk, iklim, bahan organik, dan perlakuan manusia. Bahan untuk masam umumnya mendorong terbentuknya tanah bereaksi masam, dan sebaliknya bahan induk basis akan membentuk tanah basis. Pengaruh iklim basah umumnya akan mendorong berkembangnya tanah masam, sedangkan di daerah iklim kering banyak dijumpai tanah bereaksi basis. Tanah organik mempunyai nilai pH yang rendah oleh akibat banyaknya asam-asam organik hasil proses humifikasi. Sedangkan pengaruh manusia memang dapat mendorong perubahan pH tanah, namun pengaruhnya tidak setajam ketiga faktor tersebut. Pengaruh nyata akibat perlakuan manusia umumnya berupa penggunaan pupuk ataupun bahan amelioran lain. Bila pupuk yang digunakan dalam kurun waktu yang lama mempunyai sifat fisiologi maka akan cenderung menurunkan pH, dan sebaliknya bila sering menggunakan bahan amelioran yang bersifat basis (kapur) maka akan terjadi proses peningkatan pH tanah. pH optimal menurut ilmu kimia tanah, adalah pH yang menciptakan kondisi optimum ketersediaan hara tanaman yaitu pH 6,5. Selain itu ada kadar faktor yang mempengaruhi pH tanah yaitu: Pencampuran bahan lain, komponen tanah dan pH suspensi air tanah. Dari percobaan yang dilakukan, diperoleh hasil yaitu rerata pH H2O untuk Entisol = 6,05; Vertisol = 7,15; Alfisol = 6,345; Ultisol = 5,91; Rendzina = 6,19. Vertisol memiliki pH paling tinggi yaitu 7,15. Hal itu dimungkinkan karena kejenuhan basa yang lebih dari 100%. Kejenuhan basa juga mencerminkan perbandingan kation basa dengan kation 32

hidrogen dan aluminium. Semakin kecil kejenuhan basa, maka semakin masam pula reaksi tanahnya, begitu pula sebaliknya. Faktor lain yaitu karena adanya sifat misel. Sifat misel yang berbeda-beda dalam mendisosiasikan ion H terjerap menyebabkan pH tanah berbeda pada koloid yang berbeda, walaupun kejenuhan basanya sama. Macam kation yang terjerap juga mempengaruhi nilai pH tanah karena koloid yang mengandung Natrium (Na) lebih tinggi mempunyai nilai pH yang lebih tinggi pula pada kejenuhan basa yang sama. Sedangkan pH H2O paling rendah adalah Ultisol = 5,91. Dari percobaan pH KCl didapatkan hasil yaitu: Entisol = 4,94; Alfisol = 5,23; Ultisol = 4,05; Rendzina = 5,23; Vertusol = 5,81. Hasil pH KCl (pH potensial) lebih rendah daripada pH H2O (pH aktual), hal ini disebabkan karena KCl mendesak ion H+ dalam larutan tanah dan kompleks jerapan tanah, sedangkan H2O hanya mendesak ion H+ dalam jerapan tanah. Berdasarkan data hasil percobaan dapat ditarik kesimpulan bahwa tanah yang paling asam untuk pH aktual sekaligus pH potensial adalah tanah ultisol. Sedangkan tanah yang paling basa adalah Vertisol. Dari data yang didapat, tanah yang paling cocok untuk digunakan dalam budidaya tanaman adalah jenis tanah Alfisol karena memiliki pH yang mendekati 6,5 (pH optimal). Hasil analisis kesuburan tanah baik fisik maupun kimia di Laboratorium dapat dipergunakan sebagai salah satu dasar untuk menggambarkan kapasitas tanah dalam menyediakan unsur-unsur bagi tanaman. Dalam upaya perbaikan kesuburan kimiawi tanah, haruslah diperbaiki reaksi tanah (pH), persediaan dan kesetimbangan hara dalam tanah, kebutuhan tanaman akan hara untuk mencapai produksi maksimal dan dosis serta cara pemberian pupuk, keadaan fisik dan aerasi tanah. Meskipun kesuburan tanah itu bersifat dinamis, yaitu unsur hara yang tersedia dipakai oleh tanaman, maka cadangan yang mulamula tidak tersedia bagi tanaman akan selalu kembali ke dalam bentuk yang tersedia, tetapi tingkat kesuburannya tidak selalu menunjukkan kemampuan untuk menyediakan unsurunsur hara yang tersedia bagi tanaman dalam jumlah yang cukup. Ditinjau dari susut kesuburan kimiawi, usaha peningkatan hasil melalui pemupukan relatif lebih mudah jika dibandingkan dengan mengadakan usaha perbaikan sifat fisik tanah. Untuk itu diperlakukan analisis kesuburan tanah dan penelitian untuk mendapatkan pupuk yang paling cocok. Kemasaman yang terukur pada pH aktual adalah ion H+ yang terdapat dalam larutan tanah, sedangkan pH potensial ialah ion H+ yang terukur selain dalam larutan tanah juga dalam kompleks jerapan tanah. Pada pengukuran pH aktual bahan pendesaknya adalah 33

H2O dan pH potensial bahan pendesaknya KCl. Dalam hal ini KCl mampu melepaskan ion H+ di dalam jerapan tanah menjadi H bebas. Sedangkan H2O tidak dapat membebaskan ion H+, sehingga pengukuran pH potensial jumlah H akan lebih rendah dibandingkan pH aktual. Adapun bila tanah dalam kondisi asam/terlalu basa, bisa dilakukan cara untuk menaikkan/menurunkan pH tanah. Salah satunya adalah dengan pemberian pupuk, untuk itu perlu diperoleh hasil analisis kesuburan tanahnya dulu, karena tanpa hasil analisis kesuburan tanah tidak dapat diketahui pupuk yang cocok untuk tanah tersebut, apakah pupuk yang menggunakan bahan amelioran asam (menurunkan pH) atau amelioran kapur (menaikkan pH). VI. KESIMPULAN

1. Keragaman pH tanah dipengaruhi oleh bahan induk, iklim, bahan organik, dan perlakuan manusia. 2. Dari hsil percobaan didapat : rerata pH aktual terendah adalah jenis tanah Ultisol rerata pH aktual tertinggi adalah jenis tanah Vertisol rerata pH potensial terendah adalah jenis tanah Ultisol rerata pH potensial tertinggi adalah jenis tanah Vertisol 3. pH aktual lebih rendah daripada pH potensial. 4. Dalam peningkatan kesuburan kimiawi tanah, reaksi tanah (pH) juga merupakan salah satu faktor yang perlu dicermati. 5. Pupuk dapat menaikkan/menurunkan pH tanah. 6. pH optimal tanah adalah 6,5.

34

DAFTAR PUSTAKA
Alloway, B.J., and D.C. Ayres. 1994. Chemical Principles of Environtment Polution. Blackie Academic and Professional, London. Anonim. 2008. Reaksi Tanah. <http://www.Rudy et Topicities.com>. Diakses pada 1 April 2008 pukul 19.20 WIB. Coleman, N.T., and G.W. Thomas. 1976. Basic Chemistry of soil activity. Agronomi 12(1): 1-11. Hakim, N., M.Y. Nyekpa., A.M. Lubis., S.E. Nugroho., M.A. Diha, G.B. Hong, dan H.H. Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung, Lampung. Ton. K.H. 1991. Principles of Soil Chemistry. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Ton. K.H. 1994. Environmental Soil Science. Marcel Dekker, Inc, New York.

35

LAPORAN RESMI DASAR - DASAR ILMU TANAH ACARA IX PENETAPAN KAPUR DALAM TANAH

Disusun Oleh: 1. Rhama Apriyanto 2. Eva Mahrani 3. Asmary Muis 4. Hindun Rahmawati 5. Jian Marda Purnama 6. Gremmy Agastya Pratama Golongan / Kelompok Asisten (11216) (11234) (11235) (11237) (11256) ( 11260)

: A3 / 5 : Imam Adityo Z.

LABORATORIUM TANAH UMUM JURUSAN ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2008 36

ACARA IX PENETAPAN KAPUR DALAM TANAH ABSTRAKSI


Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah, Acara IX Penetapan Kapur dalam Tanah ini dilaksanakan pada tanggal 3 April 2008 di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan kandungan kapur pada beberapa jenis tanah. Kapur tanah berhubungan erat dengan sifat kejenuhan basa dan kapasitas tukar kation dalam tanah. Kedua sifat itu akan berpengaruh pada ketersediaan unsur hara yang diperlukan tanaman dan tingkat kesuburan tanah. Penentuan kapur tanah dilakukan dengan dengan metode calcimeter, yaitu menghitung CO2 yang dilepaskan setelah pelepasan setelah penambahan HCl pada tanah. Besar CO2 ini diperoleh dari selisih berat gabungan calcimeter, tanah dan HCl sebelum dan sesudah pemanasan. Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah 5 jenis tanah (Entisol, Vertisol, Alfisol, Ultisoldan Rendzina) dan HCL 2N sedangkan alat yang digunakan adalah timbangan analitik, pipet 5 ml dan 50 ml, buret dan statif, erlenmeyer 250 ml, hot plate, calcimeter api spirtus. Dari hasil percobaan diketahui bahwa tanah dengan kandungan kapur tertinggi ditempati oleh Rendzina kemudian Alfisol, Ultisol, Vertisol, dan terakhir adalah Entisol.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kapur banyak mengandung unsure Ca, tetapi pemberian kapur dalam tanah pada umumnya adal,ah bukan karena tanah kekurangan Ca, tetapi karena tanah terlalu bersifat masam, oleh karena itu, pH tanah perlu dinaikkan agar unsur-unsur hara seperti P mudah diserap oleh tanaman dan keracunan Al dapat dihindarkan. Keberadaan kapur dalam tanah akan mempengaruhi kejenuhan basa dan kapasitas pertukaran kation (KPK) tanah. Selain itu, banyak manfaat lain dari pengapuran tanah yaitu menaikkan pH tanah, koreksi salinitas, menyediakan Ca dan Mg bagi tanaman, menambah ketersediaan unsur-unsur P dan Mg, mengurangi keracunan Fe, Mn, dan Al, memperbaiki struktur tanah, serta memperbaiki pembentukan bintil-bintil akar. B. Tujuan Tujuan Praktikum kali ini adalah untuk menetapkan kandungan kapur yang terdapat pada berbagai jenis tanah dengan menggunakan metode calcimeter. II. TINJAUAN PUSTAKA

Batu kapur merupakan suatu bentuk karbonat campur dengan komponen utamanya CaO dan CO3. bentuk oksida CaO dihasilkan oleh pemanasan kalsium karbonat, dan melepaskan karbondioksida. Bentuk hidroksida kapur dihasilkan oleh "kapur mati" atau penambahan air pada bentuk-bentuk oksidanya (Foth, 1995). 37

Serapan dan pertukaran kation memegang peranan praktis yang sangat penting. Dalam penyerapan hara oleh tanaman, kesuburan tanah, rentan hara dan pemupukan. Kation yang terserap umumnya tersedia bagi tanaman melalui pertukaran dengan ion H+ yang dihasilkan oleh respirasi akar tanaman. Hara yang ditambahkan ke dalam tanah dalam bentuk pupuk akan ditahan oleh pemupukan koloid dan untuk sementara waktu terhindar dari pencucian. Kation-kation yang dapat mencemari air tanah dapat tersaing oleh kegiatan serapan koloid tanah. Oleh karena itu, kompleks serapan dianggap sebagai gudang kation dan memberi kapasitas penyanggaan kation dalam tanah tambahan pula, ia dapat memainkan peranan dalam membuat bahan kapur menjadi tersedia bagi pertumbuhan tanaman. Batu kapur kalsit atau CaC3 tidak larut dalam air. Sewaktu ditambahkan pada tanah masam (tanah dengan Al tinggi) batu bereaksi dengan H2O yang mengandung CO2 (Tan, 1982). Adanya kandungan kapur (CaC3) bebas di dalam tanah dapat diketahui dengan meneteskan asam klorida 10% (HCL 2N). Adanya percikan menandakan adanya kapur bebas, makin banyak percikannya maka makin banyak kandungan kapur dalam tanah. Reaksinya dituliskan sebagai berikut (Anonim, 2008): CaCO3 + 2 HCL CaCl2 + H2O + CO2

Secara umum pemberian kapur dalam tanah dapat mempengaruhi sifat fisik dan kimia tanah serta kegiatan jasad renik tanah. Bila ditinjau dari sudut kimia, maka tujuan pengapuran adalah untuk menetralkan kemasaman tanah dan untuk meningkatkan atau menurunkan ketersediaan unsur-unsur hara bagi pertumbuhan tanaman. Dalam melakukan pengapuran untuk kemasaman tanah perlu dipertimbangkan tentang macam sumber kemasaman bagi tanah dan sumber mana yang harus dinetralkan (Malherbe, 1965). Bahan-bahan kapur pertanian yang sering digunakan dalam mengurangi pemasaman tanah akan menaikkan pH tanah, yaitu kation kalsium (Ca) dan kation magnesium (Mg) dimana kedua kation itu dibentuk karbonat, oksida dan hidroksida. Selanjutnya senyawa-senyawa ini kita sebut kapur pertanian dengan nama kapur karbonat, kapur oksida dan kapur hidroksida atau biasa disebut dengan nama kapur tembok (Hakim et al., 1986). Pengaruh kapur terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman dapat ditinjau dari dua segi, yaitu (Viets, 1965): 1. Pengaruh langsung 38

Tambahan kapur akan menambah jumlah Ca dan Mg sebagai hara tanaman. 2. Pengaruh tidak langsung Perbaikan ciri dan sifat tanah meningkatkan serapan hara. Akibatnya pertumbuhan dan produksi tanaman akan meningkat. Ada beberapa tujuan pengapuran atau penggampingan yaitu (Hardjowigeno, 1993): 1. 2. Secara umum pemberian kapur ke tanah dapat mempengaruhi sifat fisik dan kimia tanah serta kegiatan jasad renik tanah. Secara kimia menetralkan kemasaman tanah dan meningkatkan atau menurunkan ketersediaan unsur-unsur hara bagi pertumbuhan tanaman. 3. Menurut daerah tropik, pengapuran menitikberatkan pada peniadaan pengaruh maraeum dari Alumunium (Al) dan menyediakan hara kalsium (Ca) bagi tanaman. II. METODOLOGI Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah Acara IX Penetapan Kapur dalam Tanah ini dilaksanakan di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada hari Kamis, 3 April 2008. Alat-alat yang digunakan dalam calcimeter praktikum ini adalah timbangan analitik/elektronik, pipet 5 ml dan 50 ml, buret dan statif, elenmeyer 250 ml, dan pemanas. Sedangkan bahan yang digunakan adalah contoh tanah kering udara 0,5 mm. Prosedur yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut : Pertama Calcimeter kosong dan kering ditimbang (a gram ) lalu ditimbang juga contoh tanah 0,5 mm seberat 5 gr, dimasukkan ke dalam Calcimeter lalu ditimbang (misal b gram). Setelah itu tempat HCl diisi dengan HCl 2 N (di Calcimeter) sampai hampir penuh. Kran disebelah bawah dijaga agar HCl tertutup rapat hingga HCl tidak menetes, kemudian ditimbang (misal c gram). Kran HCl dibuka perlahan-lahan dan HCl dialirkan setetes demi setetes. Setiap kali menetes calcimeter digoyangkan mendatar agar reaksi sempurna, setelah HCl habis calcimeter dihangatkan sebentar diatas api kecil (hati-hati terhadap penguapan), cukup dihangatkan saja. Kemudian diangkat dari api kecil spiritus, dibiarkan selama lebih kurang setengah jam, lalu ditimbang (misal d gram).

39

IV. HASIL PENGAMATAN A. Tabel hasil pengamatan kadar kapur berbagai jenis Jenis Tanah Entisol Ultisol Alfisol Rendzina Vertisol B. Contoh Perhitungan Tanah vertisol 0,5 mm cd x100 44 x100 O O 100 (b a) (100 + KL) CaCO3 = % CaCO3 8,2% 0,113% 2,15% 1,02% 1,26%

124,1 124,077 x100 44 x100 O O 100 (94,911 90,23) CaCO3 = (100 + 13,03)

0,023 x100 44 x100 O O 100 (4,681) 113,03 =

0,0523 x100 O O 4,14 = = 1,26 %

40

Jadi kadar kapur jenis tanah vertisol adalah 1,26 % Keterangan : a = Calcimeter kosong b = Contoh tanah 0,5 mm + calsi c = Setelah diisi HCl 2N d = Setelah dipanaskan KL = Kadar lengas 0,5 mm (%) V. PEMBAHASAN Kapur tanah mempunyai asosiasi yang erat dengan keberadaan kalsium tanah dan atau magnesium. Hal ini disebabkan oleh karena kedua unsur tersebut sering ditemukan berasosiasi dengan karbonat. Bentuk-bentuk kapur di dalam tanah bermacam-macam antara lain kalsium oksida (CaO), kalsium karbonat (CaCO3), kalsium sulfat (CaSO4), dan dolomit (CaMg(CO3)2). Keberadaan unsur kapur tanah sangat dipengaruhi oleh batuan induk dan bahan induk yang ada di suatu lokasi. Jika batuan induk kaya akan batuan kapur (baik asosiasi dengan napal, batu pasir ataupun secara mandiri), maka tanah akan kaya kapur. Tanah yang berkembang dari bahan induk yang bersifat basis sperti bahan induk kapur (karst) akan menghasilkan tanah berwarna gelap dan tanah bersifat basis dengan pH > 4,0. Hal ini terjadi karena adanya proses pelindian kapur pada lapisan atas oleh air, maka kandungan kapur ini akan diendapkan pada lapisan bawahnya. Pada praktikum kali ini, untuk mengetahui kadar kapur dalam suatu tanah digunakan metode calcimetri yaitu menetapkan kadar kapur setara tanah dengan menggunakan alat calcimeter dan khemikalia HCl. Dalam penetapan kapur ini akan diukur CO2 yang menguap, jumlah CO2 tersebut sama dengan jumlah Ca dan reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: CaCO3 + 2 HCl CaCl2 + H2O + CO2 Dalam praktikum ini digunakan metode Calcimetri, karena metode ini keunggulannya yaitu lebih murah dan lebih cepat dapat digunakan untuk mengukur CO2 yang menguap. Tetapi juga mempunyai kelemahan, yaitu timbangan harus sensitive jika pembacaan pada timbangan tersebut tidak teliti, maka akan berpengaruh pada perhitungan kadar kapur suatu jenis tanah. 41

Berdasarkan hasil percobaan, tanah alfisol mengandung kadar kapur sebesar 2,15 %. Tanah ini terbentuk dari bahan induk yang kaya akan kapur dan mengandung konkresi kapur dan besi. Dalam pembentukan tanah, larutan-larutan besi terutama dari sumbersumber bukan kapur dan sedikit berkapur/dolomite menyusup kedalam retakan-retakan dan lubang-lubang batu kapur dalam, sehingga Fe bersentuhan dengan Ca ynag mngendap. Air hujan yang besar menyebabkan besi mempunyai daya menyusup kedalam akumulasi besi pada batu kapur. Sebaliknya, CO2 menyebabkan larutan Ca dan Mg dari batu kapur / dolomit sebagai bikarbonat yang tercuci hilang. Sisa pencucian adalah Si bersama-sama dengan besi membentuk terra rosa. Tanah ultisol berdasarkan hasil percobaan mengandung kadar kapur sebesar 0,113 %. Ultisol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan intensif dan perkembangan tanah lanjut, sehingga terjadi perlindian unsur basa, bahan organik, dan silica. Ultisol memiliki jumlah nilai SiO2, fraksi lempung, kadar mineral yang rendah. Pada umumnya tanah ini kurang subur karena kadar kapurnya kurang. Warna tanah tergantung pada susunan mineralogi bahan induk. Bahan induk ini berasal dari bahan batuan induk vulkanik, baik tuff maupun batuan beku. Tanah vertisol berdasarkan hasil percobaan mengandung kadar kapur sebesar 1,26 %. Tanah ini berbahan induk kapur dan lempung sehingga kedap air. Selain itu, terbatas pada tanah yang bertekstur halus terdiri atas bahan-bahan yang mengalami pelapukan seperti : batu kapur, batu napal, tuff, endapan alluvial dan abu vulkanik. Warna tanah dipengaruhi oleh kandungan humus dan kapur. Tanah yang kaya akan kapur kebanyakan hitam. Kadar kapur yang tinggi mempengaruhi kejenuhan basa dan kapasitas pertukaran kation (KPK) tanah tinggi karena banyak menyumbang kation-kation Ca dan Mg. Berdasarkan hasil percobaan, tanah rendzina mengandung CaCO3 sebesar 1,02

%. Tanah rendzina memiliki kadar kapur yang tinggi, hal ini disebabkan karena tanah jenis ini berasal dari batuan kapur / gips dan bersifat alkalis. Tanah ini dinamakan tanah karbonat humus karena selalu mengandung CaCO3 yang dapat larut dalam HCl panas yang agak pekat dengan meninggalkan kuarsa. Dalam profil tanahnya, tanah rendzina berwarna hitam, bertekstur lempung, strukturnya menggumpal dan banyak mengandung konkresi kapur dan batuan kapur, napal / dolomit. Berdasarkan hasil percobaan, tanah entisol mengandung CaCO3 sebesar 8,2 % yang didapat dari hasil perhitungan yang telah dilakukan dari data hasil percobaan. Tanah jenis 42

ini memilikki kadar kapur tanah yang rendah. Bahan induk tanah ini umumnya terdiri dari abu vulkanik, pasir pantai, serta bahan-bahan sedimen yang mantap. Tanah entisol merupakan tanah muda yang masih belum mempunyai perkembangan profil dan diferensiasi horisonnya juga nampak tidak jelas. Kandungan pasir dan debunya melebihi 60 %. Diantara kelima jenis tanah yang digunakan dalam praktikum untuk mengetahui kandungan kapur dalam tanah, tanah yang memiliki kandungan kapur tertinggi adalah tanah entisol, kemudian alfisol, vertisol, rendzina, dan terakhir adalah ultisol. Urutan kandungan kapur dalam tanah dari yang tertinggi sampai yang terendah berdasarkan hasil percobaan tersebut tidak sesuai dengan teori yang seharusnya kandungan kapur tertinggi adalah tanah rendzina, kemudian vertisol, alfisol, ultisol, dan terakhir entisol. Perbedaan kandungan kapur dalam tanah antara hasil percobaan dengan hasil teori dapat disebabkan oleh bahan induk tanah, iklim, curah hujan, tekstur tanah, dan kandungan bahan organik yang berbeda-beda. Pada umumnya batuan kapuran lebih tahan terhadap perkembangan tanah. Pelarutan dan kehilangan karbonet dapat mendorong pembentukan tanah pada batuan berkapur. Kandungan kapur dalam tanah juga dapat disebabkan oleh kadar lengas dalam tanah karena banyaknya uap air dalam tanah menandakan besarnya permeabilitas air. Garam-garam yang mudah larut (Na, K, Ca, Mg) dan garam alkali yang agak mudah larut (Ca, Mg) karbonat akan berpindah bersama air perlokasi. Besarnya air perlokasi yang mampu mencapai air tanah, menyebabkan terjadinya pengayaan garam atau kapur pada horizon tertentu dan besarnya bervariasi tergantung pada besarnya kehilangan yang terjadi di lapisan tanah atas. Selain itu mungkin disebabkan karena terjadinya kekurang telitian dalam melakukan penimbangan, HCl 2N menetes sewaktu diisikan di tempat HCl (di Calcimeter), dan tidak sempurnanya reaksi yang terjadi dalam penetesan HCL dengan sampel tanah yang digunakan. Dampak toksisitas kapur adalah kapur dapat berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Tanah yang kaya akan kapur akan menambah jumlah Ca dan Mg sebagai hara tanaman. Akan tetapi, jika kandungan Ca2+ dalam tanah terlalu tinggi maka akan mempengaruhi ketersediaan unsure hara dalam tanah terutama P, karena Ca akan mengikat P menjadi Ca2+ Ca P. Pengaruh secara tidak langsung dari adanya kapur yaitu berupa perbaikan ciri - ciri kimia seperti pH, Ca, P dan hara lainnya yang mengikat, dan kejenuhan Al yang berkurang akibat adanya kapur menciptakan suasana tumbuh yang baik bagi akar tanaman. Lingkungan tumbuh yang baik itu memungkinkan 43

akar menjadi lebih luas. Akibat semuanya itu, serapan hara menjadi lebih baik dan efisien. Meningkatnya serapan hara ini akan menyebabkan pertumbuhan dan produksi tanaman akan meningkat pula. Namun apabila kandungan kadar kapurnya berlebihan bisa menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman (menurunkan hasil panen). Manfaat kapur tanah dalam bidang pertanian adalah untuk membantu dan meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, untuk menaikkan pH tanah hingga tingkat yang dikehendaki, untuk mengurangi / meniadakan keracunan Al, serta untuk menyediakan hara Ca (meningkatkan serapan hara dan produksi tanaman pangan). Magnesium dan kalsium sangat dibutuhkan tanaman untuk menguatkan batang. Hal ini dapat kita lihat pada tanaman hutan didaerah kapur dan tanaman didaerah yang jauh dari daerah karts. Tanaman di daerah kapur walaupun pertumbuhannya lebih lambat daripada tanaman di daerah jauh dari karst, akan tetapi batangnya lebih kuat dan kokoh. Hal inilah yang menyebabkan tanaman didaerah yang jauh dari karts sering patah dan roboh karena tanaman tidak kuat menahan berat tubuhnya yang sangat subur. Sebagai solusinya, banyak petani yang menambahkan dolomit ke sekitar lahan. Magnesium juga dibutuhkan tanaman utamanya untuk membentuk klorofil, baik klorofil a maupun klorofil b. Kekurangan unsure ini menyebabkan gangguan pembentukan klorofil sehingga daun kelihatan pucat dan belang-belang putih. Fungsi dari mempelajari kapur tanah adalah agar dapat menentukan kandungan kapur yang baik bagi tanaman dan sesuai dengan jenis dan kondisi tanah sehingga akan meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman serta dapat menentukan kadar kapur tanah dengan metode calcimeter. VI. KESIMPULAN 1. Kandungan kapur dalam suatu jenis tanah ditentukan oleh batuan induk, bahan induk jenis tanah itu, dan iklim di lokasi tersebut. 2. Metode yang digunakan untuk mengetahui kadar kapur dalam suatu tanah pada praktikum kali ini adalah metode gravimetri dengan menggunakan alat calcimeter, dan khemikalia HCl. 3. Berdasarkan teori, kadar kapur tertinggi sampai terendah adalah tanah rendzina lebih besar vertisol lebih besar alfisol lebih besar ultisol lebih besar entisol. Berdasarkan percobaan : entisol lebih besar alfisol lebih besar vertisol lebih besar 44

rendzina lebih besar ultisol . 4. Manfaat kapur tanah dalam bidang pertanian adalah untuk meningkatkan produksi tanaman, menaikkan pH tanah hingga tingkat yang dikehendaki, mengurangi / meniadakan keracunan Al, serta untuk menyediakan hara Ca.

45

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2008. Kandungan Kapur. < http://www.Iptek.net.id>. Diakses tanggal 8 April 2008 Pukul 19.45 WIB. Foth, H.D.1995. Dasar-dasar Ilmu Tanah 7ed. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Hakim, N, Nyakpo., M.Y, Lubis., A.M, Nugroho., S.G. Dina, M.A., Hong, B. dan Baily, H.H.1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah, Universitas Lampung, Lampung. Hardjowigeno, S. 1993 Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademi Pressindo, Jakarta. Molherbe, Ide.V.1965. Soil Fertility. Oxford University Press, London. Tan, K.H.1982. Prinsiples of Soil Chemistry. Market Dekker Inc, New York. Viets, F.G.1965. Factor affecting plant growth on serpentine. Soils Ecology 8(1) : 43 - 46.

46

LAMPIRAN A. Tabel hasil pengamatan Jenis Tanah Entisol Ultisol Alfisol Rendzina Vertisol B. Perhitungan a 97,436 114,580 97,135 87,584 90,23 b 102,215 119,05 101,823 92,29 94,991 c 128,432 145,368 127,117 116,56 124,1 d 128,260 145,366 127,077 116,541 124,077

cd x100 44 x100 O O 100 (b a) CaCO3 = (100 + KL)

Keterangan : a = Calcimeter kosong b = Contoh tanah 0,5 mm + calsi c = Setelah diisi HCl 2N d = Setelah dipanaskan KL = Kadar lengas 0,5 mm (%) Tanah vertisol 0,5 mm 124,1 124,077 x100 44 x100 O O 100 (94,911 90,23) (100 + 13,03) CaCO3 =

0,023 x100 44 x100 O O 100 (4,681) 113,03 =

47

0,0523 x100 O O 4,14 =

= 1,26 % Tanah Rendzina 0,5 mm 116,56 116,541 x100 44 x100 O O 100 (92,29 87,584) (100 + 24,63) CaCO3 = 0,019 x100 44 x100 O O 100 (4,706) 124,63 = 0,043 x100 O O = 3,775 = 1,139 %

Tanah alfisol 0,5 mm 127,117 127,077 x100 44 x100 O O 100 (101,823 97,135) CaCO3 = (100 + 9,83) 0,04 x100 44 x100 O O 100 (4,688) = 109,83 48

0,0909 x100 O O 4,2684 = = 2,129 %

Tanah ultisol 0,5 mm 145,368 145,366 x100 44 x100 O O 100 (119,05 114,580) (100 + 10,9) CaCO3 = 0,002 x100 44 x100 O O 100 ( 4,47) 110,9 = 0,0045 x100 O O = 4,0306 = 0,1116 %

Tanah Entisol 0,5 mm 128,432 128,260 x100 44 x100 O O 100 (102,215 97,436) CaCO3 = (100 + 0,3) 0,172 x100 44 x100 O O 100 (4,779) = 100,3 49

0,3909 x100 O O 4,7647 = = 8,2 %

50