Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

Tension headache adalah sindrom nyeri kepala yang ditandai oleh nyeri bilateral yang kencang, seperti mengikat, otot leher belakang terasa tegang, dengan nyeri yang berfluktuasi dan bisa menetap sampai berhari-hari. Biasanya terjadi bersamaan dengan ansietas atau depresi [1]. Pada penderita Tension headache didapati gejala yang menonjol yaitu nyeri tekan yang bertambah pada palpasi jaringan miofascial perikranial. Impuls nosiseptif dari otot perikranial yang menjalar kekepala mengakibatkan timbulnya nyeri kepala dan nyeri yang bertambah pada daerah otot maupun tendon tempat insersinya [2]. Tension headache adalah kondisi stress mental, non-physiological motor stress, dan miofasial lokal yang melepaskan zat iritatif ataupun kombinasi dari ke tiganya yang menstimuli perifer kemudian berlanjut mengaktivasi struktur persepsi supraspinal pain, kemudian berlanjut lagi ke sentral modulasi yang masing-masing individu mempunyai sifat self limiting yang berbeda-beda dalam hal intensitas nyeri kepalanya [2] Pada penelitian Bendtsen tabun 1996 terhadap penderita chronic tension type headache (yang dikutip oleh Bendtsew) teryata otot yang mempunyai nilai Local tenderness score tertinggi adalah otot Trapezeus, insersi otot leher dan otot sternocleidomastoid. Nyeri tekan otot perikranial secara signifikan berkorelasi dengan intensitas maupun frekwensi serangan tension type headache kronik. Belum diketahui secara jelas apakah nyeri tekan otot tersebut mendahului atau sebab akibat daripada nyeri kepala, atau nyeri kepala yang timbul dahulu baru timbul nyeri tekan otot [2]. Stress dan depresi pada umumnya berperan sebagai faktor pencetus(87%), exacerbasi maupun mempertahankan lamanya nyeri kepala. Prevalensi life time

depresi pada penduduk adalah sekitar 17%. Pada penderita depresi dijumpai adanya defisit kadar serotonin dan noradrenalin di otaknya [2]. Terapi nonofarmakologisnya berupa relaksasi, sedangkan terapi

farmakologinya terdiri dari analgetika NSAID (asetaminofen, aspirin, diklofenak, ibuprofen) dan/atau relaksan otot (tizanidin). Apabila NSAID gagal, bisa dikombinasi dengan kafein. Untuk tension headache yang kronis (>15 hari/bulan selama 6 bulan), bisa diberikan terapi preventif. Dosis rendah amitriptilin (10-50 mg sebelum tidur) bisa menjadi profilaksis [1]. Analgetik yang sering digunakan adalah NSAID dengan sebagian besar efek terapi dan efek sampingnya disebabkan oleh penghambatan terhadap biosintesis prostaglandin, dimana obat-obat golongan ini menghambat enzim siklooksigenase yang mengubah asam arakidonat menjadi prostaglandin. Prostaglandin mempunyai peran dalam terjadinya inflamasi, nyeri dan demam [1]. Depresi pada tension headache dapat dikurangi dengan antidepresi yang dikelompokkan menjadi [3]: 1. Trisiklin (tricyclic antidepressants = TCA) : imipramin, amitriptilin, klomipramin, amineptin, dosulepin, lofepramin, nortiptilin, trimipramin. 2. 3. 4. Tetrasiklin : maprotilin, mianserin, amoksapin. Monoamine oxidase inhibitor (MAOI) : fenelzin, tranilsipromin, isokarboksazid. Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) : sertalin, paroksetin,

fluvoksamin, fluoksetin, citalopram, escitalopram. 5. Atipikal : trazodon. Antidepresan juga mempunyai menghambat serotonin reuptake. [2] Obat lainnya yang digunakan untuk tension headache adalah relaksan otot atau spasmolitik. Biasanya digunakan untuk mengurangi spastisitas pada kasus-kasus neuroligik dan sebagai pelemas otot yang bekerja sentral. [4] efek analgetik secara langsung dengan

BAB II ANALISIS TERAPI OBAT

Kasus Ny. Aba, 26 tahun 5 hari yang lalu, pasien nyei kepala di bagian belakang kepala sampai leher, terasa tegang, tidak berdenyut, terutama siang menjelang sore ketika mendekati pulang kantor. Pasien sering merasa seperti ini, stress dengan pekerjaan. Diagnosis : Tension Headache Resep : Forres, 15 tb 2x1 Ibuprofen, 15tb 3x1 Amitriptilin, 7 tb tablet siang dan tablet malam Vitamin B1, 15 tb 2x1

Berdasarkan terapi yang diberikan adalah Forres, Ibuprofen, Amitriptilin dan Vitamin B1 A. 1. Forres [5] Komposisi Kemasan No. Reg Farmakologi : Tiap tablet salut mengandung Eperisone HCl 50 mg : Forres,box berisi 5 strip @ 10 tablet salut selaput @ 50 mg. : DKL0211635217A1 : Mempunyai efek pelemas otot dan vasodilator yang berkaitan dengan cara kerja obat tersebut pada SSP dan otot polos pembuluh darah. Bekerja di SSP, terutama pada sumsum tulang belakang, dengan cara merelaksasi otot rangka yang hipertonik melalui penghambatan refleks spinal dan menurunkan sensitivitas muscle spindle melalui pengurangan pelepasan gamma motorneuron. Mempunyai efek vasodilator yang akan meningkatkan sirkulasi. Memiliki sifat sebagai analgesik dan mampu menghambat refleks nyeri. Oleh karena itu Forres efektif di berbagai tempat dalam memutuskan siklus miotonia. Indikasi : Pengobatan simptomatik pada kondisi-kondisi yang disertai dengan spasme muskuloskeletal. Dosis dan cara pemberian : Untuk dewasa diberikan 3 tablet peroral sehari dalam dosis terbagi 3, diberikan setelah makan. Dosis dapat disesuaikan dengan umur pasien dan beratnya gejala. Peringatan dan perhatian : Dapat mengakibatkan lesu, pusing atau mengantuk, oleh karena itu sebaiknya pasien tidak mengendarai kendaraan bermotor atau mengoperasikan mesin. Hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi hati.Keamanan pada wanita hamil, menyusui dan pada anak belum terbukti.

Interaksi obat

: Gangguan akomodasi mata dilaporkan terjadi jika diberikan bersama Methocarbamol dan Tolperisone HCl.

Efek samping

: Efek samping yang timbul biasanya jarang terjadi seperti: ruam kulit, tidak bisa tidur, nyeri kepala, mengantuk, dan kekakuan pada lengan dan tungkai, gangguan pada saluran cerna, anuresis, inkontinensia nokturnal, gangguan fungsi hati dan ginjal, kelainan sel darah merah dan hemoglobin. Kadang terjadi lesu, pusing atau sakit kepala dan pengurangan kekuatan otot juga kemerahan pada wajah dan berkeringat.

2.

Ibufropen [6] Komposisi Cara Kerja : Tiap tablet salut selaput mengandung ibuprofen 400 mg. :Ibuprofen merupakan derivat asam fenil propionat dari kelompok obat antiinflamasi non steroid. Senyawa ini bekerja melalui penghambatan enzim siklo-oksigenase pada biosintesis prostaglandin, sehingga konversi asam arakidonat menjadi PGG2 terganggu. Prostaglandin berperan pada patogenesis inflamasi, analgesia dan demam. Dengan demikian maka ibuprofen mempunyai efek antiinflamasi dan analgetikantipiretik. Khasiat ibuprofen sebanding, bahkan lebih besar dari pada asetosal (aspirin) dengan efek samping yang lebih ringan terhadap lambung. Pada pemberian oral ibuprofen diabsorbsi dengan cepat, berikatan dengan protein plasma dan kadar puncak dalam plasma tercapai 1 2 jam setelah pemberian. Adanya makanan akan memperlambat absorbsi, tetapi tidak mengurangi jumlah yang diabsorbsi. Metabolisme terjadi di hati dengan waktu paruh 1,8 2 jam. Ekskresi bersama urin dalam bentuk utuh dan metabolit inaktif, sempurna dalam 24 jam.

Indikasi

: Terapi simptomatik rematoid artritis dan osteoartritis, mengurangi rasa nyeri setelah operasi pada gigi dan dismenore.

Dosis Efek Samping

: Dewasa : 200 400 mg , 3 4 kali sehari. : Efek samping adalah ringan dan bersifat sementara berupa mual, muntah, diare, konstipasi, nyeri lambung, ruam kulit, pruritus, sakit kepala, pusing dan heart burn.

Kontraindikasi

: Penderita yang hipersensitif terhadap asetosal (aspirin) atau obat antiinflamasi non steroid lainnya, wanita hamil dan menyusui, serta anak dibawah usia 14 tahun.Penderita dengan syndroma nasal polyps, angioderma dan reaksi bronchospasma terhadap asetosal (aspirin) atau antiinflamasi non steroid yang lain. Dapat menyebabkan reaksi anafilaktik.

Interaksi Obat

: Asetosal (aspirin). Dosis ibuprofen lebih dari 2,4 g per hari, dapat menggantikan warfarin dari ikatannya dengan protein plasma.

Cara Penyimpanan: Simpan di tempat sejuk dan kering. Perhatian : Hati-hati pemberian pada penderita tukak lambung atau mempunyai riwayat tukak lambung dan penderita payah jantung, gangguan fungsi ginjal, hipertensi. Hati-hati pada penderita yang sedang mendapatkan antikoagulan kumarin. Kemasan No. Registrasi : Kotak 10 strip @ 10 tablet salut selaput : GKL8920904510A1

3.

Amitriptilin (Apo-Amitriptiline), Elavil, Emitrip, Endep, Enovil, (Levate), (Meravil), (Novotriptyn) [7]

Klasifikasi Indikasi

: Antidepresan (trisiklik) : Pengobatan depresi, sering digunakan bersama psikoterapi. Penggunaan tidak resmi: Sindom nyeri kronis

Kerja obat

: Memperkuat efek serotonin dan norepinefrin di SSP. Mempunyai sifat antikolinergik yang signifikan.

Efek terapeutik

: Kerja antidepresan ( hanya terjadi setelah beberapa minggu).

Farmakokinetik Distribusi

: Absorpsi: Diabsorpsi dengan baik dari saluran GI. : Didistribusi secara luas.

Metabolisme dan Ekskresi: Sebagian besar dimetabolisme oleh hati. Beberapa metabolitnya aktif secara farmakologis. Mengalami resirkulasi enterohepatik dan sekresi ke dalam asam lambung. Kemungkinan menembus plasenta dan memasuki ASI. Waktu paruh : 10 50 jam

Kontraindikasi dan Perhatian : Dikontraindikasikan pada: Glaukoma sudut sempit, kehamilan dan laktasi Gunakan secara hati-hati pada: Pasien lansia, Pasien dengan penyakit kardiovaskuler yang sudah ada sebelumnya, Hipertrofi prostat, riwayat kejang. Reaksi Merugikan dan Efek Samping :
-

SSP: mengantuk, sedasi, letargi dan keletihan. Mata dan THT: mulut kering, nata kering, penglihatan kabur. KV: hipotensi, perubahan EKG, Aritmia Derm: fotosensitivitas

Endo: ginekomastia, perubahan glukosa darah. GI: konstipasi, ileus paralitik, hepatitis. GU: retensi urin. Hemat: diskrasia darah.

INTERAKSI
-

Obat-obat: Dapat menyebabkan hipotensi, takikardia, dan reaksi yang berpotensi fatal bila digunakan bersama inhibitor MAO (hindari penggunaan bersamaan-hentikan pemakaian 2 minggu sebelum amitriptilin).

Dapat

mengganggu

respons

terapeutik

terhadap

hampir

semua

antihipertensi. Dapat menyebabkan hipertensi berat bila digunakan bersama klonidin (hindari pemakaian bersamaan). Depresi SSP bertambah bila digunakan bersama depresan SSP lainnya termasuk alcohol, antihistamin, analgesic, opioid, dan sedative/hipnotik. Efek samping bila dipakai bersama agens lain yang juga mempunyai sifat ini. Simetidin, fluoksetin, fenotiazid, atau kontrasepsi oral meningkatkan kadarnya dan dapat menyebabkan toksisitas. Dapat menyebabkan delirium transien bila digunakan bersama disulfiram. Merokok dapat meningkatkan metabolism dan menurunkan metabolism dan menurunkan efektivitas.
-

RUTE DAN DOSIS PO (Dewasa) : 30-100mg/hari dosis tunggal menjelang tidur atau dalam dosis terbagi. Dosis dapat ditingkatkan secara bertahap sampai 150300mg/hari.

PO (Anak-anak 6-12 tahun) : 10-30mg/hari (1-5mg/kg/hari dalam 2 dosis terbagi).

PO (Remaja) : 10mg tiga kali sehari dan 20mg pada saat menjelang tidur. Dapat ditingkatkan secara perlahan sampai 100mg/hari diberikan sebagai dosis tunggal menjelang tidur.

PO (Lansia): 25 mg menjelang tidur. Dapat ditingkatkan secara perlahan sampai 10 mg tiga kali sehari dan 20 mg menjelang tidur (dosis harian tidak lebih dari 100mg).

IM (Dewasa): 20-30mg 4 kali sehari. SEDIAAN Tablet: 10 mg, 25mg, 50mg, 75mg, 100mg, 150mg, {Sirup: 10mg/5ml}. Injeksi:10mg/ml

WAKTU/PROFIL KERJA OBAT (efek antidepresan) PO Awitan: 2-3minggu Puncak: 2-6minggu Durasi:hari-minggu

IM Awitan: 2-3minggu Puncak: 2-6minggu Durasi:hari-minggu

4. Tiamin (B1) [8] Kompleks molekul organic yang mengandung satu inti tiazol dan pirimidin. Farmakokinetik : setelah pemberian paranteral, absorbsi berlangsung cepat dan sempurna. Absorbsi peroral berlangsung dalam usus halus dan

duodenum, maksimal 8-15 mg/hari yang dicapai dengan pemberian oral sebanyak 45mg. Efek Samping : tidak menimbulkan efek toksik bila diberikan peroral dan bila kelebihan tiamin cepat dieksresi melalui urine. Meskipun jarang, reaksi anafilaktoid dapat terjadi setelah pemberian IV dosis besar pada pasien yang sensitive. Dan beberapa diantaranya bersifat fatal. Sediaan dan Indikasi : Tiamin HCL(Vitamin B1, aneurin Hcl)

tersedia dalam bentuk tablet 5-500mg, larutan steril 100-200mg untuk penggunaan parenteral dan eliksir mengandung 2-25mg tiamin tiap ml. Tiamin diindikasikan pada pencegahan dan pengobatan defisiensi tiamin dengan dosis 2-5mg/hari untuk pencegahan defisiensi dan 5-10mg tiga kali sehari untuk pengobotan defisiensi. Dosis lebih besar parenteral di anjurkan untuk kasus berat akan tetapi respon tidak meningkat dengan dosis lebih dari 30mg/hari. Resep yang diberikan, terdiri dari 4 macam obat. Yang pertama adalah Forres. Berdasarkan syarat peresepan obat yang rasional, yaitu :
1. Tepat obat. Obat ini tepat karena bermanfaat sebagai spasmolitik dan efek

samping yang jarang timbul.


2. Tepat dosis. Dosis obat ini kurang tepat, karena diberikan 2 x 1 tablet perhari,

sedangkan menurut beberapa referensi yang ada seharusnya 3 x 1 tablet perhari. 3. Tepat bentuk sediaan obat. Bentuk sediaan obat ini sudah tepat, yaitu dalam bentuk sediaan tablet.
4. Tepat cara dan waktu penggunaan. Cara dan waktu penggunaan kurang tepat

karena berdasarkan dosis juga kurang tepat, sehingga waktu penggunaan yang seharusnya 3 x 1 tablet perhari setelah makan menjadi tidak teratur. 5. Tepat keadaan penderita. Obat ini sudah tepat diberikan selama pasien tidak ada gangguan metabolisme ataupun dalam keadaan hamil.

Yang kedua adalah Ibuprofen. Berdasarkan syarat peresepan obat yang rasional, yaitu :
1. Tepat obat. Obat ini tepat karena mempunyai efek antiinflamasi dan analgetikantipiretik serta efek samping yang ringan dan bersifat sementara. 2. Tepat dosis. Dosis obat ini sudah tepat, karena diberikan 3 x 1 tablet perhari.

3. Tepat bentuk sediaan obat. Bentuk sediaan obat ini sudah tepat, yaitu dalam bentuk sediaan tablet.
4. Tepat cara dan waktu penggunaan. Cara dan waktu penggunaan sudah tepat

karena pada pemberian oral ibuprofen diabsorbsi dengan cepat, berikatan dengan
protein plasma dan kadar puncak dalam plasma tercapai 1 2 jam setelah pemberian. 5. Tepat keadaan penderita. Obat ini sudah tepat diberikan selama pasien tidak hipersensitif terhadap asetosal (aspirin) atau obat antiinflamasi non steroid lainnya, wanita hamil dan menyusui, serta anak dibawah usia 14 tahun. Selain itu, penderita dengan syndroma nasal polyps, angioderma dan reaksi bronchospasma terhadap asetosal (aspirin) atau antiinflamasi non steroid yang lain.

Yang ketiga adalah Amitriptilin. Berdasarkan syarat peresepan obat yang rasional, yaitu :
1. Tepat obat. Sebenarnya obat ini tepat untuk mengatasi depresi yang dialami

pasien, tetapi obat ini kurang tepat karena mempunyai efek samping yang berat
terhadap semua sistem organ tubuh. 2. Tepat dosis. Dosis obat ini sudah tepat, karena 30-100mg/hari dosis tunggal

menjelang tidur atau dalam dosis terbagi yaitu seperti pada resep, tablet siang dan tablet malam. 3. Tepat bentuk sediaan obat. Bentuk sediaan obat ini sudah tepat, yaitu dalam bentuk sediaan tablet.

4. Tepat cara dan waktu penggunaan. Cara dan waktu penggunaan sudah tepat

karena diberikan peroral yang dapat diabsorpsi denga baik.


5. Tepat keadaan penderita. Obat ini sudah tepat diberikan selama pasien tidak lansia, pasien dengan penyakit kardiovaskuler yang sudah ada sebelumnya, hipertrofi prostat, riwayat kejang.

Yang ketiga adalah Vitamin B1. Berdasarkan syarat peresepan obat yang rasional, yaitu :
1. Tepat obat. Obat ini sudah tepat diberikan sebagai terapi suportif dengan efek

samping tidak menimbulkan efek toksik bila diberikan peroral dan bila kelebihan tiamin cepat dieksresi melalui urine.
2. Tepat dosis. Dosis obat ini sudah tepat, diberikan sudah tepat yaitu 2 x 1

tablet perhari. 3. Tepat bentuk sediaan obat. Bentuk sediaan obat ini sudah tepat, yaitu dalam bentuk sediaan tablet.
4. Tepat cara dan waktu penggunaan. Cara dan waktu penggunaan sudah tepat

karena dengan per oral absorbsi berlangsung cepat dan sempurna.


5. Tepat keadaan penderita. Obat ini sudah tepat diberikan selama pasien tidak

mengalami hipersensitivitas. Resep yang diberikan sudah rasional, karena mencakup analgetik, antidepresan, relaksan otot dan vitamin. Tetapi untuk Amitiriptilin, kurang tepat diberikan dikarenakan efek samping yang besar terhadap sistem organ tubuh. Untuk resep alternatif yang bisa diberikan adalah sebgaai berikut : 1. Forres, 15 tablet, 3 x 1 2. Ibuprofen, 15 tablet, 3 x 1
3. Prozac, 7 tablet, tablet siang dan tablet malam

4. Vitamin B1, 15 tablet, 2 x 1 Prozac sebagai pengganti Amitriptilin. Berdasarkan syarat peresepan obat yang rasional, yaitu :
1. Tepat obat. Obat ini sudah tepat diberikan sebagai terapi step pertama. Prozac

termasuk golongan SSRI. SSRI dan TCA mempunyai manfaat yang sama tetapi efek samping dari SSRI ini kurang, yaitu efek toksik yang lebih sedikit.
2. Tepat dosis. Dosis obat ini sudah tepat, karena 30-100mg/hari dosis tunggal

menjelang tidur atau dalam dosis terbagi yaitu seperti pada resep, tablet siang dan tablet malam. 3. Tepat bentuk sediaan obat. Bentuk sediaan obat ini sudah tepat, yaitu dalam bentuk sediaan tablet.
4. Tepat cara dan waktu penggunaan. Cara dan waktu penggunaan sudah tepat

karena diberikan peroral yang dapat diabsorpsi dengan baik.


5. Tepat keadaan penderita. Obat ini sudah tepat diberikan selama pasien tidak hipersensitif dan gagal ginjal.

BAB III PENUTUP

Dari penjelasan yang telah ada, dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Tension headache adalah sindrom nyeri kepala yang ditandai oleh nyeri bilateral yang kencang, seperti mengikat, otot leher belakang terasa tegang, dengan nyeri yang berfluktuasi dan bisa menetap sampai berhari-hari. Biasanya terjadi bersamaan dengan ansietas atau depresi. 2. Terapi yang diberikan adalah analgetik, antidepresi, relaksan otot dan vitamin.

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonymous. 2009. Diktat Farmakologi I. Banjarbaru : Bagian Farmakologi FK UNLAM. 2. Sjahrir, Hasan. 2004. Mekanisme Terjadinya Nyeri Kepala Primer dan Prospek Pengobatannya. Sumatera Utara : FK USU 3. Anonymous. 2009. Diktat Farmakologi II. Banjarbaru : Bagian Farmakologi FK UNLAM. 4. Katzung, Bertram G. 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta : EGC. 5. Anonymous. Forres. Diakses tanggal 10 Desember 2009. Kalbe Medical Portal. 6. Anonymous. Penggunaan Ibufrofen. Diakses tanggal 10 Desember 2009, http://www.indomedical.com. 7. Deglin Judith Hopfer, Vallerand April Hazard. 2005. Pedoman Obat Untuk Perawat. Jakarta : EGC. 8. Anonymous. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: FK UI.