Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KEPANITERAAN ORTODONSIA HASIL PEMERIKSAAN ORTODONTIK

(Pasien Baru 2)

NOMOR MODEL 2 0 4 0 8 0 2 2

NAMA PASIEN OPERATOR NIM PEMBIMBING

: : : :

Ummu Mastna Zuhri Ferdina Nidyasari, S.K.G 03/165473/KG/07637 drg. Darmawan Sutantyo, S.U., Sp.Ort (K).

BAGIAN ORTODONSIA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2010

UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI BAGIAN ORTODONSIA I. IDENTITAS Operator No.RM Umur Alamat Pekerjaan Nama ayah Nama ibu : Ferdina Nidyasari, S.K.G : U-051572 : 22 thn : Jl. Kaliurang KM. 5 Karangwuni CT. 2 D. 19 Yogyakarta : Mahasiswi : Muhammad Faiq Zuhri : Khasanatun Ristinah Suku/ Umur : Jawa/ 55 thn Suku/ Umur : Jawa/ 50 thn Telepon : 081391461725 No. Mhs.: 03/16543/KG/07637 Nomor Model : 204-08-0-22 Suku Telepon Kode Pos : Jawa : 08562619503 : 555000 Jenis kelamin : Wanita Pembimbing : drg. Darmawan Sutantyo, S.U., Sp.Ort(K) Nama pasien : Ummu Mastna Zuhri

Pekerjaan orang tua: Wiraswasta Alamat orang tua: Jl. Progo No. 102 Karangmangu Raya, Cilacap II. WAKTU PERAWATAN Pendaftaran Pencetakan III. : Tgl 05 Februari 2008 : Tgl 05 Februari 2008 Pemasangan Alat : Tgl 22 Juli 2008 Retainer : -

PEMERIKSAAN KLINIS A. Pemeriksaan Subyektif (Anamnesis) Keluhan Utama : Pasien datang atas kemauan sendiri karena merasa gigi-giginya renggang-renggang dan ingin dirapikan. Kelainan dirasakan kira-kira sejak umur 6 tahun dan hal ini mengganggu penampilan. Riwayat Kesehatan : Tidak pernah menderita penyakit yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangan rahang serta gigi-geliginya yaitu penyakit yang berhubungan dengan hormonal dan metabolisme. Saat ini pasien tidak dalam perawatan dokter.

69223926.doc

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan Gigi-geligi Gigi Desidui : Pernah ke dokter gigi untuk menaambalkan gigi geraham yang berlubang Gigi Bercampur : Pernah ke dokter gigi untuk menambalkan gigi yang berlubang dan mencabutkan sisa akar gigi geraham susu rahang atas sebelah kiri. Gigi Permanen : Pernah ke dokter gigi untuk mencabutkan gigi geraham kiri bawah dan geraham kanan bawah yang berlubang 1 bulan yang lalu. Kebiasaan jelek yang berkaitan dengan keluhan pasien : Ada. 1. Menggigit pensil dengan frekuensi jarang. Kebiasaan ini dilakukan hingga kelas 6 SD. 2. Bertopang dagu dengan frekuensi jarang. Masih dilakukan hingga sekarang. Riwayat Keluarga yang berkaitan dengan keluhan pasien : Ada. Ayah memilki susunan gigi yang rapi Ibu memiliki susunan gigi yang renggang-renggang Kakak perempuan memiliki susunan gigi yang rapi B. Pemeriksaan Obyektif 1. Umum : Jasmani Mental Status gizi : Baik, pasien cukup sehat untuk menerima perawatan ortodontik. : Baik, komunikatif dan kooperatif. : Tinggi Badan (TB) : 1,58 m TB2 (m) Status gizi :Kurang 2. Lokal a. Ekstra Oral : Kepala : Lebar kepala : 12 mm Panjang kepala : 16,2 mm Kategori : Kurus Berat badan : 41 kg

Indeks Massa Tubuh = BB (kg) = 16,43

Indeks kepala : Lebar kepala x 100 = 74 Panjang kepala Bentuk kepala : Dolikosefali
69223926.doc

Muka: Jarak Nasion-Gnation : 102,1 mm

Lebar Bizygomatik : 120 mm

Indeks Muka: Jarak N Gn x 100 = 85,08 Lebar Bizygomatik Bentuk Muka : Mesoprosop, Simetris Profil Muka : Cembung Garis Simon (Bidang Orbital) : Pada rahang atas melewati bagian distal permukaan labial gigi kaninus (kanan dan kiri). Pada rahang bawah terletak antara gigi kaninus dan premolar (kanan dan kiri). Posisi rahang terhadap bidang Orbital/ garis Simon Maksila Mandibula : normal : normal Penyimpangan: - mm Penympangan : - mm

Sendi Temporomandibular (TMJ) : Normal, sewaktu membuka dan menutup mulut tidak ada pergeseran kondilus yang asimetris, tidak ada clicking, tidak ada rasa sakit, dan tidak ada kesulitan menggerakkan rahang bawah. Tonus Otot Mastikasi Tonus Otot Bibir Bibir posisi istirahat Free way space b. Intra Oral Higiene Mulut: OHI : 1,30 Ket : Baik Pola atrisi Lingua Palatum Gingiva Mukosa Frenulum : Normal : Besar (Ada krenasi di samping kanan kiri lidah) : Vertikal : Sedang Lateral : Normal : Normal : Frenulum Labii Superior : Normal Frenulum Labii Interior : Normal Frenulum Ligualis
69223926.doc

: Normal, sewaktu melakukan gerakan mastikasi, otot pipi terasa kencang. : Normal, sewaktu menelan ludah, otot bibir terasa kencang. : Normal, terbuka : 0,13 mm (kurang dari normal)

: Sedang

: Normal 4

Tonsila

: Normal

Pemeriksaan gigi-gigi : Rumus gigi-gigi X 8 O O 8 7 T 7 6 X 6 V 5 5 V X X IV 4 4 IV X X III 3 3 III X X II 2 2 II X X I 1 1 I X X X I 1 II 2 X III 3 3 III X X IV 4 4 IV X X V 5 5 V X 6 T 6 7 K 7 8 O O 8

1 2 I II X X

Keterangan: K : karies X : telah dicabut O : belum erupsi 3. Analisis Foto Muka

R : radiks P : persistensi Ag : agenese

T : tambalan Im : impaksi B : Bridge (GTC)

I : Inlay J : jaket En :Per.Endo

Keterangan: A.Glabella, B.Kontur bibir atas, C.Kontur bibir bawah, D.Pogonion

Tampak Depan Bentuk Muka : - Mesoprosop - Tidak simetris


69223926.doc

Tampak Samping Profil Muka : Cembung

4. Analisis Model Studi Bentuk Lengkung Gigi RA RB : Parabola, simetris : Parabola, simetris Rahang Atas mesiopalatotorsiversi mesiolabiotorsiversi mesiolabiotorsiversi mesiolabiotorsiversi mesiobukotorsiversi Rahang Bawah distolinguotorsiversi mesiobukotorsiversi mesiolinguotorsiversi mesiolinguotorsiversi mesiobukotorsiversi

Malposisi gigi individual 5 2 2 3 4 5 4 1 1 4

Relasi gigi-gigi pada oklusi sentrik Anterior Palatal bite Deep bite Open bite Edge to edge bite Cross bite Posterior : Cross bite Open bite Scissor bite Cup to cup bite : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : : Klas I : Klas I : Klas I : segaris : segaris : Overjet : 4,30 mm : Tidak ada : Ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada Ket : gigi 21 12 21 12 Overbite : 4,40 mm

Relasi Molar pertama kanan Relasi Molar pertama kiri Relasi Kaninus kanan Relasi Kaninus kiri

Garis tengah Rahang bawah terhadap Rahang atas Garis inter insisivi sentral terhadap garis tengah rahang

69223926.doc

Lebar Mesiodistal gigi-gigi (mm)


Gigi 1 2 Kanan 7,82 5,92 Rahang atas Kiri Normal 7,76 7,40 - 9,75 6,20 6,05 - 8,10 Ket. Normal Tidak normal/ 3 4 5 6 7 6,90 6,26 5,90 11,40 8,00 6,72 6,70 5,88 10,26 8,84 7,05 - 9,32 6,75 - 9,00 6,00 - 8,10 9,95 - 12,10 8,75 - 10,87 normal Tidak normal Tidak normal Tidak normal Normal Tidak normal/ normal 6,00 6,46 6,54 10,78 9,24 6,20 6,56 6,54 10,78 9,62 6,15 - 8,15 6,35 - 8,75 6,80 - 9,55 10,62 - 13,05 8,90 - 11,37 Tidak normal Normal Tidak normal Normal Normal Kanan 4,92 5,40 Rahang bawah Kiri Normal 4,92 4,97 - 6,60 5,50 5,45 - 6,85 Ket. Tidak normal Normal

Kesimpulan : Beberapa ukuran mesiodistal gigi-geligi tidak normal

5. Skema gigi-gigi dari oklusal

69223926.doc

Rahang Atas

Rahang Bawah

6. Perhitungan-perhitungan Metode Pont Jumlah mesiodistal 2 1 1 2 : 27,70 mm Jarak P1-P1 (RB) pengukuran: 35,84 mm Jarak P1-P1 perhitungan : I x 100 = 34,62 mm 80 Diskrepansi : 1,22 mm Distraksi ringan Jarak M1-M1 pengukuran Jarak M1-M1 perhitungan : 49,22 mm : I x 100 = 43,28 mm 64 Diskrepansi : 5,94 mm Distraksi sedang Keterangan : Pertumbuhan dan perkembangan lengkung gigi pasien ke arah lateral pada regio P1 mengalami distraksi derajat ringan sebesar 1,22 mm dan pada regio M1 mengalami distraksi derajat sedang sebesar 5,94 mm. Metode Korkhaus Tabel Korkhaus Diskrepansi Keterangan : Pertumbuhan dan perkembangan lengkung gigi pasien ke arah anterior kurang atau mengalami retraksi sebesar 0,50 mm.
69223926.doc

: 16,50 mm : 0,50 mm Retraksi

Jarak I (P1 P1) pengukuran: 17,00 mm

Metode Howes Jumlah lebar mesiodistal M1-M1 Jarak P1 P1 (Tonjol) md M1-M1 Lengkung gigi untuk menampung gigi-gigi : lebih Jarak Inter Fossa Canina Indeks FC : Jarak FC x 100% md M1-M1 Lengkung basal untuk menampung gigi-gigi : lebih Inklinasi gigi-gigi regio posterior Keterangan : : konvergen : 43,74 mm = 49,6% : 87,72 mm : 39,62 mm

Indeks P : Jarak P1-P1 x 100% = 45,16 %

Indeks Premolar > 43% berarti lengkung gigi lebih untuk menampung gigi-geligi dalam lengkung ideal, indeks Fossa Canina > 44% berarti lengkung basal lebih untuk menampung gigi-geligi dalam lengkung ideal. Indeks Fossa Canina > indeks Premolar, sehingga inklinasi lengkung gigi-geligi posterior di regio premolar konvergen. Determinasi Lengkung Gigi I - - - - - : lengkung RA sebelum perawatan - - - - - : lengkung RA sesudah perawatan - - - - - : lengkung RB sebelum perawatan - - - - - -: lengkung RB sesudah perawatan Keterangan : Overjet awal Retraksi RA Retraksi RB Overjet akhir : 4,00 mm : 3,00 mm : 2,00 mm : 3,00 mm

P1): Kanan Kiri

69223926.doc

Panjang lengkung gigi ideal : Jumlah lebar mesiodistal Diskrepansi Rahang bawah (P1-P1): :

55,86 mm 26,90 mm

28,08 mm 27,38 mm (+) 3,36 mm

: (-) 0,50 mm

Kanan Panjang lengkung gigi ideal : Jumlah lebar mesiodistal Diskrepansi : : 26,50 mm 26,10 mm (+) 0,40 mm

Kiri 26,80 mm 26,20 mm (+) 0,60 mm - P1 RB kanan = 1,90 - 3,80 mm - P1 RB kiri = 1,875 - 3,75 mm

- P1 RA kanan = 1,85 - 3,70 mm - P1 RA kiri = 1,85 - 3,70 mm

IV.

DIAGNOSIS SEMENTARA Kasus maloklusi menyangkut masalah estetik dan dental disertai spacing anterior rahang atas dan rahang bawah, deep bite anterior 2 1 1 2 , dan malposisi gigi individual. 21 12 Solusi masalah pada kasus ini adalah RA :spacing closing dengan peninggi gigitan anterior RB :spacing closing

V.

DIAGNOSIS FINAL Maloklusi Angle klas I tipe dental disertai spacing gigi anterior rahang atas dan rahang bawah, deep bite anterior 2 1 1 2 dan malposisi gigi individual, yaitu : 21 12 Rahang Atas 5 2 2 3 4 mesiopalatotorsiversi mesiolabiotorsiversi mesiolabiotorsiversi mesiolabiotorsiversi mesiobukotorsiversi 5 4 1 1 4 Rahang Bawah distolinguotorsiversi mesiolabiotorsiversi mesiolinguotrosiversi mesiolinguotorsiversi mesiolabiotorsiversi

VI.

ANALISIS ETIOLOGI MALOKLUSI

69223926.doc

10

Maloklusi Angle kelas I tipe dental dengan spacing gigi anterior rahang atas dan bawah. Spacing pada gigi anterior rahang atas terjadi karena gigi 3 2 2 berukuran lebih kecil dari normal, sedangkan pertumbuhan dan perkembangan lengkung gigi pasien ke arah lateral pada regio
P1

mengalami distraksi dan lengkung gigi untuk menampung

gigi-gigi lebih. Spacing pada gigi anterior rahang bawah terjadi akibat adanya satu gigi yang telah hilang sehingga terjadi pergeseran gigi-gigi yang lain ke arah daerah edentulous. Deep bite pada regio 21 12 disebabkan karena infraklusi gigi posterior, yang dibukti21 12 kan dengan metode Thompson-Brodie. Gigi anterior rahang bawah juga mengalami malposisi (crowding) sehingga tidak beroklusi secara normal dengan gigi antagonis pada rahang atas. Malposisi gigi individual: Rahang Atas 5 mesiopalatotorsiversi, disebabkan karena gigi kurang ruang untuk tumbuh, akibatnya sisi mesial gigi tersebut tumbuh ke lebih palatal. 2 mesiolabiotorsiversi, kemungkinan karena kebiasaan menggigit pensil selama SD dengan frekuensi jarang sehingga menyebabkan sisi mesial gigi tersebut tumbuh lebih ke labial. 2 mesiolabiotorsiversi, kemungkinan karena kebiasaan menggigit pensil selama SD dengan frekuensi jarang sehingga menyebabkan sisi mesial gigi tersebut tumbuh lebih ke labial. 3 mesiolabiotorsiversi, kemungkinan karena kebiasaan menggigit pensil selama SD dengan frekuensi jarang sehingga menyebabkan sisi mesial gigi tersebut tumbuh lebih ke labial. 4 mesiobukotorsiversi, kemungkinan adanya persistensi sisa akar gigi IV sehingga gigi sisi mesial gigi 4 tumbuh lebih ke bukal. Rahang Bawah 5 distolinguotorsiversi, disebabkan karena gigi kurang ruang untuk tumbuh sehingga sisi distal gigi tersebut tumbuh lebih ke lingual. 4 mesiobukotorsiversi, disebabkan karena gigi kurang ruang untuk tumbuh sehingga sisi mesial gigi tersebut tumbuh lebih ke bukal.

69223926.doc

11

1 mesiolinguotorsiversi, disebabkan karena gigi kurang ruang untuk tumbuh sehingga sisi mesial gigi tersebut tumbuh lebih ke lingual. 1 mesiolinguootorsiversi, disebabkan karena gigi kurang ruang untuk tumbuh sehingga sisi mesial gigi tersebut tumbuh lebih ke lingual. 4 mesiobukotorsiversi, disebabkan karena gigi kurang ruang untuk tumbuh sehingga sisi mesial gigi tersebut tumbuh lebih ke bukal. VII. PROSEDUR PERAWATAN A. Rencana Perawatan 1. Memberikan penjelasan kepada pasien tentang perawatan ortodontik 2. Menghilangkan kebiasaan buruk 3. Pencarian ruang 4. Koreksi spacing gigi anterior rahang atas dan rahang bawah, malposisi gigi individual, deep bite serta pengaturan lengkung gigi 5. Penyesuaian oklusi 6. Pemakaian retainer 7. Menyarankan pembuatan GTC B. Jalannya perawatan 1. Penjelasan tentang perawatan ortodontik Memberikan penjelasan dan gambaran tentang pemakaian alat ortodontik yang merupakan perawatan yang relatif lama dan memerlukan kedisiplinan, kooperatifan dan motivasi yang tinggi dari pasien agar mendapatkan hasil yang memuaskan dan tidak kembali ke bentuk semula. 2. Memberi penjelasan supaya menghilangkan kebiasaan buruk (bad habit) Pasien dianjurkan menghilangkan kebiasaan buruknya karena bertopang dagu dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan lengkung sehingga rahang yang ada tidak mampu menampung ukuran gigi-geligi. Kebiasaan tersebut dapat memperparah kondisi gigi yang berjejal yang sudah ada dan apabila masih dilakukan selama perawatan berlangsung dapat mengganggu jalannya perawatan karena menyebabkan gigi yang sudah dirawat kembali ke posisi semula. 3. Pencarian ruang a.Berdasarkan perhitungan metode Pont :
69223926.doc

12

Pertumbuhan lengkung gigi ke arah lateral pada regio P1 mengalami distraksi ringan sebesar 1,22 mm dan regio M1 mengalami distraksi sedang sebesar 5,94 mm. b. mm. c.Berdasarkan perhitungan metode Howes : Indeks premolar lebih dari 43% berarti lengkung gigi lebih untuk menampung gigi-gigi ke dalam lengkung ideal, dan indeks fossa kanina lebih dari 44%, maka lengkung basal lebih untuk menampung gigi-geligi ke dalam lengkung ideal. d. Berdasarkan determinasi lengkung : Pada rahang atas terdapat sebesar 1,66 mm sedangkan pada rahang bawah terdapat kelebihan ruang Berdasarkan perhitungan metode Korkhaus : Pertumbuhan lengkung gigi ke arah anterior mengalami retraksi sebesar 0,50

kelebihan ruang sebesar 0,66 mm Kelebihan ruang rahang atas diatasi dengan melakukan retraksi gigi anterior sebesar 2,14 mm untuk menutup spacing yang ada. Kelebihan ruang rahang bawah diatasi dengan melakukan retraksi gigi anterior sebesar 0,54 mm untuk menutup spacing yang ada. 4. Koreksi spacing gigi anterior rahang atas dan rahang bawah, malposisi gigi individual, deep bite serta pengaturan lengkung gigi Rahang atas Plat aktif yang dilengkapi : - Plat akrilik - Klamer adam 0,7 mm pada gigi 6 6 untuk retensi - Busur labial 0,7 mm dengan loop pada gigi 4 4 - Peninggi gigitan didaerah anterior. Aktivasi alat: - Mengaktifkan busur labial setiap minggu untuk meretraksi 6 gigi anterior sampai sesuai garis lengkung. Rahang bawah Plat aktif yang dilengkapi dengan: - Plat akrilik - Klamer adam 0,7 mm pada gigi 6 untuk retensi - Klamer C 0,7 mm pada gig 4 untuk retensi
69223926.doc

13

- Busur labial 0,7 mm dengan loop pada gigi 4 4 Aktivasi alat: - Mengaktifkan busur labial setiap minggu untuk meretraksi gigi 2 1 1 2 3 sampai sesuai garis lengkung. 5. Penyesuaian oklusi Mula-mula pasien diinstruksikan untuk menggigit articulating paper berwarna biru dalam posisi sentrik, kemudian diinstruksikan untuk melakukan gerakan mastikasi. Sesudah itu, dilakukan pemeriksaan tonjol-tonjol oklusal dan sisi insisal gigi, apabila berwarna sangat biru menandakan adanya traumatik oklusi sehingga perlu dilakukan grinding dengan menggunakan bur diamond pada gigi tersebut sampai warna biru seimbang pada semua tonjol dan sisi insisal. Untuk mencegah terjadinya karies pada gigi yang digrinding, dilakukan penghalusan/polishing dan aplikasi topikal dengan stenous fluoride. 6. Pemakaian retainer Pemakaian retainer dimaksudkan untuk mempertahankan lengkung gigi yang telah terkoreksi sampai terjadi kestabilan dalam lengkung gigi yang baru, serta mencegah agar gigi-gigi tidak relaps. Alat yang digunakan dalam tahap ini adalah Hawley Retainer, yang terdiri dari plat dasar akrilik, busur labial kawat stainless steel diameter 0,8 mm, dan klamer Adam kawat stainless steel diameter 0,7 mm pada gigi molar pertama. Cara pemakaian retainer dalam keadaan pasif : a. Pemakaian selama 3 bulan pertama, dipakai siang dan malam, kontrol 1 bulan sekali. b. Bila dalam 3 bulan terdapat kegoyahan gigi, pemakaian retainer diperpanjang 3 bulan lagi. Bila mobilitas gigi berkurang, retainer hanya dipakai pada malam hari. c. Bila retainer sudah tidak terasa sesak, pemakaian dihentikan dan kontrol 3 bulan berikutnya. Bila tidak ada perubahan, pemakaian retainer bisa dihentikan.

VIII.

GAMBAR/ DESAIN ALAT

69223926.doc

14

Rahang Atas

Rahang Bawah

Keterangan : 1. 2. 3. 4.

Busur labial 0,7 mm Klamer Adam 0,7 mm Plat akrilik Peninggi gigitan

Keterangan : 1. Busur labial 0,7 mm 2. Klamer Adam 0,7 mm 3. Plat akrilik 4. Kalmer C 0,7 mm

Retainer Rahang Atas Rahang Bawah

69223926.doc

15

Keterangan : 1. Busur labial 0,8 mm 2. Klamer Adam 0,7 mm 3. Plat akrilik IX. PROGNOSIS

Keterangan: 1. Busur labial 0,8 mm 2. Klamer Adam 0,7 mm 3. Plat akrilik

Prognosis dari perawatan ini kurang baik, karena walaupun : Keadaan gigi dan jaringan pendukung gigi baik, keadaan fisik dan mental baik, motivasi pasien besar untuk perawatan, dan usia pasien yang masih muda, namun pasien kurang koopertaif dalam memakai alat lepasan. Indikasi perawatan : Kuratif. Yogyakarta, Menyetujui, Dosen Pembimbing Oktober 2010

Operator

drg. Darmawan Sutantyo, SU., Sp. Ort(K). NIP : 19510907 197903 1 003

Ferdina Nidyasari, S.K.G. 03/ 165473/ KG/ 07637

69223926.doc

16