Anda di halaman 1dari 53

1

KESEHATAN

Usulan Penelitian Hibah Penelitian Tim Pascasarjana HPTP (Hibah Pasca)

Optimasi Efektivitas Sediaan Transdermal Patch Natrium Diklofenak

Ketua Tim Peneliti Dra. Esti Hendradi, Apt., MSi., Ph.D.

Fakultas Farmasi Universitas Airlangga 2009 HALAMAN PENGESAHAN

USUL PENELITIAN HIBAH PASCA


1. Judul: Optimasi efektivitas sediaan transdermal patch Natrium diklofenak

2. Bidang penelitian 3. Peneliti Utama a. Nama Lengkap b. Jenis Kelamin c. NIP d. Pangkat/Golongan e. Jabatan Struktural

: Kesehatan

: Dra. Esti Hendradi, Apt., MSi., Ph.D. :P : 131694600 : Pembina/4a : - Ketua Departemen Farmasetika; - Ketua Bid. Minat (S2) Drug Delivery System

f. Jabatan .Fungsional g. Fakultas h. Pusat Penelitian i. Alamat Kantor j. Telp/Faks k. Alamat Rumah l. Telp/Faks m. E-mail 4. Pembiayaan

: Lektor Kepala : Farmasi : LPPM Universitas Airlangga : Fakultas Farmasi UNAIR, Jl. Dharmawangsa Dalam Surabaya :031- 5033710/ 031-5020514 : Jl. Gayungsari Barat XI/GD 7, Surabaya : 031-8290244,081330175672 : esti_hendradi@yahoo.com

a. Usul Seluruh Biaya 3 tahun b. Usul Biaya tahun ke 1.

: Rp. 270.000.000,: Rp. 90.000.000,-

Mengetahui, Dekan Fakultas Farmasi

Surabaya, 26 November 2009 Ketua Peneliti

3 Prof. Dr. H. Achmad Syahrani, M.S., Apt NIP.130809077 Dra. Esti Hendradi,Apt.,MSi.,Ph.D NIP. 131694600

Menyetujui, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Airlangga

Prof. Dr. Sektiari L.,DEA.,Drh. NIP. 131837004

DAFTAR ISI Halaman 1. HALAMAN PENGESAHAN 2. RINGKASAN 3. BAB I. PENDAHULUAN 4. BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 5. BAB III. METODE PENELITIAN 6. BAB IV ORGANISASI TIM PENELITI 7. BAB V JADWAL PENELITIAN 8. BAB VI ANGGARAN BIAYA 9. DAFTAR PUSTAKA 10. LAMPIRAN 2 3 6 11 14 28 28 28 29 32

DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. JUSTIFIKASI ANGGARAN 2. SUSUNAN ORGANISASI 3. BIODATA DAN PERNYATAAN KESEDIAAN 4. SURAT KETERANGAN KETUA PROGRAM PASCA SARJANA 32 34 35 51

5. DAFTAR PERALATAN UTAMA YANG DIPERLUKAN

53

Ringkasan
Penelitian ini adalah merupakan kelanjutan dari serangkaian penelitian kami yang mempelajari tentang sistem penghantaran transdermal. Keuntungan sediaan adalah menghindari terjadinya first-pass metabolisme, tingkat puncak plasma obat diturunkan sehingga efek samping berkurang, mengurangi terjadinya fluktuasi, dapat digunakan untuk obat dengan waktu paruh dan rentang terapi pendek, mudah dihentikan apabila terjadi keracunan, mengurangi frekuensi pemberian obat sehingga meningkatkan kepatuhan pasien. Dibandingkan dengan bentuk sediaan peroral maka transdermal tidak hanya meningkatkan kepatuhan pasien tetapi juga keseragaman konsentrasi obat dalam plasma selama pemakaian. Sediaan transdermal dibandingkan pemberian secara intravena karena tidak menimbulkan rasa sakit, kerusakan jaringan dan menghilangkan rasa takut pasien. Pada penelitian yang terdahulu pada pemberian obat secara transdermal dengan bentuk sediaan semisolida yaitu basis gel atau krim problem yang dihadapi adalah dosis yang digunakan untuk tiap kali pemakaian (Hendradi, 2003). Dengan dibuat sediaan patch maka dosis yang diberikan dapat terukur. Selain itu, pada penelitian terdahulu sediaan patch yang dibuat adalah tipe matrix saja sehinga perlu dilakukan optimasi untuk sediaan patch. Ada 2 tipe sistem transdermal patch yaitu tipe matrik atau monolitik dan tipe membran atau reservoir. Pada sistem matrik, material polimer yang inert akan berikatan dengan obat dan mengendalikan laju pelepasan dari sediaan sedangkan pada tipe membran, yang mengontrol laju pelepasan terdapat diantara matriks obat dan lapisan adhesif yang merupakan barier yang menghambat laju pelepasan obat dari sediaan. Sistem membran akan memberikan laju pelepasan obat yang mengikuti orde nol (konstan). Patch dengan tipe matriks pembuatannya lebih mudah dan sederhana jika dibandingkan dengan tipe membran.

5 Pada penelitian kali ini akan dilakukan formulasi sediaan transdermal patch tipe membran dengan bahan aktif natrium diklofenak dengan kadar 2 mg/ cm2 dan mentol dengan kadar 1 % sebagai enhancer serta dilakukan pula optimasi kombinasi etil selulosa dan polivinilpirolidon untuk pelepasan dan penetrasi natrium diklofenak dari sediaan transdermal patch tipe matriks dan tipe membran. Pada penelitian sebelumnya, kombinasi antara 2% HPMC 4000 sebagai rate controlling membran dan 3% sodium alginat sebagai drug reservoir obat pada sediaan patch tipe membran dari ampicilin sodium menunjukkan profil uji penetrasi yang paling baik dibandingkan dengan kombinasi polimer lainnya (Bagyalakshmi et al., 2007). Berdasarkan penjelasan diatas maka perlu diteliti fluks pelepasan dan penitrasi in vitro natrium diklofenak dalam sediaan transdermal patch tipe membran dengan kombinasi HPMC 4000 sebagai rate controlling membrane dan sodium alginat sebagai drug reservoir obat serta mentol sebagai enhancer. Pada sediaan patch dengan tipe matrix polimer yang digunakan sebagai pembawa pada tipe matriks ada dua jenis, yaitu polimer hidrofilik serta polimer hidrofobik. Penggunaan polimer hidrofobik seperti etil selulosa dapat memperlambat laju pelepasan obat, semakin tinggi konsentrasi etil selulosa yang digunakan, maka laju pelepasan obat makin lama. Agar pelepasan lebih efektif perlu dilakukan modifikasi sifat polimer dengan menggunakan campuran polimer, seperti kombinasi polivinilpirolidon dan etil selulosa. Pengaruh penambahan polivinilpirolidon ke dalam campuran etil selulosa menyebabkan terbentuknya pori pori, sehingga menyebabkan laju pelepasannya konstan. Penelitian untuk mempelajari efek kombinasi polimer dalam membantu pelepasan obat telah banyak dilakukan. Salah satunya adalah kombinasi polivinilpirolidon dan etil selulosa dengan perbandingan 8:2 dan 7,5:2,5 menghasilkan profil pelepasan bahan aktif carvedilol yang baik. Pada perbandingan 7,5:2,5 memberikan jumlah kumulatif dan koefisien permeabilitas tertinggi selama 24 jam. Kombinasi polivinilpirolidon dan etil selulosa pada perbandingan 3:5 dengan penambahan enhancers span 20 juga menunjukkan hasil profil pelepasan bahan aktif garam diklofenak dietilamin yang baik. Dalam penelitian ini ingin diketahui bagaimana pengaruh polimer kombinasi antara etil selullosa dan polivinilpirolidon pada perbandingan 9:1, 8:2, 7:3 dan 6:4 dalam meningkatkan fluks pelepasan dan penetrasi natrium diklofenak 100mg/50cm2 dari matrik, dengan penambahan menthol sebagai enhancer dengan kadar 1% dan polietilen glikol 400 sebagai plasticizer dengan kadar 5%, dengan metode pembuatan secara matrix controlled, sehingga

6 dapat diperoleh kombinasi polimer dengan perbandingan yang tepat untuk sediaan patch natrium diklofenak tipe matriks.

I. I.I

PENDAHULUAN Latar Belakang Natrium diklofenak merupakan Nonsteroidal Anti Inflammatory Drug (NSAID) yang

banyak digunakan untuk penyakit penyakit seperti kerusakan musculoskeletal, arthritis, sakit gigi, dan dysmenorrheal sebagai penghilang rasa sakit dan inflamasi (Liu et al., 2007). Diklofenak merupakan obat Non Steroidal Anti Inflammatory (NSAID) dengan efek anti inflamasi, analgesik dan antipiretik yang lebih baik dari NSAID lainnya. Diklofenak bekerja dengan cara menghambat enzim cyclooxygenase 2 (COX 2). Seperti kebanyakan NSAID lainnya, diklofenak juga dikenal dapat meningkatkan resiko pendarahan pada gastrointestinal dan efek samping cardiovascular akan tetapi diklofenak memiliki indeks terapi yang lebih tinggi dibandingkan dengan NSAID lainnya (Chuasuwan et al., 2008). Natrium diklofenak kebanyakan diberikan dengan rute pemberian obat secara oral, namun terdapat banyak kerugian yang muncul diantaranya first pass metabolism yang cepat dan efek samping dari obat seperti masalah pada gastrointestinal dan reaksi idiosynchratic obat (Liu et al., 2007). Diklofenak diabsorbsi 100 % setelah pemberian secara peroral dan hanya 60% yang mencapai sirkulasi sistemik dikarenakan first pass metabolism (Chuasuwan et al., 2008). Pemberian natrium diklofenak secara peroral dapat menyebabkan ulcer/luka pada lambung. Oleh karena itu pemberian perkutan dari natrium diklofenak banyak diteliti dalam rangka untuk meminimalkan efek samping obat terhadap gastrointestinal (Liu et al., 2007). Natrium diklofenak juga memiliki waktu paruh yang pendek maka frekuensi pemberian obat menjadi sering. Pemberian natrium diklofenak secara transdermal diharapkan dapat

7 meningkatkan kepatuhan pasien dibandingkan jika pemberian secara oral karena dapat meminimalkan frekuensi pemakaian obat (Kweon et al., 2004). Keuntungan sediaan patch adalah menghindari terjadinya first-pass metabolisme, tingkat puncak plasma obat diturunkan sehingga efek samping berkurang, mengurangi terjadinya fluktuasi, dapat digunakan untuk obat dengan waktu paruh dan rentang terapi pendek, mudah dihentikan apabila terjadi keracunan, mengurangi frekuensi pemberian obat sehingga meningkatkan kepatuhan pasien (Kumar et al., 2007). Dibandingkan dengan bentuk sediaan peroral maka transdermal tidak hanya meningkatkan kepatuhan pasien tetapi juga keseragaman konsentrasi obat dalam plasma selama pemakaian. Patch lebih dipilih dibandingkan pemberian secara intravena karena tidak menimbulkan rasa sakit, kerusakan jaringan dan menghilangkan rasa takut pasien (Naik et al., 2000). Syarat suatu obat dapat dibuat dalam bentuk sediaan patch yaitu memiliki dosis kurang dari 20 mg per hari, waktu paruh pendek, tidak memberikan efek toksik pada kulit, berat molekul kurang dari 500 daltons, memiliki koefisien partisi 1-3, serta kelarutan dalam minyak dan air lebih besar dari 1 mg/mL (Rathbone et al., 2002). Kemampuan pelepasan obat dari polimer merupakan salah satu hal yang sangat mempengaruhi keberhasilan suatu patch. Partikel obat pertama tama harus terlarut sehingga terbentuk molekul yang dapat berdifusi melewati polimer, kemudian obat akan berpenetrasi melewati barier kulit. Ada 2 tipe sistem transdermal patch yaitu tipe matrik atau monolitik dan tipe membran atau reservoir (Mehta, 2004). Tipe Membran tersusun oleh backing layer, reservoir drug, membrane rate controlling dan adhesive. Tipe matrik tersusun oleh backing layer, polymeric drug reservoir dan adhesive. Terkadang dalam sistem juga hanya terdapat backing layer dan obat yang telah dicampur dengan adhesive (Rathbone et al., 2003). Pada sistem matrik, material polimer yang inert akan berikatan dengan obat dan mengendalikan laju pelepasan dari sediaan sedangkan pada tipe membran, yang mengontrol laju pelepasan terdapat diantara matriks obat dan lapisan adhesif yang merupakan barier yang menghambat laju pelepasan obat dari sediaan. Sistem membran akan memberikan laju pelepasan obat yang mengikuti orde nol (konstan) (Mehta, 2004). Patch dengan tipe matriks pembuatannya lebih mudah dan sederhana jika dibandingkan dengan tipe membran.

8 Pada penelitian kali ini akan dilakukan formulasi sediaan transdermal patch tipe membran dengan bahan aktif natrium diklofenak dengan kadar 2 mg/ cm2 dan mentol dengan kadar 1 % sebagai enhancer serta dilakukan pula optimasi kombinasi etil selulosa dan polivinilpirolidon untuk pelepasan dan penetrasi natrium diklofenak dari sediaan transdermal patch tipe matriks. Narium diklofenak memiliki koefisien partisi pada n oktanol/ larutan dapar (log P) sebesar 1.4 dan 1,1 pada pH 6,8 dan 7,4 (Chuasuwan et al., 2008). Karena log P yang rendah maka diperlukan teknik untuk meningkatkan efek terapeutik dari diklofenak setelah penggunaan. Teknik yang paling banyak digunakan adalah dengan menggunakan enhancer yang secara reversibel dapat menurunkan permeabilitas barier dari stratum korneum. Enhancer yang biasa digunakan antara lain isopropil miristat, N,N-diethyl-m-toluamide, decylmethyl sulfoxide, etanol, n-oktanol, dekanol dan nonionic surfactant (Kweon et al., 2004). Untuk itu maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh enhancer terhadap peningkatan penitrasi dan pelepasan natrium diklofenak dalam sediaan patch. Pada penelitian ini akan digunakan mentol sebagai enhancer. Mentol merupakan golongan terpene. Terpene adalah bahan yang disukai sebagai enhancer untuk membantu penghantaran obat menembus membran kulit (Williams & Barry, 2004). Mentol memiliki kemampuan berinteraksi dengan lipid interseluler dan peningkatkan partisi ke dalam kulit yang lebih baik dibandingkan dengan asam oleat, isopropil miristat dan monooleat (Kandavilli et al., 2002). Berdasarkan penjelasan diatas maka perlu diteliti kemampuan mentol dalam meningkatkan fluks pelepasan dan penitrasi dari sediaan transdermal patch tipe membran dengan kombinasi HPMC 4000 sebagai rate controlling membrane dan sodium alginat sebagai drug reservoir obat pada transdermal patch tipe membran. Pada pembuatan transdermal patch tipe membran ini akan digunakan HPMC 4000 cps sebagai rate controlling membrane dan sodium alginat sebagai drug reservoir obat. Pada penelitian sebelumnya, kombinasi antara 2% HPMC 4000 sebagai rate controlling membran dan 3% sodium alginat sebagai drug reservoir obat pada sediaan patch tipe membran dari ampicilin sodium menunjukkan profil uji penetrasi yang paling baik dibandingkan dengan kombinasi polimer lainnya (Bagyalakshmi et al., 2007). Berdasarkan penjelasan diatas maka perlu diteliti fluks pelepasan dan penitrasi in vitro natrium diklofenak dalam sediaan transdermal patch tipe membran dengan kombinasi HPMC 4000 sebagai rate controlling membrane dan sodium alginat sebagai drug reservoir obat serta mentol sebagai enhancer.

9 Polimer yang digunakan sebagai pembawa pada tipe matriks ada dua jenis, yaitu polimer hidrofilik seperti hidroksi propil metil selulosa, hidroksi propil selulosa dan polivinilpirolidon, serta polimer hidrofobik seperti etil selulosa, polietilen dan polivinil klorida. Penggunaan polimer hidrofilik seperti polivinilpirolidon akan menyebabkan media disolusi mudah berpenetrasi ke dalam matriks, sehingga terjadi difusi bahan obat yang cepat. Polimer hidrofilik tidak sesuai untuk bahan obat yang mudah larut dalam air. Penggunaan polimer hidrofobik seperti etil selulosa dapat memperlambat laju pelepasan obat, semakin tinggi konsentrasi etil selulosa yang digunakan, maka laju pelepasan obat makin lama. Agar pelepasan lebih efektif perlu dilakukan modifikasi sifat polimer dengan menggunakan campuran polimer, seperti kombinasi polivinilpirolidon dan etil selulosa. Pengaruh penambahan polivinilpirolidon ke dalam campuran etil selulosa menyebabkan terbentuknya pori pori, sehingga menyebabkan laju pelepasannya konstan (Kandavilli et al., 2002; Rathbone et al., 2002 ). Penelitian untuk mempelajari efek kombinasi polimer dalam membantu pelepasan obat telah banyak dilakukan. Salah satunya adalah kombinasi polivinilpirolidon dan etil selulosa dengan perbandingan 8:2 dan 7,5:2,5 menghasilkan profil pelepasan bahan aktif carvedilol yang baik. Pada perbandingan 7,5:2,5 memberikan jumlah kumulatif dan koefisien permeabilitas tertinggi selama 24 jam. Kombinasi polivinilpirolidon dan etil selulosa pada perbandingan 3:5 dengan penambahan enhancers span 20 juga menunjukkan hasil profil pelepasan bahan aktif garam diklofenak dietilamin yang baik (Mukherjee et al., 2005; Ubaidulla et al., 2007). Dalam penelitian ini ingin diketahui bagaimana pengaruh polimer kombinasi antara etil selullosa dan polivinilpirolidon pada perbandingan 9:1, 8:2, 7:3 dan 6:4 dalam meningkatkan fluks pelepasan dan penetrasi natrium diklofenak 100mg/50cm2 dari matrik, dengan penambahan menthol sebagai enhancer dengan kadar 1% dan polietilen glikol 400 sebagai plasticizer dengan kadar 5%, dengan metode pembuatan secara matrix controlled, sehingga dapat diperoleh kombinasi polimer dengan perbandingan yang tepat untuk sediaan patch natrium diklofenak tipe matriks. Evaluasi yang akan digunakan pada penelitian ini meliputi uji keseragaman berat, moisture content, uji pelepasan dan uji penetrasi perkutan secara in vitro. Untuk mengetahui efektivitas obat pada target maka perlu dilakukan uji in vitro dengan menggunakan model kulit dan akan dihasilkan data fluks yang dapat digunakan untuk memperkirakan obat yang masuk

10 kedalam tubuh (Rathbone et al., 2003). Untuk uji penetrasi in vitro biasanya digunakan membran dari kulit hewan. Kulit dari binatang pengerat seperti (mencit, tikus dan marmot) merupakan yang paling sering digunakan untuk studi penetrasi in vitro dan in vivo. Keuntungan yang didapat dari binatang-binatang ini antara lain adalah ukurannya yang kecil, penanganannya yang mudah serta harganya yang murah. Kebanyakan rodent seperti kulit tikus memiliki struktur yang menyerupai jaringan pada manusia (Godin & Touitou., 2007; Ozguney et al., 2006). Pada penelitian kali ini akan digunakan kulit tikus sebagai membran kulitnya. Pada penelitian ini dilakukan uji fisik meliputi uji organoleptis, uji moisture content, dan uji homogenitas. Uji pelepasan dan uji penetrasi secara in vitro digunakan alat disolusi USP XXXI tipe 5-paddle over disk pada suhu 32C, dengan kecepatan 50 rpm. (Mukherjee et al., 2005). Hasil uji pelepasan dan uji penetrasi dianalisa dengan menggunakan alat spektrofotemeter UV-Vis.

I.2

Tujuan Penelitian 1. Menentukan fluks pelepasan dan penetrasi in vitro natrium diklofenak dalam sediaan transdermal patch tipe membran dengan kombinasi controlling membrane dan sebagai enhancer. 2. Menentukan peningkatan fluks pelepasan dan penetrasi in vitro natrium diklofenak dalam sediaan transdermal patch tipe membran dengan kombinasi sebagai rate controlling membrane dan akibat adanya penambahan enhancer mentol 3. Menentukan fluks pelepasan dan penetrasi natrium diklofenak yang terbaik dalam bentuk sediaan transdermal patch tipe matriks dengan kombinasi polimer etil selullosa dan polivinilpirolidon pada perbandingan 9:1, 8:2,7:3 dan 6:4. serta mentol sebagai enhancer. 4. Menentukan peningkatan fluks pelepasan dan penetrasi in vitro natrium diklofenak dalam sediaan transdermal patch tipe matriks dengan kombinasi polimer etil selullosa dan polivinilpirolidon pada perbandingan 9:1, 8:2,7:3 dan 6:4.akibat adanya penambahan enhancer mentol HPMC 4000 sodium alginat sebagai drug reservoir obat HPMC 4000 sebagai rate sodium alginat sebagai drug reservoir obat serta mentol

11

II. TINJAUAN PUSTAKA


Sistem penghantaran transdermal merupakan pemberian bahan terapetik melalui kulit untuk menghasilkan efek sistemik. Pemberian obat secara transdermal memberikan beberapa keuntungan dibanding dengan bentuk tablet, kapsul dan injeksi (Singh & Kumar, 2007). Transdermal tidak hanya meningkatkan kepatuhan pasien tetapi juga keseragaman konsentrasi obat dalam plasma selama pemakaian (Mehta, 2004). Kebanyakan sediaan transdermal patch di formulasi untuk melepaskan bahan aktif pada laju pelepasan nol selama waktu tertentu. Awalnya pemberian secara parenteral merupakan rute pemberian alternatif dari obat yang diinaktivasi oleh enzim dan pH di gastrointestinal dan yang tidak bisa diberikan secara peroral. Namun sekarang obat dapat diberikan menuju sirkulasi sistemik dengan rute transdermal yang non invasif melalui sistem patch. Dan yang paling penting, tidak seperti injeksi, terapi obat dapat dihentikan dengan melepas patch pada waktu tertentu jika terjadi efek toksik (Mehta, 2004). Ada 2 tipe sistem transdermal patch yaitu tipe matrik atau monolitik dan tipe membran atau reservoir. Pada sistem matrik, material polimer yang inert akan berikatan dengan obat dan mengendalikan laju pelepasan dari sediaan sedangkan pada tipe membran, yang mengontrol laju pelepasan terdapat diantara matriks obat dan lapisan adhesif yang merupakan barier yang menghambat laju pelepasan obat dari sediaan. Sistem membran akan memberikan laju pelepasan obat yang mengikuti orde nol (konstan). Patch dengan tipe matriks pembuatannya lebih mudah dan sederhana jika dibandingkan dengan tipe membran. Pada penelitian sebelumnya, dibuat sediaan patch tipe matrix dengan kombinasi HPMC dan EC perbandingan 1:9, 2:8 dan 3:7 polivinilpirolidon dan etilselulose dalam perbandingan 1:5; 1:2; 2:3 dengan bahan aktif piroksikam didapatkan hasil pelepasan obat yang tergantung pada sifat lipofilisitas dan hidrofilisitas bahan penyusunnya (Hendradi dan Purwanti, 2007).

12 Pada penelitian transdermal dengan menggunakan bahan diklofenak pada sediaan mixed micelle diperoleh data yang menunjukkan bahwa diklofenak efektif untuk pemakai transdermal. Hal ini dibuktikan dengan penurunan inflamasi yang disebabkan pemberian Carageenan pada telapak kaki Wistar Rat (Hendradi et al, 2003) Tetapi pada penelitian ini dosis untuk tiap kali pemakaian belum didapatkan.

TAHAPAN SASARAN, LUARAN DAN METODOLOGI No. 1 Tahapan


Tahap I (Tahun I) Praformulasi

Sasaran
Memperoleh informasi sifat fisikokimia, farmakologi sebagai dasar formulasi sediaan patch Memperoleh informasi sediaan patch dan faktorfaktor yang berperan pada formulasi

Luaran
Data sifat fisikokimia, farmakologi sebagai dasar formulasi sediaan patch Sediaan dengan tipe membrane dan patch tipe matriks dengan berbagai komposisi dengan bahan aktif Natrium Diklofenak Data sifat fisik sediaan patch tipe matriks dan tipe membran

Metodologi
Penentuan sifat fisikokimia bahan yang aktif dan bahan penyusun sediaan patch dengan menggunakan DTA, Spektrofotometer Formulasi sediaan patch tipe tipe membran dengan berbagai formula dan matriks dengan berbagai komposisi dengan bahan aktif natrium Diklofenak

Tahap II (Tahun I) Formulasi sediaan Patch

Tahap III (Tahun I) Uji fisik sediaan Patch

Tahap IV (Tahun I) Pengamatan homogenitas sediaan dengan SEM Tahap V (Tahun I) Uji Pelepasan

Memperoleh informasi sifat fisik sediaan yang berperan terhadap stabilitas, efektivitas dan karakteristik sediaan patch Memperoleh informasi homogenitas sediaan patch baik tipe membrane maupun tipe matriks Memperoleh data jumlah Natrium Diklofenak yang terlepas dari sediaan patch

Evaluasi secara fisik sediaan patch meliputi uji organoleptis, pH, moisture content sediaan patch.

Data homogenitas sediaan patch baik tipe membrane maupun tipe matriks Data fluks pelepasan Natrium Diklofenak dari sediaan patch tipe membrane

Penentuan homogenitas sediaan dan distribusi pembawa dengan pengamatan molekul nya menggunakan Scaning Electron Microscopy (SEM) Uji pelepasan Natrium diklofenak dari sediaan pacth tipe membrane dan tipe matrix dengan menggunakan alat disolusi USP XXV dilengkapi dengan sel difusi

13 dan tipe matrik dengan berbagai formula dengan media reseptor dapar fosfat salin pH 7,4 dan suhu percobaan 37C. Jumlah obat yang berpenetrasi ditentukan dengan metode Spektrofotometer. Data yang didapatkan dihitung fluks nya dengan menggunakan rumus Higuchi. Tikus putih (Wistar Rat) usia 6-8 Minggu dengan berat 170-180 gram diambil kulitn abdominalnya setelah dibunuh dengan menggunakan eter. Uji penetrasi Natrium diklofenak dari sediaan pacth tipe membrane dan tipe matrix dengan menggunakan alat disolusi USP XXV dilengkapi dengan sel difusi dengan media reseptor dapar fosfat salin pH 7,4 dan suhu percobaan 37C. Jumlah obat yang berpenetrasi ditentukan dengan metode Spektrofotometer. Data yang didapatkan dihitung fluks nya dengan menggunakan rumus Fick. Uji anti inflamasi dengan menggunakan Wistar Rat sebagai binatang uji, Caragen sebagai pembentuk inflamasi disuntikkan pada hindpaw Wistar Rat kemudian tikus diberi sediaan patch dan dilihat efek penurunan inflamasinya. Uji efek iritasi didapat dengan cara mengamati efek yang ditimbulkan pada kulit Wistar Rat setelah diberi sediaan patch.

Tahap VI (Tahun I) Uji Penetrasi secara In Vitro

Memperoleh data jumlah Natrium Diklofenak yang berpenetrasi menembus kulit tikus putih (Wistar Rat) dari sediaan patch

Data fluks penetrasi Natrium Diklofenak dari sediaan patch tipe membrane dan tipe matrik dengan berbagai formula yang menembus kulit tikus putih (Wistar Rat)

Tahap VII (Tahun II) Uji In Vivo sediaan Patch

Memperoleh data in Vivo dengan melihat melihat efek farmakologi yang ditimbulkan

Tahap VIII (Tahun II) Uji efek iritasi

Tahap IX (Tahun II) Uji kerusakan sel kulit secara

Memperoleh data iritasi kulit Wistar Rat akibat yang ditimbulkan oleh Natrium Diklofenak yang berpenetrasi dari sediaan patch Memperoleh data kerusakan sel kulit Wistar Rat tentang akibat yang

Data penurunan inflamasi sebagai efek farmakologi yang disebabkan penetrasi Natrium Diklofenak secara in Vivo. Data iritasi kulit Wistar Rat akibat pemberian sediaan patch

Data kerusakan sel kulit Wistar Rat tentang akibat yang

Kulit Wistar Rat yang ditempeli sediaan patch setelah selesai uji penetrasi diambil, difiksasi dan diamti

14 histologi ditimbulkan oleh Natrium Diklofenak yang berpenetrasi dari sediaan patch Memperoleh data scale up sediaan patch baik tipe membrane maupun matriks setelah discale up (formula yang terpilih). Serta data control kualitasnya ditimbulkan oleh Natrium Diklofenak yang berpenetrasi dari sediaan patch Data scale up sediaan patch baik tipe membrane maupun matriks setelah discale up (formula yang terpilih). Serta data control kualitasnya kerusakan selnya dengan ditihat secara histology.

10

Tahap X (Tahun III) Scale up sediaan dan control kualitasnya

Sediaan patch yang terpilih dari hasil optimasi sediaan dibuat dengan skala besar (pilot project). Dilakukan control kualitas pada in process dan end process

15

III. METODE PENELITIAN 3.1 3.1.1 Tahapan Penelitian Skema Kerja Tahapan penelitian yang dilakukan adalah dengan melakukan analisis kualitatif dari natrium diklofenak, mentol, HPMC dan sodium alginat. Setelah analisis kualitatif kemudian dilakukan optimasi HPMC sebagai rate controlling membrane dan sodium alginat sebagai drug reservoir. Selanjutnya akan dilakukan pembuatan sediaan patch natrium diklofenak tipe membran dengan mentol sebagai enhancer. Sediaan kemudian di uji keseragaman berat, uji MC, uji homogenitas, uji pelepasan sediaan patch dan uji penetrasi sediaan patch dengan membran kulit tikus. Data yang diperoleh kemudian dianalisa. Tahapan penelitian dapat dilihat pada gambar 3.1 Analisa kualitatif natrium diklofenak, mentol, HPMC dan sodium alginat

Optimasi drug reservoir dan rate controlling membrane

Pembuatan sediaan patch natrium diklofenak tipe membran

Karakteristik fisik : Uji keseragaman berat Uji MC sediaan patch Uji homogenitas dengan SEM

Uji efektifitas : Uji pelepasan sediaan Uji penetrasi sediaan

Analisa data

16 Gambar 3.1: Skema kerja formulasi transdermal patch tipe membran Pada pembuatan sediaan patch natrium diklofenak tipe matrik , sampel yang diperoleh dievaluasi, meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji moisture content, uji pelepasan dan uji penetrasi sediaan patch. Data yang diperoleh kemudian dianalisa. Tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.2

Analisis kualitatif natrium diklofenak, PVP dan EC

Pembuatan sediaan patch natrium diklofenak

Evaluasi sediaan patch

Karakteristik Fisik Pemeriksaan Organoleptis Uji Homogenitas Uji MC Uji Efektifitas Uji Pelepasan Uji penetrasi

Analisa data

Gambar 3.2 Skema kerja penelitian formulasi transdermal patch tipe matrik

3.1.2

Identifikasi Kualitatif Natrium Diklofenak 1) Pemeriksaan Organoleptis Pemeriksaan secara visual meliputi bentuk, warna dan rasa. Hasil pemeriksaan dibandingkan dengan pustaka. 2) Identifikasi Spektrum Serapan Infra Merah Natrium Diklofenak Diambil sekitar 1 mg zat dan digerus dengan 100 mg serbuk KBr kering kemudian ditekan atau dikompres dengan penekan hidrolik yang dilengkapi dengan alat penarik uap air agar diperoleh lempemg tipis yang tembus cahaya.

17 Kemudian diamati spektrum serapan infra merahnya dengan Spectrum One FTIR Spectrometer Perkin Elmer Instrument dan hasil yang diperoleh dibandingkan dengan pustaka (Florey, 1986). 3) Pemeriksaan Suhu Lebur Bahan uji dipanaskan dengan alat uji suhu lebur Differential Thermal Analysis (DTA) pada suhu 50-200C dengan kecepatan pemanasan 5C permenit. Suhu lebur yang teramati pada termogram dibandingkan dengan pustaka (Florey, 1986). 3.1.3 Identifikasi Kualitatif Mentol 1) Pemeriksaan Organoleptis Pemeriksaan secara visual meliputi bentuk, warna dan rasa. Hasil pemeriksaan dibandingkan dengan pustaka (Kibbe, 2000). 2) Identifikasi Spektrum Serapan Infra Merah Mentol Diambil sekitar 1 mg zat dan digerus dengan 100 mg serbuk KBr kering kemudian ditekan atau dikompres dengan penekan hidrolik yang dilengkapi dengan alat penarik uap air agar diperoleh lempemg tipis yang tembus cahaya. Kemudian diamati spektrum serapan infra merahnya dengan Spectrum One FTIR Spectrometer Perkin Elmer Instrument dan hasil yang diperoleh dibandingkan dengan pustaka (Florey, 1986). 3.1.4 Identifikasi Kualitatif Hidroksi Propil Metil Selulosa Diambil sekitar 1 mg zat dan digerus dengan 100 mg serbuk KBr kering kemudian ditekan atau dikompres dengan penekan hidrolik yang dilengkapi dengan alat penarik uap air agar diperoleh lempeng tipis yang tembus cahaya. Kemudian diamati spektrum serapan infra merahnya dengan Spectrum One FTIR Spectrometer Perkin Elmer Instrument dan hasil yang diperoleh dibandingkan dengan pustaka (Florey, 1986). 3.1.5 Identifikasi Kualitatif Sodium Alginat Diambil sekitar 1 mg zat dan digerus dengan 100 mg serbuk KBr kering kemudian ditekan atau dikompres dengan penekan hidrolik yang dilengkapi dengan alat penarik uap air agar diperoleh lempemg tipis yang tembus cahaya. Kemudian diamati

18 spektrum serapan infra merahnya dengan Spectrum One FTIR Spectrometer Perkin Elmer Instrument dan hasil yang diperoleh dibandingkan dengan pustaka (Florey, 1986). 3.1.6 Identifikasi Kualitatif Propilen Glikol Diambil sekitar 1 mg zat dan digerus dengan 100 mg serbuk KBr kering kemudian ditekan atau dikompres dengan penekan hidrolik yang dilengkapi dengan alat penarik uap air agar diperoleh lempemg tipis yang tembus cahaya. Kemudian diamati spektrum serapan infra merahnya dengan Spectrum One FTIR Spectrometer Perkin Elmer Instrument dan hasil yang diperoleh dibandingkan dengan pustaka (Florey, 1986). 3.2 3.2.1 Pembuatan Kurva Baku Natrium Diklofenak Pembuatan Larutan Dapar Fosfat Salin pH 7,4 0,5 8 gram NaCl, 0,2 gram KCl, 1,44 gram Na2HPO4 dan 0,24 gram KH2PO4 dilarutkan dalam 800 mL air pada bekerglass. Kemudian larutan di adjust dengan 1N HCl hingga pH 7,4. Larutan kemudian dimasukkan dalam labu ukur 1L dan ditambahkan air hingga tanda. 3.2.2 Pembuatan Larutan Induk Natrium Diklofenak Ditimbang seksama 10 mg bahan uji dilarutkan dengan100mL larutan dapar fosfat salin pH 7,4 0,5 pada labu ukur kemudian dikocok sampai homogen. 3.2.3 Pembuatan Larutan Baku Kerja Natrium Diklofenak Dibuat larutan baku kerja natrium diklofenak dengan mengencerkan larutan baku induk natrium diklofenak dengan larutan dapar fosfat salin pH 7,4 0,5 hingga diperoleh larutan baku kerja dengan kadar 0,5, 1, 2, 3,4, 6, 10, 15g/mL. Larutan ini digunakan untuk menentukan panjang gelombang maksimal dan membuat kurva baku. Larutan blanko yang digunakan adalah larutan dapar fosfat salin pH 7,4 0,5. 3.2.4 Penentuan Panjang Gelombang Terpilih Panjang gelombang terpilih ditentukan dengan menggunakan larutan baku kerja natrium diklofenak. Nilai absorban tiap tiap kadar diamati dengan Spektrofotometer UV pada rentang panjang gelombang 200-400 nm, kemudian dibuat kurva absorban versus panjang gelombang (). Panjang gelombang terpilih adalah panjang gelombang dengan pengganggu yang minimal. 3.2.5 Pembuatan Kurva Baku Natrium Diklofenak

19 Dibuat dengan mengamati absorban larutan baku kerja natrium diklofenak pada maksimum kemudian dibuat kurva absorban versus kadar larutan baku kerja natrium diklofenak. Cara pengukuran absorban yaitu sampel larutan baku kerja dimasukkan kedalam kuvet kemudian diamati absorbannya pada maksimum. Setelah itu membuat persamaan garis regresi linier. 3.3 Optimasi Drug Reservoir Dan Rate Controlling Membrane Optimasi sodium alginat dilakukan dengan cara membuat mengenkapsulasi bahan aktif obat dengan sodium alginat dengan kadar 2%, 3% dan 4%. Sodium alginat dilarutkan dalam campuran air:etanol (80:20) dan diaduk dengan menggunakan stirer secara konstan sehingga dihasilkan campuran sodium alginat dengan konsentrasi tertentu. Natrium diklofenak dilarutkan terlebih dahulu dengan etanol hingga larut dan kemudian di tambahkan kedalam campuran sodium alginat sambil terus diaduk konstan dengan stirer hingga homogen. Hasil campuran tersebut kemudian di tuang dan diratakan ke backing membrane, kemudian dikeringkan pada suhu 45C selama 6 jam hingga terbentuk matrik yang kering. Masing masing formula kemudian diuji pelepasannya untuk melihat kadar sodium alginat yang optimal sebagai drug reservoir. Tabel 3.1 : Formula untuk optimasi sodium alginat sebagai drug reservoir Bahan Natrium diklofenak Sodium alginat 2% Sodium alginat 3% Sodium alginat 4% 3.3.2 A 2 20 Berat (mg/ cm 2) B 2 20 C 2 20

3.3.1 Optimasi Sodium Alginat Sebagai Drug Reservoir

Optimasi HPMC 4000 Sebagai Rate Controlling Membrane Optimasi HPMC 4000 sebagai rate controlling membrane dilakukan pada kadar 1%, 2%

dan 3%. Setelah terpilih kadar sodium alginat yang optimal sebagai drug reservoir maka langkah selanjutnya adalah menambahkan rate controlling membrane pada sediaan. HPMC 4000 dilarutkan dalam air terdestilasi hingga dihasilkan HPMC 4000 cps dengan kadar 1%, 2%, 3%. Propilen glikol kemudian ditambahkan kedalam campuran sambil terus diaduk dengan stirer hingga homogen. Campuran tersebut kemudian dituang diatas drug reservoir. sediaan tersebut kemudian di keringkan di lemari asam hingga berat konstan dan diuji

20 pelepasan untuk mengetahui kadar HPMC 4000 yang optimal sebagai rate controlling membrane. Tabel 3.2: Formula untuk optimasi HPMC sebagai rate controlling membrane Bahan Natrium diklofenak Sodium alginat HPMC 4000 1% HPMC 4000 2% HPMC 4000 3% Propilen glikol 3.4 3.4.1 D 2 20 20 8 Berat (mg/ cm2) E 2 20 20 8 F 2 20 20 8

Pembuatan Sediaan Patch Natrium Diklofenak transdermal patch tipe membran Formula transdermal patch tipe membran Bahan Natrium diklofenak Sodium alginat HPMC 4000 Propilen glikol Total Bahan Fungsi Enhancer Fungsi Bahan aktif Basis Basis Plastisizer Berat (mg/ cm2) Kontrol Formula 2 2 20 20 20 20 8 8 50 50 Berat (mg/ cm2) Kontrol Formula 0,5

Tabel 3.3: Formula sediaan patch natrium diklofenak transdermal patch tipe membran

3.4.2

Mentol Cara Pembuatan 1)

Pembuatan drug reservoir patch Sodium alginat dilarutkan dalam campuran air:etanol (80:20) dan diaduk dengan menggunakan stirer secara konstan sehingga dihasilkan campuran sodium alginat dengan konsentrasi tertentu. Natrium diklofenak dilarutkan terlebih dahulu dengan etanol hingga larut dan kemudian di tambahkan kedalam campuran sodium alginat sambil terus diaduk konstan dengan stirer hingga homogen. Hasil campuran tersebut kemudian di tuang dan diratakan ke backing membrane, kemudian dikeringkan pada suhu 45C selama 6 jam hingga terbentuk matrik yang kering.

2)

Pembuatan rate controlling membrane HPMC dilarutkan dalam air terdestilasi hingga dihasilkan HPMC dengan kadar tertentu dan kemudian ditambahkan dengan mentol yang sebelumnya telah

21 dilarutkan dengan etanol sambil diaduk dengan menggunakan stirer. Propilen glikol kemudian ditambahkan kedalam campuran sambil terus diaduk dengan stirer hingga homogen. Campuran tersebut kemudian dituang diatas matrik kering (1). Patch tersebut kemudian di keringkan di lemari asam hingga berat konstan. Metode pembuatan patch dapat dilihat pada gambar 3.3 Sodium alginat dilarutkan campuran air:etanol (80:20) sodium alginate dengan kadar tertentu Pengaduka n konstan dengan stirrer HPMC + aquadest HPMC dengan kadar tertentu

Na diklofenak + etanol ad larut Mentol + etanol ad larut Propilen glikol

Tuang dan ratakan ke backing membrane

Dikeringkan pada suhu 45C selama 6 jam

Drug reservoir

Rate controlling membrane

Patch dikeringkan dilemari asam hingga konstan Patch natrium diklofenak tipe membran Gambar 3.3: Alur pembuatan natrium diklofenak patch Patch yang sudah jadi siap untuk dilakukan pemeriksaan seperti moisture content, keseragaman berat, uji homogenitas, uji pelepasan dan uji penetrasi. 3.5 Pembuatan Sediaan Patch Natrium Diklofenak transdermal patch tipe matrik 3.5.1 Formula Natrium Diklofenak transdermal patch tipe matrik

22 Sediaan patch natrium diklofenak tipe matrix controlled dengan perbandingan polimer yang berbeda dibuat untuk menghasilkan berat ratarata 0,500 gram, luas permukaan 12,56 cm2 dan replikasi dilakukan sebanyak tiga kali. Rancangan formula tersaji pada Tabel 4.1. Tabel 3.4 Rancangan formula sediaan patch natrium diklofenak Bahan Natrium diklofenak EC N-20 PVP K-30 Polietilen glikol 400 Menthol 3.5.2 Cara Pembuatan PVP K-30 + kloroform Fungsi Bahan aktif Basis Basis Plastizier Enhancer EC N-20 + kloroform Konsentrasi (mg/12,64 cm2) Formula 1 Formula 2 Formula 3 Formula 4 25,12 mg/ 25,12 mg/ 25,12 mg/ 25,12 mg/ 12,56 cm2 12,56 cm2 12,56 cm2 12,56 cm2 400.392 355.904 311.416 266.928 44.488 88.976 133.464 177.952 25 25 25 25 5 5 5 5 menthol + kloroform

Natrium diklofenak

Larutan PVP K-30 dan EC N20 dicampur

Larutan menthol dan natrium diklofenak dicampur

Larutan PVP K-30 + EC N20 dicampurkan ke dalam larutan natrium diklofenak + menthol Ditambahkan polietilen glikol 400 dan sisa kloroform sedikit demi sedikit Sediaan dituang ke dalam cetakan Dikeringkan dalam lemari asam

Gambar 3.4 Skema pembuatan patch natrium diklofenak PVP K-30 dan EC N-20 masing masing dilarutkan dalam kloroform hingga larut. Larutan PVP K-30 dimasukkan ke dalam larutan EC N-20 sambil diaduk hingga tercampur

23 merata. Sebelumnya telah dibuat larutan menthol dengan cara ditimbang menthol sejumlah 0,500 gram, dilarutkan dalam kloroform hingga tepat 100,0 mL. Untuk masing masing formula, digunakan 1,0 mL larutan menthol dituang ke dalam natrium diklofenak, diaduk sampai terlarut. Campuran natrium diklofenak dan menthol dimasukkan ke dalam campuran PVP K-30 dan EC N-20. Pengadukan dilakukan secara hati hati dan merata hingga semua bahan tercampur. Polietilen glikol 400 dan sisa larutan kloroform ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus dilakukan pengadukan hingga homogen. Setelah homogen, sediaan dituang ke dalam cetakan. Sediaan patch natrium diklofenak dikeringkan dalam lemari asam. 3.6 3.6.1 Penentuan Karakteristik Fisik Sediaan Patch Natrium Diklofenak Pemeriksaan Organoleptis Pemeriksaan organoleptis sediaan patch natrium diklofenak dilakukan secara visual meliputi bentuk, warna dan bau. 3.6.2 Keseragaman Berat Keseragaman berat dilakukan dengan menimbang sampel dari masing masing formula sediaan patch dan dilakukan perulangan penimbangan. Kemudian dihitung berat rata rata dan standart deviasinya (Mamatha et al., 2009) 3.6.3 Moisture Content Uji ini dilakukan dengan menimbang sediaan patch dan menyimpannya didalam desikator yang mengandung silika aktif pada suhu ruangan selama 24 jam. Masing masing patch ditimbang hingga menunjukkan berat yang konstan (Ubaidulla et al., 2007).

%MC =

.......(5)

3.6.4

Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukn dengan mengamati homogenitas dari natrium diklofenak pada

sediaan patch dengan menggunakan Scanning Electron Microscopy 3.7 Penentuan Uji Pelepasan Natrium Diklofenak Dari Sediaan Patch 3.7.1 Pembuatan Media Pelepasan Larutan dapar fosfat salin pH 7,40,5 sebagai media pelepasan dibuat dengan cara yang sama dengan pembuatan larutan dapar pada 4.6.1

24 3.7.2 Uji Pelepasan Natrium Diklofenak Dari Sediaan Patch (United Stated

Pharmacopoeia, 2002) Alat dan perlengkapan percobaan uji pelepasan natrium diklofenak dari sediaan patch yang digunakan disesuaikan dengan metode di USP XXV dan British Pharmacopoeia 2002. Alat yang digunakan adalah rangkaian alat uji pelepasan yaitu bejana uji penetrasi, pengaduk tipe dayung yang dilengkapi dengan sel difusi. Sel difusi terdiri dari cover dan reservoir. Gambar alat dapat dilihat pada gambar 4.3 Keterangan gambar : A: Tabung uji pelepasan yang berisi larutan media B: Paddle (pengaduk) yang diatur kecepatannya C: Jarak antara ujung paddle dengan membran D: Disk yang berisi sediaan E: Termometer (temperatur penelitian 37 0.50 C) F: Tabung untuk mengambil cuplikan

Gambar 3.5: Rangkaian alat uji pelepasan dan penetrasi (British Pharmacopoeia, 2002) Sel difusi terbuat dari bahan stainless steel berbentuk silinder pipih. Sebagai pengaman untuk mencegah kebocoran, sel difusi dilengkapi dengan karet penyekat berbentuk ring sebagai penghubung antara tempat sediaan dengan penutupnya. Gambar sel difusi dapat dilihat pada gambar 4.4 Keterangan Gambar : A1,A2 : Bagian atas dan bawah disk yang terbuat dari kuningan A2 B C : Tempat sediaan : Ring dari karet : Membran Gambar 3.6: Sel difusi (British Pharmacopoeia, 2002) Bejana uji diisi dengan media pelepasan sebanyak 500 ml yang terlebih dahulu dipanaskan sampai mencapai suhu 37 0,5C. sel difusi diletakkan didasar bejana uji dengan bagian cover menghadap keatas kemudian dayung diputar dengan kecepatan 50 rpm. Pada

25 setiap waktu tertentu diambil cuplikan sebanyak 5,0 ml di tengahtengah antara permukaan media disolusi dan bagian atas daun dayung, tidak lebih dari satu cm dari dinding bejana. Setiap kali pengambilan cuplikan, bejana disolusi ditambah larutan dapar fosfat salin pH 7,4 0,5 dengan temperatur dan volume yang sama Pengambilan sampel dilakukan selama 8 jam dengan rentang pengambilan pada menit ke 30, 60, 90, 120, 150, 180, 210, 240, 270, 300, 330, 360. Replikasi dilakukan 3 kali dan kadar yang terbaca kemudian dilakukan perhitungan koreksi disolusi menurut Wurster dan Taylor (Wurster dan taylor., 1965; El kamel et al., 2002)

Keterangan:

Cn Cn Cs a b

= kadar sebenarnya setelah dikoreksi (ppm) = kadar terbaca (hasil perhitungan dari nilai serapan sampel yang terbaca pada kadar spektrofotometer) (ppm) = kadar terbaca dari sampel sebelumnya = volume sampel yang diambil = volume media

3.7.3

Perhitungan Jumlah Kumulatif Natrium Diklofenak Penentuan jumlah kumulatif natrium diklofenak yang terlepas dari basis persatuan luas

membran setiap waktu dihitung dari kadar yang diperoleh setiap waktu (g/mL) yang kemudian dikoreksi dengan koreksi Wurster lalu dikalikan dengan jumlah media (500 mL) dan dibagi luas permukaan membran. 3.7.4 Profil Pelepasan Natrium Diklofenak Dari Sediaan Patch Profil pelepasan natrium diklofenak in vitro dapat dilihat dengan membuat kurva hubungan antara jumlah natrium diklofenak yang terlepas (g/cm2) terhadap (menit ). 3.7.5 Penentuan Kecepatan Pelepasan ( fluks) Natrium Diklofenak dari Sediaan Patch Berdasarkan kurva hubungan antara jumlah kumulatif natrium diklofenak yang terlepas (g/cm2) terhadap akar waktu (menit1/2) dan dihitung regresi liniernya. Berdasarkan hukum Higuchi, slope dari persamaan regresi merupakan kecepatan penetrasi (fluks) natrium diklofenak dari basis. 3.8 Penentuan Uji Penetrasi perkutan Natrium Diklofenak Dari Sediaan Patch Penentuan uji penetrasi perkutan dari sediaan natrium diklofenak sama dengan penentuan uji pelepasan, mulai dari penyiapan alat, media penetrasi, sel difusi dan samplingnya. Pada uji penetrasi juga dihitung perhitungan jumlah kumulatif natrium diklofenak, pembuatan profil
1/2

akar waktu

26 penetrasi perkutan natrium diklofenak dari sediaan patch maupun penentuan kecepatan penetrasi perkutan (fluks) natrium diklofenak dari sediaan patch. Yang membedakan uji penetrasi dan uji pelepasan hanya terdapat pada penggunaan membran yang digunakan untuk uji. Pada uji pelepasan tidak digunakan membran uji atau dengan membran berpori sedangkan pada uji penitrasi digunakan kulit tikus sebagai membran uji. 3.8.1 Penyiapan Membran Uji Tikus dari galur wirstar jantan dengan umur 6 8 minggu dikorbankan dengan menggunakan eter. Bulu bulu yang terdapat pada hewan coba dicukur halus dan kulit diambil dari bagian abdominal. Jumlah Wistar Rat yang digunakan untuk tiap formula adalah 7 ekor tikus. 3.8.2 Perhitungan Jumlah Kumulatif Natrium Diklofenak Penentuan jumlah kumulatif natrium diklofenak yang terpenitrasi persatuan luas membran setiap waktu dihitung dari kadar yang diperoleh setiap waktu (g/mL) yang kemudian dikoreksi dengan koreksi Wurster lalu dikalikan dengan jumlah media (500 mL) dan dibagi luas permukaan membran. 3.8.3 Profil Penetrasi Natrium Diklofenak Dari Sediaan Patch Profil penetrasi natrium diklofenak in vitro dapat dilihat dengan membuat kurva hubungan antara jumlah natrium diklofenak yang terpenitrasi (g/cm2) terhadap waktu (menit). 3.8.4 Penentuan Kecepatan Penetrasi (fluks) Natrium Diklofenak dari Sediaan Patch Berdasarkan kurva hubungan antara jumlah kumulatif natrium diklofenak yang terpenitrasi (g/ cm2) terhadap waktu (menit) diklofenak dari basis. 3.9 Analisa Data Data % moisture content, fluks pelepasan dan fluks penitrasi sediaan patch natrium diklofenak dianalisa dengan uji T untuk melihat apakah enhancer memberikan perbedaan bermakna terhadap sediaan natrium diklofenak transdermal patch tipe membran dan uji anova one way untuk melihat perubahan bermakna antar formula pada sediaan natrium diklofenak dan dihitung regresi liniernya. Berdasarkan hukum Fick, slope dari persamaan regresi merupakan kecepatan penetrasi (fluks) natrium

27 transdermal patch tipe matrik . Apabila hasil yang diperoleh F hitung > F tabel menunjukkan adanya perbedaan bermakna.

28

IV. ORGANISASI TIM PENELITI

4.1. Ketua Tim Peneliti Nama Pangkat/Gol Jabatan Bidang Keahlian Unit Kerja 4.2. Anggota Nama Pangkat/Gol Jabatan Bidang Keahlian Unit Kerja 4.3. Mahasiswa Pasca Sarjana : Dr. Isnaeni,Apt : Pembina/ Gol IVa : Lektor Kepala : Mikrobiologi :Departemen Kimia Farmasi, Fakultas Farmasi UNAIR : Dra Esti Hendradi, Apt., MSi., Ph.D : Pembina/Gol IVa : Lektor Kepala :System Penghantaran Obat Transdermal :Departemen Farmasetika Fakultas Farmasi UNAIR

29 S2: 1. Efrin Pujianti. Program Pasca Sarjana UNAIR 2. Aditya Fridayanti. Program Pasca Sarjana UNAIR

V.

JADWAL PENELITIAN No. 1. 2. 3 4. 6. 7. 8. 9. 10. Kegiatan I Praformulasi Formulasi sediaan Patch Uji fisik sediaan Patch Pengamatan homogenitas sediaan dengan SEM Uji Pelepasan Uji Penetrasi secara In Vitro Uji In Vivo sediaan Patch Uji efek iritasi Uji kerusakan sel kulit secara histologi Scale up sediaan dan control kualitasnya Tahun Ke II III

VI.

ANGGARAN BIAYA Jenis Pengeluaran Pelaksana (Gaji dan Upah) Peralatan Bahan Aus (Material Penelitian) Perjalanan Pertemuan/Seminar Laporan/Publikasi Lain-lain Total Anggaran I 23.500.000,00 10.450.000,00 47.550.000,00 4.000.000,00 4.500.000,00 90.000.000,00 Tahun Ke II 23.500.000,00 10.450.000,00 47.550.000,00 4.000.000,00 4.500.000,00 90.000.000,00 III 23.500.000,00 10.450.000,00 47.550.000,00 4.000.000,00 4.500.000,00 90.000.000,00

VII. DAFTAR PUSTAKA

30 1. Barry, B.W 1983, Dermatological Formulation Percutaneus Absorption,New York, Basel : Mercell Dekker Inc., p. 1 8, 14 - 20, 32, 96, 127 9, 158 60, 234 41, 250 2. Bagyalaksmi, J., Vamsikrishna, R.P., Manavalan, R., Ravi, T.K., and Manna, P.K., 2007. Formulation Development And In Vitro And In Vivo Evaluation Of Membrane Moderated Transdermal System Of Ampicillin Sodium In Ethanol: pH 4,7 Buffer Solvent System. AAPS PharmaSciTech, 8(1). 3. Berard, F., Marty, J.P., and Nicolas, J.F., 2003. Allergen penetration through the skin. Eur.J.Dermatol, Volume 13. p 324-30 4. Budhatoki, U., and Thapa, P., 2005. Effect of Chemical Enhancers on In Vitro Release of Salbutamol Sulphate from Transdermal Patches. Journal of Science Engineering and Technology, Vol.1, No.1 5. El-kamel, A.H., Magda, S.S., Viviane, F.N., Safaa, S.A., 2002. Bioadhesive Controlled Release Metronidazole Vaginal Tablets. Acta Pharm., 52, 171-179.. 6. Hendradi, E., Obata, Y., Takayama, K., Nagai, T. Effect of Bile Salts-Lecithin Mixed Micelles on the Skin Permeation of Diclofenac in rats. STP Pharma Sciences, 13, 2003, 247-251. 7. Hendradi, E., Obata., Y., Isowa, K., Nagai, T, Takayama, K. Effect of Mixed Micelle Formulations including Terpenes on the Transdermal Delivery of Diclofenac. Biol. Pharm. Bull., 26, 2003, 1739-1743. 8. Hendradi, E,Purwanti, T., I.G.N. Jimmy,A.P. The Influence of Polymer Combination Polyvinylpyrrolidone (PVP) K-30 and Ethylcellulose (EC) N-22 to Accelerating Released of Piroxicam from Patch Base. The International Seminar on Pharmaceutics. Updated on Pharmaceutical Innovation and New Drug Delivery System, (Poster Presentation) Bandung, October 31 November 1, 2007 9. Hendradi, E,Purwanti, T , 2007. Optimasi Efektivitas Piroksikam dalam Sediaan Gel dan Patch (The Effectivity Optimation of Piroxicam in Gel and Patch preparation), Laporan Project Grant Fakultas Farmasi. 10.Jamakandi, V.G., Mulla, J.S., Vinay, B.L., and Shivakumar, H.N., 2009. Formulation, Characterization And Evaluation Of Matrix Type Transdermal Patches Of A Model Antihypertensive Drug. Asian J. Pharm., p.59-65. 11.Kumar, R., and Philip, A., 2007. Modified Transdermal Technologies: Breaking the Barriers of Drug Permeation via the Skin. Tropical Journal of Pharmaceutical Research, 6 (1), p 633-644 12.Liu, Y., Fang, L., Zheng, H., Zhao, L., Ge, X., and He, Z., 2007. Development and In Vitro Evaluation of a Topical Use Patch Containing Diclofenac Diethanolamine Salt. Asian Journal of Pharmaceutical Sciences, 2 (3): p.106-113

31 13.Mukherjee, B., Kanupriya, Mahapatra, S., Das, S., and Patra, B., 2005. Sorbitan Monolaurate 20 as a Potential Skin Permeation Enhancer in Transdermal Patches. The Journal of Applied Research, Vol.5, No.1, p.96-108 14.Mutalik, S., Udapa, N., 2005. Formulation Development, In Vitro And In Vivo Evaluation Of Membrane Controlled Transdermal System Of Glibenclamide. J. Pharm. Sci., 8(1), p.26-38. 15.Pathanl, B.I., and Setty, M.C., 2009. Chemical Penetration Enhancers for Transdermal Drug Delivery Systems. Tropical Journal of Pharmaceutical Research, 8 (2): 173179 16.Rhee, Y.S., Kwon, S.Y., Park, C.W., Choi, N.Y., Byun, W.J., Chi, S.C., and Park, S.C., 2008. Characterization of Monolithic Matrix Patch System Containing Tulobuterol. Arch Pharm Res Vol 31, No 8, p.1029-1034 17.Shah, S.N.H, Rabbani, M., and Amir, M.F., 2006. Study of Percutaneous Absorption of Diclofenac Diethylamine in The Presence of Cetrimide Through Hairless Rabbit Skin. Journal of Research (Science), Vol.17, No.1, p. 45-51 18.Shinde, A.J., Garala, K.C., and More, H.N., 2008. Development and Characterization of Transdermal Therapeutics System of Tramadol Hydrochloride. Asian Journal of Pharmaceutics, p 265 269. 19.Singh, P.B., and Kumar, C.P., 2007. Penetration Enhancer for Transdermal Drug Delivery of Systemic Agents. Journal of Pharmaceutical Research, Vol.6, p.44-50 20.Skoog, D.A., Holler, F.J., Niemar, T.A., 1998, Principle of Instrumental Analysis 5thed, Philadephia : Saunders College Publishing 21.Thong, H.Y., Zhai, H., and Maibach, H.I., 2007. Percutaneous Penetration Enhancers:An Overview. Skin Pharmacol Physicol,20, p 272-282. 22.Tiwary, A.K., Sapra, B., and Jain, S., 2007. Innovations in Transdermal Drug Delivery : Formulations and Techniques. Recent Patents on Drug Delivery and Formulation, 1, p.23-36. 23.Ubaidulla, U., Reddy, M.V.S., Ruckmani, K., Ahmad, F.J., and Khar, R.P., 2007. Transdermal Therapeutic System of Carvedilol : Effect of Hydrophilic and Hydrophobic Matrix on In Vitro and In Vivo Characteristics. AAPS PharmaSciTech,8 (1) article 2 p.E1-E8. 24.Winfield, A.J., and Richards, R.M.E., 1990, Pharmaceutical Practice, 2nd edition, Churchill Livingstone, UK, p. 172 173. 25.Wurster D.E., Taylor, P.W., 1965. Dissolution Kinetics Of Certain Crystalline Forms Of Prednisolone. J. Pharm. Sci., 54(5), p. 169.

32

LAMPIRAN
1. Justifikasi Anggaran 1. Honorarium No. 1. 2. 3. 2. Peralatan No. 1. Jenis Pengeluaran Eppendorrf adjustable volume digital pipettes 1.05.0 ml (pipet pengukur volume) Anggaran (Rupiah) 1.700.000,00 Jenis Pengeluaran Peneliti utama : 10 bulan x 1.000.000 x 1 Peneliti anggota : 10 bulan x 750.000 x 1 Peneliti mahasiswa : 10 bulan x 300.000 x 2 Total Anggaran (Rupiah) 10.000.000,00 7.500.000,00 6.000.000,00 23.500.000,00

33 2. 3. 4. Filter holder Pemakaian SEM 1.250.000 x 4 Animal clipper Total 750.000,00 5.000.000,00 3.000.000,00 10.450.000,00

3. Bahan habis Pakai No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. Jenis Pengeluaran NaCl 3 kg (@ 750.000) KCl 1 kg Na2HPO4 1 kg KH2PO4 1kg Etil Selulosa N-20 50g (@ 985.000/5 g) Polivinil pyrollidon K-30 100g Sodium Alginat 1 kg HPMC 100g Etanol 95% Chloroform Propilenglikol PEG 400 Menthol 100g Tikus Wistar 100 ekor (@ 30.000) Biaya Pemeliharaan Tikus 2000/ekor/hari/30 hari Membran Selofan 1 roll Eter Membran difusi 12 buah (@ 200.000) Backing Membran 1 roll Membran milipore 7 pak @ 100 lbr (@ 750.000) Natrium diklofenak 1 kg Total Anggaran (Rupiah) 2.250.000,00 550.000,00 1.750.000,00 700.000,00 9.850.000,00 1.580.000,00 3.500.000,00 3.690.000,00 400.000,00 300.000,00 150.000,00 180.000,00 300.000,00 3.000.000,00 6.000.000,00 3.000.000,00 200.000,00 2.400.000,00 500.000, 00 5.250.000,00 2.000.000,00 47.550.000,00

4. Perjalanan No. 1. Jenis Pengeluaran Seminar Internasional 2 orang Total Anggaran (Rupiah) 4.000.000,00 4.000.000,00

5. Publikasi dan lain-lain No. 1. 2. 3. Jenis Pengeluaran Publikasi dan internet Pembuatan Laporan Administrasi Anggaran (Rupiah) 3.000.000,00 1.000.000,00 500.000,00

34 Total 4.500.000,00

35

LAMPIRAN II. SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN PEMBAGIAN WAKTU KETUA DAN ANGGOTA PENELITI SERTA MAHASISWA PASCA SARJANA Nama No. 1. NIP/NRP Dra. Esti Hendradi, Apt., MSi., Ph.D 131694600 2. Dr. Isnaeni,Apt. Anggota Jabatan Dalam Tim Alokasi Waktu, Jam/Minggu Ketua Tim Peneliti Koordinator Penelitian dan Formulator dan analisis efektivitas sediaan transdermal. Analisis efektivitas sediaan transdermal dan uji statistik Evaluator sediaan patch type membrane Evaluator sediaan patch type matrix Tugas Penelitian (diuraikan dengan rinci)

3.

Efrin Pujianti, S.Farm., Apt. 090810436

Mahasiswa S2

4.

Aditya Fridayanti, S.Farm., Apt. 090810250

Mahasiswa S2

36 LAMPIRAN II. BIODATA DAN PERNYATAAN KESEDIAAN IKUT SERTA PENELITIAN DARI KETUA, ANGGOTA DAN MAHASISWA PASCA SARJANA 1. 2. 3. Nama Tempat dan tanggal lahir Program Studi Fakultas Perguruan Tinggi 4. Alamat No. Telp 5. Status Akademik : Dra. Esti Hendradi,Apt.,MSi.,Ph.D : Malang, 14 Nopember 1957 : Farmasi : Farmasi : Universitas Airlangga : Jl. Gayungsari Barat XI/GD 7, Surabaya : (031)-8290244; 081330175672 : ( X ) Dosen Pembimbing ( ) Mahasiswa S-2/S-3 6. Nama Jabatan Struktural : - Ketua Departemen Farmasetika Fakultas Farmasi UNAIR - Ketua Bidang Minat Sistem Penghantaran Obat (Drug Delivery System) S2, Fakultas Farmasi UNAIR 7. 8. Pendidikan terakhir Mata Kuliah yang Diampu : Doktor, 2004, Hoshi University,Tokyo,Japan. : - Fisika Farmasi - Sediaan Semisolida dan Likuida - System Penghantaran Obat - Tehnologi Nanopartikel - System Penghantaran Obat Transdermal - System Penghantaran Obat Bertarget : 1. Promoting Effect of Bile Salts-Lecithin Mixed Micelles on the Transdermal Delivery of Diclofenac (Dissertation, 2004). 2. Penentuan Parameter Termodinamika Proses Pelepasan Klorfeniramin Maleat Dari Basis Vanishing Cream dan Cold Cream (Thermodynamics Parameter Study of Chlorpheniramine Maleate Release Process from Oil in Water and Water in Oil Cream Base), 2005. Co-author. 3. Uji Efektivitas In Vitro (Penetrasi) Piroksikam dan Karakteristik Fisikokimia Sediaan Piroksikam 0,5% dalam Basis Gel HPC

9.

Pengalaman Penelitian

37 dengan Penambahan Berbagai Enhancer. 2007. Co. Author Macam

4. Optimasi Efektivitas Piroksikam dalam

Sediaan Gel dan Patch (The Effectivity Optimation of Piroxicam in Gel and Patch preparation), Author, 2007.

5. Optimasi efektivitas natrium diklofenak dalam system niosom pada sediaan gel Carbomer, Author, 2009. 6. Uji efektivitas in vitro (penetrasi) natrium diklofenak dalam basis krim dengan penambahan berbagai macam enhancer, Co Author, 2009 10. Publikasi Ilmiah : 1. Hendradi, E., Obata, Y., Nagai T., Takayama K. Promoting Effect of Bile Salts-Lecithin Mixed Micelles on the Transdermal Delivery of Diclofenac. Pharmaceutical Sciences World Congress, (Poster Presentation). Kyoto, Japan, May-June 2004. 2. Wicaksono, Y., Hendradi, E., Radjaram, A. Analisis Proses Lepas Lambat Na diklofenak dari Tablet Matrik Berbasis EtilselulosaPolivinilpirolidon K30. Seminar Nasional MIPA, FMIPA-Universitas Indonesia, Jakarta, 24-26 November 2005. 3. Hendradi, E., Rosita, N., Herawati, R. The Effect of Glycerin on the Physical Stability and Effectivity of Aloe vera Linn Moisturizer in the Vanishing Cream base. The IOCD International Symposium, (Poster Presentation) Surabaya, April 8-11, 2007. 4. Hendradi, E., Erawati, T., Nurdiana, F. The Influence of Polysorbat 80 on the Physical Stability, Effectivity and Acceptability of Aloe vera Linn Moisturizer in the HPMC base. The IOCD International Symposium, (Poster Presentation) Surabaya, April 8-11, 2007. 5. Hendradi,. E., Obata, Y., Takayama K. The Mechanism and Effect of Physicochemical Characteristics of Bile Salts as Enhancer in the Permeation of Diclofenac in Mixed Micelle Formulations Across the Rat Skin. USM-UNAIR First Collaborative Conference,

38 (Oral Presentation) Pulau Penang, Malaysia. June 13-14, 2007. 6. Rosita,N., Hendradi,E., Melani, D.H. Thermodynamics Parameter Study of Chlorpheniramine Maleate Release Process from Oil in Water and Water in Oil Cream Base. USM-UNAIR First Collaborative Conference, (Poster Presentation) .Pulau Penang, Malaysia. June 13-14, 2007 7. Hendradi, E,Purwanti, T., I.G.N. Jimmy,A.P. The Influence of Polymer Combination Polyvinylpyrrolidone (PVP) K-30 and Ethylcellulose (EC) N-22 to Accelerating Released of Piroxicam from Patch Base. The International Seminar on Pharmaceutics. Updated on Pharmaceutical Innovation and New Drug Delivery System, (Poster Presentation) Bandung, October 31 November 1, 2007 8. Hendradi, E. Purwanti,T., Kartika Sari,S.T., The Influence of Hydroxypropylmethyl Ethylcellulose (HPMC) K15 and Ethylcellulose (EC) N-22 ratio on Piroxicam Release from Patch Base. The 8th Asian Conference on Clinical Pharmacy (ACCP). (Poster Presentation) Surabaya, 1- 4 July 2008. 9. Hendradi,E., Purwanti T., Rizkia,A.N., Ariesta,R.H. The Influence Of Niosome System (Span 20/60-Choleaterol) on the Preparation Characteristics and the Release of Diclofenac Sodium frm Gel Carbopol ETD 2020. (Oral Presentation) The 2nd Collaborative Conference UNAIR-USM, Surabaya 10-11th February 2009. 10. Mangestuti,A., Hendradi,E., Budiastuti. Identification of Components of Essensial Oil from Cymbopogon Nardus (l) Rendle Which Penetrated into the Rat Skin (Wistar Strain) in the Practice of Timung as Alternative Healing. (Oral Presentation). The 2nd Collaborative Conference UNAIR-USM, Surabaya 10-11th February 2009. 11. Agnes Nuniek Winantari, Hendradi, E., Widjaja, B. Daya Mucoadhesif dan Pelepasan Obat in Vitro Tablet Vaginal Mucoadhesif Metronidazol Menggunakan

39 Polimer Carbopol 940. Artocorpus, Volume 8 No.2, 2008. 12. Purwanti,T., Hendradi, E., Agustiani, D. The Influence of Oleic Acid on Physicochemical Characteristics and Increasing Penetration of Piroxicam in HPMC Gel Base. (Poster Presentation).The 2nd Collaborative Conference UNAIR-USM, Surabaya 10-11th February 2009. 13. Hendradi,E., Purwanti T., Desy, D.L., Ika, R.P. The Influence Of Niosome System (Span 20/60-Cholesterol) on the Preparation Characteristics and the Release of Diclofenac Sodium from HPC-HEC Gel Based. (Oral Presentation) The Makassar International Symposium on Pharmaceutical Science (MIPS), Makassar19-20th February 2009. 14. Hendradi,E., Purwanti T., Bety Nurfia Puspitarini, Bianda Ida Kurnia. The Characteristic and Release of Diclofenac Sodium of Niosome System in Carbomer 940 Gel Base Preparation (Niosome System of Diclofenac Sodium-Span 60- Cholesterol with Molar Ratio 1:5:5). (Oral Presentation). The International Conference on Pharmacy and Advanced Pharmaceutical Sciences, Yogyakarta 4-5th October 2009. 15. Hendradi,E., Purwanti T., Anditasari, Srimaryati. The Characteristic and Release of Diclofenac Sodium of Niosome System in Carbomer 940 Gel Base Preparation (Niosome System of Diclofenac SodiumSpan 20- Cholesterol with Molar Ratio 1:5:5). (Poster Presentation). The International Conference on Pharmacy and Advanced Pharmaceutical Sciences, Yogyakarta 4-5th October 2009. 16. Agnes Nuniek Winantari, Hendradi,E., Wijaya,B., Influence of Combination Carbopol 940 and HPMC 2208 100cPs (1:1, 1:3, and 1:5) to Quality of Mucoadhesive Metronidazole Vaginal Tablet In Vitro (Oral Presentation). The International Conference on Pharmacy and Advanced Pharmaceutical Sciences, Yogyakarta 4-5th October 2009.

40 17. Mangestuti Agil, Hendradi,E., Budiastuti. Identification of Components of Essensial Oil from Cananga odorata Which Penetrated into the Rat Skin (Wistar Strain) in the Practice of Timung (Development of Timung as Alternative Healing) (Poster Presentation). The International Conference on Pharmacy and Advanced Pharmaceutical Sciences, Yogyakarta 4-5th October 2009. 11. Dengan ini, saya menyatakan bersedia untuk ikut serta dalam Tim Peneliti dengan tugas dan waktu sesuai seperti diuraikan dalam Lampiran I. Apabila saya tidak memenuhi kesediaan ini, saya ersedia diberhentikan dari keanggotaan Tim Peneliti.

Surabaya, 26 Nopember 2009

Dra.Esti Hendradi, Apt.,MSi.,Ph.D NIP. 131694600

LAMPIRAN II. BIODATA DAN PERNYATAAN KESEDIAAN IKUT SERTA PENELITIAN DARI KETUA, ANGGOTA DAN MAHASISWA PASCA SARJANA

1. 2.

Nama Tempat dan tanggal lahir

: Dr.Isnaeni, MS., Apt. : Surabaya, 13 Januari 1956

41

3.

Program Studi Fakultas Perguruan Tinggi

: Farmasi : Farmasi : Universitas Airlangga : Jl.Dharmawangsa Dalam Surabaya : ( X ) Dosen Pembimbing ( ) Mahasiswa S-2/S-3

4. 5.

Alamat Status Akademik

6. 7. 8. 9. 10. 11.

Nama Jabatan Struktural Pendidikan terakhir Mata Kuliah yang Diampu Pengalaman Penelitian Publikasi Ilmiah

: Ketua Program Studi S2 : S3 : Mikrobiologi : Terlampir : Terlampir

Dengan ini, saya menyatakan bersedia untuk ikut serta dalam Tim Peneliti dengan tugas dan waktu sesuai seperti diuraikan dalam Lampiran I. Apabila saya tidak memenuhi kesediaan ini, saya ersedia diberhentikan dari keanggotaan Tim Peneliti.

Surabaya,

2009

Dr. Isnaeni, MS., Apt. NIP 131 125 009

CURICULUM VITAE
1 Nama Lengkap : Dra. Esti Hendradi, Apt., MSi., Ph.D 2 Umur/Jenis kelamin/Agama : 52/Perempuan/Islam 3. AlamatDepartemen,Fakultas, dll : Jl. Gayungsari Barat XI GD 7 Surabaya,60235/Departemen Farmasetika/ Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga 4. Jabatan Fungsional/Pangkat : Lektor Kepala/ Pembina Gol Iva

42 5. Jabatan struktural :-Ketua Departemen Farmasetika -Ketua Bid. Minat (S2) Drug Delivery System : Jl. Dharmawangsa Dalam, Surabaya 60286 : 031-5033710/031-5020514

6. Alamat kantor 7. No. Telp./faks

Riwayat Pendidikan Tinggi (dalam dan luar negeri): No Pendidikan Tempat Tahun Lulus 1984 Bidang Titel/ ijasah Farmasi Dra.

1.

Sarjana

Fakultas Farmasi UNAIR Surabaya Fakultas Farmasi UNAIR Surabaya Fakultas Farmasi UGM Hoshi University Tokyo, Japan

2.

Profesi

1985

Apoteker

Apt.

3.

Pasca Sarjana Ph.D Program

1995

Farmasetika

M.Si

4.

2004

Farmasetika (Transdermal)

Ph.D

Pengalaman Penelitian No. 1. 2. 3. 4. 5. Tahun 1995 1995 1996 1996 1997 Judul Penelitian Korelasi Sifat Fisikokimia Dan Transpor Melewati Membran Simulasi Kulit Senyawa Antihistamina Kinetika Dan Mekanisme Transpor Beberapa Antihistamina Melewati Membran Selofan Pelepasan Difenhidramina HCl Dari Beberapa Basis Sediaan Topikal Melewati Membran Selofan Korelasi Kadar Propilenglikol Dalam Basis Dan Pelepasan Diklofenak Dari Basis Gel Karbopol Sumber Biaya Mandiri Mandiri RUTIN RUTIN DPP-SPP Ket. Author Author Author Co Author Co Author

Uji Pelepasan Secara In Vitro Beberapa Obat Antiinflamasi Non Steroida Dari Basis Krim Dan Gel
Pelepasan Prometazina HCl Dari Beberapa Basis Sediaan Topikal

6.

1997

RUTIN

Co Author

43 Melewati Membran Selofan Pelepasan Beberapa Antihistamina Dari Basis Sediaan Krim o/w Melewati Membran Simulasi Kulit Kinetika dan Termodinamika Transpor Antar Fase Dari Turunan Asam p-Hidroksibenzoat (In Vitro) Formulasi Sediaan Dari Perasan Rimpang Zingiber officinale Rosc Dengan Menggunakan Beberapa Basis Krim Termodinamika Transpor Beberapa Senyawa Antihistamina Melewati Membran Simulasi Kulit, Pengaruh Sifat Fisikokimia dan Suhu Terhadap Transpor Difenhidramin HCl Melewati Beberapa Membran Tiruan Penentuan Parameter Termodinamika Proses Pelepasan Klorfeniramin Maleat Dari Basis Vanishing Cream dan Cold Cream Uji Efektivitas In Vitro (Penetrasi) Piroksikam dan Karakteristik Fisikokimia Sediaan Piroksikam 0,5% dalam Basis Gel HPC dengan Penambahan Berbagai Macam Enhancer Optimasi Efektivitas Piroksikam dalam Sediaan Gel dan Patch Optimasi efektivitas natrium diklofenak dalam system niosom pada sediaan gel Carbomer Uji efektivitas in vitro (penetrasi) natrium diklofenak dalam basis krim dengan penambahan berbagai macam enhancer

7. 8. 9.

1998 2000 2000

DP3M DP3M DIP UNAIR

Author Co Author Author

10. 11. 12.

2000 2000 2005

Mandiri Mandiri IPD

Author Author Co Author

13.

2007

DIPA PNBP

Co Author

14. 15.

2007 2009

Project Grant FFUA Project Grant FFUA Project Grant FFUA

Author Author

16.

2009

Co. Author

Publikasi Penelitian 1. Hendradi,E. and Martodihardjo,S. Physicochemical Influence of Some Antihistamines to their Transport to pass through the Cellophane Membrane. Majalah Farmasi Indonesia Vol. 7 No. 4, 1996. 2. Hendradi, E. dan Martodihardjo,S. Difusi Astemizol melewati membran Myristate. Majalah Farmasi Indonesia Vol. 8 No. 2, 1997. Isopropyl

3. Hendradi, E., Hadimoeljo,S., Pristianty,L., Himawati E.R., dan Purwanti, T., Pelepasan Difenhidramin HCl dari Beberapa basis sediaan Topikan Melewati Membran Selofan. Jurnal Penelitian Universitas Airlangga Vol. 6 No. 1, 1998.

44 4. Widji Soeratri, Soegiharto Hadimoelyo, Hendradi, E, Umul Jariyah, 2000. Studi in Vitro Pelepasan Anti Aging Asam Sitrat Dalam Basis Krim, Losio dan Gel, Konggres Ilmiah ISFI ke XIII, Jakarta. 5. Himawati E.R, Hendradi, E., and Pristianty,L. Pelepasan secara In Vitro obat NSAID dari basis Krim dan Gel Jurnal. Penelitian Universitas Airlangga Vol. 8 No. 1, 2000. 6. Hendradi,E., Soemiati, Himawati E.R., Rosita,N., and Sulistyarini,A. Formulasi perasan rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc) menggunakan beberapa basis krim. Jurnal Medika Eksakta Vol. 1 No.1, 2000. 7. Pristianty, L., Hendradi,E., Wijaya, N., Kinetika dan Termodinamika Transpor Antar Fase Dari Turunan Asam p-Hidroksibenzoat (In Vitro), 2000. Majalah Farmasi Airlangga. Vol 3. No. 1, 2003, hal 1-5. 8. Hendradi, E., Obata, Y., Nagai, T., Takayama, K. Effect of Bile Salts-Lecithin Mixed Micelles on the Skin Permeation of Diclofenac. Seminar (Poster) in the Congress of the Pharmaceutical Society of Japan, Ciba, March 2002. 9. Hendradi, E., Obata, Y., Takayama, K., Nagai, T. Effect of Bile Salts-Lecithin Mixed Micelles on the Skin Permeation of Diclofenac in rats. STP Pharma Sciences, 13, 2003, 247-251. 10.Hendradi, E., Obata., Y., Isowa, K., Nagai, T, Takayama, K. Effect of Mixed Micelle Formulations including Terpenes on the Transdermal Delivery of Diclofenac. Biol. Pharm. Bull., 26, 2003, 1739-1743. 11. Hendradi, E., Obata, Y., Nagai T., Takayama K. Effect of Mixed Micelle Formulations including Terpenes on the Transdermal Delivery of Diclofenac. Seminar in the Congress of Japan Society of Drug Delivery System, (Oral Presentation) Kyoto, May 2003. 12. Hendradi, E., Obata, Y., Nagai T., Takayama K. Promoting Effect of Bile Salts-Lecithin Mixed Micelles on the Transdermal Delivery of Diclofenac. Pharmaceutical Sciences World Congress, (Poster Presentation). Kyoto, Japan, May-June 2004. 13. Wicaksono, Y., Hendradi, E., Radjaram, A. Analisis Proses Lepas Lambat Na diklofenak dari Tablet Matrik Berbasis Etilselulosa- Polivinilpirolidon K30. Seminar Nasional MIPA, FMIPA-Universitas Indonesia, Jakarta, 24-26 November 2005. 14.Hendradi, E., Rosita, N., Herawati, R. The Effect of Glycerin on the Physical Stability and Effectivity of Aloe vera Linn Moisturizer in the Vanishing Cream base. The IOCD International Symposium, (Poster Presentation) Surabaya, April 8-11, 2007. 15.Hendradi, E., Erawati, T., Nurdiana, F. The Influence of Polysorbat 80 on the Physical Stability, Effectivity and Acceptability of Aloe vera Linn Moisturizer in the HPMC base. The IOCD International Symposium, (Poster Presentation) Surabaya, April 8-11, 2007. 16.Hendradi,. E., Obata, Y., Takayama K. The Mechanism and Effect of Physicochemical Characteristics of Bile Salts as Enhancer in the Permeation of Diclofenac in Mixed Micelle Formulations Across the Rat Skin. USM-UNAIR First Collaborative Conference, (Oral Presentation) Pulau Penang, Malaysia. June 13-14, 2007.

45 17.Rosita,N., Hendradi,E., Melani, D.H. Thermodynamics Parameter Study of Chlorpheniramine Maleate Release Process from Oil in Water and Water in Oil Cream Base. USM-UNAIR First Collaborative Conference, (Poster Presentation) .Pulau Penang, Malaysia. June 13-14, 2007 18.Hendradi, E,Purwanti, T., I.G.N. Jimmy,A.P. The Influence of Polymer Combination Polyvinylpyrrolidone (PVP) K-30 and Ethylcellulose (EC) N-22 to Accelerating Released of Piroxicam from Patch Base. The International Seminar on Pharmaceutics. Updated on Pharmaceutical Innovation and New Drug Delivery System, (Poster Presentation) Bandung, October 31 November 1, 2007 19.Hendradi, E. Purwanti,T., Kartika Sari,S.T., The Influence of Hydroxypropylmethyl Ethylcellulose (HPMC) K15 and Ethylcellulose (EC) N-22 ratio on Piroxicam Release from Patch Base. The 8th Asian Conference on Clinical Pharmacy (ACCP). (Poster Presentation) Surabaya, 1- 4 July 2008. 20.Hendradi,E., Purwanti T., Rizkia,A.N., Ariesta,R.H. The Influence Of Niosome System (Span 20/60-Choleaterol) on the Preparation Characteristics and the Release of Diclofenac Sodium frm Gel Carbopol ETD 2020. (Oral Presentation) The 2nd Collaborative Conference UNAIR-USM, Surabaya 10-11th February 2009. 21.Mangestuti,A., Hendradi,E., Budiastuti. Identification of Components of Essensial Oil from Cymbopogon Nardus (l) Rendle Which Penetrated into the Rat Skin (Wistar Strain) in the Practice of Timung as Alternative Healing. (Oral Presentation). The 2nd Collaborative Conference UNAIR-USM, Surabaya 10-11th February 2009. 22. Agnes Nuniek Winantari, Hendradi, E., Widjaja, B. Daya Mucoadhesif dan Pelepasan Obat in Vitro Tablet Vaginal Mucoadhesif Metronidazol Menggunakan Polimer Carbopol 940. Artocorpus, Volume 8 No.2, 2008. 23.Purwanti,T., Hendradi, E., Agustiani, D. The Influence of Oleic Acid on Physicochemical Characteristics and Increasing Penetration of Piroxicam in HPMC Gel Base. (Poster Presentation).The 2nd Collaborative Conference UNAIR-USM, Surabaya 10-11th February 2009. 24.Hendradi,E., Purwanti T., Desy, D.L., Ika, R.P. The Influence Of Niosome System (Span 20/60-Cholesterol) on the Preparation Characteristics and the Release of Diclofenac Sodium from HPC-HEC Gel Based. (Oral Presentation) The Makassar International Symposium on Pharmaceutical Science (MIPS), Makassar19-20th February 2009. 25.Hendradi,E., Purwanti T., Bety Nurfia Puspitarini, Bianda Ida Kurnia. The Characteristic and Release of Diclofenac Sodium of Niosome System in Carbomer 940 Gel Base Preparation (Niosome System of Diclofenac Sodium-Span 60- Cholesterol with Molar Ratio 1:5:5). (Oral Presentation). The International Conference on Pharmacy and Advanced Pharmaceutical Sciences, Yogyakarta 4-5th October 2009. 26.Hendradi,E., Purwanti T., Anditasari, Srimaryati. The Characteristic and Release of Diclofenac Sodium of Niosome System in Carbomer 940 Gel Base Preparation (Niosome System of Diclofenac Sodium-Span 20- Cholesterol with Molar Ratio 1:5:5). (Poster Presentation). The International Conference on Pharmacy and Advanced Pharmaceutical Sciences, Yogyakarta 4-5th October 2009.

46 27.Agnes Nuniek Winantari, Hendradi,E., Wijaya,B., Influence of Combination Carbopol 940 and HPMC 2208 100cPs (1:1, 1:3, and 1:5) to Quality of Mucoadhesive Metronidazole Vaginal Tablet In Vitro (Oral Presentation). The International Conference on Pharmacy and Advanced Pharmaceutical Sciences, Yogyakarta 4-5th October 2009. 28. Mangestuti Agil, Hendradi,E., Budiastuti. Identification of Components of Essensial Oil from Cananga odorata Which Penetrated into the Rat Skin (Wistar Strain) in the Practice of Timung (Development of Timung as Alternative Healing) (Poster Presentation). The International Conference on Pharmacy and Advanced Pharmaceutical Sciences, Yogyakarta 4-5th October 2009.

CURICULUM VITAE
1. Nama Lengkap : Dr. Isnaeni, Apt.,MS. 2. Umur/Jenis kelamin/Agama : 53/Perempuan/Islam 3. Alamat/Departemen/Fakultas, dll : Istana Candi Mas Regency Blok.B5/01 Sidoarjo/Departemen Kimia Farmasi/ Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga 4. Jabatan Fungsional/Pangkat 5. Jabatan struktural 6.Alamat kantor : Lektor Kepala/ Pembina Gol Iva : Ketua Program Studi S2, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga : Jl. Dharmawangsa Dalam, Surabaya 60286

47 7. No. Telp./faks : 031-5033710/031-5020514

Riwayat Pendidikan Tinggi (dalam dan luar negeri): No Pendidikan Tempat Tahun Lulus 1981 Bidang Titel/ ijasah Farmasi Dra.

1.

Sarjana

Fakultas Farmasi UNAIR Surabaya Fakultas Farmasi UNAIR Surabaya Fakultas Farmasi UNAIR ITB

2.

Profesi

1982

Apoteker

Apt.

3. 4.

Pasca Sarjana Program Doktor

1996 1998

Bioteknologi Mikrobiologi

M.Si Dr

Pendidikan Tambahan: 1.Magang : 1988, 1990 (Bioteknologi, Teknologi Fermentasi, Institut Teknologi Bandung

2.Program Sand Which : 1996 (Proses Fermentasi antibiotika aminoglikosida oleh mutan Streptomyces griseus ATCC 10137). National Institute of Health of japan, Tokyo. Advisor: Kunimoto Hotta, PhD.) Pengalaman Kerja: 1 Dosen tetap, Bagian Kimia Farmasi Universitas Airlangga, Maret 1982 sekarang. Bidang minat: Analisis Mikrobiologi, the role of Microorganisms in Biotechnology, fermentation Process of Metabolites secondary includes antibiotics. Interpretation of literatures. Provides course syllabus and lectures. Write and evaluate examinations. Hold office hours. Dosen Tamu, Faculty of Pharmacy International Islamic University Malaysia. Lectured on and demonstrated analytical Microbiology, the role of Microorganisms in Biotechnology, fermentation Process of Metabolites secondary include antibiotics. 2005-2006 International Joint Research, Universitas Sains Malaysia. Areas of research specialization (for S1 and master) include isolation and identification of thermophile microorganism, isolation, purification, and identification of enzymes fermented by microorganisms, June 2007

48

Tutor, Bagian Kimia Farmasi Universitas Airlangga, September 2000 sekarang. Learning Skill Centre, and remedial students. Provided instruction in composition writing problem based learning, and professional skill practice in pharmaceutical industries. Konsultan. PT Light Calsindo Raya 1999-2000, PT Tasha Farma 2000- 2004

Pengalaman Penelitian 1 Authored Proposal for QUE Project research grant: Optimization of environmental and nutrition factors for antibiotics fermentation of Streptomyces sp. by using toufu refuse as a one of nutrient component. Ko-autor Laporan Penelitian Hibah Bersaing 2006: Karakterisasi pola genetic Gen 16SrDNA Streptomyces sp. Penghasil antibiotika isolat tanah hutan mangrove di Jawa Timur

Publikasi Penelitian 1. Identifikasi antibiotika aminoglikosida dengan KLT Kinerja Tinggi (Majalah Farmasi Airlangga, Vol II, No. 2, 2002) 2. Uji produksi biosurfaktan oleh bakteri hidrokarbonoklastik genus Pseudomonas, Alcaligenes, dan athrobacter dari perairan pantai Surabaya (Proceeding 2 Seminar Nasional Biologi 2, 2003) FMIPA ITS) 3. Uji potensi dan mekanisme kerja senyawa aktif Lumbricus rubellus sebagai antibakteri Shigella dysenteriae (Research Report, 2004) 4. Ampas tahu sebagai komponen media pertumbuhan mikroba dan produksi antibiotika aminoglikosida (2004) 5. Toxicity test of mycelia and body fruits of Lenthinus edodes extract (aqua) by using Brine Shrimp Lethality Test (BST) method (Journal of Biological Researches, Vol 10, No 1, 2004). 6. Anti microbial effectiveness of a Tamarind extract formulated in vanishing cream (Indonesian Acta Pharmaceutica, Vol XXX, No. 1, (2005) 7. Antifungal activity of essential oil cream of Alpinia galanga (L) Swartz against Candida albicans (Airlangga Journal of Pharmacy, in Process, 2005) 8. TDSE, a novel antibiotic from Streptomyces griseus ATCC 10137 (Proceeding abstract USM, 2007) 9. Termofil microorganism (Proceeding abstract USM, 2007) Pelayanan masyarakat:

49 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Officer in charge of Quality Under Educational (QUE) Project Fakultas Farmasi Universitas Airlangga 2000-2004 Person in charge of Semi- QUE Project Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, 2000-2002 Staff member of Intellectual property right Airlangga Universi,t 2002-2003 Person in charge of I-MHERE Project Universitas Airlangga (Component B2a), 2005-2006 Person in charge of Business Incubator on I-MHERE Project Universitas Airlangga (Component B2b), 2006-sekarang Director Assistant of Competitive Based Funding Scheme B (Excellent Program) Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, 2005-sekarang Member of Quality Assurance Team Universitas Airlangga, 2006-sekarang Tim Penyusun naskah strategis (Renstra) Fakultas Farmasi Unair tahun 2005-2010 Anggota Tim Program Hibah Kompetisi Institusi, Universitas Airlangga 2007

10 Reviewer and facilitator for Higher Education Grants Program (Technical Professional Skills Development Sector Project, A1, A2, A3, and B), 2001sekarang 11 Research staff and supervisor (on Microbiology analysis) for Revenue Generating Unit Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, 1999-sekarang. 12 Memberikan pelatihan tentang validasi analisis mikrobiologi Farmasi kepada masyarakat industri, 2006 13 Memberikan pelatihan tentang pemanfaatan ikan gabus di masyarakat Desa Tosaren Kediri, 2006 14 Memberikan seminar tentang penanggulangan HIV/AIDS untuk masyarakat Sidoarjo

LAMPIRAN II. BIODATA DAN PERNYATAAN KESEDIAAN IKUT SERTA PENELITIAN DARI KETUA, ANGGOTA DAN MAHASISWA PASCA SARJANA

1. 2. 3.

Nama Tempat dan tanggal lahir Program Studi Fakultas Perguruan Tinggi

: Efrin Pujianti, S.Farm., Apt : Surabaya, 29 September 1985 : Sistem Penghantaran Obat (Drug Delivery System) : Farmasi : Universitas Airlangga

50 4. 5. Alamat Status Akademik : Jl.Bratang Gede I D/24 : ( ) Dosen Pembimbing ( X ) Mahasiswa S-2/S-3 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Jabatan Struktural Pendidikan terakhir Mata Kuliah yang Diampu Pengalaman Penelitian Publikasi Ilmiah : : Apoteker, 2007, Farmasi, Universitas Airlangga, Indonesia : : : -

Dengan ini, saya menyatakan bersedia untuk ikut serta dalam Tim Peneliti dengan tugas dan waktu sesuai seperti diuraikan dalam Lampiran I. Apabila saya tidak memenuhi kesediaan ini, saya ersedia diberhentikan dari keanggotaan Tim Peneliti.

Surabaya, 26 November 2009

Efrin Pujianti, S.Farm., Apt NIM. 090810436

LAMPIRAN II. BIODATA DAN PERNYATAAN KESEDIAAN IKUT SERTA PENELITIAN DARI KETUA, ANGGOTA DAN MAHASISWA PASCA SARJANA 1. 2. 3. Nama Tempat dan tanggal lahir Program Studi Fakultas Perguruan Tinggi 4. 5. Alamat Status Akademik : Aditya Fridayanti, S.Farm., Apt. : Yogyakarta, 20 Maret 1981 : Sistem Penghantaran Obat (Drug Delivery System) : Farmasi : Universitas Airlangga : Jl.Dharmawangsa No.38 : ( ) Dosen Pembimbing

51 ( X ) Mahasiswa S-2/S-3 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nama Jabatan Struktural Pendidikan terakhir Mata Kuliah yang Diampu Pengalaman Penelitian Publikasi Ilmiah : : Apoteker, 2005, Farmasi, Universitas Surabaya, Indonesia : : : -

Dengan ini, saya menyatakan bersedia untuk ikut serta dalam Tim Peneliti dengan tugas dan waktu sesuai seperti diuraikan dalam Lampiran I. Apabila saya tidak memenuhi kesediaan ini, saya ersedia diberhentikan dari keanggotaan Tim Peneliti.

Surabaya, 26 November 2009

Aditya Fridayanti, S.Farm., Apt NIM. 090810240

52

53

DAFTAR PERALATAN YANG DIPERLUKAN UNTUK PENELITIAN

No.

Nama Alat

Spesifikasi Alat

Jumlah Unit

Peralatan yang dimiliki


1 2 3 4 Spektrofotometer DTA Infra Red Spektrofotometri Alat Disolusi 1 1 1 1