Anda di halaman 1dari 16

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Rumput laut merupakan salah satu sumberdaya perairan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan mempakan salah satu komoditas ekspor andalan yang perrnintaannya tinggi di pasar dunia. Akan tetapi pemanfaatan rumput laut sebagai komoditas ekspor masih terbatas dalam bentuk kering. Jenis rumput laut yang diekspor berasal dari kelas Rhodophyceae, yaitu jenis Eucheuma sp., Glacilaria sp. dan Gellidium sp. Berdasarkan data dari Departemen Kelautan dan Perikanan (2006), perkembangan ekspor rumput laut lndonesia dari tahun 1999-2002 terjadi penurunan nilai ekspor. Hal ini berarti bahwa pemanfaatan rumput laut dalam bentuk kering belum dapat bersaing di pasar internasional. Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan melakukan pengolahan lebih lanjut yang dapat meningkatkan nilai jual, misalnya pengolahan menjadi Alkali Treated Cottonii (ATC) dan karaginan dari rumput laut Eucheuma cottonii. Rendahnya mutu bahan baku dan teknologi pengolahan yang belum tepat merupakan salah satu kendala dalam perkembangan industri pengolahan rumput laut di Indonesia, sehingga belum bias bersaing di pasar dunia. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya mutu bahan baku adalah umur panen rumput laut yang berbeda-beda. Kandungan senyawa kimia dalam tanaman rumput laut termasuk alginat, agar dan karaginan dipengaruhi oleh faktor jenis rumput laut, musim, habitat dan umur tanaman (Soegiarto et all., 1978; Mabeu dan Fluerence, 1993). Rumput laut merupakan tumbuhan laut yang belum dapat dibedakan antara akar, batang dan daunnya, oleh karena itu disebut thalophyta. Rumput laut memiliki banyak manfaat bagi kehidupan dengan banyaknya produk-produk rumput laut yang dapat di manfaatkan dalam bidang kesehatan, industry, pangan, kosmetik, dan sebagainya. Beberapa produk rumput laut antara lain: Agar, karagenan, dan furselaran diekstrak dari rumput laut merah (Rhodophyceae), sedangkan alginat diekstrak dari rumput laut coklat (Phaeophyceae). Secara alami terdapat tiga fraksi karagenan yaitu kappa-karagenan, lamda-karagenan, dan iota-karagenan.

Disamping dari rumput laut, hidrokoloid hasil ekstraksi dapat juga diperoleh dari ekstrak tanaman seperti pectin dan ekstrak hewan seperti gelatin. Rumput laut yang bernilai ekonomis penting di Indonesia kebanyakan terdiri dari Rhodophyta khususnya Euchema. Jenis rumput laut yang paling banyak dimanfaatkan dan dibudidayakan serta merupakan suatu bidang usaha yang sangat

bagus dalam dunia perdagangan adalah jenis rumput laut Euchema cotonii. Jenis rumput laut ini banyak dimanfaatkan karena penggunaannya sangat luas seperti dalam bidang industri makanan dan minuman, kosmetik, obat-obatan, industri tekstil dan dapat juga diolah menjadi produk komersial seperti agar-agar dan karaginan.

B. Tujuan Tujuan dari praktikum rendemen karaginan ini adalah untuk mengetahui proses ekstraksi dari rumput laut seperti karaginan dan mengetahui perubahanperubahan yang terjadi pada setiap tahapnya.

C. Tinjauan Pustaka Karaginan merupakan polisakarida galaktan yang dapat diekstraksi dari algae merah (Rhodophyceae). Karaginan mengandung galaktosil dan 3,6anhidrogalaktose. Keduanya merupakan unit gula yang mengalami esterifikasi parsial dengan asam sulfat. Karaginan merupakan suatu produk yang relatif baru, dimana industri karaginan baru mulai berproduksi setelah tahun 1945 sebagai salah satu substitusi agar yang diproduksi oleh Jepang (An Ullman's, 1998). Dunia industri mengenal karaginan sebagai hasil ekstraksi rumput laut yang digunakan sebagai bahan baku berbagai macam produk. Karaginan berbentuk garam dengan sodium dan potassium. Karaginan terbagi dalam dua fraksi yaitu kappa karaginan dan iota karaginan. Kappa karaginan terdapat pada Eucheuma cottonii edule, E. speciosum, bahan ini larut dalam air panas. Sedangkan iota karaginan larut dalam air dingin, bahan ini didapat dari E. spinosum (Graham and Lee, 2000). Secara ekologi, komoditas rumput laut memberikan banyak manfaat terhadap lingkungan sekitarnya antara lain adalah dapat mengkonservasi lahan pesisir terhadap berbagai aktivitas penangkapan yang tidak berwawasan

lingkungan, seperti penggunaan racun/bom untuk penangkapan ikan. Secara biologis, rumput laut memegang peranan sebagai produsen primer penghasil bahan organik dan oksigen di lingkungan perairan. Dari segi ekonomi, merupakan komoditas yang potensial untuk dikembangkan mengingat nilai gizi yang dikandungnya (Amin et al., 2005). Penggunaan karaginan dalam dunia industri makanan tergantung pada beberapa sifat, yaitu kelarutan, viskositas, gel, reaktivitas dengan protein, dan sinergisme dengan polisakarida yang bukan gel. Kappa dan iota karaginan berperan sebagai pembentuk gel, sedangkan lambda karaginan yang bukan gel berperan sebagai pengental. Karaginan juga digunakan pada pembuatan roti, lapisan gula, jelli (Rasyid, 2003)

II. MATERI DAN METODE

A. Materi Bahan yang digunakan dalam praktikum ekstraksi karaginan adalah rumput laut Eucheuma cotonii, kertas saring ashles wahatman no. 41, larutan HCl 0,2 N, larutan H2O2 10%, aqudes, NaCl 10%, CH3COH 0,5%, KCl, kaporit 0,25%, H2SO4, asam cuka 0,5%, isopropyl alkohol, dan H2O. Alat-alat yang digunakan yaitu termometer, timbangan analitik, kertas pH, pompa vacum, pengaduk dan alat penjepit, kain saring 40-100 mesh, blender, alat pemanas atau kompor, oven, gelas ukur ukuran 50, 100 dan 500 ml, cawan, pipet dan erlenmeyer 2.000 ml. B. Metode Diagram alir cara kerja Rumput Laut Kering (E. cottonii 300 g)

Kadar air 1525%

1:15, 850C900C 15 menit

Perebusan menggunakan kompor gas

Blender

1:30, 900C, 6 jam

Ekstraksi

Air + KOH 10% sampai pH 8-9

Penyaringan

Kain kasa

Aduk 20 menit

Bleaching

Kaporit 0,25%

Penambahan NaCl 50 ml

1:2, sedikit demi sedikit

Pengendapan

Alkohol 96%

Karaginan basah

30 menit

Pencucian serat karaginan

Alkohol 96%

Serat karaginan diperas

Kain kasa

Oven 600C, 15-20 jam

Pengeringan

Oven 600C, 1520 jam

pengeringan

Karaginan

Ditimbang

Kandungan karaginan dihitung menurut metode Glicksman (1978): Rendemen Karaginan (%) =

Berat senyawa karaginan X 100% Berat rumput laut kering

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Dari acara praktikum ekstraksi karaginan diperoleh hasil sebagai berikut: Rendemen Karaginan (%) =

Produk akhir (g) X 100% Bobot bahan (g)


6,67 X100% = 2,22 % 300
B. Pembahasan

Rendemen Karaginan (%) =

Karaginan merupakan getah rumput laut yang diekstraksi dengan air atau larutan alkali dari spesies tertentu pada kelas Rhodophycae (alga merah). Spesies Eucheuma cotonii merupakan penghasil kappa karaginan sedangkan spesies Eucheuma spinosum merupakan penghasil iota karaginan. Karaginan juga merupakan polisakarida yang berasal dari hasil ekstraksi alga. Karaginan terdiri dari iota karaginan dan cappa karaginan dimana kandungannnya sangat bervariasi tergantung musim, spesies dan habitat. Dalam karaginan terdapat garam sodium, potasiun dan kalsium. Karaginan potasiun yang terdiri dari alfa karaginan dan Bkaraginan sifatnya dapat larut dalam air panas, sedangkan karaginan sodium dapat larut dalam air dingin (Anonymous, 2006). Salah satu spesies Rhodophyta yang berpotensi menghasilkan karaginan adalah Eucheuma cottonii. Rumput laut jenis Eucheuma cottonii ini juga dikenal dengan nama Kappaphycus alvarezii. Menurut Dawes dalam Kadi dan Atmadja (1988) bahwa secara taksonomi rumput laut jenis Eucheuma dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Divisio Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Rhodophyta : Rhodophyceae : Gigartinales : Solieriaceae : Eucheuma : Eucheuma cottonii Genus Eucheuma merupakan istilah popular di bidang niaga untuk jenis rumput laut penghasil karaginan. Nama istilah ini resmi bagi spesies Eucheuma yang ditentukan berdasarkan kajian filogenetis dan tipe karaginan yang terkandung di dalamnya. Jenis Eucheuma ini juga dikenal dengan Kappaphycus (Dawes, 1981). Umumnya Eucheuma cottonii tumbuh dengan baik di daerah pantai terumbu (reef).

Habitat khasnya adalah daerah yang memperoleh aliran air laut yang tetap, variasi suhu harian yang kecil dan substrat batu karang mati. Ciri-ciri Eucheuma cottonii adalah thallus dan cabang-cabangnya

berbentuk silindris atau pipih, permukaan licin, cartilogeneus serta percabangannya tidak teratur dan kasar (sehingga merupakan lingkaran) karena ditumbuhi oleh nodulla atau spine untuk melindungi gametan. Ujungnya runcing atau tumpul berwarna coklat ungu atau hijau kuning. Keadaan warna tidak selalu tetap, kadangkadang berwarna hijau, hijau kuning, abu-abu atau merah. Perubahan warna sering terjadi hanya karena faktor lingkungan. Kejadian ini merupakan suatu proses adaptasi kromatik yaitu penyesuaian antara proporsi pigmen dengan berbagai kualitas pencahayaan (Aslan 1998). Spina Eucheuma cottonii tidak teratur menutupi thallus dan cabang-cabangnya. Penampakan thallus bervariasi dari bentuk sederhana sampai kompleks. Duri-duri pada thallus runcing memanjang, agak jarang-jarang dan tidak bersusun melingkari thallus. Percabangan ke berbagai arah dengan batang-batang utama keluar saling berdekatan ke daerah basal (pangkal). Tumbuh melekat ke substrat dengan alat perekat berupa cakram. Cabang-cabang pertama dan kedua tumbuh dengan membentuk rumpun yang rimbun dengan ciri khusus mengarah ke arah datangnya sinar matahari (Kadi, 1990). Karaginan merupakan senyawa hidrokoloid yang terdiri atas ester kalium, natrium, magnesium dan kalium sulfat dengan galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa kopolimer. Karaginan adalah suatu bentuk polisakarida linear dengan berat molekul di atas 100 kDa (Winarno 1996 ; WHO 1999). Karaginan tersusun dari perulangan unit-unit galaktosa dan 3,6-anhidro galaktosa (3,6-AG). Keduanya baik yang berikatan dengan sulfat atau tidak, dihubungkan dengan ikatan glikosidik 1,3 dan -1,4 secara bergantian (FMC Corp 1977). Menurut Hellebust dan Cragie (1978), karaginan terdapat dalam dinding sel rumput laut atau matriks intraselulernya dan karaginan merupakan bagian penyusun yang besar dari berat kering rumput laut dibandingkan dengan komponen yang lain. Jumlah dan posisi sulfat membedakan macam-macam polisakarida Rhodophyceae, seperti yang tercantum dalam Federal Register, polisakarida tersebut harus mengandung 20 % sulfat berdasarkan berat kering untuk diklasifikasikan sebagai karaginan. Berat molekul karaginan tersebut cukup tinggi yaitu berkisar 100 - 800 ribu (deMan 1989). Karaginan merupakan getah rumput laut yang diperoleh dari hasil ekstraksi rumput laut merah dengan menggunakan air panas (hot water) atau larutan alkali pada temperatur tinggi (Glicksman 1983). Karaginan merupakan nama yang

diberikan untuk keluarga polisakarida linear yang diperoleh dari alga merah dan penting untuk pangan. Doty (1987), membedakan karaginan berdasarkan kandungan sulfatnya menjadi dua fraksi yaitu kappa karaginan yang mengandung sulfat kurang dari 28 % dan iota karaginan jika lebih dari 30 %. Winarno (1996) menyatakan bahwa kappa karaginan dihasilkan dari rumput laut jenis Eucheuma cottonii, iota karaginan dihasilkan dari Eucheuma spinosum, sedangkan lambda karaginan dari Chondrus crispus, selanjutmya membagi karaginan menjadi 3 fraksi berdasarkan unit penyusunnya yaitu kappa, iota dan lambda karaginan. Kappa karaginan tersusun dari (1,3)-D-galaktosa-4-sulfat dan (1,4)-3,6anhidro-D-galaktosa. Karaginan juga mengandung D-galaktosa-6-sulfat ester dan 3,6-anhidro-D-galaktosa-2-sulfat ester. Adanya gugusan 6-sulfat, dapat menurunkan daya gelasi dari karaginan, tetapi dengan pemberian alkali mampu menyebabkan terjadinya transeliminasi gugusan 6-sulfat, yang menghasilkan 3,6-anhidro-Dgalaktosa. Dengan demikian derajat keseragaman molekul meningkat dan daya gelasinya juga bertambah (Winarno 1996). Iota karaginan ditandai dengan adanya 4-sulfat ester pada setiap residu Dglukosa dan gugusan 2-sulfat ester pada setiap gugusan 3,6-anhidro-Dgalaktosa. Gugusan 2-sulfat ester tidak dapat dihilangkan oleh proses pemberian alkali seperti kappa karaginan. Iota karaginan sering mengandung beberapa gugusan 6-sulfat ester yang menyebabkan kurangnya keseragaman molekul yang dapat dihilangkan dengan pemberian alkali (Winarno 1996). Lambda karaginan berbeda dengan kappa dan iota karaginan, karena memiliki residu disulpat (1-4) D-galaktosa, sedangkan kappa dan iota karaginan selalu memiliki gugus 4-fosfat ester (Winarno 1996). Monomer-monomer dalam setiap fraksi karaginan dihubungkan oleh jembatan oksigen melalui ikatan -1,4 glikosidik. Monomer-monomer yang telah berikatan tersebut digabungkan bersama monomer-monomer yang lain melalui ikatan -1,3 glokisidik yang membentuk polimer. Ikatan 1,3 glikosidik dijumpai pada bagian monomer yang tidak mengandung sulfat yaitu monomer D-galaktosa-4-sulfat dan D-galaktosa-2-sulfat. Ion sulfat tidak pernah ada pada atom C3, ikatan 1,4 glikosidik terdapat pada bagian monomer yang mengandung jembatan anhidro yaitu monomer-monomer 2,6-anhidro-D-galaktosa-2-sulfat dan 3,6-anhidro-D-galaktosa serta pada D-galaktosa-2,6-disulfat (Glicksman 1983). Sifat dasar karaginan terdiri dari tiga tipe karaginan yaitu kappa, iota dan lambda karaginan. Tipe karaginan yang paling banyak dalam aplikasi pangan

adalah kappa karaginan. Sifat-sifat karaginan meliputi kelarutan, viskositas, pembentukan gel dan stabilitas pH. Metode ekstrasi yaitu rumput laut yang telah bersih kemudian diekstraksi dengan air panas dalam suasana alkali seperti natrium atau kalium hidroksida dengan pH berkisar antara 8-11 (Durant dan Sanford 1970). Towle (1973) menyatakan bahwa larutan alkali mempunyai dua fungsiyaitu membantu ekstraksi polisakarida dari rumput laut dan berfungsi untukmengkatalisis hilangnya gugus-6sulfat dari unit monomernya dengan membentuk 3,6-anhidrogalaktosa sehingga mengakibatkan kenaikan kekuatangelnya. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Sheng Yao et al. (1986) ekstraksiyang dilakukan dengan NaOH 2 % mempunyai gel 3 5 kali lebih kuat jika dibanding dengan air. Ekstraksi rumput laut jenis Eucheuma cottonii dilakukan dengan cara perebusan dengan menggunakan larutan KOH pada pH 8-9 dengan volume air perebus sebanyak 40-50 kali berat rumput laut kering. Rumput laut tersebut Eucheuma cottonii dipanaskan pada suhu 90 - 95 oC selama 3 - 6 jam (Yunizal et al. 2000). Guiseley et al. (1980) melaporkan bahwa untuk mencapai ekstraksi yang optimal diperlukan waktu sampai 1 hari, sedangkan Naylor (1976) untuk mempercepat proses ekstraksi dilakukan dengan perebusan bertekanan selama satu sampai beberapa jam. Karaginan diendapkan dengan menggunakan iso propil alkohol (IPA) dengan volume larutan 1,5-2 kali berat filtrat karaginan. Proses produksi karaginan pada dasarnya terdiri atas proses penyiapan bahan baku, ekstraksi karaginan dengan menggunakan bahan pengekstrak, pemurnian, pengeringan dan penepungan. Penyiapan bahan baku meliputi proses pencucian rumput laut untuk menghilangkan pasir, garam mineral, dan benda asing yang masih melekat pada rumput laut. Ekstraksi karaginan dilakukan dengan menggunakan air panas atau larutan alkali panas (Food Chemical Codex 1981). Suasana alkalis dapat diperoleh dengan menambahkan larutan basa misalnya larutan NaOH, Ca(OH)2, atau KOH sehingga pH larutan mencapai 8-10. Volume air yang digunakan dalam ekstraksi sebanyak 30-40 kali dari berat rumput laut. Ekstraksi biasanya mendekati suhu didih yaitu sekitar 9095oC selama satu sampai beberapa jam. Penggunaan alkali mempunyai dua fungsi, yaitu membantu ekstraksi polisakarida menjadi lebih sempurna dan mempercepat eliminasi 6-sulfat dari unit monomer menjadi 3,6-anhidro-D-galaktosa sehingga dapat meningkatkan kekuatan gel dan reaktivitas produk terhadap protein (Towle 1973). Penelitian yang dilakukan Zulfriady dan Sudjatmiko (1995), menunjukkan bahwa ekstraksi karaginan menggunakan (KOH) berpengaruh terhadap kenaikan rendemen dan mutu karaginan yang dihasilkan.

Pemisahan karaginan dari bahan pengekstrak dilakukan dengan cara penyaringan dan pengendapan. Penyaringan ekstrak karaginan umumnya masih menggunakan penyaringan konvensional yaitu kain saring dan filter press, dalam keadaan panas yang dimaksudkan untuk menghindari pembentukan gel (Chapman dan Chapman 1980). Pengendapan karaginan dapat dilakukan antara lain dengan metode gel press, KCl freezing, KCl press, atau pengendapan dengan alkohol (Yunizal et al. 2000). Pengeringan karaginan basah dapat dilakukan dengan oven atau

penjemuran (Gliksman 1983). Pengeringan menggunakan oven dilakukan pada suhu 60oC (Istini dan Zatnika 1991). Karaginan kering tersebut kemudian ditepungkan, diayak, distandardisasi dan dicampur, kemudian dikemas dalam wadah yang bertutup rapat (Guiseley et al. 1980). Karaginan sangat penting peranannya sebagai stabilizer (penstabil), thickener (bahan pengentalan), pembentuk gel, pengemulsi dan lain-lain. Sifat ini banyak dimanfaatkan dalam industri makanan, obat-obatan, kosmetik, tekstil, cat, pasta gigi dan industri lainnya (Winarno 1996). Selain itu juga berfungsi sebagai penstabil, pensuspensi, pengikat, protective (melindungi kolid), film former (mengikat suatu bahan), syneresis inhibitor (mencengah terjadinya pelepasan air) dan flocculating agent (mengikat bahan-bahan (Anggadireja et al. 1993). Penggunaan karaginan dalam bahan pengolahan pangan dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu untuk produk-produk yang menggunakan bahan dasar air dan produk-prouk yang menggunakan bahan dasar susu. Di Indonesia sampai saat ini belum ada standard mutu karaginan. Standard mutu karaginan yang telah diakui dikeluarkan oleh Food Agriculture Organization (FAO), Food Chemicals Codex (FCC) dan European Economic Community (EEC). Spesifikasi mutu karaginan berdasarkan sumber (A/S Kobenhvns Pektifabrik (1978) dapat dilihat sebagai berikut : Spesifikasi Zat volatile (%) Sulfat (%) Kadar abu (%) Viskositas (cP) Kadar Abu Tidak Larut Asam (%) Logam Berat : FAO Maks. 12 15-40 15-40 Min. 5 Maks. 1 FCC Maks. 12 18-40 Maks. 35 Maks 1 EEC Maks. 12 15-40 15-40 Maks. 2

Pb (ppm) As (ppm) Cu (ppm) Zn (ppm) Kehilangan karena pengeringan (%)

Maks. 10 Maks. 3 Maks. 12

Maks. 10 Maks. 3 Maks. 12

Maks. 10 Maks. 3 Maks 50 Maks. 25 -

IV. KESIMPULAN

Dari hasil dan pembahasan praktikum ekstraksi karaginan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Karaginan merupakan salah satu hasil dari ekstrak alga merah (Rhodophyta) yang dapat dimanfaatkan dalam bidang industry makanan, farmasi dan kosmetik 2. Karaginan yang didapat dari rumput laut kering (Eucheuma cotonii) sebesar 6,67 gram adalah 2,22% 3. Proses ekstraksi karaginan yang sempurna dapat mendapatkan hasil ekstraksi karaginan yang optimal

DAFTAR REFERENSI

Anonymous. 2006. Hidrokoloid dan Gum. http://www.ebookpangan.com/ARTIKEL/Hidrokoloid%20dan%20gum.pdf. 14 Desember 2007. Anggadiredja JT, Zatnika A, Purwoto H, Istiani S. 2006. Rumput laut pembudidayaan, pengolahan dan pemasaran komoditas perikanan potensial. Jakarta : penebar swadaya. Aslan, L. M. 1991. Budidaya Rumput Laut. Penerbit Kanisius, Jakarta. Atmaja, W. S. Kadi, A., Sulistijo, dan Satari, R., 1996, Pengenalan Jenis-Jenis Rumput Laut Indonesia, Puslitbang Oseonologi LIPI, Jakarta. Dahuri, H.R., J. Rais, S.P. Ginting, dan J. Sitepu. 2001. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT Pradnya Paramita. Jakarta Dawes, C. J. 1981. Marine Botany.Willey Interscience Publication. Canada. 628 p. Kadi, A. 1989. Sebaran Algae Halimeda di Indonesia dalam Penelitian Oseanologi Perairan Indonesia, Buku I; Biologi, Geologi, Lingkungan, dan Oseanografi, (ed) Anonimous. LIPI. Jakarta. hal : 39 - 42. Kadi, A. 1990. Inventarisasi Rumput Laut di Teluk Tering dalam Perairan Pulau Bangka, (ed) Anonimous. LIPI. Jakarta. hal : 45 - 50. Kadi, A., danW. S. Atmadja. 1988. Rumput Laut (Algae); Jenis, Reproduksi, Produksi, Budidaya dan Pasca Panen. Puslitbang Oseanologi, LIPI. Jakarta. 71 hal. Luning, K. 1990. Seaweed ; Their Environment, Biogeography, and Ecophysiology. John Willey & Sons, Inc. New York. 527 p. Rahadian R. 2009. Alga. http://anakmuda-pohara.blogspot.com/2009/03/alga. [01 Juni 2011]. Wadli. 2005. Kajian pengeringan rumput laut menggunakan alat pengering efek rumah kaca [tesis]. Bogor : Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Winarno FG. 1996. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan Winarno FG. 2008. Kimia Pangan Dan Gizi. Bogor : M-Brio Press.

RENDEMEN KARAGINAN

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Assisten : Siti Nurlela : B1J007010 :1 :5 : Andini Fajri

LAPORAN PRAKTIKUM FIKOLOGI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2011