Anda di halaman 1dari 14

BAB V ELECTRIC SUBMERSIBLE PUMP (ESP)

Electric Submersible Pump (ESP) adalah pompa yang dimasukan ke dalam lubang sumur yang digunakan untuk memproduksi minyak secara artificial lift (pengangkatan buataan) dan digerakan oleh motor listrik. Peralatan pompa submersible pump terdiri dari pompa centrifugal, protector dan motor listrik. Unit ini ditenggelamkan di cairan, disambung dengan tubing dan motornya dihubungkan dengan kabel ke permukaan yaitu dengan switcboard dan transformator. Pompa ESP terdiri dari pompa sentrifugal bertingkat banyak berputar 3, 475 3, 500 RPM, 60 Hz dengan motor listrik induksi sinkron kutub 3 fase, berbentuk sangkar. Pompa ESP biasanya dipakai untuk laju produksi 200 2, 500 STB/day, walaupun dapat digunakan untuk produksi sampai 95. 000 STB/day. Pompa ESP umumnya digunakan pada sumur miring di daerah lepas pantai. Di daratan hanya digunakan untuk laju produksi tinggi yaitu di atas 2, 000 STB/day, karena pompa angguk akan lebih ekonomis untuk sumur dengan lalu produksi rendah. 5.1. Prinsip Kerja Electric Submersible Pump. Prinsip kerja dari electric submersible pump adalah berdasarkan pada prinsip kerja pompa sentrifugal dengan sumbu putarnya tegak lurus. Pompa sentrigugal adalah motor hydrolik dengan jalan memutar cairan melalui impeller pompa, cairan yang masuk kedalam impeller pompa menurut poros

pompa, dikumpulkan dalam rumah motor pompa atau difusser kemudian dilempar keluar. Oleh impeller tenaga mekanis motor dirubah menjadi tenaga hydrolik. Impeller terdiri dari dua piringan yang di dalamnya terdapat sudutsudut, pada saat impeller diputar dengan kecepatan sudut W, cairan dalam impeller dilempar keluar dengan tenaga potensial dan kinetik tertentu. Cairan yang ditampung dalam rumah pompa kemudian dievaluasi melalui pipa keluar (difusser), di mana sebagian tenaga kinetik dirubah menjadi tenaga potensial berupa tekanan. Karena cairan dilemparkan keluar maka terjadi proses penghisapan.

Gambar 5.1. Instalasi Electric Submersible Pump

5.2 Peralatan Electric Submersible Pump Pada dasarnya ESP adalah pompa sentrifugal bertingkat banyak, di mana proses dari pompa sentrifugal dihubungkan di lapangan dengan motor penggerak. Peralatan ESP dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu: 1. Peralatan di atas permukaan. 2. peralatan dibawah permukaan. 5.2.1. Peralatan di Bawah Permukaan a. Motor Listrik. Motor listrik yang digunakan adalah motor induk tiga fase, dua katup, squirrel cage. Fungsi dari motor ini adalah untuk menggerakan shaft pompa sehingga impeller-impellernya

berputar. Putaran motor listrik umumnya dirancang dengan kecepatan 3500 putaran permenit (RPM), dengan frekuensi 60 Hz. Motor diisi dengan minyak yang tahan terhadap tegangan listrik yang tinggi. Motor didisain untuk tegangan yang dapat dipakai antara 230 sampai 5000 volt, dengan satuan listrik 12 sampai 125 ampere. Penambahan daya HP dari motor dilakukan dengan merangkai panjang motornya. Rangkaian motor tandem (bertingkat) dapat mencapai 750 HP dengan panjang sekitar 90 ft. Selain ukuran motor, yang perlu diperhatikan adalah horse power dan seri motor. Jenis seri

menunjukan diameter motor yang harus sesuai dengan diameter dalam dari casing sumur. b. Kabel. Kabel dipakai sebagai sarana penghantar daya listrik dari permukaan ke motor yang letaknya didalam sumur. kabel selain tahan temperature dan tekanan fluida, serta kedap terhadap resapan liguid dari sumur. Untuk itu kabel harus memiliki bagian seperti : konduktor, isolasi, sarung.

Gambar 5.2. Motor Pompa ESP Ada dua jenis kabel yang biasa dipakai round cable atau flat cable, kabel listrik terdiri dari tiga kabel yang diisolir satu sama lain dengan pembalut dari karpet. Ketiganya terbungkus oleh suatu pelindug yang terbuat dari baja penampang kawat tembaga

berubah-ubah fungsi tegangan arus dari motor dan biasanya dipilih antara 16, 25 atau 35 mm2. Hubungan antara tubing dan kabel dilakukan dengan pertolongan kabel clamp.

Gambar 5.3. Kabel c. Protector (seal Section). Protector diletakkan diantara motor dan pompa. Fungsinya : Tempat menyimpan bahan pelumas untuk pompa. Tempat menyimpan minyak untuk pompa. Menjaga tekanan dalam pompa dan motor agar selalu lebih besar dari tekanan di luar pompa. Mencegah masuknya cairan ke dalam motor. Protector terdiri dari dua kamar yaitu kamar atas dan kamar bawah. Keduanya dipisahkan oleh piston. Tekanan hydrostatik cairan dalam pompa sumur masuk kedalam protector melalui orifce dan bekerja pada piston. Karena tegangan di dalam kamar atas, tekanan dijaga agar lebih besar tekanan di luar pompa. Di dalam kamar atas dimasukan minyak pelumas pompa. Sedangkan

di dalam kamar bawah permukaan dimasukan minyak motor. Pemilihan protector dilakukan sesuai dengan pompa. d. Intake Section (Separator Gas). Pada umumnya yang tidak banyak digunakan mengandung gas. Sukup dengan menggunakan pump intake, sedangkan untuk sumur yang banyak mengandung gas terutama dissolved gas (gas terlarut dalam minyak) sangat perlu menggunakan separator gas. Kegunaan dari separator adalah: Mencegah turunnya head capacity yang dapat dihasilkan oleh pump. Mencegah terjadinya gas lock dan kavitasi pompa terutama pada flow rate (laju aliran) yang tinggi dan fluida yang mengandung gas. Dengan demikian akan dapat

memperbaiki efesiensi pompa. Mencegah terjadinya fluktuasi beban pada motor

penggeraknya. e. Mengurangi adanya surging (tekanan dan sentakan ).

Pompa Centrifugal. Pompa submersible adalah tipe pompa centrifugal multi tingkat. setiap tingkat terdiri dari bagian yang bergerak yaitu impeller dan bagian yang stasioner (tidak bergerak) yaitu diffuser. Tipe dan ukuran tiap tingkat menentukan volume dari fluida yang dapat diproduksi. jumlah tingkatnya menentukan jumlah head

yang dihasilkan, apabila dikalikan dengan daya (HP) per tingkat dan spesific grafitinya, maka jumlah HP motor yang dibutuhkan sapat ditentukan. Pompa tandem adalah beberapa single pump (pompa tunggal) yang disusun seri baik secara hydraulic untuk memberikan total head dari pompa yang dibutuhkan untuk keperluan tertentu. Komponen ini sepertinya halnya poros pompa dibuat khusus yang tahan korosi, scale, temperature tinggi, pasir dan jumlah tingkat yang digunakan untuk ukuran tertentu tergantung pada head pengangkatan. f. Motor Lead Cable Motor lead cabel disebut juga motor lead extension dan berbentuk flat (pipih). Panjangnya dibuat sepanjang pothead pada motor sampai dengan bagian atas dari pompanya. Yang kemudian disambung dengan power kabel. Seal section, gas separator dan pompa dengan flat cable ini dimasukan agar total diameter luar rangkaian pompa dan motor lead cable diberi pelindung (cable guards ) untuk mencegah kerusakan pada waktu dimasukkan ke dalam sumur.

Gambar 5.4. Seal Section atau Protector

Gambar 5.5. Gas Separator atau Intake Section

5.2.2. Peralatan di Atas Permukaan. Peralatan di atas permukaan untuk ESP antara lain: a. Juction Box. Juction atau vent box digunakan untuk melepaskan gas yang ikut dalam kebel agar tidak menimbulkan kebakaran di switcboard. Alat ini menghubungkan tenaga ke kabel sumur. b. Packer dan Subsurface Safety Valve. Untuk sumur pompa dilepas pantai yang masih bertekanan tinggi. umumnya dilengkapi dengan packer dan subsurface check valve.

valve ini dipasang 300 ft dibawah well head (kepala sumur). Dalam keadaan darurat dapat ditutup secara manual ataupun otomatis. c. Switchboard. Merupakan suatu alat panel kontrol yang dilengkapi dengan tombol on-off untuk over atau under-load protection, sekring, ammeter recording, lampu signal, intermitting timer dan remote control. Secara keseluruhan alat ini berfungi untuk mengatur atau mengontrol opersai arus listrik yang dibutuhkan oleh motor. d. Down Hole Presssure Monitor. Digunakan untk memonitor intake pressure (tekanan hisapan) dalam sumur, dan sangat digunakan untuk mengetahui

performance (ulah kerja pompa). Selain alat monitor tekanan, at digunakan alat centriguard motor controller yang gunanya untuk memonitor secara terus-menerus ulah kerja peralatan electric submersible pump, yang menanyangkan secara sekejap: current. Mudah melakukan setting. Baik untuk memproteksikan Kondisi over-current dan under

terhadap single pasing atau kondisi arus yang tidak balance yang dapat mengakibatkan motor terlalu panas, kerusakan kabel.

5.3. Perencanaan Electric Submersible Pump Perencanaan pompa ESP bertujuan untuk menentukan jenis dan ukuran pompa (jumlag stage, jenis motor, kabel, transformeter, dan switcboard) sesuai merek dagang terpilih, data produksi, konfigurasi sumur, dan karakteristik reservoir. Adapun langkah kerja perencanaan pompa ESP adalah sebagai berikut: 1. Mengisi data yang diperlukan (data sumur, reservoir dan fluida). 2. Menghitung berat jenis rata-rata dan gradient tekanan fluida produksi menurut persamaan : SGrata-rata 1 x SGminyak + WOR x SGair = ........................... 1 + WOR (5.1)

Gradient fluida (GF) = 0.433 x SG 3. Menentukan kedudukan pompa (HPIP) kurang lebih 100 ft di atas lubang perforasi teratas (HS) kurang lebih 50 ft. 4. Menentukan laju produksi yang diinginkan dengan cara memilih, kemudian mencoba harga Pwf untuk menentukan harga laju produksi total dengan persamaan: Qtot = (Ps Pwf) x PI ............................................................... (5.2)

Menghitung laju produksi yang diinginkan (Qo) menurut persamaan : 1

Qo = x Qtot ............................................................ 1 + WOR

(5.3)

Apabila harga tersebut belum selesai, mengulangi dengan memilih harga Pwf dengan penjajalan. 5. Menghitung pump intake (PIP) dengan persamaan : PIP = Pwf GF x (HS HPIP) ............................................. (5.4)

Harga PIP harus lebih besar dari BPP (tekanan jenuh). Bila tidak terpenuhi, mengulangi langkah 4 dan 5 dengan laju produksi yang lebih rendah. 6. Menghitung arus cairan kerja {Zf1 = HS-(Pwf / GF)} 7. Menentukan kehilangan tekanan sepanjang tubing (HF) 8. Menghitung total Dynamic Head (TDH) menurut persamaan : THP TDH = + Zfl + Hf .................................................... GP

(5.3)

9. Memilih jenis dan ukuran pompa dari catalog perusahaan pompa bersangkutan dengan gambar yang menunjukan efesiensi maksimum untuk laju produksi yang diperoleh dari langkah 4. Membaca harga head capacity (HC) dan daya kuda motor (HP motor) pada laju produksi tersebut. 10. menghitung jumlah stages (tingkat) : Jumlah stages = TDH / HC .......................................................... (5.6)

11. Menghitung daya kuda yang dibutuhkan :

Gambar 5.6. Chart Kehilangan Tekanan dalam Pipa

12. Menentukan jenis motor pada table jenis motor ESP. 13. Menghitung kecepatan aliran dianulus (FV) motor untuk masing-masing jenis motor : 0.0119 x Q total FV = ........................................................ (ID casing)2 (OD motor)2 (5.7)

Jenis motor dan OD motor terkecil yang memberikan FV > 1 ft/detik adalah pasangan yang harus dipilih.

14. Membaca harga arus listrik (A) dan tegangan listrik motor (V motor) yang dibutuhkan untuk jenis motor yang bersangkutan. 15. Memilih jenis kabel dari harga arus listrik tersebut. V kabel = (HS 50) x V/1000ft 16. Memilih transformator dan switchboard. Melakukan perhitungan total tegangan pada waktu start sebagai berikut : a. Menghitung tegangan yang diperlukan motor dan kabel : Vtot = Vmotor + vkabel ................................................... b. Menghitung KA = 1,73 x Vtot x A/1000 .......................... (5.8) (5.9)

c. Menentukan transformator yang memenuhi hasil perhitungan 16b karena aliran tiga fasa maka transformator adalah sepertiga dari hasil perhitungan 16b. 17. Membandingkan apakah total tegangan pada waktu start tidak melebihi tegangan yang dikeluarkan oleh switchboard. Apabila tidak melebihi, berarti perencanaan telah betul, apabila melebihi, maka dilakukan pengulangan dari langkah 16.