Anda di halaman 1dari 7

Tugas ke 7 Praktikum 9 Tanggal 21 November 2010

ANALISIS KETIMPANGAN WILAYAH KABUPATEN PEMALANG


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perencanaan Wilayah

Disusun Oleh :

Kelompok 5

Wendi Irawan D Deria Hadianisa Rijal Aziz Sri Noor Cholidah

150310080137 150310080147 150310080159 150310080170

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2010

PENDAHULUAN

Ketimpangan wilayah merupakan salah satu permasalahan yang pasti timbul dalam pembangunan. Ketimpangan wilayah menjadi signifikan ketika wilayah dalam suatu negara terdiri atas beragam potensi sumber daya alam, letak geografis, kualitas sumber daya manusia, ikatan etnis atau politik. Keberagaman ini selain dapat menjadi sebuah keunggulan, juga sangat berpotensi menggoncang stabilitas sosial dan politik nasional. Salah satu jalan untuk mengurangi ketimpangan wilayah ialah menyelenggarakan pembangunan. Namun, pembangunan tidak serta merta dapat mengurangi ketimpangan wilayah. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengedepankan kembali konsep pemerataan dalam pembangunan di Indonesia. Pada saat ini ketimpangan antarwilayah di Indonesia masih dapat terlihat di antara wilayah perkotaan dan perdesaan, antara wilayah yang lebih maju dan wilayah tertinggal, antara metropolitan, kota besar, menengah, dan kecil, antara perkotaan dan perdesaan, serta ketertinggalan juga dialami pada daerah perbatasan dan pulau-pulau kecil terluar. Salah satu aspek penting dalam menangani pengembangan wilayah di Indonesia ialah mengatasi ketimpangan sosial dan ekonomi antara wilayah Jawa dan luar Jawa. Untuk itu makalah ini akan membahas salah satu wilayah di Indonesia yaitu kabupaten Pemalang dan menganalisis adakah ketimpangan wilayah yang terjadi di wilayah tersebut.

PEMBAHASAN
Indeks Williamson merupakan salah satu alat ukur untuk mengukur tingkat ketimpangan daerah yang semula dipergunakan oleh Jeffrey G. Wlliamson. Perhitungan indeks Wlliamson didasarkan pada data PDRB masing-masing daerah digunakan rumus Hasil pengukuran dari nilai Indeks Williamson ditunjukkan oleh angka 0 sampai angka 1 atau 0 < VW < 1. Jika indeks Williamson semakin mendekati angka 0 maka semakin kecil ketimpangan pembangunan ekomoni dan jika indeks Wlliamson semakin mendekati angka 1 maka semakin melebar ketimpangan pembangunan ekonomi (Safrizal, 1997).

Data Jumlah Penduduk dan Pendapatan per Kapita menurut Kecamatan di Kabupaten Pemalang Tahun 2005 Kecamatan Pemalang Taman Comal Randudongkal Ampelgading Bantarbolang Warungpring Moga Petarukan Watukumpul Ulujami Bodeh Pulosari Belik Jumlah penduduk 180.334 163.286 89.611 104.421 70.109 82.271 40.457 68.288 153.158 64.685 108.988 57.502 53.057 102.253 Pendapatan per kapita 3.562.290 2.960.481 2.526.840 2.405.651 1.873.334 1.784.327 1.737.927 1.712.785 1.630.812 1.619.789 1.576.193 1.441.927 1.329.624 1.305.171

Analisis Data Yang Ada Dengan Rumus Williamsons :


Kecamatan Pemalang Taman Comal Randudongkal Ampelgading Bantarbolang Warungpring Moga Petarukan Watukumpul Ulujami Bodeh Pulosari Belik Yi 3.562.290 2.960.481 2.526.840 2.405.651 1.873.334 1.784.327 1.737.927 1.712.785 1.630.812 1.619.789 1.576.193 1.441.927 1.329.624 1.305.171 (YI - ) 1.600.351 998.542 564.901 443.712 -88.605 -177.612 -224.012 -249.154 -331.127 -342.150 -385.746 -520.012 -632.315 -656.768 (YI - )2 2.561.122.180.093 997.085.412.520 319.112.736.300 196.880.022.007 7.850.909.314 31.546.149.410 50.181.536.153 62.077.893.683 109.645.326.648 117.066.866.893 148.800.252.049 270.412.851.581 399.822.710.879 431.344.674.944 fi 180.334 163.286 89.611 104.421 70.109 82.271 40.457 68.288 153.158 64.685 108.988 57.502 53.057 102.253 fi/n 0,13 0,12 0,07 0,08 0,05 0,06 0,03 0,05 0,11 0,05 0,08 0,04 0,04 0,08 (YI - )2 fi/n 345.076.588.234,6 121.643.496.562,2 21.365.499.180,1 15.360.207.392,3 411.245.648,7 1.939.102.268,4 1.516.858.989,1 3.167.298.160,4 12.546.927.675,0 5.657.768.327,6 12.116.855.598,6 11.617.638.552,6 15.849.579.034,3 32.953.995.791,4

1.961.939

1.338.420

601.223.061.415,2

Analisis hasil data yang ada dengan menggunakan rumus Indeks Williamsons :

Maka :

Vw = 601.223.061.415,2 / 1.961.939

= 775385,7501 / 1.961.939 = 0,395213923

Interpretasi Hasil Dari Analisis Williamsons : Data di atas menunjukkan angka indeks ketimpangan PDRB per kapita antar kecamatan di Kabupaten Pemalang pada tahun 2005 yang menggambarkan bahwa pada tahun 2005 distribusi pendapatan Kabupaten Pemalang sudah cukup merata (Indeks Williamson mendekati nol). Hal ini ditunjukkan dengan nilai indeks Williamson yang mendekati nol yaitu sebesar 0,39. Nilai indeks ketimpangan produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita antar kecamatan di Kabupaten Pemalang, menunjukkan bahwa tingkat produk domestik regional bruto per kapita kecamatan di Kabupaten Pemalang mengalami ketimpangan yang cukup kecil,sehingga perbedaan antara suatu daerah dengan daerah yang lain relatif cukup kecil. Tingkat ketimpangan produk domestik regional bruto (PDRB) perkapita antar kecamatan tidak berarti secara otomatis menerangkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Pemalang ada yang baik dan ada yang sangat buruk dibandingkan daerah lain. Hal ini dikarenakan indeks williamson hanya menjelaskan distribusi PDRB perkapita antar kecamatan di Kabupaten Pemalang tanpa menjelaskan seberapa besar PDRB perkapita yang didistribusikan tersebut dengan PDRB daerah lainnya.

Faktor Penyebab Ketimpangan Di Kabupaten Pemalang: Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab ketimpangan di Kabupaten Pemalang, faktor-faktor tersebut diantaranya : 1. Pertumbuhan ekonomi yang terus berfluktuasi dan menunjukan arah yang negatif.

Faktorfaktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Pemalang adalah : teknologi, peningkatan sumber daya manusia, penemuan material baru, peningkatan pendapatan dan perubahan selera konsumen. 2. Terjadinya aliran investasi dari daerah relatif miskin ke daerah relatif kaya. Gejala ini disebabkan oleh mekanisme pasar, dimana terjadi kombinasi dua faktor yaitu: a. Tabungan yang ada di daerah miskin walaupun jumlah jumlahnya kecil, tidak dapat digunakan secara efektif karena kurangnya permintaan investasi daerah tersebut; b. Tabungan akan diinvestasikan ke daerah yang relatif kaya, karena akan lebih terjamin dan memberikan keuntungan yang lebih besar. Sehingga dalam proses pembangunan, daerah miskin akan semakin sulit untuk berkembang menjadi daerah kaya atau semakin timpang. Untuk hal ini, harus dilakukan percepatan dalam mengejar ketertinggalan dengan dipenuhinya infrastruktur dasar masyarakat, pemberian bantuan modal serta melakukan penguatan kelembagaan masyarakat di pedesaan.

3. Alokasi dana bantuan pembangunan dari pemerintah pusat yang tidak merata dan daerah yang mendapat bantuan terlalu besar dapat meningkatkan tingkat ketimpangan antar daerah. Hal ini akibat pembangunan yang terkonsentrasi daerah-daerah yang sudah maju dibandingkan daerah yang masih tertinggal,

Implikasi Kebijakan Yang Dapat Direkomendasikan : Implikasi kebijakan ini diharapkan dapat membantu kebijakan ekonomi daerah Kabupaten Pemalang di masa yang akan datang adalah sebagai berikut : 1. Dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik diperlukan kebijakan pemerintah daerah yang berkaitan dengan pengembangan teknologi, peningkatan sumber daya manusia, penemuan material baru, dan peningkatan pendapatan. 2. Untuk kecamatan relatif tertinggal diperlukan kebijakan atau campur tangan pemerintah antara lain dengan mengadakan peningkatan, perluasan dan pemeliharaan sarana dan prasarana ekonomi dengan mempertimbangkan dan memperhatikan kecamatankecamatan yang relatif tertinggal dengan sasaran menyerasikan pertumbuhan antar kecamatan. 3. Diperlukan adanya program yang memadai dalam menjalankan kebijakan seperti prioritas pembangunan daerah terutama dalam sarana dan prasarana ekonomi untuk kecamatan yang tertinggal agar dapat mengurangi tingkat ketimpangan. 4. Meningkatkan investasi swasta dengan memberikan kemudahan- kemudahan dan insentif investasi sehingga investor mau menamkan modalnya. Investasi juga diarahkan pada kecamatan-kecamatan yang kurang maju dengan membangun sarana dan prasarana yang mendukung dalam berinvestasi. 5. Peningkatan jumlah angkatan kerja harus diimbangi dengan kesempatan kerja yang lebih banyak. Tentunya dengan kegiatan investasi di atas dapat meningkatkan kesempatan kerja. Kesempatan kerja sebaiknya juga diciptakan pada semua daerah dan tidak mementingkan daerah tertentu. 6. Adanya ketimpangan pendapatan perkapita antar kecamatan menyebabkan pentingnya bantuan pembangunan dari pemerintah pusat. Bantuan pembangunan yang diberikan pemerintah pusat kepada kecamatan melalui kabupaten/kota hendaknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi di daerah masing-masing sehingga diharapkan daerah yang tertinggal mampu mengejar daerah yang sudah maju. Agar penggunaan dana bantuan pembangunan optimal, perlu ditingkatkan peran pengawasan baik oleh institusi yang berwenang maupun masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. PDRB Per Kapita. Pemalang : Sistem Informasi Manajemen. http://www.elektro.undip.ac.id/ (diakses pada tanggal 19 November 2010) ______ . 2008. Kabupaten Pemalang Dalam Angka 2002-2005. http://www.digilibampl.net/file/pdf/UO-121-01.pdf (diakses pada tanggal 19 November 2010) ______. Ketimpangan Wilayah. www.bappenas.go.id/get-file-server/node/6142/ (diakses pada tanggal 20 November 2010)

Anda mungkin juga menyukai