Anda di halaman 1dari 16

Laporan Praktikum Toksikologi Industri

ANALISA KADAR LOGAM Pb DI URIN DAN RAMBUT


Laporan Diajukan untuk Memenuhi Nilai Tugas Individu Mata Kuliah Toksikologi Industri

Disusun Oleh : Abu Zar 108101000006 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) 2008

SEMESTER VI PEMINATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1432 2010

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pencemaran atau polusi adalah kondisi yang telah berubah dari bentuk asal keadaan yang lebih buruk. Pergeseran bentuk tatanan dari kondisi asal pada kondisi yang buruk ini dapat terjadi sebagai akibat masukan dari bahan-bahan pencemar atau polutan. Bahan polutan tersebut pada umumnya mempunyai sifat racun atau toksik yang berbahaya bagi organisme hidup. Toksisitas atau daya racun tersebut kemudian menjadi pemicu terjadinya pencemaran. Pencemaran juga dapat ditimbulkan oleh bahan-bahan kimia, biasanya senyawa-senyawa mempunyai bahan aktif dari logam-logam berat. Daya racun yang dimiliki oleh aktif dari logam berat akan bekerja sebagai penghalang kerja enzim dalam proses fisiologis atau metabolisme tubuh.1 Logam berat tersebut yaitu timbal (Pb). Timbal biasanya digunakan sebagai campuran bahan baker bensin, yang fungsiya intuk meningkatkan daya pelumasan dan meingkatkan efisiensi pembakaran. Bahan kimia ini bersama bensin dibakar dalam mesin, sisanya keluar bersama emisi das buang hasil pembakaran dan timbale yang terbuang lewat knalpot adalah salah satu diantara zat pencemar udara. Timbale tidak mengalami penguapan, namun dapat ditemukan di udara sebagai partikel. Karena timbale merupakan sebuah unsure maka tidak mengalami penguraian dan tidak dapat dihancurkan. Konsentrasi Pb di lingkungan tergantung pada tingkat aktifitas manusia, misalnya di jalan raya. Banyak orang melakukan aktivitasnya dijalan raya dan tempat-tempat yang kemungkinan untuk terpapar Pb lebih besar, contohnya supir angkot, tukang ojek, dan pekerja SPBU. Pb sebagai salah satu komponen polutan udara mempunyai efek toksik yang luas pada manusia dengan mengganggu fungsi ginjal, saluran
1

Heryando Palar, 1994 dalam Supatmi 2007

pencernaan, system saraf, menurunkan jumlah spermatozoa. Selain itu juga dapat menurunkan IQ pada anak-anak, menurunkan kemampuan berkonsentrasi, gangguan pernapasan, kanker paru dan alergi.2 Umur dan jenis kelamin dapat mempengaruhi kandungan Pb dalam jaringan tubuh seseorang. Semakin tua seseorang akan semakin tinggi konsentrasi Pb yang terakumulasi pada jaringan tubuh. Jenis jaringan juga turut mempengaruhi kadar Pb, jaringan terseut antara lain tulang, paru, ginjal, limpa, jantung, otak, gigi dan rambut. Rambut merupakan jaringan yang berada diluar tubuh, sehingga rambut kontak langsung dengan polusi udara. Untuk itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui ada tidaknya Pb pada rambut dan urin. B. Rumusan Masalah 1. Adakah paparan Pb pada rambut dan urin pada supir angkot, pekerja SPBU, tukang ojek dan mahasiswa? 2. Berapa kadarnya?? 3. Apakah kadar tersebut masih aman atau sudah harus dikendalikan?? C. Tujuan Penelitian 1. Menganalisa ada tidaknya Pb pada rambut dan urin pekerja yang kemungkinan bersar untuk terpapar Pb 2. Dapat menetapkan kadar Pb dan mengetahui pengendaliannya D. Manfaat Penelitian 1. Dapat menambah wawasan, pengetahuan pekerja yang berkemungkinan untuk terpapar Pb tentang paparan Pb yang mempunyai dampak negative. 2. Dapat menambah pengalaman bagi mahasiswa yang melakukan penelitian ini.
2

Anonim, Dampak Pemakaian Bensin Bertimbal dan Kesehatan, http://www.kpbb.org/makalan_ind/dampak dalam Supatmi 2007

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Timbal adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Pb dan nomor atom 82. Lambangnya diambil dari bahasa Latin Plumbum. Timbal (Pb) adalah logam berat yang terdapat secara alami di dalam kerak bumi. Keberadaan timbal bisa juga berasal dari hasil aktivitas manusia, yang mana jumlahnya 300 kali lebih banyak dibandingkan Pb alami yang terdapat pada kerak bumi. Pb terkonsentrasi dalam deposit bijih logam. Unsur Pb digunakan dalam bidang industri modern sebagai bahan pembuatan pipa air yang tahan korosi, bahan pembuat cat, baterai, dan campuran bahan bakar bensin tetraetil. Timbal (Pb) adalah logam yang mendapat perhatian khusus karena sifatnya yang toksik (beracun) terhadap manusia. Timbal (Pb) dapat masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi makanan, minuman, udara, air, serta debu yang tercemar Pb.3 B. Dampak Pb dan Cd Bagi Kesehatan Menurut ketentuan WHO, kadar Pb dalam darah manusia yang tidak terpapar oleh Pb adalah sekitar 10-25 ug/100 ml. Pada penelitian yang dilakukan di industri proses daur ulang aki bekas, Suwandi (1995) menemukan bahwa kadar Pb udara di daerah terpapar pada malam hari besarnya sepuluh kali lipat kadar Pb di daerah tidak terpapar pada malan hari (0,0299 mg/m3 vs 0,0028 mg/m3), sedangkan rerata kadar Pb Blood ( Pb-B ) di daerah terpapar 170,44 ug/100 ml dan di daerah tidak terpapar sebesar 45,43 ug/100 ml. Juga ditemukan bahwa semakin tinggi kadar Pb-B, semakin rendah kadar Hb nya. Pada penelitian mengenai kadar Pb di udara ambien dan hubungan antara kadar Pb-B dengan IQ anak sekolah, Susanto (1997) menemukan bahwa kadar Pb udara ambien di daerah penelitian sebesar 0,00103 mg/m3,
3

Anonim, Timbal, http://id.wikipedia.org/wiki/Timbal diakses pada tanggal 02 Juli 2011

masih dibawah nilai baku mutu yang besarnya 0,060 mg/m3. Didapatkan pula bahwa kadar Pb-B anak SD di kawasan tertib lalu-lintas (sekitar 39,73 ug/100 ml) lebih tinggi dari kadar Pb-B di luar kawasan tertib lalu lintas (16,30 ug/100 ml). Tidak di temukan pula perbedaan yang bermakna antara IQ anak sekolah SD di kawasan tertib lalu lintas dan di luar kawasan tertib lalu lintas. Mukono dkk. yang pada tahun 1991 meneliti status kesehatan dan kadar Pb-B karyawan SPBU (Setasiun Pompa Bensin Umum) di Jawa Timur, menemukan bahwa pemeriksaan darah lengkap pada karyawan SPBU dengan penjualan bensin kurang dari 8 ribu liter lebih baik dari karyawan SPBU yang menjual bensin lebih dari 10 ribu liter per hari. Didapatkan pula bahwa rerata kadar Pb-B karyawan SPBU sebesar 77,59 ug/100 ml. Paparan bahan tercemar Pb dapat menyebabkan gangguan pada organ sebagai berikut : a. Gangguan pada sistem syaraf. Susunan syaraf merupakan jaringan yang sangat peka terhadap bahan pencemar Pb. Gangguan neurologi (susunan syaraf) akibat tercemar oleh Pb dapat berupa encephalopathy, ataxia, stupor dan coma. Pada anakanak dapat menimbulkan kejang tubuh dan neuropathy perifer. b. Gangguan pada sistem urogenetal . Bahan pencemar Pb dapat menyebabkan tidak berfungsinya tubulus renal, nephropati irreversible, sclerosis vaskuler, sel tubulus atropi, fibrosis dan sclerosis glumerolus. Akibatnya dapat menimbulkan aminoaciduria dan glukosuria, dan jika paparannya terus berlanjut dapat terjadi nefritis kronis. c. Gangguan pada sistem reproduksi Sistem reproduksi dapat pula terganggu fungsinya akibat terpapar oleh logam berat Pb. Gangguan terhadap sistem reproduksi dapat berupa keguguran, kesakitan dan kematian janin. Logam berat Pb mempunyai efek racun terhadap gamet dan dapat menyebabkan cacat kromosom. Anakanak sangat peka terhadap paparan Pb di udara. Paparan Pb dengan kadar yang rendah yang berlangsung cukup lama dapat menurunkan IQ .

d.

Gangguan pada sistem hemopoitik. Unsur hemopoitik yang peka terhadap paparan Pb adalah hemoglobin yang menyebabkan terjadinya anemia. Efek paparan Pb tersebut menyebabkan terjadinya terjadinya penurunan sintesis globin walaupun tak tampak adanya penurunan kadar zat besi dalam serum. Anemia ringan yang terjadi disertai dengan sedikit peningkatan kadar ALA (Amino Levulinic Acid) urine. Pada anak anak juga terjadi peningkatan ALA dalam darah. Efek dominan dari keracunan Pb pada sistem hemopoitik adalah peningkatan ekskresi ALA dan CP (Coproporphyrine). Dapat dikatakan bahwa gejala anemia merupakan gejala dini dari keracunan Pb pada manusia. Anemia tidak terjadi pada karyawan industri dengan kadar Pb-B (kadar Pb dalam darah) dibawah 110 ug/100 ml.

e.

Gangguan pada sistem syaraf. Anak anak lebih peka terhadap paparan Pb, utamanya organ otak lebih sensitif pada anak-anak dibandingkan pada orang dewasa. Paparan menahun dengan Pb dapat menyebabkan lead encephalopathy. Gambaran klinis yang timbul adalah rasa malas, gampang tersinggung, sakit kepala, tremor, halusinasi, gampang lupa, sukar konsentrasi dan menurunnya kecerdasan. Pada anak dengan kadar Pb darah (Pb-B) sebesar 40-80 ug/100 ml dapat timbul gejala gangguan hematologis, namun belum tampak adanya gejala lead encephalopathy. Gejala yang timbul pada lead encephalopathy antara lain adalah rasa cangung, mudah tersinggung, dan penurunan pembentukan konsep. Apabila pada masa bayi sudah mulai terpapar oleh Pb, maka pengaruhnya pada profil psikologis dan penampilan pendidikannya akan tampak pada umur sekitar 5-15 tahun. Akan timbul gejala tidak spesifik berupa hiperaktifitas atau gangguan psikologis jika terpapar Pb pada anak berusi 21 bulan sampai 18 tahun. Untuk melihat hubungan antara kadar Pb-B dengan IQ (Intelegance Quation) telah dilakukan penelitian pada anak berusia 3 sampai 15 tahun dengan kondisi sosial ekonomi dan etnis yang sama. Pada sampel dengan

kadar Pb-B sebesar 40-60 ug/ml ternyata mempunyai IQ lebih rendah apabila dibandingkan dengan sampel yang kadar Pb-B kurang dari 40 ug/ml. Pada dewasa muda yang berumur sekitar 17 tahun tidak tampak adanya hubungan antara Pb-B dan IQ. Gambaran klinis akibat keracunan Pb terhadap gangguan syaraf perifer dapat berupa semutan dan kulit terasa tebal. Keracunan kronis Pb akan meningkatkan kematian yang disebabkan oleh kelainan cerebro vasculer. Efek keracunan timbal (Pb) terhadap saluran pencernaan berupa abdominal colic. Efek negatif terhadap liver adalah meningkatnya enzym SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase). Masyarakat dapat terpapar oleh Pb melalui pencemaran udara, air dan tanah serta dapat pula masuk kedalam tubuh melalui makanan/minuman, obat-obatan, rokok dan terpapar oleh cat. Paparan kronis oleh Pb dapat menyebabkan tertimbunnya Pb dalam organ atau jaringan dan cairan tubuh. Dalam keadaan ini dapat terdeteksi adanya Pb dalam urine, feces, keringat ,rambut dan kuku. Logam berat Pb yang terdeteksi dalam darah merupakan indikator penting akibat paparan dan seberapa jauh akibat/efek yang ditimbulkan. Paparan oleh Pb yang cukup tinggi di industri dapat memberikan gangguan cerebrovaskular seperti perdarahan otak, trombosis, dan arterio sclerosis.. Karyawan industri dengan masa kerja 20 tahun dan terpapar timbal dengan kadar yang cukup tinggi menunjukkan kadar timbal dalam urine sebanyak 100 - 250 ug/liter. Pada pria yang bekerja selama 15 tahun pada pabrik aki dan pengecoran Pb yang kadar Pb udaranya melebihi 0,15 ug/m3 dapat timbul hipertensi. Implikasi klinik akibat tercemar oleh Pb dapat ditunjukan oleh hubungan antara dosis-efek dan dosis-respon. Hubungan antara dosis-efek ditunjukkan oleh besarnya dosis dengan intensitas yang spesifik pada seseorang. Sebagai contoh adalah bagaimana hubungan antara Pb-B (kadar Pb di dalam darah) dengan persentasi inhibisi dari ALAD (Amino Levulinic Acid Dehydratase) dalam darah. Sedangkan hubungan dosis-

respon ditunjukkan oleh hubungan antara dosis paparan dengan proporsi populasi penduduk yang terkena efek paparan.4 Selain timbal, pada praktikum ini juga melihat kadar cadmium dalam urin dan rambut. Oksida dari kadmium adalah logam yang toksisitasnya tinggi. Sebagian besar kontaminasi oleh kadmium pada manusia melalui makanan dan rokok. Waktu paruh kadmium kira-kira 10-30 tahun. Akumulasi pada ginjal dan hati 10-100 kali konsentrasi pada jaringan yang lain. Logam cadmium dalam tubuh manusia terutama akan dieleminasi melalui urine. Hanya sedikit kadmium yang diabsorbsi yaitu sekitar 5-10%. Absorbsi dipengaruhi factor diet seperti intake protein, calcium, vitamin D dan trace logam seperti seng (Zn). Proporsi yang besar adalah absorbsi malalui pernafasan yaitu antara 10-40% tergantung keadaan fisik wilayah Uap kadmium sangat toksis dengan lethal dose melalui pernafasan diperkirakan 10 menit terpapar sampai dengan 190 mg/m3 atau sekitar 8 mg/m3 selama 240 menit akan dapat menimbulkan kematian. Gejala umum keracunan Cd adalah sakit di dada, nafas sesak (pendek), batuk-batuk dan lemah. Paparan akut oleh kadmium (Cd) akan menyebabkan gejala nausea (mual), muntah, diare, kram, otot, anemia, dermatitis, pertumbuhan lambat, kerusakan ginjal dan hati, gangguan kardiovaskuler, empisema dan degenerasi testicular. Dosis mematikan (lethal dose) secara akut diperkirakan sekitar 500 mg/kg untuk dewasa dan efek dosis akan nampak jika terabsorbsi 0,043 mg/kg per hari.

Prof Mukono, Efek Gas Terhadap Kesehatan Lingkungan, Universitas Airlangga, 2009, diakses dari http://mukono.blog.unair.ac.id/2009/09/09/efek-gas-terhadap-kesehatan-lingkungan/, pada tanggal 02 Juli 2011

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil No Sampel (Nama) 1 (Tia) 2 (Eti) 3 (Sari) 4 (Firdaus) 5 (Pratiwi) 1 (Sugeng) 2 (Pujiono) 3 (Aang) 4 (Jejen) 5 (No Name) 1 (Titi) 2 (Nadya) 3 (Rizky) 4 (Annisa) 5 (Mahrus) 0,03 0,04 0,03 0,04 0,05 Kelompok 3 (Mahasiswa) 0,98 -0,09 0,63 -0,09 0,56 -0,10 0,51 -0,10 0,16 -0,10 Kelompok 4 (Tukang Ojek) 0,14 -0,10 0,63 -0,10 0,36 -0,10 0,99 -0,10 0,27 -0,10 -0,07 -0,09 -0,09 -0,09 -0,10 -0,10 -0,09 -0,09 -0,09 -0,08 0,03 0,03 0,03 0,03 0,03 0,06 0,03 0,05 0,04 0,03 Kelompok 1 (Petugas SPBU) Kadar Timbal (Pb) Kadar Kadmium (Cd) Urin Rambut Urin Rambut 0,51 -0,10 0,54 -0,10 0,33 -0,10 0,74 -0,10 0,25 -0,10 Kelompok 2 (Supir Angkot) 0,33 -0,10 0,13 -0,10 0,08 -0,10 0,08 -0,10 0,47 -0,09 -0,08 -0,09 -0,09 -0,09 -0,09 -0,09 -0,10 -0,10 -0,10 -0,09

1 (Irfan) 0,04 2 (Beni) 0,05 3 (Fuad) 0,04 4 (Nali) 0,05 5 (Ludi) 0,05 B. Pembahasan

Profesi sebagai tukang ojek, supir angkot dan pegawai SPBU adalah profesi yang berpotensi untuk terpapar pencemaran udara akibat gas buang kendaraan bermotor. Dilihat dari tabel yang disajikan diatas, dapat dilihat bahwa kadar Pb dan Cd lebih banyak terdapat pada rambut. Nilai ambang batas untuk Pb adalah 0,8 g/m. Hampir semua responden masih berada di bawah nilai ambang batas. Kecuali ada 1 responden, yaitu Nali yang berfrofesi sebagai tukang ojek yang berada di atas nilai ambang batas. Sedangkan nilai ambang 9

batas untuk logam Cd adalah 1 g/m. Dan seluruh responden masih aman atau masih dibawah nilai ambang batas.

BAB IV SIMPULAN Timbal (Pb) adalah logam yang mendapat perhatian khusus karena sifatnya yang toksik (beracun) terhadap manusia. Timbal (Pb) dapat masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi makanan, minuman, udara, air, serta debu yang tercemar Pb. Paparan bahan tercemar Pb dapat menyebabkan gangguan pada organ saraf, reproduksi, hemoipotik, urogenital.

10

Gejala umum keracunan Cd adalah sakit di dada, nafas sesak (pendek), batuk-batuk dan lemah. Paparan akut oleh kadmium (Cd) akan menyebabkan gejala nausea (mual), muntah, diare, kram, otot, anemia, dermatitis, pertumbuhan lambat, kerusakan ginjal dan hati, gangguan kardiovaskuler, empisema dan degenerasi testicular. Hampir seluruh dari responden masih aman atau masih dibawah nilai ambang batas tingkat keterpaparan terhadap Pb dan Cd.

DAFTAR PUSTAKA Supatmi. Analisa Timbal (Pb) pada Rambut Supir Angkot. 2007. Anonim. Timbal. Dari http://id.wikipedia.org/wiki/Timbal diakses pada tanggal 02 Juli 2011 Prof Mukono. Efek Gas Terhadap Kesehatan Lingkungan. Universitas Airlangga. 2009. diakses dari http://mukono.blog.unair.ac.id/2009/09/09/efek-gasterhadap-kesehatan-lingkungan/, pada tanggal 02 Juli 2011

11

Lapiran 1 Data Responden Kelompok 1 Responden 1 1. Nama responden: Tia 2. Umur responden: 21 tahun 3. Pekerjaan responden: Petugas SPBU 4. Lokasi pekerjaan responden: SPBU Cirendeu 5. Berapa lama Anda bekerja/menekuni pekerjaan tersebut: 10 bulan 6. Apakah Anda menggunakan APD ketika bekerja: Tidak 7. Apakah Anda pernah merokok: Tidak 8. Sudah berapa lama Anda merokok selama ini: 12

Responden 2 1. Nama responden: Eti 2. Umur responden: 29 tahun 3. Pekerjaan responden: Petugas SPBU 4. Lokasi pekerjaan responden: SPBU Cirendeu 5. Berapa lama Anda bekerja/menekuni pekerjaan tersebut: 1 tahun 6. Apakah Anda menggunakan APD ketika bekerja: Tidak 7. Apakah Anda pernah merokok: Tidak 8. Sudah berapa lama Anda merokok selama ini: Responden 3 1. Nama responden: Sari 2. Umur responden: 20 tahun 3. Pekerjaan responden: Petugas SPBU 4. Lokasi pekerjaan responden: SPBU Ciputat 5. Berapa lama Anda bekerja/menekuni pekerjaan tersebut: 7 bulan 6. Apakah Anda menggunakan APD ketika bekerja: kadang-kadang 7. Apakah Anda pernah merokok: Tidak 8. Sudah berapa lama Anda merokok selama ini: Tidak Responden 4 1. Nama responden: Firdaus 2. Umur responden: 24 tahun 3. Pekerjaan responden: Petugas SPBU 4. Lokasi pekerjaan responden: SPBU Cirendeu 5. Berapa lama Anda bekerja/menekuni pekerjaan tersebut: 1 tahun 6. Apakah Anda menggunakan APD ketika bekerja: Tidak 7. Apakah Anda pernah merokok: Ya 8. Sudah berapa lama Anda merokok selama ini: 10 tahun Responden 5 Nama : Pratiwi Puji Lestari Umur Responden : 20 tahun

Kelompok 2 (1) 1. 2. 3. 4. 5. Nama responden: Sugeng Riato Umur responden: 46 tahun Pekerjaan responden: Supir angkot Lokasi pekerjaan responden: Pamulang 2 - Ciputat Berapa lama Anda bekerja/menekuni pekerjaan tersebut: 25 tahun

13

6. Apakah Anda menggunakan APD ketika bekerja: Tidak 7. Apakah Anda pernah merokok: Ya 8. Sudah berapa lama Anda merokok selama ini: 25 tahun (2) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. (3) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. (4) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Nama responden: Jejen Umur responden: 32 tahun Pekerjaan responden: Supir angkot Lokasi pekerjaan responden: Pamulang 2 - Ciputat Berapa lama Anda bekerja/menekuni pekerjaan tersebut: 10 tahun Apakah Anda menggunakan APD ketika bekerja: Ya Apakah Anda pernah merokok: Ya Sudah berapa lama Anda merokok selama ini: 18 tahun Nama responden: Aang Konaefi Umur responden: 30 tahun Pekerjaan responden: Supir angkot Lokasi pekerjaan responden: Pamulang 2 - Ciputat Berapa lama Anda bekerja/menekuni pekerjaan tersebut: 12 tahun Apakah Anda menggunakan APD ketika bekerja: Tidak Apakah Anda pernah merokok: Ya Sudah berapa lama Anda merokok selama ini: 17 tahun Nama responden: Pujiono Umur responden: 29 tahun Pekerjaan responden: Supir angkot Lokasi pekerjaan responden: Pamulang 2 - Ciputat Berapa lama Anda bekerja/menekuni pekerjaan tersebut: 6 tahun Apakah Anda menggunakan APD ketika bekerja: Tidak Apakah Anda pernah merokok: Ya Sudah berapa lama Anda merokok selama ini: 11 tahun

Kelompok 4 1. Nama : Irfan Umur : 60 tahun Lama kerja: 30 tahun APD : Pakai helm, tidak pakai masker

14

Merokok : Ya 2. Nama : Beni Umur : 38 tahun Lama kerja: 4 tahun APD : Pakai helm, tidak pakai masker

Merokok : Ya 3. Nama : Fuad Umur : 50 tahun Lama kerja: 15 tahun APD : Pakai helm, tidak pakai masker

Merokok : Ya 4. Nama : Nali Umur : 45 tahun Lama kerja: 20 tahun APD : Pakai helm, tidak pakai masker

Merokok : Ya 5. Nama Mahasiswa : Ludi

Lampiran 2 Timbangan Rambut Kelompok 1 U1&R1 : TIA U2&R2 U3&R3 U4&R4 U5&R5 : ETI : SARI : FIRDAUS : TIWI R1= 0,56 R2 = 0,46 R3 = 0,90 R4 = 1,35 R5 = 2,56

15

Nb: pada pemeriksaan urine yang seharusnya 25ml tapi U1 hanya 12ml saja dikarenakan urinenya hanya sedikit yang didapatkan. Kelompok 2 2R1 = 0,41 gram 2R2 = 0,11 gram 2R3 = 0,06 gram 2R4 = 0,07 gram 2R5 = 2,88 gram Kelompok 3 Urine dan Rambut TIMBANGAN RAMBUT (gram) U1&R1 : TITI R1 = 2,46 U2&R2 : NADYA R2 = 2,38 U3&R3 : RIZQY R3 = 1,46 U4&R4 : ANNISA R4 = 2,56 U5&R5 : MAHRUS R5 = 1,10 Kelompok 4 Data Timbangan Rambut (gram): 4U1 : 2,45 4U2 : 2,30 4U3 : 2,35 4U4 : 2,50 4U5: 2,20

16