Anda di halaman 1dari 8

Nama NIM Kelas

: Riyad Febrian Anwar : B11110480 :K

Mata Kuliah : Hukum Internasional

WESTERN SAHARA
Sejarah Sahara Barat Sejarah dari Western Sahara Sahara Barat bisa dilacak dari masa penjelajah Cartaginian, Hanno Sang Navigator pada abad ke 5 SM.1 Walau hanya terdapat beberapa catatan sejarah yang tersisa di periode itu. Sejarah modern Sahara Barat berakar dari beberapa kelompok nomaden yang hidup dibawah aturan suku Berber seperti kelompok suku Sanhaja. Islam dan bahasa Arab diperkirakan masuk ke Sahara Barat pada abad ke 8.

Letak Geografis Sahara Barat Sahara Barat tidak pernah menjadi bangsa menurut definisi bangsa dewasa ini. Tempat ini dahulu merupakan koloni Phoenicia, lalu mereka menghilang tanpa jejak sejarah. Pada tahun 1884, Spanyol mengklaim perwalian terhadap pesisir dari Teluk Bojador hingga Teluk Blanc. Di tahun 1958 Spanyol mengabungkan distrik yang terpisah dan membentuk provinsi Spanish Sahara Sahara Spanyol. Sejak kemerdekaannya di 1956, Maroko menganggap wilayah Spanish Sahara sebagai bagian dari wilayah Maroko sebelum kolonisasi Spanyol. Pada 1958, Tentara Pembebasan Maroko menyerang Pasukan Spanyol yang menandakan dimulainya Perang Ifni. Setelah
1

Mercer, J. Spanish Sahara. (London: George, Allen & Unwin Ltd, 1976) hal. 264

mendapat dukungan dari Prancis, Spanyol sukses mengambil alih wilayah Spanish Sahara dan memutuskan mengembalikan wilayah Tarfaya dan Tanta kepada Maroko. Maroko tetap meminta dikembalikannya wilayah-wilayah yang tersisa seperti, Ifni, Saguia el-Hamra dan Rio De Oro dan beberapa wilayah lainnya (Wilayah yang sekarang adalah Mauritania, bagian dari Algeria dan bagian dari Mali) yang dikolonisasi oleh Prancis. Pada 17 September 1974, Raja Hassan II mengungumkan keinginannya untuk membawa masalah ini ke Mahkamah Internasional. Spanyol setuju untuk menunda pelaksanaan referendum di bulan Desember. Sehingga pada 13 Desember di tahun yang sama, Majelis Umum PBB menghasilkan resolusi 3292 yang mengizinkan negara-negara yang terkait untuk meminta Pendapat Nasehat yang tidak mengikat dari Mahkamah Internasional.2 Dalam Pendapat Nasehat Mahkamah Internasional tahun 1975, Maroko dan entitas Mauritania mempertanyakan dua hal yakni; status terra nullius wilayah Sahara Barat pada masa kolonisasi Spanyol serta perihal kepastian adanya ikatan hukum antara Kerajaan Maroko serta entitas Mauritania dengan Sahara Barat. Pada bulan November di tahun yang sama, Maroko mengirimkan 300,000 warga maroko untuk berkumpul di bagian selatan kota Tarfaya dan menyembrangi Sahara Barat. Peristiwa disebut sebagai Green March. Akibatnya, Spanyol meninggalkan Sahara Barat pada 14 November 1975. Maroko secara berkala menganeksasi wilayah Sahara Barat dimulai dari sepertiga wilayah pada 1976 dan keseluruhan wilayah pada 1979 yang diikuti mundurnya Mauritania dari persengketaan wilayah tersebut. Suksesnya Maroko mengambil alih wilayah Sahara Barat tidak serta-merta mendapat sambutan positif dari penduduk pribumi disana. Pada 27 Februari 1976, Barisan Polisario secara formal memoklamirkan Republik Demokratik Arab Sahrawi sebagai pemerintahan dalam pengasingan, hal ini memicu perang gerilya antara Polisario dan Maroko, yang terus berlanjut hingga gencatan senjata di tahun 1991. Sebagai bagian dari kesepakatan damai, referendum akan diberikan kepada orang-orang pribumi, yang nantinya memberikan mereka opsi untuk merdeka atau menyatu dengan Maroko. Namun, hingga kini referendum tidak dapat terlaksana dikarenakan tidak adanya kesepakatan perihal orang-orang yang memiliki hak suara. Polisario menentang sensus penduduk yang ditujukan untuk menentukan jumlah pemegang suara. Mereka meyakini bahwa sensus seharusnya hanya menghitung penduduk pribumi sebelum terjadinya Green March. Sebaliknya, Maroko tidak dapat menerima konsekuensi dari opsi penyatuan wilayah Sahara Barat ke dalam Maroko yang mana akan melahirkan obligasi untuk menempatkan orang Sahrawi kedalam organ politik Maroko.

2 Mckenna, Amy. The Britannica Guide to Africa: The History of Northern Africa (NY: Britannica Educational Publishing, 2010) Hal.123

Terra Nullius Terra nullius merupakan ungkapan yang berasal dari hukum Romawi yang berarti tanah yang tidak dimiliki siapapun.3 Istilah ini digunakan dalam hukum internasional untuk mendeskripsikan wilayah yang tidak pernah menjadi subyek kedaulatan Negara manapun, atau menjadi wilayah yang sebelumnya telah secara ekspresif atau implisit dilepaskan kedaulatannya. Kedaulatan terhadap suatu wilayah terra nullius bisa didapatkan melalui suatu pendudukan,4 walaupun dalam beberapa kasus apabila melakukannya dapat melanggar hukum internasional atau perjanjian internasional.

Pendapat Nasehat Mahkamah Internasional Mengenai Sahara Barat (Dikutip dari Ringkasan Keputusan-Keputusan, Pendapat-Pendapat Nasehat dan Perintah-Perintah dari Mahkamah Internasional mengenai Sahara Barat) Kompetensi dari Pengadilan (Paragraf 14-22 dari Pendapat Nasehat) Dalam Statuta Pasal 65, poin 1, Pengadilan ini bisa memberikan pendapat nasehat terhadap pertanyaan hukum yang diminta oleh badan yang berwenang. Pengadilan mencatat bahwa Majelis Umum PBB secara layak memiliki otoritas dalam Statuta Pasal 96, poin 1, bahwa dua pertanyaan yang disampaikan ditujukan dalam lingkup hukum dan menimbulkan masalahmasalah dalam hukum internasional. Ini merupakan pertanyaan prinsip dari suatu karakter hukum, bahkan jika mereka memasukkan pertanyaan mengenai fakta-fakta, bahkan jika mereka tidak meminta Pengadilan untuk mengulas keberadaan hak-hak maupun kewajiban. Pengadilan ini kompeten untuk memenuhi permintaan tersebut. Ringkasan Pendapat Nasehat Pertanyaan 1: Apakah wilayah Sahara Barat (Rio de Oro dan Sakiet El Hamra) tidak dimiliki oleh siapapun (terra nullius) pada masa kolonisasi Spanyol? (Paragraf 75-83 dari Pendapat Nasehat)

Definisi dari terra nullius- English Dictionary. Allwords.com. Diakses pada 26 September 2011

(New Jersey v. New York, 523 US 767) [1998] U.S.S.C. of New York. Bahkan wilayah terra nullius, seperti pulau gunung berapi atau wilayah yang ditinggalkan oleh pendaulat terdahulunya, sebuah klaim hak untuk memiliki wilayah tersebut tidak hanya berdasar kepada adanya penanaman sebuah bendera atau pendirian suatu monument. Sejak abad ke 19, bahwa penemuan yang diikuti dengan tindakan simbolis tidak lebih dari kepemilikan yang belum sempurna, yang perlu dilanjutkan dengan pendudukan yang efektif dalam rentan waktu yang layak. I, Brownlie. Principles of Public International Law 146 Edisi ke 4 (1990); lihat juga C, Hyde. International Law edisi ke 2 (1945) hal. 329; 1 L. Oppenheim International Law 222-223, hal. 439-441; H, Lauterpacht. Hall A Treatise on International Law Edisi ke 5 (1937) hal. 102-103; J, Moore. International Law (1906) hal. 258; R, Phillimore. International Law Edisi ke 2 (1871) hal. 273; E, Vattel. Law of Nations, 208, hal. 99".

Dengan tujuan memberikan Pendapat Nasihat, masa kolonisasi Spanyol bisa dipertimbangkan sebagai periode yang dimulai pada 1884, dimana Spanyol menproklamasikan perwaliannya terhadap Rio de Oro. Sehingga demikian rujukan hukum yang berlaku di masa itu mengenai konsep hukum terra nullius harus di interpretasikan. Dalam hukum, Pendudukan menjadi legal jika kedaulatannya di dapat secara damai selain dari pemberian dan pewarisan, ini menjadi kondisi utama dari sahnya pendudukan bahwa wilayah tersebut haruslah terra nullius pada saat aksi yang diduga pendudukan terjadi Berdasarkan praktek Negara dalam masa itu, wilayah yang dihuni oleh suku-suku atau orang-orang yang memiliki organisasi sosial dan politik tidak bisa dianggap sebagai terra nullius. Dalam kasus ini dipertimbangkan bahwa pendudukan tidaklah menghasilkan kedaulatan, tetapi melalui kesepakatan yang diberikan oleh penguasa lokal wilayah tersebut. Informasi yang diserahkan pada Pengadilan menunjukkan; Pada masa kolonisasi, Sahara Barat telah dihuni oleh orang-orang, yang walau nomaden, telah terorganisir secara sosial maupun politik yang disusun dalam bentuk suku-suku dan dibawah pimpinan para kepala suku yang kompeten mewakili mereka.
a.

bahwa Spanyol tidak meneruskan kedaulatan yang mereka dirikan di wilayah terra nullius. Walau dalam Perintah 26 Desember 1884, Raja Spanyol menproklamasikan pengambilan Rio de Oro di bawah perlindungannya dengan dasar kesepakatankesepakatannya dengan kepala-kepala suku dari suku-suku lokal.
b.

Pertanyaan 2: Apakah ada ikatan hukum antara wilayah ini dengan Kerajaan Maroko dan kepada entitas Mauritania? (Paragraf 84-161 dari Pendapat Nasehat) Makna dari kata ikatan hukum perlu di analisa melalui objek dan tujuan dari resolusi Majelis Umum PBB nomor 3292 (XXIX). Perlu diketahui bahwa rujukan kepada ikatan hukum dapat berdampak kepada kebijakan dekolonisasi Sahara Barat. Pengadilan ini tidak bisa menerima pandangan bahwa ikatan yang dipertanyakan dapat dibatasi ke dalam ikatan yang secara langsung dengan kedaulatan wilayah tersebut tanpa merujuk kepada orang-orang yang menemukannya. Di masa kolonisasi, wilayah ini telah dihuni secara tersebar oleh suku-suku nomaden yang melintas melalui padang pasir dengan rute-rute yang hampir sama, yakni sejauh wilayah selatan Maroko atau wilayah yang sekarang menjadi Mauritania, Algeria dan wilayah Negara lainnya. Suku-suku ini beragama Islam. Maroko (paragraf 90-129 dari Pendapat Nasehat) mengajukan klaim ikatan kedaulatan hukum terhadap Sahara Barat atas dasar dugaan kepemilikan wilayah tersebut di masa lalu serta terdapatnya praktik kenegaraan yang tidak di interupsi. Dalam pandangan Pengadilan, demi menjawab Pertanyaan ke 2, yang terpenting adalah adanya bukti yang secara langsung
4

menunjukkan keberadaan otoritas yang effektif di Sahara Barat pada masa kolonisasinya dan di masa terdahulu. Maroko meminta Pengadilan untuk mempertimbangkan struktur spesial dari Negara Maroko. Bahwa negara tersebut didirikan dengan ikatan Islami pada umumnya dan melalui kepatuhan berbagai suku-suku kepada sang Sultan, melalui syeikh-syeikh mereka, daripada mempertimbangkannya dalam konsep gagasan teritorial. Pertimbangan ini merujuk kepada adanya Bled Makhzen, wilayah-wilayah yang berada di dalam naungan Sultan, dan bagian yang termasuk Bled Makhzen, wilayah-wilayah yang suku-sukunya tidak di dalam naungan Sultan. Pada rentan waktu yang relevan, Bled Siba menjadi menjadi bagian utara dari Sahara Barat. Sebagai bukti adanya kedaulatan di Sahara Barat, Maroko menunjukkan dugaan tindakan-tindakan internal otoritas Maroko, terdiri dari bukti prinsipil yang menunjukkan adanya hubungan kepatuhan dari Syeikh Saharan kepada Sultan, termasuk dahir dan dokumen-dokumen lain yang berhubungan dengan penunjukkan Syeikh, pembebanan pajak, dan aksi perlindungan militer terhadap wilayah tersebut dari penetrasi negara asing. Maroko juga berpedoman kepada tindakan-tindakan internasional yang dianggap menghasilkan pengakuan kedaulatan oleh negara lain secara terhadap keseluruhan maupun sebagian wilayah Sahara Barat, antara lain; Sejumlah perjanjian-perjanjian yang disimpulkan oleh Spanyol, Amerika Serikat dan Britania Raya antara 1767 dan 1861, tentang adanya ketetapan yang antara lain membahas jaminan keselamatan orang-orang yang kapalnya karam di pesisir Wad Noun atau daerah sekitarnya;
a.

b. Sejumlah perjanjian-perjanjian bilateral di akhir abad 19 dan awal abad 20 dimana Britania Raya, Spanyol, Prancis dan Jerman mengakui perluasan kedaulatan Maroko ke selatan hingga Teluk Bojador atau perbatasan dari Rio de Oro. Dengan mempertimbangkan bukti serta mengobservasi negara-negara yang terlibat dalam proses ini, Pengadilan menemukan bahwa baik tindakan internal maupun eksternal yang dikemukakan Maroko tidak mengindikasikan suatu rentan waktu yang relevan terhadap adanya pengakuan internasional perihal kedaulatan teritorial Maroko di wilayah Sahara Barat. Bahkan jika menimbang struktur spesial dari negara ini, bukti tidak menunjukkan aktivitas yang ekslusif maupun efektif di Sahara Barat. Dan dibetulkan bahwa, bukti-bukti telah memberi indikasi adanya kepatuhan terhadap Sultan selama rentan waktu yang relevan namun hanya beberapa suku dari orang-orang nomaden di wilayah itu. Istilah entitas Mauritania (paragraf 130-152 dari Pendapat Nasehat) digunakan di Majelis Umum PBB pada sesi resolusi 3292 (XXIX), yang meminta Pendapat Nasehat dari Pengadilan. Mauritania menunjukkan bagaimana entitas budaya, geografis dan sosial dari Republik Islam Mauritania terbentuk. Menurut Mauritania, entitas ini dalam rentan periode yang relevan, merupakan Bilad Shinguitti atau negara Shingultti, suatu kesatuan manusia yang

dikarakterisasikan memiliki bahasa, cara hidup, agama dan sistem hukum yang sama dengan para suku-suku, serta memiliki dua tipe otoritas politik yakni, emirat dan kelompok suku-suku. Menyadari bahwa emirat-emirat serta suku-suku yang dimaksud bukanlah suatu bentuk negara, Mauritania menganggap mereka adalah bangsa dan rakyat dari pada Shingultti pada saat kolonisasi. Pada periode tersebut, menurut Mauritania, entitas Mauritania melebar dari sungai Senegal hingga Wad Sakiet El Hamra. Wilayah yang pada saat itu dibawah administrasi Spanyol dan pada masa sekarang merupakan wilayah teritorial dari Republik Islam Mauritania sehingga memiliki ikatan tak terpisahkan sebagai suatu entitas tunggal yang memiliki ikatan hukum antara satu dengan yang lain. Informasi yang diterima Pengadilan mengungkap bahwa, walau terdapat banyak ikatan rasial, linguisik, agama, budaya dan ekonomi, emirat-emirat dan banyak dari suku-suku dalam entitas itu bersifat independen dalam hubungan satu dengan yang lain; mereka tidak memiliki institusi ataupun organ. Entitas Mauritania pada kenyataannya tidak memiliki karakter pribadi atau sebagai entitas kelompok. Pengadilan menyimpulkan bahwa di masa kolonisasi Spanyol tidak terdapat ikatan kedaulatan antara wilayah teritorial Sahara Barat dengan entitas Mauritania, atau kepatuhan oleh suku-suku, ataupun konsep penyertaan yang sederhana sebagai satu entitas hukum. Keputusan Akhir dari Pendapat Nasehat Mahkamah Internasional Perihal Pertanyaan 1, Apakah wilayah Sahara Barat (Rio de Oro dan Sakiet El Hamra) tidak dimiliki oleh siapapun (terra nullius) pada masa kolonisasi Spanyol? Pengadilan memutuskan dengan 13 suara berbanding 3 untuk menerima permintaan pendapat nasehat.
-

Pengadilan dengan kesepakatan penuh menyatakan bahwa Sahara Barat (Rio de Oro dan Sakiet El Hamra) pada saat dikolonisasi Spanyol merupakan wilayah yang tidak dimiliki siapapun (terra nullius).
-

Perihal Pertanyaan 2, apakah ada ikatan hukum antara wilayah ini dengan Kerajaan Maroko dan kepada entitas Mauritania? Pengadilan memutuskan dengan 14 suara berbanding 2 untuk menerima permintaan pendapat nasehat.
-

Pengadilan dengan 14 suara berbanding 2, menyatakan bahwa terdapat ikatan pada hukum wilayah ini dengan Kerajaan Maroko dalam bentuk yang diindikasikan dalam paragraf yang sebelumnya pada Pendapat Nasehat.
-

Pengadilan dengan 15 suara berbanding 1, menyatakan bahwa terdapat ikatan pada hukum wilayah ini dengan entitas Mauritania dalam bentuk yang diindikasikan dalam paragraf yang sebelumnya pada Pendapat Nasehat.
-

Dalam paragraph sebelumnya dalam Pendapat Nasehat dijelaskan bahwa; Materi-materi dan informasi yang diserahkan kepada Pengadilan menunjukkan keberadaan, di masa kolonisasi Spanyol, adanya ikatan hukum melalui kepatuhan antara Sultan Monako dan beberapa suku-suku yang hidup di wilayah Sahara Barat. Serta secara adil menunjukkan terdapatnya hak-hak, termasuk hak-hak yang berhubungan dengan wilayah tersebut, yang memberikan ikatan hukum kepada entitas Mauritania, seperti yang dipahami oleh Pengadilan, dan wilayah Sahara Barat. Namun, Pengadilan menyimpulkan bahwa materialmaterial maupun informasi-informasi yang diserahkan tidak menunjukkan ikatan terhadap kedaulatan wilayah Sahara Barat terhadap Kerajaan Maroko dan entitas Mauritania. Sehingga Pengadilan tidak bisa menemukan ikatan hukum dari kondisi tersebut yang dapat berdampak pada berlakunya resolusi Majelis Umum nomor 1514 (XV) terhadap dekolonisasi Sahara Barat dan, secara khususnya, pada prinsip penentuan diri (self-determination) melalui keinginan yang utuh dan bebas dari orang-orang di wilayah tersebut.

Analisis Kasus Sahara Barat Terhadap Materi Subyek-Subyek Hukum Internasional Latar belakang historis maupun kutipan Pendapat Nasehat Mahkamah Internasional mengindikasikan adanya sejumlah subjek hukum internasional yang terlibat dalam peristiwa Sahara Barat. Berikut adalah penjabaran relevansi subyek-subyek hukum internasionalnya; I. Negara

Maroko dan entitas Mauritania merupakan subyek hukum internasional yang berupa negara. Status tersebut memberikan mereka hak untuk beracara di Mahkamah Internasional sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian Pendapat Nasehat kepada negara tersebut telah sesuai dengan unsur kompetensi Mahkamah Internasional.5 II. Organisasi Internasional

Mahkamah Internasional mengakui bahwa organisasi internasional adalah subyek Hukum Internasional dan mampu mendukung hak hak dan kewajiban-kewajiban internasional, dan juga bahwa organisasi internasional memiliki kapasitas untuk
5

Statuta Mahkamah Internasional Pasal 34 Poin (1)

mempertahankan hak-haknya dengan melakukan tuntutan internasional.6 Adanya Resolusi yang menghimbau referendum merupakan wujud keterlibatan organisasi internasional dalam penyelesaian sengketa ini. III. Belligerent

Pendudukan merupakan praktek politik yang umumnya dipraktekkan negaranegara maju di masa kolonisasi terhadap negara berkembang atau wilayah dengan otoritas yang lemah. Dan telah menjadi kebiasaan negara-negara tersebut pula untuk enggan mengganggap kendalinya terhadap wilayah tesebut sebagai tindakan pendudukan demi menghindarkan mereka dari obligasi mematuhi aturan hukum pendudukan law on Occupation.7 Timbulnya pemberontakan Barisan Polisario di Sahara Barat merupakan wujud pertentangan atas klaim ikatan hukum yang seringkali diasumsikan negara pelaku aneksasi. Hingga kini Sahara Barat masuk ke dalam daftar Wilayah-Wilayah Tanpa Pemerintahan oleh PBB.8 Barisan Polisario sendiri dianggap sebagai pihak bertikai yang personalitas internasionalnya bergantung pada pengakuan dari masyarakat internasional.

KESIMPULAN Terlibatnya Maroko sebagai negara, Barisan Polisario sebagai belligerent, ataupun PBB sebagai organisasi yang menjadi mediator merupakan tolak ukur akan kompleksitas subyek hukum internasional, dimana ruang lingkup pembatasan subyek tidak cukup hanya untuk negaranegara. Pelebaran subyek ini ditujukan untuk menjunjung tinggi hak dan kewajiban para pihak yang terlibat dalam setiap problematika internasional.

Y, Maharta. Subyek Hukum Internasional. http://www.fl.unud.ac.id/block.../Subyek%20Hukum %20Internasional.ppt. Diakses pada 27 September 2011
7

Terlepas dari kasus Western Sahara, lihat contoh kasus-kasus yang jarang dikutip: pendudukan Israel terhadap Palestina; pendudukan dan aneksasi Cina terhadap Tibet; invasi dan aneksasi Indonesia terhadap Timur Timor; pendudukan Turki terhadap Siprus Utara; pendudukan Namibia oleh Afrika Selatan setelah penghapusan Mandat; pendudukan Kamboja oleh Vietnam pada tahun 1978; intervensi Uni Soviet terhadap Afganistan pada tahun 1979; intervensi Amerika Serikat terhadap Grenada pada tahun 1978 dan Panama pada tahun 1989; invasi dan aneksasi Kuwait oleh Irak pada tahun 1990. lihat pula artikel E, Benvenisti. The Security Council and the Law on Occupation: Resolution 1483 on Iraq in Historica Perspective (2003) Hal. 23 dan Israel Defense Forces Law Review No. 1. Hal. 35
8

O, Shubra. Saharawi Call for Independence Gains Attention. http://hrbrief.org/2011/02/saharawi-call-forindependence-gains-attention/. Diakses pada 27 September 2011