Anda di halaman 1dari 10

Perlindungan terhadap Paten sebagai Bagian dari Intellectual Property Rights (HaKI)

Latar Belakang Salah satu perkembangan yang menonjol dan memperoleh perhatian seksama dalam masa sepuluh tahun terakhir ini adalah semakin meluasnya arus globalisasi yang berlangsung baik di bidang sosial, ekonomi, budaya, maupun bidang-bidang kehidupan lainnya. Dalam dunia perdagangan, terutama karena perkembangan teknologi informasi dan transportasi telah menjadikan kegiatan-kegiatan dalam sektor ini meningkat secara pesat dan bahkan telah menempatkan dunia sebagai pasar tunggal bersama. Dengan memperhatikan kenyataan dan kecenderungan seperti itu, maka menjadi hal yang dapat dipahami bila adanya tuntutan kebutuhan bagi pengaturan dalam rangka perlindungan hukum yang lebih memadai. Apalagi beberapa negara semakin mengandalkan kegiatan ekonomi dan perdagangannya pada produk-produk yang dihasilkan atas dasar kemampuan intelektual manusia.1 Dalam kerangka perjanjian multilateral GATT (saat ini menjadi WTO), pada bulan April 1994 di Marakesh, Maroko, telah berhasil disepakati satu paket hasil perundingan perdagangan yang paling lengkap yang pernah dihasilkan oleh GATT. Perundingan yang telah dimulai sejak tahun 1986 di Punta del Este, Uruguay, yang dikenal dengan Uruguay Round antara lain memuat persetujuan tentang Aspek-aspek Dagang Hak Atas Kekayaan Intelektual (Agreement on Trade Aspects of Intellectual Property Rights/TRIPs).2 Paten adalah industrial property yang terangkai dalam hak milik intelektual. Ruang lingkup hukum milik intelektual tidak hanya melingkupi perlindungan dan pengawasan wujud akhir karya intelektual yang bernilai ekonomis, tetapi sekaligus hak yang melekat pada manusia itu sendiri. Hak paten, atau lebih sering disebut paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara, dalam hal ini, Pemerintah Republik Indonesia, kepada investor atas hasil penemuannya di bidang teknologi, yang selama waktu tertentu melaksanakan sendiri penemuan tersebut atau memberikan persetujuan kepada pihak lain untuk melaksanakannya (pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No. 14 Tahun 2001 tentang Paten (Hak Paten)).
1

Tedi Heriyanto, UU Paten dan Dampaknya bagi Indonesia, Tugas Mata Kuliah Hukum Dagang dan Perdata pada Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1996. 2 Ibid.

Lahirnya perundangan mengenai paten tidak lepas dari kepentingan perdagangan. Peraturan paten Venesia tahun 1474 memuat aturan yang mewajibkan penemu untuk mendaftarkan penemuannya dan orang lain dilarang meniru atau memproduksinya selama 10 tahun tanpa izin. Konvensi yang menjadi pengaturan internasional mengenai paten adalah Konvensi Paris (Paris Convention). Lahirnya Konvensi Paris melalui proses yang panjang yang kemudian menghasilkan tiga bagian isi yang sangat penting, yaitu:3
1. Ketentuan prosedural

2. Prinsip-prinsip sebagai pedoman bagi negara anggota 3. Ketentuan mengenai milik industrial Konvensi Paris sendiri juga telah direvisi berulang kali, pengaturan yang paling penting dalam perkembangan hukum paten adalah pengaturan yang terdapat dalam TRIPs/WTO. TRIPs/WTO memuat norma-norma dan standar perlindungan bagi karya intelektual manusia, menempatkan perjanjian internasional di bidang Hak Atas Kekayaan Intelektual sebagai dasar, serta mengatur pelaksanaan penegakan hukum di bidang Hak Atas Kekayaan Intelektual secara ketat. Paten merupakan sesuatu yang penting bagi negara industri. Menjadi penting bagi Indonesia ketika mulai melangkah menuju ekonomi pasar sejak digulirkannya deregulasi ekonomi tahun 1983. Oleh karena itulah, dalam kerangka menuju industrialisasi, baru pada tahun 1989 Indonesia mengundangkan Undang-Undang No. 6 Tahun 1989 tentang Paten. Dengan mengikuti perkembangan global dalam bidang ekonomi, indsutri dan perdagangan serta diratifikasinya perjanjian-perjanjian internasional di bidang hak milikm intelektual, Undang-Undang No. 6 Tahun 1989 selanjutnya diubah dengan Undang-Undang No. 13 Tahun 1997 dan disempurnakan dengan Undang-Undang No. 14 Tahun 2001.4 Jepang adalah negara industri yang berhasil dalam pengalihan teknologi dari luar sistem hukumnya tanpa kehilangan kultur aslinya. Dengan mengejar teknologi, Jepang mampu menumbuhkan budaya paten yang tinggi dan menjadi negara industri terkemuka yang mendominasi kepemilikan paten di dunia dewasa ini. Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan yang akan di angkat dalam paper ini adalah mengenai perbandingan perlindungan paten antara Indonesia dan Jepang.
3

Endang Purwaningsih, Perkembangan Hukum Intellectual Property Rights, Gahlia Indonesia, Bogor, 2005, hal 12. 4 Ibid, hal 39.

Pembahasan Istilah paten yang dipakai sekarang dalam peraturan hukum di Indonesia adalah untuk menggantikan istilah octrooi yang berasal dari bahasa Belanda. Istilah octrooi ini berasal dari bahasa Latin, dari kata auctor atau auctorizare. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya dalam hukum kita, istilah patenlah yang patent. Di Perancis dan Belgia untuk menunjukkan pengertian yang sama dengan paten dipakai istilah brevet de inventior. Istilah paten bermula dari bahasa latin, dari kata author yang berati dibuka. Maksudnya adalah bahwa suatu penemuan yang mendapatkan paten menjadi terbuka untuk diketahui oleh umum. Dengan terbukanya penemuan tersebut tidak berarti setiap orang bisa mempraktikkan penemuan tersebut, hanya dengan izin dari si penemulah suatu penemuan bisa didayagunakan oleh orang lain. Baru kemudian setelah habis masa perlindungan patennya maka penemuan tersebut menjadi milik umum.5 Konvensi Paris tahun 1883 merupakan hasil yang dicapai oleh negara-negara industri untuk mewadahi aspirasi mereka akan aturan minimum mengenai paten dan merk (hak milik perindustrian). Dari sudut pandang negara maju seperti Jepang, sesuai Konvensi Paris, maka secara filosofis pengaturan paten ditujukan untuk melindungi penemuan dan menjamin pelaksanaan patennya secara aman di negara sedang berkembang. Bagi negara sedang berkembang seperti Indonesia, pengaturan paten bukan hanya untuk melindungi penemuan, tapi juga sebagai sarana masuknya teknologi asing dan insentif pembangunan ekonomi dan pengembangan teknologi.6 Sistem paten memberikan sebuah hak eksklusif berupa paten kepada seseorang atau badan hukum yang telah mempublikasikan suatu penemuan baru dengan kompensasi bagi publikasinya dalam jangka waktu tertentu dengan beberapa persyaratan tertentu, yang dengan demikian membuka kesempatan bagi pihak ketiga untuk memanfaatkan penemuan yang dipublikasikan tersebut. Selain itu, sistem paten juga bertujuan untuk memajukan penemuan dan memberikan kontribusi bagi pengembangan industri dengan mencari suatu harmonisasi diantara orang yang telah memperoleh paten dan pihak ketiga yang terikat oleh hak paten. Menurut Peter Mahmud Marzuki, fungsi utama paten adalah untuk melindungi penemuan karena penemuan bernilai ekonomis. Selain itu, paten juga berfungsi mendorong terjadi inovasi. Mengikuti pendapat tersebut, pada mulanya memang paten melindungi
5 6

Ibid, hal 26. Ibid, hal 40.

kepentingan individu, namun di sisi lain juga memberikan kesejahteraan masyarakat banyak. Paten juga mendorong kegiatan R&D (research dan development) sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi dan teknologi. Setelah paten diberikan kepada penemu, maka yang terdapat dalam spesifikasi sudah diungkapkan sesuai disclosure clause. Dengan demikian rahasia penemu tersebut yang tercantum dalam spesifikasi dapat dikaji dan dikembangkan lebih lanjut oleh calon penemu lainnya untuk menciptakan penemuan baru. Kegiatan penelitian dan pengembangan perlu lebih ditingkatkan dengan memberdayakan berbagai instansi yang terkait dan orang-orang yang ahli dibidangnya.7 Untuk mendapatkan paten suatu penemuan harus memehuni syarat substantifnya yaitu kebaruan (novelty), bisa di praktikkan dalam industri (industrial applicability) dan mempunyai langkah inventif (inventive step). Selain itu juga harus memenuhi syarat formal yang ditetapkan dalam undang-undang paten. Ada 2 (dua) macam sistem pendaftaran paten, yang pertama sistem First to File yaitu suatu sistem yang memberikan hak paten bagi mereka yang mendaftar pertama atas penemuan baru sesuai dengan persyaratan. Kedua sistem First to Invent, yaitu suatu sistem yang memberikan hak paten bagi mereka yang menemukan inovasi pertama kali sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan. Di Indonesia dan Jepang yang dianut adalah sistem yang pertama, yaitu sistem First to File. Jadi seseorang tidak akan mendapatkan hak paten hanya dengan menghasilkan suatu penemuan saja, tapi juga harus mengajukan pendaftaran atas penemuannya tersebut. Seorang penemu dapat menglihkan haknya untuk mendapatkan hak paten kepada orang lain. Bagi penemu yang belum dewasa yang belum mempunyai kapasitas untuk pengajuan aplikasinya maka harus melalui perwalian hukum. Ada beberapa kategori yang tidak dapat dipatenkan. Di Jepang pengecualian subyek paten adalah substansi yang berkaitan dengan transformasi atom dan penemuan yang bertentangan dengan dengan ketertiban sosial, moral dan kesehatan masyarakat.8 Sedangkan di Indonesia pengecualian subyek paten ada yang bersifat mutlak dan ada yang bersifat terbatas.9 Pengecualian yang bersifat mutlak mempunyai kriteria yang pasti, yaitu:
1. Penemuan tentang proses atau hasil produksi yang pengumuman dan penggunaan atau

pelaksanaannya bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, moralitas agama, ketertiban umum atau kesusilaan
7 8 9

Ibid, hal 28. A. Mifune. The Economics and Management of Intellectual Property, 1999. Endang Purwaningsih, Op. Cit, hal 33.

2. Penemuan tentang teori dan metode di bidang ilmu pengetahuan dan matematika 3. Penemuan metode pemeriksaan, perawatan, pengobatan dan/atau pembedahan yang

diterapkan terhadap manusia dan/atau hewan


4. Penemuan tentang semua makhluk hidup, kecuali jasad renik 5. Penemuan tentang proses biologis yang esensial untuk memproduksi tanaman atau

hewan, kecuali proses non-biologis atau proses mikrobiologis Pengecualian paten terbatas, yaitu pemberian paten misalnya ditangguhkan karena kepentingan umum. Ketentuan ini pada hakikatnya bersifat penundaan pemberian paten, artinya bilamana sesuatu penemuan dinilai penting bagi rakyat atau bagi kelancaran pelaksanaan program pembangunan di bidang tertentu, pemerintah dapat menunda pemberian paten yang diminta untuk jangka waktu tertentu. Di Indonesia penundaan seperti tersebut di atas ditentukan untuk jangka waktu 5 tahun. Di Indonesia Jenis paten dibedakan dalam 2 (dua) macam, yaitu paten dan paten sederhana. Perbedaan antara Paten dan Paten Sederhana pada dasarnya terletak pada tingkat esensi atau tingkat teknologi dari penemuannya, yang pertimbangan dan penilaiannya diserahkan kepada penemunya. Dari ketiga persyaratan di atas, paten sederhana tidak memerlukan pemeriksaan langkah-langkah inventif. Dalam hal ini hanya unsur kebaruan dan dapat diterapkan di industri saja yang diutamakan. Paten Sederhana diberikan kepada setiap penemuan berupa produk atau proses yang baru dan memiliki kualitas penemuan yang sederhana, tetapi mempunyai nilai kegunaan praktis disebabkan karena bentuk, konfigurasi, konstruksi atau komponennya. Perbedaan antara paten dan paten sederhana dapat kita lihat dalam tabel berikut ini: No 1 Keterangan Jumlah klaim Paten 1 invensi atau beberapa invensi yang merupakan satu kesatuan invensi Paten Sederhana 1 invensi

Masa perlindungan

20 th terhitung sejak tanggal 10 th terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan peneriman paten paten 18 bulan setelah tanggal penerimaan 6 bulan terhitung sejak diumumkan 3 bulan setelah tanggal penerimaan 3 bulan terhitung sejak diumumkan

3 4

Pengumuman permohonan Jangka waktu mengajukan keberatan

Yang diperiksa dalam pemeriksaan substantif

Kebaruan (novelty), langkah Kebaruan (novelty), dapat inventif, & dapat diterapkan diterapkan dalam bidang dalam industri industri 24 bulan terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan pemeriksaan substantif Produk atau alat

Lama pemeriksaan substantif36 bulan terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan pemeriksaan substantif Objek paten Produk atau proses

Sumber: http://bpatp.litbang.deptan.go.id

Sedangkan di Jepang selain hukum paten juga terdapat hukum utility model. Sistem paten melindungi penemuan canggih, tetapi utility model khusus dalam bidang peralatan sehari-hari atau mainan yang mana sebuah produk populer yang bagus sekali diciptakan dengan membuat sedikit perubahan dari produk yang telah ada sebelumnya. Sistem utility model dibuat untuk penemuan-penemuan sederhana yang tidak memerlukan kecanggihan teknis. Hukum utility model membatasi perlindungannya terhadap alat atau rancangan dari sebuah bentuk atau kontruksi dari suatu barang/kombinasi dari suatu barang. Oleh sebab itu, proses atau bahan-bahan yang dilindungi melalui hukum paten tidak dilindungi oleh hukum utility model.10 Perbedaan antara hukum paten dan utility model dapat kita lihat dalam tabel berikut ini: No 1 Keterangan Subyek Perlindungan Hukum Paten Utility Model

Penemuan (ciptaan canggih Alat-alat (ciptaan dari ide dari ide teknik yang teknik yang menggunakan menggunakan hukum alam) hukum alam atau dibatasi terhadap alat-alat yang berkaitan dengan bentuk atau sususnan dari barang, atau sebuah kombinasi dari barang) Penemuannya dapat secara mudah dibuat tidak merupakan suatu yang mengandung sebuah langkah inventif Gambar dilampirkan apabila diminta Dilakukan Alat atu perkakas tidak dapat ditolak dengan alasan tidak adanya suatu inventive step, kecuali alat-alat tersebut benar-benar amat mudah dibuat Gambar harus dilampirkan Tidak dilakukan 6 tahun sejak tanggal permintaan pendaftaran

Langkah Inventif

3 4 5
10

Prosedur Pendaftaran Pemeriksaan substantif

Jangka waktu perlindungan 20 tahun sejak tanggal permintaan (filling)


Ibid, hal 104.

Biaya yang dikeluarkan

Ongkos permintaan (ongkos Ongkos filling 14.000 yen selama 3 tahun dibayarkan dalam satu kali Ongkos permintaan pembayaran) pendaftaran 24.000 yen (13.000 yen + 1.100 yen (ongkos selama 3 tahun /klaim) x 3 dibayarkan dalam satu kali pembayaran) Biaya untuk permintaan pemeriksaan 84.300 yen + Biaya untuk meminta 2.000 yen /klaim laporan dapat tidaknya suatu barang didaftarkan 42.000 yen + 1.000 yen /klaim

Sumber: Standart Textbook of Intellectual Property Rights in Japan, 2003, p. 105.

Batas perlindungan paten sangat penting bagi kepastian hukum, seberapa luas monopoli paten tercakup juga bagi kepentingan ekonomis dan kepentingan teknologi, baik secara individu dan masyarakat. Ruang lingkup perlindungan paten ditentukan oleh pembuatan klaim sebagai bagian esensial dalam pendaftaran penemuan. Indonesia tidak mengatur secara eksplisit mengenai luasnya perlindungan paten. Esensi perlindungan paten di Indonesia selama ini adalah mendasarkan diri pada maksud klaim. Menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2001 tentang Paten (Hak Paten) klaim adalah bagian dari permohonan yang menggambarkan inti invensi yang dimintakan perlidungan hukum yang harus didukung oleh deskripsi, dalam penjelasan pasal 52 dinyatakan bahwa, ketidakjelasan atau kekurangan lain yang dinilai penting mencakup antara lain uraian dalam deskripsi atau klaim yang tidak jelas dan uraian dalam deskripsi yang tidak mendukung klaim yang dinyatakan, termasuk ketidak terkaitan dan ketidakkonsistenan uraian klaim dalam deskripsi, Ditjen Paten mengharapkan adanya perbaikan, seperti halnya EPC yang mencantumkan prinsip itikad baikbagi applicant. Dalam penjelasan pasal 15 ayat 2 disebutkan pula mengenai itikad baik, yakni invensi harus merupakan hasil kegiatan yang dilakukan dengan itikad baik oleh orang yang pertama memakai invensi tersebut. Sedangkan di Jepang pengaturan mengenai luasnya perlindungan cenderung sama dengan perlindungan di Amerika, yaitu telah seimbang dalam menentukan luasnya perlindungan paten antara para pihak. Japanese Patent Office (JPO) merekomendasikan Jepang untuk menggunakan multiple claim agar menjamin lebih luasnya perlindungan terhadap yang akan dipatenkan. Dengan kata lain, di Jepang digunakan kata-kata klaim baru kemudian maksud dari kata-kata klaim sebagai penentu apabila terdapat kekaburan atau ketidakjelasan kata-kata dalam klaim sebagaimana yang dimaksud oleh penemu guna

penilaian terhadap invensi yang dimintakan perlindungan. Pada dasarnya sistem paten di Jepang mengacu pada sistem paten Amerika yang menganut common law, tapi di sisi lain praktik pengadilan di Jepang tetap menjunjung tinggi prinsip itikad baik . Masalah interpretasi klaim tergantung pada rumusan klaim dan kemampuan hakim untuk menginterpretasikannya. Di Jepang telah direkrut khusus hakim-hakim yang menangani HaKI, dengan tetap mengangkat sarjana hukum dan memberikan pendidikan khusus mengenai HaKI dan teknologi-teknologi yang tumbuh berkembang di Jepang dewasa ini. Sedamgkan di Indonesia, hakim mutlak berasal dari sarjana hukum, dengan melewati proses pendidikan sebelum ditetapkan menjadi hakim dalam sidang, tetapi belum ada pendidikan khusus yang maksimal yang diberikan mengenai pengetahuan teknologi maupun HaKI.11

Analisa Sistem paten digunakan oleh negara maju seperti Jepang untuk menjamin kepentingannya menguasai dunia industri dan pasar ekonomi global. Sementara negara berkembang seperti Indonesia yang merasa sangat membutuhkan aliran teknologi terpaksa harus menjamin perlindungan paten atas teknologi negara maju tesebut dengan mengundangkan undang-undang paten sesuai dengan standar TRIPs/WTO. WTO yang pada dasarnya dikuasai negara-negara maju sangat berperan dominan dalam perdagangan dunia. Negara berkembang hanya dapat berharap agar sistem paten dapat mendukung pengembangan teknologi dan menjadi dasar penciptaan masyarakatnya mneuju masyarakat intelektual. Sistem pendaftaran yang dianut oleh kedua negara (Jepang dan Indonesia) adalah sistem First to File, suatu sistem yang memberikan hak paten bagi mereka yang mendaftar pertama atas penemuan baru sesuai dengan persyaratan. Alasan penerapan sistem First to File pada kedua negara tersebutadalah karena akan lebih mudah untuk menentukan siapa yang mengajukan aplikasi pertama kali daripada menentukan siapa yang menyelesaikan terlebih dahulu penemuan tersebut. Pada dasarnya, sistem paten dibuat untuk melindungi penemuan baru dan mendorong perkembangan terknologi dan industri. Pengaturan paten merupakan bentuk perlindungan
11

Ibid, hal 95.

terhadap penemuan yang memenuhi syarat patenable, sedangkan yang dilindungi undangundang paten adalah klaim penemuan. Fungsi klaim adalah menentukan seberapa luasnya hak atau sempitnya perlindungan paten diberikan, yang sangat tergantung pada seberapa luas atau sempitnya suatu kalim dibuat. Klaim yang terlalu luas belum tentu menguntungkan penemunya, sebab mungkin kurang spesifik atau bahkan melanggar klaim paten lainnya. Demikian pula klaim yang terlalu sempit akan merugikan karena mungkin mengakibatkan pembatasan-pembatasan yang tidak diharapkan. Luasnya lingkup perlindungan paten tergantung dari beberapa faktor, antara lain adalah pemberdayaan peran dan kemampuan SDM, pembuatan klaim dan itikad baik. Jika kita melihat pada tiga faktor di atas dan kemudian menjadikannya faktor pembanding dalam perlindungan paten antara Indonesia dan Jepang, maka perlindungan paten di Jepang dapat dikatakan jauh lebih baik daripada di Indonesia. Hal tersebut dapat kita lihat melalui uraian beikut:
1. Dari segi kemampuan SDM, hakim di Jepang yang direkrut secara khusus dan

mendapatkan pendidikan mengenai HaKI dan teknologi-teknologi yang tumbuh berkembang di Jepang dapat dikatakan memiliki kapabiliti yang lebih baik untuk menilai klaim maupun menginterpretasikannya dengan baik dibandingkan dengan hakim Indonesia.
2. Dari segi pembuatan klaim, pembuatan klaim di Indonesia hanya mendasarkan diri

pada maksud klaim. Sedangkan di Jepang menggunakan multiple claim agar menjamin lebih luasnya perlindungan terhadap yang akan dipatenkan.
3. Dari segi itikad baik, Indonesia dan Jepang adalah sama-sama merupakan negara yang

menganut sistem civil law, yang pada praktiknya menjunjung tinggi prinsip itikad baik. Namun Jepang disisi lain juga mengadopsi sistem-sistem yang berkembang dalam common law. Hal ini dapat dilihat dari peraturan perundang-undangan, doktrin dan praktik pengadilan yang mencontoh Amerika. Selain itu, dapat dilihat pula pada sumber daya manusia, seperti hakim, patent attorney yang belajar dari hukum Amerika. Jika Amerika saja dinilai telah seimbang dalam memberikan perlindungan paten, apalagi Jepang, selain memberikan diskersi besar pada hakim untuk melakukan interpretasi juga menerapkan prinsip itikad baik bagi para pihak dalam sengketa.

Kesimpulan a

Daftar Pustaka