Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KASUS III MODUL ORGAN: TUMBUH KEMBANG CHILD ABUSE

KELOMPOK IV

030-10-151 Kezia Marsilina 030-10-152 Komang Ida W.R 030-10-154 Krisliana Jeane 030-10-155 Kumala Sari 030-10-156 Lana Novira Ys. 030-10-157 Laras Asia Cheria 030-10-158 Larasayu Citra Mandra

030-10-159 Latifah Agustina 030-10-161 Lidya Christy A.B 030-10-163 Luzelia M.S.S 030-10-164 M Agung Pratama Y. 030-10-165 M HafisMuttaqin 030-10-166 Muhammad Reza A.

Jakarta 27 September 2011


1

Bab I Pendahuluan

Perlakuan salah pada anak (child abuse), menurut ahli sosiologi David Gill pada tahun 1973, adalah setiap tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak, sehingga berdampak pada perkembangan yang tidak optimal. Sedangkan Fontana pada tahun 1971 berpendapat bahwa definisi dari child abuse secara luas termasuk malnutrisi dan menelantarkan anak sebagai stadium awal dari perlakuan salah, dan penganiayaan fisik berada pada stadium akhir yang paling berat dari spektrum perlakuan salah oleh orang tua/pengasuhnya. 1 Perlakuan salah terhadap anak dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu: dalam keluarga (penganiayaan fisik, kelalaian/penelantaran anak, penganiayaan emosional) dan diluar keluarga (di lingkungan sekitar rumah, sekolah, dsb.). beberapa bentuk kelalaian yang dapat merugikan antara lain karena pemeliharaan yang kurang memadai sehingga anak merasa kehilangan kasih sayang, keterlambatan perkembangan, bahkan gagal tumbuh; pengawasan yang kurang; kegagalan dalam merawat anak dengan baik misalnya pemberian imunisasi; serta kelalaian dalam pendidikan yang mengakibatkan anak gagal berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Untuk melihat akibat dari perlakuan salah terhadap anak, harus mengatahui terlebih dahulu umur dan tingkat perkembangan anak pada saat kejadian dialami anak, pengalaman anak dalam menghadapinya, dan seluruh lingkungan emosi dari keluarganya. Dari observasi klinik, akibat perlakuan salah terhadap anak dapat mempengaruhi banyak hal, termasuk kelainan fisik dan perkembangan anak baik kognitif maupun emosinya. Pada dasarnya, dibutuhkan interaksi bicara yang baik antara orang tua dan anak sehingga tercipta hubungan keluarga yang saling terbuka dan harmonis. Seorang anak tidak akan mampu berbicara tanpa dukungan dari lingkungannya. Kemampuan berbicara dan berbahasa itu sendiri merupakan indikator seluruh perkembangan anak, karena sensitif terhadap keterlambatan atau kerusakan pada sistem lainnya, sebab melibatkan kemampuan kognitif, sensori motor, psikologis, emosi dan lingkungan di sekitar anak tersebut. Gangguan bicara merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada anak-anak. Deteksi dini perlu dilakukan agar penyebabnya dapat segera dicari, sehingga pengobatan dan pemulihannya dapat dilakukan seawal mungkin.
2

Bab II Laporan Kasus

Seorang anak laki-laki berumur 4 tahun, merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara, dating diantaroleh ibunya dengan keluhan belum bias bicara denganjelas serta sulit diatur. Setelah dianamnesis lebih lanjut anak pertama si Ibu adalah laki-laki berumur 10 tahun yang mengalami gangguan autism dan sekarang sudah duduk di kelas V Sekolah Dasar. Anak kedua perempuan berumur 7 tahun, tidak ada keluhan. Anak ketiga adalah pasien sendiri. Ayah pasien adalah seorang yang sibuk dan jarang di rumah. Sedangkan Ibu tidak mempunyai pembantu dan mengalami kerepotan karena harus mengurus rumah sendiri. Pada pemeriksaan didapatkan hasil berat badan dan tinggi badan cukup sesuai dengan umurnya. Kontak mata ada, bicara belum jelas, belum bias membedakan warna dan bentuk, dan juga belum mengetahui tentang bagian-bagian tubuhnya (body reseptif). Pasien mengetahui ibu dan bapaknya.

Bab III Pembahasan

Berdasarkan laporan kasus di atas, anamnesis yang dibutuhkan diantaranya: 1. Apakah ibu dan bapak memberi perhatian yang cukup? 2. Apakah ibu dan bapak sering berkomunikasi dengan anak dan dengan sengaja memberi waktu luang untuk mengajarinya berbicara, bentuk, dan nama anggota badan? 3. Apakah anak diberi waktu untuk melakukan interaksi sosial selain dengan lingkungan keluarga? 4. Pernahkah anak mengalami kejadian yang membuatnya trauma dan menarik diri? 5. Apakah anak ini mempunyai ketertarikan pada suatu benda secara berlebihan? 6. Apakah anak ini menengok atau memberikan respons bila dipanggil namanya? 7. Apakah selama ibu mengandung mendapatkan infeksi varisela dan

CMV(Cytomegalovirus)? 8. Pernahkah anak tersebut mengalami trauma di kepala? 9. Apakah fungsi pendengaran anak pernah dicek sebelumnya? 10. Apakah anak melakukan hal-hal yang berulang-ulang? 11. Apakah anak mendapatkan nutrisi yang cukup? 12. Apakah Ibu memberikan ASI pada anaknya? sampai kapan? 13. Apakah anak dapat meniru tingkah laku orang lain? 14. Apakah anak Ibu tidak memperdulikan lingkungan dan orang-orang disekitarnya serta menolak berkomunikasi dan berinteraksi? 15. Apakah anak pernah mengalami infeksi ditelinga yang dapat mengganggu pendengaran? 16. Apakah anak hiperaktif?

Dari hasil anamnesis lebih lanjut maka hipotesa pada anak ini ada lima, yaitu: 1. Kesalahan pola asuh (Child Abuse) Dikarenakan ayah adalah seorang yang sibuk dan jarang dirumah, ibu tidak mempunyai pembantu dan mengalami kerepotan karena harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, merupakan anak ketiga (bungsu) dari tiga bersaudara, jika pada anamnesis dan pemeriksaan ditemukan trauma, rasa takut berlebihan, tempertantrum (tidak mau diatur/membangkang). Kurangnya kasih sayang dan komunikasi dengan keluarga, tidak
4

dilatih untuk mengenal warna, bentuk benda, dan nama bagian tubuh, tidak dibiarkan bersosialisasi dengan orang lain

2. Autisme Kakak tertua mengalami gangguan autism, berjenis kelamin pria (resiko 4:1), jika pada anamnesis dan pemeriksaan terdapat perilaku yang cenderung hiperaktif atau hipoaktif, melakukan kegiatan yang aneh/tidak pada tempatnya berulang-ulang, Bila didapat kekurangan nutrisi pada anak akan mengganggu metabolisme yang akan mengganggu perkembangan dan fungsi otak.Pemberian ASI yang dihentikan dini dapat menyebabkan gangguan perkembangan SSP.Gejala yang sangat menonjol pada anak autism adalah sikap anak yang cenderung tidak memperdulikan lingkungan dan orang-orang disekitarnya,seolah-olah menolak berkomunikasi dan berinteraksi ,serta seakan hidup dalam duniannya sendiri.

3. Kerusakan atau gangguan pada telinga dan otak Jika pada anamnesis dan pemeriksaan ditemukan ketulian, riwayat otitis media kronis, anomali bentuk telinga, trauma pada kepala dan telinga, atresia meatus akustikus eksternus

4. Retardasi mental Jika pada pemeriksaan ditemukan IQ anak 70. Retardasi mental diklafikasikan menjadi empat jenis yaitu ringan dengan IQ 52-69, sedang dengan IQ 36-51, berat dengan IQ 2035, dan sangat berat dengan IQ dibawah 20.

5. ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder) Jika pada anamnesis dan pemeriksaan ditemukan anak hiperaktif seperti senang berlarian, tidak mampu memusatkan perhatian, suka berteriak, dan sebagainya. Penyebab dari ADHD ada yang mengatakan adanya factor genetic, gangguan system neurotransmitter yang kompleks, keracunan dan alergi ketika kehamilan. ibu dalam masa

Untuk menegakkan diagnosis yang tepat pada kasus ini, dibutuhkan beberapa pemeriksaan fisik untuk mengungkapkan penyebab lain dari gangguan bahasa. Apakah ada
5

mikrosefali, anomali telinga luar, otitis media yang berulang, sindrom William (fasies Elfin, perawakan pendek, kelainan jantung, langkah yang tidak mantap), celah palatum, dan lain lain. Pemeriksaan fisik secara umum dapat dengan melakukan inspeksi apakah terdapat tanda-tanda trauma pada tubuh pasien mengingat adanya kemungkinan kesalahan pola asuh. Pemeriksaan fisik lainnya yang dapat dilakukan secara inspeksi adalah dengan melihat apakah pasien bermasalah dengan kontak mata. Hal ini dilakukan untuk menentukan apakah pasien mengalami ganngguan autisme. Anak dengan autisme biasanya hanya memiliki kontak mata yang sangat kurang serta sering kali melakukan gerakan yang berulang.(2,3) Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan untuk mengetahui Gangguan oromotor dapat diperiksa dengan menyuruh anak menirukan gerakan mengunyah, menjulurkan lidah dan mengulang suku kata PA, TA, PA-TA, PA-TA-KA. Gangguan kemampuan oromotor terdapat pada verbral apraksia. 1 Untuk mengetahui adanya gangguan pada telinga maupun pendengaran dapat dengan melakukan inspeksi telinga luar. Aurikulus dan jaringan sekitarnya diinspeksi apakah terdapat deformitas, lesi, maupun cairan. Pemeriksaan pendengaran lainnya dengan melakukan uji weber dan uji rinne. Dari hasil anamnesis diketahui bahwa ayah adalah seorang yang sibuk dan jarang dirumah serta ibu tidak mempunyai pembantu dan mengalami kerepotan karena harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Pasien merupakan anak ketiga (bungsu) dari tiga bersaudara. Kakak pasien yang berusia 10 tahun menderita autism. Pasien juga belum bisa berbicara dengan jelas, belum bisa mengenal warna dan bentuk, serta belum mengenal bagian-bagian tubuhnya. Dari hasil pengamatan atau inspeksi ditemukan bahwa mata anak dapat terfokus sehingga kecurigaan terhadap autisme dapat disingkirkan. Dari hasil pemeriksaan fisik juga tidak ditemukan adanya gangguan pendengaran maupun gangguan pada otak anak serta berat badan dan tinggi badan anak cukup. Keterlambatan perkembangan pada anak ini diduga karena kurangnya stimulus dan perhatian dari orang tua. Orang tua pasien terlalu sibuk dengan pekerjaannnya masing-masing sehingga pasien menjadi terabaikan. Bagi anak, berbicara dilakukan dengan meniru orang-orang disekitarnya. Mengajak anak berbicara menjadi sama seperti memberikan rangsangan agar anak cepat belajar
6

bagaimana berbicara. Orang tua yang sibuk cenderung menjadi kurang perhatian terhadap anak sehingga hubungan orang tua-anak pun menjadi renggang dan interaksi antara orang tua dan anak juga kurang. Interaksi dengan orang tua yang tidak cukup baik membuat anak tidak mendapatkan rangsang dari luar yang dibutuhkan agar kemampuan berbicaranya berkembang dengan baik. Maka pada kasus ini dapat dikatakan bahwa yang menjadi penyebab terganggunya perkembangan kemampuan berbicara serta kelakuan si anak adalah faktor orang tua (lack of interest orang tua terhadap anak). Kesalahan pola asuh pada anak (child abuse) dapat mempengaruhi perkembangan pada anak. Anak dapat mengalami delayed development karena kurangnya perhatian atau arahan dari orang tua.
4

Karena itu diagnosis kerja yang

mungkin untuk kasus ini adalah keterlambatan perkembangan (delayed development) et causa child abuse. Sedangkan diagnosis banding untuk kasus ini adalah ADHD dan retardasi mental. Perlakuan salah pada anak (child abuse), menurut ahli sosiologi David Gill pada tahun 1973, adalah setiap tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak, sehingga berdampak pada perkembangan yang tidak optimal. Sedangkan Fontana pada tahun 1971 berpendapat bahwa definisi dari child abuse secara luas termasuk malnutrisi dan menelantarkan anak sebagai stadium awal dari perlakuan salah, dan penganiayaan fisik berada pada stadium akhir yang paling berat dari spektrum perlakuan salah oleh orang tua/pengasuhnya. 1 Child abuse dikategorikan menjadi empat jenis, yaitu: (5-7) 1. Sexual Abuse Sexual abuse merupakan perlakuan yang salah secara seksual. Perlakuan yang salah secara seksual tidak hanya berupa sentuhan-sentuhan tetapi juga kata-kata tidak senonoh terhadap anak. Anak dengan kasus ini biasanya memiliki pengetahuan yang tidak sewajarnya tentang seks. Lebih jauh lagi jika anak mengalami tindakan seksual kita dapat menemukan tanda-tanda kekerasan seksual pada tubuh anak . 2. Physical Abuse Physical Abuse adalah kesalahan perlakuan fisik terhadap anak. Bekas-bekas trauma pada tubuh anak yang tidak diketahui sebanya dapat mengindikasikan adanya kekerasan secara fisik terhadap anak. 3. Emotional Abuse

Jenis kesalahan pola asuh yang satu ini lebih sulit diketahui. Karena anak dilukai secara emosional maka tidak terdapat bekas-bekas trauma pada fisik anak. Namun gangguan bicara dan tanda-tanda antisocial dapat mengindikasikan anak dengan emotional abuse. 4. Physical Neglect Ketidakpedulian orang tua terhadap kebutuhan fisik anak mereka disebut dengan physical neglect. Tanda-tanda anak dengan perlakuan ini diantaranya rasa lapar yang terus-menerus, tidak menjaga kebersihan, antisocial, dan lain-lain.

Untuk menentukan diagnosis pasti pada kasus ini dibutuhkan anamnesis dan pemeriksaan yang lebih lanjut. ADHD merupakan salah satu diagnosis banding karena pasien pada kasus ini sulit diatur yang mengarahkan kemungkinan anak menderita ADHD. Namun kemungkinan ADHD pada anak ini dapat disingkirkan karena pada hasil anamnesis tidak didapatkan bahwa pasien hiperaktif. Selain itu anak dengan ADHD aktif berbicara. Sedangkan pada kasus ini pasien masih belum dapat berbicara dengan jelas. Diperlukan pemeriksaan penunjang seperti EEG (Elektroenchepalogram) dapat memperkuat diagnosis ini. Diagnosis banding yang kedua adalah retardasi mental. Seperti yang telah dikemukakan di atas, retardasi mental dapat dilihat dari IQ serta gejala klinis anak. Seorang anak dapat dikatakan retardasi mental jika IQ nya kurang atau sama dengan 70. Tes IQ anak dapat dilakukan saat anak berusia 6 tahun. Sedangkan pada kasus ini pasien masih berumur 4 tahun. IQ juga dapat dihitung menggunakan formula :
IQ = MA/CA x 100% IQ= Intelegence Quotient MA= Mental Age CA=Chronical Age

Dengan menggunakan formula di atas didapatkan IQ pasien dibawah 36 dari mental age pasien yang berada pada anak usia dibawah 18 bulan. Mental age pasien berada dibawah 18 bulan karena pasien masih belum bisa membedakan bagian-bagian tubuhnya. Dengan IQ dibawah 36 maka anak ini diklasifikasikan ke dalam retardasi mental berat. Retardasi mental berat juga ditandai dengan keterlambatan perkembangan motorik dan bahasa. Namun gejala klinis pasien retardasi mental berat bukan hanya keterlambatan motorik dan bahasa, tetapi juga terdapat kelainan pada mata, kejang, keainan kulit, rambut, perawakan pendek, dan lain-

lain, dimana gejala-gejala tersebut tidak ditemukan pada pasien ini. Karena itu kembali lagi bahwa penentuan IQ anak hanya dapat dilakukan setelah anak berusia 6 tahun. 1 Jadi diagnosis pasti untuk kasus ini adalah keterlambatan perkembangan (delayed development) et causa child abuse karena pernyataan retardasi mental terhadap pasien ini dianggap masih terlalu dini dan dibutuhkan pemeriksaan-pemeriksaan lebih lanjut seperti tes IQ saat telah berumur 6 tahun. Serta kita perlu melihat perkembangan anak setelah dilatih bicara, bentuk, warna, dan bagian tubuh agar dapat menentukan pasien ini mengalami keterlambatan perkembangan atau retardasi mental. Secara umum penatalaksanaan terhadap perlakuan yang salah terhadap anak adalah sebagai berikut: 8 Anamnesis rinci terstruktur: riwayat keluarga , tumbuh kembang anak, pola asuh, penerapan disiplin pada anak Status mental anak: proses pikir, alur perasaan, intelegensi, kemampuan adaptif, konsep tentang diri-orang tua dan kehidupan Tingkatkan stimulasi anak, menyederhanakan masukan bahasa, menstabilkan lingkungan emosi. Dirujuk ke kelompok BKB (bina keluarga dan balita) atau ahli terapi wicara. Tatalaksana psikiatri / psikologis

Dalam kasus ini, karena perlakuan yang salah ini sebagai akibat dari kesalahan pola asuh orang tua (lack of interest orang tua terhadap anak) maka penangannya dengan memberi pengertian kepada orang tua bahwa keluhan yang diderita anak saat ini adalah karena pola asuh orang tua yang salah yaitu kurangnya perhatian serta hubungan timbal balik yang baik antara orang tua dan anak. Hal ini dikarenakan ayah jarang di rumah dan ibu kerepotan mengurus pekerjaan rumah sendiri sehingga tidak ada stimulus positif yang didapat anak dari orang tuanya. Lebih jauh hal ini dapat menghambat perkembangan anak yang dalam kasus ini perkembangan bahasa dan perilaku. Jadi diharapkan dengan diagnosis dini dan penanganan dini terhadap kesalahan pola asuh ini dapat memulihkan kembali kondisi anak baik fisik maupun psikis sehingga tercapai perkembangan anak yang sehat. Dan selanjutnya dibutuhkan tindakan follow up yang disiplin dan kontak yang sering oleh semua orang yang terlibat dalam pelayanan kepada anak (dokter, BKB= Bina Keluarga dan Balita, psikologis). Hal ini diperlukan agar tercapai perkembangan anak yang sehat. Progonosis untuk kasus ini adalah:
9

Ad vitam Ad functionam Ad Santionam

: dubia ad bonam : ad bonam : ad bonam

Pada kasus ini anak tersebut berusia 4 tahun dimana usia ini masih dalam tahap tumbuh kembang sehingga masih dapat merubah perilaku dengan syarat lingkungan yang mendukung. Dan jika perlakuan salah ini tetap dilanjutkan akan berakibat buruk pada perkembangan psikologis seperti percobaan bunuh diri pada usia remaja, pengonsumsi alkohol, pengisap rokok, dan pecandu obat-obatan. Perlakuan salah orang tua tidak menggangu fungsi-fungsi organ dilihat dari anamnesis dan pemeriksaan fisik tidak ada riwayat yang mendukung adanya trauma pada tubuh.

10

Bab IV Kesimpulan

Pola dan perilaku asuh yang baik terhadap anak sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam usia anak dibawah lima tahun. Karena pada masa-masa tersebut anak membutuhkan kasih sayang dan dukungan penuh dari keluarga dan lingkungan sekitanya. Dan pada periode ini pula anak mencontoh berbagai perilaku yang ada di lingkungan terdekatnya kemudian selanjutnya direflesikan ke dalam dirinya. Dengan pemberian kehidupan dan pendidikan yang layak, komunikasi, interaksi sosial yang baik dapat menunjang terwujudnya tumbuh kembang yang baik pada seorang anak. Dalam kasus yang di bahas dalam makalah ini, jelas tergambar bahwa terdapat kesalahan pola asuh anak karena kelalaian orang tua. Hal ini dibuktikan dari sikap dan tingkah laku anak yang terlihat saat datang berobat. Oleh karena itu diperlukan anamnesis, pemerikasaan fisik dan pemeriksaan penunjang untuk mengarahkan kasus ini kepada diagnosis pasti serta menyingkirkan berbagai hipotesa awal yang diduga.

11

DAFTAR PUSTAKA

1. Soetjiningsih. Perlakuan salah pada anak. In: Ranuh IGNG, Editor. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC;1995. p.166,245,191-7 2. MayoClinic Staff. Autism. Available at: http://www.mayoclinic.com/health/autism/DS00348/DSECTION=symptoms. Accessed on: 24th Sept, 2011 3. Levine A. Deteksi Awal Autisme dalam Waktu Lima Menit. Available at: http://www.autis.info/index.php/artikel-makalah/artikel/265-deteksi-awal-autismedalam-waktu-lima-menit. Accessed on: 24th Sept, 2011 4. Nelson W.E. Kesehatan Anak. In: Behrman R.E, Kliegman R,Arvin A.M, editors Ilmu Kesehatan Anak. 15th ed. Vol 1. Jakarta: ECG; 2000. p. 203 5. Morrisey B. Child Abuse and Speech Disorders. Available at: http://www.speechdisorder.co.uk/child-abuse-and-speech-disorders.html. Accessed on: 22th Sept, 2011 6. Mersch J. Emotional Child Abuse. Available at: http://www.medicinenet.com/child_abuse/page5.htm. Accessed on: 22th Sept, 2011 7. Davies L. Emotional Abuse of Children. Available at: http://www.kellybear.com/TeacherArticles/TeacherTip26.html. Accessed on: 22th Sept, 2011 8. Atmadja DS. Penatalaksanaan dan Pemeriksaan Korban Child Abuse. Available at: http://staff.ui.ac.id/internal/130366437/material/can.pdf . Accessed on: 24th Sept, 2011

12