Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya (NAPZA) atau istilah yang populer

dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika dan Bahan/ Obat berbahanya) merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidispliner, multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen dan konsisten. Meskipun dalam Kedokteran, sebagian besar golongan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai peredaran di jalur ilegal, akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat luas khususnya generasi muda. Fenomena penyalahgunaan zat mempunyai banyak implikasi untuk penelitian otak, psikiatri klinis, dan masyarakat pada umumnya. Dinyatakan dengan sederhana, beberapa zat dapat mempengaruhi keadaan mental yang dirasakan dari dalam (sebagai contohnya, mood) maupun aktivitas yang dapat diobservasi dari luar (yaitu, perilaku). Tetapi ,implikasi dari pernyataan sederhana tersebut adalah mengejutkan. Satu implikasi adalah bahwa zat dapat menyebabkan gejala neuropsikiatrik yang tidak dapat dibedakan dari gangguan psikiatrik umum tanpa penyebab yang diketahui (sebagai contohnya, skizofrenia dan gangguan suasana perasaan). Pengamatan tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk menyatakan bahwa gangguan psikiatrik dan gangguan yang melibatkan penggunaan zat yang mempengaruhi otak adalah berhubungan.

BAB II PENYALAHGUNAAN OBAT DAN NARKOTIKA II. 1 DEFINISI Menurut Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika), narkotika merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.1 Menurut Undang-undang RI No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika). Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan Narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.1 Menurut WHO penyalahgunaan zat adalah pemakaian terus-menerus atau jarang tetapi berlebihan terhadap suatu zat atau obat yag sama sekali tidak ada kaitannya dengan terapi medis. Zat yang dimaksud adalalah zat psikoaktif yang berpengaruh pada sistem saraf pusat (otak) dan dapat mempengaruhi kesadaran, perilaku, pikiran, dan perasaan. Sedangkan Ketergantungan NAPZA adalah keadaan dimana telah terjadi ketergantungan fisik dan psikis, sehingga tubuh memerlukan jumlah NAPZA yang makin bertambah (toleransi), apabila pemakaiannya dikurangi atau diberhentikan akan timbul gejala putus zat (withdrawal syamptom). Oleh karena itu ia selalu berusaha memperoleh NAPZA yang dibutuhkannya dengan cara apapun, agar dapat melakukan kegiatannya sehari-hari secara normal.1

II.2 ETIOLOGI Seperti pada semua gangguan psikiatrik lainnya, teori penyebab awal berkembang dari model psikodinamika. Model selanjutnya meminta penjelasan perilaku, genetika, dan neurokimiawi. Model penyebab yang paling baru untuk penyalahgunaan zat memasukkan keseluruhan rentang teori-teori tersebut. 2

a. Teori Psikososial dan Psikodinamika Pendekatan psikodinamika untuk seseorang dengan penyalahgunaan zat adalah diterima dan dinilai secara lebih luas daripada dalam pengobatan pasien alkoholik. Berbeda dengan pasien alkoholik, mereka dengan penyalahgunaan polisubstansi adalah lebih mungkin memiliki masa anak-anak yang tidak stabil, lebih mungkin mengobati diri sendiri dengan zat, dan lebih mungkin mendapatkan manfaat dari psikoterapi. Penelitian yang cukup banyak menghubungkan gangguan kepribadian dengan perkembangan ketergantungan zat. Teori psikososial lain menjelaskan hubungan dengan keluarga dan dengan masyarakat pada umumnya. Terdapat banyak alasan untuk mencurigai suatu peranan masyarakat dalam perkembangan pola penyalahgunaan zat dan ketergantungan zat. Tetapi, bahkan dalam tekanan sosial tersebut, tidak semua anak mendapatkan diagnosis penyalahgunaan zat atau ketergantungan zat, jadi mengarahkan kemungkinan adanya keterlibatan fakrot penyebab lainnya. Koadiksi Konsep koadiksi atau kodependensi telah menjadi popular dalam tahun-tahun terakhir. Koadiksi terjadi jika lebih dari satu orang, biasanya suatu pasangan, mempunyai hubungan yang terutama bertanggungjawab untuk mempertahankan perilaku adiktif pada sekurang-kurangnya satu orang. Masing-masing orang mungkin memiliki perilaku membolehkan yang dapat mengekalkan situasi, dan penyangkalan situasi diperlukan untuk berkembangnya hubungan dyadic tersebut. Pengobatan situasi koadiktif tersebut mengarah langsung pada elemen-elemen perilaku membolehkan dan penyangkalan.

Teori perilaku Beberapa model perilaku penyalahgunaan zat telah dipusatkan pada perilaku mencari zat (substance seeking behavior), ketimbang pada gejala ketergantungan fisik. Agar suatu model perilaku memiliki relevansi dengan semua zat, model tidak boleh tergantung pada adanya gejala putus zat atau toleransi, karena banyak zat yang disalahgunakan adalah tidak disertai dengan perkembangan ketergantungan fisiologis. Prinsip pertama dan kedua adalah kualitas pendorong positif dan efek merugikan dari beberapa zat. Sebagian besar zat yang disalahgunakan adalah disertai dengan suatu pengalaman positif setelah digunakan untuk pertama kalinya; jadi, zat bertindak sebagai suatu pendorong postitif untuk perilaku mencari zat. Banyak zat juga disertai dengan efek merugikan, yang bertindak menurunkan perilaku mencari zat. Ketiga, orang harus mampu membedakan zat yang disalahgunakan dari zat lainnya. Keempat, hampir semua perilaku mencari zat disertai dengan petunjuk lain yang menjadi berhubungan dengan pengalaman menggunakan zat.

Gambar 1. Model psikofarmakologi perilaku mencari obat 2

Teori Genetika Bukti-bukti kuat dari penelitian pada anak kembar, anak angkat, dan saudara kandung telah menimbulkan indikasi yang jelas bahwa penyalahgunaan alkohol mempunyai suatu komponen genetika dalam penyebabnya. Terdapat banyak data yang kurang menyakinkan dimana jenis lain penyalahgunaan atau ketergantungan zat memiliki pola genetika dalam perkembangannya. Tetapi, beberapa penelitian telah menemukan suatu dasar genetika untuk ketergantungan dan penyalahgunaan zat non alkohol. Baru-baru ini, peneliti telah menggunakan teknologi RFLP (Restriction Fragment Length Polumorphism) dalam meneliti penyalahgunaan zat dan ketergantungan zat, dan beberapa laporan hubungan RFLP telah diterbitkan. Teori Neurokimiawi Untuk sebagian besar zat yang disalahgunakan, dengan pengecualian alkohol, peneliti telah menemukan neurotransmitter atau reseptor neurotransmitter tertentu dimana zat menimbulkan efeknya. Sebagai contohnya, opiat bekerja pada reseptor opiat. Jadi, seseorang yang memiliki aktivitas opiat endogen yang terlalu kecil (sebagai contohnya, konsentrasi endorphin yang terlalu rendah) atau yang memiliki aktivitas antagonis opiat endogen yang terlalu banyak mungkin berada pada risiko untuk berkembangnya ketergantungan opioid. Beberapa peneliti sedang mengikuti jenis hipotesis tersebut dalam penelitiannya. Bahkan pada seseorang dengan fungsi reseptor dan konsentrasi neurotransmitter endogen yang normal seluruhnya, penggunaan zat jangka panjang akhirnya dapat memodulasi sistem reseptor tersebut di dalam otak, sehingga otak memerlukan adanya zat eksogen untuk mempertahankan homeostasis. Proses di tingkat reseptor tersebut mungkin merupakan mekanisme untuk berkembangnya toleransi pada sistem saraf pusat. Tetapi, pada kenyataannya modulasi pelepasan neurotransmitter dan fungsi reseptor neurotransmitter terbukti sulit untuk ditunjukkan, dan penelitian terakhir memusatkan pada efek zat pada sistem pembawa pesan kedua (second messenger) dan pada pengaturan gen.

Jalur dan neurotransmitter Neurotransmitter utama yang mungkin terlibat dalam perkembangan

penyalahgunaan zat dan ketergantungan zat adalah sistem opiat, katekolamin (khususnya dopamine), dan GABA. Dan yang memiliki kepentingan khusus adalah neuron di daerah tegmental ventral yang berjalan ke daerah kortikal dan limbic, khususnya nucleus akumbens. Jalur khusus tersebut diperkirakan terlibat dalam sensasi menyenangkan (reward sensation) dan diperkirakan merupakan mediator utama untuk efek dari zat tertentu seperti amfetamin dan kokain. Lokus sereleus, kelompok terbesar neuron adrenergic, diperkirakan terlibat dalam perantara efek opiat dan opioid.

II.3 1.

FAKTOR PENYEBAB KETERGANTUNGAN ZAT Individu Individulah yang paling berperan menentukan apakah ia akan atau tidak akan menjadi pengguna NAPZA. Keputusannya dipengaruhi oleh dorongan dari dalam maupun luar dirinya.Dorongan dari dalam biasanya menyangkut kepribadian dan kondisi kejiwaan seseorang yang membuatnya mampu atau tidak mampu melindungi dirinya dari penyalahgunaan NAPZA. Dorongan atau motivasi merupakan predisposisi untuk menggunakan obat, misalnya ingin mencoba-coba, pendapat bahwa NAPZA bisa menyelesaikan masalahnya, dst. Dorongan memakai NAPZA bisa disebabkan adanya masalah pribadi seperti stress, tidak percaya diri, takut, ketidakmampuan mengendalikan diri, tekanan mental dan psikologis menghadapi berbagai persoalan, dan masih banyak lagi yang menyangkut diri atau kepribadian seseorang. Kepribadian tidak begitu saja terbentuk dari dalam individu melainkan juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam sejak kecil melalui proses enkulturasi dan sosialisai baik dari keluarga maupun lingkungan masyarakat. Kemampuan membentuk konsep diri (self concept), sistem nilai yang teguh sejak kecil, dan kestabilan emosi merupakan beberapa ciri kepribadian yang bisa membantu seseorang untuk tidak mudah terpengaruh atau terdorong menggunakan NAPZA. 3,4

Faktor-faktor individual penyebab penyalahgunan NAPZA antara lain: 2. Keingintahuan yang besar untuk mencoba, tanpa sadar atau berpikir panjang mengenai akibatnya Keinginan untuk mencoba-coba karena "penasaran" Keinginan untuk bersenang-senang (just for fun) Keinginan untuk diterima oleh lingkungan atau kelompok (konformitas) Lari dari kebosanan, masalah atau kegetiran hidup Pengertian yang salah bahwa penggunaan sekali-sekali tidak menimbulkan ketagihan Keinginan untuk mengikuti trend atau gaya (fashionable) Tidak mampu atau tidak berani menghadapi tekanan dari lingkungan atau kelompok pergaulan untuk menggunakan NAPZA Tidak dapat berkata tidak terhadap NAPZA (Say no to drugs)

Lingkungan Masyarakat dan lingkungan sekitar yang tidak mampu mencegah dan penyalahgunaan NAPZA, bahkan membuka kesempatan

menanggulangi

pemakaian NAPZA. Yang dimaksud dengan faktor kesempatan di sini adalah tersedianya situasi-situasi "permisif" (memungkinkan) untuk memakai NAPZA di waktu luang, di tempat rekreasi seperti diskostik. Lingkungan pergaulan dan lingkungan sebaya merupakan salah satu pendorong kuat untuk menggunakan NAPZA. Keinginan untuk menganut nilai-nilai yang sama dalam kelompok (konformitas), diakui (solidaritas), dan tidak dapat menolak tekanan kelompok (peer pressure) merupakan hal-hal yag mendorong penggunaan NAPZA. Dorongan dari luar adalah ajakan, rayuan, tekanan dan paksaan terhadap individu untuk memakai NAPZA sementara individu tidak dapat menolaknya. Dorongan luar juga bisa disebabkan pengaruh media massa yang memperlihatkan gaya hidup dan berbagai rangsangan lain yang secara langsung maupun tidak langsung mendorong pemakaian NAPZA. Di lain pihak, masyarakat pula yang tidak mampu mengendalikan bahkan membiarkan penjualan dan peredaran NAPZA, 7

misalnya karena lemahnya penegakan hukum, penjualan obat-obatan secara bebas, bisnis narkotika yang terorganisir. NAPZA semakin mudah diperoleh dimana-mana dengan harga terjangkau . Berbagai kesempatan untuk memperoleh dan menggunakan NAPZA memudahkan terjadinya penggunaan dan penyalahgunaan NAPZA. 3-5 II.4 TAHAPAN YANG DIALAMI OLEH PENYALAHGUNA Oleh U.S National Comission On Marihuana and Drug Abuse berusaha mengklasifikasikan tahapan penyalah-guna obat menjadi beberapa tahap5-6 : 1. Experimental Users; adalah mereka yang menggunakan obat/ zat tadi tanpa mempunyai motivasi tertentu. Mereka hanya terdorong oleh rasa ingin tahu,. Pemakaian biasanya sesekali dengan dosis yang relatif kecil. Hal ini dapat disamakan seesorang yang mulai mengenal rokok. 2. Recreational Users/ casual Users; kelompok ini biasanya menggunakan zat/ obat tertentu dalam pertemuan/ pesta atau dalam kebersamaan (menikmati rekreasi). Mereka biasanya mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kelompoknya. Interaksi sosial masih dirasakan wajar-wajar saja hanya sewaktu mereka berkumpul biasanya mereka terbawa dan terhanyut dalam kecenderungan untuk memakai obat/ zat tadi secara berlebihan. 3. Situational Users; Umumnya orang yang tergolong tahap ketiga ini, mulai menggunakan obat/ zat secara sadar kalau mereka menghadapi masa masa sulit. Mereka percaya bahwa hanya dengan menggunakan/ mengkonsumsi obat tadi; mereka lebih sanggup mengatasi persoalan hihdup yang sulit tadi. Penggunaan obat pada golongan ini dapat merupakan satu pola tingkah laku tertentu sehingga mendorong individu tadi untuk mengulangi perbuatannya sehingga resiko menjadi addict/ kecanduan akan menjadi jauh lebih besar dibandingkkan kelompok I dan II diatas. 4. Intensified Users; adalah kelompok yang sudah secara kronis menggunakan obat/ zat tertentu. Kelompok ini merasa butuh memakai obat tadi untuk memperoleh kenikmatan atau mencari pelarian dari tekanan hidup. Walau penggunaannya sudah lebih banyak, tapi individu semacam ini masih 8

sangggup ber-interaksi dengan masyarakta secara baik. Hanya mereka bertendensi untuk mengkonsumsikan pemakaian obat tadi secara berlebihan. 5. Compulsive Dependence Users; adalah pengguna dengan jumlah dan frekuensi yang lebih banyak dengan jumlah dan frekuensi yang lebih banyak lagi melepaskan kebiasaannya tanpa merasakan guncanngan psikis/ fisik. Apabila mereka tidak menggunakan zat tadi, mereka sudah mengalami withdrawl symptoms/sindroma putus obat yang cukup berat. Mereka memang sudah tergantung hidupnya dari pemakaian obat/ zat tadi. II. 5 JENIS ZAT PSIKOAKTIF

II.5.1 Narkotika (Menurut Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika) Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika dibedakan kedalam golongan-golongan1,5,7: a. Narkotika Golongan I Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan, dan tidak ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan, (Contoh : heroin/putauw, kokain, ganja). Contoh Golongan I: o o o Opiat : morfin, herion (putauw), petidin, candu, dan lain-lain Ganja atau kanabis, marihuana, hashis Kokain, yaitu serbuk kokain, pasta kokain, daun koka.

b. Narkotika Golongan II Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta

mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan (Contoh: morfin, petidin).

c. Narkotika Golongan III Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan (Contoh: kodein).

II.5.2

PSIKOTROPIKA

(Menurut Undang-undang RI No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika) Yang dimaksud dengan psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika dibedakan dalam golongan-golongan sebagai berikut1,5,7: a. PSIKOTROPIKA GOLONGAN I Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan (Contoh ekstasi, shabu, LSD). b. PSIKOTROPIKA GOLONGAN II Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi, dan/atau tujuan ilmu pengetahuan serta menpunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan (Contoh amfetamin, metilfenidat atau ritalin). c. PSIKOTROPIKA GOLONGAN III Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan (Contoh pentobarbital, Flunitrazepam). d. PSIKOTROPIKA GOLONGAN IV 10

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan (Contoh diazepam, bromazepam, Fenobarbital, klonazepam, klordiazepoxide, nitrazepam, seperti pil BK, pil Koplo, Rohip, Dum, MG).

Psikotropika yang sering disalahgunakan antara lain : a. Psikostimulansia : amfetamin, ekstasi, shabu b. Sedatif & Hipnotika (obat penenang, obat tidur): e. MG, BK, DUM, Pil koplo dan lain-lain a. Halusinogenika : Iysergic acid dyethylamide (LSD), magic mushroom.

II.5.3 ZAT ADIKTIF LAIN Yang dimaksud disini adalah bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif diluar yang disebut Narkotika dan Psikotropika, meliputi : a. Minuman berakohol Mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan syaraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan sebagai campuran dengan narkotika atau psikotropika, memperkuat pengaruh obat/zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minumanberakohol, yaitu : Golongan A: kadar etanol 1-5%, (Bir) Golongan B : kadar etanol 5-20%, (Berbagai jenis minuman anggur) Golongan C : kadar etanol 20-45 %, (Whiskey, Vodca, TKW, Manson House, Johny Walker, Kamput.) 11

b. Inhalan Inhalansia (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut) mudah menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalah gunakan, antara lain : Lem, thinner, penghapus cat kuku, bensin. c. Tembakau Pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat.

Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan NAPZA dapat digolongkan menjadi tiga golongan1,7 : 1. Golongan Depresan (Downer) Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini menbuat pemakaiannya merasa tenang, pendiam dan bahkan membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri. Golongan ini termasuk Opioida (morfin, heroin/ putauw, kodein), Sedatif (penenang), hipnotik (otot tidur), dan tranquilizer (anti cemas) dan lain-lain. 2. Golongan Stimulan (Upper) Adalah jenis NAPZA yang dapat merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Zat yang termasuk golongan ini adalah amfetamin (shabu, esktasi), Kafein, dan Kokain. 3. Golongan Halusinogen Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh perasaan dapat terganggu. Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis. Yang termasuk golongan ini adalah kanabis (ganja), LSD, dan Mescalin. 12

Macam-macam bahan Narkotika dan Psikotropika yang terdapat di masyarakat serta akibat pemakaiannya : 1. OPIOIDA Opioida dibagi dalam tiga golongan besar yaitu: o o o Opioida alamiah (opiat): morfin, cpium, kodein Opioida semi sintetik : heroin/ putauw, hidromorfin Opioida sintetik : meperidin, propoksipen, metadon Nama jalannya putauw, ptw, black heroin, brown sugar.

Heroin yang murni berbentuk bubuk putih, sedangkan heroin yang tidak murni berwarna putih keabuan. Dihasilkan dari cairan getah opium poppy yang diolah menjadi morfin kemudian dengan proses tertentu menghasil putauw, dimana putauw mempunyai kekuatan 10 kali melebihi morfin. Opioid sintetik yang mempunyai kekuatan 400 kali lebih kuat dari morfin. Opiat atau opioid biasanya digunakan dokter untuk menghilangkan rasa sakit yang sangat (analgetika kuat). Berupa pethidin, methadon, Talwin, kodein dan lain-lain. Opiat dan opioid mempunyai efek bermakna pada sistem neurotransmitter dopaminergik dan noradrenergik. Beberapa jenis data menyatakan bahwa sifat adiktif dan menyenangkan dari opioat dan opioid diperantarai melalui aktivitasi area tegmental ventral neuron dopaminergik yang berjalan ke korteks serebral dan sistem limbik. Opiat dan opioid adalah adiktif secara subjektif karena euforik yang tinggi rush khususnya mereka yang menggunakan zat secara intravena. Gejala penyerta adalah perasaan hangat, rasa berat pada anggota gerak, mulut kering, wajah gatal. Euforia awal diikuti oleh suatu periode nodding off. Efek fisik dari opiat dan opioid adalah depresi pernafasan, konstriksi pupil, kontraksi otot polos, konstipasi, dan perubahan tekanan darah, kecepatan denyut jantung dan temperatur tubuh. Efek 13

depresan pernafasan diperantarai pada tingkat batang otaka dan adiktif terhadap efek phenotiazine dan monoamine oxidase inhibitor. Overdosis opioid adalah henti pernafasan akibat efek depresan pernafasan dari obat gejalanya hilangnya responsivitas yang nyata, koma, pernafasan lambat, hipotermia, hipotensi, dan bradikardia. Jika dihadapkan dengan trias klinis berupa koma, pupil yang kecil, dan depresi pernafasan. 2. KOKAIN Golongan stimulant ini mempunyai dua bentuk yaitu kokain hidroklorid dan free base. Kokain berupa kristal pitih. Rasa sedikit pahit dan lebih mudah larut dari free base. Free base tidak berwarna/ putih, tidak berbau dan rasanya pahit. Nama jalanan dari kokain adalah koka, coke, happy dust, charlie, srepet, snow salju,dan putih. Biasanya dalam bentuk bubuk putih. Cara pemakaiannya dengan membagi setumpuk kokain menjadi beberapa bagian berbaris lurus diatas permukaan kaca atau benda-benda yang mempunyai permukaan datar kemudian dihirup dengan menggunakan penyedot seperti sedotan. Atau dengan cara dibakar bersama tembakau yang sering disebut cocopuff. Ada juga yang melalui suatu proses menjadi bentuk padat untuk dihirup asapnya yang populer disebut freebasing. Penggunaan dengan cara dihirup akan berisiko kering dan luka pada sekitar lubang hidung bagian dalam. Secara klinis penyalahgunaan kokain dapat dicurigai pada pasien yang menunjukkan perubahan yang tidak dapat dijelaskan pada kepribadiannya. Perubahan yang sering berhubungan dengan pemakaian kokain adalah iritabilitas, gangguan kemampuan berkonsentrasi, perilaku kompulsif, insomnia berat, dan penurunan berat badan. 3. KANABIS Termasuk halusionogen dengan nama jalanan yang sering digunakan ialah grass, cimeng, ganja, gelek, hasish, marijuana, bhang, Mary Jane, weed, pot,dan tea. Ganja berasal dari tanaman kanabis sativa dan kanabis indica. Pada tanaman ganja terkandung tiga zat utama yaitu tetrehidro kanabinol,kanabinol dan kanabidiol. 14

Cara penggunaannya adalah dihisap dengan cara dipadatkan mempunyai rokok atau dengan menggunakan pipa rokok. Efek rasa dari kanabis tergolong cepat, pemakai cenderung merasa lebih santai, rasa gembira berlebih (euforia), sering berfantasi, aktif berkomonikasi, selera makan tinggi, sensitif, kering pada mulut dan tenggorokan. Untuk beberapa pasien suatu obat antiansietas mungkin berguna untuk menghilangkan gejala putus zat jangka pendek. Untuk pasien lain penggunaan kanabis mungkin berhubungan dengan gangguan depresif dasar yang mungkin berespon dengan terapi antidepresan spesifik.

4. AMPHETAMINES Nama generik amfetamin adalah D-pseudo epinefrin berhasil disintesa tahun 1887 dan dipasarkan tahun 1932 sebagai obat. Nama jalannya adalah seed, meth, crystal, uppers, whizz dan sulphate. Bentuknya ada yang berbentuk bubuk warna putih dan keabuan,digunakan dengan cara dihirup. Sedangkan yang berbentuk tablet biasanya diminum dengan air. Ada dua jenis amfetamin, yaitu: o MDMA (methylene dioxy methamphetamin), mulai dikenal sekitar tahun

1980 dengan nama Ekstasi atau Ecstacy. Nama lain : xtc, fantacy pils, inex, cece, cein, Terdiri dari berbagai macam jenis antara lain : white doft, pink heart, snow white, petir yang dikemas dalam bentuk pil atau kapsul. o Methamfetamin ice, dikenal sebagai shabu. Nama lainnya shabu-shabu.

SS, ice, crystal, crank. Cara penggunaannya dibakar dengan menggunakan kertas alumunium foil dan asapnya dihisap, atau dibakar dengan menggunakan botol kaca yang dirancang khusus (bong).

Pada dosis tertentu, hampir semua pecandu menjadi psikostik, karena amfetamin dapat menyebabkan kecemasan hebat, paranoia dan gangguan pengertian terhadap kenyataan hidup. Reaksi psikotik meliputi halusinasi dengar dan lihat (melihat dan 15

mendengar benda yang sebenarnya tidak ada) dan merasa sangat berkuasa. Efek tersebut bisa terjadi pada siapa saja, tetapi yang lebih rentan adalah pengguna dengan Kelainan psikiatri (misalnya skizofrenia).

5. LSD (Lysergic acid diethylamide) Termasuk dalam golongan halusinogen,dengan nama jalanan acid, trips, tabs, kertas. Bentuk yang bisa didapatkan seperti kertas berukuran kotak kecil sebesar seperempat perangko dalam banyak warna dan gambar, ada juga yang berbentuk pil, kapsul. Cara menggunakannya dengan meletakkan LSD pada permukaan lidah dan bereaksi setelah 30-60 menit sejak pemakaian dan hilang setelah 8-12 jam. Efek rasa ini bisa disebut tripping. Yang bisa digambarkan seperti halusinasi terhadap tempat, warna, dan waktu. Biasanya halusinasi ini digabung menjadi satu. Hingga timbul obsesi terhadap halusinasi yang ia rasakan dan keinginan untuk hanyut didalamnya, menjadi sangat indah atau bahkan menyeramkan dan lama-lama membuat paranoid.

6. SEDATIF-HIPNOTIK (BENZODIAZEPIN) Digolongkan zat sedatif (obat penenang) dan hipnotika (obat tidur). Nama jalanan dari Benzodiazepin BK, Dum, Lexo, MG, Rohyp. Pemakaian benzodiazepin dapat melalui oral, intra vena, dan rectal. Penggunaan dibidang medis untuk pengobatan kecemasan dan stres serta sebagai hipnotik (obat tidur).

7. SOLVENT / INHALANSIA Adalah uap gas yang digunakan dengan cara dihirup. Contohnya :Aerosol, aica aibon, isi korek api gas, cairan untuk dry cleaning, tiner,uap bensin. Biasanya digunakan secara coba-coba oleh anak dibawah umur golongan kurang mampu/ anak jalanan. Efek yang ditimbulkan pusing, kepala terasa berputar, halusinasi ringan, mual, muntah, gangguan fungsi paru, liver dan jantung. Dalam dosis yang kecil 16

inhalan dapat menginhibisi dan menyebabkan perasaan euforia, kegembiraan dan sensasi mengambang yang menyenangkan. Pada dosis tinggi dapat termasuk rasa ketakutan, ilusi sensorik, halusinasi auditoris, dan visual serta distorsi ukuran tubuh. Gejala neurologis dapat termasuk bicara yang tidak jelas, penurunan kecepatan berbicara, dan ataksia. 8. ALKOHOL Merupakan salah satu zat psikoaktif yang sering digunakan manusia. Diperoleh dari proses fermentasi madu, gula, sari buah dan umbi-umbian. Dari proses fermentasi diperoleh alkohol dengan kadar tidak lebih dari 15%, dengan proses penyulingan di pabrik dapat dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi bahkan mencapai 100%. Nama jalanan alkohol : booze, drink. Konsentrasi maksimum alkohol dicapai 30-90 menit setelah tegukan terakhir. Sekali diabsorbsi, etanol didistribisikan keseluruh jaringan tubuh dan cairan tubuh. Sering dengan peningkatan kadar alkohol dalam darah maka orang akan menjadi euforia, mamun sering dengan penurunannya pula orang menjadi depresi.

II.6 KRITERIA DIAGNOSIS Kriteria diagnosis untuk ketergantungan zat, penyalahgunaan zat, intoksikasi zat dan putus zat menurut DSM-IV.8 Kriteria diagnosis untuk ketergantungan zat : Suatu pola pemakaian zat maladaptif yang menyebabkan gangguan atau penderitaan yang bermakna secara klinis seperti yang dimanifestasikan oleh tiga (atau lebih) hal berikut, terjadi pada tiap saat dalam periode 12 bulan yang sama. 1. Toleransi, seperti yang didefinisikan oleh berikut : a. Kebutuhan untuk meningkatkan jumlah zat secara jelas untuk mencapai intoksikasi atau efek yang diinginkan. b. Penurunan efek yang bermakna pada pemakaian berlanjut dengan jumlah zat yang sama. 17

2. Putus, seperti yang dimanifeskan oleh berikut : a. Sindroma putus yang karakteristik bagi zat (lihat kriteria A dan B dari kumpulan kriteria untuk putus dari zat spesifik). b. Zat yang sama (atau yang berhubungan erat) digunakan untuk meghindari atau menghilangkan gejala putus. 3. Zat seringkali digunakan dalam jumlah yang lebih besar atau selama periode yang lebih lama dari yang diinginkan. 4. Terdapat keinginan terus menerus atau usaha yang gagal untuk menghentikan atau mengendalikan penggunaan zat. 5. Dihabiskan banyak waktu dalam aktivitas untuk mendapatkan zat (misalnya mengunjungi banyak dokter atau pergi jarak jauh), menggunakan zat ( misalnya chain-smoking), atau pulih dari efeknya. 6. Aktivitas sosial, pekerjaan, atau rekreasional yang penting dihentikan atau dikurangi karena penggunaan zat. 7. Pemakaian zat dilanjutkan walaupun mengetahuimeiliki masalah fisik atau psikologis yang menetap atau rekuren yang kemungkinan telah disebabkan dieksaserbasi oleh zat (misalnya baru saja menggunakan kokain walaupun menyadari adanya depresi akibat kokain, atau terus minum walaupun mengetahui ulkus memburuk oleh konsumsi alkohol). Sebutkan jika : Dengan ketergantungan fisiologis : tanda-tanda toleransi atau putus (yaitu terdapat butir 1 maupun 2) Tanpa ketergantungan fisiologis : tidak ada tanda-tanda toleransi atau putus (yaitu tidak terdapat butir 1 maupun 2)

Kriteria diagnosis untuk penyalahgunaan zat :

18

A. Pola penggunaan zat maladaptif yang menyebabkan gangguan atau penderitaan yang bermakna secara klinis seperti yang ditunjukkan oleh satu (atau lebih) hal berikut, terjadi dalam periode 12 bulan. 1. Penggunaan zat rekuren yang menyebabkan kegagalan untuk memenuhi kewajiban utama dalam pekerjaan, sekolah atau rumah (misalnya membolos berulang kali, atau kinerja pekerjaan yang buruk yang berhubungan dengan penggunaan zat; mangkir, skor, atau pengeluaran dari sekolah yang berhubungan dengan zat; penelantaran anak atau rumah tangga. 2. Penggunaan zat rekuren dalam situasi yang berbahaya secara fisik (misalnya, mengemudikan kendaraan atau menjalankan mesin saat terganggu oleh penggunaan zat). 3. Masalah hukum yang berhubungan dengan zat yang berulang kali (misalnya penahanan karena gangguan tingkah laku yang berhubungan dengan zat). 4. Pemakaian zat yang diteruskan walaupun memiliki masalah sosial atau interpersonal yang menetap atau rekuren karena efek zat (misalnya, bertengkar dengan pasangan tentang akibat intoksikasi, perkelahian fisik). B. Gejala diatas tidak pernah memenuhi kriteria ketergantungan zat untuk kelas zat ini.

Kriteria diagnostik untuk intoksikasi zat : A. Perkembangan sindroma spesifik zat yang reversibel karena ingesti (atau pemaparan) suatu zat yang belum lama terjadi. (Catatan : zat yang berbeda dapat menimbulkan sindroma yang mirip atau identik.) B. Perilaku maladaptif atau perubahan psikologis yang bermakna secara klinis yang disebabkan oleh efek zat pada sistem saraf pusat (misalnya, kekanakan, labilitas mood, gangguan kognitif, gangguan pertimbangan, gangguan fungsi sosial, atau pekerjaan) dan berkembang selama atau segera setelah penggunaan zat. 19

C. Gejala tidak disebabkan oleh kondisi medis umum dan tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain.

Kriteria diagnostik untuk putus zat : A. Perkembangan suatu sindroma spesifik zat karena penghentian (atau penurunan) pemakaian zat yang telah digunakan lama dan berat. B. Sindroma spesifik zat menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya. C. Gejala tidak disebabkan oleh kondisi medis umum dan tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain.

II.7

GEJALA KLINIS PENYALAHGUNAAN NAPZA

1. Perubahan Fisik Gejala fisik yang terjadi tergantung jenis zat yang digunakan, tapi secara umum dapat digolongkan sebagai berikut : oPada saat menggunakan NAPZA Jalan sempoyongan, bicara pelo (cadel), apatis (acuh tak acuh), mengantuk, agresif,curiga. oBila kelebihan disis (overdosis) Nafas sesak,denyut jantung dan nadi lambat, kulit teraba dingin, nafas lambat/berhenti, meninggal.. oBila sedang ketagihan (putus zat/sakau) Mata dan hidung berair,menguap terus menerus, diare, rasa sakit diseluruh tubuh, takut air sehingga malas mandi, kejang, kesadaran menurun. oPengaruh jangka panjang

20

Penampilan tidak sehat,tidak peduli terhadap kesehatan dan kebersihan, gigi tidak terawat dan kropos, terhadap bekas suntikan pada lengan atau bagian tubuh lain (pada pengguna dengan jarum suntik). 2. Perubahan Sikap dan Perilaku oPrestasi sekolah menurun,sering tidak mengerjakan tugas sekolah,sering membolos, pemalas, kurang bertanggung jawab. oPola tidur berubah,begadang,sulit dibangunkan pagi hari,mengantuk dikelas atau tampat kerja. oSering berpegian sampai larut malam,kadang tidak pulang tanpa memberi tahu lebih dulu. oSering mengurung diri, berlama-lama dikamar mandi, menghindar bertemu dengan anggota keluarga lain dirumah. oSering mendapat telepon dan didatangi orang tidak dikenal oleh keluarga, kemudian menghilang oSering berbohong dan minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tak jelas penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau milik keluarga, mencuri, mengompas, terlibat tindak kekerasan atau berurusan dengan polisi. oSering bersikap emosional, mudah tersinggung, marah, kasar sikap bermusuhan, pencuriga, tertutup dan penuh rahasia.

II.8 PENATALAKSANAAN II.8.1 Pencegahan Dan Penanggulangan Narkoba Penanggulangan Narkoba Penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba saat ini menjadi masalah yang sangat memprihatinkan dan cenderung semakin meningkat serta merupakan masalah bersama antara yang melibatkan pemerintah dan masyarakat sehingga memerlukan suatu 21

strategi yang melibatkan seluruh komponen bangsa yang bersatu padu dalam suatu gerakan bersama untuk melaksanakan strategi menyeimbangkan dan memadukan pengurangan pemasukan dan pengurangan permintaan sehingga program P4GN dapat berhasil guna yang meliputi bidang-bidang sebagai berikut 1. Bidang Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Mencegah terjadinya penyalahgunaan narkoba dengan meningkatkan kapasitas kelembagaan lintas bidang terkait, meningkatkan kualitas individu aparat, serta menumbuhkan kesadaran, kepedulian dan peran serta aktif seluruh komponen masyarakat melalui lembaga swadaya masyarakat (LSM), lembaga keagamaan, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, pelajar, mahasiswa dan pemuda, pekerja, serta lembaga-lembaga lainnya yang ada di masyarakat. (Pendidikan, Kesehatan sosial, Sosial-Akhlak, Sosial-pemuda & OR Ekonomi-Tenaga Kerja). Mencegah terjadinya penyalahgunaan dan peredaran gelap, dengan upaya-upaya yang berbasiskan masyarakat mendorong dan menggugah kesadaran, kepedulian dan peran serta aktif seluruh komponen masyarakat dengan motto yang menjadi pendorong semangat adalah Mencegah Lebih baik Daripada Mengobati, yaitu : Strategi pre-emtif (Prevensi Tidak Langsung) Merupakan pencegahan tidak langsung yaitu, menghilangkan atau mengurangi faktor-faktor yang mendorong timbulnya kesempatan atau peluang untuk melakukan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, dengan usaha kegiatan dengan menciptakan kesadaran, kepedulian, kewaspadaan, dan daya tangkal masyarakat dan terbina kondisi, prilaku dan hidup sehat tanpa narkoba. Strategi Nasional Usaha Promotif Usaha-usaha promotif dilaksanakan dengan kegiatan-kegiatan pembinaan dan pengembangan dan kreatif. Strategi nasional untuk komunikasi, Informasi dan Pendidikan Pencegahan lingkungan masyarakat bebas narkoba, pembinaan dan pengembangan pola hidup sehat, beriman, kegiatan positif, produktif, konstruktif

22

Pencegahan penyalahgunaan narkoba terutama diarahkan kepada generasi muda (anak, remaja, pelajar, pemuda, dan mahasiswa). Penyalahgunaan sebagai hasil interaksi individu yang kompleks dengan berbagai elemen dari lingkungannya, terutama dengan orng tua, sekolah, lingkungan masyarakat, dan remaja pemuda lainnya, oleh karena itu Strategi informasi dan Pendidikan Pencegahan dilaksanakan melalui 7 (Tujuh) jalur, yaitu : o Keluarga, dengan sasaran orang tua, anak, pemuda, remaja dan anggota keluarga lainnya. o Pendidikan, sekolah maupun luar sekolahdengan kelompok sasaran guru, tenaga pendidikan, dan peserta didik, warga belajar, baik secara kurikuler maupun ekstra kurikuler. o o Lembaga keagamaan, engan sasaran pemuka-pemuka agama dan umatnya. Organisasi sosial kemasyarakatan, dengan sasaran remaja pemuda dan masyarakat. o Organisasi Wilayah Pemukiman (LKMD, RT, RW) dengan sasaran warga terutama pemuka masyarakat dan remaja setempat. o o Unit- unit kerja, dengan sasaran pimpinan, karyawan dan keluargannya. Mass Media baik elektronik, cetak dan Media Interpersonal (Talk show dan dialog interaktif), dengan sasaran luas maupun individu. Strategi Nasional untuk Golongan Beresiko Tinggi Strategi ini disisapkan khusus untk remajapemuda yang beresiko tinggi, yaitu mereka yang memepunyai banyak masalah, yang dengan edukasi preventif saja tidak cukup krena tidak menyentuh permasalahan yang mereka alami. Pada umumnya masalah-masalah tersebut, menyangkut kehidupan keluarga drop outputus sekolah, putus pacar, kehamilan diluar nkah, tekanan kelompok sebaya (peer group), gelandangan dan anak terlantar, dan lain-lain. Strategi Nasional untuk partisipasi Masyarakat

23

Strategi ini merupakan strategi pencegahan berbasis masyarakat, sebagai upaya untuk menggugah, mendorong dan menggerakan masyarakat untuk sadar, peduli, dan aktif dalam melakukan pencegahan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Suksesnya strategi ni sangat tertanggung pada partisispasi masyarakat dalam usaha-usaha promotif, edukasi prevensi, dan penanganan golongan beresiko tinggi. Kekuatan-kekuatan didalam masyarakat di mobilisir untuk secara aktif menyelenggarakan program-program dibidang-bidang tersebut diatas.

II.8.2 Kuratif dan Rehabilitatif Tujuannya adalah sebagai berikut a. Abstinensia atau menghentikan sama sekali penggunaan NAPZA Tujuan ini tergolong sangat ideal,namun banyak orang tidak mampu atau mempunyai motivasi untuk mencapai tujuan ini, terutama kalau ia baru menggunakan NAPZA pada fase-fase awal. Pasien tersebut dapat ditolong dengan meminimasi efek-efek yang langsung atau tidak langsung dari NAPZA. Sebagian pasien memang telah abstinesia terhadap salah satu NAPZA tetapi kemudian beralih untuk menggunakan jenis NAPZA yang lain. b. Pengurangan frekuensi dan keparahan relaps Sasaran utamanya adalah pencegahan relaps. Bila pasien pernah menggunakan satu kali saja setelah clean maka ia disebut slip. Bila ia menyadari kekeliruannya, dan ia memang telah dibekali ketrampilan untuk mencegah pengulangan penggunaan kembali, pasien akan tetap mencoba bertahan untuk selalu abstinensia. Pelatihan relapse prevention programme, Program terapi kognitif, Opiate antagonist maintenance therapy dengan naltreson merupakan beberapa alternatif untuk mencegah relaps. c. Memperbaiki fungsi psikologi dan fungsi adaptasi sosial.

24

Dalam kelompok ini,abstinensia bukan merupakan sasaran utama. Terapi rumatan (maintence) metadon merupakan pilihan untuk mencapai sasaran terapi golongan ini.

II.8.3 Psikoterapi Penelitian metodologi aktif telah menunjukkan bahwa penambahan psikoterapi pada keseluruhan rencana pengobatan mereka dengan ketergantungan opioid menghasilkan manfat yang jauh lebih besar dibandingkan pengobatan tanpa psikoterapi. Pasien dengan gejala psikiatrik yang bermakna membuat sedikit atau tidak menghasilkan kemajuan dengan konseling saja tetapi merupakan calon yang paling baik untuk psikoterapi dan mendapatkan manfaat yang paling banyak darinya. Tetapi, abstinensi dari zat yang disalahgunakan adalah persyaratan untuk efektifnya psikoterapi dalam mengahadapi gangguan psikiatrik dasar.

Gambar 2. Bagan penanganan ketergantungan obat dengan fase-fasenya

II. 9 PROGNOSIS

25

Prognosis bagi penyalahgunaan zat atau narkoba biasanya merujuk kepada akibat dari penyalahgunaan zat itu sendiri. Prognosis ini meliputi durasi dari aktivitas penyalahgunaan zat, kemungkinan komplikasi yang bisa timbul dari penyalahgunaan zat, prospek untuk sembuh, durasi yang diperlukan untuk sembuh, kadar kematian dan kesembuhan dan lain-lain kemungkinan yang bisa timbul. Pada kebiasaannya perkara ini hanya dapat menurut ketentuan alami. Kadar kematian : 19. 102 (kematian per tahun : 19, 102 orang meninggal dunia disebabkan oleh penyalahgunaan zat pada tahun 1999 AS (NVSR Sep 2001)) Insiden : 4.000.000 (prevalensi AS : lebih dari 4juta wanita memerlukan perawatan untuk penyalahgunaan zat (NWHIC)) 0,48% (rasio kematian berbanding prevalensi)

BAB III KESIMPULAN Penyalahgunaan zat merupakan suatu pola pemakaian zat yang maladaptive yang menimbulkan gejala-gejala gangguan kognitif, perilaku, dan fisiologik. Pada Referat ini telah membahas mekanisme psikofarmakologi kerja penyalahgunaan obat dan telah menggunakan mekanisme ini untuk menggambarkan ketergantungan obat. Definisi kata kata yang sering digunakan untuk menggambarkan penyalahgunaan obat dan ketergantungan, meliputi penyalahgunaan, ketagihan, ketergantungan, reinforcement, toleransi silang dan ketergantungan silang, putus obat, relapse, dan rebound. Banyak hal yang meneyebabkan penyalahgunaan zat antara lain adalah faktor individu dan lingkungan serrta faktir zat itu sendiri. Penyalahgunaan zat, selain memberikan gejala fisik, menimbulkan gejala pada fungsi mental,misalnya gangguan pada suasana perasaan atau bahkan gejala psikotik, sehingga menimbulkan hendaya 26

atau distress dalam fungsi sosial, pekerjaan, sehingga menimbulkan hendaya atau disress dalam fungsi sosial, pekerjaan, dan fungsi penting lainnya. Penyalahgunaan zat oleh WHO didefinisikan sebagai pemakaian terus menerus atau jarang tapi berlebihan suatu zat atau obat yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan terapi medis. Diantara zat-zat psikoaktif, ada yang tergolong narkotika dan penyalahgunaannya merupakan pelanggaran undang undang No.22 tahun 1997. tentang Narkoba dan UU No.5 ahun 1997 tentang psikitropika. Zat yang paling sering disalahgunakan adalah kokain sebesar 50,52%, alkohol dengan kombinasi 38,79%, lalu heroin dan morfin 38,73%. Setiap keadaan penyalahgunaan zat membutuhkan penatalaksanaan khusus. Secara umum, penatalaksanaan penyalahgunaan zat adalah obat-obatan, psikoterapi, dan sosioterapi. Perlu bagi kita untuk memberikan penjelasan yang cukup tentang pentingnya penghentian pemakaian zat tersebut kepada pasien dan memotivasi pasien untuk dapat hidup dengan cara yang berbeda tanpa mengunakan zat tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim.

Penyalahgunaan

zat

psikotropika.

Diunduh

dari

http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/mengenal% 20jenis%20dan%20faktor%20penyebab%20penyalahgunaan%20napza.pdf. Diakses tanggal 25 April 2011. 2. Kaplan, Harold, Benjamin J. S, dan Jack A G. Sinopsis psikiatri. Ed 7. Jilid I. Jakarta: Binarupa Aksara; 1997; Hal 571 681. 3. Anonim. Makalah Penyalahgunaan Obat-obat Terlarang. Diunduh dari http://data.tp.ac.id/dokumen/makalah+penyalahgunaan+obat-obat+terlarang. Diakses tanggal 28 April 2011.

27

4. Anonim.

Penyalahgunaan

Narkotika.

Diunduh

dari Diakses

http://www.scribd.com/doc/16591348/Penyalahgunaan-narkotika. tanggal 25 April 2011.

5. Majalah Diskusi panel Nasional Pencegahan dini penyalahgunaan Narkoba. Lions Internasional; 2001; Hal 10 15. 6. Anonim. Tahapan Penyalahguna. Diunduh dari http://en.wikipedia.org/wiki/ National_Commission_on_ Marihuana_and_Drug_Abuse. Diakses tanggal 27 April 2011. 7. Ibrahim, Ayub Sani. Putaw Sakaw Naza-Narkotika-Narkoba. Cetakan pertama. Jakarta: Dian Aresta. 2000. 8. Substance Related Disorder dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV), 4th edition, Washington DC:175-191

28