Anda di halaman 1dari 24
  • 2.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Sefalokordata hanya meliputi 2 genus, yaitu Asymmetron dan Brachiostoma (Amphioxus). Genus Amphioxus lebih umum digunakan untuk mewakili sefalokordata. Tubuh Amphioxus berbentuk lanset, kedua ujungnya runcing. Hewan ini pertama kali ditemukan oleh Pallas tahun 1778 sebagai hewan

Mollusca dan diberi nama Limax lanceolatus. Penemuan ini selanjutnya dikoreksi oleh Costa pada tahun 1834 sebagai hewan vertebrata rendah yang dinamakan Branchiostoma. Istilah Amphioxus menjadi mudah dikenal akhir-akhir ini berkat jasa Istilah Amphioxus menjadi mudah dikenal akhir-akhir ini berkat jasa Yarrell berdasarkan pada kedua ujung tubuh yang runcing. (Indriwati, 2009: 88) Pada makalah ini dibahas tentang Filum Sefalokordata yang meliputi, cirri-ciri umum, klasifikasi, habitat dan persebaran, morfologi, dan struktur anatomi yang diwakili oleh genus Amphioxus. Makalah ini disusun secara deskriptif dengan mengambil sumber dari berbagai literature. Makalah ini disusun untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang berbagai konsep yang terkait dengan Sefalokordata.

  • 2.2 Rumusan Masalah Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penyusunan makalah ini antara lain:

    • 1. Bagaimana ciri-ciri umum hewan Cephalochordata?

    • 2. Bagaimana habitat dan penyebaran hewan Cephalochordata?

    • 3. Bagaimana klasifikasi hewan Cephalochordata?

    • 4. Bagaimana struktur morfologi hewan Cephalochordata?

    • 5. Bagaimana struktur anatomi hewan Cephalochordata?

2.3 Tujuan

Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah agar mahasiswa mampu:

  • 1. Mendiskripsikan ciri-ciri umum dari hewan Cephalochordata.

  • 2. Menjelaskan habitat dan penyebaran hewan Cephalochordata.

  • 3. Memahami klasifikasi hewan Cephalochordata.

  • 4. Menjelaskan struktur morfologi dari hewan Cephalochordata.

  • 5. Menjelaskan struktur anatomi dan sistem tubuh hewan Cephalochordata.

BAB II

ISI

  • 1.1 Ciri-Ciri Umum Sefalokordata memiliki hubungan dekat dengan Urokordata. Ada yang mengelompokkan Sefalokordata dengan Urokordata dalam filum yang sama, yaitu Acrania. Sefalokordata memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut: Notokord terbentang pada seluruh tubuhnya. Memiliki tabung neural dorsal dan tanpa otak. Faring besar dengan banyak celah insang yang terbuka ke arah dinding ektoderm atrium. Dinding tubuh nampak bersegmen, dan bahkan gonadnya juga bersegmen. Mempunyai rongga tubuh yang jelas. Organ pengeluarannya tersusun secara segmental. (Indriwati, 2009: 88)

  • 1.2 Penyebaran dan Habitat Amphioxus sebagai contoh reprasentatif dari Sefalokordata. Hewan ini tinggal di air yang dangkal, membenamkan dirinya dalam pasir dan hanya bagian ujung anterior yang mengandung tudung oral tersembul di permukaan air. Hewan ini dapat berenang aktif atau membenamkan diri ke dalam liang. Serta, hewan ini aktif di malam hari. (Indriwati, 2009: 88)

  • 1.3 Klasifikasi Terdapat 2 filum terdiri atas 2 genus:

    • 1. Genus 1: Asymmetron

    • 2. Genus 2: Branchiostoma (Amphioxus)

1.4 Morfologi dan Anatomi

  • 1. Morfologi Luar Amphioxus

Amphioxus mempunyai panjang kira-kira 3,5-6 cm. tubuhnya berbentuk langsing, translucent, sisi lateral tubuh memipih, kedua ujung depan dan belakang meruncing. Ujung anterior membentuk moncong atau rostrum. Di bawah rostrum terdapat tudung mulut yang terbentuk oleh bagian dorsal dan lateral tubuh. Pada tudung mulut terdapat 20 jumabi siri oral atau lebih. Lekuk mulut itu di bagian

dalam ditunjang oleh suatu cincin yang dibentuk oleh batang-batang yang keras yang tersusun oleh gelatin. Dari cincin kerangka itu batang gelatin menembus ke dalam tiap-tiap siri oral. Tudung oral menutupi suatu rongga bukalis atau vestibulum.

1.4 Morfologi dan Anatomi 1. Morfologi Luar Amphioxus Amphioxus mempunyai panjang kira-kira 3,5-6 cm. tubuhnya berbentuk

Gambar 1. Morfologi Luar Amphioxus (Sumber: Anonim, 2008)

Penampang lintang pada dua pertiga bagian tubuh depan berbentuk segitiga, sedangkan sepertiga yang belakang berbentuk hamper oval. Di sepanjang sisi tengah- dorsal terdapat sebuah sirip dorsal yang memanjang di sepanjang tubuhnya. Sirp dorsal itu bergabung dengan sirip kaudal yang terletak di sekitar ekor. Pada bagian sisi tengah-ventralterdapat sirip ventral yang memanjang dari siripekor sampai ke atriopor. (Indriwati, 2009: 89)

Gambar 2. Pandangan Lateral Ujung Anterior (Sumber: Anonim, 2008) Dinding tubuhnya menunjukkan segmentasi metameric. Pada segmen

Gambar 2. Pandangan Lateral Ujung Anterior (Sumber: Anonim, 2008)

Dinding tubuhnya menunjukkan segmentasi metameric. Pada segmen ke- 36, tepat dimana sirip ventral bermula terdapat lubang yang disebut atriopor yang merupakan lubang eksternal dari rongga atrial. Pada segmen ke-52yang merupakan tempat bermulanya sirip kaudal terdapat anus ventral yang terletak sedikit di sebelah kiri dari garis tengah tubuh. (Indriwati, 2009: 90) Di dalam vestibulum, lapisan epitelium tudung oralmempunyai potongan- potongan kecil berbentuk jari yang disebut organ jentera yang memiliki ujung beralur. Pada bagian tengah dorsalnya memiliki lekuk Hatscheck yang bersifat glandular, panjang, bersilia, dan mensekresi mukus, serta diduga sebagi organ sensori. Pada ujung posterior dari vestibulum terdapat suatu bagian yang tumbuh vertical disebut velum. Velum ini mempunyai sebuah celah melingkar yang disebut enterostoma. (Indriwati, 2009: 90) Dinding tubuhnya dilapisi oleh lapisan kutikula yang tipis, berlubang- lubang menutupi epidermis yang tersusun oleh selapis sel epithelium kolumnar. Disini terdapat sel sensori, tetapi tidak terdapat kelenjar atau kromatofor. Di

bawah kutis terdapat lapisan subkutis yang tersusun dari bahan gelatin yang mengandung serabut dan saluran kutaneus. Di bawah subkutis terdapat miotom yang sebelah dalamnya dibatasi oleh suatu lapisan peritoneum parietal, kecuali pada daerah faring dimana peritoneumnya dipisahkan oleh saluran yang kecil. (Indriwati, 2009: 90)

  • 2. Anatomi Umum

    • a. Atrium Tubuh Amphioxus memiliki rongga atrial atau atrium merupakan tempat luas yang dibatasi dengan ektoderma, terbentuk dari lipatan-lipatan yang tumbuh dan disatukan oleh sebuah papan melintang sehingga merupakan sebuah bagian dari sisi luar yang ditutupi oleh tubuh. Atrium membentuk rongga besar yang mengelilingi bagian faring dan anterior usus secara lateral dan ventral. Atrium juga memanjang ke belakang pada sisi kanan sebagai suatu kantung kantung tersembunyi yang mengarah ke atas hampir ke anus. Dari dekat ujung belakang faring, atrium menampakkan 2 kantung kerucut, masing-masing menonjol ke depan menuju rongga dan tiap bagian dari faring. Kantung-kantung ini merupakan brown funnels atau saluran artiocoelomic yang fungsinya belum diketahui. (Indriwati, 2009: 93)

    • b. Rongga Tubuh Rongga tubuh merupakan soelom yang berkembang dari dinding, berbatasan dengan epitel mesodermal somatik dan splanchnic, mengandung cairan rongga seperti limfa. Di belakang faring, soelom merupakan suatu rongga luas yang mengelilingi usus tengah dan belakang, usus yang menggantung pada soelom oleh suatu mesentry dorsal tetapi menghilang pada sisi kanan usus belakang oleh perpanjangan posterior atrium. Soelom juga mengelilingi divertikulum usus tengah. Pada aerah faringeal dewasa mereduksi sampai 3 tipe ruang, soelom sub endostilar ventral tengah berada secara membujur di bawah endostil, 2 saluran

longitudinal dorsal yang terletak di atas faring dan menutupi brown funnels/corong coklat, dan saluran soelom vertikal pada kordata tingkat tinggi tidak terdapat rongga pada faringnya. (Indriwati, 2009: 94)

longitudinal dorsal yang terletak di atas faring dan menutupi brown funnels/corong coklat, dan saluran soelom vertikal

Gambar 3. Rongga tubuh Amphioxus (Sumber: Anonim ,2011)

  • c. Sistem Skeleton (Kerangka) Notokord berbentuk silindris, membentang dari ujung rostrum sampai ujung ekor. Notokord terbentuk oleh sel-sel besar, bersifat fibrosa dan bersifat gelatin yang menyebabkan notokord itu bersifat keras dan kaku. Notokord itu tertutup oleh jaringan ikat tebal yang disebut selubung notokord. Sel-sel kaku dan adanya selubung notokord menyebabkan notokord bersifat elastis sehingga dapat mencegah pemendekan bila miotom berkontraksi. Di samping adanya notokord, fungsi kerangka dalam juga ditunjang oleh miokoma yang mengelilingi miotom. (Indriwati, 2009: 95)

Gambar 4. Bagian eksternal Amphioxus (Sumber: Anonim ,2011) d. Sistem Muskulus Pada setiap sisi tubuh terdapat

Gambar 4. Bagian eksternal Amphioxus (Sumber: Anonim ,2011)

  • d. Sistem Muskulus Pada setiap sisi tubuh terdapat kira-kira 62 gumpalan otot, tetapi jumlah itu bervariasi diantara spesies-spesies yang berbeda. Tiap miotom tertutup rapat oleh lembaran jaingan ikat fibriler yang di sebut miokoma. Miotom- moiotom itu mempunyai serabut otot seran lintang yang terletak longitudinal. Ujung serabut-serabut otot itu menyisip masuk kedalam miokomata. Kontraksi dari miotom-miotom yang bersifat segmental ini menyebabkan terjadinya gerakan tubuh meliuk-liuk, dan dengan cara inilah hewan ini berenang. (Indriwati, 2009: 95) Gambar bagian dorsal miotom

Gambar 5. Penampang melintang embrio dari Amphioxus (Sumber: Anonim ,2011) e. Sistem Digestivus (Pencernaan Makanan) 1.

Gambar 5. Penampang melintang embrio dari Amphioxus (Sumber:

Anonim ,2011)

  • e. Sistem Digestivus (Pencernaan Makanan)

    • 1. Susunan alat pencernaan makanan

Mulutnya mengarah ke tudung oral. Rongga mulut yang tertutup oleh tudung oral itu merupakan suatu eksoderm yang dibatasi oleh vestibulum atau rongga bukal yang berbentuk corong. Di belakang vestibulum terdapat velum vertikal yang mempunyai sebuah lubang dibagian tengahnya yang dikenal sebagai enterostom. Enterostom itu juga disebut mulut. Karena enterostom mengarah ke suatu faring ang dibatasi olehendoderm dan tidak mengarah ke vestibulum yang dibatasi oleh eksoderm seperti yang terjadi pada stomodeum, mulut itu tidak bisa disamakan dengan mulut dari kordata, maka dari itu bagian depan yang membuka kearah vestibulum merupakan mulut yang sesungguhnya. Bagian-bagian tepi dari velum mempunyai 12 atau lebih tentakel-tentakel

velar yang bentuknya ramping dan bersilia yang secra normal menkgarah kebelakang membentuk suatu saringan. Enterostom itu mengarah ke faring. (Indriwati, 2009: 96)

Gambar 6. Penampang melintang tubuh Amphioxus (Juni, 2009) Faring merupakan suatu kantong besar dan memipih pada

Gambar 6. Penampang melintang tubuh Amphioxus (Juni, 2009)

Faring merupakan suatu kantong besar dan memipih pada bagian sampingnya, dindinya dipenuhi oleh lebih dari 150 pasang celah insang yang tidak mempunyai lembaran insang. Faring membuka pada bagian anteriormengarah lurus ke saluran pencernaan makanan yang tersusun dari

bagian-bagi

an berikut:

  • 1. Esofagus bersilia

  • 2. Usus tengah yang lebar

  • 3. Usus belakang yang sempit yang diakhiri dengan anus yang terletak

pada tempat bermulanya sirip ekor. Usus itu mempunyai beberapa daerah bersilia pada selaputnya, di dalam usus tengah itu terdapat saluran lateral dari silia yang berbentuk sabit yang menyalurkan makanan ke dalam divertikulum usus tengah.

  • 2. Proses Makan

Amphioxus memasukkan makanan ke dalam mulut dengan cara mengalirkan air dengan menggunakan gerakan silia yang terdapat pada faring. Bahan makanannya organik kecil syang masuk bersamaan aliran

air. Hewan seperti ini disebut “ciliary feeder”. Dari faring diteruskan ke

rongga atrial melalui celah insang. Lalu dikeluarkanb ke atriopor. Pada saat makan, tudung oral diperlebar dan sirip oral ditonjolkan ke depan, dengan demikian dapat mencegah masuknya pasir ke dalam mulut. Aliran air dalam mulut diatur oleh gerakan silia dari organ jentera. Makaqnan yang sudah tercampur dengan mukosa itu dimasukkan ke rongga epifaringeal. Dari sini makanan dan lembaran sabuk makosa

dialirkan oleh silia ke dalam esofagus

lalu dipindahkan dari esofagus ke

.. dalam usus tengah. Dari usus tengah makanan itu diteruskan ke divertikulum usus tengah. Cincin iliolik atau iliokolonik mengaduk makanan sehingga makanan itu bercampur dengan enzim. Selanjutnya makanan diteruskan ke usus belakang dan ke anus.

air. Hewan seperti ini disebut “ciliary feeder”. Dari faring diteruskan ke rongga atrial melalui celah insang.

Gambar 7. Saluran pencernaan Amphioxus (Juni, 2009)

  • f. Sistem Respirasi (Pernapasan) Faring Ampioxus mempunyai fungsi utama sebagai alat pencernaan makanan, tetapi pada beberapa jenis vertebrata faring tidak berkaitan dengan proses pencernaan, namun dispesialisasikan sebagai alat respirasi karena adanya insang. Pada Ampioxus pertukaran O 2 dan CO 2 dari aliran air ke dalam darah terjadi pada saat air melalui celah insang. Tetapi kenyataan itu diragukan mengingat darah Ampioxus tidak mengandung

pigmen respirasi. Dan diperkirakan proses pertukaran gas ini terjadi pada seluruh permukaan tubuh, terutama pada dinding athrium.

  • g. Sistem Sirkulasi (Peredaran Darah)

Ampioxus tidak mempunyai jantung. Darahnya tidak mengandung pigmen respirasi, tidak mengandung butir-butir darah, dan tidak berwarna. Darah tidak hanay terdapat di dalam pembuluh darah, tetapi juga terdapat di dalam pembuluh limfa sekitar jari-jari sirip, dan di dalam lipatan metapleural. Pembuluh-pembuluh darah itu homolog dengan arteri dan vena pasa sistem sirkulasi pada vertebrata tingkat tinggi. Pada dasarnya arteri memiliki dinding otot dan aorta dorsalnya memiliki selubung endotellium. Aorta ventral terletak di bawah faring di dalam rongga sub-endostil. Aorta ventral itu memompa darah ke arah depan karena adanya kontraksi peristaltic. Ujung anterior dari aorta ventralberhubungan dengan arteri carotid eksterna. Dari aorta ventral keluar percabangan arteri-arteri brankial afferen yang mengarah ke atas menuju ke arah dinding faringeal pada kedua sisi. Arteri brankial afferent, pada bagian pangkalnya mempunyai penonjolan yang bersifat kontraktil yakni bubilli, yang berfungsi untuk memompa darah. Arteri-arteri brankial affernt itu bercabang tiga menembus lembaran insang primer, dan melalui sinaptikula masing-masing bercabang dua menuju ke lembaran insang sekunder. Pembuluh- pembuluh darah itu membentuk anyaman vascular yang mensuplai darah ke nefridia. Darah dikumpuklan dari lembaran insang nefridia oleh arkus aorta atau pasangan pembuluh darah brankial efferent. Di dalam pembuluh-pembuluh darah afferent dan efferent darah dikeluarkan ke aliran air respirasi, tetapi tidak terjadi pertukaran oksigen karena darah tidak mengandung pigmen respirasi. Pembuluh darah brankial efferent pada tiap sisinya terbuka ke arah aorta dorsal lateral yang

terletak pada rongga epifaringeal. Aorta dorsal lateral sebelah kanan lebih menonjol didandingkan yang kiri, keduanya berlanjut ke rostrum sebagai arteri carotid internal. Kedua unit aorta dorsal lateral di belakang faring membentuk aorta dorsal tengah yang terletak di antara notokord dan intestine. Aorta dorsal mempunyai banyak arteriparietal yang menuju ke dinding tubuh dan intestine, dimana arteri-arteri itu akan membentuk anyamananyaman di dalam rongga limfa, kemudian diteruskan ke belakang sebagai arteri kaudal yang menuju ke ekor. Dari rongga limfa, darah intestine dikumpulkan ke dalam vena sub- intestin. Vena sub-intestine merupakan anyaman. Vena itu membentang di bawah intestine, dan darahnya mengalir ke depan. Darah dari daerah ekor dikumpulkan oleh vena kaudal yang yang bergabung dengan vena sub- intestinal. Vena kaudal juga bergabung dengan kedua vena cardinal posterior. Pembuluh darh kecil di bagian anterior dari usus tengah membentuk vena porta hepatic pendek yang lebar yang berjalan sepanjang bagian dorsal dari divertikulum usus tengah. Vena hepatic memasuki kantung yang menyerupai sinus venosus, dari situ aorta ventral berasal. Sepasang vena parietal yang terletak di atas usus mengembalikan darah dari dinding tubuh dorsal ke dalam sinus venosus. Pada vena transversal yang kecil mengembalikan darah ke aorta ventral. Di sepanjang dinding tubuh pada tiap-tiap sisi dari daerah gonad terdapat sebuah vena cardinal anterior dan sebuah vena cardinal posterior yang menerima darah dari vena segmental kecil yang yang berasal dari dinding tubuh., mioton dan gonad. Vena cardinal anterior dan posterior, pada tiap sisinya memasuki suatu duktis Cuvieri atau vena cardinal yang tepat berada di belakang faring. Kedua duktus ini masuk ke dalam atrium untuk bergabung dengan sinus venosus. Dalam system pembuluh darah dari hewan ini tidak terdapat system portal renalis dan portal hepatic yang sesungguhnya, sebab hewan ini tidak memiliki ginjal dan hati yang sebenarnya. System

sirkulasi yang demikian juga ditemukan pada hewan-hewan vertebrata.

  • h. Sistem Ekskretorius (Pengeluaran)

Organ ekskresi kira-kira ada 90 pasang nefridia yang bertipe tertutup yang tersusun secara segmental yang disebut protonefridia. Nefridia-nefridia tersebut terletak di atas celah insang pada tiap sisi berhubungan dengan lembaran-lembaran insang primer. Tiap protonefridium merupakan suatu pembuluh nefridial yang melekuk yang mempunyai kelompok-kelompok pembuluh kecil yang berakhir pada solenosit. Tiap solenosit mempunyai sebuah kepala yang berinti bundar yang mengarah ke tubulus kecil yang mengandung flagel yang selalu bergetar. Berkas-berkas solenosit menyebar ke dalam salura-saluran coelom longitudinal dorsal dan terendam di dalam cairan soelom. Nefridia jugadilayani oleh pembuluh darah kecil. Saluran nefridia masuk ke atrium melalui nefridiofor pada ujung atas dari celah insang yang terletak di sebrang lembaran insnag sekunder. Jadi salah satu ujung protonefridium terletak di dalam soelom. Dan ujung lain terbuka kea rah eksterior atau atrium. Protonefridia mengabsirbsi sisa-sisa Nitrogen dari inus darah dan cairan soelom dengan cara difusi dan memindahkannya ke dalam atrium. Di samping deretan protonefridia terdapat nefridium besar dari Hatchek yang terletak di atas soelom sedikit di sebelah kiri dari notokord, dan itu menyerupai protonefridium yang mempunyai tubulus-tubulus kecil yang berakhir pada solenosit. Ujung anterior yang yang buntu terletak di depan celah Hatchek , sementara ujung posterior menghadap ke faring tepat di belakang velum. Nefridium Hatchek berhubungan dengan anyaman pembuluh darah kecil dan tiap solenosit dikelilingi oleh sebuah kantong kecil yang berfungsi mengabsorbsi sisa-sisa nitrogen. Pada dasar dari atrium terdapat pada papilla renalis yang kecil mungkin berperan sebagai alat eksresi. Nefridia dan Ampioxus berkembang dari ectoderm sehingga perkembangan dan strukturnya sama dengan nefridia dan Anelida poliseta,

tetapi pendapat berikutnya tidak memperhitungkan kesamaan, dan kesamaan itu hanya merupakan kasus pararelisme karena hubungan dari

dua kelompok adalah sangat „remote‟. Organ eksresi dari kordata itu

berupa ginjal mesodermal yang memerlukan tekanan darah arteri yang tinggi untuk penyaringan. Pada Ampioxus tidak terdapat ginjal dan jantung; eksresi melalui protonefridia hanay memerlukan tekanan darah yang rendah.

  • i. Sistem Reproduksi (Perkembangbiakan) Seksnya terpisah tetapi tidak dapat dibedakan antara jantan dan betinanya, kecuali pada gonad. Gonad, baik pada testes maupun ovary terletak di bagian ventrolateral dinding tubuh yang menghadap ke atrium. Terdapat 26 pasang testes atau ovary yang tersusun secara metamerik, yag terletak pada segmen 25 sampai 51 mulai dari bagian tengah faring sampai ke anus pada tiap sisinya. Tidak terdapat saluran genital. Jika gamet masak, dinding gonad pecah dan ovarium atau sperma menuju ke atrium dan selanjutnya keluar melalui atriopor. Fertilisasi terdapat di dalam air. (Indriwati, 2009:107) Perkembangan Telur mengalami pembelahan dewasa pertamanya sebelum meninggalkan ovary, tertutup pada membrane vitellin dan berdiameter 0-12 mm. fertilisasi terjadi di air/laut, sperma masuk ke dekat vegetal pole yang meberi rangsangan bagi sel telur (oosit kedua/tambahan) untuk melalui pembelahan keduanya. Nucleus jantan dan betina membentuk nucleus zigot tanpa membentuk nuclear membrane tetapi suatu spindle terbentuk pada kromosom yang tersusun. (Indriwati,

2009:108)

 Gambar 8. Fertilisasi pada Amphioxus (Sumber: Anonim ,2011) Setelah fertilisai, sitoplasma zigot segera disusun sebagai

Gambar 8. Fertilisasi pada Amphioxus (Sumber: Anonim ,2011) Setelah fertilisai, sitoplasma zigot segera disusun sebagai pemberi tanda bagian-bagian embrio. Sitoplasma bersih pada bagian separuh anterior akan membentuk ektoderma, sitoplasma kuningtelur pada bagian dorso-posterior memunculkan endoderma, granular crescent pada ujung posterior membentuk mesoderma dan ruang yang bersih pada bagian dorsal terletak diantara sitoplasma ektodermal dan endodermal yang memuat bahan untuk notokord dan tali syaraf. (Indriwati, 2009:109) Pembelahan Pemebelahan secara sempurna atau holoblastik, yaitu sejumlah kecil sel telur menunjukkan bahwa sel tersebut tidak dapat membelah secara sempurna. Pertama terjadi pembelahan secara vertical menjadi dua yang diawali pada kutub-kutub, pembelahan ketiga secara horizontal dan hanya melewati atas ekuator membentuk empat micromeres kecil yag dekat dengan badan polar serta empat megameres di bagian bawah. Selanjutnya secara perlahan menjadi tidak beraturan dan

sebuah sel berbentuk bola yang disebut morula. Morula selanjutnya mengalami pembelahan membentuk lubang dan rongga sentra adalah blastosoel yang berisi cairan yang mempunyai selapis sel dengan micromeres yag selanjutnya akan menjadi sisi anterior dan megameres akan menjadi sisi posterior. (Indriwati, 2009: 110)

sebuah sel berbentuk bola yang disebut morula. Morula selanjutnya mengalami pembelahan membentuk lubang dan rongga sentra

Gambar 9. Pembelahan holoblastik (Sumber: Anonim ,2011) Pada proses pembelahan, penyebaran bahan sitoplasmik dengan merata dan blastula memiliki jaringan sel yang berbeda. Sel ektodermal yang pipih dan berkolom terletak sepanjang bagian sentral, sel telur atau endodermal terletak pada bagian dorsal. Sedangkan bagian posterior sel kecil dari lapisan mesodermal. Pada bagian anterior terdapat sebuah tempat sel tali saraf yang akan membentuk notokord dan tali saraf. (Indriwati, 2009: 111) Grastulasi Lapisan endodermal berinvaginasi dan terbentulah blastosol, Invaginasi terus berlanjut sampai embrio berbentuk cangkir dan memilki rongga yang disebut archenteron. Pada ujung rongga dari archenteron terdapat blastopor yang mana memilki bibir doral yang

mengandung sel saraf, Sementara bibir dorsal dan ventral mengandung sel mesodermal. (Indriwati, 2009: 111)

f

mengandung sel saraf, Sementara bibir dorsal dan ventral mengandung sel mesodermal. (Indriwati, 2009: 111) f Gambar.

Gambar. 10. Peristiwa Grastulasi pada Amphioxus (Anonim, 2011) Gastrula memilki lapisan terluar yang berupa ektoderm yang akan membentuk epidermis, sistem saraf dan reseptor, dibawah ektoderm terdapat sel-selneural, di bagian dalam dekat archenteron terdapat

lapisan mesoderm yang akan membnetuk otot, jaringan ikat, dan sel- sel germ. dan juga endoderm yang akan membentuk saluran pencernaan dan divertikulum. (Indriwati, 2009: 112) Notokord: sel-sel yang diselubungi bibir dorsal blastopore tersembunyi dibagian dorsal archenteron. Sel-sel tersebut membentuk notokord yang keras. Tabung neural: sel-sel ektoderm sepanjang garis tengah dorsal membesar membentuk neural plate yang tenggelam ke arah dalam, dan sel-sel ektoderm di ats permukaannya tumbuh membentuk lipatan neural yang tumbuh dan bertemu di bawah jaringan saraf. Tidak seperti vertebrata, simpul saraf pada Amphioxus hampir seluruhnya dibentuk oleh jaringan saraf, sedangkan lipatan saraf tidak ikut berperan dalam proses pembentukannya. Mesoderm dan segmentasi: sel-sel mesodermal membentuk dua tali. Pada masing-masing tali akan membnetuk celah. Kedua celah tersebut memisah dan membentuk dua rongga selomik yang disebit enterosol. Terbentuk kantung-kantung mesodermal yang kan dipisahkan oleh didnding pemisah melintang menjadi somit-somit. Dinding- dindingpemisah tersebut pada akhirnya akan akan rusak sehingga somot-somit yang tadinya terpisah akan bergabung menjadi satu. Demikianlah rongga dibentik di mesoderm di bagian lateral dan ventral dr usus. Somit-somit dibedakan mnjaadi myotome, dermatome, sclerotome dan piring lateral mesoder. Bagian-bagian somit tersebut tersembunyi di di atas sebelah dalam myocoel dekat dengan tabung neural dan notokord. Myocoel adalh rongga kecil pada somit-somit bagian dorsal. (Indriwati, 2009: 112) Rongga kepala: dua kantung akan muncul dr ujung anterior dr archenteron, yang merupakan rongga kepala atau divertikulum usus. Kantung tersebut terpisah dr archenteron. Kantung itu terpisah dari archenteron. Divertikulum sebelah kiri tersisa kecil dan membentul

lubang Hatsheck‟s tetapi divertikulum sebelah kanan meluas menjadi rongga kepala myotome di anatar usu dan dinding usus. Usus: setelah deloiminasi notokord dan mesoderm, dinding archenteron hanya mengandung sel-sel endoderm. Ujung dari sel-sel endoderm tumbuh ke arah yang lain dan bergabung ke bawah notokord untuk membentuk saluran usus atau mesenteron. Lubang palka: segera setelah gastrulasi embrio akan melubangi membran vitellin dan berenang keluar ke permukaan laut. Pada saat ini embrio adalh tahap larva yang tidakmemilki mulut dan anus. (Indriwati, 2009: 119) Perkembangan Larva Larva bersilia katif berenang dan meluncur dengan cepat. Terdapat mulut yang terletak di sebelah kiri dari sisi ventral tengah, pada tepinya terdapat silia. Anus juga terletak di sisi kiri dari sisi ventral tengah. Bagian dorsal dan anus tumbuh sebuah ekor yang keluar dari bagian posterior. Di atas faring terdapat divertikulum yang merupakan bakal dari kumpulan kelenjar berglandular yang merupakan sebuah organ yang hanya di temukan saat larva dan menghilang selama metemorfosis. Terdapat insang yang yang berjumlah delapan pasang. (Indriwati, 2009: 120)

  • j. Sistem Nervus (Syaraf) Sistem nervus Ampioxus terdiri atas tabung neural (tali syaraf) yang terletak di atas norokord. Tali syaraf itu berawal dari sebelah belakang dari anterior notokord dan memanjang kea rah posterior sampai depan dari ujung belakang notokord. Di tabung neural terdapat lubang-lubang oleh adanya saluran sentral sempit (neurosoel). Sel-sel syaraf terkumpul pada sekitar saluran sentral dan serabut-serabut yang muncul dari sel-sel syaraf terletak lebih luar. Tabung neural yang terletak di sisi dorsal itu mempunyai beberapa pembuluh raksasa yang terletak dengan arah

memanjang. (Indriwati, 2009: 121) Saluran pada bagian anterior tidak membentuk otak, melainkan membentuk ventrikel. Dari bagian anterior tabung neural muncul dua pasang syaraf sensori yang menuju tudung oral, sirip, dan organ-organ indera. Tubuh di sebelah belakang dari vesikel serebral menerima syaraf spinalis yang muncul dari tabung neural dalam pasangan-pasangan segmental. Tiap syaraf spinal mempunyai sebuah akar dorsal dengan serabut-serabut sensori afferen yang masuk ke dalam tabung neural dan sebuah akar ventral yang tersusun dari serabut motor efferen yang terpisah meninggalkan tabung neural. Akar-akar dorsal berasal dari kulit dan akar- akar ventral menuju miotom, tetapi akar-akar dorsal dan ventral tidak bergabung membentuk syaraf spinal yang bercampur. (Indriwati, 2009:

122)

memanjang. (Indriwati, 2009: 121) Saluran pada bagian anterior tidak membentuk otak, melainkan membentuk ventrikel. Dari bagian

Gambar 11. Bintik mata pada Amphioxus (Sumber: Anonim, 2011) Ada suatu sistem syaraf autonom yang mempunyai 2 pleksus syaraf dalam otot polos usus. Sistem syaraf autonom hanya terdiri dari syaraf simpatetik yang mengontrol otot polos usus.

  • k. Sistem Reseptor (Sensoris) Syaraf sensori yang berujung pada miotom disebut sensori internal karena merespon stimulus internal, misalnya kontraksi otot dan propriseptor. Disamping itu ada pula reseptor eksternal, antara lain :

  • Oseli, merupakan bintik hitam yang tidak teratur sepanjang tabung neural. Oseli bersifat sensitif terhadap sinar. Mata memiliki lensa sensitif bergaris-garis yang disebut viterous body yang mensekresikan tudung berpigmen.

  • Bintik pigmen, terletak pada dinding paling depan dari vesikel serebral. Bintik pigmen berfungsi sensoris pada saat Sefalokordata membenamkan diri dengan bagian ujung anterior mencuat, untuk melindungi mata dari stimulus sinar yang berasal dari depan.

  • Organ Infundibular, merupakan suatu dispersi yang terdapat pada bagian dorsal dari vesikel serebral, berfungsi untuk mendeteksi perubahan tekanan cairan. Organ Infundibular dibatasi sel bersilia panjang.

  • Celah Koliker, merupakan kantung sel-sel ektodermal yang bersilia. Celah Koliker menandai neuropor yang menghilang pada saat hewan dewasa.

  • Papilla, merupakan sel-sel sensori yang terdapat pada sirip oral dan tentakel velar. Papilla merupakan organ peraba dan berfungsi sebagai kemoreseptor, indera gustator dan pencium.

  • Sel- sel sensori, barada menyebar di seluruh epidermis. Paling banyak terdapat pada sisi tubuh bagian dorsal dan sirip oral. Tiap sel sensori memiliki serabut syaraf berbentuk rambut yang muncul dari lapisan kutikula. Sel-sel sensori merespon sentuhan.

  • 3.1 Kesimpulan

BAB III

PENUTUP

Dari uraian diatas dapat disimpulkan

  • 1. Cephalokordata merupakan kelompok kordata primitive yang paling maju jika dibandingkan hewan Urokordata dan Hemikordata. Kemajuan ini ditandai dengan berkembangnya berbagai sistem.

  • 2. Amphioxus sebagai contoh reprasentatif dari Sefalokordata. Hewan ini tinggal di air yang dangkal, membenamkan dirinya dalam pasir dan hanya bagian ujung anterior yang mengandung tudung oral tersembul di permukaan air. Hewan ini dapat berenang aktif atau membenamkan diri ke dalam liang. Serta, hewan ini aktif di malam hari.

  • 3. Sefalokordata diklasifikasikan ke dalam 2 genus yaitu Asymmetron dan Branchiostoma (Amphioxus)

  • 4. Morfologi luar Amphioxus dibedakan menjadi rastum, notokord, sirip oral, velum, jari-jari sisrip dorsal, miosepta, sirip dorsal, myotom, sirip kaudal, anus, jari-jari sirip ventral, antipor, lipatan metapleural, gonad, faring, dan tudung oral.

  • 5. Anatoomi Amphioxus dibagi menjadi atrium, rongga tubuh, Sistem skeleton, sistem muskulus, sistem digestivus, sistem respirasi, sistem sirkulasi, sistem ekskretorius, sistem reproduksi, sistem nervus, dan sistem reseptor.

  • 3.2 Saran

    • 1. Pada pembelajaran mengenai materi sefalokordata tidak hanya belajar tentang materi ataupun teorinya saja, tetapi akan lebih baik jika kita dapat melakukan pengamatan langsung agar dapat memahami dengan lebih baik lagi.

    • 2. Pembahasan untuk materi ini diperlukan pemahaman yang dalam dan juga diperlukan banyak referensi, karena materi tentang kordata rendah ini masih banyak dimuat dalam literature yang ada.

REFERENSI

Anonim 1 . 2008. Chordates. (online) (www.wikispaces.com, diakses pada tanggal 16 September 2011) Anonim 2 . 2011. Cephalocordata. (online) (http://biozoom.blogspot.com, diakses pada tanggal 15 September 2011). Anonim 3 . 2011. Cephalocordata. (online) (http://www.anselm.edu, diakses pada tanggal 16 September 2011). Hall, W. P. 1973. Larvae, Marine Life and The Evolution of Diversity. Harvard University. Harvard. (diakses pada tanggal 16 September 2011) Indriwati, Sri Endah. 2009. Keanekaragaman Hewan Kordata Rendah. Malang:

Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran. Juni, Anugrah. 2009. Sefalokordata. (online) (http://anugragjuni.wordpress.com,diakses pada tanggal 16 September 2011)