Anda di halaman 1dari 33

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Pendahuluan
Kornea merupakan jaringan yang avaskular, bersifat transparan, berukuran 11-12 mm horizontal dan 10-11 mm vertikal, serta memiliki indeks refraksi 1,37. Kornea memberikan kontribusi 74 % atau setara dengan 43,25 dioptri (D) dari total 58,60 kekuatan dioptri mata manusia. Kornea juga merupakan sumber astigmatisme pada sistem optik. Dalam nutrisinya, kornea bergantung pada difusi glukosa dari aqueus humor dan oksigen yang berdifusi melalui lapisan air mata. Sebagai tambahan, kornea perifer disuplai oksigen dari sirkulasi limbus. Kornea adalah salah satu organ tubuh yang memiliki densitas ujung-ujung saraf terbanyak dan sensitifitasnya adalah 100 kali jika dibandingkan dengan konjungtiva.1 Kornea pada orang dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 mm di tepi dan diameternya sekitar 11,5 mm. 2 Dari anterior ke posterior, kornea mempunyai lima lapisan yang berbeda-beda:2,3 1. Lapisan epitel Suatu lapisan skuamosa anterior yang menebal di perifer pada limbus dimana lapisan ini bersinambung dengan konjungtiva dan merupakan sawar yang efisien terhadap masuknya 2. Lapisan Bowman merupakan lapisan jernih aseluler yang merupakan bagian stroma yang berubah 3. Stroma Terdiri dari serabut kolagen, substansi dasar, dan fibroblas yang menjadi dasar dari kornea. Bentuk serabut kolagen yang regular dan diameternya yang kecil menyebabkan transparansi kornea. 4. Membran Descemet
1 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Adalah sebuah membran elastik yang jernih yang tampak amorf pada pemeriksaan mikroskopi elektron dan merupakan membran basalis dari endotel kornea 5. Lapisan endotel Suatu lapisan tunggal dari sel yang tidak mengalami regenerasi yang secara aktif memompa ion dan air dari stroma untuk mengontrol hidrasi dan transparansi kornea Perbedaan antara kapasitas regenerasi epitel dan endotel penting. Kerusakan lapisan epitel, misalnya karena abrasi, dengan cepat diperbaiki. Endotel, yang rusak karena penyakit atau pembedahan misalnya, tidak dapat beregenerasi. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya, cedera pada epitel hanya menyebabkan edema lokal sesaat stroma kornea yang akan menghilang bila sel-sel itu beregenerasi.2, 3 Fungsi kornea adalah:3 Merefraksikan cahaya dan bersama dengan lensa memfokuskan cahaya ke retina Melindungi struktur mata internal

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus yang berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepas selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan. Sensasi dingin oleh Bulbus Krause ditemukan pada daerah limbus. 1,2

2 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Keratitis
Keratitis adalah kondisi di mana terjadi proses peradangan pada kornea mata, yang dapat disebabkan oleh banyak hal. Berbagai jenis infeksi, mata kering, trauma, dan berbagai macam penyakit medis dapat menyebabkan keratitis. Bahkan pada beberapa kasus keratitis tidak 5 diketahui penyebabnya. Karena kornea memiliki banyak serabut nyeri sehingga pada keratitis sering timbul rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit ini diperberat oleh gesekan palpebra (terutama palpebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Fotofobia terutama disebabkan oleh kontraksi iris yang meradang. Selain itu, oleh karena kornea berfungsi sebagai media untuk refraksi sinar dan merupakan media pembiasan terhadap sinar yang yang masuk ke mata maka lesi pada kornea umumnya akan mengaburkan penglihatan terutama apabila lesi terletak sentral dari kornea. Keratitis dapat memberikan gejala mata merah, rasa silau dan merasa ada yang mengganjal atau kelilipan. 2,4 Keratitis dapat diklafikasikan berdasarkan lokasi, derajat penyakit dan etiologinya.5 Berdasarkan lokasi yang terkena:2
3 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

1. 2. 3. 4.

Keratitis Keratitis Keratitis Keratitis

Epithelial (superficial) Subepithelial Stroma (Interstitial) Endotelial (Profunda)

Berdasarkan derajat penyakitnya:5 1. 2. 3. 4. Ringan Sedang Berat Berhubungan dengan peradangan bagian lain dari mata Keratokonjungtivitis (kornea dan konjungtiva) Keratouveitis (kornea dan traktus uveal)

Berdasarkan etiologi:6 1. Infektif Keratitis Keratitis Keratitis Keratitis Keratitis Bacterial Viral Jamur Parasit Interstisial (Sifilis, Tuberkulosa, Lepra)

2. Non infektif Keratitis Pungtata Non- Viral Disebabkan obat-obatan, alergi dan lensa kontak Keratitis Alergi Keratokonjungtivitis Flikten Keratokonjungtivitis Vernal Keratitis Paparan

4 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Karena gangguan lubrikasi mata dan proteksi palpebra pada kornea Terdiri atas:
Keratitis Lagoftalmus : akibat kelopak mata tidak dapat

menutup sempurna sehingga terjadi kekeringan pada kornea Keratitis Neuroparalitik : gangguan pada Nervus Trigeminal sehingga sensibilitas dan metabolisme kornea terganggu Keratitis pada keratokonjungtivitis sika : kekeringan permukaan kornea karena gangguan sekresi air mata Fotokeratitis Akibat paparan sinar UV dari matahari atau lampu. Dapat sembuh sendiri setelah 1-2 hari. Keratitis Bacterial Keratitis bakteri merupakan kelainan yang berbahaya disebabkan dapat mengakibatkan kebutaan. Salah satu sifat khasnya adalah perkembangan yang cepat, kerusakan kornea dapat lengkap dalam 24-48 jam pada beberapa spesies bakteri. Ulserasi kornea, pembentukan abses stroma, edema kornea, dan peradangan segmen anterior merupakan karakteristik penyakit ini.7 Bakteri yang dapat menyebabkan infeksi kornea, yaitu:3,7 Staphylococcus epidermidis Staphylococcus aureus Sterptococcus pneumonia Koliformis Pseudomonas Haemophilus

5 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Enterobacteriaceae (termasuk Klebsiella, Enterobacter, Serratia, dan Proteus)

Faktor predisposisi 3 ,7 Penggunaan lensa kontak Penurunan kekebalan pertahanan sekunder untuk malnutrisi, alkoholisme, dan diabetes (Moraxella). Kekurangan air mata Perubahan struktural atau malposisi dari kelopak mata (termasuk entropion dengan trichiasis dan lagophthalmos). Penggunaan kortikosteroid topikal Trauma Patofisiologi Konjungtiva dan kornea mendapat perlindungan dari infeksi dengan:3 Kedipan mata Pembersihan debris dengan aliran air mata Penjeratan partikel asing oleh mucus Sifat antibakteri dari air mata Fungsi sawar epitel kornea (Neisseria gonnorrhoea, corynebacterium diphteriae, listeria dan haemophilus dapat menembus sel epitel intak) Gangguan dari lapisan epitel kornea ataupun lapisan air mata yang abnormal menyebabkan masuknya mikroorganisme ke dalam stroma kornea, di mana mereka dapat berkembang biak dan menyebabkan ulserasi. Faktor Virulensi bakteri memulai terjadinya invasi mikroba yang dapat membantu proses infektif. Selama tahap awal, lapisan epitel dan stroma yang terkena menjadi bengkak dan mengalami nekrosis. Sel-sel inflamasi akut (terutama neutrofil) mengelilingi ulkus awal dan menyebabkan nekrosis pada lamellae stroma.7 Difusi produk inflamasi (termasuk sitokin) memunculkan sel-sel inflamasi ke ruang bilik mata depan yang kemudian menciptakan hipopion. Racun bakteri yang berbeda dan enzim (termasuk elastase dan protease basa) diproduksi selama infeksi kornea, membantu perusakan kornea.7 Gejala dan tanda3,7 Subjektif:
6 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

1. Nyeri biasanya berat kecuali bila kornea anestetik 2. Sekret purulen 3. Mata merah 4. Penglihatan kabur 5. Silau (fotofobia) Objektif: 1. Injeksi siliar 2. Hipopion 3. Synechiae posterior 4. Edema palpebra superior 5. Opasitas kornea berwarna putih (bila sudah timbul ulkus kornea)

Pemeriksaan Laboratorium7

Sampel dapat diambil dari kelopak mata, konjungtiva, lensa kontak yang bersangkutan atapun langsung dari ulkus kornea Slide mikroskop dibuat dengan pewarnaan gram ataupun giemsa Kultur pada agar Sabouraud

Terapi3,7 Antibiotik topikal intensif


1. Terapi ganda

Gram (-): Tobramisin 14 mg/ml, 1 tts/jam dlm24 jm pertama (Gentamisin, polimiksin)


7 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Gram (+):Cefazolin 50 (Vancomyxin, Basitrasin) 2. Monoterapi

mg/ml,

tts/jam

dlm24

jm

pertama

Fluorokuinolon (Siprofloksasin, Ofloksasin)

Keratitis Viral
1. Keratitis herpes simpleks

Herpes simpleks (HSV) tipe 1 merupakan virus DNA yang sering menginfeksi manusia. Infeksi terjadi melalui kontak langsung dari kulit atau membran mukosa dengan lesi infeksius atau sekret. HSV tipe 1 terutama menginfeksi orofacial dan ocular sedangkan HSV tipe 2 umumnya menular seksual dan menyebabkan penyakit kelamin. HSV tipe 2 walaupun jarang namun dapat menginfeksi mata melalui kontak dengan lesi genital orofacial dan kadang ditransmisikan ke neonatus melalui jalan lahir dari ibu yang terinfeksi HSV tipe 2 sehingga menyebabkan keratitis dan korioretinis infantil. 3,7 Biasanya disertai dengan:3

Demam Lesi vesikular kelopak mata Konjungtivitis folikular Limfadenopati preaurikular Kebanyakan asimtomatik

Patofisiologi 7 Infeksi HSV-1 paling sering terjadi dalam distribusi mukokutan dari saraf trigeminal. Setelah infeksi primer, virus menyebar dari sel-sel epitel yang terinfeksi untuk dekat ujung saraf sensorik dan diangkut sepanjang akson saraf ke badan sel yang terletak di ganglion trigeminal. Di sana, genom virus memasuki inti neuron, di mana ia
8 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

tetap tanpa batas dalam keadaan laten. Infeksi primer dari salah satu cabang nervus trigeminal (opthalmic, maksila, mandibula) dapat menyebabkan infeksi laten sel saraf dalam ganglion trigeminal. Penyebaran interneuronal HSV dalam ganglion memungkinkan pasien menderita penyakit mata di kemudian hari tanpa pernah dapat infeksi mata primer HSV-1. Infeksi HSV ocular rekuren dianggap sebagai reaktivasi virus dalam ganglion trigeminal yang bermigrasi menuruni akson saraf untuk menghasilkan infeksi pada jaringan okular. Bukti menunjukkan bahwa virus juga dapat hidup secara laten di dalam jaringan kornea, yang merupakan sumber potensial penyakit berulang dan menyebabkan penyakit yang diturunkan donor HSV dalam tranplantasi kornea mata. Gejala dan tanda2,7 Subjektif: Nyeri minimal akibat anestesi kornea Fotofobia Penglihatan kabur mata berair (sekret serous) mata merah

Objektif: HSV keratitis terbagi menjadi 4 kategori:


a. Infeksius Epitelial Keratitis (keratitis dendritik) ditandai dengan

vesikel pada kornea, ulkus dendritik dan ulkus geografis


b. Neurotrophic

Keratopati ditandai dengan permukaan kornea irregular dan erosi dari epitel serta ulkus neurotropik dan adanya penurunan sensitivitas kornea yang mengakibatkan hilangnya tranparansi kornea. Keterlibatan stroma menyebabkan parut permanen sehingga terjadi

c. Peradangan stroma kornea (keratitis diskiformis) ditandai edema

9 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

penurunan tajam penglihatan. Dapat menyebabkan terjadinya komplikasi berupa uveitis, trabeculitis dan glaucoma sekunder
d. Endothelitis ditandai dengan keratic presipitat (KPs), edema

epitel, hilangnya infiltrate kornea atau neovaskularisasi. Iritis ringan sampai sedang dapat terjadi.

Pemeriksaan Laboratorium 2,7

Usapan epitel dengan Giemsa dapat menunjukkan sel-sel raksasa multinuklear, yang dihasilkan dari perpaduan dari sel-sel epitel kornea yang terinfeksi dan virus intranuclear inklusi. Namun, hasil sitologi negatif tidak mengecualikan infeksi HSV. Kultur virus memiliki kepekaan hingga 70% dan juga memungkinkan untuk identifikasi subtipe HSV. Polymerase chain reaction menggunakan sampel air mata, epitel kornea, atau bilik mata depan dapat mendeteksi DNA virus dalam kasus-kasus herpeskeratitis atau keratouveitis. Namun tidak dapat membedakan antara infeksi laten ataum infeksi aktif HSV

Terapi 2 a. Debridement epithelial Debridement dilakukan dengan aplikator berujung kapas khusus. Obat siklopegik seperti atropin 1% atau homatropin 5 % diteteskan ke dalam sakus konjungtiva dan ditutup dengan sedikit tekanan. Pasien harus diperiksa setiap hari dan diganti penutupnya sampai defek korneanya sembuh umumnya dalam 72 jam. Pengobatan tambahan dengan antivirus topikal mempercepat pemulihan epitel. b. Terapi obat IDU(Idoxuridine):analog pirimidin terdapat dalam larutan 1% dan diberikan setiap jam; salep 0,5% diberikan setiap 4 jam Vibrabin: sama dengan IDU tetapi hanya terdapat dalam bentuk salep

10 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Trifluorotimetidin (TFT): sama dengan IDU, diberikan 1% setiap 4 jam Asiklovir: dalam bentuk salep 3%, diberikan setiap 4 jam Asiklovir oral dapat bermanfaat untuk herpes mata berat, khususnya padaorang atopi yang rentan terhadap penyakit herpes mata dan kulit agresif

c. Terapi Bedah Keratoplasti penetrans mungkin diindikasikan untuk rehabilitasi penglihatan pasien yang mempunyai parut kornea yang berat, namun hendaknya dilakukan beberapa bulan setelah penyakit herpes non aktif. Pasca bedah, infeksi herpes rekurens dapat timbul karena trauma bedah dan kortikosteroid topikal yang diperlukan untuk mencegah penolakan transplantasi kornea. Juga sulit dibedakan penolakan transplantasi kornea dari penyakit stroma rekurens d. Pengendalian Mekanisme Pemicu yang Mengaktifkan Kembali Infeksi HSV Infeksi HSV rekurens pada mata banyak dijumpai, kira-kira sepertiga kasus dalam 2 tahun setelah serangan pertama. Sering dapat ditemukan mekanisme pemicunya, setelah dengan teliti mewancarai pasien. Begitu ditemukan pemicu itu dihindarkan. Aspirin dapat dipakai untuk mencegah demam, pajanan berlebihan terhadap sinar matahari atau sinar ultraviolet dapat dihindari, keadaan-keadaan yangdapat menimbulkan stress psikis dapat dikurangi, dan aspirin dapat diminum setelah menstruasi 2. Keratitis Herpes Zoster Oftalmika Infeksi virus varicella-zoster (VZV) terjadi dalam dua bentuk: primer (varicella) dan rekurens (zoster). Manifestasi pada mata jarang terjadi pada varicella namun sering pada zoster oftalmik kerapkali disertai keratouveitis. Meskipun keratouveitis zoster pada
11 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

anak umumnya tergolong penyakit jinak, pada orang dewasa tergolong penyakit berat yang dapat mengakibatkan kebutaan.2 Tidak seperti infeksi pada herpes simpleks pada herpes zoster biasanya terdapat periode prodromal. Manifestasi ocular biasanya didahului oleh munculnya vesikel pada distribusi bagian oftalmika saraf trigeminus. 3 Patofisiologi 7 Ketika dibebaskan dari ganglion trigeminal, VZV (herpes virus tipe 3) rekurens bergerak ke nervus pertama (ophtalmik) dari saraf trigeminal ke saraf nasosiliar. Cabang ini kemudian membagi persarafan ke permukaan bola mata dan kulit daerah pangkal hidung sampai ke ujungnya. Proses ini biasanya memakan waktu 3-4 hari untuk partikel virus untuk mencapai ujung saraf. Sebagai perjalanan itu virus VZV rekurens mengakibatkan peradangan perineural dan intraneural, yang dapat merusak mata sendiri dan / atau struktur sekitar lainnya. Gejala dan tanda

Subjektif: 4,7 Fase prodromal dari ophthalmicus herpes zoster biasanya termasuk penyakit influenzalike dengan kelelahan, malaise, dan demam ringan yang dapat berlangsung hingga 1 minggu sebelum ruam muncul unilateral pada dahi atas, kelopak mata atas, dan hidung (pembagian pertama saraf trigeminal dermatom atau V1). Sekitar 60% dari pasien memiliki berbagai tingkat nyeri dermatomal sebelum ruam muncul.
12 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Penglihatan berkurang dan mata merah Objektif:2,4 Pada kelopak akan terlihat vesikel dan infiltrate pada kornea. Lesi epitelnya keruh dan amorf, kecuali kadang terdapat psedodendrit linear yang mirip dendrit pada keratitis HSV. Selain itu terdapat kekeruhan stroma yang disebabkan edema dan infiltrasi sel yang awalnya hnaya pada lapisan subepithelial. Keadaan ini diikuti dengan penyakit stroma dalam dengan nekrosis dan vaskularisasi. Kehilangan sensasi kornea selalu merupakan ciri yang mencolok dan sering berlangsung berbulan-bulan setelah lesi kornea tampak sudah sembuh. Terapi2 Acyclovir oral 800mg dibagi dalam 5 kali sehari untuk 10-14 hari. Terapi hendaknya dimulai 72 jam setelah timbulnya kemerahan (rash). Kortikosteroid topikal mungkin diperlukan untuk mengobati keratitis berat, uveitis, dan glaucoma sekunder.

Keratitis Jamur Keratitis jamur banyak dijumpai pada pekerja pertanian. Biasanya dimulai dengan rudapaksa pada kornea oleh ranting, pohon, daun. Dan bagian tumbuh-tumbuhan. Namun, seiring dengan maraknya pemakaian kortikosteroid dalam pengobatan mata banyak pula dijumpai pada masyarakat perkotaan.2,4 Kebanyakan keratitis fungi (ulkus fungi) disebabkan organism oportunis seperti Candida, Fusarium, Aspergillus, Penicilium, Cephalosporium dan lain-lain. Tidak ada ciri khas yang membedakan macam-macam ulkus fungi ini. 2 Penyakit ini harus dipikirkan pada :3 Tidak adanya respon terhadap terapi antibiotik
13 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Kasus trauma dengan bahan tumbuhan Kasus yang berkaitan dengan pemakaian steroid jangka panjang

Patofisiologi7 Organisme dapat menembus membran Descemet utuh dan mendapatkan akses ke bilik mata depan atau segmen posterior. Mycotoxins dan enzim proteolitik menambah kerusakan jaringan. Fungi tidak dapat menembus epitel kornea utuh dan tidak masuk korn ea dari pembuluh episcleral limbal. Gejala dan tanda Subjektif:7 Sensasi benda asing Meningkatkan rasa sakit atau ketidaknyamanan mata Tiba-tiba buram Mata merah yang tidak biasa Air mata berlebih dan sekret berlebih. Peningkatan kepekaan cahaya Objektif:2,7 Konjungtiva injeksi Lesi satelit merupakan plak endotel dengan tepian tidak teratur dibawah lesi utam akornea Abses kornea Infiltrasi stroma Reaksi camera okuli anterior hebat Hipopion Pemeriksaan laboratorium2,3,4 Pemeriksaan mikroskopik dengan KOH 10 % terhadap korekan kornea yang menunjukan adanya hifa kecuali yang disebabkan oleh candida mengandung psedohifa atau bentuk ragi. Dapat dibiak pada media agar Sabaroud cair dan padat namun inkubasi membutuhkan waktu lama.
14 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Terapi7

Polyenes termasuk natamisin, nistatin, dan amfoterisin B. Azoles (imidazoles dan triazoles) termasuk ketoconazole, miconazole, flukonazol, itraconazole, econazole, dan clotrimazole

Keratitis Acanthamoeba Acanthamoeba adalah protozoa hidup-bebas yang terdapat didalam air tercemar yang mengadung bakteri dan materi organik. Infeksi kornea oleh Acanthamoeba adalah komplikasi yang semakin dikenal pada pengguna lensa kontak lunak. Infeksi ini juga ditemukan pada buka npemakai lensa kontak, setelah terpapar pada air atau tanah yang tercemar.2 Gejala dan tanda2 Subjektif: Rasa sakit yang tidak sebanding dengan temuan kliniknya Mata merah Fotofobia Objektif: Tanda klinik khas adalah ulkus kornea indolen, cincin stroma dan infiltrat perineural. Pemeriksaan laboratorium2,3 Sediaan histopatologik menampakkan adanya bentuk-bentuk amuba (kista atatu trofozoit). Biakan pada media khusus yang dipenuhi Escherichia coli. Larutan dan lensa kontak juga harus dibiak. Terapi2 Debidement epithelial Terapi obat
15 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Isethionate Propamidine topikal (larutan 1 %) dan tetes mata

Neomycin (20mg/mL) Biquanide polyhexamethylene (larutan 0,01-0,02%) dikombinasi dengan obat lain ataupun monoterapi

Keratitis Interstitial Terminologi ini digunakan untuk setiap keratitis yang mengenai stroma kornea tanpa keterlibatan epitel. Penyebab klasik tersering adalah sifilis (lues). Pada keratitis interstitial akibat lues congenital didapatkan neovaskularisasi dalam. Keratitis interstitial juga dapat terjadi akibat alergi atau infeksi spiroket ke dalam stroma kornea dan akibat tuberculosis. 3,4 Gejala dan tanda4 Subjektif: Fotofobia Lakrimasi Menurunnya visus

Objektif: Seluruh kornea keruh sehingga iris sukar dilihat. Terdapat injeksi siliar disertai serbukan pembuluh darah ke dalam sehingga memberikan gambaran merah kusam (salmon patch). Seluruh kornea dapat berwarna merah cerah. Terapi3,4 Tergantung pada penyebabnya. Cangkok kornea mungkin diperlukan

Keratokonjungtivitis Flikten Keratokonjungtivitis flikten adalah radang epitel kornea dan konjungtiva yang merupakan reaksi imun yang mungkin sel mediated atau
16 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

reaksi hipersensitivitas tipe lambat pada jaringan yang sudah sensitif terhadap antigen atau toksin endogen.2,4 Flikten adalah akumulasi setempat limfosit, monosit, makrofag, dan akhirnya netrofil. Lesi ini mula-mula muncul di limbus, namun pada serangan-serangan berikutnya akan mengenai konjungtiva bulbi dan kornea. Fliktenul kornea umumnya bilateral, berakibat sikatriks dan vaskularisasi, namun fliktenul konjungtiva tidak akan meninggalkan bekas.2 Penyakit ini sering dihubungkan dengan S. aures di Negara-negara berkembang, dahulu sering dihubungkan dengan M. tuberculosis pada anakanak malnutrisi di seluruh Negara yang endemic tuberkulosis.8 Patofisiologi8 Pada awalnya lesi yang timbul sedikit menyerupai sebuah flikten (benjolan putih kemerahan dikelilingi konjungtiva yang kemerahan) di limbus, dimana pembuluh darah episklera masih dapat terlihat melalui lesi ini tapi sebenarnya merupakan nodul yang padat. Setelah 4 hari lesi tidak tampak berkilauan lagi karena terjadi nekrosis dan ulserasi di tengahnya, kemudian nodul mengering dan menjadi flatter. Setelah 2 atau 3 minggu bagian yang nekrotik menghilang dan bagian yang hiperemis berkurang. Lesi sembuh tanpa meninggalkan bekas, kecuali lesi pada kornea akan menimbulkan sikatrik. Gejala dan tanda8 Subjektif: Lakrimasi Fotofobia Nyeri Perasaan panas disertai gatal Tajam penglihatan berkurang apabila mengenai pupil

17 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Objektif: Flikten pada kornea berupa benjolan berbatas tegas berwarna putih keabuan, dengan atau tanpa neovaskularisasi Pada limbus dapat didapatkan benjolan putih kemerahan dikelilingi daerah konjungtiva yang hiperemia.

Menebalnya epitel kornea Terapi8 Flikten yang tidak diobati akan menyembuh dalam 10-14 hari, namun terapi topikal kortikosteroid (deksametason 0,1% 4 jam sekali pada hari pertama. Kemudian ditappering off dapat memperpendek proses ini menjadi 1-2 hari dan mengurangi timbulnya parut dan vaskularisasi.2,8 Pada kasus alergi terhadap Sthaphylococcus perlu diperhatikan juga kebersihan kelopak mata, dapat dicuci dengan menggunakan air hangat yang dicampur dengan shampo bayi untuk mengurangi kolonisasi bakteri dan akumulasi kelenjar sebasea. Pemberian antibiotik diperlukan. Anak-anak yang lebih dari 8 tahun diberikan doksisiklin 100 mg satu kali perhari selama 10 hari, sedangkan anak yang usianya kurang dari 8 tahun diberikan eritromisin dengan dosis 25 mg/KgBB selama 7-10 hari bersama dengan pemberian steroid topical.8

Keratokonjungtivitis Sika Keratokonjungtivitis sika adalah suatu keadaan keringnya permukaan kornea dan konjungtiva. Kelainan ini terjadi pada penyakit yang mengakibatkan:
1. Defisiensi komponen lemak air mata

Misalnya blefaritis menahun, distikiasis dan akibat pembedahan kelopak mata


2. Defisiensi kalenjar air mata

18 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Misalnya sindrom Sjorgren, sindrom Riley day, alakrimia congenital, aplasi congenital saraf trigeminus, sarkoidosis limfoma kalenjar air mata, obat diuretic, atropine dan usia tua
3. Defisiensi komponen musin

Misalnya Benign ocular pempigoid, defisiensi vitamin A, trauma kimia, sindrom Stevens Johnson, penyakit yang menyebabkan cacatnya konjungtiva
4. Akibat penguapan berlebihan

Misalnya Keratitis lagopthalmus

neuroparalitik,

hidup

di

gurun

pasir,

keratitis

5. Karena parut pada kornea atau menghilangnya mikrovil kornea4

Gejala dan tanda Subjektif:4 Mata gatal Mata seperti berpasir Silau Penglihatan kabur Sukar mengerakan kelopak mata

Objektif:2,4 Filamen-filamen epitel di kuadran bawah kornea Edema konjungtiva bulbi Miniskus air mata pada tepi kelopak mata bawah hilang

Terapi2,4

19 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Pemakaian air mata pengganti dan salep pelumas. Bila sel-sel goblet harus diberi mucus pengganti. Vitamin A topikal dapat membantu mengembalikan keratinisasi epitel. Pemberian lensa kontak apabila komponen mucus yang berkurang. Penutupan pungtum lakrimal bila terjadi penguapan yang berlebihan

Ulkus Kornea

Pembentukan parut akibat ulserasi kornea adalah penyebab utama kebutaan dan gangguan penglihatan di seluruh dunia. Kebanyakan gangguan penglihatan ini dapat dicegah namun hanya bila diagnosis penyebabnya ditetapkan secara dini dan diobati secara memadai.2 Ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea. Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak ditemukan oleh adanya kolagenase oleh sel epitel baru dan sel radang. Dikenal dua bentuk ulkus pada kornea yaitu sentral dan marginal / perifer. Ulkus kornea perifer dapat disebabkan oleh reaksi toksik, alergi, autoimun

20 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

dan infeksi. Infeksi pada kornea perifer biasanya oleh kuman Stafilokok aureus, H. influenza dan M. lacunata.4 Etiologi Penyebab ulkus kornea :4 1. Infeksi bakteri Bakteri yang sering menyebabkan ulkus kornea adalah Streptokokus alfa hemolitik, Stafilokokus aureus, Moraxella likuefasiens, sp, Pseudomonas hafniae, aeroginosa, sp, Nocardia asteroids, Alcaligenes infeksi

Streptokokus anaerobic, Streptokokus beta hemolitik, Enterobakter Proteus Stafilokokus epidermidis, campuran Erogenes dan Stafilokokus aureus. 2. Infeksi jamur 3. Infeksi virus 4. Defisiensi vitamin A 5. Lagophtalmus akibat parese N. VII dan N.III 6. Trauma yang merusak epitel kornea 7. Ulkus Mooren Faktor Predisposisi4,7 1. Erosi pada kornea 2. Keratitis neurotrofik
3. Pemakai kortikosteroid atau imunosupresif, obat lokal anestetika, IDU

(idoxuridine) 4. Penggunaan lensa kontak


5. Pasien Diabetes mellitus, HIV

6. Usia tua

21 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Klafikasi2 Berdasarkan lokasi , dikenal ada 2 bentuk ulkus kornea , yaitu: 1. Ulkus kornea sentral a. Ulkus kornea bakterialis b. Ulkus kornea fungi c. Ulkus kornea virus d. Ulkus kornea acanthamoeba 2. Ulkus kornea perifer

a. Ulkus marginal b. Ulkus mooren (ulkus serpinginosa kronik/ulkus roden) c. Ulkus cincin (ring ulcer) 1. Ulkus Kornea Sentral a. Ulkus Kornea Bakterialis - Ulkus Streptokokus : Khas sebagai ulkus yang menjalar dari tepi ke arah tengah kornea (serpinginous). Ulkus berwarna kuning keabuabuan berbentuk cakram dengan tepi ulkus yang menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan perforasi kornea, karena eksotoksin yang dihasilkan oleh streptokok pneumonia.2 - Ulkus Stafilokokus : Pada awalnya berupa ulkus yang bewarna putih kekuningan disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah defek epitel. Apabila tidak diobati secara adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai edema stroma dan infiltrasi sel leukosit. Walaupun terdapat hipopion ulkus seringkali indolen yaitu reaksi radangnya minimal.2 - Ulkus Pseudomonas : Lesi pada ulkus ini dimulai dari daerah sentral kornea. ulkus sentral ini dapat menyebar ke samping dan ke dalam
22 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

kornea. Penyerbukan ke dalam dapat mengakibatkan perforasi kornea dalam waktu 48 jam. Gambaran berupa ulkus yang berwarna abu-abu dengan kotoran yang dikeluarkan berwarna kehijauan. Kadang-kadang bentuk ulkus ini seperti cincin. Dalam bilik mata depan dapat terlihat hipopion yang banyak.2,4 - Ulkus Pneumokokus : Terlihat sebagai bentuk ulkus kornea sentral yang dalam. Tepi ulkus akan terlihat menyebar ke arah satu jurusan sehingga memberikan gambaran karakteristik yang disebut Ulkus Serpen. Ulkus terlihat dengan infiltrasi sel yang penuh dan berwarna kekuning-kuningan. Penyebaran ulkus sangat cepat dan sering terlihat ulkus yang menggaung dan di daerah ini terdapat banyak kuman. Ulkus ini selalu di temukan hipopion yang tidak selamanya sebanding dengan beratnya ulkus yang terlihat.diagnosa lebih pasti bila ditemukan dakriosistitis.2,4 b..Ulkus Kornea Fungi Mata dapat tidak memberikan gejala selama beberapa hari sampai beberapa minggu sesudah trauma yang dapat menimbulkan infeksi jamur ini.6 Pada permukaan lesi terlihat bercak putih dengan warna keabuabuan yang agak kering. Tepi lesi berbatas tegas irregular dan terlihat penyebaran seperti bulu pada bagian epitel yang baik. Terlihat suatu daerah tempat asal penyebaran di bagian sentral sehingga terdapat satelit-satelit disekitarnya. Tukak kadang-kadang dalam, seperti tukak yang disebabkan bakteri. Pada infeksi kandida bentuk tukak lonjong dengan permukaan naik. Dapat terjadi neovaskularisasi akibat rangsangan radang. Terdapat injeksi siliar disertai hipopion.2,6
23 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

c. Ulkus Kornea Virus - Ulkus Kornea Herpes Zoster : Biasanya diawali rasa sakit pada kulit dengan perasaan lesu. Gejala ini timbul satu 1-3 hari sebelum timbulnya gejala kulit. Pada mata ditemukan vesikel kulit dan edem palpebra, konjungtiva hiperemis, kornea keruh akibat terdapatnya infiltrat subepitel dan stroma. Infiltrat dapat berbentuk dendrit yang bentuknya berbeda dengan dendrit herpes simplex. Dendrit herpes zoster berwarna abu-abu kotor dengan fluoresin yang lemah. Kornea hipestesi tetapi dengan rasa sakit. Keadaan yang berat pada kornea biasanya disertai dengan infeksi sekunder.2,6 - Ulkus Kornea Herpes Simplex : Infeksi primer yang diberikan oleh virus herpes simplex dapat terjadi tanpa gejala klinik. Biasanya gejala dini dimulai dengan tanda injeksi siliar yang kuat disertai terdapatnya suatu dataran sel di permukaan epitel kornea disusul dengan bentuk dendrit atau bintang infiltrasi. terdapat hipertesi pada kornea secara lokal kemudian menyeluruh. Terdapat pembesaran kelenjar preaurikel. Bentuk dendrit herpes simplex kecil, ulceratif, jelas diwarnai dengan fluoresin dengan benjolan diujungnya.2,4,6 d. Ulkus Kornea Acanthamoeba Awal dirasakan sakit yang tidak sebanding dengan temuan kliniknya, kemerahan dan fotofobia. Tanda klinik khas adalah ulkus kornea indolen, cincin stroma, dan infiltrat perineural.2 2. Ulkus Kornea Perifer a. Ulkus Marginal
24 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Bentuk ulkus marginal dapat simpel atau cincin. Bentuk simpel berbentuk ulkus superfisial yang berwarna abu-abu dan terdapat pada infeksi stafilococcus, toksit atau alergi dan gangguan sistemik pada influenza disentri basilar gonokok arteritis nodosa, dan lain-lain. Yang berbentuk cincin atau multipel biasanya bilateral. Ditemukan pada penderita leukemia akut, sistemik lupus eritromatosis dan lain-lain.2,6 b. Ulkus Mooren Merupakan ulkus yang berjalan progresif dari perifer kornea kearah sentral. Ulkus mooren terutama terdapat pada usia lanjut. Penyebabnya sampai sekarang belum diketahui. Banyak teori yang diajukan dan salah satu adalah teori hipersensitivitas tuberculosis, virus, alergi dan autoimun. Biasanya menyerang satu mata. Perasaan sakit sekali. Sering menyerang seluruh permukaan kornea dan kadang meninggalkan satu pulau yang sehat pada bagian yang sentral.2,6

c. Ring Ulcer Terlihat injeksi perikorneal sekitar limbus. Di kornea terdapat ulkus yang berbentuk melingkar dipinggir kornea, di dalam limbus, bisa dangkal atau dalam, kadang-kadang timbul perforasi. Ulkus marginal yang banyak kadang-kadang dapat menjadi satu menyerupai ring ulcer. Tetapi pada ring ulcer yang sebetulnya tak ada hubungan dengan konjungtivitis kataral. Perjalanan penyakitnya menahun.4,6 Perjalanan Penyakit Perjalanan penyakit yang terjadi pada ulkus kornea yaitu: 1. Progresif
25 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011
4,6

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Pada proses kornea yang progresif dapat terihat, infiltrasi sel lekosit dan limfosit yang memakan bakteri atau jaringan nekrotik yang terbentuk. 2. Regresif 3. Membentuk jaringan parut Pada pembentukan jaringan parut akan terdapat epitel, jaringan kolagen baru dan fibroblast. Berat ringannya penyakit juga ditentukan oleh keadaan fisik pasien, besar dan virulensi inokulum. Gejala dan Tanda Subjektif:4,5 Mata merah

Sakit mata ringan hingga berat Fotofobia Sensasi benda asing pada mata Kelopak mata bengkak Sekret mukopurulen Penglihatan kabur Injeksi siliar Pupil miosis (kontriksi) Kekeruhan berwarna putih pada kornea yang terlihat dengan mata telanjang jika ulkus besar Edema kornea hipopion (kumpulan sel-sel radang yang tampak sebagai lapis ucat di bagian bawah kamera anterior)
26 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Objektif:6,7

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

penipisan kornea (desmatocele) hifema (perdarahan di bilik mata depan) sinekia posterior (penempelan iris dengan lensa) bila terdapat iritis

Gambaran Ulkus

Pada ulkus kornea yang disebabkan oleh jamur dan bakteri akan terdapat defek epitel yang dikelilingi PMN.2,4 Bila infeksi disebabkan virus, akan terlihat reaksi hipersensitifitas disekitarnya.4 Biasanya kokus gram positif, Stafilokokus aureus dan Streptokokus pneumonia akan memberikan gambaran ulkus yang terbatas, berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih abu-abu pada anak ulkus yang supuratif. Daerah kornea yang tidak terkena akan tetap berwarna jernih dan tidak terlihat infiltrasi sel radang.2,4

Bila ulkus disebabkan Pseudomonas maka ulkus akan terlihat melebar dengan cepat, bahan purulen berwarna kuning hijau terlihat melekat pada permukaan ulkus.4

Bila ulkus disebabkan jamur maka infiltrat akan berwarna abu-abu dikelilingi infiltrat halus disekitarnya (fenomena satelit).2,4,6 Bila ulkus berbentuk dendrite akan terdapat hipestesi pada kornea. Ulkus yang berjalan cepat dapat membentuk descemetocele atau terjadi perforasi kornea yang berakhir dengan membuat suatu bentuk lekoma adheren.4

Bila proses pada ulkus berkurang maka akan terlihat berkurangnya rasa sakit, fotofobia, berkurang infiltrat pada ulkus dan defek epitel kornea menjadi bertambah kecil.4

Diagnosis
27 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan klinis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium. Anamnesis pasien penting pada penyakit kornea, sering dapat diungkapkan adanya riwayat trauma, benda asing, abrasi, adanya riwayat penyakit kornea yang bermanfaat, misalnya keratitis akibat infeksi virus herpes simpleks yang sering kambuh. Hendaknya pula ditanyakan riwayat pemakaian obat topikal oleh pasien seperti kortikosteroid yang merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri, fungi, virus terutama keratitis herpes simplek. Juga mungkin terjadi imunosupresi akibat penyakit sistemik seperti diabetes, AIDS, keganasan, selain oleh terapi imunosupresi khusus.2,4,6 Pada pemeriksaan fisik didapatkan gejala obyektif berupa adanya injeksi siliar, kornea edema, terdapat infiltrat, hilangnya jaringan kornea. Pada kasus berat dapat terjadi iritis yang disertai dengan hipopion.6 Disamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan diagnostik seperti : Ketajaman penglihatan Tes refraksi Tes air mata
Pemeriksaan slit-lamp

Keratometri (pengukuran kornea) Respon reflek pupil


Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi.

Goresan ulkus untuk analisa atau kultur (pulasan gram, giemsa atau KOH)
28 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Pada jamur dilakukan pemeriksaan kerokan kornea dengan spatula kimura dari dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop dilakukan pewarnaan KOH, gram atau Giemsa. Lebih baik lagi dengan biopsi jaringan kornea dan diwarnai dengan periodic acid Schiff. Selanjutnya dilakukan kultur dengan agar sabouraud atau agar ekstrak maltosa.6 Terapi Pengobatan pada ulkus kornea betujuan menghalangi hidupnya bakteri dengan antibiotika dan mengurangi reaksi radang dengan steroid.4 1. Terapi obat

Sikloplegik.4 Kebanyakan dipakai sulfas atropine karena bekerja lama, yaitu 12 minggu. Efek kerja sulfas atropine : Sedatif, menghilangkan rasa sakit. Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang. Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor pupil. Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai daya akomodasi sehingga mata dalan keadaan istirahat. Dengan lumpuhnya M. konstriktor pupil, terjadi midriasis sehingga sinekia posterior yang telah ada dapat dilepas dan mencegah pembentukan sinekia posterior yang baru.

Antibiotika yang sesuai topikal dan subkonjungtiva.2 Anti biotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya atau yang berspektrum luas diberikan sebagai salap, tetes atau injeksi subkonjungtiva. diberikan kembali. salap dan penyembuhan Pada pengobatan karena dapat ulkus dapat sebaiknya erosi tidak kornea mata juga memperlambat

menimbulkan

29 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Tidak boleh dibebat, karena akan menaikkan suhu sehingga akan berfungsi sebagai inkubator.6 Sekret yang terbentuk dibersihkan 4 kali sehari.6 Diperhatikan kemungkinan terjadinya glaukoma sekunder.6 Debridement sangat membantu penyembuhan.6 Pengobatan dihentikan bila terjadi epitelisasi dan mata terlihat tenang kecuali bila penyebabnya pseudomonas yang memerlukan pengobatan ditambah 1-2 minggu.6

2. Pembedahan Pada ulkus kornea dilakukan pembedahan atau keratoplasti apabila:4 Dengan pengobatan tidak sembuh. Terjadinya jaringan parut yang menganggu penglihatan.

3. Indikasi Rawat Inap Pasien-pasien dengan ulkus kornea harus diberlakukan rawat inap apabila:6

ulkus sentral luas ulkus > 5 mm ulkus dengan ancaman perforasi (descementocele seperti mata ikan)

ulkus dengan hipopion

Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada kasus ulkus kornea antara lain:2 Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat singkat.

30 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Kornea perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis dan panopthalmitis.

Prolaps iris. Sikatrik kornea. Katarak. Glaukoma sekunder.

Prognosis Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan dan cepat lambatnya mendapat pertolongan, jenis mikroorganisme penyebabnya, dan ada tidaknya komplikasi yang timbul. Ulkus kornea yang luas memerlukan waktu penyembuhan yang lama, karena jaringan kornea bersifat avaskular. Semakin tinggi tingkat keparahan dan lambatnya mendapat pertolongan serta timbulnya komplikasi, maka prognosisnya menjadi lebih buruk. Apabila tidak ada ketaatan penggunaan obat terjadi pada penggunaan antibiotika maka dapat menimbulkan resistensi.2,6 Ulkus kornea harus membaik setiap harinya dan harus disembuhkan dengan pemberian terapi yang tepat. Ulkus kornea dapat sembuh dengan dua metode: migrasi sekeliling sel epitel yang dilanjutkan dengan mitosis sel dan pembentukan pembuluh darah dari konjungtiva. Ulkus superfisial yang kecil dapat sembuh dengan cepat melalui metode yang pertama, tetapi pada ulkus yang besar, perlu adanya suplai darah agar leukosit dan fibroblas dapat membentuk jaringan granulasi dan kemudian sikatriks.2

31 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

Daftar Pustaka

American Academy of Ophthalmology. Externa disease and cornea, San Fransisco 2006- 2007 : 8-12, 157-160
1.

Vaughan DG, Asbury T, Riordan Eva P. Oftalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta: Widya Medika, 2000. Hal : 129 142
2.

3. James B, Chew C, Bron A. Lecture Notes: Oftalmologi. Edisi kesembilan. Jakarta: Erlangga, 2006. Hal: 67-71 Ilyas, S. Hal : 147 - 166.
4. 5. 6.

Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. FKUI. Jakarta. 2006.

http://www.medicinenet.com

Ilyas, S. Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. FKUI. Jakarta. 2005. Hal : 69 - 79.
7. 8.

http://www.emedicine.medscape.com
http://inascrs.org/wiki/index.php?title=Keratitis

32 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011

Keratitis dan Ulkus Kornea

Ivana Julian (40610011 3)

33 Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 14 Februari 2011 19 Maret 2011