Anda di halaman 1dari 2

MIRINGOTOMI tindakan insisi pada pars tensa membran timpani agar terjadi drainase sekret dari telinga tengah

h ke telinga luar dengan memasukkan selang penyeimbang tekanan. Tindakan bedah kecil ini harus dilakukan a vue (lihat langsung), Hal ini memungkinkan ventilasi dari telinga tengah, mengurangi tekanan negative dan memungkinkan drainase cairan. Selang itu umumnya lepas sendiri setelah 6 sampai 12 bulan. pasien harus tenang dan dikuasai. Lokasi insisi di kuadran posterior inferior Operator harus memakai lampu kepala dengan sinar yang cukup terang, corong telinga yang sesuai, serta pisau : parasentesis yang kecil dan steril Dianjurkan untuk melakukannya dengan narkosis umum dan memakai mikroskop. Bila pasien mendapat terapi yang adekuat, miringotomi tidak perlu dilakukan, kecuali bila jelas tampak adanya nanah di telinga tengah. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah perdarahan akibat trauma liang telinga luar, dislokasi tulang pendengaran, trauma pada fenestra rotundum, trauma nervus fasialis, dan trauma pada bulbus jugular, atrofi membrane timpani, timpanosklerosis (parut pada membrane timpani), perforasi kronik, dan kolesteatoma.

PARASENTESIS pungsi pada membran timpani dengan semprit dan jarum khusus untuk mendapatkan sekret guna pemeriksaan mikrobiologik. Komplikasinya kurang lebih sama dengan miringotomi. TES AUDIOMETRI Tes untuk mengevaluasi atau menilai kemampuan pendengaran dengan menggunakan alat elektroakustik yang disebut audiometri. fungsi untuk mengetahui sensitifitas dan perbedaan kata-kata, yaitu untuk mengetahui kemampuan mendengar suara dan kemampuan membedakan bunyi kata-kata. Kedua grafik pendengaran disebut Audiogram. Kedua grafik tersebut mencatat hasil tes pendengaran denngan hantaran bunyi melalui udara (air conduction) dan hantaran bunyi melalui tulang (bone conduction), yang disimbulkan dengan: Audiometric suara murni harus dilaksanakan dalam ruang kedap suara (sound proof cabinet), pasien menggunakan earphone dan diperintahkan memberi isyarat dengan mengangkat tangan bila mendengar suara pertama dan bila pasien sudah mulai tidak mendengar lagi. Hasil pencatatan Audiometri : - Intensitas 0 25 dB : normal - Intensitas 26 40 dB : Tuli ringan - Intensitas 41 60 dB : Tuli sedang - Intensitas 61 90 dB : Tuli berat - Intensitas > 90 dB : tuli sangat berat -

TES BERA (Brainstem Evoke Response Audiometry). Pada tes ini dimana bayi atau anak-anak akan ditidurkan, biasanya diusahakan untuk tidak menggunakan bius namun apabila bayi atau anak-anak sulit tidur maka bisa menggunakan bius. Kemudian akan diuji kinerja seluruh alat pendengaran dari gendang telinga (telinga luar) sampai ke otak. Caranya dengan memberikan bunyi pada frekuensi yang berbeda dan pada tingkat kekerasan yang berbeda pula, dimana responya akan ditangkap langsung oleh sensor otak. Tes ASSR (Auditory Steady State Response). Tes ini dilakukan untuk menguji kinerja seluruh alat pendengaran dari gendang telinga sampai ke otak. Cara kerjanya sama seperti tes BERA, hanya saja bedanya bunyi yang di berikan berupa nada murni seperti halnya pada tes Audiometry. Respon dari suara yang diujikan akan langsung di catat oleh sensor yang menangkap aktifitas otak. Dalam tes ini bayi atau anak-anak akan ditidurkan lebih dahulu. LABIRINITIS infeksi pada telinga dalam (labirin) yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Labirinitis merupakan komplikasi intratemporal yang paling sering dari radang telinga tengah. Di klinis, dibagi atas labirinitis lokalisata dan labirinitis difusa (supuratif). Gejala klinis yang timbul pada keduanya hampir sama, yaitu gangguan vestibular, vertigo, nistagmus, mual dan muntah serta gangguan fungsi pendengaran sensorineural, hanya gejala klinis pada labirinitis difusa bersifat lebih berat. Terapi dilakukan secara pengawasan yang ketat dan terus menerus untuk mencegah terjadinya progresifitas penyakit dan kerusakan vestibulokoklea yang permanen KOLESTEATOMA suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi jaringan epitel (keratin). Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatoma bertambah besar.Seringkali kolesteatoma dihubungkan dengan kehilangan pendengaran dan infeksi pada telinga yang menghasilkan cairan pada telinga. Tetapi dapat juga tanpa gejala. Kolesteatoma dapat terjadi di kavum timpani dan atau mastoid (5). Etiologi Kolesteatoma biasanya terjadi karena tuba eustachian yang tidak berfungsi dengan baik karena terdapatnya infeksi pada telinga tengah. Tuba eustachian membawa udara dari nasofaring ke telinga tengah untuk menyamakan tekanan telinga tengah dengan udara luar (6). Normalnya tuba ini kolaps pada keadaan istirahat, ketika menelan atau menguap, otot yang mengelilingi tuba tersebut kontraksi sehingga menyebabkan tuba tersebut membuka dan udara masuk ke telinga tengah (7). Saat tuba eustachian tidak berfungsi dengan baik udara pada telinga tengah diserap oleh tubuh dan menyebabkan di telinga tengah sebagian terjadi hampa udara (6). Keadaan ini menyebabkan pars plasida di atas colum maleus membentuk kantong retraksi, migrasi epitel membran timpani melalui kantong yang mengalami retraksi ini sehingga terjadi akumulasi keratin (8). Kantong tersebut menjadi kolesteatoma.

Anda mungkin juga menyukai