Anda di halaman 1dari 12

REFERAT HARIAN

KOMA

Disusun oleh : CHRISTIANSEN W. (11-2010-151)

Pembimbing :

(dr. Rini Ismarijanti, Sp.S)

Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Saraf RSPAU dr. ESNAWAN ANTARIKSA Fakultas Kedokteran UKRIDA 12 September-15 Oktober 2011 JAKARTA

REFERAT KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF RSPAU dr. Esnawan Antariksa (12 September15 Oktober 2011)

BAB I PENDAHULUAN
Dalam bidang neurologi, koma merupakan kegawatdaruratan medik yang paling sering dijumpai. Koma bukanlah suatu penyakit melainkan suatu keadaan klinik tertentu yang disebabkan oleh berbagai faktor. Koma memerlukan tindakan yang cepat dan tepat, dimana saja dan kapan saja. Dengan demikian setiap dokter perlu memahami koma dengan sebaik-baiknya. Mengingat faktor penyebab koma yang begitu banyak (yang meliputi bidang neurologi, penyakit dalam, bedah, THT, anestesi dan farmakologi) serta memperhatikan pula patofisiologi koma, maka penanganan penderita pada tingkat pertama akan sangat menentukan prognosisnya.

Christiansen Waisuda (11-2010-151)

REFERAT KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF RSPAU dr. Esnawan Antariksa (12 September15 Oktober 2011)

BAB II ISI
DEFINISI Istilah sadar atau kesadaran bermakna luas, bergantung pada ruang lingkup bahasan masing-masing cabang ilmu yang berkaitan dengannya. Dengan demikian kesadaran tidak begitu mudah untuk didefinisikan, namun demikian apabila terjadi gangguan kesadaran, maka kita akan cepat mengetahuinya melalui gejala-gejala yang timbul. WHO mendefinisikan koma sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat membuka mata dengan rangsangan apapun, tidak dapat membuat suatu kata apapun dan tidak dapat melaksanakan perintah sederhana. Apabila terjadi gangguan kesadaran secara psikiatrik, maka kita menyebutnya sebagai perubahan kesadaran. Dan bila terjadi gangguan kesadaran secara neurologis, maka kita menyebutnya sebagai penurunan kesadaran. Dalam hal penilaian penurunan kesadaran, dikenal beberapa istilah yang masih dipakai di klinis seperti compos mentis, somnolen, sopor/stupor, soporokoma, dan koma. Terminologi tersebut lebih bersifat kualitatif dan mungkin menghasilkan pemahaman yang berbeda dari setiap klinisi. Sementara itu terdapat penilaian penurunan kesadaran yang bersifat kuantitatif dan dipakai di seluruh dunia yaitu dengan menggunakan skala koma Glasgow (GCS). KLASIFIKASI Klasifikasi koma lebih bersifat memberi gambaran umum tentang koma, bukan tujuan terapeutik yang spesifik. Klasifikasi koma didasarkan atas anatomi, patofisiologi, serta gambaran klinis. Berdasarkan anatomi dan patofisiologinya, koma dibagi menjadi : 1. Koma kortikal bihemisferik Merupakan koma/ensefalopati metabolik, dan/atau gangguan fungsi/lesi struktur korteks bihemisferik. Faktor penyebabnya antara lain sinkop, syok, hipoksia, gangguan cairan dan elektrolit, intoksikasi, demam tinggi. 2. Koma diensefalik Dapat bersifat supratentorial, infratentorial, dan kombinasi antara keduanya. Terjadinya koma dapat melalui mekanisme herniasi unkus, tentorial, atau sentral. Faktor penyebabnya antara lain stroke atau gangguan peredaran darah otak, tumor otak, abses otak, edema otak, perdarahan traumatik, hidrosefalus obstruktif, meningitis dan ensefalitis.

Christiansen Waisuda (11-2010-151)

REFERAT KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF RSPAU dr. Esnawan Antariksa (12 September15 Oktober 2011)

Sedangkan berdasarkan gambaran kliniknya, koma dibagi menjadi : 1. Koma dengan defisit neurologis fokal Defisit neurologis fokal dapat berupa hemiplegia, paralisis nervi kranialis, pupil anisokoria, afasia, refleks fisiologis/patologis asimetri, rigiditas, dekortikasi atau deserebrasi. Faktor penyebab meliputi gangguan peredaran darah otak, tumor otak, ensefalitis, abses otak, kontusio serebri, perdarahan epidural, dan perdarahan subdural. 2. Koma dengan tanda rangsang meningeal Faktor penyebabnya antara lain meningitis, meningoensefalitis, perdarahan

subaraknoid, tumor di fosa posterior. 3. Koma tanpa defisit neurologis fokal/tanda rangsang meningeal Faktor penyebabnya antara lain intoksikasi, gangguan metabolik, sinkop, syok, comotio serebri, hipertermia, hipotermia, sepsis, malaria otak, ensefalopati hipertensi, eklampsia, dan epilepsi. EPIDEMIOLOGI Data tentang epidemiologi koma bervariasi dari setiap pusat di suatu negara, dan bergantung dari data sumber penelititan. Banyak faktor yang turut mempengaruhi terjadinya koma, seperti kebiasaan, adat-istiadat, keadaan ekonomi, dan pendidikan pasien sehingga tidak ada data yang pasti tentang koma jenis apa yang terbanyak di seluas dunia. ETIOLOGI Klasifikasi yang terdapat diatas membantu kita untuk mengingat kemungkinan penyebab koma. Ada beberapa penyebab koma seperti sirkulasi (meluputi stroke dan penyakit jantung), ensefalitis (dengan tetap mempertimbangkan adanya kemungkinan infeksi di tempat lain maupun sepsis), metabolik (hiperglikemia, hipoglikemia, hipoksia, uremia, dan penyakit hati), elektrolit (misalnya diare dan muntah), neoplasma (seperti tumor otak baik primer maupun metastasis), intoksikasi (obat maupun bahan kimia), trauma (seperti comotio, kontusio, perdarahan epidural, perdarahan subdural), serta epilepsi (pasca serangan grandmal atau pada status epileptikus). PATOFISIOLOGI Koma disebabkan oleh gangguan pada korteks secara menyeluruh misalnya pada gangguan metabolik, dan dapat pula disebabkan oleh gangguan langsung atau tidak langsung terhadap formatio retikularis di talamus, mesensefalon, atau pons. Secara anatomik, letak lesi yang menyebabkan koma dapat dibagi sebagai berikut : supratentorial (15%), infratentorial (15%), dan difus (70%), misalnya pada intoksikasi obat dan gangguan metabolik.
Christiansen Waisuda (11-2010-151)

REFERAT KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF RSPAU dr. Esnawan Antariksa (12 September15 Oktober 2011)

Koma kortikal-bihemisferik Fungsi dan metabolisme otak sangat bergantung pada tercukupinya penyediaan O 2. Pada individu sehat dengan konsumsi O2 otak 3,5 mL/100 gram otak/menit maka aliran darah otak adalah 50 mL/100 gram otak/menit. Bila aliran darah otak turun menjadi 20-25 mL/100 gram otak/menit, mungkin akan terjadi kompensasi dengan menaikkan ekstraksi O 2 dari aliran darah. Apabila aliran darah otak turun lebih rendah lagi maka akan terjadi penurunan konsumsi O2 secara proporsional. Glukosa merupakan satu-satunya substrat yang digunakan otak dan teroksidasi menjadi CO2 dan air. Untuk memelihara integritas neuronal, diperlukan penyediaan ATP yang konstan untuk mengeluarkan ion Na2+ dari dalam sel dan mempertahankan ion K+ di dalam sel. Apabila tidak ada oksigen, maka terjadilah glikolisis anaerob untuk memproduksi ATP. Glukosa dapat berubah menjadi laktat dan ATP, tetapi energi yang ditimbulkan menjadi lebih kecil. Dengan demikian, glukosa dan O2 memegang peranan yang penting dalam memelihara kesadaran dengan baik. Meskipun demikian, kesadaran dapat dipengaruhi oleh hal lain seperti gangguan asam basa darah, elektrolit, osmolalitas, ataupun defisiensi vitamin. a. Hipoventilasi Diperkirakan berhubungan dengan hipoksemia, hiperkapnia, gagal jantung kongestif, infeksi sistemik, serta penurunan kemampuan respirasi. Dasar mekanisme terjadinya gangguan kesadaran pada hipoventilasi belum diketahui secara jelas. Hipoksia merupakan faktor potensial untuk terjadinya ensefalopati, tetapi bukan faktor tunggal karena gagal jantung kongestif masih mempunyai toleransi terhadap hipoksemia dan pada kenyataannya tidak menimbulkan ensefalopati. Retensi CO2 justru berhubungan dengan gejala neurologis yang timbul, dan bergantung pula pada lamanya kondisi hipoventilasi. b. Anoksia iskemik Merupakan suatu keadaan dimana darah masih mampu untuk membawa oksigen ke otak, tetapi aliran darah otak mengalami gangguan untuk menyuplai darah ke otak. Penyakit yang mendasari biasanya menurunkan curah jantung misalnya infark jantung, aritmia, syok, refleks vasofagal, atau penyakit yang meningkatkan resistensi vaskular serebral misalnya sumbatan arteri. c. Anoksia anoksik Merupakan suatu keadaan dimana terjadi ketidakcukupan jumlah oksigen yang masuk kedarah. Dengan demikian, baik isi maupun tekanan oksigen dalam darah menjadi
Christiansen Waisuda (11-2010-151) 4

REFERAT KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF RSPAU dr. Esnawan Antariksa (12 September15 Oktober 2011)

menurun. Keadaan demikian ini terdapat pada tekanan oksigen di lingkungan rendah, atau ketidakmampuan oksigen untuk mencapai dan menembus membran kapiler alveoli akibat penyakit paru. d. Anoksia anemik Disebabkan oleh jumlah Hb yang menurun sehingga tidak ada yang membawa dan mengikat oksigen, sementara oksigen yang masuk ke dalam darah cukup. Keadaan ini terjadi pada anemia maupun pada keracunan CO. e. Hipoksia atau iskemia difus Disebabkan oleh dua keadaan, yaitu penurunan kadar oksigen dalam darah yang terlalu cepat atau aliran darah otak yang menurun mendadak. Penyebab utamanya antara lain adanya obstruksi jalan napas, obstruksi arteri serebral masif (akibat gantung diri), atau keadaan yang menyebabkan menurunnya curah jantung secara mendadak (seperti asistole, aritmia berat, emboli pulmonal, atau perdarahan sistemik masif). Keadaan seperti trombosis atau emboli termasuk purpura trombositopenia trombotika, DIC, endokarditis bakterialis akut, malaria falsiparum, dan emoboli lemak mampu menimbulkan iskemia multifokal yang luas dan secara klinis akan memberi gambaran iskemia serebral difus. f. Gangguan metabolisme Gangguan metabolisme yang paling sering menimbulkan gangguan adalah gangguan metabolisme karbohidrat yang meliputi hiperglikemia, hipoglikemia, dan asidosis laktat. Diabetes melitus tidak mengganggu otak secara langsung, tetapi komplikasi yang ditimbulkan oleh DM seperti ketoasidosis metabolik dan hiperosmolar non ketotik pada DM sering menimbulkan koma. Selain itu, keadaan seperti asidosis laktat, iatrogenik, hiponatremia, hipofosfatemia, uremia juga dapat menimbulkan koma. Perlu dicatat bahwa pada infark otak dan cedera kepala, glukosa darah dapat meningkat. Hipoglikemia yang terjadi dapat mengganggu sintesis asetilkolin di dalam otak. Hal ini akan menimbulkan blokade jalur kolinergik, dan kegagalan demikian dapat menurunkan fungsi kerja sejumlah asam amino seperti glutamat, glutamin, GABA dan alanin. Sementara itu aspartat meningkat 4x dan amonia meningkat 14x sehingga mengganggu kesadaran dan jika didiamkan dapat menimbulkan koma. Hipoglikemia akan mengganggu korteks otak secara difus, atau mengganggu fungsi batang otak atau keduanya. Terdapat kerusakan neuron secara dini dan paling berat di korteks otak, sementara neuron di batang otak dan ganglia basal mengalami kerusakan yang lebih ringan.

Christiansen Waisuda (11-2010-151)

REFERAT KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF RSPAU dr. Esnawan Antariksa (12 September15 Oktober 2011)

g.

Gangguan keseimbangan asam basa Dari keempat gangguan asam basa yang ada, yang dapat menimbulkan koma secara langsung adalah asidosis respiratorik. Asidosis metabolik lebih sering menimbulkan delirium dan obtundansi. Alkalosis respiratorik menimbulkan bingung dan perasaan tidak enak di kepala. Alasan mengapa gangguan keseimbangan asam basa sistemik tidak mempengaruhi kesadaran otak adalah karena adanya mekanisme fisiologis dan biokimia seperti kompensasi respirasi, perubahan aliran darah otak, gradien ion antara darah dan otak, buffer selular dalam jaringan saraf yang melindungi keseimbangan asam basa di otak terhadap perubahan pH serum yang cukup besar.

h.

Koma hepatik Meningkatnya kadar amonia dalam darah merupakan faktor utama penyebab terjadinya koma hepatik. Amonia dalam kadar tinggi bersifat toksik terhadap sel-sel otak. Selain itu, amonia juga dapat mengganggu pompa natrium dan kalium, sehingga juga dapat mengganggu sistem kerja Na-K-ATP-ase. Lebih dari itu, kadar amonia yang tinggi dapat mengganggu metabolisme energi sel otak yang mirip dengan keadaan hipoksia berat.

i.

Defisiensi vitamin B Defisiensi vitamin B sering kali mengakibatkan delirium, demensia, dan mungkin stupor. Defisiensi tiamin dianggap sebagai diagnosis banding yang paling serius dari koma, karena dapat mengakibatkan penyakit Wernicke, yaitu suatu kompleks gejala yang disebabkan oleh kerusakan neuron dan vaskular di substantia grisea daerah sekitar akuaduktus Sylvii dan ventrikel.

Koma diensefalik Koma akibat gangguan fungsi atau lesi struktural formasio retikularis di daerah mesensefalon dan diensefalon disebut koma diensefalik. Secara anatomis, koma diensefalik dibagi menjadi 2 bagian, yaitu akibat lesi di daerah supratentorial dan infratentorial. a. Lesi supratentorial Pada umumnya berbentuk SOL sebagai akibat dari beberapa hal seperti gangguan peredaran darah otak dalam bentuk perdarahan, neoplasma, abses otak, edema otak, dan hidrosefalus obstruktif. SOL tersebut menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial yang kemudian menekan formatio retikularis di mesensefalon dan diensefalon. b. Herniasi sentral Disebabkan oleh meningkatnya tekanan intrakranial secara menyeluruh, dimana terjadi hernia otak melalui tentorium serebeli secara simetris. Penyebab terseringnya adalah perdarahan talamus, edema otak akut, dan hidrosefalus obstruktif akut.
Christiansen Waisuda (11-2010-151) 6

REFERAT KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF RSPAU dr. Esnawan Antariksa (12 September15 Oktober 2011)

c.

Herniasi unkus Merupakan herniasi lobus temporal bagian mesial terutama unkus. Herniasi ini disebabkan oleh kompresi rostrokaudal progresif, secara bertahap tekanan makin ke kaudal dan makin berat, dan dikenal empat tahap dengan sindrom yang khas. Bagian pertama yang tertekan adalah diensefalon dan nukleus hipotalamus. Tahap berikutnya merupakan penekanan terhadap mesensefalon. Dalam keadaan ini, N III ipsilateral akan terjepit diantara arteri serebri posterior dan arteri serebelli superior sehingga terjadilah oftalmoplegi ipsilateral. Apabila penekanan terus berlangsung, maka pons akan tertekan dan akhirnya akan berlanjut menekan medula oblongata. Tahap terakhir ini merupakan tahap agonia. Faktor penyebabnya adalah gangguan peredaran darah otak, neoplasma, abses dan edema otak.

d.

Herniasi singuli Terjadi dibawah falks serebri, disebabkan oleh proses penekanan dari satu sisi hemisfer otak. Akibat dari herniasi singuli adalah tertekannya sistem arteri dan vena serebri anterior yang kemudian mengganggu fungsi lobus frontalis bagian puncak dan medial. Keadaan ini akan menimbulkan inkontinensia urin dan alvi serta gejala gegenhalten dan negativisme motorik atau paratonia (pada setiap rangsangan akan timbul gerakan melawan secara refelktorik).

e.

Lesi infratentorial Meliputi dua macam proses patologis dalam ruang infratentorial. Pertama proses diluar batang otak atau serebelum yang mendesak sistem retiukularis, dan yang kedua merupakan proses di dalam batang otak yang secara langsung mendesak dan merusak sistem retiularis batang otak. Proses yang timbul berupa : 1. Penekanan langsung terhadap tegmentum mesensefalon 2. Herniasi serebelum dan batang otak ke rostral melewati tentorium serebeli yang kemudian menekan formasio retikularis di mesensefalon 3. Herniasi tonsilo serebellum ke bawah melalui foramen magnum dan sekaligus menekan medula oblongata

GAMBARAN KLINIK Manifestasi klinik penurunan kesadaran dapat bersifat akut atau bertahap. Dipandang dari penampilan klinik, penderita koma dapat bersikap tenang seakan-akan tidur pulas, atau gelisah dan banyak gerak yang mungkin disertai dengan teriakan. Penurunan kesadaran dapat disertai oleh tanda dan gejala klinik lainnya, bergantung pada penyakit yang mendasarinya atau pada komplikasi yang muncul setelah terjadinya penunan kesadaran. Dengan demikian, manifestasi klinik penurunan kesadaran sangat bervariasi.
Christiansen Waisuda (11-2010-151) 7

REFERAT KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF RSPAU dr. Esnawan Antariksa (12 September15 Oktober 2011)

Tanda dan gejala klinik yang dapat menyertai koma antara lain demam, gelisah, kejang, muntah, retensi lendir/sputum di tenggorokan, retensi atau inkontinentia urin, hipertensi, hipotensi, takikardia, bradikardi, takipnea, dispnea, edema fokal atau anasarka, ikterus, sianosis, pucat, perdarahan subkutis, dan sebagainya. Pada lesi intrakranial dapat terjadi hemiplegia, defisit nervi kraniales, kaku kuduk, deviasi mata, perubahan diameter pupil, edema papil. Pada trauma kapitis dapat terjadi hematom disekitar orbita, hematom di belakang telinga, perdarahan telinga dan hidung, dan mungkin likorea. TATALAKSANA Tatalaksanan koma meliputi 3 hal, yaitu life saving, terapi spesifik, dan perawatan umum. Terapi spesifik dalam hal ini tidak dibahas karena terdapat banyak faktor yang mendasarinya. 1. Life saving

Tindakan ini berpedoman pada prinsip 5B, yaitu breath, blood, brain, bladder, bowel. Uraiannya adalah sebagai berikut: a. Breath

Tindakan ini merupakan cakupan dari penanganan jalan napas seperti membebebaskan dan membersihkan jalan napas agar oksigen dapat masuk dan kebutuhan tubuh akan oksigen dapat terpenuhi. Apabila terdapat tanda-tanda kesulitan napas dapat dilakukan intubasi untuk memasang pipa endotrakeal, atau jika perlu dilakukan trakeostomi. Pemantauan pernafasan harus terus dilakukan secara ketat meliputi frekuensi, irama, dalam atau dangkalnya pernapasan, sianosis. Jika dibutuhkan, lakukan analisa gas darah. b. Blood

Perlu diperhatikan pada pasien-pasien koma agar sirkulasi darah dijaga tetap baik, karena aliran darah yang tidak adekuat akan mengakibatkan perfusi darah ke jaringan otak yang kurang. Hal ini meliputi pemantauan tekanan darah, jantung, dan komponen darah. Penurunan tekanan darah pada pasien dengan gangguan peredaran darah otak perlu dilakukan, tetapi hati-hati agar tidak sampai mendadak. Tekanan darah perlu diturunkan apabila tekanan diastolik diatas 130 mmHg, dan atau tekanan sistolik diatas 200 mmHg. c. Brain

Hal ini mencakup menjaga fungsi otak tetap optimal yang meliputi pemenuhan kebutuhan aliran darah otak, suplai oksigen dan glukosa otak. Waspadai gejala-gejala yang dapat mengganggu fungsi otak seperti hiperpireksia atau kejang. Apabila kejang terus menerus, dapat diberikan diazepam 10 mg intravena dan dapat diulang setiap 15-30 menit. Karena pemberian diazepam, maka perlu diperhatikan pernafasan pasien. Fenitoin dapat diberikan
Christiansen Waisuda (11-2010-151) 8

REFERAT KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF RSPAU dr. Esnawan Antariksa (12 September15 Oktober 2011)

dengan dosis 10-18 mg/kgBB secara intravena perlahan-lahan, minimal 50 mg/menit. Preparat fenitoin jarang dimasukkan ke dalam infus karena akan terjadi presipitasi. Sesudah pemberian fenitoin perlu diawasi nadi dan irama jantung dengan EKG. Herniasi otak merupakan keadaan yang sangat gawat dan membutuhkan tindakan yang cepat. Deksametason dapat diberikan dalam dosisi tinggi (20-40 mg) secara intravena kemudian dosis diturunkan secara bertahap dengan interval 6 jam. Hati-hati kemungkinan terjadinya perdarahan lambung dan kenaikan glukosa darah. Apabila terjadi peningkatan tekanan darah dan tidak segera turun maka dapat diberikan furosemid 0,5-1 mg/kgBB. Infus manitol dapat diberikan dengan dosis 0,5-1 gr/kgBB, dengan tetesan cepat selama 15-30 menit dan diulang tiap 4 jam. Dosis kemudian diturunkan secara bertahap untuk menghindari terjadinya rebound phenomenon. d. Bladder

Berarti menjaga fungsi vesika urinaria secara optimal. Pemasangan kateter merupakan hal yang mutlak dalam hal pasien dengan koma, dan pemasangan kateter akan membuat vesika urinaria berkontak langsung dengan dunia luar, sehingga kemungkinan infeksi menjadi lebih besar. Urin yang keluar ditampung dan jika perlu selama 24 jam untuk mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit. e. Bowel

Berarti memperhatikan nutrisi dan fungsi usus. Pada 3 hari pertama, mungkin kebutuhan gizi penderita dapat dicukupi dengan pemberian infus. Tetapi selebihnya perlu dicukupi dengan pemasangan NGT, dengan formula gizi yang disesuaikan. Disamping itu perlu diperhatikan apakah terdapat inkontinensi alvi, dan apakah meteorismus dapat terjadi, mungkin karena adanya obstruksi atau paralisis. Pemasangan NGT juga bersifat eksploratif, untuk mengetahui apakah terjadi perdarahan lambung atau tidak karena perdarahan lambung sering terjadi pada pasien dengan gangguan peredaran darah otak. Secara ringkas, tindakan pertama terhadap penderita koma adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Berikan oksigen Pertahankan sirkulasi darah tetap optimal Berilah glukosa Turunkan tekanan intrakranial Hentikan segera serangan kejang Obati setiap infeksi yang ada Perbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit Awasi dan pertahankan suhu tubuh normal Berikan tiamin
Christiansen Waisuda (11-2010-151) 9

REFERAT KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF RSPAU dr. Esnawan Antariksa (12 September15 Oktober 2011)

10. Kontrol setiap agitasi PROGNOSIS Prognosis koma bergantung pada banyak faktor, seperti penyebab, situasi klinik pada saat pertama kali ditangani, kecepatan tindakan, kelengkapan fasilitas, penyulit yang muncul dan kemampuan dokter serta perawat yang menanganinya. Dengan demikian prognosis koma cukup bervariasi, mulai dari infaust, kemudian berturut-turut menjadi persistent vegetative state, sadar kembali dengan gejala sisa (motorik, autonom, fungsi luhur, epilepsi, dan sebagainya) sampai dengan sadar kembali tanpa gejala apapun, atau mungkin meninggal.

Christiansen Waisuda (11-2010-151)

10

REFERAT KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF RSPAU dr. Esnawan Antariksa (12 September15 Oktober 2011)

BAB III KESIMPULAN


Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya koma, dengan penanganan yang mungkin berbeda disetiap penyebab. Faktor risiko yang ditimbulkan sering kali beragam, bergantung dari kondisi awal penyebab pasien koma. Prinsip penanganan koma sebagian besar sama, tetapi jika terdapat penyulit atau terdapat beberapa penyakit lain, maka penanganan yang lebih kompleks dibutuhkan untuk menangani penyakit tersebut. Prongosis dari koma bergantung dari banyak hal, dan sering kali berakibat fatal jika tidak ditangani dengan baik, atau meskipun sudah ditangani dengan baik.

Christiansen Waisuda (11-2010-151)

11