Anda di halaman 1dari 4

Pendahuluan Senyawa kimia yang bekerja lokal adalah senyawa yang bekerja di tempat dimana senyawa tersebut diaplikasikan

atau ke bagian yang masih berhubungan dengan tempat diaplikasikannya zat tersebut sehingga efeknya terbatas. Contoh yang paling sering digunakan adalah obat gosok (balsam). Senyawa lokal ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu yang bersifat destruktif dan protektif. Senyawa destruktif atau irritansia adalah kelompok senyawa kimia yang bekerja secara tidak selektif pada sel dan jaringan tubuh hewan atau manusia, dengan cara mencederai atau merusak sel-sel atau bagian dari sel untuk sementara atau permanen. Reaksi yang dapat terjadi pada sel, jika hanya ringan maka akan merangsang fungsi sel, namun bila parah atau berlangsung lama akan merusak fungsi sel dan dapat menimbulkan kematian jaringan. Daya kerja irritansia dapat berupa rubefaksi (perangsangan setempat yang lemah dan senyawa yang menyebabkannya dinamakan rubefasiensia); vesikasi (pembentukan gelembung); pustulasi (terbentuk pus); dan korosi (kerusakan sel pada jaringan). Senyawa depilator termasuk ke dalam kelompok senyawa irritansia, yang dapat digunakan untuk merontokkan rambut atau bulu bila diaplikasikan pada kulit. Daya kerja tersebut dilaksanakan dengan memutus ikatan sulfur pada bagian akar bulu atau rambut. Zat demikian dapat digunakan sebagai depilator untuk menghilangkan bulu/rambut yang tidak diinginkan. Sediaan yang digunakan biasanya berbentuk krem dan pemakaiannya adalah di bidang kosmetik. Namun sediaan ini telah dilarang di beberapa negara karena diketahui sebagai agen yang bersifat karsinogenik. Contohnya adalah Catioglikolat (Veet). Senyawa protektiva adalah zat yang melindungi kulit dan atau mukosa terhadap daya kerja irritansia, baik yang kimiawi maupun berupa sinar. Beberapa efek kerja dari protektiva yaitu: (1) Demulsiensia, memberikan lapisan pelindung mukosa dan kulit yang berupa cairan koloid dan air. Contoh: Gom Arab. (2) Emoliensia, merupakan zat kimia yang digunakan untuk melunakkan kulit, menutup dan melindungi kulit terhadap irritasi yang berupa minyak. Contoh: minyak zaitun. (3) Astringensia adalah zat kimia yang digunakan lokal untuk mempresipitasikan protein. Contoh: Asam Tannin. (4) Adsorbensia yaitu senyawa kimia yang merupakan bubuk halus yang mengabsorpsi zat irritant sehingga mencegah kontak dengan kulit, mukosa, ulcer dan lain-lain. Contoh: karbo adsorbensia. Hasil a. IRRITANSIA 1. Rubefasiensia Perlakuan pada tangan Penggosokan menthol Kapas dicelup dalam kloroform kemudian diletakkan di atas kulit Kloroform diteteskan langsung ke tangan Hasil Tangan menjadi panas dan kemerahan Awalnya terasa dingin, detik ke-44 terasa panas dan tangan kemerahan Terasa dingin sampai akhirnya kloroform menguap Fenol 5%+Gliserin 25% Normal Normal Normal Fenol 5%+M. Olivarum Normal Normal Normal

Parameter Warna Konsistensi Mati rasa/ tidak

Fenol 5%+Air Pucat Keriput (+) Mati rasa (+)

Fenol 5%+Alkohol 25% Pucat Keriput (++) Mati rasa (++)

2. Kaustika Penghitungan dosis Berat Badan (BB)= 190,8 gram; Dosis= 1,25 gr/kgBB; Konsentrasi 20% Anestesi yang digunakan: Urethan Jumlah (ml) anestesi yang digunakan Cairan H2SO4 HCl = = 1,1925 ml 1,2 ml. Penetesan pada mukosa usus Perubahan warna menjadi keputihan Perubahan warna menjadi keputihan

Penetesan pada Kulit Terbentuk area yang berwarna keputihan Terbentuk area yang berwarna keputihan

H2NO3 Fenol NaOH 75% Klorofoam

Terbentuk area yang berwarna keputihan Tidak tampak perubahan Melepuh dan ada bagian yang menipis Tidak tampak perubahan

Perubahan warna menjadi keputihan Usus menjadi agak transparan Usus menjadi agak transparan Usus menjadi agak transparan

B. PROTEKTIVA 1. Demulsensia Zat yang diteteskan pada selaput renang H2SO4 1/50 N H2SO4 1/50 N+Gom Arab 10% 2. Adsorbensia Perlakuan 1 ml striknin 0,2 mg/ml (SC) 1 ml striknin 0,2 mg/ml (SC)+karbon absorbensia 3. Astringensia Hasil: Lidah terasa tebal dan sensitifitas berkurang. Pembahasan Rubefasiensia Mentol merupakan zat organik alami yang diperoleh dari tanaman mint, berbentuk kristal, mengandung lilin, dan berwarna putih. Mentol yang berbentuk padat pada suhu ruang dan sedikit larut pada suhu yang lebih tinggi ini memiliki khasiat sebagai pelega tenggorokan dan dapat digunakan sebagai anasthesi lokal. Dikarenakan menthol bekerja pada reseptor dingin yang ada pada permukaan kulit sehingga ketika kita menghirup atau menggosokkannya pada kulit akan menimbulkan sensasi dingin. Disamping itu, menthol juga menyebabkan terjadinya dilatasi pembuluh darah, sehingga apabila menthol digosok pada permukaan kulit dengan waktu yang lama akan menimbulkan panas dan merah pada permukaan kulit. Pada percobaan menggunakan kloroform, digunakan 2 metode yaitu penetesan langsung dan pemberian kloroform menggunakan kapas. Pada penetesan kloroform secara langsung, kulit (tangan) hanya terasa dingin, karena dengan segera kloroform menguap. Sedangkan pada kapas yang dibasahi kloroform, pada awalnya terasa dingin lama kelamaan menjadi panas dan kulit kemerahan. Rasa dingin terus menerus sebagai efek kapas yang dicelup dalam kloroform dan ditempel kulit, merangsang hipothallamus untuk menyesuaikan suhu tubuh dengan suhu lingkungan sehingga tubuh berusaha menghasilkan panas. Lama kelamaan akan terjadi vasodilatasi lokal karena bagian yang panas berusaha untuk mengeluarkan panas dan menyeimbangkan suhu tubuh dengan lingkungan. Fenol merupakan salah satu rubefasiensia, dapat menyebabkan rangsangan setempat yang lemah. Fenol adalah senyawa yang mempunyai gugus hidroksil yang terikat pada sebuah cincin benzen.Fenol memiliki sifat yang lebih asam dibanding dengan alkohol alifatik lainnya (Clark 2004). Pada konsentrasi yang tinggi, jika fenol terkena kulit menyebabkan kulit akan terbakar dan sangat beracun. Dari hasil yang diperoleh, jari yang mengalami respon paling sakit adalah jari yang dicelup dalam campuran fenol dan alkohol, diikuti campuran fenol dan air. Hal ini dikarenakan sifat fenol dan alkohol yang bersifat racun kemudian dicampur, mengakibatkan efek iritan yang dimunculkan berkali lipat mengiritasi kulit. Fenol merupakan zat pengiritasi sedangkan air merupakan zat yang bersifat netral (tidak mengiritasi dan tidak bersifat protektiva). Hal ini menyebabkan iritasi yang disebabkan fenol lebih lambat terasa akibat fenol yang konsentrasinya fenol menjadi berkurang sehingga rasa sakit yang ditimbulkan lebih lambat. Gliserin dengan rantai HO-CH2-CH-(OH)-CH2-OH adalah bahan kimia yang sering digunakan untuk kosmetik dan juga merupakan bahan utama untuk pasta gigi. Gliserin berfungsi sebagai pelembab (Iskandar 2007). Hal ini menyebabkan efek fenol yaitu menarik cairan dari kulit menjadi berkurang karena kulit dilembapi oleh gliserin. Pada pencampuran fenol dengan gliserin, tidak terlihat adanya perubahan pada kulit. Hal ini dikarenakan minyak olivarum larut dengan fenol dan membentuk molekul-molekul besar sehingga sulit Hasil Tremor pada 21 Inkoordinasi pada 348 Tremor pada 4125 Refleks menarik kaki (normal) 23 13 Refleks menarik kaki (decerebrasi) 355 734

untuk menembus epitel kulit. Selain itu, salah satu fungsi dari minyak olivarum yaitu dapat memperbaiki sel kulit yang rusak (Giska 2010). Kaustika Hasil praktikum dengan perlakuan penetesan zat iritansia pada mukosa usus tikus menunjukan suatu perubahan yang signifikan . Zat iritansia yang digunakan adalah H2SO4, HCl, H2NO3, fenol, NaOH 75%, dan kloroform. Setiap zat ini memiliki sifat kimia masing-masing. H2SO4, HCl, dan H2NO3 memiliki sifat asam kuat. Kloroform bersifat radikal. Radikal adalah zat yang mengandung elektron yang tidak berpasangan (J.H. Koeman, 1987). NaOH adalah basa kuat bersifat korosif/kaustik dan menimbulkan pembengkakkan (EJ Ariens et al, 1978). Korosif atau kaustik adalah suatu zat yang menimbulkan kerusakan yang bersifat irreversible pada permukaan suatu zat lain. Sifat korosif ini merupakan sifat yang dapat ditemukan juga pada basa kuat hanya saja penggunaan istilah korosif lebih sering digunakan pada asam kuat (Christison 1829). Zat iritansia dengan asam kuat memberikan penampakan seperti warna keputihan pada mukosa. Keadaan ini terjadi karena proses koagulasi dan denaturasi protein terjadi pada mukosa usus. Selain itu, proses koagulasi lebih cepat terjadi pada mukosa daripada kulit tubuh. Hal ini disebabkan jumlah pembuluh darah di mukosa usus lebih banyak dari pada permukaan kulit sehingga penyebaran zat tersebut sangat cepat pada usus (Christison 1829). Natrium hidroksida menimbulkan gejala-gejala kerusakan seperti penipisan mukosa pada mukosa sehingga usus kelihatan mengalami perubahan warna dan ketebalan mukosa. Kerusakan ini timbul karena sifat korosif dari NaOH. Demulsensia Pemberian larutan H2SO4 1/50 N pada kaki kiri dan ditunggu sampai terjadi katak menarik kakinya dari larutan H2SO4 1/50 N waktu yang diperoleh 23 detik. Sedangkan waktu yang diperlukan oleh kaki kanan yangdicelupkan pada larutan H2SO4 1/50 N yang dicampur dengan gom arab 10% yaitu 1 menit 3 detik. Katak kemudian di decerebrasi dan diberikan perlakuan yang sama seperti sebelumnya. Kaki kiri katak diberi larutan H2SO4 1/50 N dan kaki kanan katak diberi larutan H2SO4 1/50 N yang telah dicampuran gom arab setelah itu dihitung waktunya sampai katak tersebut menarik kakinya dari masingmasing larutan. Katak yang kakinya dicelupkan pada larutan H 2SO4 1/50 N memiliki waktu 3 menit 55 detik sedangkan yang dicelupkan pada larutan H2SO4 1/50 N yang ditambah gom arab memiliki waktu 7 menit 34. Waktu refleks katak menarik kaki menjadi lebih lambat setelah katakdi decerebrasi. Namun refleks penarikan kaki pada larutan H2SO4 1/50 N dengan gom arab selalu lebih lambat dibanding pada larutan H2SO4 1/50 N saja. Hal ini terjadi pada kondisi sebelum dilakukan descrebrasi maupun setelah di dilakukan decerebrasi. Asam sulfat yang bersifat korosif diperburuk oleh reaksi eksotermiknya dengan air. Luka bakar akibat asam sulfat berakibat lebih buruk daripada luka bakar akibat asam kuat lainnya, karena terjadi dehidrasi dan kerusakan termal sekunder akibat pelepasan panas oleh reaksi asam sulfat dengan air. Semakin tinggi kosentrasi asam sulfat semakin tinggi juga resiko yang didapat. Gom arab lebih dikenal gum Acacia yang merupakan salah satu produk getah (resin) yang dihasilkan dari penyadapan getah pada batang tumbuhan legum, memiliki fungsi untuk mengurangi tekanan permukaan air dan stabilizer karena bersifat larut dalam air membentuk cairan yang kental. Asam sulfat merupakan asam mineral yang kuat yang larut dalam air pada semua perbandingan. Asam sulfat diproduksi dari belerang, oksigen, dan air melalui proses kontak. Gom arab juga dapat membentuk suatu lapisan pada kulit yang teriritasi sehingga pada pencampuran H 2SO4 dengan gom arab refleks yang timbul lebih lama karena kulit terlapisi oleh gom arab. Butuh waktu lebih lama bagi asam sulfat untuk mengiritasi kulit. Adsorbensia Striknin merupakan konvulsan yang menyebabkan perangsangan pada semua bagian SSP. Pada hewan coba konvulsi ini berupa ekstensif tonik dari badan dan semua anggota gerak. Sifat khas lainnya dari kejang striknin ialah kontraksi ekstensor yang simetris yang diperkuat oleh rangsangan sensorik yaitu pendengaran, penglihatan dan perabaan (Louisa dan Dewoto 2007) Pada katak yang diberi striknin, mengalami kejang pada menit ke 2 detik ke 1. Pada katak yang diberi campuran striknin dan karbo absorbensia, mengalami inkoordinasi pada 348 dan menunjukkan kejang pada 4125. Hal ini menunjukkan bahwa karbo absorbensia dapat mengurangi efek striknin yang disuntikkan dengan cara menyerap zat racun. Karbo absorbensia atau arang aktif adalah arang yang diproses sedemikian rupa sehingga mempunyai daya serap/adsorpsi yang tinggi terhadap bahan yang berbentuk larutan atau uap.

Astringensia Astringensia atau sering disebut zat penciut merupakan obat yang sering digunakan pada kasus diare. Contoh astringensia diantaranya adalah tannin dan garam bismuth. Obat-obat ini berfungsi menciutkan dan mengeraskan dinding usus. Dengan demikian diperkirakan menghalangi penyerapan kuman dan toksin sekaligus mengurangi pengeluaran cairan berlebihan (Nanda dan Dian 2009). Dari hasil percobaan diperoleh bahwa penggunan astringensia menyebabkan lidah terasa kebas dan tebal. Hal ini terjadi karena adanya presipitasi protein yang melapisi lidah. Kesimpulan Zat irritansia dapat menimbulkan berbagai kerusakan pada kulit dan mukosa. Zat yang bersifat asam kuat dapat mendenaturasikan protein dan basa kuat dapat melisiskan protein. Ada pula senyawa yang menimbulkan rubefaksi, misalnya menthol, fenol dan kloroform. Zat yang dapat melindungi dari irritansia disebut protektiva. Zat ini dapat bersifat menyerap zat racun (contoh: karbon aktif), membentuk lapisan (contoh: gom arab), mempresipitasikan protein (contoh: tannin) dan melunakkan, menutup serta melindungi kulit (contoh: minyak olivarum). Pencampuran zat irritansia denga protektiva akan menyebabkan efek sakit yang timbul lebih lambat. Daftar Pustaka [Anonim]. 1998. Artikel: Arang Aktif dari Tempurung Kelapa. Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. http://www.pdii.lipi.go.id/ (16 September 2010) Ariens E. J. 1986. Toksikologi Umum Pengantar. Yogyakarta: UGM Press. Christison Robert. 1829. A Treatise on Poisons in Relation to Medical Jurisprudence, Physiology, and the Practicre of Physic. London: University of Edinburg Clark, Jim. 2004. The Acidity of Phenol. http://www.chemguide.co.uk/organicprops/phenol/acidity.html (16 september 2010) http://www.kalbe.co.id/product-228-flexasur.html# (20 September 2010) http://duniaveteriner.com/2009/10/studi-literatur-senyawa-kimia-yang-bekerja-secara-lokal/print September 2010) Giska (19

Amanda. 2010. Artikel: Cara Tepat Mengatasi Luka Bakar. http://amandagiska.vox.com/library/post/cara-tepat-mengatasi-luka-bakar.html (17 September 2010)

Koeman J. H. 1987. Pengantar Umum Toksikologi. Yogyakarta: UGM Press. Loomis Ted. 1987. Toksikologi Dasar. Semarang: IKIP Semarang Press. Nanda dan Dian. 2009. Artikel: Tanggap saat Diare Menyergap. http://piogama.ugm.ac.id/index.php/2009/01/tanggap-saat-diare-menyergap/ (22 September 2010)

Silvia Iskandar. 2 Sept 2007. Artikel: Zat-zat Berbahaya Dalam Produk-produk Cina (bagian 1) http://www.chem-istry.org/artikel_kimia/berita/zat_zat_berbahaya_dalam_produk_produk_cina_bagian_1/ (17 September 2010) Taylor A. S.1865. The Principles and Practise of Medical Jurisprudence. London: John Churchill & Sons