Anda di halaman 1dari 2

Perlakuan Akuntansi Kontrak Konstruksi

Sepintas lalu, jenis usaha kontrak konstruksi tidak jauh berbeda dengan aktivitas usaha lainnyasama-sama ada biaya, ada pendapatan lalu laba atau rugi. Namun jika sudah masuk ke dalamnya, kebanyakan pegawai akuntansi baru akan bingung untuk menentukan perlakuan akuntansi yang paling pas untuk usaha kontrak konstruksi ini: bagaimana mengalokasikan biaya dan pendapatannya? Berapa besar yang diakui? Kapan diakui? Bagimana membuat laporannya? Kebingungan itu muncul karena sifat dari aktivitas yang dilakukan pada kontrak konstruksi memang sangat berbeda dibandingkan jenis usaha lain. Terutama sekali, tanggal saat aktivitas kontrak mulai dilakukan dan tanggal saat aktivitas tersebut diselesaikan biasanya jatuh pada periode akuntansi yang berlainan. Misalnya: Sebuah perusahaan kontraktor mulai membangun perumahan di tahun 2011, selama proses pembangunan tentulah ada banyak biaya yang keluar: mulai dari perijinan, biaya gambar (drafting) bahan bangunan, hingga upah tukang bangunan. Katakanlah total biaya yang keluar Rp 15 Miliar, diakui sebagai biaya semua bukan? Oke. Akhir Desember 2011 perusahaan tutup buku, maka Laporan Laba Rugi akan menujukan biaya Rp 15 Miliar, sementara pendapatannya tidak ada, karena proyek masih berjalan. Sehingga perusahaan tersebut mengalami kerugian 15 miliar. Apa yang akan terjadi dalam buku kontraktor tersebut di tahun 2012? Pendapatan masuk, sementara biaya sudah tidak ada lagi (walaupun ada mungkin sangat kecil), sehingga perusahaan akan membukukan laba yang super-tinggi. Sangat aneh, bukan?

Apa itu Kontrak Konstruksi?


Menurut PSAK 34 (Revisi 2010), Kontrak konstruksi adalah suatu kontrak yang dinegosiasikan secara khusus untuk konstruksi suatu aset atau suatu kombinasi aset yang berhubungan erat satu sama lain atau saling tergantung dalam hal rancangan, teknologi, dan fungsi atau tujuan pokok penggunaan. Kontrak pembangunan perumahan tadi hanyalah contoh sederhana, pada prakteknya, jenis usaha kontrak konstruksi ini bentuknya bisa macam-macam, tetapi untuk penentuan perlakuan akuntansi kontrak konstruksi dibagi menjadi 2 macam:

Kontrak Tunggal Misalnya: hanya kontrak untuk membanguna rumah saja, atau jembatan, bendungan, pipa, jalan, kapal, terowongan, dll) Kontrak yang Sifatnya Rumit - Satu proyek terpecah-pecah menjadi beberapa kontrak dimana aktivitasnya saling terkait. Misalnya: Proyek pembangunan kilang minyak, terdiri dari kontrak pembangunan kilang, kontrak instalasi pipa, proyek pengadaan dan instalasi mesin, kontrak pengeboran, dan seterusnya. Atau proyek pembangunan pabrik yang terdiri dari kontrak perataan tanah di lokasi pabrik, kontrak pembangunan, kontrak instalasi listrik, kontrak pengadaan dan instalasi mesin, kontrak pembuatan drainase (pembuangan limbah), dan seterusnya.

Kontrak konstruksi dirumuskan dalam berbagai cara. Dalam akuntansi, rumusan kontrak konstruksi dibagi menjadi 2 macam yaitu:

Kontrak Harga Tetap - yaitu kontrak konstruksi dengan syarat bahwa kontraktor telah menyetujui nilai kontrak yang telah ditentukan, atau tarif tetap yang telah ditentukan per unit output, yang dalam beberapa hal tunduk pada ketentuan-ketentuan kenaikan biaya. Kontrak Biaya-plus yaitu kontrak konstruksi yang mana kontraktor mendapatkan penggantian untuk biaya-biaya yang telah diizinkan atau telah ditentukan, ditambah imbalan dengan persentase terhadap biaya atau imbalan tetap.

Pertanyaan selanjutnya: dipisah-pisah atau disatukan? Dalam PSAK 34 (Revisi 2010), diatur sebagai berikut: Suatu kelompok kontrak, dengan satu pelanggan atau beberapa pelanggan, diperlakukan sebagai satu kontrak konstruksi jika:

kelompok kontrak tersebut dinegosiasikan sebagai satu paket; kontrak-kontrak tersebut berhubungan erat sekali, sebetulnya kontrak tersebut merupakan bagian dari satu proyek tunggal dengan suatu margin laba; dan kontrak-kontrak tersebut dilaksanakan secara serentak atau secara berkesinambungan.

Jika suatu kontrak mencakup sejumlah aset, konstruksi dari setiap aset diperlakukan sebagai suatu kontrak konstruksi yang terpisah jika:

proposal terpisah telah diajukan untuk setiap aset; setiap aset telah dinegosiasikan secara terpisah serta kontraktor dan pelanggan dapat menerima atau menolak bagian kontrak yang berhubungan dengan masing-masing aset tersebut; dan biaya dan pendapatan masing-masing aset dapat diidentifikasi.

Bagaimana jika ada tambahan kontrak, apakah itu dipisah? Konstruksi aset tambahan diperlakukan sebagai suatu kontrak konstruksi terpisah jika: (a) aset tambahan tersebut berbeda secara signifikan dalam rancangan, teknologi atau fungsi dengan aset yang tercakup dalam kontrak semula; atau (b) harga aset tambahan tersebut dinegosiasikan tanpa memerhatikan harga kontrak semula. Jika kriteria tersebut tidak terpenuhi maka kontrak tambahan dijadikan satu dengan kontrak utamanya. Apa saja biaya yang ada dalam kontrak konstruksi, bagaimana perlakuann akuntansinya? Apa saja jenis pendapatan yang mungkin diperoleh dari kontrak konstruksi, bagaimana perlakuan akuntansinya? Di tulisan berikutnya saya akan bahas perlakuan biaya dan pendapatan perusahaan kontrak konstruksi.
Sumber : http://jurnalakuntansikeuangan.com/2011/07/perlakuan-akuntansi-kontrak-konstruksi/