Anda di halaman 1dari 35

PERANCANGAN KEAIRAN

sungai bogowonto
2010

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Definisi Sungai
Sungai merupakan salah satu sumber air bagi kehidupan yang ada di bumi.
Baik manusia, hewan dan tumbuhan semua makhluk hidup memerlukan air untuk
dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Sungai mengalir dari hulu ke hilir
bergerak dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Air sungai berakhir di laut
sehingga air yang tadinya terasa tawar menjadi asin terkena zat garam di laut luas.
Terjadinya sungai karena dibentuk atau ditimbulkan oleh air hujan yang jatuh
pada permukaan bumi, dimana sebagian melimpas dan mengalir membentuk alur-alur
kecil (creek), kemudian menjadi alur-alur sedang (tributaries) dan seterusnya
mengumpul menjadi satu alur besar atau alur utama yang mana biasanya sebelum
masuk ke laut dapat terbagi lagi atas beberapa alur (distributaries). Sebagian lainnya
dari air hujan ada yang meresap ke dalam tanah yang kemudian akan keluar di tempat
lain sebagai mata air atau sebagai air tanah dan ada pula yang menguap lagi
(evaporasi)





Pada tahun 1880 an seorang geologist berkebangssan Amerika, William
Davis Morris, berpendapat bahwa sungai dan lembahnya ibarat organisme hidup.
Sungai berubah dari waktu ke waktu, mengalami masa muda, dewasa, dan masa tua.
Menurut Davis, siklus kehidupan sungai dimulai ketika tanah baru muncul di atas
permukaan laut. Hujan kemudian mengikisnya dan membuat parit, kemudian parit-
parit itu bertemu sesamanya dan membentuk sungai. Danau menampung air pada
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

daerah yang cekung, tapi kemudian hilang sebagai sebagai sungai dangkal.
Gambar 1.1 sungai bogowonto
(Sumber: mbahngari.blogspot.com)
Kemudian memperdalam salurannya dan mengiris ke dasarnya membentuk sisi
yang curam, lembah bentuk V. Anak-anak sungai kemudian tumbuh dari sungai
utamanya seperti cabang tumbuh dari pohon. Semakin tuan sungai, lembahnya
semakin dlam dan anak-anak sungainya semakin panjang.


Sungai masih
bayi. Sempit dan
curam
Sungai muda.
Anak sungainya
bertambah
Sungai tua.
Daerah alirannya
semakin melebar
dan berkelok
Sungai sudah tua
sekali.
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010





Robert E. Horton, seorang consulting
hydrolic engineer, mengklasifikasikan
sungai berdasarkan tingkat kerumitan
anak-anak sungainya. Saluran sungai
tanpa anaknya disebut sebagai "first
order". Sungai yang mempunyai satu
atau lebih anak sungai "first order"
disebut saluran sungai "second order".
Sebuah sungai dikatakan "third order"
jika sungai itu mempunyai sekurang-
kurangnya satu anak sungai "second
order". Dan seterusnya. Lihat gambar di
samping kanan ini.
Sungai Amazon dan Congo, yang
terbesar di dunia, diklasifikasikan
sebagai sungai dengan "12th order" atau
"13th order".



Gambar 1.3 aliran sungai
(Sumber: mbahngari.blogspot.com)


Riwayat terjadinya alur sungai sangat erat hubungannya dengan apa yang
disebut daur hidrologi. Adanya tenaga sinar matahari, air yang ada di laut, di darat
maupun di permukaan tanah akan menguap. Uap-uap air ini akan berkumpul di
angkasa yang kemudian dibawa angin kea rah daratan. Berhubung udara makin tinggi
semakin rendah temperaturnya, mka uap air yang berkumpul tersebut (awan) akan
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

berkondensasi dan turunlah hujan ke permukaan bumi yang sebagian besar mengalir
menuju laut lagi. Air hujan inilah yang mengawali terjadinya alur-alur kecil yang
kemudian bergabung menjadi satu alur besar yang disebut sungai.
Adapun aspek pemanfaatan dari sungai untuk memenuhi kepentingan hidup antara
lain :
- Pemanfaatan air untuk irigasi
- Pemanfaatan ir untuk tenaga listrik
- Pemanfaatan air untuk penyediaan air bersih (water supply)
- Pemanfaatan air untuk perhubungan
- Pemanfaatan air untuk kelembaban dan suhu udara di atasnya.
Oleh karena itu masalah pengolahan dan pelestarian sungai sebagai sumber daya air
sangat penting dalam pembangunan bangsa kita, baik dalam masa sekarang maupun
dalam masa depan.
Seperti telah diuraikan di atas sungai merupakan salah satu sumber air yang
dapat memberikan kemakmuran bila kita mampu menguasainya dengan
menghilangkan sifat-sifat yang merugikan dan mengambil manfaat yang sebesar-
besarnya. Apabila kita tidak mampu menguasainya, dalam arti sungai tidak
terkendalikan, maka akan menimbulkan penderitaan bagi masyarakat yang berdiam di
sepanjang sungai. Bila musim kemarau mengalami kekeringan dan bila musim hujan
air akan melimpah sehingga menimbulkan banjir.
Sungai dapat kita bagi menjadi beberapa jenis berdasarkan pembentukannya, yaitu :
1. Sungai Hujan
Sungai hujan adalah sungai yang sumber airnya berasal dari air hujan yang
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

berkumpul membuat suatu aliran besar. Sungai-sungai yang ada di Indonesia
umumnya adalah termasuk ke dalam jenis sungai hujan.
2. Sungai Gletser
Sungai gletser adalah sungai yang sumber airnya berasal dari salju yang mencair
berkumpul menjadi kumpulan air besar yang mengalir. Sungai membramo /
memberamo di daerah papua / irian jaya adalah salah satu contoh dari sungai gletser
yang ada di Indonesia.
3. Sungai Campuran
Sungai campuran adalah sungai di mana air sungai itu adalah pencampuran antara
air hujan dengan air salju yang mencair. Contoh sungai campuran adalah sungai digul
di pulau papua / irian jaya.
1.2. Sekilas Sungai Bogowonto
Sungai Bogowonto adalah sungai yang terletak di wilayah Provinsi Jawa
Tengah yang bermuara ke Samudera Hindia. Sungai ini berhulu di dataran tinggi di
daerah Kedu dan merupakan satu dari dua sungai cukup besar di Jawa Tengah yang
bermuara ke pantai selatan, selain Sungai Serayu.
Sungai Bogowonto merupakan batas alam bagian barat bagi Daerah Istimewa
Yogyakarta dengan wilayah Bagelen (sekarang Kabupaten Purworejo). Bagian
hilir daerah aliran sungai ini juga sering dilanda banjir pada musim penghujan.
1.3. Banjir
Banjir adalah dimana suatu daerah dalam keadaan tergenang oleh air dalam
jumlah yang begitu besar. Sedangkan banjir bandang adalah banjir yang datang
secara tiba-tiba yang disebabkan oleh karena tersumbatnya sungai maupun karena
pengundulan hutan disepanjang sungai sehingga merusak rumah-rumah penduduk
maupun menimbulkan korban jiwa.
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

Bencana banjir hampir setiap musim penghujan melanda Indonesia. Berdasarkan
nilai kerugian dan frekuensi kejadian bencana banjir terlihat adanya peningkatan yang
cukup berarti. Kejadian bencana banjir tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor alam
berupa curah hujan yang diatas normal dan adanya pasang naik air laut. Disamping
itu faktor ulah manusia juga berperan penting seperti penggunaan lahan yang tidak
tepat (pemukiman di daerah bantaran sungai, di daerah resapan, penggundulan hutan,
dan sebagainya), pembuangan sampah ke dalam sungai, pembangunan pemukiman di
daerah dataran banjir dan sebagainya.














Gambar 1.4 banjir akibar luapan sungai bogowonto
(Sumber: samsul-arifin.blog.friendster.com)


PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

Sebagai contoh banjir dunia yang merenggut banyak nyawa ialah :
1. Banjir di Pakistan
Banjir di Pakistan merupakan Banjir terburuk dalam sejarah Pakistan sejak
1929 yang menyengsarakan lebih dari tiga juta orang. Banjir akibat hujan
deras menimbulkan gelombang besar di sepanjang sungai Indus, membuat
orang mengungsi. Jumlah korban meningkat tajam akibat wabah penyakit
yang terbawa air muncul serta minimnya perlindungan bagi korban yang
terkena amukan hujan badai. Lebih dari 1,5 juta orang telah terkena dampak
hujan lebat, banjir dan tanah longsor di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa di
wilayah barat laut negera itu. Ribuan rumah dan sebagian besar lahan
pertanian juga hancur di wilayah Pakistan yang sudah bertahun-tahun
terkoyak perang itu. Lebih dari 3.700 rumah telah tersapu banjir, dan jumlah
orang yang telah kehilangan tempat tinggal terus bertambah.









Gambar 1.5
(Sumber: riaupos.com)
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

Selain menewaskan sekitar 313 warga, banjir yang diikuti tanah
longsor itu juga membuat sekitar 30.000 penduduk terlantar. Ribuan hektare
area persawahan juga rusak terendam air. Area pertanian yang menderita
kerusakan paling parah adalah yang berada di wilayah barat laut KP yang dulu
dikenal sebagai Provinsi North West Frontier dan Kashmir.
2. Banjir di Cina dan Korea Utara
Cuaca buruk terus merundung wilayah Cina. Banjir dipicu hujan deras
yang mengakibatkan Sungai Yalu yang membelah perbatasan Cina dan Korea
Utara meluap. Rumah dan jalan-jalan di Kota Dandong pun direndam banjir.
Lebih dari 120.000 orang telah dievakuasi di timur laut Cina akibat banjir
yang menerjang daerah tersebut. Evakuasi ribuan orang juga terjadi di negara
tetangga Cina, Korea Utara. Banjir ini mengakibatkan empat orang meninggal
dunia.
Hujan musim panas yang terjadi saat itu menyebabkan debit air di
sungai Yalu menjadi tinggi, akibatnya banjir tidak dapat terhindarkan. Seperti
dilansir dari kantor berita Xinhua, di kota Dandong, yang berbatasan dengan
Korea Utara, lebih dari 94.000 penduduk dievakuasi dan beberapa jaringan
transportasi terputus. Lalu lintas di pusat kota Sinuiju "lumpuh" total.

Gambar 1.6
(Sumber: bbc.co.uk)
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

3. Banjir Sungai Bogowonto
Dalam tugas Perancangan Keairan ini kami mengacu pada sungai
Bogowonto yang terletak di Kabupaten Purworejo. Hujan deras yang
mengguyur Kabupaten Purworejo sepanjang Jumat (21/11) malam hingga
Sabtu (22/11) pagi mengakibatkan dua sungai, yaitu Sungai Bogowonto dan
Sungai Dulang meluap. Luapan air mengakibatkan sedikitnya delapan desa
terkena banjir. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun kerugian
material diperkirakan mencapai jutaan rupiah. Pasalnya, puluhan hektare
sawah terendam. Sebagian sudah ditanami benih padi umur satu minggu.
Sebagian yang lain terdapat padi dan jagung yang hanya tinggal beberapa hari
lagi dipanen.
Sungai Bogowonto yang termasuk suangai dengan debit air yang
tinggi meluapkan kemarahannya pada hari Jumat sore 19/03.2010 tepatnya di
desa Sawi Kecamatan Gebang kabupaten Purworejo (Jawa Tengah). Hal
tersebut digambarkan dengan terjadinya banjur bandang yang sangat besar
sehingga luapan air menerobos ke area persawahan warga yang pada akhirnya
areal persawahan tersebut habis menjadi luapan sungai bogowonto yang baru.
Pada mulanya banjir besar terjadi ketika selama beberapa hari terjadi turun
hujan yang terus menerus. sehingga air sungai menjadi banjir. Penyebab air
sungai itu menerobos karena pada lengkungan bentangan sungai yang sangat
nenikuk tajam membuat tekanan air dari atas menerobos lurus ke tanah sawah
didepannya sehingga pada akhirnya aliran air banyak yang ikut ke tanggul
sawah yang jebol dan tergerus tersebut.



PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010








Gambar 1.7
(Sumber: mbahngari.blogspot.com)
Luapan Sungai Bogowonto mengakibatkan belasan rumah penduduk yang ada di
Desa Bugel, Kecamatan Bagelen juga terendam air. Rumah-rumah yang terendam itu
berada di RT 03/RW 03 yang berada tepat di bantaran Sungai Bogowonto. Saat
pertama kali banjir datang, ketinggian air di jalanan lebih dari satu meter. Hektaran
lahan persawahan yang baru saja ditanami bibit padi juga tak luput dari rendaman air.
I.4. Penanggulangan Banjir
Secara umum penyebab utama banjir adalah perubahan dan eskalasi perilaku
manusia dalam mengubah fungsi lingkungan. Di kawasan budidaya telah terjadi
perubahan tata ruang secara massive, sehingga daya dukung lingkungan menurun
drastis. Pesatnya pertumbuhan permukiman dan industri telah mengubah
keseimbangan fungsi lingkungan, bahkan kawasan retensi banjir (retarding basin)
yang disediakan alam berupa situ-situ telah juga dihabiskan.
Keadaan ini secara signifikan menurunkan kapasitas penyerapan air secara
drastis. Kondisi ini diperparah dengan sistem drainase permukiman yang kurang
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

memadai, sehingga pada curah hujan tertentu, menimbulkan genangan air di mana-
mana. Selain itu, lemahnya penegakan hukum ikut mendorong tumbuh dan
berkembangnya permukiman ilegal di bantaran sungai, bahkan masuk ke badan
sungai. Keadaan ini makin memperburuk sistem tata air lingkungan, karena kapasitas
tampung dan pengaliran sungai menurun dan terjadilah luapan air.
Penambangan pasir illegal, terutama pada areal-areal bangunan pengendali banjir,
yang umumnya mudah diakses juga ikut memperparah keadaan. Sebab, kemampuan
bangunan pengendali banjir menjadi turun.
Di seluruh Indonesia, tercatat 5.590 sungai induk dan 600 di antaranya
berpotensi menimbulkan banjir. Daerah rawan banjir yang dicakup sungai-sungai
induk ini mencapai 1,4 juta hektar. Dari berbagai kajian yang telah dilakukan, banjir
yang melanda daerah daerah rawan, pada dasarnya disebabkan tiga hal. Pertama,
kegiatan manusia yang menyebabkan terjadinya perubahan tata ruang dan berdampak
pada perubahan alam. Kedua, peristiwa alam seperti curah hujan sangat tinggi,
kenaikan permukaan air laut, badai, dan lain sebagainya. Ketiga, degradasi
lingkungan seperti hilangnya tumbuhan penutup tanah pada catchment area,
pendangkalan sungai akibat sedimentasi, penyempitan alur sungai dan sebagainya.
Banjir bukan hanya menyebabkan sawah tergenang sehingga tidak dapat
dipanen dan meluluh lantahkan perumahan dan permukiman, tetapi juga merusak
fasilitas pelayanan sosial ekonomi masyarakat dan prasarana publik, bahkan menelan
korban jiwa. Kerugian semakin besar jika kegiatan ekonomi dan pemerintahan
terganggunya, bahkan terhentinya. Meskipun partisipasi masyarakat dalam rangka
penanggulangan banjir sangat nyata. terutama pada aktivitas tanggap darurat, namun
banjir menyebabkan tambahan beban keuangan negara, terutama untuk merehabilitasi
dan memulihkan fungsi parasana publik yang rusak.


PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

Siklus Penanggulangan Banjir
Penanggulangan banjir dilakukan secara bertahap, dari pencegahan sebelum
banjir (prevention), penanganan saat banjir (response/intervention), dan pemulihan
setelah banjir (recovery). Tahapan tersebut berada dalam suatu siklus kegiatan
penanggulangan banjir yang berkesinambungan, sebagaimana digambarkan pada
Gambar 1 yang mencakup beberapa jenis kegiatan seperti ditunjukkan dalam Tabel 1.
Kegiatan penanggulangan banjir mengikuti suatu siklus (life cycle), yang dimulai dari
banjir, kemudian mengkajinya sebagai masukan untuk pencegahan (prevention)
sebelum bencana banjir terjadi kembali. Pencegahan dilakukan secara menyeluruh,
berupa kegiatan fisik seperti pembangunan pengendali banjir di wilayah sungai (in-
stream) sampai wilayah dataran banjir (off-stream), dan kegiatan non-fisik seperti
pengelolaan tata guna lahan sampai sistem peringatan dini bencana banjir.
















Gambar 1.8. Disaster Risk Management and MitigationCircle

(Sumber: Stephen Bieri, Disaster Risk Management & The System Approach)

PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

Tabel 1. Kegiatan dalam Siklus Penanggulangan Banjir
Setelah pencegahan dilaksanakan, dirancang pula tindakan penanganan
(response/intervention) pada saat bencana banjir terjadi. Tindakan penanganan
bencana banjir, antara lain pemberitahuan dan penyebaran informasi tentang
prakiraan banjir (flood forecasting information and dissemination), tanggap darurat,
bantuan peralatan perlengkapan logistik penanganan banjir (flood emergency
response and assistance), dan perlawanan terhadap banjir (flood fighting).
Pemulihan setelah banjir dilakukan sesegera mungkin, untuk mempercepat
perbaikan agar kondisi umum berjalan normal. Tindakan pemulihan, dilaksanakan
mulai dari bantuan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, perbaikan sarana-
prasarana (aftermath assistance and relief), rehabilitasi dan adaptasi kondisi fisik dan
non-fisik (flood adaptation and rehabilitation), penilaian kerugian materi dan non-
Siklus Kegiatan
PENCEGAHAN
(Prevention)
Upaya - upaya Struktural
Upaya di dalam badan Sungai ( In-Stream)
Upaya di luar badan Sungai ( Off- Stream)
Upaya - upaya Non-Struktural
Upaya Pencegahan Banjir Jangka Panjang
Upaya Pengelolaan Keadaan Darurat Banjir dalam Jangka Pendek
PENANGANAN
(Intervention/
Response)
Pemberitahuan dan Penyebaran Informasi Prakiraan Banjir
Reaksi Cepat dan Bantuan Penanganan Darurat Banjir
Perlawanan terhadap Banjir
PEMULIHAN
(Recovery)
Bantuan Segera Kebutuhan Hidup Sehari-hari dan Perbaikan Sarana
dan Prasarana
Pembersihan dan Rekonstruksi Pasca Banjir
Rehabilitasi dan Pemulihan Kondisi Fisik dan Non-Fisik
Penilaian Kerusakan/Kerugian dan Asuransi Bencana Banjir
Kajian Penyebab Terjadinya Bencana Banjir


(Sumber: Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat UI,
Pengumpulan dan Analisis Data Kebijakan Penanggulangan Banjir di Indonesia)

PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

materi, asuransi bencana banjir (flood damage assessment and insurance), dan
pengkajian cepat penyebab banjir untuk masukan dalam tindakan pencegahan (flood
quick reconnaissance study).

A. Penyebab umum terjadinya bencana banjir antara lain ialah :
1. Curah hujan yang tinggi
2. Permukaan tanah lebih rendah dibandingkan muka air laut
3. Terletak pada suatu cekungan yang dikelilingi perbukitan dengan pengaliran air
keluar sempit.
4. Banyak pemukiman yang dibangun pada dataran sepanjang sungai.
5. Aliran sungai tidak lancar akibat banyaknya sampah serta bangunan di pinggir
sungai.
6. Kurangnya tutupan lahan di daerah hulu sungai.
B. Tindakan Untuk Mengurangi Dampak Banjir
1. Penataan daerah aliran sungai secara terpadu dan sesuai fungsi lahan.
2. Pembangunan sistem pemantauan dan peringatan dini pada bagian sungai yang
sering menimbulkan banjir.
3. Tidak membangun rumah dan pemukiman di bantaran sungai serta daerah banjir.
4. Tidak membuang sampah ke dalam sungai. Mengadakan Program Pengerukan
sungai.
5. Pemasangan pompa untuk daerah yang lebih rendah dari permukaan laut.
6. Program penghijauan daerah hulu sungai harus selalu dilaksanakan serta
mengurangi aktifitas di bagian sungai rawan banjir.
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

I.5. Tujuan Pembelajaran Perancangan Keairan
- Dapat menjelaskan morfologi(bentuknya), geometri, profil memanjang dan
tampang melintang sungai banjir serta gerusan yang terjadi. Dan dapat
mengenal fungsi dan macam bangunan pengendaliaan pada sungai.
- Mahasiswa mampu menghitung dan merancang bangunan keairan, bangunan
tanggul yang aman terhadap banjir. seberdasarkan fungsi dan dimensi tempat
serta bahan yang dipakai dan kondisi topografi setempat.
- mahasiswa mampu merancang bangunan revetment dan turap, merancang
bangunan outlet drainase pada sungai, dapat merancang koneksi jaln
inspeksi dengan jalan desa, dapat merancang bangunan pengendali dasar
sungai, serta dapat menghitung volume dan rencana anggaran biaya
pekerjaan.











PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

BAB II
2.1. Morfologi sungai
Morfologi sungai adalah ilmu yang mempelajari tentang geometri
(bentuk dan ukuran), jenis, sifat dan perilaku sungai dengan segala aspek dan
perubahannya dalam dimensi ruang dan waktu. Dengan demikian, morfologi
sungai ini akan menyangkut juga sifat dinamik sungai dan lingkungannya yang
salingus terkait.

Gambar 2.1
(Sumber: )
Sifat-sifat sungai sangat dipengaruhi oleh luas dan bentuk daerah
pengaliran serta kemiringannya. Untuk suatu Negara maupun tempat
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

dengan pulau yang sempit tidak begitu luas dan memanjang disertai dengan
banyaknya pegunungan yang ada akan mengakibatkan bentuk penampang
sungai akan lebih panjang dan sempit luasnya akan tetapi akan memiliki
kemiringan yang lebih curam dibandingkan dengan sungai yang
berpenampang lebih luas/besar.
Dua proses penting dalam sungai adalah erosi dan pengendapan, yang
dipengaruhi oleh jenis aliran air dalam sungai yaitu
aliran laminer: jika air mengalir dengan lambat, partikel akan bergerak ke
dalam arah paralel terhadap saluran.
aliran turbulen: jika kecepatan aliran berbeda pada bagian atas, tengah, bawah,
depan dan belakang dalam saluran, sebagai akibat adanya perubahan friksi,
yang mengakibatkan perubahan gradien kecepatan. Kecepatan maksimum pada
aliran turbulen umunya terjadi pada kedalaman 1/3 dari permukaan air terhadap
kedalaman sungai.
Erosi terjadi pada dinding ataupun dasar sungai dibawah kondisi aliran
yang bersifat turbulen. Pengendapan akan terjadi jika material yang
dipindahkan jauh lebih besar untuk digerakkan oleh kecepatan dan kondisi
aliran. Pada kondisi aliran turbulen erosi akan terjadi akibat terbawanya
material dan pengendapan terjadi ketika hasil erosi tersebut menuju ke arah
bawah tidak terpindahkan lagi oleh aliran.
karakteristik sungai
- mengalir searah
- kederasan aliran(debit) sering kali berfluktuasi
- dasar sungai dan tepian tidak stabil
- bentuk memenjang
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

- relative dangkal
- biota beradaptasi dengan aliran searah
- kekeruhan, kosentrasi oksigen, pertukaran nutrient lebih besar














Grafik 1
(Sumber: )
Pembagian daerah aliran sungai:
1. Hulu
Ciri-ciri sungai yang berada di hulu yaitu, dangkal, banyak sekali batu-batu,
sempit, dan kadang terdapat air terjun.



Hulu Tengah
Hilir
Daerah Erosi
Daerah deposisi
A
B
C
Dataran Tinggi
Dataran rendah
Elevasi
- hutan
- tambang
- kebun
- Kebun
- pertanian
- pemukiman
- pertanian
- pemukiman
- industri
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

2. Peralihan
Ciri daerah peralihan adalah agak dalam, batu-batu yang berada di sengai
tidak membahayakan, banyak jeram. Dengan ciri tersebut, daerah peralihan
inilah yang cocok untuk melakukan pengarungan.
Cirinya, kedalaman sungainya sangat dalam, lebar dan arusnya tenang.

2.2. Geometri Sungai
2.2.1. Penampang Memanjang
Potongan suatu penampang sungai secara sejajar alur sungai yang berisi
informasi pada titik-titik sepanjang sungai meliputi:
a. elevasi dasar sungai
b. elevasi muka air
c. kemiringan dasar sungai
d. bangunan air

2.2.2. Penampang Melintang
Potongan suatu penampang sungai secara tegak lurus sungai yang berisi
informasi suatu titik tertentu di sungai meliputi:
a. bentuk penampang: lebar sungai, kedalaman air, luas penampang
b. tanggul, bantaran sungai

2.3. Profil Sungai
Profil suatu sungai dapat bermacam-macam bentuknya. Profil sungai
yang berbeda-beda secara karasteristik dapat membawa perbedaan sedimen
bahan dasar (bed load) dan sedimen tersuspensi (suspended load). Saluran
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

sungai yang bercabang (braided), bekelok-kelok (meander) dan lurus inilah
yang menjadi faktor utama.
Pada sungai yang perbedaan debit banjir dan debit minimumnya besar,
pada waktu air rendah alurnya sangat labil. Agar dapat diperoleh sungai yang
alurnya stabil, maka dalam rangka perbaikan dan pengaturan sungai, supaya
diusahakan pembentukan profil ganda.
Sedangkan pada sungai yang debit banjirnya tidak terlalu besar atau
sungai yang debit normalnya besar, biasanya diterapkan profil yang sama atau
hampir sama dengan profil tunggal. Selain itu juga pada daerah pasang surut
dekat muara sungai yang tidak deras arusnya, seluruh lebar sungai selalu
terendam air walaupun debitnya kecil. Dalam keadaan ini, trase alur bawahnya
diusahakan agar tidak mudah bergeser dengan krib atau cara lainnya.
Bantaran adalah bagian sungai yang hanya dilalui air pada saat banjir.
Tinggi bantaran ditentukan berdasarkan hubungan aliran banjir danluas profil
alur bawah, biasanya 1,0 1,5 m diatas elevasi muka air rendah rata-rata.
2.4. Gerusan dan Sedimentasi
Air yang mengalir didalam sungai lama kelamaan akan menggerus tanah
dasarnya secara terus menerus sepanjang masa eksistensinya dan terbentuklah
lembah-lembah sungai. Sehingga terbentuklah sedimentasi pada dasar sungai.
Sedimen juga dapat diperoleh dari runtuhan tebing sungai, lalu akan dibawa oleh
arus/aliran sungai menuju ke hilir sungai.
Erosi terjadi pada dinding ataupun dasar sungai dibawah kondisi aliran
yang bersifat turbulen. Pengendapan akan terjadi jika material yang dipindahkan
jauh lebih besar untuk digerakkan oleh kecepatan dan kondisi aliran. Pada
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

kondisi aliran turbulen erosi akan terjadi akibat terbawanya material dan
pengendapan terjadi ketika hasil erosi tersebut menuju ke arah bawah tidak
terpindahkan lagi oleh aliran
Gaya tarik arus sungai ini dipengaruhi oleh kemiringan sungai, untuk
daerah pegunungan, aliran akan kuat karena kemiringan sungai yang curam,
sedangkan di daerah dataran, kuat tarik tersebut akan menjadi kecil/lemah.
Sehingga beban sungai yaitu endapan akan berangsur-angsur mengendap sampai
sebelum mencapai hilir. Pada perubahan kemiringan sungai yang begitu
ekstrim/mendadak, akan mengakibatkan proses pengendapan yang sangat
intensif dan menyebabkan mudah berpindahnya alur sungai dan terbentuklah
kipas endapan. Dengan kata lain, sungai akan menjadi lebih dangkal dari
sebelumnya.
Sedimen atau endapan pada umumnya diartikan sebagai hasil dari proses
pelapukan terhadap suatu tubuh batuan, yang kemudian mengalami erosi,
tertansportasi oleh air, angin, dll, dan pada akhirnya terendapkan atau
tersedimentasikan.
Sedimentasi adalah suatu proses pengendapan material yang ditransport
oleh media air, angin, es, atau gletser di suatu cekungan. Gerusan sendiri ialah
penurunan dasar sungai karena erosi di bawah permukaan elevasi permukaan
alami sungai tersebut.
Dua proses penting dalam sungai adalah erosi(gerusan) dan
pengendapan(sedimentasi), yang dipengaruhi oleh jenis aliran air dalam sungai
yaitu:
- aliran laminer: jika air mengalir dengan lambat, partikel akan bergerak ke
dalam arah paralel terhadap saluran.
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

- aliran turbulen: jika kecepatan aliran berbeda pada bagian atas, tengah,
bawah, depan dan belakang dalam saluran, sebagai akibat adanya perubahan
friksi, yang mengakibatkan perubahan gradien kecepatan. Kecepatan
maksimum pada aliran turbulen umunya terjadi pada kedalaman 1/3 dari
permukaan air terhadap kedalaman sungai.
Erosi terjadi pada dinding ataupun dasar sungai dibawah kondisi aliran
yang bersifat turbulen. Pengendapan akan terjadi jika material yang dipindahkan
jauh lebih besar untuk digerakkan oleh kecepatan dan kondisi aliran. Pada
kondisi aliran turbulen erosi akan terjadi akibat terbawanya material dan
pengendapan terjadi ketika hasil erosi tersebut menuju ke arah bawah tidak
terpindahkan lagi oleh aliran.











Gambar 2.2
(Sumber: )
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

BAB III
ANALISIS DATA

3.1 Letak Profil Saluran
Pertama-tama kita harus mengetahui letak profil saluran sebelum
menganalisis tampang profil saluran sungai Bogowonto. Dari letak profil saluran
dengan elevasi dan kemiringan yang berbeda-beda, maka kita dapat menentukan letak
arah hulu dan hilir. Dengan begitu, kita akan mendapatkan sungai sesuai dengan
desain saluran rencana.

Dengan elevasi dan titik yang kita tentukan maka didapatkan letak awal dari
tampang profil tersebut, dan jarak yang harus dipenuhi antar profil tersebut adalah
sejauh 100 meter. Sehingga, dengan kata lain pada setiap jarak 100 meter, harusn
berganti profil sesuai dengan desain yang direncanakan.

Adapun profil yang diperlukan adalah sebanyak 10 tampang profil.
Selanjutnya, dapat dijelaskan pada gambar dibawah ini:






PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

Gambar 3.1 Jarak Antar Profil Sungai

3.2 Perhitungan Debit (Q) Maksimum dengan Tiga Metode
3.2.1 Data
Tabel 3.1 Data debit maksimum Sungai Bogowonto
TAHUN Qi Qmean Qi-Qr (Qi-Qr) (Qi-Qr) (Qi-Qr)
1992 1667,40
401,80 -171,04 29255,82 -5004012,91 855903026,77
1993 2386,82 354,74 548,38 300716,75 164905985,60 90430561203,44
1994 3069,41 511,38 1230,97 1515280,61 1865260952,76 2296075326917,73
1995 1636,02 350,65 -202,42 40975,72 -8294492,37 1679009227,36
1996 1291,58 244,10 -546,86 299059,24 -163544460,14 89436428913,61
1997 1358,91 149,04 -479,53 229951,72 -110269395,84 52877793783,86
1998 1657,87 348,31 -180,58 32607,93 -5888231,74 1063277258,86
1999 1612,17 332,74 -226,28 51203,57 -11586449,59 2621805691,25
2000 1394,50 352,51 -443,95 197089,25 -87497250,74 38844172698,72
2001 1602,55 320,75 -235,90 55646,46 -13126721,94 3096528257,46
2002 1649,51 247,76 -188,93 35696,15 -6744226,17 1274215356,64
2003 1849,42 432,00 10,97 120,40 1321,04 14495,10
2004 2254,67 375,68 416,23 173243,37 72108247,04 30013265534,84
2005 2035,93 411,75 197,49 39000,37 7701993,04 1521029004,88
2006 2109,92 475,17 271,47 73697,38 20006819,31 5431303432,82
27576,7 0 3073544,7 1718030077.34 2615220634803,34

3.2.2 Perhitungan Debit Rerata (Qr)
Qr =
T
(Qi) E

=
15
27576,7

=1838,45
dt
m
3


PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

3.2.3 Perhitungan menggunakan rumus standar deviasi ()
=
1
) (
2
1

E

n
Q Q
rata rata
=
1 15
3073544,7



= 468,55
dt
m
3

3.2.4 Perhitungan menggunakan rumus koefisien variasi (Cv)
Cv =
r
Q
o
=
1838,45
468,55

= 0,25
3.2.5 Perhitungan menggunakan rumus koefisien kemencengan (Cs)
Cs =
|
|
.
|

\
|
) 2 )( 1 ( n n
n
|
|
.
|

\
| E

3
3
1
) (
o
rata rata
Q Q

=
|
|
.
|

\
|
) 1 15 )( 1 15 (
15
|
|
.
|

\
|
3
) 468,55 (
,34 1718030077

= 1,38
3.2.6 Perhitungan menggunakan rumus koefisien kurtosis (Ck)
Ck=
|
|
.
|

\
|
) 3 )( 2 )( 1 (
2
n n n
n
|
|
.
|

\
| E

4
4
1
) (
o
rata rata
Q Q

=
|
|
.
|

\
|
) 3 15 )( 2 15 )( 1 15 (
15
2
|
|
.
|

\
|
4
) 468,5498 (
803,34 2615220634

= 5,5900

PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

Maka :











3.2 gambar cv dengan cs digunakan untuk memilih jenis sebaran
(sumber: G. W. Keith, 1988)

3.2.7 Mentukan standar deviasi (Z)
Rumus: Standar Deviasi (P) T tahun = 1 -
T
1

Standar deviasi 2 tahun = 1 -
2
1
= 0,5
dilihat dari table Z dan standar deviasi didapat Z
2
= 0
Qr= 1838,4475
= 468,5498
CV= 0,2549
CS= 1,3765
CK= 5,5900
3

PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

Standar deviasi 10 tahun = 1 -
10
1
= 0,9
dilihat dari table Z dan standar deviasi didapat Z
10
= 1,28
Standar deviasi 25 tahun = 1 -
25
1
= 0,96
dilihat dari table Z dan standar deviasi didapat Z
25
= 1,75
Standar deviasi 50 tahun = 1 -
50
1
= 0,98
dilihat dari table Z dan standar deviasi didapat Z
50
= 2,05
Standar deviasi 100 tahun = 1 -
100
1
= 0,99
dilihat dari table Z dan standar deviasi didapat Z
100
= 2,33
Tabel 3.2 Cumulative Probability of The Standard Normal Distribution (z)

z 0 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 0.06 0.07 0.08 0.09
0.0 0.5000 0.504 0.508 0.512 0.516 0.5199 0.5239 0.5279 0.5319 0.5359
0.1 0.5398 0.5438 0.5478 0.5517 0.5557 0.5596 0.5636 0.5675 0.5714 0.5754
0.2 0.5793 0.5832 0.5871 0.591 0.5948 0.5987 0.6026 0.6064 0.6103 0.6141
0.3 0.6179 0.6217 0.6255 0.6293 0.6331 0.6368 0.6406 0.6443 0.648 0.6517
0.4 0.6554 0.6591 0.6628 0.6664 0.67 0.6736 0.6772 0.6808 0.6844 0.6879
0.5 0.6915 0.695 0.6985 0.7019 0.7054 0.7088 0.7123 0.7157 0.719 0.7224
0.6 0.7258 0.7291 0.7324 0.7357 0.7389 0.7422 0.7454 0.7486 0.7518 0.749
0.7 0.7580 0.7612 0.7642 0.7673 0.7704 0.7734 0.7764 0.7794 0.7823 0.7852
0.8 0.7881 0.791 0.7939 0.7967 0.7996 0.8023 0.8051 0.8078 0.8106 0.8133
0.9 0.8159 0.8186 0.8212 0.8238 0.8264 0.8289 0.8315 0.834 0.8365 0.8389
1.0 0.8413 0.8438 0.8461 0.8485 0.8508 0.8531 0.8554 0.8577 0.8599 0.8621
1.1 0.8643 0.8665 0.8686 0.8708 0.8729 0.8749 0.877 0.879 0.881 0.883
1.2 0.8849 0.8869 0.8888 0.8907 0.8925 0.8944 0.8962 0.898 0.8997 0.9015
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

1.3 0.6032 0.9049 0.9066 0.9082 0.9099 0.9115 0.9161 0.9147 0.9162 0.9177
1.4 0.9192 0.9207 0.9222 0.9236 0.9251 0.9265 0.9279 0.9292 0.9306 0.9319
1.5 0.9332 0.9345 0.9357 0.937 0.9382 0.9394 0.9406 0.9418 0.9429 0.9441
1.6 0.9452 0.9468 0.9474 0.9484 0.9495 0.9505 0.9515 0.9525 0.9535 0.9545
1.7 0.9554 0.9564 0.9573 0.9582 0.9591 0.9599 0.9608 0.9616 0.9626 0.9633
1.8 0.9641 0.9649 0.9656 0.9664 0.9671 0.9678 0.9686 0.9693 0.9699 0.9706
1.9 0.9713 0.9719 0.9726 0.9732 0.9738 0.9744 0.975 0.9756 0.9761 0.9767
2.0 0.9772 0.9778 0.9788 0.9788 0.9792 0.9798 0.9803 0.9808 0.9712 0.9817
2.1 0.9821 0.9826 0.983 0.9834 0.9838 0.9842 0.9846 0.985 0.9854 0.9857
2.2 0.9861 0.9864 0.9868 0.9871 0.9875 0.9878 0.9881 0.9884 0.9887 0.989
2.3 0.909 0.9096 0.9998 0.9901 0.9904 0.9906 0.9909 0.9911 0.9913 0.9916
2.4 0.9918 0.992 0.9922 0.9925 0.9927 0.9929 0.9931 0.9932 0.9934 0.9986
2.5 0.9938 0.994 0.9941 0.9943 0.9945 0.9949 0.9948 0.9949 0.9951 0.9952
2.6 0.9953 0.9955 0.9956 0.9957 0.9959 0.996 0.9961 0.9962 0.9963 0.9964
2.7 0.9965 0.9966 0.9967 0.9968 0.9969 0.997 0.9971 0.9972 0.9973 0.9974
2.8 0.9974 0.9975 0.9976 0.9977 0.9977 0.9978 0.9979 0.9979 0.998 0.9981
2.9 0.9981 0.9982 0.9982 0.9983 0.9984 0.9984 0.9985 0.9985 0.9986 0.9986
3.0 0.9987 0.9987 0.9987 0.9988 0.9988 0.9989 0.9989 0.9989 0.999 0.999
3.1 0.999 0.9991 0.9991 0.9991 0.9992 0.9992 0.9992 0.9992 0.9993 0.9993
3.2 0.9993 0.9993 0.9994 0.9994 0.9994 0.9994 0.9994 0.9995 0.9995 0.9995
3.3 0.9995 0.9995 0.9995 0.9996 0.9996 0.9996 0.9996 0.9996 0.9996 0.9997
3.4 0.9997 0.9997 0.9997 0.9997 0.9997 0.9997 0.9997 0.9997 0.9997 0.9998

Sumber: Grant, E.L. and R.S. Leavenworth (1972)


3.2.8 Perhitungan debit menggunakan Log Normal 2 Parameter
Nilai faktor frekuensi (k) =
( )

CV
CV Z CV e 1 ) 1 ln(
2
1
1 ln
2 2
+ +

K
2
=
( )

0,25
1 ) 0,25 1 ln(
2
1
0 0,25 1 ln
2 2
+ + e

= -0,1215
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

K
10
=
( )

0,25
1 ) 0,25 1 ln(
2
1
28 , 1 0,25 1 ln
2 2
+ + e

= 10,3224
K
25
=
( )

0,25
1 ) 0,25 1 ln(
2
1
75 , 1 0,25 1 ln
2 2
+ + e

= 19,2151
K
50
=
( )

0,25
1 ) 0,25 1 ln(
2
1
05 , 2 0,25 1 ln
2 2
+ + e

= 27,6113
K
100
=
( )

0,25
1 ) 0,25 1 ln(
2
1
32 , 2 0,25 1 ln
2 2
+ + e

= 37,7442
Maka Q (debit) yang didapatkan dengan metode Log Pearson Type III adalah :
Rumus umum: Q
T
= Q
rata-rata +
(K
T
)


Q
2
= 1838,45+ (-0,1215 x 468,5498)
= 1781,4995
dt
m
3

Q
10
= 1838,45+ (10,3224 x 468,5498)
= 6675,0208
dt
m
3

Q
25
= 1838,45+ (19,2151 x 468,5498)
= 10841,6640
dt
m
3

Q
50
= 1838,45+ (27,6113 x 468,5498)
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

= 14775,7361
dt
m
3

Q
100
= 1838,45+ (37,7442 x 468,5498)
=19523,4691
dt
m
3

Tabel 3.3 nilai hasil perhitungan sebaran dengan log normal 2 parameter
Kala Ulang KT QT ()
Q2 -0.1215 1781.4995
Q10 10.3224 6675.0208
Q25 19.2151 10841.6640
Q50 27.6113 14775.7361
Q100 37.7442 19523.4691

3.2.9 Perhitungan debit menggunakan Gumbels
Nilai faktor frekuensi (K) = -
K
2
= -
t
6
[0,5772 + ln {ln (
1 2
2

)}]
= -0,1642
K
10
= -
t
6
[0,5772 + ln {ln (
1 10
10

)}]
= 1,3046
K
25
= -
t
6
[0,5772 + ln {ln (
1 25
25

)}]
= 2,0439
K
50
= -
t
6
[0,5772 + ln {ln (
1 50
50

)}]
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

= 2,5923
K
100
= -
t
6
[0,5772 + ln {ln (
1 100
100

)}]
= 3,1367

Maka nilai Q (debit) yang diperoleh dari Metode Gumbels adalah :
Rumus umum: Q
T
= Q
rata-rata +
(K
T
)


Q
2
= 1838,4475 + (-0,1642x 468,5498)
= 1761,4779
dt
m
3

Q
10
= 1838,4475 + (1,3046 x 468,5498)
= 2449,7003
dt
m
3

Q
25
= 1838,4475 + (2,0438 x 468,5498)
= 2796,0911
dt
m
3

Q
50
= 1838,4475 + (2,5923 x 468,5498)
= 3053,0636
dt
m
3

Q
100
= 1838,4475 + (3,1367 x 468,5498)
= 3308,1386
dt
m
3

Tabel 3.4 nilai hasil perhitungan sebaran dengan Gumbels
Kala Ulang KT QT (
dt
m
3
)
Q2 -0,1643 1761,4779
Q10 1,3046 2449,7003
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010



3.2.10 Perhitungan debit menggunakan Log Pearson Type III
Nilai faktor frekuensi (K) = z + (z
2
1)

(z
3
-6z) (

)
2
(z
2
-1) (

)
3
+ z (

)
4
+

)
5

K
2
= 0 + (0
2
1)

(0
3
-60) (

)
2
(0
2
-1) (

)
3

+ 0 (

)
4
+

)
5

= -0,2171
K
10
= 1,28 + (1,28
2
1)

(1,28
3
(61,28)) (

)
2
(1,28
2
-1)
(

)
3

+ 1,28 (

)
4
+

)
5

= 0,5410
K
25
= 1,75 + (1,75
2
1)

(1,75
3
(6 1,75)) (

)
2
(1,75
2
-1)
(

)
3

+ 1,75 (

)
4
+

)
5


= 1,3916
K
50
= 2,05 + (2,05
2
1)

(2,05
3
(6 2,05)) (

)
2
(2,05
2
-1)
(

)
3
+ 2,05 (

)
4
+

)
5


= 2,1701
Q25 2,0438 2796,0911
Q50 2,5923 3053,0636
Q100 3,1367 3308,1386
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

K
100
= 2,32 + (2,32
2
1)

(2,32
3
(6 2,32)) (

)
2
(2,32
2
-1)
(

)
3

+ 2,32 (

)
4
+

)
5


= 3,0529
Maka Q (debit) secara Metode Log Pearson Type III adalah :
Rumus umum :
Q
T
= Q
rata-rata
+ ( K
t
x )
Q
2
= 1838,4475 + (-0,2171 x 468,5498)
= 1736,7097
dt
m
3

Q
10
= 1838,4475 + (0,5410 x 468,5498)
= 2091,9200
dt
m
3

Q
25
= 1838,4475 + (1,3916 x 468,5498)
= 2490,4923
dt
m
3

Q
50
= 1838,4475 + (2,1701 x 468,5498)
= 2855,2440
dt
m
3

Q
100
= 1838,4475 + (3,0529 x 468,5498)
= 3268,8769
dt
m
3


Tabel 3.5 nilai hasil perhitungan sebaran dengan Log Pearson Type III
Kala Ulang KT QT ()
PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

Q2 -0.2171 1736.7097
Q10 0,541 2091.9200
Q25 1.3916 2490.4923
Q50 2.1701 2855.2440
Q100 3.0529 3268.8769

3.2.11 Debit Rerata (Debit Banjir Rencana)
Debit rata-rata (Qs) masing-masing metode yang dipakai dalam perhitungan
debit adalah
Qs =
2
III Type Pearson Log
T
Q s Gumbel' metode
T
Q +

Q
2
=
2
1736,7097 1761,4779+

= 1749,0938
dt
m
3

Q10 =
2
2091,9200 2449,7003+

= 2270,8102
dt
m
3

Q25 =
2
2490,4923 2796,0911+

= 2643,2917
dt
m
3

Q50 =
2
2855,2440 3053,0636+

= 2954,1538
dt
m
3

PERANCANGAN KEAIRAN
sungai bogowonto
2010

Q100 =
2
3268,8769 3308,1386+

= 3288,5077
dt
m
3


Tabel 3.6 Nilai rata-rata debit kala ulang 2, 10, 25, 50, dan 100 tahun
Metode
Q2T (
dt
m
3
) Q10T (
dt
m
3
) Q25T (
dt
m
3
) Q50T (
dt
m
3
) Q100T (
dt
m
3
)
Gumbel's 1761,4779 2449,7003 2796,0911 3053,0636 3308,1386
Log Pearson Type III 1736,7097 2091,9200 2490,4923 2855,2440 3268,8769
Rata rata 1749,0938 2270,8102 2643,2917 2954,1538 3288,5077
Catatan: digunakan kala ulang Qrerata 2 tahun untuk memvalidkan perhitungan

3.3 Perhitungan Tinggi Muka Air Rencana
Dengan mengambil Q rata-tara kala ulang 2 tahun sebesar 3498,1876
m/detik sebagai dasar perencanaan penanggulangan banjir, maka dapat kita
hitung elevasi muka air sungai sebagai dasar perencanaan tinggi tanggul.
Selanjutnya untuk perhitungan dapat kita lihat di bawah ini