Anda di halaman 1dari 16

I.1 Definisi Retardasi Mental Retardasi Mental (Mental Retardation/Mentally Retarded) berarti terbelakang mental.

Retardasi mental sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut: 1. Lemah fikiran ( Feeble-minded); 2. Terbelakang mental (Mentally Retarded); 3. Bodoh atau dungu (Idiot); 4. Pandir (Imbecile); 5. Tolol (Moron); 6. Oligofrenia (Oligophrenia); 7. Mampu Didik (Educable); 8. Mampu Latih (Trainable); 9. Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau Butuh Rawat; 10. Mental Subnormal; 11. Defisit Mental; 12. Defisit Kognitif; 13. Cacat Mental; 14. Defisiensi Mental; 15. Gangguan Intelektual American Asociation on Mental Deficiency/AAMD mendefinisikan Retardasi mental sebagai kelainan: 1. Yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (Sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes; 2. Yang muncul sebelum usia 16 tahun; 3. Yang menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif. Sedangkan pengertian Retardasi mental menurut Japan League for Mentally Retarded (1992) sebagai berikut: 1. Fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes inteligensi baku. 2. Kekurangan dalam perilaku adaptif 3. Terjadi pada masa perkembangan, yaitu antara masa konsepsi hingga usia 18 tahun.

Retardasi mental ialah keadaan dengan intelegensia yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau sejak masa anak). Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama ialah intelegensi yang terbelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit dan fren = jiwa) atau tuna mental.1 Retardasi mental bukan suatu penyakit walaupun retardasi mental merupakan hasil dari proses patologik di dalam otak yang memberikan gambaran keterbatasan terhadap intelektual dan fungsi adaptif. Retardasi mental dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau gangguan fisik lainnya. Terdapat berbagai macam definisi mengenai retardasi mental. Menurut WHO (dikutip dari Menkes, 1990), retardasi mental adalah kemampuan mental yang tidak mencukupi.Carter CH (dikutip dari Toback C.) mengatakan retardasi mental adalah suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensi yang rendah yang mnyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal. Menurut Crocker AC 1983, retardasi mental adalah apabila jelas terdapat fungsi intelegensi yang rendah yang disertai adanya kendala dalam penyesuaian perilaku dan gejalanya timbul pada masa perkembangan. Sedangkan menurut Melly Budhiman, seseorang dikatakan retardasi mental bila memenuhi criteria sebagai berikut : 1. Fungsi intelektual umum dibawah normal 2. Terdapat kendala dalam perilaku adaptif sosial 3. Gejalanya timbul dalam masa perkembangan yaitu dibawah usia 18 tahun Fungsi intelektual dapat diketahui dengan tes fungsi kecerdasan dan hasilnya dinyatakan sebagai suatu taraf kecerdasan atau IQ (Intelegence Quotient). IQ = MA/CA 100% MA = Mental Age, umur mental yang didapat dari hasil tes CA = Chronological Age, umur berdasarkan perhitungan tanggal lahir Yang dimaksud fungsi intelektual dibawah normal, yaitu apabila IQ dibawah 70. anak ini tidak dapat mengikuti pendidikan sekolah biasa karena cara berpikirnya yang terlalu sederhana,daya tangkap dan daya ingatnya lemah, demikian pula dengan pengertian bahasa dan berhitungnya juga sangat lemah. Sedangkan yang dimaksud dengan perilaku adaptif social adalah kemampuan seseorang untuk mandiri, menyesuaikan diri dan mempunyai tanggung jawab social yang sesuai dengan kelompok umur dan budayanya. Pada penderita retardasi mental gangguan perilaku adaptif yang paling menonjol adalah kesulitan menyesuaikan dirir dengan masyarakat sekitarnya. Biasanya tingkah lakunya kekanak-kanakan tidak sesuai dengan umurnya.

Gejala tersebut harus timbul pada masa perkembangan, yaitu dibawah umur 18 tahun. Karena kalau gejala tersebut timbul setelah berumur 18 tahun bukan lagi disebut retardasi mental tetapi penyakit lain sesuai dengan gejala klinisnya.

I.2 Klasifikasi Retardasi Mental Menurut nilai IQnya, maka intelegensia seseorang dapat digolongkan sebagai berikut : No 1. Sangat superior 2. Superior 3. Di atas rata-rata 4. Rata-rata 5. Di bawah rata-rata 6. Retardasi mental borderline 7. Retardasi mental ringan (mampu didik) 8. Retardasi mental sedang (mampu latih) 9. Retardasi mental berat 10 Retardasi mental berat . Kalsifikasi Nilai IQ 130 atau lebih 120-129 110-119 90-110 80-89 70-79 52-69 36-51 20-35 Di bawah 20

Yang disebut retardasi mental apabila IQ dibawah 70, retardasi mental tipe ringan masih mampu didik, retardasi mental tipe sedang mampu latih, sedangkan retardasi mental tipe berat dan sangat berat memerlukan pengawasan dan bimbingan seumur hidupnya. Bila ditinjau dari gejalanya, maka Melly Budhiman membagi : Tipe Klinik Pada retardasi mental tipe klinik ini mudah dideteksi sejak dini karena kelainan fisis maupun mentalnya cukup berat. Penyebabnya sering kelainan organik. Kebanyakan anak ini perlu perawatan yang terus menerus dan kelainan ini dapat terjadi pada kelas sosial tinggi ataupun yang rendah. Orang tua dari anak yang menderita retardasi mental tipe klinik ini cepat mencari pertolongan oleh karena mereka melihat tipe klinik ini cepat mencari pertolongan oleh karena mereka melihat sendiri kelainan pada anaknya.

Tipe Sosio Budaya Biasanya baru diketahui setelah anak masuk sekolah dan ternyata tidak dapat mengikuti pelajaran. Penampilannya seperti anak normal sehingga disebut juga retardasi enam jam. Karena begitu mereka keluar sekolah, mereka bermain seperti anak-anak yang normal lainnya. Tipe ini kebanyakan berasal dari golongan social ekonomi rendah. Pada orang tua dari anak tipe ini tidak melihat adanya kelainan pada anaknya, mereka mengetahui kalau anaknya retardasi dari gurunya atau psikolog karena anaknya gagal beberapa kali tidak naik kelas. Pada umumnya anak tipe ini mempunyai taraf IQ golongan borderline dan retardasi mental ringan.

Pengklasifikasian/penggolongan Anak Retardasi mental untuk keperluan pembelajaran menurut American Association on Mental Retardation dalam Special Education in Ontario Schools (p. 100) sebagai berikut: 1. EDUCABLE Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 Sekolah dasar. 2. TRAINABLE Mempunyai kemampuan dalam mengurus diri sendiri, pertahanan diri, dan penyesuaian sosial. Sangat terbatas kemampuanya untuk mendapat pendidikan secara kademik. 3. CUSTODIAL Dengan pemberian latihan yang terus menerus dan khusus, dapat melatih anak tentang dasar-dasar cara menolong diri sendiri dan kemampuan yang bersifat komunikatif. Hal ini biasanya memerlukan pengawasan dan dukungan yang terus menerus. Sedangkan penggolongan Retardasi mental untuk Keperluan Pembelajaran adalah sebagai berikut: 1. Taraf perbatasan (borderline) dalam pendidikan disebut sebagai lamban belajar (slow learner) dengan IQ 70 85. 2. Retardasi mental mampu didik (educable mentally retarded) dengan IQ 50 75 atau 75. 3. Tunagrahit mampu latih (trainable mentally retarded) dengan IQ 30 50 atau IQ 35 5 4. Retardasi mental butuh rawat (dependent or profoundly mentally retarded) dengan IQ dibawah 25 atau 30

Adapun penggolongan Retardasi mental secara Sosial-Psikogis terbagi 2 (dua) kriteria yaitu: psikometrik dan perilaku adaptif. Ada 4 (empat) taraf Retardasi mental berdasarkan kriteria psikometrik menurut skala inteligensi Wechsler (Kirk dan Gallagher, 1979, dalam B3PTKSM, p. 26), yaitu: 1. Retardasi mental ringan (mild mental retardation) dengan IQ 55 69. 2. Retardasi mental sedang (moderate mental retardation) dengan IQ 40 54. 3. Retardasi mental berat (severe mental tetardation) dengan IQ: 20 39. 4. Retardasi mental sangat berat (profound mental retardation) dengan IQ 20 kebawah. Penggolongan anak Retardasi mental menurut kriteria perilaku adaptif tidak berdasarkan taraf inteligensi, tetapi berdasarkan kematangan sosial. Hal ini juga mempunyai 4 (empat) taraf, yaitu: a. Ringan; b. Sedang; c. Berat; dan d. Sangat Berat.

I.3 Etiologi Retardasi Mental Etiologi

Adanya disfungsi otak merupakan dasar dari retardasi mental. Untuk mengetahui adanya retardasi mental perlu anamnesis yang baik, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Penyebab dari retardasi mental sangat kompleks dan multifaktorial. Walaupun begitu terdapat beberapa factor yang potensial berperanan dalam terjadinya retardasi mental seperti yang dinyatakan oleh Taft LT (1983) dan Shonkoff JP (1992) dibawah ini.

Faktor-Faktor Yang Potensial Sebagai Penyebab Retardasi Mental 1. Non-Organik - Kemiskinan dan keluarganya yang tidak harmonis - Factor sosio cultural - Interaksi anak-pengasuh yang tidak baik - Penelantaran anak 2. Oraganik - Faktor prakonsepsi a. Abnormalitas single gene ( penyakit penyakit metabolik, kelainan neurokutaneus, dll ) b. Kelainan kromosom ( X-linked, translokasi, fragile-X), sindrom polygenic familial. - Factor prenatal a. Gangguan pertumbuhan otak trimester I Kelainan kromosom ( trisomi, mosaik, dll) Infeksi intrauterine, misalnya TORCH, HIV Zat-zat teratogen ( alcohol, radiasi, dll ) Disfungsi plasenta Kelainan congenital dari otak (idiopatik) b. Gangguan pertumbuhan otak trimester II dan III Infeksi intrauterine, misalnya TORCH, HIV Zat- zat teratogen ( alcohol, kokain, logam berat, dll ) Ibu : diabetes mellitus, PKU ( phenilketonuria ) Toksemia gravidarum

Disfungsi plasenta Ibu malnutrisi - Factor perinatal a. Sangat premature b. Asfiksia neonatorum c. Truma lahir : perdarahan intracranial d. Meningitis e. Kelainan metabolic : hipoglikemik, hiperbilirubinemia - Factor post natal a. Trauma berat pada kepala/susunan saraf pusat b. Neurotoksin, misalnya logam berat c. CVA ( Cerebrovaskuler accident ) d. Anoksia, misalnya tenggelam e. Metabolic Gizi buruk Kelainan hormonal, misalnya hipotiroid, pseudohipotiroid Amino aciduria, misalnya PKU Kelainan metabolisme karbohidrat, galaktosemia dll Polisakaridosis, misalnya sindrom Hurler Cerebral lipidosis ( Tay Sachs ), dengan hepatomegali ( Gaucher ) Penyakit degeneratif/ metabolic lainnya. f. Infeksi Meningitis, ensefalitis, dll.

Subakut sklerosing panasefalitis Kebanyakan anak yang menderita retardasi mental ini berasal dari golongan social ekonomi rendah akibat kurangnya stimulasi dari lingkungannya sehingga secara bertahap menurunkan IQ yang bersamaan dengan terjadinya maturasi. Demikian pula dengan keadaan social ekonomi yang rendah dapat sebagai penyebab organic dari retardasi mental, misalnya keracunan logam berat yang subklinik dalam jangka waktu yang lama dapat mempengaruhi kemampuan kognitif, ternyata lebih banyak pada anak-anak dikota dari golongan social ekonomi rendah. Demikian pula dengan kurang gizi, baik pada ibu hamil maupun pada anaknya setelah lahir dapat mempengaruhi pertumbuhan otak anak.

Beberapa Penyebab Retardasi Mental yaitu : Akibat Infeksi dan/atau Intoksikasi. Dalam Kelompok ini termasuk keadaan Retardasi Mental karena kerusakan jaringan otak akibat infeksi Intrakranial, cedera Hipoksia (kekurangan oksigen), cedera pada bagian kepala yang cukup berat, Infeksi sitomegalovirus bawaan, Ensefalitis, Toksoplasmosis kongenitalis, Listeriosis, Infeksi HIV, karena serum, obat atau zat toksik lainnya. Akibat Rudapaksa dan atau Sebab Fisik Lain. Rudapaksa sebelum lahir serta juga trauma lain, seperti sinar x, bahan kontrasepsi dan usaha melakukan abortus dapat mengakibatkan kelainan Retardasi Mental, Pemakaian alkohol, kokain, amfetamin dan obat lainnya pada ibu hamil, Keracunan metilmerkuri, Keracunan timah hitam juga dapat mengakibatkan Retardasi Mental. Akibat Gangguan Metabolisme, Pertumbuhan atau Gizi. Semua Retardasi Mental yang langsung disebabkan oleh gangguan Metabolisme (misalnya gangguan metabolime lemak, karbohidrat dan protein), Sindroma Reye, Dehidrasi hipernatremik, Hipotiroid kongenital, Hipoglikemia (diabetes melitus yang tidak terkontrol dengan baik), pertumbuhan atau gizi termasuk dalam kelompok ini hal-hal seperti Kwashiorkor, Marasmus, Malnutrisi dapat mengakibatkan Retardasi Mental. Akibat Kelainan pada Kromosom Kelainan ini bisa diartikan dengan kesalahan pada jumlah Kromosom (Sindroma Down), defek pada Kromosom (sindroma X yang rapuh, sindroma Angelman, sindroma Prader-Willi), dan Translokasi Kromosom. Akibat Kelainan Genetik dan Kelainan Metabolik Yang Diturunkan. Seperti Galaktosemia, Penyakit Tay-Sachs, Fenilketonuria, Sindroma Hunter, Sindroma Hurler, Sindroma Sanfilippo, Leukodistrofi metakromatik, Adrenoleukodistrofi, Sindroma Lesch-Nyhan, Sindroma Rett, Sklerosis tuberose Akibat Penyakit Otak Yang Nyata (Postnatal). Dalam kelompok ini termasuk Retardasi Mental akibat Neoplasma (tidak termasuk pertumbuhan

sekunder karena rudapaksa atau peradangan) dan beberapa reaksi sel-sel otak yang nyata, tetapi yang belum diketahui betul etiologinya (diduga herediter). Reaksi sel-sel otak ini dapat bersifat degeneratif, infiltratif, radang, proliferatif, sklerotik atau reparatif. Akibat Penyakit/Pengaruh Pranatal Yang Tidak Jelas. Keadaan ini diketahui sudah ada sejak sebelum lahir, tetapi tidak diketahui etiologinya, termasuk Anomali Kranial Primer dan Defek Kogenital yang tidak diketahui sebabnya. Akibat Prematuritas dan Kehamilan Wanita diatas 40 tahun. Kelompok ini termasuk Retardasi Mental yang berhubungan dengan keadaan bayi pada waktu lahir berat badannya kurang dari 2500 gram dan/atau dengan masa hamil kurang dari 38 minggu. Serta behubungan pula dengan kehamilan anak pertama pada wanita Adolesen dan diatas 40 tahun. Akibat Gangguan Jiwa Berat. Untuk membuat diagnosa ini harus jelas telah terjadi gangguan jiwa yang berat itu, dan tidak terdapat tanda-tanda patologi otak. Akibat Deprivasi Psikososial dan Lingkungan Retardasi Mental dapat disebabkan oleh fakor-faktor Biomedik maupun Sosiobudaya seperti Kemiskinan, Status ekonomi rendah, Sindroma deprivasi. Contohnya Gangguan gizi yang tergolong berat dan berlangsung lama dibawah dan sebelum umur 4 tahun sangat memepengaruhi perkembangan otak dan dapat mengakibatkan Retardasi Mental. Namun keadaan gangguan Gizi ini dapat diperbaiki dengan memperbaiki gizi sebelum usia menginjak umur 6 tahun, namun tetap saja intelegensi yang rendah itu sudah sukar ditingkatkan walaupun anak itu dibanjiri dengan makanan bergizi.

I.4 Manifestasi Klinis Retardasi Mental Karakteristik anak retardasi mental menurut Brown et al, 1991; Wolery & Haring, 1994 pada Exceptional Children, fifth edition, p.485-486, 1996 menyatakan: .1 Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru, mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan, dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus. .2 .3 .4 Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru. Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak retardasi mental berat. Cacat fisik dan perkembangan gerak. Kebanyakan anak denga retardasi

mental berat mempunyai ketebatasab dalam gerak fisik, ada yang tidak dapat berjalan,

tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan. Mereka lambat dalam mengerjakan tugastugas yang sangatsederhana, sulit menjangkau sesuatu , dan mendongakkan kepala. .5 Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. Sebagian dari anak retardasi mental berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri, seperti: berpakaian, makan, dan mengurus kebersihan diri. Mereka selalu memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar. .6 Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim. Anak tunagrahta ringan dapat bermain bersama dengan anak reguler, tetapi anak yang mempunyai retardasi mental berat tidak meakukan hal tersebut. Hal itu mungkin disebabkan kesulitan bagi anak retardasi mental dalam memberikan perhatian terhadap lawan main. Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus. Banyak anak retardasi mental berat bertingkah laku tanpa tujuan yang jelas. Kegiatan mereka seperti ritual, misalnya: memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri, misalnya: menggigit diri sendiri, membentur-beturkan kepala,dll.

Gejala klinis retardasi mental terutama yang berat sering disertai beberapa kelainan fisik yang merupakan stigmata congenital yang kadang-kadang gambaran stigmata mengarah kesuatu sindrom penyakit tertentu. Dibawah ini beberapa kelaianan fisik dan gejala yang sering disertai retardasi mental, yaitu : 1. Kelainan pada mata : a. Katarak - Sindrom Cockayne - Sindrom Lowe - Galactosemia - Sindrom Down - Kretin - Rubella Pranatal, dll. b. Bintik cherry-merah pada daerah macula

- Mukolipidosis - Penyakit Niemann-Pick - Penyakit Tay-Sachs c. Korioretinitis - Lues congenital - Penyakit Sitomegalovirus - Rubella Pranatal d. Kornea keruh - Lues Congenital - Sindrom Hunter - Sindrom Hurler - Sindrom Lowe 2. Kejang a. Kejang umum tonik klonik - Defisiensi glikogen sinthesa - Hipersilinemia - Hipoglikemia, terutama yang disertai glikogen storage disease I, III, IV, dan VI - Phenyl ketonuria - Sindrom malabsobrsi methionin, dll. b. Kejang pada masa neonatal - Arginosuccinic asiduria - Hiperammonemia I dan II - Laktik asidosis, dll.

3. Kelainan kulit a. Bintik caf-au-lait - Atakasia-telengiektasia - Sindrom bloom - Neurofibromatosis - Tuberous selerosis 4. Kelainan rambut a. Rambut rontok - Familial laktik asidosis dengan Necrotizing ensefalopati b. Rambut cepat memutih - Atrofi progresif serebral hemisfer - Ataksia telangiektasia - Sindrom malabsorbsi methionin c. Rambut halus - Hipotiroid - Malnutrisi 5. Kepala a. Mikrosefali b. Makrosefali - Hidrosefalus - Neuropolisakaridase - Efusi subdural 6. Perawakan pendek

a. Kretin b. Sindrom Prader-Willi 7. Distonia a. Sindrom Hallervorden-Spaz

Sedangkan gejala dari retardasi mental tergantung dari tipenya, adalah sebagai berikut: 1. Retardasi mental ringan Kelompok ini merupakan bagian terbesar dari retardasi mental. Kebanyakan dari mereka ini termasuk dari tipe social-budaya dan diagnosis dibuat setelah anak beberapa kali tidak naik kelas. Golongan ini termasuk mampu didik, artinya selain dapat diajar baca tulis bahkan bias bisa sampai kelas 4-6 SD, juga bisa dilatih keterampilan tertentu sebagai bekal hidupnya kelak dan mampu mandiri seperti orang dewasa yang normal. Tetapi pada umumnya mereka ini kurang mampu menghadapi stress sehingga tetap membutuhkan bimbingan dari keluarganya. 2. Retardasi mental sedang Kelompok ini kira-kira 12% dari seluruh penderita retardasi mental, mereka ini mampu latih tetapi tidak mampu didik. Taraf kemampuan intelektualnya hanya dapat sampai kelas dua SD saja, tetapi dapat dilatih menguasai suatu keterampilan tertentu, misalnya pertukangan, pertanian, dll. Apabila bekerja nanti mereka ini perlu pengawasan. Mereka juga perlu dilatih bagaimana mengurus diri sendiri. Kelompok ini juga kurang kurang mampu menghadapi stress dan kurang mandiri sehingga perlu bimbingan dan pengawasan. 3. Retardasi mental berat Sekitar 7% dari seluruh penderita retardasi mental masuk kelompok ini. Diagnosis mudah ditegakkan secara dini karena selain adanya gejala fisik yang menyertai juga berdasarkan keluhan dari orang tua dimana anak sejak awal sudah terdapat keterlambatan perkembangan motorik dan bahasa. Kelompok ini termasuk tipe klinik. Mereka dapat dilatih hygiene dasar saja dan kemampuan berbicara yang sederhana, tidak dapat dilatih keterampilan kerja, dan memerlukan pengawasan dan bimbingan sepanjang hidupnya. 4. Retardasi mental sangat berat Kelompok ini sekitar 1% dan termasuk dalam tipe klinik. Diagnosis dini mudah dibuat karena gejala baik mental dan fisik sangat jelas. Kemampuan berbahasanya sangat minimal. Mereka ini seluruh hidupnya tergantung orang disekitarnya.

Tingkatan Retardasi Mental Kisaran IQ Kemampuan Usia Kemampuan Usia Prasekolah Sekolah (sejak lahir-5 tahun) (6-20 tahun) Bisa membangun kemampuan sosial Koordinasi otot sedikit terganggu Seringkali tidak terdiagnosis Bisa mempelajari pelajaran kelas 6 pada akhir usia belasan tahun Bisa dibimbing ke arah pergaulan sosial Bisa dididik Bisa mempelajari beberapa kemampuan sosial & pekerjaan Bisa belajar bepergian sendiri di tempat-tempat yg dikenalnya dengan baik Kemampuan Masa Dewasa (21 tahun keatas) Biasanya bisa mencapai kemampuan kerja & bersosialisasi yg cukup, tetapi ketika mengalami stres sosial ataupun ekonomi, memerlukan bantuan Bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dengan melakukan pekerjaan yg tidak terlatih atau semi terlatih dibawah pengawasan Memerlukan pengawasan & bimbingan ketika mengalami stres sosial maupun ekonomi yg ringan

Tingkat

Ringan

52-68

Moderat 36-51

Bisa berbicara & belajar berkomunikasi Kesadaran sosial kurang Koordinasi otot cukup

Berat

20-35

Bisa mengucapkan beberapa kata Mampu mempelajari kemampuan untuk menolong diri sendiri Tidak memiliki kemampuan ekspresif atau hanya sedikit Koordinasi otot jelek Sangat terbelakang Koordinasi ototnya sedikit

Bisa berbicara atau belajar berkomunikasi Bisa mempelajari kebiasaan hidup sehat yg sederhana

Bisa memelihara diri sendiri dibawah pengawasan Dapat melakukan beberapa kemampuan perlindungan diri dalam lingkungan yg terkendali

Sangat berat

19 atau kurang

Memiliki beberapa koordinasi otot Kemungkinan

Memiliki beberapa koordinasi otot & berbicara Bisa merawat diri tetapi sangat terbatas

sekali Mungkin memerlukan perawatan khusus

tidak dapat berjalan atau berbicara

Memerlukan perawatan khusus

Anak dengan MR ringan (IQ 52-68) bisa mencapai kemampuan membaca sampai kelas 4-6. Meskipun memiliki kesulitan membaca, tetapi mereka dapat mempelajari kemampuan pendidikan dasar yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka memerlukan pengawasan dan bimbingan serta pendidikan dan pelatihan khusus. Biasanya tidak ditemukan kelainan fisik, tetapi mereka bisa menderita epilepsi. Mereka seringkali tidak dewasa dan kapasitas perkembangan interaksi sosialnya kurang. Mereka mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru dan mungkin memiliki penilaian yang buruk. Mereka jarang melakukan penyerangan yang serius, tetapi bisa melakukan kejahatan impulsif. Anak-anak dengan RM moderat (IQ 36-51) jelas mengalami kelambatan dalam belajar berbicara dan keterlambatan dalam mencapai tingkat perkembangan lainnya (misalnya duduk dan berbicara). Dengan latihan dan dukungan dari lingkungannya, mereka dapat hidup dengan tingkat kemandirian tertentu. Anak-anak dengan RM berat (IQ 20-35) dapat dilatih meskipun agak lebih susah dibandingkan dengan RM moderat. Anak-anak dengan RM sangat berat (IQ 19 atau kurang) biasanya tidak dapat belajar berjalan, berbicara atau memahami. Angka harapan hidup untuk anak-anak dengan RM mungkin lebih pendek, tergantung kepada penyebab dan beratnya RM. Biasanya, semakin berat RMnya maka semakin kecil angka harapan hidupnya.

I.6 Penatalaksanaan Retardasi Mental Pencegahan Primer pada orang dengan Retardasi Mental dapat dilakukan dengan pendidikan kesehatan pada masyarakat, perbaikan keadaan Sosio-Ekonomi, Konseling Genetik dan Tindakan Kedokteran (seperti perawatan Prenatal yang baik, pertolongan persalinan yang baik, kehamilan pada wanita Adolesen dan diatas 40 tahun dikurangi dan pencegahan peradangan otak pada anak-anak). Pencegahan Sekunder meliputi diagnosa dan pengobatan dini peradangan otak, Perdarahan Subdural, Kraniostenosis (sutura tengkorak menutup terlalu cepat, dapat dibuka dengan

Kraniotomi; pada Mikrosefali yang Kogenital, operasi tidak menolong) Pencegahan Tersier merupakan pendidikan penderita atau latihan khusus sebaiknya disekolah luar biasa. Dapat diberi Neuroleptika kepada yang gelisah, Hiperaktif atau Dektruktif. Konseling kepada orang tua dilakukan secara Fleksibel dan Pragmatis dengan tujuan antara lain membantu mereka dalam mengatasi Frustrasi oleh karena mempunyai anak dengan Retardasi Mental. Orang tua sering menghendaki anak diberi obat, oleh karena itu dapat diberi penerangan bahwa sampai sekarang belum ada obat yang dapat membuat anak menjadi pandai, hanya ada obat yang dapat membantu pertukaran Zat (Metabolisme) sel-sel otak.