Anda di halaman 1dari 1

Terapi Leptospirosis (Lomar, 2000; Chaparo, 2001) Anikterik Ampisilin, 500mg 4 kali sehari per oral Amoksisilin, 500

mg 4 kali sehari per oral Doksisiklin, 100mg 2 kali sehari per oral, selama 1 minggu Tetrasiklin, 2000mg/hari peroral Ikterik Penisilin G, 1,5 juta IU 4 kali sehari intra vena, selama 1 minggu Ampisiin, 1000mg 4 kali sehari Intra vena Amoksisilin, 1000mg 4 kali sehari Intravena Eritromisin, 500mg 4 kali sehari intravena

Pilihan pertama

Pilihan Kedua

Kontrol Leptospirosis OBAT PROFILAKSIS Pengendalian Lingkungan Doksisiklin 200 mg setiap minggu - Paling efektif control terhadap tikus - Hindari urine dan jaringan binatang yang terpapar leptospira - Vaksinasi pada binatang peliharaan

Pencegahan Untuk pencegahan dapat diberikan doksisiklin, tetapi perlu disadari upaya prevensi sering merupakan problem karena paparan Leptospira sulit diprediksi. Paling efektif dengan control terhadap tikus, dan menghindari kontak dengan urine dan air yang terkontaminasi Leptospira. Bagi individu yang berisiko tinggi terpapar Leptospira atau akan mengunjungi daerah endemic dianjurkan memakai doksisiklin 200 mg perminggu. (Nasronudin, 2007) Referensi Lomar AV, Diament D, Torres JR, 2000. Leptospirosis in Latin America. Infectious Disease Clinics of North America 14:23. Chaparro S, Montoyo JG, 2001. Borrelia ande Leptospira Species. In: Current Diagnosis and Treatment in Infectious Disease. Editors: Wilson WR, Sande MA. International Edition. New York, pp. 680-9 Nasronudin. 2007. Biologi Molekuler dan Aplikasi Klinis Leptospirosis. Dalam: Penyakit Infeksi Di Indonesia Solusi kini & Mendatang. Airlangga University Press. Surabaya. Hal 152.