Anda di halaman 1dari 2

VII.

PEMBAHASAN Obat analgesik adalah obat yang memiliki aktivitas menekan atau mengurangi rasa nyeri terhadap rangsang nyeri mekanik, termik, listrik, atau kimiawi dipusat dan perifer atau dengan cara menghambat prostaglandin sebagai mediator sensasi nyeri. Obat analgetik memiliki aktivitas analgetika yang berbeda berdasarkan kemampuannya menekan atau menghilangkan rasa sakit. Praktikum kali ini bertujuan untuk memahami dasar-dasar perbedaan daya analgetik dan cara mengevaluasinya secara eksperimental berbagai obat obat analgetik. Untuk itulah digunakan dua obat analgetik. Analgetik pertama sebagai kontrol positif, analgetik yang lain merupakan analgetik yang akan diuji dan dievaluasi efek dan daya analgetiknya. Dalam praktikum ini digunakan asam asetil salisilat sebagai obat analgesik standar dan asam mefenamat sebagai obat analgesik yang diuji dan dievaluasi efek dan daya analgetiknya. Selain itu, digunakan obat untuk merangsang rasa nyeri untuk mengukur efektivitas analgetik. Pada praktikum ini, obat perangsang rasa nyeri yang digunakan adalah asam asetat 0,7%. Asam asetat dapat mengiritasi permukaan saluran pencernaan sehingga menimbulkan nyeri. Binatang percobaan yang kita ujikan adalah mencit. Kelebihan mencit adalah binatang yang mudah ditangani karena ukurannya yang kecil. Selain itu, anatomi fisiologi dari tikus juga khususnya organ bagian dalam memiliki kemiripan dengan struktur anatomi fisiologi pada manusia. Disiapkan 4 kelompok mencit. Kelompok pertama sebagai kelompok kontrol negatif, kelompok kedua sebagai kelompok kontrol positif, kelompok ketiga sebagai kelompok uji I (dosis rendah), dan kelompok keempat sebagai kelompok uji II (dosis tinggi). Pertama-tama, mencit ditandai ekornya masing-masing terlebih dahulu agar mudah dalam membedakannya. Kemudian mencit-mencit tersebut ditimbang pada neraca Ohauss yang telah dikalibrasi. Setelah mendapatkan berat badan mencit, maka dilakukan perhitungan jumlah obat yang diberikan pada mencit sesuai berat badannya. Banyaknya obat yang diberikan ditentukan dengan rumus sebagai berikut :

Hasil yang diperoleh dari perhitungan tersebut merupakan volume obat yang diberikan pada masing-masing mencit. Setelah itu, mencit dari setiap kelompok diberi perlakuan sesuai kelompoknya. Kelompok satu diberi larutan NaCl fisiologis, kelompok dua diberi asam asetil salisilat, kelompok tiga diberi asam mefenamat dosis rendah, dan kelonpok terakhir diberi asam mefenamat dosis tinggi. Ketiganya diberikan secara per oral menggunakan agar diperoleh efek yang dinginkan sesuai kebutuhan. Selain itu cara oral dianggap paling alami, tidak sulit, menyenangkan dan aman dalam hal pemberian obat. Setelah 30 menit, semua hewan uji diberi asam asetat 0,7% secara intraperitoneal. Oba diberikan pada abdomen bawah di sebelah garis midsagital. Jarum disuntikkan dengan sudut 10 dari abdomen agak ke pinggir, untuk mencegah terkenanya kandung kemih dan jika terlalu tinggi akan mengenai hati. Setelah masuk ke kulit, jarum ditegakan sehingga menembus lapisan-lapisan otot masuk ke dalam daerah peritonium. Asam salisilat diberikan secara intraperitoneal selain karena reaksi lebih cepat (tidak melalui saluran pencernaan), juga karena daerah yang diiritasi yaitu saluran pencernaan yang berada di daerah peritoneal. Setelah diberi asam asetat, jumlah geliat asam asetat diamati. Asam asetat akan mengiritasi lambung, lalu terjadi pembentukan prostaglandin sebagai mediator sensasi nyeri. Ketika merasakan nyeri tersebut, mencit akan menggeliat. Jumlah geliat mencit dicatat setiap 5 menit sekali.