Anda di halaman 1dari 39

AL ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN SEMESTER IV UJIAN AKHIR SEMESTER

OLEH : AYU PRIMA KUSUMA PUTRI 09020024

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2011

BAB I

FUNGSI DAN SEJARAH AL QURAN

1. Jelaskan secara singkat tentang sejarah turunnya Al-Quran?

Allah SWT menurunkan Al-Quran dengan perantaraan malaikat jibril sebagai pengentar wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW di gua hiro pada tanggal 17 ramadhan ketika Nabi Muhammad berusia / berumur 41 tahun yaitu surat al alaq ayat 1 sampai ayat 5. Sedangkan terakhir alquan turun yakni pada tanggal 9 zulhijjah tahun 10 hijriah yakni surah almaidah ayat 3.Alquran turun tidak secara sekaligus, namun sedikit demi sedikit baik beberapa ayat, langsung satu surat, potongan ayat, dan sebagainya. Turunnya ayat dan surat disesuaikan dengan kejadian yang ada atau sesuai dengan keperluan. Selain itu dengan turun sedikit demi sedikit, Nabi Muhammad SAW akan lebih mudah menghafal serta meneguhkan hati orang yang menerimanya.Lama al-quran diturunkan ke bumi adalah kurang lebih sekitar 22 tahun 2 bulan dan 22 hari.

2. Sebutkan dan jelaskan tentang fungsi dan misi kitab suci Al-Quran?

Fungsi Al-quran secara umum

adalah kitab petunjuk dan pembimbing bagi

perjalanan kehidupan umat manusia, penawar bagi penyakit hati dan penerang jalan menuju Allah. Turunnya kitab suci Al quran menyelamatkan umat manusia yang terpenjara dalam dunia yang gelap, dan memerdekakan mereka yang terbelenggu oleh angan-angan panjang, mengentas mereka dari kehinaan jiwa dan kelemahan hewani, dan mengantarkan mereka ke puncak kesempurnaan insani.

Secara Spesifik, fungsi Al Quran itu sendiri adalah :

Misi pertama : Al-Quran adalah kitab yang mengajak menuju sumber segala kebahagiaan, ia mengajak umat manusia kepada marifat kepada Allah, baik Dzat, Asma, Sifat-sifat ataupun tindakan-tindakannya.

Misi kedua : Al-Quran adalah membawa misi pensucian jiwa dari berbagai kekotoran material agar dapat mencapai kebahagiaan abadi. Ia mengajarkan bagaimana manusia dapat berjalan menuju Allah, dan hal itu melalui dua konsep: 1. Ketakwaan dengan berbagai tingkatannya. 2. Keimanan dengan berbagai tingkatannya.

Misi ketiga : ialah menceritakan kisah-kisah para nabi, para wali dan orang-orang bijak serta bagaimana bimbingan Allah terhadap mereka dan peran mereka dalam membimbing umat manusia. Dalam kisah-kisah mereka terdapat banyak pelajaran dan ibrah yang dapat dipetik oleh umat manusia. Dalam kisah penciptaan Adam as, perintah sujud atas malaikat dan pengajaran asma kepada Adam serta kasus keangkuhan Iblis terhadap perintah sujud, misalnya, terdapat banyak pelajaran yang sangat agung dan mencengangkan. Oleh sebab itu, cerita-cerita semacam itu disebut berulang-ulang agar tujuan dan hikmahnya dapat dipetik oleh manusia.

Misi keempat : Al-Quran adalah mengungkap keadaan dan jiwa orang-orang kafir dan kaum penentang kebenaran serta menjelaskan akibat dan kesudahan mereka serta kehancuran dan kehinaan mereka, baik di dunia maupun di akhirat kelak, seperti kasus Firaun, Qorun, Namrud, Abrahah, dan tokoh-tokoh penentang kebenaran lainnya.

Misi kelima: menerangkan undang-undang syariat Islam dan aturan-aturan Tuhan. Dalam AlQuran telah disebutkan pokok-pokok undang-undang Islam dan hukum syariat seperti salat, zakat, khumus, haji, puasa, jihad, pernikahan, hukum waris, hukum pidana, dan perdata, perdagangan dan lain-lain. Bahkan beberapa di antaranya disebut dengan terperinci.

Misi keenam : Al-Quran adalah menyelesaikan permasalahan seputar akhirat dan hari kebangkitan, pembuktian akan kebenarannya, aneka bentuk siksa dan pahala, dan perincian tentang surga dan neraka. Sebagaimana Al-Quran juga menyebutkan nasib dan keadaan para penerima kenikmatan dan kebahagiaan dan derajat-derajat mereka. Begitu juga Quran menerangkan tingkatan-tingkatan orang-orang yang sengsara, baik mereka yang kafir, munafik, ataupun pendosa dan fasiqin.

Misi ketujuh :

Al-Quran adalah cara pemaparan argumentasi yang di sajikan oleh Allah untuk membuktikan kebenaran berbagai permasalahan, seperti pembuktian-pembuktian kebenaran prinsip tauhid dengan berbagi masalahnya seperti: sifat ilmu, qudrat dan seluruh sifat-sifat kamaliah (kesempurnaan).

Misi kedelapan : Al-Quran adalah memberikan keputusan akhir bagi perselisihan yang muncul dan sedang berkembang, di tengah-tengah umat manusia tentang perjalanan kehidupan mereka dan memberikan solusi yang benar tentangnya. Dalam ayat 64 surat An-Nahl,

Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur'an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.) ([16:64]

dan

ayat

76

surat

An-Naml,

.( Sesungguhnya Al Quraan ini menjelaskan kepada Bani lsrail sebahagian besar dari (perkaraperkara) yang mereka berselisih tentangnya) 27: 76 disebutkan bahwa salah satu misi dan fungsi kehadiran Al-Quran adalah memberikan keputusan, kejelasan dan menegakkan hujjah atas apa yang diperselisihkan oleh

kalangan kaum musyrikin tentang keyakinan ketuhanan dan amal mereka, dan yang diperselisihkan oleh Ahlul Kitab tentang Isa Al-Masih dan hukum-hukum serta keyakinan mereka

Misi kesembilan Al-Quran adalah membenarkan kitab-kitab suci dan misi para rosul sebelum Nabi Muhammad Saw. Disebutkan dalam banyak ayat seperti ayat 48 surat Al-Maidah

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian [421] terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiaptiap umat diantara kamu [422], Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlombalombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, [421] Maksudnya: Al Qur'an adalah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab sebelumnya. [422] Maksudnya: umat Nabi Muhammad s.a.w. dan umat-umat yang sebelumnya. ( 5 : 48 )

dan

ayat

surat

Ali

Imran,

( Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil) 3:3 bahwa fungsi Al-Quran adalah melegalisir apa yang termuat dalam Taurat, Injil dan kitab-kitab suci sebelumnya, selain itu ia juga berfungsi sebagai Muhaimin atas kitab-kitab suci tersebut.

BAB II SIFAT DASAR MANUSIA


1. Berikan penjelasan tantang keadaan manusia ketika diciptaan oleh Allah SWT ?

Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yg sempurna jika dibandingkan dengan makhluq Allah yang lainnya. Dari sisi jasmani manusia dikatakan sebagai makhluq yang paling baik bentuknya :

(sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya) QS.At Tiin :4, namun kebaikan secara fisik tersebut bisa jatuh ke tingkat yang paling rendahketika rohaninya tidak ditata dengan baik

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). (QS.At Tiin :5)

2. Berikan penjelasan bahwa dari sisi jasmani dan rohani manusia memiliki karakter dan

sifat sebagai berikut ( berdasarkan Al-Quran ) ! a. KARAKTER : Sanggup memegang amanah kepempininan di muka bumi (QS. 33:72)

(Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gununggunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, Yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan) Al ahzab :72

Memiliki fitrah yang telah ditetapkan Allah (QS. 30:30)

(Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui , Fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan. ) Ar Ruum : 30

Memiliki kecenderungan bertauhid (QS. 7:172)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata- kan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", Al Araf :172

Bertanggung jawab atas segala aktivitasnya (QS. 17:36)

( Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. ) Al Israa : 36

b. SIFAT lemah (QS. 4:28)

(Allah hendak memberikan keringanan kepadamu , dan manusia dijadikan bersifat lemah.Yaitu dalam syari'at di antaranya boleh menikahi budak bila telah cukup syarat-syaratnya. ) An Nisa : 28 pembantah (QS. 36:77)

(Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! ) yaa siin : 77 keluh kesah, kikir (QS. 70:19-20)

( Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. ) Al ma arij 19

( Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, ) Al Maariij 20 tergesa-gesa (QS. 17:11)

(Dan manusia mendo'a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo'a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.) Al Israa : 11 zhalim,bodoh, keras hati (QS. 33:72)

( Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, Yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan.) Al Ahzab 72 melampaui batas (QS. 10:12)

( Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo'a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo'a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. ) Yunus : 12

Fitrah, hanif, cenderung pada kebaikan (QS. 30:30)

(Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui , Fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan. ) Ar ruum : 30 Merdeka ( QS. 91:8, 2:256)

(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. ) As syam : 8

( Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut [162] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [162] Thaghut, ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t) Al baqarah : 256 Bebas memilih ( QS. 18:29)

( Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. ) Al kahfi : 29

BAB III IMAN DAN IMPLIKASI DALAM KEHIDUPAN

1. Bagaimana pengaruh iman dalam kehidupan ?dan sebutkan salah satu ayatnya !

Manusia adalah jasad dan ruh. Di dalamnya terdapat berbagai gharizah (instinct) secara fitrah berupa keperluan-keperluan jasmani. Ta juga memiliki berbagai keinginan (raghbah) dan naluri berupa kebutuhan-kebutuhan ruhani. Seandainya berbagai keinginannya itu dibiarkan tanpa kendali, niscaya akan mengajak pada kekacauan dan keributan serta membantu tersebarnya kerusakan di muka bumi, sebagai akibat dan perbenturan antar berbagai keinginan, serta adanya persaingan umat manusia dalam merealisasikannya. Allah membezakan manusia dan seluruh jenis haiwan dengan akal, dan menyinarinya dengan fitrah, serta menyempurnakannya dengan kenabian. Manusia secara nalurinya adalah makhluk berbudaya. Kerana itu setiap individu, pandangan dan perasaannya terhadap masyarakatnya/persekitarannya haruslah konstruktif, sebagaimana ia mengambil maka ia harus memberi. Seperti halnya orang lain membantu apa yang diperlukannya,

maka ia pun harus prihatin dalam memenuhi hajat orang lain. Akan tetapi sikap egois atau perbezaan pemahaman dan potensi beramal sering membuat sebagian manusia menjauhi kebenaran; entah kerana malas, salah tindakan atau kerana unsur penipuan, dan dia menempuh pelbagai tindakan bagi tujuan memenuhi keinginan dan gharizahnya. Pelbagai kejahatan dirancang dalam kesunyian dan disiapkan dalam kegelapan jauh dari mata pengawas, dan jauh dari keadilan seandainya hal itu dilakukan di tengah-tengah manusia. Dan tidak mungkin boleh mengendalikan setiap aspek perlaksanaan/perlakuan ini kerana biasanya tidak tampak kepada masyarakat, dan tidak mungkin berupaya mengendalikan serta mengaturnya kecuali kekuatan dari dalam dan pengawasan yang sentiasa. Dan hal itu tidak lain adalah agama dan cahaya iman yang menjadikan setiap individu merasa bahwa Allah Yang Maha-Tahu sentiasa mengawasi gerak-geriknya. Dia merasa bahwa Allah yang tampak bagi-Nya seluruh apa yang ada di langit dan di bumi akan membalas semua orang atas amal-amalnya. Maka datanglah ajaran samawi untuk membimbing manusia menuju kebahagiaan dengan sangat memperhatikan ruh dan jasad secara seimbang. Ia menggariskan suatu jalan yang harus dilalui untuk mewujudkan keinginan dan gharizahnya. Maka Islam mengharamkan pembunuhan dan kerahiban. (Karena mengekang naluri dan keinginan manusia (pent.)) Ia memerintahkan untuk menikmati rezeki yang halal lagi baik, serta mengharamkan khabaits (yang kotor dan menjijikkan). Ia memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya dengan memurnikan keikhlasan untuk-Nya dan melarang kekufuran, kefasikan serta kemaksiatan dalam banyak ayat al-Quran.

Nabi Muhammad berlepas diri dari orang-orang yang ingin menambah-nambah dalam beribadah, melebihi apa yang dibawa oleh baginda Rasul s.a.w., tanpa mengendahkan hak-hak tubuh mereka. Anas bin Malik r.a. menceritakan bahawa ada tiga orang laki-laki datang ke rumah para istri Nabi untuk menanyakan ibadah Rasulullah s.a.w.. Maka tatkala mereka diberitahu tentang ibadah beliau, mereka menganggapnya sedikit (tidak seberapa/biasa-biasa saja) dan mengatakan, Apalah kita, kalau dibandingkan dengan

Nabi beliau telah diampuni dosanya yang telah lalu dan yang kemudian?! Salah seorang dari mereka berkata, Kalau saya, maka akan solat malam selamanya. Yang lain mengatakan, Saya akan puasa dari (sepanjang tahun) selamanya, tidak berbuka. Yang lain lagi berkata, Saya akan menjauhi wanita, tidak akan menikah selamanya. Kemudian Rasulullah s.a.w., datang dan bersabda, Kalian yang mengatakan begini dan begitu?! Ingatlah, demi Allah, aku ini orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan yang paling takwa, tetapi (sekalipun demikian) aku puasa dan juga berbuka, aku solat dan tidur, dan aku mengahwini wanita. Maka siapa yang tidak menyukai sunnahku (syariatku) dia bukan termasuk golonganku. (Hadis Riwayat al-Bukhari 7/2 bab Nikah, lihat Muslim 11/1020)

Jadi Islam itu bagaikan bangunan yang kekal, kukuh, kuat dan sempurna. Di dalamnya terdapat segala macam sebab kehidupan yang ideal, dan segala sarana kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan di dunia dan berhujung dengan kebahagiaan di akhirat yang lebih sempurna dan lebih tinggi, yang mana kebahagiaan tersebut bukan balasan sepadan seperti harga dan barang, kerana yang terbatas dan dangkal tidaklah menjadi harga bagi sesuatu yang langgeng dan yang tak terbatas. Akan tetapi ia adalah kurnia/anugerah dari Allah dan rahmat-Nya bagi siapa saja yang benar imannya kepada Allah, malaikat-Nya, para rasul-Nya, Hari Kiamat, Hari Akhir, dan takdir-Nya, yang baik mahupun yang buruk. Mengerjakan setiap rukun dari rukun-rukun ini memberikan buah dan hasil yang banyak. Pertama bagi peribadi si pelaku dan kedua bagi jamaah (masyarakat), dengan syarat mengaitkan setiap rukun dengan yang lain. Kerana mendustakan salah satunya bererti mendustakan Manusia diciptakan untuk diuji. Allah seluruhnya. berfirman,

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setitis mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), kerana itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (Al-Insan: 2)

Dan Allah telah melengkapinya dengan bekal yang memang diperlukan untuk setiap ujian yang diberikan. Maka Allah menjadikannya berakal, mendengar, melihat, berupaya bergerak, juga meletakkan padanya keinginan, kemahuan, dan semangat jasmani mahupun rohani. Allah telah mengutus para rasul bagi tujuan menjelaskan jalan yang lurus yang harus dilalui agar dapat mencapai hidup bahagia di dunia dan dapat menghantarkan kepada kenikmatan abadi di akhirat. Para rasul tersebut juga memperingatkan dari jalan-jalan yang menghantarkan kepada seksa neraka. Allah berfirman menjelaskan hal tersebut,

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku, Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pernberi rezeki Yang mempunyai kekuatan lagi Sangat kukuh. (AdzDzariyat: 56-58)

Keluar dari ibadah adalah keluar dari jalan yang lurus. Ibadah yang sebenarnya adalah ibadah yang memenuhi syarat ikhlas dan ittiba (mengikuti Nabi s.a.w.). Ikhlas dalam niatnya (kerana Allah) dan ittiba dengan konsisten mengikuti ajaran-ajaran samawi berdasarkan firman Allah s.w.t.,

...agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya... (Hud: 7) Ujian adalah percubaan untuk mengetahui siapa yang paling baik amalnya dengan mengikuti perintah setepat-tepatnya dan dengan menjauhi larangan sejauh-jauhnya. Berdasarkan huraian ini maka beriman kepada semua rukun adalah merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, sebahagiannya terkait dengan sebagian yang lain. Pengaruh masing-masing rukun iman adalah bererti pengaruh rukun iman yang lain. Kerana itu, dalam realisasinya, satu rukun dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Begitu pula pengaruhnya kepada pribadi dan jamaah, tidak dapat dipisahkan. Sebab individu adalah batu pertama bagi terbentuknya bangunan masyarakat. Ajaran-ajaran samawi ditujukan untuk per-orangan, kerana kebaikan mereka adalah kebaikan jamaah. Adapun

buah

iman,

di

antaranya

adalah:

a. Sesungguhnya iman kepada Allah itu adalah kehidupan hati, memasak (sebagai asas) kekuatan kepadanya untuk menaiki tangga kesempurnaan. Ia adalah pendorong bagi jiwa agar menghiasi diri dengan budi pekerti yang baik, jauh dari kehidupan dan hal-hal yang tidak berguna. Sebagaimana Allah berfirman,

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Karni berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengahtengah rnasyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (Al-Anam: 122) b. Iman itu adalah sumber ketenangan dan kedamaian bagi setiap orang, kerana ia sejalan dengan fitrah dan seiring dengan tabiatnya. Ia adalah sumber kebahagiaan bagi masyarakat, kerana ia mengukuhkan ikatan-ikatan masyarakat, merapatkan tali kekeluargaan dan membersihkan perasaan-perasaan, dan dengan itu semua masyarakat meningkat menggapai kemuliaan (fadhilah). Dan fadhilah itu adalah nikmat kerelaan (redha) dalam segala hal, dalam kondisi lapang atau sempit, mudah atau sulit serta manis atau pahit, kerana beriman kepada qadha Allah dan hikmah-Nya. Sebagaimana firman Allah, Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah: 216)

Imam Muslim dengan sanadnya dan Shuhaib meriwayatkan, Rasulullah s.a.w., bersabda, Sungguh menghairankan urusan orang mukmin itu. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Tidaklah hal itu berlaku bagi seseorang kecuali bagi seorang mukmin. Jika ia mendapat nikmat ia bersyukur maka menjadi baik baginya. Dan jika ia ditimpa musibah

ia bersabar, maka menjadi baik untuknya. (Hadis Riwayat 4/2295, Ahmad 4/332-333, 6/15-16) Maka orang mukmin yang menjiwai dan merasakan seperti ini akan tenang hatinya, selesa badan dan jiwanya. Kehidupannya penuh dengan kebahagiaan, dinaungi oleh perasaan redha dan damai, serta merasa tenang atas rahmat Allah dan keadilan-Nya, kerana Dia adalah tumpuan harapannya, benteng perlindungannya, permata hatinnya dan kenyamanan imannya.

c. Sucinya hati dan kejernihan jiwa. Membawa maksud, iman itu menyucikan jiwa dari persangkaan-persangkaan, khurafat dan takhayul. Dengan begitu ia akan jernih dan bersih sesuai fitrahnya, keadaannya akan meningkat dengan karamah yang ada padanya. Maka setiap rasa tunduk dan khusyu di dalamnya untuk menyatukan arah kepada Penciptanya, Yang memiliki kurnia atas dirinya dan atas seluruh makhluk, serta menjamin kepentingan mereka semua. Bilamana ia merasakan pada dirinya keutuhan penciptaan dan tenjaminnya rezeki maka sirnalah (lenyaplah) ikatan-ikatan takhayul, takut dan harapannya dari makhluk lain, baik para pembesar manusia mahupun bayangan menakutkan yang diciptakan oleh daya khayal yang disangka ada pada benda-benda langit (planet dan binatang), pepohonan, bebatuan dan sejenisnya, atau kuburan dari ahli kubur yang dikeramatkan. Maka dengan iman itu ia akan bergantung kepada Allah, Tuhan Yang Maha haq, dan akan berpaling dari yang selain-Nya. Maka bersatulah manusia dalam ketergantungan (taalluq) dan tujuan (hadaf), serta hilanglah dorongandorongan untuk bersaing dan berselisih.

d. Menampakkan kemuliaan (izzah) dan kekebalan (manaah). Orang yang beriman percaya bahwa dunia adalah mazraatul akhirah (ladang untuk akhirat), seperti dalam firman Allah,

Dan dirikanlah solat dan tunaikanlah zakat. Dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (Al-Baqarah: 110)

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, nescaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, nescaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Az-Zalzalah: 7-8)

Dan ia mengimani bahwa apa yang ditakdirkan luput darinya, tidak akan mengenainya, dan apa yang ditakdirkan menimpanya pasti mengenainya. Dengan itu, terhapuslah dari dalam hatinya terhadap perihal kekhuwatiran dari segala macam rasa takut. Maka dia tidak akan rela kehinaan dan kerendahan untuk dirinya, ia tidak akan tinggal diam atas kekalahan dan penindasan.

Dari sini kita mengetahui dengan jelas bagaimana tugas-tugas berat dan agung mampu ditempuh melaluui tangan Rasulullah dan juga tangan-tangan para sahabatnya Sesungguhnya kekuatan bumi semuanya tidak mampu menghadang di depan orang yang hatinya dipenuhi oleh pancaran iman, amalnya didasarkan pada pengawasan Allah dan menjadikan kehidupan akhirat sebagai tujuan akhirnya. Kita juga memahami bagaimana para rasul dan para nabi di mana mereka sendirian menghadapi kaum dan umatnya yang bersatu, mereka tidak mempedulikan jumlah manusia dan kekuatannya. Dalam Sejarah Nabi Ibrahim dan Hud terdapat sikap yang dapat menjelaskan dan menampakkan kekuatan iman yang sebenarnya.

e. Berhias dengan akhlak mulia. Sesungguhnya iman seseorang kepada suatu kehidupan sesudah kehidupan duniawi ini dan di sana akan dibalas segala perbuatan akan membuat dia merasa bahawa hidupnya mempunyai tujuan dan makna yang tinggi; suatu perkara yang dapat mendorongnya untuk berbuat baik, berbudi luhur dan berhias dengan keutamaan, menjauhi kejahatan dan melepas pakaian kehinaan. Dengan begini akan terwujudlah peribadi yang utama dan masyarakat yang mulia serta negara yang makmur. f. Bersemangat, giat serta rajin bekerja. Sesungguhnya orang yang beriman kepada qadha Allah dan qadar-Nya, mengetahui kaitan antara sebab dan akibat, mengerti nilai amal, kedudukan dan keutamaannya, ia akan mengetahui bahawa di antara taufik Allah

bagi manusia adalah petunjuk-Nya untuk mengupayakan sebab-sebab yang dapat menghantarkan kepada tujuan. Dan dia tidak akan berputus-asa apabila ada sesuatu yang tidak dia capai, sebagaimana dia tidak akan lupa diri dan sombong apabila berhasil meraih keuntungan dunia, sebagai wujud dan iman kepada firman Allah s.w.t., Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan din. (Al-Hadid: 22-23)

(Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. ) al hajj 23

2. Sebutkan contoh aplikasi iman dalam kehidupan sehari-hari!! Pada suatu saat dalam kehidupan manusia, ada sekelompok orang dari golongan orangorang miskin mengajukan keluhan kepada Rasulullah saw tentang kehidupan mereka. Mereka merasa ada yang tidak fair dalam hidup ini, mereka melihat orang-orang kaya melakukan sholat, puasa, dan ibadah-ibadah sunnah lainnya, sebagaimana mereka lakukan, tetapi orang-orang kaya itu bisa bersedekah dengan hartanya, suatu hal yang tidak bisa mereka lakukan. Dikatakan oleh Rasulullah saw;Maukah kalian aku beri sesuatu yang bila dilakukan kalian akan melampui mereka? Yakni bacalah Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x dan Allah Akbar 33x setiap selesai sholat fardhu. Setelah sekian

waktu berlalu, sekelompok orang dari golongan orang-orang miskin itu datang lagi kepada Rasulullah saw, Orang-orang kaya itu mengetahui dan juga mengamalkan sebagaimana yang kami lakukan! Itulah kehidupan! jawab Beliau saw. (kuranglebihnya begitu,lebih jelasnya lihat:HR.Bukhori-Muslim) Ketika kita membuka cakrawala pandang kita, melihat kehidupan dengan lebih terbuka dan jujur, kemudian kita padukan pandangan tersebut dengan spirit surat Al Ashr, kita akan mendapati ternyata hanya imanlah yang bisa menjadikan manusia itu benar-benar beruntung. Apapun status kita; mahasiswa, santri, dosen, pengusaha, karyawan, PNS, dokter, pengacara, pengacara(pengangguran banyak acara), bahkan ustadz sekalipun, akan benar-benar merugi jika tidak ada iman. Definisi iman, tentunya, tidak sedikit pembaca yang sudah tahu dan paham benar, bahkan sangat hafal dalilnya plus pendapat para ulamanya. Jadi, bolehlah jika penulis melontarkan definisi sendiri, karena ada anda yang akan mengoreksinya, agar pas. Iman dapat didefinisikan sebagai cara pandang fundamental terhadap perjalanan hidup manusia, yang tak terbatas ruang dan waktu. Karena iman itu tidak hanya bil-qolbu-diyakini dalam hati saja tapi juga bil-lisandiikrarkan dengan lisan dan bil-arkan-dibuktikan dengan perbuatan, maka lebih luas, tidak hanya berhenti pada cara pandang fundamental terhadap perjalanan hidup manusia saja namun iman juga tentang bagaimana menempuh dan mengakhiri perjalanan hidup itu. Orang yang beriman adalah orang yang mendapatkan nur-hidayah-Cahaya Petunjuk, dalam kehidupannya, sehingga dia bisa melihat yang akhirnya dia tahu. Tahu tentang apa? Tahu jalan. Didalam kegelapan, manusia tidak bisa melihat apapun, apalagi jalan tembok pun ditabraknya. Itulah kehidupan di dunia. Gelap gulita. Dengan kasih sayangNya, Allah, sebagai nuurus samaawaati wal ardhi-Pemberi Cahaya langit dan bumi (QS.24:35), memberikan cahayaNya kepada siapa yang dikehendaki. Dengan cahaya itu

manusia bisa melihat (esensi melihat itu kan bukan karena ada mata, tapi cahaya?) sehingga dia tahu yang mana jalan, yang mana jurang, tebing ato sungai. Tanpa cahaya itu, dengan apa manusia bisa melihat dan menjalani kehidupannya? Dengan insting, yang kurang lebih sama saja dengan hawa nafsu? Atau manut grubyuk, ikutikutan orang banyak? Itupun juga hawa nafsu. (Tidak beriman seseorang sampai hawa nafsunya tunduk kepada apa yang diturunkan kepadaku.Al hadits) Sehingga dia nabraknubruk. Apa saja boleh dan halal, yang penting bisa hidup, enak dan senang. Dalam istilah Al Quran mereka itulah kal anam-seperti binatang ternak, bahkan, bal hum adhollu -mereka lebih sesat lagi dari binatang (QS.7:179). Disini, iman diaplikasikan sebagai pedoman berpikir. Sebagaimana kisah para sahabat diawal tadi, miskin-kaya dipandang tidak semata obyek miskin-kayanya saja, tapi bagaimana hal itu bermanfaat dalam peningkatan ibadah mereka, fastabiqul khoirot-berlomba meraih keridhoan Allah. Tahu cara menempuh jalan itu. Tidak jarang, ada manusia yang sudah tahu jalan yang benar dan mudah tapi masih saja tidak beruntung bahkan ada yang malah tidak mau menempuhnya. Dengan demikian, tahu jalan yang benar saja tidak cukup. Dengan kasih sayangNya lagi, Allah memberikan hidayah kepada manusia. Hidayah-petunjuk (jalan) itu menjadi rambu-rambu bagi manusia; seperti dalam rambu-rambu lalu lintas: kapan dan dimana harus berhenti, tidak boleh mendahului. Disinilah hakikat manusia diuji. Wa qulil haqqo mirrobbikum fa man syaaa fal yumin wa man syaaa fal yakfur Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir. (QS.18:29). Disini, iman diaplikasikan sebagai pedoman bertindak. Dalam istilah sederhananya apakah dia akan memilih bank konvensional ato bank syariah, makan siang di KFC atau di Ayam Bakar Wong Solo, beli donat di Dunkins Donut ato di toko roti Madinah, berinvestasi di pasar uang atau di logam mulia,dll. Tahu tujuan jalan itu. Meski sudah tahu jalan yang benar dan telah menempuhnya dengan benar pula, tapi tujuan akhirnya tidak tahu (belum benar), juga masih dikatakan merugi. Ini berkaitan dengan niat, kejujuran, dan keikhlasan. Silahkan pahami Hadits Arbain, dibagian-bagian awal, dua hadits pertama. Tidak ada yang bisa memastikan keselamatan manusia, selama masih ada didunia. Hidup itu penuh dinamika, dan relatif.

Hanya satu yang bisa memastikan; Kemudian jika datang petunjuk-Ku, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati (QS.2:38). Orang beriman itu seharusnya tidak khawatir terhadap masa depan mereka atau apa yang akan terjadi. Tidak pula bersedih hati terhadap masa lalu mereka atau yang lepas dari harapannya. Keinginanmu untuk tetapnya sesuatu selain Allah itu sebagai bukti bahwa kamu belum bertemu pada Allah, dan kerisauanmu karena kehilangan sesuatu selain Allah itu sebagai bukti tidak adanya hubunganmu dengan Allah atau sebagai bukti belum sampaimu kepada Allah.(Al Hikam, Ibnu Athoillah) Disinilah sulitnya, tidak sedikit dari kita yang merasa sudah benar, sudah baik, sudah ikhlas, bahkan sampai-sampai merasa lebih baik dari orang lain. Padahal, bisa jadi itu hanya bisikan syetan. Masih ingatkah tentang kisah seseorang yang berniat ibadah haji tetapi meremehkan restu dari ibunya? Boro-boro bisa ibadah haji, malah dia mendapat peristiwa tragis ditengah perjalanan. Dituduh mencuri, dipukuli massa, dipotong tangannya, dan pulang dengan penuh penderitaan. Masih ingat kisah ketika ada wanita pezina yang dirajam dan ada sahabat yang memandang negatif pada wanita itu? Rasulullah saw menegurnya dan mengatakan bahwa nilai tobat wanita itu sangat tinggi derajatnya. Disini, iman yang benar dan kuat sangat diperlukan. Tujuan akhir perjalanan hidup manusia, banyak orang yang tertipu dengan persepsinya sendiri. Ada seorang Abid yang sudah beribadah ratusan tahun dan dia menyangka amalnya itulah yang akan memasukkannya ke surga. Ternyata bukan. Ada lagi hadits dari Rasulullah sawyang mengabarkan bahwa akan datang suatu kaum dari umat islam pada hari akhir nanti dengan membawa ibadah yang banyak sebesar gunung tihamah yang putih. Akan tetapi, dijadikan oleh Allah amal itu bagaikan bulu-bulu yang beterbangan tak bernilai. Sehingga wajarlah jika banyak para sahabat yang harap-harap cemas. Ada ungkapan yang populer tentang hal ini: ilahi, lastu lil firdausi ahla wa laa aqwa alan naril jahimi

Namun, sekali lagi, hanya orang berimanlah yang akan beruntung, dunia dan akhirat. Qod aflahal muminuuna :Sungguh beruntunglah orang yang beriman itu (QS.23:1). Mereka itulah yang akan mewarisi Surga Firdaus dan kekal didalamnya (QS.23:10-11).

BAB IV KONSEP TAQWA DAN IMPLIKASINYA DALAM KEHIDUPAN 1. Sebutkan salah satu ayat Alquran yang berhubungan dengan Taqwa serta berikan tafsirannya ! SURAT ALI IMRON 102

Artinya : (Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. ) Tafsiran : Tafsir dalam ayat ini adalah Wahai segala mereka yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sempurna-sempurna takwa (laksanakan seluruh kewajiban dan jauhilah segala yang dilarang). Yakni, wajib atasmu bertaqwa akan Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, yaitu mengerjakan segala perintah Nya dan wajib menjauhi segala larangannya. Diriwayatkan oleh Al Hafidz Ibnu Abil Halim dari Masud, ujarnya Takwa kepada Allah, ialah mentaati-Nya, tidak mendurhakai-Nya, Mensyukuri-Nya, tidak mengingkarinya, menyebut-Nya (mengingat-Nya), tidak melupai-Nya. Dan Ibnu Abbas berkata takwa itu ialah bermudjahadah pada jalan Allah dengan benar-benar Jihad, dan tidak dipengaruhi pada jalan Allah oleh celaan

para pencela, dan menegakkan keadilan karena Allah, walaupun terhadap diri sendiri, ibu dan bapak. Tafsir dalam ayat ini adalah dan janganlah kamu mati melainkan dalam kamu menyerahkan diri kepada Allah (beragama Islam). Yakni: Hai para mumin, jangan kamu mati melainkandalam keadaan dirimu ikhlas kepada Allah, tidak menserikatkan Allah dengan sesuatu. Jelasnya, tetaplah kamu di dalam Islam dengan memelihara segala kewajiban, menjauhi segala larangan, sehingga kamu menarik nafas penghabisan. Ada yang mengatakan bahwa firman Allah : ittaqullaha haqqa tuqatihi, dinasahkan oleh fattaqullaha mastathatum. Mereka berkata: tidak ada jalan dapat kita bertakwa dengan sepenuhpenuh takwa. Sebenarnya yang dimaksud dengan ayat ini ialah tetap dalam keadaan kembali dan takut akan Allah lahir dan batin.

2. Apa yang kamu ketahui tentang TAQWA? Secara etimologis kata taqwa merupakan bentuk masdar dari ittaqyattaqiy ittaqyattaqiy (,)- yang bearti menjaga diri dari segala yang membahayakan. Kata ini berasal dari kata waqa-yagi-wiqayah yang berarti menjaga diri menghindari dan menjahui yaitu menjaga sesuatu dari segala yang dapat menyakiti dan mencelakan

BAB V MEMAHAMI KONSEP ILMU PENGETAHUAN 1. Apakah ilmu pengetahuan dalam ISLAM ? Dalam bahasa Arab, pengetahuan digambarkan dengan istilah al-ilm, al-marifah dan al-syuur. Namun, dalam pandangan dunia Islam, yang pertamalah yang terpenting, karena ia merupakan salah satu sifat Allah SWT. Al-ilm berasal dari akar kata l-m dan diambil dari kata alamah, yang berarti tanda, simbol, atau lambang, yang dengannya sesuatu itu dapat dikenal. Tapi alamah juga berarti pengetahuan, lencana, karakteristik, petunjuk dan gejala.. Karenanya malam (amak maalim) berarti petunjuk jalan, atau sesuatu yang menunjukkan dirinya atau dengan apa seseorang ditunjukkan. Hal yang sama juga pada kata alam berarti rambu jalan sebagai petunjuk. Di samping itu, bukan tanpa tujuan al-Quran menggunakan istilah ayat baik terhadap wahyu, maupun terhadap fenomena alam. Pengertian ayat (dan juga ilm, alam, dan alama) di dalam al-Quran tersebut yang menyebabkan Nabi SAW mengutuk orang-orang yang membaca ayat 3:190-195 yang secara jelas menggambarkan karakteristik orang-orang yang berfikir, mambaca, mengingat ayatayat Allah SWT di muka bumi tanpa mau merenungkan (makna)nya.

2. Bagaimana Konsep Ilmu pengetahuan dala Al Quran ? Sifat penting dari konsep pengetahuan dalam al-Quran adalah holistik dan utuh (berbeda dengan konsep sekuler tentang pengetahuan). Pembedaan ini sebagai bukti worldview tauhid dan monoteistik yang tak kenal kompromi. Dalam konteks ini berarti persoalan-persoalan epistemologis harus selalu dikaitkan dengan etika dan spiritualitas. (Dalam Islam) ruang lingkup persoalan epistemologis meluas, baik dari wilayah (yang disebut) bidang keagamaan dengan wilayah-wilayah (yang disebut sekuler)., karena worlview Islam tidak mengakui adanya perbedaan mendasar antara wilayah-wilayah ini. Adanya pembedaan semacam itu akan memberi implikasi penolokan hikmah dan petunjuk Allah SWT, dan hanya memberi perhatian dalam wilayah tertentu saja. Wujud Allah SWT sebagai sumber semua pengetahuan, secara langsung meliputi kesatuan dan integralitas semua sumber dan tujuan epistemologis. Ini menjadi jelas jika kita merenungkan kembali istilah ayat yang menunjuk pada ayat-ayat al-Quran dan semua wujud di alam semesta. Konsep integralitas pengetahuan telah diuraikan al-Ghazali dalam kitabnya Jawahir al-Quran, di mana ia menegaskan bahwa ayat-ayat al-Quran yang menguraikan tentang bintang dan kesehatan, misalnya, hanya sepenuhnya dipahami masing-masing dengan pengetahuan astronomi dan kesehatan. Ibnu Rusyd dalam fasl al-maqal, juga memberikan penjelasan keterkaitan antara penafsiran keagamaan dan kefilsafatan dengan mengutip beberapa ayat al-Quran yang mendorong manusia meneliti dan menggambarkan kajian penciptaan langit dan bumi (7:185, 3:191, 88:17-18). Dengan hal yang sama, al-Quran juga mendorong manusia melakukan perjalanan di bumi untuk mempelajari nasib peradaban sebelumnya. Ini membentuk kajian sejarah, arkeologi, perbandingan agama, sosiologi dan sebagainya secara utuh.

BAB VI SIKAP HIDUP ILMUWAN MUSLIM 1. Sebutkan contoh ilmuwan muslim (minimal 3) beserta penemuannya ! 1. 2. 3. 4. 5. Salman Al Farisi; pembuat strategi perang kanal, meriam pelontar/tank. Miqdad bin Amru; pelopor pembuat pasukan kalveleri/berkuda modern Al Nadim (wafat thn 990, abad ke 10); pelopor pembuat katalog/ensiklopedi pertama. dunia yang dikenal dengan Darul Hikmah di Baghdad. Mamun Ar Rasyid (thn 815, abad 9); pelopor pendiri perpustakaan umum di Nizam Al Mulk (thn 1067); pelopor pendiri universitas modern pertama di

pertama. kebudayaan pertama

dunia yang dikenal dengan Nizamiyyah (ditiru sistemnya oleh Oxford Univ. Inggris) 2. apa yang dibahas ibnu khaldun dalam maslah biologi? Teodros Kiros dalam karyanya Explorations in African Political Thought, mengatakan, dalam bidang biologi secara khusus Ibnu Khaldun membahas masalah teori evolusi. Menurut Khaldun, dunia ini dengan segala isinya memiliki urutan

tertentu dan susunan benda. Ia mencoba mencoba mengaitkan antara penyebab dan hal-hal yang disebabkan, kombinasi dari beberapa bagian penciptaan dengan yang lain, dan transformasi dari beberapa wujud menjadi sesuatu yang lain. Selain itu, Ibnu Khaldun juga membahas penciptaan dunia. Menurut dia, makhluk hidup berawal dari sebuah mineral kemudian berkembang dan berakal. Secara bertahap, kemudian berubah menjadi tanaman dan hewan. "Tahap terakhir mineral ''terhubung'' dengan tahap pertama dari tanaman, seperti tumbuhan dan tanaman tak berbiji,'' tutur Ibnu Khaldun. Tahap terakhir tanaman, lanjut dia, seperti pohon kelapa dan tumbuhan yang merambat (pohon anggur), terhubung dengan tahap pertama binatang, seperti keong (siput) dan kerang yang hanya memiliki kekuatan sentuh. Menurut Ibnu Khaldun, dunia binatang kemudian semakin meluas menjadi berbagai jenis. Dalam proses penciptaan bertahap, hewan/binatang akhirnya mengarah ke bentuk manusia, yang mampu berpikir dan mengartikan. "Tahap tertinggi manusia dicapai dari dunia kera, di mana kedua kecerdasan dan persepsi ditemukan, namun belum mencapai tahap refleksi dan berpikir sebenarnya," tutur Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun ternyata seorang penganut determinisme lingkungan. Dia menjelaskan bahwa kulit hitam itu disebabkan oleh iklim panas dari gurun Sahara Afrika dan bukan karena keturunan. "Dia justru menghalau teori Hamitic, di mana anak-anak Ham yang dikutuk oleh makhluk hitam, sebagai mitos," jelas Chouki El Hamel dalam karyanya Race, slavery and Islam in Maghribi Mediterranean thought: the question of the Haratin in Morocco.

BAB VII DOSA DAN KEBURUKAN SERTA IMPLIKASI DALAM KEHIDUPAN

1. Sebutkan salah satu dosa besar dan dasarnya dalam alquran? Dosa besar berikutnya adalah: berbuat khianat atas harta pampasan perang. Tentang hal ini Allah SWT berfirman:

Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. (ali imron 161)

2. Bagaimana cara melakukan taubah nassuha?

Taubat dari dosa menurut Al Ghozali adalah kembali kepada Sang Maha Penutup aib dan Yang Maha Mengetahui yang ghaib (Allah swt). Ia merupakan awal perjalan orang-orang yang berjalan, modal orang-orng sukses, langkah awal para pencinta kebaikan, kunci istiqomah orang-orang yang cenderung kepada-Nya, awal pemilihan dari orang-orang yang mendekatkan dirinya, seperti bapak kita Adam as dan seluruh para Nabi.(Ihya Ulumuddin juz IV hal 3) Tentunya taubat seorang yang berdosa hendaklah dilakukan secara serius dan sungguhsungguh bukan bertaubat kemudian dengan mudahnya dia mengulangi lagi perbuatan maksiatnya. Inilah yang disebut dengan Taubat Nashuha artinya taubat yang sebenarbenarnya, murni dan tulus, sebagaimana firman Allah swt,Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At Tahrim : 8) Dosa yang dilakukan seorang manusia baik yang terkait dengan Allah swt, seperti : tidak menjalankan perintah-perintah-Nya ataupun dosa yang terkait dengan manusia lainnya, seperti : mencuri harta bendanya dan lainnya, menuntutnya untuk melakukan taubat agar Allah swt memberikan ampunan kepadanya dan manusia yang dizhalimi tersebut memberikan pemaafan kepadanya.

Cara-cara melakukan taubat nashuha : 1. Meninggalkan kemaksiataan yang dilakukannya. 2. Menyesali perbuatannya. 3. Bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi selama-lamanya. 4. Jika terkait dengan hak-hak orang lain maka hendaklah ia mengembalikannya kepada yang memilikinya.

BAB VIII AMAL SHOLEH DAN IMPLIKASI DALAM KEHIDUPAN

1. Bagaimana menurut anda tentang beramal yang menyertakan sikap riya? Ibnu Qudamah mengatakan,Apabila sifat riya itu muncul sebelum selesai suatu ibadah dikerjakan, seperti sholat yang dilakukan dengan ikhlas dan apabila hanya sebatas kegembiraan maka hal itu tidaklah berpengaruh terhadap amal tersebut namun apabila sifat riya sebagai faktor pendorong amal itu seperti seorang yang memanjangkan sholat agar kualitasnya dilihat oleh orang lain maka hal ini dapat menghapuskan pahala.

2. Sebutkan salah satu contoh ayat allah yang berisi tentang amal ibadah disertai riya? Artinya : Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, (QS. Al maun : 4 6)

Al Qurthubi mengatakan bahwa makna dari orang-orang yang berbuat riya, adalah orang yang (dengan sholatnya) memperlihatkan kepada manusia bahwa dia melakukan sholat dengan penuh ketaatan, dia sholat dengan penuh ketakwaan seperti seorang yang fasiq melihat bahwa sholatnya sebagai suatu ibadah atau dia sholat agar dikatakan bahwa ia seorang yang (melakukan) sholat. Hakekat riyaadalah menginginkan apa yang ada di dunia dengan (memperlihatkan) ibadahnya. Pada asalnya riya adalah menginginkan kedudukan di hati manusia.

BAB IX ETIKA BERJIHAD 1. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan jihad? Makna Jihad Menurut Bahasa: Kata jihad di dalam bahasa arab, adalah mashdar dari kata: Yang merupakan turunan dari kata yang berarti: kesulitan atau kelelahan karena melakukan perlawanan yang optimal terhadap musuh . [1] Makna Jihad Menurut Istilah: Dalam terminologi syar`i kata jihad mempunyai beberapa makna: Suatu usaha optimal untuk memerangi orang-orang kafir.[2] Para fuqaha mengungkapkannya dengan defenisi yang lebih rinci, yaitu: suatu usaha seorang muslim memerangi orang kafir yang tidak terikat suatu perjanjian setelah mendakwahinya untuk memeluk agama Islam, tetapi orang tersebut menolaknya, demi menegakkan kalimat Allah .[3] Ini makna umum dari kata jihad dalam terminologi syar`i. Bila kata jihad

dimaksudkan untuk makna selain dari makna diatas biasanya diiringi dengan sebuah kata lain sehingga konteks dari kalimat tersebut mengindikasikan makna yang dituju dari kata jihad tersebut, ini berarti setiap kita menemukan kata jihad dalam AlQur`an dan sunnah konotasinya adalah memerangi orang kafir dengan senjata. Usaha optimal untuk mengendalikan hawa nafsu dalam rangka mentaati Allah atau lebih dikenal dengan (mujahadatun nafsi), seperti makna kata jihad dalam sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam

Seorang mujahid adalah orang yang mengendalikan hawa nafsunya untuk mentaati Allah [4] Selain dua makna diatas adalah seperti makna kata jihad dalam sabda Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, ketika seorang pemuda meminta izin beliau untuk berjihad dan beliau menanyakan, "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?", ia menjawab," Ya", beliau bersabda," optimalkanlah baktimu terhadap mereka. H.R.Bukhari.

2. Apa saja hukum jihad itu? ;a. Fardhu `ain (wajib bagi setiap muslim) dalam beberapa kondisi ketika seorang muslim telah berada dalam barisan pasukan yang sedang menghadapi pertempuran, maka fardhu `ain bagi nya berjihad dan berdosa meninggalkan medan, Allah (berfirman, (Q.S. Al Anfaal: 45 Hai orang-orang beriman apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka tetaplah Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu mundur ( Al Anfaal :15)

- bila musuh telah datang menyerang salah satu negeri muslim, maka wajib bagi setiap penduduknya berjihad mengusir mereka. Jika musuh belum tertumpas wajib `ain bagi setiap penduduk negeri muslim sekitarnya berjihad hingga musuh keluar dari negeri tersebut. Allah berfirman (Q.S. At Taubah :123) Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang berada disekitar kamu itu Jihad ini disebut juga dengan jihad difa` (pembelaan diri) - bila imam (pemimpin) memerintah seorang muslim untuk pergi berjihad, maka wajib `ain baginya melaksanakn perintah tersebut, nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, Bila kamu diperintahkan berjihad, maka pergilah berjihad H.R.Bukhari. b. Fardhu kifayah Jihad thalab (memulai penyerangan terhadap sebuah negeri yang penduduknya tidak beriman kepada Allah dan hari akhir) hukumnya fardhu kifayah, yang bila dilakukan oleh sebagian kaum muslim terhapuslah dosa dari seluruh kaum muslim, Allah berfirman, (Q.S. At taubah: 122) Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin pergi semuanya ke medan perang Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, Perlu digarisbawahi bahwa hukum diatas berlaku manakala kaum muslim mempunyai negeri islam berdaulat yang menerapkan hukum-hukum Allah dan dipimpin oleh seorang muslim sejati serta memiliki kekuatan, peralatan dan perlengkapan yang dirasa mampu untuk menegakkan jihad difa` maupun jihad thalab. Namun disaat kaum muslim tidak mempunyai negeri Islam, para pemimpinnya mencampakkan hukum Allah dan kekuatan serta peralatan perangnya tidak sampai seujung kuku kekuatan musuh, maka hukum diatas tidak berlaku, bahkan lebih dari itu, kaum muslim dibenarkan membayar upeti kepada musuh jika memang keadaannya menuntut demikian, hal ini

.[dijelaskan oleh para ulama mazhab [12 Ibnu Taimiyah berkata," Kaum mukminin yang berada di sebuah negeri dan mereka tidak mempunyai kekuatan (lemah) maka hendaklah mereka mengamalkan ayat yang memerintahkan tetap sabar dan memberi maaf terhadap orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya baik dari Ahlul kitab maupun orang musyrik, sedangkan kaum mukminin yang mempunyai kekuatan maka mereka wajib mengamalkan ayat yang memerintahkan memerangi para pemimpin kekufuran dan ayat yang memerintahkan memerangi ahlul kitab hingga mereka mau membayar "[jizyah (upeti) dan mereka dalam keadaan yang hina [13 Hal yang senada dengan perkataan diatas yaitu perkataan Az Zarkasyi dan As Suyuti bahwa bilamana umat Islam melewati masa dan keadaan yang sama dengan masa dan keadaan periode Mekah maka sepatutnya mereka mengamalkan ayat-ayat yang diperintahkan untuk sabar dan memaafkan dan terus mendakwahi setiap musuh dengan cara yang sebijak mungkin.[14] Implikasinya ayat-ayat sebelum ayat "saif" dalam surat At taubah tidak dimansukhkan tetapi .diamalkan manakala kondisi yang serupa terjadi pada umat Islam

BAB X HARTA DAN CARA MENYIKAPINYA

1. Harta yang halal itu yang bagaimana? Harta halal adalah harta yang didapatkan dari hasil kerja keras tanpa merugikan orang lain.harta yang semata- mata didapatkan hanya karena usahanya dengan mengharap ridho allah.
2. Bagaimana Kiat-kiat Memelihara diri dari sumber penghasilan yang haram?

Ikhtiar Batin
1. Iman kepada Allah sebagai Ar-Razaq (Maha Pemberi Rizki).

2. Memohon pertolongan dan perlindungan Allah dalam setiap gerak langkah kehidupan. 3. Menghiasi diri dengan sifat sabar dan tangguh; syukur dan qonaah. 4. Mengenal hakikat kesenangan dunia yang semu dan sementara, serta selalu mengingat kampung akhirat negeri yang abadi dan hakiki; agar selamat dari tipu daya syaithan. 5. Bermujahadah meraih ketakwaan; karena dengan syarat ketakwaanlah Allah menjadikan jalan keluar dari setiap problematika manusia dan memberikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Ikhtiar Lahir 1. Bekerja keras dan tak kenal menyerah 2. Selalu berupaya menambah ilmu (keterampilan) dan pengetahuan (melek informasi) 3. Tidak memisahkan diri dari jamaah muminin (berukhuwah islamiyah)

BAB XI DERMAWAN

1. Apa dermawan itu?

Dermawan adalah ketika seseorang mau memberikan atau berbagi terhadap sesame baik dalam bentuk harta benda ataupun yang lainnya untuk kebahagiaan bersama .

2. Mengapa kita harus memiliki sikap dermawan??

Kita hidup didunia sebagai makhluk pribadi dan makhlik social yang hjendaknya saling berbagi untuk jalan ALLAH. Manusia yang memiliki sesuatu berlebih baik harta benda atau kebahagiaan, ataupun ilmu kita harus saling berbagi bagi mereka yang kurang mampu dan kepada mereka yang membutuhkan .