Anda di halaman 1dari 7

Jenis-jenis obat

I. Kemoterapeutika Kemoterapeutika adalah obat atau zat yang berasal dari bahan kimia yang dapat memberantas dan mengobati penyakit atau infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, amoeba, fungi, protozoa dan sebagainya tanpa merusak jaringan tubuh manusia. Penggolongan : Antibiotika Sulfonamide Anti malaria Anthelmintika Anti TBC ( tuberkulostika ) Antibiotika adalah segolongan senyawa. Baik alami ataupun sintetik yang mempunyai kemampuan efek menekan atau menghentikan suatu prose biokimia di dalam organisme. Khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Berdasarkan sifatnya ( daya hancurnya ) bakteri terbagi menjadi dua : Antibiotik yang bersifat bakterisidal, yaitu yang besifat destruktif ( menghancurkan ) terhadap bakteri. Antibiotik yang bersifat bakteriostatik, yaitu yang bekerja menghambat pertumbuhan atau multiplikasi bakteri. Tetrasiklin Tetrasiklin adalah antibiotika yang menghambat sintesis protein bakteri pada ribosomnya, Absorpsi : Sekitar 30-80% tetrasiklin diserap dalam saluran cerna dan absorpsi besar berlangsung di lambung dan di usus halus.adanya makanan di dalam lambung akan menghambat proses absorpsi kecuali minosiklin dan doksiklin, oleh karena itu biasanya diberikan sebelum makan. Distribusi :

Penetrasi ke dalam jaringan tubuh cukup baik, obat ini akan ditimbun di hati, limpa dan sumsum tulang serta di email gigi yang belum bererupsi Ekskresi : Tetrasiklin diekskresi keluar melalui urine melalui empedu, sebagian besar obat yang di ekskresikan ke dalam usus iniakan melalui sirkulasi enterohepatik maka obat ini akan berada di dalam darah untuk waktu yang lama setelah terapi di hentikan. Efek samping : Gangguan keseimbangan misalnya pusing dan mual. Deposit pada sumsum tulang dan email gigi pada anak yang akan mengakibatkan gigi berwarna kuning. II. Obat-obat gangguan saluran cerna Obat-obat saluran saluran cerna adalah obat-obat yang bekerja untuk mangatasi gangguan pada saluran cerna manusia ataupun hewan. Obat-obat lambung Antiemetika Obat diare Laksansia Laksansia atau dengan nama lain obat pencahar digunakan untuk memperlancar pengeluaran kotoran dengan cara dipaksa. Penggolongan obat laksansia dibedakan menurut mekanisme kerjanya. Laksansia yang tergolong perangsang dinding usus. Laksansia golongan ini merangsang secara langsung saluran usus sehingga mempertinggi peristaltiknya dan mengakibatkan pengeluaran isi usus lebih cepat. Laksansia yang memperbesar isi usus cara kerja obat ini adalah air dari luar usus ditarik ke dalam usus, dimana air yang banyak ini merupakan suatu rangsangan mekanik pada dinding usus sehingga usus mempertinggi kegiatan peristaltiknya dan mengakibatkan pengeluaran isi yang telah mnjadi cair dengan cepat. Laksansia yang tergolong pelicin

Cara kerja obat ini adalah mempermudah defekasi karena memperlunak tinja dan melicinkan jalannya dengan memasukkan zat cair ke dalam obatnya misalnya glycerin, minyak zaitun yang akan membuat terjadi peregangan dinding rectum dan defekasi pun terjadi. Efek samping : Mineral-mineral ( kalium dan Natrium ) yang penting bagi tubuh tidak terabsorsi kembali ke dalam usus besar sehingga dapat menyebabkan kelemahan pada otot-otot. Sintesis vitamin-vitamin ( vitamin K dan Vitamin B ) oleh bakteri di dalam usus besar tidak dapat terjadi. III. Obat susunan saraf pusat Susunan saraf pusat berkaitan dengan system saraf manusia yang merupakan suatu jaringan yang sangat kompleks, sangat khusus dan saling berhubungan satu sama lain. Analgetika perifer Analgetika anti radang Analgetika narkotika Anastetika umum Anastetika lokal Antidepresiva Obat parkinson Analgetika perifer Analgetika perifer adalah suatu obat yang tidak bersifat narkotika yang mampu menghilangkan atau meringkan rasa sakit atau nyeri ( di akibatkan oleh berbagai rangsangan pad tubuh misalnya rangsangan mekanis, kimiawi, dan fisis sehingga menimbulkan kerusakan pada jaringan yang memicu pelepasan mediator nyeri seperti brodikinin yang akhirnya mengaktivasi reseptor nyeri di saraf perifer dan diteruskan ke otak ) tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat, tidak menurunkan kesadaran dan menimbulkan ketergantungan

Contoh : parasetamol adalah obat analgetika yang popular dan digunakan untuk meredakan sakit kepala dan aman digunakan selama dalam dosis standar. Absorpsi : Parasetamol dapat diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna, parasetamol dimetabolisme terutama di dalam hati, di mana sebagian besarnya di rubah menjadi senyawa tak aktif metabolit ini kemudian di ekskresikan ke ginjal. Efek samping : Efek samping pada obat-obat anal getika perifer adalah kerusakan lambung, kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal. IV. Obat susunan saraf otonom Adrenergetika Adrenolitika Anoreksansia Kolinergika Antikoligernika Bagian motor saraf dapat dibagi menjadi 2 sub divisi yaitu : 1. Sistem saraf otonom : system saraf otonom umumnya bersifat otonom dimana aktifitasnya tidak di bawah pengaruh langsung kesadaran seperti aliran darah ke berbagai organ, pencernaan dan sebagainya. 2. Sistem saraf somatik : system saraf somatik Anoreksansia Sibutramin hydrochloride : Sibutramin hydrochloride merupakan obat golongan anoreksansia yang berdaya menekan nafsu makan secara efektif selama 4-6 minggu, namun setelah 3-6 bulan efeknya akan berkurang. Sibutramin hydrochloride bekerja dengan cara menghambat reuptake noradrenaline dan serotonin oleh sel saraf kedua neurotransmitter ini menyampaikan pesan di antara sel saraf yang ada di otak. Penghambat reuptake membuat kedua umumnya tidak otonom dan berhubungan dengan fungsi organ secara sadar seperti bergerak dan bernapas.

neurotransmitter ini bebas menjelajah di otak saat itulah keduanya menghasilkan perasaan penuh ( kenyang ) sehingga akan mengurangi keinginan makan pasien. Efek samping : Sibutramin hydrochloride mempunyai efek samping sakit kepala, depresi, hipertensi, insomnia. V. Jantung, pembuluh dan darah Diuretika Vasodilator Antilipemika Antitrombotika Kardiotonika Diuretika Diuretika merupakan zat-zat yang dapat memperbanyak pengeluaran kemih ( diuresis ) melalui kerja langsung terhadap ginjal. Mekanisme kerja diuretika kebanyakan bekerja dengan mengurangi reabsorpsi natrium, sehingga pengeluarannya lewat kemih dan juga air diperbanyak, obat-obat ini bekerja khusus terhadap tubuli. Penggolongan diuretika 1. Diuretika lengkungan adalah obat-obat yang berkhasiat kuat dan pesat tetapi agak singkat, mekanisme kerjanya dengan menghambat reabsorpsi Na dan cl di bagian ascending dari loop henle dan tubulus distal yang menyebabkan naiknya eksresi air Na, Mg, dan Ca contoh obat : frusemide 2. Derivat Thiazida adalah obat-obat yang efeknya lebih lemah dan lambat dan juga lebih lama, banyak digunakan pada terapi hipertensi dan kelemahan jantung. Mekanisme kerjanya pada tubulus distal, efek kerjanya lebih ringan dari diuretika lingkungan tetapi lebih lama yaitu 6-12 jam dan banyak digunakan pada hipertensi ringan dan di ekskresi melalui urine contoh obat : dytenzide.

Efek samping : Hipokaliema yaitu kekurangan kalium dalam darah Hiponatriema yaitu kekurangan kadar Na akibat diuresis yang terlalu pesat Gangguan lambung-usus Rasa letih

dan kuat oleh diuretika lingkungan.

VI. Saluran pernapasan Obat asma Obat batuk Asma Asma merupakan penyakit yang sering ditemukan pada semua usia, asma adalah suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan peradangan dan penyempitan yang bersifat sementara. Ini terjadi karena saluran nafas tersebut sangat sensitive terhadap factor khusus yang menyebabkan jalan udara menyempit hingga aliran udaraberkurang dan menyebabkan sesak nafas. Obat simpatomimetika merupakan obat yang memiliki aksi serupa dengan aktivitas saraf simpatis. System saraf simpatis memegang peranan penting dalam menentukan ukuran diameter bronkus. Obat simpatomimetika seperti salbutamol merupakan obat 2 yang paling aman dan efektif untuk asma karena berbentuk aerosol yang dapat dihirup langsung, kendalanya adalah penggunaan spray ini adalah harganya yang mahal Efek samping : Sakit kepala Sedikit rasasakit pada tempat injeksi.