Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan

hidayah-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini sebagai tugas mata kuliah Farmakologi. Kami telah menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Namun tentunya sebagai manusia biasa tidak luput dari kesalahan dan kekurangan. Harapan kami, semoga bisa menjadi koreksi di masa mendatang agar lebih baik lagi dari sebelumnya. Tak lupa ucapan terimakasih kami sampaikan kepada Dosen Pembimbing atas bimbingan, dorongan dan ilmu yang telah diberikan kepada kami. Sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya dan insyaAllah sesuai yang kami harapkan. Dan kami ucapkan terimakasih pula kepada rekan-rekan dan semua pihak yang terkait dalam penyusunan makalah ini. Pada dasarnya makalah yang kami sajikan ini khusus mengupas tentang

Parasimpatomimetik. Untuk lebih jelas simak pembahasannya dalam makalah ini. Mudah-mudahan makalah ini bisa memberikan sumbang pemikiran sekaligus pengetahuan bagi kita semuanya. Amin. Padang, September 2011

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Parasimpatomimetik merupakan salah satu golongan obat otonom yang dibagi

berdasarkan efek utamanya. Obat otonom bekerja pada berbagai bagian susunan saraf otonom, mulai dari sel saraf sampai sel efektor. Banyak obat dapat mempengaruhi organ otonom, tetapi obat otonom mempengaruhinya secara spesifik dan bekerja pada dosis kecil. Efek obat golongan Parasimpatomimetik menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf

parasimpatis. Efek parasimpatomimetik faal yang terpenting seperti: stimulasi pencernaan dengan jalan memperkuat peristaltik dan sekresi kelenjar ludah dan getah lambung (HCl), juga sekresi air mata, dan lain-lain, memperkuat sirkulasi, antara lain dengan mengurangi kegiatan jantung, vasodilatasi, dan penurunan tekanan darah, memperlambat pernafasan, antara lain dengan menciutkan bronchi, sedangkan sekresi dahak diperbesar, kontraksi otot mata dengan efek penyempitan pupil (miosis) dan menurunnya tekanan intraokuler akibat lancarnya pengeluaran air mata, kontraksi kantung kemih dan ureter dengan efek memperlancar pengeluaran urin, dilatasi pembuluh dan kotraksi otot kerangka, menekan SSP setelah pada permulaan menstimulasinya

1.2

Rumusan Masalah Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah: 1. Pengenalan dasar tentang parasimpatomimetik 2. Mekanisme kerja obat parasimpatomimetik 3. Penggolongan obat parasimpatomimetik 4. Indikasi, kontra indikasi dan efek samping obat

1.3

Tujuan Mengerti lebih dalam tentang obat parasimpatomimetik.

BAB II Tinjauan Pustaka Parasimpatomimetika adalah sekelompok zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi Susunan Parasimpatis (SP), karena melepaskan neurohormon asetilkolin (ACh) diujung-ujung neuronnya. Tugas utama SP adalah mengumpulkan energi dari makanan dan menghambat penggunaannya, singkatnya berfungsi asimilasi. Bila neuron SP dirangsang, timbullah sejumlah efek yang menyerupai keadaan istirahat dan tidur. Efek parasimpatomimetik faal yang terpenting seperti: stimulasi pencernaan dengan jalan memperkuat peristaltik dan sekresi kelenjar ludah dan getah lambung (HCl), juga sekresi air mata, dan lain-lain, memperkuat sirkulasi, antara lain dengan mengurangi kegiatan jantung, vasodilatasi, dan penurunan tekanan darah, memperlambat pernafasan, antara lain dengan menciutkan bronchi, sedangkan sekresi dahak diperbesar, kontraksi otot mata dengan efek penyempitan pupil (miosis) dan menurunnya tekanan intraokuler akibat lancarnya pengeluaran air mata, kontraksi kantung kemih dan ureter dengan efek memperlancar pengeluaran urin, dilatasi pembuluh dan kotraksi otot kerangka, menekan SSP setelah pada permulaan menstimulasinya (Tan Hoan Tjay & Rahardja, 2002). Reseptor parasimpatomimetik terdapat dalam semua ganglia, sinaps, dan neuron postganglioner dari SP, juga pelat-pelat ujung motoris dan di bagian Susunan Saraf Pusat yang disebut sistem ekstrapiramidal. (Tan Hoan Tjay & Rahardja, 2002). Obat parasimpatomimetik dibagi dalam tiga golongan ester kolin, antikolinesterase, dan alkaloid tumbuhan. Penggunaan utama obat parasimpatomimetik adalah pada penyakit mata ( glaucoma, esotropia akomodatif ), system gastrointestinal dan urogenital (atonia pascaoperasi, kandung kemih neurogenik), hubungan neuromuskuler ( miastenia gravis, paralis neuromuskuler yang disebabkan oleh curare ), dan jantung (aritmia atrial ertentu ). Penghambat cholinesterase terkadang dipakai dalam pemakaian atropine asidosis.

BAB III Pembahasan Parasimpatomimetik merupakan salah satu golongan obat otonom yang dibagi berdasarkan efek utamanya. Obat otonom bekerja pada berbagai bagian susunan saraf otonom, mulai dari sel saraf sampai sel efektor. Banyak obat dapat mempengaruhi organ otonom, tetapi obat otonom mempengaruhinya secara spesifik dan bekerja pada dosis kecil. Efek obat golongan Parasimpatomimetik parasimpatis. Pada beberapa studi awal system parasimpatis, Sir Henry Dale menemukan bahwa alkaloida muscarine mempunyai efek yang mirip dengan efek yang dikeluarkan oleh saraf parasimpatis, efeknya adalah parasimpatomimetik. Pemberian langsung muscarine ke ganglion dan ke jaringan efektor otonom ( otot polos, jantung, kelenjar eksokrin) menunjukkan bahwa kerja alkaloida parasimpatis dimediasi oleh reseptor di sel efektor,bukan reseptor yang ada di ganglion. Oleh karena itu, efek acetylcholine dan obat-obat parasimpatomimetik lainnya pada hubungan (junction) neuroefektor otonom disebut sebagai efek parasimpatomimetik, yang dimediasi oleh reseptor muskarinik. Sebaliknya, alkaloida nicotine menstimulasi ganglion otonom dan hubungan menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf

neuromuskuler, bukan sel efektor otonom, bila diberikan dalam konsentrasi rendah. Oleh karena itu, reseptor pada ganglion dan otot skeletal/bergaris dinamakan nikotinik. Ketika acetylcholine diidentifikasi sebagai transmier reseptor fisiologis baik pada muskarinik dan nikotinik. Maka dikatakan bahwa kedua reseptor merupakan subtype dari kolinoreseptor.

3.1 Mekanisme Kerja Obat-obat Parasimpatomimetik Obat parasimpatomimetik biasa bekerja secara langsung maupun tidak langsung terikat dan mengaktivasi reseptor muskarinik atau nikotinik. Obat yang bekerja secara tidak langsung kerjanya dengan menghambat kerja acetylcholinesterase, yang menghidrolisis acetylcholine menjadi choline dan acetic acid. Obat-obat ini efeknya sebagai penguat dari acetylcholine endogen dan bereaksi terutama ketika acetylcholine dikeluarkan secara fisiologis. Beberapa penghambat cholinesterase, bahkan dalam konsentrasi rendah, juga menghambat butyrylcholinesterase (pseudocholinesterase), dan penghambatan enzym ini terutama pada konsentrasi tinggi. Bagaimanapun, penghambatan kerja butyrylcholinesterase
4

mempunyai peran kecil pada obat-obat parasimpatomimetik yang bekerja secara tidak langsung karena enzim ini tidak punya peran penting pada kerja acetylcholine secara fisiologis di akhir sinaps. Beberapa penghambat cholinesterase juga mempunyai cara kerja langsung yang sederhana, misalnya pada kuaterner carbamate seperti neostigmine, yang mengaktifkan secara langsung kolinoreseptor nikotinik pada neuromuskuler sebagai tambahan dari penghambat cholinesterase. 3.2 Reseptor Parasimpatomimetik 3.2.1 Reseptor Muskarinik
Reseptor ini, selain ikatannya dengan asetilkolin, mengikat pula muskarin, yaitu suatu alkaloid yang dikandung oleh jamur beracun tertentu. Sebaliknya, reseptor muskarinik ini menunjukkan afinitas lemah terhadap nikotin. Dengan menggunakan study ikatan dan panghambat tertentu, maka telah ditemukan beberapa subklas reseptor muskarinik seperti M1, M2, M3, M4, M5. Reseptor muskarinik dijumpai dalam ganglia sistem saraf tepi dan organ efektor otonom, seperti jantung, otot polos, otak dan kelenjar eksokrin. Secara khusus walaupun kelima subtipe reseptor muskarinik terdapat dalam neuron, namun reseptor M1 ditemukan pula dalam sel parietal lambung, dan reseptor M2 terdapat dalam otot polos dan jantung, dan reseptor M3 dalam kelenjar eksokrin dan otot polos. Obat-obat yang bekerja muskarinik lebih peka dalam memacu reseptor muskarinik dalam jaringan tadi, tetapi dalam kadar tinggi mungkin memacu reseptor nikotinik pula (Mary J. Mycek, dkk, 2001). Sejumlah mekanisme molekular yang berbeda terjadi dengan menimbulkan sinyal yang disebabkan setelah asetilkolin mengikat reseptor muskarinik. Sebagai contoh, bila reseptor M1 atau M2 diaktifkan, maka reseptor ini akan mengalami perubahan konformasi dan berinteraksi dengan protein G, yang selanjutnya akan mengaktifkan fosfolipase C. Akibatnya akan terjadi hidrolisis fosfatidilinositol(4,5)-bifosfat (PIP2) menjadi diasilgliserol (DAG) dan inositol (1,4,5)-trifosfat (IP3) yang akan meningkatkan kadar Ca++ intrasel. Kation ini selanjutnya akan berinteraksi untuk memacu atau menghambat enzim-enzim atau menyebabkan hiperpolarisasi, sekresi atau kontraksi. Sebaliknya, aktivasi subtipe M2 pada otot jantung memacu protein G yang menghambat adenililsiklase dan mempertinggi konduktan K+, sehingga denyut dan kontraksi otot jantung akan menurun (Mary J. Mycek, dkk, 2001). 3.2.2 Reseptor Nikotinik Reseptor ini selain mengikat asetilkolin, dapat pula mengenal nikotin, tetapi afinitas lemah terhadap muskarin. Tahap awal nikotin memang memacu reseptor nikotinik, namun setelah itu akan menyekat reseptor itu sendiri. Reseptor nikotinik ini terdapat di dalam sistem saraf pusat, medula 5

adrenalis, ganglia otonom, dan sambungan neuromuskular. Obat-obat yang bekerja nikotinik akan memacu reseptor nikotinik yang terdapat di jaringan tadi. Reseptor nikotinik pada ganglia otonom berbeda dengan reseptor yang terdapat pada sambungan neuromuskulular. Sebagai contoh, reseptor ganglionik secara selektif dihambat oleh heksametonium, sedangkan reseptor pada sambungan neuromuskular secara spesifik dihambat oleh turbokurarin (Mary J. Mycek, dkk, 2001). Stimulasi reseptor ini oleh kolenergika menimbulkan efek yang menyerupai efek adrenergika, jadi bersifat berlawanan sama sekali. Misalnya vasokonstriksi dengan naiknya tensi ringan, penguatan kegiatan jantung, juga stimulasi SSP ringan. Pada dosis rendah, timbul kontraksi otot lurik, sedangkan pada dosis tinggi terjadi depolarisasi dan blokade neuromuskuler (Tan Hoan Tjay & Rahardja, 2002).

3.3 Pembagian Obat Parasimpatomimetik 3.3.1 Ester kolin Dalam golongan ini termasuk asetilkolin, metakolin, karbokol, betanekol. Asetilkolin (Ach) adalah prototip dari oabat golongan ester kolin. Asetilkolin hanya bermanfaat dalam penelitian tidak berguna secara klinis karena efeknya menyebar ke berbagai organ sehingga titik tangapnya terlalu luas dan terlalu singkat. Selain itu Ach tidak dapat diberikan per oral, karena dihidrolisis oleh asam lambung. 3.3.1.1 Indikasi a. Asetilkolin Untuk membuat terjadinya penyempitan pupil lengkap dalam hitungan detik, dengan membasahi iris setelah pengiriman lensa dalam operasi katarak. b. Karbakol Membantu proses penmyempitan pupil pada saat operasi dan penyakit glaucoma. c. Betanekol Atonia kandung kemih atau saluran perncernaan.

3.3.1.2 Kontra Indikasi a. Asetilkolin Kontraindikasi iritis akut, efek secara sistemik tidak mungkin terjadi pada penggunaan topical namun efeknya dapat terlihat jelas oleh anticholinesterase. b. Karbakol Lecet pada kornea
6

c. Betanekol Kontraindikasi pada pasien bradikardia, arteri koroner dan hipertiroidisme, obstruksi saluran kemih atau saluran pencernaan

3.3.1.3 Efek Samping Dosis berlebihan dari ester kolin sangat berbahaya karena dapat menyebabkan keracunan yang pada umumnya berupa efek muskarinik dan nikotinik yang berlebihan. Pemberian ester kolin yang lazim adalah secara oral. Kombinasi dengan prostigmin atau obat kolinergik lain juga tidak boleh digunakan karena terjadinya potensiasi yang dapat membawa akibat buruk. Ester kolin dapat mendatangkan serangan iskemia jantung pada penderita angina pectoris karena tekanan darah yang menurun mengurangi sirkulasi korona. Penderita hipertiroidisme dapat mengalami fibrilasi atrium, terutama pada pemberian metakolin, tindakan pengamanan perlu diambil yaitu dengan menyediakan atropine dan epinefrin sebagai antidotum.

3.3.2 Antikolinesterase Antikolinesterase terdiri dari eserin (fisostigmin), prostigmin (neostigmin), disospropilfluorofosfat (DFP), dan insektisida golongan organofosfat. Antikolinesterase menghambat kerja kolinesterase (dengan mengikat kolinesterase) dan mengakibatkan perangsangan saraf kolinergik terus menerus karena Ach tidak dihidrolisis. Dalam golongan ini kita kenal dua kelompok obat yaitu yang menghambat secara reversible misalnya fisostigmin, prostigmin, piridostigmin dan edrofonium. Dan menghambat secara ireversibel misalnya gas perang, tabung, sarin, soman, insektisida organofosfat, parathion, malation, diazinon, tetraetil-pirofosfat (TEPP),

heksaetiltetrafosfat (HETP) dan oktametilpiro-fosfortetramid (OMPA). 3.3.2.1 indikasi a. Fisostigmin Glaukoma, pembalikan dari keracunan antikolinergik atau antidepresan b. Piridostigmin bromida Pengobatan myasthenia gravis. c. Edrofonium klorida
7

Diagnosis myasthenia gravis

d. Neostigmin Kontrol simptomatik dari myasthenia gravis. 3.2.2.2 Kontra Indikasi a. Fisostigmin Obstruksi saluran usus atau saluran kemih. b. Piridostigmin bromida Peradangan pada mata dan hipersentivitas c. Edrofonium klorida Hipersensitivitas dan obstruksi saluran usus dan saluran kemih. d. Neostigmin Asma dan obstruksi saluran usus dan saluran kemih.

3.3.2.3 Efek Samping Pada otot polos bronkus obat ini menyebabkan konstriksi, sehingga dapat terjadi suatu keadaan yang menyerupai asma bronchial sedangkan pada ureter meningkatkan peristalsis. Pembuluh koroner dan paru-paru menyempit. Efek langsung terhadap jantung ialahpenimbunan asetilkolin endogen dengan akibat bradikardi dan efek inotropik negative sehingga menyebabkan berkurangnya curah jantung.

3.3.3 Alkaloid tumbuhan Alkaloid tumbuhan adalah muskarin yang berasal dari jamur Amanita muscaria,

pilokarpin yang berasal dari tanaman Pilocarpus jaborandi dan Pilokarpus microphyllus dan arekolin yang berasal dari Areca catehu (pinang). Ketiga obat ini bekerja pada efek muskarinik, kecuali pilokarpin yang juga memperlihatkan efek nikotinik. Pilokorpin terutama menyebabkan rangsangan terhadap kelenjar keringat yang terjadi karena perangangan langsung (efek muskarinik) dan sebagian karena perangsangan ganglion (efek nikotinik), kelenjar air mata dan kelenjar ludah. Produksi keringat dapat mencapai 3 liter. Pada penyuntikanj IV biasanya terjadi kenaikan tekanan darah akibat efek ganglionik dan sekresi katekolamin dari medulla adrenal. .
8

3.3.3.1 Indikasi Pilokarpin HCL atau pilokarpin nitrat digunakan sebagai obat tetes mata untuk menimbulkan miosis dengan larutan 0,5-3 %. Obat ini juga digunakan sebagai diaforetik dan untuk menimbulkan saliva diberikan per oral dengan dosis 7,5 mg. Arekolin hanya digunakan dalam bidang kedokteran hewan untuk penyakit cacing gelang. Musakrin hanya berguna untuk penelitian dalam laboratorium dan tidak digunakan dalam terapi. Aseklidin adalah suatu senyawa sintetik yang strukturnya mirip arekolin. Dalam kadar 0,5-4% sama efektifnya dengan pilokarpin dalam menurunkan tekanan intraokular. Obat ini digunakan pada penderita glaukoma yang tidak tahan pilokarpin. 3.3.3.2 Kontra Indikasi Hipersensitif terhadap pilokarpin atau komponen lain dalam sediaan; inflamasi akut pada ruang anterior mata, kondisi konstriksi pupil seperti iritis akut, anterior evetis dan glaukoma sekunder tertutup. 3.3.3.3 Efek Samping Efek samping yang dapat ditimbulkan oleh pilokarpin yaitu sakit kepala pada pengobatan 2-4 minggu, pada mata : rasa terbakar, pucat, penglihatan buram, kongesti vaskuler , perubahan lensa, pendarahan, dan hambatan pada pupil.

BAB IV KESIMPULAN Parasimpatomimetika adalah sekelompok zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi Susunan Parasimpatis (SP), karena melepaskan neurohormon asetilkolin (ACh) diujung-ujung neuronnya. Reseptor parasimpatomimetik terdapat dalam semua ganglia, sinaps, dan neuron postganglioner dari SP, juga pelat-pelat ujung motoris dan di bagian Susunan Saraf Pusat yang disebut sistem ekstrapiramidal. Obat parasimpatomimetik biasa bekerja secara langsung maupun tidak langsung terikat dan mengaktivasi reseptor muskarinik atau nikotinik. Obat Parasimpatomimetik dibagi atas tiga golongan yaitu ester kolin, antikolinesterase, dan alkaloid tumbuhan.

10

DAFTAR PUSTAKA Katzung, Bertram G.2001.Farmakologi. Dasar dan Klinik.Jakarta: Salemba Medika. Katzung, Bertram G.2002.Farmakologi Dasar dan Klinik.Jakarta:EGC. Pagliaro.1986.Pharmacologic Aspect of Nursing.Princeton:Mosby Company. Scherer, Jeanne C.1985.Drug Manual.Philadepia:J.B Lippincott Company. Syarif, Amir dkk.1995. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: FK UI.

11