Anda di halaman 1dari 11

SOAL

1. Jelaskan alat dan prinsip kerja pengambilan sampel air laut dan gambarnya! 2. Jelaskan
alat dan prinsip kerja yang digunakan untuk melakukan pengukuran densitas, suhu, dan salinitas!

3. Jelaskan alat dan prinsip kerja parameter dan gelombang laut beserta gambarnya! 4. Jelaskan alat dan prinsip kerja pengukuran data pasang surut dan gambar! 5. Jelaskan alat dan prinsip kerja pengukuran data arus laut dan gambar!
JAWAB 1. Alat pengambilan sampel air laut adalah Botol Nansen / Van Dorn

Botol Nansen adalah alat untuk mendapatkan sampel air laut pada kedalaman tertentu. Botol, lebih tepatnya disebut silinder logam atau plastik, diturunkan dengan tali ke dalam laut dan ketika telah mencapai kedalaman yang diperlukan, berat kuningan atau disebut pemberat (messenger) terjatuh ke tali pemberat (messenger) mencapai botol, maka botol akan tertutup oleh sebuah pegas katup di bawah dan diatas botol lalu menjebak sampel air di dalamnya. Botol dan sampel kemudian diambil oleh surveyor menggunakan kabel atau tali. sampel air yang ada didalam botol ini lah yang akan digunakan nantinya untuk diteliti lebih lanjut. Messenger dapat diatur ketika akan dijatuhkan, dan diturunkan ke bawah kabel / tali sampai mencapai botol Nansen. Dengan memperbaiki kedalaman dan messenger yang akan dijatuhkan ke botol menggunakan kabel/tali, serangkaian sampel air pada kedalaman tertentu dapat diambil.

Untuk mengukur suhu air laut di kedalaman air sampling dicatat melalui suatu termometer reversing tetap ke botol Nansen. Ini adalah air raksa termometer dengan penyempitan dalam tabung kapiler yang ketika termometer tersebut terbalik, menyebabkan benang terperangkap air raksa dan dapat menunjukkan berapa derajat suhunya. Termometer non-dilindungi dipasangkan dengan yang dilindungi, dan perbandingan kedua pembaca suhu secara baik dapat memungkinkan dan tekanan pada titik sampling dapat ditentukan. Sampling menggunakan Van Dorn/ Nansen Bottle Sampler (Omori dan Ikeda,1992 )

Tabung Van Dorn atau Nansen Bottle Sampler terbuka diturunkan pada kedalaman tertentu. Tabung Van Dorn atau Nansen Bottle Sampler akan ditutup dengan meluncurkan ring atau besi pemberat sehingga bagian atas dan bawah akan tertutup. http://randykundiarto.wordpress.com/2010/05/10/botol-nansen-nansen-bottle-sampler/ 2. a. Alat yang digunakan untuk pengukuran densitas adalah Density Meter Density Meter dari Kittiwake mengukur density (berat jenis) dari bbm diesel dan residu. Fitur Density Meter: Memonitor perubahan nilai kekentalan pelumas sebagai langkah pencegahan gangguan dan kerusakan mesin/peralatan industri. Memastikan spesifikasi bbm sesuai saat bunker di terima dan jastifikasi dalam proses pencampuran bbm. Memberikan kepastian nilai kekentalan bbm sebelum proses penyimpanan, transmisi dengan pompa, filtrasi dan purifikasi. Prediksi kualitas proses pembakaran bbm (CCAI - Calculated Carbon Aromaticity Index). Memastiakn berat jenis (density) bunker dari 50C ke kg/m @ 15C in vacuo. Buku panduan dan referensi teknis 190 halaman, lengkap dengan interpretasi hasil pengukuran. http://www.ebahagia.com/density_meter.html Cara kerja : nuclear density meter (lihat Gambar 1) adalah dengan menggunakan suatu sumber isotop radioaktif (Cesium 137) yang ditempatkan di permukaan tanah

(backscatter) atau ditempatkan di dalam tanah (direct transmission). Dari sumber isotop tersebut mengeluarkan sumber energi (biasanya sinar gamma) yang menyebar dan kembali pada alat pendeteksi yang terdapat pada alas alat tersebut. Tanah yang lebih padat menyerap lebih banyak radiasi daripada tanah yang kurang padat dan pembacaan menunjukkan kepadatan tanah secara keseluruhan. Hasil yang didapat dari pengujian nuklir meter ini berupa kadar air, berat volume tanah basah, dan angka pori. Hasil ini digunakan sebagai acuan quality control dalam pengujian. 2.b. Alat Pengukur Suhu XBTs adalah sebuah probe kecil yang turun dari kapal, alat pengukur suhu air laut dengan cara dijatuhkan ke dalam air. Gambar

Prinsip kerja : Dua kabel sangat kecil membuka gulungan sedangkan probe yang jatuh, dan mengirimkan data suhu ke kapal di mana itu direkam untuk analisis nanti. Probe ini dirancang untuk jatuh di angka diketahui, sehingga kedalaman probe dapat disimpulkan dari waktu sejak diluncurkan. Probe tidak sembuh

2.c. Alat untuk mengukur salinitas adalah Refraktometer.

Gambar 1. Refraktometer Salinitas air dapat dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat yang disebut dengan Refraktometer atau salinometer ( Alat Pengukur Salinitas Air ). Satuan untuk pengukuran salinitas air adalah satuan gram per kilogram (ppt) atau promil (o/oo). Nilai salinitas air untuk perairan tawar biasanya berkisar antara 05 ppt (Salinitas air Tawar ), perairan payau biasanya berkisar antara 629 ppt ( Salinitas air Payau ) dan perairan laut berkisar antara 3035 ppt. ( Salinitas air Laut ) http://www.sentra-edukasi.com/2011/06/salinitas-air-tawar-laut-payau.html Prinsip kerja dari refraktometer yaitu jika sampel merupakan larutan dengan konsentrasi rendah, maka sudut refraksi akan lebar dikarenakan perbedaan refraksi dari prisma dan sampel besar. Maka pada papan skala sinar a akan jatuh pada skala rendah. http://ntansist.blogspot.com/2011/01/refraktometer.html 3. Alat pengukuran gelombang laut adalah Wave Pole Pengukuran gelombang dilakukan dengan menggunakan Wave Pole, yaitu papan kayu dengan panjang 4 meter, lebar 15 cm dan tebal 3 cm yang berskala tiap 20 cm. Pengukuran tinggi gelombang dilakukan dengan mengamati puncak dan lembah, perhitungan periode gelombang dilakukan dengan menghitung waktu gerakan gelombang melewati titik tertentu.

Peralatan lain yang digunakan : 1. 2. 3. Alat pertukangan (palu, kayu) Bambu seperlunya Kerung Beras Plastik

4.

Kompas dan Stopwatch

4. Tide Gauge

Pasang surut adalah perubahan atau perbedaan permukaan air laut sepanjang waktu yang diakibatkan karena gaya gravitasi (gaya tarik) bulan dan matahari serta karena gerakan revolusi bumi.

Pengertian Tide Gauge Tide gauge adalah perangkat untuk mengukur perubahan muka laut. Perubahan muka laut bisa disebabkan oleh pasang naik dan surut muka laut harian (gaya tarik bulan dan matahari), angin dan tsunami. Informasi yang dibutuhkan untuk peringatan dini adalah pasang surut seketika sebelum terjadinya tsunami untuk peringatan dini di lokasi tersebut, kemudian pasang naik akibat tsunami adalah informasi peringatan dini untuk lokasi yang lebih jauh. Accelerograph dan tide gauge dipasang pada tempat yang sama dalam sebuah shelter di pantai yang dilengkapi dengan sistem komunikasi dan sistem alarm. Peringatan pertama untuk kewaspadaan datang dari accelerograph apabila mencatat getaran kuat. Peringatan kedua datang dari tide gauge setelah mencatat perubahan mendadak muka laut. Dua peringatan tersebut disampaikan kepada: i. Masyarakat setempat berupa alarm ii. Aparat setempat yang bertugas untuk koordinasi evakuasi iii. BMG pusat untuk sistem monitoring dan informasi darurat agar disebarkan ke lokasi lain.

Gambar

1. Skema

Sistem

Alat

Pengamatan

Tide

Gauge

Metode Tide Pole (Palem Pasut)

Metode yang digunakan untuk mengukur pasang surut yaitu dengan Tide Pole yang merupakan alat pengukur pasut yang paling sederhana yang berupa papan dengan tebal 1 2 inci dan lebar 4 5 inci. Sedangkan panjangnya harus lebih dari tunggang pasut. Dimana pemasangan tide pole ini haruslah pada kondisi muka air terendah (lowest water) skala nolnya masih terendam air, dan saat pasang tertinggi skala terbesar haruslah masih terlihat dari muka air tertinggi (highest

water). Dengan demikian maka tinggi rendahnya muka air laut dapat kita ketahui dengan melihat menggunakan teropong atau melakukan pengamatan secara langsung mendekati pelem pasuttersebut, kita dapat mengetahui pola pasang surut pada suatu daerah pada waktu tertentu. Lokasi pemasangan palem pasut harus berada pada lokasi yang aman dan mudah terlihat dengan jelas, tidak bergerak-gerak akibat gelombang atau arus laut. Tempat tersebut tidak pernah kering pada saat kedudukan air yang paling surut. Oleh karena itu panjang rambu pasut yang dipakai sangat tergantung sekali pada kondisi pasut air laut di tempat tersebut. Pada prinsipnya bentuk rambu pasut hampir sama dengan rambu dipakai pada pengukuran sifat datar (leveling). Perbedaannya hanya dalam mutu rambu yang dipakai. Mengingat bagian bawah palem pasut harus dipasang terendam air laut, maka palem dituntut pula harus terbuat dari bahan yang tahan air laut. Biasanya titik nol skala rambu diletakkan sama dengan muka surutan setempat, sehingga setiap saat tinggi permukaan air laut terhadap muka surutan tersebut atau kedalaman laut dapat diketahui berdasarkan pembacaan pada rambu. Palem pasut hampir selalu digunakan pada pelabuhan-pelabuhan laut. Dengan demikian hal ini sangat membantu bagi keamanan kapal yang akan berlabuh atau meninggalkan pelabuhan. Alat yang diperlukan : 1. 2. 3. 4. Alat pertukangan (palu, kayu) Bambu seperlunya Kerung Beras Plastik Palem pasut yaitu papan kayu dengan panjang 4 meter, lebar 15 cm dan tebal 3 cm

yang berskala tiap 20 cm

1. 2.

Papan kayu 15 cm dan panjang 3 meter Tali nylon

Pencatatan data Pasut 1. palm. 2. Pencatatan data pasut dilakukan dengan membaca ketinggian permukaan air yang Pengamatan tinggi air dilaksanakan setiap 30 menit sekali dengan menggunakan

ditunjukkan oleh skala palem. 3. Dilakukan pada malam hari, hendaknya diterangi dengan menggunakan senter.

5. Alat untuk mengukur arus laut adalah Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP)

Prinsip kerja ADCP berdasarkan perkiraan kecepatan baik secara horizontal maupun vertikal menggunakan efek Doppler untuk menghitung kecepatan radial relatif, antara instrumen (alat) dan hamburan di laut. Tiga beam akustik yang berbeda arah adalah syarat minimal untuk menghitung tiga komponen kecepatan. Beam ke empat menambah pemborosan energi dan perhitungan yang error. ADCP mentransmisikan ping, dari tiap elemen transducer secara kasar sekali tiap detik. Echo yang tiba kembali ke instrumen tersebut melebihi dari periode tambahan, dengan echo dari perairan dangkal tiba lebih dulu daripada echo yang berasal dari kisaran yang lebih lebar. Profil dasar laut dihasilkan dari kisaran yang didapat. Pada akhirnya, kecepatan relatif, dan parameter lainnya dikumpulkan diatas kapal menggunakan Data Acquisition System (DAS) yang juga secara optional merekam informasi navigasi, yang diproduksi oleh GPS.

gambar 1. ADCP

Prinsip Kerja:

Perhitungan navigasi, menggunakan kalibrasi yang dilakukan sekali secara lengkap.Arus absolut yang melampaui kedalaman atau kedalaman referensi didapatkan dari rata-rata kecepatan relatif kapal. Arus absolut pada setiap kedalaman dapat dibedakan dari data terakhir dari kapal navigasi dan perhitungan relatif ADCP Prinsip Perhitungan Gelombang Oleh ADCP.

Gambar 2. Prinsip kerja ADCP

Prinsip dasar perhitungan dari perhitungan arus/gelombang yaitu kecepatan orbit gelombang yang berada dibawah permukaan dapt diukur dari keakuratan ADCP. ADCP mempunyai dasar yang menjulang,dan mempunyai sensor tekanan untuk mengukur pasang surut dan rata-rata kedalaman laut. Time series dari kecepatan, terakumulasi dan dari time series ini, kecepatan spektral dapat dihitung. Untuk mendapatkan ketinggian diatas permukaan, kecepatan spektrum dierjemahkan oleh pergeseran permukaan menggunakan kinematika linear gelombang. ADCP dapat menghitung secara lengkap, arah frekuensi gelombang spektrum, dan dapat dioperasikan di daerah dangkal dan perairan dalam. Salah satu keuntungan ADCP adalah, tidak seperti directional wave buoy, ADCP dapat dioperasikan dengan resiko yang kecil atau kerusakan. Sebagai tambahan untuk frekuensi gelombang spektal, ADCP juga dapat digunakan untuk menghitung profil kecepatan dan juga level air. http://seandy-laut-biru.blogspot.com/2010/01/acoustic-doppler-current-profiler-adcp.html

Float Tracking (Metode Lagrangian)

Untuk mengukur arus laut menggunakan Float Tracking dengan prinsip kerja berdasarkan pada gerak naik turunnya permukaan laut yang dapat diketahui melalui pelampung. Alat ini harus dipasang pada tempat yang tidak begitu besar dipengaruhi oleh gerakan air laut sehingga pelampung dapat bergerak secara vertikal dengan bebas. Setelah itu, diamati pergerakan

pelampung selama 5 menit. Kemudian catat koordinat daerah kemana pelampung bergerak dengan GPS (Global Position System). Alat yang diperlukan : a. Float Tracking : untuk mengukur arus

a.

GPS (Global Position System) : untuk mengetahui titik koordinat

a. b. c.

Kompas : untuk mengetahui arah pergerakan arus Topdal (dari pelampung bola) Stopwatch : untuk menghitung gelombang laut

Dengan cara kerja sebagai berikut: a. b. c. Persiapkan alat Float Tracking Lepaskan alat Float Tracking ke laut dengan jarak 15 meter dari pinggir pantai. Catat posisi waktu pelepasan dengan GPS. Biarkan Float Tracking hanyut mengikuti arus.

Setelah rentang waktu 5 menit catat kembali posisi float tracking dengan GPS. d. Catat semua kondisi local seperti cuaca (hujan, cerah) dan kondisi banjir, normal atau musim

kemarau, laut dalam kondisi pasang atau surut. e. Bilamana terjadi floating tracking berhenti karena pembeban mengenai dasar laut. Maka

float tracking dapat dipindahkan kembali ke posisi pencatatan terakhir. Kemudian float tracking dilepas kembali. f. Demikian seterusnya hingga float tracking berhenti.

Alat dan Metode Pengukuran Arus Gerakan massa air di laut dapat diketahui dengan tiga cara, yakni melakukan pengukuran langsung di laut, melalui pengamatantopografi muka laut dengan satelit, dan model hidrodinamik .

Pengukuran arus secara insitu Pengukuran arus secara insitu dapat dilakukan dengan dua metode, yakni metode Lagrangian dan Euler. Metode Lagrangian adalah suatu cara mengukur aliran massa air dengan melepas benda apung atau drifter ke laut, kemudian mengikuti gerakan aliran massa air laut. Gambar 1. menunjukkan salah satu alat ukur atau drifter yang ditaruh di laut, pada bagian atas dilengkapi seperangkat elektronik yang mampu mentranfer data posisi ke stasiun kontrol di darat melalui satelit. Sehingga secara terus menerus posisinya dapat diplotkan dan akhirnya lintasan arus dapat diketahui.

Gambar 1. Salah satu contoh alat ukur arus dengan menggunakan metode Euler, panel sebelah kiri merupakan salah satu contoh lintasan arus yang bergerak dari Samudera Pasifik bergerak memasuki perairan Indonesia. Cara lain mengukur arus insitu adalah dengan metode Euler. Pengukuran arus yang dilakukan pada satu titik tetap pada kurun waktu tertentu. Cara ini biasanya menggunakan alat yang disebut dengan Current Meter. Salah satu alat ukur arus dengan metode Euler ditampilkan pada Gamb 2. Pada alat tersebut dilengkapi dengan sensor suhu, conductivitas untuk mengukur salinitas, rotor untuk kecepatan dan kompas magnetik untuk menentukan arah.

Gambar 2. Current Meter Aandera Type RCM-7