Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN

Struktur dan Komposisi Vegetasi Semak dan Anakan Pohon

Disusun Oleh:

Nama NIM Kelas Kelompok

: A. Maryam Mogana : 091404023 : A : II

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2011

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas ke Hadirat Allah SWT yang telah memberikan pengetahuan dan kesehatan serta kesempatan yang telah dicurahkan kepada kami sehingga laporan ekologi tumbuhan ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu. Laporan ini disusun berdasarkan hasil dari penelitian kami terhadap struktur komposisi vegetasi semak. Dimana kami melakukan penelitian di tiga tempat yang berbeda yaitu tempat terang, ternaung dan tempat setengah ternaung. Dari Ketiga tempat yang berbeda ini menunjukkan tanaman yang hidup pun berbeda.Dalam laporan ini, dapat kita lihat tumbuhan-tumbuhan apasaja yang mampu hidup pada daerah terang, ternaung, maupun setengah ternaung. Penelitian dilakukan dengan pengambilan contoh komunitas yang dapat menggambarkan vegetasi komunitas secara keseluruhan. Terima kasih penulis sampaikan kepada dosen pembimbing yang member pengarahan dalam praktikum ini, serta untuk teman-teman kelompok yang bekerja sama dalam melakukan praktikum. Akhir kata, Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan maka dari itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan penulis demi kesempurnaan laporan-laporan berikutnya.

Makassar , Oktober 2011

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Setiap tempat dihuni oleh populasi yang berbeda. Kita dapat membayangkan sebuah populasi sebagai individu-individu yang terdiri dari spesies tunggal yang secara bersama-sama menempati luas wilayah yang sama, mengandalkan sumber daya yang sama, dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang sama. Pada suatu daerah tertentukita mungkin bisa menentukan ukuran dan kepadatan populasi dengan menghitung langsung seluruh individu yang ada di dalam batas suatu populasi, misalnya menghitung jumlah anakan pohon karsen, jambu dan sebagainya. Tumbuhan bisa menjadi terumpun pada tempat-tempat tertentu dimana kondisi tanah dan faktor-faktor lingkungan lain mendukung untuk perkecambahan dan pertumbuhan. Berlawanan dengan persebaran individu secara terumpun di dalam suatu populasi, suatu pola penyebaran yang seragam atau yang berjarak sama mungkin dihasilkan dari interaksi langsung antara individu dalam populasi tersebut. Sebagai contoh, suatu kecenderungan pengaturan jarak yang beraturan pada tumbuhan bisa disebabkan oleh peneduhan dan kompetisi untuk mendapatkan air dan mineral, beberapa tumbuhan juga menghasilkan zat-zat kimia yang menghambat pertumbuhan perkecambahan dan pertumbuhan Dalam praktikum ini, kita akan melihat bagaimana struktur dan komposisi tumbuhan semak dan anakan pohon pada suatu daerah tertentu, yakni pada daerah terang, setengah teduh dan daerah yang sangat teduh. Untuk mengetahui penyebaran dan luas penutupan dari individu tertentu, maka digunakan pengambilan data dengan metode transek seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Daerah sampel merupakan bidang tanah tertentu yang dibuatkan individu di dekatnya yang dapat bersaing untuk mendapatkan sumberdaya.

garis imaginer dan plot yang diambil secara acak sepanjang garis imaginer tersebut. Dari sinilah kita dapat mengetahui spesies apa saja yang dapat hidup pada tempat terang, setengah teduh, dan teduh, hanya dengan mengambil beberapa sampel vegetasi yang mewakili daerah tertentu.
B. Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa:


1. Memahami bagaimana struktur dan komposisi vegetasi individu tertentu pada

tempat dengan kondisi alam yang berbeda. 2. Mengetahui cara mengambil sampel vegetasi yang benar dengan menggunakan transek 3. Mampu menganalisis vegetasi dan menentikan nilai INP.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Banyak ahli ekologi berpendapat bahwa kompetisi atau persaingan merupakan suatu faktor utama yang membatasi keanekaragaman spesies yang dapat menempati suatu komunitas. Hipotesis ini sebagian besar didasarkan pada pengamatan perbedaan relung dan pembagian sumberdaya di antara spesies simpatrik. Para ahli ekologi tersebut berpendapar bahwa jumlah tertentu sumberdaya hanya dapat dibagi sedemikian kecilnya sebelum pengaruh dari kompetisi, yang tanpa dapat dihindarkan, mengakibatkan kepunahan pesaing yang lebih lemah, yang menentukan batas jumlah spesies yang dapat hidup bersama-sama (Campbell, 2004). Studi struktur dan klasifikasi komunitas tumbuhan (vegetasi) disebut juga fitososiologi analisis vegetasinya disebut analisis vegetasi yang dapat secara kualitatif dan kuantitatif. Karena ada hubungan yang khas antara lingkungan dan organisme, maka komunitas disuatu lingkungan bersifat spesifik. Dengan demikian pola vegetasi dipermukaan bumi menunjukan pola diskontinyu. Seringkali sustu komunitas bergabung atau tumpang tindih dengan komunitas lain. Karena tanggapan setiap spesies terhadap kondisi fisik, kimia maupun biotik disuatu habitat cenderung mengakibatkan perubahan komposisi komunitas (Anonim1 , 2011). Struktur suatu komunitas alamiah bergantung pada cara di mana tumbuhan atau hewan tersebar atau terpencar di dalamnya. Pola penyebarannya bergantung pada sifat fisikokimia lingkungan maupun keistimewaan biologis organisme itu sendiri. Keragaman itu tak terbatas dari pola penyebaran demikian yang terjadi dalam alam secara kasar dapat dikelaskan menjadi tiga kategori: (i) penyebaran teratur atau seragam, di mana individu-individu terdapat pada tempat tertentu dalam komunitas, (ii) keberadaan acak atau kebetulan, di mana individu-individu menyebar dalam beberapa tempat dan mengelompok dalam tempat lainnya, (iii) penyebaran berumpun, di mana individu-individu selalu ada dalam kelompok-kelompok dan sangat jarang terlihat sendiri secara terpisah (Michael,1994).

Daerah yang luas dapat menampung lebih besar spesies di bandingkan dengan daerah yang sempit. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa hubungan antara luas dan keragaman spesies secara kasaradalah kuantitatif. Rumus umumnya adalah jika luas daerah 10 x lebih besar dari daerah lain maka daerah itu akan mempunyai spesies yang dua kali lebih besar (Anonim2, 2011). Bentuk sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran dengan luas tertentu. Hal ini tergantung pada bentuk vegetasi. Berdasarkan metode pantauan luas minimum akan dapat di tentukan luas kuadrat yang di perlukan untuk setiap bentuk vegetasi tadi. Untuk setiap plot yang di sebarkan di lakukan perhitungan terhadap variabelvariabel kerapatan, kerimbunan dan frekuensi. Variabel kerimbunan dan kerapatan di tentukan berdasarkan luas kerapatan. Dari spesies yang di temukan dari sejumlah kuadrat yang di buat (Anonim3, 2011). Pernyataan organisme-organisme hidup dan lingkungan tidak hidupnya (abiotik) berhubungan erat tak terpisahkan dan saling pengaruh-mempengaruhi satu sama lain. Satuan yang mencakup semua organisme di dalam suatu ruang atau daerah yang saling mempengaruhi dengan lingkungan fisiknya sehingga arus energi mengarah ke struktur makanan, keanekaragaman biotik, dan daur-daur bahan yang jelas. Dari segi fungsional ekosistem dapat dianalisis dengan baik menurut segi: (i) sirkuit-sirkuit energy, (ii) rantai-rantai makanan, (iii) pola-pola keanekaragaman dalam waktu dan ruang, (iv) daur-daur makan (biogeokimia, (v) perkembangan dan evolusi, dan (vi) pengendalian (cybernetics). Baik biotik maupun abiotik mempengaruhi sifat-sifat lainnya dan kedua perlu pemeliharaan kehidupan seperti yang kita miliki di atas bumi ini (Odum, 1998). Pada wilayah-wilayah yang memiliki suhu udara tidak terlalu dingin atau panas merupakan habitat yang sangat baik atau optimal bagi sebagian besar kehidupan organisme, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Hal ini disebabkan suhu yang terlalu panas atau dingin merupakan salah satu kendala bagi makhluk hidup. Khusus dalam dunia tumbuhan, kondisi suhu udara adalah salah satu faktor pengontrol persebaran vegetasi sesuai dengan posisi lintang, ketinggian tempat, dan

kondisi topografinya. Oleh karena itu, sistem penamaan habitat ?ora seringkali sama dengan kondisi iklimnya, seperti vegetasi hutan tropis, vegetasi lintang sedang, vegetasi gurun, dan vegetasi pegunungan tinggi (Anonim4 , 2011). Vegetasi dalam (komunitas) tanaman diberi nama atau digolongkan berdasarkan spesies atau makhluk hidup yang dominan, habitat fisik atau kekhasan yang fungsional. Dalam mempelajari vegetasi, pengamat melakukan penelitian. Unit penyusun vegetasi (komunitas) adalah populasi. Oleh karena itu semua individu yang berada di tempat pengamatan dilakukan dengan cara mengamati unit penyusun vegetasi yang luas secara tepat sangat sulit dilakukan karena pertimbangan kompleksitas, luas area, waktu dan biaya. Sehingga pelaksanaanya peneliti bekerja dengan melakukan pencuplikan(sampling) dalam menganalisa vegetasi dapat berupa bidang (plot/kuadran) garis atau titik (Suprianto, 2001). Sistem kehidupan ini selalu terjadi hubungan timbal mempengaruhi antara makhluk hidup dengan balik yang saling hidupnya lingkungan/tempat

membentuk suatu ekosistem. Salah satu unsur yang paling penting adalah komunitas, yang dalam dunia tumbuhan lebih dikenal dengan istilah vegetasi (Hariyadi, 1991). Hipotesis individualistic (individualistric hypothesis), yang pertama kali diutarakan oleh H.A Gleason, menggambarkan komunitas sebagai suatu persekutuan yang terjadi secara kebetulan pada spesies-spesies yang ditemukan di daerah yang sama, yang semata-mata karena spesies-spesies itu kebetulan mempunyai kebutuhan abiotik yang sama, misalnya suhu, curah hujan, dan jenis tanah. Pandangan alternative, hipotesis interaktif (interactive hypothesis), yang didukung oleh F.E. Clements, melihat komunitas sebagai suatu kumpulan spesies yang berhubungan dekat, yang terlibat persekutuan tersebut karena interaksi biotic yang bersifat wajib, sehingga menyebabkan komunitas itu berfungsi sebagai suatu unit yang bersatu padu (Kimbal, 1990).

BAB III METODE PRAKTIKUM


A. Waktu dan Tempat Hari/Tanggal Waktu Tempat B. Alat dan Bahan 1. Alat : a. Meteran b. Kayu pasak c. Plot 2x2 m 2. Bahan : a. Vegetasi semak dan anakan pohon yang diambil secara acak mengguanakan kuadrat (plot).
b. Tali rafia 100 meter/transek (9 transek = 900 m)

: Sabtu, 24 September 2011 : Pukul 09.00 s.d. 14.30 Wita : Lapangan Fakultas Teknik UNM sebelah Barat

C. Prosedur Kerja
1. Memilih tempat di daerah terang dengan tingkat heterogenitas tumbuhan yang

cukup tinggi. 2. Membuat garis lurus dengan menggunakan tali rafia sepanjang 100 meter yang kedua ujungnya diikat pada kayu pasak yang ditancapkan ke dalam tanah
3. Menempatkan plot (kuadrat) pada garis transek tersebut dengan ukuran 2 2

meter.
4. Melakukan langkah ke-3 sebanyak 20 kali dengan jarak 1 m untuk tiap plot. 5. Mengamati spesies tumbuhan yang termasuk semak dan anakan pohon yang

tumbuh di dalam plot.

6. Menghitung luas penutupan tajuk tiap spesies dengan terlebih dahulu

mengukur diameter terpanjang I dan diameter terpanjang II. 7. Mengulangi langkah 2, 3, 4, 5 dan 6 hingga tiga transek pada tempat terang, tiga transek di tempat setengah ternaung dan tiga transek di tempat ternaung dengan jarak antar transek untuk tiap tempat adalah 3 meter. D. Teknik Analisis Data
1. Luas Daerah Penutupan :

2. Densitas Mutlak (Kerapatan Mutlak)

3. Densitas Relatif (Kerapatan Relatif)

4. Dominansi Mutlak (DM)

5. Dominansi Relatif (DR)

6. Frekuensi Mutlak (FM)

7. Frekuensi Relatif (FR)

8. Indeks Nilai Penting (INP)

INP = DR + FR + KR

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan 1. Tempat Terang a. Transek I Tabel 1. Nilai INP tegakan I
Species Sida acuta Mimosa pudica JUMLAH D 6 5 DM 0.150 0.125 0.275 DR 54.545 45.455 100.000 K 1.047 1.974 KM 0.026 0.049 0.076 KR 34.653 65.347 100.000 F 5.000 4.000 FM 0.500 0.400 0.900 FR 55.556 44.444 100.000 INP 144.754 155.246 300.000

Tabel 2. Nilai INP tegakan II


Spesies Mimosa pudica Guazuma ulmifolia JUMLAH D 5 1 DM 0.125 0.025 0.150 DR 83.333 16.667 100.000 K 1.976 0.264 KM 0.049 0.007 0.056 KR 88.209 11.791 100.000 F 5 1 FM 0.5 0.1 1 FR 83.333 16.667 100.000 INP 254.876 45.124 300.000

b.

Transek II

Tabel 3. Nilai INP tegakan I


Spesies Sida acuta Mimosa pudica Guazuma ulmifolia JUMLAH D 3 8 1 DM 0.075 0.200 0.025 0.300 DR 25.000 66.667 8.333 100.000 K 0.532 5.011 0.430 KM 0.013 0.125 0.011 0.149 KR 8.907 83.894 7.199 100.000 F 3 8 1 FM 0.3 0.8 0.1 1.2 FR 25.000 66.667 8.333 100.000 INP 58.907 217.228 23.866 300.000

Tabel 4. Nilai INP tegakan II


Spesies Mimosa pudica Guazuma ulmifolia JUMLAH D 3 3 DM 0.075 0.075 0.150 DR 50.000 50.000 100.000 K 2.381 2.592 KM 0.060 0.065 0.124 KR 47.879 52.121 100.000 F 2 3 FM 0.2 0.3 0.5 FR 40.000 60.000 100.000 INP 137.879 162.121 300.000

c.

Transek III

Tabel 5. Nilai INP tegakan I


Spesies Sida acuta Mimosa pudica Mimosa invisa JUMLAH D 8 12 3 DM 0.200 0.300 0.075 0.575 DR 34.783 52.174 13.043 100.000 K 2.045553 4.397256 0.664267 KM 0.051 0.110 0.017 0.178 KR 28.782 61.872 9.347 100.000 F 6 6 2 FM 0.6 0.6 0.2 1.4 FR 42.857 42.857 14.286 100.000 INP 106.422 156.903 36.676 300.000

Tabel 6. Nilai INP tegakan II


Spesies Sida acuta Mimosa pudica Mimosa invisa JUMLAH D 8 5 2 DM 0.200 0.125 0.050 0.375 DR 53.333 33.333 13.333 100.000 K 0.7492825 5.341611 1.605953 KM 0.019 0.134 0.040 0.192 KR 9.735 69.400 20.865 100.000 F 7 4 1 FM 0.7 0.4 0.1 1.2 FR 58.333 33.333 8.333 100.000 INP 121.402 136.067 42.532 300.000

2. Tempat Setengah Ternaung a. Transek I Tabel 7. Nilai INP tegakan I


Spesies Manihot utilissima Morinda citrifolia Sida acuta Terminalia catappa JUMLAH D 4 4 1 3 DM 0.1 0.1 0.025 0.075 0.3 DR 33.333 33.333 8.333 25 100 K 2.293 10.965 0.045 1.363 14.67 KM 0.057 0.274 0.001 0.034 0.367 KR 15.64 74.77 0.31 9.29 100 F 3 3 1 3 FM 0.3 0.3 0.1 0.3 1 FR 30 30 10 30 100 INP 78.9687 138.0989 18.64165 64.29076 300

Tabel 8. Nilai INP tegakan II


Spesies Casia alata E JUMLAH D 1 5 6 DM 0.03 0.13 0.15 DR 16.67 83.33 100.00 K 1.23 7.70 8.93 KM 0.03 0.19 0.22 KR 13.74 86.26 100.00 F 1 3 4 FM 0.1 0.3 0.4 FR 25.00 75.00 100.00 INP 55.408 244.59 300

b.

Transek II

Tabel 9. Nilai INP tegakan I


Spesies Sida acuta Salacca edulis Morinda citrifolia Manihot utilissima Terminalia catappa Psidium guajava JUMLAH D 1 1 4 1 3 1 DM 0.025 0.025 0.100 0.025 0.075 0.025 0.275 DR 9.091 9.091 36.364 9.091 27.273 9.091 100.000 K 0.075 0.085 2.925 0.882 1.018 0.418 KM 0.002 0.002 0.073 0.022 0.025 0.010 0.135 KR 1.396 1.582 54.121 16.320 18.840 7.740 100.000 F 1 1 2 1 2 1 FM 0.1 0.1 0.2 0.1 0.2 0.1 0.8 FR 12.500 12.500 25.000 12.500 25.000 12.500 100.000 INP 22.987 23.173 115.485 37.911 71.113 29.331 300.000

Tabel 10. Nilai INP tegakan II


Spesies Mimosa pudica Cassia alata JUMLAH D 1 5 DM 0.025 0.125 0.150 DR 16.667 83.333 100.000 K 0.363 4.891 KM 0.009 0.122 0.131 KR 6.909 93.091 100.000 F 1 3 FM 0.1 0.3 0.4 FR 25.000 75.000 100.000 INP 48.575 251.425 300.000

c.

Transek III

Tabel 11. Nilai INP tegakan I


Spesies Morinda citrifolia Manihot utilissima Saoropus androginus Gendarussa vulgaris Terminalia catappa TOTAL D 2 3 1 1 2 DM 0.05 0.075 0.025 0.025 0.05 0.225 DR 22.22 33.33 11.11 11.11 22.22 100 K 2.617 1.109 1.517 0.554 1.116 KM 0.065 0.028 0.038 0.014 0.028 0.173 KR 37.86 16.05 21.94 8.01 16.14 100 F 2 1 1 1 1 FM 0.2 0.1 0.1 0.1 0.1 0.60 FR 33.33 16.67 16.67 16.67 16.67 100 INP 93.41 66.05 49.72 35.79 55.03 300

TabelTabel 12. Nilai INP tegakan II


Spesies Mimosa pudica Morinda citrifolia Cassia alata Terminalia catappa TOTAL D 1 2 6 6 DM 0.025 0.05 0.15 0.15 0.375 DR 6.67 13.33 40.00 40.00 100 K 0.554 0.998 6.500 1.602 KM 0.014 0.025 0.162 0.040 0.241 KR 5.74 10.34 67.32 16.60 100 F 1 2 3 4 FM 0.1 0.2 0.3 0.4 1 FR 10.00 20.00 30.00 40.00 100 INP 22.40 43.67 137.32 96.60 300

3. Tempat Ternaung a. Transek I Tabel 13. Nilai INP tegakan I


Spesies E Muntingia calabura Syzigium cumini JUMLAH D 5 7 4 16 DM 0.13 0.18 0.10 0.40 DR 31.25 43.75 25.00 100.00 K 0.327 0.764 0.269 KM 0.01 0.02 0.01 0.03 KR 24.07 56.19 19.74 100.00 F 1 1 1 3.00 FR 0.1 0.1 0.1 0.30 FM 33.33 33.33 33.33 100.00 INP 88.651 133.271 78.078 300.00

Tabel 14. Nilai INP tegakan II


Spesies E Mimosa pudica Muntingia calabura Syzigium cumini Jumlah D 4 1 1 2 8 DM 0.10 0.03 0.03 0.05 0.20 DR 50.00 12.50 12.50 25.00 100.00 K 0.125 0.000 0.000 0.246 0.371 KM 0.00 0.00 0.00 0.00 0.01 KR 25.77 24.74 24.74 24.74 100.00 F 4 0 0 0 4.00 FM 0.4 0.0 0.0 0.0 0.40 FR 100.00 0.00 0.00 0.00 100.00 INP 175.773 37.242 37.242 49.742 300.00

b.

Transek II

Tabel 15. Nilai INP tegakan I


Spesies Guazuma ulmifolia D E F Syzigium aqueum Muntingia calabura Acacia auriculiformis Capsicum annuum Eclipta alba Phyllanthus niruri Psidium guajava JUMLAH D 1 4 6 1 4 7 1 1 4 1 1 31 DM 0.025 0.100 0.150 0.025 0.100 0.175 0.025 0.025 0.100 0.025 0.025 0.775 DR 3.226 12.903 19.355 3.226 12.903 22.581 3.226 3.226 12.903 3.226 3.226 100.000 K 0.723 4.986 1.555 0.212 0.311 6.261 1.266 0.754 2.270 0.145 0.080 KM 0.018 0.125 0.039 0.005 0.008 0.157 0.032 0.019 0.057 0.004 0.002 0.464 KR 3.897 26.860 8.378 1.143 1.674 33.723 6.820 4.061 12.228 0.782 0.433 100.000 F 1 4 5 1 2 4 1 1 4 1 1 FM 0.1 0.4 0.5 0.1 0.2 0.4 0.1 0.1 0.4 0.1 0.1 2.5 FR 4.000 16.000 20.000 4.000 8.000 16.000 4.000 4.000 16.000 4.000 4.000 100.000 INP 11.123 55.763 47.733 8.369 22.577 72.304 14.046 11.287 41.131 8.008 7.659 300.000

Tabel 16. Nilai INP tegakan II


Spesies D E Salacca edulis Syzigium aqueum Mimosa invisa Emilia sonchifolia JUMLAH D 4 3 1 2 5 1 DM 0.100 0.075 0.025 0.050 0.125 0.025 0.400 DR 25.000 18.750 6.250 12.500 31.250 6.250 100.000 K 1.904 1.056 0.066 0.464 8.547 2.834 KM 0.048 0.026 0.002 0.012 0.214 0.071 0.372 KR 12.802 7.098 0.444 3.118 57.480 19.058 100.000 F 4 3 1 2 4 1 FM 0.4 0.3 0.1 0.2 0.4 0.1 1.5 FR 26.667 20.000 6.667 13.333 26.667 6.667 100.000 INP 64.469 45.848 13.361 28.951 115.396 31.975 300.000

c.

Transek III

Tabel 17. Nilai INP tegakan I


Spesies Mimosa invisa Merica - merica Emilia sonchifolia Sida acuta Eclipta alba Mimosa pudica JUMLAH D 5 6 1 1 1 1 DM 0.125 0.15 0.025 0.025 0.025 0.025 0.375 DR 33.333 40.000 6.667 6.667 6.667 6.667 100.000 K 2.108 1.348 0.322 0.237 0.091 0.075 KM 0.053 0.034 0.008 0.006 0.002 0.002 0.105 KR 50.416 32.243 7.689 5.678 2.170 1.804 100.000 F 4 5 1 1 1 1 FM 0.4 0.5 0.1 0.1 0.1 0.1 1.3 FR 30.769 38.462 7.692 7.692 7.692 7.692 100.000 INP 114.518 110.705 22.048 20.037 16.529 16.163 300.000

Tabel 18. Nilai INP tegakan II


Spesies Mimosa pudica Merica - merica Muntingia calabura E JUMLAH D 11 4 3 5 DM 0.275 0.100 0.075 0.125 0.575 DR 47.826 17.391 13.043 21.739 100.000 K 12.359 1.029 0.623 0.072 KM 0.309 0.026 0.016 0.002 0.352 KR 87.768 7.304 4.421 0.508 100.000 F 6 3 3 2 FM 0.600 0.300 0.300 0.200 1.400 FR 42.857 21.429 21.429 14.286 100.000 INP 178.451 46.124 38.893 36.533 300.000

B. Pembahasan 1. Tempat Terang Praktikum kali ini kita akan mengetahui jumlah persentase penutupan dari suatu vegetasi, sehingga kita dapat mengetahui suatu komunitas tanpa meneliti secara keseluruhan. Adapun untuk tempat terang, tanaman yang paling sering muncul adalah Mimosa pudica, ini dapat terlihat dari diagram berikut:

Jadi diketahui bahwa

dapat untuk

daerah terang ini terdapat 3 jenis vegetasi yang dilewati 3 transek. Pada masingmasing transek terdapat spesies yang sama yaitu Mimosa pudica, Guazuma ulmifolia, Sida acuta dan Mimosa invisa. Dari keempat vegetasi tersebut Mimosa pudica memiliki nilai penting terbesar dari pada tumbuhan yang lain,

sehingga Mimosa pudica merupakan tumbuhan yang dominan dan memiliki nilai penting tertinggi dibandingkan tumbuhan lainnya sehingga dapat dijadikan tolak ukur dalam pemberian nama vegetasi di lapangan tersebut. 2. Tempat Setengah Ternaung Untuk tempat setengah ternaung,diperoleh vegetasiyang sangat beragam diantaranya Sida acuta Salacca edulis, Morinda citrifolia, Manihot utilissima, Terminalia catappa, Psidium guajava, Terminalia catappa, Sida acuta, Cassia alata, Saoropus androgynus, Gendarussa vulgaris dan masih banyak lagi bisa kita lihat pada diagram berikut:

Pada transek pertama sampai ketiga keragaman jenis makin meningkat, hanya pada transek 1 dan 2 tegakan II saja yang ditemukan 2 jenis semak atau anakan pohon. Hal ini disebabkan karena penyebaran vegetasi tanaman dalam suatu plot dipengaruhi oleh tanaman yang paling banyak tumbuhnya dalam satu plot tersebut, karena tanaman yang mendominasi suatu plot, kemungkinan besar pada saat penyerbukan tumbuhan tersebut yang dibantu oleh serangga ataupun angin akan menyebar tidak jauh dari tanaman tersebut. Jadi makin jauh luas plot yang diamati, maka makin sedikit jenis tanaman yang sama yang ditemukan. Sehingga makin besar jumlah jenis tanaman baru yang ditemukan. Jika jumlah jenis tanaman itu sedikit dalam suatu plot, dikarenakan faktor kematian, akibat injakan, atau ulah manusia, ataupun penyebarannya yang terbatas lewat penyerbukan dan tempat tanaman itu hidup. 3. Tempat Ternaung Pada tempat ternaung, vegetasi yang diperoleh juga beragam. Kebanyakan vegetasi yang diperoleh ditempat ternaung adalah anakan pohon seperti Muntingia calabura dan Syzigium cumini. Hal ini disebabkan karena yang menjadi pelindung dari tanaman tersebut adalah pohon Muntingia

calabura dan Syzigium cumini sehingga penyebaran vegetasi tanaman dalam suatu plot dipengaruhi oleh tanaman yang paling banyak tumbuh.

Hal ini sesuai dengan teori Michael (2004), yang menyatakan bahwa pola penyebarannya bergantung pada sifat fisikokimia lingkungan maupun keistimewaan biologis organisme itu sendiri. Keragaman itu tak terbatas dari pola penyebaran demikian yang terjadi dalam alam secara kasar dapat dikelaskan menjadi tiga kategori: (i) penyebaran teratur atau seragam, , (ii) keberadaan acak atau kebetulan, , (iii) penyebaran berumpun.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan dapat kami simpulkan bahwa semakin luas plot yang diamati maka akan semakin banyak jenis varietas tanaman yang ditemukan. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah varietas suatu plot antara lain suhu udara, ulah manusia, penyebaran lewat penyerbukan/penyebaran biji, serta tempat tanaman itu hidup.. B. Saran
1. Diharapkan

agar semua praktikan aktif dan tidak sekedar duduk

memperhatikan yang lain.


2. Diharapkan agar laboran menyiapkan peralatan untuk prktikum seperti

meteran, sehingga memudahkan praktikan menghitung transek hingga 100 meter.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim1 , 2011. Analasi Vegetasi metode Transek . http://www.4shared.com/get/N081Qz1r /Diakses pada tanggal 3 Oktober 2011. Anonim2, 2011. Laporan Praktikum Ekologi. http://heriyanto-riyan.blogspot.com/ Diakses pada tanggal 3 Oktober 2011. Anonim3, 2011. Laporan Analisis Vegetasi. http://bhimashraf.blogspot.com/ Diakses pada tanggal 3 Oktober 2011. Anonim4, 2011. Laporan Praktikum Metode Transek. http://www.scribd.com/doc/47536097/ Diakses pada tanggal 3 Oktober 2011. Campbell, Neil A; Reece; dan Mitchell. 2004. Biologi Jilid III Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta. Hariyadi, Wito. 1991. Biologi. Surabaya: SIC Surabaya. Kimball, John W. 1990. Biologi. Jakarta: Erlangga. Michael, P. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Dinas Kehutanan. Jakarta. Odum, Eugene P. 1998. Dasar-Dasar Ekologi Edisi Ketiga. UGM Press. Jogjakarta. Suprianto. 2001. Pengantar Praktikum Ekologi Tumbuhan. Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UPI.