Anda di halaman 1dari 32

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

BAB I PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang Dalam melakukan suatu pekerjaan, banyak hal yang dilakukan oleh manusia untuk meningkatkan produktivitas kinerja mereka. Produktivitas ini erat kaitannya dengan faktor tenaga kerja itu sendiri dan masalah modal baik berupa perlengkapan kerja, bahan baku, bangunan, pabrik, dan sebagainya. Cara-cara yang dapat dilakukan dalam meningkatkan produktivitas para pekerja demi terciptanya sistem kerja yang efektif dan efisien bisa dilakukan dengan teknik-teknik yang sesuai dengan para pekerja itu sendiri. Penggunaan teknik ini sangat penting karena akan terjadi pengaturan dan pengendalian terhadap performansi dari operator maupun mesin demi suatu sistem kerja yang cocok dan aman terhadap para pekerjanya, dan untuk output yang lebih baik. Teknik yang sering digunakan diantaranya adalah teknik analisa gerakan dan pengukuran waktu atau yang lebih dikenal dengan Motion and Time Study. Motion and Time Study ini dapat mengurangi biaya produksi, mengontrol biaya yang digunakan, penggunaan waktu yang lebih efektif, memperbaiki kondisi kerja dan lingkungan kerja, begitu pula dalam memotivasi pekerjanya. Tujuan utamanya jelas untuk meningkatkan produktivitas kerja dan mengurangi pemborosan. Oleh karena itu dalam praktikum kali ini akan mempelajari tentang teknik gerakan dan pengukuran waktu agar prakikan dapat mengerti bagaimana teknik tersebut dapat dilakukan terhadap suatu pekerjaan serta pengaruh terhadap kinerja operator dan mencari metoda yang cocok dengan hasil yang baik.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

1. 2 Tujuan Tujuan dari praktikum Motion and Time Study ini antara lain: 1. Menggunakan studi gerakan kerja menggunakan Micromotion Study 2. Membandingkan pengaruh metode-metode yang digunakan terhadap efisiensi gerakan kerja 3. Melakukan pengukuran untuk mendapatkan waktu normal 4. Dapat melakukan pekerjaan dengan menggunakan prinsip ekonomi gerakan 5. Mengetahui metode terbaik dalam pengerjaan assembly pinboard 6. Dapat menggambarkan peta tangan kanan dan kiri

1.3 Asumsi dan Batasan Asumsi merupakan dugaan sementara yang dinyatakan secara spesifik dan

digunakan sebagai prediksi atas langkah-langkah pemecahan masalah yang telah ditetapkan. Pada pengumpulan dan pengolahan data ada beberapa hal yang perlu diasumsikan. Beberapa hal tersebut adalah asumsi jarak antara kedua tangan dengan pinboard dan penilaian secara subjektif mengenai performance rating. Penelitian kerja dan analisa metode kerja pada dasarnya akan memusatkan perhatiannya pada bagaimana (how) suatu macam pekerjaan akan diselesaikan. Dengan mengaplikasikan prinsip dan teknik pengaturan cara kerja yang optimal dalam sistem kerja tersebut, maka akan diperoleh alternatif metoda pelaksanaan kerja yang dianggap memberikan hasil yang paling efektif dan efisien. Suatu pekerjaan akan dikatakan diselesaikan secara efisien apabila waktu penyelesaiannya berlangsung paling singkat. Untuk menghitung waktu baku (standard time ) penyelesaian pekerjaan guna memilih alternatif metoda kerja terbaik, maka perlu diterapkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik pengukuran kerja (work measurement atau time study). Pengukuran waktu kerja ini akan berhubungan dengan usaha-usaha untuk menetapkan waktu baku yang dibutuhkan guna menyelesaikan suatu pekerjaan. Secara singkat pengukuran kerja adalah metoda penetapan keseimbangan antara kegiatan manusia yang dikontribusikan dengan unit output yang dihasilkan.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

1.4 Sistematika Penulisan Untuk mempermudah penulisan laporan praktikum ini. penyusun membuat sistematika penulisan sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Berisi tentang latar belakang, tujuan praktikum, pembahasan masalah dan sistematika penulisan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Berisi tentang pengukuran waktu kerja, prinsip ekonomi gerakan, gerakan fundamental untuk kerja manual (Therbligs), peta kerja sebagai alat untuk menganalisa aktivitas kerja dan melakukan pengukuran waktu. BAB III PENGUMPULAN DATA DAN PENGOLAHAN DATA Berisi tentang pengumpulan dan pengolahan data yang akan dilakukan analisa data. Pengolahan data meliputi tabel deskipsi gerakan dan snapshot, tabel data waktu, tabel rekapan data data elemen Therbligh dari tiap lubang. Sedangkan pengolahan data mencakup peta kerja tangan kanan dan tangan kiri, penentuan performance rating dan allowance, penentuan waktu normal serta penentuan waktu baku. BAB V ANALISA DATA Berisi tentang analisia metode-metode yang digunakan dan analisis metode terbaik. BAB VI PENUTUP Berisi tentang kesimpulan dan saran yang diperoleh dari percobaan.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengukuran Waktu Kerja Waktu merupakan elemen yang sangat menentukan da1am merancang atau memperbaiki suatu sistem kerja. Peningkatan efisiensi suatu sistem kerja mutlak 3 berhubungan dengan waktu kerja yang digunakan da1am berproduksi. Pengukuran waktu (time study) pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menentukan lamanya waktu kerja yang dibutuhkkan oleh seorang operator (yang sudah terlatih) untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang spesifik, pada tingkat kecepatan kerja yang normal,serta dalam lingkungan kerja yang terbaik pada saat itu. Dengan demikian pengukuran waktu ini merupakan suatu proses kuatitatif, yang diarahkan untuk mendapatkan suatu kriteria yang obyektif. Study mengenai pengukuran waktu kerja dilakukan untuk dapat melakukan perancangan atau perbaikan dari suatu sistem kerja. Secara umum, teknik-teknik pengukuran waktu kerja dapat dikelompokkan atas dua kelompok besar : a. Secara Langsung Pengukuran waktu dengan jam henti (Stop Watch Jam ) Sampling pekerjaan ( Work Sampling ) b. Secara Tidak Langsung Data Waktu Baku Data Waktu Gerakan

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

2.1.1 Pengukuran Waktu Kerja Langsung Pengukuran waktu kerja langsung adalah suatu cara untuk menentukan waktu baku di mana pengamatan data-data yang diperlukan langsung dilakukan di tempat berlangsungnya suatu aktivitas atau pekerjaan yang akan ditemukan waktu bakunya. Pengukuran waktu kerja langsung dibagi menjadi dua, yaitu : a. Pengukuran waktu jam henti (Stop Watch) Pendekatan yang paling umum untuk pengukuran kerja yang digunakan sekarang ini meliputi penilaian waktu stop watch dan pengukuran kinerja operasi secara simultan untuk menentukan waktu normal. Piranti pengukur waktu elektronik yang sekarang sering digunakan adalah stop watch konvensional. Pengukuran waktu jam henti (stop watch) adalah suatu cara untuk menentukan waktu baku yang pengamatannya langsung dilakukan di tempat berlangsungnya suatu aktivitas atau berlangsungnya suatu pekerjaan dengan menggunakan alat utamanya adalah jam henti (stop watch) yaitu dengan mengamati saat mulainya pekerjaan itu hingga berakhirnya pekerjaan/aktivitas yang meliputi : waktu setting, waktu operasi dan waktu inspeksi.Untuk mendapatkan hasil yang baik, yaitu yang dapat dipertanggungjawabkan maka tidaklah cukup sekedar melakukan beberapa kali pengukuran dengan menggunakan jam henti. Banyak faktor yang harus diperhatikan agar akhirnya dapat diperoleh waktu yang pantas untuk jumlah pengukuran dan lain-lain. Langkah-langkah sebelum melakukan kegiatan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Penetapan tujuan pengukuran 2. Melakukan penelitian pendahuluan 3. Memilih operator 4. Melatih Operator 5. Mengurai pekerjaan atas elemen pekerjaan 6. Menyiapkan alat-alat pengukuran.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

b. Pengukuran sampling kerja (pekerjaan) Secara umum, langkah langkah pelaksanaan sampling pekerjaan adalah : 1. Tetapkan aktivitas (elemen pekerjaan) yang akan diukur 2. Tetapkan jadwal pengamatan secara random 3. Laksanakan pengamatan 4. Cek statistik data 5. Analisis hasil studi; tetapkan rasio delay atau ukuran performansi atau waktu standar hasil pengukuran. 6. Khususnya untuk studi ratio delay / ukuran performansi; tarik kesimpulan dan saran perbaikan untuk memperbaiki metoda kerja yang ada.

2.1.2 Pengukuran Waktu Kerja tidak Langsung Pengukuran waktu kerja tak langsung adalah suatu cara untuk menentukan waktu baku yang data-datanya tidak langsung dilakukan di tempat berlangsungnya aktivitas/perkerjaan tetapi cukup menggunakan data-data masa lampau yang telah dibukukan untuk pekerjaan-pekerjaan yang sejenis. Cara ini dapat dibagi dua cara, yaitu : a. Pengukuran waktu data waktu baku Data waktu baku berisi data yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang telah diukur pada waktu tertentu. Pemakaian data waktu baku dalam penilaian penelitian akan mendatangkan beberapa keuntungan

dibandingkan pengukuran secara langsung, diantaranya : 1. Menghemat waktu penelitian. 2. Biaya yang dikeluarkan lebih sedikit. 3. Untuk keperluan yang lebih banyak jumlah pengukuran yang diperlukan lebih sedikit dibandingkan jumlah pengukuran dengan cara langsung.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

4. Penentuan waktu penyelesaian suatu pekerjaan dapat dilakukan terus berada di tempat pekerjaan berlangsung.

b. Pengukuran data waktu gerakan Ruang lingkup penggunaan data waktu gerakan jauh lebih luas dibandingkan dengan waktu baku, dalam waktu gerakan yang diperlukan adalah elemen-elemen sebagai rincian dari suatu pekerjaan sehingga kegunaannya lebih umum. Kelebihan data waktu gerakan dibandingkan dengan cara penggunaan waktu lainnya adalah : 1. Waktu baku untuk setiap operasi dapat ditentukan dalam waktu singkat. 2. Biaya yang dibutuhkan sangat murah. 3. Untuk mengembangkan metode yang ada 4. Waktu penyelesaian suatu operasi dapat ditentukan sebelum operasi dijalankan Untuk membantu perancangan produk

Beberapa metode yang digunakan untuk menentukan waktu baku yang menggunakan data waktu gerakan, adalah : a. Faktor kerja b. Pengukuran waktu metode c. Pengukuran waktu gerakan dasar d. Most Pada faktor kerja suatu percobaan, membagi gerakan-gerakan kerja atau elemen-elemen gerakan, seperti : menjangkau, memegang, memutar,

mengarahkan, melepas, mengarahkan sementara, dan proses mental dengan pekerjaan yang bersangkutan. Dalam menyelesaikan waktu penyelesaian pekerjaan yang diperhatikan adalah bagian badan yang digerakan. Umumnya bagian badan yang bergerak adalah jari atau telapak tangan, putaran lengan, badan bagian atas, dan telepak kaki. Selain itu juga, perlu diperhatikan faktor hambatannya, jarak, keadaan, perhatian, pengarahan kehati-hatian, dan

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

perubahan gerakan

yang kesemuanya itu disebut faktor-faktor kerja.

Ada beberapa variabel yang perlu diperhatikan, yaitu : 1. 2. 3. Anggota badan yang bergerak Jarak yang ditempuh Berat atau tahanan yang menghambat. ( Sritomo W, 1995)

2.2 Prinsip-Prinsip Ekonomi Gerakan (Motion Economy) Dalam menganalisa dan mengevaluasi metoda kerja yang lebih efisien, maka perlu mempertimbangkan prinsip-prinsip ekonomi gerakan (the principles of motiom economy). Prinsip ekonomi gerakan ini bisa dipergunakan untuk menganalisa gerakan-gerakan kerja setempat yang terjadi dalam sebuah stasiun kerja dan bisa juga untuk kegiatan-kegiatan kerja yang berlangsung secara menyeluruh dari satu stasiun ke stasiun kerja yang lain.

1. Prinsip Ekonomi Gerakan Dihubungkan Dengan Tubuh Manusia dan Gerakannya Manusia memiliki kondisi fisik dan struktur tubuh yang memberi keterbatasan dalam melaksanakan gerakan kerja Kedua tangan sebaiknya memulai dan menyelesaikan gerakannya dalam waktu yang bersamaan atau pada saat yang sama Kedua tangan jangan menganggur pada waktu yang bersamaan kecuali sewaktu istirahat Gerakan tangan harus simetris dan berlawanan arah Gerakan tangan atau badan sebaiknya dihemat, misalnya: Gerakan jari Gerakan jari dengan telapak tangan Gerakan jari telapak tangan dengan jari bagian depan Gerak jari telapak tangan, tangan bagian depan dan lengan atas

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

Gerakan jari, telapak tangan, tangan bagian depan, lengan atas dan bahu

Untuk menyelesaikan pekerjaan maka hanya bagian-bagian tubuh yang memang diperlukan sajalah yang bekerja agar tidak terjadi penghamburan tenaga dan kelelahan yang tidak perlu

Sebaiknya para pekerja dapat memanfaatkan momentum untuk membantu pekerjaannya, pemanfaatan ini timbul karena berkurangnya kerja otot dalam pekerja.

Hindari gerakan patah-patah karena akan cepat menimbulkan kelelahan, banyak perubahan arah akan memperlambatkan gerakan tersebut Pekerjaan harus diatur sedemikian rupa sehingga gerak mata terbatas pada bidang yang menyenangkan tanpa perlu sering mengubah fokus Pekerjaan sebaiknya dirancang semudah-mudahnya dan jika memungkinkan irama kerja harus mengikuti irama alamiah bagi pekerja Usahakan sesedikit mungkin gerakan mata

2. Prinsip Ekonomi Gerakan Dihubungkan Dengan Tempat Kerja Berlangsung Tempat-tempat tertentu yang tak sering dipindah-pindah harus disediakan untuk semua alat dan bahan sehingga dapat menimbulkan gerak rutin Letakkan bahan dan peralatan pada jarak yang dapat dengan mudah, nyaman dan dicapai pekerja sehingga mengurangi usaha mencari-cari Tempat penyimpanan bahan yang akan dikerjakan sebaiknya memanfaatkan prinsip gaya berat sehingga badan yang akan dipakai selalu tersedia ditempat yang dekat untuk diambil Sebaiknya untuk menyalurkan obyek yang sudah selesai dirancang mekanismenya yang baik Tata letak bahan dan peralatan kerja diatur sedemikian rupa sehingga memungkinkan urutan-urutan gerakan yang terbaik Tinggi tempat kerja dan kursi sebaiknya sesuai dengan ukuran tubuh manusia sehingga pekerja dapat melaksanakan kegiatannya dengan mudah dan nyaman
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

Kondisi ruangan pekerja harus memenuhi syarat ergonomic dan area kerja yang nyaman, aman, dan mampu menumbuhkan motivasi kerja yang lebih baik

Tipe tinggi kursi harus sedemikian rupa sehingga yang mendudukinya bersikap (mempunyai postur) yang baik Tata letak peralatan dan pencahayaan sebaiknya diatur sedemikian rupa sehingga dapat membentuk kondisi yang baik untuk penglihatan

3. Prinsip Ekonomi Gerakan Dihubungkan Dengan Desain Peralatan Kerja Yang Dipergunakan Atau Perancangan Peralatan Kurangi sebanyak mungkin pekerjaan tubuh (manual) apabila hal tersebut dapat dilaksanakan dengan peralatan kerja Sebaiknya tangan dapat dibebaskan dari semua pekerjaan bila penggunaan dari perkakas pembantu atau alat yang dapat digerakan dengan kaki dapat ditingkatkan Usahakan menggunakan peralatan kerja yang dapat melaksanakan berbagai macam pekerjaan sekaligus, baik yang sejenis maupun yang berlainan Siapkan dan letakkan semua peralatan kerja pada posisi tepat dan cepat untuk memudahkan pemakaian atau pengambilan pada saat diperlukan tanpa harus besusah payah mencari-cari. Desain peraltan dibuat sedemikian rupa agar memberi kenyamanan genggaman tangan saat digunakan Pada saat melakukan pekerjaan, beban untuk masing-masing jari tersebut harus seimbang sesuai energi dan kekuatan yang dimiliki oleh masing-masing jari. Tongkat, handwheels dan control lain harus ditempatkan pada posisi tertentu dimana operator dapat memanipulasinya dengan seminimal mungkin perubahan pada posisi tubuh.

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

10

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

(http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&cd=1&ved=0CBQQFjAA& url=http%3A%2F%2Fdhimaskasep.files.wordpress.com%2F2008%2F05%2 Fekonomigerakan.ppt&rct=j&q=ekonomi%20gerakan&ei=IPh6Tcy2PI6IuA Opw7XUBw&usg=AFQjCNHw-qkvdChUf9pE6tL2fukprHBdvA&cad=rja) 2.3 Gerakan Fundamental (Therbligs) Elemen therblig adalah penggolongan elemen kerja ke dalam beberapa kelompok elemen, yang diperkenalkan pertama kali oleh Gilbert. Elemen therblig ini berkaitan dengan pembuatan peta tangan kanan dan tangan kiri. Peta tangan kiri -tangan kanan adalah peta kerja setempat yang bermanfaat untuk menganalisis gerakan tangan operator dalam melakukan pekerjaan yang bersifat manual. Peta ini akan menggambarkan semua kegiatan ataupun delay yang terjadi yang dilakukan oleh tangan kanan maupun tangan kiri secara detail sesuai dengan elemen therblig yang membentuk gerakan tersebut. Mempermudah penganalisaan terhadap gerakan-gerakan yang akan dipelajari dahulu gerakan-gerakan dasar yang membentuk kerja dan dasar kerja yang dikenal dengan nama Therbligh. Disini menguraikan gerakan-gerakan dasar kerja ke dalam 17 gerakan dasar Therbligh. Diantaranya:

1. RE = Reach (menjangkau) 2. M = Move (Membawa) 3. G = Grasp (Memegang) 4. RL = Release (Melepas) 5. PP = Pre-position (Pengarahan Sementara) 6. U = Use (Memakai) 7. A = Assemble (Merakit) 8. DA = Disassemble (Lepas rakit) 9. S = Search (Mencari)

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

11

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

10. SE = Select (Memilih) 11. P = Position (pengarahan) 12. I = Inspect (Memeriksa) 13. PL = Plan (Merencanakan) 14. UD = Unavoidable delay (Kelambatan yang tak terhindarkan) 15. AD = Avoidable delay (Kelambatan yang dapat dihindarkan) 16. R = Rest (Istrirahat) 17. H = Hold (memegang untuk memakai) Keterangan: RE = Reach (menjangkau)

Mencari adalah elemen dasar pekerja untuk menentujan lokasi suatu obyek. Gerakan kerja dalam hal ini dilakukan oleh mata. Gerakan dimulai pada saat mata bergerak mencari obyek dan berakhir ketika obyek tersebut telah ditemukan. Elemen gerakan ini sedapat mungkin dieliminir dengan cara meletakkan bahan dan peralatan pada lokasi yang tetap sehingga proses kerja mencari dapat dihindari. M = Move (membawa)

Membawa adalah elemen gerakan Therblig yang menggambarkan tangan berpindah tempat baik gerakan menuju atau menjahui obyek atau lokasi tujuan lainnya dan berakhir segera saat tangan berhenti bergerak setelah mencapai tujuannya. G = Grasp (memegang)

Memegang adalah elemen greakan tangan yang dilakukan dengan menutup jari-jari tangan obyek yang dikehendaki dalam suatu operasi kerja. Biasanya didahului oleh gerakan menjangkau dan dilanjutkan dengan gerakan membawa. RL = Release (Melepas)

Elemen gerakan melepas terjadi saat tangan operator melepaskan kembali terhadap obyek yang dipegang sebelumnya. Dengan demikian elemen gerakan ini diawali sesaat gerakan tangan membuka melepas
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

12

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

obyek yang dibawa dan berakhir begitu semua jari jelas tidak menyentuh atau memegang obyek lagi. PP = Pre-positon (Pengarahan Sementara)

Elemen gerakan mengarahjkan awal adalah elemen kerja Therblig yang mengarahkan obyek pada suatu tempat sementara sehingga pada saat kerja mengarahkan obyek benar-benar dilakukan maka obyek tersebut dengan mudah akan bisa dipegang dan dibawa ke arah tujuan yang dikehendaki. U = Use (Memakai)

Memakai adalah elemen gerakan Therblig dimana salah satu atau kedua tangan digunakan untuk memakai atau mengontrol suatu alat atau obyek untuk tujuan-tujuan tertentu selama kerja berlangsung A = Assemble (Merakit)

Elemen gerakan therblig untuk menghubungka dua objek atau lebih menjadi satu kesatuan. DA = Disassemble (Lepas Rakit)

Elemen ini kebalikan dari elemen merakit. Disini dilakukan gerakan memisahkan atau menguraikan dua objek yang tergabung satu mnjadi objek-objek terpisah. S = Search (mencari)

Elmen dasar gerakan pekerja untuk menentukan lokasi suatu objek. Gerakan dasar dalam hal ini dilakukan oleh mata. SE = Select (Memilih)

Elemen Therbligs yang merupakan gerakan kerja untuk menentukan / memilih suatu objek diantara dua atau lebih objek yang sama lainnya. P = Position (pengarahan)

Elemen gerakan therbligs yang terdiri dari menempatkan objek pada lokasi yang dituju secara tepat. I = Inspect (Memeriksa)

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

13

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

Elemen ini njamin bahwa objek telah memenuhi persyaratan kualitas yang ditetapkan. PL = Plan (Merencanakan)

Elemen therblig merencana ini merupakan proses mental dimana operator berhenti sejenak bekerja dan memikir untuk menentukan tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya. UD = Unvoidable delay (kelambatan yang tak terhindarkan)

Kondisi ini diakibatkan oleh hal-hal yang diluar control dari operator dan merupakan interupsi terhadap proses kerja yang sedang berlangsung. AD = Avoidable delay ( kelambatan yang dapat dihindarkan)

Setiap waktu menganggur yang terjadi pada siklus kerja yang berlangsung mrupakan tanggung jawab operator baik secara sengaja maupun tidak sengaja akan diklasifikasikan sebagai kelambatan yang bisa dihindarkan. R = Rest (istirahat)

Elemen ini tidak terjadi pada setiap siklus keja akan tetapi berlangsung secara periodik H = Hold (memegang untuk memakai) ini terjadi bilamana tangan memegang objek tanpa

Elemen

menggerakkan objek tersebut. Sedangkan prinsip ekonomi gerakan adalah meminimalkan gerakan tubuh pada saat bekerja berdasarkan bahan baku dan peralatan yang digunakan. Serta keterbatasan manusia sendiri. Hal ini sangat terkait dengan tata letak tempat kerja dan peralatan kerja. Dalam perancangan kerja manual perlu dilakukan pengaturan fungsi kerja anggota badan lain seperti kaki atau keseimbangan beban tangan kiri dan kanan.

(http://diyan.staff.umm.ac.id/2010/02/26/elemen-therblig/)

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

14

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

Gambar 2.1 Gambar elemen therblig

(Sritomo, 1995)

2.4 Peta Kerja sebagai Alat untuk Menganalisa Aktivitas Kerja 2.4.1 Peta Kerja Setempat Peta kerja setempat yaitu menganalisa kondisi kerja untuk satu area atau sebagian area kerja. Macam-macam peta kerja setempat yaitu : a. MMPC Man Machine Process Chart (Peta Kerja & Mesin) Untuk menganalisa keseimbangan waktu kerja antara kerja manusia (operator) dan kerja mesin Disebut juga string diagram

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

15

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

Berguna untuk menentukan beban operator / menghitung jumlah mesin yang dapat dilayani tiap operator dan menentukan strategi pengupahan.

Gambar 2.2 Peta Kerja MMPC

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

16

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

b. GPC Gang Process Chart (Peta Kelompok Kerja) Yaitu peta untuk pekerjaan yang memerlukan kerja sama yang baik dari sekelompok pekerja: pergudangan, pemeliharaan, atau pekerjaan-pekerjaan pengangkutan material. Tujuan dari peta kerja ini adalah meminimumkan waktu menunggu sehingga bisa mengurangi ongkos produksi atau proses dan mempercepat waktu penyelesaian produksi atau proses.

Gambar 2.3 peta kerja GPC

c. LRPC/OrPC Left Right Hands Process Chart / Operator Process Chart (Peta Tangan Kiri dan Kanan) Menggambarkan keseimbangan gerak antara tangan kiri dan tangan kanan

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

17

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

Memetakan gerakan dalam elemen therbligh sehingga dapat diidentifikasi gerakan produktif dan tidak produktif.

Gambar 2.4 Peta kerja LRPC

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

18

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

2.4.2 Peta Kerja Keseluruhan Peta kerja keseluruhan yaitu menganalisis kondisi kerja pada seluruh area lantai produksi. Macam-macam peta kerja menyeluruh adalah : 1. OPC Operation Process Chart (Peta Proses Operasi) Diadram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang akan dialami bahan baku (urutan operasi dan pemeriksaan) sampai menjadi produk jadi ataupun komponen. Kegunaannya adalah : a. bisa mengetahui kebutuhan mesin dan penganggarannya. b. bisa memperkirakan kebutuhan akan bahan baku c. sebagai alat untuk menentukan tata letak pabrik.

d. Sebagai alat untuk melakukan perbaikan cara kerja yang sedang dipakai. e. Sebagai alat untuk latihan kerja, dan lain-lain. W 0N IN M = = = = WAKTU OPERASI/INSPEKSI (MENIT/JAM) Nomor urut kegiatan operasi Nomor urut kegiatan inspeksi Nama mesin atau lokasi kerja dimana kegiatan operasi atau K pemeriksaan dilaksanakan

= Komponen yang tidak diproses tapi tinggal dirakit saja

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

19

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

Gambar 2.5 Material yang dikerjakan dan dirakit

2. MPPC Multiple Product Process Chart (Peta Produk Proses Banyak) Peta untuk menganalisis aliran process dari berbagai macam/banyak produk yang menggunakan mesin proses yang sama tapi dengan urutan proses yang berbeda beda Tata letak fasilitas dikelompokkan menurut jenis proses (Process lay-out)

Gambar 2.6 MPPC

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

20

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

3. FPC Flow Process Chart (Peta Aliran Proses) Diagram yang menunjukkan urutan-urutan dari operasi, waktu yang dibutuhkan dan jarak pemindahan yang terjadi selama satu proses atau prosedur berlangsung. Tipe aluiran proses yang di gunakan adalah pekerja, material dan mesin. Kegunaanya adalah : mengetahui aliran bahan atau aktivitas orang mulai dari awal masuk dalam suatu proses sampai aktivitas terakhir. memberikan informasi waktu penyelesaian suatu proses

mengetahui jumlah kegiatan yang dialami bahan atau dilakukan oleh orang selama proses berlangsung. sebagai alat untuk melakukan perbaikan-perbaikan proses atau metode kerja.

Gambar 2.7 Tipe Aliran Proses

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

21

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

4. FD Flow Diagram (Diagram Aliran) Diagram aliran merupakan suatu gambaran menurut skala dari susunan lantai dan gedung yang menunjukkan lokasi dari semua aktivitas yang terjadi dalam Peta Aliran Proses. Kegunaan dari Diagram Aliran adalah sebagai berikut : a. Lebih memperjelas suatu Peta Aliran Proses, apalagi jika arah aliran merupakan faktor yang penting. b. Menolong dalam perbaikan tata letak tempat kerja.

Gambar 2.8 Diagram aliran

(Sritomo W, 1995)
Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

22

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

Learning curve atau kurva pembelajaran adalah konsep pekerjaan yang mengarah pada usaha perbaikan. Konsep ini sangat berguna bagi manajemen operasi perusahaan. Konsep ini memungkinkan perusahaan untuk mengestimasi biaya, penjadwalan, perencanaan kebutuhan, penganggaran maupun penetapan harga. Ada tiga macam learning, yaitu: 1. Informal Learning, yaitu suatu tipe belajar dengan menggunakan imitasi atau mengambil dan mempelajari kemampuan orang lain. 2. Formal Learning, yaitu tipe belajar dalam bentuk penghargaan dan hukuman. 3. Methodical Learning, yaitu tipe belajar dengan berdasarkan cara teknikal dan metode metode tertentu. Fungsi eksponensial learning curve dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut: Yn = (Y1)nR Dimana: Yn = waktu yang dibutuhkan utuk memproduksi produk ke-n Y1 = waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi produk pertama N = jumlah unit produk yang dibuat R = Rasio Logaritma dari waktu yang diperlukan untuk meningkatkan jumlah unit produksi dari waktu produksi standar dibagi dengan log 2 atau log r / log 2

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

23

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

Terdapat dua model dasar Learning Curve yaitu: 1. Model Rata-rata Menunjukkan tingkat percepatan waktu rata-rata untuk membuat setiap unit barang pada learning rate tertentu bila unit yang diproduksi bertambah. Y= a X-b Dimana: Y a X = variabel dependen = konstanta = variabel independen

-b

= eksponen konstanta

2. Model Waktu Total Menunjukkan jumlah waktu yang harus dikeluarkan untuk memproduksi sejumlah barang pada learning rate tertentu. Z = a X1-b Jika 1-b = c maka: Z = a Xc

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

24

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

Grafik 2.9 Grafik learning Curve menurut Heter dan Matulich

Grafik di atas menunjukkan tingkah laku dari biaya variable yang sebanding dengan perubahan volume aktivitas (unit produksi). Garis OA merupakan garis yang menggambarkan tingkah laku dari biaya variabel secara umum. Kemudian Garis OB adalah garis yang menunjukkan biaya yang bersifat (descreasing rate). Jika volume aktivitas semakin banyak atau semakin tinggi, maka tambahan biaya untuk setiap aktivitas akan semakin berkurang. Jika suatu learning curve menunjukkan nilai 80 % berarti bahwa setiap kali suatu volume unit yang diproduksi dilipatkan maka waktu kerja rata rata per unit produksi akan berkurang dengan persentase sekitar 20% dari waktu kerja rata rata sebelumnya.
(http://ariyoso.wordpress.com/2009/10/25/kurva-pembelajaranlearning-curve/)

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

25

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

Kegiatan manufakturing bisa didefinisikan sebagai satu unit atau kelompok kerja yang berkaitan dengan berbagai macam proses kerja untuk merubah bahan baku menjadi produk akhir yang dikehendaki. Kegiatan masingmasing unit kerja ini akan berlangsung disuatu lokasi kerja atau stasiun kerja. Dalam industri manufakturing stasiun kerja merupakan lokasi dimana suatu operasi produksi akan mengambil tempat yang menurut James A Apple dalam bukunya " Plant layout and material handling " ( New York : John Wilen & Sons, 1977 ), bahwa dalam stasiun kerja problematika utama adalah pengaturan komponen-komponen yang terlibat dalam kegiatan produksi yaitu menyangkut material (bahan baku, produk jadi dan skrap ), mesin/peralatan kerja, perkakasperkakas pembantu, fasilitas-fasilitas penunjang (utilitas), lingkungan fisik kerja dan manusia pelaksana kerja (operator). Dalam perancangan stasiun kerja, aspek awal yang harus diperhatikan adalah yang menyangkut perbaikan-perbaikan metode atau cara kerja dengan menekankan pada prinsip-prinsip ekonomi gerakan dengan tujuan pokoknya adalah meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Aspek kedua yang menjadi pertimbangan adalah kebutuhan akan data yang menyangkut dimensi tubuh manusia (anthropometric data). Data antropometri ini terutama sekali akan menunjang didalam proses perancangan produk dengan tujuan untuk mencari keserasian hubungan antara produk dan manusia yang memakainya. Aspek ketiga yang perlu dipertimbangkan berikutnya adalah berkaitan dengan pengaturan tata letak fasilitas kerja yang diperlukan dalam suatu kegiatan. Pengaturan fasilitas kerja pada prinsipnya bertujuan untuk mencari gerakangerakan kerja yang efisien seperti halnya dengan pengaturan gerakan material handling. Pertimbangannya selanjutnya adalah menyangkut pengukuran enersi (energy cost) yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan aktivitas tertentu. Beban kerja baik beban statis maupun dinamis akan diukur berdasarkan parameter-parameter fisiologis seperti volume oksigen yang dikonsumsikan, detak jantung, dan lain-lain. Data fisiologis ini akan memiliki implikasi didalam

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

26

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

perancangan stasiun kerja disamping juga bermanfaat dalam hal penjadwalan kerja (penyusunan waktu istirahat), mengurangi stress akibat beban kerja yang terlalu berlebihan, dan lain-lain. Aktifitas pengukuran enersi berkaitan erat dengan disiplin physiology atau biomechanic. Aspek kelima dalam perancangan stasiun kerja akan berhubungan dengan masalah keselamatan dan kesehatan kerja. Persyaratan UU keselamatan dan kesehatan kerja mengharuskan areal kerja bebas dari kondisi-kondisi yang memiliki potensi bahaya. Perancangan lingkungan fisik kerja seperti pengaturan temperatur, pencahayaan, kebisingan, getaran, dan lain-lain merupakan titik sentral perhatian dari aspek kelima ini. Selanjutnya ketiga aspek yang terakhir yaitu hubungan dan perilaku manusia, pengukuran waktu kerja dan maintanability akan berkepentingan dengan memperbaiki motivasi dan performans kerja.

Gambar 2.10 Jangkauan Maksimum Manusia Pada Stasiun Kerja Tampak Samping

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

27

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

Gambar 2.11 Jangkauan Maksimum Manusia Pada Stasiun Kerja

Gambar 2.12 Jangkauan Maksimum Manusia Pada Stasiun Kerja Tampak Atas

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

28

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

(www.wewekalong.files.wordpress.com/2008/01/sim-bab-8.doc)

2.5 Melakukan pengukuran waktu Waktu adalah hal yang sangat diperhatikan dalam dunia rekayasa maupun ilmu pengetahuan. Konsep pengukuran waktu pekerjaan manusia merupakan alat pengendalian hasil pekerjaan pekerja di dunia industri. Pengukuran waktu ditunjukkan juga untuk mendapatkan waktu baku dari penyelesain suatu pekerjaan.

2.5.1 Waktu siklus Waktu siklus merupakan waktu yang dibutuhkan seorang operator untuk menyelesaikan 1 siklus pekerjaannya termasuk untuk melakukan kerja manual dan berjalan. Waktu siklus (Tc) biasanya diatur atau dipengaruhi oleh output (Q) yang dikehendaki selama periode waktu produksi (P). Tc =

2.5.2 Performance Rating dengan Metode Westing House dan waktu normal Maksud dan tujuan melakukan performance rating adalah agar waktu kerja lebih tepatnya kondisi kerja yang diamati waktunya dapat dibawa ke kondisi normal. Ketidak normalan dari kerja yang diakibatkan oleh operator yang yang lambat. Westing House Systems Rating merupakan sistem yang diperkenalkan oleh Westing House Company (1927) lebih lengkap dariBedaux. Disini rating didasarkan oleh empat faktor, yaitu : bekerja secara kurang wajar yaitu bekerja dalam tempo atau kecepatan tidak semestinya, suatu saat dirasakan terlalu cepat dan disaat lain terlalu

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

29

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

1) Keterampilan (Skill) Keterampilan didefenisikan sebagai kemampuan mengikuti cara kerja yang ditetapkan. Keterampilan debagi dalam 6 kelas yaitu : super skill, excellent, good, average, fair dan poor skill. 2) Usaha (Effort) Usaha merupakan kesungguhan yang ditunjukkan oleh operator ketika melakukan pekerjaan. Usaha juga terbagi dalam 6 kelasa, yaitu :Excessive, Excelent, Good, Avarage, Fair dan Poor. 3) Kondisi kerja (Working condition) Kondisi kerja adalah kondisi fisik lingkungan kerja, seperti pecahnya, temperatur dan kebisingan ruangan. Kondisi ini juga terbagi atas enam kelas yaitu : Ideal, Excellent, Good, Avarage, Fair dan Poor. Pada dasarnya kondisi ideal adalah kondisi paling cocok untuk pekerjaan yang bersngkutan, yaitu yang memungkinkan performance maksimal dari operator. 4) Keajegan (consistency) Keajegan diperlukan karena pada kenyataannya pada setiap pengukuran waktu angka angka yang dicatat tidak pernah sama. Rating factor pada dasarnya diaplikasikan untuk menormalkan waktu kerja yang diperoleh dari pengukuran waktu kerja akibat kecepatan kerja operator yang berubah ubah. Waktu normal adalah waktu yang diperlukan oleh karyawan normal untuk menyelesaikan satu unit pekerjaan tanpa adanya cadangan waktu apabila terdapat kerusakan-kerusakan kecil, penundaan proses dan lain sebagainya

Waktu normal = waktu pengamatan x

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

30

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

2.5.3 Allowance dan Waktu Baku Allowance adalah waktu kelonggaran yang dibutuhkan oleh operator untuk menghentikan kerja, misalnya untuk istirahat, dan untuk ke belakang. Waktu longgar yang dibutuhkan dan akan menginterupsi proses produksi bisa diklasifikasikan menjadi: a. Personal allowance Kelonggaran waktu untuk kebutuhan yang bersifat pribadi. Misalnya untuk pekerjaan yang ringan selama 8 jam akan dibutuhkan waktu istirahat sekitar 10 24 menit. b. Fatigue Allowance Kelonggaran waktu yang digunakan untuk melepas lelah dan waktu yang diperlukan untuk menghilangkan lelah sangat bergantung dari individu itu sendiri. c. Delay Allowance Delay Allowance merupakan kelonggaran waktu karena keterlambatan keterlambatan,misalnya kerusakan pada mesin kerja. Keterlambatan yang terlalu lama tidak akan dipertimbangkan dalam penentuan waktu baku. Waktu baku adalah waktu kerja dengan mempertimbangkan factor penyesuaian dan faktor kelonggaran (allowance ). Manfaat Waktu Baku : Penjadwalan produksi (Production Schedulling ) Perencanaan kebutuhan tenaga kerja ( Man Power Planning ) Perencanaan sistem kompensasi Menunjukkan kemampuan pekerja berproduksi

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

31

Laporan Praktikum Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi Motion and Time Study Kelompok 21

Mengetahui besaran - besaran performansi sistem kerja berdasar data produksi aktual

2.5.4 Perhitungan Waktu Baku Waktu Baku dapat diperoleh dari:

Waktu Baku= Waktu Normal + ( waktu normal x % allowance) Atau Waktu baku = Waktu normal x (Sritomo, 1995)

Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro Semarang 2011

32