Anda di halaman 1dari 49

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA tentang IRIGASI

JUNI 2006
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL SUMBER DAYA AIR

BAB VI. PEMBERDAYAAN (1)


1. Kab./kota melakukan pemberdayaan P3A 2. Kabupaten/kota menetapkan strategi & program 3. Pem. Prov. memberikan bantuan teknis kpd kab/kota berdasarkan kebutuhan kab./kota dalam: pemberdayaan dinas atau instansi terkait bidang irigasi & perkumpulan petani pemakai air, pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi 4. Pemerintah memberikan bantuan teknis kepada pemerintah kab./kota dan pemerintah provinsi 5. Pemerintah kab./kota, provinsi, dan Pemerintah dapat memberikan bantuan kepada P3A

BAB VI. PEMBERDAYAAN

(2)

6. Ketentuan mengenai pemberdayaan kelembagaan pengelolaan irigasi diatur dengan Peraturan Menteri berkoodinasi dgn Mendagri dan Menteri Pertanian. 7. Pemerintah dan pemerintah daerah : melaksanakan penyuluhan dan penyebarluasan teknologi bidang irigasi hasil litbang kepada masyarakat petani mendorong masyarakat petani untuk menerapkan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan, sumber daya, dan kearifan lokal memfasilitasi & meningkatkan pelaksanaan litbang teknologi bidang irigasi memfasilitasi perlindungan hak penemu & temuan teknologi bidang irigasi

BAB VII ~ BAB IX


VII. PENGELOLAAN AIR IRIGASI VIII. PENGEMBANGAN JARINGAN IRIGASI IX. PENGELOLAAN JARINGAN IRIGASI

LINGKUP PEMBAHASAN BAB VII ~ IX


BAB VII Pengelolaan Air Irigasi
Pengakuan atas Hak Ulayat Hak Guna Air untuk Irigasi Penyediaan Air Irigasi Pengaturan Air Irigasi Drainase Penggunaan Air Irigasi Langsung dari Sumber Air

BAB VIII Pengembangan Jaringan Irigasi


Pembangunan Jaringan Irigasi Peningkatan Jaringan Irigasi

BAB IX Pengelolaan Jaringan Irigasi


Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Rehabilitasi Jaringan Irigasi

PENGEMBANGAN & PENGELOLAAN JARINGAN IRIGASI


PENGEMBANGAN J I Pembangunan Peningkatan OPERASI J I PENGELOLAAN J I Operasi & Pemeliharaan Rehabilitasi PEMELIHARAAN J I REHABILITASI J I

HGA u-I Penyediaan

Rutin

Ringan

Berkala

Sedang

Pembagian

Pengamanan Darurat

Berat

Pemberian Penggunaan

Bagian Kedua: Hak Guna Air untuk Irigasi


adalah hak untuk memperoleh dan memakai atau mengusahakan air dari sumber air untuk kepentingan pertanian.

Pasal 23

Izin prinsip alokasi air


berdasarkan permohonan pengembang utk pembangunan sistem irigasi baru atau peningkatan sistem irigasi yang sdh ada Bupati/walikota, gubernur, atau Menteri berdasarkan hasil kajian ketersediaan air, kebutuhan air irigasi, aspek lingkungan, & kepentingan lainnya setuju atau menolak ditetapkan menjadi hak guna air utk irigasi permintaan: P3A Badan usaha, badan sosial, atau perseorangan berdasarkan

Bagian Kedua: Hak Guna Air untuk Irigasi Hak guna air untuk irigasi:
Hak guna pakai air untuk irigasi Hak guna usaha air untuk irigasi

(lanjutan)

utk pertanian rakyat utk keperluan

pengusahaan di bidang pertanian

Hak guna pakai air untuk irigasi:


diberikan kpd masyarakat petani melalui P3A pd setiap DI di pintu pengambilan di bangunan utama Tanpa izin sistem yang sudah ada Dengan izin sistem irigasi baru & peningkatan sistem yang ada berdasarkan permohonan pemakaian air irigasi Berbentuk Keputusan dari bupati/walikota, gubernur, atau Menteri dilengkapi daftar petak primer, sekunder dan tersier. Dievaluasi setiap 5 tahun Dapat ditinjau kembali

Bagian Kedua: Hak Guna Air untuk Irigasi Hak guna usaha air untuk irigasi:

(lanjutan)

Diberikan dengan izin kepada badan usaha, badan sosial, atau perseorangan utk daerah pelayanan tertentu di pintu pengambilan di bangunan utama Dituangkan dlm bentuk Keputusan dari bupati/walikota, gubernur, atau Menteri berdasarakan permohonan pengusahaan air baku untuk irigasi Diberikan secara selektif dengan tetap mengutamakan penggunaan air untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan irigasi pertanian rakyat Berlaku paling lama 10 tahun dan dapat diperpanjang Dievaluasi setiap 5 tahun Dapat ditinjau kembali Ketentuan lebih lanjut mengenai hak guna air untuk irigasi dengan Peraturan Menteri diatur

Bagian Ketiga: Penyediaan Air Irigasi


adalah penentuan volume air per satuan waktu, yang dialokasikan dari suatu sumber air untuk suatu daerah irigasi yang didasarkan waktu, jumlah dan mutu sesuai kebutuhan untuk menunjang pertanian dan keperluan lainnya.

Pasal 36 (4 ayat)
Ayat (1) Tujuan mendukung produktivitas lahan dalam rangka meningkatkan produksi pertanian yang maksimal Ayat (2) Dapat diberikan dalam batas tertentu untuk pemenuhan kebutuhan lainnya Ayat (3) Direncanakan berdasarkan prakiraan ketersediaan air di sumbernya & digunakan sebagai dasar penyusunan RTT Ayat (4) Pemerintah & pemda mengupayakan optimalisasi pemanfaatan air irigasi Ayat (5) Pemerintah & pemda mengupayakan keandalan ketersediaan air irigasi, pengendalian dan perbaikan mutu air irigasi

Bagian Ketiga : Penyediaan Air Irigasi (lanjutan)


Pasal 37 (5 ayat)
Ayat (1) Ayat (2) Ayat (3) Ayat (4) Ayat (5) Penyusunan RTT dinas kab./kota atau provinsi usulan P3A Penyusunan RTT pada DI kewenangan Pemerintah, selain lintas provinsi dilimpahkan ke gubernur. Penyusunan RTT DI lintas provinsi dilakukan bersama oleh dinas provinsi terkait & dibahas komisi irigasi antarprovinsi RTT pd DI dlm kab./kota dibahas dan disepakati komisi irigasi kab./kota, ditetapkan oleh bupati/walikota Ketentuan mengenai penyediaan air irigasi untuk penyusunan RTT diatur dengan Peraturan Menteri berkoordinasi dgn menteri pertanian

Bagian Ketiga : Penyediaan Air Irigasi (lanjutan)


Pasal 38 (6 ayat) Ayat (1) Penyediaan air irigasi disusun dalam rencana tahunan penyediaan air irigasi Ayat (2) Rancangan rencana tahunan penyediaan disusun oleh dinas kab./kota atau provinsi usulan P3A Ayat (3) Dibahas & disepakati komisi irigasi Ayat (4) Komisi irigasi menyampaikan dalam rapat dewan SDA guna memperoleh alokasi air irigasi. Ayat (5) Penetapan oleh gubernur atau bupati/walikota Ayat (6) Alokasi air irigasi tidak sesuai dengan rancangan P3A menyesuaikan kembali RTT

Bagian Ketiga : Penyediaan Air Irigasi

(lanjutan)

Pasal 39
Ayat (2) Rancangan rencana tahunan penyediaan air irigasi DI lintas provinsi & strategis nasional yang belum dilimpahkan disusun oleh instansi pusat, disepakati Komisi Irigasi antar provinsi Ayat (3&5) Komisi Irigasi antarprovinsi menyampaikan dalam rapat dewan SDA guna mendapatkan alokasi air irigasi ditetapkan oleh Menteri sbg rencana tahunan penyediaan air irigasi

Pasal 40
Kekurangan air irigasi Pemerintah dan pemda: mengupayakan tambahan pasokan air irigasi dari sumber air lainnya; atau Melakukan penyesuaian penyediaan dan pengaturan air irigasi setelah dibahas Komisi Irigasi.

Bagian Keempat : Pengaturan Air Irigasi

(lanjutan)

Pasal 41 (5 ayat)
Ayat (1) Pengaturan air irigasi didasarkan atas rencana tahunan pengaturan air irigasi yg memuat rencana tahunan pembagian & pemberian air irigasi Ayat (2) Rancangan rencana tahunan pembagian dan pemberian air irigasi disusun oleh dinas kab./kota atau provinsi Ayat (3) Dibahas & disepakati oleh Komisi Irigasi dengan memperhatikan kebutuhan air irigasi Ayat (4) Rancangan yg disepakati KomIr ditetapkan oleh bupati/walikota atau gubernur Ayat (5) Pembagian dan pemberian air irigasi dimulai dari petak primer, sekunder sampai dengan tersier dilakukan oleh pelaksana pengelolaan irigasi

Bagian Keempat : Pengaturan Air Irigasi (lanjutan) Pasal 42 (6 ayat) Ayat (1) Rancangan rencana tahunan pembagian dan pemberian air irigasi DI lintas provinsi dan strategis nasional yang belum dilimpahkan kepada pemda disusun oleh instansi pusat usulan P3A Ayat (2) Dibahas & disepakati KomIr antar provinsi Ayat (4) Rancangan yang disepakati KomIr Menteri ditetapkan

Ayat (6) Pembagian dan pemberian air irigasi dimulai dari petak primer, sekunder sampai dengan tersier dilakukan oleh pelaksana pengelolaan irigasi

Bagian Keempat : Pengaturan Air Irigasi

(lanjutan)

Pasal 43
Pembagian air irigasi dlm jaringan primer dan/atau jaringan sekunder melalui bangunan-bagi Pemberian air irigasi ke petak tersier melalui bangunan-sadap.

Pasal 44
Penggunaan air irigasi di tingkat tersier P3A hak dan tanggung jawab

Pasal 45
Penyediaan air irigasi tidak mencukupi dilakukan secara bergilir ditetapkan oleh dinas kab./kota, provinsi, atau instansi pusat

Bagian Kelima : Drainase

adalah pengaliran kelebihan air yang sudah tidak dipergunakan lagi pada suatu daerah irigasi tertentu .

Pasal 46 (5 ayat)
Ayat (1) Ayat (2) Ayat (3) Ayat (4) Ayat (5) Setiap pembangunan jaringan irigasi pembangunan jaringan drainase dilengkapi

Fungsi jaringan drainase mengalirkan kelebihan air agar tidak mengganggu produktivitas lahan. Kelebihan air irigasi melalui jaringan drainase harus dijaga mutunya dengan pencegahan pencemaran Baik pemerintah dan masyarakat wajib menjaga kelangsungan fungsi jaringan drainase. Larangan mendirikan bangunan atau melakukan tindakan yg dapat mengganggu fungsi jaringan drainase

Bagian Ketujuh: Penggunaan Air Irigasi Langsung dari Sumber Air

Pasal 47 (2 ayat)
Ayat (1) Penggunaan air irigasi yang diambil langsung dari sumber air permukaan izin dari pemerintah kabupaten/kota, pemerintah provinsi, atau Pemerintah Penggunaan air irigasi yang diambil langsung dari cekungan air tanah izin dari pemerintah kabupaten/kota

Ayat (2)

BAB VIII. PENGEMBANGAN JARINGAN IRIGASI


Bagian Kesatu : Pembangunan Jaringan Irigasi

adalah seluruh kegiatan penyediaan jaringan irigasi di wilayah tertentu yang belum ada jaringan irigasinya

Pasal 48
Ayat (1) Pembangunan jaringan irigasi berdasarkan rencana induk pengelolaan SDA di wilayah sungai memperhatikan rencana pembangunan pertanian

Bagian Kesatu : Pembangunan Jaringan Irigasi

(lanjutan)

Pasal 49
Ayat (1) Ayat (2) Ayat (3) Ayat (4) Ayat (5) Primer dan sekunder tgjwb pemerintah Primer dan sekunder dapat dilakukan P3A izin Tersier tanggung jawab P3A Pem. kab/kota, pem. provinsi, atau Pemerintah dapat membantu pembangunan tersier permintaan P3A Badan usaha, badan sosial, atau perseorangan yang memanfaatkan jaringan irigasi pemerintah dpt membangun jar. irigasi izin dan persetujuan desain.

Pasal 50
Ketentuan mengenai tata cara pemberian izin pembangunan jaringan irigasi ditetapkan dengan Peraturan Menteri

Bagian Kedua : Peningkatan Jaringan Irigasi


adalah meningkatkan fungsi dan kondisi jaringan irigasi yang sudah ada atau kegiatan menambah luas areal pelayanan pada jaringan irigasi yang sudah ada dengan mempertimbangkan perubahan kondisi lingkungan daerah irigasi.

Pasal 51
Peningkatan jaringan irigasi: - berdasarkan rencana induk pengelolaan SDA; diwilayah sungai; - dengan memperhatikan rencana pembangunan pertanian.

Bagian Kedua : Peningkatan Jaringan Irigasi

(lanjutan)

Pasal 52 (5 ayat)
Ayat (1) Ayat (2) Ayat (3) Ayat (4) Ayat (5) Jar. Irigasi primer & sekunder tanggung jawab pemerintah Primer & sekunder dapat dilakukan P3A izin Tersier tanggung jawab P3A Pem. kab/kota, pem.provinsi, atau Pemerintah dapat membantu tersier permintaan P3A Badan usaha, badan sosial, atau perseorangan yang memanfaatkan jar. irigasi pemerintah dpt meningkatkan jar. irigasi izin dan persetujuan disain

Bagian Kedua : Peningkatan Jaringan Irigasi

(lanjutan)

Pasal 53
Ayat (1) Pengubahan dan/atau pembongkaran jaringan irigasi primer dan sekunder izin dari bupati/walikota, gubernur, atau Menteri Ayat (2) Pengubahan dan/atau pembongkaran jaringan irigasi tersier persetujuan dari P3A

Pasal 54 (2 ayat)
Ayat (1) Pembangunan dan/atau peningkatan jaringan irigasi bersamaan dengan pengembangan lahan pertanian beririgasi sesuai rencana dan program pengembangan pertanian mempertimbangkan kesiapan petani setempat Ayat (2) Ketentuan pelaksanaan pengembangan lahan pertanian Peraturan Menteri yang membidangi pertanian setelah berkoordinasi dengan Menteri.

BAB IX. PENGELOLAAN JARINGAN IRIGASI


Bagian Kesatu : O dan P Jaringan Irigasi

Pasal 55
Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi sesuai NSPM

Pasal 56 (6 ayat)
Ayat (1) O&P primer dan sekunder wewenang & tgjwb pemerintah Ayat (2) P3A sesuai keinginan & kemampuannya dapat berperan serta O&P jar. irigasi primer & sekunder Ayat (3) P3A dapat mengawasi O&P primer & sekunder Ayat (4) O&P primer dan sekunder berdasarkan rencana tahunan O&P yang disepakati tertulis antara pemerintah, P3A, dan pengguna jaringan irigasi Ayat (5) O&P tersier hak & tgjwb. P3A Ayat (6) O&P milik badan usaha, badan sosial, perseorangan tanggung jawab bersangkutan

Bagian Kesatu : O dan P Jaringan Irigasi (lanjutan)

Pasal 57
Dalam O&P tersier pem. kab./kota, pem. provinsi, atau Pemerintah dapat memberikan bantuan dan/atau dukungan fasilitas berdasarkan permintaan dari P3A dengan memperhatikan prinsip kemandirian.

Pasal 58
Setelah berkonsultasi dg P3A, pemerintah menetapkan waktu pengeringan dan bagian jaringan irigasi yg hrs dikeringkan Pengeringan dilakukan untuk keperluan pemeriksaan pemeliharaan jaringan irigasi. dan

Bagian Kesatu : O dan P Jaringan Irigasi (lanjutan)


Pengamanan jaringan irigasi adalah upaya untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya kerusakan jaringan irigasi yang disebabkan oleh hewan, manusia, atau daya alam guna mempertahankan fungsi jaringan irigasi.

Pasal 59
Ayat (1) Tujuan pengamanan jaringan irigasi untuk mencegah kerusakan jaringan irigasi yang diakibatkan oleh hewan, manusia, atau daya alam Ayat (2) Pengamanan jaringan irigasi oleh instansi pem. kab/kota, instansi pem. provinsi, instansi Pemerintah, perkumpulan petani pemakai air, dan pihak lain.

Bagian Kesatu : O dan P Jaringan Irigasi (lanjutan)

Pasal 61 60
Ayat (1) Ayat (2) Ayat (3) Ayat (4) Dalam rangka pengamanan jaringan irigasi perlu penetapan garis sempadan Pemerintah menetapkan garis sempadan Pem. kab./kota menetapkan larangan membuat galian pada jarak tertentu di luar sempadan Dilarang mengubah dan/atau membongkar bangunan irigasi, serta mendirikan bangunan lain kecuali atas izin

Pasal 61
Ketentuan O&P jaringan irigasi, penetapan garis sempadan jaringan irigasi, dan pengamanan jaringan irigasi Peraturan Menteri

Bagian Kedua : Rehabilitasi Jaringan Irigasi


adalah kegiatan perbaikan jaringan irigasi guna mengembalikan fungsi dan pelayanan irigasi seperti semula.

Pasal 62
Rehabilitasi jaringan irigasi dilaksanakan berdasarkan urutan prioritas kebutuhan perbaikan irigasi (Ayat 1) Rehabilitasi jaringan irigasi persetujuan desain dan izin (Ayat 2) Pem. kab/kota, pem. provinsi, atau Pemerintah melaksanakan pengawasan (Ayat 3)

Bagian Kedua : Rehabilitasi Jaringan Irigasi (lanjutan)

Pasal 63
Ayat (1) Ayat (2) Primer dan sekunder tgjwb pemerintah P3A sesuai dgn kebutuhan & kemampuannya dpt berperan serta dalam primer dan sekunder berdasarkan persetujuan dari pem. kab/kota, pem. prov., atau Pemerintah Tersier hak dan tgjwb P3A Dalam hal P3A tidak mampu pemerintah dapat membantu permintaan P3A dengan memperhatikan prinsip kemandirian Badan usaha, badan sosial, perseorangan, atau perkumpulan petani pemakai air bertgjwb dalam rehabilitasi jaringan irigasi yang dibangunnya

Ayat (3) Ayat (4)

Ayat (5)

Bagian Kedua : Rehabilitasi Jaringan Irigasi (lanjutan)

Pasal 64
Rehabilitasi jaringan irigasi yang mengakibatkan pengubahan dan/atau pembongkaran jaringan irigasi primer dan sekunder izin bupati/walikota, gubernur, atau Menteri Pengubahan dan/atau pembongkaran jaringan irigasi tersier persetujuan dari P3A

BAB X ~ BAB XVI


X. XI. XII. XIII. XIV. XV. XVI. PENGELOLAAN ASET IRIGASI PEMBIAYAAN ALIH FUNGSI LAHAN BERIRIGASI KOORDINASI PENGELOLAAN SISTEM IRIGASI PENGAWASAN KETENTUAN PERALIHAN KETENTUAN PENUTUP

BAB X. PENGELOLAAN ASET IRIGASI (65~73) 1. Pengelolaan Aset Irigasi, meliputi :


Inventarisasi; Siklus Manajemen Perencanaan Pengelolaan; Pelaksanaan Pengelolaan; Evaluasi Pelaksanaan Pengelolaan;dan Pemutakhiran Hasil Inventarisasi Aset Irigasi.

Pedoman lebih lanjut diatur dengan Peraturan Menteri (Psl 73)

2. Inventarisasi Aset Irigasi (Psl 66-67) :


Aset irigasi terdiri dari:
- jaringan irigasi - pendukung pengelolaan irigasi.

Tujuan inventarisasi aset jaringan irigasi :


mendapatkan data jumlah, dimensi, jenis, kondisi, dan fungsi seluruh aset irigasi serta data ketersediaan air, nilai aset, dan areal pelayanan pada setiap DI

Tujuan inventarisasi pendukung pengelolaan irigasi


mendapatkan data jumlah, spesifikasi, kondisi, dan fungsi fasilitas pendukung pengelolaan irigasi.

2. Inventarisasi Aset Irigasi (Psl 66-67) lanjutan: Wewenang & Tgjwb dalam inventarisasi aset:
- Pemerintah sesuai dengan kewenangannya (inventarisasi meliputi kompilasinya) - Badan usaha, badan sosial, perseorangan, P3A, dan pemerintah desa melakukan inventarisasi aset irigasi yang menjadi tanggung jawabnya untuk membantu pemerintah kabupaten/kota, pemerintah provinsi, atau Pemerintah melakukan kompilasi - Dokumen inventarisasi aset irigasi nasional oleh Pemerintah

Pelaksanaan :
Inventarisasi Jar. Irigasi

1 tahun sekali; 5 tahun

Inventarisasi Pendukung Pengelolaan Irigasi

sekali; Hasil : Dokumen inventarisasi aset irigasi

untuk mengembangkan sistim informasi irigasi (subsistem informasi SDA).

3. Perencanaan Pengelolaan Aset Irigasi (Psl 68) : Kegiatan : analisis data hasil inventarisasi aset irigasi dan perumusan rencana tindak lanjut
mengoptimalkan pemanfaatan aset irigasi

Wewenang dan Tanggung Jawab :


- pemerintah sesuai dengan kewenangannya menyusun dan menetapkan rencana pengelolaan aset irigasi - Badan usaha, badan sosial, perseorangan, atau P3A menyusun rencana pengelolaan aset irigasi yang menjadi tanggung jawabnya

Proses : terpadu, transparan, dan akuntabel dengan


melibatkan semua pemakai air irigasi dan pengguna jaringan irigasi

Periodik : 5 tahun sekali (penyusunan dan


penetapannya)

4. Pelaksanaan Pengelolaan Aset Irigasi ( Psl 69) : Prinsip : berkelanjutan, sesuai rencana yg telah ditetapkan Pelaku : Dinas kab./kota, dinas prov, atau instansi pusat yg membidangi irigasi sesuai dengan tanggung jawabnya Badan usaha, sosial, perseorangan, dan P3A utk DI yg menjadi tanggung jawabnya (termasuk perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pemutakhiran hasil inventarisasi aset irigasi).

5. Evaluasi Pengelolaan Aset Irigasi ( Psl 71): Pelaku :


Bupati/walikota, gubernur, atau Menteri sesuai dengan kewenangannya Badan usaha, badan sosial, perseorangan, atau perkumpulan petani pemakai air membantu bupati/walikota, gubernur, atau Menteri dalam DI yang menjadi tanggung jawabnya

Periodik : 1 tahun Tujuan : kaji ulang kesesuaian rencana dan pelaksanaan


masukan untuk pengelolaan aset tahun berikut

6. Pemutakhiran Hasil Inventarisasi Aset Irigasi ( Psl 72 ): Pelaku : Pem. kab/kota, pem. provinsi, atau Pemerintah
sesuai dengan kewenangannya

BAB X. PENGELOLAAN ASET IRIGASI (Lanjutan)

Pedoman Pengelolaan Aset Irigasi ( Psl 73): Pedoman mengenai pengelolaan aset irigasi diatur dengan Peraturan Menteri

BAB X. PENGELOLAAN ASET IRIGASI (Resume)


DAERAH IRIGASI
DATA
KONDISI JARINGAN IRIGASI FISIK JARINGAN KETERSEDIAAN AIR AREAL PELAYANAN FASILITAS PENDUKUNG FUNGSI
1 THN SEKALI

SISTEM INFORMASI IRIGASI


(SUB SISTEM DARI SISTEM INF. S D A)

PEDOMAN PENGELOLAAN. ASET ANALISIS PERUMUSAN TINDAK LANJUT


5 THN SEKALI

PEMERINTAH, PEMDA P3A, BADAN USAHA, BADAN SOSIAL, PERSEORANGAN

5 THN SEKALI

RENCANA PENGELOLAAN MANFAAT OPTIMAL

KOMPILASI KOMPILASI KOMPILASI

KABUPATEN / KOTA PROVINSI NASIONAL

Bab XI. PEMBIAYAAN (Psl 74-81)


1. Pembiayaan, meliputi : Pengembangan (Pasal 74); Pengelolaan (Pasal 75-79); Keterpaduan Pembiayaan Pengelolaan (Pasal 80); Mekanisme Pembiayaan Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi (Pasal 81) PEMBANGUNAN PENGEMBANGAN PENINGKATAN OPERASI PENGELOLAAN PEMELIHARAAN REHABILITASI Lembaga Penyelenggara
PEMERINTAH Pusat provinsi kabupaten / kota

P3A PIHAK LAIN

LOKASI Wilayah Administratif (di Dalam, Lintas &Strtgs ) Strata Luasan

2. Pengembangan ( Pasal 74 ): Jar. Irigasi Primer dan Sekunder : pemerintah sesuai dengan kewenangannya Jar. Irigasi Tersier : Tanggung Jawab P3A (kec. bang. sadap, sal 50 m dr bang.sadap, boks tersier, bang. pelengkap), dpt dibantu pemerintah berdsrkan permintaan (jika P3A tidak mampu), prinsip kemandirian Jar. Irigasi selain oleh pemerintah (badan usaha, sosial, perseorangan,pemakai air lainnya) : tanggung jawab pihak yg membangun Kepentingan mendesak utk DI tertentu: pemerintah antarstrata dapat saling bekerjasama

3. Pengelolaan (Pasal 75 79): Jar. Irigasi Primer dan Sekunder : - Tgjwb pemerintah sesuai dengan kewenangannya - Didasarkan atas angka kebutuhan nyata pengelolaan irigasi pada setiap DI dilakukan bersama antara pemerintah dengan P3A berdasarkan penelusuran jaringan dengan memperhatikan kontribusi P3A - Prioritas penggunaan pembiayaan disepakati antara pemerintah dengan P3A Kepentingan mendesak pada DI tertentu: pemerintah antar strata dapat saling bekerjasama dalam pembiayaan

2. Pengelolaan ( Pasal 75 79 ): Jar. Irigasi Tersier : Tanggung Jawab P3A, dpt dibantu pemerintah berdasarkan permintaan, prinsip kemandirian Jar. Irigasi selain oleh pemerintah : tanggung jawab pihak yg membangun Pengguna jaringan irigasi wajib ikut serta dalam pembiayaan O,P, & R jaringan irigasi yang dibangun oleh pemerintah sesuai dengan kewenangannya Operasional komisi irigasi kabupaten/kota dan forum koordinasi daerah irigasi : tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota Operasional komisi irigasi provinsi, dan komisi irigasi antarprovinsi: tanggung jawab pemerintah provinsi.

3. Keterpaduan Pembiayaan ( Pasal 80 ): urgensi : mencegah tumpang tindih dan kesenjangan dalam pembiayaan antar D I
Komisi Irigasi Prov : koordinasi dan keterpaduan perencancaan biaya Jar. Irg. di wil.kab./kota (tanggung jawab pemerintah) sesuai usulan prioritas alokasi DPI oleh KOMIR kab./kota Komisi irigasi antarprovinsi : koordinasi dan keterpaduan perencanaan pembiayaan jaringan irigasi lintas provinsi mengacu pada usulan prioritas alokasi DPI oleh komisi irigasi provinsi

4. Mekanisme Pembiayaan Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi ( Pasal 81):


Ketentuan lebih lanjut peraturan menteri yang bertanggung jawab di bidang keuangan usulan dari Menteri

BAB XII. ALIH FUNGSI LAHAN BERIRIGASI (Pasal 82-83)


Urgensi : Menjamin kelestarian fungsi dan manfaat jaringan irigasi.

Wewenang dan tanggung jawab : Instansi di bidang irigasi berperan mengendalikan alih fungsi lahan. Pemerintah menetapkan wilayah potensial irigasi Pemerintah sesuai dengan kewenangannya : Mengupayakan
penggantian lahan beririgasi serta jaringannya.

Alih fungsi lahan tidak dapat dilakukan, kecuali :


a. Perubahan RTRW. b. Bencana alam.

Penataan ulang sistem irigasi : bila sebagian jaringan irigasi


atau sebagian lahan beririgasi beralih fungsi

BAB XIII. KOORDINASI PENGELOLAAN SISTEM IRIGASI (Psl 84)


Urgensi : menjamin terwujudnya fungsi dan manfaat irigasi yang optimal diperlukan koordinasi pengelolaan sistem irigasi antardaerah irigasi dan antarsektor terkait Oleh Apa ? melalui dan antar komisi irigasi dan/atau forum koordinasi daerah irigasi. Dengan Dewan Sumber Daya Air, bag. hub.nya ? KOMIRDewan SDA : sifat konsultatif dan koordinatif. Koordinasi pada DI kewenangan kab./kota dan yang sudah dilimpahkan kpd kabupaten/kota dilaksanakan melalui Komisi Irigasi Kabupaten/Kota

BAB XIII. KOORDINASI PENGELOLAAN SISTEM IRIGASI (Psl 84)


lanjutan

Koordinasi pada DI kewenangan provinsi, strategis nasional, dan DI baik yang sudah maupun yang belum dilimpahkan kpd provinsi dilaksanakan melalui komisi irigasi provinsi berkoordinasi dengan seluruh komisi irigasi kabupaten/kota dan komisi irigasi antarprovinsi. Koordinasi pada DI lintas provinsi dan DI baik yang sudah maupun yang belum dilimpahkan kpd provinsi masing-masing dapat dilaksanakan melalui komisi irigasi antarprovinsi Koordinasi yang jaringannya multiguna forum koordinasi daerah irigasi dapat melalui

BAB XIV. PENGAWASAN (Pasal 85)


Pelaksana ? pemerintah sesuai kewenangannya dgn melibatkan
peran masyarakat

Bentuk kegiatan:
pemantauan dan evaluasi agar sesuai dengan norma, standar, pedoman, dan manual; - pelaporan; - pemberian rekomendasi; dan - penertiban Bentuk peran masyarakat ? laporan dan/atau pengaduan kepada pihak yang berwenang Prasarana ? informasi pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi secara terbuka untuk umum Ketentuan lebih lanjut dengan Peraturan Menteri -

Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan pengembangan


dan pengelolaan sistem irigasi yang dilakukan oleh pemda diatur dengan peraturan daerah

File : Ekspose RPP Irigasi Pak. Tommy Versi JUNI 2006

Beri Nilai