Anda di halaman 1dari 6

ATRACURIUM BESYLATE

PENDAHULUAN Relaksasi otot lurik dpat dicapai dengan mendalamkan anesthesia umum inhalasi, melakukan blockade saraf regional dan memberikan pelumpuh otot. Pendalaman anesthesia beresiko depresi napas dan depresi jantung, sehingga terbatas penggunaannya. Sejak ditemukannya penawar pelumpuh otot dan penawar opioid, penggunaan pelumpuh otot dan opioid hamper rutin. Anestesia tidak perlu dalam, hanya sekedar supaya tidak sadar, analgesi dengan opioid dosis tinggi dan otot lurik dapat relaksasi dengan pemberian pelumpuh otot, sehingga tercapai the triad of anesthesia. Pelumpuh otot dibagi menjadi 2 kelompok, :
1. Pelumpuh Otot Depolarisasi (nonkompetitif, leptokurare)

Bekerja seperti asetilkolin, tetapi tak dirusak oleh kolinesterase.


2. Pelumpuh Otot Nondepolarisasi (inhibitor kompetitif, takikurare)

Berikatan dengan reseptor nikotinik-kolinergik, sehingga menghalangi asetilkolin menempatinya.

DEFINISI Atrakurium merupakan salah satu obat penghambat neuromuskuler non-depolarisasi (inhibitor kompetitif, takikurare), dengan masa kerja menengah,(durasi sekitar 20-45 menit). Obat ini termasuk dalam golongan benzilisokuinolinium, bersama-sama dengan doksakurium, mivakurium, dan sisatrakurium. Atrakurium digunakan sebagai tambahan dalam anesthesia umum, untuk memfasilitasi pemasangan intubasi endotracheal dan untuk memberikan relaksasi otot skeletal selama pembedahan atau ventilasi mekanis.

MEKANISME Penghambat otot non-depolarisasi berikatan dengan reseptor nikotinik-kolinergik, tetapi tidak menyebabkan depolarisasi, hanya menghalangi aselkolin menempatinya, sehingga asetilkolin tidak dapat bekerja. Atrakurium stabil hanya bila disimpan pada suhu dingin dan pH rendah.,Atrakurium dimetabolisme secara ekstensif sehingga farmakokinetiknya tidak bergantung pada fungsi ginjal dan hati. Sekitar 10% dari obat ini diekskresi tanpa dimetabolisme melalui ginjal dan empedu. Dua proses terpisah berperan dalam metabolisme. Pertama, hidrolisis ester yang dikatalisis oleh esterase nonspesifik, bukan oleh asetilkolinesterase atau pseudokolinesterase. Kedua, melalui eliminasi Hoffmann di mana penghancuran kimia nonenzimatik spontan terjadi pada pH dan suhu fisiologis. Keunggulan Atrakurium, adalah : 1. Mekanisme terjadi di dalam darah (plasma) melalui suatu reaksi kimia unik yang disebut eliminasi Hoffman. Reaksi ini tidak tergantung pada fungi hati atau ginjal. 2. Tidak mempunyai efek kumulasi pada pemberian berulang. 3. Tidak menyebabkan perubahan kardiovaskuler yang bermakna.

FARMAKOKINETIK Awitan aksi : < 3 menit Afek puncak : 3 5 menit Lama aksi : 20 35 menit. Setelah injeksi IV, blokade neuromuskuler maksimal umumnya terjadi dalam waktu 3-5 menit.. Durasi maksimal blokade meningkat sesuai dengan meningkatnya dosis. Alkalosis sistemik dapat mengurangi derajat dan durasi blokade, asidosis. Dalam hubungannya dengan anestesi seimbang, durasi blokade umumnya bertahan selama 20-35 menit. DOSIS

Absorbsi sempurna pada pemberian inravena. Atrakurium tidak boleh digunakan pada pemberian intamuskuler, karena dapat menyebabkan iritasi jaringan. Pemberian atrakurium dilakukan setelah pasien tidak sadar. Dosis awal : 0.5-0.6 mg/kgBB IV Maintenance : 0.08-0.1 mg/kgBB IV Setelah dosis bolus awal , atrakurium, dapat diberikan sebagai infus kontinu pada tingkat 0,3 sampai 0,6 mg / kg / jam, dapat digunakan untuk menjaga blok neuromuskuler selama prosedur bedah yang panjang. Dosis pada anak usia 1 bulan sampai 2 tahun, dibawah induksi Halotan, adalah 0.3-0.4 mg/kgBB. Kebutuhan dosis tidak bervariasi sesuai usia, namun atracurium dapat bekerja lebih singkat pada anak-anak dan bayi dari pada orang dewasa. Atrakurium tersedia dalam solutio 10 mg/mL, yag sebaiknya disimpan pada suhu 28C karena potensinya akan berkurang 5 10% tiap bulan bila terekspos suhu ruangan. Pada suhu ruangan obat ini harus digunakan dalam waktu 14 hari untuk menjaga potensi.

INTERAKSI / TOKSISITAS Kebutuhan dosis berkurang dan lama blokade neuromuskuler diperpanjang hingga 25% oleh anestetik volatile. Dosis pra pengobatan atracurium mengurangi fasikulasi tetapi menurunkan intensitas dan memperpendek lamanya blokade neuromuskuler dari suksinilkolin. Peningkatan blokade neuromuskuler akan terjadi pada pasien dengan miastenia gravis. Efeknya diantagonisir oleh inhibitor antikolinesterase, seperti neostigmin, endrofonium, dan piridostigmin.

EFEK SAMPING Pemberian atrakurium melebihi dosis 0.6 mg/kgBB akan menyebabkan pelepasan histamine. Efek samping lain yang telah dilaporkan adalah :

Umum: Reaksi alergi (misalnya anafilaksis atau tanggapan anaphylactoid) yang pada contoh yang jarang bahwa yang parah (misalnya syok, gagal jantung, serangan jantung), angioneurotic edema. Muskuloskeletal: blok yang tidak memadai, blok berkepanjangan. Kardiovaskular: Hipotensi, hipertensi, vasodilatasi (flushing), takikardia, bradikardia, hipoksemia. Pernapasan: Dispnea, bronkospasme, laryngospasm, mengi Dermatologi: rash, urtikaria, eritema generalisata, kulit memerah, reaksi pada tempat injeksi.

KONTRAINDIKASI Kontraindikasi pada pasien yang hipersensitifitas dengan atrakurium, asam benzesulfonik, atau benzyl alhokhol. Penggunaan secara hati-hati pada pasien yang mempunyai riwayat penyakit paru, kardiovaskuler, asma atau riwayat alergi berat, lansia, dan miastenia gravis.

DAFTAR PUSAKA
1. Latief,A,Said dkk. Petunjuk Praktis Anastesiologi. Edisi Kedua.

Pelumpuh Otot.

Fakultas Kedokteran UI. Jakarta, hal 66 68 .


2. Hopfer, Judith. Pedoman Obat untuk Perawat. Edisi IV. EGC. 3. www.druglib.com/ druginfo/atracurium/indications_dosage/

TUGAS REFERAT ANESTESI

ATRAKURIUM BESILATE

OLEH : ANNISA (1102005025)

PEMBIMBING : Dr. H. A.B. LUBIS, SpAn

KEPANITERAAN KLINIK ANESTESI RS. TK II M. RIDWAN MEURAKSA JAKARTA 2011