Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH PENGKAJIAN FETAL A.

PROFIL BIOFISIK ( BPP )


Profil biofisik merupakan tes non invasive yang digunakan untuk memprediksikan ada tidaknya asfiksia dan akhirnya beresiko terjadinya kematian janin pada periode antenatal.Ketika BPP mengidentifikasikan adanya keadaan janin yang mencurigakan , dapat dilakukan langkah langkah pencegahan sebelum terjadi asidodid metabolic yang progresif yang dapat menyababkan kematian janin. BPP menyatukan data dari dua sumber yaitu : gambaran ultrasonografi dan monitoring denyut jantung janin. Ultrasonografi dynamic realtime B mode digunakan untuk menghitung volume cairan amnion ( AVF ) dan untuk mengobservasi beberapa tipe pergerakan janin. Denyut jantung janin yang didapat dengan pulsed Doppler transducer diintegrasikan high speed microprocessor yang menyediakan pembacaan terbaru secara kontinyu. Biasanya , pemeriksaan BPP ini memerlukan waktu 30 sampai 60 menit. Manning dkk ( 1980 ) mengajukan pemakaian gabungan lima variable biofisik janin sebagai cara yang lebih akurat untuk menilai kesehatan janin daripada pemakaian masing masing variable tersebut secara tersendiri. Mereka berhipotesis bahwa dengan mempertimbangkan lima variable tersebut , hasil uji yang positif palsu atau negative palsu dapat dikurangi secara bermakna . Lima komponen biofisik yang dinilai mencakup : 1.Akselerasi denyut jantung janin. 2.Pernafasan janin. 3.Gerakan janin. 4.Tonus janin. 5.Volume cairan amnion.

Masing masing variable normal diberi skor 2 dan variable abnormal diberi skor 0. Dengan demikian , skor tertinggi yang mungkin untuk janin normal adalah 10 normal : ( nilai = 2 ) Komponen biofisik abnormal : ( nilai = 0 ) Komponen biofisik Pernafasan Janin Gerakan janin Normal ( Nilai = 2 ) 1 Episode atau 20 dalam 30 menit 2 Gerakan atau lebih dari bagian tubuh yang berbeda dalam 30 menit ( gerakan aktif dalam satu episode dengan gerakan terus menerus dianggap sebagai satu gerakan ) 1 gerakan ekstensi dan fleksi kembali dari ekstremitas atau batang tubuh ( gerakan membuka dan menutup tangan dianggap sebagai tonus normal ) 2 Akselerasi atau 15 bmp* dan 15 kali berhubungan dengan pergerakan janin dalam 20 menit 1 Kantung cairan amnion atau lebih 2 Cm dalam axis vertikal Abnormal ( Nilai = 0 ) Tidak ada nafas atau 20 dalam 30 menit ( 2 ) gerakan tubuh dalam 30 menit Komponen biofisik

Fetal tone

Akselerasi denyut jantung janin Volume cairan amnion

Ekstensi yang lambat dan kembalinya ke sebagian fleksi, gerakan ekstensi maksimal ekstremitas , tidak ada gerakan janin, atau membukanya sebagian tangan janin 1 Akselerasi atau lebih episode akselerasi dalam

Tidak ada kantung atau kantung 2 dalam axis vertikal Tabel 2 2 Kriteria penilaian variabel BPP

Kopecky dkk ( 2000 ) mengobservasi 10 15 mg morfin yang diberikan pada bumil menyebabkan penurunan yang signifikan . Pada penilaian biofisik akibat supresi pernafasan janin dan akselerasi denyut jantung janin.

Manning dkk ( 1987 ) memeriksa lebih dari 19.000 kehamilan dengan menggunakan interpretasi dan penatalaksanaan profil biofisik. Mereka laporkan angka uji positif palsu yang didefinisikan sebagai kematian anrepartum pada janin yang secara struktur normal sekitar 1 1000. Kausa kematian janin yang paling sering teridentifikasi setelah pemeriksaan profil

biofisik yang normal adalah perdarahan dari janin ke ibu , cedera tali pusat , dan solution placenta ( Dayal dkk , 1999 ). Kausa yang dapat diidentifikasi , dijumpai hampir pada 2 3 kematian janin. Manning dkk ( 1993 ) mempublikasikan suatu deskripsi lengkap 493 janin yang skor biofisiknya dihitung segera sebelum dilakukan pengukuran nilai PH darah vena umbilikalis yang diambil melalui kordosentesis. Sekitar 20 % dari janin yang diperiksa mengalami hambatan pertumbuhan dan sisanya mengalami anemia hemolitik otoimun. Skor biofisik nol selalu berkaitan dengan asidemia janin yang bermakna , sedangkan skor normal 8 atau 10 berkaitan dengan PH yang normal. Hasil uji yang tidak jelas skor 6 merupakan predictor yang buruk untuk hasil akhir abnormal. Penurunan dari hasil abnormal skor 2 atau 4 menjadi skor yang sangat abnormal ( nol ) secara progresif merupakan predictor akurat kelainan hasil akhir kehamilan.

Demikian juga Salvesen dkk ( 1993 ) menghubungkan hasil profil biofisik dengan PH darah vena umbilikalis yang diambil melalui kordosentesis pada 41 kehamilan dengan penyulit diabetes. Mereka juga mendapatkan bahwa PH abnormal secara bermakna Berkaitan dengan penurunan skor profil biofisik , namun mereka menyimpulkan bahwa profil biofisik tidak banyak bermanfaat dalam memperkirakan PH janin , karena Sembilan janin dengan asidemia ringan memperlihatkan uji antepartum normal .

Weiner dkk ( 1996 ) menilai makna uji uji janin antepartum pada 135 janin yang jelas mengalami hambatan pertumbuhan dan sampai pada

kesimpulan serupa. Mereka mendapatkan bahwa morbiditas dan mortalitas pada janin yang mengalami hambatan pertumbuhan berat terutama

ditentukan oleh usia gestasi dan bukan oleh uji janin yang abnormal.

Biophysical profile score 10

Interpretation Normal, nonasphyxiated

8 Normal fluid 8 Oligohydramnios 6

Normal , nonasphyxiated fetus Chronic fetal asphyxia suspected Possible fetal asphyxia

4 0-2

Probable fetal asphyxia Almost certain fetal asphyxia

Recommended Management No fetal indication for intervention ; repeat test weekly expect in diabetic patient and postterm pregnancy ( twice weekly ) No fetal indication for intervention ; repeat testing per protocol Deliver if 37 weeks,otherwise repeat testing If amnionic fluid volume abnormal , deliver If normal fluid at 36 ek with favorable cervix , deliver If repeat test 6 , deliver If repeat test 6 , observe and repeat per protocol Repeat testing same day ; if biophysical profile score 6 , deliver Deliver

Tabel 2 3 Nilai BPP modifikasi , interpretasi dan manajemen kehamilan

B.PROFIL BIOFISIK MODIFIKASI


Karena profil biofisik menghabiskan banyak tenaga dan memerlukan petugas yang terlatih untuk memvisualisasi janin secara ultasonografis , Clark dkk ( 1989 ) menggunakan suatu profil biofisik ringkas sebagai uji penapis antepartum lini pertama. Secara spesifik , mereka melakukan uji

nonstress Vibroakustik dua kali seminngu pada 2628 kehamilan tunggal. Uji biasanya hanya memerlukan waktu 10 menit. Para peneliti ini menyimpulkan bahwa profil biofisik ringkas ini merupakan metode yang sangat baik untuk melakukan surveilans antepartum karena tidak dijumpai kematian janin yang tidak diduga. Profil biofisik modifikasi terdiri dari nonstress test , dan indeks cairan amnion yang secara luas digunakan , jika salah satunya , NST atau AFI abnormal , BPP lengkap dan contraction stress test ( CST ) harus dilakukan. BPP modifikasi dikatakan normal bila hasil NST reaktif dan AFI 5 dan dikatakan abnormal bila NST non reaktif dan AFI. Nageote dkk ( 1994 ) juga menggabungkan uji nonstress test dua kali seminggu dengan penilaian cairan amnion secara ultrasonografis. Dalam penelitian mereka , indeks sebesar 5 cm atau kurang juga dianggap abnormal. Mereka melakukan 17.429 profil biofisik modifikasi 2.774 wanita dan menyimpulkan bahwa uji semacam ini merupakan metode yang baik untuk surveilans janin. Mereka membagi secara acak wanita dengan hasil uji abnormal menjadi kelompok yang kemudian menjalani uji profil biofisik lengkap atau kelompok uji stress kontraksi. Uji stress kontraksi meningkatkan intervensi atas indikasi uji abnormal palsu. Miller dkk ( 1996 ) melaporkan hasil lebih dari 54.000 pemeriksaan profil biofisik modifikasi pada 15.400 kehamilan resiko tinggi di University of Southern California. Mereka melaporkan angka negative - palsu sebesar 0,8 1000 dan angka positive - palsu 1,5 %. Young dkk ( 2003 ) secara acak melakukan penelitian pada 683 yang berbeda

wanita dengan BPP asli dan 2 prosedur tes yang dimodifikasi dan ditemukan tidak adanya perbedaan yang efektif antara ketiga metode tersebut. The American College of Obstetricians and Gynecologist ( 1999 ) menyimpulkan bahwa uji profil biofisik modifikasi merupakan cara surveilans janin antepartum yang dapat diterima.

C.INDEKS CAIRAN AMNION


Indeks cairan amnion ( AFI ) merupakan metode semikuantitatif untuk mengevaluasi volume cairan amnion ( AFV ). Indeks cairan amnion didapat dengan menambahkan ukuran terbesar kantung amnion secara vertical dari setiap kuadran uterus. Metode ini setidaknya akurat untuk mengukut kantung amnion terbesar dan dapat menjadi alasan sebagai metode alternative untuk mengevaluasi AFV dan BPP. Dengan metode ini oligohidramnion didefinisikan bila AFI 14. Untuk memperoleh AFI , ibu harus dalam posisi supine dan probe USG linier harus sejajar dengan tulang belakang ibu dan tegak lurus dengan lantai untuk semua ukuran. Abdomen dibagi menjadi 4 kuadran , dengan membagi dua sisi atas dan sisi bawah , dan linea nigra membagi dua sisi kiri dan sisi kanan. Cairan pada kantung terbesar pada setiap kuadran diukur sepanjang dimensi vertical dimana tegak lurus dengan probe USG kantung amnion harus bebas dari tali pusat dan ekstremitas janin, walau[un gambaran singkat ini dapat diterima. Pemeriksaan cairan amnion telah menjadi komponen integral dalam pengkajian antepartum kehamilan beresiko mengalami kematian janin . Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa penurunan perfusi uteroplasenta dapat menyebabkan aliran darah ginjal janin , penurunan frekwensi berkemih , dan akhirnya oligohidramnion. Indeks cairan amnion ( Rutherford dkk 1987 ) kandungan vertical terbesar ( Chamberlain dkk 1984 ) dan kantong 2 x 2 cm pada profil biofisik ( Manning dkk 1984 ) adalah sebagian teknik ultrasonografik yang digunakan untuk memperkirakan volume cairan amnion. Chauhan dkk (1999) mengulas 42 laporan tentang indeks cairan amnion yang diterbitkan antara tahun 1987 serta menyimpulkan bahwa indeks , 5,0 cm atau kurang akan secara bermakna meningkatkan resiko section caesaria atas indikasi gawat janin atau skor apgar 5 menit yang rendah. Demikian juga Casey dkk ( 2000 ) dalam suatu analisis retospektif terhadap 6423 kehamilan yang ditangani di Parkland Hospital , mendapatkan

bahwa

indeks

cairan

amnion

cm

atau

kurang

berkaitan

dengan

peningkatan bermakna morbiditas dan mortalitas perinatal. Locatelli dkk ( 2004 ) melaporkan berat badan lahir bayi rendah sangat tinggi bila terjadi oligohidramnion. Tidak semua peneliti setuju bahwa bila indeks cairan amnion 5

menandakan banyak hasil yang buruk . Magan dkk ( 1999, 2004 ) menyimpulkan AFI merupakan tes diagnostik yang kurang baik dan lebih baik diprediksi volume cairan amnion normal atau abnormal . Diggres dkk ( 2004 ) dan Zang dkk ( 2004 ) tidak menemukan korelasi hasil yang buruk pada kehamilan dengan AFI dibawah 5 Cm. Conway dkk ( 2000 ) menyimpulkan bahwa penatalaksanaan tanpa intervensi diperbolehkan agar muncul awitan persalinan spontan yang sama efektifnya dengan induksi pada kehamilan aterm dengan angka indeks cairan amnion 5 Cm atau kurang.

VELOSIMETRI DOPPLER ARTERI UMBILIKALIS


USG DOPPLER adalah teknik noninvasive untuk menilai aliran darah dengan mengetahui impedansi aliran ke perifer. Seringnya pengukuran indeks aliran darah berdasarkan pada puncak systole tersering (A). Yang termasuk dibawah ini : Systolic to diastolic ratio ( S / D ) Resistance index Pulsatility index (SD/S) (SD/A) ( S ) akhir diastole tersering ( D )dan rata rata puncak tersering dalam siklus kardiak

Rasio sistolik : Diastolik ( S / D ) arteri umbilikalis , yaitunindeks yang paling sering digunakan , dianggap abnormal apabila meningkat melebihi persentil ke 95 menurut usia gestasi atau apabila aliran diastolic tidak ada atau berbalik arah menandakan meningkatnya impedansi.

Penigkatan impedansi pada aliran darah arteri umbilikalis semacam ini dilaporkan terjadi akibat kurangnya vaskularisasi vilus plasenta ( Todros dkk , 1999 ) tidak ada atau berbaliknya aliran diastolic akhir dijumpai pada kasus hambatan pertumbuhan janin yang ekstrim dan mungkin mengisyaratkan gangguan janin . Sebagai contoh Zelop dkk ( 1996 ) melaporkan bahwa mortalitas perinatal pada aliran diastolic akhir yang berbalik arah adalah sekitar 33 % dan untuk aliran diastolic akhir yang berhenti adalah sekitar 10 % Ultrasonografi Doppler telah menjadi subyek penilaian yang lebih ekstensif dan ketat dengan berbagai uji klinis teracak ( Alfirevic dan Neilson , 1995 ). Williams dkk ( 2000 ) membagi secara acak 1240 wanita beresiko tinggi menjadi kelompok yang menjalani uji nonstress atau kelompok velosimetri Doppler dan mendapatkan bahwa kedua uji surveilans janin ini setara dalam kemampuan memperkirakan hasil akhir kehamilan. Kegunaan Velosimerti Doppler Arteri Umbilikalis The American College Of Obstetricians and 2000 ).Disimpulkan telah dikaji oleh ( 1999,

Gynecologist

bahwa velosimetri arteri umbilikalis tidak terbukti

bermanfaat untuk keadaan keadaan selain kecurigaan adanya hambatan pertumbuhan janin ( American College of Obstetricians and Gynecologist 1999 ). Namun pemakaian velosimetri Doppler dalam penatalaksanaan hambatan pertumbuhan janin dianjurkan sebagai kemungkinan pendukung bagi teknik teknik evaluasi janin lain , misalnya : uji nonstress atau profil biofisik ( American College of Obstetricians and gynecologist , 2000 ). Belum terbukti adanya manfaat velosimetri arteri umbilikalis untuk keadaan lain , misalnya : kehamilan post matur , diabetes, lupus eritematosus sistemik , atau sindroma antibody antifosfolipid. Demikian juga velosimetri belum terbukti berguna sebagai uji penapis untuk mendeteksi gangguan janin dalam populasi obstetric secara umum. Selain arteri umbilikalis, pembuluh pembuluh janin lain juga dapat dievaluasi aliran darahnya. Arteri serebri media mendapat perhatian khusus karena ada pengamatan bahwa janin yang mengalami hipoksia berkompensasi dengan melakukan Brain sparing yaitu menurunkan

impedansi

meningkatkan

aliran

darah

di

pembulih

darah

otak.

Berdasarkan hal ini , ada kesan bahwa rasio nilai sampai dengan arteri serebri media terhadap nilai sampai dengan arteri umilikalis mungkin mencerminkan gangguan janin ( Mari dan Deter , 1992 ). Sampai saat ini , penelitian penelitian tentang pemikiran ini masih belum jelas. Kesimpulannya sebagai contoh , Ott dkk ( 1998 ) membagi secara acak 665 wanita yang menjalani profil biofisik modifikasi menjadi kelompok yang hanya menjalani uji ini atau kelompok yang juga menjalani perhitungan rasio laju aliran darah arteri serebri media terhadap arteri umbilikalis tidak terdapat perbedaan bermakna hasil akhir kehamilan pada kedua kelompok dalam penelitian ini. Oleh the American College Obstetricians and Gynecologist ( 1999 ) , saat ini teknik ini masih dianggap investigasional.

PERSIAPAN DAN INDIKASI PEMERIKSAAN USG OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


Perkembangan ultrasonografi ( USG ) sudah dimulai sejak kira kira tahun 1960 dirinatis oleh Profesor Ian Donald. Sejak itu , sejalan dengan kemajuan teknologi bidang komputer , maka perkembangan ultrasonografi juga maju dengan sangat pesat, sehingga saat ini sudah dihasilkan USG 3 Dimensi dan Live 3 D ( ada yang menyebut sebagai USG 4 D ).

INDIKASI PEMERIKSAAN USG


Indikasi merupakan salah satu prasyarat penting yang harus dipenuhi sebelum pemeriksaan USG dilakukan. Pemeriksaan USG janganlah dilakukan secara rutin atau setiap melakukan pemeriksaan pasien , terutama bila pasien hamil. Banyak panduan yang telah diterbitkan , misalnya dari AIUM ( American Institute of Ultrasoud in Medicine ). Untuk mempermudah memilah indikasi pemeriksaan, penulis menyarankan pembagian indikasi tersebut atas indikasi obstetri, ginekologi onkologi, endokrinologi reproduksi, dan indikasi non obstetri ginekologi.

Dalam bidang obstetri, indikasi yang dianut adalah melakukan pemeriksaan USG begitu diketahui hamil , penapisan USG pada trimester pertama ( kehamilan 10 14 mg) , penapisan USG pada trimester kedua ( kehamilan 18 20 mg ) , dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan untuk memantau tumbuh kembang janin. Dalam bidang ginekologi onkologi pemeriksaannya diindikasikan bila ditemukan kelainan secara fisik atau dicurigai ada kelainan tetapi pada pemeriksaan fisik tidak jelas adanya kelainan tersebut. Dalam bidang endokrinologi reproduksi pemeriksaan USG diperlukan untuk mencari kasus gangguan hormon , pemantauan folikel dan terapi infertilitas , dan pemeriksaan pada pasien dengan gangguan haid. Sedangkan indikasi non obstetrik bila kelainan yang dicurigai berasal dari disiplin ilmu lain , misalnya dari bagian pediatri , rujukan pasien dengan kecurigaan metastasis dari organ ginekologi dll. Berikut ini diberikan contoh indikasi yang dikeluarkan oleh NIH 1. National Institute of Health ( NIH ) , USA ( 1983 1984 ) menetukan indikasi untuk dilakukannya pemeriksaan USG sebagai berikut : Menentukan usia gestasi secara lebih tepat pada kasus yang akan menjalani seksio sesarea , induksi persalinan atau pengakhiran kahamilan secara efektif. Evaluasi pertumbuhan janin , pada pasien yang telah diketahui menderita insufisiensi uteroplasenter, misalnya preeklampsia berat, hipertensi kronik , penyakit ginjal, kronik, atau diabetes mellitus berat; atau menderita gangguan nutrisi sehingga dicurigai terjadi pertumbuhan janin terhambat , atau makrosomia. Perdarahan pervaginam pada kehamilan yang penyebabnya belum diketahui. Menetukan bagian terendah janin bila pada saat persalinan bagian terendahnya sulit ditentukan atau letak janin masih berubah ubah pada trimester ketiga akhir.

10

Kecurigaan adanya kehamilan ganda berdasarkan ditemukannya dua DJJ yang berbeda frekuensinya atau tinggi fundus uteri tidak sesuai dengan usia gestasi, dan atau ada riwayat pemakaian obat-obat pemicu ovulasi.

Membantu tindakan amniosentesis atau biopsi villi koriales. Perbedaan bermakna antara besar uterus dengan usia gestasi, berdasarkan tanggal hari pertama haid terakhir.

Teraba masa pada daerah pelvik. Kecurigaan adanya hidatidosa. Evaluasi tindakan pengikatan servik uteri (cervical cerclage). Suspek kehamilan ektopik. Pengamatan lanjut letak plasenta pada kasus plasenta praevia. Alat bantudalam tindakan khusus, misalnya fetoskopi, transfusi indtra uterin, tindakan shuunting. Ferstilisasi in vivo, transfer embrio, dan chorionic villi sampling (CVS).

Kecurigaan adanya kematian mudigah / janin. Kecurigaan adanya abnormalitas uterus. Lokalisasi alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). Pemantauan perkembangan folikel. Penilaian profil biofisik janin pada kehamilaan diatas 28 minggu. Observasi pada tindakan intra partum, misalnya versi atau ekstraksi pada janin kedua gemelli, plasenta, manual, dll.

Kecurigaan adanya hidramnion atau oligohidramnion. Kecurigaan terjadinya solusio plasentae.

11

Alat bantu dalam tindakan versi luar pada presentasi bokong. Menentukan taksiran berat janin dan atau presentasi janin pada kasus ketuban pecah preterm dan atau persalinan preterm.

Kadar serum alfa feto protein abnormal. Pengamatan lanjut pada kasus yang dicurigai menderita cacat bawaan. Riwayat cacat bawaan pada kehamilan sebelumnya. Pengamatan serial pertumbuhan janin pada kehamilan ganda. Pemeriksaan janin pada wanita usia lanjut (di atas 35 tahun) yang hamil.

PERSIAPAN DAN TEKNIK PEMERIKSAAN A.Persiapan Pemeriksaan


Cuci tangan sebelum dan setelah kontak langsung dengan pasien, setelah kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya, dan setelah melepas sarung tangan , telah terbukti dapat mencegah penyebaran penyakit infeksi. Epidemi HIV telah menjadikan pencegahan infeksi kembali manjadi perhatian utama, termasuk dalam kegiatan pemeriksaan USG dimana infeksi silang dapat saja terjadi. Kemungkinan penularan infeksi lebih besar pada waktu pemeriksaan USG transvaginal karena terjadi kontak dengan cairan tubuh dan mukosa vagina. Resiko penularan dibagi dalam tiga tingkatan yaitu : tinggi , sedang , dan ringan. Resiko penularan tinggi terjadi pada pemeriksaan USG intervensi ( misalnya punksi menembus kulit, membran mukosa atau jaringan lainnya ) ; peralatan yang dipakai memerlukan sterilisasi ( misalnya dengan autoklaf atau etilen oksida ) dan dipergunakan sekali pakai dibuang.

12

Resiko

penularan

sedang

terjadi

pada

pemeriksaan

USG

yang

mengadakan kontak dengan mukosa yang intak , misalnya transvaginal ; peralatan yang dipakai minimal memerlukan sterilisasi tingkat tinggi ( lebih baik bila dilakukan sterilisasi ). Resiko penularan ringan terjadi pada pemeriksaan kontak langsung dengan kulit intak , misalnya USG transabdominal ; peralatan yang dipakai cukup dibersihkan dengan alkohol 70 % ( sudah dapat membunuh bakteri vegetatif , virus mengandung lemak , fungisidal dan tuberkulosida ) atau dicuci dengan sabun dan air.

PANDUAN DIBAWAH INI DAPAT MEMBANTU MENCEGAH PENYEBARAN INFEKSI

Semua jeli yang terdapat pada transduser harus selalu dibersihkan , bisa memakai kain halus atau kertas tissue halus.

Semua peralatan yang terkontaminasi atau mengandung kotoran harus dibersihkan dengan sabun dan air. Perhatikan petunjuk pabrik tentang tatacara membersihkan peralatan USG.

Transduser kemudian dibersihkan dengan alkohol 70 % atau direndam selama dua menit dalam larutan yang mengandung sodium hypochlorite ( kadar 500 ppm 10 dan diganti setiap hari ) , kemudian dicuci dengan air mengalir dan selanjutnya dikeringkan.

Transduser harus diberi pelapis sebelum dipakai untuk pemeriksaan USG transvaginal , bisa memakai sarung tangan karet atau kondom.

Pemeriksa harus memakai sarung tangan sekali pakai ( tidak steril ) pada tangan yang akan membuka labia sebelum transduser vagina dimasukkan . Perhatikan jangan sampai sarung tangan tersebut mengotori peralatan USG dan tempat pemeriksaan.

13

Setelah melakukan pemeriksaan, sarung tangan harus dimasukan pada tempat khusus untuk mencegah penyebaran infeksi, dan pemeriksa mencuci tangan.

Pada pemeriksaan USG invasif, persiapan yang dilakukan sama seperti akan melakukan tindakan operasi, misalnya peralatan yang dipakai harus steril, operator mencuci tangan dengan larutan mengandung kholorheksidin 3%, memakai sarung tangan dan masker serta memakai kacamata. Kulit dibersihkan dengan memakai etil alkohol 70%, isopropil alkohol 60% , khlorheksidin alkohol, atau povidone iodin. Transduser dibersihkan dan dilakukan desinfeksi, kemudian dibungkus dengan plastik khusus yang steril. Membran mukosa vagina dibersihkan dengan larutan yang mengandung khloreksin 0,015% ditambah larutan cetrimide 0,15%.

B. Persiapan Alat
Perawatan peralatan yang baik akan membuat hasil pemeriksaan juga tetap baik. Hidupkan peralatan USG sesuai dengan tata cara yang dianjurkanoleh hal ini sangat pabrik penting pembuat untuk peralatan tersebut. Panduan akibat pengoperasian peralatan USG sebaiknya diletakan di dekat mesin USG, mencegah kerusakan alat ketidaktahuan operator USG. Perhatikan tegangan listrik pada kamar USG, karena tegangan yang terlalu naik turun akan membuat peralatan elektronik mudah rusak. Bila perlu pasang stabilisator tegangan listrik dan UPS. Setiap kali selesai melakukan pemeriksaan USG, bersihkan semua peralatan dengan hati-hati, terutama pada transduser (penjejak) yang mudah rusak. Bersihkan transduser dengan memakai kain yang lembut dan cuci dengan larutan anti kuman yang tidak merusak transduser (informasi ini dapat diperoleh dari setiap pabrik pembuat mesin USG). Selanjutnya taruh kembali transduser pada tempatnya, rapikan dan bersihkan kabel-kabelnya, jangan sampai terinjak atau terjepit. Setelah

14

semuanya rapih, tutup mesin USG dengan pelastik penutupnya. Hal ini penting untuk mencegah mesin USG terkena siraman air atau zat kimia lainnya. Agar alat ini tidak mudah rusak, tentukan seseorang sebagai

penanggung jawab pemeliharaan alat tersebut.

C. Persiapan Pasien
Sebelum pasien menjalani pemeriksaan USG, ia USG sudah yang harus akan memperoleh informasi mengenai pemeriksaan

dijalaninya. Informasi penting yang harus diketahui pasien adalah harapan dari hasil pemeriksaan, cara pemeriksaan (termasuk posisi pasien) dan berapa biaya pemeriksaan. Caranya dapat dengan memberikan brosur atau leaflet atau bisa juga melalui penjelasan secara langsung oleh dokter sonografer atau sonologist. Sebelum melakukan pemeriksaan USG, pastikan bahwa pasien benar-benar telah mengerti dan memberikan persetujuan untuk dilakukan pemeriksaan USG atas dirinya. Bila akan melakukan pemeriksaan USG transvaginal, tanyakan kembali apakah ia seorang nona atau nyonya? Jelaskan dan perlihatkan tentang pemakaian kondom yang baru pada setiap pemeriksaan (kondom penting untuk mencegah penularan infeksi). Pada pemeriksaan USG transrektal, kondom yang dipasang sebanyak dua buah, hal ini penting untuk mencegah penularan infeksi. Terangkan secara benar dan penuh pengertian bahwa USG bukanlah suatu alat yang dapat melihat seluruh tubuh janin atau organ kandungan, hal ini untuk menghindarkan kesalahan harapan dari pasien. Sering terjadi bahwa pasien mengeluh kok sudah dikomputer masih juga tidak diketahui adanya cacat bawaan janin atau ada kista indung telur? USG hanyalah salah satu dari alat bantu diagnostik

15

dalam bidang kedokteran. Mungkin saja masih diperlukan pemeriksaan lainnya agar diagnosis kelainan dapat diketahui lebih tepat dan cepat.

D. Persiapan Pemeriksa
Pemeriksa diharapkan memeriksa dengan teliti surat pengajuan pemeriksaan USG, apa indikasinya dan apakah perlu didahulukan karena bersifat gawat darurat, misalnya pasien dengan kecurigaan kehamilan ektopik. Tanyakan apakah ia seorang nona atau nyonya, terutama bila akan melakukan pemeriksaan USG transvaginal. Selanjutnya cocokan identitas pasien, keluhan klinis dan pemeriksaan fisik yang ada, kemudian berikan penjelasan dan ajukan persetujuanlisan terhadap tindak medik yang akan dilakukan. Persetujuan tindak medik yang kebanyakan berlaku di Indonesia saat ini hanyalah bersifat persetujuan lisan, kecuali untuk tindakan yang bersifat invasif misalnya kardosintesis atau amniosintesis. Dimasa mendatang tampaknya pemeriksaan USG memerlukan

persetujuan tertulis dari pasien. Salah satu tujuannya adalah untuk mencegah penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS dan penyakit seksual akibat semakin banyaknya seks bebas dan pemakaian NARKOBA. Pemeriksa diharapkan juga agar selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dengan cara membaca kembali buku teks atau literatur literatur mengenai USG, mengikuti pelatihan secara berkala dan mengikuti seminar-seminar atau pertemuan ilmiah lainnya mengenai kemajuan USG mutakhir. Kemampuan diagnostik seorang sonologist sangat ditentukan oleh pengetahuan, pengalaman dan latihan yang dilakukannya.

16

2. Teknik Pemeriksaan
a. Pemeriksaan USG Transabdominal
Setelah pasien tidur terlentang, perut bagian bawah ditampakkan dengan batas bawah setinggi tepi atas rambut pubis, batas atas setinggi sternum, dan batas lateral sampai tepi abdomen. Letakkan kertas tissue besar pada perut bagian bawah dan bagian atas untuk melindungi pakaian wanita tersebut dari jelly yangkita pakai. Taruh jelly secukupnya pada kulit perut, lakukan pemeriksaan secara sistematis. Pertama tama gerakkan transduser secara longitudinal ke atas dan ke bawah , selanjutnya horizontal ke kiri dan ke kanan. Penjejak digerakkan dari bawah ke atas ,dimulai dari garis sisi kanan perut, kemudian setelah sampai daerah perut atas transduser digerakkan ke bawah, selanjutnya transduser digerakkan kembali ke arah atas. Selanjutnya gerakkan transduser dilakukan ke arah lateral perut ( horizontal ), juga secara sistematis, dimulai dari sisi kanan ke arah kiri, kemudian dari arah kiri ke arah kanan dan terakhir dari kanan atas ke kiri ( lihat gambar dan arah panah beserta nomor garisnya ).

b. Pemeriksaan USG Transvaginal


1. Pemeriksaan USG transvaginal berbeda dengan transabdominal, interna pada kehamilan trimester pertama, serta perlu penyesuaian mesin dan opertor, terutama pengenalan organ genitalia terbatasnya ruang untuk melakukan manipulasi / gerak probe. 2. Sebelum melakukan pemeriksaan, tanyakan apakah ia seorang nona atau nyonya. Bila statusnya masih nona tetapi sudah tidak gadis lagi, dan memang perlu dilakukan pemeriksaan transvaginal,

17

mintakan ijin tertulis dari pasien tersebut sebaiknya disertai seorang saksi ( dapat seorang paramedis ). 3. Perhatikan apakah tombol pemindah jenis transduser sudah menunjukkan bahwa penjejak yang dipakai adalah penjejak vaginal serta apakah pasien sudah mengosongkan kandung kencingnya. Posisi pasien dapat lithotomi atau tidur dengan kaki ditekuk pada bagian pantat ditaruh bantal agar mudah untuk memasukkan dan memanipulasi posisi transduser. 4. Taruh sedikit jelly pada permukaan penjejak. Pasangkan kondom baru pada transduser, kemudian beri jelly secukupnya pada permukaan kondom dan selanjutnya masukkan transduser ke dalam vagina secara perlahan lahan dan gentle sesuai dengan sumbu vagina. Jangan melakukan penekanan tiba tiba dan keras karena dapat membuat pasien kesakitan atau merasa tidak nyaman. 5. Cari uterus sebagai petunjuk, kemudian cari kandung kemih. Uterus akan tampak di garis tengah ( median ) seperti gambaran buah alpukat yang memanjang dengan endometrium dibagian tengahnya. Bila fundus uteri mendekati kandung kemih, maka uterus tersebut dalam posisi antefleksi, bila menjauhi , maka posisi uterus adalah retrofleksi ( lihat gambar ). Sangat penting menilai kembali apakah arah gelombang suara sudah sesuai denga tampilan yang ada dalam layar monitor. 6. Setelah pemeriksaan selesai, lepaskan kondom secara hati hati dengan memakai sarung tangan tidak steril atau kertas tissue , kemudian lakukan dekontaminasi kondom tersebut dengan larutan klorin 0,5 %.

c. Pemeriksaan USG Transperineal atau Translabial.


Pemeriksaan ini hanya dilakukan pada keadaan tertentu, misalnya seorang nona atau seorang wanita yang tidak mungkin dilakukan pemeriksaan transvaginal atau transrektal. Dianjurkan kandung kencing

18

pasien cukup terisi, hal ini untuk memudahkan pemeriksaan dan sebagai petunjuk anatomis. Penjejak dilapisi kondom dan diberi jelly, kemudian diletakkan di daerah perineum, penjejak digerakkan ke atas dan ke bawah untuk mencari gambaran organ genitalia. Cara ini memang tidak dapat memberikan gambaran organ genitalia sebaik pada pemeriksaan USG transvaginal atau transrektal.

d. Pemeriksaan USG Transrektal


Pemeriksaan USG transrektal hampir sama dengan pemeriksaan transvaginal. Perbedaan terletak pada bentuk dan ukuran diameter penjejak dan posisi pemeriksaan yang kurang lazim bagi wanita Indonesia. Setelah pasien dalam posisi lithotomi atau posisi tidur dengan kaki ditekuk dan bagian pantat diganjal dengan bantal khusus, transduser yang telah dibungkus dua lapis kondom dan dibubuhi jelly dimasukkan secara perlahan lahan ke dalam rektum. Lakukan identifikasi uterus sebagai petunjuk organ genitalia interna, setelah itu identifikasi vesika urinatia kemudian evaluasi seluruh organ genitalia interna dan rongga pelvik. Manipulasi atau pergerakkan transduser per rektal sangat terbatas dan sring menimbulkan rasa tidak nyaman. Jelaskan secara seksama sebelum melakukan pemeriksaan USG transrektal. Setelah selesai pemerin ksaan, lepaskan kondom secara hati hati, kemudian lakukan dekontaminasi kondom denga larutan klorin 0,5 %.

e. Pemeriksaan USG Invasif.


USG dapat dipakai untuk menegakkan diagnosa dan atau tindakan terapeutik, misalnya biopsi villi koriales, amniosintesis, kordosintesis, ovum pick up ( OPU ) , atau transfusi intra uterin. Setelah dilakukan penjelasan dan pasien memberikan persetujuan tertulis, dokter akan melakukan pemeriksaan USG untuk menilai kondisi kehamilan atau genitalia interna. Pada umumnya hanya diperlukan anestesi lokal untuk memasukkan jarum punksi, tetapi dapat juga dengan anestesi umum pada tindakan OPU. Teknik

19

yang dipakai bisa secara Free hand atau dipandu USG melalui marker pungsi yang ada pada transduser.

DAFTAR PUSTAKA ; Internet.

20