Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar belakang Di dalam tanah hidup berbagai jenis organisme yang dapat dibedakan menjadi jenis hewan dan tumbuhan, baik yang berukurtan mikro (tidak dapat dilihat dengan mata telanjang) maupun makro (dapat dilihat dengan mata telanjang). Organisme yang hidup di dalam tanah ini ada yang bermanfaat, ada yang mengganggu dan ada pula yang tidak bermanfaat tetapi juga tidak mengganggu. Salah satu organisme yang bermanfaat adalah cacing tanah. Cacing tanah itu sendiri merupakan salah satu hewan yang memiliki peran penting dalam dunia pertanian. Sedangkan peran penting cacing tanah adalah memperbaiki porositas tanah, memperbaiki struktur tanah, menghancurkan bahan organik, memperbaiki aerose tanah,yang semua itu berkaitan dengan kesuburan tanah dan penting bagi pertanian.

1.2

Tujuan Mengetahui dan memahami jenis-jenis cacing tanah Mengetahui dan mengerti tentang peranan cacing tanah Mengetahui dan memahami faktor yang mempengaruhi populasi cacing tanah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Jenis-Jenis Cacing Tanah 1. Endogeik (cacing penggali tanah) Cacing ini hidup aktif di dalam tanah dan cacing jenis ini makanannya berupa bahan organik di permukaan tanah, akar yang mati di dalam tanah, peranannya yaitu mencampur seresah yang ada di permukaan. Kelompok cacing yang hidup di lapisan tanah bawah, makan tanah mineral, membuat lubang saluran dan tinggal menetap di dalamnya, cast dibentuk di dalam saluran tersebut. Warna tubuh merah muda. (Soeparmadi,1955) Ciri ciri : Kelompok cacing yang hidup dan memakan bahan organik pada lapisan organik ( permukaan ). Bergerak horizontal Tidak membentuk saluran ( channel ) Tubuhnya berwarna gelap ( Tim Dosen DIT, 2010 ) 2. Epigeik (cacing penghancur seresah) Kelompok cacing ini hidup di dalam lapisan seresah yang letaknya di lapisan atas permukaan tanah. Cacing tanah ini memiliki ciri-ciri tubuhnya berwarna gelap,bergerak Cacing ini horizontal, berperan tidak dalam

membentuk

saluran(channel).

menghancurkan seresah sehingga ukurannya lebih kecil. (Soeparmadi,1955)

Ciri ciri : Kelompok cacing yang hidup di lapisan tanah bawah Memakan tanah mineral. Membuat lubang saluran ( channel ) dan tinggal menetap didalamnya. Cast dibentuk didalam salutan tersebut. Warna tubuh merah muda. Jenis cacing ini adalah Lumbricus terrestis, yang berwarna merah. Allobophora caleginosa, yang berwarna merah jambu. ( Tim Dosen DIT, 2010 )

3.

Anesik Kelompok cacing yang hidup di dalam tanah,tetapi

makanannya diperoleh dari lapisan organik (atas), membentuk lubang saluran dalam tanah dengan bagian ujung terbuka ke permukaan tanah,m eninggalkan cast pada permukaan tanah.Warna tubuhnya gelap di bagian atas (dorsal), dan terang di bagian bawahnya (ventral). (Soeparmadi,1955) Ciri ciri : Kelompok cacing yang hidup didalam tanah. Makanan diperoleh dari lapisan organik atas. Membentuk lubang saluran dalam tanah dengan bagian yang terbuka ke permukaan tanah. Meninggalkan cast pada permukaan tanah

Warna tubuhnya gelap dibagian atas ( dorsal ) dan terang pada bagian bawahnya ( vential ). ( Tim Dosen DIT, 2010 )

2.2.

Gambar Tubuh Cacing Tanah

Gambar 1. Tubuh Cacing Tanah (Anonymous,2010) Bagian-bagian cacing tanah dan fungsinya a) Mulut (peristomium) Berfungsi untuk melumatkan bahan organik serta sebagai pendeteksi adanya makanan bagi cacing tanah. b) Clitelum Sebagai selubung kulit cacing yang menunjukkan kedewasaan cacing,jika semakin tebal maka semakin dewasa. c) Peripoct Alat pengeluaran kotoran cacing. d) Seta Seta merupakan bulu-bulu pada tubuh cacing untuk berjalan. (Anonymous,2009)

2.3.

Peranan Cacing Tanah Cacing tanah memiliki peranan penting dalam tanah antara lain:

Mendistribusikan dan mencapur bahan organik Cacing tanah merupakan pemakan tanah dan bahan organik segar dipermukaan tanah, saat ,masuk ke liangnya ( sambil membawa sisa-sisa makananya ) kemudian membawa mengeluarkan kotoran dipermukaan tanah. Aktivitas naik-turunnya cacing ini berperan penting dalam dalam saluran tanah ( kegiatan pembalikan lapisan tanah yang berpengaruh terhadap kesuburan tanah )

Meningkatkan infiltrasi Cacing dapat bergerak dan pergerakan tersebut dapat membuat lubang tanah yang dapat memperbaiki pori-pori tanah, sehingga menyebabkan infiltrasi meningkat.

Meningkatkan jumlah mikroba Dengan mulutnya,cacing melumatkan bahan organik yang

awalnya makro menjadi mikro yang merupakan makanan bagi mikroba, sehingga mikroba semakin banyak. Mencampur tanah dan agregasi tanah Cacing tanah dapat atau mempunyai kemampuan membalik tanah sehingga dapat mencampur tanah dan memperbaiki agregasi tanah. (Hardjowigeno,1989) 2.4. Faktor yang Mempengaruhi Populasi Cacing Tanah a. pH tanah Cacing tanah memiliki sistem pencernaan yang kurang sempurna, karena sedikitnya enzim pencernaan. Oleh karena itu cacing tanah memerlukan bantuan bakteri untuk

merubah/memecahkan bahan makanan. Aktivitas bakteri yang 5

kurang dalam makanannya menyebabkan cacing tanah kekurangan makanan dan akhirnya mati karena tidak ada yang membantu pencernaan senyawa karbohidrat dan protein. Namun bila makanan terlalu asam sehingga aktivitas bakteri berlebihan. Hal ini akan menyebabkan terjadinya pembengkakan tembolok cacing tanah dan berakhir dengan kematian pula. Keadaan makanan atau lingkungan yang terlalu basah, mengakibatkan cacing tanah kelihatan pucat dan kemudian mati.Kemasaman tanah dapat berpengaruh pada populasi dan aktivitas cacing tanah. Pada umumnya cacing tanah dapat tumbuh baik pada tanah sedikit masam sampai netral (6 -7,2). Dalam kondisi ini,bakteri dalam tubuh cacing dapat bekerja optimal untuk pembusukan. (Hanafiah,2007) b. Bahan organik Peran cacing adalah sebagai decomposer bahan organik. Maka semakin banyak bahan organik, pertumbuhan cacing akan semakin cepat dan banyak. (Hardjowigeno,1989) c. Suhu atau temperature Suhu yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi akan mempengaruhi proses-proses fisiologis seperti pernafasan,

pertumbuhan, perkembangbiakan dan metabolisme. Suhu rendah menyebabkan kokon sulit menetas. Suhu yang hangat (sedang) menyebabkan cepat menetas dan pertumbuhan cacing tanah setra perkembangbiakannya akan berjalan sempurna. Suhu yang baik antara 15oC-25oC. Suhu yang lebih tinggi dari 25oC masih baik asalkan ada naungan yang cukup dan kelembaban yang

optimal.Cacing tanah tidak menyukai suhu yang rendah.Suhu tersebut akan mempengaruhi proses-proses fisiologis, pertumbuhan, perkembangbiakan dan metabolisme. (Hardjowigeno,1989) d. Kelembaban Sebanyak 85 % dari berat tubuh cacing tanah berupa air, sehingga sangatlah penting untuk menjaga media pemeliharaan tetap lembab (kelembaban optimum berkisar antara 15 - 30 %). Tubuh cacing mempunyai mekanisme untuk menjaga keseimbangan air dengan mempertahankan kelembaban di permukan tubuh dan mencegah kehilangan air yang berlebihan. Cacing yang terdehidrasi akan kehilangan sebagian besar berat tubuhnya dan tetap hidup walaupun kehilangan 70 - 75 % kandungan air tubuh. Kekeringan yang berkepanjangan memaksa cacing tanah untuk bermigrasi ke lingkungan yang lebih cocok. Kelembaban sangat diperlukan untuk menjaga agar kulit cacing tanah berfungsi normal. Bila udara terlalu kering, akan merusak keadaan kulit. Untuk menghindarinya cacing tanah segera masuk kedalam lubang dalam tanah, berhenti mencari makan dan akhirnya akan mati. Bila kelembaban terlalu tinggi atau terlalu banyak air, cacing tanah segera lari untuk mencari tempat yang pertukaran udaranya (aerasinya) baik. Hal ini terjadi karena cacing tanah mengambil oksigen dari udara bebas untuk pernafasannya melalui kulit. Kelembaban yang baik untuk pertumbuhan dan

perkembangbiakan cacing tanah adalah antara 15% sampai 30%. (Anonymous,2010)

e. Kandungan bahan kimia Cacing tanah sangat sensitive terhadap bahan kimia,sehingga cacing tanah yang paling awal lenyap atau hilang di dalam tanah dan selanjutnya diikuti oleh hilangnya kehidupan lain di dalam tanah. (Anonymous,2010) f. Tekstur. Tekstur tanah pasir bukan tempat yang baik bagi cacing tanah sebab air cepat meresap kedalam tanah sehingga kelempatannnya rendah.Sebaliknya tanah yang bertekstur liat adalah tempat yang cocok untuk cacing tanah sebab banyak terkandung BO ( bahan organik ) didalamnya. (Hardjowigeno,1989)

BAB III METODOLOGI

3.1

Alat, Bahan Beserta Fungsi dan Cara Kerja Alat : 1. Planar Cage 2. Kasa 3. Botol Semprot 4. Spidol 5. Digital telemeter 6. Timbangan digital Bahan: 1. Tanah Alvisol : habitat cacing 2. Tanah Ultisol : habitat cacing 3. Kompos halus : menyuburkan habitat cacing 4. Cacing Tanah: sebagai obyek pengamatan. Cara Kerja
Siapkan alat dan bahan Mengukur panjang liang Mengamati planar cage Menandai liang cacing pada planar cage dengan spidol

: : : :

Tempat meletakkan cacing Untuk menutup planar cage. Untuk mengairi. Untuk menggambar liang bekas jalan cacing.

: Mengukur panjang liang cacing.

Menghitung liang

Mencatat hasil pengamatan

Membuka planar cage dari baut Mengambil cacing dari tempatnya(baik hidup atau mati)

Catat hasil pengamatan

Letakkan cacing di wadah dan di timbang

3.2

Perlakuan pada planar cage (sangkar) jelaskan perbedaannya a. Masing-masing Planar cage( sangkar ) di isi dengan tanah. b. Ditambahkan air, 2 malam sebelum cacing dimasukkan. Jaga kadar airnya tetap 60 % dari kapasitas lapang. c. Cacaing dimasukkan pada setiap planar cage ( sangkar ) yang telah disediakan. d. Atur dan jaga kelembapannya.

10

BAB IV PEMBAHASAN

4.1

Hasil Tabel 1. Hasil Pengamatan Perlakuan A B C D E F Panjang Liang H1 86 203 270 371 287 358 H2 204 286 318 287 366 180 Total 290 489 588 658 653 538 Cacing Jumlah 2 4 3 4 4 1 Berat 1.2 1.6 5 5 1.9 0.8

4.2

Pembahasan dan Grafik a) Kombinasi Tanah yang Menguntungkan Cacing Tanah yang baik untuk hidup cacing tanah adalah tanah yang memenuhi syarat untuk hidup cacing. Misalnya pH tanah yang sesuai, kelembaban yang cukup tinggi, suhu yang hangat. Pada perlakuan E memiliki cacing yang cukup banyak. Karna tanah Entisol bertekstur liat. Liat merupakan tekstur tanah yang mampu mengikat air dengan baik. Sehingga jumlah air yang tersimpan cukup tinggi. Cacing menyukai tempat yang lembab. Di tempat inilah cacing bisa hidup dan berkembang biak dengan baik. b) Proses Pembalikan Tanah oleh Cacing Proses pembalikan tanah oleh cacing ini terjadi pada tanah yang memiliki populasi cacaing paling banyak, sebab tanah tersebut menjadi gembur. Oleh adanya gerakan-gerakan cacing tanah 11

tersebut. Lonjakan populasi cacing saat awal dan jumlah populasi cacing tanah di akhir menunjukkan bahwa tanah yang digunakan cocok untuk perkembang biakan cacing tanah. c) Fungsi Proses Pembalikan Tanah Proses pembalikan tanah oleh cacing tanah berperan untuk memperlancar aerasi dan drainase tanah. Hal ini mengakibatkan poripori tanah yang semula mikro menjadi makro. Tanah yang dilewati cacing tanah bisa juga mempermudah air untuk masuk kedalam tanah. Dalam proses pembalikan tanah tersebut akan menyebabkan bahan organik akan bercampur dengan tanah. Yang tentunya kan semakin menyuburkan tanah dan menaga kandungan hara tanah.

400 350 300 250 200 150 100 50 0 A B C D E F Panjang Liang H1 (cm) Panjang Liang H2 (cm)

Gambar 2. Grafik Hasil Pengamatan

12

BAB V PENUTUP

5.1

Kesimpulan Berdasarkan jenisnya, cacing tanah dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu Kelompok Epigeik, Kelompok Endogeik, Kelompok

Anesik. Masing masing kelompok tersebut meiliki ciri-ciri sendiri, habitat dan pernananya masing-masing. Peranan cacing tanah antara lain meningkatkan agregasi, memperbaiki struktur tanah, penghancur seresah. Dan memantapkan agregasi tanah. Dalam kelangsungan hidupnya populasi cacing tanah dipengaruhi oleh cahaya matahari, kelembaban, bahan organik, pH, dan tekstur tanah. Berdasarkan hasil praktikum, jumlah popilasi cacing terbanyak terdapat di tanah entisol. Hal ini dikarenakan tanah entisol bertekstur liat, dan mengandung banyak bahan organik.

5.2

Saran Semoga seluruh praktikum bermanfaat dan di tahun depan seluruh asisten lebih baik lagi. Tidak ada mahasiswa yang mengulang lagi di pertemuan mendatang.

13

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2010,Ilmu Tanah, (http://deptan.go.id/ cacing tanah.htm, diakses tanggal 15 April 2010). Hanafiah, K. A. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Divisi Buku Perguruan Tinggi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta Hardjowigeno, sarwono. 1989. Ilmu Tanah. PT. Media tama sapana : Jakarta Soeparmadi, amin. 1955. Dasar dasar ilmu tanah. Pustaka : Bogor Tim Dosen Jurusan Tanah. 2010. Panduan Praktikum Dasar Ilmu Tanah. Malang : FP UB

14