Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum Agroklimatologi

Hari Praktikum Jam Nama Asisten

: Selasa : 12:20 WIB : 1.Helsya Rahmadani 2.Nur Yusra

KELEMBABAN UDARA

Oleh: ARIS MUNANDAR NIM : 1005101060020

LABORATORIUM AGROKLIMATOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA DARUSSALAM BANDA ACEH 2011
By: Aris Munandar AGT 10 Page 1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dalam atmosfer (lautan udara) senantiasa terdapat uap air. Kadar uap air dalam udara disebut kelembaban (lengas udara). Kadar ini selalu berubah-ubah tergantung pada temperatur udara setempat. Kelembaban udara adalah persentase kandungan uap air dalam udara. Kelembaban udara ditentukan oleh jumlah uap air yang terkandung di dalam udara. Total massa uap air per satuan volume udara disebut sebagai kelembaban absolut. Perban dingan antara massa uap air dengan massa udara lembab dalam satuan volume udara tertentu disebut sebagai kelembaban spesifik. Massa udara lembab adalah total massa dari seluruh gas-gas atmosfer yang terkandung, termasuk uap air;jika massa uap air tidak diikutkan, maka disebut sebagai massa udara kering. Kelembapan udara menyatakan banyaknya uap air dalam udara. jumlah uap air dalam udara ini sebetulnya hanya merupakan sebagian kecil saja dari seluruh atmosfer. Yaitu hanya kira-kira 2 % dari jumlah masa. Akan tetapi uap air ini merupakan komponen udara yang sangat penting ditinjau dari segi cuaca dan iklim. Semua uap air yang ada di dalam udara berasal dari penguapan. Penguapan adalah perubahan air dari keadaan cair kekeadaan gas. Pada proses penguapan diperlukan atau dipakai panas, sedangkan pada pengembunan dilepaskan panas. Seperti diketahui, penguapan tidak hanya terjadi pada permukaan air yang terbuka saja, tetapi dapat juga terjadi langsung dari tanah dan lebih-lebih dari tumbuh-tumbuhan. Penguapan dari tiga tempat itu disebut dengan Evapora. Kandungan uap air atmosfer dapat diperlihatkan dengan berbagai cara. Tekanan uap yang dinyatakan dalam minibar, tetapi dalam penggunaanya yang lebih sering, satuan lainya dipakai untuk menyatakan kandungan uap air.

By: Aris Munandar AGT 10

Page 2

Kemampuan udara untuk menampung uap air dipengaruhi oleh suhu. Jika udara jenuh uap air dinaikkan suhunya maka udara tersebut menjadi tidak jenuh uap air Sebaliknya, jika udara tidak jenuh uap air suhunya diturunkan dan kerapatan airnya dijaga konstan, maka udara tersebut akan mendekati kondisi jenuh uap air.

1.2 Tujuan Praktikum Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui suhu dan kelembapan yang sebenarnya pada daerah bervegetasi dan non vegetasi.

By: Aris Munandar AGT 10

Page 3

II. TINJAUN PUSTAKA

Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air di udara yang dapat dinyatakan sebagai kelembaban mutlak, kelembaban nisbi (relatif) maupun defisit tekanan uap air. Kelembaban mutlak adalah kandungan uap air (dapat dinyatakan dengan massa uap air atau tekanannya) per satuan volume. Kelembaban nisbi membandingkan antara kandungan/tekanan uap air aktual dengan keadaan jenuhnya atau pada kapasitas udara untuk menampung uap air. Kapasitas udara untuk menampung uap air tersebut (pada keadaan jenuh) ditentukan oleh suhu udara. Sedangkan defisit tekanan uap air adalah selisih antara tekanan uap jenuh dan tekanan uap aktual. Masing-masing pernyataan kelembaban udara tersebut mempunyai arti dan fungsi tertentu dikaitkan dengan masalah yang dibahas ( Handoko, 1994 ). Kelembaban udara menyatakan banyaknya uap air dalam udara. Jumlah uap air dalam udara ini sebetulnya hanya merupakan sebagian kecil saja dari seluruh atmosfer uap air ini merupakan komponen udara yang sangat penting ditinjau dari segi cuaca dan iklim ( http://agung4.wordpress.com, 2009 ). Keadaan kelembapan diatas permukaan bumi berbeda-beda. Pada umumnya, kelembapan tertinggi ada di khatulistiwa sedangkan terendah ada pada lintang 40o daerah rendah ini disebut horse latitude, curah hujanya kecil (Kartasapoetra, 2004 ) Kelembaban udara dalam ruang tertutup dapat diatur sesuai dengan keinginan. Pengaturan kelembaban udara ini didasarkan atas prinsip kesetaraan potensiair antara udara dengan larutan atau dengan bahan padat tertentu. Jika ke dalam suatu ruang tertutup dimasukkan larutan, maka air dari larutan tersebut akan menguap sampai terjadi keseimbangan antara potensi air pada udara dengan potensi air larutan. Demikian pula halnya jika hidrat kristal garam-garam (salt cristal bydrate) tertentu dimasukkan dalam ruang tertutup makaair dari hidrat kristal garam akan menguap sampai terjadi keseimbangan potensi air ( Lakitan, 1994 )

By: Aris Munandar AGT 10

Page 4

III. PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan a. Alat


Alat yang dipergunakan dalam praktikum ini adalah Thermometer Bola Kering (TBK) dan Thermometer Basah Bola (TBB)

b. Bahan

1. Thermometer bola kering (TBK) dan Thermometer bola basah (TBB) 2. Tabel Konversi Kelembaban Relatif (RH %)

3.2 Cara Kerja 1. Thermometer bola kering dan bola basah di pegang setinggi 1,2 meter diatas permukaan tanah (perhatikan : agar tidak memegang sensor thermometer saat pengukuran dan hindari sensor dari cahaya matahari langsung ). 2. Di catat suhu bola kering (TBK) dan bola basah (TBB) dengan selang waktu 1 menit dengan 5 kali ulangan pada beberapa tipe lahan. 3. Setelah di dapat data suhu, lalu di cari selisih antara TBK dan TBB. 4. Nilai RH dapat diketahui dengan melihat selisih TBK dan TBB berdasarkan table RH (lampiran).

By: Aris Munandar AGT 10

Page 5

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan 1. Kalibrasi termometer bola kering (TBK) dan bola basah (TBB) Tabel hasil kalibrasi di bawah pohon jambu Air (Eugenia aquea burm)
Ulangan (C ,%)
NO LOKASI
TBK

I
TBB RH TBK

II
TBB RH TBK

III
TBB RH TBK

IV
TBB RH TBK

V
TBB RH

1 2

Di bawah Tajuk Di Atas Tajuk

30 29

28 25

85 71

30 29

27 25

79 71

30 28

26 24

72 70

30 29

27 24

79 65

30 29

26 25

72 65

Rumus = TBK . TBB T= TBK TBB T= 30C - 29C T= 1C

Grafik Data kalibrasi kelembaban udara dari pohon Jambu (Eugenia aquea burm)
70 60 50 40 30 20 10 0 0 TBK TBB I 0 TBK TBB II 0 TBK TBB III LOKASI 0 TBK TBB IV 0 TBK TBB V 0 30 28 30 27 30 26 30 27 30 26 2 1 29 25 29 25 28 24 29 24 29 25

By: Aris Munandar AGT 10

Page 6

4.2 Pembahasan Drai hasil yang kami dapatkan, kelembaban udara sangat berbeda diantara dibawah tajuk dengan diatas tajuk. Nilai yang lebih tinggi dibawah tajuk di bandingkan dengan diatas tajuk hal ini disebabkan bahwa data kelembababan tertinggi di lapangan adalah 78,6% pada ketinggian 100 cm di daerah non vegetasi, hal ini dikarenakan penambahan uap air hasil evaporasi pada permukaan pada siang hari. Hal ini sesuai dengan literatur Lakitan ( 1994 ) yang menyatakan bahwa kelembaban udara lebih tinggi pada udara dekat permukaan pada siang hari disebabkan karena penamabahan uap air hasil evapotranspirasi dari permukaan. data kelembaban udara yang terendah adalah 81% hal ini disebabkan faktor kelembaban relatif dimana kelembaban dipengaruhi oleh temparatur udara. Hal ini sesuai dengan literatur Guslim, dkk., ( 1987 ) yang menyatakan bahwa variasi harian kelembaban relatif umumnya berlawanan dengan temperatur, maksimum menjelang pagi dan minimum pada sore hari.

By: Aris Munandar AGT 10

Page 7

V. KESIMPULAN

1. Dapat disimpulkan bahwa data yang paling tertinggi yaitu dibawah tajuk dengan suhu 30C. 2. Dari hasil percobaan menujukan bahwa data kelembaban terendah yaitu 66,14% pada ketinggian 200 cm di daerah bervegetasi hal ini dikarenakan pengaruh dari angin yang menyebabkan rendahnya kelembaban dimana daerah yang lebih tinggi. 3. Kelembaban udara menggambarkan banyaknya uap air di atmosfir.

By: Aris Munandar AGT 10

Page 8

DAFTAR PUSTAKA
Guslim, O.K Nazaruddin H, Roeswandi, A. Hamdan, dan Rosmayati. 1987. Klimatologi Pertanian. USU Press. Medan. Handoko. 1994. Klimatologi Dasar, landasan pemahaman fisika atmosfer dan unsur-unsur iklim. PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta. Hanum, C. 2009. Penuntun Praktikum Agroklimatologi. Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Karim, K. 1985. Diktat Kuliah Dasar-Dasar Klimatologi. Diterbitkan dengan Biaya Proyek Peningkatan dan Pengembangan Perguruan Tinggi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Kartasapoetra, A.G. 2004. Klimatologi : Pengaruh iklim Terhadap Tanah dan Tanaman Edisi Revisi. Bumi Aksara. Jakarta. Kelembaban Udara, www.one.indoskripsi.com/node/714. 2009. diakses pada tanggal [6 November 2009]. Lakitan, B. 1994. Dasar-Dasar Klimatologi. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

By: Aris Munandar AGT 10

Page 9