Anda di halaman 1dari 2

Well kontrol adalah sebuah teknik yang biasa digunakan di operasi minyak dan gas dalam kegiatan pengeboran,

well workover, dan komplesi sumur untuk menjaga tekanan hidrostatik fulida dalam kolom sumur dan tekanan formasi untuk mencegah masuknya fluida formasi kedalam wellbore. Tekanan fluida Fluida adalah segala zat yang mengalir, misalnya minyak, air dan gas. Di bawah tekanan dan suhu yang extreme hampir semua akan menjadi fluida. Fluida yang mempengaruhi tekanan dan tekanan ini adalah hasil dari massa jenis dan berat dari fluida yang ada di kolom sumur. Kebanyakan perusahaan minyak biasanya menunjukkan pengukuran massa jenis dalam pounds per galon (ppg) atau kilogram per meter kubik (kg/m3). Dan pengukuran tekanan dalam pounds per square inch (psi) atau bar. Tekanan meningkat karena massa jenis dari fluida meningkat. Untuk menentukan nilai tekanan fluida dari densitas yang diketahui menggunakan masing-masing unit panjang, dan gradient tekanan. Sebuah gradient tekanan didefinisikan sebagai penambahan tekanan per unit kedalaman kaitannya. Secara matematis gradient tekanan didefinisikan dengan; gradient tekanan = densitas fluida x factor konversi. Conversion factor yang digunakan untuk mengubah massa jenis menjadi tekanan adalah 0,052 dalam English system dan 0.0000981 in metric system. Tekanan Hydorstatis Hydro artinya air, atau fluida, yang mempengaruhi tekanan dan statis berarti tidak bergerak atau pada kondisi istirahat. Sehingga, tekanan hidrostatis adalah total dari tekanan fluida yang dihasilkan dari berat pada kolom fluida, berperan dalam setiap titik dalam sebuah sumur. Dalam operasi minyak dan gas, ini ditunjukkan secara matematis sebagai Hydrostatic pressure = gradient tekanan x kedalaman vertical nyata atau Tekanan fluida = massa jenis fluida x faktor konversi x kedalaman vertikal yang nyata. Sebagai contoh terdapat dua sumur, sumur X dan sumur Y. Sumur X memiliki terukur 9800 ft dan kedalaman nyata 9800 ft sedangkan sumur Y memiliki kedalaman 10380 ft dan kedalaman nyata 9800 ft. Untuk menghitung tekanan hidrostatis dari bottomhole, kedalaman vertikal nyata digunakan karena gravitasi menarik kebawah lubang secara vertikal. Contoh tersebut juga menggambarkan perbedaan antara kedalaman terukur (MD) dan kedalaman vertikal nyata (TVD). Tekanan Formasi Tekanan Formasi adalah tekanan dari sebuah fluida dalam ruang pori dari formasi batuan. Tekanan ini dapat disebabkan oleh berat dari beban berlebih diatas formasi, dimana mempengaruhi tekanan pada butiran dan pori-pori fluida. Butiran berwujud padat atau material batuan, dan pori-pori adalah ruang diantara butiran. Jika pori-pori fluida bebas bergerak, atau lolos, butiran butiran kehilangan sebagian dari support mereka dan bergerak mendekat bersama-sama. Proses ini disebut kompaksi. Tergantung pada nilai dari tekanan pori-pori, ini dapat dijabarkan menjadi normal, abnormal, atau subnormal.

Tekanan Pori-pori normal atau tekanan formasi sama dengan tekanan hidrostatis dari fluida formasi dari permukaan hingga formasi menjadi pertimbangan. Dengan kata lain, jika formasi terbuka dan diperbolehkan untuk mengisi kolom yang panjangnya sama dengan kedalaman formasi, maka tekanan di bagian bawah kolom akan sama dengan tekanan formasi dan tekanan di permukaan sama dengan nol. Tekanan pori-pori normal tidak konstan. Nilainya bervariasi terhadap konsentrasi garam yang terlarut, jenis fluida, keberadaan gas dan gradient temperature. Ketika tekanan normal formasi meningkat kearah permukaan sedangkan pencegahan dari kehilangan fluida pori dalam proses, akan terjadi perubahan dari tekanan normal (pada kedalaman yang besar) menjadi tekanan yang tidak normal (di kedalaman yang dangkal). Ketika terjadi, dan selanjutnya satu pengeboran kedalam formasi, berat lumpur meningkat menjadi 20 ppg (2397 kg/m3) dapat dibutuhkan pengaturan. Di wilayah dimana kesalahan terjadi, lapisan garam atau domes diprediksi, atau kelebihan geotermal gradien diketahui, operasi drilling dapat menghadapi tekanan abnormal. Tekanan pori pori abnormal didefinisikan sebagai semua tekanan pori yang lebih besar dari tekanan hidrostatis dari formasi fluida yang memenuhi ruang pori. Hal ini kadang disebut overpressure atau geopressure. Sebuah tekanan formasi abnormal kadang dapat di prediksi menggunakan sejarah sumur, permukaan , geologi, downhole logs atau survei geophysical. Tekanan subnormal didefinisikan sebagai semua tekanan formasi yang kurang dari tekanan hidrostatis terkait pada kedalam yang diberikan. Tekanan formasi subnormal memiliki gradien tekanan lebih kecil dari air segar atau lebih kecil dari 0.433 psi/ft 90.0979 bar/m). Secara alami terjadinya tekanan subnormal dapat berkembang ketika kelebihan beban (overburden) telah dilepaskan, meninggalkan formasi yang terbuka di permukaan. Fracture pressure is the amount of pressure it takes to permanently deform () the rock structure of a formation. Overcoming formation pressure is usually not sufficient to cause fracturing. If pore fluid is free to move, a slow rate of entry into the formation will not cause fractures. If pore fluid cannot move out of the way, fracturing and permanent deformation of the formation can occur. Fracture pressure can be expressed as a gradient (psi/ft), a fluid density equivalent (ppg), or by calculated total pressure at the formation (psi). Fracture gradients normally increase with depth due to increasing overburden pressure. Deep, highly compacted formations can require very high fracture pressures to overcome the existing formation pressure and resisting rock structure. Loosely compacted formations, such as those found offshore in deep water, can fracture at low gradients. Fracture pressures at any given depth can vary widely because of the geology of the area.