Anda di halaman 1dari 31

1

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM PEMANFAATAN LENDIR BEKICOT (ACHATINA FULICA FERUSSAC) DALAM MEMPERCEPAT PROSES PENYEMBUHAN LUKA BIDANG KEGIATAN : PKM-GT Diusulkan oleh:

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2009

HALAMAN PENGESAHAN
1. Judul Kegiatan 2.

3.

4.

5.

: Peggunaan Lendir Bekicot (Achatina fullica Ferussac) dalam Mempercepat Proses Penyembuhan Luka Bidang Kegiatan : ( )PKM-AI ()PKM-GT Ketua Pelaksana Kegiatan a. Nama Lengkap : Dinar Hastha Bagaskara b. NIM : 1511409046 c. Jurusan : Psikologi d. Universitas : UNNES (Universitas Negeri Semarang) e. Alamat Rumah dan No HP : Jl. Maluku No: 30, Blora f. Alamat email : dinar_stifler@yahoo.co.id Anggota Pelaksana Kegiatan/ Penulis : orang Dosen Pendamping a. Nama Lengkap dan Gelar : b. NIP : c. Alamat Rumah dan No. Tel. :

Menyetujui Pembantu Dekan III Bidang Kemahasiswaan FKUB

Semarang, Ketua Pelaksana Kegiatan

( ) NIM. 0810710099

NIP. 130819378

Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan

Dosen Pendamping

( NIP. 130935076

() NIP. 132231569

KATA PENGANTAR

Puji syukur kahadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan hidayahNyalah penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul Pemanfaatan Lendir Bekicot (Achatina Fulica Ferrusac) dalam Mempercepat Proses Penyembuhan Luka Luar dengan baik. Tidak lupa penulis menyampaikan terima kasih kepada : 1. dr. Agustin Iskandar, M.Kes. selaku dosen pembimbing yang bersedia membimbing penulis untuk menyusun karya tulis ini 2. Kak Istiqomah selaku kakak pendamping LKTM 3. Semua pihak yang turut berperan dalam penyelesaian karya tulis ini. Atas bantuan beliaulah karya tulis ini dapat terselesaikan dengan baik. Karya tulis ini membahas tentang pemanfaatan lendir bekicot (Achatina fulica Ferussac) untuk mempercepat proses penyembuhan luka. Mengingat pada saat ini banyak sekali obat obat luka yang memiliki efek samping dan kurang efektif, maka penulis ingin mencari obat luka yang alami dengan efektivitas tinggi. Salah satunya yaitu lendir bekicot. Kami mengetahui bahwa karya tulis ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan karya tulis ini. Penulis berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Malang, 18 Maret 2009

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman sampul....................................................................................................i Halaman Lembar Pengesahan...............................................................................ii Kata Pengantar.......................................................................................................iii Daftar Isi................................................................................................................iv Ringkasan..............................................................................................................vi BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..................................................................................................1 1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................1 1.3 Batasan Masalah...............................................................................................2 1.4 Tujuan...............................................................................................................2 1.5 Manfaat.............................................................................................................2

BAB II TELAAH PUSTAKA


2.1 Luka..................................................................................................................3 2.1.1 Jenis Luka..................................................................................................3 2.1.1.1 Menurut Proses

Terjadinya.................................................................3
2.1.1.2 Menurut Kedalaman dan Luas

Luka...................................................3
2.1.2 Proses Penyembuhan Luka........................................................................4 2.2

Hemostatis...................................................................................................... ...4

2.2.1 Pembentukan aktivator

protombin.............................................................5
2.2.1.1 Jalur Ekstrinsik Pembentukan Aktivator

Protombin..........................5
2.2.1.2 Jalur Intrinsik Pembentukan Aktivator

Protombin.............................5

2.2.2 Mekanisme Pembekuan

darah...................................................................6
2.2.2.1 Perubahan Protombin Menjadi

Trombin............................................6
2.2.2.2 Perubahan Fibrinogen Menjadi Fibrin-Pembentukan

Bekuan...........6
2.2.2.3 Retraksi Bekuan

Darah.......................................................................7
2.3

Bekicot (Achatina fulica Ferussac)...................................................................7

2.3.1 Karakteristik Bekicot (Achatina fulica

Ferussac)......................................7
2.3.2 Karakteristik Kimiawi Mucus Bekicot (Achatina fulica

Ferussac)...........7
2.3.2.1 Heparan

Sulfat....................................................................................8
2.3.2.2 Achasin...............................................................................................

8
2.3.2.3 Kalsium..............................................................................................

.9 BAB III METODE PENULISAN


3.1 Sifat Penulisan.................................................................................................10 3.2 KerangkaBerpikir............................................................................................10 3.3 Metode Pengumpulan Data.............................................................................11 3.4 Metode Analisis dan Pemecahan Masalah......................................................11

BAB IV ANALISIS DAN SINTESIS


4.1 Cara Penggunaan Lendir Bekicot...................................................................12 4.2 Kemampuan Heparan Sulfat...........................................................................12

4.3 Achasin sebagai Senyawa Antibakteri............................................................13 4.4 Kemampuan Ca (Kalsium) pada Lendir Achatina fullica ferrusac dalam Penyembuhan Luka.................................................................................13

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan.....................................................................................................15

5.2 Saran...............................................................................................................15 DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................16 DAFTAR RIWAYAT HIDUP.............................................................................18 LAMPIRAN..............................................................................................22

RINGKASAN
Bekicot atau Achatina fulica Ferrusac selama ini dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai hewan yang menjijikkan. Masyarakat pada umumnya menganggap bekicot merupakan hewan yang tidak berguna, kurang memberikan kontribusi dalam kehidupan manusia, dan harus dibasmi. Padahal jika dikaji lebih dalam hewan ini memberikan manfaat yang luar biasa untuk manusia, antara lain dagingnya sebagai bahan makanan ternak dan sumber makanan alternatif, serta cangkangnya sebagai hiasan. Bagian bekicot yang paling menjijikan, yaitu lendirnya sebenarnya memiliki manfaat yang besar. Masyarakat Jawa menggunakan lendir bekicot untuk mempercepat proses penyembuhan luka. Berdasarkan pengalaman mereka, luka yang diolesi lendir bekicot akan lebih cepat sembuh dan kering. Sayangnya, khasiat lendir bekicot sebagai zat yang mempercepat proses penyembuhan luka belum banyak diketahui oleh masyarakat sehingga khasanah pengetahuan mereka dalam memanfaatkan lendir bekicot hanya sebatas bernilai konsumtif saja. Hal itulah yang menjadikan kami tertarik untuk menyusun karya ilmiah ini. Ruang lingkup permasalahan terletak pada keterkaitan antara kandungan bahan aktif yang terdapat di dalam lendir bekicot dengan proses penyembuhan luka dan sebagai senyawa antibakteri, penggunaan bekicot jenis Achatina fullica Ferrusac galur jawa, dan luka yang dimaksud dalam karya tulis ini adalah jenis luka yang menyebabkan terbukanya pembuluh darah seperti luka insisi, luka gores, luka lecet, dan luka tusuk. Sedangkan untuk kedalaman lukanya adalah luka stadium 3 yaitu luka yang mencapai lapisan subkutan tanpa merusak otot dan jaringan di bawahnya. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui kinerja lendir bekicot dalam mempercepat proses penyembuhan luka dan sebagai bahan antibakteri. Kami mengharapkan adanya manfaat dari penulisan karya ilmiah ini baik manfaat klinis maupun akademis yaitu menambah nilai guna bekicot, memberikan ide untuk pembuatan obat alami dari lendir bekicot, mengembangkan kemampuan kami menulis karya ilmiah, dan menambah wawasan pembaca mengenai pemanfaatan lendir bekicot untuk penyembuhan luka luar. Metode yang penulis gunakan untuk menyusun karya tulis ini adalah studi pustaka. Sedangkan, cara analisis yang digunakan adalah deskriptif dan ekspositif. Terdapat tiga senyawa aktif yang terdapat di dalam lendir bekicot yaitu achasin, heparan sulfat, dan kalsium. Heparan sulfat berperan dalam mempercepat proses penyembuhan luka, yaitu dengan membantu proliferasi sel sehingga luka lebih cepat tertutup. Sedangkan, achasin berperan sebagai senyawa antibakteri. Achasin membran plasma bakteri dan menyebabkan filamentasi yang luas pada bakteri. Hal tersebut menghambat perkembangbiakan bakteri bahkan menyebabkan kematian pada bakteri. Kalsium berperan dalam proses hemostatis yaitu pembekuan darah. Cara pemakaian lendir bekicot untuk penyembuhan luka adalah dengan memecah ujung cangkang bekicot, setelah itu lendir yang keluar dari ujung cangkangnya dioleskan pada luka. Pada saat lendir bekicot dioleskan pada bagian

tubuh yang terluka tersebut, beberapa kandungan zat dalam lendirnya aktif bekerja dalam proses penyembuhan luka. Salah satu zat tersebut adalah heparan sulfat. Heparan sulfat tersebut akan terserap ke dalam matriks ekstraseluler jaringan tubuh. Penambahan konsentrasi heparan sulfat dari lendir bekicot yang diserap oleh jaringan, akan meningkatkan terjadinya proliferasi sel di daerah luka. Achasin isolat sebagai salah satu antibacterial glikoprotein ampuh membunuh bakteri yang terdapat pada luka. Achasin memiliki substrat yang spesifik yang berfunngsi untuk mengkatalisis oksidasi deaminasinya. Salah satu hasil dari oksidasi tersebut adalah H2O2 yang mampu menyerang membran plasma bakteri. Rusaknya membran plasma bakteri menyebabkan bakteri itu mati. Bekicot memiliki kelenjar kalsium yang terdapat pada bagian ventral dari mantel cangkang, samping kaki, dasar permukaan dasar kaki. Kalsium yang terdapat dalam kelenjar tersebut tersimpan dalam bentuk CaCO3 dan disekresikan bersama mucus. Kalsium berperan dalam hemostatsis yaitu dalam proses pembekuan darah. Secara tidak langsung, kalsium mempercepat pembentukan aktivator protombin. Aktivator protombin yang cepat terbentuk inilah yang mempengaruhi kecepatan proses penyembuhan luka. Selain itu, kalsium dalam bentuk ion Ca++ akan membantu proses pengubahan protrombin menjadi trombin. Dapat disimpulkan bahwa lendir bekicot memiliki dua fungsi utama, yaitu untuk mempercepat proses penyembuhan luka dan sebagai senyawa antibakteri. Heparan sulfat dan kalsium berperan dalam mempercepat proses penyembuhan luka, sedangkan achasin berperan sebagai zat antibakteri. Kedua fungsi utama ini menunjukan bahwa lendir bekicot merupakan obat luka yang cukup potensial. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai manfaat ekstrak lendir bekicot untuk mempercepat penyembuhan luka luar, perlu diadakan penelitian mengenai kegunaan lain dari kandungan zat-zat bermanfaat yang terkandung dalam lendir bekicot, perlu dikembangkan obat penyembuhan luka luar yang alami dari lendir bekicot karena tergolong aman dan murah, dan perlu diadakan penelitian lain untuk memaksimalkan manfaat lain dari bekicot. Diharapkan pula pemanfaatan bekicot tidak hanya dari daging dan cangkangnya saja seperti yang sudah ada sekarang ini tetapi juga dari lendirnya bahkan suatu saat nanti bagian lain dari bekicot juga bisa dimaksimalkan.

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Bekicot atau Achatina fulica Ferussac selama ini dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai hewan yang menjijikkan, tidak berguna, dan kurang memberikan kontribusi dalam kehidupan manusia, serta harus dibasmi. Padahal jika dikaji dan diolah lebih dalam hewan ini memberikan manfaat yang luar biasa untuk manusia, antara lain: dagingnya sebagai bahan makanan ternak dan sumber makanan alternatif serta cangkangnya sebagai hiasan (Verawati dkk, 2007). Namun, sebenarnya bekicot tidak hanya berfungsi sebagai barang konsumsi semata. Bagian bekicot yang paling menjijikan, yaitu mucusnya sebenarnya memiliki manfaat yang besar. Masyarakat Jawa memanfaatkan mucus bekicot sebagai obat luka luar (Mutiarawati, 2007). Pada saat mereka terluka, mereka mengoleskan mucus bekicot pada luka tersebut. Berdasarkan pengalaman mereka, luka yang diolesi mucus bekicot akan lebih cepat kering dan sembuh. Selain mempercapat proses penyembuhan luka, mucus bekicot juga dikenal sebagai bahan antibakteri (Ehara et al, 2002). Namun sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui khasiat mucus bekicot sehingga khazanah pengetahuan masyarakat dalam pemanfaatan bekicot sebatas bernilai konsumtif. Berangkat dari beberapa pengalaman masyarakat yang memanfaatkan mucus bekicot dalam mengobati luka, penulis menyusun karya tulis ilmiah yang berjudul Pemanfaatan Mucus Bekicot (Achatina fulica Ferussac) dalam Mempercepat Proses Penyembuhan Luka Luar dengan harapan masyarakat mengetahui dan memanfaatkan bekicot dengan lebih optimal (Mutiarawati, 2007).
1.2 Rumusan Masalah

10

Adapun rumusan masalah yang dikemukakan sebagai berikut:


1. Bagaimana

kinerja

mucus

bekicot

dalam

mempercepat

proses

penyembuhan luka luar?


2. Bagaimana kinerja mucus bekicot sebagai bahan antibakteri?

1.3 Batasan Masalah Adapun batasan masalah yang digunakan sebagai berikut:
1. Bekicot yang digunakan yaitu jenis Achatina fulica Ferussac galur jawa 2. Luka luar yang dimaksud adalah luka yang menyebabkan terbukanya

pembuluh darah, seperti luka stadium 1-3, luka insisi, luka gores, luka lecet, dan luka tusuk.
3. Ruang lingkup permasalahan terletak pada keterkaitan antara kandungan

aktif yang terdapat di dalam mucus bekicot dengan proses penyembuhan luka luar dan sebagai senyawa antibakteri.
1.4 Tujuan

Adapun tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui

kinerja

mucus

bekicot

dalam

mempercepat

proses

penyembuhan luka luar.


2. Mengetahui kinerja mucus bekicot sebagai bahan antibakteri. 1.5 Manfaat

Adapun manfaat yang diperoleh sebagai berikut: 1. Manfaat klinis :


a. Menambah nilai guna bekicot. b. Memberikan ide untuk membuat suatu obat penyembuhan luka

yang alami dari mucus bekicot. 2. Manfaat Akademis: a. Sebagai sarana bagi penulis untuk mengembangkan kemampuan dalam menulis karya ilmiah.
b. Menambah wawasan pembaca mengenai berbagai manfaat bekicot

terutama pemanfaatan mucusnya untuk penyembuhan luka luar.

11

BAB II TELAAH PUSTAKA 2.1 Luka Luka adalah rusaknya kesatuan atau komponen jaringan, dimana secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang. Efek yang timbul saat terjadi luka adalah hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ, respon stress simpatis, perdarahan dan pembekuan darah, kontaminasi bakteri, kematian sel (PMI, 2004). 2.1.1 Jenis Luka
2.1.1.1

Menurut Proses Terjadinya. Menurut proses terjadinya, luka Luka Insisi, terjadi akibat teriris oleh instrument yang tajam. Luka Memar, terjadi akibat suatu tekanan pada jaringan lunak,

dapat dibedakan menjadi :


1. 2.

perdarahan dan bengkak.


3. 4.

Luka Lecet, terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda tumpul. Luka Tusuk, terjadi akibat adanya benda yang masuk ke kulit dengan diameter yang kecil dan memiliki kedalaman. Luka Gores, terjadi akibat benda yang tajam seperti kaca atau kawat. Luka Tembus, luka yang menembus organ tubuh Luka Bakar, luka yang dapat disebabkan oleh: panas, radiasi, listrik, ataupun bahan kimia (Admin, 2008).

5. 6. 7.

2.1.1.2

Menurut Kedalaman dan Luas Luka. Menurut kedalaman dan Stadium 1, luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit. Stadium 2, hilangnya lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian

luasnya, luka dapat dibedakan menjadi : 1. 2. 3.

atas dari dermis. Stadium 3, nekrosis jaringan subkutan tetapi tidak mengenai otot dan tanpa merusak jaringan disekitarnya.

12

4.

Stadium 4, mencapai lapisan otot, tendon, dan tulang dengan adanya destruksi yang luas (Admin, 2008). 2.1.2 Proses Penyembuhan Luka Fase penyembuhan luka secara umum dibagi tiga yaitu : 1. Fase Inflamasi Fase inflamasi adalah adanya respon vaskuler dan seluler yang terjadi akibat perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. Tujuannya adalah menghentikan perdarahan dan membersihkan area luka dari benda asing. Secara klinis fase inflamasi ini ditandai dengan : eritema, hangat pada kulit, oedema, dan rasa sakit (Admin, 2008). 2. Fase Proliferatif Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki dan menyembuhkan luka dan ditandai dengan proliferasi sel. Sesudah terjadi luka, fibroblas akan aktif bergerak dari jaringan sekitar luka ke dalam daerah luka, kemudian akan berkembang (proliferasi) serta mengeluarkan beberapa substansi (kolagen, elastin, hyaluronic acid, fibronectin dan proteoglycans) yang berperan dalam membangun (rekontruksi) jaringan baru (Admin, 2008). 3. Fase Maturasi Tujuan dari fase ini adalah menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu. Penyembuhan dapat optimal apabila terjadi keseimbangan antara kolagen yang diproduksi dengan yang dipecahkan. Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan kekuatan jaringan parut mampu atau tidak mengganggu untuk melakukan aktifitas normal (Admin, 2008).

2.2 Hemostasis

Hemostatis berarti mencegah hilangnya darah. Hal tersebut terutama pada saat pembuluh darah mengalami cedera atau ruptur. Mekanisme hemostatis dapat terjadi melalui beberapa cara, yaitu konstriksi pembuluh darah, pembentukan

13

sumbat platelet atau trombosit, pembekuan darah, dan pembentukan jaringan fibrosa ke dalam bekuan darah untuk menutup lubang pada pembuluh darah secara permanen (Guyton dan Hall, 2006). 2.2.1 Pembentukan Aktivator Protrombin Proses pembekuan darah pada pembuluh darah yang ruptur diawali oleh proses pembentukan aktivator protrombin. Setelah aktivator protrombin terbentuk, mekanisme pembekuan darah dapat berlanjut sampai akhirnya terjadi refraksi bekuan darah.
2.2.1.1

Jalur

Ekstrinsik

Pembentukan

Aktivator

Protrombin.

Mekanisme ekstrinsik dimulai dari kontak pembuluh darah atau jaringan yang rusak dengan darah. Proses pertama yaitu terjadi pelepasan faktor jaringan atau tromboplastin jaringan yang terdiri dari fossolipid dan kompleks lipoprotein yang terutama berfungsi sebagai enzim proteolitik. Kemudian kompleks lipoprotein, faktor VII, dan ion kalsium berfungsi sebagai enzim yang mengaktivasi faktor X untuk membentuk faktor X yang teraktivasi (Xa). Lalu faktor Xa berikatan dengan fosfolipid jaringan dan faktor V untuk membentuk suatu senyawa yang disebut aktivator protombin (Guyton dan Hall, 2006).
2.2.1.2

Jalur

Intrinsik

Pembentukan

Aktivator

Protrombin.

Mekanisme ini berasal dari dalam darah itu sendiri, yaitu kontak darah dengan kolagen. Kontak tersebut akan menyebabkan perubahan pada faktor XII dan trombosit dalam darah. Faktor XII akan berubah menjadi faktor XIIa dan trombosit akan melepaskan faktor 3 trombosit. Faktor XIIa akan mengaktivasi faktor XI menjadi faktor XIa. Proses ini juga memerlukan bantuan kininogen HMW dan prekalikrein. Kemudian faktor XIa akan mengaktivasi faktor IX menjadi faktor IXa. Lalu faktor IXa, faktor VIIIa, fosfolipid trombosit, dan faktor 3 trombosit bekerja sama untuk mengaktivasi faktor X menjadi faktor Xa. Selanjutanya, faktor Xa, faktor V, dan trombosit atau fosfolipid jaringan bergabung untuk membentuk aktivator protrombin (Guyton dan Hall, 2006).

14

2.2.2 Mekanisme Pembekuan Darah Mekanisme pembekuan darah terdiri dari, perubahan protombin menjadi thrombin, perubahan fibrinogen menjadi fibrin, dan retraksi bekuan darah.
2.2.2.1

Perubahan Protrombin Menjadi Trombin. Pada saat pembuluh

darah mengalami ruptur, aktivator protrombin terbentuk. Aktivator protrombin dengan bantuan Ca++ dengan jumlah yang cukup dapat menyebabkan protrombin menjadi trombin. Kemudian, trombin dapat menyebabkan polimerisasi fibrinogen menjadi benang benang fibrin. Jadi, yang menentukan kecepatan dalam penyembuhan luka adalah pembentukan aktivator protrombin bukan reaksi reaksi berikutnya (Guyton dan Hall, 2006).
2.2.2.2

Perubahan Fibrinogen Menjadi Fibrin Pembentukan

Bekuan. Trombin adalah enzim protein dengan kemampuan proteolitik yang lemah. Trombin bekerja dengan melepaskan empat peptida dari setiap molekul fibrinogen sehingga terbentuk molekul fibrin monomer. Molekul tersebut siap untuk berpolimerisasi. Dalam beberapa detik terbentuklah benang benang fibrin, polimer dari molekul fibrin monomer tadi (Guyton dan Hall, 2006). Pada awalnya polimer yang terbentuk memiliki ikatan hidrogen nonkovalen yang lemah. Bekuan yang dihasilkan tidaklah kuat dan mudah dicerai beraikan. Akan tetapi, kemudian terjadi proses yang bertujuan untuk memperkuat ikatan polimer tersebut. Proses tersebut melibatkan faktor stabilisasi fibrin. Faktor ini terdapat di globulin plasma normal dan juga dilepaskan oleh trombosit yang terperangkap dalam bekuan. Faktor ini perlu diaktivasi terlebih dahulu oleh trombin. Kemudian faktor ini bekerja pada polimer tersebut untuk menciptakan ikatan kovalen yang semakin banyak dan juga ikatan silang antara benang benang fibrin yang berdekatan sehingga menambah kekuatan jaringan fibrin tersebut (Guyton dan Hall, 2006).

15

2.2.2.3

Retraksi Bekuan. Bekuan darah terdiri dari benang benang

fibrin yang bergerak ke segala arah dan menjerat sel sel darah, trombosit, dan plasma. Bekuan darah tersebut juga menutup lubang di pembuluh darah sehingga mencegah kebocoran (Guyton dan Hall, 2006). Beberapa menit setelah bekuan terbentuk, bekuan tersebut menciut dan memeras keluar seluruh cairan yang ada di dalam bekuan. Cairan itu disebut serum. Proses retraksi ini memerlukan peran aktif trombosit. Trombosit mengaktifkan molekul aktin miosin dan trombostenin trombosit. Molekul tersebut dapat menimbulkan kontraksi kuat pada tonjolan tojolan runcing dari trombosit yang melekat pada jaringan fibrin. Hal tersebut juga meretraksi jaringan jaringan fibrin menjadi massa yang lebih kecil. Dengan adanya retraksi bekuan tersebut, pembuluh darah yang robek ditarik untuk saling mendekat sehingga memungkinkan untuk berlanjut ke tahap akhir hemostatis (Guyton dan Hall, 2006).
2.3 Bekicot (Achatina fulica Ferussac)

Mucus yang digunakan dalam proses penyembuhan luka pada bahasan ini berasal dari salah satu spesies Achatina fulica, yaitu Achatina fulica Ferussac. Kandungan mucus yang dapat mempercepat penyembuhan luka adalah achasin isolat, heparan sulfat, kalsium.
2.3.1Karakteristik Bekicot (Achatina fulica Ferussac)

Achatina fulica merupakan hewan yang tergolong dalam famili Achatinidae. Subspesies Achatina fulica adalah Achatina fulica Ferussac. Ia dikenal dengan sebutan bekicot di Indonesia. Achatina fulica memiliki tubuh yang lunak. Tubuh lunak ini tidak bersegmen, umumnya dilengkapi kelenjar yang dapat menghasilkan cangkang yang tersusun dari zat kapur (Cowie, 2006).
2.3.2Karakteristik Kimiawi Mucus Bekicot (Achatina fulica Ferussac)

Mucus yang keluar dari ujung cangkang bekicot yang dipecah mengandung berbagai macam bahan kimia yang memiliki banyak manfaat.

16

Bahan kimia yang terkandung di dalam mucus bekicot antara lain achatin isolat, heparan sulfat, dan Calsium. Achatin isolat bermanfaat sebagai antibakteri dan antinyeri. Sedangkan, heparan sulfat bermanfaat dalam mempercepat proses penyembuhan luka dengan membantu proses pembekuan darah dan Calsium berperan dalam hemostatis.
2.3.2.1

Heparan Sulfat. Heparan sulfat merupakan suatu molekul yang

banyak terdapat pada permukaan sel sebagai proteoglikan dan berada di luar sel. Heparan sulfat merupakan salah satu dari tujuh jenis glikosaminoglikan (GAG) (Nuringtyas). Protein yang mengandung glikosaminoglikan dan terikat secara kovalen disebut proteoglikan. Glikosaminoglikan dan proteoglikan merupakan komponen utama substansi dasar, mempunyai sejumlah peranan biologik yang penting (Nuringtyas). Heparan sulfat memiliki kaitan yang erat dengan membran plasma sel dan protein yang merentangkan membran tersebut. Dalam membran plasma, proteoglikan bekerja sebagai reseptor dan dapat turut berpartisipasi dalam memperantarai pertumbuhan sel serta komunikasi antarsel. Pengikatan sel pada substratnya dalam perbenihan akan diantarai, paling tidak sebagian oleh heparan sulfat. Proteoglikan ini juga ditemukan dalam membran basalis ginjal bersama dengan kolagen tipe IV dan laminin, tempat komponen tersebut memainkan peranan utama dalam menentukan selektivitas muatan pada filtrasi glomerulus (Nuringtyas). Heparan sulfat berfungsi sebagai faktor yang mempengaruhi pembelahan sel. Selain itu, zat ini berfungsi juga membantu penempelan protein yang berfungsi sebagai sinyal untuk stimulus pembelahan sel ke reseptornya di membran plasma (Nuringtyas).
2.3.2.2

Achasin. Di dalam mucus Achatina fulica Ferussac terdapat

kandungan achasin yang merupakan salah satu antibacterial glikoprotein (UniProt Consortium, 2008). Achasin adalah L-amino acid oxide (LAO, EC 1.4.3.2) dengan substrat yang spesifik yang berfungsi mengkatalisis oksidasi deaminasi

17

dari L-amino acid untuk memproduksi ketoacid, H2O2, dan NH3. Dari ketiga produk tersebut, H2O2 memegang peran dalam proses antibakteri (Ehara et al, 2002).
2.3.2.3

Kalsium. Achatina fulica Ferussac galur jawa memiliki 8 macam

kelenjar kutan. Kelenjar tersebut adalah empat kelenjar mucus dengan tipe yang berbeda (tipe A, B, C, dan D), kelenjar protein, kelenjar kalsium, kelenjar pigmen, dan kelenjar lemak. Kelenjar tersebut ada yang terletak di bagian tubuh yang terlindung cangkang dan ada yang terletak di bagian tubuh yang tidak terlindung cangkang saat berjalan yaitu bagian kaki. Kelenjar yang ada di bagian tubuh yang terlindung cangkang terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian ventral dan median. Sedangkan kelenjar yang terletak di bagian tubuh yang tidak terlindung cangkang terdapat pada bagian dorsal dan lateral dari permukaan kaki bagian atas, dan permukaan kaki yang menyentuh tanah (Campion, 1961). Kelenjar kalsium pada Achatina fulica terdapat pada bagian ventral dari mantel cangkang, bagian samping kaki, dan permukaan dasar kaki. Kalsium yang terdapat dalam kelenjar tersebut tersimpan dalam bentuk CaCO3 dan disekresikan bersama mucus. Kalsium tersebut berguna saat bekicot mengalami iritasi dalam mempercepat proses penyembuhan luka (Campion, 1961).

18

BAB III METODE PENULISAN 3.1 Sifat Penulisan Karya tulis ini bersifat kajian pustaka yang menjelaskan tentang pengaruh mucus Achatina fullica Ferussac dalam mempercepat proses penyembuhan luka. Dalam paparan ini juga dijelaskan mengenai mekanisme zat-zat aktif yang terkandung dalam mucus Achatina fullica Ferussac dalam mempercepat proses penyembuhan luka. Perumusan masalah disusun berdasarkan kepercayaan masyarakat tentang manfaat mucus Achatina fullica Ferussac untuk mengobati luka karena dipercaya dapat mempercepat proses penyembuhan. Ruang lingkup permasalahna terletak pada mekanisme senyawa-senyawa aktif yang terkandung dalam mucus Achatina fullica Ferussac serta keungulannya jika dibandingkan dengan obat-obat lain. 3.2 Kerangka Berpikir
MUCUS BEKICOT HEPARAN SULFAT

ACHASIN

CALSIUM

PROLIFERASI

ANTIBAKTERI

HEMOSTASIS

PENYEMBUHAN LUKA LEBIH CEPAT

19

3.3 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan metode studi pustaka (literature review) brdasarkan permasalahan baik informasi digital maupun non digital dari sumber pustaka sebagai berikut : 1. 2. 3. Jurnal-jurnal kesehatan Buku ajar atau referensi pustaka Informasi internet.

3.4 Metode Analisis dan Pemecahan Masalah Metode analisis data pustaka dilakukan dengan dua pendekatan yaitu: 1. 2. Metode eksposisi, yaitu dengan memaparkan data dan fakta yang ada dan mencari korelasi antara data tersebut. Metode analitif, yaitu melalui proses analisis data atau informasi serta menarik kesimpulan secara logis dari data yang diperoleh.

20

BAB IV ANALISIS DAN SINTESIS 4.1 Cara Penggunaan Mucus Bekicot Dalam jaringan tubuh bekicot dihasilkan mucus yang diekskresikan ke permukaan tubuh dan bagian dalam cangkang. Pada proses penyembuhan luka luar dengan menggunakan mucus bekicot, mucus yang diambil berasal dari bagian dalam cangkang bekicot. Mucus diambil dengan memecahkan bagian ujung cangkang bekicot. Lalu mucus tersebut dioleskan langsung ke bagian kulit yang terluka. Mucus yang keluar mengandung berbagai macam zat kimia yang memiliki banyak manfaat. Beberapa zat yang memiliki peranan dalam proses menyembuhkan luka luar adalah achasin isolat, heparan sulfat, dan alsium. Melihat besarnya manfaat dari mucus bekicot, penulis menganggap perlu diadakan penelitian untuk memproduksi mucus bekicot ini dalam bentuk yang lebih praktis seperti dalam bentuk obat tetes.
4.2 Kemampuan Heparan Sulfat

Heparan sulfat merupakan salah satu glikosaminoglikan yang terdapat dalam tubuh manusia, tepatnya pada matriks ekstraselular. Struktur proteoglikan yang terikat pada membran protein integral disebut syndecan. Struktur proteoglikan ini memiliki matriks yang disebut matriks proteoglikan yang berperan dalam respon sel terhadap extracellular growth factor (EGF). Salah satu contoh dari EGF adalah Fibroblast Growth Factor (FGF), yaitu protein yang berfungsi sebagai sinyal untuk stimulus pembelahan sel (Nuringtyas). Pada saat mucus bekicot dioleskan pada bagian tubuh yang terluka, kandungan Heparan sulfat di dalamnya akan terserap ke dalam matriks ekstraseluler. Penambahan konsentrasi heparan sulfat dari mucus bekicot yang diserap oleh jaringan, akan meningkatkan terjadinya proliferasi sel. Proses proliferasi sel dalam jaringan yang terluka dimulai dari adanya fibroblast growth factor (FGF). FGF yang datang akan terikat dengan heparan sulfat pada syndecan. Kemudian FGF yang terikat dibawa oleh Heparan sulfat menuju

21

reseptor FGF pada plasma membran. Reseptor FGF yang telah berikatan dengan Heparan sulfat akan merangsang terjadinya proliferasi sel (Nuringtyas). Dengan konsentrasi Heparan sulfat yang banyak, maka semakin banyak pula FGF yang dapat terikat pada reseptornya, sehingga proliferasi extracellular matrix yang berperan dalam proses penutupan luka juga meningkat. Dengan kata lain, makin banyak konsentrasi Heparan sulfat yang ada pada jaringan akan makin cepat pula proses penyembuhan luka. 4.3 Achasin sebagai Senyawa Antibakteri Achasin berperan sebagai zat antibacterial yang mampu membunuh bakteri gram negatif yaitu E.Coli dan gram positif yaitu E.Aureus (Ehara et al, 2000). Dengan adanya achasin yang diberikan pada daerah luka, bakteri pada daerah tersebut dapat dibunuh. Berikut mekanisme achasin dalam melawan bakteri:
1.

Adanya bakteri merangsang achasin (aktivitas LAO) untuk memproduksi H2O2, dimana H2O2 merupakan mediator untuk aktivitas antibakteri. H2O2 menyerang membrane plasma bakteri dan menyebabkan filamentasi yang luas pada bakteri. Adanya filamentasi yang luas menyebabkan kematian pada bakteri sehingga dapat menghambat perkembangbiakan bakteri. Apabila bakteri sedang dalam fase pertumbuhan, hal ini menyebabkan

2.

3.

terangsangnya produksi H2O2 oleh LAO, dan dapat mempercepat proses antibakteri.
4.4 Kemampuan Ca (kalsium) pada Mucus Achatina fulica Ferussac dalam

Proses Penyembuhan Luka Kalsium yang terdapat dalam mucus Achatina fulica berperan dalam proses penyembuhan luka di tubuh. Kalsium ini dalam bentuk ion Ca++ membantu proses terbentuknya aktivator protombin. Semakin banyak ion Ca++ maka semakin mempercepat terbentuknya ativator protombin. Itu berarti semakin cepat proses penyembuhan luka. Selain itu ion Ca++ berperan juga dalam proses pengubahan protombin menjadi trombin.

22

Hemostatis terjadi pada saat pembuluh darah mengalami ruptur atau cedera. Salah satu mekanisme hemostatis adalah pembetukan bekuan darah. Pembentukan bekuan darah diawali oleh proses pembentukan aktivator protombin kemudian dilanjutkan dengan perubahan protombin menjadi trombin. Kalsium dalam bentuk ion Ca++ berperan aktif dalam proses awal pembentukan aktivator protombin dan ikut membantu aktivator protombin tersebut mengubah protombin menjadi trombin. Kemudian, trombin dapat menyebabkan polimerisasi fibrinogen menjadi benang benang fibrin. Jadi, yang menentukan kecepatan dalam penyembuhan luka adalah pembentukan aktivator protrombin bukan reaksi reaksi berikutnya. Secara tidak langsung keberadaan ion Ca++ yang cukup ikut mempercepat terbentuknya aktivator protombin di jalur ekstrinsik ataupun intrinsik. Aktivator protombin yang cepat terbentuk akan mempercepat proses perubahan protombin menjadi trombin sehingga luka akan cepat sembuh. Selain berperan dalam proses pembentukan aktivator protombin, ion Ca++ juga berperan dalam mengubah protrombin menjadi trombin. Oleh karena itu, keberadaan Ca (klasium) sangat membantu proses penyembuhan luka

23

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Kesimpulan-kesimpulan yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut :
1.

Mucus Achatina fullica Ferussac mengandung Ca (kalsium) yang secara tidak langsung berperan aktif dalam proses penyembuhan luka. Selain itu, kandungan heparan sulfat yang juga diduga terkandung dalam mucus bekicot ikut membantu penyembuhan luka melalui peran aktifnya pada prose proliferasi sel.

2.

Mucus Achatina fullica Ferussac mengandung achasin isolat yang merupakan salah satu glikoprotein antibakteri. Achasin isolat ampuh untuk membunuh bakteri yang timbul di daerah luka dengan cara menyerang membran plasma bakteri. Dalam hal ini achasin isolat mampu menyerang bakteri gram-negatif (S.aureus) dan bakteri gram-positif (E. Coli).

5.2 Saran Saran-saran yang dapat penulis berikan adalah sebagai berikut : 1. 2.
3.

Perlu diadakan penelitian mengenai kegunaan dari kandungan zat-zat lain yang bermanfaat yang terkandung dalam mucus bekicot. Perlu dikembangkan obat penyembuhan luka luar yang praktis dan alami dari mucus bekicot karena tergolong aman dan murah. Perlu diadakan penelitian lain untuk memaksimalkan manfaat lain dari bekicot. Diharapkan pemanfaatan bekicot tidak hanya dari daging dan cangkangnya saja seperti yang sudah ada sekarang ini tetapi juga dari mucusnya bahkan suatu saat nanti bagian lain dari bekicot juga bisa dimaksimalkan.

24

25

DAFTAR PUSTAKA Admin. 2008. Perawatan Luka. Http://dokterfoto.com/2008/03/03/perawatanluka/. [3 Desember 2008]. Cowie, Robert H. 2006. Achatina Fulica. Http://www.issg.org/database/spesies/ecology.asp?si=64&ver=print.[ 23 Maret 2009]. Campbell. 2007. Biologi Jl. 1 Ed. 5. halaman 234. Penerbit : Erlangga. Campion, Mary. 1961. The Structure and Function of Cutaneous Glands in Helix Aspera. Http://jcs.biologists.org/cgi/reprint/s3-102/58/195.pdf. [9 Februari 2009]. Ehara, T., Kitajima, S., Kanzawa, N., et al. 2002. Antimicrobial Action of Achasin is Mediated by L-amino Acid Oxidase Activity. [16 Oktober 2008]. Guyton, Arthur C, Hall, John E. 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Mutiarawati, C. 2007. Lendir Bekicot : Penghilang Rasa Nyeri. Http://bekicotachatinafulica.blogspot.com/search/label/Khasiat. [14 Oktober 2008]. Nuringtyas, Tri Rini. Glikonjugat : Proteoglican, Glikoprotein, dan Glikolipid. Http://elisa.ugm.ac.id/files/chimera73/hEAc8NaI/Glycan,Proteoglycan, %20Glycoprotein,%20glycolipid.pdf. [7 Desember 2008]. PMI. 2004. Pertolongan Pertama. Jakarta : PMI

26

Purwatiningsih. 2003. Uji Aktivitas Ekstrak Aseton Bekicot sebagai Penghambat Virus Dengue secara Invitro. Yogyakarta: Tesis Program Pascasarjana UGM. Ruddon, Raymond W. 2007. Cancer Biology. Halaman 126.

S. Kim, Yeong et all. 1996. A New Glycosaminoglycan from the Giant African Snail Achatina fulica. Http://www-heparin.rpi.edu/papers/PDF%20199496/153.pdf. [31 Desember 2008]. UniProt Consortium. 2008. Achacin. Http://www.uniprot.org/uniprot/P35903. [7 Desember 2008]. Verawati, A. S., Hendrawati, N., Ningrum, E. O., Indrayani. 2007. Optimalisasi Nilai Guna Daging dan Cangkang Bekicot (Achatina spp) sebagai Sumber Protein dan Kalsium. Http://www.kemahasiswaan.its.ac.id/files/PKMI %202006%20ITS%20Ade%20&%20Nanik.pdf. [16 Oktober 2008].

27

LAMPIRAN

Faktor Pembekuan Darah NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. FAKTOR PEMBEKUAN Faktor I Faktor II Faktor III Faktor IV Faktor V Faktor VII Faktor VIII Faktor IX Faktor X Faktor XI Faktor XII Faktor XIII Prekalikrein Fibrinogen Protrombin Faktor Jaringan Kalsium Proaccelerin, factor labil, Ac-globulin Akselerator konversi protrombin serum, provertin, factor stabil Faktor antihemofilik, globulin antihemofilik, factor A antihemofilik Komponen tromboplastin plasma, factor Christmas, factor B Faktor Stuart, faktor Stuart Prower Antesenden tromboplastin plasma, factor c antihemofilik Faktor Hageman Faktor stabilisasi-fibrin Faktor Fletcher SINONIM

Kininogen dengan Faktor Fitzgerald, HMWK kininogen berat molekul besar Trombosit -

(Guyton dan Hall, 2006)

28

Jalur Ekstrinsik Pembentukan Aktivator Protombin

(Guyton dan Hall, 2006)

29

Jalur Intrinsik Pembentukan Aktivator Protombin

(Guyton dan Hall, 2006)

30

Proses Pembentukan Benang-benang Fibrin

( Guyton dan Hall, 2006 )

31

Achatina fulica Ferussac