Anda di halaman 1dari 10

LABIRINITIS Pendahuluan

Labirinitis pada dasarnya di kenal dua macam dan dengan gejala yang berbeda, labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin disebut dengan labirinitis umum ( general ), dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat, kemudian yang mengenai hanya sebagian atau terbatas disebut labirinitis terbatas ( labirinitis sirkumskripta ) menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf saja.

ETIOLOGI Secara etiologi labirinitis terjadi karena penyebaran infeksi ke ruang perlimfa. Terdapat dua bentuk labirinitis, yaitu labirinitis serosa dan labirinitis supuratif. Labirinitis serosa dapat berbentuk labirinitis serosa difus dan labirinitis serosa sirkumskripta. Labirinitis supuratif dibagi dalam labirinitis supuratif akut difus dan labirinitis supuratif kronik difus. Pada labirinitis serosa toksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel radang, sedangkan pada labirin supurati dengan invasi sel radang ke labirin., sehingga terjadi kerusakan yan iereversibel, seperti fibrosa dan osifikasi. Pada kedua jenis labirinitis tersebut operasi harus esgera dilakukan untuk menghilangkan infeksi dari telinga tengah. Kadang kadang diperlukan juga drenase nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya

meningitis. Pemberian antibiotika yang adekuat terutama ditujukan kepada pengobatan otitis media kronik.

Labirinitis

serosa

difus

Labirinitis serosa difus seringkali terjadi sekunder dari labirinitis sirkumskripta atau dapa terjadi primer pada otitis media akut. Masuknya toksin atau bakteri melalui tingkap bulat, tinkap lonjong, atau melalui erosi tulang labirin. Infeksi tersebut mencapai end osteum melalui saluran darah. Diperkirakan penyebab labirinitis serosa yang paling sering adalah absorbsi produk bakteri di telinga dan mastoid ke dalam labirin. Bentuk ringan labirinitis serosa selalu terjadi pada operasi telinga dalam, misalnya pada operasi fenestrasi, terjadi singkat dan biasanya tidak menyebabkan gangguan pendengaran.

Kelainan patologiknya seperti inflamasi non purulen labirin. Pemeriksaan histologik pada potongan labirin menunjukkan infiltrasi seluler awal dengan eksudat serosa atau serofibrin.

Gejala dan tanda serangan akut labirinitis serosa difus adalah vertigo spontan dan nistagmus rotatoar, biasanya ke arah telinga yang sakit. Kadang-kadang disertai mual dan muntah, ataksia, dan tuli saraf. Labirinitis serosa difus yang terjadi sekunder dari labirinitis sirkumskripta mempunyai gejala yang serupa tetapi lebih ringan, akibat telah terjadi kompensasi. Tes fistula akan positif kecuali bila fistulanya tertutup jaringan. Ada riwayat gejala labirinits sebelumnya, suhu badan normal atau mendekati normal.

Pada labirinitis sertosa, ketulian bersifat temporer, biasanya tidak berat, sedangkan pada labirinitis supuratif terjadi tuli saraf total permanen. Bila pada labirinitis serosa ketulian menjadi berat atau total, maka mungkin telah terjadi perubahan menjadi labirinitis supuratif. Bila pendengaran masih tersisisa sakit sedikit di salah satu sisi, berarti tidak terjadi

labirinitis supuratif difus. Ketulian pada labirinitis serosa difus harus dibedakan dengan ketulian pada penyakit noninflamasi labirin dan saraf ke VIII.

Prognosis labirinitis serosa baik, dalam arti menyangkut kehidupan dan kembalinya fungsi labirin secara lengkap. Tetapi tuli saraf temporer yang berat dapat menjadi tuli saraf yang permanen bila tidak diobati dengan baik. Pengobatan pada stadium akut yaitu pasien harus tirah baring total, diberikan sedatif ringan. Pemberian antibiotika yang tepat dan dosis yang adekuat. Drenase telinga tengah harus dipertahankan .

pembedahan merupakan indikasi kontra. Pada stadium lanjut dari OMA, mungkin diperlukan mastoidektomi sederhana.

Labirinitis

supuratif

akut

difus

Labirinitis supuratif akut difus , ditandai dengan tuli total pada telinga yang sakit diikuti dengan vertigo yang berat, mual, muntah, ataksia , dan nistagmus spontan ke arah telinga yang sehat.

Labirinitis supuratif akut difus dapat merupakan kelanjutan dari labirinitis serosa yang infeksinya masuk melalui tingkap lonjong atau tingkap bulat. Pada banyak kejadian, labirinitis ini terjadi sekunder dari otitis media akut maupun kronik atau mastoiditis.Pada beberapa kasus abses subdural atau meningitis, infeksi dapat menyebar ke dalam labirin dengan atau tanpa terkenanya telinga tengah, sehingga menjadi labirin supuratif. Kelainan patologik terdiri dari infiltrsi labirin oleh sel-sel leukosit polimorfonuklear dan destruksi struktur jaringan lunak.Sebagian dari tulang labirin nekrosis, dan terbentuk jaringan grnulasi yang dapat menutup bagian tulang yang nekrotik tersebut.Keadaan ini akan menyebabkan terbentuknya sekuestrum, paresis fasialis, dan

penyebaran

infeksi

ke

intrakranial.

Mual, mumtah, vertigo dan ataksia dapat berat sekali bila awal dari perjalanan labirinitis supuratif tersebut cepat.Pada bentuk yang

perkembangannya lebih lambat, gejala akan lebih ringan oleh karena kompensasi labirin yang sehat.Terdapat nistagmus horizontal rotator yang komponen cepatnya mengarah ke telinga yang sehat.Dalam beberapa jam pertama penyakit, sebelum seluruh fungsi labirin rusak, nistagmus dapat mengarah ke yelinga yang sakit.Jika fungsi koklea hancur, akan mengakibatkan tuli saraf total permanen.Suhu badan normal atau mendekati normal, bila terdapat kenaikan, mungkin disebabkan oleh lesi lain, bukan oleh labirintis.

Selama fase akuy, posisi pasien sangat khas.Pasien akan berbaring pada sisi yang sakit, jadi ke arah komponen lambat nistagmus.Posisi ini akan mengurangi perasaan vertigo.

Diagnosis ditegakkan dari riwayat penyakit, tanda dan gejala labirintis dengan hilangnya secara total dan permanen fungsi labirin.Pemeriksaan Rontgen telinga tengah, osmastoid dan osospetrosus mungkuin menggambarkan sejumlah kelainan yang tidak berhubungan dengan labirin.Bila dicurigai terdapat iritasi meningeal, maka harus dilakukan pemeriksaan cairan spinal.

Labirinitis supuratif akut difus tanpa komplikasi, prognosis ad vitam baik.Dengan antibiotika mutahir komplikasi meningitis dapat sukses diobati,sehingga harus dicoba terapi medikamentosa dahulu sebelum tindakan operasi.Bila terjadi gejala dan tanda komplikasi intrakranial yang menetap, walaupun telah diberikan terapi adekuat dengan antibiotika,drenase labirin akan memberi prognosis lebih baik daripada bila dilakukan tindakan operasi radikal.

Diperlukan tirah baring total selama fase akut, yang dapat berlangsung sampai 6 minggu.Perbaikan terjadi bertahap, mulai dari hari

pertama.Sedatif

ringan

mungkin

diperlukan

pada

periode

awal.Fenobarbitas 32 mg(1/2 grain) yang diberikan 3xsehari, biasanya cukup memuaskan.

Dosis antibiotika yang adekuat harus diberikan selama suatu periode baik untuk mencegah komplikasi intrakranial, maupun untuk mengobati labirinitisnya.Harus dilakukan kultur untuk identifikasi kuman dan untuk tes sensiviyas kuman.Antibiotika penisilin harus segera diberikan sebelum hasil tes resistensi didapat, jika alergi terhadap penisilin dapat diberikan tetrasiklin, dengan dosis tinggi secara parenteral.Respons klinik lebih utama dari tes sensivitas kuman dalam menentukan jenis antibiotika.Dengan adanya sisa pendengaran walaupun sedikit, dan menjadi indikasi kontra operasi.Dranase, atau membuang sebagian labirin yang rusak, dilakukan bila terdapat komplikasi intrakranial dan tidak memberi respon terhadap pengobatan dengan antibiotika.

Labirinitis

kronik

(laten)

difus

Labirinitis supuratif stadium kronik atau laten dimulai, segera sesudah gejala vestibuler akut berkurang.Hal ini mulai dari 2-6 minggu sesudah awal periode akut.

Patologi.Kira-kira akhir minggu X setelah serangan akut telinga dalam hampir seluruhnya terisi oleh jaringan granulasi.Beberapa area infeksi tetap ada.Jaringan granulasi secara bertahap berubah menjadi jaringan ikat dengan permulaan kalsifikasi.Pembentukan tulang baru dapat mengisi penuh ruangan-ruangan labirin dalam 6 bulan sampai beberapa tahun pada 50% kasus.

Gejala.Terjadi tuli total di sisi yang sakit.Vertigo ringan nistagmus spontan biasanya ke arah telinga yang sehat dapat menetap sampai beberapa bulan atau sampai sisa labirin yang berfungsi dapat mengkompensasinya.Tes kalori tidak menimbulkan respons di sisi yang

sakit

dan

tes

fistulapun

negatif,

walaupun

terdapat

fistula.

Pengobatan.Terapi lokal harus ditujukan ke setiap infeksi yang mungkin ada.Dranase bedah atau eksenterasi labirin tidak diindikasikan, kecuali suetu fokos di labirin atau daerah perilabirin telah menjalar atau dicurigai menyebar ke struktur intrakranial dan tidak memberi respons terhadap terapi antibiotika.

Bila ada indikasi dapat dilakukan mastoidektomi.Bila dicurigai ada fokus infeksi di labirin atau di ospetrosus, dapat dilakukan drenase labirin dengan salah satu operasi labirinj.

Setiap skuestrum yang lepas harus dibuang, harus dihindari terjadinya trauma N VII.Bila saraf fasial lumpuh, maka harus dilakukan dengan kompresi saraf tersebut.

Bila dilakukan operasi tulang temporal, maka harus diberikan antibiotika sebelum dan sesudah operasi. Labirin Organ keseimbangan terbagi menjadi : Labirin statik meliputi :utrikel & sakula dr vestibula Fungsi :mengevaluasi posisi kepala terhadap gaya gravitasi Labirin kinetik meliputi:Kanalis semisirkularis Fungsi:mengevaluasi gerakan kepala Labirinitis disebabkan oleh bakteri atau virus. Dapat terjadi karena komplikasi otitis media, meningitis, ISP & stlh infeksi telnga tengah. Jenis Labirinitis: Labirinitis Bakterial Infeksi berkembg dtelinga melalui kanalis audotorius internus yg disebabkan kolesteatoma dan bakteri Labirinitis Viral

Virus yg mempengaruhi gondongan, rubela, rubeola & influeza Labirinitis bakterial... 1. LABIRINITIS SEROSA Labirinitis serosa difus masuknya toksin bakteria dan zat-zat yang diproduksi secara difus melalui membran fenestra ovale dan fenestra rotundum.Infeksi tersebut mencapai endosteum melalui saluran darah. Labirinitis serosa difus ini adalah satu proses inflamasi yang steril. Pada labirinitis serosa toksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel radang 2 . LABIRINITIS SUPURATIF AKUT DIFUS Merupakan kelanjutan dari labirinitis serosa yang infeksinya masuk melalui fenestra ovale dan fenestra rotundum .Bakteria secara langsung masuk ke dalam membran dan erosi tulang labirin. Selama fase akut, posisi pasien sangat khas.Pasien akan berbaring pada sisi yang sakit, jadi ke arah komponen lambat nistagmus.Posisi ini akan mengurangi perasaan vertigo.Jika fungsi koklea hancur, akan mengakibatkan tuli saraf total permanen. 3 .LABIRINITIS KRONIK (LATEN) DIFUS Terjadi sesudah gejala vestibuler akut berkurang.Hal ini mulai dari2 -6 minggu sesudah awal periode akut. Telinga dalam hampir seluruhnya terisi oleh jaringan granulasi setelah 10 minggu serangan akut.Jaringan granulasi secara bertahap berubah menjadi jaringan ikat dengan permulaan kalsifikasi.Pembentukan tulang baru dapat mengisi penuh ruangan-ruangan labirin dalam 6 bulan sampai beberapa tahun.Tes kalori tidak menimbulkan respons di sisi yang sakit. Labirinitis toksik Labirinitis toksik dapat disebabkan oleh keracunan zat-zat toksik seperti arsen, zink, kuinin dan pemakaian obat antibiotik yang ototoksik seperti streptomicin, aminoglikosida, dan dihydrostreptomicin. LABIRINITIS VIRAL Infeksi saluran pernafasan atas, faktor kongenital yaitu infeksi campak dan rubella pada trimester pertama atau

infeksi cytomegalovirus pada kontraksi uterus setelah persalinan yang menyebabkan kokleolabirinitis. Infeksi virus ini menjalar secara hematogen ke telinga dalam. Prognosis baik karena biasanya terjadi pada usia muda dan jira terapi yang diberikan adekuat.Vertigo boleh sembuh dalam jangka masa satu minggu tetapi gangguan keseimbangan akan tetap bertahan selepas beberapa bulan jika terdapat stress. Labirinitis Viral campak dan rubella pada trimester pertama / infeksi cytomegalovirus pada kontraksi uterus hematogen ke telinga dalam. Gejala klinis yang timbul pada keduanya hampir sama, yaitu: Gangguan vestibular, vertigo, nistagmus, mual dan muntah gangguan fungsi pendengaran sensorineural, hanya gejala klinis pada labirinitis difusa bersifat lebih berat Tinitus

Asuhan Keperawatan Pada Klien


dengan Infeksi Telinga Dalam (Labirin) Pengkajian 1. Data Demografi 2 . Riwayat kesehatan a.Keluhan utama Klien mengeluh nyeri pada telinga kanan b. Riwayat kesehatan sekarang Klien merasakan mual, muntah, vertigo 3 .Data Subjektif (DS) Klien mengatakan sakit pada telinga kanannya

Klien mengatakan merasa mual dan lemas Klien mengatakan pusing Klien menanyakan tentang penyakitnya Klien mengatakan hilang keseimbangan tubuhnya Klien mengatakan fungsi pendengarannya tidak jelas/berkurang 4 .Data Objektif (DO) 5. Diagnosa Keperawatan Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan vertigo Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya muntah Gangguan rasa aman cemas berhubungan dengan ketidak tahuan pasien tentang penyakitnya 6.Perencanaan Gangguan rasa nyaman nyeri b.d vertigo Memonitoring T.T.V dan keadaan umum tiap jam Menganjurkan klien untuk bedrest Menganjurkan klien untuk tidak membaca pada saat vertigo Mengkolaborasikan dengan dokter untuk pemberian obat anti-vertigo Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d adanya muntah : Mengobservasi T.T.V dan keadaan umum pasien tiap jam Mengkolaborasikan dengan dokter untuk pemberian cairan elektrolit Melakukan pemasangan infuse sesuai advis dokter Memonitor tetesan infuse Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat anti-mual Gangguan rasa aman cemas berhubungan dengan ketidak tahuan pasien tentang penyakitnya

Memonitor T.T.V dan keadaan umum tiap jam Memberikan penjelasan pada pasien tentang penyakitnya Memberikan support psikososial dan spiritual 7 . Pelaksanaan Gangguan rasa nyaman nyeri b.d vertigo : Memonitoring T.T.V dan keadaan umum tiap jam Menganjurkan klien untuk bedrest Menganjurkan klien untuk tidak membaca pada saat vertigo Mengkolaborasikan dengan dokter untuk pemberian obat anti-vertigo Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d adanya muntah : Mengobservasi T.T.V dan keadaan umum pasien tiap jam Mengkolaborasikan dengan dokter untuk pemberian cairan elektrolit Melakukan pemasangan infuse sesuai advis dokter Memonitor tetesan infuse Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat anti-mual Gangguan rasa aman cemas b.d ketidak tahuan pasien tentang penyakitnya : Memonitor T.T.V dan keadaan umum tiap jam Memberikan penjelasan pada pasien tentang penyakitnya Memberikan support psikososial dan spiritual 8 . Evaluasi Klien mengatakan nyeri ditelinganya tidak ada Klien tampak tidak terlalu lemas Klien mengatakan sudah tidak mual Klien tampak tidak cemas Klien tampak optimis setelah diberi penjelasan T E R IM A K A S IH