Anda di halaman 1dari 143

A. PENGANTAR Teori pembangunan ekonomi tercipta melalui proses dialektika.

Teori ini dicipta dengan tujuan untuk menjelaskan berbagai fenomena dan perilaku ekonomi yang telah dan sedang terjadi, tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat. Dalam proses dialektika itu diintegrasikan secara padu dan sistematis berbagai hasil kontemplasi, petualangan dan pergulatan akademik serta berbagai dimensi, seperti logika, sistem, dan sejarah1 perkembangan kemajuan ekonomi ataupun keterbelakangan ekonomi suatu masyarakat. Selain melalui proses dialektika, teori pembangunan ekonomi juga tercipta dari adanya revolusi dalam ilmu pengetahuan (science) dan pengetahuan (knowledge) sebagai akibat dari pergeseran paradigma pembangunan ekonomi yang berlangsung secara tidak beraturan. Dalam hal ini, revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) menjadi inti dari proses perubahan teori pembangunan ekonomi. Ini berarti, perkembangan dan perubahan teori pembangunan ekonomi tidak berlangsung secara evolusioner dan tidak pula melalui sejumlah proses penilaian yang rasional. Dari literatur ilmu ekonomi dijumpai begitu banyak teori pembangunan ekonomi. Sebagai karya akademik, teori-teori pembangunan ekonomi itu memiliki pencirinya sendiri-sendiri, baik yang menyangkut konten dan konteksnya, maupun yang menyangkut kekuatan dan kelemahannya. Kehandalan dari masing-masing teori itu sangat ditentukan oleh keakuratan data yang dipergunakan sebagai basis, serta argumentasi dan postulat yang diajukan sebagai fondasi dari bangunan teori itu. Keberlakuan teori pembangunan ekonomi dapat dipertahankan manakala teori itu masih mampu menjelaskan berbagai dinamika dan perkembangan pembangunan ekonomi serta perubahan perilaku ekonominya. Teori pembangunan ekonomi tidak secara otomatis berlaku pada semua zaman. Misalnya, teori pembangunan ekonomi klasik ternyata gagal dalam mengatasi depresi besar tahun 1930-an karena ketidakmampuan pasar dalam merespons gejolak di pasar saham. Akibat dari gejolak itu, maka muncullah teori pembangunan ekonomi Keynes yang menekankan pentingnya

Sejarah yang dimaksudkan disini adalah sebuah rekam jejak tentang peristiwa pemikiran, peristiwa masalah, dan upaya-upaya pemecahan masalah dalam konteks dan kurun waktu tertentu seperti tidak adanya penghargaan terhadap subyek ekonomi, ketidakadilan, kemiskinan dan lain sebagainya.

intervensi pemerintah dalam perekonomian agar alokasi dan distribusi sumberdaya mencapai sasarannya secara optimal serta pasar selalu mampu menciptakan momentum keseimbangannya. Dalam mengkaji perkembangan dan perubahan mendasar teori pembangunan ekonomi yang melatari tingkat kemajuan pembangunan ekonomi di banyak negara ataupun sebaliknya secara lebih mendalam maka sangat diperlukan upaya penelusuran terhadap berbagai peristiwa masalah ekonomi, peristiwa pemikiran ekonomi, dinamika dan perkembangan peradaban umat manusia serta geliat pembangunan ekonomi yang terjadi pada zamannya, mulai dari teori pembangunan ekonomi klasik hingga ke teori pembangunan ekonomi kontemporer dengan segala variannya. Dalam kaitan ini, ada beberapa landasan teoritis yang dinilai cukup ampuh dan dapat dipergunakan, diantaranya: Pertama, landasan teori fungsionalis atau normatif yang diprakarsai oleh Hegel, seorang filosof dan sejarahwan Jerman terkemuka pada abad ke-19, tentang proses dialektika yang menjadi penggerak dari perubahan-perubahan pemikiran di berbagai bidang kehidupan dalam masyarakat. Dalam hal ini, Hegel memulainya dengan metode analisis these-antithese-senthese untuk memahami mengapa sebuah gagasan (these) yang mendominasi pada suatu periode waktu tertentu mendapat tantangan (antithese), dan kemudian menciptakan sebuah gagasan baru (sinthese) yang selanjutnya menjelma menjadi sebuah these baru yang mendominasi pada periode waktu berikutnya2. Kedua, landasan teoritis yang dibangun Thomas Kuhn pada tahun 1960-an mengenai paradigma dari himpunan segala hal yang terjadi dalam kehidupan masyarakat pada periode waktu tertentu, turut menentukan wujud ilmu pengetahuan (science) dan pengetahuan (knowledge) yang ada pada periode itu. Kuhn menjelaskan bahwa revolusi ilmu pengetahuan dan pengetahuan sebenarnya terjadi sebagai akibat dari pergeseran paradigma yang berlangsung secara mendadak. Sebagaimana halnya dilakukan Hegel, tampaknya Khun juga memanfaatkan pengetahuannya yang luas sebagai sejarahwan dan filosof untuk sampai kepada analisisnya tentang proses perubahan konsepsi yang terjadi dari masa ke masa. Namun berbeda dengan Hegel, analisis Khun menggunakan revolusi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sebagai inti dari proses perubahan yang terjadi dalam masyarakat pada periode waktu tertentu.
Pandangan Hegelian tersebut menurut kelompok pakar yang sealiran faham dengan Karl Marx-Engels (kelompok Marxian, Pasca Marxian atau Neo-Marxian) dianggap merupakan kekeliruan yang fatal. Karena, peristiwa yang terjadi dalam masyarakat merupakan perubahan-perubahan pada kehidupan materialisme yang menyangkut hubungan diantara faktor-faktor produksi, yang menimbulkan perubahan cara berpikir dan bukan sebaliknya. Dan adalah keliru jika dikatakan perubahan cara pikir itu terjadi karena pergelutan these-antithese-sinthese pada tataran ide yang murni. Tampaknya, faham dialektika materialisme dari Karl Marx ini juga digunakan oleh Khun, namun hanya sejauh kenyataan kehidupan meterialisme pada tataran IPTEK saja, tidak pada keseluruhan struktur kehidupan masyarakat, seperti yang dijumpai pada analisis Karl Marx.
2

179

Pemanfaatan kedua landasan teoritis tersebut sebagai alat analisis untuk memahami berbagai dinamika pemikiran ekonomi, konsepsi pembangunan ekonomi, dan berbagai pergulatan akademik di seputar teori pembangunan ekonomi akan sangat membantu dalam memecahkan masalah-masalah nyata pembangunan ekonomi jangka panjang, dan akan diperoleh hasil analisis yang lebih tajam dan mendalam manakala ada upaya untuk selalu mengikuti perdebatan yang terus berlangsung hingga kini mengenai berbagai permasalahan mendasar, apakah konsepsi yang menggerakkan proses perubahan nyata di masyarakat ataupun sebaliknya, yaitu perubahan-perubahan nyata yang mendesak dibangunnya konsepsi baru. Paling tidak, pemanfaatan kedua landasan teoritis tersebut akan memudahkan dalam memilah-milah di antara konsep yang valid dan relevan dengan keadaan nyata yang dihadapi, dengan yang tidak. Selain kedua landasan teoritis tersebut di atas terdapat landasan teoritis lain yang dapat dipergunakan, terutama untuk mengkaji masalah-masalah fundamental ekonomi yang bersentuhan dengan masalah kesejahteraan dan kebaikan bersama serta keadilan. Landasan teoritis itu dikenal dengan ekonomi moralitas. Dalam perspektif ini, ekonomi moralitas menawarkan pemecahan masalah keadilan ekonomi dalam berbagai macam relasi antara manusia dengan alam, masyarakat, dan diri sendiri. Ini berarti ekonomi moralitas selalu berusaha memberi pertimbangan kongkrit bagaimana menciptakan ekonomi yang adil sesuai dengan kondisi yang dihadapi dalam masyarakat. Dalam pembahasan selanjutnya, penggunaan istilah teori ekonomi diidentikkan atau dipersamakan dengan istilah teori pembangunan eknomi. Hal ini perlu dikemukakan di sini agar dapat dibangun sebuah persepsi yang sama terhadap pengertian dari kedua istilah tersebut. Karena pada dasarnya, teori ekonomi itu dibangun berdasarkan praktik-praktik pembangunan ekonomi ataupun fakta-fakta di lapangan mengenai perilaku ekonomi yang ada dan hidup di masyarakat. B. RUANG LINGKUP DAN TUJUAN INSTRUKSIONAL Secara garis besar, materi yang disajikan pada bagian ini mencakup hasil penelusuran terhadap perkembangan teori pembangunan ekonomi yang dikonstruksi berdasarkan hasil kerja keras membongkar kliping, mengakses berbagai literatur, menyusun kembali mozaik-mozaik yang berserakan, dan dokumentasi dari berbagai sumber resmi tentang pembangunan ekonomi. Di awal bagian ini, disajikan hasil penelusuran terhadap perkembangan teori pembangunan ekonomi, mulai dari teori pembangunan ekonomi klasik hingga munculnya berbagai teori pembangunan ekonomi kontemporer. Pada bagian ini juga dibahas mengenai kegagalan teori

179

pembangunan ekonomi klasik yang diindikasikan oleh ketidakmampuan pasar merespons gejolak di pasar saham, munculnya teori pembangunan eknomi Keynes dan teori pembangunan ekonomi historimus, serta berbagai varian yang muncul akibat dari pertentangan kedua teori tersebut, seperti teori pertentangan kelas dari Karl Heindrich Marx dan Friedrich Engels, teori pembangunan ekonomi kelembagaan yang dikembangkan oleh Thorstein Veblen dan Douglass C. North serta berbagai pandangan dari teori pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan. Bahkan, kehadiran dan peran dari para tokoh pemikir ekonomi dalam serangkaian proses perbandingan dan perdebatan beberapa teori pembangunan ekonomi juga turut disajikan disini. Selanjutnya, di akhir bagian ini akan ditutup dengan rangkuman atau ikhtisar dari keseluruhan materi yang telah dibahas dan beberapa latihan mandiri sebagai bahan evaluasi dan tindak lanjut. Setelah membaca dan mencermati seluruh materi yang disajikan pada bagian ini, para pembaca, khususnya para mahasiswa, diharapkan mampu memahami alur perkembangan teori pembangunan ekonomi secara lebih sistematis dan komprehensif, melalui kemampuan memahami, menjelaskan dan menganalisis: 1) perkembangan teori pembangunan ekonomi mazhab klasik kapitalisme; 2) perkembangan teori pembangunan ekonomi mazhab klasik sosialisme; 3) perkembangan teori pembangunan ekonomi neo-klasik; 4) perkembangan teori pembangunan ekonomi mazhab historismus atau aliran etis; 5) teori pembangunan ekonomi Joseph Schumpeter; 6) teori pembangunan ekonomi John Maynard Keynes; 7) teori pembangunan ekonomi Post Keynesian; 8) teori pembangunan ekonomi Rostow; 9) teori pembangunan ekonomi Max Weber; 10) teori pembangunan ekonomi dari perspektif modernisasi dan dependensi; 11) perdebatan dan perbandingan di seputar teori modernisasi dan teori dependensi; 12) teori pembangunan ekonomi kelembagaan baru; dan 13) teori pembangunan ekonomi pengetahuan dan perkembangannya. C. TEORI PEMBANGUNAN EKONOMI: mazhab klasik kapitalisme Secara garis besar, perkembangan teori pembangunan ekonomi diawali dengan apa yang disebut sebagai teori pembangunan ekonomi klasik yang dimotori oleh Adam Smith. Teori pembangunan ekonomi klasik mempercayakan sepenuhnya kepada kekuatan invisible hand dalam mengatur alokasi dan distribusi sumberdaya sehingga peran pemerintah menjadi sangat terbatasi. Konsep invisble hand kemudian direpresentasikan sebagai mekanisme pasar melalui harga sebagai instrumen utamanya.

179

Kehandalan teori pembangunan ekonomi klasik ternyata gagal dalam mengatasi depresi besar tahun 1930-an. Hal ini ditunjukkan oleh ketidakmampuan pasar dalam merespons gejolak di pasar saham. Akibat dari gejolak itu, muncullah teori pembangunan eknomi Keynes. Teori ini menyatakan pasar tidak selalu mampu menciptakan keseimbangan, dan oleh karena itu intervensi pemerintah perlu dilakukan agar alokasi dan distribusi sumberdaya mencapai sasarannya. Pembahasan mengenai teori pembangunan ekonomi Keynes ini akan disajikan tersendiri pada uraian selanjutnya. Pertentangan kedua teori ini kemudian justeru memunculkan banyak variannya, bahkan dalam perkembangan selanjutnya, teori ini berkembang ke arah yang lain seperti teori pertentangan kelas dari Karl Heindrich Marx dan Friedrich Engels, teori pembangunan ekonomi kelembagaan yang dikembangkan oleh Thorstein Veblen dan oleh peraih Hadiah Nobel Douglass C. North, serta teori pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan(knowledge based economy) yang dikembangkan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Teori pembangunan ekonomi klasik beraliran kapitalisme muncul pada akhir abad ke-18 dan permulaan abad ke-19, yaitu di masa revolusi industri sedang berlangsung dan memperlihatkan kemajuannya. Suasana di waktu itu sering disebut-sebut sebagai awal dari adanya perkembangan ekonomi, dimana sistem ekonomi liberal di saat itu sedang berkembang pesat. Perkembangan ini menurut aliran teori pembangunan ekonomi klasik disebabkan oleh berpacunya kemajuan teknologi dan perkembangan jumlah penduduk. Pada awalnya, kemajuan teknologi bergerak lebih cepat dari gerakan pertambahan jumlah penduduk. Kondisi ini kemudian berbalik arah, dimana kemajuan teknologi tidak mampu lagi mengimbangi percepatan pertambahan jumlah penduduk, sehingga menyebabkan perekonomian mengalami kemacetan. Kemajuan teknologi tersebut pada mulanya disebabkan oleh akumulasi modal (fisik), atau dengan kata lain kemajuan teknologi tergantung pada pertumbuhan modal. Kecepatan pertumbuhan modal tergantung pada tinggi rendahnya tingkat keuntungan, sedangkan tingkat keuntungan ini akan menurun setelah berlakunya hukum tambahan hasil yang semakin berkurang (the law of diminishing returns) karena keterbatasan sumberdaya alam. Berikut ini dijelaskan beberapa teori pembangunan ekonomi dari para ekonom klasik beraliran kapitalisme sebagai dasar untuk melihat perkembangan teori-teori pembangunan ekonomi. 1. Teori Pembangunan Ekonomi Adam Smith

179

Adam Smith adalah seorang pemikir dan ahli ekonomi berkebangsaan Inggris. Selama hidupnya (1729-1790), Smith selalu berusaha mencari tahu sejarah perkembangan negara-negara di Eropa, mengembangkan pemikirannya dan mengabdikan diri untuk kemajuan ilmu ekonomi. Sebagai seorang ekonom, Smith tidak melupakan akar moralitasnya terutama yang tertuang dalam The Theory of Moral Sentiments. Karena kegigihannya, Adam Smith tidak disangsikan lagi sebagai tokoh utama dari aliran ilmu ekonomi 3 yang kemudian dikenal sebagai aliran klasik. Disebut aliran klasik karena konsepsi pemikiran yang ia tulis sebetulnya sudah banyak dibahas dan dibicarakan oleh pakar-pakar ekonomi jauh sebelumnya. Faham individualisme misalnya, tidak banyak berbeda dengan faham hedonisme yang dikembangkan oleh Epicurus pada masa Yunani Kuno. Begitu juga pendapatnya agar pemerintah melakukan campur tangan seminimal mungkin dalam perekonomian (laissez faire laissez passer), sudah dibicarakan oleh Francis Quesnay sebelumnya. Oleh karena gagasan-gagasan Smith banyak yang sudah klasik, maka oleh Karl Marx, sosok yang selalu kontra dengan pemikiran Smith, aliran yang dikembangkan oleh Smith ini disebut sebagai Mazhab Klasik. Ia merespons kebijakan perdagangan di Eropa Barat yang saat itu peran sektor perdagangan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Akibat dari begitu besarnya peran perdagangan dalam perekomian, menjadikan kekuasaan terkonsentrasi pada sekelompok perusahaan dagang raksasa tertentu (misalnya The East India Company). Agar kepentingan mereka terjaga, ditetapkanlah kebijakan proteksionisme (berupa penetapan tarif tinggi untuk barang impor) yang menyebabkan kompetisi menjadi sangat terbatas. Hal ini membuat harga barang produksi dalam negeri lebih murah. Menurut Adam Smith, mestinya perhatian ditujukan pada produksi. Logikanya sederhana bahwa setiap terjadi peningkatan produksi maka akan disertai dengan pembagian kerja (division of labor)4 dan munculnya spesialisasi yang selanjutnya terjadi
Sebagai satu bidang ilmu pengetahuan, ilmu ekonomi mulai berkembang sejak Tahun 1776, setelah Adam Smith menerbitkan buku yang berjudul: An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations. Beberapa pandangan Adam Smith hingga kini masih tetap mendapat perhatian dalam pemikiran ahli-ahli ekonomi, sehingga oleh kalangan masyarakat ekonomi Adam Smith dinobatkan sebagai bapak ilmu ekonomi. Secara umum, subyek ilmu ekonomi dibagi dalam beberapa cara, yang paling terkenal adalah mikroekonomi vs makroekonomi. Selain itu, subyek ilmu ekonomi juga bisa dibagi menjadi positif (deskriptif) vs normatif, mainstream vs heterodox, dan lainnya. Ilmu ekonomi juga dapat difungsikan sebagai ilmu terapan dalam manajemen keluarga, bisnis, dan pemerintah. Teori ekonomi juga dapat digunakan dalam bidang-bidang selain bidang moneter, seperti misalnya penelitian perilaku kriminal, penelitian ilmiah, kematian, politik, kesehatan, pendidikan, keluarga dan lainnya. Hal ini dimungkinkan karena pada dasarnya ekonomi seperti yang disebutkan di atas adalah ilmu yang mempelajari pilihan manusia. Banyak teori yang dipelajari dalam ilmu ekonomi diantaranya adalah teori pasar bebas, teori lingkaran ekonomi, invisble hand, informatic economy, daya tahan ekonomi, merkantilisme, briton woods, dan sebagainya. 4 Pembagian kerja ini merupakan pemikiran awal dari teori pertumbuhan ekonomi Adam Smith. Ia berpandangan bahwa dengan pembagian kerja yang lebih spesifik akan dapat meningkatkan ketrampilan pekerja dan penghematan waktu
3

179

perbaikan/peningkatan produktivitas, dan setiap ada perbaikan produktivitas maka ada perbaikan pertumbuhan ekonomi. Sistem ekonomi akan diatur oleh the invisible hand of market. Smith percaya individu bertindak mengikuti kepentingan pribadi, apabila suatu produk terlalu mahal harganya maka tidak ada yang membelinya dan penjual akan mengurangi harga atau menjual sesuatu yang lain. Demikian halnya pada gaji atau upah, manakala gaji terlalu rendah, pegawai akan mencari pekerjaan yang lain. Dalam pembangunan ekonomi, pendekatan seperti ini disebut sebagai pendekatan pasar atau yang sering diistilahkan dengan laissez-faire economics. Perkembangan ekonomi, menurut Adam Smith dapat terjadi karena adanya spesialisasi atau pembagian kerja secara lebih spesifik, sehingga produktivitas tenaga kerja dapat meningkat secara signifikan. Pembagian kerja ini dimulai dari adanya akumulasi modal yang fokus untuk memperluas pasar sebagai penampung hasil produksi. Untuk memperluas pasar, perdagangan internasional merupakan salah satu cara yang efektif, karena melalui perdagangan internasional itulah akan terbuka lebar jejaring bisnis yang akan menambah luasnya pasar. Dengan demikian, perdagangan dapat mencakup pasar dalam negeri (pasar domestik) dan pasar luar negeri (pasar ekspor). Aktivitas ekonomi yang terus meningkat seiring dengan kebutuhan hidup masyarakat yang makin beragam, menuntut masyarakat untuk melakukan semua aktivitas ekonominya secara kolektif dengan pembagian kerja sesuai spesialisasinya. Dalam pembangunan ekonomi, modal memegang peranan penting. Akumulasi modal akan menentukan cepat atau lambatnya pertumbuhan ekonomi suatu negara. Modal tersebut diperoleh dari tabungan yang dilakukan masyarakat. Adanya akumulasi modal yang dihasilkan dari tabungan, maka pelaku ekonomi dapat menginvestasikannya ke sektorsektor produktif untuk meningkatkan penerimaannya. Perlu dicatat bahwa akumulasi modal dan investasi di satu sisi sangat bergantung pada perilaku menabung masyarakat, sedangkan di sisi lain kemampuan menabung masyarakat ditentukan oleh kemampuan menguasai dan mengeksploitasi sumberdaya yang ada. Artinya, bagi warga masyarakat yang mampu menabung pada dasarnya adalah kelompok masyarakat yang menguasai dan mengusahakan sumber-sumber ekonomi, dan mereka itulah yang selanjutnya disebut para pengusaha dan tuan tanah. Sedangkan kelompok masyarakat yang lainnya tergolong sebagai pekerja. Dalam teori pembangunan ekonomi Adam Smith, tahapan perkembangan ekonomi dibagi menjadi lima tahap secara berurutan, dimulai dari: 1) tahap perburuan; 2) berternak; 3) bercocok
dalam memproduksi barang. Dengan ditemukan dan digunakannya mesin-mesin dalam proses produksi barang tersebut akan sangat menghemat tenaga dan pada gilirannya akan dapat meningkatkan daya produktivitas tenaga kerja.

179

tanam; 4) perdagangan; dan 5) tahap perindustrian. Menurut teori ini, masyarakat akan bergerak dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern yang kapitalis. Dalam konteks ini, Smith menggagas pentingnya masyarakat yang ideal, yaitu masyarakat bersahabat dan masyarakat pasar (modern). Masyarakat bersahabat terbentuk atas dasar simpati dimana setiap anggota masyarakat dapat saling berbagi perasaan (fellow sharing) satu sama lain. Fellow sharing ini bukan perasaan kolektif, tetapi perasaan yang dimiliki oleh setiap individu untuk membagi perasaannya kepada orang lain. Sedangkan masyarakat pasar atau modern yaitu masyarakat yang lebih rasional ketimbang masyarakat bersahabat, masyarakat ini terbentuk karena kondisi pasar dan pembagian kerja yang mendasarkan pada spesialisasi atas dasar pengetahuan teknis dan ketrampilan yang dibutuhkan dalam bekerja. Menurut Adam Smith, pertumbuhan ekonomi sebagai sebuah proses akan terjadi secara simultan dan memiliki keterkaitan dengan aktivitas ekonomi yang lain. Meningkatnya kinerja pada suatu sektor ekonomi misalnya, akan meningkatkan daya tarik bagi pemupukan modal, mendorong kemajuan teknologi, meningkatkan spesialisasi, dan memperluas pasar. Proses ini secara berantai akan mendorong pertumbuhan ekonomi semakin pesat. Proses pertumbuhan ekonomi sebagai suatu fungsi tujuan pada akhirnya harus tunduk kepada (subject to) fungsi kendala yaitu keterbatasan sumberdaya ekonomi. Pertumbuhan ekonomi akan mulai mengalami perlambatan jika daya dukung alam tidak mampu lagi mengimbangi aktivitas ekonomi . Keterbatasan sumberdaya merupakan faktor penghambat pertumbuhan ekonomi, bahkan dalam perkembangannya dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi. Penurunan pertumbuhan ekonomi akan terus berlangsung manakala matarantai tabungan, akumulasi modal, dan investasi tetap terjalin dan berkaitan erat satu sama lain. Jika investasi rendah, maka kemampuan menabung akan turun, sehingga akumulasi modal akan mengalami penurunan pula. Jika hal itu terjadi berarti laju investasi juga akan rendah dan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi. Dan akhirnya, pertumbuhan ekonomi akan berada pada kondisi stasioner. Semua tahap pembangunan di atas tidak lepas dari kondisi pasar, yaitu bahwa pasar yang dihadapi adalah pasar persaingan sempurna. Dalam literatur ekonomi diketahui bahwa pasar dinyatakan dalam kondisi persaingan sempurna jika memenuhi beberapa asumsi:1) jumlah penjual dan pembeli di pasar sangat banyak; 2) produk yang diperjualbelikan bersifat homogen; 3) tidak ada kolusi antara penjual maupun pembeli; 4) semua sumberdaya memiliki mobilitas sempurna; dan 5) baik pembeli maupun penjual memiliki informasi sempurna mengenai kondisi pasar.

179

Penetapan asumsi-asumsi tersebut sangat tidak realistis, dan hal ini merupakan salah satu kelemahan dari teori pembangunan ekonomi Adam Smith. Karena dalam kenyataannya, pasar persaingan sempurna itu tidak akan pernah ada di dunia ini, dan suatu hal yang mustahil bagi perekonomian untuk berada pada kondisi di mana semua asumsi pasar persaingan sempurna berlaku. Kelemahan lain dari teori pembangunan ekonomi Adam Smith adalah pembagian kelompok masyarakat yang secara eksplisit dapat menabung dan tidak dapat menabung hanya didasarkan pada jenis usaha yang digelutinya. Adalah sangat tidak realistis jika para pekerja diasumsikan tidak memiliki kemampuan menabung. Adam Smith sama sekali mengabaikan peran perbankan sebagai badan penghimpun dan penyalur dana masyarakat, dan juga mengabaikan adanya kecenderungan orang untuk menabung meski pendapatannya relatif sedikit. Celakanya, Adam Smith mengasumsikan hanya para tuan tanah dan para pengusaha yang mampu menabung, untuk kemudian modal tersebut diinvestasikan ke sektor riil. Dalam hal ini, Adam Smith secara implisit menyatakan bahwa gaji pekerja demikian kecilnya, sementara di sisi lain laba pengusaha demikian besarnya sehingga mereka mampu mengakumulasikan modalnya. Artinya, dalam sistem ekonomi kapitalis posisi tawar pekerja terhadap pengusaha relatif kecil. Jika hal ini terjadi maka konsekuensinya adalah terjadi ekploitasi terhadap para pekerja oleh para pengusaha. Asumsi ini menunjukkan kekejaman teori Adam Smith dengan sistem ekonomi kapitalisnya. Suatu hal yang menyakitkan bahwa dalam suatu sistem yang diciptakan manusia terjadi eksploitasi manusia atas manusia yang lain. Letak ketidakadilan sistem tersebut adalah pada diskriminasi kesempatan untuk menabung, yang berkaitan erat dengan diskriminasi kemampuan penguasaan faktor produksi dan konsumsi sumberdaya. Teori pembangunan ekonomi Adam Smith tidak dapat dilepaskan dari evolusi pentahapan proses pembangunan yang terjadi secara berjenjang. Demikian halnya dengan tingkat pertumbuhan, dimulai dari suatu titik tertentu hingga secara perlahan mulai meningkat, laju pertumbuhan akan terjadi sampai titik optimal tertentu dan akan menurun hingga mencapai titik nol. Pada titik inilah selanjutnya dinyatakan sebagai batas akhir dari kapitalisme, dan kemungkinan terjadinya gelombang konjungtur dalam perekonomian sangat kecil. Berdasarkan fakta di lapangan dan kecenderungan umum yang terjadi, sekali pertumbuhan itu dapat dimulai maka ia akan bersifat kumulatif, artinya bila ada pasar dan ada akumulasi modal, maka selanjutnya pembagian kerja akan terjadi dan akan menaikkan tingkat produktivitas tenaga kerja.

179

Namun perlu dipahami bahwa kecenderungan perkembangan ekonomi itu tidak bersifat otomatis, ia berproses dalam poros kemajuan yang disangga kuat oleh kepemilikan pengetahuan dan etos kerja yang tinggi. Pada poros kemajuan itulah kehadiran dan peran modal nir fisik akan sangat dibutuhkan, dan paradigma baru pembangunan ekonomi harus dapat dirumuskan dan diimplementasikan. 2. Teori Pembangunan Ekonomi Thomas Robert Malthus Thomas Robert Malthus5 adalah salah seorang pengikut utama mazhab pembangunan ekonomi klasik. Menurut Malthus, pertumbuhan penduduk terjadi manakala pendapatan melebihi tingkat subsisten. Keterkaitan antara pendapatan dan pertumbuhan penduduk dijelaskan dengan logika: jika rata-rata pendapatan per orang naik maka kebutuhan akan pangan dan kebutuhan lainnya harus tersedia dalam jumlah yang lebih banyak. Jika pendapatan dan pasokan pangan melebihi apa yang disyaratkan untuk kegiatan subsisten maka tambahan anak akan tetap ada. Dalam formula Malthus, pertambahan penduduk mengikuti geometric progression, yakni jumlah penduduk tumbuh menurut angka 2, 4, 8, 16, 32, 64, 128, 256, 512, 1.024, dan seterusnya. Bagi Malthus, prinsip ini terjadi pada setiap generasi, ketika upah meningkat di atas tingkat subsisten merupakan faktor utama untuk memahami mengapa kelas yang lebih miskin tetap miskin. Keterkaitan antara pertumbuhan penduduk dengan kemiskinan dijelaskan dengan logika: batas tertinggi ekspansi penduduk adalah ketika lahan sudah tidak mampu lagi untuk menghasilkan pangan dalam jumlah yang cukup, dan tentunya produksi pangan tidak dapat dijaga sesuai dengan ledakan penduduk. Ketika lahan semakin sering ditanam maka produktivitas lahan akan menurun, sehingga pertumbuhan output total akan lambat. Dalam hal ini Malthus mempercayai bahwa output pertanian hanya dapat meningkat dalam arithmetic progression, yakni menurut angka 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10 dan seterusnya. Cepat atau lambat, populasi yang kian meningkat akan diperhadapkan dengan lebih lambatnya pertumbuhan produksi pangan. Bukan hanya tidak meningkat, bahkan lebih dari itu, pendapatan per orang akan jatuh di bawah tingkat subsisten. Manakala hal ini terjadi maka akan menyebabkan kelaparan, bahkan penurunan populasi. Titik keseimbangan (equilibrium) akan
Thomas Robert Malthus selama hidupnya (1766-1834) banyak menghabiskan waktu untuk mengembangkan pemikiran-pemikirannya mengenai ekonomi. Pemikiran-pemikirannya tentang ekonomi politik dapat diikuti dari buku: Principles of Political Economy (1820) dan Definitions of Political Economy (1827). Selain itu, buku-buku lain yang ditulis Malthus cukup banyak, antara lain : Essay on The Principle of Population As It Affects The Future Improvement of Society (1818); dan An Inquiry Into The Nature and Progress of Rent (1815). Diantara buku-buku yang disebutkan di atas, agaknya buku Principles of Population yang dikenal paling luas.
5

179

terjaga manakala pertumbuhan populasi berjalan konsisten dengan peningkatan produksi pangan. Malthus tidak menyadari kalau angka pertumbuhan populasi tergantung pada perbedaan antara angka kelahiran dan kematian. Setiap faktor yang mengurangi angka kelahiran dan/atau meningkatkan angka kematian akan cenderung memperlambat angka pertumbuhan penduduk. Menurut Malthus, kenaikan jumlah penduduk yang terus menerus merupakan unsur penting yang diperlukan untuk meningkatkan tambahan permintaan, akan tetapi kenaikan jumlah penduduk saja tanpa dibarengi dengan peningkatan mutunya dan kemajuan faktor-faktor atau unsur-unsur perkembangan yang lain sudah barang tentu tidak akan menaikan pendapatan dan tidak akan menaikkan permintaan. Perkembangan ekonomi itu akan sangat ditentukan oleh adanya kenaikan jumlah modal untuk investasi secara terus menerus. Sebaliknya, manakala jumlah penduduk bertambah tanpa kendali maka akan menciptakan bencana kelaparan dan kematian. Kondisi dan perkembangan demografi yang terus meningkat secara kuantitatif itulah yang dikhawatirkan oleh para pemikir ekonomi akan menjadi kendala utama dalam menciptakan dan mempertahankan keberlanjutan pembangunan ekonomi. Selain pengendalian jumlah penduduk yang semakin mendesak untuk diprioritaskan, maka persoalan rendahnya mutu modal manusia juga harus disegerakan upaya penangannya. Penanganan masalah rendahnya mutu modal manusia dalam konteks upaya mempertahankan dan meningkatkan kinerja pembangunan ekonomi secara berkelanjutan, maka upaya memperkuat kepemilikan modal nir-fisik (seperti menguasai pengetahuan, mengembangkan kreativitas dan mendorong inovasi) menjadi sangat diperlukan. Karena, kepemilikan modal nir-fisik itu akan mampu mensubtitusi modal fisik yang makin terbatas adanya. 3. Teori Pembangunan Ekonomi David Ricardo

179

David Ricardo6 adalah salah seorang pendukung utama mazhab ekonomi klasik. Ia sepaham dengan pandangan Smith bahwa tenaga kerja memegang peranan penting dalam perekonomian. Pandangan dari Smith ini kemudian oleh Ricardo dikembangkan menjadi teori harga-harga relatif berdasarkan biaya produksi, dimana biaya tenaga kerja menjadi unsur utama, disamping biaya modal. Dalam analisis Ricardo, modal mendapat perhatian yang cukup besar sebab modal tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas tenaga kerja, akan tetapi juga berperan penting dalam mempercepat proses produksi sehingga hasil produksi dapat dengan cepat dinikmati atau dikonsumsi. Kalaupun ada perbedaan antara Smith dan Ricardo, hanya dalam hal fokus dan penekanan. Smith lebih menekankan masalah kemakmuran bangsa dan pertumbuhan, sedangkan Ricardo lebih memperhatikan masalah pemerataan pendapatan di antara berbagai golongan dalam masyarakat. David Ricardo juga termasuk pendukung perdagangan bebas dan pengembang teori keunggulan komparatif . Pengaruh ajaran Ricardo sampai ke Jerman. Mereka yang percaya bahwa perdagangan itu harus dibebaskan tanpa campur tangan dari pihak manapun, baik dari pemerintah maupun swasta. Menurut teori ini, setiap negara fokus pada persoalan produksi sehingga spesialisasi sangat diperlukan agar produksi menjadi lebih efisien. Selanjutnya, kemampuan memproduksi meningkat dan alokasi summberdaya dapat dilakukan secara lebih efektif. Melalui Principles of Political Economy and Taxation (1817) keraguan terhadap kemungkinan terjaganya pertumbuhan ekonomi dapat direduksi, namun pertumbuhan ekonomi tetap terbatasi oleh kelangkaan lahan. Dalam masyarakat ekonomi terdapat tiga golongan masyarakat, yaitu 1) masyarakat pemilik modal; 2) masyarakat tuan tanah; dan 3) masyarakat buruh. Pada golongan masyarakat pemilik modal, terdiri dari mereka yang memimpin produksi dan memegang peranan penting dalam perekonomian, karena pada golongan masyarakat inilah yang selalu mencari keuntungan dan menginvestasikan kembali pendapatannya dalam bentuk akumulasi modal. Aktivitas ini pada
Dalam riwayat hidupnya (1772-1823), David Ricardo tidak memiliki latar belakang pendidikan ekonomi yang memadai. Namun, karena pengalaman menekuni profesi di pasar modal yang digelutinya sejak berusia 14 tahun, membuatnya paham tentang dunia ekonomi. James Mill, ayah dari John Stuat Mill, adalah sosok yang paling berjasa mendorong Ricardo untuk menulis tentang masalah-masalah ekonomi. Dorongan Mill tersebut diwujudkan Ricardo setelah ia memutuskan pensiun dini dari bisnis di pasar modal. Ketika itu Ricardo baru berusia 42 tahun, setelah pensiun kemudian ia memulai karirnya sebagai ekonom. Dengan bermodalkan pengalaman bekerja di pasar modal, tidak heran jika buku-bukunya banyak membahas tentang keuangan dan perbankan, seperti The High Price of Billion (1810) dan A Proof of the Deppreciation of the Bank Notes (1811). Tahun 1815, Ricardo menerbitkan Essay On the Influence of The Low Price of Corn on The Profit of Stock. Buku ini pada Tahun 1817 diubah judulnya menjadi The Principles of Political Economy and Taxation. Dalam buku The Principles of Political Economy and Taxation (1817) Ricardo mengemukakan beberapa teori, antara lain teori sewa tanah, teori nilai kerja, teori upah alami, teori uang dan satu lagi yang paling terkenal adalah teori keuntungan komparatif dari perdagangan internasionalBuku ini ternyata hampir setengah abad lamanya mendominasi teori-teori ekonomi klasik.
6

179

gilirannya akan dapat mendorong naiknya kapasitas produksi dan pendapatan nasional. Sedangkan pada golongan masyarakat buruh, terdiri dari mereka yang hidupnya selalu bergantung pada golongan masyarakat pemilik modal. Kelompok masyarakat ini merupakan yang terbesar dalam struktur masyarakat. Sementara, pada golongan masyarakat tuan tanah adalah mereka yang hanya memikirkan sewa atas areal tanahnya yang disewakan kepada kelompok pemilik modal. Selanjutnya, manakala jumlah penduduk terus bertambah dan akumulasi modal terus menerus terjadi, maka tanah yang subur menjadi kurang jumlahnya atau semakin terbatas. Kondisi inilah yang sedang terjadi di Indonesia, dimana keterbatasan faktor produksi tanah semakin tak terhindarkan, kapasitas memproduksi hasil-hasil pertanian sebagai pendukung utama kegiatan produksi manufaktur merosot tajam, dan keberlanjutan industri manufaktur yang berbasis hasil-hasil pertanian menjadi semakin rentan. Manakala kondisi tersebut berlangsung dalam kurun waktu yang lama pada perekonomian maka kinerja dan keberlanjutan pembangunan ekonomi menjadi sangat rentan. Dalam situasi demikian, maka untuk menjaga keberlanjutan pembangunan ekonomi perlu memperkuat kepemilikan pengetahuan, mengembangkan kreativitas dan mendorong inovasi agar masalah keterbatasan tadi dapat dikelola dengan baik. Dan disanalah seninya mengelola keterbatasan itu dan disana pulalah peran modal nir fisik menjadi sangat penting dan dibutuhkan kehadirannya. 4. Teori Pembangunan Ekonomi Jean Baptiste Say Jean Baptiste Say7 adalah seorang tokoh pemikir ekonomi aliran klasik yang pertama kali berbicara tentang pentingnya entrepreneur dalam sebuah perekonomian. Selain itu, Ia juga orang pertama yang berjasa mengklasifikasikan faktor-faktor produksi menjadi tiga bagian, yaitu tanah, tenaga kerja, dan modal. Kontribusi pemikiran ekonomi yang paling besar diberikan oleh Say dalam perkembangan teori pembangunan ekonomi klasik adalah pandangannya bahwa setiap penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri (Supply Creates Its Own Demand), yang selanjutnya disebut sebagai Hukum Say (Says Law). Hukum ini mengasumsikan bahwa nilai produksi selalu sama dengan pendapatan. Tiap produksi akan menciptakan pendapatan, yang besarnya persis sama dengan nilai produksi tadi. Dalam kondisi keseimbangan produksi cenderung menciptakan permintaannya sendiri. Peningkatan
Jean Baptiste Say adalah sosok pemikir ekonomi yang termasuk dalam aliran klasik. Sosok yang satu ini berkebangsaan Perancis dan berasal dari kalangan pengusaha, bukan dari kalangan akademis. Ia sangat mengagumi pemikiran-pemikiran Smith. Selama hidupnya (1767-1832), sebagai pendukung yang loyal Jean Baptiste Say sangat berjasa dalam menyusun dan melakukan kodifikasi terhadap pemikiran-pemikiran Smith secara sistematis. Beragam karya-karyanya terangkum secara runut dalam bukunya yang berjudul Trade Deconomie Politique (terbit 1903). Pandangan-pandangan yang dikemukakan oleh Say sangat membantu dalam memahami pemikiran-pemikiran Smith sebagaimana tertuang dalam buku The Wealth Of Nations, yang bahasanya relatif sulit dicerna oleh orang kebanyakan.
7

179

produksi akan selalu diiringi oleh peningkatan pendapatan, dan pada gilirannya akan disertai oleh peningkatan permintaan. Dalam pasar persaingan sempurna, sebuah perekonomian tidak akan pernah terjadi kelebihan penawaran, kalaupun terjadi sifatnya hanya sementara. Melalui mekanisme pasar yang dikendalikan oleh tangan-tangan tak kentara (invisible hand) akan mengatur dirinya kembali pada keseimbangan. Misalnya, ketika penawaran terlalu besar dibanding permintaan, maka stock barang akan naik, dan harga-harga di pasar pun akan turun. Turunnya harga ini mendorong produsen untuk mengurangi produksi, sehingga pada gilirannya jumlah barang yang ditawarkan kembali sama dengan jumlah barang yang diminta. Begitulah bekerjanya Hukum Say dalam perekonomian. Implementasi dari Hukum Say sebagai pedoman dasar dalam kebijakan-kebijakan ekonomi berlangsung hampir seratus tahun lamanya. Keberlakuan hukum ini kemudian dikritik habis-habisan oleh kelompok penentangnya yang dianggap sebagai biang keladi terjadinya depresi besar pada tahun 1930-an. Menurut J. B. Say, perkembangan ekonomi itu akan terjadi sesuai dengan keberlakuan hukum pasar, Supply Creates Its Own Demand, yang berarti setiap terjadi kenaikan jumlah produksi maka secara otomatis akan diikuti oleh kenaikan permintaannya, karena pada hakekatnya kebutuhan manusia tidak terbatas. Dalam dunia ekonomi yang makin maju dan modern, pandangan J. B. Say tersebut semakin diragukan. Hal ini cukup beralasan karena faktor permintaan dan variasinya seperti meningkatnya interaksi, integrasi, dan regionalisasi ekonomi di satu sisi, dan meningkatnya kesadaran masyarakat (internasional) terhadap masalah-masalah di luar aspek perdagangan yang dikaitkan dengan perdagangan internsional suatu negara seperti HAM, tuntutan akan mutu barang dan jasa berstandar internasional, termasuk keamanan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan (sanitary dan phytosanitary), meningkatnya aspirasi dan meluasnya pilihan-pilihan akan produk barang dan jasa yang makin beragam dan kompleks di sisi yang lain, telah menjadikan tantangan dan hambatan yang dihadapi dunia ekonomi semakin berat dan kompleks. Dalam kondisi yang demikian itu, kinerja pembangunan ekonomi dan keberlanjutannya menjadi sangat rentan. Kolaborasi antar pelaku ekonomi untuk memperkuat kepemilikan pengetahuan dalam rangka mendorong proses inovasi sangat dianjurkan, bahkan diharuskan. Disanalah peran modal nir fisik menjadi sangat penting dan menentukan serta dibutuhkan kehadirannya untuk merangsang munculnya ide-ide cerdas yang inovatif. 5. Teori Pembangunan Ekonomi John Stuart Mill

179

Pendukung ajaran klasik lainnya adalah John Stuart Mill (atau Mill Junior/Jr) 8. Tokoh yang satu ini sering disebut sebagai pengembang ilmu ekonomi politik. Sebelum ilmu ekonomi berkembang seperti saat ini, sesungguhnya ilmu ekonomi berinduk pada ilmu ekonomi politik (political economy), sementara ilmu ekonomi politik itu sendiri merupakan bagian dari ilmu filsafat. Dalam berbagai pernyataannya, Ia dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Karya-karya orisinilnya dinyatakan bukan dari pemikirannya sendiri. Padahal, konsep return to scale adalah orisinil dari pemikirannya. Mill Jr. juga yang pertama kali mengemukakan ide tentang konsep elastisitas permintaan yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Marshall. Dalam bukunya yang berjudul Principles of Political Economy, Mill Jr mengangkat berbagai isu yang menjadi pijakan penting bagi perkembangan teori pembangunan ekonomi, seperti teori nilai dan distribusi, pertukaran, produksi, tenaga kerja, peran negara, pajak, utang negara, laizzes faire, dan sosialisme. Namun sayangnya, pendekatan ekonomi politik ini semakin jarang dipergunakan dan digantikan dengan pendekatan ilmu ekonomi murni sebagai alat analisis untuk mengenali gejala dan persoalan-persoalan kemasyarakatan. Pembeda dari kedua pendekatan tersebut terletak pada perspektifnya terhadap struktur kekuasaan yang ada dalam masyarakat. Pada pendekatan ilmu ekonomi politik meyakini bahwa struktur kekuasaan akan mempengaruhi pencapaian ekonomi, karena dalam pendekatan ini berusaha mengintegrasikan seluruh penyelenggaraan politik, baik yang menyangkut aspek dan proses maupun kelembagaan dengan kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat atau yang diintroduksi oleh pemerintah. Perlu juga dipahami bahwa pendekatan ini menempatkan bidang politik sebagai subordinat terhadap bidang ekonomi. Dengan demikian, instrumen-instrumen ekonomi seperti mekanisme pasar, harga, dan investasi dianalisis dengan mempergunakan setting sistem politik ketika kebijakan atau peristiwa ekonomi itu terjadi. Jadi, pendekatan ini melihat ekonomi sebagai cara untuk
Selama hidupnya (1806-1873), John Stuart Mill (atau Mill Junior/Jr) menghabiskan waktunya melakukan petualangan intelektual, mengkonstruksikan berbagai ide dan hasil petualangan intelektualnya ke dalam banyak buku. Tidak berlebihan jika di tangan Mill Jr. ajaran klasik mencapai puncak ketenarannya. Mill Jr. belajar ilmu ekonomi dari ayahnya sendiri, James MilL. Oleh ayahnya, ia dididik dengan disiplin tinggi. Ia mulai belajar bahasa latin pada saat berusia tiga tahun. Pada usia 12 tahun ia sudah mahir menulis tentang sejarah. Pada usia 13 tahun ia sudah bisa mengoreksi buku Elements of Political Economy yang ditulis oleh ayahnya sendiri. Pada usia 16 tahun ia telah mengorganisir sebuah perkumpulan yang disebut Utilitarian Society. Ia memiliki talenta menulis yang sangat luar biasa. Reputasinya diakui ketika ia menerbitkan buku pertamanya: A System of Logic Tahun 1843. Ia tak pernah berhenti berkarya. Buku keduanya berjudul On the Liberty, terbit Tahun 1859. Dua bukunya yang lain, yang dikenal lebih luas adalah: 1) Essay on Some Unsettled Questions of Political Economy. Buku ini terbit pada Tahun 1844, meski sebetulnya sudah siap terbit pada Tahun 1829, sewaktu ia berusia 23 tahun; dan 2) Principles of Political Economy With Some of Their Applications to Social Philosophy (1848). Bukunya yang terakhir berjudul Principles of Political Economy. Kehadiran buku ini dimaksudkan untuk menyarikan teori-teori ekonomi pada masanya. Namun dalam kenyataannya, buku itu populer sebagai versi modern dari The Wealth of Nations dari Adam Smith, sebab buku Mill inilah yang kemudian menjadi pegangan utama mahasiswa yang ingin belajar ilmu ekonomi hingga abad ke19. Buku ini dianggap sebagai apogee dari mazhab klasik, mulai dari pandangan Adam Smith, Thomas Robert Malthus, David Ricardo dan Jean Baptiste Say. Terakhir, meski di akhir hayatnya Mill Jr menyebut dirinya sebagai sosialis, sebuah pengakuan tulus dari hati nurani tetapi berbeda dengan pengakuan banyak orang yang mengaguminya, bahwa Mill Jr. selalu dikelompokkan ke dalam aliran klasik.
8

179

melakukan tindakan, sedangkan politik menyediakan ruang bagi tindakan tersebut. Pemahaman seperti ini penting untuk mengakhiri kesalahan dalam menafsir makna pendekatan tersebut bahwa pendekatan ekonomi politik berupaya mencampur aduk analisis ekonomi dan politik untuk mengkaji suatu persoalan. Padahal, antara analisis ekonomi dan politik tidak dapat dicampur karena keduanya memiliki landasan dan logika yang berbeda. Sedangkan pada pendekatan ekonomi murni menganggap struktur kekuasaan itu dalam masyarakat bersifat given. Sungguhpun demikian, antara ekonomi dan politik dapat disandingkan dengan pertimbangan keduanya memiliki proses yang sama. Kedua pendekatan ini memiliki perhatian yang sama terhadap isu-isu seperti alokasi sumberdaya, organisasi dan koordinasi kegiatan manusia, pengelolaan konflik, dan pemenuhan kebutuhan manusia (Clark, 1998). Berdasarkan pemahaman ini, pendekatan ekonomi politik mempertemukan bidang ekonomi dan bidang politik dalam hal alokasi sumberdaya ekonomi dan politik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Maka dari itu, setiap implementasi kebijakan ekonomi politik selalu mempertimbangkan struktur kekuasaan dan sosial yang hidup dalam masyarakat, khususnya terhadap masyarakat yang menjadi sasaran kebijakan. Dari uraian di atas, sesungguhnya pendekatan ekonomi politik semakin relevan untuk dipakai karena struktur ekonomi tidak semata-mata ditentukan secara teknis. Struktur ekonomi terdiri atas dua bagian yang saling terkait: pertama, kekuatan produksi material pabrik dan perlengkapannya (modal), sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan teknologi. Teknologi menentukan hubungan produksi yang sifatnya teknis sehingga pemaanfaatan bahan mentah, mesin, dan tenaga kerja dapat dialokasikan secara proporsional dengan biaya yang minimum; kedua, relasi produksi manusia, seperti hubungan antara para pekerja dan pemilik modal atau antara para pekerja dan manajer. Begitulah struktur ekonomi tersusun dari elemen material-teknis dan hubungan manusia. Dalam model kebijakan ekonomi, setidaknya dikenal dua perspektif yang digunakan untuk menjelaskan proses pengambilan keputusan: pertama, pendekatan yang berbasis pada maksimalisasi kesejahteraan konvensional. Pendekatan ini berasumsi bahwa pemerintah/negara bersifat otonom dan eksogen terhadap sistem ekonomi sehingga setiap kebijakan yang diciptakan selalu berorientasi kepada kepentingan publik. Pendeknya, pendekatan ini menganggap pemerintah/negara sebagai aktor yang memiliki nilai-nilai kebijakan untuk memakmurkan masyarakat; kedua, pendekatan yang didasarkan pada asumsi ekonomi politik atau yang sering disebut dengan ekonomi politik baru. Pendekatan ini menolak ide pendekatan pertama yang menempatkan pemerintah/negara sebagai aktor yang paling tahu sehingga dapat mengatasi kegagalan pasar. Sebaliknya, pendekatan ini justeru berargumentasi bahwa negara sendiri sangat berpotensi untuk mengalami kegagalan.

179

Pendekatan ekonomi politik baru memfokuskan kepada alokasi sumberdaya publik dalam pasar politik dan menekankan kepada perilaku mementingkan diri sendiri dari politisi, pemilih, kelompok penekan, dan birokrat. Perilaku dari agen-agen tersebut diasumsikan rasional dan berusaha untuk memaksimalkan keuntungan pribadi melalui lobi, kesejahteraan pemilih, dan dukungan politik. Dalam posisi itu, tidak dibenarkan membiarkan pemerintah/negara menguasai seluruh perangkat kebijakan karena hal itu berpotensi menimbulkan misalokasi sumberdaya ekonomi dan politik. Dalam pendekatan ekonomi politik, setidaknya terdapat lima hal yang memperkuat dalam aplikasinya: pertama, penggunaan kerangka kerja ekonomi politik berupaya untuk menerima eksistensi dan validitas dari perbedaan budaya politik, baik formal maupun informal; kedua, analisis kebijakan akan memperkuat efektivitas sebuah rekomendasi karena mencegah pemikiran yang deterministik; ketiga, analisis kebijakan mencegah pengambilan kesimpulan terhadap beberapa alternatif tidakan berdasarkan kepada perspektif waktu yang sempit; keempat, analisis kebijakan yang berfokus ke negara-negara berkembang tidak dapat mengadopsi secara penuh orientasi teoritis statis; dan kelima, analisis kebijakan lebih mampu menjelaskan interakasi manusia. Selanjutnya, Mill Jr memberikan fokus pada kekayaan (wealth) yang didefinisikan sebagai nilai tukar obyek atau yang sekarang disebut dengan harga. Ia pun tidak terlalu kaku mengenai intervensi pemerintah. Jika pakar-pakar sebelumnya menganggap tabu campur tangan pemerintah, oleh Mill Jr. sedikit diperlonggar. Bahkan ia memperbolehkan campur tangan pemerintah berupa regulasi yang mampu mendorong produktivitas, peningkatan efisiensi dan penciptaan iklim yang lebih baik sehingga setiap aktivitas ekonomi menjadi lebih produktif dan bernilai tambah lebih besar. Ringkasnya, pendekatan ekonomi politik dipandang lebih mampu menangkap kondisi riil yang hidup di masyarakat, khususnya dinamika sosial politik antarkelompok masyarakat. Bahkan dengan pendekatan ini pula dapat dimengerti mengapa satu kelompok masyarakat menolak suatu kebijakan, sementara kelompok masyarakat yang lain justeru mendukungnya. D. TEORI PEMBANGUNAN EKONOMI: mazhab klasik sosialisme Sejak awal kemunculannya, mazhab klasik kapitalisme telah mengundang berbagai reaksi. Reaksi itu tidak hanya dalam bentuk perdebatan akademik, melainkan juga dalam bentuk gerakan politik yang mengarah ke tindakan anarkis. Khususnya di Eropa, kemunculan kelompok masyarakat baru dan kaum borjuis dengan semangat kapitalismenya, memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan ekonomi dan sosial

179

masyarakat. Kaum borjuis ini kemudian mulai menguasai dan menjadikan negara sebagai kekuatan dan alat pemaksa untuk mengatur organisasi ekonomi-politik dan kemasyarakatan guna memenuhi berbagai kepentingan mereka. Tindakan yang dilakukan oleh kaum borjuis itu tentu tidak semua orang bisa menerimanya. Mereka yang menolak tindakan kaum borjuis, kemudian melakukan aksi balas dendam dengan tindakan anarkis. Di banyak pabrik para pekerja mengamuk dan melakukan pengrusakan terhadap pabrik dan kelengkapannya. Mereka melampiaskan amarahnya karena ditindas kaum borjuis yang hanya mementingkan diri mereka, dan tidak peduli dengan nasib kaum proletar. William Blake9 adalah salah seorang pendukung mazhab klasik sosialisme. Dalam bukunya yang berjudul England Green and Pleasant Land, memuat kecaman yang sangat pedas tentang akibat-akibat yang ditimbulkan oleh penerapan ajaran klasik kapitalisme bagi masyarakat Inggris. Blake juga mengisahkan kondisi masa lalu Inggris yang indah dan damai, dimana setiap warga negara bisa hidup harmonis di daerah-daerah pertanian yang hijau dan subur. Kemudian kondisi berubah seratus delapan puluh derajad setelah diterapkannya ajaran kapitalisme oleh pemikir-pemikir klasik, dimana ajaran kapitalisme itu telah membawa masyarakat pada kondisi kehidupan yang sarat dengan persaingan tidak sehat, bahkan saling mematikan. 1. Teori Pembangunan Ekonomi Karl Heindrich Marx Pada uraian sebelumnya telah disinggung bahwa Mill Jr. sungguhpun dalam berbagai bukunya mengenai perkembangan pemikiran ekonomi selalu dimasukkan ke dalam mazhab klasik kapitalisme, tetapi pada akhir hayatnya ia menyebut dirinya sendiri sebagai seorang sosialis. Mengapa dia menyebut dirinya sebagai sosialis? Ternyata yang dimaksudkan sebagai sosialisme oleh Mill Jr. ialah kegiatan menolong orang-orang yang tak beruntung dan tertindas, dengan sesedikit mungkin bergantung dari bantuan pemerintah. Sosialisme merupakan bentuk perekonomian dimana pemerintah sebagai pihak yang dipercayai oleh seluruh warga masyarakat dalam menguasai (menasionalisasi) industri-industri besar seperti pertambangan, jalan-jalan dan jembatan, kereta api, serta cabang-cabang produksi lain yang menyangkut hajad hidup orang banyak. Dalam bentuk yang paling lengkap sosialisme melibatkan pemilikan semua alat-alat produksi, termasuk didalamnya tanah-tanah pertanian oleh negara, dan menghilangkan milik swasta (Brinton, 1981).
Semasa hidupnya (1775-1827), William Blake memberikan perhatian yang besar terhadap kesejahteraan masyarakat setelah diimplementasikannya ajaran klasik kapitalisme dalam perekonomian di Inggris. Ia mengkonstruksikan apa yang dilihat, dirasakan dan diharapkan oleh masyarakat kebanyakan dalam bukunya yang berjudul England Green and Pleasant Land .
9

179

Dari uraian di atas, jelas bahwa pada awalnya sosialisme dimaksudkan untuk menunjukkan sistem-sistem pemilikan dan pemanfaatan faktor-faktor produksi (selain tenaga kerja) secara kolektif (Whittaker, 1960). Dengan definisi ini maka sosialisme bisa mencakup asosiasi-asosiasi kooperatif maupun pemilikan dan pengoperasian oleh pemerintah. Dengan definisi ini, negara-negara seperti Uni Soviet (sekarang sudah menjadi kenangan sejarah) dan juga Inggris yang dikuasai oleh partai buruh dapat dimasukkan ke dalam sistem sosialis. Karl Heindrich Marx atau yang populer dengan panggilan Karl Marx10, adalah salah seorang pakar sosialis yang dianggap paling berpengaruh. Argumentasi teoritis yang dikemukakan Karl Marx dalam berbagai tulisannya memang sangat dalam dan luas. Teori-teorinya tidak hanya didasarkan atas pandangan ekonomi semata, melainkan juga melibatkan moral, etika, sosial, politik, sejarah, falsafah dan sebagainya. Yang menonjol dari teori Karl Marx adalah hampir seluruh pandangannya dikemas dalam nuansa konflik. Menurutnya, proses pembangunan ekonomi melalui konflik merupakan proses dialektika. Proses ini berbasis pada pengelompokan masyarakat atas kaum pekerja dan kapitalis. Bagi Karl Marx, pangkal dari smua perubahan adalah karena eksploitasi dari para kapitalis terhadap kaum buruh. Eksploitasi terhadap buruh tersebut telah memungkinkan terjadinya akumulasi kapital di pihak pemilik modal, akan tetapi menyebabkan pemiskinan di kalangan buruh. Bagi Karl Marx, dialektika sejarah merupakan keniscayaan, sesuatu yang pasti akan terjadi. Yang jelas, manakala kaum proletar sudah tidak tahan lagi, mereka akan melancarkan revolusi. Agar revolusi berjalan sukses, Karl Marx menganjurkan kepada kaum komunis untuk mendukung setiap gerakan melawan tatanan sosial politik sistem kapitalis. Ajaran Karl Marx yang penuh dengan konflik ini boleh jadi sangat dipengaruhi oleh kehidupan pribadinya yang penuh dengan pertentangan. Karl Marx di usia mudanya sangat tertarik untuk mempelajari bidang hukum karena ingin meniti karir di pemerintahan. Akan tetapi sikap oposisinya terhadap pemerintah Jerman, membuatnya mustahil untuk memperoleh kedudukan di pemerintahan. Karena alasan itu, ia mengalihkan studinya ke bidang filsafat, dengan harapan memperoleh karir di dunia kampus.

Dalam riwayat hidupnya (1818-1883), Karl Heindrich Marx mengawini anak seorang baron (gelar kaum bangsawan Jerman) yang memungkinkan ia bisa bergaul dengan banyak kalangan. Marx bergaul dan bersahabat dengan banyak kalangan, terutama para penganut sosialis. Salah seorang diantaranya adalah Joseph Proudhon (1808-1865), yang kemudian ternyata banyak mempengaruhi pikiran-pikiran Marx. Proudhon sangat membenci kaum kapitalis. Hal ini dapat dilihat dari tulisan-tulisannya. Ia mempertanyakan: apakah yang dimaksud dengan kekayaan? Pertanyaan itu dijawabnya sendiri bahwa kekayaan itu adalah hasil curian. Maksudnya, kekayaan yang dimiliki kaum kapitalis pada hakekatnya merupakan hasil rampokan dari kaum buruh, yaitu dengan menggaji mereka dengan tingkat upah yang sangat rendah. Pandangan Proudhon inilah yang sesungguhnya merupakan dasar pemikiran Marx tentang kapitalis.

10

179

Dalam perjalanan studinya, Karl Marx menulis disertasi doktoralnya tentang akar doktrin Stoic dan Epicurus sehingga membentuknya pada paham atheis, menyebabkan ia tersingkir dari dunia kampus. Sebagai pelarian, ia memutuskan menekuni profesi wartawan, yang tulisan-tulisannya lebih banyak mengkritik pemerintah ketimbang memberikan saran-saran perbaikan. Sahabat karib yang sangat dekat dengan Karl Marx adalah Friedrich Engels. Mereka bertemu untuk pertama kalinya pada Tahun 1840 di Paris, di saat Karl Marx dalam pembuangan karena banyak mengkritik pemerintahan Jerman. Pertemuannya dengan Engels menjadikan mereka sangat akrab, karena ternyata mereka sehaluan dalam berbagai pandangan, baik dalam bidang filsafat, sejarah, politik maupun ekonomi. Hampir sebagian besar karya-karya Karl Marx merupakan hasil kerja sama dengan Engels. Demikian akrabnya persahabatan mereka sehingga sulit untuk menelusuri mana yang merupakan karya Marx yang asli dan mana yang sebenarnya ditulis atau diedit oleh Engels. Sebab topik yang sama sering muncul dalam tulisan-tulisan mereka. Dua diantara buku yang ditulis oleh Marx dan Engels yang sangat berpengaruh adalah Manifesto Komunis (The Communist Manifesto) yang terbit pada Tahun 1848, dan Das Kapital. Volume pertama dari Das Kapital terbit Tahun 1867, sedangkan volume kedua tidak berhasil diselesaikan oleh Marx karena ia meninggal dunia Tahun 1883. Namun, oleh Engels naskah tulisan-tulisan Marx yang berserakan diedit kembali sehingga akhirnya volume kedua dari Das Kapital bisa diterbitkan Tahun 1885, dua tahun setelah kematian Marx. Dalam bukunya Das Kapital, Marx mengkritik pendekatan pembangunan yang bersifat ahistoris. Para analis ekonomi klasik memandang proses pembangunan diibaratkan sebagai fotografi: hanya menggambar realitas pada waktu tertentu. Karena itu, pembangunan sebaiknya didekati dengan pendekatan dialektikal. Pendekatan ini memandang proses pembangunan sebagai suatu gambar bergerak: mengamati fenomena sosial dengan cara mengkaji tempat dan proses perubahannya. Sebagaimana diketahui, sejarah bergerak dari satu tahap ke tahap yang lain berdasarkan perubahan cara mengatur kelas-kelas sosial dan relasi antar kelas tersebut. Konflik antara kekuatan produksi dan relasi produksi yang ada memberikan pergerakan yang dinamis dalam interpretasi materialis. Interaksi antara kekuatan dan relasi produksi membentuk politik, hukum, moralitas, agama, budaya, dan gagasan-gagasan. Menurut Karl Marx, kapitalisme tidak selamanya ada dalam sebuah masyarakat. Kapitalisme hanya merupakan satu tahap perkembangan historis masyarakat,

179

meskipun hal ini tidak dialami oleh semua negara pada saat yang sama. Marx percaya kapitalisme pada akhirnya akan menciptakan suatu sistem ekonomi sosialis, atau identik dengan komunis. Karl Marx mengagumi kekuatan kapitalisme sebagai suatu sistem yang telah berhasil menciptakan kesejahteraan dalam ratusan tahun. Namun yang mengganjal pemikiran Marx adalah faktor human cost dalam menghasilkan kesejahteraan dan distribusi. Marx percaya bahwa sebenarnya hanya kelas pekerja proletariat yang menghasilkan kesejahteraan melalui kekuatan buruhnya. Sedangkan kaum kapitalis memberikan kontribusinya semata-mata dari posisi sebagai pemilik sarana produksi. Atas pemikiran itu, Marx berkesimpulan bahwa ketidakmerataan distribusi kepemilikan faktor produksi adalah hasil dari suatu proses historis dimana petani kehilangan akses lahan dan dipaksa untuk masuk ke kota dan menjadi pekerja. Karenanya ia berkesimpulan bahwa distribusi pendapatan dalam masyarakat kapitalis tidak adil. Menurut Karl Marx, transisi menuju sosialisme dapat dicapai bila kapitalisme telah mencapai tahap perkembangan yang cukup tinggi. Tingkat pendapatan per kapita yang tinggi dalam ekonomi kapitalis merupakan prakondisi bagi masa depan ekonomi sosialis, dan sistem ekonomi komunis akan mengikutinya.
1) Sejarah Perkembangan Masyarakat

Perkembangan teori Karl Marx dapat dilihat dari pentingnya perubahan teknologi dan hubungan produksi dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat, bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan tetapi sebaliknya justru keadaanlah yang menentukan kesadaran manusia. Untuk memahami dan mendalami teori Karl marx lebih lanjut, perlu terlebih dahulu mempelajari sejarah peradaban masyarakat, baik dari aspek perkembangan dan kemajuannya maupun dari aspek kemunduran dan kehancurannya. Dalam bukunya berjudul Das Kapital, Karl Marx menyatakan bahwa berdasarkan sejarah perkembangan suatu masyarakat, dikenal adanya kelompok-kelompok dalam masyarakat, yang sekaligus mencirikan tingkat peradabannya, yaitu 1) masyarakat primitif; 2) masyarakat perbudakan; 3) masyarakat feodal; 4) masyarakat kapitalis; dan 5) masyarakat sosial. Berikut ini akan dijelaskan secara singkat tentang bagaimana proses perkembangan itu terjadi:
(1)

Pada masyarakat primitif, kehidupan masyarakat di era itu menggunakan alat-alat untuk bekerja yang masih sangat sederhana. Alat-alat ini bukan milik perseorangan tetapi milik komunal. Dalam masyarakat ini tidak ada surplus produksi, karena orang melakukan aktivitas

179

produktifnya hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, akan tetapi secara perlahan-lahan dalam waktu yang lama, masyarakat semakin mengetahui alat-alat produksi yang lebih baik. Perbaikan dalam alat-alat produksi menyebabkan adanya perubahan-perubahan sosial dan kemudian terjadi pembagian kerja dalam produksi; (2) Pada masyarakat perbudakan, hubungan produksi antara orang-orang yang memiliki alat-alat produksi dengan orang-orang yang hanya bekerja untuk mereka merupakan dasar terbentuknya masyarakat perbudakan. Bentuk hubungan kerja seperti ini cenderung eksploitatif dan menyebabkan keuntungan para pemilik alat produksi semakin besar karena budak-budak hanya diberi nafkah sekedar cukup untuk dapat bekerja;
(3)

Pada masyarakat feodal, kepemilikan alat-alat produksi yang paling utama adalah tanah, dan pada umumnya tanah-tanah itu dikuasai oleh para kaum bangsawan, sedangkan para petani pada umumnya terdiri dari bekas budak yang dibebaskan. Para petani mengerjakan tanah itu untuk kaum feodal dan setelah itu baru tanah miliknya sendiri dapat dikerjakan. Perbaikan-perbaikan alat dan cara produksi banyak terjadi dalam sistem ini, dengan demikian ada dua golongan kelas: pertama, kelas feodal yang terdiri dari tuan-tuan tanah yang lebih berkuasa dalam hubungan sosial; dan kedua, kelas buruh yang bertugas melayani mereka. Kepentingan kedua kelas ini berbeda-beda. Kelas feodal lebih memikirkan keuntungan untuk mendirikan pabrik-pabrik, sedangkan kelas buruh yang memiliki alat-alat produksi menghendaki pasar yang lebih bebas serta hapusnya tarif dan rintangan lainnya dalam perdagangan yang diciptakan kaum feodal;

(4) Pada masyarakat kapitalis, kelompok masyarakat ini mempekerjakan kelas buruh yang tidak

memiliki alat produksi. Dalam proses ini, seringkali terjadi pertentangan karena perbedaan kepentingan antara kelompok masyarakat kapitalis dengan kepentingan kelompok masyarakat buruh, sehingga menyebabkan inferioritas di pihak buruh;
(5) Pada masyarakat sosial, pemilikan alat-alat produksi didasarkan atas hak milik sosial (social

ownership). Hubungan produksi merupakan hubungan kerjasama dan saling membantu di antara buruh yang bebas dari unsur eksploitasi. Sistem ini memberi kesempatan kepada manusia untuk maju, baik di lapangan produksi maupun di dalam kehidupan masyrakat. Evolusi perkembangan kehidupan masyarakat tersebut sejalan dengan proses pembangunan yang sedang berlangsung. Pada kehidupan masyarakat feodalisme, mencerminkan kondisi perekonomian yang ada masih bersifat tradisional. Para tuan tanah dan pemilik modal merupakan

179

kelompok pelaku ekonomi yang memiliki posisi tawar relatif tinggi terhadap pelaku ekonomi lain. Perkembangan teknologi menyebabkan terjadinya pergeseran di sektor ekonomi, masyarakat yang semula agraris-feodal kemudian mulai beralih menjadi masyarakat industri yang kapitalis. Seperti halnya dalam kehidupan masyarakat feodalisme, pada masyarakat kapitalisme para pengusaha merupakan pihak yang memiliki tingkat posisi tawar menawar yang relatif tinggi terhadap pihak lain khususnya kaum buruh. Marx menyesuaikan asumsinya terhadap cara pandang ekonomi klasik bahwa buruh merupakan salah satu input dalam proses produksi. Artinya buruh tidak memiliki posisi tawar menawar sama sekali terhadap para majikannya yang merupakan kaum kapitalis itu. Konsekuensi logis dari penggunaan asumsi tersebut adalah kemungkinan terjadinya eksploitasi besar-besaran yang dilakukan oleh para pengusaha terhadap buruh. Bersamaan dengan itu, pemupukan modal oleh para pemilik modal berlangsung secara cepat karena diyakini akumulasi modal menjadi kata kunci bagi upaya peningkatan pendapatan (nilai tambah) yang lebih besar di masa mendatang. Sejalan dengan perkembangan teknologi, para pengusaha yang menguasai faktor produksi berusaha memaksimalkan keuntungannya dengan menginvestasikan akumulasi modal yang diperolehnya pada input produksi yang bersifat padat modal. Secara sederhana dapat dipahami bahwa faktor kunci yang memegang peranan penting dalam mendorong perkembangan ekonomi ialah adanya nilai lebih (surplus value). Atau dengan kata lain, perkembangan ekonomi dapat terjadi manakala ada aktivitas ekonomi produktif yang memberikan nilai lebih. Dalam hal ini, nilai lebih selain merupakan ekspektasi juga sekaligus merupakan insentif bagi semua pelaku ekonomi yang mendorong mereka mau melakukan aktivitas ekonomi produktif atau melakukan aktivitas penanaman modal. Dan insentif inilah yang pada gilirannya akan mendorong mereka untuk secara optimal memanfaatkan potensi dan kapasitas yang mereka miliki, termasuk tenaga kerja yang sudah mampu bekerja tetapi belum memdapatkan pekerjaan. 2) Runtuhnya Sistem Kapitalis Sepanjang teori pembangunan yang dikemukakannya, Marx selalu mendasarkan argumennya pada asumsi bahwa masyarakat pada dasarnya terbagi menjadi dua golongan, yaitu masyarakat pemilik tanah dan masyarakat bukan pemilik tanah, masyarakat pemilik modal dan masyarakat bukan pemilik modal. Asumsi lain yang mendukung adalah bahwa diantara kedua kelompok masyarakat tersebut sebenarnya menghadapi atau terjadi konflik kepentingan. Oleh karena itu, Karl Marx selalu mendasarkan teorinya pada kondisi pertentangan antar kelas dalam masyarakat. Menurut Karl Marx,

179

kemampuan para pengusaha untuk melakukan akumulasi modal terletak pada kemampuan mereka dalam memanfaatkan nilai lebih dari produktivitas buruh yang dipekerjakan. Nilai buruh yang dinyatakan dalam bentuk upah merupakan jumlah tenaga yang diperlukan untuk menghasilkan tenaga buruh tersebut. Artinya upah akan sama dengan nilai sarana kehidupan yang diperlukan seorang buruh untuk mempertahankan kehidupannya. Pada kenyataannya nilai upah yang diberikan jauh lebih kecil dibandingkan dengan produktivitas buruh tersebut dalam suatu proses produksi. Selisih antara nilai produktivitas buruh dan nilai tenaga buruh yang dinyatakan dalam bentuk upah inilah yang kemudian disebut dengan nilai lebih. Nilai lebih merupakan keuntungan yang diperoleh para pengusaha. Karena tingkat keuntungan yang diperoleh para pengusaha adalah fungsi dari nilai lebih, maka untuk memaksimalkannya para pengusaha tidak akan segan-segan mengeksploitasi pekerja. Nilai lebih akan meningkat jika upah diturunkan atau produktivitas dinaikkan dengan asumsi semua faktor lain tidak berubah. Penurunan upah buruh nampaknya sulit untuk dilakukan mengingat tingkat upah yang terjadi pada masa kapitalisme semata-mata diberikan agar buruh tetap hidup dan dapat bekerja. Artinya penetapan upah tidak lebih besar dari pada kebutuhan hidup pada tingkat subsisten. Hal ini merupakan dampak dari asumsi bahwa buruh dipandang seperti input yang lain. Upaya untuk memaksimalkan keuntungan yang nantinya akan diakumulasikan dalam bentuk modal melalui aktivitas investasi, hanya dapat dilakukan dengan cara meningkatkan produktivitas kerja. Upaya ini tidak terlepas dari kondisi pasar yang kian kompetitif, semakin sengitnya persaingan antar para pemilik modal akan menjurus pada upaya merebut pangsa pasar sebesar-besarnya. Jika diasumsikan bahwa kualitas barang yang diperdagangkan adalah homogen, maka produsen hanya dapat melaksanakan strategi penurunan harga output sebagai upaya menguasai pasar. Untuk itu, menuntut sistem produksi yang efisien dan produktif. Dengan kata lain, peningkatan produktivitas kerja dan efisiensi produksi menjadi keharusan. Hal ini dapat diwujudkan melalui investasi pada peralatan-peralatan yang padat teknologi untuk meningkatkan produktivitas kerja. Konsekuensinya, pengusaha akan menurunkan penggunaan tenaga buruh dan diganti dengan penggunaan mesin-mesin yang lebih produktif dan efisien. Akibat dari penggunaan mesin-mesin tersebut tingkat pengangguran akan semakin meningkat, dan daya beli masyarakat akan semakin menurun akibat semakin banyaknya tingkat pengangguran yang terjadi.

179

Menurut Karl Marx , eksploitasi terhadap kaum buruh dan peningkatan pengangguran yang terjadi akibat subtitusi tenaga manusia dengan input modal yang padat modal, pada akhirnya akan menyebabkan revolusi sosial yang dilakukan oleh kaum buruh. Fase ini merupakan tonggak baru bagi munculnya suatu tatanan sosial alternatif di samping tata masyarakat kapitalis, yaitu tata masyarakat sosialis. Akumulasi ketertindasan kaum buruh dalam perekonomian kapitalis yang terus dieksploitasi, meningkatnya pengangguran, dan ditambah konflik antar kelas masyarakat yang terus terjadi, maka Karl Marx kemudian menyimpulkan bahwa kapitalisme akan berakhir dengan timbulnya revolusi sosial yang dilakukan oleh kaum buruh. Revolusi ini akan membawa perubahan mendasar pada segala bidang, terutama pada sistem produksi dan pemilikan sumberdaya. Akumulasi modal dalam sistem kapitalis akan diganti dengan pemerataan kesempatan pemilikan sumberdaya, individualis dalam masyarakat kapitalis akan berubah menjadi sistem kemasyarakatan yang sosialis. Pada tahap ini, Karl Marx menawarkan suatu sistem baru yaitu sistem perekonomian sosialis, sebagai alternatif dari sistem kapitalis yang saat itu merupakan satu-satunya sistem perekonomian yang dikenal. Kritik terhadap teori Karl Marx terutama tertuju pada asumsi adanya nilai lebih dalam suatu perekonomian. Dalam dunia nyata tidak dikenal adanya istilah nilai lebih ini, karena memang di dunia nyata kita berkutat dengan harga yang terwujud dan nyata. Jadi Karl Marx dalam hal ini telah menciptakan dunia nilai yang abstrak yang membuat teorinya agak sukar dan kaku untuk memahami bekerjanya kapitalisme (Jhingan, 1988). Kritik lain adalah adanya keharusan perubahan dari masyarakat kapitalis menuju sosialis hanya dapat dilakukan dengan jalan revolusi. Haruskah suatu upaya untuk menuju kepada suatu kondisi yang dianggap baik harus dilakukan dengan revolusi yang tentunya akan membawa korban yang besar? Apakah sudah tidak ada lagi kejernihan berpikir dari kedua belah pihak untuk berdialog satu dengan yang lain? Kekakuan Karl Marx dalam mendeskripsikan proses perubahan dari masyarakat agraris-feodal menuju masyarakat kapitalis dan terakhir adalah masyarakat sosialis, nampaknya sangat diwarnai subyektivitas dan kebencian Karl Marx terhadap sistem kapitalis. Itulah sebabnya mengapa Karl Marx mendeskripsikan kehancuran kapitalis yang akan digantikan oleh sosialis harus melalui suatu revolusi. Artinya Karl Marx tidak menginginkan

179

keberadaan para pengusaha yang berjaya di masa kapitalis untuk menghirup udara sosialisme, mengingat revolusi kaum buruh jelas-jelas melawan kaum pengusaha tersebut. Kendati demikian, ternyata Karl Marx justru banyak menyumbang terhadap kelanggengan kehidupan ekonomi kapitalis. Dengan adanya kritik dan sinyalemen terhadap perkiraan dampak negatif sistem kapitalis, terutama terhadap buruh, maka hal tersebut justru menjadi masukan bagi ekonom kapitalis untuk menyempurnakan sistem yang ada hingga dampak negatif yang digambarkan Karl Marx dapat dihindari. Karl Marx merupakan orang pertama yang memberikan gambaran sisi negatif dari sistem kapitalisme jika sistem tersebut diterapkan berdasarkan perhitungan ekonomi semata tanpa mempertimbangkan unsur kemanusiaan dan nilai sosial kemasyarakatan. Karl Marx menunjukkan kepada dunia bahwa tahap pembangunan ekonomi tidaklah semulus yang diperkirakan sebelumnya. Untuk mencapai perekonomian sosialis, terlebih dahulu harus melewati tahap depresi ekonomi akibat kapitalisme yang merajalela tanpa kendali. Teori Karl Marx tentang depresi ekonomi inilah yang pada akhirnya justru memperkuat argumentasi Keynes yang merekomendasikan peningkatan peran pemerintah bagi upaya mengatasi depresi ekonomi yang ada. Akhirnya, dapat diringkaskan bahwa secara teoritis pemikiran-pemikiran Karl Marx memang sangat menarik, akan tetapi dalam aplikasinya banyak mengalami perubahan dan modifikasi. Ramalannya tentang tidak terelakkannya kejatuhan kapitalisme tidak pernah jadi kenyataan, begitu juga dengan ramalannya tentang negara sosialis pertama akan muncul di negara kapitalis paling maju, seperti di Inggris, Amerika dan Jerman tidak terbukti. Termasuk juga teori perjuangan kelas Karl Marx, dinilai kurang solid. Di negara-negara kapitalis, tidak ada perlakuan pengusaha yang berlebihan mengeksploitir kaum buruh sebagaimana dikhawatirkan Karl Marx. Kualitas kehidupan kaum buruh di negara kapitalis jauh lebih baik ketimbang pendapatan rata-rata masyarakat manapun. Dari berbagai aliran soialisme, hanya pemikiran-pemikiran kaum reformis yang mendekati kenyataan. Ramalan dan pemikiran-pemikiran dari aliran-aliran lain banyak yang tidak terbukti dalam kenyataan. Ini berarti menuntut perlunya revisi substansial terhadap teori-teori Karl Marx. E. TEORI PEMBANGUNAN EKONOMI NEO-KLASIK

179

Pada tahun 1870-an telah terjadi pengeseran dalam teori pembangunan ekonomi. Pergeseran ini disebabkan oleh kemajuan teknologi yang peranannya begitu dominan dalam pencarian dan penemuan sumber-sumber produksi baru, serta kemampuannya dalam mengembangkan lebih lanjut sumber-sumber produksi baru itu. Aliran teori pembangunan ekonomi baru ini kemudian dikenal sebagai mazhab teori pembangunan ekonomi Neo-Klasik. Kemunculan mazhab teori pembangunan ekonomi Neo-Klasik tidak terlepas dari banyaknya kritik dari para pakar ekonomi terhadap teori-teori yang dikembangkan oleh Karl Marx dan Engels, baik dari kaum sosialis sendiri maupun dari pendukung mazhab kapitalisme. Hal ini terjadi karena analisis yang dipergunakan oleh Karl Marx untuk meramal kejatuhan sistem kapitalis bertitik tolak dari teori nilai kerja dan tingkat upah, maka oleh para pakar ekonomi Neo-Klasik teori-teori tersebut dipelajari kembali secara mendalam. Dari sekian banyak pakar ekonomi Neo-Klasik, masing-masing memiliki pencirinya sendirisendiri, khususnya dalam hal cara pandang, fokus kajian, dan kerangka analisisnya. Semua itu terlihat jelas dan tertuang dalam karya-karyanya. Dengan pencirinya itu, kemudian oleh banyak kalangan dikelompokkan kedalam beberapa aliran atau mazhab. Pertama, Mazhab Austria, mereka yang tergabung dalam mazhab ini adalah tokoh-tokoh pemikir ekonomi handal seperti Carl Menger (1840-1921); Friedrich von Weiser (1851-1920); dan Eugen von Bohm Bawerk (1851-1914). Teori-teori yang dikembangkan oleh ketiga tokoh utama mazhab ini memiliki pencirinya sendiri dengan menerapkan kalkulus sebagai peralatan utamanya. Kelompok penerus dari mazhab ini adalah Knut Wicksell (1851-1926); Ludwig Edler von Mises (1881-1973); dan Friedrich August von Hayek (1899-1978). Kedua, Mazhab Lausanne, teori-teori yang dikembangkan oleh kelompok ini analisisnya lebih komprehensif, utamanya tentang teori keseimbangan umum yang dijelaskan dengan pendekatan matematis. Tokoh pemikir ekonomi yang dianggap menonjol dan sekaligus sebagai pendiri dari mazhab ini adalah Leon Walras11. Karya monumentalnya berjudul Elements of Pure Economics yang
Dalam riwayat hidupnya (1834-1910), Leon Walras yang lahir pada Tahun 1834 di Eveux, Perancis, selalu berusaha memberikan sumbangan penting bagi perkembangan ilmu ekonomi. Bersama dengan Jevon dan Menger, Ia adalah salah seorang dari beberapa penemu independen mengenai gagasan kepuasan marjinal. Ia adalah salah seorang yang pertama dan terkuat dalam mendukung individualisme metodologis, yakni keyakinan bahwa semua penjelasan fenomena ekonomi seharusnya berdasarkan tindakan individu dalam memilih. Akan tetapi Warlas lebih terkenal karena membangun sebuah model keseimbangan ekonomi yang memandang sistem ekonomi sebagai rangkaian persamaan matematika yang saling berhubungan. Warlas kemudian menjelaskan bagaimana memecahkan rangkaian persamaan ini untuk semua harga dan kuantitas. Ia juga yang selalu mendorong para ahli ekonomi untuk memfokuskan diri pada
11

179

terbit pada Tahun 1878. Model keseimbangan umum Walras ini ternyata tidak dikembangkan oleh para pakar ekonomi pada zamannya. Alfred Marshall adalah sosok ilmuwan dari Cambridge University yang sangat menghargai model matematika yang menjadikan pemikiran-pemikiran Walras kemudian dihargai. Ia dianggap sebagai pendiri dan pengembang ilmu ekonomi matematika, dan kira-kira 60 tahun kemudian dikembangkan oleh Frisch dan Tinbergen menjadi ilmu ekonometrika, dan oleh Wassily Leontief kemudian dikembangkan konsep analisis input-output atas dasar matematika yang dikembangkan Walras. Pemikiran-pemikiran Walras ini kemudian diteruskan dan dikembangkan oleh Vilfredo Pareto, terutama dalam menjelaskan kondisi-kondisi yang harus dipenuhi agar sumberdaya-sumberdaya dapat dialokasikan dan memberikan hasil yang optimum dalam suatu model keseimbangan umum. Ketiga, Mazhab Cambridge, tokoh pemikir ekonomi yang menonjol karya-karyanya dalam kelompok mazhab ini adalah Alfred Marshall12. Sebagaimana diuraikan oleh Marshall dalam bukunya, harga barang menurut kaum klasik ditentukan oleh besarnya pengorbanan untuk menghasilkan barang tersebut. Dengan demikian, yang menentukan harga adalah sisi penawaran. Pendapat ini dengan tegas ditentang oleh kelompok neo-klasik lain seperti Jevons, Menger, dan Walras. Mereka sepakat bahwa yang menentukan harga adalah kondisi permintaan. Mereka juga mengkritik para pakar ekonomi klasik yang gagal membedakan antara utilitas total, utilitas marjinal, dan utilitas rata-rata. Misalnya, dalam menjelaskan paradoks antara intan dan air, Smith menjelaskan bahwa air sangat berfaedah tetapi mempunyai harga yang murah karena biaya yang diperlukan untuk memperoleh air kecil atau rendah sekali. Sebaliknya intan yang kurang berfaedah bagi manusia nilainya sangat tinggi karena untuk memperolehnya dibutuhkan biaya yang besar. Menurut kaum neo-klasik, tingginya harga intan ketimbang harga air bukan karena biaya untuk mendapatkan intan lebih besar dibanding biaya untuk mendapatkan air, melainkan karena utilitas marjinal yang besar. Karena itu orang mau menghargai intan lebih tinggi daripada air.
hubungan timbal balik antara pasar-pasar yang berbeda, kemudian memformalkan gagasan keseimbangan umum dan menunjukkan kepada para ahli ekonomi bahwa adalah mungkin untuk mempelajari ekonomi yang saling berhubungan sebagai suatu rangkaian persamaan matematika. Ia mengangkat isu-isu tentang konvergensi penting ke arah keseimbangan dan stabilitas keseimbangan ekonomi, dan berusaha menjelaskan bagaimana ekonomi dapat mencapai keseimbangan umum. 12 Semasa hidupnya (1842-1924), Alfred Marshall aktif menulis, termasuk bukunya yang berjudul Principles of Economics. Buku ini sebetulnya sudah ditulis pada awal tahun 1870-an, tetapi ia termasuk orang yang sangat hat-hati dalam memberikan pendapat barunya, sehingga buku tersebut baru diterbitkan dua puluh tahun kemudian, yaitu pada Tahun 1891. Ia dianggap sangat berjasa dalam memperbaharui azas dan postulat pandangan-pandangan ekonomi yang dikemukakan pakar klasik dan pakar neoklasik sebelumnya.

179

Bagi Jevons, Menger dan Walras13, biaya bukan satu-satunya faktor yang menentukan harga. Yang paling menentukan harga, sesuai dengan teori utilitas marjinal adalah utilitas yang diterima dari mengkonsumsi satu unit terakhir dari barang tersebut. Ini berarti, teori tentang harga yang dikembangkan oleh kaum marjinalis sangat berbeda dengan teori yang dikembangkan oleh kaum klasik. Kaum klasik melihat harga hanya dari sisi produsen (jumlah pengorbanan yang dikeluarkan), sedangkan kaum marjinalis melihatnya dari sisi konsumen, yaitu kepuasan marjinal dari mengkonsumsi satu unit barang terakhir. Para pakar ekonomi neo-klasik sebagaimana disebutkan di atas dalam menganalisis ramalan Karl Marx mempergunakan konsep analisis marjinal. Analisis dengan konsep ini memiliki makna khusus bagi pengembangan ilmu ekonomi, sebab hasil penelitian mereka telah menciptakan aura baru bagi pengembangan teori ekonomi modern. Beberapa penulis ekonomi menyebut apa yang sudah dilakukan oleh para pakar ekonomi neoklasik tersebut sebagai marginal revolution, karena telah ditemukan suatau analisis baru yaitu pendekatan marjinal. Analisis ini pada intinya merupakan aplikasi dari kalkulus differensial terhadap tingkah laku konsumen dan produsen serta penentuan harga-harga di pasar. Sejak terjadinya marjinal revolution analisis ekonomi makin bersifat makro. Konsep marjinal ini diakui sebagai kontribusi utama dari mazhab Austria. Tetapi jika ditelusuri ke belakang ternyata teori ini telah cukup lama dikembangkan oleh penulis terdahulu, yaitu oleh Heindrich Gossen (1810-1858). Ia telah lama menggunakan konsep marjinal dalam menjelaskan kepuasan atau faedah (utility) dari mengkonsumsi suatu barang. Menurut Gossen, faedah tambahan (marginal utility) dari mengkonsumsi suatu macam barang akan semakin berkurang jika barang yang sama dikonsumsi semakin banyak. Pernyataannya ini kemudian dijadikan semacam dalil yang lebih dikenal sebagai Hukum Gossen I. Selanjutnya, dalam Hukum Gossen II Ia menjelaskan bahwa sumberdaya dan dana yang tersedia selalu terbatas secara relatif untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang relatif tak terbatas. Dengan keterbatasan ini maka kepuasan maksimum yang bisa diperoleh terjadi pada saat faedah marjinal sama untuk setiap barang yang dikonsumsi, dengan syarat semua sumberdaya dan sumber dana terpakai habis seluruhnya. Sayang pada masanya teori Gossen di atas tidak mendapat perhatian dari pakar ekonomi. Baru sekitar empat puluh tahun kemudian, oleh Jevons

Stanley Jevons dari University of Manchester (Inggris) menulis Theory of Political Economy Tahun 1871. Karl Menger dari Austria menulis Principles of Economics in Germany pada Tahun yang sama. Leon Walras dari sekolah Lausanne (Swiss) menulis Elements of Pure Economics pada Tahun 1874.

13

179

bwesama dengan Menger, Bohm Bawerk dan Von Weiser memberi pengakuan dan penghargaan atas karya Gossen tersebut. Hasil penelitian dan pemikiran-pemikiran mereka menyimpulkan bahwa teori nilai lebih (surplus value) dari Karl Marx tidak mampu menjelaskan secara tepat tentang nilai komoditas sehingga teori tersebut dianggap tidak berkontribusi apa-apa dalam perkembangan teori ekonomi, dan oleh karena itu dapat diabaikan. Dengan sendirinya, kesimpulan ini telah meruntuhkan seluruh bangunan teori sosialis yang dikembangkan oleh Karl Marx dan Engels, sekaligus menyelamatkan sistem kapitalis dari kemungkinan tekanan depresi berat sebagaimana diramalkan Karl Marx. Kemudian, dalam teori ekonomi Neo-Klasik dipelajari tingkat bunga, yaitu harga modal yang menghubungkan nilai pada saat ini dan saat yang akan datang. Teori ekonomi Neo-Klasik mengenai perkembangan ekonomi menganggap: 1) akumulasi modal merupakan faktor penting dalam perkembangan ekonomi; 2) perkembangan itu merupakan proses yang gradual; 3) perkembangan merupakan proses yang harmonis dan kumulatif; 4) aliran teori ekonomi Neo-Klasik optimis terhadap perkembangan; dan 5) adanya aspek internasional dalam perkembangan tersebut. Dalam perspektif teori ekonomi Neo-Klasik, akumulasi modal berkaitan dengan tingkat bunga dan tingkat pendapatan. Dengan tingkat bunga yang rendah, maka akan menentukan tingginya tingkat investasi dan mendorong aktivitas ekonomi produktif meningkat, yang pada gilitannya akan mampu meningkatkan pendapatan. Dengan demikian, jika tingkat bunga rendah maka investasi akan tinggi dan pendapatan meningkat, dan begitu juga sebaliknya. Perkembangan ekonomi yang demikian itu berproses secara gradual dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan pandangan Alfred Marshall, bahwa perekonomian itu merupakan sebuah kehidupan organik yang tumbuh dan berkembang perlahan-lahan sebagai proses yang gradual. Bahkan perkembangan itu sering disebut sebagai proses yang harmonis dan kumulatif. Mengapa? Karena, perkembangan itu berproses meliputi berbagai faktor yang tumbuh secara bersama-sama. Marshall menggambarkan bahwa harmonisnya perkembangan itu karena adanya internal economies dan external economies. Dalam hal ini, internal economies timbul karena adanya kenaikan skala produksi yang tergantung pada sumber-sumber dan efisiensi dari para pelaku ekonomi itu sendiri. Sedangkan external economies timbul karena kenaikan produksi pada umumnya dan kenaikan ini berhubungan dengan tingkat perkembangan pengetahuan dan kebudayaan. Sementara

179

itu, pada proses kumulatif, sebagaimana dinyatakan oleh Allen Young bahwa perkembangan industri itu tergantung pada baiknya pembagian kerja di antara para buruh. Dari perspektif yang lain, teori ekonomi Neo-Klasik optimis bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan berhenti karena terbatasnya sumberdaya alam. Teori ini meyakini ada kemampuan manusia untuk mengatasi terbatasnya pertumbuhan itu, sehingga berbeda dengan pandangan teori ekonomi klasik bahwa pertumbuhan ekonomi akan terhenti karena terbatasnya sumber daya alam. Bagaimanapun, perkembangan ekonomi suatu negara tidak terlepas dari pengaruh dunia internasional. Hal ini dapat dijelaskan melalui lima aspek yang mempengaruhi tingkat perkembangan ekonomi suatu negara: 1) mula-mula negara itu meminjam modal, yang selanjutnya disebut sebagai debitur belum mapan; 2) kemudian, negara itu dapat meningkatkan pendapatan nasionalnya dan dapat membayar dividend dan bunga atas pinjaman tersebut; 3) setelah pendapatan nasional negara itu meningkat maka sebagian dari pendapatannya digunakan untuk melunasi utang dan sebagian lagi dipinjamkan ke negara lain yang membutuhkan. Negara ini berada dalam tingkat debitur yang sudah mapan; 4) kemudian negara itu mengalami surplus karena telah dapat menerima dividend dan bunga yang lebih besar dari pada beban bunga yang harus ditanggung atau dibayarkan; dan 5) akhirnya negara itu menjadi kreditur mapan karena telah menerima dividend dan bunga dari negara lain. F. TEORI PEMBANGUNAN EKONOMI MAZHAB HISTORISMUS Keberhasilan pemikir-pemikir ekonomi neo-klasik dalam memberikan argumentasi terhadap kritik pedas dari para pemikir sosialis/marxis, menjadikan sistem kapitalis kembali berkibar. Namun keberhasilan ini tidak secara otomatis menjadikan sistem kapitalis dianut oleh semua negara di Eropa, karena bersamaan dengan itu berkembang suatu aliran ilmu ekonomi yang disebut mazhab historismus atau sering juga disebut sebagai aliran etis, sebuah penamaan yang mengindikasikan ketidaksenangan kelompok pendukung mazhab ini terhadap hedonisme klasik. Kelompok pendukung mazhab historismus ini cukup banyak, mereka berasal dari beragam latar belakang disiplin, negara dan bangsa. Sebagian besar dari mereka berasal dari Jerman, diantaranya: Friedrich List, Wilhelm Roscher, Bruno Hildebrand, Karl Bucher, Max Weber, dan Werner Sombart. Sedangkan tokoh pemikir ekonomi aliran ini yang berasal dari Inggris adalah William Cunningham dan J.W. Ashley. Dari Amerika serikat pendukung aliran ini juga ada, diantaranya Henry Carey, Simon Nelson Patten, dan Daniel Reymond.

179

Dalam sejarah perkembangan pembangunan ekonomi diketahui bahwa mazhab historismus ini dimulai di Jerman pada abad ke-19 hingga abad ke-20. Mazhab ini kerangka teoritisnya dibangun berdasarkan pada perspektif historis, dan pola pendekatan pembangunan ekonomi yang dipergunakan dalam memecahkan masalah-masalah ekonomi berpangkal pada perspektif historis-induktif empirisdengan mendasarkan pada fenomena ekonomi menyeluruh dan tahapan perkembangannya. Friedrich List (1840) adalah salah seorang pelopor Historismus, ia adalah salah satu dari sekian banyak eksponen nasionalisme ekonomi. List (1840) menyatakan bahwa tahap perkembangan ekonomi dapat dilihat dari tingkat perkembangan dan kemajuan dalam cara berproduksi, meliputi: 1) tahap primitif; 2) tahap beternak; 3) tahap pertanian; 4) tahap industri pengolahan (manufacturing); dan 5) penggabungan dari tahap pertanian, industri pengolahan dan perdagangan. Pandangan List tersebut kemudian dikritisi oleh Bruno Hildebrand (1848), bahwa sejarah perkembangan pembangunan ekonomi telah terjadi evolusi dalam masyarakat. Bruno (1848) mengkritik pandangan List (1840) bahwa pembangunan ekonomi bukanlah cara berproduksi atau cara mengkonsumsi, akan tetapi merupakan cara mendistribusikan, yaitu 1) perekonomian barter; 2) perekonomian uang; dan 3) perekonomian kredit. Kelemahan yang menonjol dari pandangan Bruno adalah tidak jelas bagaimana proses perkembangan dari tahap tertentu ke tahap berikutnya; dan tidak memberi sumbangan yang berarti terhadap peralatan analitis di bidang ilmu ekonomi. Berdasarkan kelemahan-kelemahan dari teori Bruno tersebut, Karl Bucher (1952) mencoba mensintesakan pendapat List dan Bruno ke dalam pentahapan perkembangan ekonomi sebagai berikut: 1) produksi bersifat subsistence, yaitu hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri; 2) perekonomian kota ditandai oleh tingkat pertukaran yang sudah meluas; dan 3) perekonomian nasional, dimana peran pedagang menjadi semakin penting. Tokoh pemikir lain yang mendukung mazhab historismus adalah Gustav Von Schmoler. Ia menjadi terkenal karena keterlibatannya dalam perdebatan sengit dengan para pakar klasik tentang metodologi dalam pengembangan ilmu ekonomi. Ia dianggap sebagai pendukung mazhab historimus yang paling gigih menyarankan agar metode deduktif klasik digantikan dengan metode induktif empirik. Sama halnya dengan tokoh mazhab historimus lainnya, Schmoler juga menekankan perlunya fleksibilitas dalam perekonomian dan memberi ruang yang lebih leluasa kepada pemerintah untuk memperbaiki keadaan ekonomi. Dalam hal ini, ia mempelajari dokumen-dokumen negara untuk mendemontrasikan kemurahan hati birokrasi yang mampu membimbing dan menyatukan kekuatan-kekuatan masyarakat dan menjamin diberlakukannya keadilan yang diyakininya tidak akan pernah terwujud dalam sistem perekonomian yang mengandalkan mekanisme pasar.

179

Pandangan Schmoler di atas agak berbeda dengan pandangan para tokoh dari mazhab historimus lainnya. Jika tokoh-tokoh dari mazhab historimus menghendaki berbagai kebijaksanaan di bidang ekonomi, Schmoler menghendaki agar kebijaksanaan juga menyangkut sosial dan politik. Lebih jauh dari itu, juga kebijaksaan untuk meningkatkan kesejahteraan kaum buruh. Misalnya untuk meningkatkan posisi tawar-menawar kaum buruh. Untuk hal ini, Schmoler menganjurkan perlunya didirikan dan dibinanya organisasi-organisasi serikat pekerja. Untuk mencapai tujuannya, Schmoler beserta rekan-rekannya mendirikan sebuah forum menghimpun pemikiran-pemikiran untuk menghadapi berbagai masalah ekonomi dan sosial, dan hasil kesimpulan dari pertemuan dalam forum disampaikan pada pemerintah sebagai bahan masukan. Salah satu keberhasilan dari pertemuan-pertemuan untuk menghimpun masukan bagi pemerintah ini adalah diberlakukannya undang-undang perlindungan kaum buruh dari penindasan kaum pengusaha. Jaminan sosial yang diberikan kepada kaum buruh sesuai undang-undang tersebut dianggap sangat maju untuk zamannya, sebab di negara-negara Eropa pada umumnya belum ada undang-undang perlindungan kaum buruh seperti yang dibuat di Jerman. Pelopor mazhab Historismus yang lain adalah Max Weber. Dalam riwayat hidupnya (18641920) Ia dikenal sebagai ahli sosiologi. Namun dalam berbagai tulisannya, Ia banyak membahas aspek sosiologi ekonomi dan sejarah pemikiran ekonomi. Ia juga cukup intens dalam melihat pengaruh ajaran-ajaran agama tertentu, yaitu Protestan, terhadap kemajuan ekonomi. Dalam bukunya yang sangat terkenal The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1958) ia menjelaskan pengaruh nyata dari ajaran agama Protestan terhadap perilaku dan kemajuan ekonomi. Weber bertolak dari asumsi dasar bahwa rasionalitas adalah unsur pokok peradaban Barat yang mempunyai nilai dan pengaruh universal. Dalam kegiatan ekonomi, bisa dilihat bahwa banyak peradaban dalam sejarah mengenal apa artinya mencari laba. Tetapi hanya di barat lah aktivitas mencari laba tersebut diselenggarakan secara lebih terorganisir secara rasional, dan inilah akar utama sistem perekonomian kapitalisme, yang mewujudkan diri dalam perilaku ekonomi tertentu.

179

Menurut Weber14, perilaku ekonomi kapitalis berharap akan memperoleh keuntungan dengan melakukan aktivitas tukar menukar yang didasarkan pada kesempatan mendapatkan untung secara damai. Hasil pengamatan Weber menunjukkan bahwa golongan penganut agama protestan, terutama kaum Calvinis, menduduki tempat teratas. Sebagian besar dari pemimpin-pemimpin perusahaan, pemilik modal, pimpinan teknis dan komersial yang diamatinya di Jerman adalah orang-orang protestan, bukan orang katolik. Ajaran Calvin tentang takdir dan nasib manusia, menurut Weber adalah kunci utama dalam menentukan sikap hidup seseoran. Bagi penganut Calvinis kerja adalah panggilan atau tugas suci. Menurut ajaran Calvin keselamatan hanya diberikan kepada orang-orang terpilih. Inilah yang mendorong mereka bekerja keras agar menjadi golongan orang-orang yang terpilih. Dalam kerangka pemikiran teologis seperti itu semangat kapitalisme yang bersandar pada cinta ketekunan, hemat, rasional, dan sanggup menahan diri, akan menemukan pasangannya. Tidak semua orang dapat menerima tesis Weber yang diuraikan di atas. Beberapa pakar mempertanyakan atau bahkan menentangnya, misalnya Bryan S. Turner, R.H. Tawney, Kurt Samuelson, Robert N. Bellah, Andrew Greely, dan tentu saja dari pakar-pakar lain yang pernah meneliti dampak ajaran agama lain terhadap kehidupan ekonomi, misalnya penelitian tentang masyarakat Islam dan penganut-penganut agama Tokugawa di Jepang. Kritikan-kritikan tersebut antara lain dapat dibaca dalam buku yang diedit oleh Taufik Abdulah (1979): Agama, Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi. Dari uraian ini, dapat disimpulkan bahwa doktrin mazhab historimus kurang jelas. Mereka tidak mengembangkan sebuah sistem melainkan lebih merupakan reaksi terhadap konsepsi klasik dan neo-klasik yang menghendaki tidak adanya campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Para pemikir dari mazhab historimus lebih banyak hanya mengkritik metode deduksi klasik, tetapi tidak
Memperkuat pandangan Max weber, McClelland menyatakan bahwa selain nilai-nilai agama dan budaya, serta kondisi lingkungan sekitar yang oleh Max Weber dianggap sangat berpengaruh terhadap pembentukan sikap dan perilaku seseorang, masih terdapat nilai-nilai lain yang cukup efektif mengantar sukses seseorang, yaitu dorongan berprestasi (Need Achievement). Dalam lingkup masyarakat yang lebih luas, adanya motif berprestasi yang tinggi akan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Dorongan berprestasi ini bukanlah sesuatu yang lekat sejak seseorang dilahirkan, melainkan merupakan nilai-nilai keutamaan yang bisa ditularkan dan ditumbuhkembangkan. Menurut McClelland, manakala dalam sebuah masyarakat terdapat begitu banyak warga yang memiliki dorongan berprestasi tinggi, maka diharapkan masyarakat tersebut akan dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tempat yang paling baik untuk memupuk dorongan berprestasi adalah dalam keluarga melalui peran para orang tua. Pendidikan anak, dengan demikian menjadi sangat penting, dan oleh karena itu upaya pengembangan anak dan kreativitasnya harus diarahkan pada nilai-nilai yang melekat pada dorongan berprestasi yang tinggi. Keberlakuan dari teori ini banyak penulis yang mencontohkan pada kehidupan masyarakat dan bangsa Jepang. Bagi masyarakat Jepang, kegagalan adalah sebuah aib besar. Sebaliknya, keberhasilan adalah sebuah kehormatan diri ataupun kebanggaan bangsa (pride) yang sangat di hargai dan dijunjung tinggi oleh warga masyarakat. Luar biasa, ternyata dorongan berprestasi yang tinggi merupakan kunci sukses bagi Bangsa Jepang untuk mampu membangun negaranya menjadi negara maju dengan akselerasi yang lebih tinggi.
14

179

melihat kelemahan dari metode induksi-empiris mereka sendiri. Adapun kelemahan utama metode induksi-empiris itu ialah sulitnya mencapai suatu kesimpulan yang padu tentang ekonomi masyarakat. Dengan metode induksi empiris kita hanya bisa menggambarkan berbagai persoalan ekonomi secara deskriptif, tetapi dari berbagai pengamatan dan penelitian deskriptif yang dilakukan secara terpencar-pencar ke segala arah tersebut sulit diramu dan dirangkum menjadi suatu perpaduan kerangka susunan atau struktur pemikiran ekonomi yang kokoh, rinci dan terarah. Dengan demikian aliran pemikiran ssejarah tidak mampu membangun suatu sistem ekonomi tersendiri sebagaimana yang dilakukan oleh para pemikir klasik atau sosialis. Sungguhpun karya-karya dari para pemikir aliran sejarah masih memiliki banyak kelemahan dan kekurangan, namun tidak boleh dipungkiri bahwa jasa dan sumbangan mereka dalam melakukan berbagai penelitian empiris tentaang masalah ekonomi cukup bermanfaat dan bermakna. Salah satu manfaat yang bisa dipetik dari kritik para pemikir aliran sejarah terhadap kaum klasik ialah dalam pengembangan metode penelitian ekonomi. Namun perdebatan tentang metode induksi dan deduksi itu oleh Schumpeter dinilainya sia-sia belaka. Terhadap penilaian Sshumpeter ini tentu tidak semua orang sependapat karena sebagaimana yang terbukti dari perdebatan ini lahir suatu kesadaran bagi para pemikir-pemikir ekonomi di kemudian hari, bahwa dalam melakukan penelitian ekonomi sebaiknya dilakukan metode deduksi (reasoning from the general to the particular) dan induksi (reasoning from the particular to the general) secara timbal balik, yang kemudian dikenal sebagai metode reflektive thinking. Setelah mencermati secara lebih seksama terhadap pemikiran-pemikiran para tokoh aliran sejarah, maka yang menonjol dari pemikiran-pemikiran mereka adalah semangat nasionalismenya. Hal ini terlihat jelas dalam pemikiran-pemmikiran List dan Schmoler. Mereka berpandangan bahwa manakala perekonomian diserahkan pada mekanisme pasar bebas sebagaimana digagas oleh kaum klasik, maka negara mereka akan kalah dalam bersaing dan perekonomian Jerman bisa hancur. Kondisi negara mereka pada waktu itu masih tertinggal dibelakang Inggris yang sudah lebih maju industrialisasinya. Oleh karena itu, mereka mendesak agar pemerintah melakukan intervensi dalam perekonomian, misalnya melindungi industri dalam negeri dari serbuan produk-produk luar negeri. Kemudian, bagaimanakah implikasi dari ajaran para pemikir sejarah bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia? Perekonomian kebanyakan negara berkembang didominasi oleh sektor pertanian, yang umumnya sulit untuk maju. Olehnya itu, jika ingin maju maka langkah awal yang perlu dilakukan ialah memacu industrialisasi.

179

Sebagaimana dianjurkan oleh List, dalam upaya meningkatkan pembangunan ekonomi di negara-negara sedang berkembang, pada tahap awal negara-negara itu boleh melakukan kebijakan proteksi untuk melindungi industri dalam negerinya. Tindakan proteksi ini setelah melalui beberapa tahapan waktu tertentu, dimaksudkan agar industri dalam negeri menjadi lebih mapan sehingga lebih kompetitif dalam bersaing. Pengembangan industri ini lebih lanjut diharapkan untuk mampu mengangkat perekonomian masyarakat lebih luas ke berbagai bidang. List juga menganjurkan agar proteksi hanya diberikan pada tahap-tahap awal pembangunan ekonomi suatu negara. Akan tetapi dalam praktiknya terdapat beberapa negara berkembang, khususnya di negara-negara yang tingkat konspirasi antara pengusaha dengan penguasanya cukup tinggi, proteksi tersebut diberikan secara terus menerus, sedangkan industrinya sendiri keropos dan tidak efisien. Hasil produksi mereka tidak bisa bersaing dengan produk-produk luar negeri. Jauh dari yang diharapkan, yang terjadi adalah meluasnya distorsi dan perekonomian beroperasi dengan biaya tinggi (hight cost economy). Padahal List telah mengingatkan bahwa proteksi yang tidak bijaksana seperti ini hanya akan menjadi sumber pemborosan keuangan negara. Yang lebih parah lagi, di beberapa negara berkembang kebijakan proteksi hanya dinikmati oleh segelintir pengusaha yang berkolaborasi dengan penguasa. Kondisi ini pada akhirnya hanya akan menjadi pemicu kecemburuan sosial. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sebagaimana diuraikan diatas, bagi negaranegara berkembang yang ingin memberikan proteksi harus diiringi dengan suatu mekanisme yang mampu mengatur agar proteksi secara bertahap dapat dikurangi, dan sesudah sekian lamanya waktu yang diberikan, proteksi tersebut harus dihentikan. Jika tidak ditempuh mekanisme seperti itu, maka industri yang diberikan proteksi tersebut cenderung tidak efisien. Sebagai catatan akhir, perlu ditambahkan bahwa pada masa-masa yang lalu kebijakan proteksi bisa dilakukan untuk melindungi industri dalam negeri. Akan tetapi di masa-masa mendatang hal ini akan sulit dilaksanakan, mengingat telah ditandanganinya perjanjian GATT akhir Tahun 1993. Perjanjian GATT mmenghendaki perdagangan global yang lebih bebas tanpa mendapat halangan dan rintangan dari semua negara anggota. Beban import dan tarif secara berangsur-angsur harus dikurangi. Dengan demikian untuk memajukan industri dalam negeri tidak bisa lagi dilakukan dengan menggunakan kebijakan proteksi, melainkan harus mengarah pada usaha-usaha yang dapat meningkatkan efisiensi produksi.

179

Implikasi kebijakan yang menarik untuk disimak dari pemikiran mazhab hirtorimus ini, terutama dari pemikiraan Schmoler, ialah perlunya negara memberikan perlindungan bagi kaum buruh. Banyak negara sedang berkembang mengabaikan hal ini, padahal masalah perlindungan kaum buruh perlu diperhatikan karena posisi tawar mereka sangat rendah dihadapan kaum pengusaha. Kalaupun ada organisasi serikat pekerja, kaum buruh belum mendapat perlindungan yang sewajarnya. H.TEORI PEMBANGUNAN KEYNES John Maynard Keynes15 adalah salah satu tokoh pemikir ekonomi dunia yang sangat tersohor. Karya-karya cerdas Keynes mengenai ekonomi dan keuangan begitu banyak. Diantara hasil karyanya: Indian Currency and Finance (1913); The Economic Consequences of the Peace (1919); A Treatise on Probability (1921), A Revision of Treaty (1922), A Tract on Monetaty Reform (1923); American ed., Monetary Reform (1924); A Short View of Russia (1925); The Economic Consequences of Mr Churchill (1925); The End of Laissez Fair (1926); dan Essays in Biography (1933).
15

Nama John Maynard Keynes adalah sebuah nama Inggris kuno. Dari hasil penelusuran mengenai asal usul tokoh pemikir ekonomi ini, sampai pada nama William de Cahagnes yang hidup pada Tahun 1066, ternyata Keynes ialah seorang tradisionalis. Kecakapan serta sifat-sifat baiknya diperoleh secara turun temurun. John Maynard Keynes yang lahir di Cambridge Inggris pada tanggal 5 Juni 1883, adalah salah satu tokoh pemikir ekonomi dunia yang sangat tersohor. Secara kebetulan tahun kelahiran Keynes bertepatan dengan tahun wafatnya Karl Marx yang juga sangat terkenal. Sungguhpun kedua tokoh pemikir ekonomi yang waktunya bersinggungan ini sangat berbeda pemikirannya, namun keduanya banyak mempengaruhi filsafat sistem kapitalis. Dilihat dari sifat hidupnya, Karl Marx adalah seorang pendendam, banyak mengalami kesulitan dalam hidupnya, pemurung dan kecewa. Ia adalah perencana hancurnya Kapitalisme. Sebaliknya Keynes, Ia sangat mencintai kehidupan, cara hidupnya selalu mewah, dan sering berbuat seenaknya. Ia benar-benar tokoh pemikir ekonomi yang kaya dengan pengalaman hidup, cerdas dalam berkarya, dan berhasil menjadi arsitek kapitalisme yang tahan hidup. Dalam perjalanan kariernya, Keynes tercatat sebagai dosen dalam mata kuliah ilmu ekonomi dan keuangan di Cambridge University, dan menjadi bendaharawan Kings College sejak Tahun 1908. Di samping itu Keynes juga menjadi anggota Royal Cominision, sebagai Treasury (1915-1919) dan pada bulan Januari 1919 Ia menjadi utusan utama Inggris ke Konferensi Perdamaian Paris. Sebagai utusan konferensi itu, Ia mengundurkan diri pada bulan Juni 1919. Kemudian Ia menjabat sebagai presiden komisaris dan National Mutual Life Assurance Society dan memimpin suatu perusahaan investasi dari Tahun 1921 sampai Tahun 1938. Pengunduran Keynes itu sebagai tindakan protesnya terhadap pasal perampasan dalam Perjanjian Versailles. Karena, menurut Keynes bahwa dalam Perjanjian Versailles itu terdapat rangsangan yang tidak disadari untuk kebangkitan yang lebih hebat lagi dari militerisme dan autarki Jerman. Ternyata apa yang diutarakan Keynes menjadi kenyataan, karena dalam kurun waktu 20 tahun ramalan Keynes itu benar-benar menjadi kenyataan. Munculnya Gerakan Nazi Fasis di bawah Hitler menjadi dominan di Jerman sejak tahun 1933, dan pada akhir tahun 1939 meletuslah Perang Dunia II yang jauh lebih dahsyat dari peperangan-peperangan sebelumnya. Keynes waktu itu berpendapat bahwa Konferensi Versailles itu sebagai suatu penyelesaian dendam politik tanpa perhitungan yang tidak mempedulikan masalah yang mendesak pada waktu itu, dan hanya akan menghidupkan kembali Eropa menjadi sebuah kesatuan yang lengkap serta berfungsi. Pada Tahun 1941 Keynes diangkat menjadi direktur Bank of England (Bank Sentral Inggris) dan pada Tahun 1942 Ia menjadi The First Baron Keynes of Tilton, yakni suatu gelar kerajaan yang sangat terhormat berkat sumbangan pikirannya yang sangat besar itu. Kemudian pada bulan Juli 1944, Keynes dipercayakan memimpin delegasi Inggris ke Konferensi Moneter dan Keuangan PBB di Bretton Woods, Amerika. Dari konferensi itu lahirlah apa yang dikenal dengan Dana Moneter International (International Monetary Fund/IMF) dan Bank Dunia (ZBRD yakni International Bank for Reconstruction and Development). Keynes juga pernah menjadi perunding utama dari Anglo-American Loan pada Tahun 1945.

179

Pada Tahun 1936, Keynes menerbitkan lagi buku hasil pemikirannya yang terpenting dan terkenal hingga sekarang, yakni The General Theory of Employment, Interest, and Money. Dalam buku itu diungkapkan bahwa pendapatan dan kesempatan kerja ditentukan oleh jumlah pengeluaran swasta dan negara. Pendapat ini dinilai para ahli ekonomi dunia sebagai sebuah penyimpangan dari tradisi Neo-Klasik dan akhirnya menciptakan mazhab baru, mazhab ekonomi modern yang biasa dikenal dengan sebutan mazbab Keynesian. Selain buku-buku tersebut, Keynes juga menerbitkan buku hasil pemikirannya tentang cara untuk menghindari terjadinya inflasi. Buku itu berjudul How to Pay for the War. Ia menawarkan suatu cara untuk menghindari terjadinya inflasi pada zaman perang yakni dengan jalan tabungan paksa atau tabungan penangguhan. Pengaruh dari segala pemikiran Keynes sangat terasa di dalam pembuatan anggaran pada zaman perang Inggris. Dalam tradisi klasik ataupun neo-klasik, analisis-analisis ekonomi lebih banyak bersifat mikro. Namun ketika John Maynard Keynes pada tahun 1920-an, mulai memisahkan ilmu ekonomi makro (macroeconomics) dari ilmu ekonomi mikro (microeconomics). Sejak saat itu tradisi klasik ataupun neo-klasik mulai ditinggalkan dalam berbagai analisis ekonomi. Kemudian pada tahun 1930an, pemisahan itu menjadi semakin jelas ketika muncul kesepakatan bersama antara Keynes dan para ekonom lain, terutama John Hicks. Dalam hal ini, analisis ekonomi makro dilakukan dengan melihat hubungan di antara variabel-variabel ekonomi secara agregat. Mereka menjadi begitu terkenal karena gagasan-gagasannya mengatasi great depression, dan Keynes adalah tokoh kunci yang mengusung gagasan mengenai pentingnya keberadaaan dan peran Bank Sentral serta campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Ketika itu Keynes mengkritik ekonomi klasik dan mengusulkan sebuah metode untuk management of aggregate demand. Pada tahun 1930-an, sesudah great depression, negara semakin memainkan peranan pentingnya pada sistem kapitalism di sebagian besar kawasan dunia. Sistem ekonomi ini sering disebut dengan mixed economies. Sebagai contoh, pada Tahun 1929 total pengeluaran pemerintah Amerika Serikat kurang dari 10% terhadap GNP; pada tahun 1970-an jumlah itu telah mencapai lebih dari 30%. Peningkatan yang sama juga terjadi pada industrialized capitalist economies. Perancis misalnya, telah mencapai ratios of government expenditures dari GNP yang lebih tinggi ketimbang Amerika Serikat. Pandangan Keynes sering dianggap sebagai awal dari pemikiran ekonomi modern. Keynes banyak melakukan pembaharuan dan perumusan ulang doktrin-doktrin klasik dan neo-klasik. Karena Keynes menganggap pentingnya peran pemerintah dalam melaksanakan pembangunan, sehingga

179

Keynes sering disebut sebagai Bapak Ekonomi Pembangunan, dan sering juga disebut sebagai Bapak Ekonomi Makro. Untuk memperkuat pemikiran ekonominya, Keynes berpendapat bahwa pengeluaran masyarakat untuk konsumsi dipengaruhi oleh pendapatannya. Semakin tinggi tingkat pendapatan masyarakat mengakibatkan semakin tinggi pula tingkat konsumsinya. Selain itu, pendapatan masyarakat juga berpengaruh terhadap tabungan. Semakin tinggi pendapatan masyarakat, semakin besar pula tabungannya karena tabungan merupakan bagian pendapatan yang tidak dikonsumsi. Walaupun pendapatan penting peranannya dalam menentukan konsumsi, peranan faktor-faktor lain tidak boleh diabaikan. Di bawah ini dijelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi dan tabungan: Pertama, kekayaan yang terkumpul: Seseorang yang memperoleh harta warisan/tabungan yang banyak dari usaha di masa lalu, menjadikan seseorang itu memiliki kekayaan yang mencukupi. Dalam keadaan seperti itu, ia sudah tidak terdorong lagi untuk menabung lebih banyak, sebagian besar dari pendapatannya digunakan untuk konsumsi di masa sekarang. Sebaliknya, bagi kebanyakan orang yang tidak memperoleh warisan mereka memiliki hasrat menabung yang lebih besar dan lebih banyak di masa mendatang; Kedua,Tingkat bunga: tingkat bunga dapat dipandang sebagai pendapatan yang diperoleh dari menabung. Rumahtangga dan masyarakat pada umumnya akan menabung dalam jumlah yang lebih banyak apabila tingkat bunga tinggi, karena lebih banyak bunga yang akan diperoleh; Ketiga, Sikap berhemat: pada umumnya, masyarakat mempunyai sikap dan perilaku yang berbeda dalam menabung dan berbelanja. Ada masyarakat yang tidak suka berbelanja berlebih-lebihan dan lebih mementingkan tabungan. Dalam masyarakat seperti itu Average Propensity to Consume (APC) dan Marginal Propensity to Consume (MPC)-nya lebih rendah, namun ada pula masyarakat yang mempunyai kecenderungan mengkonsumsi yang tinggi, ini berarti APC dan MPC-nya adalah tinggi; Keempat, Keadaan Perekonomian: dalam perekonomian yang tumbuh dengan stabil dan tidak banyak pengangguran, pada umumnya masyarakat cenderung melakukan perbelanjaan lebih aktif. Mereka mempunyai kecenderungan berbelanja lebih tinggi pada masa kini dan kurang menabung. Sedangkan dalam keadaan perekonomian yang lambat perkembangannya, maka tingkat pengangguran menunjukkan tendensi meningkat, dan sikap masyarakat dalam menggunakan uang dan pendapatannnya makin berhati-hati; dan Kelima, Distribusi Pendapatan: dalam perekonomian yang distribusi pendapatan masyarakatnya tidak merata, maka akan lebih banyak tabungan yang dapat diperoleh. Dalam kondisi yang demikian, sebagian besar pendapatan nasional dinikmati oleh sekelompok kecil penduduk yang sangat kaya,

179

dan golongan masyarakat ini mempunyai kecenderungan menabung yang tinggi. Sedangkan sebagian besar penduduk lainnya mempunyai pendapatan yang hanya cukup untuk membiayai konsumsi. Pada kelompok masyarakat ini tabungannya kecil. Sebaliknya, dalam masyarakat yang distribusi pendapatannya lebih seimbang, maka tingkat tabungannya relatif sedikit karena mereka mempunyai kecondongan mengkonsumsi yang tinggi. Berdasarkan pemikiran ekonomi dan berbagai pendapat yang melatarinya, Keynes berhasil melakukan escape dari masa lalu, yaitu dari tradisi laissez faire yang dianut para pakar ekonomi masa silam seperti Adam Smith, David Richardo dan gurunya sendiri Alfred Marshall. Keynes kemudian berhasil membentuk suatu bangunan rumah utuh dalam struktur teori-teori ekonomi baru, sehingga terjadi revolusi baik dalam teori bahkan kebijakan ekonomi. G. TEORI PEMBANGUNAN JOSEPH SCHUMPETER Joseph Schumpeter
16

adalah tokoh pembaharu dan pemikir ekonomi yang pertama memberi

perhatian serius dalam mengembangkan teori pertumbuhan ekonomi. Pandangan tokoh yang satu ini memang berbeda dengan pemikiran Keynes ataupun Alfred Marshall bahwa perekonomian itu merupakan sebuah kehidupan organik yang tumbuh dan berkembang secara perlahan-lahan sebagai proses yang gradual, sedangkan Schumpeter memiliki pandangan yang lain bahwa perkembangan ekonomi itu bukan merupakan proses yang harmonis ataupun gradual, melainkan merupakan
Tokoh ini nama lengkapnya Joseph Alois Schumpeter. Ia dilahirkan di Triesch, Moravia (bagian dari AustriaHungaria, sekarang Trest di Republik Ceko). Ia merupakan murid yang luar biasa pintar dan sering dipuji oleh para gurunya. Ia memulai karirnya dengan mempelajari ilmu hukum di Universitas Vienna di bawah asuhan Eugen Von BohmBawerk di mana ia memperoleh gelar doctoral pada Tahun 1906. Tidak beberapa lama kemudian, setelah menjalani profesinya, ia menjadi professor ilmu ekonomi dan pemerintahan di Universitas Czernowitz pada Tahun 1909, begitu pula di Universitas Graz pada Tahun 1911, di mana ia menetap hingga Perang Dunia I. Pada Tahun 1919 hingga Tahun 1920, dia menjadi Menteri Keuangan Austria yang sukses. Ia kemudian menjadi presiden bank swasta Biederman pada periode 1920-1924. Sayangnya bank itu bangkrut pada Tahun 1924. Dari Tahun 1925 hingga 1932, ia menjabat pada posisi penting di Universitas Bonn, Jerman. Karena harus meninggalkan Eropa Tengah akibat kemunculan kaum Nazi, dia memutuskan untuk berangkat ke Harvard (dimana ia telah mengajar pada Tahun 1927-1928 dan 1930), dan kembali mengajar dari Tahun 1932 hingga Tahun 1950. Selama bertahun-tahun di Harvard, ia tidak dianggap sebagai guru yang sangat baik, namun dia memiliki pengikut yang setia terhadap pemikirannya. Menurut catatan, Schumpeter tidak begitu diakui di kalangan teman sejawatnya. Hal ini disebabkan karena pemikirannya kurang sesuai dengan pemikiran Keynes yang sedang naik daun pada masa itu. Schumpeter menginspirasi beberapa ekonom matematika pada masanya dan bahkan menjadi presiden Econometric Society (1940-1941). Padahal, Schumpeter bukan seorang ahli matematika, melainkan seorang ekonom yang mencoba mengintegrasikan pengertian sosiologi pada teori ekonominya. Dalam konteks kekinian, ide Schumpeter mengenai siklus bisnis dan perkembangan ekonomi memang tidak ditangkap oleh ilmu matematika pada masa itu. Setidaknya diperlukan sistem dinamik yang non-linear yang telah dibakukan untuk menangkapnya. Di saat meninggal dunia, ia berusia 67 tahun. Karena jasa-jasanya yang besar terhadap pemikiran ekonomi, menjadikannya sebagai salah satu ekonom paling berpengaruh di abad ke-20. Dalam usianya yang relatif muda, kurang dari 30 tahun, ia telah berhasil menunjukkan karya monumentalnya dengan judul The Theory of Economic Development. Ia termasuk pionir dan pemikir pembangunan ekonomi yang pertama meletakkan dasar pengembangan teori pertumbuhan ekonomi.
16

179

perubahan yang spontan dan terputus-putus dengan munculnya ide-ide baru yang kreatif dan inovatif, sehingga seolah-olah menjelma menjadi faktor pengganggu terhadap keseimbangan yang telah ada. Tentunya, kreasi dan inovasi ini lahir dari proses yang panjang, mulai dari tranformasi pengetahuan ke dalam invensi, kemudian berlanjut menjadi inovasi dalam output (barang dan jasa yang diproduksi) dan inovasi pada sumberdaya yang dimiliki. Itulah sebabnya mengapa inovasi ini membutuhkan proses yang lama dan berkelanjutan dalam pendayagunaan kreativitas individu dan transformasi proses kreativitas individu ke dalam kreativitas bersama. Unsur strategis dalam aktivitas entrepreneur adalah inovasi, yaitu aplikasi dari ide-ide baru dalam tehnik dan organisasi yang akan membawa perubahan-perubahan dalam fungsi produksi. Inovasi akan mengerem siklus melingkar dari ekonomi stationer dan menghasilkan perkembangan ekonomi dengan posisi ekuilibrium baru pada tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Dalam perekonomian yang dinamis, jenis inovasi itu akan muncul bunga, yang diintrepretasikan Schumpeter sebagai bagian dari pajak yang dibebankan pada entrepreneur oleh bankir sebagai gantinya inflasi. Berbagai inovasi yang diprakarsai oleh imitator dan speculator akan membuat gerakan siklus. Menurut Schumpeter, inovasi dapat berbentuk: 1) memperkenalkan barang-barang baru atau barang-barang berkualitas baru yang belum dikenal konsumen; 2) memperkenalkan metode produksi baru; 3) pembukaan pasar baru bagi perusahaan; 4) penemuan sumber-sumber ekonomi baru; dan 5) menjalankan organisasi baru dalam industri yang mampu menciptakan efisiensi. Dalam kehidupan ekonomi yang makin modern, inovasi bukan sekedar jargon, tapi telah menjadi keharusan. Ini sesuai dengan ragam dan sifat pekerjaan yang terus berubah, dan segalanya menuntut do it better, faster and cheaper. Bahkan, Peter Drucker pernah mengingatkan, bahwa dalam ekonomi yang telah maju sekalipun, jika tidak mampu memenuhi tuntutan inovasi, maka ekonomi tersebut akan jatuh dan hancur ( for an established company which in an age demanding innovation is not capable of innovation is doomed to decline and extinction). Faktor utama penyebab perkembangan ekonomi adalah kualitas dari proses inovasi yang dilakukan oleh para entrepreuner. Dalam hal ini, inovasi berpengaruh terhadap: i) temuan teknologi; ii) keuntungan lebih; iii) akumulasi modal; dan iv) proses peniruan (imitasi) teknologi. Kesemuanya itu dapat diwujudkan manakala dipenuhinya syarat-syarat seperti: 1) adanya calon pelaku inovasi dalam masyarakat; 2) adanya lingkungan sosial, politik dan teknologi untuk merangsang semangat inovasi dan pelaksanaan ide-ide untuk berinovasi; 3) tersedianya cadangan ide-ide baru secara

179

memadai; dan 4) adanya sistem perkreditan yang menyediakan dana entrepreneur untuk merealisir ide tersebut menjadi kenyataan. Memang, dalam ekonomi liberal sistem kapitalisme merupakan sistem yang paling baik dalam menciptakan pembangunan ekonomi, namun dalam jangka panjang sistem kapitalisme itu akan mengalami stagnasi. Bahkan, Joseph Schumpeter pernah berpendapat bahwa dasar-dasar ekonomi dan sosial sistem kapitalisme itu akan runtuh. Ia mendasarkan pendapatnya itu kepada tiga hal: 1) bahwa usaha itu adalah fungsi wiraswasta; 2) runtuhnya rangka kehidupan masyarakat kapitalis; dan 3) runtuhnya golongan-golongan politikus. Dalam konteks dimana usaha sebagai fungsi wiraswasta, Schumpeter menyatakan bahwa kemajuan teknologi itu dilakukan oleh para ahli dalam industri yang besar, inovasi tidak lagi dilakukan oleh orang per orang tertentu ataupun merupakan pekerjaan rutin yang dipimpin oleh manejer yang ahli dalam perusahaan besar. Wiraswasta dalam arti pemimpin individual tak lagi berhak menaikan peranannya dalam perekonomian, atau dengan kata lain fungsi wiraswasta sudah usang. Demikian halnya dengan runtuhnya rangka kehidupan masyarakat kapitalis, menurut Schumpeter perusahan besar inilah yang akan mendorong perkembangan ekonomi yang lebih cepat, dan besarnya perusahaan itu akan melemahkan kepemilikan swasta. Sementara runtuhnya golongan politikus dapat ditelusuri melalui sejarah perkembangannya, bahwa pada mulanya raja-raja feodal membantu tumbuhnya industri dan perdagangan secara politis melalui aturan-aturan yang menguntungkan mereka. Kemudian, industri dan perdagangan ini secara ekonomis membantu rajaraja tadi, tetapi dalam kapitalisme yang sudah maju kaum industrialis dan pedagang meruntuhkan kekuatan feodal karena mereka tidak mampu untuk mengatur atau memerintah karena memang mereka itu bukan ahli di bidang pemerintahan. Jika ekonom Austrian School seperti Hayek dan Mises merubah warisan dari guru mereka dengan cara mereka sendiri, maka Schumpeter mencoba lebih jauh dengan melepaskan diri dari batasan-batasan yang dibuat dalam hasil karya pendahulunya. Tidak sekadar mengembangkan dan memperkuat beberapa kecenderungan dalam tulisan pendahulunya, melainkan lebih terbuka pada pengaruh-pengaruh di luar Austria. Dalam hal ini, Schumpeter sangat terbuka pada pemikiran Walras yang dia kagumi sebagai seorang ekonom teoritis terbaik. Ia juga menyukai beberapa pengikut tradisi Anglo-Amerika, dimana ia memiliki kontak pribadi secara langsung. Ketika berumur dua puluhan, dia melepaskan pengaruh gurunya dengan mengembangkan teori bunga yang berbeda dengan Bohm-Bawerk. Lebih jauh lagi, Schumpeter juga melepaskan

179

tradisi Austria dengan membentuk pendekatannya sendiri, yang disebut sebagai salah satu toleransi metodologi. Pekerjaanya tidak hanya menyangkut pada jenis teori murni yang dibentuk oleh orang Austria sebelumnya, tetapi lebih luas dan merefleksikan harapan yang tinggi yang diletakannya pada ilmu ekonomi matematika dan studi empiris berorientasi kuantitatif17. Teori siklus bisnis memiliki peranan penting karena banyak orang yang mempercayai keberadaanya. Pada abad ke-19, siklus bisnis dikonsepsikan sebagai krisis-krisis yang menganggu perkembangan ekonomi. Dalam perkembangannya, para ekonom mulai mempercayai berulangnya krisis-krisis tersebut, kemudian menganalisis bagaimana kejadian dari krisis-krisis itu dapat dipisahkan dan dihubungkan dengan struktur ekonomi yang berubah. Dalam konteks ini, perubahan lingkungan bisnis tampaknya menjadi faktor dominan yang menentukan perubahan struktur eknomi. Perubahan lingkungan bisnis tersebut meliputi: perubahan faktor lingkungan ekonomi, lingkungan industri, dan perubahan faktor lingkungan global. Dalam hal perubahan faktor lingkungan ekonomi, ada beberapa komponen kritis yang perlu diantisipasi, yaitu pertumbuhan ekonomi; inflasi; dan tingkat bunga. Dalam hubungan ini, pertumbuhan ekonomi secara tidak langsung mempengaruhi tingkat revenue perusahaan, sedangkan faktor inflasi dan tingkat bunga dapat menentukan besaran biaya operasional dan biaya bunga. Pada perubahan lingkungan industri, komponen penting yang perlu diantisipasi adalah tingkat permintaan dan persaingan industri; lingkungan pekerja; dan lingkungan regulator. Dalam hal ini, permintaan industri dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, kependudukan, dan selera pelanggan. Sedangkan pada tingkat persaingan industri dipengaruhi oleh tingkat konsentrasi industri, penguasaan pangsa pasar, keunggulan bersaing, dan karakteristik persaingan. Pada lingkungan pekerja, hal-hal yang perlu dicermati adalah: upah pekerja; kebutuhan akan ketrampilan; dan serikat kerja. Sedangkan perubahan lingkungan global meliputi: kondisi ekonomi di beberapa negara mitra; nilai tukar dan pergerakannya; permintaan asing terhadap produk perusahaan; dan biaya penggunaan pemasok atau sumberdaya asing. Dalam hal ini, kondisi ekonomi di beberapa negara mitra dan nilai tukar berikut pergerakannya secara tidak langsung dapat berpengaruh pada penerimaan perusahaan, sedangkan faktor permintaan asing terhadap produk perusahaan dan biaya penggunaan sumberdaya
Pandangan Schumpeter mengenai pengaruh entrepreneur dalam perekonomian dapat ditelusuri melalui ideide cerdasnya yang dituangkan dalam berbagai buku yang pernah ditulis, mulai dari The Theory of Economic Development (1912) hingga Business Cycles (1939) dan Capitalism, Socialism and Democracy (1942) yang menggambarkan tentang pentingnya elite entrepreneur untuk perubahan dan pertumbuhan, siklus bisnis, dan untuk keberlangsungan kapitalisme.
17

179

asing, secara tidak langsung dapat mempengaruhi biaya-biaya perusahaan. Dengan demikian, perubahan lingkungan bisnis memiliki implikasi praktis terhadap penyelenggaraan praktik-praktik bisnis. Semisal, praktik-praktik bisnis itu tidak akan berlangsung stabil dalam jangka panjang melainkan akan mengalami pasang surut karena berkaitan dengan dan ditentukan oleh perubahan faktor lingkungan bisnisnya. Gelombang pasang surut perubahan lingkungan bisnis ini pada gilirannya akan menentukan besaran transaksi bisnis yang dihasilkan. Semakin intensif gelombang pasang surut perubahan lingkungan bisnis itu berlangsung, akan semakin berfluktuasi besaran transaksi bisnis yang dihasilkan. Secara agregat, akumulasi nilai dari transaksi bisnis tersebut dalam jangka panjang akan membentuk sebuah tren bisnis yang terpola secara fluktuatif seiring dengan perubahan faktor-faktor lingkungan bisnis. Pola dari tren bisnis tersebut kemudian populer disebut sebagai siklus bisnis. Dalam hal ini, siklus bisnis merupakan fluktuasi tingkat aktivitas bisnis dalam perekonomian yang disebabkan oleh adanya perubahan pada kondisi permintaan, khususnya naik turunnya investasi. Siklus bisnis18 tersebut berproses melalui empat fase, yaitu 1) fase puncak; 2) fase kontraksi; 3) fase depresi; dan 4) fase ekspansi. Menurut Nellis dan Parker (2000), masing-masing siklus bisnis tersebut bertalian dengan suatu periode puncak yang menunjukkan permintaan konsumen meningkat dengan cepat serta investasi dan laba bisnis adalah tinggi. Ketika permintaan konsumen dan profitabilitas mengalami pertumbuhan yang menurun, serta investasi, produksi dan kesempatan kerja juga berkurang, maka kemudian periode puncak berubah menjadi periode kontraksi. Dalam periode kontraksi atau resesi, jika tidak dapat dilakukan perbaikan ekonomi, maka aktivitas bisnis akan terus merosot dan berimbas pada meluasnya pengangguran yang semakin berat, kapasitas industri terpasang tidak dapat digunakan, harga-harga yang stabil bahkan menurun, dan kepercayaan bisnis merosot tajam. Kondisi ini merupakan kondisi terburuk dalam suatu perekonomian atau yang kemudian disebut sebagai periode trough atau depresi. Sampai kapan periode depresi ini akan bertahan? Dalam kenyataannya, periode depresi tidak akan dapat bertahan lama, karena semua pelaku bisnis ingin secepatnya bangkit dari keterpurukan. Semangat itulah yang kemudian mendorong upaya pemulihan ekonomi seiring dengan tumbuhnya investasi dan kesempatan kerja, serta kembalinya kepercayaan dunia bisnis. Sejak itu periode depresi segera berakhir dan kondisi
Secara alami, tidak semua siklus ekonomi beroperasi dalam ukuran yang sama (the same yardstick). Klasifikasi berikut, yang pada awalnya diciptakan Schumpeter (1939), dapat dibedakan berdasarkan durasi waktu kejadiannya: 1) Siklus musiman satu tahunan; 2) Siklus Kitchin tiga tahunan; 3) Siklus Juglar 9-10 tahunan; 4) Siklus Kuznets 15-20 tahunan; dan 5) Siklus Kondratiev 48-60 tahunan.
18

179

perekonomian kembali mengalami pertumbuhan atau yang disebut sebagai periode ekspansi, hingga pada gilirannya kondisi itu akan kembali menuntun pada suatu periode puncak yang baru dengan siklusnya yang akan berulang kembali. Dalam hal ini, kemudian muncul pertanyaan, apakah siklus bisnis dapat dihindari? Seiring dengan berjalannya waktu, siklus bisnis tampaknya semakin berkurang kualitasnya. Faktor-faktor penentu stabilitas seperti: (1) semakin sempurnanya aliran modal; (2) kebijakan pemerintah semakin terbuka dan dapat diprediksi; dan (3) pemahaman pemerintah yang semakin baik terhadap kondisi perekonomian dapat mencegah perekonomian menuju resesi. Hingga pada dekade 1990, banyak dari kalangan ekonom menilai bahwa siklus bisnis telah mati. Di Amerika Serikat siklus bisnis sudah tidak terjadi, tetapi di negara lain siklus bisnis masih muncul. Sungguhpun penyebab resesi sudah dikenali, sehingga resesi dapat ditekan terjadinya, namun tidak akan ada kekuatan yang mampu menghadang terjadinya resesi itu. Ringkasnya, dengan memahami secara komprehensif tentang siklus bisnis dengan segala implikasinya, akan dapat mengantarkan para pelaku bisnis mengetahui tentang apa yang harus dilakukan dan bagaimana bertindak. Namun dalam perkembangan selanjutnya, ketika bisnis telah memasuki dunianya yang berbeda dengan sebelumnya, yaitu suatu dunia kehidupan yang penuh dengan dinamika dan ketidakpastian, maka bisnis pun secara organisasional dan operasional telah berubah serta semakin menunjukkan identitas dan karakter sistemnya. Tentang kejatuhan kapitalisme, seperti yang dinyatakan oleh Schumpeter dalam bukunya Capitalism, Socialism and Democracy tidak sama dengan skema Karl Marx. Kejatuhan kapitalisme, menurut Schumpeter akan muncul sebagai hasil (bukan dari kegagalan) dari kesuksesan kapitalisme yang dikaitkan dengan takdir dari elite entrepreneur. Seperti yang dikatakan dalam analisis Karl Max, faktor yang menentukan di sini adalah kebangkitan rasionalisme, yang membuat kapitalisme berkembang tetapi dihancurkan oleh sekat-sekat sosial yang terbentuk di dalamnya. Kecenderungan umum yang terjadi menunjukkan bahwa ketika perusahaan berkembang semakin besar maka perasaan kemanusiaan semakin tak dimiliki, dan dengan skala yang besar itu, inovasi seakan merupakan hak dari pemimpin-pemimpin industri. Di saat itulah berlangsung proses depersonalized, dimana aktivitas inovasi ditransformasi menjadi kegiatan administrasi rutin yang dilakukan oleh orang-orang bergaji dan para pemegang saham. Mengenai monopoli, creative destruction dan evolusi ekonomi juga menjadi perhatian Schumpeter. Hal ini ditunjukkan oleh pujian Schumpeter terhadap entrepreneur, namun ia juga

179

meminta kepada ekonomika Keynesian untuk memakluminya bahwa ia sangat menentangnya. Ia melihat kekuatan monopoli sebagai insentif yang pas dan reward yang tepat bagi entrepreneur yang berinovasi, yang akan menikmati kekuatan tersebut hanya pada jangka waktu yang terbatas, hingga kemudian dipatahkan dan digantikan dalam rantai creative destruction oleh monopoli dari inovator yang menyusul berikutnya. Untuk alasan-alasan penolakannya terhadap follow the crowd, Ia tetap menentang implikasi kebijakan dari ide-ide Keynes yang dianggapnya sebagai ancaman bagi tumbuhnya inovasi yang merupakan faktor pendorong dalam ekonomi, yaitu inisiatif swasta daripada kebijakan publik. Upaya Schumpeter membahas evolusi sosial dan ekonomi, telah dituangkan dalam bukunya yang berjudul Evolutionary Trilogy: The Theory of Economic Development, Business Cycles, dan Capitalism, Socialism, dan Democracy. Namun dalam perkembangannya, analisis-analisis yang ditemukan dalam buku-buku tersebut belum diintegrasikan dengan berbagai penelitian terkini. Bahkan, cenderung terspesialisasi dalam rutinitas ekonomi dan transformasi inovatif, dalam analisis kuantitatif mengenai evolusi gelombang ekonomi, atau dalam koevolusi antara kehidupan ekonomi dan sosio-politis (capitalism). Kekuatan dari analisis yang dilakukan Schumpeter sesungguhnya bisa diperoleh dengan mengkombinasikan ranah studi secara lebih sistematis. Dalam hal ini, Schumpeter mengilustrasikan proses ekonomi yang tertuang dalam konsep creative destruction atau penghancuran kreatif. Dalam ilustrasi ini, Schumpeter dengan mudah menunjukkan bahwa konsep tersebut menyebar pada seluruh trilogi evolusi, dan untuk pertama kalinya dia menunjukkan konsep ini secara eksplisit dalam bukunya Capitalism:
Butir penting untuk dimengerti ketika menghadapi kapitalisme yaitu kita berhadapan dengan proses evolusioner(hal itu merupakan proses) yang terus menerus merevolusi struktur ekonomi dari dalam (from within) yang senantiasa menghancurkan bagian lama dan senantiasa menghasilkan bagian baru. Proses penghancuran kreatif merupakan fakta penting mengenai kapitalisme. Hal itu terkandung dalam kapitalisme dan harus dihadapi kapitalis yang ingin berlanjut (Schumpeter 1942: 82-83).

Dalam konsep creative destruction, Schumpeter berusaha menjelaskan mengenai perubahan ekonomi dengan cara-cara di luar pola yang umum. Pertama, evolusi ekonomi itu bukan merupakan proses pertumbuhan sederhana dimana seluruh sektor dalam kehidupan ekonomi berekspansi secara seimbang. Sebaliknya, evolusi ekonomi ditandai oleh kreasi baru dan penghancuran terhadap produk dan proses lama. Selanjutnya, kemunculan perusahaan-perusahaan baru yang jumlahnya cukup banyak, oleh perusahaan-perusahaan lain tidak dibarengi dengan peningkatan kompetensi dan bahkan

179

mengganti bidang spesialisasinya. Akibatnya, perusahaan-perusahaan itu tereliminasi dan lenyap dalam proses evolusioner, dan para pekerja yang kehilangan pekerjaannya menghadapi tekanan yang berat karena kehilangan kesejahteraan (welfare loss). Hal ini terlihat jelas pada keuntungan jangka panjang para kapitalis dari evolusi tersebut, yang selanjutnya menjadi tantangan permanen bagi lembaga kapitalisme. Oleh sebab itu, proses creative destruction merupakan konsep yang merefleksikan perjuangan kompetitif dan fokus terhadap reaksi-reaksi atas hilangnya kesejahteraan sementara pada tingkat mikro dan makro. Sekalipun konsep creative destruction dari Schumpeter telah menggambarkan secara efektif mengenai evoulusi capitalis, namun masih terlalu umum untuk berbicara mengenai creative destruction dalam literatur strategi bisnis dan perubahan struktural, karena masih merupakan pertanyaan terbuka apakah hal itu merupakan konsep yang operasional. Oleh sebab itu, Helmstadter dan Perlman (1996:1) menyatakan bahwa konsep creative destruction merupakan suatu slogan yang asal-asalan (careless) yang tidak perlu diperhitungkan. Istilah creative destruction 19 menjadi ambigu jika dipertimbangkan dalam konteks dimana Schumpeter menggambarkannya secara terpisah-pisah. Karena paling sedikit ada tiga konsep creative destruction yang dapat saling menghubungkan konsep-konsep ini atas penemuan Sombart, Simon, dan Schumpeter. Secara harafiah konsep creative destruction dalam beberapa aspek memiliki sifat creative. Pemaknaan ini muncul dari Werner Sombar, anggota terkemuka dari German Historical School. Dia memakai konsep itu pada buku War and Capitalism, sehingga masalah destruction menjadi jelas. Dia mengilustrasikan mengenai ini dengan mengambil contoh tentang destruction masal dari hutan Eropa, bahwa:
Dari penghancuran, jiwa kreasi muncul; kurangnya kayu dan keperluan hidup sehari-hari mendorong penemuan substitutis terhadap kayu, memaksa penemuan substitusi dari kayu, memaksa penggunaan batu bara untuk memanaskan, memaksa penemuan koka untuk
Schumpeter pada Tahun 1942 menulis konsep creative destruction sebagai bagian utama dari kemajuan, namun pada Tahun 1947 dia memikirkan kembali konsep tersebut dan menggantinya dengan response kreatif. Hal ini mengindahkan fakta bahwa Schumpeter tidak pernah membuang visinya mengenai destruksi kreatif. Dalam tulisan pada Tahun 1947, Schumpeter menekankan respons kreatif karena dia terlibat dalam pendirian Harvard Research Center dalam Sejarah Entrepreneur, tetapi ia masih mempertimbangkannya sebagai suatu akspek terbatas dari keseluruhan proses destruksi kreatif. Dalam pandangan Schumpeter, kreasi merupakan kejadian yang relatif independen dan bukan merupakan respons adaptif terhadap kekurangan atau tekanan lainnya. Oleh sebab itu, inovasi enterepreneur muncul pertama kali melalui bekerjanya sistem ekonomi yang menyebabkan destruksi terhadap cara-cara lama. Kurang dari dua bulan sebelum ia meninggal, di menjawab isu makroskopik mengenai siklus bisnis, dan saat itu ia harus kembali pada keseluruhan proses yang menghasilkan evolusi berbentuk gelombang. Dalam hubungan tersebut, Schumpeter (1949: 326) menyatakan: kita harus meneliti berdasarkan sejarah, proses industri sebenarnya yang menghasilkannya dan dalam melakukannya merevolusi struktur ekonomi yang ada. Oleh sebab itu, ada sedikit keraguan bahwa ia akan terus berfokus pada proses destruksi kreatif yang kita lihat sebagai inti dari kapitalisme (Schumpeter 1942:104).
19

179

menghasilkan besi. Bahwa peristiwa-peristiwa ini memungkinkan perkembangan yang luar biasa dari kapitalisme pada abad 19, dan tidaklah diragukan lagi oleh orang-orang yang berpengalaman (Sombart, 1913: 207).

Terkait dengan creative destruction ini, Herbert Simon (1982) berpendapat bahwa destruction itu bukan destruksi sumberdaya yang sesungguhnya, akan tetapi ancaman potensial bagi keberlangsungan perusahaan hingga menyebabkan munculnya perubahan dalam cara-cara kerja yang rutin. Menurut model Simon, perusahaan-perusahaan akan tetap mengikuti cara-cara kerja yang rutin manakala masih mampu mempertahankan kinerja yang memuaskan. Namun, ketika hal tersebut tidak lagi terjadi, misalkan karena tekanan kompetitif, maka perusahaan-perusahaan itu mulai mencari inovasi atau imitasi cara-cara yang lebih baik. Jika berhasil, maka perusahaan-perusahaan itu akan membuang cara-cara kerja yang lama dan menghindari destruksi organisasi. Pandangan ini sesuai dengan transformasi mengenai cara bercocok tanam di masyarakat Belanda pada abad ke -19. Dalam pandangan Schumpeter, creative merupakan kejadian yang relatif independen dan bukan merupakan respons adaptif terhadap kekurangan atau tekanan lainnya. Oleh sebab itu, inovasi enterepreneur muncul pertama kali melalui bekerjanya sistem ekonomi yang menyebabkan destruksi terhadap cara-cara lama. Mengenai konsep creative destruction ini oleh Schumpeter diformulasikan dengan skema analitis evolusi dalam pembangunan dan siklus ekonomi. Menurut skema ini, evolusi dari cara-cara kerja dalam perekonomian akan terjadi melalui rangkaian kejadian-kejadian berikut:
(1)

Initial equilibrium: bahwa titik equilibrium awal dari suatu sistem ekonomi didasarkan pada cara-cara kerja yang solid. Sistem ini diasumsikan memiliki equilibrium yang membiarkan beroperasinya agen-agen ekonomi dalam cara-cara kerja yang biasa dilakukan.

(2)

Inovation: kondisi equilibrium awal akan hancur ketika inovator-inovator memulai usahanya. Hal ini akan meningkatkan perekonomian, namun secara perlahan arus inovasi menghilang karena terbatasnya kemampuan berinovasi dalam kondisi di luar equilibrium awal.

(3)

Ekuilibrium yang diperbarui melalui creative destruction: untuk dapat mempertahankan suatu perekonomian yang terus meningkat, tampaknya tidak cukup hanya dengan berinovasi, karena proses kompetitif dalam creative destruction ini mengalami penurunan yang cukup tajam. Dari kejadian ini, perusahaan-perusahaan tua dipilih dan yang lain bertahan dari cara-cara lama yang merusak. Pada akhirnya, hanya cara-cara lama yang dibaharui yang dapat bertahan dan eksis dalam perekonomian.

179

(4)

Evolusi ekonomi sebagai proses creative destruction: evolusi ekonomi dan cara-cara lama dalam sistem perekonomian pada kondisi equilibrium dapat merusak daya inovatif. Proses ini menciptakan reaksi sosio-politis yang dapat mengubah fungsi masa depan secara radikal. Ringkasnya, dari skema Schumpeter mengenai evolusi ekonomi hanya terdapat dua konsep

yang saling berhubungan, yaitu koevolusi perekonomian dan sistem sosio-politik. Menurut Schumpeter, konsep destruksi kreatif dapat dipandang sebagai alat utama untuk menghubungkan ilmu ekonomi dan sosiologi dalam masyarakat kapitalis. Argumentasinya jelas, bahwa sungguhpun konsekuensi dari evolusioner adalah kenaikan dalam standar umum kehidupan, namun reaksi sosiopolitis tetap ada. Reaksi-reaksi ini dipengaruhi oleh kenyataan bahwa kapitalisme masih mengandung instabilitas dari creative destruction. Orang-orang yang merasa kehilangan akan cenderung bereaksi dengan kebencian dan melupakan isu penerimaan kaum kapitalis jangka panjang. Reaksi sejenis itu mendorong tindak kekerasan yang terus meningkat terhadap setiap pencapaian dari evolusi kapitalis dari para pekerja yang didukung oleh kaum intelektual. I. TEORI POST-KEYNESIAN Sebutan Neo-Keynesian atau Post Keynesian sebenarnya dialamatkan kepada para pemikir ekonomi yang tergabung dalam kelompok penerus ajaran Keynes. Mereka yang tergabung dalam kelompok ini diantaranya: Alvin Hrvey Hansen (1887-1975); Simon Kuznets (1901-1985); John R. Hicks (1904-1984); Wassily Leontief (1906-1981); R.E. Harrod dan Evsey Domar; W. Arthur Lewis; H.B. Zchenery dan Moises Syrquin; dan masih banyak lagi tokoh pemikir lainnya. Oleh karena itu, berbagai teori yang mereka kembangkan disebut dengan Teori Post Keynesian. Teori Post Keynesian mendasarkan teorinya pada keadaan waktu sekarang seperti tingkat bunga, teknologi, tenaga kerja, dan selera dalam perspektif jangka pendek. Dalam teori ini, persoalan penting yang dihadapi adalah: 1) Syarat-syarat apakah yang diperlukan untuk mempertahankan pertumbuhan yang mantap pada tingkat kesempatan kerja penuh tanpa mengalami deflasi ataupun inflasi; dan 2) Apakah pendapatan itu benar-benar bertambah pada tingkat sedemikian rupa sehingga dapat mencegah terjadinya inflasi secara terus menerus. Menghadapi dua persoalan tersebut, dalam aliran Post Keynesian dikenal beberapa teknik/ model analisis yang relevan untuk digunakan, diantaranya adalah 1) analisis mengenai pertumbuhan yang mantap; dan 2) analisis mengenai perubahan struktural. Kedua model analisis ini akan dijelaskan secara komprehensif sebagai berikut:

179

1) Analisis Pertumbuhan yang Mantap (Steady Growth)

Dalam pandangan kaum klasik, pembentukan modal merupakan pengeluaran yang akan meningkatkan jumlah barang-barang modal dalam masyarakat. Manakala barang-barang modal tersebut bertambah, maka dengan sendirinya produksi dan pendapatan nasional akan meningkat dan pembangunan ekonomi akan tercipta. Keadaan ini bisa terjadi karena berlakunya hukum supply creates its own demand, bahwa bertambahnya barang-barang modal yang terdapat dalam masyarakat akan dengan sendirinya menciptakan pertambahan produksi nasional dan pembangunan ekonomi. Dengan anggapan ini, maka kaum klasik tidak memberikan perhatian kepada fungsi kedua dari pembentukan modal dalam perekonomian, yaitu akan mempertinggi tingkat pengeluaran masyarakat. Kondisi yang sebaliknya terdapat dalam analisis Keynes, yaitu mengabaikan sama sekali peranan pembentukan modal sebagai pengeluaran yang akan mempertinggi kesanggupan sektor perusahaan untuk menghasilkan barang-barang yang diperlukan masyarakat. Dalam analisis Keynes perhatian lebih ditekankan pada masalah kekurangan pengeluaran masyarakat, karena ia menganggap tingkat kegiatan ekonomi ditentukan oleh tingkat pengeluaran seluruh masyarakat dan bukan pada kesanggupan barang-barang modal dalam memproduksikan barang-barang dan jasa. Oleh karena itu dalam menganalisis penanaman modal, kegiatan tersebut terutama dipandang sebagai tindakan untuk memperbesar pengeluaran masyarakat. Model analisis Harrod-Domar20 merupakan perluasan dari model analisis Keynes mengenai kegiatan ekonomi secara nasional. Menurut mereka, analisis Keynes dianggap kurang lengkap, karena tidak mengatasi masalah-masalah ekonomi dalam jangka panjang. Tujuan dari analisis Harrod-Domar adalah untuk menutup kelemahan tersebut. Dalam analisisnya, Harrod-Domar memberikan perhatian yang serius terhadap pembentukan modal dalam kegiatan ekonomi. Dalam hal ini, pembentukan modal dipandang sebagai pengeluaran yang akan menambah kesanggupan suatu perekonomian untuk menghasilkan barang, ataupun sebagai pengeluaran yang akan menambah permintaan efektif masyarakat. Pandangan inilah yang membedakan pandangan kaum Klasik dan Keynes yang memberikan perhatian hanya pada satu aspek saja dari pembentukan modal.
Teori Harrod-Domar untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh dua orang ahli ekonomi sesudah Keynes, yaitu R.E. Harrod dan Evsey Domar. Harrod mengemukakan teori tersebut pada Tahun 1939 dalam Economic .Journal, kemudian menyusul Domar pada Tahun 1947 dengan mengemukakan teorinya dalam American Economic Review. Sebenarnya teori tersebut dikembangkan oleh kedua ahli ekonomi itu secara terpisah. Akan tetapi karena inti dari teori tersebut sama, maka selanjutnya dikenal sebagai teori Harrod-Domar.
20

179

Analisis ini mampu menunjukkan suatu kenyataan yang diabaikan dalam analisis Klasik ataupun dalam analisis Keynes, bahwa apabila pada suatu waktu tertentu dilakukan sejumlah pembentukan modal, maka pada masa berikutnya perekonomian tersebut mempunyai kesanggupan yang lebih besar untuk menghasilkan barang dan jasa. Model analisis Harrod-Domar dibangun berdasarkan beberapa postulat, diantara adalah:
(1) Tabungan (S) sebagai fungsi dan bagian proporsional yang konstan dari pendapatan nasional

(Y). S=(Y) dan S = sY. Dalam hal ini, s mencerminkan hasrat menabung (propensity to save) baik dalam arti rata-rata maupun dalam arti tambahan (incremental or marginal propensity to save). Hal ini berarti bahwa hasrat menabung itu berlangsung dengan laju yang konstan, sepadan dengan laju pertumbuhan pendapatan. Bagian proporsional yang dimaksud dapat dinyatakan sebagai nisbah tabungan terhadap pendapatan nasional (ratio of saving to national income, savings-ratio) yang bersifat konstan: s = S/Y;
(2) Selama periode tertentu t, tabungan yang direncanakan (tabungan ex-ante) seluruhnya dapat

terealisasi. Dengan kata lain, tabungan ex-ante (Sa) seluruhnya dapat dicapai dan kemudian menjadi tabungan ex-post (Sp) pada akhir periode t, sehingga (Sa = Sp). Dalam konteks ini, tabungan ex-post selalu sama dengan investasi ex-post, keduanya terwujud dalam periode t itu. Dengan demikian, hal-hal yang diketahui sekarang sebagai pangkal tolak dalam kerangka pemikiran Harrod adalah bahwa selama periode t, baik tabungan ex-ante maupun ex-post akan sama dengan investasi ex-post ( atau Sa=Sp=Ip). Permasalahan yang muncul kemudian adalah bagaimana investasi ex-ante (Ia) yang semula direncanakan pada awal periode t, dibandingkan dengan investasi ex-post (Ip) yang terlaksana selama periode t itu juga?
(3) Dalam model Harrod, cadangan modal atau faktor C dianggap tidak mengalami depresiasi,

begitupun dengan teknologi, tidak megalami perubahan. Postulat ini digunakan oleh Harrod untuk menyederhanakan kerangka pemikiran selanjutnya;
(4) Tenaga kerja atau faktor L dianggap sebagai faktor eksogen. Sifat eksogen mengandung arti

bahwa pertumbuhan tenaga kerja tidak dipengaruhi oleh variabel-variabel yang lainnya dalam suatu perekonomian. Selanjutnya, pertumbuhan tenaga kerja dengan laju yang konstan itu dinyatakan dengan huruf n, sehingga n = L/L;
(5) Dalam Model Harrod, jumlah C dan L yang diperlukan untuk menghasilkan tingkat produksi

tertentu (O=Y) dianggap telah berada dalam kondisi keseimbangan yang ajeg. Dengan kata lain,

179

fungsi produksi dalam Model Harrod mengacu kepada pola produksi dengan koefisien tetap (fixed coefficients). Maka dari itu, gagasan Harrod didasarkan atas capital-output ratio (C/Y) dan labour-output ratio (L/Y) yang konstan;
(6) Dalam model analisis Harrod, average capital-output ratio dianggap sama dengan incremental

capital-output ratio, ICOR, yaitu C/L, walaupun hal itu tidak dinyatakan secara eksplisit. Namun, dalam pemikiran Harrod ternyata lebih mengutamakan peranan ICOR (C/L). Dalam hal ini, ICOR ditafsirkan dalam dua pengertian: (i) sebagai nisbah tambahan modal (Ct) yang terlaksana dalam periode t ( Ipt=investasi ex-post) terhadap tambahan pendapatan yang diperoleh dalam periode t itu juga (Yt). Dengan kata lain Ct = Ipt dibagi Yt atau Ipt/Yt; dan (ii) tambahan cadangan modal (C) atau investasi neto dalam arti ex-ante (Ia) dikaitkan dengan tambahan pendapatan yang diharapkan dan dianggap memadai oleh para usahawan/calon investor. Artinya C = Iat dan ICOR adalah Iat/Yat. Pada akhir periode t, hal yang penting bagi para investor adalah agar mereka puas dan dapat mempertanggungjawabkan tambahan investasi yang dilakukannya selama periode t, karena hal itu telah membawa tambahan pendapatan pada tingkat yang memang diperkirakan semula. Dalam hal ini, Cat = Iat dan ICOR adalah Cat/Yat atau Iat/Yat. Perbedaan antara dua pengertian mengenai ICOR tersebut penting untuk diperhatikan karena menjadi pertimbangan dalam menentukan tingkat investasi (ex-ante).
(7) Labour-output ratio (LOR) yang bersifat konstan dinyatakan dengan huruf u dan mencerminkan

nisbah penggunaan jumlah tenaga kerja terhadap hasil produksi total. Oleh karena nisbah tersebut sifatnya konstan, maka setiap tingkat produksi senantiasa digunakan tenaga kerja dengan jumlah L/u. Artinya, jika semua tenaga kerja digunakan secara penuh, maka hasil produksi maksimal adalah L/u. Hal itu telepas sama sekali dari besar kecilnya stock modal. Pada saat jumlah tenaga kerja bertambah dengan laju n, maka tingkat produksi maksimal masih bisa meningkat, akan tetapi hanya untuk sementara waktu dan tidak secara permanen. Sebab, dengan mengacu dalil LOR yang konstan, maka laju pertumbuhan produksi dan pendapatan Y/Y tidak mungkin melebihi laju pertambahan tenaga kerja n yang sifatnya konstan. Jika pada awal suatu periode semua tenaga kerja digunakan secara penuh, maka laju maksimal dari pertumbuhan produksi dan pendapatan ditentukan oleh laju pertambahan tenaga kerja (yang bersifat eksogen). Dengan memperhatikan serangkaian postulat dalam model Harrod, maka kini dapat disimak kesimpulan-kesimpulan pokok yang menonjol dari gagasan teoritisnya.

179

2) Laju Pertumbuhan, Tabungan dan Capital-Output Ratio

Dalam pembahasan ini, laju pertumbuhan disimbolkan dengan huruf g dan g = Y/Y; hasrat menabung sebagai bagian proporsional dari pendapatan nasional, savings ratio, disimbolkan dengan huruf s dan s = S/Y; dan seluruh tabungan yang ada tersalur sebagai investasi neto, S = C = I, sehingga s = S/Y = I/Y. Dalam pembahasan selanjutnya, capital coefficient atau Incremental Capital-Output Ratio (ICOR) disimbolkan dengan k (Istilah capital coefficient atau Incremental Capital-Output Ratio menunjuk pada hubungan antara penggunaan modal dan tambahan pendapatan yang diperoleh dari penggunaan modal itu). Seperti diketahui, k = C/Y ataupun k = I/Y (karena C = I). Dalam hal ini, Y/Y = I/Y: I Y, sehingga laju pertumbuhan g = s/k, dan selanjutnya rumus g = s/k ini menjadi persamaan dasar dalam model analisis Harrod. Satu sama lain memiliki arti bahwa laju pertumbuhan adalah sama dengan hasrat menabung dibagi COR, atau secara kuantitatif dinyatakan bahwa laju pertumbuhan adalah sama dengan savings ratio dibagi COR. Karena s dan k dianggap konstan, maka laju pertumbuhan produksi dan pendapatan juga konstan. Dalam suatu perekonomian, pertumbuhan dapat ditingkatkan dengan menambah tabungan sebagai bagian dari pendapatan nasional (meningkatkan savings ratio) atau dengan menurunkan COR ataupun dengan kedua-keduanya, yaitu meningkatkan savings ratio disertai dengan penurunan COR. Cara-cara semacam ini mengandung ramifikasi penting, khususnya berkenaan dengan ekonomi pembangunan dan kebijaksanaan pembangunan negara-negara berkembang. Sebab, hal itu satu sama lain memiliki arti peningkatan efisiensi dalam penggunaan sumberdaya dan dana secara efektif dalam produksi nasional. Penjelasan mengenai hubungan antara laju pertumbuhan, tabungan-investasi, dan COR seperti diuraikan di atas merupakan penafsiran pokok yang paling sederhana dalam kesimpulan teori Harrod, bahwa g = s/k. Perlu diingat disini bahwa perhatian Harrod berkisar pada pertumbuhan produksi dan pendapatan yang berproses dalam perkembangan dan perubahan keadaan equilibrium. Persamaan dasar ini menunjukkan suatu perimbangan yang diperlukan untuk mempertahankan equilibrium antara tabungan dan investasi dalam perkembangan waktu. Tabungan tergantung dari pendapatan dan bagaimana mengenai investasi? Investasi dilakukan oleh pihak golongan yang lain berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sendiri. Dalam model Harrod, investasi yang terlaksana dalam suatu periode tertentu (investasi ex-post) dianggap sama dengan tabungan ex-ante maupun tabungan ex-post dalam periode yang bersangkutan sehingga Sa = Sp = Ip.

179

Bagaimana dengan investasi ex-post yang sudah terlaksana dibandingkan dengan investasi ex-ante pada awal periode? Investasi ex-ante mencerminkan pertimbangan dan harapan para investor mengenai laju pertumbuhan pendapatan yang dianggap memadai dari sudut investasi yang hendak dilaksanakan. Dalam pandangan para investor, besar kecilnya tambahan investasi sangat terkait dengan peningkatan pendapatan nasional yang dianggap memadai. Memadai disini dimaknai bahwa laju pertumbuhan di masa datang harus memberi imbalan jasa yang memuaskan bagi tambahan investasi. Dalam kondisi ini, para investor dapat mempertanggungjawabkan pelaksanaan dari tambahan investasi itu. Sebab, laju pertumbuhan pendapatan di masa datang mengandung berbagai kemungkinan untuk tambahan balas jasa yang memadai atas tambahan investasi yang hendak direalisasikan. Dalam hubungan inilah muncul arti dan relevansi konsepsi Harrod mengenai warranted rate of growth dan natural rate of growth maupun mengenai azas acceleration. Laju pertumbuhanh pendapatan yang memadai sebagaimana dimaksud oleh Harrod disebut sebagai warranted of growth. Laju pertumbuhan itu menambah investasi melalui azas akselerasi. Azas ini menunjuk pada hubungan (relation) antara kenaikan pendapatan dan kenaikan investasi: jumlah investasi yang dikehendaki atau dianggap perlu dalam suatu periode tertentu tergantung dari tingkat kenaikan produksi (atau laju pertumbuhan pendapatan). Sedangkan pada model analisis Domar berkisar pada peran ganda dari investasi dalam proses ekonomi, yaitu 1) investasi menentukan tingkat pendapatan secara aktual melalui proses multiplier; dan 2) investasi menambah persediaan stock modal sehingga akumulasi modal yang bersangkutan meningkatkan potensial kemampuan berproduksi di masa datang untuk mencapai tingkat pendapatan secara maksimal. Selanjutnya, dalam model analisis Domar dibentuk susunan formal dengan mempergunakan formula yang penggunaannya mirip dengan model Harrod, sebagai berikut: Y= Y= s= I= Q= tingkat produksi dan pendapatan aktual (yang secara nyata ada); produksi dan pendapatan potensial yang dapat dicapai secara maksimal (maximum potensial level of national income). Pengertian ini analog dengan natural rate of growth versi Harrod. hasrat menabung, baik dalam arti rata-rata (average propensity to save) maupun dalam arti tambahan (marginal propensity to save). Keduanya dianggap sebagai besaran yang konstan. Arus investasi produktivitas investasi potensial, pengertian ini mencerminkan produktivitas modal Y/C, yaitu produksi atau pendapatan dibagi jumlah modal yang terkait dengan hasil produksi per unit modal. Pengertian ini merupakan kebalikan dari COR, k, sehingga Y/C = 1/k. Dengan begitu, q = 1/kr, dimana kr mencerminkan COR yang dianggap perlu (required COR). Dalam konteks model analisis Domar hal itu ditafsirkan sebagai produktivitas potensial (dan maksimal), perihal peranan investasi; dan q = 1/kr dianggap sebagai besaran konstan.

179

Tingkat perubahan pada kapasitas produksi yang potensial bersangkut paut dengan tingkat investasi tertentu, yaitu q = /L. Oleh karena q adalah besaran konstan, maka = qL adanya perubahan pendapatan dalam perkembangan waktu: = I/s*I ..... (1) ..... (2) Tingkat pendapatan aktual ditentukan melalui proses multiplier adalah Y = I/s * I, ataupun dengan Dalam analisisnya, Domar mendasarkan pada kondisi ekonomi yang equilibrium dengan kesempatan kerja penuh, sehingga Y = . Maksud utama kajian Domar adalah untuk menentukan laju pertumbuhan investasi yang diperlukan agar dapat dipertahankan kondisi Y = itu. Jika Y = Y hendak dipertahankan, maka implikasinya ialah bawa = . Dengan memperhatikan persamaan (1) dan (2) diperoleh q = 1/s*I, atau /I = sq ..... (3). Dari persamaan (3), laju pertumbuhan investasi sangat diperlukan agar tingkat pendapatan aktual tetap sama dengan tingkat pendapatan potensial dan maksimal. Laju pertumbuhan investasi yang dimaksud terletak pada tingkat sq yang proporsional dan konstan. Dari ulasan ini juga nampak analogi persamaan (3): /I = sq dengan persamaan dasar dalam model Harrod: g =s/k ataupun dengan memandang pada perubahan dalam perkembangan waktu g = Y/Y = s/k.
3) Persamaan dan Perbedaan dari Model Harrod dan Model Domar

Analogi hasil pemikiran Harrod dan hasil pemikiran Domar menyebabkan kepustakaan internasional mengenal pertumbuhan mengacu kepada model Harrod-Domar. Equilibrium dalam pertumbuhan, bagi Harrod memerlukan persyaratan agar Y/Y = gr = sr/kr (required growth = required saving ratio dibagi required capital output ratio). Dalam hal ini, yang lebih penting adalah bagaimana agar I/I=sr/kr. Dalam model Domar, equilibrium memerlukan laju pertumbuhan investasi /I harus sama denga q/s. Nilai q merupakan produktivitas investasi atau nilai kebalikan dari capital output ratio (k), sehingga q = 1/k. Dengan cara mensubtitusi satu identitas dengan identitas yang lain, kini tampak adanya identifikasi formal antara dua persamaan dasar yang dimaksud di atas, yaitu : g = Y/Y = s/k Dalam hal ini: I/I = s/k I/I = s*q Dalam hal ini q = 1/k Postulat yang mendasari model Harrod dan model Domar adalah: 1) kondisi equilibrium ditandai oleh laju pertumbuhan yang proporsional dan konstan dalam perkembangan ekonomi; dan 2) COR adalah besaran yang konstan. (Domar) (Harrod)

179

Dalam model Harrod hal itu dikaitkan dengan tingkat bunga yang bersifat kaku dalam jangka pendek, sedangkan dalam model Domar menganggap teknologi tetap konstan dalam jangka waktu tertentu (jangka pendek). Kedua model ini mengungkapkan kesulitan dan kendala terhadap berlangsungnya pertumbuhan dalam keadaan equilibrium yang ditandai oleh kestabilan pendapatan dan kesempatan kerja penuh. Dalam model Harrod, hal itu terkait dengan kesulitan mencapai persamaan antara laju pertumbuhan yang memadai (warranted rate of growth) dengan laju pertumbuhan yang ditentukan oleh keadaan obyektif-struktural (natural rate of growth). Pertumbuhan yang dianggap memadai secara inheren mengandung faktor ketidakstabilan yang berkaitan dengan fungsi investasi. Tidak ada dasar yang kuat untuk menganggap investasi yang dilakukan secara nyata akan selalu sama jumlahnya dengan investasi yang dianggap memadai. Hal terakhir ini tergantung dari perkiraan dan ekspektasi para investor mengenai laju pertumbuhan pendapatan di masa datang. Perkiraan itu bisa tepat, akan tetapi sering juga meleset. Dalam model Domar diulas masalah yang serupa, ia berpendapat bahwa investasi yang dilakukan cenderung berada di bawah tingkat yang diperlukan untuk mencapai pertumbuhan pendapatan yang potensial dan maksimal. Sesuai dengan pendapat Keynes, teori Harrod-Domar juga menganggap bahwa pertambahan roduksi ini tidak secara otomatis menciptakan pertambahan produksi dan kenaikan pendapatan nasional. Harrod-Domar sependapat dengan Keynes bahwa pertambahan produksi dan pendapatan nasional bukan ditentukan oleh pertambahan kapasitas produksi, melainkan oleh kenaikan pengeluaran masyarakat. Dengan demikian, walaupun kapasitas produksi bertambah, pendapatan nasional baru akan bertambah dan pertumbuhan ekonomi tercipta jika pengeluaran masyarakat mengalami kenaikan dibandingkan dengan masa sebelumnya. Dalam analisisnya, Harrod-Domar menyatakan bahwa investasi dapat menaikan kapasitas produksi dan pendapatan, sehingga tingkat kenaikan investasi harus dipertahankan agar supaya kenaikan pendapatan sama dengan kenaikan kapasitas produksi, dan kesempatan kerja penuh dapat dipertahankan. Asumsi-asumsi yang digunakan dalam analisisnya adalah 1) perekonomian sudah berada dalam kondisi tingkat kesempatan kerja penuh (full employment income); 2) tidak ada pemerintah dan perdagangan luar negeri; 3) tidak ada keterlambatan penyesuaian (lag of adjustment) atau ada penyesuaian yang cepat; 4) hasrat menabung marjinal (marginal propensity to save) sama nilainya dengan hasrat menabung rata-rata (average propensity to save); 5) hasrat menabung marjinal (marginal propensity to save) dan capital coefficient (rasio antara capital dan output) adalah tetap.

179

Inti dari analisis Harrod-Domar adalah bahwa penanaman modal yang dilakukan masyarakat dalam satu periode waktu tertentu digunakan untuk dua tujuan, yaitu untuk mengganti barang-barang modal yang tidak dapat dipergunakan lagi dan untuk memperbesar jumlah barang-barang modal yang tersedia dalam masyarakat. Oleh sebab itu, dalam memperbandingkan jumlah pertambahan produksi dengan penanaman modal yang dilakukan, akan diperoleh dua nilai penting, yaitu 1) nilai perbandingan antara seluruh tambahan produksi yang diciptakan oleh sejumlah penanaman modal dalam satu periode waktu tertentu dengan jumlah modal yang ditanamkan tersebut; dan 2) nilai perbandingan antara jumlah pertambahan produksi dengan penanaman modal yang dilakukan atau yang merupakan kebalikan dari rasio modal produksi (capital output ratio). Nilai inilah yang menunjukkan pertambahan efektif kapasitas memproduksi suatu negara dalam satu tahun tertentu. Kesimpulan pokok dari analisis dalam kedua model tersebut berkaitan dengan unsur ketidakstabilan yang secara inheren melekat pada proses pertumbuhan. Faktor ketidakstabilan itu menyebabkan terjadinya penyimpangan dari jalur equilibrium. Berbagai penyimpangan cenderung berlangsung secara kumulatif ke arah yang sama. Kecenderungan itu menjadi pertimbangan dasar bagi Harrod dan Domar agar dilakukan intervensi kebijaksanaan dalam proses ekonomi masyarakat. Perbedaan diantara kedua model tersebut terletak pada postulat dalam pendekatan masingmasing pemikir. Harrod mengarahkan perhatiannya kepada pertumbuhan produksi dan pendapatan yang lajunya dapat mendorong melalui azas akselerasi para investor untuk melaksanakan investasi yang diperlukan guna memelihara equilibeium. Tingkat investasi yang diperlukan tergantung dari perkiraan/ekspektasi para investor tentang laju pertumbuhan pendapatan di masa datang, yaitu sejauh mana laju pertumbuhan itu dianggap memadai investasi yang dapat meningkatkan pendapatan guna mencapai keadaan equilibrium (Y = ). Dalam kerangka analisis Domar tidak tercakup peranan fungsi investasi. Dalam pemikirannya equilibrium pertumbuhan ada berkaitan dengan laju pertumbuhan investasi yang dapat membawa pendapatan aktual pada tingkat yang sama dengan pendapatan potensial. Walaupun Domar mengandalkan berlakunya azas multiplier, tidak diungkapkan tentang faktor-faktor determinan yang mempengaruhi tingkat investasi. Dalam hubungan ini, dapat dikatakan bahwa pendekatan Domar menekankan pada konsistensi internal mengenai peranan dinamika dan dampaknya terhadap interaksi diantara variabel-variabel yang terkandung di dalam modelnya, sedangkan di pihak lain Harrod di dalam kerangka analisisnya memasukkan secara spesifik peranan fungsi investasi yang dikaitkannya dengan azas akselerasi. hendak dilaksanakan. Sedangkan Domar memandang laju pertumbuhan investasi melalui azas multiplier

179

4) Analisis Perubahan Struktural Analisis mengenai perubahan struktural menitikberatkan pada mekanisme transformasi ekonomi yang dialami oleh negara sedang berkembang, yang semula lebih bersifat subsisten dan fokus pada sektor pertanian menuju ke struktur ekonomi yang lebih modern, dan sangat didominasi oleh sektor industri dan jasa (Todaro, 1991: 68). Teori utama yang memakai pendekatan perubahan struktural yang akan dibahas disini adalah teori pembangunan ekonomi yang dikemukakan oleh Arthur Lewis dengan teori migrasi, dan Hollis-Chenery dengan teori transformasi struktural. (1) Teori Arthur Lewis Profesor W. Arthur Lewis atau yang akrab dipanggil Lewis dalam mengawali teorinya menegaskan bahwa teori klasik mengenai penawaran tenaga kerja yang elastis dengan upah subsisten benar-benar terjadi di sejumlah negara terbelakang. Ekonomi seperti itu terjadi pada negara yang berpenduduk padat dibandingkan dengan ketersediaan sumberdaya alam dan sumber daya modalnya sehingga produktivitas marginal tenaga kerjanya tidak berarti, bahkan negatif. Dalam pembahasan selanjutnya, teori ini lebih memfokuskan pada proses pembangunan antara daerah kota dan desa, diikuti proses urbanisasi antara kedua daerah tersebut. Selain dari pada itu, teori ini juga mengulas model investasi dan sistem penetapan upah pada sistem modern yang juga berpengaruh pada arus urbanisasi yang ada. Lewis21 mengasumsikan bahwa perekonomian suatu negara pada dasarnya terbagi menjadi: Pertama, perekonomian tradisional: dalam perekonomian ini Lewis mengasumsikan di daerah perdesaan dengan ekonomi tradisionalnya mengalami surplus tenaga kerja. Surplus ini erat kaitannya dengan basis utama ekonomi tradisional. Kondisi kehidupan masyarakat pada umumnya masih berada pada taraf kesejahteraan yang rendah sebagai akibat dari perekonomian yang masih bersifat subsisten. Hal ini ditandai oleh nilai produk marginal tenaga kerja yang bernilai nol. Artinya, fungsi produksi pada sektor pertanian telah sampai pada tingkat berlakunya hukum the law of diminishing return . Kondisi ini menunjukkan bahwa setiap penambahan tenaga kerja justru akan mengurangi
Dalam bukunya yang berjudul Development Planning, Arthur Lewis (1966) membagi perencanaan pembangunan ekonomi ke dalam 6 (enam) kategori peruntukan, yaitu 1) perencanaan pembangunan ekonomi untuk faktor geografis, bangunan, tempat tinggal, bioskop, dan sebagainya. Di NSB, perencanaan pembangunan mencakup perencanaan kota dan negara (Town & Country Planning), perencanaan tata guna tanah (Land-use Planning), perencanaan fisik (Physical Planning), dan perencanaan kota & daerah (Urban & Regional Planning); 2) perencanaan pembangunan ekonomi untuk penggunaan dana pemerintah di masa datang; 3) perencanaan pembangunan ekonomi untuk ekonomi berencana; 4) perencanaan pembangunan ekonomi untuk penentuan sasaran produksi pemerintah; 5) perencanaan pembangunan ekonomi untuk penetapan sasaran perekonomian secara keseluruhan; dan 6) perencanaan pembangunan ekonomi untuk menggambarkan sarana pemerintah.
21

179

total produksi, sebaliknya dengan mengurangi tenaga kerja justru tidak mengurangi total produksi (hal ini terjadi sebagai akibat dari proporsi input variabel tenaga kerja yang terlalu besar). Dalam kondisi perekonomian seperti itu, pangsa semua pekerja terhadap output yang dihasilkan adalah sama. Dengan demikian, nilai upah riil ditentukan oleh nilai rata-rata produk marginal, dan bukan oleh produk marginal dari tenaga kerja itu sendiri; dan Kedua, perekonomian industri: sektor industri dalam sebuah perekonomian memegang peranan penting. Hampir sebagian besar dari kegiatan di sektor ini beroperasi di daerah perkotaan. Produktivitas sektor ini sangat tinggi termasuk input dan tenaga kerja yang digunakan. Nilai marginal tenaga kerja bernilai positif, sehingga daerah perkotaan dimana sebagian besar sektor ini beroperasi, merupakan daerah tujuan bagi para pencari kerja dari daerah perdesaan. Setiap penambahan tenaga kerja pada sektor industri akan diikuti oleh peningkatan output yang diproduksi. Dengan demikian, sektor industri di perkotaan masih menyediakan lapangan pekerjaan bagi penduduk desa. Selain menyediakan lapangan kerja dalam jumlah yang cukup besar juga memberi upah yang lebih tinggi (mencapai 30%) dibandingkan dengan tingkat upah di perdesaan. Karena alasan itu maka kemudian kota menjadi daya tarik bagi penduduk desa dalam melakukan urbanisasi. Berdasarkan uraian di atas, khususnya bagi perekonomian Indonesia yang saat ini sedang bergerak dari perekonomian tradisonal menuju ke perekonomian industri, kecenderungan urbanisasi itu sulit dihindari, bahkan kecenderungan migrasi ke perkotaan terus meningkat. Dalam teori migrasi klasik, perpindahan ini disebabkan oleh dua faktor utama yaitu faktor pendorong (push factor) dari daerah asal dan faktor penarik (pull factor) dari daerah tujuan. Dalam proses modernisasi, urbanisasi dipandang sebagai perubahan dari orientasi tradisional ke orientasi modern. Dalam proses itu terjadi difusi modal, teknologi, nilai-nilai, pengelolaan kelembagaan dan orientasi politik dari dunia modern ke masyarakat yang lebih tradisional. Selain itu, juga terjadi proses intensifikasi pada beragam etnis, suku, agama dan mata pencaharian. Sungguhpun ubanisasi itu merupakan dampak ikutan dari proses pembangunan ekonomi, namun urbanisasi itu sendiri pada gilirannya akan menimbulkan dampak (baik dampak negatif maupun dampak positif) secara berantai terhadap aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Keban, (1995) mencoba menjelaskan pandangan Arthur Lewis dan Myrdal tentang dampak yang bertolak belakang tersebut. Menurut Lewis, sektor modern yang terdapat di daerah perkotaan jauh lebih produktif dari pada sektor tradisional yang biasanya terdapat di perdesaan. Untuk kepentingan makro, dalam rangka meningkatkan pendapatan nasional, Lewis menyarankan agar tenaga kerja

179

yang kurang atau tidak produktif di perdesaan harus pindah ke kota dan bekerja pada sektor modern. Secara agregat, semua tenaga kerja ini akan mampu menyumbang terhadap total pendapatan nasional. Sebaliknya, Myrdal memberikan pemahaman tentang dampak negatif yang ditimbulkan oleh urbanisasi bahwa daerah perdesaan (daerah belakang) akan kehilangan tenaga kerja, dengan demikian sektor pertanian akan terhambat, karena kesulitan mencari tenaga kerja di perdesaan. Kondisi ini akan mempengaruhi produktivitas pertanian yang semakin menurun. Dampak yang lebih luas, juga akan mempengaruhi industri yang berkembang di kota yang membutuhkan produk pertanian perdesaan. Jika pengaruhnya besar bagi industri, maka pertumbuhan GNP akan menurun. Kedua pendapat ini penting sehingga urbanisasi harus dikendalikan. Jika tidak, urbanisasi akan mendatangkan masalah besar yang menghambat jalannya proses pembangunan. Indonesia dalam menghadapi masalah urbanisasi sebagaimana diuraikan di atas, menerapkan kebijaksanaan urbanisasi melalui dua pendekatan: 1) mengembangkan daerah-daerah perdesaan agar lebih maju dengan memiliki ciri-ciri sebagai daerah perkotaan yang dikenal dengan urbanisasi perdesaan; dan 2) mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang dikenal dengan daerah penyangga pusat pertumbuhan. Pendekatan pertama berupaya untuk mempercepat tingkat urbanisasi tanpa menunggu pertumbuhan ekonomi, yaitu dengan melakukan beberapa terobosan yang bersifat non-ekonomi. Perubahan tingkat urbanisasi tersebut diharapkan akan memacu tingkat pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian daerah-daerah perdesaan didorong pertumbuhannya agar memiliki ciri-ciri kekotaan. Penduduk desa tersebut dapat dikategorikan sebagai orang kota walaupun sebenarnya mereka masih tinggal di suatu daerah yang berciri perdesaan. Hal ini sejalan dengan istilah wisata pantai atau kota pantai, desa wisata agribisnis, dan lain-lain. Pendekatan kedua berupaya mengembangkan kota-kota kecil dan sedang yang selama ini telah ada untuk mengimbangi pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan. Sejalan dengan makin berkembangnya proses pengkotaan daerah sekitar kota, maka penyerapan angkatan kerja di sektor pertanian pun mengalami penurunan. Faktor yang paling besar kontribusinya dalam hal ini adalah konversi lahan pertanian produktif menjadi lahan pemukiman, industri dan rekreasi. Konsekuensinya adalah tenaga kerja pertanian akan beralih ke sektor industri dan sektor jasa. Pada kenyataannya sektor jasa menjadi sektor yang cukup diminati dibandingkan dengan sektor industri. Akan tetapi sektor formal dan informal menunjukkan angka yang tidak mencolok.

179

Masalah klasik yang dihadapi dalam pembangunan ekonomi selalu pada urbanisasi tidak terkendali. Ini terjadi sebagai akibat dari praktik pembangunan ekonomi yang terlalu mementingkan modernisasi industri di kota dan telalu mengutamakan sektor modern di kota. Akibatnya tidak mampu menyediakan pemenuhan kebutuhan dasar bagi penduduk kota maupun penduduk desa. Arus urbanisasi yang pesat juga merupakan kelemahan masyarakat yang tidak mampu menciptakan prasarana dalam negeri yang memadai untuk mendorong produksi (baik pertanian maupun industri). Bagi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, kebijakan pembangunan yang mengabaikan sektor pertanian telah menimbulkan tidak memadainya pertumbuhan pendapatan di daerah perdesaan. Di sisi lain, kebijakan mengimpor teknologi padat modal secara besar-besaran untuk mencapai industrialisasi dengan segera telah menyebabkan pertumbuhan kesempatan kerja di kota tidak sesuai dengan jumlah orang yang mencari pekerjaan. Ribuan petani di perdesaan kehilangan tanah karena mekanisasi pertanian yang belum waktunya, alih fungsi lahan yang terus meningkat menimbulkan gejala baru yang menyebabkan petani harus berpindah ke kota-kota yang tumbuh dengan pesat, tetapi apa yang diharapkan mereka ternyata tidak terwujud. (2) Analisis Chenery dan Syrquin Mengenai Transformasi Struktur Ekonomi Chenery dan Syrquin (1975) mendefinisikan pembangunan sebagai proses pertumbuhan ekonomi yang disertai dengan variasi perubahan dalam struktur sosial dan ekonomi. Proses pertumbuhan ekonomi tersebut pada tahap selanjutnya akan mempengaruhi aspek-aspek yang secara langsung berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Variasi perubahan ini dapat diamati sebagai suatu transformasi yang sistematis, berjangka panjang, berada dalam suatu keteraturan yang membentuk pola yang normal dan bersifat umum. Dapat dijelaskan lebih lanjut bahwa pola pembangunan yang terjadi pada saat pertumbuhan ekonomi akan memiliki dua ciri khas sebagai berikut: 1) transformasi struktur sosial ekonomi yang terjadi meliputi banyak hal, akan tetapi dari sekian banyak perubahan itu, hanya beberapa perubahan yang bersifat struktural dalam kerangka makro dan sifatnya mendasar. Permasalahan teknis yang timbul pada tahap selanjutnya akan mengikuti gerak perubahan ini. Misalnya, salah satu transformasi yang terjadi pada saat pertumbuhan ekonomi adalah meningkatnya pangsa sektor industri pengolahan dalam perekonomian. Industrialisasi akan membawa akibat pada perbedaan dalam tingkat pendapatan masyarakat yang bertempattinggal di kota dan di desa, yang pada tahap selanjutnya hal ini akan mendorong terjadinya proses urbanisasi. Kepadatan penduduk di daerah perkotaan yang semakin

179

meningkat pada gilirannya akan menimbulkan masalah-masalah yang langsung berkaitan dengan kepentingan masyarakat luas, seperti pengadaan perumahan, kesehatan, kebersihan dan tata-tertib kota, transportasi perkotaan, pengangguran, kriminalitas dan lain-lain; dan 2) variasi perubahan yang terjadi merupakan gejala yang sistematis. Perubahan-perubahan tersebut memang bervariasi antara satu negara dengan negara lain, akan tetapi bila dihubungkkan dengan kondisi kemakmuran masing-masing negara, baik dilihat dari suatu rentang waktu tertentu atau dilihat dari perbandingan antarnegara dalam suatu perjalanan waktu tertentu, maka akan tampak pola yang teratur dan sistematis. Ini berarti perubahan yang terjadi dapat digeneralisasikan sebagai suatu gejala dan kecenderungan umum dengan pola yang normal. Generalisasi suatu variasi akan sangat membantu dalam analisis berbagai permasalahan yang terjadi. Sungguhpun dalam mengatasi masalah yang ada menjadi suatu hal yang spesifik untuk masing-masing negara, namun dalam suatu kerangka makro, bantuan peralatan yang berciri seperti di atas sangat diperlukan. Todaro (1989) dalam bukunya berjudul Economic Development in the Third World, secara tegas menyatakan kritiknya terhadap teori-teori yang berasal dari negara-negara Barat, sehubungan dengan penjelasan dari permasalahan pembangunan yang terjadi di negara-negara sedang berkembang. Kritik ini tampaknya lebih ditujukan pada asumsi-asumsi yang melandasi teori-teori barat tersebut, yang oleh Todaro dianggap terlampau menekankan pada proses pemupukan modal dan tidak memperhatikan aspek kultur yang membedakan masyarakat barat dan timur. Pendapat yang sama sebenarnya juga telah banyak dilontarkan oleh para ahli ekonomi pembangunan lainnya. Akan tetapi, pada kenyataannya pola pembangunan yang terjadi di negera-negara sedang berkembang secara umum memiliki kesamaan-kesamaan dengan pengalaman negara-negara maju, terutama pada saat mereka mulai tumbuh. Masalah-masalah yang berkaitan dengan masalah kependudukan, pembangunan pertanian, distribusi pendapatan, urbanisasi dan lain-lain juga pernah dihadapi oleh negara maju. Bertolak dari dua pernyataan di atas, tampaknya ada benang emas yang menghubungkan keduanya bahwa pada prinsipnya perubahan struktural yang terjadi pada masa pembangunan bisa digeneralisasi untuk semua negara. Walaupun demikian, penanggulangan masalah teknis sebagai akibat perubahan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi objektif pada masing-masing negara. Penyesuaian-penyesuaian semacam itu sebenarnya bukan merupakan hal yang harus dipersoalkan. Justeru hal ini perlu mendapat perhatian, karena ada pendapat yang menyangsikan relevansi penggunaan model-model makro yang dibuat oleh ahli-ahli dari barat.

179

Dalam hal pertumbuhan ekonomi, suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan jika jumlah produksi barang dan jasa-jasa mengalami peningkatan, atau dengan kata lain peningkatan nilai tambah dari suatu bahan baku menjadi produk atau dari input menjadi output menunjukkan adanya perkembangan perekonomian suatu wilayah. Dalam terminologi ekonomi, peningkatan nilai dari input menjadi output disebut sebagai nilai tambah (value added). Dalam analisis ekonomi perlu dibedakan arti pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi. Kedua konsep ini mempunyai pengertian yang sedikit berbeda. Istilah pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi perkembangan perekonomian. Dalam kegiatan perekonomian yang sebenarnya pertumbuham ekonomi berarti perkembangan fisikal produk barang dan jasa yang berlaku di suatu negara. Istilah pembangunan ekonomi biasanya dikaitkan dengan perkembangan ekonomi di negara-negara berkembang. Sebagian ahli ekonomi mengartikan pembangunan ekonomi adalah pertumbuhan ekonomi yang diikuti oleh perubahan dalam struktur dan corak kegiatan ekonomi. Perbedaan penting lainnya adalah dalam pembangunan ekonomi tingkat pendapatan per kapita terus-menerus meningkat, sedangkan pertumbuhan ekonomi belum tentu diikuti oleh kenaikan pendapatan per kapita (Sukirno, 2000: 422-423). Untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi suatu negara atau daerah, dapat dihitung dengan menggunakan ukuran Produk Domestik Bruto (PDB) untuk level nasional, sementara untuk level daerah provinsi dan atau kabupaten/kota digunakan ukuran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDB atau PDRB pada dasarnya merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha (sektor-sektor ekonomi) dalam suatu negara atau daerah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. PDB atau PDRB terbagi menjadi dua ukuran yaitu PDB atau PDRB atas dasar harga berlaku dan PDB atau PDRB atas dasar harga konstan (harga tahun dasar). Konsep pertumbuhan ekonomi sebagaimana dimaksudkan di atas, oleh Harrod-Growth diformulasikan sebagai berikut: s g = c dalam hal ini: g = laju pertumbuhan pendapatan s = Average Propensity to Save (APS) c = Incremental Capital Output Ratio (ICOR) ...... (04)

179

Sedangkan ICOR dapat dihitung dengan formula :

K ICOR = Y

I = Y ...... (05)

Untuk lebih operasionalnya, formula di atas dapat dirumuskan sebagai berikut: PMTDBt- 1 ICORt = PDB t PDB t- 1 Cara di atas sangat sensitif dalam menghitung ICOR Nasional, oleh karena tidak semua investasi memiliki grace period satu tahun, namun dengan suatu jangka waktu tertentu. Untuk menghitung ICOR pada tenggang waktu tertentu, maka dapat digunakan formula berikut (contoh untuk menghitung ICOR selama RPJMN 2004-2009): PMTDB 2004 + PMTDB 2005+ .....+ PMTDB 2009 ICOR 2004-2009 = PDB 2009 - PDB 2004 Formula yang direkomendasikan untuk menghitung ICOR multi year dengan grace period 1 tahun adalah dengan persamaan regresi sebagai berikut : Yt = a + b I t-1 Dalam hal ini: Y = Pendapatn Nasional I t-1 = Investasi tahun t-1 b = 1/ICOR Perlu diingat dalam menghitung ICOR, semua data harus menggunakan harga konstan pada tahun tertentu. Dari formula di atas dapat digambarkan bahwa dengan investasi baik oleh pihak swasta maupun pihak pemerintah pendapatan nasional dapat ditingkatkan. Berapa besar peningkatan pendapatan nasional itu akan sangat tergantung kepada: 1) besarnya investasi; 2) besarnya ICOR per sektor; 3) alokasi investasi kepada setiap sektor; dan 4) NTB setiap sektor. Sementara itu, besarnya Investasi yang dibutuhkan oleh sesuatu negara pada suatu tahun tertentu tertentu tergantung kepada: 1) berapa besar laju pertumbuhan pendapatan nasional yang diinginkan secara rasional; 2) berapa besar laju pertumbuhan sektoral yang diinginkan sehubungan dengan butir 1) di atas; dan 3) besarnya ICOR per sektor. ICOR yang tinggi bisa disebabkan oleh: 1) ...... (08) ...... (07) ...... (06)

179

penggunaan kapasitas produksi yang terlalu rendah; 2) penggunaan teknologi yang capital intensive; 3) time lag (tenggang waktu) yang terlalu lama; dan 4) arah investasi yang banyak ke sektor-sektor yang memang ICOR normalnya sudah tinggi. Perkiraan ICOR di masa depan sangat dipengaruhi oleh: 1) komposisi sektoral GDP yang direncanakan; 2) komposisi investasi dalam berbagai kegiatan (karena ICOR pada berbagai kegiatan berbeda-beda, ada yang tinggi dan ada yang rendah); 3) jenis teknologi yang akan dipakai; dan 4) pemanfaatan kapasitas produksi yang ada. Dalam hal ini tidak hanya tergantung pada investasinya, akan tetapi apakah investasi tersebut digunakan atau tidak untuk meningkatkan kapasitas produksi. Dalam hal terjadinya unfull utilized investment, ada beberapa faktor yang menyebabkannya, diantaranya: 1) investasi belum tuntas, ICOR tinggi karena belum menghasilkan nilai tambah (karenanya, prioritas harus pada investasi yang telah ada); 2) investasi masa lalu yang tidak memiliki daya saing; 3) melakukan investasi dengan perkiraan permintaan akan meningkat, namun hal itu tidak terwujud; 4) pertumbuhan ekonomi, pada saat pertumbuhan ekonomi lambat, ICOR meningkat, sebaliknya pada saat pertumbuhan ekonomi cepat, ICOR menurun. Dalam model makro ekonomi dua sektor, pendapatan nasional dapat dilihat dari dua sisi: Pertama, dari sisi supply, dimana Y = C + S; dan Kedua, dari sisi demand dimana Y = C + I. Menurut Keynes, tabungan (s) adalah fungsi dari pendapatan (Y) atau s = f (Y), sementara investasi adalah fungsi dari pendapatan atau I = f (Y). Dengan demikian, antara Investasi dan pendapatan nasional, terdapat hubungan sebab akibat dan hubungan tersebut bersifat positif. Artinya, bila K naik karena adanya I, maka pendapatan nasional naik dan atau bila pendapatan nasional naik maka tabungan akan naik, demikian halnya dengan investasi juga akan naik. Masalahnya adalah, untuk membiayai suatu laju pertumbuhan pendapatan tertentu, tabungan yang tersedia tidak cukup, yang berarti terdapat resources gap. Oleh karena itu, untuk mencukupi kebutuhan bagi pembiayaan laju pertumbuhan pendapatan nasional tertentu maka bukan saja digunakan potensi yang ada di dalam negeri, akan tetapi juga diupayakan penggunaan potensi yang ada di luar negeri baik dalam bentuk bantuan luar negeri maupun penanaman modal asing (PMA). Jadi salah satu fungsi bantuan luar negeri dan PMA tersebut adalah untuk menutupi resources gap. Dimensi kedua dari investasi adalah bahwa investasi dapat dilihat dalam bentuk mata uang dalam negeri (Rp) dan dalam bentuk devisa. Devisa dibutuhkan untuk mengimpor barang modal dan bahan pembantu dalam rangka peningkatan pendapatan nasional. Hal ini harus dilakukan, karena

179

seperti diketahui masih sangat banyak ragam dan jenis barang modal dan bahan pembantu yang belum dapat dihasilkan di dalam negeri sedangkan keberadaan barang dan bahan tersebut sangat dibutuhkan. Oleh karena investasi itu sebagian besar berwujud fisik seperti gedung, jalan, jembatan dan lain-lain, sehingga investasi juga mempengaruhi secara langsung lapangan usaha bangunan (konstruksi) dalam pendapatan nasional. Setelah investasi berproduksi, maka pendapatan nasional meningkat. Dalam peningkatan tersebut, terdapat kebocoran karena sebagian dibiayai oleh bantuan luar negeri dan PMA. Kebocoran tersebut dalam bentuk interest, profit, wages, repayments dan lain-lain. Berdasarkan hipotesis Keynes, kenaikan dalam pendapatan akan mengakibatkan kenaikan konsumsi dalam jumlah yang lebih kecil daripada kenaikan pendapatan tersebut. Kenaikan pendapatan nasional selanjutnya mengakibatkan kenaikan konsumsi swasta (Ks) dan konsumsi pemerintah (Kp), baik terhadap konsumsi barang dan jasa dalam negeri maupun konsumsi barang dan jasa produksi luar negeri. Dengan adanya kenaikan konsumsi swasta dan konsumsi pemerintah terhadap barang luar negeri, maka berarti kenaikan pendapatan nasional memperbesar kebutuhan akan devisa dan hal ini terutama ditutupi oleh ekspor. Seiring dengan terjadinya pertumbuhan PDB atau PNB per kapita dalam jangka panjang, akan disertai berbagai proses perubahan struktural dalam perekonomian. Pengertian disertai disini dimaksudkan bukan karena sebab akibat atau timbulnya proses perubahan tersebut bukan karena kenaikan pendapatan per kapita. Adapun proses22 perubahan struktural tersebut adalah 1) proses akumulasi; 2) proses alokasi; 3) proses demografi; dan 4) proses distribusi. Keempat proses tersebut akan dibahas setelah pembahasan mengenai model-model pertumbuhan ekonomi menurut sektor produksi yang mendasari pembentukan model untuk menganalisis keempat proses tersebut. Untuk itu, paling sedikit ada tiga model yang lazim dipergunakan dalam membahas model pertumbuhan ekonomi menurut sektor produksi, yaitu 1) model elastisitas pertumbuhan; 2) pola perubahan struktur produksi menurut Chenery dan Taylor; dan 3) pola perubahan struktur produksi menurut Chenery dan Syrquin.

H.B. Chenery dan Moises Syrquin, Patterns of Development 1950-1970, (London; Oxford University Press, 1975). Didalam buku tersebut proses ketiga dan keempat disatukan, namun untuk lebih mempertajam analisis, lebih baik keduanya dipisahkan.

22

179

Dalam hal model elastisitas pertumbuhan, model ini adalah yang paling sederhana, ia menunjukkan bagaimana hubungan antara pola pertumbuhan ekonomi menurut sektor produksi dengan perubahan yang terjadi dalam penawaran faktor-faktor produksi dan pola permintaan terhadap barang dan jasa, serta pertumbuhan jumlah penduduk selama berlangsungnya pertumbuhan ekonomi. Untuk pertama kalinya model elastisitas pertumbuhan ini diperkenalkan oleh Chenery pada Tahun 1960. Model ini kemudian oleh ECAFE digunakan sebagai model untuk melakukan proyeksi pertumbuhan ekonomi jangka menengah dan ke jangka panjang berdasarkan sektor produksi, khususnya bagi negara-negara yang data statistik pendapatan nasionalnya dianggap masih sederhana. Model elastisitas pertumbuhan ini adalah: Vi = i. Y i. Pop atau Ln Vi = Ln i + i Ln Y + Dalam hal ini: Vi :
i i

...... (09)

Ln Pop

...... (10)

: :

: :

Pop :

NTB sektor i (i = terdiri atas pertanian, pertambangan, industri pengolahan bangunan, pengangkutan dan jasa) Konstan untuk sektor i Elastisitas pertumbuhan (growth elasticity) sektor i, yang menunjukkan berapa persen NTB sektor i akan meningkat kalau PNB per kapita naik dengan satu persen. PNB per kapita Elastisitas besarnya pasar (size elasticity) diwakili oleh jumlah penduduk untuk sektor i, yang menunjukkan berapa persen NTB sektor i akan meningkat bilamana jumlah penduduk naik dengan satu persen. Jumlah penduduk pertengahan tahun.

Di dalam model tersebut, tingkat pendapatan per kapita tidak saja mewakili variabel tingkat permintaan dan variabel komposisi permintaan, akan tetapi juga mewakili variabel keadaan penawaran faktor produksi dan tingginya tingkat teknologi yang ada di suatu negara. Itulah sebabnya, koefisien dalam model ini disebut sebagai koefisien elastisitas pertumbuhan dan bukan sebagai elastisitas pendapatan.

179

Mengenai pola perubahan struktur produksi, Chenery dan Taylor membagi struktur produksi menjadi tiga sektor, yang terdiri atas sektor primer, meliputi lapangan usaha (LU) pertanian dan pertambangan; sektor industri, meliputi LU industri manufaktur dan bangunan; dan sektor jasa, meliputi LU sisanya. Mengenai pola perubahan struktur produksi, oleh Chenery dan Taylor dikedepankan tiga macam persamaan regresi untuk data penampang silang antarnegara, yakni : Ln xi = i+1i LnY+2i (LnY)2+
i

Ln Pop + i Ln k + 1iLn p+
i

2i

Ln

......(11)

Ln xi = i + 1i Ln Y + 2i (Ln Y)2 + Ln xi = i + i Ln Y +
i

Ln Pop

......(12) ......(13)

Ln Pop

Khusus untuk data deret berkala (time series), model persamaan regresinya adalah formula (10) dengan menghilangkan variabel penduduk sebagai variabel yang menjelaskan perubahan dalam struktur produksinya, atau untuk lebih jelasnya, diformulasikan sebagai berikut : Ln xi = i + i Ln Y Dalam hal ini: xi Y k : Peranan NTB sektor i dalam PDB : PNB per kapita, US $ 1960 : Peranan pembentukan modal tetap domestik bruto dalam PDB : Peranan ekspor bahan mentah dalam PDB p : Peranan ekspor industri pengolahan dalam PDB m Po : Jumlah penduduk pertengahan tahun (dalam juta jiwa) p Digunakannya variabel (Ln Y)2 sebagai salah satu variabel untuk menjelaskan perubahan struktur produksi selama pertumbuhan ekonomi, dimaksudkan untuk mengatasi kemungkinan penurunan elastistas pendapatan atau pertumbuhan secara kontinu dengan semakin tingginya pendapatan per kapita. Mengenai pola perubahan struktur produksi, Chenery dan Syrquin memilah struktur produksi ke dalam empat sektor. Selain itu, perbedaan lain antara model Chenery dan Taylor dengan model Chenery dan Syrquin ini terletak pada jumlah dan jenis variabel yang menjelaskan tentang pola perubahan struktur produksi serta fungsi yang menghubungkan struktur produksi dengan variabel yang mempengaruhinya. ...... (14)

179

Untuk menganalisis data penampang silang antar negara, digunakan dua buah model regresi seperti di bawah ini. xi = i +1i LnY +2i (LnY)2 +
1i

LnPop +

2i j=1

(Ln Pop)2 + jiTj


4

.......(15)

xi = i +1i LnY + 2i (LnY)2 +

1i

LnPop +

2i

(Ln Pop)2 + jiTj +


j=1

F ......(16)

Sedangkan untuk data deret berkala, digunakan formula : xi = i + 1i Ln Y + 2i (Ln Y) + jiTj


2 j=1 4

...... (17)

dalam hal ini: X :Variabel bebas merupakan variabel-variabel yang ingin dianalisis perubahannya sesuai dengan keempat proses di atas. Y :GNP perkapita ( dalam US $ 1964 ); N = Populasi (juta jiwa). F :Net resources inflow (impor dikurangi ekspor dari pada barang-barang dan jasa non-faktor produksi) atau pemasukan modal dari luar negeri,dalam hal ini rasionya terhadap GDP Tj : Periode waktu ( j = 1, 2, 3, 4 ). Studi Chenery dan Syrquin ini berusaha menganalisis perubahan mendasar dalam struktur ekonomi yang lazimnya menyertai pertumbuhan ekonomi. Identifikasi dan pengukuran pola pembangunan dimaksud mencakup 10 proses pokok dari 27 variabel untuk menggambarkan berbagai dimensi transformasi struktur yang terjadi pada 101 negara, 26 negara diantaranya berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa, yang mereka teliti dalam kurun waktu 1950-1970. Yang menarik dari hasil regresi ini adalah tanda negatif untuk koefisien regresi variabel pemasukan modal asing bagi sektor primer dan tanda positif untuk sektor industri. Dengan memperhatikan pemasukan modal asing untuk keperluan : 1) mengisi kekurangan dana tabungan bagi investasi, dan 2) membiayai impor yang tidak bisa ditanggulangi oleh penerimaan devisa dari ekspor, maka diperkirakan pemasukan modal asing lebih banyak digunakan di luar sektor primer. Fokus utama analisis mobilisasi dan alokasi sumberdaya, khususnya aspek yang memungkinkan pertumbuhan yang berkelanjutan.

179

Model umum mengenai perubahan struktural yang diterapkan pada semua negara, dibangun berdasarkan asumsi-asumsi: 1) variasi dalam komposisi permintaan konsumen yang mengiringi peningkatan pendapatan per kapita, didominasi oleh penurunan pangsa pangan dan peningkatan pangsa barang manufaktur; 2) akumulasi modal, baik berupa modal fisik maupun modal manusia, harus diusahakan melebihi tingkat pertumbuhan angkatan kerja; 3) Akses teknologi serupa untuk semua negara; dan 4) akses pada perdagangan internasional dan pemasukan modal. Pilihan strategis suatu negara tidak hanya dipengaruhi oleh corak dari struktur ekonomi. Studi Chenery dan Syrquin memisahkan pengaruh dari faktor universal yang mempengaruhi semua negara dari corak khusus. Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2.1, faktor-faktor yang dianalisis oleh Chenery dan Syrquin dimaksudkan untuk menggambarkan perubahan-perubahan struktur ekonomi dalam proses pembangunan. Sejauh sasaran itu tercapai, maka setiap aspek pola pembangunan suatu negara dapat digambarkan sebagai akibat dari beberapa faktor yang terdiri atas tiga komponen, yaitu 1) pengaruh normal dari faktor universal yang berhubungan dengan tingkat pendapatan; 2) pengaruh faktor umum seperti luas pasar dan sumber yang berada di luar penguasaan pemerintah; dan 3) pengaruh sejarah, tujuan sosial politik pemerintahan, dan kebijaksanaan yang ditempuh (kesediaan untuk menggunakan berbagai peralatan kebijaksanaan) masing-masing negara. Dari ketiga komponen tersebut, dua komponen pertama merupakan perhatian utama dari studi Chenery dan Syrquin. Dari keseluruhan analisis Chenery dan Syrquin menunjukkan corak dari sepuluh jenis perubahan dalam struktur ekonomi yang berlaku dalam proses pembangunan di negara-negara berkembang. Perubahan-perubahan tersebut dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu 1) perubahan dalam struktur ekonomi sebagai perubahan dalam proses akumulasi; 2) perubahan dalam struktur ekonomi sebagai perubahan dalam proses alokasi sumberdaya; dan 3) perubahan dalam struktur ekonomi sebagai perubahan dalam proses demografi dan distribusi. Kegiatan-kegiatan ekonomi yang termasuk sebagai proses akumulasi meliputi kegiatan pembentukan modal, pengumpulan tabungan pemerintah dan kegiatan menyediakan pendidikan kepada masyarakat. Yang tergolong sebagai alokasi sumberdaya adalah struktur permintaan domestik (pengeluaran masyarakat atas produksi dalam negeri), struktur produksi, dan struktur perdagangan. Dalam golongan yang ketiga, yaitu proses demografi dan distribusi, termasuklah proses perubahan dalam faktor-faktor berikut: alokasi tenaga kerja dalam berbagai sektor, urbanisasi, tingkat kelahiran dan kematian, dan distribusi pendapatan.

179

Tabel 2.1 Cara-cara Untuk Menunjukkan Corak Perubahan Struktur Ekonomi Dalam Proses Pembangunan
FAKTOR-FAKTOR YANG DIANALISIS I PROSES AKUMULASI 1 Pembentukan ModaL a. Tabungan domestik bruto b. Pembentukan modal domestik bruto c. Aliran masuk modal (di luar impor brg & jasa) 2 Pendapatan Pemerintah a. Pendapatan pemerintah b. Pendapatan dari pajak 3 Pendidikan a. Pengeluaran untuk pendidikan b. Tingkat pemasukan anak-anak ke sekolah dasar dan sekolah menengah II PROSES ALOKASI SUMBERDAYA 1 Struktur Permintaan Domestik a. Pembentukan modal domestik bruto b. Konsumsi rumahtangga c. Konsumsi pemerintah d. Konsumsi atas bahan makanan 2 Struktur Produksi a. Produksi sektor primer b. Produksi sektor industri c. Produksi sektor utilities d. Produksi sektor jasa 3 Struktur Perdagangan a. Ekspor b. Ekspor bahaan mentah c. Ekspor barang-barang industri d. Impor II PROSES DEMOGRAFIS DAN DISTRIBUSI I 1 Alokasi tenaga kerja a. Dalam sektor primer b. Dalam sektor industri c. Dalam sektor jasa 2 Urbanisasi a. penduduk daerah urban 3 Transisi Demografis a. Tingkat kelahiran b. Tingkat kematian 4 Distribusi Pendapatan a. Bagian dari 20 persen penduduk yang menerima pendapatan paling tinggi b. Bagian dari 40 persen penduduk yang menerima pendapatan paling rendah CARA-CARA UNTUK MENUNJUKKAN PERUBAHAN YANG TERJADI Melihat perubahan pada nilai-nilainya dan dinyatakan sebagai persentase dari PDB

Menunjukkan perubahan persentase GDP untuk pendidikan; dan perubahan persentase anakanak yang bersekolah di sekolah dasar dan sekolah menengah

Melihat perubahan nilai-nilainya dan dinyatakan sebagai persentase dari PDB

Melihat perubahan jumlahnya dan dinyatakan sebagai persentase dari keseluruhan jumlah tenaga kerja. Melihat jumlahnya dan dinyatakan sebagai persentase dari keseluruhan jumlah penduduk Dengan melihat perubahan jumlahnya dan dinyatakan sebagai persentase dari keseluruhan jumlah penduduk Dengan melihat perubahan persentase PDB yang diterima oleh masing-massing golongan pendapatan tersebut.

179

Sumber: H.B. Chenery dan M. Syrquin, Patterns of Development 1950-1970, Oxford University Press, London, 1975, hlm.9

Selanjutnya, hasil analisis Chenery dan Syrquin mengenai corak perubahan dari berbagai faktor yang terdapat dalam Tabel 2.1 dalam proses pembangunan ekonomi di negara berkembang ditunjukkan pada Tabel 2.2, yang menggambarkan bentuk-bentuk perubahan yang diharapkan akan terjadi dalam perekonomian suatu negara berkembang yang mengalami proses peningkatan pendapatan per kapitanya sebesar US$ 100 menjadi US$ 1000. Tabel 2.2 Struktur Ekonomi Pada Berbagai Tingkat Pembangunan Dalam Proses Akumulasi
Deskripsi Faktor No 1 Pembentukan Modal a. Tabungan b. Pembentukan Modal c. Aliran Modal Masuk 2 Penerimaan Pemerintah a. Pendapatan Pemerintah b. Pendapatan dari Pajak 3 Pendidikan a.Pengeluaran Pendidikan b. Persentase anak-anak yang bersekolah Nilai tiap faktor pada berbagai tingkat Pembangunan $100 $200 $300 $400 $500 $800 $1.000 0,135 0,158 0,023 0,153 0,129 0,033 0,375 0,171 0,188 0,016 0,181 0,153 0,033 0,549 0,190 0,203 0,012 0,203 0,173 0,034 0,637 0,202 0,213 0,010 0,202 0,189 0,035 0,694 0,210 0,220 0,009 0,219 0,203 0,037 0,735 0,226 0,234 0,006 0,234 0,236 0,041 0,810 0,233 0,240 0,006 0,287 0,254 0,043 0,842

Sumber : Hollis B. Chenery & M. Syrquin, Patterns of Development 1950-1970, published by Oxford University Press for the World Bank, London, 1975.

a. Proses Akumulasi

Dalam proses akumulasi, perubahan struktur ekonomi dapat ditinjau melalui pertumbuhan pendapatan masyarakat, dimana sebagian dari pendapatan itu dialokasikan bukan untuk tujuan konsumsi akhir, melainkan digunakan untuk investasi. Proses ini disebut sebagai proses akumulasi yang selanjutnya didefinisikan sebagai proses penggunaan sumberdaya dan dana untuk meningkatkan kapasitas produksi masyarakat di masa yang akan datang dalam suatu perekonomian. Dalam proses akumulasi, terdapat investasi fisik dan investasi nir-fisik (Human Investment). Terjadinya proses ini dapat dilihat dari tiga hal, yaitu 1) perubahan struktur tabungan dan investasi akan berpengaruh terhadap kemampuan menabung dan investasi; 2) perubahan struktur penerimaan negara yang berasal dari pajak yang berpengaruh terhadap kemampuan penerimaan pemerintah; dan 3) perubahan pengeluaran pemerintah untuk membiayai sektor pendidikan yang akan mempengaruhi tingkat pendidikan penduduk. Dua hal yang pertama merupakan indikator dari peningkatan kapasitas

179

produksi dari sumberdaya-sumberdaya berbentuk piranti keras (physical instrument), sedangkan satu hal yang terakhir merupakan indikator peningkatan kapasitas produksi dari sumberdaya dalam bentuk piranti lunak, yang dalam hal ini menyangkut kemampuan manusianya (human instrument). Menurut Hekcsher-Ohlin dan Samuelson, komposisi resources endowment akan mengalami perubahan yang pada gilirannya dapat mengubah keunggulan komparatif dalam memproduksi barang dan jasa. Kemudian, mengenai pengaruh peningkatan PDB per kapita terhadap kemampuan menabung dapat ditelusuri melalui terbentuknya pola perubahan struktur tabungan masyarakat sebagai akibat dari peningkatan pendapatan. Dalam hal ini, tabungan akan berhubungan positif dengan kenaikan pendapatan. Pola yang terbentuk dari hubungan tersebut direpresentasikan oleh nisbah rata-rata tabungan terhadap pendapatan akan meningkat, sebaliknya nisbah rata-rata konsumsi terhadap pendapatan akan menurun jika pendapatan nasional menjadi semakin besar secara riel. Hal ini disebabkan karena kenaikan pendapatan nasional yang tidak digunakan untuk konsumsi masa sekarang (melainkan untuk ditabung), lebih cepat dibandingkan dengan kenaikan pendapatan nasional itu sendiri. Karena proporsi tabungan dalam PDB (S/PDB) akan meningkat maka proporsi investasi dalam PDB (I/PDB) pun diharapkan akan meningkat. Atau dengan kata lain, kenaikan PDB per kapita menaikkan kemampuan menabung dan atau kemampuan investasi. Gejala semacam ini dapat dijelaskan melalui logika berpikir sebagai berikut: 1) bahwa sesuai dengan Hukum Engel, pada kelompok masyarakat yang telah mampu memenuhi kebutuhan pokoknya, maka ketika pendapatannya meningkat, bagian dari pendapatan yang digunakan untuk tujuan konsumsi ( C/ Y) akan lebih kecil daripada kenaikan pendapatan itu (0<MPC<1). Artinya, semakin makmur suatu masyarakat (manakala kebutuhan pokoknya terpenuhi) maka bagian dari pendapatan yang ditabung ( S/ Y) akan semakin meningkat. Ini merupakan efek langsung dari peningkatan pendapatan nasional ditinjau dari sisi rumah tangga; dan (2) efek tak langsung yang terjadi pada sektor produksi, dimana dengan adanya kenaikan pendapatan masyarakat, maka pola produksi yang mengikuti arus permintaan akan mengalami pergeseran komposisi. Pergeseran komposisi ini akan terlihat dari komposisi barang yang diproduksi, perdagangan, lokasi dan berbagai komposisi struktural lainnya. Pergeseran semacam ini memungkinkan efisiensi yang semakin meningkat, sehingga kemungkinan untuk melakukan reinvestasi dari pendapatan menjadi besar. Chenery dan Syrquin telah membuktikan validitas dari teori ini. Dari hasil penelitian mereka, ditunjukkan bahwa dengan meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat maka tabungan masyarakat dalam bentuk proporsi terhadap pendapatan nasional akan mengalami peningkatan yang

179

cukup besar, yaitu dari 13,5% untuk masyarakat dengan pendapatan perkapita US $ 100, menjadi 23,3% pada pendapatan perkapita masyarakat sebesar US$ 1.000. Seperti diketahui, untuk melakukan analisis terhadap beberapa perubahan struktur ekonomi, mereka mengasumsikan pergeseran pendapatan perkapita dari US$ 100 menjadi US$ 1.000 menunjukkan pendugaan konkrit dari adanya peningkatan hasil pembangunan. Hal lain yang memperkuat adalah bahwa pembentukan modal domestik bruto juga meningkat dari 15,8% pada saat pendapatan per kapita US$ 100 menjadi 24,0 % pada saat pendapatan per kapita US$ 1.000. Hal ini wajar, karena dana pembentukan modal domestik bruto pada dasarnya berasal dari tabungan masyarakat. Selain itu, peranan modal yang berasal dari luar negeri terhadap pembentukan modal domestik menurun dari 2,3% pada saat pendapatan per kapita US$ 100 menjadi 0,6% ketika pendapatan per kapita US$ 1.000. Dalam hal pengaruh peningkatan PDB per kapita terhadap penerimaan pemerintah, pada dasarnya dapat ditelusuri melalui bentuk dan ciri-ciri dari penerimaan pemerintah. Dalam konteks ini, bentuk penerimaan pemerintah dapat dibedakan menjadi: 1) pajak langsung; 2) pajak tidak langsung; dan 3) penerimaan bukan pajak. Pada pajak langsung terdapat dua ciri utama, yaitu: 1) adanya batas minimum pendapatan yang dikenai pajak; dan 2) pada umumnya pajak-pajak itu bersifat progresif, yaitu persentase pengenaan pajak yang semakin tinggi dengan semakin tingginya pendapatan seseorang. Dengan kenaikan PDB perkapita maka akan semakin banyak wajib pajak dan akan semakin banyak orang yang dikenai pajak dengan persentase pengenaan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, maka elastisitas pajak langsung terhadap perubahan pendapatan adalah lebih besar dari 1 (satu). Artinya, setiap kenaikan sebesar 1% pada PDB perkapita, akan mengakibatkan kenaikan pajak langsung sebesar lebih dari 1%. Kenaikan PDB perkapita mengakibatkan kenaikan permintaan atas barang dan jasa. Proses ini selanjutnya akan diikuti oleh semakin besarnya unit usaha di dalam perekonomian yang menjurus kepada timbulnya spesialisasi. Spesialisasi mengakibatkan unit usaha menghasilkan barang dan jasa, bukan hanya untuk dirinya melainkan untuk melayani pihak lain dalam jumlah yang lebih banyak (besar). Proses ini meningkatkan volume perdagangan. Seperti diketahui bahwa indirect tax atau pajak tidak langsung itu sangat dipengaruhi oleh volume perdagangan. Dengan meluasnya perdagangan dan volume perdagangan, maka pajak tidak langsungpun meningkat. Indirect tax elasticity of income adalah lebih

179

besar dari satu. Artinya, setiap kenaikan PDB perkapita sebesar 1% akan mengakibatkan kenaikan pajak tidak langsung sebesar lebih dari 1%. Ciri-ciri yang menonjol pada pajak tidak langsung ini adalah 1) biasanya hanya dikenakan terhadap barang dan jasa yang diperdagangkan; 2) biasanya dikenakan terhadap barang dan jasa yang dianggap bukan kebutuhan pokok; dan 3) demi pertimbangan praktis, biasanya dikenakan terhadap barang dan jasa yang diproduksi dengan satuan ekonomi (kapasitas produksi) yang relatif besar; dan 4) biasanya dikenakan terhadap barang dan jasa yang diperdagangkan melalui batas nasional/ internasional dan pelabuhan. Perluasan dan peningkatan volume perdagangan memerlukan berbagai infrastruktur yang pada umumnya disediakan oleh pemerintah dalam bentuk jalan, jembatan, pelabuhan, sekolah dan lain-lain. Dalam hal penyediaan infrastruktur oleh pemerintah, maka ada alasan bagi pemerintah untuk memetik bayaran. Peningkatan volume perdagangan mengakibatkan meningkatnya penggunaan berbagai infrastruktur publik, dan berarti pula meningkatnya pemerimaan pemerintah dalam bentuk bukan pajak. Hasil penelitian Chenery dan Syrquin menunjukkan bahwa dengan meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat, maka persentase penerimaan pemerintah (secara keseluruhannya) naik dari 15,3% menjadi 28,7%, yaitu pada masing-masing pendapatan perkapita US$ 100 dan US$ 1.000, sementara khusus untuk penerimaan dari pajak, naik dari 12,9% pada pendapatan perkapita sebesar US$ 100, menjadi 25,4% pada pendapatan perkapita sebesar US$ 1.000 (lihat Tabel 2.2). Hasil penelitian mereka ini belum sampai pada pembuktian mengenai perubahan struktur pajak. Argumen yang diberikan adalah bahwa perubahan struktur pajak tersebut lebih merupakan refleksi komitmen politik, yaitu tergantung apakah pemerintah telah memiliki cukup kekuatan untuk melakukan pemungutan secara paksa, untuk jenis-jenis pajak langsung. Seperti diketahui, hal-hal yang menyangkut mengenai tata-cara pemungutan pajak langsung, sifatnya lebih sensitif terhadap pemerataan, diban dingkan dengan pemungutan jenis pajak tidak langsung. Menurut Meier (1980), ada empat determinan yang berkaitan dengan pajak, yaitu 1) pendapatan perkapita; 2) ketimpangan dalam distribusi pendapatan; 3) struktur perekonomian bagi negara dengan volume perdagangan luar negeri yang besar, dan peranan sektor industri manufaktur yang besar maka pajak juga akan besar; dan 4) baik buruknya administrasi perpajakan serta dilaksanakan tidaknya hukuman terhadap para pelanggar pajak (law enformcement). Potensi pajak dipengaruhi oleh determinan 1, 2 dan 3. Oleh karena orang cenderung menghindari pajak, maka potensi pajaknya ditentukan oleh berat tidaknya hukuman (determinan 4). Dengan demikian, jelaslah

179

sudah bahwa melalui proses akumulasi, peningkatan PDB perkapita akan meningkatkan penerimaan negara lebih besar dari pada peningkatan PDB perkapita itu sendiri. Akibat dari peningkatan PDB/kapita juga dapat ditelusuri perngaruhnya terhadap pengeluaran pemerintah di bidang pendidikan. Sebagaimana diketahui, perkembangan pengeluaran pemerintah bidang pendidikan yang diiringi oleh peningkatan PDB/kapita, adalah sejalan dengan kemampuan anggaran pemerintah. Tuntutan masyarakat untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi dan berkualitas, menyebabkan kebutuhan investasi di bidang pendidikan semakin besar. Pemerintah yang dalam hal ini sebagai pengemban misi pembangunan, sangat diharapkan untuk memenuhi tuntutan ini. Hal ini dapat dijelaskan baik dari tinjauan sisi demand maupun dari tinjauan sisi supply. Dari sisi demand, dapat dijelaskan sebagai berikut: bahwa permintaan yang tinggi terhadap pendidikan merupakan derived demand dari peningkatan upah di sektor modern. Kelompok masyarakat terdidik (well- educated) lebih memiliki kesempatan untuk mendapat pekerjaan dengan upah yang tinggi. Hal ini diakibatkan oleh peningkatan akan kebutuhan buruh yang terampil. Bagi masyarakat keseluruhan, ini berarti dengan semakin bertumbuhnya perekonomian, expected private benefit untuk pendidikan semakin tinggi. Ini merupakan variabel dari besarnya permintaan masyarakat terhadap pendidikan. Sedangkan dari sisi supply, pada kondisi awal pembangunan, besarnya daya tampung murid di sekolah adalah lebih tergantung pada kemampuan anggaran pemerintah dan yang lebih penting lagi adalah ditentukan oleh pressure politik. Komitmen untuk memenuhi permintaan pendidikan yang semakin tinggi, ditunjukkan oleh besarnya pengeluaran di bidang pendidikan. Akan tetapi, ada yang menghawatirkan, yaitu adanya intervensi pemerintah di bidang pendidikan yang akan mengakibatkan private cost of education cenderung menjadi rendah. Sedangkan permintaan riil pendidikan lebih ditentukan oleh besar-kecilnya perbedaan antara expected private benefit pendidikan dan cost of education. Semakin besar perbedaan ini maka permintaan terhadap pendidikan akan semakin tinggi. Ini berarti bahwa intervensi pemerintah di bidang pendidikan yang mengiringi perkembangan ekonomi merupakan penyebab dari semakin tingginya permintaan masyarakat terhadap pendidikan. Bagi pemerintah sendiri akan menerima akibat berganda. Selama komitmen untuk terus memenuhi keinginan masyarakat terhadap pendidikan masih kuat maka pengeluaran pemerintah untuk pendidikan di tahun-tahun awal pembangunan akan mengakibatkan semakin tingginya permintaan akan pendidikan. Peningkatan ini pada gilirannya akan menciptakan keharusan untuk meningkatkan pengeluaran di bidang pendidikan yang lebih besar lagi pada tahun-tahun selanjutnya sehingga dapatlah

179

dimengerti mengapa dengan semakin tingginya pendapatan nasional, pengeluaran pemerintah di bidang pendidikan juga mengalami kenaikan dengan tajam. Walaupun demikian, Chenery dan Syrquin dalam penelitiannya membuktikan lain bahwa dengan meningkatnya pendapatan per kapita, pengeluaran pemerintah untuk pendidikan hanya meningkat dari 3,3% menjadi 4,3% (masing-masing untuk pendapatan perkapita US$ 100 dan US$ 1.000) terhadap PDB. Argumen yang dikedepankan atas hasil tersebut, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa besarnya pengeluaran pemerintah di bidang pendidikan ini pada dasarnya lebih tergantung pada komitmen politik. Diduga, kemungkinan rendahnya angka ini adalah karena menyurutnya komitmen yang diharapkan setelah terjadi peningkatan pendapatan nasional. Hal ini bisa dimengerti, oleh karena dengan semakin meningkatnya pendapatan masyarakat (yang mengiringi peningkatan pendapatan nasional tersebut), kemampuan pihak swasta untuk turut serta dalam bisnis pendidikan juga semakin tinggi. Dengan masuknya pihak swasta yang mendukung (sebagian) pembiayaan di bidang pendidikan, maka penyediaan sarana dan prasarana pendidikan semakin banyak. Tentu saja hal ini akan mengembalikan besarnya cost of education pada proporsi semula dan sebagai dampaknya, permintaan pendidikan tidak sebesar yang dibayangkan. Di satu pihak permintaan sudah tidak begitu besar dan di lain pihak peranan swasta sudah bisa diandalkan, maka pengeluaran pemerintah untuk bidang pendidikan pada titik tertentu justeru akan menurun, setelah sebelumnya mengalami kenaikan. Sementara itu, dengan tersedianya sarana dan prasarana pendidikan disamping adanya ketentuan tentang batas minimal pendidikan yang ditamatkan, maka secara berangsur-angsur mengakibatkan terjadi perbaikan dan peningkatan daya tampung fasilitas pendidikan yang pada gilirannya akan terefleksi pada peningkatan secara tajam pada nisbah partisipasi sekolah atau school enrollment ratio. Tentang school enrollment ratio ini dapat diberikan contoh sebagai berikut: jumlah penduduk berusia 7-12 tahun adalah 1.000 orang, sedangkan jumlah murid Sekolah Dasar (SD) adalah 940 orang, maka School Enrollment Ratio untuk tingkat SD adalah sebesar 94%, yaitu 940/1000 x 100% = 94%. Untuk tingkat SMTP, SMTA dan Perguruan Tinggi, School Enrollment Ratio-nya masing - masing diukur dengan membandingkan jumlah siswa atau mahasiswa pada tiap jenjang pendidikan itu terhadap jumlah penduduk berusia 13-15 tahun (untuk SMTP), 16-18 tahun (untuk SMTA) dan 19-24 tahun (untuk Perguruan Tinggi). Hasil penelitian Chenery dan Syrquin mengenai School Enrollment Ratio memperlihatkan suatu peningkatan yang sangat tajam yaitu dari 37,5% pada saat pendapatan perkapita US$ 100 menjadi 84,2% pada saat pendapatan perkapita menjadi US$ 1.000. Demikianlah alur pikir dari

179

peningkatan PDB/kapita melalui proses akumulasi yang mengakibatkan peningkatan kemampuan menabung, kemampuan penerimaan pemerintah dan peningkatan taraf pendidikan masyarakat. b. Proses Alokasi Perubahan struktur ekonomi dapat juga ditinjau dari proses alokasi. Dalam hal ini, dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, terjadi pergeseran di dalam penggunaan sumber-sumber daya, baik sumber daya fisik maupun sumber daya manusia. Proses ini selanjutnya disebut sebagai proses alokasi sumberdaya. Hal ini dapat pula didefinisikan sebagai proses yang terjadi karena adanya interaksi antara proses akumulasi yang pada gilirannya merubah keunggulan komparatif dalam memproduksi barang dan jasa di satu pihak serta berubahnya pola konsumsi yang biasanya menyertai proses peningkatan pendapatan per kapita di lain pihak. Sebagai akibat dari adanya interaksi tersebut maka proses peningkatan pendapatan per kapita dalam kurun waktu yang lama biasanya akan disertai dengan berubahnya struktur produksi dan struktur barang dan jasa yang diperdagangkan melalui batas-batas nasional. Oleh karenanya, maka proses ini secara sistematis akan mengakibatkan perubahan pada: 1) struktur permintaan dalam negeri (domestic); 2) struktur produksi dalam negeri; dan 3) pola perdagangan luar negeri. Perubahan ini pada dasarnya merupakan hasil akhir dari interaksi antara permintaan dan penawaran. Permintaan lebih dipengaruhi oleh perkembangan pendapatan masyarakat yaitu perubahan dalam pola konsumsi, di lain pihak penawaran dipengaruhi oleh perubahan proporsi penggunaan sumberdaya dan perubahan teknologi, yaitu bertambahnya keuntungan komparatif yang timbul sebagai akibat dari proses akumulasi yang menyertai peningkatan pendapatan perkapita. Untuk memperkuat sisi penawaran dalam konteks pembangunan ekonomi, terutama dari aspek produksi dan kewilayahan, Hirschman mengusulkan perlunya strategi pembangunan ekonomi yang mengkonsentrasikan pada sektor-sektor yang relatif sedikit ketimbang ke sektor-sektor yang banyak tetapi tersebar. Sektor yang dipilih atau menjadi sektor kunci adalah sektor yang mempunyai kaitan ke depan (forward linkage) dan kaitan ke belakang (backward linkage) yang kuat. Pertumbuhan di sektor tersebut akan mendorong pertumbuhan sektor lain sehingga sektor tersebut

179

akan menjadi sektor unggulan bagi sektor lainnya. Selanjutnya Hirschman juga mengemukakan bahwa dalam sektor produktif, mekanisme pendorong pembangunan (inducement mechanism) yang tercipta akibat dari adanya hubungan berbagai industri dalam penyediaan input yang digunakan sebagai bahan mentah dalam industri lainnya dibedakan menjadi dua macam: 1) kaitan ke belakang (backward linkage effects) dan 2) kaitan ke depan (forward linkage effects). Konsep Hirschman hampir sama dengan konsep Myrdal23. Hirschman mengembangkan konsep polarisasi dan efek penetesan (trickle down effect) yang pengertiannya hampir sama dengan backwsh effect dan efek penyebaran (spread effect) yang dikembangkan oleh Myrdal. Perbedaannya adalah cara pandang setiap teori dalam memandang dampak pembangunan dari suatu pusat pertumbuhan terhadap wilayah di belakangnya pada masa-masa sesudahnya. Teori Hirschman lebih optimis dalam memandang dampak di masa depan daripada teori Myrdal. Menurut Hirschman hubungan antara pusat pertumbuhan dengan daerah belakangnya tergantung pada keseimbangan antara dampak positif dengan negatif bagi daerah belakang. Jika komplementaris kuat akan terjadi proses penyebaran pembangunan ke arah belakang dan sebaliknya bila komplementaris lemah akan terjadi proses polarisasi. Dari proses ini, menyebabkan sumber daya di daerah belakang terserap oleh daerah pusat pertumbuhan dan hal ini akan menghabat kemajuan di daerah belakangnya. Dampak yang paling penting dari penetesan ke bawah dari pusat pertumbuhan menuju daerah belakangnya adalah meningkatnya proses pembelian dan investasi di belakangnya oleh adanya kutub pertumbuhan, yang nantinya akan meningkatkan produksi tenaga kerja dan pendapatan per kapita dengan terserapnya pengangguran tersembunyi di daerah belakang. Hirschman selanjutnya mengungkapkan segi keterkaitan diantara berbagai ragam kegiatan ekonomi. Hal ini menyangkut keterkaitan antarsektor (misalnya antara sektor pertanian dan sektor industri) maupun kerterkaitan yang berlaku di lingkungan satu sektor tertentu (intrasector). Setiap proyek investasi di suatu industri tertentu selalu terkait dengan kegiatan di tahap menyusul dan atau di tahap yang mendahuluinya. Dalam hal keterkaitan itu dengan kegiatan industri di tahap menyusul (indusri hilir) maka keterkaitan tersebut bersifat forward linkage, sebaliknya di dalam hal keterkaitan menyangkut kegiatan industri di tahap yang mendahului (industri hulu) maka hal tersebut disebut backward linkage. Selanjutnya kemajuan wilayah akan tercapai jika terdapat konsentrasi
Menurut Myrdall (1969) terdapat dua kekuatan yang bekerja pada pertumbuhan ekonomi yaitu bachwash effect dan spread effect. Kekuatan spread effect mencakup penyebaran pasar hasil industri bagi wilayah yang belum berkembang, kekuatan efek balik negatif (backwash effect) biasanya melampau efek penyebaran dengan ketidakseimbangan aliran modal dan tenaga kerja dari daerah tidak berkembang ke daerah berkembang.
23

179

pembangunan pada sektor-sektor kunci yang ditentukan bacward linkage dan forward linkage. Efek penetesan yang diharapkan terjadi karena adanya pertukaran investasi di wilayah hinterland. Akibat dari penguatan sisi permintaan dan sisi penawaran sebagaimana diuraikan di atas maka struktur produksi dan struktur perdagangan mengalami perubahan. Pola perubahan struktural tersebut selanjutnya akan dijelaskan sebagai berikut: Pertama, dari segi perubahan dalam struktur permintaan dalam negeri (domestik): sama halnya dengan proses akumulasi, latar belakang teoritis dari perubahan pola permintaan, dapat dijelaskan melalui mekanisme hukum Engel bahwa income elasticity of demand pada kelompok makanan adalah lebih kecil dari satu (inelastis), maka dari itu konsumsi untuk makanan dihitung secara relatif terhadap PDB akan menurun. Ini berarti, semakin tinggi PDB perkapita maka relatif makin kecil yang digunakan untuk mengkonsumsi makanan, atau dengan lain perkataan, C/ Y dari kebutuhan pokok (makanan) akan menurun dan sebaliknya C/ Y untuk bukan kebutuhan pokok tersebut akan meningkat, sejalan dengan terjadinya kenaikan pendapatan perkapita. Sedangkan dari segi penawaran, latar belakang teoritis dari perubahan penawaran sebagai akibat adanya perubahan proporsi penggunaan sumber daya dan teknologi, melalui mekanisme yang telah dikemukakan oleh Heckser-Ohlin. Menurut mereka, terjadinya perbedaan proporsi sumberdaya yang dimiliki oleh suatu negara akan mempengaruhi harga relatif dari sumberdaya tersebut. Dampaknya, di masing-masing negara akan terjadi comparative advantage pada produk-produk yang spesifik. Kemajuan teknologi akan menghasilkan peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya, yang lazimnya bersifat parsial pada produk tertentu saja, sehingga akan mempengaruhi terjadinya comparative advantage pada masing-masing negara. Terjadinya perbedaan dalam keuntungan komparatif ini akan mendorong spesialisasi produksi dan pada gilirannya akan mempengaruhi struktur dari produk-produk yang diperdagangkan ke luar negeri. Kondisi ini berjalan secara dinamis, dimana harga relatif dari sumberdaya-sumberdaya yang dimiliki juga akan berubah, baik sebagai akibat dari adanya interaksi antara permintaan dan penawaran dari sumberdaya-sumberdaya yang bersangkutan, maupun sebagai akibat dari pengaruh perkembangan teknologi. Hal lain yang dapat menjelaskan tentang perubahan strktur permintaan domestik ini adalah : pertama; terdapat kecenderungan menurunnya pengeluaran konsumsi swasta secara relatif terhadap PDB. Hal ini sebagai konsekuensi dari proses akumulasi dimana peningkatan PDB/kapita akan

179

menaikkan pangsa tabungan dalam PDB (S/PDB), kedua; pengeluaran konsumsi pemerintah terhadap PDB secara relatif cenderung meningkat sampai pada batas tertentu. Hasil studi Chenery dan Syrquin sebagaimana disajikan pada Tabel 2.3, mengungkapkan bahwa dengan meningkatnya pendapatan nasional maka konsumsi pemerintah secara relatif menunjukkan peningkatan, yaitu dari 13,7% menjadi 14,8%. Bila dibandingkan dengan kenaikan penerimaan pemerintah yang cukup tinggi (dari 15,3% menjadi 28,7% - lihat proses akumulasi), maka hal ini menunjukan bahwa alokasi penerimaan pemerintah lebih diarahkan untuk tujuan-tujuan produktif. Sementara itu konsumsi rumah tangga (swasta), menurun dari 72,0% menjadi 61,7% dan konsumsi untuk bahan makanan juga menurun dari 39,2% menjadi 17,5% (persentase terhadap PDB). Hal ini juga menunjukkan adanya alokasi pendapatan masyarakat untuk aktivitas produktif.
Tabel 2.3 Struktur Ekonomi Pada Berbagai Tingkat Pembangunan Pada Proses Alokasi Nilai Tiap Faktor Pada Berbagai Tingkat Pembangunan Deskripsi Faktor $100 $200 $300 $400 $500 $800 $1.000 Struktur permintaan Domestik a.Konsumsi rumah 0,720 0,686 0,667 0,654 0,645 0,625 0,617 Tangga b.Konsumsi pemerintah 0,137 0,134 0,135 0,136 0,138 0,144 0,148 Struktur Produksi b. Sektor Primer 0,452 0,327 0,266 0,228 0,202 0,156 0,138 b. Sektor Industri 0,149 0,215 0,251 0,276 0,294 0,331 0,247 c. Sektor Utilitis 0,061 0,072 0,079 0,085 0,089 0,098 0,102 d. Sektor Jasa-jasa 0,338 0,385 0,403 0,411 0,415 0,416 0,413 Struktur Perdagangan a. Ekspor 0,195 0,218 0,230 0,238 0,244 0,255 0,260 b. Ekspor Bahan Mentah 0,137 0,136 0,131 0,125 0,120 0,105 0,096 c. Ekspor Barang Industri 0,019 0,034 0,046 0,056 0,065 0,086 0,097 d. Ekspor Jasa-jasa 0,031 0,042 0,048 0,051 0,053 0,056 0,057 e. Impor 0,218 0,234 0,243 0,249 0,254 0,263 0,267

No 1

Sumber : Hollis B. Chenery & M. Syrquin, Patterns of Development 1950-1970, published by Oxford University Press for the World Bank, London, 1975.

Berdasarkan kenyataan di atas, dapat dinyatakkan bahwa dengan meningkatnya pendapatan nasional, akan terjadi alokasi dana ke arah yang lebih produktif. Dari segi perubahan struktur produksi, dapat dilihat dari adanya kecenderungan penurunan pangsa sektor pertanian terhadap PDB dan sebaliknya pangsa sektor di luar pertanian, terutama proporsi sektor industri terhadap PDB cenderung meningkat dengan pesat. Bila NTBag/PDB cenderung menurun maka berarti laju

179

pertumbuhan NTB sektor pertanian lebih kecil daripada laju pertumbuhan PDB. Mengapa demikian? Jawabannya dapat diperoleh baik dari sisi permintaan maupun dari sisi penawaran. Dari sisi permintaan; seperti diketahui bahwa sektor pertanian menghasilkan bahan makanan dengan income elasticity of demand terhadap makanan yang lebih kecil dari satu (inelastic) sehingga peningkatan pendapatan (PDB/kapita) secara relatif menurunkan permintaan terhadap makanan (perlu hati-hati, sebab yang menurun adalah marginal propensity to consume untuk makanan dan bukan permintaan absolutnya). Disamping itu, makin banyak komponen dari makanan yang jatuh ke sektor di luar pertanian, misalnya ke sektor jasa dan sektor industri. Untuk sektor pertanian yang menghasilkan bukan makanan, sebagai akibat perubahan teknologi, maka: (a). penggunaan bahan baku cenderung semakin efisien; dan (b). cenderung menghasilkan barang subsitusi (karet alam ---> karet sintetis, arang ----> listrik, kuda ----> mobil), sebagai dampaknya adalah permintaan hasil sektor pertanian bukan bahan makanan relatif semakin kecil (income inelastic). Berbeda dengan permintaan terhadap hasil pertanian, permintaan terhadap hasil industri manufaktur secera keseluruhan elastik. Dari sisi penawaran; dilihat dari segi keuntungan komparatif maka ada pergeseran dari sektor pertanian kepada sektor pengolahan karena keuntungan komparatif sektor pertanian lebih rendah daripada sektor industri pengolahan. Mengapa proporsi sektor non-pertanian meningkat dengan meningkatnya PDB perkapita? Ada tiga faktor penyebabnya; (i). Income elasticit of demand terhadap hasil industri pengolahan adalah lebih besar dari satu (>1), (ii). Berubahnya keuntungan komparatif dalam memproduksi barang dan jasa, umumnya lebih menguntungkan memproduksi hasil industri pengolahan; dan (iii). Bergesernya kegiatan yang tadinya masuk sebagai kegiatan sektor pertanian dan rumah tangga menjadi masuk ke sektor industri pengolahan. Hasil penelitian Chenery (tahun 1960-an) menunjukkan bahwa ternyata meningkatnya proporsi industri pengolahan dalam PDB karena meningkatnya PDB/kapita, 50% bisa diterangkan karena perubahan keuntungan komparatif, dan 32% karenakeuntungan permintaan, sedangkan 18% bisa diterangkan karena pergeseran proses produksi. Keuntungan komparartif tercermin pada hasil produksi pengolahan yang sifatnya subsitusi impor. Gejala ini sering disalah artikan di negara-negara berkembang, mereka mengira bahwa dalam rangka industrialisasi perlu dikembangkan industri subsitusi impor. Sebenarnya subsitusi impor yang dimaksud oleh Chenery berbeda dengan pengertian subsitusi impor di negara sedang berkembang. Subsitusi impor yang dimaksud Chenery adalah subsitusi impor karena adanya keuntungan komparatif, jadi sifatnya alamiah, sedangkan subsitusi

179

impor yang dipahami di negara-negara sedang berkembang adalah industri subsitusi impor dengan proteksi. Sebagai akibat dari perubahan struktur produksi, khususnya dengan makin membesarnya peran industri pengolahan dalam PDB di negara-negara yang belum maju yang pangsa sektor industri pengolahannya relatif kecil. Sedangkan studi Chenery dan Syrquin yang menyangkut pola perubahan struktur produksi ini menunjukkan penurunan pada produksi sektor primer dari 45,2% menjadi 13,8%; sektor industri meningkat dari 14,9% menjadi 34,7%; sektor utilities meningkat dari 6,1% menjadi 10,2% dan sektor jasa meningkat dari 33,8% menjadi 41,3%. Fakta ini mengindikasikan alokasi penggunaan sumber daya yang digunakan untuk produksi, telah dialokasikan seperti pola di atas, yaitu untuk sektor pertanian menurun, sementara untuk sektor-sektor lainnya di luar sektor pertanian meningkat, terutama sektor industri. Ini berarti penggunaan sumberdaya-sumberdaya bergeser dari sektor pertanian ke sektor lain dan yang paling banyak menyerap penggunaan sumberdaya akibat dari pergeseran tersebut adalah sektor industri. Terkait dengan meningkatnya pangsa industri pengolahan dalam PDB, seperti yang telah diuraikan di atas, oleh United Nation Industrial Organization (UNIDO) dikenal empat tahapan industrialisasi dalam suatu negara:
a. Non industrial, disebut demikian bagi negara yang NTB sektor industri pengolahannya dalam

PDB sebesar lebih kecil dari 10%.


b. Industrilizing, disebut demikian bagi negara yang NTB sektor industri pengolahannya dalam

PDB sebesar 10-20%.


c. Semi industrilized, disebut demikian bagi negara yang NTB sektor industri pengolahannya dalam

PDB sebesar 20-30%.


d. Industrilized, disebut demikian bagi negara yang NTB sektor industri pengolahannya dalam

PDB lebih besar 30%. Oleh karena di sebagian negara sektor jasa membesar maka sekarang ini sulit menggunakan kriteria di atas, sehingga ada negara yang pada mulanya sudah masuk kategori Industrialized (pangsa sektor industri terhadap PDB lebih besar dari 30%), turun menjadi Semi industriliazed (pangsa sektor industrinya terhadap PDB antara 20 - 30%). Olehnya adalah penting memeprhatikan struktur Nilai Tambah Bruto sektor Industri berdasarkan klasifikasi International Standard Industrial Classification (ISIC) seperti yang telah diuraikan pada bagian pertama.

179

Berdasarkan klasifikasi ISIC tersebut, UNIDO membagi sektor industri manufaktur ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok industri ringan dan kelompok industri berat. Kelompok industri ringan meliputi industri-industri yang produksinya untuk kebutuhan pokok dan barang yang tidak tahan lama, dalam hal ini secara rinci adalah industri makanan, minuman dan tembakau (ISIC 31); industri tekstil, pakaian, kulit dan barang dari kulit (ISIC 32); industri kayu, barang dari kayu serta perabot rumahtangga dari kayu, rotan dan bambu (ISIC 33) industri percetakan dan penerbitan (ISIC 342); industri barang dari karet (ISIC 355); industri barang dari plastik (ISIC 356) dan industri yang menghasilkan barang yang tidak dikelompokkan dimana-mana (ISIC 39). Adapun yang masuk dalam klasifikasi industri berat adalah industri yang memproduksi bahan baku, barang konsumsi tahan lama dan peralatan bagi profesional, dalam hal ini secara rinci adalah, industri kertas dan barang dari kertas (ISIC 341); Industri kimia dan kimia dasar (ISIC 351 dan 352); Industri pengilangan minyak bumi, gas alam cair, pengolahan lebih lanjut dari hasil pengilangan minyak bumi dan Industri yang mengolah batubara (ISIC 353 dan 354); Industri keramik, kaca dan barang dari mineral bukan logam dan bukan migas (ISIC 36); Industri logam dasar besi dan baja serta logam dasar bukan besi (ISIC 37); Industri barang dari logam, mesin, alat pengangkutan, peralatan untuk tenaga profesional dan ilmu pengetahuan, peralatan fotografi, dan barang optik dan alat pengukur waktu (ISIC 38). Ditinjau dari pola konsumsi, permintaan produk industri ringan meningkat pada waktu pendapatan masih relatif rendah, sebaliknya untuk hasil produk industri berat, permintaannya meningkat ketika pendapatan relatif tinggi. Dari sisi intensitas penggunaan faktor produksi, industri ringan adalah industri yang padat tenaga kerja dan kurang menggunakan energi, keadaan sebaliknya pada industri berat umumnya padat modal, banyak menggunakan energi dan umumnya menghasilkan bahan baku. Ditinjau dari sisi pengaruh economic of scale, industri ringan tidak terlalu sensitif sedangkan industri berat sangat sensitif terhadap economic of scale. Pada umumnya hasil produk industri ringan adalah untuk konsumen akhir, sedangkan industri berat adalah konsumen untuk industri hilir. Tentu saja tingkat teknologi pada industri berat lebih tinggi dan cepat berubah ketimbang pada industri ringan. Memperhatikan sifat-sifat tersebut di atas, maka dapat diduga bahwa kontribusi industri ringan dalam industri manufaktur menurun dengan makin tingginya tingkat pendapatan, dan tentu saja sebaliknya, industri mengalami peningkatan. Struktur di negara berkembang, umumnya didominasi oleh ISIC 31 dan 32, sedangkan di negara maju didominasi oleh ISIC 38.

179

Dari segi perubahan struktur perdagangan luar negeri, dapat dilihat dari dua sisi yaitu; sisi ekspor dan sisi impor. Dalam menganalisis perubahan struktur perdagangan luar negeri sebagai akibat dari adanya peningkatan PDB perkapita, maka kedua sisi tersebut perlu diuraikan secara rinci. Pada sisi ekspor, biasanya dibedakan kedalam ekspor ekspor bahan mentah (primary product, Xbm); ekspor hasil industri pengolahan (manufacturing product, Xip); dan ekspor jasa-jasa (services, Xj), sedangkan pada sisi impor, biasanya dibedakan kedalam impor barang yang dirinci menurut: impor barang komsumsi (consumption goods, Mbk); impor barang modal (capital good,s Mbm), impor bahan baku/mentah (raw material goods, Mbb) dan impor bahan penolong (auxiliary goods, Mbp) disamping impor jasa-jasa (Mj). Dilihat dari sisi impor, besarnya impor barang modal (Mbm) dari segi permintaan dipengaruhi oleh Investasi (I). Dari proses akumulasi telah diketahui bahwa kenaikan I lebih tinggi daripada kenaikan PDB sehingga kenaikan Mbm lebih tinggi dari pada kenaikan PDB. Sementara itu, dari sisi penawaran, bisa dilihat dari dalam negeri maupun luar negeri. Mbm mempunyai ciri: umumnya padat modal, skala produksinya relatif besar, tingkat teknologinya relatif tinggi dan perubahan teknologinya cepat, serta konsumennya hampir semua kegiatan ekonomi, artinya kemungkinan untuk di produksi di dalam negeri jauh lebih sulit. Impor bahan baku (Mbb) dan bahan penolong (Mbp) dari segi permintaan erat kaitannya dengan peran NTB industri pengolahan dalam PDB. Karena laju pertumbuhan NTB industri pengolahan lebih tinggi dari pada laju pertumbuhan PDB maka Mbb dan Mbp mempunyai laju pertumbuhan yang lebih tinggi dari pada laju pertumbuhan PDB. Dari segi penawaran, bisa dilihat dari dalam negeri dan bisa pula dilihat dari luar negeri. Mbb dan Mbp mempunyai ciri; skala produksinya besar dan sangat peka (biaya per satuannya relatif mahal), padat modal dan teknologi tinggi, serta konsumen pemakainya adalah industri hilir, sehingga industri semacam ini dikembangkan setelah PDB relatif besar. Suatu negara yang melakukan subsitusi impor bahan baku dan bahan penolong disebut sebagai subsitusi impor tahap kedua. Impor barang konsumsi (Mbk) dipengaruhi oleh pendapatan masyarakat berpendapatan tinggi, terutama bila kenaikan pendapatan golongan ini lebih tinggi dari pada kenaikan pendapatan golongan berpendapatan rendah. Barang-barang konsumsi ini (lebih-lebih yang bukan barang konsumsi tahan lama) memiliki ciri-ciri sebagai berikut : a). Kurang peka terhadap skala produksi, artinya perbedaan produksi per unit antara skala besar dan kecil tidaklah terlalu besar; b). Tingkat teknologinya tidak terlalu tinggi dan perkembangan teknologinyapun tidak terlalu cepat; dan c). Permintaan impor barang konsumsi adalah konsumen akhir sehingga multiplier effect -nya tidak besar, artinya kalau

179

seandainya di produksi dalam negeri biayanya lebih tinggi dan yang harus membayar adalah konsumen akhir. Itulah sebabnya dalam proses subsitusi impor yang mula-mula dikembangkan adalah impor subsitusi untuk barang konsumsi yang sering disebut sebagai Subsitusi impor tahap I. Secara keseluruhan, dari sisi impor telah dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan impor lebih cepat dari pada laju pertumbuhan PDB. Ini merupakan salah satu alasan mengapa dalam perencanaan pembangunan sasaran ekspor harus lebih tinggi (besar) daripada impor. Dari sisi ekspor, oleh karena keterbatasan persediaan barang-barang modal dan produksi barang modal di dalam negeri pada negara sedang berkembang, maka dari sisi penawaran lebih besar atau menghampiri keseluruhan dari total ekspor negara tersebut. Dengan meningkatnya PDB/kapita, mengakibatkan investasi makin meluas sehingga persediaan barang-barang modal di dalam negeri bertambah pesat dan hal ini meningkatkan kemampuan dalam negeri untuk mengolah lebih banyak bahan-bahan mentah menjadi barang setengah jadi, mulai dari suatu batas tertentu diperuntukan ekspor. Dengan cara ini maka proses pertumbuhan ekspor (Xip) dapat dimulai. Peningkatan lebih lanjut investasi akan lebih memperluas dan memperkokoh struktur produksi industri pengolahan di dalam negeri sehingga dengan keuntungan komparatif yang dimiliki sebagian dari hasil industri pengolahan, baik dalam bentuk barang setengah jadi maupun barang jadi, di ekspor keluar negeri. Dalam keadaan normal, mula-mula pangsa ekspor terhadap PDB menaik, kemudian landai dan ada kemungkinan turun. Pangsa ekspor bahan mentah terhadap PDB cenderung turun, sebaliknya pangsa ekspor barang hasil manufaktur dan jasa-jasa terhadap PDB cenderung naik. Hasil studi Chenery dan Syrquin memperlihatkan bahwa total ekspor meningkat dari 19,5% menjadi 26,0%. Ekspor barang-barang industri meningkat dari 1,9% menjadi 9,7%, peranan ekspor jasa meningkat dari 3,1% menjadi 5,7% sedangkan ekspor bahan mentah menurun dari 13,7% menjadi 9,6%. Dengan adanya peningkatan devisa sebagai dampak dari adanya peningkatan penerimaan ekspor, maka kemampuan impor juga semakin besar. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan impor dari 21,8 % menjadi 26,7 %. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa dengan adanya perubahan Comparatif Advantage, sebagai akibat adanya alokasi sumber daya, akan mempengaruhi pola perdagaangan luar negeri. Disini terlihat bahwa perdagangan luar negeri akan bergeser dari eksportir bahan mentah berangsur menjadi eksportir barang industri dan jasa. Perubahan struktur ekspor dan impor sering dikaitkan dengan perubahan struktur ekspor dan impor barang dalam perdagangan luar negeri menurut Standard International Trade Classification (SITC). Berdasarkan SITC satu digit barang ekspor dan impor dikelompokkan menjadi:

179

SITC 0 : Bahan makanan dan binatang hidup SITC 1 : Minuman dan tembakau SITC 2 : Bahan mentah SITC 3 : Bahan bakar dan minyak pelumas SITC 4 : Minyak/lemak nabati dan hewani SITC 5 : Bahan kimia SITC 6 : Hasil industri menurut bahan SITC 7 : Mesin dan alat pengangkut SITC 8 : Hasil industri lain SITC 9 : Barang dan transaksi khusus lainnya Dalam perdagangan luar negeri yang dianggap sebagai hasil industri manufaktur adalah SITC 5 sampai dengan SITC 9 kecuali 68 (logam yang tidak mengandung besi, seperti nikel, timah dan aluminium), akan tetapi ada pula yang menganggap SITC 251 (pulp dan sisa kertas), SITC 334 (hasil pengilangan minyak bumi), SITC 335 (sisa hasil pengilangan minyak bumi), SITC 34 (gas alam cair), SITC 4 dan SITC 68 masuk dalam hasil industri manufaktur. Ini memberi pengertian bahwa umumnya hasil produksi industri dari ISIC 31 (makanan), ISIC 353 (pengilangan minyak bumi), ISIC 354 (gas alam cair) dan ISIC 371 (industri dasar besi dan baja) tidak dianggap sebagai hasil industri manufaktur, tetapi ada pula yang menganggap bahwa hanya sebagian dari ISIC 31 yang bukan hasil industri manufaktur. Berdasarkan intensitas penggunaan faktor produksi, ekspor barang hasil industri manufaktur menurut tahapan pembangunan diperbedakan menjadi lima kelompok, yaitu :
1) Resources intensive (industri manufaktur yang padat kekayaan alam). Ini terdiri atas SITC 251,

334, 335, 34, 4 dan 61 (kulit disamak dan barang dari kulit), SITC 63 (barang dari kayu dan gabus), SITC 641 (kertas dan kertas karton), SITC 661 (semen kapur dan bahan bangunan), SITC 662 (barang konstruksi), SITC 663 (produk dari bahan mineral), dan SITC 68;
2) Labor intensive (industri manufaktur padat karya) yang meliputi SITC 65 (barang tenun, kain

tekstil dan hasilnya), SITC 691 (bangunan dan bahan bangunan dari logam), SITC 692 (tangki untuk penyimpanan dan pengangkutan barang), SITC 695 (perkakas pertukangan tangan), SITC 696 (pisau dan alat potong lainnya), SITC 697 (perabot rumahtangga dari logam), SITC 699 (produk logam tidak mulia lainnya), SITC 898 (alat musik dan kelengkapannya), dan 899 (barang buatan pabrik lainnya);
3) Differentiated goods (industri manufaktur dengan tingkat keterampilan tinggi) yang meliputi:

SITC 71 (mesin pembangkit tenaga), SITC 72 (mesin industri khusus), SITC 73 (mesin untuk

179

mengerjakan logam), SITC 74 (mesin industri dan perlengkapannya), SITC 76 (telekomunikasi), SITC 77 (mesin listrik, aparat dan alatnya), dan SITC 88 (aparat fotografi dan perlengkapannya);
4) Scale intensive (industri manufaktur yang skala ekonominya relatif besar dan padat modal). Ini

terdiri atas: SITC 51 (kimia organik); SITC 52 (kimia an-organik); SITC 53 kecuali 533 (bahan celup), SITC 581 (tabung, pipa dan selang dari bahan plastik); SITC 621 (bahan-bahan dari karet), SITC 625 (ban luar dan ban dalam untuk segala jenis roda), SITC 629 (barang dari karet lainnya), SITC 642 (barang kertas lainnya), SITC 664 (kaca atau gelas); SITC 665 (barang dari kaca), SITC 666 (barang porselen dan pecah belah lainnya), SITC 67 (besi dan baja), SITC 693 (kawat dan produk ikutannya), SITC 694 (paku, mur, baut dan semacamnya), SITC 78 (kendaraan bermotor jalan raya), SITC 79 kecuali 792 (alat pengangkutan lainnya, kecuali alat peng angkutan udara), SITC 892 (barang cetakan), SITC 893 (barang plastik buatan), dan SITC 894 (kereta bayi, mainan anak dan lain-lain);
5) Science based (industri manufaktur yang padat ilmu pengetahuan dan teknologi). Yang masuk

dalam kelompok ini: SITC 533 (bahan pewarna lainnya), SITC 54 (bahan obat-obatan dan hasilnya), SITC 55 (bahan wangi-wangian dan parfum), SITC 75 (mesin kantor dan pengolah data), SITC 792 (alat pengangkutan udara dan perlengkapannya), dan 87 (instrumen ilmu pengetahuan, kedokteran dan sebagainya). Seiring dengan terjadinya perubahan komposisi faktor produksi selama pembangunan berlangsung maka keunggulan komparatif berubah, dan ini tercermin dari adanya perubahan komposisi ekspor hasil industri manufaktur yang pada awalnya didominasi oleh ekspor hasil produksi industri manufaktur yang padat kekayaan alam dan padat karya, kemudian secara bertahap berubah dan didominasi oleh hasil ekspor industri manufaktur berketerampilan tinggi, berskala besar dan padat modal serta pada akhirnya didominasi oleh ekspor hasil industri manufaktur yang padat ilmu pengetahuan dan teknologi.

c. Proses Distribusi dan Proses Demografi


Proses distribusi dan proses demografi, dalam uraian ini dilihat dalam satu kerangka acuan analisis dengan proses akumulasi dan proses alokasi. Atau dengan kata lain, proses akumulasi, alokasi, distribusi dan proses demografi dilihat dalam kerangka acuan yang mencakup dinamika proses transformasi secara menyeluruh selama masa transisi. Dengan begitu dapat dihindarkan

179

pandangan yang menganggap seolah-olah proses distribusi dan proses distribusi ini merupakan proses yang berdiri sendiri, terlepas dari segi-segi pokok lainnya dalam proses pembangunan. Ditinjau dari proses distribusi, perubahan struktur ekonomi dapat dijelaskan bahwa pada tahap awal pembangunan, lazimnya distribusi pendapatan24 secara relatif cenderung memburuk. Kondisi ini disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya oleh perbedaan dalam kepemilikan sumber daya dan faktor produksi, terutama kepemilikan barang modal (capital stock). Dalam hal ini, pihak yang memiliki barang modal lebih banyak akan memperoleh pendapatan yang lebih banyak pula dibandingkan dengan pihak yang memiliki sedikit barang modal. Ketidakmerataan dalam pembagian pendapatan dapat terjadi karena ketidaksempurnaan pasar. Hal ini diartikan sebagai adanya gangguan yang mengakibatkan persaingan dalam pasar tidak dapat bekerja secara sempurna. Gangguan-gangguan tersebut selain berupa perbedaan dalam kepemilikan sumberdaya juga dalam bentuk perbedaan dalam kepemilikan informasi, adanya intervensi pemerintah melalui berbagai peraturannya, dan adanya konspirasi negatif antara beberapa pelaku ekonomi dengan pemerintah (hal ini sering ditemui atau seringkali terjadi di negara sedang berkembang). Perbedaan pendapatan karena perbedaan kepemilikan awal faktor produksi tersebut menurut teori pembangunan ekonomi neo-klasik akan dapat dihilangkan atau dikurangi melalui suatu proses penyesuaian otomatis. Dengan proses tersebut hasil pembangunan akan menetes dan menyebar sehingga menimbulkan keseimbangan baru. Manakala setelah proses tersebut masih ada perbedaan pendapatan yang cukup timpang, maka masalah ini dapat dipecahkan dengan mempergunakan beberapa pendekatan, diantaranya: 1) memaksimumkan pertumbuhan pdb melalui peningkatan tabungan dan alokasi sumberdaya yang lebih efisien yang mampu memberikan manfaat pada semua kelompok masyarakat; 2) mengarahkan investasi pada masyarakat miskin dalam bentuk pendidikan dan atau akses pada kredit yang lebih mudah; 3) melalui sistem pajak atau alokasi langsung barangbarang konsumen; dan 4) pengalihan aset yang tersedia kepada kelompok miskin seperti halnya dengan kebijakan land-reform.

Dalam hal ini, distribusi pendapatan dapat dibedakan atas: 1) distribusi antargolongan pendapatan, terdiri atas distribusi absolut dan relatif. Distribusi pendapatan relatif membandingkan pendapatan antar kelompok golongan pendapatan, sementara distribusi pendapatan absolut menganalisis batas pendapatan minimum yang layak diterima seseorang; dan 2) distribusi antardaerah. Hasil penelitian williamson menunjukkan bahwa: (1) disparitas pendapatan antardaerah akan berkurang dengan meningkatnya perekonomian nasional; dan (2) disparitas antardaerah di nergara sedang berkembang lebih tinggi daripada disparitas antardaerah di negara maju.

24

179

Proses pembangunan ekonomi biasanya tidak hanya ditandai oleh perubahan atau pergeseran pada struktur permintaan dan penawaran barang dan jasa, akan tetapi juga ditandai oleh perubahan yang terjadi dalam struktur penduduk dan ketenagakerjaan. Proses perubahan ini oleh chenery dan syrquin diistilahkan sebagai proses demografi. Proses ini terjadi sebagai akibat dari perubahan pada struktur permintaan, struktur produksi dan perbaikan fasilitas kesehatan, gizi serta pendidikan yang timbul seiring dengan pertumbuhan pendapatan per kapita. Proses ini juga mencakup peralihan berbagai hal yang terkait dengan tempat tinggal penduduk, migrasi/urbanisasi, angka kelahiran dan kematian, serta beberapa hal yang terkait dengan ketenagakerjaan seperti pengangguran, jenis pekerjaan, tingkat partisipasi angkatan kerja dan tingkat upah. Dalam sektor ketenagakerjaan, manakala terjadi penurunan cepat dari jumlah angkatan kerja dalam sektor pertanian. Hal ini memungkinkan terjadinya peningkatan produktivitas tenaga kerja dan upah riil di sektor tersebut. Fenomena ini oleh Johnston & Kilby (1975) yang pernah mengkaji transformasi struktural di amerika, jepang dan taiwan disebut sebagai structural turning point. Berawal dari structural turning point, pada gilirannya akan terjadi penurunan rasio penduduk yang bekerja di sektor pertanian terhadap keseluruhan angkatan kerja. Dengan bertambahnya sektor formal, rasio pekerja dengan upah dan gaji terhadap seluruh angkatan kerja akan meningkat pula. Terakhir adalah peningkatan rasio tenaga spesialis dan manajer terhadap seluruh angkatan kerja. Indikator yang terakhir ini berhubungan erat dengan skala unit usaha, semakin banyak unit-unit usaha berskala besar maka semakin banyak diperlukan tenaga spesialis dan manajer. Seiring dengan perubahan itu, maka transformasi ekonomi dan pekerjaan pun ikut bergerak dengan sangat cepat, kemudian mengubah proses fundamental dan memberi nilai tambah pada setiap tahap dalam memproduksi barang atau jasa, yang selanjutnya disebut sebagai rantai nilai pekerjaan. Yang menarik dari perubahan dan pergerakan ekonomi serta ragam pekerjaan baru itu adalah adanya peran yang begitu penting dari teknologi informasi dan modal intelektual sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi, dan percepatan perubahan itu menuntut dunia pendidikan dapat mempersiapkan dan menghasilkan lulusannya yang berdaya saing.
J. TEORI PEMBANGUNAN WALT WHITMAN ROSTOW

Walt Whitman Rostow atau yang lebih populer dengan panggilan Rostow, adalah tokoh pemikir ekonomi yang cukup dikenal pemikiran-pemikirannya. Teori pertumbuhan ekonomi yang dikemukakan oleh Rostow merupakan garda depan dari linear stage of growth theory. Pada dekade

179

1950-1960, teori Rostow banyak mempengaruhi pandangan dan persepsi para ahli ekonomi mengenai strategi pembangunan yang harus dilakukan. Teori Rostow didasarkan pada pengalaman pembangunan yang telah dialami oleh negara-negara maju terutama di Eropa. Dengan mengamati proses pembangunan di negara- negara Eropa, mulai dari abad pertengahan hingga abad modern, Rostow memformulasikan pola pembangunan menjadi tahap-tahp evolusi dari suatu pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh negara-negara tersebut. Dalam bukunya yang berjudul The Stages of Economics Growth, Rostow (1960) menyatakan bahwa pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang dapat menyebabkan: 1) perubahan orientasi ekonomi, politik dan sosial yang pada mulanya berorientasi kepada suatu daerah menjadi berorientasi keluar; 2) perubahan pandangan masyarakat mengenai jumlah anak dalam keluarga yaitu kesadaran untuk membina keluarga kecil; 3) perubahan dalam kegiatan investasi masyarakat dari melakukan investasi yang tidak produktif menjadi investasi yg produktif; dan 4) perubahan sikap hidup dari adat istiadat yang kurang merangsang pembangunan ekonomi, seperti kurang menghargai waktu kerja dan orang lain. Kemudian, Rostow membagi proses pembangunan ekonomi suatu negara menjadi lima tahap: 1) tahap perekonomian tradisional; 2) prakondisi tinggal landas; 3) tinggal landas; 4) menuju kedewasaan; dan 5) tahap konsumsi massa tinggi. Masing-masing tahapan tersebut kemudian dijelaskan sebagai berikut: 1. Tahap Perekonomian Tradisional Pada tahap masyarakat tradisional (the traditional society) ditunjukkan oleh suatu masyarakat yang strukturnya berkembang di arus kehidupan ekonomi yang masih menggunakan cara-cara berproduksi relatif primitif dan cara-cara hidup masyarakat masih sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dicetuskan oleh cara berpikir yang tidak rasional, dan oleh kebiasaan yang telah berlaku secara turun temurun. Bentuk perekonomian pada masyarakat ini cenderung bersifat subsisten dimana pemanfaatan teknologi dalam sistem produksi masih sangat terbatas. Dalam perekonomian semacam ini sektor pertanian memegang peranan penting. Masih rendahnya pemanfaatan teknologi dalam proses produksi menyebabkan barang-barang yang diproduksi sebagian besar adalah komoditas pertanian dan bahan mentah lainnya. Struktur sosial kemasyarakatan dalam sistem masyarakat seperti ini bersifat berjenjang. Kemampuan penguasaan sumberdaya yang ada sangat dipengaruhi oleh hubungan darah dan keluarga. Dalam masyarakat tradisional seperti itu, ciri yang menonjol adalah 1) tingkat produksi per kapita dan tingkat produktivitas per pekerja masih sangat rendah, karena sebagian besar sumberdaya

179

masyarakat masih digunakan untuk kegiatan sektor pertanian; 2) struktur sosial masyarakat bersifat sangat hirarkis dengan tingkat mobilitas vertikal masyarakat sangat kecil, dan kedudukan masyarakat tidak berbeda dengan nenek moyang; dan 3) kegiatan politik dan pemerintahan di daerah-daerah didominasi oleh para tuan tanah.
2. Tahap Prakondisi Tinggal Landas

Pada tahap prakondisi tinggal landas, pembangunan ekonomi sebagai sebuah proses telah menyebabkan perubahan ciri-ciri penting dari suatu masyarakat, yaitu perubahan dalam sistem politiknya, struktur sosialnya, nilai-nilai masyarakatnya, dan perubahan struktur ekonomi yang bersifat multidimensi. Untuk mencapai perubahan-perubahan tersebut, masyarakat diperhadapkan kepada suatu masa transisi tertentu untuk mempersiapkan diri mencapai pertumbuhan atas kekuatan sendiri (self sustained growth). Tahapan ini memiliki dua corak yang amat berbeda: 1) tahap prasyarat tinggal landas yang dialami oleh negara-negara Eropa, Asia, Timur Tengah dan Afrika, yaitu perombakan terhadap masyarakat tradisional yg sudah ada untuk mencapai tahap tersebut; dan 2) tahap prasyarat tinggal landas yg dialami negara born free (daerah imigran seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia dan Selandia Baru), dan tanpa harus merubah sistem masyarakat tradisional yg sudah ada. Tahap kedua dari proses pertumbuhan Rostow ini pada dasarnya merupakan proses transisi dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri. Sektor industri mulai berkembang di samping sektor pertanian yang masih memegang peranan penting dalam perekonomian. Tahap kedua ini merupakan tahap yang menentukan bagi persiapan menuju tahap-tahap pembangunan berikutnya, yaitu tahap tinggal landas. Sebagai tahapan yang berfungsi mempersiapkan dan memenuhi prasyaratprasyarat pertumbuhan swadaya, diperlukan adanya semangat baru dari masyarakat. Menurut pengamatan Rostow, negara-negara di Eropa mengalami tahap kedua ini kira-kira pada abad ke-15 sampai ke-16. Pada saat itu terjadi perubahan radikal dalam masyarakat Eropa dengan munculnya semangat Renaissance. Semangat ini telah membalikkan semua tatanan nilai masyarakat Eropa saat itu yang cenderung statis menjadi sangat dinamis. Perubahan paradigma berfikir nampaknya merupakan istilah yang lebih tepat untuk menilai fenomena itu. Pada tahap ini, perekonomian mulai bergerak dinamis, industri-industri bermunculan, perkembangan teknologi cukup pesat, dan lembaga keuangan resmi sebagai penggerak dana masyarakat mulai bermunculan, serta terjadi investasi besar-besaran terutama pada industri manufaktur. Kondisi ini selanjutnya disebut sebagai tonggak dimulainya industrialisasi.

179

Industrialisasi dapat dipertahankan jika dipenuhi prasyarat sebagai berikut: 1) peningkatan investasi disektor infrastruktur/prasarana terutama prasarana transportasi; 2) terjadi revolusi teknologi di bidang pertanian untuk memenuhi peningkatan permintaan penduduk kota yang semakin besar; dan 3) perluasan impor, termasuk impor modal, yang dibiayai oleh produksi yang efisien dan pemasaran sumber alam untuk ekspor. Proses pembangunan dan industrialisasi yang berkelanjutan akan terjadi jika keuntungan yang diperoleh diinvestasikan kembali pada sektor yang menguntungkan.
3. Tahap Tinggal Landas

Awal dari tahap tinggal landas pada umumnya ditandai oleh perubahan-perubahan yang sangat dramatis dalam kehidupan masyarakat suatu bangsa, seperti terciptanya kemajuan yang pesat dalam inovasi, terbukanya pasar-pasar baru, terjadinya revolusi politik dan kehidupan demokrasi secara luas, dan revolusi industri yang berhubungan erat dengan revolusi metode produksi dan lain sebagainya. Tahap ini merupakan tahap yang menentukan dalam keseluruhan proses pembangunan bagi kehidupan masyarakat. Faktor faktor penyebab dimulainya tahap tinggal landas itu amat beragam dan berbeda-beda satu sama lainnya, namun yang jelas perubahan-perubahan itu muncul dan terus berkembang karena disangga oleh kekuatan nilai-nilai dan budaya yang luhur, serta semangat dan etos kerja yang kuat untuk maju dari suatu bangsa. Akibat dari perubahan-perubahan tersebut maka secara teratur akan tercipta pembaharuan-pembaharuan dan peningkatan penanaman modal. Dan pada gilirannya penanaman modal yang makin bertambah tinggi akan berdampak pada pertambahan yang cepat pada pendapatan nasional melebihi pertambahan pada jumlah penduduk. Dengan demikian, tingkat pendapatan per kapita makin lama akan menjadi makin bertambah besar. Pengalaman negara-negara Eropa menunjukkan bahwa tahap ini berlaku dalam waktu yang relatif pendek, sekitar dua dasawarsa. Dalam hubungan itu, tinggal landas didefinisikan sebagai tiga kondisi yang saling berkaitan sebagai berikut: 1) kenaikan laju investasi produktif antara 5-10 persen dari pendapatan nasional; 2) perkembangan salah satu atau beberapa sektor manufaktur penting dengan laju pertumbuhan tinggi; dan 3) hadirnya secara cepat kerangka politik, sosial, dan institusional yang menimbulkan hasrat ekspansi di sektor modern, dan dampak eksternalnya akan memberikan daya dorong pada pertumbuhan ekonomi. Prasyarat pertama dan kedua sangat berkaitan erat satu sama lain. Kenaikan laju investasi produktif antara 5-10 persen dari GNP pada akhirnya akan menyebabkan pertumbuhan yang tinggi pada sektor-sektor dalam perekonomian, khususnya sektor manufaktur. Sektor

179

manufaktur diharapkan memiliki tingkat pertumbuhan tertinggi karena sektor tersebut merupakan indikator bagi perkembangan industrialisasi yang yang dilakukan. Selama masa tinggal landas, berkembangnya sektor industri pemimpin dengan tingkat pertumbuhan tinggi (leading sector), paling tidak ada empat faktor yang perlu dicermati, yaitu 1) harus ada kemungkinan perluasan pasar bagi barang-barang yg diproduksi yang mempunyai kemungkinan untuk berkembang dengan cepat; 2) dalam sektor tersebut harus dikembangkan teknik produksi yang modern dan kapasitas produksi harus bisa diperluas; 3) harus tercipta tabungan dalam masyarakat dan para pengusaha harus menanamkan kembali keuntungannya untuk membiayai pembangunan sektor pemimpin; dan 4) pembangunan dan transformasi teknologi sektor pemimpin harus bisa diciptakan kebutuhan akan adanya perluasan kapasitas dan modernisasi sektor-sektor lain. Di samping itu, sektor manufaktur adalah sektor yang memiliki keterkaitan terbesar dengan sektor-sektor lain. Jika sektor manufaktur berkembang pesat, maka sektor-sektor lain pun akan terpengaruh untuk berkembang pesat pula. Pada akhirnya pertumbuhan yang tinggi pada semua sektor akan berakibat pada perkembangan GNP yang lebih tinggi dari kondisi semula. Dalam studinya, Rostow menyatakan negara-negara yang telah mencapai tahapan lepas landas ini adalah: Inggris pada Tahun 1850, USA pada Tahun 1900, Jerman dan Perancis pada Tahun 1910, Swedia pada Tahun 1930, Jepang pada Tahun 1940, Rusia dan Kanada pada Tahun 1950. Tabel 2.4 Urutan Negara Tinggal Landas & Leading Sector Menurut Perkiraan Walt Whitman Rostow No Urut Negara Tahun
1783-1802 1830-1860 1833-1860 1843-1860 1850-1873 1868-1890 1878-1900 1890-1914 1896-1914 1935 1937 1952 1952

Leading Sector
Industri Tekstil Jaringan KA Jaringan KA Jaringan Jalan KA Jaringan Jalan KA Industri Kayu Industri Sutera Jaringan Jalan KA Jaringan Jalan KA Industri Subst Impor -

1 Inggris 2 Perancis 3 Belgia 4 USA 5 Jerman 6 Swedia 7 Jepang 8 Rusia 9 Kanada 10 Argentina 11 Turki 12 India 13 RRC Sumber: Sadono Sakirno (2006;173).

179

Seperti ditunjukkan pada Tabel 2.4 bahwa pada umumnya negara-negara barat mencapai tahap tinggal landas pada abad ke-19, kecuali Inggris yang sudah mencapainya pada akhir abad sebelumnya dengan masa tinggal landas berkisar antara 20 sampai 30 tahun. Prasyarat ketiga merupakan kondisi yang harus dipenuhi agar prasyarat pertama dan kedua dapat terpenuhi dengan baik. Prasyarat ketiga merupakan iklim yang memungkinkan terpenuhinya prasyarat pertama dan kedua terpenuhi. Tanpa terpenuhinya prasyarat ketiga, praktis prasyarat pertama dan kedua tidak akan terpenuhi. Prasyarat ketiga ini menunjukkan kesadaran Rostow bahwa perubahan perekonomian pada dasarnya merupakan konsekuensi dari perubahan motif dan inspirasi non ekonomi dari seluruh lapisan masyarakat. Artinya perubahan ekonomi dalam skala besar tidak akan terjadi selama tidak ada iklim kondusif yang memungkinkan perubahan tersebut. lklim kondusif tersebut adalah perubahan faktor-faktor non ekonomi dari masyarakat yang sejalan dengan proses pertumbuhan ekonomi yang terjadi. 4. Tahap Menuju Kedewasaan Pada tahap menuju kedewasaan (the drive to maturity), penerapan teknologi modern secara efektif sudah merambah di hampir semua kegiatan produksi dan pemanfaatan kekayaan alam. Sektor pemimpin baru akan bermunculan menggantikan sektor pemimpin yang mengalami kemunduran. Tahap ini merupakan tahapan jangka panjang di mana produksi dilakukan secara swadaya, yang ditandai dengan munculnya beberapa sektor penting yang baru. Pada saat negara berada pada tahap kedewasaan teknologi, terdapat tiga perubahan penting yang terjadi, yaitu 1) struktur dan keahlian tenaga kerja berubah, kepandaian dan keahlian pekerja bertambah tinggi, sektor indusri bertambah penting peranannya, dan sektor pertanian menurun peranannya. Pada saat itu tenaga kerja telah berubah dari tidak terdidik menjadi tenaga kerja terdidik; 2) sifat kepemimpinan dalam perusahaan mengalami perubahan, dan peranan manajer professional semakin penting dan menggantikan kedudukan pengusaha pemilik, atau dengan kata lain telah terjadi perubahan watak pengusaha dari pekerja keras dan kasar berubah menjadi manager yang cerdas, beretika dan sopan; dan 3) masyarakat telah jenuh terhadap industrialisasi dan menginginkan perubahan lebih jauh. 5. Tahap Konsumsi Massa Tinggi

179

Tahap konsumsi massa tinggi (the age of high mass consumption) merupakan akhir dari tahapan pembangunan yang dikemukakan oleh Rostow25. Pada tahap ini akan ditandai dengan terjadinya migrasi besar-besaran dari masyarakat pusat perkotaan ke pinggiran kota, akibat pembangunan pusat kota sebagai sentral bagi tempat bekerja. Penggunaan alat transportasi pribadi maupun yang bersifat transportasi umum seperti halnya kereta api merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan. Pada fase ini terjadi perubahan orientasi dari pendekatan penawaran (supply side) menuju ke pendekatan permintaan (demand side) dalam sistem produksi yang dianut. Sementara itu terjadi pula pergeseran perilaku ekonomi yang semula lebih banyak menitikberatkan pada sisi produksi, kini beralih ke sisi konsumsi. Pada saat itu, masyarakat mulai berpikir bahwa kesejahteraan bukanlah permasalahan individu, yang hanya dipecahkan dengan mengkonsumsi barang secara individu sebanyak mungkin, namun lebih dari itu mereka memandang kesejahteraan dalam cakupan yang lebih luas yaitu kesejahteraan masyarakat bersama dalam arti luas. Terlepas dari permasalahan di atas terdapat tiga kekuatan utama yang cenderung meningkatkan kesejahteraan dalam tahap konsumsi besar-besaran ini (Jhingan, 1988: h.188), yaitu 1) penerapan kebijakan nasional guna meningkatkan kekuasaan dan pengaruh melampaui batas-batas nasional; 2) ingin memiliki satu negara kesejahteraan (welfare state) dengan pemerataan pendapatan nasional yang lebih adil melalui peningkatan jaminan sosial, fasilitas hiburan bagi para pekerja dan sistem pajak progresif26; 3) keputusan untuk membangun pusat perdagangan dan sektor penting seperti mobil, jaringan rel kereta api, rumah murah, dan berbagai peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik dan sebagainya. Hal ini sejalan dengan makin meningkatnya konsumsi masyarakat melebihi kebutuhan pokok (sandang, pangan, papan) menjadi konsumsi terhadap barang tahan lama dan barang-barang mewah. Amerika merupakan satu-satunya negara yang pertama kali mencapai era konsumsi massa tinggi ini, yaitu sekitar Tahun 1920. Hal yang sama kemudian diikuti oleh beberapa negara Eropa
Salah satu aspek yang terlupakan dalam teori Rostow adalah peran sentral bantuan luar negeri yang berfungsi sebagai penutup kesenjangan tabungan-investasi dan kesenjangan devisa. Ketika Rostow diundang Bank Dunia (1984) untuk dimintai tanggapannya mengenai hal ini, ia menilai bahwa bantuan luar negeri merupakan salah satu faktor kritis dalam pembangunan negara sedang berkembang. Tidak mengherankan bila ia menambahkan syarat tinggal landas bagi negara sedang berkembang sebagai berikut (Rostow dalam Meier dan Seers, 1984:239): The concept of take-off suggested the possibility that developing countries would eventually move to self-sustained growth when soft loan would no longer berequired. 26 Dalam sistem perpajakan seperti ini, makin tinggi pendapatan makin besar pula tingkat pajak atas pendapatan itu. Cara ini berbeda dengan di negara-negara persemakmuran (comment wealth), ditempuh dengan cara mengusahakan terciptanya pembagian pendapatan yang telah merata melalui sistem pajak progresif (semakin banyak semakin besar).
25

179

Barat. Satu-satunya negara di Asia yang telah mencapai tahap tersebut adalah Jepang. Negara yang pertama mencapai tahap ini adalah USA (Tahun 1920), Inggris (Tahun 1930), Jepang dan Eropa Barat (Tahun 1950) Rusia (Pasca Stalin). Sampai sejauh ini, teori pembangunan Rostow masih terus diperdebatkan dan menuai kritik. Tahap-tahap pembangunan yang dijelaskan oleh Rostow merupakan sistem pentahapan yang berfifat prosedural bersyarat. Misalnya, tahap kedua tidak dapat terjadi tanpa tahap pertama, tahap ketiga tidak akan terjadi tanpa tahap kedua dan seterusnya. Konsep dan pola pertumbuhan ini semacam ini dibangun berdasarkan sejarah pembangunan yang dilakukan di negara-negara di Eropa yang memiliki struktur sosial dan budaya yang mapan. Kondisi tersebut tentu sulit terjadi pada negara-negara di Asia dan Afrika yang belum memiliki sistem sosial yang teratur. Interaksi kebudayaan Barat, akibat kolonialisme, dalam kebudayaan Timur (negara sedang berkembang di Asia dan Afrika), menyebabkan tahapan dalam teori Rostow terjadi secara simultan. Ketika di daerah perkotaan modern di negara sedang berkembang sudah berada pada tahap tinggal landas, bahkan lebih tinggi lagi, sementara itu di daerah perdesaan sistem perekonomian dan kemasyarakatan masih berada pada tahap tradisional. Bahkan dalam kenyataannya, ada negara-negara di dunia ini yang tidak pernah melewati tahap pertama dari pertumbuhan ekonomi Rostow, namun langsung menginjak tahap kedua. Amerika Serikat dan Australia merupakan negara yang mengalami pola pertumbuhan ini. Hal ini terjadi karena keduanya merupakan benua temuan orang-orang Eropa, di mana penduduknya adalah orang-orang Eropa yang kemudian mentransfer ilmu dan pengetahuannya ke benua tersebut. Simon Kuznets (1979) telah melancarkan suatu kritik tajam terhadap teori Rostow. Pertanyaan kritisnya adalah: bagaimana mungkin suatu desain sederhana dapat menjadi suatu rangkuman deskriptif atau klasifikasi analitik dari suatu perubahan historis yang beragam dan bervariasi? Kusnetz juga mencatat kemiripan dan perbedaan antara teori Rostow dengan Karl Marx. Teori Rostow pada dasarnya merupakan alternatif bagi teori Karl Marx, di mana Rostow menawarkan Communism Manifesto. Pada dasarnya terdapat beberapa kesamaan antara teori Karl Marx dan Rostow. Pertama, pada kedua teori tersebut dengan berani menginterpretasikan evolusi sosial khususnya di sektor ekonomi. Kedua, baik Karl Marx maupun Rostow telah mencoba mengeksplorasi permasalahan dan konsekuensi dari pembangunan sosial yang dilakukan. Ketiga, Karl Marx dan Rostow menyadari bahwa perubahan sistem ekonomi pada dasarnya merupakan konsekuensi logis dari perubahan yang

179

terjadi di bidang politik, kebudayaan, dan sosial. Sementara di sisi lain perubahan sistem ekonomi akan berpengaruh juga terhadap kehidupan politik, kondisi budaya dan sosial masyarakat. Meski kedua teori tersebut memiliki banyak kesamaan, namun satu sama lain tetap memiliki perbedaan, yaitu 1) Karl Marx memandang bahwa manusia bersifat sangat kompleks yang memiliki berbagai dimensi kebutuhan dari ekonomi sampai budaya. Di sisi lain, Rostow mempersempit dimensi manusia menjadi satu yaitu sebagai homo economicus. Meski demikian Rostow sadar bahwa perubahan ekonomi yang sangat besar harus dipandang sebagai konsekuensi dari perubahan motif dan inspirasi dimensi non ekonomi dari manusia; 2) Karl Marx mendasarkan teorinya pada sistem konflik antar kelas masyarakat, eksploitasi satu kelompok manusia terhadap kelompok yang lain, dan adanya tekanan-tekanan semacam itu yang melekat pada sistem kapitalis, sedangkan Rostow lebih implisit dalam memandang interaksi kelas masyarakat dalam sistem kapitalis mengingat Rostow sendiri adalah ekonom yang berkiblat ke kapitalis; 3) Karl Marx mengasumsikan bahwa keputusan yang diambil oleh masyarakat semata-mata hanyalah fungsi dari siapa pemilik sumberdaya. Artinya perubahan ekonomi hanyalah merupakan fenomena yang hanya dipengaruhi oleh perubahan motif dan inspirasi ekonomis kelas masyarakat penguasa sumberdaya saja, sedangkan Rostow memandang perubahan ekonomi pada dasarnya merupakan konsekuensi logis dari perubahan motif dan inspirasi non-ekonomi yang terjadi pada seluruh lapisan masyarakat. Demikian banyaknya kritik terhadap teori Rostow, sehingga tidak berlebihan bila dikatakan kritik-kritik tersebut melebihi teori Rostow itu sendiri. Sungguhpun demikian, harus diakui bahwa pola pemikiran maupun istilah-istilah Rostow telah mempengaruhi pola pemikiran di banyak negara sedang berkembang, termasuk di Indonesia. K. TEORI PEMBANGUNAN EKONOMI SIMON KUZNETS

179

Simon Kuznets27 adalah salah seorang penerima hadiah Nobel di bidang ekonomi. Sosok yang satu ini sangat produktif, berbagai karya yang dihasilkan banyak ditemui di hampir semua perpustakaan, khususnya perpustakaan di universitas-universitas yang menyelenggarakan pendidikan ekonomi. Ia terkenal karena karya-karyanya telah memberikan kontribusi yang sangat positip bagi perkembangan teori pembangunan ekonomi. Meskipun komite hadiah Nobel memberinya penghargaan karena karyanya di bidang pertumbuhan ekonomi dan struktur perubahan sosial, namun sebenarnya kontribusi terpenting dari karya Kuznets adalah dalam mengembangkan sistem akuntansi pandapatan nasional yang diterapkan semua negara untuk mengukur kegiatan ekonomi. Dalam hal ini Kuznets menyederhanakan pemahaman tentang pendapatan nasional itu sebagai penjumlahan dari nilai barang dan jasa (product) yang dihasilkan oleh keseluruhan perusahaan dalam ekonomi selama periode tertentu. Sebagaimana diketahui, karya Kuznets tidak hanya mengukur gejala ekonomi, melainkan juga berusaha mencari tahu akar penyebab pertumbuhan ekonomi dan perubahan kesenjangan pendapatan, mempelajari lingkaran pertumbuhan yang dilewati ekonomi, berusaha memahami konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi terhadap distribusi pendapatan, dan masih banyak lagi temuan-temuan yang lainnya. Kuznets sangat memahami bahwa pendapatan sebagai indikator kekayaan atau kesejahteraan memiliki keterbatasan. Mungkin itu sebabnya, dalam setiap kali menjelaskan metodologi yang dipakai menyusun pengukuran kegiatan ekonomi nasional dan beberapa masalah yang dihadapi dalam membuat estimasi, Kuznets selalu melakukannya dengan sangat hati-hati. Demikian halnnya ketika Kuznets membedakan barang akhir (final good) dengan barang perantara (intermediate good), dan menggunakan perbedaan ini untuk menghindari persoalan perhitungan ganda. Misalnya sebuah
Kuznets lahir di Pinsk (waktu itu menjadi bagian dari Uni Soviet, sekarang masuk wilayah Belarusia) pada Tahun 1901. Sejal awal Perang Dunia I, bersama orang tuan dan keluargaya ia pindah ke KHarkov, sebuah kota yang terkenal karena kehidupan intelektualnya. Setelah lulus dari sekolah umum lokal, Kuznets mendaftar di Universitas Kharkov. Di sanalah ia mempelajari ekonomi dan mengenal teori inovasi dan siklus bisnis dari Joseph Schumpeter. Ketika revolusi Rusia menutup universitas dan mengakibatkan perang sipil, keluarga Kuznets meninggalkan Rusia, ia kemudian pindah ke Turki dan akhirnya menetap di Amerika Serikat. Di tempat inilah Kuznets melanjutkan studinya di Columbia University, dan pada Tahun 1926 ia berhasil menamatkan studi doktoralnya. Setelah memperoleh gelar doktor, ia bekerja selama tiga tahun lamanya sebagai peneliti ekonomi di Biro Penelitian Ekonomi Nasional, kemudian ia menggeluti profesi sebagai dosen di Universitas Pennsylvania dengan berbagai jabatan yang dilakoninya. Selama hidupnya (1901-19855), banyak buku dan karya-karya akademik yang telah dihasilkan Kuznets: Cyclical Fluctuation and Variable Trade (1926); Scular Movements In Production and Prices (1930); National Income: Encylopedia of The Social Science (1933); National Income and Its Composition (1941); National Income; a summary of findings (1946); Propotion of Capital Formation to National Product (1952); Economic Growth and Income Inequality (1955); Economic Growth and Structure: Selected Essays (1965); Population, Capital and Growth (1973); Growth, Population and Income Distribution: Selected Essays (1979); dan masih banyak lagi karya-karya lainnya.
27

179

mobil, jelas bahwa mobil itu adalah barang jadi yang dijual ke konsumen, mobil itu dirakit dari barang-barang perantara seperti ban, kaca, mesin, rem, dan peralatan-peralatan lainnya. Untuk menghitung nilai ban yang dijual kepada pabrik otomotif dan juga nilai dari mobil keseluruhan, tentu nilai ban yang diproduksi akan terhitung dua kali. Untuk mendapatkan ukuran aktivitas ekonomi yang lebih akurat maka perlu mengurangi nilai semua bagian dari harga akhir mobil yang dijual kepada konsumen. Dengan mengambil perbedaan ini, atau menghitung nilai yang ditambahkan oleh pembuat mobil, pada akhirnya dapat ditetapkan standar pengukuran pendapatan nasional yang sampai sekarang prosedur ini masih dipakai dan terus dikembangkan28. Salah satu karya Kuznets mengenai pengukuran pendapatan nasional telah membawanya pada studi siklus bisnis, atau ekspansi dan kontraksi periodik dari aktivitas ekonomi. Dalam studi fluktuasi ekonominya, Kuznets (1930) menemukan siklus menengah dari pertumbuhan dan penurunan yang bertahan sekitar 20 tahun. Siklus ini kemudian dinamakan siklus Kuznets untuk menghormati penemuannya (Abramovitz, 1961). Kuznets berpendapat bahwa perubahan demografi dapat menjelaskan siklus 20 tahun ini. Peningkatan populasi dapat berasal dari gelombang imigrasi atau dari angka pertumbuhan kelahiran karena adanya keadaan ekonomi yang mendukung. Apapun penyebabnya, pertumbuhan populasi akan mengakibatkan permintaan yang lebih besar untuk barangbarang konsumen, khususnya perumahan. Tambahan permintaan mendorong investasi usaha tambahan. Hal ini, ditambah kemampuan untuk mengambil keuntungan dari ekonomi skala, berperan daam mempercepat pertumbuhan produktivitas. Akibatnya, standar hidup naik ketika populasi tumbuh. Tetapi warga yang baru ini segera menjadi bagian dari angkatan kerja yang besar, dan hal ini membawa pada tekanan penurunan upah. Saat upah jatuh, pengeluaran dan investasi juga turun, dan fase penurunaan siklus ekonomi dimulai. Kuznets (1953, 1955) menguji dampak pertumbuhan ekonomi terhadap distribusi pendapatan dan mempelopori pengukuran distribusi pendapatan. Dengan menggunakan data pajak pendapatan IRS dan data survei Biro Sensus Amerika Serikat, ia meneliti bagian dari total pendapatan yang diterima oleh setiap sepuluh kelompok pendapatan (10% penerima pendapatan teratas, 10% penerima

28 Kuznets sangat menyadari bahwa estimasi pendapatan nasional tidak memasukkan barang dan jasa yang tidak dipasarkan dan dijual. Misalnya, ketika rumahtangga memasak daging, menyiangi rumput, dan membersihkan rumah, sesungguhnya rumahtangga ini telah memproduksi barang dan jasa, tetapi barang dan jasa ini tidak dihitung dalam angka aktivitas ekonomi pemerintah. Demikian halnya dengan kegiatan illegal seperti prostitusi dan perdagangan obat bius, maka sulit atau tidak mungkin diukur sehingga tidak dapat dimasukkan dalam estimasi aktivitas ekonomi keseluruhan.

179

kedua, 10% penerima ketiga, dan seterusnya) untuk setiap tahun antara 1913 -1948. Kuznets (1953) 29 menemukan bahwa dalam masa perang, 1% populasi teratas dari penduduk Amerika menerima 15% dari seluruh pendapatan nasional dan 5% teratas dari penduduk Amerika menerima antara 25-30% dari semua pendapatan. Ia juga menemukan penurunan dalam kesenjangan pendapatan di Amerika pada masa dan setelah perang dunia II, dengan 1% teratas hanya mendapat 8,5% dari seluruh pendapatan dan 5% teratas menerima 18% dari total pendapatan. Siklus bisnis, menurut Kuznets, dapat menjelaskan perubahan ini. Pengangguran yang rendah pada masa dan setelah perang dunia II meningkatkan bagian dari pendapatan total yang jatuh ke tangan kelompok berpendapatan rendah. Pada saat yang sama suku bunga yang rendah dan pajak pendapatan yang tinggi mengurangi bagian pendapatan yang jatuh ke tangan kelompok yang paling kaya. Dengan melihat data selama jangka waktu yang panjang dan data dari berbagai negara, Kuznets (1955) menemukan bahwa pemerataan pendapatan mengikuti pola bentuk U, pola itu menurun pada tahap awal perkembangan ekonomi yang membuat keadaan orang miskin bertambah buruk, namun pola itu kemudian naik lagi pada tahap perkembangan selanjutnya dan karena itu menguntungkan mereka yang berpendapatan rendah. Kuznets mencurahkan perhatiannya pada faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan produktivitas. Hal ini merupakan perluasan dari fokusnya pada pertumbuhan ekonomi karena pertumbuhan ini bertkaitan dengan perpaduan efek dari produktivitas yang tinggi dan populasi yang besar. Dari kedua faktor ini pertumbuhan produktivitas jelas lebih penting, karena seperti yang ditunjukkan oleh adam smith, pertumbuhan produktivitas inilah yang akan menghasilkan peningkatan dalam standar kehidupan. Dengan mempelajari pertumbuhan produktivitas, Kuznets bisa menggabungkan minatnya pada perubahan dalam populasi, pada pembuatan estimasi empiris yang tepat, dan pada peningkatan standar hidup. Kuznets sangat menekankan pada perubahan dan inovasi teknologi sebagai cara meningkatkan pertumbuhan produktivitas. Ia (Kuznets, 1946) memperkirakan bahwa selama lebih dari 50 tahun tiga perlima keuntungan dalam produktivitas Amerika terkait dengan kemajuan teknologi dan dua perlimanya terkait dengan redistribusi tenaga kerja dari sektor yang kurang produktif ke sektor yang lebih produktif. Karena teknologi merupakan faktor yang lebih penting
29 Sebelum Kuznets, Nikolai Kondratieff (1925), seorang ahli ekonomi Rusia, mencatat bahwa eksistensi perputaran jangka panjang berlangsung antara 45-60 tahun. Dengan menguji beberapa ratus tahun dari data harga untuk Amerika, Perancis dan Jerman (ditambah data produksi besi, batu bara, dan produk-produk lain di seluruh dunia), Kondratieff memperhatikan bahwa ada periode reguler sepanjang 20-30 saat harga naik dan periode 20-30 tahun saat harga turun. Perubahan ekonomi jangka panjang ini dinamakan gelombang kondratieff. Perputaran yang lebih singkat sekitar 10 tahun, dihubungkan dengan perubahan dalam investasi bisnis.

179

secara historis, dan karena redistribusi tenaga kerja menjadi kurang penting. Ketika orang Amerika yang bekerja di pertanian semakin kurang, maka ia berpendapat bahwa usaha untuk meningkatkan produktivitas harus difokuskan pada terobosan dan kemajuan teknologi. Terakhir, bagaimanapun Kuznets telah mengembangkan cabang pengetahuan substansial tentang pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Dari karyanya, Kuznets juga telah menghasilkan jumlah data yang sangat besar yang dapat diuji oleh para ahli ekonomi. Dan karya tersebut juga membuat pemerintah dapat menyusun dan melaporkan data ekonomi makro berdasar basis reguler. L. TEORI PEMBANGUNAN EKONOMI SOLOW Robert M. Solow (1956) dalam tulisannya yang berjudul Contribution to the Theory of Economic Growth, menyederhanakan teori pembangunan ekonomi sebagai sebuah model fungsi produksi. Dalam model ini dioperasikan beberapa faktor produksi seperti modal (Capital=C), tenaga kerja (Labour=L), sumberdaya alam (Natural Resources=N), dan perkembangan teknologi dalam perjalanan waktu (Technology=T), yang selanjutnya diformulasikan sebagai berikut: Y= (C, L, N, T) ...... (18)

Dari model persamaan (18), jika diasumsikan sumberdaya alam (N) adalah konstan, seperti tanah menjadi terbatas adanya dalam keadaan tertentu dan selama beberapa waktu, sedangkan di pihak lain modal dan tenaga kerja bertambah disertai oleh kemajuan teknologi, maka perubahan pada hasil produksi (pendapatan) dapat dinyatakan dalam rumus perubahan faktor-faktor sebagai berikut; Y= v.C + w. L + Y ...... (19)

Dari model persamaan (19), v menunjukkan produktivitas marjinal modal, w menunjukkan produktivitas marjinal tenaga kerja dan Y mencerminkan peningkatan produksi yang berkaitan dengan perkembangan teknologi. Mengenai produktivitas marjinal modal v, ini berbeda pengertiannya dengan incremental capital-output ratio (C/ Y). Sebab v menunjukkan peningkatan hasil produksi berkenaan dengan tambahan satuan (unit) modal, dengan semua faktor produksi lainnya dalam kondisi ceterus peribus. Kondisi seperti ini tidak berlaku dalam hal incremental capital-output ratio (ICOR). Karena, perubahan hasil produksi terjadi bisa disebabkan oleh adanya perubahan pada semua faktor produksi, masing-masing dan atau secara bersamaan. Perbedaan yang serupa juga berlaku antara produktivitas marjinal dari tenaga kerja denga labour output ratio.

179

Laju pertumbuhan produksi dan pendapatan dalam kerangka analisis Neo-Klasik dapat dinyatakan sebagai laju pertumbuhan seluruh faktor produksi yang terlibat dalam proses produksi: g = Y/Y = v C/Y. C/C + w.L/Y. L/L + Y/Y ...... (20)

Dalam hal ini, Y/Y, C/C, L/L, dan Y/Y mewakili laju pertumbuhan secara proporsional pada pendapatan, modal, tenaga kerja dan kemajuan teknologi. Lebih lanjut, v C/Y mencerminkan elastisitas produksi terhadap modal, dan w.L/Y menunjukkan elastisitas produksi terhadap perubahan tenaga kerja. Dalam model Neo-Klasik, angkatan kerja bertambah dengan laju yang konstan dan ditentukan oleh kekuatan-kekuatan yang bersifat eksogen. Dengan kata lain penduduk dan angkatan kerja yang bertambah dengan tingkat yang konstan itu tidak peka terhadap dan tidak dipengaruhi oleh faktorfaktor kekuatan ekonomis. Pendapat ini adalah sama seperti dalam model Harrod dan model Domar. Berbeda halnya dengan investasi, akumulasi cadangan modal dengan adanya investasi baru dalam konsep Neo-Klasik tidak tergantung dari keputusan investasi secara tersendiri. Artinya dalam model Neo-Klasik tidak dimasukkan fungsi investasi dimana investasi ditentukan oleh serangkaian faktor determinan seperti tingkat bunga, perkiraan tingkat laba di masa depan, dan lain sebagainya. Tabungan dianggap akan tersalur secara otomatis dan seluruhnya sebagai investasi. Hal yang penting ialah adanya hasrat untuk menabung. Keputusan untuk menabung dianggap identik dengan keputusan untuk investasi. Dalam kerangka pemikiran ini, tidak akan ada penyimpangan investasi ex-post (yang sama dengan tabungan ex-post) dari investasi ex-ante, ataupun sebaliknya. Perbedaan yang bersifat mendasar antara pendekatan Neo-Keynes (Harrod-Domar) dan pendekatan Neo-Klasik terletak pada saran pendapat bahwa tabungan akan tersalur secara otomatis dan seluruhnya sebagai investasi; tanpa adanya fungsi investasi yang terlepas dari fungsi tabungan. Selain itu, terdapat perbedaan mengenai serangkaian postulat yang menyangkut persaingan bebas, fleksibilitas dan mobilitas faktor-faktor produksi serta kemungkinan substitusi diantara faktor-faktor produksi yang bersangkutan seperti yang telah disinggung di atas. Sejalan dengan pemikiran Harrod-Domar sebagaimana dijelaskan di atas, maka begitu pula dalam model Solow, dibeberkan beberapa postulat yang mendasari model Solow, baik postulat itu terungkap secara tersurat ataupun secara tersirat.
1) Tabungan dianggap identik dengan investasi. Tidak ada fungsi investasi secara tersendiri dan

tabungan secara otomatis menjadi tambahan pada cadangan modal;

179

2) Tabungan dianggap bagian proporsional dari pendapatan; S=sY dan s (saving ratio) = S/Y. Dalam

hal ini persamaan dengan Model Harrod.


3) Investasi neto adalah sama dengan tingkat pertambahan pada cadangan modal: I=C. Oleh

karena investasi identik dengan tabungan, maka: I = C = S = sY;


4) Angkatan kerja bertambah dengan laju yang konstan dan proporsional, yaitu n yang bersifat

eksogen: L/L = n;
5) Perkembangan ekonomi berdasarkan fungsi produksi yang kontinu dan ditandai oleh imbalan jasa

yang konstan dan sepadan dengan skala produksi (canstant returns to scale): Y=(C,L). Pendapat mengenai constant return to scale itu berimplikasi terhadap hasil produksi per tenaga kerja menjadi fungsi dari jumlah modal per tenaga kerja; Y/L = (C,L). Jelas di sini bahwa postulat mengenai fungsi produksi yang kontinu berdasarkan constant returns itu berbeda sekali secara mendasar dari konsep perimbangan-perimbangan tetap (fixed coefficients) di antara faktorfaktor produksi sebagaimana hal itu digunakan dalam Model Harrod dan Model Domar. Selain itu, Solow juga menyederhanakan gagasan Harrod dan Domar dengan menghindarkan permasalahan yang terkait dengan kemungkinan ketimpangan antara tabungan ex-ante dan investasi ex-ante. Solow berpangkal pada pendapat bahwa segenap tabungan secara otomatis akan tersalurkan sebagai investasi. Dalam modelnya sama sekali tidak ada peranan bagi perilaku investor dengan ekspektasinya tentang masa depan sehingga juga tidak ada fungsi investasi secara independen. Persamaan dasar model Neo-klasik berbeda dari apa yang terkandung dalam model Harrod. Perhatian Solow sebenarnya berkisar pada capital-labour ratio, C/L, nisbah pertambahan modal terhadap bertambahnya tenaga kerja. Hasil produksi per tenaga kerja dianggap sebagai fungsi dari modal per tenaga kerja: Y/L = (C,L). Masalah mendasar di sekitar peranan capital-labour ratio dalam perkembangan waktu: meningkat atau menurun ataukah tetap konstan? Hal itu satu sama lain menjadi penting untuk menunjukkan ciri-ciri pokok pada laju pertumbuhan semua variabel dalam proses ekonomi. Dari pemikiran Solow di atas beserta persamaan dasarnya dan dengan latar belakang sejumlah postulat yang diungkapkan sebelumnya, kini ditonjolkan salah satu kesimpulan pokok dalam gagasan Solow bahwa proses pertumbuhan pada hakekatnya adalah stabil dan berlangsung dalam keadaan equilibrium. Dalam struktur ekonomi sendiri terkandung kekuatan-kekuatan yang masingmasing dan secara bersamaan bergerak secara konvergen ke arah laju pertumbuhan yang memadai equilibrium dengan kestabilan dalam perkembangan ekonomi.

179

Melalui proses interaksi antara tingkat tabungan (investasi) per tenaga kerja dengan tingkat capital labour ratio dan berdasarkan postulat tentang mobilitas faktor-faktor produksi beserta substitusi di antara faktor-faktor produksi, oleh para pakar Neo-Klasik ditekankan adanya mekanisme dalam proses ekonomi yang memungkinkan konvergensi kekuatan-kekuatan ekonomi pada laju pertumbuhan dalam keadaan equilibrium. Dalam pada itu, diakui oleh sementara kalangan NeoKlasik sendiri bahwa proses demikian memang bisa memakan waktu yang cukup lama. Dalam konteks ekonomi, pertumbuhan yang stabil seperti diungkapkan oleh Solow dan para pengikutnya, perhatikan lagi postulatnya mengenai fungsi produksi yang berdasarkan constant return to scale. Hal ini berlainan sekali dengan postulat dalam Model Harrod mengenai fungsi produksi berdasarkan fixed coeficients. Satu sama lain membawa ramifikasi yang berbeda bagi perkembangan pemikiran dalam masing-masing model (sebagai konsekuensi dari konsistensi logika internal). Dalam model Neo-Klasik, konsep capital-output ratio tidak mengandung ciri besaran yang konstan, melainkan ada berbagai tingkat capital-output ratio. Hal yang konstan adalah capital-labour ratio, berbeda dengan kerangka analisis NeoKeynes berdasarkan fungsi produksi dengan fixed coefficients, memandang konsep capital-labour ratio sebagai besaran yang konstan. M.TEORI DEPENDENSI Teori dependensi merupakan antitesis dari teori modernisasi. Teori ini memberi kritik tajam terhadap arus pemikiran utama persoalan pembangunan yang didominasi oleh teori modernisasi.Teori dependensi dengan tegas menyatakan bahwa hambatan pembangunan justru disebabkan oleh intervensi dari negara-negara maju di Barat. Misalnya, berbagai bantuan dari negaranegara maju di Barat, apapun bentuk dan tujuannya serta berapapun jumlahnya, dianggap telah turut menciptakan berbagai ketergantungan baru bagi negara-negara terbelakang kepada negara-negara maju di Barat. Teori dependensi muncul setelah teori modernisasi diterapkan di banyak negara terbelakang. Teori ini memberikan perhatian pada persoalan keterbelakangan, lambannya pembangunan dan ketergantungan dari negara terbelakang, khususnya di Amerika Latin. Teori ini juga mencermati keterkaitan negara terbelakang dengan negara-negara maju di Barat sebagai bentuk hubungan yang tak berimbang dan karenanya hanya menghasilkan akibat yang merugikan negara terbelakang. Pengamatan yang dilakukan oleh para ahli sejarah telah memberikan gambaran penting serta bukti empirik terhadap kegagalan teori modernisasi. Fakta sejarah menunjukkan bahwa syahwat ekonomi

179

yang begitu besar dari negara-negara maju di Barat untuk menguasai sumberdaya-sumberdaya ekonomi, meyakinkan negara-negara terbelakang bahwa negara-negara maju di Barat akan selalu menindasnya dengan berusaha menjaga aliran surplus ekonomi dari negara-negara terbelakang ke negara-negara maju di Barat. Oleh karena itu, teori ini dengan tegas menantang hegemoni ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari negaranegara maju di Barat30. Kerangka teori dependensi pada mulanya merupakan paradigma pembangunan yang khas di Amerika Latin. Hal ini tidak terlepas dari keberadaan Komisi Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Amerika Latin (KEPBBAL) yang selanjutnya dikenal sebagai Manifesto KEPBBAL. Namun karena kebijaksanaan KEPPBBAL ini kurang mendapat respons dan dukungan dari Pemerintah Amerika Latin, menyebabkan program-program KEPBBAL tidak berhasil dan tidak mampu merealisasikan beberapa gagasan lainnya yang lebih radikal, termasuk diantaranya program pembagian tanah. Akibatnya, stagnasi ekonomi tak dapat dihindari dan represi politik muncul secara meluas kepermukaan pada tahun 1960-an. Ketika itu ditunjukkan dan dijelaskan berbagai kelemahan dari kebijaksanaan industralisasi subsitusi impor (ISI) yang dijalankan oleh Amerika Latin. Salah satu kelemahan dari kebijaksaan ISI ini adalah tidak efektifnya mengurangi ketergantungan terhadap impor, karena impor terhadap barang-barang modal tak dapat dihadiri. Sementara, barang-barang ekspor konvensional tidak terperhatikan lagi dalam suasana hiruk pikuk industrialisasi. Akibatnya, hampir bersamaan waktunya muncul masalah-masalah yang akut pada neraca pembayaran di hampir semua negara terbelakang, dan optimisme pertumbuhan berganti dengan depresi yang mendalam. Ketika Prebisch menjabat ketua KEPBBAL, Ia pernah memberikan kritik tajam tentang keusangan konsep pembagian kerja internasional (international division of labour/IDL). Menurut skema IDL, Amerika Latin akan memperoleh banyak keuntungan apabila di satu pihak lebih memfokuskan pada upaya memproduksi bahan pangan dan bahan mentah yang diperlukan oleh
Konsep hegemoni yang dikembangkan oleh Antonio Gramsci menyimpulkan bahwa budaya Barat sangat dominan terhadap budaya di negara-negara berkembang, sehingga negara berkembang terpaksa mengadopsi budaya Barat. Dalam konteks pembangunan, konsep Gramsci memang sangat dekat dengan dasar pemikiran teori dependensi (Cardoso), termasuk imperialisme struktural (Johan Galtung) dan imperialisme kultural (Herbert Schiller).Model-model pembangunan tersebut gagal karena empat faktor: 1) Proses diferensiasi di dunia ketiga sendiri, terutama kesuksesan ekonomi beberapa negara berkembang dengan menggunakan strategi yang berorientasi pada pasar dunia, justru menentang kesimpulan-kesimpulan utama teori hegemoni dan dependensi (Rullmann 1996); 2) Teori-teori tersebut memanfaatkan sebuah perspektif global dan dengan demikian tidak menyadari adanya ketidakseimbangan sosial, struktur patrimonial dan eksploitasi di negara-negara berkembang sendiri (Servaes, 1995); 3) Teori hegemoni dan dependensi ternyata gagal dalam mengusulkan solusi-solusi yang bermanfaat dalam konteks global (ibid); dan 4) Referensi historis yang mengarah kepada masa penjajahan dan hegemoni ekonomi global sebagai sebab kemacetan perkembangan di sebagian Dunia Ketiga harus dilihat sebagai hal yang sangat problematis. Perlu kita ingat bahwa Afghanistan misalnya, yang tidak pernah dijajah oleh negara Barat, sampai sekarang tetap tidak mampu berkembang, dilihat tidak hanya dari perspektif model demokrasi Barat.
30

179

negara-negara industri. Di lain pihak, negara-negara industrri tersebut menyediakan keperluan barang-barang industri yang dibutuhkan Amerika Latin. Pada garis besarnya, Prebisch mengajukan gagasan dasar bahwa pembagian kerja internasional yang hanya menguntungkan negara industri harus dihentikan, dan Amerika Latin harus melakukan pembangunan industri untuk menjamin kebutuhan dalam negeri, disamping tetap memperhatikan dan menjaga, paling tidak untuk sementara, kemampuan ekspor bahan pangan dan bahan mentahnya. Gagasan Prebisch ini tampaknya disambut baik oleh pemerintah Amerika latin dan diimplementasikan melalui serangkaian kebijakan-kebijakan ekonominya. Namun faktor rendahnya daya beli masyarakat menyebabkan pasar domestik tidak mampu menunjukkan ekspansinya, meskipun barang-barang kebutuhan dalam negeri telah tersedia dalam jumlah yang cukup. Ringkanya, teori dependensi lahir sebagai paradigma baru untuk memberikan jawaban atas kegagalan program KEPBBAL, krisis teori marxis ortodoks, dan menurunnya kepercayaan terhadap teori modernisasi di Amerika Serikat. Kehadiran teori dependensi tentunya harus dapat menguraikan berbagai kelemahan teori modernisasi dan menawarkan pendapat baru yang mampu menutup berbagai kelemahan tersebut. Sebagaimana diketahui, para penganut aliran teori dependensi cenderung menggunakan asumsi dasar: i) kondisi ketergantungan dilihat sebagai suatu gejala yang sangat umum, berlaku bagi seluruh negara Dunia Ketiga; ii) ketergantungan dilihat sebagai kondisi yang di akibatkan oleh faktor luar; iii) ketergantungan lebih dilihat sebagai masalah ekonomi yang terjadi akibat mengalirnya surplus ekonomi dari negara dunia ketiga ke negara maju; iv) ketergantungan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses polarisasi regional ekonomi global; dan v) kondisi ketergantungan dilihat sebagai suatu hal yang mutlak bertolak belakang dengan pembangunan. Dalam konteks ini, pemahaman terhadap sejarah ekonomi, sosial dan politik menjadi suatu hal yang penting untuk menentukan kebijakan pembangunan suatu negara. Dalam hal ini penciri (karakteristik) suatu negara dapat dikaji dari perspektif historis, dan pendekatan pembangunan yang ditempuh oleh banyak negara terbelakang hingga saat ini tidak terlepas dari pengalaman sejarah negara maju yang kapitalis seperti negara-negara Eropa dan Amerika Utara. Namun perbedaan sejarah antara negara maju dan negara bekas koloni atau daerah jajahan tetap ada dan bahkan sangat mendasar sehingga menyebabkan struktur sosial masyarakatnya juga berbeda. Dari perdebatan panjang mengenai teori dependensi, disimpulkan ada enam inti pembahasan:

179

(1) pembahasan menyeluruh melalui pendekatan kasus: gejala ketergantungan dianalisis dengan

pendekatan menyeluruh yang memberi tekanan pada sistem dunia. Dalam pendekatan ini, ketergantungan adalah akibat dari proses kapitalisme global, yang menempatkan negara pinggiran hanya sebagai pelengkap;
(2) faktor eksternal versus faktor internal: para pengikut teori dependensi tidak sependapat dalam

penekanan terhadap kedua faktor ini. Ada yang beranggapan faktor eksternal lebih ditekankan, seperti Frank Des Santos. Sebaliknya ada yang menekankan faktor internal sebagai penyebab munculnya ketergantungan, seperti Cordosa dan Faletto;
(3) analisis ekonomi versus analisis sosio politik: Raul Plebiech memulai analisisnya dengan

menggunakan analisis ekonomi dan penyelesaian yang ditawarkannya juga bersifat ekonomi. Andre Gunder Frank seorang ekonom, dalam analisisnya memakai disiplin ilmu sosial, terutama sosiologi dan politik. Dengan demikian teori dependensi dimulai sebagai masalah ekonomi kemudian berkembang menjadi analisis sosial politik dimana analisis ekonomi hanya merupakan bagian dari pendekatan yang multidisipliner dan interdisipliner. Analisis sosiopolitik menekankan pada analisis kelas, kelompok sosial dan peran pemerintah di negara pinggiran;
(4) analisis kontradiksi regional: salah satu kelompok penganut teori dependensi sangat

menekankan analisisnya tentang hubungan negara-negara pusat dengan pinggiran. Tokoh yang banyak bergulat dalam pembahasan ini adalah Andre Gunder Frank. Sedangkan kelompok lainya menekankan analisis kelas, seperti Cardoso;
(5) keterbelakangan versus pembangunan: teori dependensi sering disamakan dengan teori

tentang keterbelakangan dunia ketiga. Para pemikir teori dependensi seperti Dos Santos, Cardoso, dan Evans menyatakan bahwa ketergantungan dan pembangunan bisa berjalan seiring. Yang perlu dijelaskan adalah sebab, sifat dan keterbatasan dari pembangunan yang terjadi dalam konteks ketergantungan; dan
(6) voluntarisme versus determinisme: penganut marxis klasik melihat perkembangan sejarah

sebagai suatu yang deterministik. Masyarakat akan berkembang sesuai tahapan dari feodalisme ke kapitalisme dan akan menuju ke sosialisme. Penganut Neo Marxis seperti Frank kemudian mengubahnya melalui teori dependensi. Menurutnya kapitalisme negara-negara pusat berbeda dengan kapitalisme negara pinggiran. Kapitalisme negara pinggiran adalah keterbelakangan karena itu perlu di ubah menjadi negara sosialis melalui sebuah revolusi. Dalam hal ini Frank adalah penganut teori voluntaristik.

179

Selanjutnya, pembahasan mengenai teori dependensi akan difokuskan pada teori dependensi klasik, dan teori dependensi baru. Masing-masing teori ini memiliki latar belakang pemikiran serta pendekatan analisis yang berbeda sebagai berikut:
1. Teori Dependensi Klasik

Sejak tahun 1970-an, teori dependensi klasik telah demikian banyak menerima kritik. Pada dasarnya kritik tersebut dialamatkan kepada kelemahan-kelemahan yang terkandung dalam metode kajian, konsep, dan implikasi kebijakan yang selama ini dimiliki oleh teori dependensi klasik. Namun tidak serta merta para pendukung teori dependensi klasik menerima kritik tersebut. Justeru sebaliknya, teori dependensi menuduh ajaran teori modernisasi tidak lebih dari sekadar akrobat akademik yang berusaha memberikan pembenaran ilmiah dari ideologi negara-negara maju untuk mengeksploitasi negara-negara terbelakang. Implikasi kebijakan teori dependensi klasik secra filosofis, menghendaki untuk meninjau kembali pengertian pembangunan. Teori dependensi menyadari sepenuhnya, bahwa para penguasa yang telah mapan, pemilik modal besar, petani kaya dan tuan tanah, para pemimpin organisasi keagamaan, pemimpin informal msayarakat, serta para elit yang lain kemungkinan besar tidak akan menyetujui kebijakan pembangunan yang mencoba untuk memutuskan hubungan dengan negara maju yang selama ini telah terbina dengan baik, sebagai akibat dari telah demikian erat keterkaitan kepentingan politik-ekonomi mereka dengan kepentingan negara maju. Ketergantungan dan keterbelakangan Indonesia mencerminkan kerakteristik yang khas teori dependensi dalam usahanya menguji persoalan pembangunan Dunia Ketiga. Dari padanya diharapkan dapat dilihat secara lebih jelas dan oleh karena itu dapat dicari kekuatan teori dependensi dalam mengarahkan pola pikir peneliti, para perencana kebijaksanaan, dan pengambil keputusan untuk mengikuti tesis-tesis yang diajukan. Sejak dari awal penjelasannya, teori dependensi telah secara tegas dan detail menguraikan akibat buruk dari kolonialisme dan pembagian kerja internasional. Teori ini berpendapat, selama hubungan pertukaran yang tidak berimbang tetap bertahan sebagai landasan hubungan internasional, maka ketergantungan negara dunia ketiga tetap tak terselesaikan. Maka dari itu, teori ini mengajukan usulan yang radikal untuk mengubah situasi ketimpangan ini, yakni dengan revolusi sosialis. 2. Teori Dependensi Baru

179

Teori dependensi baru telah mengubah berbagai asumsi dasar yang dimiliki oleh teori dependensi klasik. Teori ini tidak lagi menganggap situasi ketergantungan sebagai suatu keadaan yang berlaku umum dan memilki karakteristik yang serupa tanpa mengenal batas ruang dan waktu. Situasi ketergantungan juga tidak lagi semata disebabkan oleh faktor eksternal, lebih dari itu, teori dependensi baru ini tidak memberlakukan lagi situasi ketergantungan sebagai persoalan ekonomi yang akan mengakibatkan adanya polarisasi regional dan keterbelakangan. Ketergantungan, menurut teori yang telah diperbaharui ini lebih dikonsepkan sebagai sesuatu yang memiliki batas ruang dan waktu. Karenanya selalu memiliki ciri yang unik. Dengan kata lain, situasi ketergantungan merupakan situasi yang memiliki nilai kesejarahan yang khas. Lebih dari itu, faktor internal memilki andil lahirnya suasana ketergantungan, dan oleh karenanya ketergantungan juga merupakan persoalan politik sosial. Dari uraian di atas dapat distrukturkan beberapa persamaan dan perbedaan dari kedua teori tersebut sebagai berikut: Tabel 2. 5 Persamaan dan Perbedaan Teori Dependensi Klasik dengan Teori Dependensi Baru
1 Persamaan pokok perhatian 2 Level analisis 3 Konsep pokok implikasi 4 Kebijakan 5 Perbedaan metode 6 Faktor pokok TEORI DEPENDENSI KLASIK Negara dunia ketiga Nasional Sentral-pinggiran Ketergantungan Ketergantungan bertolak belakang dengan pembangunan Abstrak pola umum ketergantungan TEORI DEPENDENSI BARU Sama Sama Sama Sama Historis-struktural situasi konkrit ketergantungan Internal negara dan konflik kelas Fenomena sosial Koeksistensi Pembangunan yang bergantung

Eksternal kolonialisme dan ketidakseimbangan nilai tukar 7 Ciri-ciri politik ketergantungan Fenomena ekonomis 8 Pembangunan dan Bertolak-belakang ketergantungan Hanya menuju pada keterbelakangan

Dengan perubahan pendekatan seperti yang telah diuraikan, tidak heran jika teori dependensi baru telah melahirkan berbagai kategori ilmiah baru yang sebelumnya tidak dimiliki oleh teori dependensi klasik seperti misalnya pembangunan yang bergantung, negara birokratik otoriter, aliansi tiga kelompok pembangunan yang dinamis. Sebagai akibatnya, pemaknaan baru ini telah mampu membuka jendela untuk melihat persoalan baru, atau paling tidak dengan pisau analisis baru, yang

179

pada gilirannya telah menghasilkan tidak sedikit karya penelitian baru yang menguji secra lebih teliti persoalan pembangunan dan ketergantungan di negara-negara terbelakang. Sebagaimana diketahui bahwa teori dependensi berpangkal pada teori-teori imperialisme dan kolonialisme yang dipelopori oleh Raul Presbich, Andre Gunder Frank, dan Theotonia Dos Santos. Pandangan dari masing-masing teori tersebut diuraikan sebagai berikut. 1) Teori Raul Presbich tentang industri substitusi import Dalam konteks teori pembangunan ekonomi, di dunia ini terdapat dua kelompok negara, yaitu (i) negara yang memproduksi hasil pertanian, dan (ii) negara yang memproduksi barang industri. Antara kedua kelompok negara tersebut kemudian melakukan hubungan dagang, dan menjalin kerjasama yang saling menguntungkan31. Presbich menentang pandangan mengenai pembagian kerja internasional dan adanya keuntungan komparatif. Menurutnya negara-negara di dunia ini terbagi menjadi dua, yaitu negara maju yang menghasilkan barang-barang produksi dan negara terbelakang yang memproduksi hasil pertanian. Dua negara ini saling berhubungan dan seharusnya saling diuntungkan. Namun yang terjadi negaranegara terbelakang semakin tertinggal bila dibanding dengan negara-negara maju. Hal ini disebabkan oleh menurunnya nilai tukar barang-barang hasil pertanian terhadap barang hasil produksi. Akibatnya terjadi defisit pada neraca perdagangan di negara-negara terbelakang. Indonesia adalah salah satu contoh negara yang menjadi korban atas pembagian kerja internasional dan adanya keuntungan komparatif tersebut, sehingga semakin tertinggal dibanding dengan Jepang dan negara-negara lain yang telah lebih maju industrinya.

2) Teori Andre Gunder Frank tentang Pembangunan Keterbelakangan

Menurut Gunder Frank, ketertinggalan dan kemiskinan di negara-negara terbelakang bukanlah sebuah gejala alamiah dan bukan pula karena kekurangan modal. Ketertinggalan dan kemiskinan merupakan akibat dari proses ekonomi, politik dan sosial sebagai implikasi dari

Kesimpulan ini dibangun berdasarkan teori pembagian kerja secara tradisional, dan teori keuntungan komparatif yang dimiliki oleh masing-masing Negara.

31

179

globalisasi dan sistem kapitalis. Dalam hal ini, kemiskinan di negara-negara terbelakang disebabkan oleh adanya pembangunan di negara-negara maju. Selanjutnya, Gunder Frank membagi negaranegara menjadi dua yaitu negara metropolis dan negara satelit. Negara metropolis bekerjasama dengan elit lokal negara satelit untuk melakukan dominasi di negara satelit. Gunder Frank menyajikan lima tesis tentang dependensi: (i) terdapat kesenjangan pembangunan antara negara metropolis dan satelitnya, pembangunan pada negara satelit sangat terkendala oleh status negara satelit; (ii) kemampuan negara satelit dalam pembangunan ekonomi terutama pembangunan industri kapitalis meningkat pada saat ikatan terhadap negara metropolis sedang melemah. Tesis ini merupakan antitesis dari teori modernisasi yang menyatakan bahwa kemajuan negara satelit hanya dapat dilakukan melalui hubungan dan difusi dengan negara metropolis. Tesis ini juga dapat dijelaskan dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu isolasi temporer yang disebabkan oleh krisis perang atau melemahnya ekonomi dan politik negara metropolis. Frank megajukan bukti empirik untuk mendukung tesisnya ini yaitu pada saat Spanyol mengalami kemunduran ekonomi pada abad 17, perang Napoleon, perang dunia pertama, kemunduran ekonomi pada Tahun 1930 dan perang dunia kedua telah menyebabkan pembangunan industri yang pesat di Argentina, Meksiko, Brasil dan Chili. Pengertian isolasi yang kedua adalah isolasi secara geografis dan ekonomi yang menyebabkan ikatan antara metropolis-satelit menjadi melemah dan kurang dapat menyatukan diri pada sistem perdagangan dan ekonomi kapitalis; (iii) negara terbelakang dan terlihat feodal saat ini merupakan negara yang memiliki kedekatan ikatan dengan negara metropolis pada masa lalu. Frank menjelaskan, pada negara satelit yang memiliki hubungan sangat erat telah menjadi sapi perah bagi negara metropolis. Negara satelit tersebut hanya sebatas sebagai penghasil produk primer yang sangat dibutuhkan sebagai modal dalam sebuah industri kapitalis di negara metropolis; (iv) kemunculan perkebunan besar di negara satelit sebagai usaha pemenuhan kebutuhan dan peningkatan keuntungan ekonomi negara metropolis. Perkebunan yang dirintis oleh negara pusat ini menjadi cikal bakal munculnya industri kapitalis yang sangat besar yang berdampak pada eksploitasi lahan, sumberdaya alam dan tenaga kerja negara satelit; dan (v) eksploitasi yang menjadi ciri khas kapitalisme menyebabkan menurunnya kemampuan berproduksi pertanian di negara satelit. Ciri pertanian subsisten pada negara satelit menjadi hilang dan diganti menjadi pertanian yang kapitalis.

179

Beberapa pendapat yang disampaikan Frank sangat kental dengan nuansa pemikiran Marx tentang kapitalisme dan eksploitasi. Frank memperkuat pendapatnya dengan menunjukkan buktibukti empirik dan menggunakan metode historis struktural. Bukti empirik yang dikumpulkan Frank berupa hasil penelitian sejarah perkembangan sosial dan ekonomi negara-negara Amerika Latin.
3) Teori Theotonia Dos Santos tentang Struktur Ketergantungan

Menurut Dos Santos bahwa negara-negara satelit itu merupakan negara bayangan dari negara metropolis. Dalam hal ini, ketika negara metropolis mengalami kemajuan maka negara satelit akan maju pula. Begitu juga sebaliknya ketika negara metropolis mengalami krisis maka negara satelit akan terkena dampaknya. Akan tetapi kemajuan dan atau kemiskinan tersebut bukanlah indikator pembangunan di negara satelit, karena hal itu hanyalah refleksi dari negara metropolis saja. Bagaimanapun juga negara satelit tetap tenggelam dalam ketergantungan terhadap negara metropolis. Pandangan ini bertentangan dengan pendapat Frank yang menyatakan hubungan negara satelit dengan negara metropolis selalu bersifat parasitisme atau merugikan negara satelit. Namun menurut Santos, hubungan tersebut tidak selamanya besifat negatif. Walaupun hanya sebagai refleksi negara metropolis, Santos juga menyatakan bahwa negara satelit bisa juga berkembang, meskipun perkembangan ini merupakan perkembangan yang tergantung, atau perkembangan ikutan. Simpul dan dinamika perkembangan ini tidak datang dari negara satelit, tetapi dari negara induknya. Contoh konkritnya adalah negaranegara persemakmuran Inggris yang berkembang menjadi negara maju. Dalam teori dependensi, terdapat dua pendapat yang berbeda: 1) struktur ketergantungan yang ada di negara satelit tidak akan memungkinkan negara ini melakukan pembangunan, khususnya industrialisasi; dan 2) pembangunan dan industrialisasi yang terjadi merupakan bayangan dari apa yang terjadi di negara-negara metropolis. Ditegaskan lebih lanjut bahwa bentuk dasar ekonomi dunia memiliki aturan-aturan perkembangannya sendiri, tipe hubungan ekonomi yang dominan di negara-negara metropolis adalah kapitalisme sehingga menyebabkan munculnya usaha melakukan ekspansi keluar dan tipe hubungan ekonomi pada negara satelit merupakan bentuk ketergantungan yang dihasilkan oleh ekspansi kapitalisme oleh negara-negara metropolis. Sebagaimana diketahui bahwa keterbatasan sumber daya pada negara-negara maju mendorong mereka untuk melakukan ekspansi besar-besaran ke negara-negara terbelakang yang melimpah kekayaan alamnya. Pola ekpansi yang dilakukan memberikan dampak negatif berupa

179

adanya ketergantungan yang dialami oleh negara-negara terbelakang. Negara-negara ini akan selalu menjadi negara yang terbelakang dalam pembangunan karena tidak dapat mandiri serta selalu tergantung dengan negara maju. Negara maju identik menjadi negara pusat, sedangkan negara terbelakang menjadi satelitnya. Konsep inilah yang lebih dikenal dengan istilah pusat - periferi. Dalam hubungan ini, Santos mengajukan tesis tentang pembagian ketergantungan menjadi tiga jenis yaitu ketergantungan kolonial, ketergantungan industri keuangan dan ketergantungan teknologi industri. Ketergantungan kolonial merupakan bentuk ketergantungan yang dialami oleh negara jajahan. Ketergantungan kolonial merupakan bentuk ketergantungan yang paling awal dan kini telah dihapuskan. Sedangkan ketergantungan industri keuangan yang lahir pada akhir abad 19, menjadikan ekonomi negara tergantung, lebih terpusat pada ekspor bahan mentah dan produk pertanian. Ekspor bahan mentah menyebabkan terkurasnya sumber daya negara, sementara nilai tambah yang diperoleh kecil. Sumbangan pemikiran Santos terhadap teori dependensi sebenarnya berada pada bentuk ketergantungan teknologi industri. Dampak dari ketergantungan ini terhadap negara terbelakang adalah ketimpangan pembangunan, ketimpangan kekayaan, eksploitasi tenaga kerja, dan terbatasnya perkembangan pasar domestik negara terbelakang itu sendiri.
3. Perbandingan Teori Modernisasi dengan Teori Dependensi

Kedua teori ini berbeda dalam memberikan jalan keluar terhadap persoalan pembangunan dan ketertinggalan negara-negara terbelakang. Teori modernisasi berpandangan bahwa industrialisasi perlu dipercepat dengan cara memproduksi sendiri kebutuhan barang-barang dalam negeri untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan sama sekali beban penyediaan devisa negara yang selama ini diperlukan untuk membayar impor barang-barang tersebut. Strategi industrialisasi ini pada awalnya ditempuh dengan memberikan proteksi kepada industri dalam negeri dan mengenakan tarif yang tinggi terhadap barang-barang luar negeri (import), sedemikian rupa sehingga kemampuan bersaing dari industri dalam negeri meningkat dan dianggap telah mampu untuk bersaing. Pada saat itulah industri dalam negeri sudah saatnya beroperasi dan bersaing tanpa adanya proteksi. Dari berbagai perbedaan yang berhasil dikaji, maka dapat distrukturkan perbandingan teori modernisasi dengan teori dependensi sebagai berikut: Tabel 2. 6 Perbandingan Teori Modernisasi dengan Teori Dependensi

179

Elemen Perbandingan
Persamaan fokus perhatian (keprihatinan) Metode Dwi-Kutub struktur ekonomi Perbedaan warisan teoritis Hubungan Internasional Masa depan Dunia Ketiga Kebijakan Pembangunan (Pemecahan Masalah)

Teori Modernisasi
Pembangunan Dunia Ketiga Sangat Abstrak Perumusan Model-model Tradisional dan Modern (Maju) Teori Evolusi Teori Fungsionalisme Saling menguntungkan Optimis Lebih mendekatkan keterkaitan negara maju.

Teori Dependensi
Sama Sama Sama Sentral (metropolis) Pinggiran (satelit) Program KEPBALL Marxis Ortodoks Merugikan negara dunia ketiga Pesimis Mengurangi keterkaitan dengan negara sentral revolusi sosialis.

Keterangan: KEPBALL = Komisi Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Amerika Latin

Selanjutnya, teori modernisasi menganjurkan untuk lebih mempererat keterkaitan hubungan kerjasama negara-negara terbelakang dengan negara-negara maju melalui bantuan modal, peralihan teknologi, pertukaran budaya dan lain sebagainya. Sedangkan teori dependensi memberikan anjuran yang sama sekali berbeda, yaitu mengupayakan secara terus menerus mengurangi ketergantungan negaranegara terbelakang dari negara-negara maju sehingga memungkinkan tercapainya pembangunan yang dinamis dan otonom, sekalipun proses dan pencapaian tujuan ini mungkin memerlukan revolusi sosialis. N. TEORI PEMBANGUNAN EKONOMI KELEMBAGAAN Pemikir ekonomi yang satu ini, Douglas Cecil North32, selama hidupnya (1920-1989) telah banyak berkontribusi penting dalam pengembangan bidang ilmu ekonomi melalui beberapa kegiatan risetnya, diantaranya: 1) mengintroduksi metode statistik untuk studi sejarah ekonomi; 2) menguji dan menjelaskan peran institusi dalam mengatur tingkah laku manusia; dan 3) memahami kekuatan historis yang membuat ekonomi menjadi kaya atau miskin. Ketiga rangkaian penelitian ini berusaha

Douglas Cecil North lahir di Cambridge Massachusetts pada Tahun 1920. Ketika North sedang tumbuh remaja, hidupnya sering berpindah-pindah karena mengikuti Ayahnya yang seorang manajer dari perusahaan asuransi Metropolitan Life. Karena itu, sekolah North juga berpindah-pindah dari satu kota ke kota yang lain. North pernah sekolah di Connecticut, Ottawa, Lausanne, New York City, dan di Long Island. Dia masuk di perguruan tinggi di Universitas California, Berkeley, karena ayahnya dipindahkan ke San Francisco dan North tidak ingin berada jauh-jauh dari keluarganya. Di Berkeley, North mengambil tiga bidang yaitu ilmu politik, ekonomi, dan filsafat. Ia secara serius mempertimbangkan untuk melanjutkan ke jurusan hukum setelah lulus nanti, namun pecahnya Perang Dunia II, membuat ia membatalkan rencana ini. Karena perasaan North yang kuat untuk tidak (ingin) membunuh orang, North bergabung dengan armada niaga. Tiga tahun di lautan memberikan North kesempatan untuk mengisi waktunya dengan membaca dan merenung, dan dia memutuskan untuk menjadi seorang ahli ekonomi ketimbang menjadi seorang pengacara.

32

179

menjelaskan pertumbuhan ekonomi dari segi institusi dengan mempergunakan teknik statistik untuk menguji teori institusionalnya tentang penyebab pertumbuhan ekonomi. North adalah tokoh pemikir dan pengembang ekonomi kelembagaan baru (New Institutional Economics)33 yang memperoleh hadiah Nobel Ekonomi pada Tahun 1993. Hadiah Nobel yang diperolehnya itu kemudian menjadi pemicu perkembangan ilmu ekonomi kelembagaan baru saat ini. Pemikir ekonomi kelembagaan baru pada umumnya menolak sebagian asumsi ajaran ekonomi klasik/neoklasik karena dianggap tidak realistis, kalau tidak mau disebut fatal, seperti tidak adanya biaya transaksi (Zero Transaction Cost) dan rasionalitas instrumental (Instrumental Rationality). Ekonomi klasik yang mengasumsikan semua manusia adalah rasional dan bekerja berdasarkan insentif ekonomi ternyata dalam praktiknya banyak faktor-faktor sosial, ekonomi dan politik yang mempengaruhi individu dalam keputusan ekonominya. Oleh karena itu asumsi-asumsi tersebut harus dibatalkan. Itulah sebabnya, ekonomi kelembagaan sejak diploklamirkan bekerja di luar mekenisme dan cara pandang pemikiran ekonomi klasik/neoklasik. Intinya, keputusan ekonomi tidak bisa menyandarkan sepenuhnya pada kekuatan rasionalitas, dan selalu ada insentif bagi individu untuk berperilaku menyimpang sehingga sistem ekonomi tidak bisa dibiarkan hanya dipandu oleh pasar. Dalam hal ini diperlukan kelembagaan non pasar (NonMarket Institution) untuk melindungi agar pasar tidak terjebak pada kegagalan yang tidak berujung pangkal, yakni dengan jalan mendesain aturan main/kelembagaan. Sebagai tokoh ekonomi kelembagaan baru (New Institutional Economics), North menyatakan bahwa kelembagaan ekonomi dibentuk oleh aturan-aturan formal berupa rules, laws dan constitutions; serta aturan informal berupa norma, kesepakatan, dan lain-lain. Seluruhnya merupakan penentu terbentuknya karakter dan struktur masyarakat serta kinerja ekonominya. North juga membedakan institusi dengan organisasi. Dalam hal ini, institusi dimaknai sebagai the rules of the game, sedangkan organisasi bermakna sebagai their entrepreneurs are the players. Bagi North, institusi adalah peraturan perundang-undangan berikut sifat-sifat pemaksaan dari peraturan-peraturan tersebut serta norma-norma perilaku yang membentuk interaksi antara manusia
Beberapa pemikir ekonomi yang masuk kedalam kelompok mazhab ekonomi kelembagaan ini diantaranya: (1)Thorstein Bunde Veblen (1857-1929), Ia menilai pengaruh keadaan dan lingkungan sangat besar terhadap tingkah laku ekonomi masyarakat; (2) Wesley Clair Mitchel (1874-1948), Ia berjasa dalam mengembangkan metode-metode kuantitatif dalam menjelaskan peristiwa-peristiwa ekonomi. Salah satu karyanya adalah Business Cycle and Their Causes (1913), dengan menggunakan bermacam data statistik ia kemudian menjelaskan masalah fluktuasi ekonomi; (3) Gunnar Karl Myrdal (1898-1987) dari Swedia. Salah satu pesan Myrdal kepada para ahli ekonomi ialah agar ikut membuat value judgement. Jika tidak dilakukan struktur-struktur teoritis ilmu ekonomi akan menjadi tidak realistis; (4) Joseph A. Schumpeter (1883-1950), Ia menyatakan bahwa sumber utama kemakmuran bukan terletak dalam domain ekonomi itu sendiri, melainkan berada di luarnya, yaitu dalam lingkungan dan institusi masyarakat. Lebih jelas lagi, sumber kemakmuran terletak dalam jiwa entrepreneurship para pelaku ekonomi yang merancang pembangunan.
33

179

secara berulang-ulang. Definisi yang hampir sama juga diberikan oleh Robin (2005) bahwa institusi merupakan the rules of the game in economic, political and social interactions. Institusi ini merupakan wadah atau lingkungan dimana organisasi-organisasi sosial hidup dan berkembang (Institutions determine social organization). Sedangkan yang dimaksud sebagai organisasi disini adalah organisasi politik (misalnya partai politik, DPR, dan DPRD); organisasi ekonomi (perusahaan, satuan-satuan perdagangan, kooperasi dan sebagainya); organisasi sosial (gereja, klub-klub); dan organisasi pendidikan (sekolah, universitas, dan organisasi-organisasi penyelenggara pelatihan). North (1993) menyatakan bahwa reformasi yang dilakukan tidak akan memberikan hasil nyata hanya dengan memperbaiki kebijakan ekonomi makro belaka. Agar reformasi berhasil, maka dibutuhkan dukungan seperangkat institusi yang mampu memberikan insentif yang tepat kepada setiap pelaku ekonomi. Beberapa contoh institusi yang mampu memberikan insentif tersebut adalah hukum paten dan hak cipta, hukum kontrak dan pemilikan tanah. Menurut Yustika (2008), kehadiran ekonomi kelembagaan dimaksudkan untuk mewartakan bahwa kegiatan ekonomi sangat dipengaruhi oleh tata letak antarpelaku ekonomi (teori ekonomi politik), desain aturan main (teori ekonomi biaya transaksi), norma dan keyakinan suatu individu/ komunitas (teori modal sosial), insentif untuk melakukan kolaborasi (teori tindakan kolektif), model kesepakatan yang dibuat (teori kontrak), pilihan atas kepemilikan aset fisik maupun non fisik (teori hak kepemilikan), dan lain-lain. Ekonomi kelembagaan adalah cabang ilmu ekonomi yang percaya adanya peran besar dari lembaga-lembaga dalam kinerja ekonomi suatu masyarakat, karena batasan dan aturan yang dibuat masyarakat yang bersangkutan dipatuhi atau dipaksakan pemenuhannya. Dalam perkembangannya, studi tentang ekonomi kelembagaan begitu menarik dan bahkan memperoleh tempat di kalangan pemikir ekonomi dan sosiologi, baik di Barat maupun di dunia Timur, termasuk di Indonesia. Perkembangan studi ekonomi kelembagaan yang demikian dinamis memunculkan pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai konsep ekonomi kelembagaan dan falsafah keilmuannya serta mengapa akhir-akhir ini ilmu ekonomi kelembagaan banyak diminati? Di dunia Barat, kajian mengenai kelembagaan sebenarnya bukan merupakan hal yang baru. Di masa lampau, ketika Adam Smith telah berhasil membumikan teori ekonominya dalam kehidupan masyarakat, maka sejak itu pula muncul berbagai pandangan yang pro dan kontra. Dalam khazanah ilmu ekonomi, kelompok yang kontra terhadap teorinya Adam Smith itu lazim dikenal dengan ekonomi kelembagaan lama (Old Institutional Economics). Para penganut ekonomi kelembagaan percaya bahwa pendekatan multidisipliner sangat penting untuk memotret masalah-masalah ekonomi, seperti aspek sosial, hukum, politik, budaya, dan 179

yang lain sebagai satu kesatuan analisis (Yustika, 2008: 55). Oleh karena itu, untuk mendekati gejala ekonomi maka pendekatan ekonomi kelembagaan menggunakan metode kualitatif yang dibangun dari tiga premis penting yaitu: partikular, subyektif dan, nonprediktif. Pertama, partikular dimaknai sebagai heterogenitas karakteristik dalam masyarakat. Artinya setiap fenomena sosial selalu spesifik merujuk pada kondisi sosial tertentu (dan tidak berlaku untuk kondisi sosial yang lain). Lewat premis partikularitas tersebut, sebetulnya penelitian kualitatif langsung berbicara dua hal: 1) keyakinan bahwa fenomena sosial tidaklah tunggal; dan 2) penelitian kualitatif secara rendah hati telah memproklamasikan keterbatasannya (Yustika, 2008: 69). Kedua, yang dimaksud dengan subyektif sesungguhnya bukan berarti peneliti melakukan penelitian secara subyektif tetapi realitas atau fenomena sosial. Karena itu lebih mendekatkan diri pada situasi dan kondisi yang ada pada sumber data, dengan berusaha menempatkan diri serta berpikir dari sudut pandang orang dalam atau yang dalam ranah antropologi disebut dengan emic. Ketiga, yang dimaksud nonprediktif ialah bahwa dalam paradigma penelitian kualitatif sama sekali tidak masuk ke wilayah prediksi ke depan, tetapi yang ditekankan ialah bagaimana pemaknaan, konsep, definisi, karakteristik, metafora, simbol, dan deskripsi atas sesuatu. Jadi titik tekannya adalah menjelaskan secara utuh proses dibalik sebuah fenomena. Dalam ekonomi kelembagaan menekankan bahwa manusia menciptakan dan menggunakan lembaga-lembaga tertentu untuk memecahkan berbagai konflik ekonomi dalam masyarakat. Jika ekonomi ortodoks percaya bahwa persaingan bebas akan menghasilkan harmoni dan efisiensi, maka ekonomi kelembagaan mencari kemungkinan-kemungkinan tindakan bersama (collective action) dan kerjasama antarmanusia (human cooperation) untuk mengatasi konflik ekonomi sosial yang ada. Maka dari itu, ekonomi kelembagaan berusaha mempelajari dan memahami peranan kelembagaan dalam sistem dan organisasi ekonomi atau sistem terkait yang lebih luas. Kelembagaan yang dipelajari biasanya tumbuh spontan seiring dengan perjalanan waktu atau kelembagaan yang sengaja dibuat oleh manusia. Peranan kelembagaan bersifat penting dan strategis karena ternyata ada dan berfungsi di segala bidang kehidupan. Dengan demikian, ilmu ekonomi kelembagaan kemudian menjadi bagian dari ilmu ekonomi yang cukup penting peranannya dalam perkembangan ilmu pengetahuan sosial humaniora, ekonomi, budaya dan terutama ekonomi politik. Ilmu ekonomi kelembagaan terus berkembang semakin dalam karena ditekuni oleh banyak ahli ilmu ekonomi dan ilmu sosial lainnya, termasuk beberapa diantaranya memenangkan hadiah nobel. Penghargaan

179

tersebut tidak hanya tertuju langsung kepada ahli dan orangnya, tetapi juga pada bidang keilmuannya, yakni ilmu ekonomi kelembagaan (Rachbini, 2002). Teori ekonomi konvensional yang bertumpu pada paradigma persaingan bebas kini terbukti tidak mampu untuk menyelesaikan masalah perekonomian karena mekanisme dan praktik-praktik ekonomi telah mereduksi hak-hak rakyat. Demikian juga dengan krisis keuangan global yang menerpa dunia saat ini, menjadikan mainstream ekonomi yang berpijak pada pendekatan ekonomi klasik semakin dipertanyakan eksistensinya, oleh karena itu studi ekonomi kelembagaan semakin memperoleh tempat sebagai pendekatan alternatif bagi ekonomi dunia saat ini. Sebenarnya sudah cukup lama hadir aliran baru teori ekonomi yang lebih mengandalkan upaya koperatif (kerjasama), dibandingkan teori ekonomi konvensional yang lebih mengandalkan kompetisi. Faktor terpenting yang membedakan negara-negara Eropa yang menganut welfare state dengan Amerika Serikat yang menganut pasar bebas adalah kerangka kelembagaan (institutional framework). Walaupun kedua kubu sama-sama memiliki kelembagaan yang kuat, titik pijak atau landasan filosofisnya sangat berbeda. Memang, kedua kubu tersebut menghasilkan tingkat kemakmuran yang tinggi, namun dengan wajah kemanusiaan cukup kontras. Budaya suatu bangsa akan sangat mempengaruhi dan merupakan faktor utama pembentuk lembaga yaitu aturan yang mengatur segala tindakan seseorang. North menegaskan tiga komponen lembaga yaitu 1) batasan-batasan informal (informal constrain); 2) aturan-aturan formal (formal rule); dan 3) paksaan pematuhan terhadap keduanya (enforcement of both). Hanya saja dari ketiga komponen tersebut praktis hanya satu komponen yang memadai yaitu aturan non-formal yang berlaku didalam masyarakat. Kepercayaan (trust) yang merupakan pilar utama modal sosial menjadi variabel penting dalam aturan non-formal. Di tengah-tengah dehumanisasi teknologi dan arus informasi saat ini, masyarakat tampaknya lebih mengutamakan aturan-aturan informal ketimbang regulasi formal yang dibuat pemerintah, misalnya aturan adat yang telah disepakati oleh masayarakat. Hal ini disebabkan oleh aturan formal yang dikeluarkan pemerintah saat ini lebih berpihak kepada pasar, dalam hal ini investor asing, bukan kepada masayarakat kecil. Misalnya, kasus Undang-Undang Migas Nomor 22 Tahun 2001 tentang liberalisasi sektor perminyakan terbukti hanya akan menguntungkan pihak investor asing dalam mengeksplorasi minyak di Indonesia. Oleh karena itu, selain membangun institusi formal yang kredibel, dalam memenuhi target pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak bisa hanya dengan mengutak-atik indikator makro ekonomi. Selain harus merancang aturan formal yang memadai,

179

kebijakan pemerintah juga harus mempengaruhi tindakan para aktor ekonomi. Korupsi yang masih terus terjadi merupakan bukti, kebijakan pemerintah masih berhenti pada formalitas aturan dan belum sampai memengaruhi tindakan para aktor ekonomi. Hukuman berat bagi para koruptor, termasuk para menteri yang terlibat korupsi, akan membantu mendisiplinkan para aktor ekonomi dan modal sosial lah yang merupakan variabel utama dalam membangun perekonomian yang berdasarkan ekonomi kelembagaan. Hal tersebut terbukti di negara-negara eropa yang menganut welfare state. Praktik-praktik ekonomi yang memberikan peran kepada lembaga-lembaga keuangan mikro secara lebih proporsional seperti yang ditempuh oleh Muhammad Yunus (peraih Hadiah Nobel perdamaian Tahun 2009) menjadikan trust sebagai modal utama dalam membangun Grameen Bank. Hanya dengan bermodalkan kepercayaan Muhammad Yunus kepada nasabah, maka Grameen Bank mampu mengatasi masalah kemiskinan di Bangladesh. Banyak bukti empirik menunjukkan bahwa kelembagaan merupakan penentu utama kesejahteraan dan pertumbuhan jangka panjang. Memang terbukti bahwa negara yang memiliki landasan kelembagaan lebih baik pada masa lalu adalah negara yang sekarang lebih makmur. Kelembagaan yang lebih baik, paling tidak menghasilkan dua hal: pertama, segala lapisan masyarakat memperoleh ruang gerak yang luas untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi; kedua, para elite, politisi, dan kelompok-kelompok kekuatan lain tak bisa leluasa mengambil alih pendapatan dan investasi pihak lain. Berbagai gagasan mengenai alternatif pembangunan ekonomi saat ini lagi-lagi membutuhkan keseriusan dari pihak pemerintah dan dukungan dari berbagai stakeholder yang ada. Dukungan yang paling dibutuhkan untuk konteks ke-Indonesiaan sekarang adalah dari pihak pemerintah daerah, karena di era desentralisasi saat ini, pemerintah daerah-lah yang lebih mengetahui kondisi masyarakatnya. Misalnya dalam membuat aturan formal dan aturan non-formal serta dalam penyaluran jaring pengaman sosial, pemerintah daerah seharusnya lebih banyak terlibat dan membuat formulasi khusus untuk itu. O. EKONOMI PENGETAHUAN Kini kita telah memasuki era ekonomi baru, yaitu suatu perekonomian yang benar-benar telah berubah dari sebelumnya, yaitu era ekonomi pengetahuan (knowledge economy). Di era ini, teknologi informasi berkembang begitu cepat sehingga berbagai produk teknologi informasi dapat diperoleh dengan mudah dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, seperti untuk

179

kepentingan studi, pendidikan dan sosial-budaya. Berbagai software dan resources lain yang diperlukan dapat juga diakses secara bebas bahkan gratis melalui internet. Perkembangan internet yang demikian marak saat ini telah menjangkau jutaan pemakai, akibatnya, tidak hanya peluang-peluang bisnis baru seperti electronic banking, virtulal shopping/ business, dan semacamnya yang tumbuh dan berkembang, tetapi juga telah memungkinkan dilakukannya kegiatan networking dan partnership antarpelaku bisnis secara lintas industri, lintas kawasan, dan bahkan lintas negara dengan lebih cepat dan efektif. Dalam ekonomi seperti itu, teknologi informasi dan knowledge akan menjadi sumberdaya yang sangat vital, dan proses ekonomi akan banyak dihela oleh peran dari digitalisasi, mobilitas modal, dan liberalisasi. Sehingga produk barang dan jasa yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari condong padat pengetahuan, kaya fungsi, dan sangat fleksibel. Knowledge economy bukan semata digital economy, ia merupakan sesuatu yang sangat kompleks dan merupakan fenomena yang terus merambah luas ke semua aspek kehidupan. Dahlman, et al. (2006) menyebutkan beberapa dimensi knowledge economy, diantaranya: 1) dikendalikan oleh teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikasi (ICT); 2) telekomunikasi dan networking distimulir oleh pertumbuhan ICT yang cepat, dan menetrasi ke semua aspek kehidupan manusia dan menciptakan masyarakat informasi; 3) pengetahuan yang berbasis informasi didukung oleh budaya dan nilai-nilai spiritual telah menjadi kekuatan independen dan faktor penting dalam transformasi sosial, ekonomi, teknologi dan budaya; 4) dimungkinkan dilakukannya integrasi dan pooling intellectual untuk memacu pembangunan suatu negara. Setiap negara akan memperoleh manfaat dari pembangunan knowledge economy dan meraih kemajuan menuju kesejajaran dalam proses pembangunan global; dan 5) berdampak terhadap aktivitas sosial di setiap negara termasuk sistem institusi dan inovasi serta pengembangan sumberdaya manusia. Pada perekonomian yang senantiasa memperluas jaringan ekonominya dan teguh mentaati segala norma-norma yang berlaku serta meningkatkan kapasitas aset nir fisiknya, maka akan makin besar peluang inovasi yang dapat dilakukan dan ditumbuhkembangkan. Dan disanalah peran ekonomi pengetahuan itu ada. Lalu, apa yang dimaksudkan dengan ekonomi pengetahuan itu? Para pakar maupun institusi global seperti OECD, World Bank, dan APEC, memberikan definisi ekonomi pengetahuan sangat beragam, namun pada intinya ekonomi pengetahuan itu ditandai oleh penciptaan dan eksploitasi pengetahuan yang memainkan peran dominan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Secara lebih spesifik lagi, ekonomi pengetahuan didefinisikan sebagai suatu ekonomi yang secara langsung didasarkan pada produksi, distribusi, dan penggunaan

179

knowledge dan informasi. Definisi ini diperkuat lagi oleh Hossain dan Cheng Ming (2004) bahwa ekonomi pengetahuan merupakan kegiatan ekonomi di mana proses produksi, distribusi, dan konsumsi pengetahuan berlangsung secara berkelanjutan, serta adanya siklus memperluas pengetahuan yang terus-menerus untuk penciptaan kesejahteraan. Implementasi dan peningkatan keunggulan dalam ekonomi pengetahuan melibatkan beberapa aktivitas dan komponen, diantaranya dapat dielaborasi sebagai berikut: Aktivitas Ekonomi Pengetahuan:
1. Knowledge Production: aktivitas produksi didasarkan pengetahuan dan ide baru; 2. Knowledge Distribution: aktivitas penyebaran pengetahuan di antara anggota masyarakat; 3. Knowledge Consumption: penggunaan pengetahuan untuk menciptakan nilai dan membuat

pengetahuan baru dari pengetahuan yang ada.


Komponen Ekonomi Pengetahuan: 1.

Knowledge

Organization:membuat,

menerima,

menyebarkan,

mengelola,

dan

memanfaatkan pengetahuan.
2.

Knowledge Worker: kemampuan kreatif dan inovatif orang untuk menggunakan Knowledge Goods: Barang-barang yang berisi pengetahuan. Knowledge Service: Produk jasa yang memiliki muatan kreativitas, ide baru, dan Knowledge Asset: mencakup kreativitas, ide-ide dan pemikiran baru, skill, hak cipta,

pengetahuan.
3. 4.

ketrampilan baru;
5.

brain power, kemampuan inovatif, smart leadership, kemampuan kewirausahaan, brand, reputasi, pengakuan, serta know how;know-what; know-why; dan know-who (know 1 h; 3w). Terkait dengan hasil elaborasi di atas perlu diketahui, bahwa pengetahuan itu adalah bentuk primer dari modal. Sedangkan modal yang lain seperti uang, mesin, gedung dan lainnya hanyalah derivasi dari pengetahuan. Tanpa pengetahuan, semua bentuk modal tersebut nyaris tak berarti apaapa. Uang misalnya, hanyalah selembar kertas yang hampir-hampir tidak ada nilainya. Mesin hanyalah sekumpulan besi-besi, dan gedung hanyalah sekumpulan material bahan bangunan. Tingkat kebermaknaan dari setiap bentuk modal tersebut bagaimanapun akan sangat ditentukan oleh kepemilikan pengetahuan. Dengan demikian, pengetahuan dapat memberikan kehidupan dan makna bagi semua bentuk modal itu sehingga bernilai dan berguna bagi manusia.

179

Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) sebagaimana dirujuk oleh Lee dan Gibson (2002) membedakan pengetahuan dengan informasi. Pengetahuan adalah suatu konsep yang lebih luas dari pada informasi. Dalam hal ini, pengetahuan mencakup komponen: knowwhat; know-why; know-how; dan know-who. Dua komponen yang terakhir ini merupakan tacit knowledge yang diperoleh dari pengalaman yang sulit untuk dikodifikasi, diukur dan disebarluaskan. Sedangkan informasi hanya mencakup komponen know-what dan know-why. Masing-masing dari komponen pengetahuan tersebut memiliki makna dan kegunaannya sendiri, yaitu:
1) Know-what: merujuk pada knowledge tentang fakta yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang

relatif sederhana, seperti pertanyaan tentang jumlah rumah tangga miskin, jumlah pekerja menurut sektor ekonomi, tingkat inflasi, tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran dan sebagainya. Jadi knowledge jenis ini lebih dekat dengan apa yang disebut dengan informasi;
2) Know-why: merujuk pada scientific knowledge dari principles and laws of nature. Aplikasi

knowledge jenis ini terutama pada pilihan dan pengembangan teknologi, produk atau proses pada area industri atau organisasi yang spesialistik seperti riset di laboratorium. Untuk memperoleh akses pada knowledge jenis ini, pelaku ekonomi harus berinteraksi atau mempekerjakan tenaga spesialis yang terlatih baik atau pelaku ekonomi membeli pengetahuan tertentu;
3) Know-how: merujuk pada skill atau kapabilitas dalam melakukan sesuatu. Kow-how adalah

tipikal knowledge yang dikembangkan berdasarkan pengalaman pelaku ekonomi atau perusahaan secara spesifik. Kow-how sulit untuk dikodifikasi dan ditiru oleh pesaing karena menyatu pada individu dan perusahaan;
4) Kow-who: merujuk pada informasi tentang siapa tahu apa dan siapa tahu bagaimana

melakukan apa. Kow-who sangat penting dalam ekonomi karena informasi dapat terdispersi secara luas dan tidak seimbang karena pembagian kerja yang luas dan adanya perubahan teknologi yang cepat. Pengetahuan, kemudian dikelompokkan menjadi dua, yaitu 1) pengetahuan yang bersifat individual dan subyektif (tacit knowledge); dan 2) pengetahuan yang bersifat sebagai pengetahuan organisasional (explicit knowledge). Tacit knowledge dimaksudkan sebagai pengetahuan personal yang sulit untuk diformalisasikan atau dikomunikasikan pada orang lain. Pengtahuan ini terdiri dari ketrampilan teknis yang bersifat subyektif, wawasan/ pengetahuan yang mendalam, dan intuitif yang

179

terjadi pada seseorang karena telah terlibat dalam suatu aktivitas untuk suatu periode yang lama. Sedangkan explicit knowledge adalah pengetahuan formal yang mudah untuk disebarkan kepada pihak lain. Pengetahuan ini seringkali ditandai dalam bentuk rumus matematis, peraturan-peraturan, spesifikasi-spesifikasi dan sebagainya. Kedua kategori pengetahuan tersebut bersifat saling melengkapi. Sepanjang tetap bersifat pengetahuan individu maka bagi organisasi tacit knowledge hanya akan menjadi nilai yang terbatas. Sebaliknya, explicit knowledge tidak akan muncul secara spontan, tetapi dengan memelihara dan melatih benih-benih tacit knowledge yang telah dimiliki. Dinamika interaksi kedua bentuk pengetahuan tersebut akan menghasilkan inovasi dan selanjutnya akan menjadi organizational knowledge. Oleh karena itu, organisasi ekonomi, apapun bentuknya, harus dapat menjadikan knowledge creating company yang bermanfaat bagi organisasi, yaitu terampil dalam mengubah tacit knowledge menjadi explicit knowledge sehingga dapat

mendorong inovasi dan pengembangan produk baru. Hal ini penting dilakukan karena tanpa inovasi kehidupan organisasi akan berhenti. Lalu, bagaimana caranya? Menurut Choo (1998), transformasi pengetahuan itu berproses melalui tahapan sebagai berikut: Pertama, dari tacit knowledge ke explicit knowledge melalui proses sosialisasi, yaitu suatu proses mendapatkan tacit knowledge melalui berbagai pengalaman. Misalnya karyawan suatu

perusahaan yang mempelajari keahlian baru melalui kegiatan on-the-job training; Kedua, dari pengetahuan tacit ke pengetahuan explicit melalui eksternalisasi, yaitu suatu proses mengubah pengetahuan tacit menjadi konsep yang explicit melalui penggunaan analogi-analogi dan modelmodel. Eksternalisasi pengetahuan tacit merupakan intisari dari aktivitas penciptaan pengetahuan dan yang paling banyak terlihat dalam fase penciptaan konsep pengembangan produk baru. Eksternalisasi dipicu melalui dialog atau pemikiran bersama; Ketiga, dari pengetahuan explicit ke pengetahuan explicit melalui kombinasi, yaitu proses penciptaan pengetahuan explicit dengan cara mengajukan pengetahuan explicit dari sejumlah sumberdaya secara bersamaan, sehingga setiap individu bisa menukar dan mengkombinasi pengetahuan explicit nya. Informasi yang sudah ada kemudian dikategorikan, dibandingkan dan dipilih dengan cara tertentu sehingga bisa menghasilkan pengetahuan explicit baru; Keempat, dari pengetahuan eksplicit ke pengetahuan explicit melalui internalisasi, yaitu suatu proses menanamkan pengetahuan explicit menjadi pengetahuan tacit.

179

Internalisasi suatu pengalaman diperoleh melalui model penciptaan pengetahuan ke dalam basis pengetahuan tacit dalam bentuk penyebaran mental model atau latihan. Manakala proses transformasi pengetahuan itu dapat dibudayakan melalui praktik-praktik manajemen pengetahuan secara optimal, maka akan menjadikan perekonomian itu lebih inovatif. Dan tentunya, inovasi ini lahir dari proses yang panjang. Dalam perspektif ekonomi pengetahuan, keberhasilan ekonomi atau bisnis menghadapi persaingan lebih tergantung pada strategi manajemen pengetahuan daripada strategi alokasi aset fisik dan keuangan. Dengan demikian, peran aset nir-fisik atau sumberdaya unik dan sulit ditiru ini dalam meningkatkan daya saing semakin penting dan menentukan. Karena itu, aset tersebut harus ditingkatkan kualitasnya, dioptimalkan pengelolaan dan pemanfaatannya secara terus menerus agar menjadi sumber utama pembaharuan dan inovasi dalam sebuah perekonomian. Integrasi pengetahuan dan informasi dalam aktivitas ekonomi dan bisnis telah sedemikian besar sehingga mempengaruhi perubahan-perubahan struktural dan operasional ekonomi dan bisnis. Realitas ini kemudian mendorong terjadinya transformasi yang mempengaruhi basis keunggulan kompetitif. Implikasinya, pada industri-industri yang memiliki basis pengetahuan yang kuat, akan memiliki platform yang tangguh dalam melakukan inovasi secara terus menerus sehingga menghasilkan proses dan produk baru yang lebih berninilai dan demanding. Karena itu, industriindustri semacam ini akan mendominasi pasar global. Sebuah studi di Amerika Serikat dan di negara-negara maju menunjukkan bahwa kontribusi teknologi maju pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang hampir mendekati 50%. Bersamaan dengan itu, ekonomi dan industri di negara-negara tersebut dapat tumbuh dan berkembang pesat serta berkelanjutan karena ditopang oleh knowledge society dan knowledge worker yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam menghadapi globalisasi yang bergerak sangat cepat. Pada Tahun 2005, lebih dari 40% tenaga kerja di Eropa bekerja pada industri-industri yang berbasis pengetahuan. Negara-negara seperti Swedia, Denmark, Inggris, dan Finlandia merupakan negara yang sebagian besar tenaga kerjanya (lebih dari 50%) bekerja pada industri-industri yang berbasis pengetahuan. Alur ilmu pengetahuan (knowledge flows) bertalian erat dengat proses inovasi. Menurut OECD ada empat bentuk alur pengetahuan, yaitu 1) interaksi diantara perusahaan melalui aktivitas kerjasama riset (joint research activities); 2) kerjasama riset diantara perusahaan, universitas dan institusi riset publik termasuk co-patenting dan co-publishing; 3) difusi knowledge dan teknologi

179

kepada perusahaan melalui adopsi mesin dan peralatan baru; dan 4) mobilitas personal yang membawa tacit knowledge khususnya antara sektor publik dan privat. Sebagaimana dinyatakan oleh Lee dan Gibson (2002), ekonomi pengetahuan pada awalnya dikembangkan melalui networking antara dunia kampus dengan dunia bisnis dan pemerintah. Aktivitas ini berlangsung di sekitar kawasan universitas-universitas dan pusat-pusat riset terkemuka pada sebagian besar negara maju di dunia. Melalui networking itulah, knowledge didiseminasikan, diadaptasi, dan kemudian diaplikasikan dalam berbagai industri yang menghasilkan produk-produk inovatif dengan nilai tambah yang besar. Dalam proses aplikasi ini diperoleh feedback yang menghasilkan knowledge baru yang dapat menciptakan nilai yang lebih besar. Siklus dalam memproduksi pengetahuan berlangsung secara terus menerus sehingga terjadi akumulasi kapabilitas pengetahuan sebagai sumber keunggulan daya saing yang berkelanjutan (sustainable competitive advantage). Dalam konteks ekonomi pengetahuan, mengapa pengetahuan memiliki peran dominan? Ada beberapa alasan yang mendasari, diantaranya: 1) pengetahuan adalah bentuk dasar dari kapital. Pertumbuhan ekonomi sangat tergantung pada akumulasi pengetahuan. Makin besar akumulasi pengetahuan di suatu negara maka ekonominya akan tumbuh berkelanjutan; 2) upaya pengembangan teknologi baru dapat menciptakan technical platform untuk inovasi lebih lanjut yang memainkan peran kunci dalam pertumbuhan ekonomi; 3) teknologi dapat meningkatkan nilai pengembalian investasi yang tidak dapat dilakukan bila hanya menambah tenaga kerja dan sumberdaya material; 4) berbeda dengan ekonomi tradisional, investasi dan teknologi membuat keduanya lebih bernilai yang menyebabkan tingkat pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan berkelanjutan. Invesrtasi pada R & D untuk inovasi teknologi dapat menciptakan peluang yang lebih besar dalam memperoleh return karena dicapai monopoli teknologi yang sulit ditiru oleh pesaing. Sebagaimana diidentifikasi oleh Skyrme (1999) dalam Sampurno 2007, ada lima megatrend dalam ekonomi pengetahuan: 1) industri menjadi lebih padat pengetahuan (knowledge intensive); 2) penggunaan informasi dan knowledge pada produk dengan fungsi dan kemanfaatan yang lebih baik sehingga dapat membentuk harga premium; 3) informasi memainkan peran penting dalam sistem ekonomi; 4) intangible assets yang dimiliki jauh lebih besar nilainya dibandingkan dengan tangible assets; 5) perdagangan intangible assets berkembang pesat dalam ekonomi pengetahuan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa inovasi bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Inovasi akan tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan jika ditopang dan mengakarkan dirinya pada kekuatan mutu aset nir fisik, termasuk didalamnya mutu modal manusia. Dalam hubungannya

179

dengan pengembangan inovasi, menurut hemat saya ada beberapa komponen aset nir fisik yang perlu mendapat perhatian dan perlakuan lebih, yaitu modal sosial, modal intelektual, dan modal spiritual. Inisiatif dari berbagai pihak yang telah membangun dan memperkuat ekonomi pengetahuan yang diarahkan melalui pembangunan infrastruktur teknologi informasi di Indonesia perlu diberikan apresiasi secara khusus. Karena, mereka telah menyadari lebih awal terhadap nilai penting teknologi informasi bagi anak bangsa di masa depan terkait dengan akselerasi kemajuan bangsa Indoneisa sendiri untuk dapat maju dan bersaing dengan negara-negara lain. Akan tetapi, manakala pembangunan infrastruktur teknologi informasi itu tidak dibarengi dengan upaya-upaya penyadaran dan penanaman nilai-nilai penting teknologi informasi kepada anak bangsa sejak sekarang, khususnya dalam hal mentransformasikan diri dari hanya sekadar pengguna menjadi penghasil informasi dan ilmu pengetahuan, akan menjadi amat disayangkan karena bangsa Indonesia hanya menjadi bangsa pemakai dan bukan bangsa penghasil. Upaya-upaya tersebut sangat strategis dan bahkan mendesak karena saat ini kita tengah memasuki era ekonomi pengetahuan yang mengandalkan olah pikir, ilmu pengetahuan, teknologi dan kualitas SDM sebagai faktor kunci sukses dalam bersaing. Selain daripada itu, nilai tambah suatu barang dan jasa bukan hanya semata ditentukan oleh besarnya modal yang tertanam dalam produksinya, melainkan oleh tingkat pengetahuan yang tertanam di dalam produk dan jasa itu. Olehnya itu, kini mulai terjadi pergeseran pola produksi dari padat modal ke padat pengetahuan. P. RINGKASAN Kajian terhadap perkembangan teori pembangunan ekonomi sebagaimana diuraikan di atas berpangkal pada kondisi keseimbangan umum (general equilibrium), sehingga faktor-faktor kekuatan dinamika dengan berjalannya waktu tetap dapat berperan secara bersamaan dalam interaksinya satu dengan yang lain. Pendekatan teoritis yang dipergunakan untuk mengetahui proses perkembangan teori pembangunan ekonomi itu bersifat elektis-selektif sehingga hal-hal yang dianggap terbaik dari berbagai mazhab pemikiran ekonomi dapat dipilih secara selektif. Bagaimanapun, kajian tersebut telah memberi manfaat bagi upaya memahami secara lebih komprehensif mengenai teori pembangunan ekonomi, terlebih karena kajian ini didukung dan diperkuat oleh serangkaian postulat, seperangkat peralatan analisis ekonomi, dan stylized facts.

179

Kombinasi antara postulat, peralatan analisis ekonomi, dan stylized facts dengan hasil vertifikasi empiris dan kuantifikasi yang terkandung dalam gagasan dari setiap pakar ekonomi, menawarkan berbagai pendekatan namun tetap dijaga konsistensi dalam analisisnya. Kombinasi tersebut menjadi tolok ukur kuantitatif, dan satu sama lain merupakan komponen-komponen penting yang saling melengkapi dalam kerangka analisis masalah-masalah pembangunan ekonomi. Kombinasi ini satu sama lain menjadi semakin jelas manakala diperhatikan lingkup dan sifat permasalahan dalam proses perubahan struktural. Dalam konteks perubahan struktural, perubahan teori pembangunan ekonomi berproses dalam batas ruang dan waktu, berlangsung di tengah-tengah arus dinamika dan pergulatan ekonomi sesuai dengan tuntutan kebutuhan pada zamannya. Untuk memahami proses perubahan itu, diperlukan penelusuran terhadap berbagai peristiwa masalah, pemikiran dan pembangunan ekonomi, mulai dari pemikiran dan teori pembangunan ekonomi mazhab klasik hingga ke pemikiran dan teori pembangunan ekonomi mazhab kontemporer berikut segala variannya. Untuk mengkaji berbagai perubahan yang melatari munculnya teori pembangunan ekonomi dan kemajuan pembangunan ekonomi di banyak negara, ada beberapa landasan teoritis yang dinilai cukup ampuh dan dapat dipergunakan: pertama, landasan teori fungsionalis atau normatif tentang proses dialektika yang menjadi penggerak dari perubahan-perubahan pemikiran di berbagai bidang kehidupan dalam masyarakat; kedua, landasan teoritis mengenai paradigma dari himpunan segala hal yang terjadi dalam kehidupan masyarakat pada periode waktu tertentu, turut menentukan wujud ilmu pengetahuan (science) dan pengetahuan (knowledge) yang ada pada periode itu. Dalam hal ini, terjadinya revolusi ilmu pengetahuan dan pengetahuan itu sebagai akibat dari pergeseran paradigma yang berlangsung secara cepat dan mendadak; dan ketiga, landasan ekonomi moralitas, landasan teoritis ini selalu berusaha memberi pertimbangan kongkrit bagaimana menciptakan ekonomi yang adil sesuai dengan kondisi yang dihadapi masyarakat. Strategi pembangunan ekonomi didasarkan pada sasaran-sasaran selektif yang ingin dicapai berdasarkan skala prioritas dalam pentahapan waktu dan perkembangan keadaan. Penggunaan konsep fungsi produksi yang menunjukkan hasil produksi dari kombinasi faktor-faktor produksi yang terlibat dalam proses produksi dianggap relevan sebagai dasar kajian, sehingga penggunaan fungsi produksi sebagai peralatan analisis pembangunan ekonomi sebagaimana dipaparkan dalam mazhab pembangunan ekonomi klasik masih dianjurkan. Demikian pula dalam lingkup yang lebih terbatas,

179

pemikiran mazhab Neo-Klasik dan pemikiran mazhab Neo-Keynes mengenai teori pertumbuhan ekonomi dianggap masih relevan. Kombinasi peralatan analisis ekonomi yang mencakup unsur-unsur pokok kerangka pemikiran Harrod-Domar, Leontief, dan Kuznets yang dilengkapi dengan teknik analisis statistikmatematis dan peralatan analisis lainnya dalam hubungannya dengan kajian di atas sangat dianjurkan untuk dipergunakan, karena pemakaian alat analisis ini sangat bermanfaat untuk menilai sampai seberapa jauh telah diupayakan kombinasi yang optimal dalam pola penggunaan faktor-faktor produksi, sehingga fungsi produksi juga mengandung fungsi kesejahteraan masyarakat. Untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif dan rinci, mengenai penggunaan konsep capital output rasio (COR) yang bersumber dari model Harrod-Domar dianggap sangat bermanfaat untuk menjaga konsistensi dalam analisis pembangunan ekonomi dan sebagai tolok ukur produktivitas investasi modal sehingga perlu ditopang oleh analisis input-output (Leontief) dan analisis berdasarkan time series (Kuznets). COR dan beban tanggungan, manakala keduanya dan masing-masing masih berada pada tingkatan yang tinggi, maka hal itu satu sama lain mengindikasikan penggunaan faktor-faktor produksi telah optimal dan efisiensi ekonomi secara menyeluruh masih tinggi. Efisiensi ekonomi berdasarkan efektivitas dalam penggunaan faktor-faktor produksi mengandung relevansi terhadap upaya pemerataan dan perwujudan keadilan sosial. Keberhasilan teori pembangunan ekonomi neo-klasik tidak secara otomatis menjadikan sistem kapitalis dianut oleh semua negara di Eropa, karena di dataran ini telah berkembang suatu aliran pemikiran ekonomi yang disebut mazhab historismus atau yang dikenal sebagai aliran etis. Mazhab ini kerangka teoritisnya dibangun berdasarkan perspektif historis, dan pola pendekatan pembangunan ekonomi yang dipergunakan dalam memecahkan masalah-masalah ekonomi berpangkal pada perspektif historis induktif empiris dengan mendasarkan pada fenomena ekonomi menyeluruh dan tahapan perkembangannya. Namun, doktrin dari mazhab historimus ini disimpulkan kurang jelas, karena tidak mengembangkan sebuah sistem melainkan lebih merupakan reaksi terhadap konsepsi klasik dan neo-klasik yang menghendaki tidak adanya campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Implikasi dari pemikiran mazhab hirtorimus: pertama, perlunya kebijakan negara memberi perlindungan bagi kaum buruh. Banyak negara sedang berkembang mengabaikan hal ini, padahal

179

masalah perlindungan kaum buruh perlu diperhatikan karena posisi tawar mereka sangat rendah dihadapan kaum pengusaha. Kalaupun ada organisasi serikat pekerja, kaum buruh belum mendapat perlindungan yang sewajarnya; kedua, perekonomian di kebanyakan negara sedang berkembang, termasuk di Indonesia, sangat didominasi oleh sektor pertanian, yang umumnya sulit untuk maju. Jika ingin maju maka langkah awal yang perlu dilakukan ialah memacu industrialisasi. Studi empiris terhadap perubahan struktur ekonomi dan berbagai proses yang menyertai akibat dari pertumbuhan pendapatan per kapita menyimpulkan bahwa seiring dengan pertumbuhan pendapatan per kapita dalam jangka panjang, akan disertai berbagai proses perubahan struktural dalam perekonomian. Adapun proses perubahan struktural tersebut adalah 1) proses akumulasi; 2) proses alokasi; 3) proses demografi; dan 4) proses distribusi. Pengertian disertai disini dimaksudkan bahwa timbulnya proses perubahan tersebut bukan karena kenaikan pendapatan per kapita. Dalam proses akumulasi atau yang selanjutnya didefinisikan sebagai proses penggunaan sumberdaya dan dana untuk meningkatkan kapasitas produksi masyarakat di masa depan, perubahan struktur ekonomi dapat ditinjau melalui pertumbuhan pendapatan masyarakat, dimana sebagian dialokasikan bukan untuk tujuan konsumsi akhir, melainkan digunakan untuk investasi. Dalam proses ini, terdapat investasi fisik dan investasi nir-fisik (Human Investment). Terjadinya proses akumulasi dapat dilihat dari tiga hal, yaitu 1) perubahan struktur tabungan dan investasi akan berpengaruh terhadap kemampuan menabung dan investasi; 2) perubahan struktur penerimaan negara yang berasal dari pajak berpengaruh terhadap kemampuan penerimaan pemerintah; dan 3) perubahan pengeluaran pemerintah untuk membiayai sektor pendidikan yang akan mempengaruhi tingkat pendidikan penduduk. Dua hal yang pertama merupakan indikator dari peningkatan kapasitas produksi dari sumberdaya-sumberdaya berbentuk piranti keras, sedangkan satu hal yang terakhir merupakan indikator peningkatan kapasitas produksi dari sumberdaya dalam bentuk piranti lunak, yang dalam hal ini menyangkut kemampuan manusianya. Menurut Samuelson dan Hekcsher-Ohlin, komposisi resources endowment akan mengalami perubahan yang pada gilirannya dapat mengubah keunggulan komparatif dalam memproduksi barang dan jasa. Dengan kata lain, kenaikan pendapatann per kapita dapat menaikkan kemampuan menabung dan atau kemampuan investasi. Perubahan struktur ekonomi dapat juga ditinjau dari proses alokasi, yaitu proses yang terjadi karena adanya interaksi antara proses akumulasi yang pada gilirannya merubah keunggulan

179

komparatif dalam memproduksi barang dan jasa di satu pihak serta berubahnya pola konsumsi yang biasanya menyertai proses peningkatan pendapatan per kapita di lain pihak. Sebagai akibat dari adanya interaksi tersebut maka proses peningkatan pendapatan per kapita dalam kurun waktu yang lama biasanya disertai dengan berubahnya struktur produksi dan struktur barang dan jasa yang diperdagangkan melalui batas-batas nasional. Dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, terjadi pergeseran di dalam penggunaan sumber-sumber daya, baik sumber daya fisik maupun sumber daya manusia. Proses ini selanjutnya disebut sebagai proses alokasi sumberdaya. Proses alokasi sumberdaya ini secara sistematis akan mengakibatkan perubahan pada: 1) struktur permintaan dalam negeri (domestic); 2) struktur produksi dalam negeri; dan 3) pola perdagangan luar negeri. Perubahan ini pada dasarnya merupakan hasil akhir dari interaksi antara permintaan dan penawaran. Permintaan lebih dipengaruhi oleh perkembangan pendapatan masyarakat yaitu perubahan dalam pola konsumsi, di lain pihak penawaran dipengaruhi oleh perubahan proporsi penggunaan sumberdaya dan perubahan teknologi, yaitu bertambahnya keuntungan komparatif yang timbul sebagai akibat dari proses akumulasi yang menyertai peningkatan pendapatan per kapita. Pada proses distribusi dan proses demografi, dapat dilihat dalam satu kerangka acuan analisis dengan proses akumulasi dan proses alokasi. Dengan begitu dapat dihindarkan pandangan yang menganggap seolah-olah proses distribusi dan proses distribusi ini merupakan proses yang berdiri sendiri, terlepas dari segi-segi pokok lainnya dalam proses pembangunan. Ditinjau dari proses distribusi, pada tahap awal pembangunan lazimnya distribusi pendapatan secara relatif cenderung memburuk. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya perbedaan dalam kepemilikan sumber daya dan faktor produksi, terutama kepemilikan barang modal (capital stock). Pihak yang memiliki barang modal lebih banyak akan memperoleh pendapatan yang lebih banyak pula dibandingkan dengan pihak yang memiliki sedikit barang modal. Ketidakmerataan dalam pembagian pendapatan juga dapat terjadi karena ketidaksempurnaan pasar dan adanya gangguan yang menyebabkan persaingan dalam pasar tidak bisa bekerja secara sempurna. Menurut teori pembangunan ekonomi neo-klasik perbedaan pendapatan dapat dihilangkan atau dikurangi melalui suatu proses penyesuaian otomatis. Melalui proses ini penetrasi hasil pembangunan akan menyebar secara alamiah sehingga menimbulkan keseimbangan baru. Manakala setelah proses tersebut masih ada perbedaan pendapatan yang cukup timpang, maka masalah ini dapat

179

dipecahkan dengan mempergunakan beberapa pendekatan, diantaranya: 1) memaksimumkan pertumbuhan PDB melalui peningkatan tabungan dan alokasi sumberdaya yang lebih efisien yang mampu memberikan manfaat pada semua kelompok masyarakat; 2) mengarahkan investasi pada masyarakat miskin dalam bentuk pendidikan dan atau akses pada kredit yang lebih mudah; 3) melalui sistem pajak atau alokasi langsung barang-barang konsumen; dan 4) pengalihan aset yang tersedia kepada kelompok miskin seperti halnya dengan kebijakan land-reform. Proses pembangunan ekonomi biasanya tidak hanya ditandai oleh perubahan atau pergeseran struktur permintaan dan penawaran barang dan jasa, akan tetapi juga ditandai oleh perubahan yang terjadi dalam struktur penduduk dan ketenagakerjaan. Proses perubahan ini diistilahkan sebagai proses demografi. Proses ini terjadi sebagai akibat dari perubahan struktur permintaan, struktur produksi dan perbaikan fasilitas kesehatan, gizi serta pendidikan seiring dengan pertumbuhan pendapatan per kapita. Proses ini juga mencakup peralihan berbagai hal yang terkait dengan tempat tinggal penduduk, urbanisasi, angka kelahiran dan kematian, serta hal-hal yang terkait dengan ketenagakerjaan seperti pengangguran, tingkat partisipasi angkatan kerja dan tingkat upah. Dalam sektor ketenagakerjaan, manakala terjadi penurunan cepat dari jumlah angkatan kerja dalam sektor pertanian maka akan memungkinkan terjadinya peningkatan produktivitas tenaga kerja dan upah riil di sektor tersebut. Fenomena ini disebut sebagai structural turning point. Berawal dari structural turning point, pada gilirannya akan terjadi penurunan rasio penduduk yang bekerja di sektor pertanian terhadap keseluruhan angkatan kerja. Dengan bertambahnya sektor formal, rasio pekerja dengan upah dan gaji terhadap seluruh angkatan kerja akan meningkat pula. Terakhir adalah peningkatan rasio tenaga spesialis dan manajer terhadap seluruh angkatan kerja. Indikator yang terakhir ini berhubungan erat dengan skala usaha, semakin banyak unit-unit usaha berskala besar maka semakin banyak diperlukan tenaga spesialis dan manajer. Seiring dengan perubahan itu, maka transformasi ekonomi dan pekerjaan pun ikut bergerak dengan sangat cepat, kemudian mengubah proses fundamental dan memberi nilai tambah pada setiap tahap dalam memproduksi barang atau jasa, yang selanjutnya disebut sebagai rantai nilai pekerjaan. Yang menarik dari perubahan dan pergerakan ekonomi serta ragam pekerjaan baru itu adalah adanya peran yang begitu penting dari teknologi informasi dan modal intelektual sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi, dan percepatan perubahan itu menuntut dunia pendidikan mempersiapkan dan menghasilkan lulusannya yang lebih berdaya juang dan berdaya saing.

179

Dalam hubungannya dengan pembahasan dan pendalaman tentang teori pertumbuhan ekonomi, tidak terlepas dari peran dan kontribusi pemikiran Joseph Schumpeter. Ia berpandangan bahwa perkembangan ekonomi itu bukan merupakan proses yang harmonis ataupun gradual, melainkan merupakan perubahan yang spontan dan terputus-putus dengan munculnya ide-ide baru yang kreatif dan inovatif, sehingga seolah-olah menjelma menjadi faktor pengganggu terhadap keseimbangan yang telah ada. Tentunya, ide-ide baru yang kreatif dan inovatif ini lahir dari proses yang panjang, mulai dari tranformasi pengetahuan ke dalam invensi, kemudian berlanjut menjadi inovasi dalam output dan inovasi pada sumberdaya yang dimiliki. Inovasi, sebagai unsur strategis dalam aktivitas entrepreneur, dimaksudkan sebagai aplikasi dari ide-ide baru dalam tehnik produksi dan organisasi yang akan membawa perubahan-perubahan dalam fungsi produksi. Inovasi akan menghentikan siklus melingkar dari ekonomi stationer dan menghasilkan perkembangan ekonomi dengan posisi equilibrium baru pada tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Dalam perekonomian yang dinamis, jenis inovasi itu akan muncul bunga, yang oleh Schumpeter diintrepretasikan sebagai bagian dari pajak yang dibebankan kepada entrepreneur. Inovasi dapat berbentuk: 1) memperkenalkan barang-barang baru atau barang-barang berkualitas baru yang belum dikenal konsumen; 2) memperkenalkan metode produksi baru; 3) pembukaan pasar baru bagi perusahaan; 4) penemuan sumber-sumber ekonomi baru; dan 5) mengoperasikan model atau struktur organisasi baru dalam industri yang mampu menciptakan efisiensi. Dalam kehidupan ekonomi yang makin modern, inovasi bukan sekedar jargon, tapi telah menjadi keharusan. Ini sesuai dengan ragam dan sifat pekerjaan yang terus berubah, dan menuntut agar produk dari pekerjaan-pekerjaan itu serba lebih bagus, lebih cepat dan lebih murah. Itulah alasan yang melatari pendapatnya Peter Drucker bahwa dalam ekonomi yang telah maju sekalipun, jika tidak mampu memenuhi tuntutan inovasi, maka ekonomi tersebut akan jatuh dan hancur. Faktor utama penyebab perkembangan ekonomi adalah kualitas dari proses inovasi yang dilakukan oleh para entrepreuner. Dalam hal ini, inovasi berpengaruh terhadap: 1) temuan teknologi; 2) keuntungan lebih; 3) akumulasi modal; dan 4) proses peniruan (imitation) teknologi. Kesemuanya itu dapat diwujudkan manakala dipenuhinya syarat-syarat: adanya calon pelaku inovasi dalam masyarakat; adanya lingkungan sosial, politik dan teknologi yang kondusif untuk merangsang tumbuhnya ide-ide cerdas yang kreatif dan semangat untuk berinovasi; tersedianya cadangan ide-ide

179

baru secara memadai; dan adanya sistem perkreditan yang menyediakan dana bagi entrepreneur untuk merealisir ide tersebut menjadi kenyataan. Dalam konteks usaha sebagai fungsi wiraswasta, maka wiraswasta dalam arti pemimpin individual tak lagi berhak memainkan peranannya dalam perekonomian, karena fungsi wiraswasta sudah usang. Dalam pada itu, kemajuan teknologi yang dilakukan oleh para ahli dalam industri besar, inovasi tidak lagi dilakukan oleh orang per orang, melainkan merupakan pekerjaan rutin yang dipimpin oleh manejer yang ahli dalam perusahaan besar. Schumpeter juga memberi perhatian terhadap teori siklus bisnis, karena teori ini memiliki peranan penting dalam mengelola perekonomian. Siklus bisnis dikonsepsikan sebagai krisis-krisis yang mengganggu perkembangan ekonomi. Siklus bisnis tersebut berproses melalui empat fase, yaitu 1) fase puncak; 2) fase kontraksi; 3) fase depresi; dan 4) fase ekspansi. Masing-masing siklus bisnis tersebut bertalian dengan suatu periode puncak yang menunjukkan permintaan konsumen meningkat dengan cepat serta investasi dan laba bisnis adalah tinggi. Ketika permintaan konsumen dan profitabilitas mengalami pertumbuhan yang menurun, serta investasi, produksi dan kesempatan kerja juga berkurang, maka kemudian periode puncak berubah menjadi periode kontraksi. Dalam periode kontraksi atau resesi, jika tidak dapat dilakukan perbaikan ekonomi, maka aktivitas bisnis akan terus merosot dan berimbas pada meluasnya pengangguran yang semakin berat, kapasitas industri terpasang tidak dapat digunakan, harga-harga yang stabil bahkan menurun, dan kepercayaan bisnis merosot tajam. Kondisi ini merupakan kondisi terburuk dalam suatu perekonomian atau yang kemudian disebut sebagai periode trough atau depresi. Dalam kenyataannya, periode depresi tidak akan dapat bertahan lama, karena semua pelaku bisnis ingin secepatnya bangkit dari keterpurukan. Semangat itulah yang kemudian mendorong upaya pemulihan ekonomi seiring dengan tumbuhnya investasi dan kesempatan kerja, serta kembalinya kepercayaan dunia bisnis. Sejak itu periode depresi berakhir dan kondisi ekonomi kembali mengalami pertumbuhan atau yang disebut sebagai periode ekspansi, hingga pada gilirannya kondisi itu akan kembali menuntun pada suatu periode puncak yang baru dengan siklusnya yang akan berulang kembali. Kecenderungan umum yang terjadi menunjukkan bahwa ketika perusahaan berkembang semakin besar maka perasaan kemanusiaan semakin tak dimiliki, dan dengan skala yang besar itu, inovasi seakan merupakan hak dari pemimpin-pemimpin industri. Di saat itulah berlangsung proses

179

depersonalized, dimana aktivitas inovasi ditransformasi menjadi kegiatan administrasi rutin yang dilakukan oleh orang-orang bergaji dan para pemegang saham. Mengenai monopoli, perihal creative destruction dan economic evolution juga menjadi perhatian Schumpeter. Ia melihat kekuatan monopoli sangat ditentukan oleh para entrepreneur yang berinovasi, maka dari itu kepada mereka perlu diberi insentif yang sesuai dan reward yang tepat, hingga kemudian pemberian insentif yang sesuai dan reward yang tepat itu beralih dan digantikan melalui rantai creative destruction oleh monopoli dari inovator baru yang menyusul berikutnya. Untuk alasan-alasan penolakannya terhadap follow the crowd, Schumpeter tetap menentang implikasi kebijakan dari ide-ide Keynes yang dianggapnya sebagai ancaman bagi tumbuhnya inovasi yang merupakan faktor pendorong dalam ekonomi, yaitu inisiatif swasta. Upaya Schumpeter membahas economic evolution, ditempuh dengan menjelaskan perubahan ekonomi dengan cara-cara di luar pola yang umum. Pertama, evolusi ekonomi itu bukan merupakan proses pertumbuhan sederhana dimana seluruh sektor dalam kehidupan ekonomi berekspansi secara seimbang. Sebaliknya, evolusi ekonomi ditandai oleh kreasi baru dan penghancuran terhadap produk dan proses lama. Selanjutnya, kemunculan perusahaan-perusahaan baru yang jumlahnya cukup banyak, oleh perusahaan-perusahaan lain tidak dibarengi dengan peningkatan kompetensi dan bahkan mengganti bidang spesialisasinya. Akibatnya, perusahaan-perusahaan itu tereliminasi dan lenyap dalam proses evolusioner, dan para pekerja yang kehilangan pekerjaannya menghadapi tekanan yang berat karena kehilangan kesejahteraan. Oleh sebab itu, proses creative destruction merupakan konsep yang merefleksikan perjuangan kompetitif dan fokus terhadap reaksi-reaksi atas hilangnya kesejahteraan sementara pada tingkat mikro dan makro. Terkait dengan konsep creative destruction ini, Herbert Simon (1982) berpendapat bahwa destruksi itu bukan destruksi sumberdaya yang sesungguhnya, akan tetapi ancaman potensial bagi keberlangsungan perusahaan hingga menyebabkan munculnya perubahan dalam cara-cara kerja yang rutin. Menurut model Simon, perusahaan-perusahaan akan tetap mengikuti cara-cara kerja yang rutin manakala masih mampu mempertahankan kinerja yang memuaskan. Namun, ketika hal tersebut tidak lagi terjadi, misalkan karena tekanan kompetitif, maka perusahaan-perusahaan itu mulai mencari inovasi atau imitasi cara-cara yang lebih baik. Jika berhasil, maka perusahaan-perusahaan itu akan membuang cara-cara kerja yang lama dan menghindari destruksi organisasi.

179

Dalam pandangan Schumpeter, kreasi merupakan kejadian yang relatif independen dan bukan merupakan respons adaptif terhadap kekurangan atau tekanan lainnya. Oleh sebab itu, inovasi enterepreneur muncul pertama kali melalui bekerjanya sistem ekonomi yang menyebabkan destruksi terhadap cara-cara lama. Selanjutnya, creative destruction ini oleh Schumpeter diformulasikan dengan skema analitis evolusi dalam pembangunan dan siklus ekonomi. Menurut skema ini, evolusi dari cara-cara kerja dalam perekonomian akan terjadi melalui rangkaian kejadian-kejadian: 1) bahwa titik equilibrium awal dari suatu sistem ekonomi didasarkan pada cara-cara kerja yang solid. Sistem ini diasumsikan memiliki equilibrium yang membiarkan beroperasinya agen-agen ekonomi dalam cara-cara kerja yang biasa dilakukan; 2) bahwa kondisi equilibrium awal akan hancur ketika inovator-inovator memulai usahanya. Hal ini akan meningkatkan perekonomian, namun secara perlahan arus inovasi menghilang karena terbatasnya kemampuan berinovasi dalam kondisi di luar equilibrium awal; 3) bahwa untuk mempertahankan suatu perekonomian yang terus meningkat, tidak cukup hanya dengan berinovasi, karena proses kompetitif dalam destruksi kreatif ini mengalami penurunan yang cukup tajam. Dari kejadian ini, perusahaan-perusahaan tua dipilih dan yang lain bertahan dari cara-cara lama yang merusak. Pada akhirnya, hanya cara-cara lama yang dibaharui yang dapat bertahan dan eksis dalam perekonomian; dan 4) bahwa evolusi ekonomi dan cara-cara lama dalam sistem perekonomian pada kondisi equilibrium dapat merusak daya inovatif. Proses ini menciptakan reaksi sosio-politis yang dapat mengubah fungsi masa depan secara radikal. Dari skema Schumpeter mengenai evolusi ekonomi hanya terdapat dua konsep yang saling berhubungan, yaitu koevolusi perekonomian dan sistem sosio-politik. Menurut Schumpeter, konsep creative destruction dapat dipandang sebagai alat utama untuk menghubungkan ilmu ekonomi dan sosiologi dalam masyarakat kapitalis. Argumentasinya jelas, bahwa sungguhpun konsekuensi dari evolusioner adalah kenaikan dalam standar umum kehidupan, namun reaksi sosiopolitis tetap ada. Reaksi-reaksi ini dipengaruhi oleh kenyataan bahwa kapitalisme masih mengandung instabilitas dari creative destruction. Orang-orang yang merasa kehilangan akan cenderung bereaksi dengan kebencian dan melupakan isu penerimaan kaum kapitalis jangka panjang. Reaksi sejenis itu mendorong tindak kekerasan yang terus meningkat terhadap setiap pencapaian dari evolusi kapitalis dari para pekerja yang didukung oleh kaum intelektual. Adalah sebuah penyimpangan dari tradisi Klasik ataupun Neo-Klasik, ketika John Maynard Keynes mengemukakan gagasan-gagasannya mengatasi great depression. Ketika itu Keynes

179

mengusung gagasan mengenai pentingnya keberadaaan dan peran Bank Sentral serta campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Begitu juga pandangannya mengenai pendapatan dan kesempatan kerja ditentukan oleh jumlah pengeluaran swasta dan Negara. Karena pandangan itu berbeda dengan aliran ekonomi Klasik ataupun Neo-Klasik maka akhirnya pandangan-pandangan itu menjadi mazhab baru, mazhab ekonomi modern yang biasa dikenal dengan sebutan mazbab Keynesian. Ketika itu Keynes menyampaikan kritiknya terhadap ekonomi klasik dan mengusulkan sebuah metode untuk management of aggregate demand. Pada tahun 1930-an, sesudah great depression, negara semakin memainkan peranan pentingnya pada sistem kapitalism di sebagian besar kawasan dunia. Sistem ekonomi ini sering disebut dengan mixed economies. Pandangan Keynes ini sering dianggap sebagai awal dari pemikiran ekonomi modern. Karena Keynes menganggap pentingnya peran pemerintah dalam melaksanakan pembangunan, sehingga Keynes sering disebut sebagai Bapak Ekonomi Pembangunan, dan sering juga disebut sebagai Bapak Ekonomi Makro. Untuk memperkuat pemikiran ekonominya, Keynes berpendapat bahwa pengeluaran masyarakat untuk konsumsi dipengaruhi oleh pendapatannya. Semakin tinggi tingkat pendapatan masyarakat mengakibatkan semakin tinggi pula tingkat konsumsinya. Selain itu, pendapatan masyarakat juga berpengaruh terhadap tabungan. Semakin tinggi pendapatan masyarakat, semakin besar pula tabungannya karena tabungan merupakan bagian pendapatan yang tidak dikonsumsi. Walaupun pendapatan penting peranannya dalam menentukan konsumsi, peranan faktor-faktor lain tidak boleh diabaikan, diantaranya kekayaan yang terkumpul, tingkat bunga, sikap berhemat, keadaan perekonomian, dan distribusi pendapatan. Berdasarkan pemikiran ekonomi dan berbagai pendapat yang melatarinya, Keynes berhasil melakukan escape dari masa lalu, yaitu dari tradisi laissez faire yang dianut para pakar ekonomi masa silam seperti Adam Smith, David Richardo dan gurunya sendiri Alfred Marshall. Keynes kemudian berhasil membentuk suatu bangunan rumah utuh dalam struktur teori-teori ekonomi baru, sehingga terjadi revolusi baik dalam teori maupun pada kebijakan ekonomi. Dalam tradisi ekonomi klasik ataupun neo-klasik, analisis-analisis ekonomi lebih banyak bersifat mikro. Namun ketika John Maynard Keynes pada tahun 1920-an, mulai memisahkan ilmu ekonomi makro (macroeconomics) dari ilmu ekonomi mikro (microeconomics). Sejak saat itu tradisi klasik ataupun neo-klasik mulai ditinggalkan dalam berbagai analisis ekonomi. Kemudian pada tahun 1930-an, pemisahan itu menjadi semakin jelas ketika muncul kesepakatan bersama antara Keynes

179

dan para ekonom lain. Dalam hal ini, analisis ekonomi makro dilakukan dengan melihat hubungan di antara variabel-variabel ekonomi secara agregat. Dalam hal ekonomi kelembagaan, ketika teori ekonomi konvensional terbukti tidak mampu lagi menyelesaikan masalah perekonomian karena mekanisme dan praktik-praktik ekonomi telah mereduksi hak-hak rakyat, dan ketika krisis keuangan global yang menerpa dunia saat ini telah memporakporandakan tatanan ekonomi, menjadikan mainstream ekonomi yang berpijak pada pendekatan ekonomi klasik semakin dipertanyakan eksistensinya. Oleh karena itu studi ekonomi kelembagaan semakin memperoleh tempat sebagai pendekatan alternatif bagi ekonomi dunia saat ini. Ekonomi kelembagaan yang dimaksudkan adalah cabang ilmu ekonomi yang percaya adanya peran besar dari lembaga-lembaga dalam kinerja ekonomi suatu masyarakat, karena batasan dan aturan yang dibuat masyarakat yang bersangkutan dipatuhi atau dapat dipaksakan pemenuhannya. Para penganut ekonomi kelembagaan percaya bahwa pendekatan multidicipliner sangat penting untuk memotret masalah-masalah ekonomi, seperti aspek sosial, hukum, politik, budaya, dan yang lain sebagai satu kesatuan analisis. Untuk mendekati gejala ekonomi, pendekatan ekonomi kelembagaan menggunakan metode kualitatif yang dibangun dari tiga premis penting yaitu: partikular, subyektif dan, nonprediktif. Pertama, partikular dimaknai sebagai heterogenitas karakteristik dalam masyarakat. Artinya setiap fenomena sosial selalu spesifik dan merujuk pada kondisi sosial tertentu. Lewat premis partikularitas, sebetulnya penelitian kualitatif langsung berbicara dua hal: 1) fenomena sosial tidak bersifat tunggal; dan 2) penelitian kualitatif telah memproklamasikan keterbatasannya. Kedua, yang dimaksud dengan subyektif sesungguhnya bukan berarti peneliti melakukan penelitian secara subyektif tetapi realitas atau fenomena sosial. Karena itu lebih mendekatkan diri pada situasi dan kondisi yang ada pada sumber data, dengan berusaha menempatkan diri serta berpikir dari sudut pandang orang dalam atau yang dalam ranah antropologi disebut dengan emic. Ketiga, yang dimaksud nonprediktif ialah bahwa dalam paradigma penelitian kualitatif sama sekali tidak masuk ke wilayah prediksi ke depan, tetapi yang ditekankan ialah bagaimana pemaknaan, konsep, definisi, karakteristik, metafora, simbol, dan deskripsi atas sesuatu. Jadi titik tekannya adalah menjelaskan secara utuh proses dibalik sebuah fenomena.

179

Dalam ekonomi kelembagaan menekankan bahwa manusia menciptakan dan menggunakan lembaga-lembaga tertentu untuk memecahkan berbagai konflik ekonomi dalam masyarakat. Jika ekonomi ortodoks percaya bahwa persaingan bebas akan menghasilkan harmoni dan efisiensi, maka ekonomi kelembagaan mencari kemungkinan-kemungkinan tindakan bersama dan kerjasama antar manusia untuk mengatasi konflik ekonomi sosial yang ada. Intinya, keputusan ekonomi tidak bisa menyandarkan sepenuhnya pada kekuatan rasionalitas, dan selalu ada insentif bagi individu untuk berperilaku menyimpang sehingga sistem ekonomi tidak bisa dibiarkan hanya dipandu oleh pasar. Dalam hal ini diperlukan kelembagaan non pasar untuk melindungi agar pasar tidak terjebak pada kegagalan yang tidak berujung pangkal, yakni dengan jalan mendesain aturan main/kelembagaan. Sebagai tokoh ekonomi kelembagaan baru, North menyatakan bahwa kelembagaan ekonomi dibentuk oleh aturan-aturan formal berupa rules, laws dan constitutions; serta aturan informal berupa norma, kesepakatan, dan lain-lain. Seluruhnya merupakan penentu terbentuknya karakter dan struktur masyarakat serta kinerja ekonominya. North juga membedakan institusi dengan organisasi. Dalam hal ini, institusi dimaknai sebagai the rules of the game, sedangkan organisasi bermakna sebagai their entrepreneurs are the players. Bagi North, institusi adalah peraturan perundang-undangan berikut sifat-sifat pemaksaan dari peraturan-peraturan tersebut serta norma-norma perilaku yang membentuk interaksi antara manusia secara berulang-ulang. Beberapa contoh institusi yang mampu memberikan insentif tersebut adalah hukum paten dan hak cipta, hukum kontrak dan pemilikan tanah. Sedangkan yang dimaksud sebagai organisasi disini adalah organisasi politik (misalnya partai politik, DPR, dan DPRD); organisasi ekonomi; organisasi sosial; dan organisasi pendidikan. Kehadiran ekonomi kelembagaan ini salah satunya dimaksudkan untuk mewartakan bahwa kegiatan ekonomi sangat dipengaruhi oleh tata letak antarpelaku ekonomi, desain aturan main, norma dan keyakinan individu/komunitas, insentif untuk berkolaborasi, model kesepakatan yang dibuat (teori kontrak), dan pilihan atas kepemilikan aset fisik atau non fisik (teori hak kepemilikan). Praktik-praktik ekonomi yang memberikan peran kepada lembaga-lembaga keuangan mikro secara lebih proporsional seperti yang ditempuh oleh Muhammad Yunus (peraih Nobel perdamaian Tahun 2009) menjadikan trust sebagai modal utama dalam membangun Grameen Bank. Hanya dengan bermodalkan kepercayaan itulah maka Grameen Bank mampu mengatasi masalah kemiskinan di Bangladesh.

179

Banyak bukti empirik menunjukkan bahwa kelembagaan merupakan penentu utama kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Memang terbukti bahwa negara yang memiliki landasan kelembagaan lebih baik pada masa lalu adalah negara yang sekarang lebih makmur. Kelembagaan yang lebih baik, paling tidak menghasilkan dua hal: pertama, segala lapisan masyarakat memperoleh ruang gerak yang luas untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi; kedua, para elite, politisi, dan kelompok-kelompok kekuatan lain tak bisa leluasa mengambil alih pendapatan dan investasi pihak lain. Kini, paradigma pembangunan ekonomi telah menjurus kepada munculnya kesadaran baru tentang peran pengetahuan, sehingga keberadaannya makin mendapat perhatian oleh banyak kalangan dan dipandang menjadi faktor penggerak yang utama dalam pembangunan ekonomi. Dari pemahaman dan kesadaran itulah kemudian muncul istilah knowledge economy. Para pakar maupun institusi global seperti OECD, World Bank, dan APEC, memberikan definisi knowledge economy sangat beragam, namun pada intinya knowledge economy itu ditandai dengan penciptaan dan eksploitasi pengetahuan yang memainkan peran dominan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Perlu ditegaskan disini bahwa pengetahuan itu adalah bentuk primer dari modal. Sedangkan modal yang lain seperti uang, mesin, gedung dan lainnya hanyalah derivasi dari pengetahuan. Tanpa pengetahuan, semua bentuk modal tersebut nyaris tak berarti apa-apa. Uang misalnya, hanyalah selembar kertas yang hampir-hampir tidak ada nilainya. Mesin hanyalah sekumpulan besi-besi, dan gedung hanyalah sekumpulan material bahan bangunan. Tingkat kebermaknaan dari setiap bentuk modal tersebut bagaimanapun akan sangat ditentukan oleh kepemilikan pengetahuan. Dengan demikian, pengetahuan dapat memberikan kehidupan dan makna bagi semua bentuk modal itu sehingga bernilai dan berguna bagi manusia. Knowledge economy pada awalnya dikembangkan melalui networking antara dunia kampus dengan dunia bisnis dan pemerintah. Aktivitas ini berlangsung di sekitar kawasan universitasuniversitas dan pusat-pusat riset terkemuka pada sebagian besar negara maju di dunia. Melalui networking itulah, knowledge didiseminasikan, diadaptasi, dan kemudian diaplikasikan dalam berbagai industri yang menghasilkan produk-produk inovatif dengan nilai tambah yang besar. Dalam proses aplikasi ini diperoleh feedback yang menghasilkan knowledge baru yang dapat menciptakan nilai yang lebih besar.

179

Siklus dalam memproduksi pengetahuan berlangsung secara terus menerus sehingga terjadi akumulasi kapabilitas pengetahuan sebagai sumber keunggulan daya saing yang berkelanjutan. Ada beberapa alasan yang mendasari mengapa pengetahuan memiliki peran dominan, diantaranya: 1) pengetahuan adalah bentuk dasar dari kapital. Pertumbuhan ekonomi sangat tergantung pada akumulasi pengetahuan. Makin besar akumulasi pengetahuan di suatu negara maka ekonominya akan tumbuh berkelanjutan; 2) upaya pengembangan teknologi baru dapat menciptakan technical platform untuk inovasi lebih lanjut yang memainkan peran kunci dalam pertumbuhan ekonomi; 3) teknologi dapat meningkatkan nilai pengembalian investasi yang tidak dapat dilakukan bila hanya menambah tenaga kerja dan sumberdaya material; dan 4) berbeda dengan ekonomi tradisional, investasi dan teknologi membuat keduanya lebih bernilai yang menyebabkan tingkat pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan berkelanjutan. Investasi pada R & D untuk inovasi teknologi dapat menciptakan peluang yang lebih besar dalam memperoleh return karena dicapai monopoli teknologi yang sulit ditiru oleh pesaing. Dalam perpektif knowledge economy, keberhasilan ekonomi atau bisnis menghadapi persaingan lebih ditentukan oleh strategi manajemen pengetahuan daripada strategi alokasi aset fisik dan keuangan. Knowledge economy bukan semata digital economy, ia merupakan sesuatu yang sangat kompleks dan merupakan fenomena yang terus merambah luas ke semua aspek kehidupan. Beberapa dimensi dari Knowledge economy, diantaranya: 1) dikendalikan oleh teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikasi (ICT); 2) telekomunikasi dan networking distimulir oleh pertumbuhan ICT yang cepat, dan menetrasi ke semua aspek kehidupan manusia dan menciptakan masyarakat informasi; 3) pengetahuan yang berbasis informasi didukung oleh budaya dan nilai-nilai spiritual telah menjadi kekuatan independen dan faktor penting dalam transformasi sosial, ekonomi, teknologi dan budaya; 4) dimungkinkan dilakukannya integrasi dan pooling intellectual untuk memacu pembangunan suatu negara. Setiap negara akan memperoleh manfaat dari pembangunan knowledge based economy dan meraih kemajuan menuju kesejajaran dalam proses pembangunan global; dan 5) berdampak terhadap aktivitas sosial di setiap negara termasuk sistem institusi dan inovasi serta pengembangan sumberdaya manusia. Akhir-akhir ini, integrasi pengetahuan dan informasi dalam aktivitas ekonomi dan bisnis telah sedemikian besar sehingga mempengaruhi perubahan-perubahan struktural dan operasional ekonomi dan bisnis. Realitas ini kemudian mendorong terjadinya transformasi yang mempengaruhi

179

basis keunggulan kompetitif. Implikasinya, pada industri-industri yang memiliki basis pengetahuan yang kuat, akan memiliki platform yang tangguh dalam melakukan inovasi secara terus menerus sehingga menghasilkan proses dan produk baru yang lebih berninilai dan demanding. Karena itu, industri-industri semacam ini akan mendominasi pasar global. Dengan demikian, penguasaan pengetahuan yang disertai dengan kepemilikan aset nir-fisik atau sumberdaya unik dan sulit ditiru menjadi sangat diperlukan dalam meningkatkan daya saing dan daya juang. Karena itu, pengetahuan dan aset tersebut harus ditingkatkan kualitasnya, dioptimalkan pengelolaan dan pemanfaatannya secara terus menerus agar menjadi sumber utama pembaharuan dan inovasi dalam sebuah perekonomian. Alur ilmu pengetahuan bertalian erat dengat proses inovasi. Menurut OECD ada empat bentuk alur pengetahuan, yaitu 1) interaksi diantara perusahaan melalui aktivitas kerjasama riset; 2) kerjasama riset diantara perusahaan, universitas dan institusi riset publik termasuk co-patenting dan co-publishing; 3) difusi knowledge dan teknologi kepada perusahaan melalui adopsi mesin dan peralatan baru; dan 4) mobilitas personal yang membawa tacit knowledge khususnya antara sektor publik dan privat. Dari pemahaman ini dapat disimpulkan bahwa inovasi bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Inovasi akan tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan jika ditopang dan mengakarkan dirinya pada kekuatan mutu aset nir fisik. Dalam hubungannya dengan pengembangan inovasi, menurut hemat saya ada beberapa komponen aset nir fisik yang perlu mendapat perhatian dan perlakuan lebih, yaitu modal sosial, modal intelektual, dan modal spiritual. Kajian mutakhir terhadap berbagai dimensi dan peran pengetahuan menyimpulkan lima megatrend yang sedang mengemuka dalam pembangunan ekonomi: 1) industri menjadi lebih padat pengetahuan (knowledge intensive); 2) penggunaan informasi dan knowledge pada produk dengan fungsi dan kemanfaatan yang lebih baik (smart products) sehingga dapat membentuk harga premium; 3) informasi memainkan peran yang sangat penting dalam sistem ekonomi; 4) intangible assets yang dimiliki perusahaan jauh lebih besar nilainya dibandingkan dengan tangible assets; 5) perdagangan intangible assets berkembang pesat dalam knowledge economy. Ringkasnya, pada suatu perekonomian yang senantiasa meningkatkan kapasitas aset nir fisiknya, memperluas jaringan ekonomi dan bisnisnya serta teguh mentaati prinsip-prinsip etika bisnis

179

dalam kegiatan bisnis yang dilakukannya, maka akan makin besar peluang inovasi yang dapat dilakukan dan ditumbuhkembangkan dalam perekonomian tersebut. Dan disanalah peran ekonomi pengetahuan itu dapat dibuktikan.

LATIHAN Setelah mempelajari keseluruhan materi pada bab ini, konstruksikanlah pengetahuan saudara dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini: 1. Kemukakanlah pendapat saudara tentang paradigma baru pembangunan ekonomi? 2. Konstruksikan kembali konsep pembangunan ekonomi yang saudara anggap paling ideal untuk kasus Indonesia! 3. Jelaskanlah konsep dan dimensi pembangunan ekonomi!
4. Apa yang saudara ketahui tentang variabel-variabel utama pembangunan ekonomi?

5. Bedakanlah modal fisik dan modal nir fisik menurut karakteristiknya! 6. Sebutkan dan jelaskan sumber-sumber baru pertumbuhan ekonomi untuk kasus pembangunan ekonomi di Indonesia!
7. Menurut saudara, faktor-faktor apa saja yang menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi?

8. Jelaskan keterkaitan antara pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan pembangunan ekonomi!


9. Telusurilah hambatan-hambatan dalam pembangunan berkelanjutan dan upaya-upaya yang telah

dilakukan untuk kasus di Indonesia! 10. Kemukakanlah pendapat saudara tentang praktik-praktik pembangunan ekonomi di Indonesia dari perspektif paradigna baru pembangunan ekonomi!

179